Studikelayakan tulisan Kompasiana II(3)”Stop Meledek dengan kata”Autism”

JUDUL :” STOP MELEDEK DENGAN KATA “AUTIS”(CURHAT SEOARANG IBU) berdasarkan cerita teman pengarang.
Stop Meledek dengan Kata “Autis”! (Curhat Seorang Ibu)
Dewa Klasik Alexander
|  25 September 2010  |  00:25 via Mobile Web
2665
22
     
   
   
5 dari 8 Kompasianer menilai Inspiratif.

“Setiap anak adalah anugerah dari Yang Maha Kuasa yang dibekali talenta meski terlahir dalam keadaan yang tidak diinginkan.”

Dewa klasik Alexander

Aku selalu percaya bahwa  Pencobaan-pencobaan yang aku alami ialah pencobaan-pencobaan biasa, yang tidak melebihi kekuatan manusia. Sebab Tuhan setia dan karena itu Ia tidak akan membiarkan aku dicobai melampaui kekuatanku. Pada waktu aku dicobai Ia akan memberikan kepadaku jalan ke luar, sehingga aku dapat menanggungnya. Berbahagialah orang yang bertahan dalam pencobaan, sebab apabila ia sudah tahan uji, ia akan menerima mahkota kehidupan yang dijanjikan Tuhan kepada barangsiapa yang mengasihi Dia.

Satu persatu ujian yang diberikan-Nya, kuhadapi dengan sebuah doa yang beriringan air mata. Ketika usia kehamilan anak pertamaku memasuki tujuh bulan, suamiku meninggal dunia karena kecelakaan. Aku harus melahirkan tanpa didampingi suamiku. Keluargaku juga tidak ada yang menjengukku. Pernikahanku tidak direstui oleh kedua pihak keluargaku dan suamiku hanya karena kami berbeda suku. Sehingga ketika kami nekat menikah, kami tidak lagi dianggap leh keluarga masing-masing.

Namu aku selalu berharap, satu hari nanti aku akan diterima kembali. Apa lagi aku akan memberikan cucu pertama bagi orang tuaku dan mertuaku. Namun ternyata itu tidak merubah sedikit pun hati mereka.

Beruntung aku memiliki sebuah salon yang bisa membuat dapur tetap “berasap” tanpa perlu memita belas kasihan dari siapa pun. Kini anakku beranjak enam tahu. Namanya Angel Sastra Klasik. Siapa pun yang melihatnya pasti akan terpesona dengan kecantikannya. Namun di balik kecantikan yang diwarisinya dariku dan ayahnya tersimpan sesuatu ujian bagiku untuk membesarkannya.

#####

Setiap hari aku harus memasak untuk makanan Angel. Khusus untuk makanannya, aku memutuskan untuk memasak sendiri karena hanya aku yang tahu berapa gram atau mililiter asupan yang ada dalam setiap porsi makanan yang masih bisa ditoleransi oleh tubuh Angel. Bukan pekerjaan yang mudah tapi itulah tugasku. Angel suka alergi terhadap makanan tertentu.

Setahu aku penderita autis umumnya mengalami masalah pencernaan, terutama makanan yang mengandung casein (protein susu) dan gluten (protein tepung). kedua jenis protein tersebut sulit dicerna, maka akan menimbulkan gangguan fungsi otak apabila mengonsumsi kedua jenis protein ini. Sehingga perilaku penderita autis akan menjadi lebih hiperaktif.

Aku memberikan suplemen bagi Angel yang mengalami lactose intolerance (ketidakmampuan pencernaan untuk mencerna laktosa). Salah satu suplemen yang aku berikan baginya adalah sinbiotik. Sinbiotik yaitu gabungan probiotik dan prebiotik. Probiotik adalah mikroorganisme hidup yang dimakan untuk memperbaiki secara menguntungkan keseimbangan mikroflora usus.

Membesarkan Angel seperti bekerja sebagai bodyguard pada orang terkenal yang kapan dan di mana saja harus selalu siap siaga . Harus selalu waspada. Sedetik saja lengah bisa berbahaya baginya. Loh bukannya Angel sudah enam tahun? Mungkin ada yang bertanya demikian. Angel berbeda dari anak normal lainnya. Angel mengidap autis. Anugerah terbesar dalam hidupku adalah memiliki kesabaran yang luar biasa untuk membesarkan seorang anak autis.

Autis adalah suatu kondisi mengenai seseorang sejak lahir ataupun saat msa balita yang membuat dirinya tidak dapat membentuk hubungan sosial atau komunikasi yang normal. Akibatnya anak tersebut terisolasi dari manusia lain dan masuk dalam dunia repetitive, aktivitas dan minat yang obsesif.

Tidak mudah seorang single parent sepertiku harus membesarkan anak seperti Angel dan harus mencari uang untuk tetap bisa bertahan hidup. Hanya bahasa air mataku yang jatuh dalam setiap bait-bait doaku yang bisa menggambarkan perasaanku.

Aku tahu, kalau Tuhan mengizinkan aku memiliki seorang anak autis itu karena Tuhan tahu aku mampu membesarkannya dengan penuh cinta. Kenapa Tuhan tidak memilih keluarga lain? Kenapa harus aku seorang janda? Aku tahu karena Tuhan mempercayaiku untuk memiliki seorang anak yang adalah amanah dari-Nya.

Aku mendengar suara yang cukup keras dari ruang keluarga. Aku beranjak meninggalkan masakanku.

Aku benar-benar kaget melihat Angel bersimbah darah dikepalanya. Ya Tuhan, Angel sedang membenturkan kepalanya ke kaca jendela.

“Angel… Apa yang kamu lakukan sayang?”

Aku bergegas menghampirinya. Aku menahannya untuk tidak membenturkan kepalanya meski dia memberontak.

Tidak ada tangisan atau ekspresi kata yang menggambarkan kalau dia kesakitan. Mungkin jika itu terjadi kepada anak normal, pasti mereka menangis kesakitan. Tapi berbeda dengan Angel. Dia hanya diam seribu bahasa dengan sorot mata yang sulit aku mengerti.

Aku berusaha menghentikan pendarahan di bagian kepalanya dengan baju yang aku kenakan. Hanya beberapa detik saja baju biru yang aku kenakan dipenuhi darah segar. Aku panik. Aku bergegas membawanya ke mobil setelah dia tidak berontak lagi.

Aku mengemudi mobilku dengan kecepatan yang cepat ke rumah sakit. Beruntung tidak macet. Begitu tiba di rumah sakit dia langsung dibawah ke UGD.

Dia tidak menangis sama sekali. Tidak ada satu pun air matanya yang jatuh. Hanya aku yang menangis.

“Ya Tuhan… Berikan aku kekuatan!” Ucapku dalam hati.

Beruntung Angel tidak kenapa-kenapa.

Ini bukan kejadian pertama yang menimpa Angel. Ada begitu banyak hal yang dia lakukan dan itu membahayakan dirinya. Aku sendiri tidak mengerti kenapa Angel melakukan hal-hal yang berbahaya bagi dirinya sendiri.

Angel pernah menjatuhkan dirinya dengan sengaja di tangga sehingga jatuh terguling-guling, mengiris lengannya dengan pisau dapur dan bermain korek api lalu mencoba membakar bajunya sendiri.

Dua hari yang lalu, ketika aku keluar dari kamar mandi. Aku menemukan Angel yang sedang menggunting rambutnya dan baju yang dikenakannya. Seminggu yang lalu ketika aku membawa Angel ke salon, ketika aku dan yang lainnya sibuk melayani pelanggan yang lagi ramai. Angel sibuk memoles wajahnya dengan shampoo. Sementara sebulan yang lalu, ketika aku lupa menggembok pagar rumah, dia bermain di jalan raya. Yang paling sering dia lakukan adalah memukul-mukul dirinya sendiri atau  memutar dirinya sendiri yang dilakukan berulang kali.

“Angel cantik tapi sayang dia autis.”

Itu kata-kata yang sering aku dengar dari orang lain termasuk teman-temanku.

Aku telah melanglang buana mencarikan TK untuk Angel. Tapi tidak ada yang mau menerimanya. Alasannya hanya karena dia autis. Astaga!!! Bukannya anak autis juga butuh bersosialisasi? Makanya aku terus berusaha mencari TK untuk Angel. Aku sudah kebal dengan penolakan tapi aku tidak akan menyerah begitu saja.

Angel tidak pernah mengatakan sayang kepadaku tapi aku mengasihinya. Dia tidak pernah berkomentar setiap kali aku menceritakan dongeng atau menyanyikan lagu Nina bobo, tapi aku terus melakukannya. Orang bilang dia tidak normal tapi bagiku Angel sama seperti anak lain yang memiliki hak yang sama untuk mendapatkan yang terbaik. Mungkin hanya kasih sayang dari seorang ayah yang belum bisa aku berikan untukknya. Siapa yang mau dengan janda sepertiku yang memiliki anak autis?

Namun aku percaya, Tuhan tidak pernah iseng ketika merajut Angel dalam rahimku. Bertahun-tahun aku membesarkannya dengan penuh kasih sayang melebihi aku memperhatikan diriku sendiri. Ketika banyak ibu sibuk berdandan dan bekerja sementara anaknya diasuh oleh pembantu atau baby sister, aku memilih meluangkan banyak waktu untuk Angel, semata wayangku.

Aku selalu tersenyum bangga ketika melihat gayanya di depan kamera. Ia bergaya seperti model profesional meski usianya masih sangat kecil. Dibalik kelemahannya ada talenta yang Tuhan titipkan dalam dirinya. Aku percaya itu adalah bekal untuk masa depannya nanti. Sekarang tingal bagaimana aku membuatnya berubah menjadi jauh lebih baik setiap hari seperti anak normal lainnya. Hati ibu mana yang tidak miris jika melihat anak lainnya hidup normal sedangkan anak sendiri penuh dengan keterbatasan?

#####

Aku membutuhkan waktu yang lama hanya untuk melatih Angel menggenggam sendok dan
garpu dengan benar. Belum lagi mengajarinya menatapku setiap kali aku ajak berkomunikasi. Itu bukan pekerjaan yang mudah. Berkali-kali aku ajarin belum tentu bisa. Rasanya ingin menyerah tapi aku memilih untuk tidak menyerah karena dia anakku. Aku adalah ibu, sahabat sekaligus guru baginya.

Memiliki anak autis bukan sesuatu yang diinginkan oleh setiap orang tua. Aku tidak tahu sampai kapan Angel akan menjadi autis. Tapi aku selalu optimis bahwa, selalu ada harapan. Bintang hanya bersinar di kala langit mulai hitam pekat. Pelangi indah hanya muncul setelah hujan. Demikian juga mujizat akan selalu ada disetiap persoalan hidupku. Yang bisa aku lakukan adalah mengenali dan melakukan berbagai terapi agar Angel dapat hidup mandiri dan dapat  melakukan hal-hal sebagaimana anak normal lainnya.

Hanya aku terkadang sedih ketika mendengar orang lain dengan seenaknya memakai kata autis hanya untuk meledek temannya yang sednag asyik dengan blackberrynya atau dijadikan sebagai sebuah bahan untuk bercanda dan saling meledek.

“Dasar, autis lo! Seharian main BB!”

Atau status update seperti, “gua ngautis di kamar sendirian.”

Kenapa harus memilih kata autis sebagai julukan mereka yang asyik dengan gadget mereka?  Apa tidak ada kata lain? Saya sudah merasakan dan tahu betul sulitnya membesarkan anak autis.  Ketika orang lain membuat autis sebagai bahan lucu-lucuan, padahal autis nggak ada lucu-lucunya buat mereka. Hati kecilku hanya bisa berkata, “stop embarrassing yourself by making fun of the Autism.”  Semoga saja mereka menyadari hal tersebut. Autis bukan sesuatu yang bisa dijadikan bahan lelucon.

Jika masih ada yang menggunakan kata itu sebagai ledekan atau bahan bercanda, sebaiknya sadar diri. Bahwa kalian mempermalukan diri kalian sendiri dengan menunjukan kepada dunia, betapa bodohnya kalian tidak tahu apa dan bagaimana autis itu. Jangan sampai kalian memiliki anak atau saudara seperti Angel baru mengerti arti autis sebenarnya. 

Stop embarrassing yourself by making fun of the Autism

Catatan : Kisah Ini dikarang berdasarkan kisah dari teman penulis, dan dsi add atas izin ybs, untuk mengetahui Autism secar ilmiah ,baca dalm blog ini karangan Dr Iwan S tentang Upaya penanganan Autism, cari di search” Dr Pusat informasi Autism Dr Iwan “.

Advertisements

Studikelayakan tulisan Kompasiana II(2)”GadisPada Sebuah Taksi Colt”

Fiksi Rifani Indragiri Lihat Profil    Jadikan teman    Kirim Pesan Rancangan Allah jauh lebih indah dan sempurna ketimbang keinginan manusia.

JUDUL :” GADIS PADA SEBUAH TAKSI COLT”

PENGARANG : RIFANI INDRAGIRI

 

 FIKSI Rifani Indragiri |  23 September 2010  |  20:02 28 4

     
     
     

Mata yang terlihat sendu mengingatkanku pada seseorang yang dulu pernah aku cintai dan ini telah begitu melekat dihati , seakan-akan dia tidak pernah lepas dari ingatanku selama ini walau telah sekian tahun lamanya kami berpisah. Dan di Banjarbaru, kota dimana aku pernah jatuh cinta pada seseorang gadis yang sekarang entah dimana keberadaannya saat ini. Ia seakan bagian dari kehidupan masa laluku, dan kenangan itu selalu membayangi kehidupanku selama ini. Entah mengapa kemaren sore sewaktu aku pulang ke Banjarbaru dan dan bersamaan sewaktu naik taksi dari Banjarmasin sosok itu kembali mengusik diriku.

Sewaktu aku naik taksi dan mataku bersamplokan dengan mata gadis yang telah ada dan duduk disamping sopir, mata yang teduh bak bintang dilangit kelam membuat hati ini terasa nyaman menatapnya. Mata yang dulu membuat aku kasmaran dibuatnya. Pemilik mata yang sayu ini mengingatkanku pada kenangan lama tersimpan dan terpateri rapat direlung hatiku yang paling dalam , dan aku masih berkeinginan untuk suatu saat kami akan jumpa walau lewat mimpi dan harapanku tentunya tak ada batas waktu yang akan memisahkan kita hanya maut yang dapat memisahkannya, Ah , suatu keinginan yang terkadang relatif kecil untuk terealisasi tentunya ,namun harapan selalu tinggal harapan .Dan akankah ada kemungkinan lain jika nasib mempertemukan kami kembali apakah itu sebagai sesuatu yang mustahil ?.

Dalam perjalananku naik taksi dari Banjarmasin ke Banjarbaru dan kebetulan pula pada taksi yang sama duduk didepanku seorang gadis berparas ayu dengan rambut yang hitam legam itu tergerai diterpa angin segar bertiup lewat jendela taksi yang terbuka. Aku hanya berani melirik lewat kaca spion disamping kiri taksi, dan anak rambutnya tergerai nakal pada lehernya yang jenjang dalam tiupan lembut angin sepoi menerpa wajahnya yang cantik .Membuat aku selalu ingin mencuri pandang lewat kaca spion,

Kukira diapun tidak berdiam diri dan memang sesekali ia juga mencuri tatapan lewat kaca spion dan terkadang pandangan kami bertebrakan,dan memuat diri ini rasa tersipu malu hanya lewat kaca spion ini saja sebagai media kami untuk berkomunikasi dalam diam akan tetapi kaca yang kecil ini dapat menangkap raut wajah kami yang memerah dadu.

Waktu seakan begitu cepat berlalu tidak terasa taksi yang aku tumpangi tidak terasa sampai di Banjarbaru ,akupun turun dari taksi tanpa menoleh sedikitpun kebelakang, takut kenangan yang indah beberapa waktu lalu akan sirna begitu saja. Pada usiaku diambang senja ini tak ada keberanian buatku untuk menyapanya, Akupun hanya diam seribu basa. tak ingin moment yang begitu indah cepat berlalu. Sebagaimana dia dulu pernah meninggalkanku dan kenangan itu masih lekat dalam bayang-bayang pikiranku.

 selesai@hak cipta  Rifani Indragiri 2010(atas izin ybs di add dalam blog ini)

 

Studikelayakan tulisan Kompasiana(7)” Anak Muda Tionghoa harus Meneruskan Langkah Ong Hok Ham”

Sejarah
Lihat Profil    Jadikan teman    Kirim Pesan
Aku bersaksi bahwa aku berpikir dengan otak dan aku bersaksi bahwa aku berjalan dengan dengkul. Masalah terbesarku ialah menentukan lebih penting mana: otak atau dengkul. Tapi aku percaya, mula-mula pewarta warga bekerja dengan dengkulnya, baru kemudian berkreasi dengan otaknya.

Anak Muda Tionghoa Perlu Meneruskan Langkah Ong Hok Ham
Herman Hasyim
|  21 September 2010  |  02:19
111
7
     
   
   
2 dari 3 Kompasianer menilai Inspiratif.

Selaku penyokong proses asimilasi, Hok Ham mengkritik sebagian Tionghoa peranakan yang menurutnya lebih mengedepankan “Bhinneka” tapi melalaikan “Tunggal Ika”.

Klenteng Kwan Sing Bo dijejali puluhan orang berkaos putih bergambar naga dengan tulisan “Melantjong Petjinan Toeban” di dada. Suatu siang di awal Agustus itu, mereka datang bukan hanya untuk membakar dupa. Mereka memotret apa saja: arsitektur klenteng dengan simbol kepiting raksasa, patung dewa-dewa, orang-orang bersembahyang. Mereka juga mengumbar tanya. Mencatat setiap hal yang tertangkap panca indra di klenteng yang usianya sudah ratusan tahun itu.

Di antara mereka, Ardian Po Purwosupetro tampak menonjol. Bukan semata karena dia mengenakan kaos merah berlogo Manchester United. Ardian adalah salah satu penggagas event yang sebagian besar pesertanya adalah anak muda Tionghoa ini.

Di Facebook, beberapa hari kemudian, saya menemuinya. Kami berbincang. Saya adalah orang Tuban, kawasan pesisir utara pulau Jawa yang pernah menjadi basis masyarakat Tionghoa selain Lasem, Rembang, di mana klenteng Kwan Sing Bo—salah satu klenteng termegah di Indonesia—berdiri dengan gagah.

Namun fokus pembicaraan kami bukan soal Tuban. Bukan pula tentang Klenteng Kwan Sing Bo. Kami membincang sekenanya mengenai perkembangan masyarakat Tionghoa di Indonesia. Saya menyinggung Ong Hok Ham, dan Ardian meresponnya dengan gesit. “Saya juga ingin meneruskan langkah beliau,” ujar Ardian.

Siapakah Ong Hok Ham?

Pertanyaan itu boleh jadi terasa usang bila diajukan kepada para sejarawan. Sebab, siapapun yang pernah belajar sejarah Indonesia—terutama yang menyertakan masyarakat Tionghoa sebagai bagian tak terpisahkan—hampir pasti mengenalnya. Di panggung sejarah kita, dia tak kalah meninggalkan jejak dibanding Soe Hok Gie, Harry Tjan Silalahi, maupun PK Ojong.

Tetapi toh tidak semua warga Kompasiana, khususnya yang berdarah daging Tionghoa, mengenal sejarawan yang wafat pada 30 Agustus 2007 ini. Dengan demikian, memperkenalkan kembali Hok Ham bukanlah tindakan mubazir. Walau kita tidak bisa mencicipi masakannya yang konon maknyus itu, setidaknya dapat meresapi perjalanan hidup dan pemikirannya.

Saya ditemani buku Riwayat Tionghoa Peranakan di Jawa (2005) ketika menulis artikel ini. Tionghoa peranakan berarti masyarakat Tiongho yang lahir di Indonesia. Ini berbeda dengan istilah Tionghoa totok yang digunakan untuk menyebut Tionghoa yang lahir di Tiongkok dan kemudian menyeberang ke Indonesia. Tentu saja, Hindia Belanda dan Nusantara diidentikkan dengan Indonesia dalam konteks ini.

Lewat buku yang berisi kumpulan tulisan Hok Ham tersebut saya hendak memperkenalkan sejarawan yang seumur hidupnya melajang ini. Hok Ham lahir di Surabaya pada 1 Mei 1933 dari keluarga Tionghoa peranakan yang berkedudukan penting dan secara kultural sangat Belanda-sentris. Keluarga ini menaruh minat yang tinggi terhadap pendidikan modern sekolah kolonial Belanda. Saking terlalunya berkiblat pada Belanda, keluarga ini memakai pula nama-nama Belanda. Ibu Hok Ham dipanggil Lies, bapaknya Klaas. Pamannya Piet dan Jan. Kakak Hok Ham masing-masing bernama Freddy dan Olga. Hok Ham sendiri dipanggil Hans.

Tetapi di kemudian hari Hok Ham tumbuh menjadi sosok yang sangat sadar akan ke-Indonesia-an. Seiring dengan tumbuhnya kesadaran tersebut, cita-citanya menjadi diplomat dia lupakan. Pada pertengahan 1950 dia memutuskan pindah dari Fakultas Hukum UI ke Jurusan Sejarah di kampus yang sama. Dia memang jarang terlihat di kampus, namun produktif menulis di mingguan Star Weekly—cikal bakal majalah Intisari. Dari situlah mulai tampak keahlian Hok Ham dalam bidang sejarah.

Hok Ham juga terlibat aktif dalam polemik seputar Tionghoa di Indonesia. Bersama PK Ojong dan kawan-kawannya, dia memilih pendekatan asimilasi ketimbang integrasi. Hal itu ditunjukkannya dengan menjadi salah satu penandatangan Statemen Asimilasi dan Piagam Asimilasi pada Maret 1960. Yang dia maksud asimilasi atau pembauran itu mencakup asimilasi biologis, ekonomis, sosial, politik dan lain-lain.

Selaku penyokong proses asimilasi, Hok Ham mengkritik sebagian Tionghoa peranakan yang menurutnya lebih mengedepankan “Bhinneka” tapi melalaikan “Tunggal Ika”. Diapun menangkal pendapat sebagian kalangan yang pesimis terhadap keberhasilan asimilasi mengingat Yahudi di Eropa dan Negro di Amerika gagal melakukan asimilasi.

Hok Ham yakin, asimilasi Tionghoa peranakan dengan pribumi dapat berjalan dengan baik tanpa perlu ada ‘paksaan’. Menurutnya, Yahudi di Eropa dan Negro Eropa tidak cocok dijadikan contoh. Mengenai hal ini, dia menulis:

Indonesia tak mengenal prasangka rasial, tak mengenal prasangka agama. Pun soal ciri-ciri fisik dari golongan minoritas tak dapat menjadi soal yang besar. Sebab mata sipit, kulit kuning dan lain-lain ciri bangsa Mongol juga dimiliki oleh orang-orang Indonesia “asli”. Yang sebetulnya menjadikan golongan minoritas adalah bukan prasangka rasial seperti di Amerika, juga bukan prasangka agama seperti di Eropa dengan bangsa Yahudi, melainkan politik dan sejarah yang membentuk golongan peranakan ini sebagai suatu golongan tersendiri dalam masyarakat. Dengan merobohkan sisa-sisa zaman lampau ini, dengan menghilangkan ciri-ciri yang nyata, seperti nama-nama, dan lain-lain maka asimilasi dimajukan.

Menurut David Reeve, professor dari Department of Chinese and Indonesian di University of New South Wales, Hok Ham tidak hanya memfokuskan diri pada sejarah Tionghoa. Hok Ham juga berminat pada kebudayaan Jawa dan merasa dapat mencari ‘akar-akarnya’ dalam kebudayaan priyayi atau abangan. Bahkan di kemudian hari perhatiannya lebih banyak ke orang Jawa daripada orang peranakan.

Nama Hok Ham semakin menanjak setelah pulang dari Yale University, Amerika, dan menggondol titel Ph.D pada 1975. Waktu itu, dia menulis disertasi berjudul The Residency of Madiun: Priyayi and the Peasant in the 19th Century.

Selain mengajar di kampus dan melakukan riset, Hok Ham rajin menulis artikel di media massa sebagai intelektual publik. Kumpulan kolomnya di Kompas dibukukan dalam Dari Soal Priyayi sampai Nyi Blorong (2003). Sementara itu, Wahyu yang Hilang Negeri yang Guncang (2003) adalah bukunya yang berisi kumpulan kolom di majalah Tempo.

Sejumlah eseinya dibukukan dalam Rakyat dan Negara (1991), The Thugs, The Curtain Thief, and The Sugar Lord (2003). Sebelum itu, diterbitkan pula buku Runtuhnya Hindia Belanda (1987) yang diangkat dari skripsinya di Fakultas Sastra UI.

Bagi sejarawan JJ Rizal, Hok Ham adalah sosok sejarawan yang punya nilai unik, selain bahwa dia sendiri bernilai sejarah sebagai seorang Tionghoa peranakan.

Dengan demikian, tepatlah kiranya bila generasi muda Tionghoa mengikuti jejak Hok Ham. Anak muda asal Surabaya tetapi lahir di Blitar, Ardian Po Purwoseputro, sudah memulai. Setidaknya dia sedang merancang buku babon tentang jejak sejarah Tionghoa di Indonesia. Namun Ardian tidak bisa sendirian mewujudkan impiannya itu. Masyarakat Tionghoa perlu memiliki Hok Ham-Hok Ham lebih banyak lagi.

Menteng, 21 September 2010@hak cipta Herman Hasyim 2010(atas izin ybs)

Studikelayan Kompasiana(6)”Legenda Hidup dari Kampung Tempat tinggalku”

Filsafat
Lihat Profil    Jadikan teman    Kirim Pesan
seseorang yang tinggal di makassar

Legenda Hidup dari Kampung Tempat Tinggalku
Eeduy Haw
|  6 September 2010  |  00:20
130
34
     
   
   
5 dari 13 Kompasianer menilai Inspiratif.

Sering ia ikut ke gedung olahraga, bilamana menengok rumahnya di kampung kami. Pemukiman kelas ‘menengah cenderung biasa-biasa saja’ di kota ini. Tempat dulu ia juga tumbuh besar.

Tapi tidak untuk mengayunkan raket. Bukan untuk bermain bulutangkis. Ia hanya duduk di salah satu sudut bangku, tersenyum geli bila ada kejadian lucu di tengah lapangan. Sesekali ia mengusap jenggot lebatnya, ataukah membetulkan kuncir rambut gondrongnya yang kuning keemasan oleh pewarna rambut.

Bukan berarti pula ia tak pandai bulutangkis. Ia mahir. Malah dulu, di masa usianya dua-puluhan, tiap perayaan tujuh-belasan kerap ia tampil sebagai juara. Si pemilik jumping smash keras, begitu ia kesohor di kampung kami. Tentulah jika malam ini ia bermain, paling tidak jejak-jejak kelihaiannya masih membekas.

Yang tak kalah hebatnya, saat itu ia sebenarnya adalah atlit voli pantai profesional. Sebagaimana atlit, masa mudanya mengalir dari satu kejuaraan ke kejuaraan lainnya. Kadang ia berada di Lombok, Ambon, Manado, ataukah Bali. Dari satu tepi pantai ke tepi pantai lainnya. Bertanding di ajang PON ataukah Kejurnas. Beberapa trophy masih terpajang di rumah orangtuanya, di kampung kami yang biasa-biasa saja.

Lama-lama usianya kian bertambah. Kondisi kebugarannya tak segesit dulu lagi. Karir atlitnya beralih menjadi karyawan di salah satu kantor cabang perusahaan penjualan mobil yang letaknya ratusan kilo dari kota ini.

Walau waktu itu terpaksa hidup jauh dari rumah, tetapi tali hubungan terikat erat di tiang nadi kehidupan keluarganya. Beberapa tahun sebelumnya, ayahnya berpulang. Sebagai anak lelaki tertua, ia harus menjadi motor penggerak bagi ibu dan ketujuh saudaranya yang lain. Ia tumpuan sekaligus nahkoda bagi perahu keluarga.

Segala kebutuhan sehari-hari maupun keperluan sekolah adik-adiknya ia penuhi. Peran yang ditinggalkan ayahnya berusaha dilakoni dengan baik dan sungguh-sungguh.

Syukur karirnya kian menanjak. Tumpuan itu semakin lama semakin kokoh. Ia lebih mapan. Kami masih ingat, murah-hatinya ia jika membelikan barang yang diidam-idamkan adik-adiknya. Tak tanggung-tanggung, ia hanya akan membungkus yang terbilang kualitas bagus. Made in luar negeri adalah kesukaannya. Sebab ia punya semboyan ‘lebih baik bayar mahal untuk mutu bagus ketimbang murah tapi sehari keok’. Pun tak jarang, kami para tetangganya kecipratan traktiran  beramai-ramai bila ia kebetulan datang.

Perahu itu kini bisa berlayar dengan tenang. Tak lama, ia pun menikah dengan seorang gadis di kota tempatnya bekerja dan dikaruniai 2 anak. Semua berjalan dengan baik. Rumah dan mobil pribadi meski sederhana, dimiliki. Tak lupa, Ibunya ia berangkatkan ke hadapan Ka’bah untuk menunaikan rukun islam yang kelima. Peran yang ditinggalkan ayahnya dilakoninya dengan baik dan sungguh-sungguh. Sungguh-sungguh baik malah.

Hingga sekitar tujuh tahun yang lalu. Tak ada angin apalagi hujan, tiba-tiba saja ia memutuskan berhenti dari pekerjaannya. Kemudian meninggalkan rumah dan seluruh isinya. Hijrah ke sebuah dataran di perbatasan kota ini. Memilih hidup baru secara sederhana, bersama dengan sebuah komunitas islam bernama An-Nadzir*.

Di tempat baru itu, bersama dengan komunitasnya, ia harus memulai bertani, berkebun, dan memelihara tambak ikan untuk menghidupi kehidupan bersama. Setiap orang harus memotong pohon di hutan untuk dijadikan tiang-tiang rumah tempat berteduh.

Tak ada yang bisa mengira akan keputusannya ini. Tidak saudara-saudaranya, ataukah istrinya, bahkan ibunya sendiri. Semua tiba-tiba terjadi begitu saja.

Dan seperti biasa, perdebatan pun bermunculan. Yang di dalam rumah apalagi yang di luar rumah. Orang-orang sekampung kami, meski ributnya tak sampai macam petasan meletus, tapi mulut-mulut usilnya tak tahan ikut bisik-bisik. Bergunjing pagi dan sore hari, persis acara gosip di tivi-tivi.

“Besar kemungkinan komunitas ini aliran sesat, karena tak menyeimbangkan urusan duniawi dan akhirat,” begitu bunyi argumen yang bercokol di balik sebagian besar batok kepala orang-orang di kampung kami waktu itu.

Tetapi hatinya haqul-yaqin. Tak pernah sekalipun ia terlihat menyinggung soal keputusannya itu. Apalagi berusaha meyakinkan siapapun yang ia jumpai, bahwa apa yang ditempuhnya adalah beralasan. Ia seperti telah memperkirakan kondisi ini sebelumnya, tapi tak mau menggubrisnya.

Ia telah pasrah terhadap konsekuensi terberat apapun yang harus diterima. Itulah mengapa isteri dan anaknya ia titipkan kembali ke orangtua (mertuanya). Ia telah bersiap, “Jika dalam suatu keluarga, istri atau anak-anak tak lagi mempercayai pemimpinnya, maka pemimpin harus ikhlas memeberikan kebebasan jalan baginya untuk menentukan pilihan,” itu yang pernah ia ucapkan bertahun-tahun kemudian. Meski saat itu pertanyaan kami bukan dimaksudkan ihwal istrinya, melainkan soal pandangannya tentang sebuah keluarga. Namun bagi kami, kalimat ini sekaligus menjawab soalan istrinya waktu itu.

Kini tujuh tahun telah berlalu. Pelan-pelan, perahu-perahu itu mulai menemukan air tenang. Semakin lama semakin tenang. Peran yang ditingalkan ayahnya berpindah ke tangan lain. Malah peran itu terasa tak berasa, sebab hampir semua saudaranya melakoninya dengan baik. Tumpuan keluarga kini tak lagi diemban satu orang. Setidaknya enam orang saudaranya sekaligus telah menggantikannya sebagai nahkoda.

Sampannya sendiri, meski hanya terbuat dari kayu sederhana hasil tebangannya dan orang-orang sekomunitasnya, terus berlayar tegak menantang lautan. Beberapa tahun terakhir, anak dan isterinya telah berkumpul dengannya di dataran perbatasan kota itu. Namun, sama sekali bukan berarti ia dan istrinya merajut kembali hubungan, sebab mereka memang tak pernah berpisah.

Tentang pernikahannya waktu itu, sekali lagi, ia hanyalah menitipkan isteri dan anaknya ke orangtua (mertuanya). Sifatnya hanyalah sementara, tentulah sewaktu-waktu ia berhak memintanya jika semuanya memang bersedia.

Tadi siang kami lewat depan rumah orangtuanya, di kampung kami yang biasa-biasa saja. Ia berjongkok menyikat tembok pagar rumah itu dengan air. Tinggal hitungan hari lagi Idul Fitri datang. Seperti tahun-tahun kemarin, itu pertanda ia bermaksud mengecat tembok rumah itu, biar penampilannya semakin cerah.

Selepas maghrib kami bertemu adiknya. Kami menanyakan, kapan kiranya Kakak Tom datang, sedari dulu kami memanggil abangnya dengan nama itu.

“Kemarin sore. Eh, dia bawa ikan dari tambaknya banyak, besar-besarnya lagi. Coba malamnya kau ke rumah, pasti kau dapatki acara bakar-bakar ikan di pekarangan,” seru adiknya yang sehari-harinya memang sepergaulan dengan kami.

*     *     *

Sekonyong-konyong, tawa terpingkal-pingkal menyeruak sampai ke langit-langit gedung. Pasalnya, salah satu dari kami terbaring menjatuhkan diri di tengah lapangan karena tergopoh-gopoh berusaha mengambil dropshot lawan yang melesat tipis di bibir net. Semua yang melihatnya pasti tertawa. Adegan itu memang sungguh lucu.

Tak terkecuali dirinya, yang berada di salah satu sudut bangku, sembari berkomentar mengenai kejadian itu, dengan salah satu dari kami yang kebetulan duduk di sebelahnya. Sesekali ia mengusap jenggot lebatnya, ataukah membetulkan kuncir rambut gondrongnya yang kuning keemasan oleh pewarna rambut.

Pakaian yang dikenakannya sangat sederhana. Teramat sederhana. Celana gombrangnya berbahan kain. Panjangnya tak melebihi mata kaki. Di ujung lipatan bawahnya, tampak ada bagian benang yang dijahit tangan. Kali ini ia memadukannya dengan topi rimba di kepala, yang warnanya telah memudar.

Tak ada yang bisa mengira akan keputusannya waktu itu. Tidak itu saudara-saudaranya, istrinya, bahkan ibunya sekalipun. Apalagi kami yang cuma adik-adik tetangganya. Bahkan bertahun-tahun hingga sekarang, bila mendengar kisah ini, masih saja ada yang pikirnya tak bisa habis.

Dulu, lain waktu di gedung olahraga ini,  dia pernah berkata, “Segala sesuatu (kejadian) itu hanyalah keinginan Allah, sebab tak ada sesuatu pun yang memang bukan miliknya.”

Seperti halnya malam ini, bila melihatnya tertawa geli di sudut bangku itu, selalu mengingatkan tentang Ibrahim Ibn Adham* dan Sidharta ‘Buddha’ Gautama.

Demikian tentang legenda hidup dari tempat tinggalku.

*     *     *

Kampung Pettarani, Makasssar 2 September 2010

_____________

*Komunitas An-Nadzir adalah sebuah kelompok muslim yang mungkin jumlahnya sekarang mencapai 300an orang.  Mereka hidup commune di  kawasan Mawang, Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan, dekat dengan perbatasan Kota Makassar.
Komunitas ini memiliki ciri khas dari sisi penampilan, kaum lelaki berambut gondrong berwarna pirang. Sementara, kaum perempuan memakai cadar. Pakaiannya selalu berwarna hitam-hitam.
Pada dasarnya, mereka menghidupi diri dengan mengelola sawah, kebun dan tambak ikan. Namun kabarnya juga membuka bengkel dan dan usaha penyulingan air galon.

*Ibrahim ibn Adham atau lebih lengkapnya Abu Ishaq Ibrahim Ibn Adham adalah seorang legenda darwish dalam wiracarita sufisme. Seperti juga ‘Buddha’ Gautama yang tadinya seorang pangeran kerajaan, ia adalah pewaris tahta keturunan Arab Kerajaan Balkh.
Yang diceritakan orang-orang suci (wali), meski dunia di bawah kekuasaannya, meski 40 pedang emas dan 40 tongkat emas selalu mengiringi depan serta belakangnya, tetapi semuanya urung menghalangi bisikan hatinya.
Suatu waktu, setelah pertemuan misteriusnya dengan seseorang di atap rumahnya pada tengah malam buta, serta dialognya dengan lelaki asing di dalam istananya, hati Ibrahim Ibn Adham menjadi gelisah. Konon, lelaki di atap rumah dan di dalam istananya itu tak lain adalah Nabi Khidhr as.
Hingga akhirnya, ketika bisikan hatinya telah paripurna, ia lalu menghampiri seorang gembala domba. Diberikannya jubah bersulam emas serta mahkota bertahta permata yang biasa ia kenakan, kemudian ia berganti dan mengenakan pakaian dan penutup kepala sang gembala yang terbuat dari bulu hewan.

Syahdan, saat itu semua malaikat seraya berdiri memandang Ibrahim Ibn Adham.
“Betapa agung kerajaan yang kini dimiliki Ibn Adham,” ujar para malaikat.
“Ia telah membuang pakaian dekil duniawi, dan kini mengenakan jubah agung kemiskinan.”

Ibrahim Ibn Adham, seorang legenda sufi, lalu memilih menghilang dari Kerajaan Balkh, dan mengembara ke arah barat untuk menjalani kehidupan sebagai pertapa (asketisme). Dengan dan dalam kealpaan harta.
Dalam riwayat sufisme, ia akhirnya syahid di tahun 165 H/ 782 M dalam sebuah ekspedisi laut melawan pasukan Byzantium.

Selesai @hakcipta Eeduy Haw

 (di add atas izin ybs dalam rangka studi kelayakan , berikanlah komentar apakah tulisan ini layak diterbitkan dlam sebuah E-book atau tidak-Dr iwan)

Studikelayakan tulisan Kompasiana (4) “Ibuku Idolaku”

Fiksi
seorang ibu … yang kepingin tulisannya dibaca dan yang baca terkesan dan ngasih komentar…

Ibu Guru, Idolaku (Bg I)
Nyimas Herda
|  26 Juni 2010  |  16:32
155
13
     
   
   
2 dari 2 Kompasianer menilai Menarik.

Duh panas sekali ya kota Palembang siang ini… lihat keringatku bercucuran.. entah berapa kali aku menghapusnya di wajahku nan ganteng ini.. ingin rasanya pulang, duduk depan tivi nonton tivi sambil minum air dingin … hemn… tapi.. yang hari ini kutemeni keliling-keliling pusat pertokoan asyik-asyik saja.. tuh lihat bahkan dengan cerianya dia milih-milih sepatu bersama anak-anaknya yang juga anak-anakku… yeeeeh… memang benar kata teman mengajarku, paling nggak enak nemeni “wong rumah” belanja… tapi mau bagaimana lagi, hari ini aku memang telah berjanji untuk menemani istri dan anak-anakku untuk belanja kebutuhan sekolah. anak-anakku naik kelas semua, meski tidak menduduki ranking sepuluh besar.. tapi semangat untuk mau bersekolah sudah cukup bagiku sebagai orang tua yang tidak banyak menuntut kepada anak-anakku yang ada dua, laki-laki dan perempuan sama saja.. eeh kenapa jadi seperti iklan KB zaman Presiden Suharto ya… hehehe.

” maaf pak… permisi..” tiba-tiba ada yang mau nyelip mendahuluiku.. memang nih ruang untuk jalan di toko sepatu yang dimasuki istri dan anak-anakku rada sempit. aku agak menepi agar ibu … eeh.. aku merasa suprise melihat siapa yang mau lewat…

” Ibu Ya… ibu Yayan.. ” aku jadi setengah berteriak, ibu yang mau lewat tersebut, dan kusebut dengan panggilan ibu Yayan kaget.. dia melihat ke wajahku, meneliti. aha, masyak dia tidak ingat dengan aku. aku pikir dulu aku sangat dekat dengan ibu ini sampai-sampai aku berani mengganti namanya yang Yayanti menjadi Yayangku.. untuk mencandainya dulu, sewaktu aku masih berseragam putih abu-abu dan ibu ini mengajar di kelasku sebagai seorang guru Akuntansi. Waktu itu ibu ini masih mahasiswi, dan kupikir sekarang dia tentu, sudah bergelar sarjana.. Sepeda.. hehehe S.Pd maksudku.. bukankah aku sendiri sudah lima tahun yang lalu bergelar S1 tersebut.

tetapi jika ibu ini tidak ingat wajar saja, dia melihatku terakhir dulu, sewaktu aku masih diajarnya, dan itu 15 tahun yang lalu. sekarang saja aku sudah punya anak dua, yang pertama sudah kelas IV SD dan yang nomor dua sudah kelas II SD.

dengan sikap khasnya yang kusuka, ibu Yayan membetulkan kacamatanya.

“maaf, ibu betul-betul lupa, mungkin karena kumismu itu” katanya… aha, masih selembut dulu.. dan subhanallah ketika aku betul-betul memperhatikan bagaimana wajah ibu Yayan ini, dia tampak seperti 15 tahun yang lalu, tidak terlihat perubahan sedikitpun.

“ibu masih cantik” kataku tanpa menghiraukan jika beliau lupa padaku.

dia ketawa lirih,

“ibu sudah tua nak. kamu saja sudah menjadi bapak-bapak begini. ibu tentu sudah nenek-nenek” katanya bijak.

“yook sudah ya, ibu lagi terburu-buru” lanjut beliau dan segera melanjutkan langkahnya. eeeh dia sepertinya tidak ingin tahu siapa aku..

“bu, aku Syahrizal” seruku sebelum langkahnya semakin jauh. dan seperti dugaanku, langkah itu terhenti dan dia langsung kembali mendekatiku.

“kaa..mu Syahrizal..” dia seperti gugup. dan aku mengerti mengapa dia gugup. karena aku dulu memang merupakan siswa yang paling tidak ingin dikenangnya, kukira. Mengapa tidak, aku pada waktu itu setelah kelulusan dan dinyatakan lulus langsung menemui dia dan mengatakan bahwa…. hehehehe.. aku mencintainya sebagai laki-laki kepada perempuan. kurang ajarnya aku kan ? dan sepanjang aku diajar dia aku berusaha membuat dia marah dan marah. ada saja ulahku agar dia tersinggung, dan waktu itu dia terlampau muda untuk jadi seorang guru, selisih denganku hanya 3 tahun. itu ketahuan dari data di kantor guru. dan soal kepintaran memang tidak kupungkiri dia seorang wanita yang pintar. dengan jilbab panjangnya dia selalu berusaha untuk menjaga kewibawaan seorang guru wanita yang santun dan bijak tapi bagiku saat itu dia sama saja dengan teman-teman wanitaku sebayaku.

entahlah, mengapa saat itu aku bersikap begitu padanya. di mataku, dia memang seorang wanita yang begitu mempesonaku, membutakan aku sehingga aku suka nabrak-nabrak jika dia lewat di dekatku. tetapi sikapnya yang selalu menjaga jarak dan berusaha menempatkan aku sesuai dengan posisiku sebagai muridnya membuatku bertambah ingin menjadikan dia, pendampingku, pacarku, kekasihku kalau untuk jadi istri, belum tentu saja. aku kan masih pelajar SMA, waktu itu.

Lalu karena begitu kentalnya perasaan itu, tanpa berpikir panjang lagi ketika kesempatan untuk bicara ada, aku pergunakan sebaik-baiknya. dan reaksinya sangat mengagumkan. dia tidak marah. dia bahkan tersenyum, manis sekali dan senyum itu sampai hari ini meski istriku juga memiliki senyum yang terindah buatku, aku masih teringat dan terkenang..

“Terimakasih Zal. sudah ya, ibu pulang” kata-kata itu singkat dan jelas.

dan besok, besoknya lagi, setiap kali aku kesekolah untuk menemui,  dia selalu berhasil menghindari aku. Dan ketika aku memutuskan untuk kuliah ke Jogya di sebuah Perguruan Tinggi di sana, sehari sebelum keberangkatanku ke Jogya aku memberanikan diri untuk mendatangi rumahnya. Dia tidak ada, dia sedang mengisi materi kerohanian di Masjid. kata wong yang ada di rumahnya. dan sampai sore aku menunggu, dia tidak pulang, hanya lewat telpon dia memberitahu kerabatnya, dia hari itu terlambat pulang karena ada keperluan. aku tidak mungkin menunggunya sampai malam karenanya aku pulang dengan perasaan kecewa.

waktupun melaju dengan alaminya, aku ketemu wanita yang sikapnya agak mirip dengan ibu Yayan ini dan akupun menikahnya meskipun waktu itu aku dan wanita itu masih berstatus mahasiswa-mahasiswi. karenanya ketika aku menyandang gelar sarjana, aku sudah memiliki balita dua orang… hehehe.. sementara istriku, dengan sangat terpaksa tidak menyelesaikan kuliahnya, dia sakit-sakitan sih. Lalu setelah segala urusan selesai aku kembali ke Palembang dengan istri dan anak-anakku. dan aku ikut tes PNS, lulus dan ditempatkanlah aku di salah satu SMP negeri di kota Palembang ini, kota kelahiranku.

“Rizal, kamu bersama istri dan anak-anakmu ya” kata ibu Yayan menyadarkan lamunanku. dan memang saat itu istri dan anak-anakku mendekatiku karena disampingku ada ibu guruku ini..ibu guru yang tetap cantik seperti 15 tahun yang lalu.

“oya.. kenalkan bu”

Asri, istriku menyalami sang ibu. begitu juga dengan anak-anakku. senyum manis itu mengembang dengan tulus.

“Istri kamu cantik…” katamu ketika istri dan anak-anakku sibuk kembali dengan acara mereka.

“terimakasih bu..” aku sedikit tersipu, kenangan masa lalu itu kembali menari-nari dipelupuk mataku, dan sepertinya aku.. astafirullah al azim, masih merasa deg-deg an di dekatnya.

” Kamu sekarang kerja di mana ?” dia bertanya sambil memilah-milah baju yang terpajang di dekatnya.

” Jadi Pak guru bu.. ketuleran ibu, guru akuntansi juga” kataku sambil senyam-senyum..

“Oh bagus itu…” komentarmu tanpa melihat ke arahku, sibuk dengan salah satu baju yang sepertinya diminatinya..

” ibu sendiri sekarang sudah berkeluarga kan bu.. aku dengar ibu dijodohkan.. ya kan bu.. adiknya Pak Daus kan bu.. guru Matematika itu..” eeeh aku tidak dapat menahan perasaan penasaranku ingin tahu banyak dengan idolaku dulu ini. dia mengembalikan baju yang dipegangnya ketempatnya semula.

” kamu wartawan juga rupanya..” katamu sambil tersenyum. lalu dia melirik jam tangannya..

” Rizal, maaf ya ibu harus cepat-cepat. salam untuk istrimu.. sayangi dan cintai dia dengan tulus ya, terima dia apa adanya” .. eeeh kenapa dia jadi banyak berkata-kata.

dan ketika aku perhatikan ada kilau kepedihan di mata nya yang berbungkus kacamata itu, aku ingin bertanya tapi dia cepat berlalu… dan akhirnya aku urungkan untuk bertanya. aku merasakan ada sebait puisi sedih pada ibu guru ku yang dulu sangat kucintai itu…tapi apa ya.. aku tertekun dan bermain dengan lamunanku.

“Papa… kita ke tempat mainan yook” anakku yang nomor dua membuyarkan lamunanku

“ooyaa ya… sepatunya sudah dapat ?” tanyaku sambil menuntunnya ke tempat mainan.. seperti yang sulung bersama ibunya sudah beranjak lebih dahulu, ke tempat mainan..

Sejak bertemu dengan ibu guru Yayan, wanita yang dulu sangat kukagumi, kuhormati, kucintai, aku merasa gelisah. Di hatiku ada sesuatu hasrat untuk bertemu lagi dan mengetahui bagaimana keadaan wanita idamanku dulu itu. Dia sudah menikah, aku tahu itu. Akupun sudah menikah, aku sadar itu. Tetapi aku merasakan dia tidak bahagia dan aku merasa tidak rela. Aku ingin lebih banyak tahu kehidupan dia sekarang. Tetapi bagaimana caranya, aku tidak tahu di mana ibu Yayan tinggal. Aku pernah bertamu ke rumahnya yang dulu, dan ternyata keluarga ibu Yayan sudah lama pindah, rumah tersebut dijual. Memang masih di kota Palembang, tapi dimana. Kecamatan Seberang Ulu I, Seberang Ulu II, Plaju, Pakjo atau di mana. Aku berusaha mencari tahu lewat sahabat-sahabatku kalau-kalau saja mereka tahu, tapi mereka bilang ibu Yayan tidak mengajar lagi dan letak pasti di mana bu Yayan tinggal mereka tidak tahu, yang pasti bu Yayan tinggal bersama Suami dan anak-anaknya. Oh ya, dari mereka aku tahu sedikit, Suami Yayan seorang pengusaha, dan mereka dikaruniai tiga anak, perempuan dua, satu laki-laki. Dan kesibukanku mencari tahu tentang Ibu Yayan ini rupanya tidak luput dari perhatian Asri, istriku. Sudah dapat ditebak bukan, dia cemburu sekali dan akhirnya memutuskan untuk pulang ke rumah orang tuanya Jogyakarta, anak-anak diajaknya. Asri tega membiarkan aku sendiri, melakukan segalanya sendiri, angka satu deh seperti lagu dangdut tempo dulu yang dipopulerkan oleh siapa ya…lupa aku.

Sebenarnya aku sudah menjelaskan kepada Asri, jika ibu Yayan itu masa lalu. Tetapi dengan segenap emosi yang dia punya, dia tetap pergi meninggalkan diriku, menenangkan diri katanya.. yah sudah aku pasrah saja. Lagipula ada enaknya juga, aku jadi banyak waktu untuk mencari dan menemukan jejak ibu Yayan… hehehehe.. kalau dipikir-pikir, wajar sekali Asri marah, tetapi aku tidak bisa mengelak dari rasa penasaranku kepada ibu guruku itu, ibu Yayanti tercinta… hahahahaha. 

Dan akhirnya kegigihanku mencari tahu membuahkan hasil. Sepertinya Allah masih tak tega membiarkan aku terkukung oleh rasa penasaran. Pagi itu aku hendak pergi mengajar, di simpang tiga yang dulu kutahu adalah lokasi rumah ibu Yayan aku menjalankan motorku perlahan. Entah kenapa aku ingin menyelusuri jalan menuju rumah ibu Yayan tempo dulu. Dan betapa kaget campur senangnya aku, ketika tepat di depan rumah ibu Yayan yang dulu aku melihat ada seorang perempuan berjilbab lebar turun dari beca, memang tidak ke pagar rumah ibu Yayan yang dulu melainkan menuju gang samping rumah. 

“ibu Yayan…” teriakku penuh harap. Wanita itu menoleh dan hei memang ibu Yayan. Dia menunggu aku turun dari motor, sepertinya dia sudah mengenaliku. 

“Syahrizal kan. Kebetulan atau sengaja kemari ?” tanyanya setelah aku dekat dirinya. 

“eeh.. kebetulan bu..” aku merasa malu, karena menyadari semangat yang ada pada diriku untuk bertemu lagi dengannya begitu besar. 

“ibu masih tinggal di sini” aku berusaha menetralisir perasaanku yang gegap gempita oleh rasa suka cita ketemu sang idola hati, ibu Yayanti tercinta..wahai, berhak tidak ya aku menyebutnya begitu. Mengapa pula pakai yang tercinta ya, mungkinkah memang aku masih menyimpan rasa, lho bagaimana dengan Asri, istriku, ibu dari Toto dan Titi, anak-anakku ?!! 

“oh tidak, ibu ke sini hanya ada keperluan dengan kakak ibu. Dia masih tinggal di sini, di rumah belakang, tuh kelihatan dari sini” kata ibu Yayan seraya menunjuk ke rumah bercat biru yang kelihatan dari mulut gang. 

“ibu lama atau sebentar bu..” eeh tiba-tiba saja ada ide gila di otakku. 

“oh sebentar saja.. hanya memberikan ini” ibu Yayan memperlihatkan bungkusan yang dibawanya. 

“pesanan istri kakak ibu. Kenapa emangnya ? oya Rizal mau ngajar kan ?” lanjut ibu Yayan. 

“iya bu, aku hanya ingin menawarkan jasa, jika ibu tidak keberatan. Ingin mengantar ibu jika ibu cepat pulangnya..” kataku dengan pembendaharaan kata yang dipilih sebaik mungkin. 

“tidak perlu itu Rizal. Lagipula katamu kamu mau mengajar kan ?” dan sesuai dengan pemikiranku ibu Yayan pasti menolak. 

“yaah kalau begitu tidak apa bu. Aku pergi dulu ya bu..” kataku dengan sikap baik-baik saja. setelah melihat anggukan ibu Yayan, aku segera kembali kemotorku, dan menjalankannya..dari kaca spion motor aku lihat ibu Yayan masuk ke dalam lorong, dan hilang dari pandangan mataku. Aku menghentikan motor dan berbelok kembali ke mulut lorong rumah saudaranya ibu Yayanti tersebut. Aku ingin menunggu bu Yayan meski dia tadi menolakku. Dan kebetulan ada warung makanan di depan lorong tersebut maka aku leluasa menunggu sambil pura-pura makan di situ, yap, aku memutuskan untuk tidak mengajar hari ini demi membuang penasaranku yang menyiksa ini. 

Satu jam, dua jam, duh lama juga nih. Air teh yang kupesan sudah  hampir dua gelas habis kuminum. Tetapi bu Yayan sepertinya tidak keluar juga dari lorong. Akhirnya aku menyerah. Aku merasa ada kepedihan mengalir di ulu hatiku, andai saja aku perempuan tentu aku sudah menangis, namun berhubung aku seorang laki-laki, yang sudah Bapak-bapak, sudah beristri dan mempunyai anak dua. Malu kalau sampai masalah menunggu tanpa hasil ini saja aku sampai menitikkan air mata. Yaaah, aku menarik napas panjang. Ibu yang jaga warung makanan tempat aku menunggu ibu Yayan nampak menaruh curiga tetapi tidak berani asal tuduh sepertinya. Dengan cuek aku bayar apa yang aku makan dan aku minum. Lalu menuju tempat motor yang kuparkir di dekat warung. Aku naik ke motor dan berpikir, pulang saja lah. Namun untuk yang terakhir aku ingin memastikan, aku menoleh kelorong..dan ola la.. yang kuharap akhirnya menjadi nyata.ibu Yayan. 

—-Aku naik ke motor dan berpikir, pulang saja lah. Namun untuk yang terakhir aku ingin memastikan, aku menoleh kelorong..dan ola la.. yang kuharap akhirnya menjadi nyata.ibu Yayan.—

Kulihat ibu Yayan berjalan sambil menunduk menyelusur lorong. Aku menunggunya dengan sabar. Dan ketika dia menginjakkan kakinya ke aspal jalan, aku mendekatinya …

” bu..” sapaku selembut mungkin. Dia kaget, dan mengucap pelan..astafirullah al azim.. kata-kata yang sangat kuhapal akan terlontar dibibirnya jika dia kaget, atau tidak suka dengan sesuatu…

” maaf bu.. bikin kaget. Aku hanya ingin mengantar ibu pulang.. boleh kan ?” aku bertutur dengan nekat. Lama dia memandangiku sambil menarik napas panjang dan menghembuskannya dengan pelan..

“Rizal, kamu tidak perlu serepot ini…” katanya dengan nada seperti menyesali.

“tidak bu, tidak repot.. sama sekali tidak repot, bahkan aku sangat ingin mengantar ibu.. jadi jangan menolak ya bu..” nah, aku pikir aku sudah mulai gila..apalagi mengingat kondisiku yang suami orang dan dia, bu Yayan seseorang yang pernah menjadi guruku, dan dia istri orang. Tetapi semua itu kutindas dalam-dalam, pikiranku saat itu hanya satu, aku ingin mengantarnya pulang kerumahnya agar aku tahu rumahnya dan jika ada kesempatan aku akan bertandang, dan satu lagi, aku ingin dekat-dekat dia, aku tidak ingin kehilangan sosoknya lagi meski hanya memboncengnya sebentar, tapi itu lebih dari cukup bagiku.

“Rizal, sebenarnya ada apa.. mengapa kamu begitu memaksa” tanpa peduli ajakanku dia berjalan menuju arah pasar yang memang tidak jauh dari lokasi kami saat ini. aku terdiam, sambil menjejeri langkah dengan menjalankan motor pelan-pelan, aku berpikir, iya ya.. mengapa..? tetapi perasaan yang bergejolak di dadaku menuntunku demikian. Apalagi jika kuingat pertemuan tempo hari, di mana aku melihat seperti ada kabut di mata ibu Yayan. Kabut duka yang sepertinya diusahakan disimpan dengan rapi dan rapat-rapat.

“Bu..andai aku ingin mengajak ibu makan bakso, ibu tidak marah kan dan bersedia..” kataku sedikit kecut, takut ditolak.. bu Yayan kan gudangnya penolakan.. hehehe.

“Yang di dekat-dekat sini saja ya…”

Hah… kata-kata itu mengagetkan bercampur rasa senang…

“tapi tidak perlu Rizal menyuruh ibu naik motornya.. biarlah ibu jalan kaki begini.. warung baksonya tidak jauh kan..” sebelum sempat aku menyuruhnya naik motor, dia sudah keduluan bicara begitu.. ya deh aku mengalah, jangan sampai ibu Yayan berubah pikiran.. dan begitulah, sambil ngobrol yang tak penting kami menuju warung bakso yang ada.

Tak lama kami sampai, aku mengajak bu Yayan duduk agak di pojokan.. dia seperti mau protes tapi diurungkannya.. diapun duduk manis di depanku, aah, aku jadi kangen dengan istriku..Asri. Gaya mereka sama, dan aku kira aku memilih Asri jadi istriku itu tentu karena pengaruh pesona bu Yayan juga,

“ibu mau minum apa ? jus pokat ya bu..”kataku dengan semangat. Dia tersenyum.

“terserah kamu saja. Tapi kamu tahu darimana ibu suka jus pokat ?” tanyanya meneliti. Aku tidak menjawab melainkan segera memanggil gadis yang menjaga warung bakso untuk memesan bakso 2 mangkok, jus pokat untuk bu Yayan dan es campur untuk diriku sendiri. Sesaat kami sibuk dengan pemikiran kami masing-masing. Tetapi diam-diam aku memperhatikan gerak-gerik bu Yayan yang ada didepanku. Dia tampak tenang, tidak kelihat gelisah atau gugup sepertinya dia menganggap “kencan” kami ini biasa-biasa saja. Sekali-sekali dia membetulkan jilbabnya yang tertiup angin. Penampilan bu Yayan pun tidak berubah, tetap berkacamata dan berjilbab panjang. Hanya saja aku pikir ada sedikit yang berubah.. yaitu bu Yayan terkesan lebih dewasa dan lebih bersahaja.. jika tidak ingin dikatakan sangat sederhana. Dulu aku selalu melihat bros yang menghiasi jilbabnya berganti-ganti. Tetapi saat sekarang dia sepertinya tidak memakai bros. jilbabnya hanya diselipkan dengan peniti kecil agar terkesan rapi. Dan jari-jari itu biasanya dihiasi cincin-cincin kecil yang cantik, sekarang kelihatannya hanya dikenakannya sebuah cincin kawin yang sepertinya sudah mulai pudar kuningnya. Akhirnya pesanan kami datang. Aku segera mempersilakan dia untuk menyantapnya. Dia mengangguk tanpa bersuara dan mulai menyantap.. setengah gelas jus pokat masuk ketenggorokannya, dia berhenti.

“kenapa bu ?” aku bertanya sedikit cemas.. sesungguhnya, aku ingin dia menghabiskan dulu semua hidangan setelah itu baru aku berniat untuk bertanya segala hal yang ingin aku ketahui.

“Tidak apa-apa, hanya ibu merasa heran atas semua ini.. ada apa Zal..”

“ooh .. ehehehe” aku ketawa lirih.

“yaah.. istrimu tahu kalau kau traktir ibu jajan bakso ?” tanyanya tanpa kuduga.

“eeh.. ya bu tahu..” aku jadi asal saja menjawab.

“Syukurlah. Hm Rizal, berceritalah ada apa. Ibu merasa pertemuan semacam ini memang sengaja kau harapkan terjadi. Ya kan. Nah jadi berterus teranglah, ada apa..” kata-kata bu Yayan meluncur dengan lancarnya, hemn.. ibu Yayan-ibu Yayan, tahukah engkau, saat ini jantungku terasa lebih kencang berdenyutnya. Tahukah ibu bahwa Syahrizal yang dulu yang pernah menyatakan cintanya pada ibu saat ini masih merasa mencintai ibu..meski dia sudah beristri dan memiliki anak-anak. Tetapi cinta itu tetap tumbuh dengan subuh dan indah…

“Rizal, ibu tidak sendiri lagi. Ibu sudah bersuami. Dan ibu juga sudah memiliki anak-anak. Begitu juga dengan kamu. Makan bakso bersama seperti inipun sebenarnya tidak layak kita lakukan. Ini awal sebuah perselingkuhan Rizal. Dosa..” matanya yang bening menatapku dengan tegas, meski nada suaranya begitu lembut.

“ibu tahu Rizal penasaran dengan ibu. Sejujurnya ibu akui, ibu sekarang lusuh dan seperti tidak sebahagia dulu. Yaah tetapi ibu ikhlas dengan kehidupan ibu itu. Meski pernikahan yang ibu jalani ini tanpa dilandasi rasa cinta. Tetapi ibu tidak peduli, meski saat ini ibu belum merasakan bagaimana rasanya dicintai olehnya. Rizal, ibu tidak ingin berlalu dari takdir ini. ibu yakin suatu saat nanti cinta itu akan datang. Dan diapun akan mencintai ibu seperti kau mencintai ibu…” waw… bu Yayan. Kata-kata itu begitu blak-blakan, dan tanpa ada kata-kata yang diselubuki oleh kiasan. Aku jadi kehilangan kata-kata dan sepertinya juga tidak perlu berkata-kata.

“Asri, begitu kan nama istrimu. Tentu berharap yang sama denganmu. Ingin kamu cintai apa-adanya.. kamu kan sudah memilih, mengapa harus mencoba sesuatu yang dilarang oleh Allah. Rizal, kawan-kawanmu banyak yang bercerita tentang kamu, ibu sangat tersanjung.. ibu sangat berterimakasih karena dicintai dengan tulus. Tapi Cinta Tidak Mesti Bersatu.. ya kan ?” lanjut bu Yayan. Pleees..des..kata-kata itu seperti tonjokan kecil di ulu hatiku.. ada sesuatu yang menjalar pedih di hati tetapi setetes embun ketulusan seperti mengelumerkan kepedihan itu…

“Rizal, kamu mengerti maksud ibu tentunya…” yaah… aku mengerti bu. Tetapi boleh kan jika aku untuk pertama dan terakhir menyium tangan mungilmu.. batinku, dan tanpa pemisi hal itu aku lakukan.. hah.. hampir tumpah mangkok baksonya.. dia kontak berdiri.. tapi kemudian duduk lagi. Tangan yang kupegang dan kucium tadi segera ditariknya.

“Riii.. zal..” ada getar marah di suaranya…tapi bu Yayan memang jempolan.. dia tidak berteriak gaduh sehingga pengunjung warung bakso menoleh.. dia sesaat saja kaget…

“kamu…aah sudahlah.. lupakanlah.. tetapi ibu harus pulang sekarang. Terimakasih bakso dan jus pokatnya ya.. dan ibu harap ini pertama dan terakhir ada pertemuan semacam ini diantara kita. Salam untuk istrimu.. jangan kau sakiti hatinya. Jika kau sakiti dia.. berarti kau menyakiti hati ibu juga..” katamu dan segera beranjak pergi meninggalkan aku sendiri merenungi apa yang diucapkannya dan apa yang kuperbuat..aku merasa kepalaku berdenyut-denyut..pusing.. aaah Yayan, aaah Asri

Ibu Yayan pergi meninggalkan aku sendirian di warung bakso, aku merasakan ada sesuatu yang ikut pergi mengikuti dirinya, aku merasa ada sesuatu yang hilang dan aku tidak tahu pasti apa itu, namun kata-kata ibu Yayan tadi semakin menambah rasa kasihku, cintaku kepadanya. Aneh bukan, tetapi itu nyata. Aku dapat merasakan kegetiran dari kata-katanya, aku ingin memeluk dirinya dan memberikan kehangatan cintaku yang murni kubingkis buatnya. Tetapi aku juga teringat Asri, istriku. Dia baik dan mencintai aku setulus cintaku kepada ibu Yayan. Selama hampir 10 tahun dia mendampingi diriku dan suka duka kami jalani bersama. Dia istri yang setia dan mengabdi. Dia juga tidak pernah berkata kasar seperti juga ibu Yayan, aku dapat pastikan itu. Aaah.. jika dipikiri terus kepalaku terasa penuh sekali, aku kepingin ngaso saja. Aku ingin istirahat agar pikiranku kembali jernih dan kepala ini sedikit lebih ringan. Setelah membayar makanan yang aku dan ibu Yayan pesan, aku segera ke tempat parker motorku. Duuh mengapa mataku seperti berkunang-kunang ya. Hemn, mungkinkah aku kurang tidur sehingga darah rendahku kumat lagi. Yaah semenjak Asri pulang kampung bersama anak-anak karena merajuk, aku mengerjakan semua keperluanku sendirian. Dan aku tidak bisa beralasan capek untuk semua yang kubutuhkan dalam keseharianku, karena hidup terus berlanjut meski tanpa istri disampingku. 

Dengan semboyongan aku menaiki motorku dan menghidupkannya. Dan ooh kepalaku bertambah pusing, aku merasa semua berputar.. dan astafirullah al azim.. semua gelap.. gelap .. ya gelap… dan aku tidak merasakan apa-apa lagi selain suatu rasa yang nyaman di mana aku melihat di atas sana ada senyum lembut ibu Yayan yang kucintai, senyum manis Asri yang mencintaiku, dan ada senyum ceria kedua anak-anakku. Betapa damainya, dan aku menikmatinya sampai akhirnya.. 

“Kak Rizal.. oh kak Rizal, maafkan aku. Aku memang egois kak, tapi kenapa kamu memilih untuk meninggalku Kak, aku masih membutuhkanmu….” Suara isak Asri membuat aku melek dan melihat pemandangan yang sulit aku mengerti. Di sana, di tengah-tengah ruang tamuku, aku melihat tubuh yang diselubungi kain dan disekelilingnya Asri, anak-anakku, papaku, mamaku, dan juga ibu Yayan tertunduk sedih. Mata mereka merah karena tangis, ada apa ?!! tak lama kemudian, datang ibu-ibu tetanggaku, dia membuka kain, dan lailahaillah Muhammadarullallah, itu aku. Yaah aku.. kenapa bisa aku terbaring di situ. 

Dan ooh ya baru aku sadari, saat ini aku seperti berada di awang-awang. Aku tidak berdiri melainkan melayang. Dan.. dan .. 

“Dik Asri, relakan Rizal ya agar dia tenang di alam sana” terdengar suara ibu Yayan. Aku mengarahkan pandanganku kepada kedua wanita berjilbab lebar itu dan menajamkan pendengaranku. Aku melihat mata Asri menatap tajam pada ibu Yayan. Heei dia marah. 

“ini semua gara-gara ibu. Kalau ibu tidak pergi bersama Rizal tentu semua ini tidak akan pernah terjadi…” tudingnya geram. Aku melihat raut wajah tenang ibu Yayan sedikit tegang, dia berusaha menguasai perasaannya. Dan suara keras Asri terus menghujaninya dengan kata-kata yang tidak menyenangkan. Tetapi ibu Yayan memang jempolan, dia tidak melakukan apapun selain diam dan memandangi Asri dengan pandangan yang teduh. Sampai akhirnya Asri capek sendiri dan menangis terisak-isak. Kasihan kamu Asri, tapi bagaimana lagi sepertinya memang harus begini.. 

“Mbak Asri, Bapak Rizal jatuh setelah lama ibu Yayan pergi dari warung itu. Ibu Yayan tidak melakukan apa-apa, dia dan pak Rizal hanya jajan bersama. Setelah ibu Yayan selesai makan, beliau langsung pulang. Mungkin saja memang saat itu Pak Rizal sedang tidak enak badan, sehingga kejadian itu membuat pak Rizal tiba ajalnya. Mbak Asri, ini adalah takdir.. karena makanan yang Pak Rizal dan Ibu Asri makan sama sekali tidak beracun” seorang pemuda yang sepertinya polisi menenangkan Asri dan menjelaskan semua yang terjadi.. ooh begitu, jadi aku sekali sudah almarhum toh? Aku mengaruk kepalaku yang tak gatal dan ketika tiba-tiba ada yang mengandeng tanganku untuk berlalu dari tempat itu, aku nurut saja.. yaaah, aku digiring pada tempat yang sebenarnya buat aku setelah aku meninggalkan semua orang yang kucintai dan mencintaiku. Aku akan dihitung amal dan dosaku… yaaah… aku ternyata telah ALMARHUM…. 

SELESAI DAAH @hak cipta Nyimas Herda (atas izin ybs ditampilkan diblog ini, lihat studi kelayakan info)

Studikelayakan Tulisan kompasiana (3)”Siapakah yang mati di Sini ?”

Fiksi
Lihat Profil    Jadikan teman    Kirim Pesan
seorang pembelajar yan malas

Siapakah yang Mati di Sini? (Cerlat)
Ramdhani Nur
|  1 September 2010  |  11:19
50
17
     
   
   
3 dari 5 Kompasianer menilai Menarik.

Mereka menggambarkannya seolah ini sebuah kenduri kematian. Meja kursi dikosongkan dari ruang tamu. Tikar dan kerpet digelar. Berduyun tetangga dan kerabat berdatangan membawa sebakom beras dan wajah yang berduka. Tangis tersudut diantara syahdu yaasiin yang bersahut. Aku tidak bisa bertanya tentang apa yang terjadi pada orang-orang yang menyalamiku dengan haru. Tak bisa pula kubalas pelukan sedalam ucapan mereka yang terus berulang. “Yang sabar ya, jeng! Ini semua sudah takdir Allah.

Aku tidak cukup mengerti dengan situasi ini. Siapakah yang mati disini? Aku lihat keluargaku semua lengkap. Kami berlima di rumah ini. Ada Ghafar, suamiku yang dikerubungi uwa dan saudara-saudara misanku. Ada mbak Esti yang sibuk menerima tetamu yang terus berdatangan. Ada ibu yang duduk sekarpet dengan Aliyah, putri kecilku satu-satunya yang lelap dibalik selimut. Dan terakhir ada aku yang memandang heran suasana disini.

Pasti ada sesuatu dan belum mereka ceritakan. Tapi biarlah, mereka melakukan itu mungkin karena tidak ingin mencemaskanku. Mereka tahu sejak dulu aku memang mudah sekali syok dan jatuh pinsan jika ada hal luar biasa yang mengagetkanku. Tapi entah mengapa, aku sama sekali tidak terpengaruh pada situasi ini. Aku malah lebih mencemaskan Aliyah. Bagaimana dia bisa tertidur lelap diantara tangisan orang-orang disini. Apalagi dia belum sembuh benar. Semalam demamnya tinggi sekali, untungnya pagi tadi panasnya sudah benar-benar turun. Karena itu, aku segera mendekati ibu untuk membawa Aliyah ke kamar. Ke tempat dimana dia lebih nyaman tertidur.

“Mau dibawa kemana, Tih?” tanya ibu terkejut.

Puluhan mata mengarah padaku saat Aliyah yang baru berumur delapan bulan ini aku rengkuh.

“Biar dia tidur di kamar saja, bu. Disini terlalu ramai”

Tiba-tiba raut ibu berubah. Ibu malah menangis panjang. “Duh, gustiii…! Eling, Tih, eling!”

Sontak semua terdiam. Suamiku segera menghampiri dan memaksaku meletakkan kembali Aliyah diantara selimut putih yang membalut penuh tubuhnya.

Dekapannya yang erat membuatku tidak bisa berbuat apa-apa selain mendengar isaknya. “Ikhlaskan ya, sayang, ikhlaskan! Tak ada yang bisa kita lakukan lagi sekarang”

Aku cuma bisa terdiam. Bingung dan kosong.

Cirebon, 31 Agustus 2010

Peserta Studi kelayakan kompasiana (2) Judul: Adat Palembang dalam Perkawinan.












Bismillaahirrahmaanirrahiim Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.Ya ILLAHI… jadikanlah hati ini hati yg tenang, hidup yg berjalan bersama kehidupan, yg melihat & yg mendengar, yg tawadhu’ dalam ridha-MU Ya RABBI… janganlah jadikan hati ini mati, lemas dalam kesibukan hidup, gersang dalam kemarau rohaniah, kaku dalam kelongsong jasadi. hidupkanlah Ya ALLOH…sekeping hatiku yg tersisa ini dgn tangan belas kasih-MU, semoga jadi gerbang menuju cinta hakikiuntuk kehidupan abadi disisi-MU… Amiin Ya RABB… ( Siti Munawaroh Rachmana , Muslim Sufi )




Adat Palembang dalam Perkawinan





SITI Palembang


|  28 Agustus 2010  |  11:19






80




81































     
   
   


10 dari 20 Kompasianer menilai Menarik.





Adat perkawinan Palembang adalah suatu pranata yang dilaksanakan berdasarkan budaya dan aturan di Palembang.



 

 



 




Melihat adat perkawinan Palembang, jelas terlihat bahwa busana dan ritual adatnya mewariskan keagungan
serta kejayaan raja-raja dinasti Sriwijaya yang mengalaimi keemasan berpengaruh di Semananjung Melayu berabad silam. Pada zaman kesultanan Palembang berdiri sekitar  abad 16 lama berselang setelah runtuhnya dinasti Sriwijaya, dan pasca Kesultanan pada dasarnya perkawinan ditentukan oleh keluarga besar dengan pertimbangan bobot, bibit dan bebet.

 Pada masa sekarang ini perkawinan banyak ditentukan oleh kedua pasang calon mempelai pengantin itu sendiri.Untuk memperkaya pemahaman dan persiapan pernikahan, berikut ini uraian tata cara dan pranata yang berkaitan dengan perkawinan Palembang.Milih Calon







 Calon dapat diajukan oleh si anak yang akan dikawinkan, dapat juga diajukan oleh orang tuannya. Bila dicalonkan oleh orang tua, maka mereka akan menginventariskan dulu siapa-siapa yang akan dicalonkan, anak siapa dan keturunan dari keluarga siapa.



 SEBELUM PERNIKAHAN







Madik

 Madik Berasal dari kata bahasa Jawa Kawi yang berarti  mendekat atau pendekatan. Madik adalah suatu proses penyelidikan atas seorang gadis yang dilakukan oleh utusan pihak keluarga pria.Tujuannya untuk perkenalan, mengetahui asal usul serta silsilah keluarga masing-masing serta melihat apakah gadis tersebut belum ada yang meminang.


 Pada zaman dahulu madik di lakukan pihak pria apabila ada kesukaan yang di lihat oleh seorang pria atas wanita di mana telah terjadi pertemuan sebelumnya seperti pria yang melihat dan tertarik pada seorang wanita pada acara cawisan atau fatayat, karena ketertatikan inilah maka pihak pria akan mengirimkan utusannya. Yang kebanyakan utusan tersebut adalah perempuan yang bisa melihat langsung wanita yang sedang di padik baik dari fisik maupun keterampilan (seperti mengaji Al Quran, Masak, Menjahit dan keterampilan lainnya) tetapi terkadang ada pula utusan adalah seorang pria.
Pertama-tama keluarga calon mempelai laki-laki mengadakan observasi atau pengamatan terhadap calon mempelai wanita dan keluarganya. Begitu juga sebaliknya, keluarga calon mempelai wanita mengadakan pengamatan juga terhadap calon mempelai laki-laki dan keluarganya.
Dalam pengamatan ini untuk mengetahui asal-usul, silsilah, dan gelarnya masing-masing. Gelar suku Palembang ada empat (4) tingkatan, antara lain:
Laki-laki Perempuan

Raden – Raden Ayu
Masagus – Masayu
Kemas – Nyimas
Kiagus – Nyayu

Tetapi pada saat sekarang madik sudah jarang di lakukan dan sudah jarang terdengan tetapi mungkin di sebagian masyarakan asli Palembang masih di lakukan dan madik ini juga di lakukan juga oleh dari keturunan Arab mereka lakukan pada saat adanya acara Gambusan ataupun sambrahan/bedana.
Untuk masyarakat Palembang sendiri saat ini madik sepertinya tidak di pakai lagi karena seiring perkembangan zaman tetapi yang masih seirng terjadi adalah “Rasan Tuo” di mana dari dua keluarga pihak pria dan wanita menjodohkan anak mereka masing-masing denagn tujuan untuk mempererat tali keutuhan keluarga.
 


Menyenggung
Menyengguk atau sengguk berasal dari bahasa Jawa kuno yang artinya memasang “pagar” agar gadis yang dituju tidak diganggu oleh sengguk (sebangsa musang, sebagai kiasan tidak diganggu perjaka lain). Menyengguk dilakukan apabila proses Madik berhasil dengan baik, untuk menunjukkan keseriusan, keluarga besar pria mengirimkan utusan resmi kepada keluarga si gadis. Utusan tersebut membawa tenong atau sangkek terbuat dari anyaman bambu berbentuk bulat atau segi empat berbungkus kain batik bersulam emas berisi makanan, dapat juga berupa telor, terigu, mentega, dan sebagainya sesuai keadaan keluarga si gadis.


Ngebet
Bila proses sengguk telah mencapai sasaran, maka kembali keluarga dari pihak pria berkunjung dengan membawa tenong sebanyak 3 buah, masing-masing berisi terigu, gula pasir dan telur itik. Pertemuan ini sebagai tanda bahwa kedua belah pihak keluarga telah “nemuke kato” serta sepakat bahwa gadis telah ‘diikat’ oleh pihak pria. sebagai tanda ikatan, utusan pria memberikan bingkisan pada pihak wanita berupa kain, bahan busana, ataupun benda berharga berupa sebentuk cincin, kalung, atau gelang tangan.
Berasan
 Berasal dari bahasa Melayu artinya bermusyawarah, yaitu bermusyawarah untuk menyatukan duduk keluarga menjadi satu keluarga besar. Pertemuan antara dua pihak keluarga ini dimaksudkan untuk menentukan apa yang diminta oleh pihak si gadis dan apa yang akan diberikan oleh pihak pria. Pada kesempatan itu, si gadis berkesempatan diperkenalkan kepada pihak keluarga pria. Biasanya suasana berasan ini penuh dengan pantun dan basa basi. Setelah jamuan makan, kedua belah pihak keluarga telah bersepakat tentang segala persyaratan perkawinan baik tata cara adat maupun tata cara agama Islam. Pada kesempatan itu pula ditetapkankapan hari berlangsungnya acara “mutuske kato”. Dalam tradisi adat Palembang dikenal beberapa persyaratan dan tata cara pelaksanaan perkawinan yang harus disepakati oleh kedua belah pihak keluarga, baik secara syariat agama Islam, maupun menurut adat istiadat. Menurut syariat agama Islam, kedua belah pihak sepakat tentang jumlah mahar atau mas kawin, Sementara menurut adat istiadat, kedua pihak akan menyepakati adat apa yang akan dilaksanakan, apakah adat Berangkat Tigo Turun, adat Berangkat duo Penyeneng, adat Berangkat Adat Mudo, adat Tebas, ataukah adat Buntel Kadut, dimana masing-masing memiliki perlengkapan dan persyaratan tersendiri.
Setelah mengetahui hal-hal yang paling kecil sekalipun, maka keluarga calon mempelai laki-laki mengutus beberapa orang untuk melamar pada pihak keluarga calon mempelai wanita. Utusan ini dipimpin oleh seorang yang pandai berbicara, baik masalah adat maupun masalah-masalah yang lainnya.
Rombongan utusan ini membawa sangkek-sangkek yang berisi bahan-bahan mentah, seperti: Gula, gandum, telur, dan lain-lain. Jumlah sangkek-sangkek ini selalu ganjil, yaitu: tiga, lima, tujuh, dan seterusnya. Jumlah sangkek-sangkek ini juga menunjukkan tingkat kemampuan sosial ekonomi dari keluarga pihak mempelai laki-laki.
 
























Mutuske Kato


 Acara ini bertujuan kedua pihak keluarga membuat keputusan dalam hal yang berkaitan dengan:”hari ngantarke belanjo” hari pernikahan, saat Munggah, Nyemputi dan Nganter Penganten, Ngalie Turon, Becacap atau Mandi Simburan dan Beratib. Untuk menentukan hari pernikahandan acara Munggah, lazim dipilih bulan-bulan Islam yang dipercaya memberi barokah bagi kedua mempelai kelak yakni bulan Robiul Awal, Robiul Akhir, Jumadilawal, Jumadilakhir. Bulan-bulan tersebut konon dipercayah bahwa bulan purnama sedang cantik-cantiknya menyinari bumi sehingga cahayanya akan menjadi penerang kehidupan bagi kedua mempelai secerah purnama. Saat ‘mutuske kato’ rombongan keluarga pria mendatangi kediaman pihak wanita dimana pada saat itu pihak pria membawa 7 tenong yang antara lain berisi gula pasir, terigu, telur itik, pisang dan buah-buahan. Selain membuat keputusan tersebut, pihak pria juga memberikan (menyerahkan) persyaratan adat yang telah disepakati saat acara berasan. sebagai contohnya, bila sepakat persyaratan adat Duo Penyeneng, maka pihak pria pada saat mutoske kato menyerahkan pada pihak gadis dua lembar kemben tretes mider, dua lembar baju kurung angkinan dan dua lembar sewet songket cukitan. Berakhirnya acara mutuske kato ditutup dengan doa keselamatan dan permohonan pada Allah SWT agar pelaksanaan perkawinan berjalan lancar. Disusul acara sujud calon pengantin wanita pada calon mertua, dimana calon mertua memberikan emas pada calon mempelai wanita sebagai tanda kasihnya. Menjelang pulang 7 tenong pihak pria ditukar oleh pihak wanita dengan isian jajanan khas Palembang untuk dibawa pulang.


 Nganterke Belanjo




 





 



serah-serahan . foto pribadi serah-serahan . foto pribadi

 



 



foto pribadi serah-serahan foto pribadi serah-serahanserah-serahan . foto pribadi

 



 
 Prosesi nganterke belanjo biasanya dilakukan sebulan atau setengah bulan bahkan beberapa hari sebelum acara Munggah. Prosesi ini lebih banyak dilakukan oleh kaum wanita, sedangkan kaum pria hanya mengiringi saja.
Uang belanja (duit belanjo) dimasukan dalam ponjen warna kuning dengan atribut pengiringnya berbentuk manggis. Hantaran dari pihak calon mempelai pria ini juga dilengkapi dengan nampan-nampan paling sedikit 12 buah berisi aneka keperluan pesta, antara lain berupa terigu, gula, buah-buahan kaleng,  hingga kue-kue dan jajanan. Lebih dari itu diantar pula’enjukan’ atau permintaan yang telah ditetapkan saat mutuske kato, yakni berupa salah satu syarat adat pelaksanaan perkawinan sesuai kesepakatan. Bentuk gegawaan yang juga disebut masyarakat Palembang ‘adat ngelamar’ dari pihak pria (sesuai dengan kesepakatan) kepada pihak wanita berupa sebuah ponjen warna kuning berisi duit belanjo yang dilentakan dalam nampan, sebuah ponjen warna kuning berukuran lebih kecil berisi uang pengiring duit belanjo, 14 ponjen warna kuning kecil diisi koin-koin logam sebagai pengiring duit belanjo, selembar selendang songket, baju kurung songket, sebuah ponjen warna kuning berisi uang’timbang pengantin’ 12 nampan berisi aneka macam barang keperluan pesta, serta kembang setandan yang ditutup kain sulam berenda.

 



Total gegawan yang di bawa pada saat naganterke belanjo adalah sebanyak 24 nampan/dulang terdiri dari 12 nampan berisi kebutuhan makan dan 12 nampan untuk kebutuhan dan perlengkapan pengantin, dan dulu biasanya yang melakukan nganterke belanjo bisanya untusan dari keluarga mempelai laki-laki dan orang tua dari calon mempelai laki-laki itu sendiri tidak mengikuti acara tersebut ini bertujan mempercayakan sesuatu yang di bawa atau di antar ke calon mempelai perempuan akan sampai (pemupukan rasa percaya).
Salah satu adat yang ada dan sempat di lihat adalah pada saat penerimaan pihak calon mempelai perempuan mempersiapkan tadok “berunang” (bakul besar seperti bakul cina) untuk tempat penerimaan dimana barang-barang yang di terima di masukan seluruhnya kesana dan setelah selesai langsung di ikat dan di bawa masuk.
Untuk tempat uang sekarang sudah jarang dilihat yang menggunakan ponjen tetapi digantikan dengan manggis (Manggis di buat dari kertas manggis di bentuk kotak persegi tetapi memiliki sudut yang berbeda di keempat sisinya) sekarang biasanya manggis besar disi untuk uang belanja dan di iringi dengan manggis kecil yang berisi uang logam yang jumlahnya terkadang 12 s/d 14 buah.
 

 



 

 



Persiapan Menjelang Akad Nikah



 

 



Ada beberapa ritual yang biasanya dilakukan terhadap calon pengantin wanita yang biasanya dipercaya berkhasiat untuk kesehatan kecantikan, yaitu betangas. Betangas adalah mandi uap, kemudian Bebedak setelah betangas, dan berpacar (berinai) yang diberikan pada seluruh kuku kaki dan tangan dan juga telapak tangan dan kaki yang disebut pelipit.

 



Dulunya kegiatan ini di lakukan seseorang yang bertindak sebagi pelayang pengantin yang bertindak sebagai “Temu Jero” di mana seluruh kegiatan di atas di lakukan oleh beliau selama beberapa hari tersebut sampai dengan acara terakhir yaitu ratiban.

 



Betangas.
Merupakan mandi uap dengan ramuan rempah-rempah dimana kita duduk diatas kursi atau tempat yang telah di sediakan dan di bawah tempat duduk tersebut di berikan uap dari rebusan rempah-rempah, para calon pengantin menggunakan kain untuk menutupi seluruh badan kecuali muka, bahkan sebagian calon pengantin menutup secara keseluruhan.
Betangas ini bertujuan untuk mengeluarkan keringat dan membersihkan pori-pori biar pada saat hari H diharapkan tidak banyak mengeluarkan keringat dan bau.

Bebedak
Bebedak istilah untuk mendandai calon penganten secantik mungkin dari tatanan rambut, muka badan kaki tangan dan keseluruhannya.

Bepacar
Berpacar (berinai) yang diberikan pada seluruh kuku kaki dan tangan dan juga telapak tangan dan kaki yang disebut pelipit. Pacar ini juga menandakan bahwa mereka akan memasuki kehidupan baru sebagai pasangan rumah tangga.
Ada satu lagi kegiatan yang di fungsikan untuk mengetahui dan menelusuri silsiah dan ini biasanya dilakukan beberapa hari sebelum akad nikah yaitu ziarah.
 
 Upacara Akad Nikah
Menyatukan sepasang kekasih menjadi suami istri untuk memasuki kehidupan berumahtangga. Upacara ini dilakukan dirumah calon pengantin pria, seandainya dilakukan dirumah calon pengantin wanita, maka dikatakan ‘kawin numpang’. Akan tetapi sesuai dengan perkembangan masa, kini upacara akad nikah berlangsung dikediaman mempelai wanita. Sesuai tradisi bila akad nikah sebelum acara Muggah, maka utusan pihak wanita terlebih dahulu ngantarke keris ke kediaman pihak pria.

 



Pada zaman dahulu juga pada saat akad nikah ada timbangan dan kitab suci dimana Al Quran yang berarti rumah tangga untuk menjalankan syariat agama dan berlaku adil, dan karena berucap di depan Al Quran dan timbangan pada zaman dahulu jarang sekali terjadi perceraian karena takut kualat karena telah berucap.
Bila akad nikah ini dilakukan jauh hari sebelum acara munggah dan akad nikah tersebut di lakukan di tempat pengantin perempuan maka pengantin pria akan pulang ke rumahnya, dan kembali saat pagi seelum acara munggah.
 

 



 

 



Ngocek Bawang
 Ngocek Bawang diistilahkan untuk melakukan persiapan awal dalam menghadapi hari munggah. Pemasangan tapup, persiapan bumbu-bumbu masak dan lain sebagainya disiapkan pada hari ini. Ngocek bawang kecik ini dilakukan dua hari sebelum acara munggah.
Selanjutnya pada esok harinya sehari sebelum munggah, dilakukan acara ngocek bawang besak. Seluruh persiapan berat dan perapian segala persiapan yang belum selesai dikerjakan pada waktu ini. Daging, ayam dan lain sebagainya disiapkan saat munggah, mengundang (ngulemi) ke rumah besannya, dan si pihak yang di ulemi pada masa ngocek bawang wajib datang, biasannya pada masa ini diutus dua orang yaitu wanita dan pria.

 



 

 



Munggah
 Prosesi ini merupakan puncak rangkaian acara perkawinan adat Palembang. Hari munggah biasanya ditetapkan hari libur diantara sesudah hari raya Idul Fitri & Idul Adha. Pada pagi hari sebelum acara, dari pihak mempelai wanita datang ke pihak laki-laki (ngulemi) dengan mengutus satu pasang lelaki & wanita.
Selain melibatkan banyak pihak keluarga kedua mempelai, juga dihadiri para tamu undangan. Munggah bermakna agar kedua pengantin menjalani hidup berumah tangga selalu seimbang atau timbang rasa, serasi dan damai.
Pelaksanaan Munggah dilakukan dirumah kediaman keluarga pengantin wanita. Sebelum prosesi Munggah dimulai terlebih dahulu dibentuk formasi dari rombongan pria yang akan menuju kerumah kediaman keluarga pengantin wanita. Sebelum prosesi Munggah dimulai terlebih dahulu dibentuk formasi yang akan berangkat menuju rumah pengatin wanita. Formasi itu adalah :

 



 



Ngarak -kumpulan-grup-rudat. foto Google Ngarak -kumpulan-grup-rudat. foto Budaya & Tradisi Kota Palembang

 



 

 



 

 



Kumpulan (grup) Rudat dan Kuntau

 



 

 



Pada saat pengantin lelaki di antar kembali ke tempat pengantin prempuan sebelum acara munggah dan diarak pakai rebana. Mempelai laki-laki diantar oleh keluarganya dengan membawa barang-barang, dari bahan makanan sampai pakaian, yang diletakkan di dalam nampan atau hidangan, namanya “gawaan”.
Mempelai laki-laki didampingi seorang pendamping, yang membawa bunga langsir. Ini melambangkan penyerahkan dari pihak laki-laki untuk diterimakannya menjadi keluarga pada pihak wanita. Arak-arakan ini dinamakan “munggah”.

 



Kuntau (Pencak Silat)/Betanggem & Pembawa Bunga Langsih
Pada saat kedatangan ini biasanya di awali dengan berbalas pantun dan atraksi buka palang pintu dari pencak silat, dan Pengatin Pria yang diapit oleh kedua orang tua, dua orang pembawa tombak, seorang pembawa payung pengantin, didampingi juru bicara, pembawa bunga langsih dan pembawa ponjen adat serta pembawa hiasan adat dan gegawan ,yang terpenting dari kedatangan ini adalah bunga langsih (bunga yang di maksud terserah jenis bungnya apa yang penting enak di pandang dan sekarang banyak juga yang mengganti bunga langsih ini dengan bunga plastic) yang harus di bawa karena kalau tidak ada pengantin tidak akan dapat masuk kerumah pengantin perempuan.
Pada saat sampai ini maka pengantin perempuan akan memberikan kain tajung dan kemeja kepada pengantin pria “Pemapak” dan dibuatkan “jerambah” (kain panjang biasa atau dari selendang songket yang di bentangkan dari pintu masuk sampai ke pintu kamar pengantin).

 



 



Cacap-cacapan & Suap-suapan. foto Budaya & Tradisi Kota Palembang Cacap-cacapan & Suap-suapan. foto Budaya & Tradisi Kota Palembang

 



 Pada saat sepasang pengantin ini keluar mereka menggunakan pakaian khas Palembang yaitu aesan Pak Sangkong atau aesan gede :

Aesan Pak Sangkong
Salah satu gaya busana pengantin adat Palembang adalah Aesan Pak Sangkong. Busana macam ini juga digunakan sebagai Busana Pengantin adat diwilayah Ogan Komering Ilir (OKI) dan Ogan Ilir, Sumatera Selatan (ini kampung emak dan ayah saya). Pengantin wanita mengunakan baju kurung warna merah tabur bunga bintang keemasan, kain songket lepus, teratai penutup dada serta hiasan kepala berupa mahkota Pak Sangkong, Kembang goyang , kelapo standan, kembang kenago dan perhiasan mewah keemasan. Pengantin pria berjubah motif tabor bunga emas, seluar (celana) pengantin, songket lepus, selempang songket serta songkok emas menhiasi kepala.
Keindahan detil busana serta kilau perhiasan keemasan merupakan keistimewaan busana pengantin palembang Aesan Pak Sangkong. Warna merah ningrat pada baju kurung dan songket bersulam emas sungguh memikat, sebagai tanda keagungan warisan karya budaya semasa kejayaan bumi Sriwijaya.
Aesan Gede
Salah satu busana pengantin adat Palembang adalah gaya Aesan Gede. Sebagaimana namanya busana ini merupakan busana kebesaran raja Sriwijaya yang kemudian diterjemahkan sebagai busana pengantin Palembang. Warna merah jambu (pink) dipadu dengan keemasan mencerminkan keagungan bangsawan. Gemerlap perhiasan dan mahkota dipadukan baju dodot dan kain songket mempertegas keagungannya.
Keindahan gaya busana aesan gede memang tak terbantahkan. Mencitrakan keanggunan sosok bangsawan. Gemerlap perhiasan warnah merah keemasan tentunya menjadi pusat perhatian. Mahkota Aesan Gede, bungo cempako, kembang goyang, kelapo standan, merefeksikan kejayaan dan keragaman budaya semasa kejayaan Sriwijaya. Baju dodot dipadu kain songket lepus bermotif napan perak menjadi salah satu keunikannya.
Dengan salah satu pakaian pengantin tersebut maka kedua pengantin tersebut tempat acara untuk di lakukannya cacap-cacapan dan suap-suapan.

Suap-suapan
Kedua acara ini pada di bawakan oleh perempuan baik dari pembawa acara, pelantun pantun, pembaca doa, begitu juga dengan yang melakukan suapan dengan pengantin, pada saat di tempat acara pengantin perempuan duduk di belakang pengantin pria dan di lakukan suapan dari nasi kunyit panggang ayam (mirip seperti tumpeng).
Cacapan-cacapan
Untuk cacap-capan ritual yang di lakukan sama seperti suap-suapan tetapi untuk cacap-cacapan ini berupa air bunga yang di usapkan di dahi dan ubun-ubun (seputaran kepala), untuk sekarang biasanya kedua acara di atas sudah di campur antara perempuan dan laki-laki jadi ada juga yang melakukan cacap-cacapan adalah laki-laki ayah dari pengantin perempuan dan pengantin laki-laki.
Setelah acara ini biasanya di lakukan acara perjamuan dengan susunan makanan panjang di mana di tengahnya ada kelmplang “Tunjung”, srikaya, bolu kojo, bluder dan berbagai makanan lainnya (untuk di ingat biasanya kelmplang tunjung hanya di jadikan sebagai symbol tidak boleh di makan).
Tetapi sekarang ini karena perubahan zaman biasanya setelah kedua acara di atas langsung ke tempat acara resmi seperti ke tenda atau gedung tempat di langsungkannya resepsi pernikahan.


 



SETELAH PERNIKAHAN

 



Nganter Bangkeng

Setelah acara munggah selesai, malamnya rombongan muda-mudi dari pihak laki-laki datang ke rumah mempelai wanita untuk mengantarkan pakaian-pakaian mempelai laki-laki.
Muda-mudi dari pihak laki-laki ini disambut oleh muda-mudi dari pihak wanita dengan mengadakan acara gayung bersambut (Ningkuk) sampai larut malam. Inilah yang dinamakan acara “nganter bangkeng”.

Hari Perayaan I:

Hari perayaan biasanya di adakan keesokan harinya di rumah mempelai laki-laki (Jika pada saat munggah sudah di tempat perempuan). Pada hari perayaan ini, kedua mempelai dijemput oleh pihak keluarga mempelai laki-laki untuk dibawa ke rumah keluarga mempelai laki-laki, untuk mengadakan suatu acara yang dinamakan “perayaan”.
Acara perayaan ini khusus untuk remaja putri atau gadis-gadis saja, dengan memakai dan mengenakan baju kebaya dan berkain panjang serta berselendang. Hiburannya adalah orkes melayu atau orkes gambus.
Zaman dulu perayaan ini bukan hanya ada juga yang di sebut “Fatayat” yaitu kumpulan ibu-ibu terutama dari pengajian berkumul dengan membaca puji-pujian kepada allah ataupun tadarusan.
Musik yang di pakai pada saat itu adalah Orkes tanjidor yang ber irama melayu tetapi untuk acara saweran biasyanya penyanyinya adalah “banci’yang sudah di dandani bukan seperti sekarang acara Orgen Tunggal dengan penyanyi wanita yang seksi..
 

 



 

 



Nyanjoi
Rombongan muda-mudi dari pihak mempelai wanita datang ke rumah mempelai laki-laki. Kedatangannya disambut oleh muda-mudi dari pihak mempelai laki-laki dan diisi dengan acara gayung bersambut. Inilah yang dinamakan “nyanjoi penganten”.

Hari Perayaan II:

Kedua mempelai dijemput oleh pihak keluarga mempelai wanita untuk dibawa ke rumah mempelai wanita. Maksud penjemputan ini adalah untuk mengadakan acara perayaan yang kedua kalinya, karena perayaan yang pertama sudah diadakan di rumah mempelai laki-laki. Acara perayaan ini tidak jauh berbeda dengan yang diadakan di rumah mempelai laki-laki yang lalu.

 



Mandi Simburan:

Setelah acara perayaan di rumah mempelai wanita ini selesai, pada sore harinya ada lagi acara pengantin mandi dan diikuti oleh semua keluarga. Acara ini dinamakan “mandi simburan”.
Pada acara ini di siapkan tempat (baskom) yang berisi air dan bunga dan juga rangkaian dari janur untuk prosesi mandi simburan ini, selain kedua mempelai kemeriahaan acara ini di ikuti oleh seluruh keluarga dan masyarakat di lingkungan tempat acara berlangsung umumnya kalau acara mandi simburan ini sudah berlangsung seluruhnya bisa basah.
Setelah mandi simburan ini maka secara resmi pengantin dapat berkumpul untuk melakukan hubungan badan, dan keesokan harinya sebelum di lakukannya “ratiban” maka pengantin laki-laki pulang ke rumah nya untuk memberi tahukan kepada orang tuanya bahwa mereka sudah berkumpul sebagai tanda pengantin laki-laki memberikan emas atau pakaian sebagai tanda atau “UPA” bahwa mereka sudah berkumpul.
Salah satu fungsi utama temu/tunggu jero yang berfungsi di sini adalah bahwa kalau di antara pengantin ada yang merasa kecewa misalnya ketahuan bahwa perempuan tersebut tidak “perwan lagi” atau pengantil laki-laki ternyata sudah memiliki istri sebelumnya maka orang yang pertama di kasih tau adalah “temu/tunggu jero”, oleh karena itulah pada zaman dahulu masyarakat Palembang sangat sedikit sekali yang melakukan perceraian dan juga dapat berfunsi sebagai penanggal atau penjaga keselamatan berlangsungnya seluruh acara perkawinan yang kemungkinan akan ada gangguan dari orang yang tak senang.


 



Beratip & Tepung Tawar
Akhir acara pihak keluarga mempelai wanita mengadakan acara, “beratip”. Acara ini sebagai penutup dari semua acara yang telah diadakan oleh pihak keluarga kedua mempelai. Acara ini juga untuk menyatakan rasa syukur kepada Allah SWT yang telah memberikan taufik, hidayah, dan rahmat-Nya kepada keluarga yang telah mengadakan semua acara dengan sukses dan selamat. Umumnya acara ini sekarang di lakukan pada Kamis malam atau malam Jumat walaupun pada dulunya sering di lakukan pada sabtu malam atau malam Minggu.
Ratib ini bukan hanya untuk penutup acara pengantin tetapi juga untuk acara-acara selamatan rumah baru, kenaikan pangkat, baru sembuh dari sakit dan beberapa acara lainnya oleh sebab itu ada juga yang di kenal dengan ratib saman.
Dalam upacara perkawinan adat Palembang, peran kaum wanita sangat dominan, karena hampirseluruh kegiatan acara demi acara diatur dan dilaksanakan oleh mereka. Pihak lelaki hanya menyiapkan “ponjen uang”. Acara yang dilaksanakan oleh pihak lelaki hanya cara perkawinan dan acara beratib yaitu acara syukuran disaat seluruh upacara perkawinan sudah diselesaikan.
 

 



 

 



Nyemputi
 Dua hari sesudah munggah biasannya dilakukan acara nyemputi. Pihak pengantin lelaki datang dengan rombongan menjemputi pengantin untuk berkunjung ketempat mereka, sedangkan dari pihak wanita sudah siap rombongan untuk nganter ke pengantin. Pada masa nyemputi penganten ini di rumah pengantin lelaki sudah disiapkan acara keramaian (perayaan). Perayaan yang dilakukan untuk wanita-wanita pengantin ini baru dilakukan pada tahun 1960-an, sedangkan sebelumnya tidak ada.

 



 

 



Ngater Penganten
 Pada masa nganter penganten oleh pihak besan lelaki ini, di rumah besan wanita sudah disiapkan acara mandi simburan. Mandi simburan ini dilakukan untuk menyambut malam perkenalan antara pengantin lelaki dengan pengantin wanita. Malam perkenalan ini merupakan selesainya tugas dari tunggu jeru yaitu wanita yang ditugaskan untuk mengatur dan memberikan petunjuk cara melaksanakan acara demi acara disaat pelaksanaan perkawinan. Wanita tunggu jeru ini dapat berfunsi sebagai penanggal atau penjaga keselamatan berlangsungnya seluruh acara perkawinan yang kemungkinan akan ada gangguan dari orang yang tak senang.

 



 

 



Dalam upacara perkawinan adat Palembang, peran kaum wanita sangat domonan, karena hampirseluruh kegiatan acara demi acara diatur dan dilaksanakan oleh mereka. Pihak lelaki hanya menyiapkan “ponjen uang”. Acara yang dilaksanakan oleh pihak lelaki hanya cara perkawinan dan acara beratib yaitu acara syukuran disaat seluruh upacara perkawinan sudah diselesaikan.

 













Bismillaahirrahmaanirrahiim Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.Ya ILLAHI… jadikanlah hati ini hati yg tenang, hidup yg berjalan bersama kehidupan, yg melihat & yg mendengar, yg tawadhu’ dalam ridha-MU Ya RABBI… janganlah jadikan hati ini mati, lemas dalam kesibukan hidup, gersang dalam kemarau rohaniah, kaku dalam kelongsong jasadi. hidupkanlah Ya ALLOH…sekeping hatiku yg tersisa ini dgn tangan belas kasih-MU, semoga jadi gerbang menuju cinta hakikiuntuk kehidupan abadi disisi-MU… Amiin Ya RABB… ( Siti Munawaroh Rachmana , Muslim Sufi )




Adat Palembang dalam Perkawinan








SITI Palembang


|  28 Agustus 2010  |  11:19






80




81
































     
   
   


10 dari 20 Kompasianer menilai Menarik.








Adat perkawinan Palembang adalah suatu pranata yang dilaksanakan berdasarkan budaya dan aturan di Palembang.



 

 



 



 

 



Melihat adat perkawinan Palembang, jelas terlihat bahwa busana dan ritual adatnya mewariskan keagungan
serta kejayaan raja-raja dinasti Sriwijaya yang mengalaimi keemasan berpengaruh di Semananjung Melayu berabad silam. Pada zaman kesultanan Palembang berdiri sekitar  abad 16 lama berselang setelah runtuhnya dinasti Sriwijaya, dan pasca Kesultanan pada dasarnya perkawinan ditentukan oleh keluarga besar dengan pertimbangan bobot, bibit dan bebet.

 



 

 



Pada masa sekarang ini perkawinan banyak ditentukan oleh kedua pasang calon mempelai pengantin itu sendiri.

 



 

 



Untuk memperkaya pemahaman dan persiapan pernikahan, berikut ini uraian tata cara dan pranata yang berkaitan dengan perkawinan Palembang.Milih Calon



 

 



Calon dapat diajukan oleh si anak yang akan dikawinkan, dapat juga diajukan oleh orang tuannya. Bila dicalonkan oleh orang tua, maka mereka akan menginventariskan dulu siapa-siapa yang akan dicalonkan, anak siapa dan keturunan dari keluarga siapa.

 






 



SEBELUM PERNIKAHAN

 



 

 



Madik

 




Madik Berasal dari kata bahasa Jawa Kawi yang berarti  mendekat atau pendekatan. Madik adalah suatu proses penyelidikan atas seorang gadis yang dilakukan oleh utusan pihak keluarga pria.Tujuannya untuk perkenalan, mengetahui asal usul serta silsilah keluarga masing-masing serta melihat apakah gadis tersebut belum ada yang meminang.

 



Pada zaman dahulu madik di lakukan pihak pria apabila ada kesukaan yang di lihat oleh seorang pria atas wanita di mana telah terjadi pertemuan sebelumnya seperti pria yang melihat dan tertarik pada seorang wanita pada acara cawisan atau fatayat, karena ketertatikan inilah maka pihak pria akan mengirimkan utusannya. Yang kebanyakan utusan tersebut adalah perempuan yang bisa melihat langsung wanita yang sedang di padik baik dari fisik maupun keterampilan (seperti mengaji Al Quran, Masak, Menjahit dan keterampilan lainnya) tetapi terkadang ada pula utusan adalah seorang pria.
Pertama-tama keluarga calon mempelai laki-laki mengadakan observasi atau pengamatan terhadap calon mempelai wanita dan keluarganya. Begitu juga sebaliknya, keluarga calon mempelai wanita mengadakan pengamatan juga terhadap calon mempelai laki-laki dan keluarganya.
Dalam pengamatan ini untuk mengetahui asal-usul, silsilah, dan gelarnya masing-masing. Gelar suku Palembang ada empat (4) tingkatan, antara lain:
Laki-laki Perempuan

Raden – Raden Ayu
Masagus – Masayu
Kemas – Nyimas
Kiagus – Nyayu

Tetapi pada saat sekarang madik sudah jarang di lakukan dan sudah jarang terdengan tetapi mungkin di sebagian masyarakan asli Palembang masih di lakukan dan madik ini juga di lakukan juga oleh dari keturunan Arab mereka lakukan pada saat adanya acara Gambusan ataupun sambrahan/bedana.
Untuk masyarakat Palembang sendiri saat ini madik sepertinya tidak di pakai lagi karena seiring perkembangan zaman tetapi yang masih seirng terjadi adalah “Rasan Tuo” di mana dari dua keluarga pihak pria dan wanita menjodohkan anak mereka masing-masing denagn tujuan untuk mempererat tali keutuhan keluarga.
 

 



 

 



Menyenggung
Menyengguk atau sengguk berasal dari bahasa Jawa kuno yang artinya memasang “pagar” agar gadis yang dituju tidak diganggu oleh sengguk (sebangsa musang, sebagai kiasan tidak diganggu perjaka lain). Menyengguk dilakukan apabila proses Madik berhasil dengan baik, untuk menunjukkan keseriusan, keluarga besar pria mengirimkan utusan resmi kepada keluarga si gadis. Utusan tersebut membawa tenong atau sangkek terbuat dari anyaman bambu berbentuk bulat atau segi empat berbungkus kain batik bersulam emas berisi makanan, dapat juga berupa telor, terigu, mentega, dan sebagainya sesuai keadaan keluarga si gadis.

 



 

 



Ngebet

 



 

 



 Bila proses sengguk telah mencapai sasaran, maka kembali keluarga dari pihak pria berkunjung dengan membawa tenong sebanyak 3 buah, masing-masing berisi terigu, gula pasir dan telur itik. Pertemuan ini sebagai tanda bahwa kedua belah pihak keluarga telah “nemuke kato” serta sepakat bahwa gadis telah ‘diikat’ oleh pihak pria. sebagai tanda ikatan, utusan pria memberikan bingkisan pada pihak wanita berupa kain, bahan busana, ataupun benda berharga berupa sebentuk cincin, kalung, atau gelang tangan.

 



 

 



Berasan
 Berasal dari bahasa Melayu artinya bermusyawarah, yaitu bermusyawarah untuk menyatukan dua keluarga menjadi satu keluarga besar. Pertemuan antara dua pihak keluarga ini dimaksudkan untuk menentukan apa yang diminta oleh pihak si gadis dan apa yang akan diberikan oleh pihak pria. Pada kesempatan itu, si gadis berkesempatan diperkenalkan kepada pihak keluarga pria. Biasanya suasana berasan ini penuh dengan pantun dan basa basi. Setelah jamuan makan, kedua belah pihak keluarga telah bersepakat tentang segala persyaratan perkawinan baik tata cara adat maupun tata cara agama Islam. Pada kesempatan itu pula ditetapkankapan hari berlangsungnya acara “mutuske kato”. Dalam tradisi adat Palembang dikenal beberapa persyaratan dan tata cara pelaksanaan perkawinan yang harus disepakati oleh kedua belah pihak keluarga, baik secara syariat agama Islam, maupun menurut adat istiadat. Menurut syariat agama Islam, kedua belah pihak sepakat tentang jumlah mahar atau mas kawin, Sementara menurut adat istiadat, kedua pihak akan menyepakati adat apa yang akan dilaksanakan, apakah adat Berangkat Tigo Turun, adat Berangkat duo Penyeneng, adat Berangkat Adat Mudo, adat Tebas, ataukah adat Buntel Kadut, dimana masing-masing memiliki perlengkapan dan persyaratan tersendiri.

 



Setelah mengetahui hal-hal yang paling kecil sekalipun, maka keluarga calon mempelai laki-laki mengutus beberapa orang untuk melamar pada pihak keluarga calon mempelai wanita. Utusan ini dipimpin oleh seorang yang pandai berbicara, baik masalah adat maupun masalah-masalah yang lainnya.
Rombongan utusan ini membawa sangkek-sangkek yang berisi bahan-bahan mentah, seperti: Gula, gandum, telur, dan lain-lain. Jumlah sangkek-sangkek ini selalu ganjil, yaitu: tiga, lima, tujuh, dan seterusnya. Jumlah sangkek-sangkek ini juga menunjukkan tingkat kemampuan sosial ekonomi dari keluarga pihak mempelai laki-laki.
 

 



 

 



Mutuske Kato
 Acara ini bertujuan kedua pihak keluarga membuat keputusan dalam hal yang berkaitan dengan:”hari ngantarke belanjo” hari pernikahan, saat Munggah, Nyemputi dan Nganter Penganten, Ngalie Turon, Becacap atau Mandi Simburan dan Beratib. Untuk menentukan hari pernikahandan acara Munggah, lazim dipilih bulan-bulan Islam yang dipercaya memberi barokah bagi kedua mempelai kelak yakni bulan Robiul Awal, Robiul Akhir, Jumadilawal, Jumadilakhir. Bulan-bulan tersebut konon dipercayah bahwa bulan purnama sedang cantik-cantiknya menyinari bumi sehingga cahayanya akan menjadi penerang kehidupan bagi kedua mempelai secerah purnama. Saat ‘mutuske kato’ rombongan keluarga pria mendatangi kediaman pihak wanita dimana pada saat itu pihak pria membawa 7 tenong yang antara lain berisi gula pasir, terigu, telur itik, pisang dan buah-buahan. Selain membuat keputusan tersebut, pihak pria juga memberikan (menyerahkan) persyaratan adat yang telah disepakati saat acara berasan. sebagai contohnya, bila sepakat persyaratan adat Duo Penyeneng, maka pihak pria pada saat mutoske kato menyerahkan pada pihak gadis dua lembar kemben tretes mider, dua lembar baju kurung angkinan dan dua lembar sewet songket cukitan. Berakhirnya acara mutuske kato ditutup dengan doa keselamatan dan permohonan pada Allah SWT agar pelaksanaan perkawinan berjalan lancar. Disusul acara sujud calon pengantin wanita pada calon mertua, dimana calon mertua memberikan emas pada calon mempelai wanita sebagai tanda kasihnya. Menjelang pulang 7 tenong pihak pria ditukar oleh pihak wanita dengan isian jajanan khas Palembang untuk dibawa pulang.

 



 

 



Nganterke Belanjo

 





 



serah-serahan . foto pribadi serah-serahan . foto pribadi

 



 



foto pribadi serah-serahan foto pribadi serah-serahanserah-serahan . foto pribadi

 



 
 Prosesi nganterke belanjo biasanya dilakukan sebulan atau setengah bulan bahkan beberapa hari sebelum acara Munggah. Prosesi ini lebih banyak dilakukan oleh kaum wanita, sedangkan kaum pria hanya mengiringi saja.
Uang belanja (duit belanjo) dimasukan dalam ponjen warna kuning dengan atribut pengiringnya berbentuk manggis. Hantaran dari pihak calon mempelai pria ini juga dilengkapi dengan nampan-nampan paling sedikit 12 buah berisi aneka keperluan pesta, antara lain berupa terigu, gula, buah-buahan kaleng,  hingga kue-kue dan jajanan. Lebih dari itu diantar pula’enjukan’ atau permintaan yang telah ditetapkan saat mutuske kato, yakni berupa salah satu syarat adat pelaksanaan perkawinan sesuai kesepakatan. Bentuk gegawaan yang juga disebut masyarakat Palembang ‘adat ngelamar’ dari pihak pria (sesuai dengan kesepakatan) kepada pihak wanita berupa sebuah ponjen warna kuning berisi duit belanjo yang dilentakan dalam nampan, sebuah ponjen warna kuning berukuran lebih kecil berisi uang pengiring duit belanjo, 14 ponjen warna kuning kecil diisi koin-koin logam sebagai pengiring duit belanjo, selembar selendang songket, baju kurung songket, sebuah ponjen warna kuning berisi uang’timbang pengantin’ 12 nampan berisi aneka macam barang keperluan pesta, serta kembang setandan yang ditutup kain sulam berenda.

 



Total gegawan yang di bawa pada saat naganterke belanjo adalah sebanyak 24 nampan/dulang terdiri dari 12 nampan berisi kebutuhan makan dan 12 nampan untuk kebutuhan dan perlengkapan pengantin, dan dulu biasanya yang melakukan nganterke belanjo bisanya untusan dari keluarga mempelai laki-laki dan orang tua dari calon mempelai laki-laki itu sendiri tidak mengikuti acara tersebut ini bertujan mempercayakan sesuatu yang di bawa atau di antar ke calon mempelai perempuan akan sampai (pemupukan rasa percaya).
Salah satu adat yang ada dan sempat di lihat adalah pada saat penerimaan pihak calon mempelai perempuan mempersiapkan tadok “berunang” (bakul besar seperti bakul cina) untuk tempat penerimaan dimana barang-barang yang di terima di masukan seluruhnya kesana dan setelah selesai langsung di ikat dan di bawa masuk.
Untuk tempat uang sekarang sudah jarang dilihat yang menggunakan ponjen tetapi digantikan dengan manggis (Manggis di buat dari kertas manggis di bentuk kotak persegi tetapi memiliki sudut yang berbeda di keempat sisinya) sekarang biasanya manggis besar disi untuk uang belanja dan di iringi dengan manggis kecil yang berisi uang logam yang jumlahnya terkadang 12 s/d 14 buah.
 

 



 

 



Persiapan Menjelang Akad Nikah



 

 



Ada beberapa ritual yang biasanya dilakukan terhadap calon pengantin wanita yang biasanya dipercaya berkhasiat untuk kesehatan kecantikan, yaitu betangas. Betangas adalah mandi uap, kemudian Bebedak setelah betangas, dan berpacar (berinai) yang diberikan pada seluruh kuku kaki dan tangan dan juga telapak tangan dan kaki yang disebut pelipit.

 



Dulunya kegiatan ini di lakukan seseorang yang bertindak sebagi pelayang pengantin yang bertindak sebagai “Temu Jero” di mana seluruh kegiatan di atas di lakukan oleh beliau selama beberapa hari tersebut sampai dengan acara terakhir yaitu ratiban.

 



Betangas.
Merupakan mandi uap dengan ramuan rempah-rempah dimana kita duduk diatas kursi atau tempat yang telah di sediakan dan di bawah tempat duduk tersebut di berikan uap dari rebusan rempah-rempah, para calon pengantin menggunakan kain untuk menutupi seluruh badan kecuali muka, bahkan sebagian calon pengantin menutup secara keseluruhan.
Betangas ini bertujuan untuk mengeluarkan keringat dan membersihkan pori-pori biar pada saat hari H diharapkan tidak banyak mengeluarkan keringat dan bau.

Bebedak
Bebedak istilah untuk mendandai calon penganten secantik mungkin dari tatanan rambut, muka badan kaki tangan dan keseluruhannya.

Bepacar
Berpacar (berinai) yang diberikan pada seluruh kuku kaki dan tangan dan juga telapak tangan dan kaki yang disebut pelipit. Pacar ini juga menandakan bahwa mereka akan memasuki kehidupan baru sebagai pasangan rumah tangga.
Ada satu lagi kegiatan yang di fungsikan untuk mengetahui dan menelusuri silsiah dan ini biasanya dilakukan beberapa hari sebelum akad nikah yaitu ziarah.
 
 Upacara Akad Nikah
Menyatukan sepasang kekasih menjadi suami istri untuk memasuki kehidupan berumahtangga. Upacara ini dilakukan dirumah calon pengantin pria, seandainya dilakukan dirumah calon pengantin wanita, maka dikatakan ‘kawin numpang’. Akan tetapi sesuai dengan perkembangan masa, kini upacara akad nikah berlangsung dikediaman mempelai wanita. Sesuai tradisi bila akad nikah sebelum acara Muggah, maka utusan pihak wanita terlebih dahulu ngantarke keris ke kediaman pihak pria.

 



Pada zaman dahulu juga pada saat akad nikah ada timbangan dan kitab suci dimana Al Quran yang berarti rumah tangga untuk menjalankan syariat agama dan berlaku adil, dan karena berucap di depan Al Quran dan timbangan pada zaman dahulu jarang sekali terjadi perceraian karena takut kualat karena telah berucap.
Bila akad nikah ini dilakukan jauh hari sebelum acara munggah dan akad nikah tersebut di lakukan di tempat pengantin perempuan maka pengantin pria akan pulang ke rumahnya, dan kembali saat pagi seelum acara munggah.
 

 



 

 



Ngocek Bawang
 Ngocek Bawang diistilahkan untuk melakukan persiapan awal dalam menghadapi hari munggah. Pemasangan tapup, persiapan bumbu-bumbu masak dan lain sebagainya disiapkan pada hari ini. Ngocek bawang kecik ini dilakukan dua hari sebelum acara munggah.
Selanjutnya pada esok harinya sehari sebelum munggah, dilakukan acara ngocek bawang besak. Seluruh persiapan berat dan perapian segala persiapan yang belum selesai dikerjakan pada waktu ini. Daging, ayam dan lain sebagainya disiapkan saat munggah, mengundang (ngulemi) ke rumah besannya, dan si pihak yang di ulemi pada masa ngocek bawang wajib datang, biasannya pada masa ini diutus dua orang yaitu wanita dan pria.

 



 

 



Munggah
 Prosesi ini merupakan puncak rangkaian acara perkawinan adat Palembang. Hari munggah biasanya ditetapkan hari libur diantara sesudah hari raya Idul Fitri & Idul Adha. Pada pagi hari sebelum acara, dari pihak mempelai wanita datang ke pihak laki-laki (ngulemi) dengan mengutus satu pasang lelaki & wanita.
Selain melibatkan banyak pihak keluarga kedua mempelai, juga dihadiri para tamu undangan. Munggah bermakna agar kedua pengantin menjalani hidup berumah tangga selalu seimbang atau timbang rasa, serasi dan damai.
Pelaksanaan Munggah dilakukan dirumah kediaman keluarga pengantin wanita. Sebelum prosesi Munggah dimulai terlebih dahulu dibentuk formasi dari rombongan pria yang akan menuju kerumah kediaman keluarga pengantin wanita. Sebelum prosesi Munggah dimulai terlebih dahulu dibentuk formasi yang akan berangkat menuju rumah pengatin wanita. Formasi itu adalah :

 



 



Ngarak -kumpulan-grup-rudat. foto Google Ngarak -kumpulan-grup-rudat. foto Budaya & Tradisi Kota Palembang

 



 

 



 

 



Kumpulan (grup) Rudat dan Kuntau

 



 

 



Pada saat pengantin lelaki di antar kembali ke tempat pengantin prempuan sebelum acara munggah dan diarak pakai rebana. Mempelai laki-laki diantar oleh keluarganya dengan membawa barang-barang, dari bahan makanan sampai pakaian, yang diletakkan di dalam nampan atau hidangan, namanya “gawaan”.
Mempelai laki-laki didampingi seorang pendamping, yang membawa bunga langsir. Ini melambangkan penyerahkan dari pihak laki-laki untuk diterimakannya menjadi keluarga pada pihak wanita. Arak-arakan ini dinamakan “munggah”.

 



Kuntau (Pencak Silat)/Betanggem & Pembawa Bunga Langsih
Pada saat kedatangan ini biasanya di awali dengan berbalas pantun dan atraksi buka palang pintu dari pencak silat, dan Pengatin Pria yang diapit oleh kedua orang tua, dua orang pembawa tombak, seorang pembawa payung pengantin, didampingi juru bicara, pembawa bunga langsih dan pembawa ponjen adat serta pembawa hiasan adat dan gegawan ,yang terpenting dari kedatangan ini adalah bunga langsih (bunga yang di maksud terserah jenis bungnya apa yang penting enak di pandang dan sekarang banyak juga yang mengganti bunga langsih ini dengan bunga plastic) yang harus di bawa karena kalau tidak ada pengantin tidak akan dapat masuk kerumah pengantin perempuan.
Pada saat sampai ini maka pengantin perempuan akan memberikan kain tajung dan kemeja kepada pengantin pria “Pemapak” dan dibuatkan “jerambah” (kain panjang biasa atau dari selendang songket yang di bentangkan dari pintu masuk sampai ke pintu kamar pengantin).

 



 



Cacap-cacapan & Suap-suapan. foto Budaya & Tradisi Kota Palembang Cacap-cacapan & Suap-suapan. foto Budaya & Tradisi Kota Palembang

 



 Pada saat sepasang pengantin ini keluar mereka menggunakan pakaian khas Palembang yaitu aesan Pak Sangkong atau aesan gede :

Aesan Pak Sangkong
Salah satu gaya busana pengantin adat Palembang adalah Aesan Pak Sangkong. Busana macam ini juga digunakan sebagai Busana Pengantin adat diwilayah Ogan Komering Ilir (OKI) dan Ogan Ilir, Sumatera Selatan (ini kampung emak dan ayah saya). Pengantin wanita mengunakan baju kurung warna merah tabur bunga bintang keemasan, kain songket lepus, teratai penutup dada serta hiasan kepala berupa mahkota Pak Sangkong, Kembang goyang , kelapo standan, kembang kenago dan perhiasan mewah keemasan. Pengantin pria berjubah motif tabor bunga emas, seluar (celana) pengantin, songket lepus, selempang songket serta songkok emas menhiasi kepala.
Keindahan detil busana serta kilau perhiasan keemasan merupakan keistimewaan busana pengantin palembang Aesan Pak Sangkong. Warna merah ningrat pada baju kurung dan songket bersulam emas sungguh memikat, sebagai tanda keagungan warisan karya budaya semasa kejayaan bumi Sriwijaya.
Aesan Gede
Salah satu busana pengantin adat Palembang adalah gaya Aesan Gede. Sebagaimana namanya busana ini merupakan busana kebesaran raja Sriwijaya yang kemudian diterjemahkan sebagai busana pengantin Palembang. Warna merah jambu (pink) dipadu dengan keemasan mencerminkan keagungan bangsawan. Gemerlap perhiasan dan mahkota dipadukan baju dodot dan kain songket mempertegas keagungannya.
Keindahan gaya busana aesan gede memang tak terbantahkan. Mencitrakan keanggunan sosok bangsawan. Gemerlap perhiasan warnah merah keemasan tentunya menjadi pusat perhatian. Mahkota Aesan Gede, bungo cempako, kembang goyang, kelapo standan, merefeksikan kejayaan dan keragaman budaya semasa kejayaan Sriwijaya. Baju dodot dipadu kain songket lepus bermotif napan perak menjadi salah satu keunikannya.
Dengan salah satu pakaian pengantin tersebut maka kedua pengantin tersebut tempat acara untuk di lakukannya cacap-cacapan dan suap-suapan.

Suap-suapan
Kedua acara ini pada di bawakan oleh perempuan baik dari pembawa acara, pelantun pantun, pembaca doa, begitu juga dengan yang melakukan suapan dengan pengantin, pada saat di tempat acara pengantin perempuan duduk di belakang pengantin pria dan di lakukan suapan dari nasi kunyit panggang ayam (mirip seperti tumpeng).
Cacapan-cacapan
Untuk cacap-capan ritual yang di lakukan sama seperti suap-suapan tetapi untuk cacap-cacapan ini berupa air bunga yang di usapkan di dahi dan ubun-ubun (seputaran kepala), untuk sekarang biasanya kedua acara di atas sudah di campur antara perempuan dan laki-laki jadi ada juga yang melakukan cacap-cacapan adalah laki-laki ayah dari pengantin perempuan dan pengantin laki-laki.
Setelah acara ini biasanya di lakukan acara perjamuan dengan susunan makanan panjang di mana di tengahnya ada kelmplang “Tunjung”, srikaya, bolu kojo, bluder dan berbagai makanan lainnya (untuk di ingat biasanya kelmplang tunjung hanya di jadikan sebagai symbol tidak boleh di makan).
Tetapi sekarang ini karena perubahan zaman biasanya setelah kedua acara di atas langsung ke tempat acara resmi seperti ke tenda atau gedung tempat di langsungkannya resepsi pernikahan.


 



SETELAH PERNIKAHAN

 



Nganter Bangkeng

Setelah acara munggah selesai, malamnya rombongan muda-mudi dari pihak laki-laki datang ke rumah mempelai wanita untuk mengantarkan pakaian-pakaian mempelai laki-laki.
Muda-mudi dari pihak laki-laki ini disambut oleh muda-mudi dari pihak wanita dengan mengadakan acara gayung bersambut (Ningkuk) sampai larut malam. Inilah yang dinamakan acara “nganter bangkeng”.

Hari Perayaan I:

Hari perayaan biasanya di adakan keesokan harinya di rumah mempelai laki-laki (Jika pada saat munggah sudah di tempat perempuan). Pada hari perayaan ini, kedua mempelai dijemput oleh pihak keluarga mempelai laki-laki untuk dibawa ke rumah keluarga mempelai laki-laki, untuk mengadakan suatu acara yang dinamakan “perayaan”.
Acara perayaan ini khusus untuk remaja putri atau gadis-gadis saja, dengan memakai dan mengenakan baju kebaya dan berkain panjang serta berselendang. Hiburannya adalah orkes melayu atau orkes gambus.
Zaman dulu perayaan ini bukan hanya ada juga yang di sebut “Fatayat” yaitu kumpulan ibu-ibu terutama dari pengajian berkumul dengan membaca puji-pujian kepada allah ataupun tadarusan.
Musik yang di pakai pada saat itu adalah Orkes tanjidor yang ber irama melayu tetapi untuk acara saweran biasyanya penyanyinya adalah “banci’yang sudah di dandani bukan seperti sekarang acara Orgen Tunggal dengan penyanyi wanita yang seksi..
 

 



 

 



Nyanjoi
Rombongan muda-mudi dari pihak mempelai wanita datang ke rumah mempelai laki-laki. Kedatangannya disambut oleh muda-mudi dari pihak mempelai laki-laki dan diisi dengan acara gayung bersambut. Inilah yang dinamakan “nyanjoi penganten”.

Hari Perayaan II:

Kedua mempelai dijemput oleh pihak keluarga mempelai wanita untuk dibawa ke rumah mempelai wanita. Maksud penjemputan ini adalah untuk mengadakan acara perayaan yang kedua kalinya, karena perayaan yang pertama sudah diadakan di rumah mempelai laki-laki. Acara perayaan ini tidak jauh berbeda dengan yang diadakan di rumah mempelai laki-laki yang lalu.

 



Mandi Simburan:

Setelah acara perayaan di rumah mempelai wanita ini selesai, pada sore harinya ada lagi acara pengantin mandi dan diikuti oleh semua keluarga. Acara ini dinamakan “mandi simburan”.
Pada acara ini di siapkan tempat (baskom) yang berisi air dan bunga dan juga rangkaian dari janur untuk prosesi mandi simburan ini, selain kedua mempelai kemeriahaan acara ini di ikuti oleh seluruh keluarga dan masyarakat di lingkungan tempat acara berlangsung umumnya kalau acara mandi simburan ini sudah berlangsung seluruhnya bisa basah.
Setelah mandi simburan ini maka secara resmi pengantin dapat berkumpul untuk melakukan hubungan badan, dan keesokan harinya sebelum di lakukannya “ratiban” maka pengantin laki-laki pulang ke rumah nya untuk memberi tahukan kepada orang tuanya bahwa mereka sudah berkumpul sebagai tanda pengantin laki-laki memberikan emas atau pakaian sebagai tanda atau “UPA” bahwa mereka sudah berkumpul.
Salah satu fungsi utama temu/tunggu jero yang berfungsi di sini adalah bahwa kalau di antara pengantin ada yang merasa kecewa misalnya ketahuan bahwa perempuan tersebut tidak “perwan lagi” atau pengantil laki-laki ternyata sudah memiliki istri sebelumnya maka orang yang pertama di kasih tau adalah “temu/tunggu jero”, oleh karena itulah pada zaman dahulu masyarakat Palembang sangat sedikit sekali yang melakukan perceraian dan juga dapat berfunsi sebagai penanggal atau penjaga keselamatan berlangsungnya seluruh acara perkawinan yang kemungkinan akan ada gangguan dari orang yang tak senang.


 



Beratip & Tepung Tawar
Akhir acara pihak keluarga mempelai wanita mengadakan acara, “beratip”. Acara ini sebagai penutup dari semua acara yang telah diadakan oleh pihak keluarga kedua mempelai. Acara ini juga untuk menyatakan rasa syukur kepada Allah SWT yang telah memberikan taufik, hidayah, dan rahmat-Nya kepada keluarga yang telah mengadakan semua acara dengan sukses dan selamat. Umumnya acara ini sekarang di lakukan pada Kamis malam atau malam Jumat walaupun pada dulunya sering di lakukan pada sabtu malam atau malam Minggu.
Ratib ini bukan hanya untuk penutup acara pengantin tetapi juga untuk acara-acara selamatan rumah baru, kenaikan pangkat, baru sembuh dari sakit dan beberapa acara lainnya oleh sebab itu ada juga yang di kenal dengan ratib saman.
Dalam upacara perkawinan adat Palembang, peran kaum wanita sangat dominan, karena hampirseluruh kegiatan acara demi acara diatur dan dilaksanakan oleh mereka. Pihak lelaki hanya menyiapkan “ponjen uang”. Acara yang dilaksanakan oleh pihak lelaki hanya cara perkawinan dan acara beratib yaitu acara syukuran disaat seluruh upacara perkawinan sudah diselesaikan.
 

 



 

 



Nyemputi
 Dua hari sesudah munggah biasannya dilakukan acara nyemputi. Pihak pengantin lelaki datang dengan rombongan menjemputi pengantin untuk berkunjung ketempat mereka, sedangkan dari pihak wanita sudah siap rombongan untuk nganter ke pengantin. Pada masa nyemputi penganten ini di rumah pengantin lelaki sudah disiapkan acara keramaian (perayaan). Perayaan yang dilakukan untuk wanita-wanita pengantin ini baru dilakukan pada tahun 1960-an, sedangkan sebelumnya tidak ada.

 



 

 



Ngater Penganten
 Pada masa nganter penganten oleh pihak besan lelaki ini, di rumah besan wanita sudah disiapkan acara mandi simburan. Mandi simburan ini dilakukan untuk menyambut malam perkenalan antara pengantin lelaki dengan pengantin wanita. Malam perkenalan ini merupakan selesainya tugas dari tunggu jeru yaitu wanita yang ditugaskan untuk mengatur dan memberikan petunjuk cara melaksanakan acara demi acara disaat pelaksanaan perkawinan. Wanita tunggu jeru ini dapat berfunsi sebagai penanggal atau penjaga keselamatan berlangsungnya seluruh acara perkawinan yang kemungkinan akan ada gangguan dari orang yang tak senang.

 



 

 



Dalam upacara perkawinan adat Palembang, peran kaum wanita sangat domonan, karena hampirseluruh kegiatan acara demi acara diatur dan dilaksanakan oleh mereka. Pihak lelaki hanya menyiapkan “ponjen uang”. Acara yang dilaksanakan oleh pihak lelaki hanya cara perkawinan dan acara beratib yaitu acara syukuran disaat seluruh upacara perkawinan sudah diselesaikan.

 






 



 

 



 

 



 

 



 

 




 



 

 



NB ; Sumber dan di sarikan dari :
Mahligai “Inspirasi Pernikahan Adat Palembang”, Edisi ke-5 2007
“Kms Sofyan, SPd. Pendidik dan Pemerhati Kebudayaan Sumsel”
“Nyimas Rosidah – Masyarakat Palembang”
 




































































 



 

 



 

 



 

 



 

 




 



 

 



NB ; Sumber dan di sarikan dari :
Mahligai “Inspirasi Pernikahan Adat Palembang”, Edisi ke-5 2007
“Kms Sofyan, SPd. Pendidik dan Pemerhati Kebudayaan Sumsel”
“Nyimas Rosidah – Masyarakat Palembang”