Dr Iwan CD-ROM:”The Indonesia Independence Revolution and War Collections

 

MUSEUM DUNIA MAYA DR IWAN S.

Dr IWAN ‘S CYBERMUSEUM

 THE FIRST INDONESIAN CYBERMUSEUM

MUSEUM DUNIA MAYA PERTAMA DI INDONESIA

   DALAM PROSES UNTUK MENDAPATKAN SERTIFIKAT MURI

     PENDIRI DAN PENEMU IDE

      THE FOUNDER

    Dr IWAN SUWANDY, MHA

                     

     WELCOME TO THE MAIN HALL OF FREEDOM               

  SELAMAT DATANG DI GEDUNG UTAMA “MERDEKA

The Driwan’s  Cybermuseum

                    

(Museum Duniamaya Dr Iwan)

INDONESIA INDEPENDENCE REVOLUTION & WAR 1945-1950

Based On Dr Iwan Postal And Document Collection

                   

                          

                              CREATED BY Dr IWAN S

                                                      

                                Limited edition 100 expls

        Private Publication Special for Collectors member

                                     Jakarta,2012                                                                                   

@copyright Dr Iwan S ,201hhtp://www.Driwancybermuseum.wordpress.com

 

INDONESIA INDEPENDENCE REVOLUTION AND WAR WAR 1945-1950

Edisi Terbatas 100 eksp

Publikasi Pribadi Khusus untuk Kolektor postal Histori

Penulis : Dr Iwan S

Editor  : Anton J.S.

Penyunting : Lily W.

Photographer : Albert SDO & INDRA SANUSI

NAMA PEMILIK: Dr Iwan S

NO. PERCOBAAN 001

@Copyright Dr Iwan S 2011

 

Private Limited E-book Special For Collectors.

Copyright @ Dr Iwan Suwandy 2011

Hhtp://www.Driwancybermuseum.wordpress.com

PS.THE common economic 100 CDand lux complte special  CD_ROM  only ten CDexist now,please suncribed via comment.

INTRODUCTION

PREFACE-PENGANTAR

1.The Situation of Indonesia Indepennce Revolution and war  1945-195o, many written by  local and overseas writers , but based on factual information from a collection of documents and personal items have not been many posts that were written by authors from Indonesia by using the Indonesian language and Britain, this is because not many people Indonesia, which has documents and objects that heading, generally in Indonesia  were burned out or destroyed when displaced, and at the end broken from floods. Generally when the result of the political situation during the Indonesian Independence Revolution and War  1945-195o in general people are very afraid to keep personal records related to war that could become evidence of their involvement as kolaburator Dutch Nica or republic  soldiers and troops fighter  will accuse they spy from each side in their area   with the consequent adverse to the document or collections owner.

  Situasi revolusi dan Perang Kemerdeaan Indonesia  1945-1950,sudah banyak ditulis oleh  penulis dalam dan luar luar negeri, tetapi yang berdasarkan informasi factual dari koleksi dokumen and benda pos pribadi belum banyak yang ditulis oleh pengarang dari Indonesia dengan mengunakan bahasa Indonesia dan bahasa Ingris, hal ini karena tidak banyak bangsa Indonesia yang memiliki dokumen-dokumen and benda pos tersebut ,umumnya  habis dibakar atau musnah saat mengungsi ,dan paling akhir rusak akibat banjir. Umumnya saat tersebut akibat situasi politis saat perang  kemerdekaan Indonesia  1945-1950 ,pada umumnya rakyat Indonesia sangat takut menyimpan arsip pribadi terkait perang tersebut  yang dapat menjadi bukti mereka terlibat sebagai kolaburator tentara  Belanda Nica atau  dan pasukan Repoeblik Indonesia , Tentara Belanda Nica atau Tentara repoeblik Indonesia   akan menuduh mereka mata-mata   dengan akibat yang  merugikan sipemilik.

2.One of a rare republic Indonesia Sumatra   postalcard   one year Indonesian Independence have found by the writers at  Bukittinggi in 1985, and this rare collections had gave the motivation to write the special book for Indonesian,Japan and Dutch  postal history collectors and another collectors from all over the world. Please look that cover illustration below.

Salah satu koleksi langka kartu pos pos Sumatra peringatan satu tahun merdeka  yang ditemui oleh penulis di Bukittinggi tahun 1985 , dan koleksi langka ini  memberikan motivasi untuk menulis suatu buku khusus untuk kolektor phillatelis di Indonesia,Jepang dan Belanda  serta kolektor  lainnya.dari seluruh dunia.

3.After Indonesian Independence revolution and war finish and Indonesia became  the unity Republic Indonesia in 1950 , many stamp and postal history collectors Collected     the collection as the factual fact of history, one of the Dutch biggest collector Mr Vrijdag  asking Mr V.Esbensen to made the catalogue of his very amazing collections.and some of my collection also be the based ,mr V.Esbensen told me what you are doing will be the great collections if your country became development country.    In 1985, Mr PR Bulterman     from dutch visit me in Padang,when he look at my collections he told me how amazing that collections, he want to bought because some of the collectionnhe never seen before , but I did not want to sell to him, but in 1988 I sold several collections To Mr Karel from Jakarta Indonesia because  I need fund to move and study to Jakarta,  but the illustration of collections I still have,and after that in 1994 I am starting to collect again until now, the biggest colletion will be the based on this book including postal history stamp and revenue, numismatic ,document and picture collections       

 

  Setelah Kemerdekaan Indonesia revolusi dan perang selesai dan Indonesia menjadi kesatuan Republik Indonesia pada tahun 1950, banyak cap pos dan kolektor sejarah Dikumpulkan koleksi sebagai kenyataan faktual sejarah, salah satu yang terbesar kolektor Mr Belanda Vrijdag meminta Mr V. Esbensen untuk dibuat katalog dari collections.and nya sangat menakjubkan beberapa koleksi saya juga berdasarkan, mr V. Esbensen mengatakan kepada saya apa yang Anda lakukan akan menjadi koleksi besar jika negara anda menjadi negara pembangunan.Pada tahun 1985, Bapak PR Bulterman dari belanda mengunjungi saya di Padang, ketika ia melihat koleksi saya dia mengatakan saya bagaimana menakjubkan yang koleksi, dia ingin membeli karena beberapa collectionnhe tidak pernah terlihat sebelumnya, tetapi saya tidak ingin menjual kepadanya, namun pada tahun 1988 saya menjual beberapa koleksi untuk Bapak Karel dari Jakarta Indonesia karena saya membutuhkan dana untuk bergerak dan studi ke Jakarta, namun ilustrasi koleksi saya masih punya, dan setelah itu pada tahun 1994 saya mulai mengumpulkan lagi sampai sekarang, colletion terbesar akan didasarkan pada buku ini termasuk sejarah perangko pos dan pendapatan, numismatik, dokumen dan koleksi gambar        .                               

                               

4.In 2009 I am starting to write a simple story and add in my internet blog with the same name with historic  chronolic ,many comment and asked me to edit this simple story with more interesting style and illustrated with more professional photography..

 Tahun 2009 penulis memulai suatu tulisan sederhana sebagai pecobaan, di tampilkan dalam suatu blog internet dengan nama yang sama dengan penampilan kronologis historis, banyak tanggapan dan saran agar penulis mengedit dan menyusun tulisan yang lebih sederhan dengan gaya ,cerita yang lebih menarik dilengkapi illustrasi koleksi yang tehnik fotografi yang canggih.

5.The professional writing starting in June 2010 until august  2012 ,with more professional proposal help by the professional team editor,layout and photography, as the firs issue in Private productions limited 100 expl in CR-Rom.

Penulisan dimulai bulan Juni 2011 sampai Augustus 2012  dengan rencana yang lebih matang dibantu oleh suatu tim editor,layout dan,photography ,sebagai penerbitan pertama secara pribadi akan di terbitkan edisi terbatas  100 eksemplar dalam CR-ROM

6.I know that this book have many lack of information and written technologically , that is why I need more comment and corrections to made this book more complete and more best performance in the future.

Penulis menyadari buku ini masih banyak kekurangan dan kekeliruan sehingga diharapkan koreksi ,saran dan tambahan informasi agar dapat disempurnakan.

 

8.Thanks very much to all my friends for their comment that made this book created as the proposal on time, and will lauching in order to celebrate  the67th Indonesia Indepedence day August 17thth 2012 may be  at International Phillatelic Exhibition Indonesia 20122  at June 2012 , I am sorry I cannot listed the name of my friends here.without then this book cannot write in good and interesting, also takns very much to my collectors who visit my three internet Web Blog site

hhtp://www. unqiecollections.wordpress.com ,  hhtp://www.iwansuwandy.wordpress.com.  hhtp://www.Driwancybermuseum.wordpress.com

Penulis mengucapkan terima kasih kepada teman-teman yang telah memberikan komentar dan saran sehingga penerbitan buku ini dapat terlaksana sesuai rencana, akan di luncurkan dalam rangka  hari kemerdekaan Indonesia  ke 67 ,17 Agustus  2012, mungkin diluncurkan saat pameran filateli International Indonesia 2012 bulan juni 2012 , karena berbagai hal nama-nama teman-teman tersebut belum dpat di sebut satu-persatu, tanpa mereka karya tulis ini tidak mungkin dapatDitulis dengan baik dan menarik. Juga terima kasih kepada para kolektor setia dari blog saya di Internet.

Jakarta  April 2011

The writer/Penulis

Dr Iwan Suwandy,MHA 

THE Dr IWAN MASTERPICE INDONESIA INDEPENDECE REVOLUTION AND WAR GEMS COLLECTIONS

This collection never show before,the special art illustration by Albert Suwandy,STGea only on the LUX CD_ROM,special for premium member,only limited edition 100 CD_ROM,subscribe fast via comment

hhtp://www.Driwancybermuseum.wordpress.com.

Starting in 1970 until 1990, Indonesia’s economic situation improved and thrived which made government was able to build government buildings ranging from Government office, the mayor’s office, post office, the Office of the court, in addition to offices such as State-Owned Enterprises Pawn Office, PERTAMINA, Hospital  including the building of University, elementary school, junior high schools, high schools and so on.
Construction of the above not only in the form of restoration, but also overhauling the old and established banguna banguna new. This situation causes many  archival letters, documents and old photos scorching earth, but many also sold as scrap paper in kilogram.
Dr Iwan very lucky, the first time in 1970 while completing education at the University of Indonesia Faculty Medicine   found philatelic collection , some rare old books and documents of the Revolution and War 1945-1950  Indonesian republic, and currently serving in West Sumatra , West Kalimantan and Headquarters Indonesia National Police (police Headquarter), while on duty to development Hospitals throughout the area police (Polda) Indonesia also found the rare  gems collection.

Indonesian version:

Mulai tahun 1970 sampai 1990 , situasi ekonomi Indonesia meningkat dan berkembang dengan pesat sehinnga pemerintah mampu membangun  gedung pemerintahan mulai dari kantor Gurbenur,kantor walikota, kantor Pos,Kantor pengadilan dan Balai Peninggalan Harta(Weskameer) ,selain itu juga kantor Badan Usaha Milik Negara seperti Kantor Pegadaian, PERTAMINA, Rumah Sakit  termasuk juga pembangunan Univeritas, sekolah dasar,Sekolah Menengah Pertama, Sekolah Menengah Atas dan sebagainya.

Pembangunan tersebut diatas tidak hanya dalam bentuk pemugaran ,tetapi juga merombak banguna lama dan mendirikan banguna baru. Situasi ini menyebabkan b anyak arsip surat-surat,dokumen dan foto lama dibumi hanguskan ,tetapi banyak juga dijual sebagai kertas bekas secara kiloan.

Dr Iwan sangat beruntung ,pertama kali tahun 1970 saat menyelesaikan pendidikan di Fakultas Kdoktera Universitas Indonesia menemukan beberapa koleksi filateli dan dokumen serta buku lama dari masa Revolusi dan perang kemerdejkaan republic Indonesia 1945-1950, dan saat bertugas di Sumatera Barat  dan Kalimantan Barat serta Markas Besar Kepolisian Negara Republik Indonesi(MABES POLRI) ,saat melaksakan tugas pengembangan Rumah sakit Kepolisian di seluruh daerah(POLDA) Indonesia juga menemukan  koleksi tersebut.

Dr Iwan Masterpiece  Jewel Collection which is a good form of philately stamp, seal, and the document is as follows

Masterpiece Koleksi Dr Iwan yang merupakan Permata Koleksi Filateli baik berupa prangko,meterai , dan dokumen adalah sebagai berikut:

1.The  Phillatelic gems

a.During Dai Nippon Still Had power Given By  British allied forces

(1) The Dai Nippon Sumatra definitive stamps used off cover CDS in Nippon Character Pa_da_n(g) 20(1945).8(august).17.EX collection Apothecery from Padang 1945 until 2009,and Dr Iwan Collections 2009 until now.

 

(2)The Dai Nippon Java Military Postcard used with Dai Nippon Java stamps send from Djatinegara CDS August,18th.1945 to Magelang,one day after Indonesia independence Proclamations Dai Nippon still had power on Post office.this collection found by Jatinegara fleamarket in 1996 and bough by Dr Iwan still until now.

 

 

b.During Transition Period

(1) NRI used Dai Nippon stamps without Overprint

(2) NRI handchoped or handwritten pen line,typewriter overprint

(a)Typewritter machine

 (b)Handchoped

(b)Hand written pen line

 (3) NRI  Machinal Overprint

(4) Indonesia Independence anniversary special card from West Sumatra

(a) 1946

V.Esbensen in his catalogue said that he never seen this card in postally used,this card found by dr iwan in Bukittinggi in 1984,show to Mr PR Bulterman in 1985,he said this card were swap and burn all ,oh amazing still found the used one, this used in May.2nd.1947 from Priaman to Kajoetanam the NRI area due to Lingarjati conference agreement,the border line at Loeboek aloeng.In 1989 Dr Iwan sold this rare card US$1500,- to Mr Karel and in 2009 he sold at Tangerang Auction(TMA) but no one bought in his price US$5000,- and then put at Van dieten auction ,the  card move abroad ,but I donnot know the letetst owner.

(b)1947

V Esbensen in his catalogue said that he never seen this card in Postally Used , this card found by Dr Iwan in Bukittinggi in 1984,show to Mr PR BUlterman ,he said this card were swap and burn by Dutch NICA soldier,oh amazing still found in postally  used condition sedn from Batoesangkar June,2nd.1948 to Boekittinggi , in 1989 this card sold to Mr Karel US$1500,- and in in 2009 he sold at TMA Auction but no buyer, and the sold at Van dieten Auction Netherland but I donnot know who bought this card,the card now going abdrod for the first time.

2. The Revenue Gems

a.During Dai Nippon Still Had Power Given By British allied forces.

 

b. During Trasition Period

(1) NRI Used dai Nippon sumatera revenue  without overprint as revenue

(2) Stamp Used as revenue:

 (a)Sumatra Overprint NRI Stamps as revenue

(b)Java

 

(3)NRI Overprint on Dai Nippon Revenue

(4)NRI new Currency F big = 100 f

5)NRI New Rupiah R = 100 f

3.  The Numismatic Gems

(a) Error Printing Papermoney

(b)Legalized NRI Banknoted

4.The art Photography Gems

5.The Old Books Gems

TABLE OF CONTENT

I.Part One   Indonesian independence revolution and war in 1945

1)Prolog in August 1945

1.July 1945

 (1)DAI NIPPON OCCUPATION JAVA’S  JULY CALENDER

THE  DAI NIPPON MILITARY OCCUPATION JAVA’S CALENDER COLLECTION , JULY  2605 (1945) with few days of August , THE LAST MONTH BEFORE SURRENDER TO THE ALLIED ARMED FORCES, AND THE BACK OF THIS CALENDER A NOTE HANDWRITTEN Married 16/7-1941 no.124 at Soerabaja.

On this Japanese callender,tehre were  the first day of August until 11th August , especially the day of  US “H”Bomb were thrown , Monday ,6th, at  Hirosima and thirsday, 9th, at Nagasaki

(, if some have the other month,  August until December ‘s Calender please show us-auth).

14 August 1945:
Tokyo. At 1020, the emperor convenes a conference of his most senior military officers. Field Marshall Hata, freshly arrived from Hiroshima, expresses no confidence in Japan continuing the war over appeals from such strong-willed, arrogant personalities as Field Marshal Sugiyama Hajime and Fleet Admiral Nagano Osami who exhibit a dull-witted state of denial. The emperor dismisses their protestations for protracted carnage. 

The emperor notes that with the Soviet entry into the Pacific War and the enemy’s use of atomic weapons, not even Onishi’s Special Attack forces can stop them. He requests that his senior officers cooperate with him to end the war. Later, the Japanese announce that the emperor has decided to accept the Potsdam Declaration’s terms and end the War, effective the following day. 

That same day, 167 B-29s of the 20th Air Force from Saipan bomb Hikari Naval Arsenal, Yamaguchi Prefecture. The raid is supported by North American P-51 “Mustang” fighters from Iwo Jima, attacking various targets in the same area until 1040 in the morning. 71.8 percent of the arsenal’s total roof area is destroyed. 738 workers, mostly mobilized middle school students, die in the attacks. 

Emperor Hirohito Reads an Imperial Rescript 

The Dai Nippon Soldier hear the announcement

the allied forces very happy after hear the announcement

 
Dutch prisoners just after release from a Japanese concentration camp, 1945.Imperial Palace, Tokyo. At noon, the emperor announces Japan’s surrender that is broadcast by radio all over the Japanese Empire. 

Port Arthur, Manchuria. Lost to Japan in 1905, the Soviet Navy Flag flies again on 22 August 

2)17 August 1945

Proclamation of Indonesian Independence

The Proclamation of Indonesian Independence (Indonesian: Proklamasi Kemerdekaan Indonesia, or simply Proklamasi) was read at 10.00 a.m. on Friday, August 17, 1945. The declaration marked the start of the diplomatic and armed-resistance of the Indonesian National Revolution, fighting against the forces of the Netherlands until the latter officially acknowledged Indonesia’s independence in 1949. In 2005, the Netherlands declared that they had decided to accept 17 August 1945 as Indonesia’s independence date[1]

Sukarno and Mohammad Hatta, who were appointed President and Vice-president, respectively, were the documents signatories.

In 1945 when the Republic of Indonesia was proclaimed on August 17, 1945, Daan Mogot become a prominent leader of the Security Barisan Rakyat (BKR) and TKR (People’s Security Army) with the rank of Major. This is a unique at that time, Major Daan Mogot was only 16 years!

Declaration event

Sukarno, accompanied by Mohammad Hatta (right), proclaiming the independence of Indonesia

II.Part Two Indonesia Independence Revolution and War in 1946

 

III.Part Three Indonesian independence revolution and war in 1947

IV.Part four Indonesian independence revolution and war in 1948

V.Part Five Indonesian independence revolution and war in 1949

 

 

VI.Part Six Indonesian independence Revolution and War in 1950

 

 @copyright Dr Iwan Suwandy 2011

 

THE LIST OF PICTURES

I.Part One Indonesian independence revolution and war in 1945

 

II.Part Two Indonesian independence revolution and war in 1946

 

This elegant old building was designed by the Javanese architect R. Sindutomo in 1923. During in 1923. During World war II it was  used by the occupying Japanese forces as their headquarters. Following the Japanese surrender it became the temporary location of the original radio republic Indonesia , before the bank was founded in 1946. The building is dituated at the southern end of jalan Ahmad Yani, next to the Central Post Office

 

III. Indonesian Independence Revolution and War in 1947

 

IV. Indonesian independence revolution and war in 1948

V. Indonesian independence revolution and war in 1949

VI.Part Six Indonesian independence revolution and war in 1950

The ends@copyright Dr Iwan suwandy 2011’.

PS.This is the uncomplete Illustration CD-ROM for promotion,chepeast US$150,- limited edition only 100 CD-Rom, if the specialist collectors want to get the LUX CD-ROM with full illustrations,please subscribe via comment in my web blog

Hhtp://www.Driwancybermuseum.wordpress.com,only ten CD-ROM ,priced US$300,- ,will issued June 2012 during International philatelic exhibition at Jkarta Indonesia 2011Please donnot copy without mDr Iwan written permission, if you copy without permission I will sue You!!!!!! Because you are against the LAW (HAKI)(Dr IwanNote)

The Unusual Cinderella Stamps Collections (Brand Virtual “Ghost Post”) Info from Russia Articles

Driwancybermuseum’s Blog

                           WELCOME COLLECTORS FROM ALL OVER THE WORLD

                          SELAMAT DATANG KOLEKTOR INDONESIA DAN ASIAN

                                                AT DR IWAN CYBERMUSEUM

                                          DI MUSEUM DUNIA MAYA DR IWAN S.

_____________________________________________________________________

SPACE UNTUK IKLAN SPONSOR

_____________________________________________________________________

 *ill 001

                      *ill 001  LOGO MUSEUM DUNIA MAYA DR IWAN S.*ill 001

                                THE FIRST INDONESIAN CYBERMUSEUM

                           MUSEUM DUNIA MAYA PERTAMA DI INDONESIA

                 DALAM PROSES UNTUK MENDAPATKAN SERTIFIKAT MURI

                                        PENDIRI DAN PENEMU IDE

                                                     THE FOUNDER

                                            Dr IWAN SUWANDY, MHA

                                                         

    BUNGA IDOLA PENEMU : BUNGA KERAJAAN MING SERUNAI( CHRYSANTHENUM)

  

                         WELCOME TO THE MAIN HALL OF FREEDOM               

                     SELAMAT DATANG DI GEDUNG UTAMA “MERDEKA” 

SHOWCASE :

Brand virtual states Ghost Cinderella Stamps

(Марки виртуальных государств)

This term there are other uses, see Mark.
Brand of virtual or “ghost post” – mark non-existent, virtual states and microstates, which are produced in promotional and / or speculative purposes. Experts estimate [1], the aggregate number of such issues in the world, at least more than 80 thousand, and it continues to grow.

Content
1 ‘Abd al-Kuri
2 Abram
3 Azadistan
4 Acre
5 Alpenforland / Adria
6 Amazon
7 Ambergris
8 Al-Taval
9 Atchin
10 Aceh
11 Bateko
12 Bohol
13 Bumbunga
14 Beauty Baldoni
15 Vaykoa
16 Gay and Lesbian Kingdom
17 Dhofar
18 West State
19 Kayiti
20 Kapakua
21 Katib
22 Clipperton
23 crusts
24 Korterra
25 Kunani
26 Lundy
27 Lukoniya
28 Malakota
Maluku Selatan-29
30 Mar
31 Mevyu
32 Mirdita
33 Monte Bello
34 Muhu
35 Moresnet
36 Nagaland
37 New Atlantis
38 Nour
39 Oecussi-Ambeno
40 Oman
41 Palombi
42 Rainbow Creek
43 The Republic of Rose Island
44 Sarofu
45 Seborga
46 Sedang
47 Sealand
48 Trinidad
49 Freston
50 Fridomlend and Koneuve
51 Khalistan
52 Hutt
53 Himriya
54 Croatia
55 Celeste
56 Scottish islands
57 Shuar
58 See also
59 Notes
60 References
61 Links
 

  

 
 
 

Ма́рки виртуа́льных госуда́рств, или «почто́вые при́зраки», — марки несуществующих, виртуальных государств, а также микрогосударств, которые выпускаются в пропагандистских и/или спекулятивных целях. По подсчётам экспертов[1], совокупное количество подобных выпусков в мире по меньшей мере более 80 тысяч, и оно продолжает увеличиваться.

Содержание

1.Abd al-Kuri
Main article: Abd al-Kuri
See also the article: Sand dunes (philately) # rest.
Abd al-Kuri (born Abd al-Kuri) – a small island in the Arabian Sea between the Somali Peninsula and the island of Socotra. Part of the territory of Yemen. In late 1969 the philatelic market, there are three brands with images of airplanes, “Boeing”, “Tu” and “Concorde” and the name of the island. It was later revealed that they were issued in Rome by the “Inter Filatelik” and the relationship to the island did not have. Their authors were the brothers Salinari, presenting them as a non-existent issues emirate on the Persian Gulf with a population of 250 thousand people. In one of the “brand” even a map of the emirate.

 2.Abram
The Principality of Avram (Grand Duchy of Avram) – micro in Australia. In the late XX century, private property, located in the Australian state of Western Australia, announced his master, “an independent principality,” which in 1982 began to leave their own mark. Denominations specified in the “local currency” – Ducale.

3. Azadistan
Main article: Azadistan
Azadistan (Azadistan). In 1920 he was made an attempt to separate from Iran Iranian Azerbaijan. It was created Azadistan state, which lasted from April to September. This fact has left a memory of himself as a brand: the inscription «Azadistan» against the Iranian flag, but without the lion and sun. Who and when was released the brand and whether it has been in circulation is unknown.

4.Atjeh(Aceh)

Atchin
Atchin (Atchin) [4]. Stamps issued ostensibly on the island of Sumatra (Indonesia) in 1882. More precise data are not available. 

Aceh

“Mark” in Aceh
Main article: Aceh (Sultanate)
Aceh (Atjeh) [5]. Stamps issued in 1882 on behalf of the Sultanate of Aceh, located on the island of Sumatra (Indonesia). More precise data are not available

Atjeh 1 real red info from Mr MF Hartkamp)

Ecco alcune QSL card, postcard, postmark e stamp relative alle varie province. Li mettiamo in ordine sparso con accanto il numero della provincia di riferiemnto.

 

Iniziamo con un phantom, cioè un supposto  Stato inesistente, vassallo della Germania di fine 1800, che possiamo ritenere essere l’Aceh dell’Indonesia:

english translate:

Here are some QSL card, postcard, postmark and stamps for the various provinces. We put them in random order with the number next to the province of riferiemnto.

 
We begin with a phantom, that is, a supposed non-existent state, a vassal of Germany at the end of 1800, which we believe to be Aceh Indonesia

 

 

1 Atjeh 1882-1892 Stato vassallo tedesco

1 Aceh 1882-1892 German vassal state

 

more info about this stamp from Italy:

Ecco alcune QSL card, postcard, postmark e stamp relative alle varie province. Li mettiamo in ordine sparso con accanto il numero della provincia di riferiemnto.

Iniziamo con un phantom, cioè un supposto  Stato inesistente, vassallo della Germania di fine 1800, che possiamo ritenere essere l’Aceh dell’Indonesia:

Here are some QSL card, postcard, postmark and stamps for the various provinces. We put them in random order with the number next to the province of riferiemnto.

 
We begin with a phantom, that is, a supposed non-existent state, a vassal of Germany at the end of 1800, which we believe to be Aceh Indonesia

 

 

 

1 Atjeh 1882-1892 Stato vassallo tedesco

 

5.Acre

“Mark,” Acree
Main article: Republic of Acre
Free State of Acre (port. Estado Independente do Acre). Acre – one of the states of Brazil, located at the junction of Brazil, Bolivia and Peru, in the XIX century was the disputed territory of these countries. In 1899, there was shestimarochnaya series with an inscription in Portuguese, “Free State of Acre.” Who and where are made the “brand” is unknown.

6. Alpenforland / Adria

“Mark” Alpenforlanda / Adria
See also the article: The history of mail and postage stamps of Slovenia.
Alpenforland / Adria (German Alpenvorland / Adria). In the second half of the 1940s in the philatelic market there was a fantastic series of 16 branding of unknown origin. For its production have been used brand Laybaha (German occupation of Ljubljana, Slovenia), issued in January – April 1945 (Michel # 45-60). Figure brands – different types of this region – left unchanged, but instead refer to «Provinz Laibach / Ljubljanska Pokrajina» appears «Alpenvorland / Adria».

7.Amazon

“Mark” of Amazonia
Amazon (Amazonie). A series of six stamps with the inscription published in 1901 by unknown persons. Most likely, this is speculative-fiction issue. However, some researchers consider them to release private railway company carrying the mail from the hinterland between the rivers Amazon and Tocantins (Brazil) to the Atlantic coast (the city of Belém), from which the mail was delivered to the city of Cayenne (French Guiana).

7.Ambergris
Ambergris (English Ambergris) – the northernmost and largest island of the archipelago, which stretches along the coast of Belize. Stamps for it is not officially released. Encountered issues with the designation of the name of the island made for speculative purposes.

 8.Al-Taval

“Mark,” At-Tavalya (overprint on stamp of Iraq)
Am Taval (At-Tawal) – a small neutral zone on the border of Kuwait, Iraq and Saudi Arabia. In 1965 he appeared on the philatelic market brand of Kuwait, Iraq and Saudi Arabia, with black and color overprint name of the neutral zone. It was later revealed that these fantastic brands were manufactured in the United States.

Абд-эль-Кури(Abram)

Основная статья: Абд-эль-Кури

Абд-эль-Кури (англ. Abd al-Kuri) — небольшой остров в Аравийском море между Сомалийским полуостровом и островом Сокотра. Часть территории Йемена. В конце 1969 года на филателистическом рынке появились три марки с изображениями самолётов «Боинг», «Ту» и «Конкорд» и названием острова. Впоследствии выяснилось, что они выпущены в Риме фирмой «Интер Филателик» и отношения к острову не имеют. Их авторами были братья Салинари, выдававшие их за выпуски несуществующего эмирата на берегу Персидского залива с населением 250 тысяч человек. На одной из «марок» даже изображена карта эмирата.

 Аврам(Adzam)

Abram
The Principality of Avram (Grand Duchy of Avram) – micro in Australia. In the late XX century, private property, located in the Australian state of Western Australia, announced his master, “an independent principality,” which in 1982 began to leave their own mark. Denominations specified in the “local currency” – Ducale.

Княжество Аврам (Grand Duchy of Avram) — микрогосударство в Австралии. В конце XX века частное владение, находящееся на территории австралийского штата Западная Австралия, было объявлено его хозяином «независимым княжеством», для которого с 1982 года начали выходить собственные марки. Номиналы указаны в «местной валюте» — дукалах.

 Азадистан

Основная статья: Азадистан

Азадистан (Azadistan). В 1920 году была осуществлена попытка отделить от Ирана Иранский Азербайджан. Здесь было создано государство Азадистан, просуществовавшее с апреля по сентябрь. Этот факт оставил о себе память в виде марки: надпись «Azadistan» на фоне иранского флага, но без льва и солнца. Кем и когда была выпущена марка и была ли она в обращении неизвестно.

Bateko

“Mark” Bateko
Bateko (Correios Bateken). In 1897 in Lisbon, there was a series of 10 branding Bateko – defunct colony of Portugal. The authors of this fantastic release is unknown. 

Bohol
Main article: Bohol (island)
Bohol Island – one of the Philippine Islands (north of Mindanao). The origin of brands with the text of Spanish. Sello postal provisional Bohol («provisionally Postage stamp Bohol”) is unknown. Denomination not specified.

Bumbunga

“Mark” Bumbungi coupons dedicated to the royal wedding of the Prince of Wales Charles and Lady Diana Spencer (1981)
Bumbunga Province (English Province of Bumbunga) – micro in Australia. “Province” was created March 29, 1976, when a former circus animal trainer apes English farmer Alex Brekstoun declared independence from Australia of the site size of 4 hectares, located near the town of Snowtown in South Australia. Between 1980 and 1987, the self-proclaimed governor Brekstoun released 15 series “marks” on the British royalist themes [6].

Beauty Baldoni
Beauty Baldoni (Buiten-Baldonie). In 1968, a RM Arundel declared the independence of private ownership on the island of Auger-Balda, Tusket, located southwest of the peninsula of Nova Scotia (Canada). This event marks the release, he said.

Vaykoa

“Mark” Vaykoa
Republic Vaykoa Islands (Waikoa). Fantastic state, which supposedly was on the island of Kermadec. In 1969, there were “marks” with the inscription «Waikoa Island».

According to legend, as a result of “disintegration” of the “Republic Vaykoa” there were two brand new “states”:

Republic Minaue (Minaue). “Marks” of the “State” published in 1979.
Republic Takavau (Takava’u). “Marks” published since 1981. 

 Gay and lesbian kingdom

“Marks” Kingdom of gays and lesbians
Main article: Kingdom of gays and lesbians
Gay and Lesbian Kingdom of the Coral Sea Islands (Gay and Lesbian Kingdom of the Coral Sea Islands) – micro, located in the Coral Sea Islands off the coast of Australia. “The Kingdom” produces its own brand since July 2006. Par grades indicated in the euro [7].

Dhofar

“Mark” Dhofar
Main article: Dhofar
Dhofar, or Dufar (Dhofar or Dhufar), – the southern part of Oman. In this area in 1965 was created by People’s Liberation Front Dhofar, which was renamed in 1968 in the People’s Liberation Front occupied the Persian Gulf. In 1972 he appeared on the philatelic market speculative issues with the image of butterflies and the imprint in the English language, “Dhofar.”

Western State
Western State (English Federation of Doutherhi and Hespevies Islands or the port. Estado Hesperio). The appearance of the “state” with the name stated in the mid-1960s, someone Stopahio, “Postmaster General” of this “territory”. However, the “spokesman” could not name the exact location of his “country.” He confined himself to vague statement that it – “an island located in the seas of the South Pacific.” Most likely, Stopahio a fancy for its “state” mysterious island like the name, open the coast of Antarctica in the middle of the XIX century, and then disappeared without a trace. Apparently, it was just a huge iceberg, adopted for the unknown land. First post ghost island appeared in 1964 for the Olympic Games in Tokyo. 

Kayiti

“Mark” of the sultanate Kayiti
See also the article: Hadramaut.
Sultanate Kayiti (English Quaiti state in Hadramaut) – former sultanate in the British protectorate of Aden. In 1963 he joined the Federation of South Arabia. In October 1963, in the mountains Radfana broke a popular uprising directed against the colonialists and the local puppet regimes, marked the beginning of organized warfare. Sultanate Kayiti came under the control of the national liberation forces in the second half of September 1967. On October 30 became part of the People’s Republic of South Yemen (now the Republic of Yemen). Sultan Bin Ghaleb Awad Kayiti after the expulsion from their lands settled abroad. There he was engaged in commerce and with the help of the mediators was to print and distribute “mark of the Sultanate Kayiti,” although the latter had become by that time geographic ghost. The first report of these stamps appeared in print in March 1968. French philatelic journal published a report and description of emissions of the Sultanate. Later in the philatelic market spilled a lot of such mail ghosts of various subjects. 

Kapakua

“Mark” Kapakua
Kapakua Republic (Spanish Repub. Del Capacua). In April 1883, allegedly on the territory of Bolivia was proclaimed an independent republic with its capital Kapakua in Santa Teresa. Then there was the 5-series branded with the coat of arms and the inscription “Republic Kapakua.” Speculative issue. 

Katib
Katib (Katibo). In the years 1940-1962 a Donald Evans created a fantastic brand Katib state, allegedly in the territory of Brazil. They had various inscriptions, which invariably attended by the State, “Katib”.

Clipperton

“Mark” Clipperton (1895)
Main article: Clipperton
Clipperton (English Clipperton) – a small island located in the Pacific Ocean, is a part of French Polynesia. The island is uninhabited, and until 1931 was a disputed territory. In 1895, the philatelic market there was a 10-series branded with the name of the island, issued for speculative purposes. Author registration – Unknown [8]. 

crusts
Crusts (Spanish Coroco) – «republic,” which supposedly existed for a short time somewhere in the Andes and included in the composition of Chile. Stamps face value of 5 cents with the inscription appeared in 1913. Who and where carried out this speculative fiction issue – is unknown.

Korterra
Republic Korterra (Corterra, short for Corall Terra) – private ownership in one of the coral reefs in the southern Line Islands. The owner declared “independence” of the newly-made “republic” in April 1974 and started his own label.

Kunani

“Mark” Kunani
Kunani (Fr. Counani or Rep. Counanier) – the area between French Guiana and Brazil, which is disputed by France and Brazil for about a century. The name of this area was used as the name of the mythical “republic of Indians”, stretching from the borders of Venezuela to the Atlantic Ocean. “Respublika” allegedly had its own president, flag, coat of arms as well as mail, which produces postage stamps are used for domestic shipments. From 1887 to 1908 science fiction by Jules Gros (Jules Gros) and Adolf Breze (Adolphe Brézet), who described himself as “president Kunani” and fought for international recognition of the “state”, were issued five series of stamps bearing the inscription “Republic Kunani” and later – just “Kunani.”

Lundy

“Mark” Lundy
Main article: Lundy
Lundy (born Lundy) – micro-area on a small island of 345 hectares, located in Bristol Bay, 20 km from the south-west coast of Britain. [9] Historically, the rulers of that Lundy royal decree in the XVI century, granted freedom of within the island. By 1927 the island had only 12 residents. Even the post office was closed. Over 25 thousand pounds sterling, this island was bought from the British government’s banker Martin Harman. Immediately after the entry into force of the transaction Harman declared himself king of the newly formed state Lundy. “The King” has demanded the recognition of special rights and privileges as a royal decree of the XVI century was not canceled, a British court found them. Harman, built on an island restaurant, started his police. In 1929, minted their coins, for which in April 1930 was fined. Also in 1929 came the first 7-series branding. Harman issued its own “brand” until 1954. They came out in large numbers and for a variety of topics. He died “the King” in 1955, leaving the “throne” to his son, Albion. And the latter, in turn, handed the reins to his two sisters island. It happened in the late 1960s. A further list of “rulers” Lundy is not known exactly [10]. 

Lukoniya
Lukoniya Republic (Republic of Lukonia). In 1974 he was proclaimed “independent republic” Lukoniya. It was alleged on several islands north of Borneo. The proclamation of “independence” was declared in Munich, and the first 4-branded series Lukonii was printed in Austria. 

Malakota

“Mark” Malakoty
Malakota (Malakote). Brand with a similar sign appeared in the late XIX century. According to traders, this “state” was on the shore of Lake Tana African in Ethiopia. In fact, no state in the area was not. Stamps issued for speculative purposes. Their appearance is connected with the name of the brothers Dengardtov.

Maluku Selatan,

the original temporary used  RMS stamps on  money order fragment(courtecy Mr MF Harkamp)

The RMS unissued stamps CTO.(Courtecy Mr MF Hartkamp)

“Mark” Maluku-Selatana
Main article: Maluku
Republic Maluku Selatan, (Repulik Maluku Selatan). Moluccas Malay Archipelago, part of Indonesia. In late 1949, the islands of Seram, Ambon, Manila, Klang, Ambelau and in several other Southern Mollukah mutiny. April 25, 1950 Christian part of the population declared at the southern Moluccas independent Republic of South Moluccas. In July of that year had at the post office stamps of Ambon in Indonesia were fitted with imprint “Republic Maluku Selatan,” and the name of the country crossed by two lines. Total nadpechatano 24 rating. August 17, 1950 attempted separation was suppressed by force by the Indonesian army, the Moluccas again came under the sovereignty of Indonesia. Only on Ambon rioters still continued to resist. Until November 1950 there had circulation mark with overprinting.

Tense situation in the region benefited from con artists. In the office of one of the largest U.S. branded companies have addressed some gentlemen, who declared that they are government Moluccan Republic, and proposed the development of emission of a new state program. Since this proposal promised a firm owners big money deal for the production of exotic brands unknown republic concluded quickly. In 1954, the philatelic market appeared bright attractive miniature postage Republic Maluku Selatan,. Involved in their release was the Austrian State Printing House in Vienna and New York Philatelic Company “Tables and K °», which was owned by Henry Desk (Henry Stolow). The colorful stamps have attracted the attention of philatelists. Director of the company and “representatives” of a nonexistent country managed to get a good profit, before they were exposed. The case ended with a loud process [11].

Mare
Mare (port. Mare correos). In 1902 in the Brazilian state of Minas Gerais was allegedly proclaimed “independent state” Mare, had time to issue their own stamps with the inscription «Mare correos». Speculative fiction issue.

Mevyu
Mevyu Republic (English Republic of Mevu). Precise data on the place of issue of these “brands” no. It is well known, though this “republic” is somewhere in the Pacific. In the most recent editions appeared designation «Antarctic Post» – «The Antarctic-mail.”

Mirdita

“Short-paid brand” Mirdity
See also the article: Mirdita (District).
Independent government Mirdity (alb. Vetekeverria Mirdities e). In June 1921, the territory of Albania was proclaimed an independent republic Mirditskaya. She lasted until November of that year. In 1922, the philatelic market there was a 5-series branded independent government Mirdity. Some “grades” were equipped with imprint «TAKSE» – surcharge. However, the relationship to Mirditskoy republic they had and were speculative and fantastic release.

Monte Bello

“Mark” Monte Bello
Local mail Monte Bello Islands (English Local Post of the Monte Bello Islands). Monte Bello Islands are located to the north-west of Australia. We used the UK as a nuclear test site. In 1951-1952 there were marks of unknown origin, issued on behalf of the islands. Speculative fiction issue. [12] [13]

Muhu


Muhu Island («Moon Island»).

Kanakya

 Акри

«Марка» Акри

Основная статья: Республика Акри

Свободное государство Акри (порт. Estado Independente do Acre). Акри — один из штатов Бразилии, расположенный на стыке Бразилии, Боливии и Перу, в XIX веке был спорной территорией этих стран. В 1899 году появилась шестимарочная серия с надписью на португальском языке «Свободное государство Акри». Кто и где изготовил эти «марки» неизвестно.

 Альпенфорланд / Адрия

«Марка» Альпенфорланда / Адрии

Альпенфорланд / Адрия (нем. Alpenvorland / Adria). Во второй половине 1940-х годов на филателистическом рынке появилась фантастическая 16-марочная серия неизвестного происхождения. Для её изготовления были использованы марки Лайбаха (германская оккупация Любляны, Словения), выпущенные в январе — апреле 1945 года  (Михель #45—60). Рисунок марок — различные виды этого края — оставлен без изменения, но вместо обозначения «Provinz Laibach / Ljubljanska Pokrajina» появилось «Alpenvorland / Adria».

 Амазония

«Марка» Амазонии

Амазония (Amazonie). Серия из шести марок с такой надписью выпущена в 1901 году неизвестными лицами. Скорее всего, это спекулятивно-фантастический выпуск. Однако некоторые исследователи считают их частными выпусками железнодорожной компании, перевозившей почту из внутренних районов междуречья Амазонки и Токантинс (Бразилия) к Атлантическому побережью (город Белен), откуда почта доставлялась в город Кайенну (Французская Гвиана).

 Амбергрис

Амбергрис (англ. Ambergris) — самый северный и самый крупный из островов архипелага, протянувшегося вдоль побережья Белиза. Марки для него официально не выпускались. Встречающиеся выпуски с обозначением названия острова изготовлены в спекулятивных целях.

Ат-Таваль

«Марка» Ат-Таваля (надпечатка на марке Ирака)

Ат-Таваль (At-Tawal) — небольшая нейтральная зона на границе Кувейта, Ирака и Саудовской Аравии. В 1965 году на филателистическом рынке появились марки Кувейта, Ирака и Саудовской Аравии с чёрными и цветными надпечатками названия нейтральной зоны. Впоследствии выяснилось, что эти фантастические марки были изготовлены в США.[2][3]

Атчин

Атчин (Atchin)[4]. Марки выпущены якобы на острове Суматра (Индонезия) в 1882 году. Более точных данных нет.

Ачех

«Марка» Ачеха

Основная статья: Ачех (султанат)

Ачех (Atjeh)[5]. Марки выпущены в 1882 году от имени султаната Ачех, находившегося на острове Суматра (Индонезия). Более точных данных нет.

Батекен

«Марка» Батекена

Батекен (Correios Bateken). В 1897 году в Лиссабоне появилась 10-марочная серия Батекена — несуществующей колонии Португалии. Авторы этого фантастического выпуска неизвестны.

 Бохоль

Основная статья: Бохоль (остров)

Остров Бохоль — один из Филиппинских островов (севернее острова Минданао). Происхождение марок с текстом исп. Sello postal provisional Bohol («Почтовая провизорная марка Бохоля») неизвестно. Номинал не указан.

Бумбунга

«Марка» Бумбунги с купонами, посвящённая королевской свадьбе принца Уэльского Чарльза и леди Дианы Спенсер (1981)

Провинция Бумбунга (англ. Province of Bumbunga) — микрогосударство в Австралии. «Провинция» была создана 29 марта 1976 года, когда бывший английский цирковой дрессировщик обезьян фермер Алекс Брэкстоун объявил независимость от Австралии своего участка размером в 4 гектара, расположенного около города Сноутаун в Южной Австралии. В период с 1980 по 1987 самопровозглашённый губернатор Брэкстоун выпустил 15 серий «марок» на британские роялистские темы.[6]

Бьютен—Балдони

Бьютен—Балдони (Buiten-Baldonie). В 1968 году некий Р. М. Арундел провозгласил независимость своего частного владения на острове Аугер-Балд-Таскет, расположенном юго-западнее полуострова Новая Шотландия (Канада). Это событие он отметил выпуском марок.

 Вайкоа

«Марка» Вайкоа

Республика Острова Вайкоа (Waikoa). Фантастическое государство, которое якобы находилось на острове Кермадек. В 1969 году появились «марки» с надписью «Waikoa Island».

По легенде в результате «распада» «Республики Вайкоа» появились марки двух новых «государств»:

  • Республика Минауэ (Minaue). «Марки» этого «государства» издаются с 1979 года.
  • Республика Такавау (Takava’u). «Марки» издаются с 1981 года.

 Геев и лесбиянок королевство

Королевство геев и лесбиянок островов Кораллового моря (Gay and Lesbian Kingdom of the Coral Sea Islands) — микрогосударство, находящееся на территории островов Кораллового моря у берегов Австралии. «Правительство Королевства» выпускает собственные марки с июля 2006 года. Номинал марок указывается в евро.[7]

[править] Дофар

«Марка» Дофара

Основная статья: Дофар

Дофар, или Дуфар (Dhofar или Dhufar), — южная часть Омана. В этом районе в 1965 году был создан Народный фронт освобождения Дофара, переименованный в 1968 году в Народный фронт освобождения оккупированной зоны Персидского залива. В 1972 году на филателистическом рынке появились спекулятивные выпуски с изображением бабочек и надпечаткой на английском языке «Дофар».

[править] Западное государство

Западное государство (англ. Federation of Doutherhi and Hespevies Islands или порт. Estado Hesperio). О появлении «государства» с таким названием заявил в середине 1960-х годов некто Стопахио, «генеральный почтмейстер» этой «территории». Однако «официальный представитель» не смог назвать точного местоположения своей «страны». Он ограничился лишь туманным заявлением о том, что это — «остров, расположенный в морях юга Тихого океана». Скорее всего, Стопахио облюбовал для своего «государства» таинственный остров похожего названия, открытый у берегов Антарктиды в середине XIX века, а затем бесследно исчезнувший. Видимо, это был просто огромный айсберг, принятый за неизвестную землю. Первые почтовые призраки острова появились в 1964 году к Олимпийским играм в Токио.

[править] Кайити

«Марка» султаната Кайити

См. также статью: Хадрамаут.

Султанат Кайити (англ. Quaiti state in Hadramaut) — бывший султанат в составе британского протектората Аден. В 1963 году вошёл в состав Федерации Южной Аравии. В октябре 1963 года в горах Радфана вспыхнуло народное восстание, направленное против колонизаторов и местных марионеточных режимов, положившее начало организованной вооружённой борьбе. Султанат Кайити перешёл под контроль национально-освободительных сил во второй половине сентября 1967 года. С 30 октября стал частью Народной Республики Южный Йемен (ныне Республика Йемен). Султан Кайити Галеб Бин Авад после изгнания из своих владений обосновался за границей. Там он занялся коммерцией и при помощи посредников стал печатать и распространять «марки султаната Кайити», хотя последний стал к тому времени уже географическим призраком. Первое сообщение об этих марках появилось в печати в марте 1968 года. Французский филателистический журнал опубликовал сообщение и описание эмиссий султаната. Впоследствии на филателистический рынок выплеснулось множество таких почтовых призраков разнообразной тематики.

[править] Капакуа

«Марка» Капакуа

Республика Капакуа (исп. Repub. del Capacua). В апреле 1883 года на территории Боливии якобы была провозглашена независимая республика Капакуа со столицей в городе Санта-Тереса. Тогда же появилась 5-марочная серия с изображением герба и надписью «Республика Капакуа». Спекулятивный выпуск.

[править] Катибо

Катибо (Katibo). В 19401962 годах некий Дональд Эванс создавал фантастические марки государства Катибо, якобы находящегося на территории Бразилии. На них были различные надписи, в которых неизменно присутствовало название государства «Катибо».

[править] Клиппертон

«Марка» Клиппертона (1895)

Основная статья: Клиппертон

Клиппертон (англ. Clipperton) — небольшой островок, расположенный в Тихом океане, находится в составе Французской Полинезии. Остров необитаем и до 1931 года был спорной территорией. В 1895 году на филателистическом рынке появилась 10-марочная серия с названием острова, изданная в спекулятивных целях. Автор выпуска — неизвестен.[8]

[править] Короко

Короко (исп. Coroco) — «республика», якобы существовавшая непродолжительное время где-то в Андах и вошедшая в состав Чили. Марки номиналом 5 сентаво с такой надписью появились в 1913 году. Кто и где осуществил этот спекулятивно-фантастический выпуск — неизвестно.

[править] Кортерра

Республика Кортерра (Corterra, сокращённо от Corall Terra) — частное владение на одном из коралловых рифов в южной части островов Лайн. Владелец объявил о «независимости» новоиспечённой «республики» в апреле 1974 года и обзавёлся собственными марками.

[править] Кунани

«Марка» Кунани

Кунани (фр. Counani или Rep. Counanier) — территория, расположенная между Французской Гвианой и Бразилией, которая оспаривалась Францией и Бразилией в течение приблизительно столетия. Название этой территории было использовано в качестве названия мифической «республики индейцев», простирающейся от границ Венесуэлы до Атлантического океана. «Республика» якобы имела своего президента, флаг, герб а также почту, которая выпускает почтовые марки использующиеся для внутренних отправлений. С 1887 по 1908 год фантастами Жюлем Гро (Jules Gros) и Адольфом Брезе (Adolphe Brézet), который назвал себя «президентом Кунани» и боролся за международное признание этого «государства», были выпущены пять серий марок с надписью «Республика Кунани», а позднее — просто «Кунани».

[править] Ланди

«Марка» Ланди

Основная статья: Ланди

Ланди (англ. Lundy) — микрогосударство на небольшом острове площадью всего 345 гектаров, расположенном в Бристольском заливе, в 20 км от юго-западного побережья Великобритании.[9] Исторически сложилось так, что владетелям Ланди королевским указом ещё в XVI веке даровалась свобода в пределах острова. К 1927 году на острове оставалось лишь 12 жителей. Даже закрылось почтовое отделение. За 25 тысяч фунтов стерлингов этот остров был выкуплен у британского правительства банкиром Мартином Харманом. Сразу же после вступления сделки в силу Харман объявил себя королём вновь образованного государства Ланди. «Король» потребовал признания всех особых прав и привилегий и, так как королевский указ XVI века не был отменён, британский суд признал их. Харман построил на острове ресторан, завёл свою полицию. В 1929 году отчеканил свои монеты, за которые в апреле 1930 года был оштрафован. В том же 1929 году вышла первая 7-марочная серия. Харман выпускал свои «марки» вплоть до 1954 года. выходили они в огромном количестве и по самым разнообразным темам. Умер «король» в 1955 году, оставив «престол» своему сыну Албиону. А последний, в свою очередь, передал бразды правления островом двум своим сёстрам. Случилось это в конце 1960-х годов. Дальнейший перечень «правителей» Ланди точно не известен.[10]

[править] Лукония

Республика Лукония (Republic of Lukonia). В 1974 году была провозглашена «независимая республика» Лукония. Находилась она якобы, на нескольких островах севернее Борнео. О провозглашении «независимости» было объявлено в Мюнхене, а первая 4-марочная серия Луконии была отпечатана в Австрии.

[править] Малакота

«Марка» Малакоты

Малакота (Malakote). Марки с подобной надписью появились в конце XIX века. По словам торговцев, это «государство» находилось на берегу африканского озера Тана в Эфиопии. На самом деле никакого государства в том районе не было. Марки выпущены в спекулятивных целях. Их появление связано с именем братьев Денгардтов.

[править] Малуку-Селатан

«Марка» Малуку-Селатана

Основная статья: Малуку

Республика Малуку-Селатан (Repulik Maluku Selatan). Молуккские острова Малайского архипелага входят в состав Индонезии. В конце 1949 года на островах Серам, Амбон, Манила, Келанг, Амбелау и некоторых других в Южных Моллуках вспыхнул мятеж. 25 апреля 1950 года христианская часть населения провозгласила на южных Молуккских островах независимую Республику Южно-Молуккских островов. В июле того же года имевшиеся в почтовом отделении Амбона марки Индонезии были снабжены надпечаткой «Республика Малуку-Селатан», а название страны зачёркнуто двумя линиями. Всего надпечатано 24 номинала. 17 августа 1950 года попытка отделения была силовым путём пресечена индонезийской армией, Молуккские острова вновь перешли под суверенитет Индонезии. Только на острове Амбон мятежники ещё продолжали сопротивлятся. До ноября 1950 года там имели хождение марки с надпечатками.

Напряжённой ситуацией в этом регионе воспользовались аферисты. В офис одной из крупнейших американских марочных фирм обратились некие джентльмены, заявившие, что они представляют правительство Молуккской республики, и предложили разработать эмиссионную программу нового государства. Так как это предложение сулило хозяевам фирмы большие деньги, сделку по производству экзотических марок неизвестной республики заключили быстро. В 1954 году на филателистическом рынке появились яркие привлекательные почтовые миниатюры республики Малуку-Селатан. Участие в их выпуске приняли государственная австрийская типография в Вене и нью-йоркская филателистическая фирма «Столов и К°», владельцем который был Генри Столов (Henry Stolow). Красочные марки привлекли внимание филателистов. Директора фирмы и «представители» несуществующей страны успели получить неплохую прибыль, прежде чем были разоблачены. Дело закончилось громким процессом.[11]

[править] Маре

Маре (порт. Mare correos). В 1902 году на территории бразильского штата Минас-Жерайс якобы было провозглашено «независимое государство» Маре, успевшее издать собственные марки с надписью «Mare correos». Спекулятивно-фантастический выпуск.

[править] Мевю

Республика Мевю (англ. Republic of Mevu). Точных данных о месте выпуска этих «марок» нет. Известно, будто бы эта «республика» находится где-то в Океании. На последних выпусках появилось обозначение «Antarctic Post» — «Антарктическая почта».

[править] Мирдита

«Доплатная марка» Мирдиты

См. также статью: Мирдита (округ).

Независимое правительство Мирдиты (алб. Vetёkeverria e Mirditiёs). В июне 1921 года на территории Албании была провозглашена Независимая Мирдитская республика. Просуществовала она до ноября того же года. В 1922 году на филателистическом рынке появилась 5-марочная серия независимого правительства Мирдиты. Некоторые «марки» были снабжены надпечаткой «TAKSE» — доплата. Однако отношения к Мирдитской республике они не имели и являлись спекулятивно-фантастическим выпуском.

[править] Монте-Белло

«Марка» Монте-Белло

Местная почта островов Монте-Белло (англ. Local Post of the Monte Bello Islands). Острова Монте-Белло расположены к северо-западу от Австралии. Использовались Великобританией как ядерный полигон. В 19511952 годах появились марки неизвестного происхождения, выпущенные от имени островов. Спекулятивно-фантастический выпуск.[12][13]

[править] Моон

Остров Моон («Moon Island»). Этот остров находится предположительно у берегов Норвегии. «Марки» с его названием появились в конце 1960-х годов. Тематика их весьма разнообразна: от высадки американских астронавтов на Луну (1969) до визита в Норвегию папы римского Иоанна Павла II (1989). Точных данных об острове и авторах «марок» нет.

[править] Мореснет

«Марка» Мореснета

Основная статья: Мореснет

Мореснет (фр. Moresnet). Марка этого мифического государства выпущена бельгийским торговцем Жаном-Батистом Моэнсом (18331908), известным филателистом и владельцем филателистического журнала. Однажды возмутившись действиями своего конкурента, перепечатавшего из его журнала изображение новых марок, Моэнс решил проучить дельца. Он напечатал марку «государства Мореснет» и опубликовал её изображение и описание в своём журнале 1 апреля 1867 года. Конкурент попался на эту уловку, о чём Моэнс, с нескрываемым злорадством, сообщил в следующем номере журнала. На самом деле Мореснет была небольшой нейтральной зоной между Бельгией и Пруссией. В октябре 1866 года здесь был осуществлён местный выпуск с надписью на немецком и французском языках «Нейтральная зона Мореснет». Марки находились в обращении только 20 дней, а затем изъяты по требованию Пруссии.

[править] Нагаленд

«Марка» Нагаленда

Основная статья: Нагаленд

Нагаленд (англ. Nagaland) — штат Индии, расположенный в северо-восточной части страны. Весной 1969 года во многих европейских филателистических журналах были напечатаны объявления «Нагалендского филателистического агентства» и репродукции первых марок Нагаленда. По сообщениям фирм, предлагавших «марки» Нагаленда, население этой страны вело с центральными властями Индии ожесточенную борьбу за полную независимость. А марки выпущены для демонстрации независимости Нагаленда от Индии. Были выпущены марки не только для обыкновенной корреспонденции, но и для авиационной почты. Однако местом их рождения был Лондон, а издателем — группа аферистов, выдающая себя за «правительство» Нагаленда. В январе 1970 года Союз филателистических торговцев и Английское филателистическое общество объявили на страницах «Stamp Collecting» («Коллекционирование марок») о том, что «марки» Нагаленда являются лишь пропагандистскими наклейками, поэтому все торгующие фирмы должны предупреждать покупателей о характере марок. Однако данное сообщение не объяснило до конца этой спекулятивной аферы, не указав даже на существо наклеек. Дело в том, что пропагандистские наклейки, выпускаемые определёнными общественно-политическими движениями, отражают цели, которые они преследуют. «Марки» же Нагаленда выпускались исключительно на популярные среди филателистов темы флоры и фауны, и это уже свидетельствует об их спекулятивном характере. Вскоре, в результате протеста посольства Индии в ФРГ, на территории которой особенно активно распространялись «марки» Нагаленда, история их и их создателя, псевдопремьера правительства Нагаленда некоего А. Физо, закончилась в 1970 году в лондонском суде.

[править] Новая Атлантида

Республика Новая Атландида (Republic of New Atlantis) — микрогосударство на плавучем судне-пароме, проводившем морские научные исследования в 19651970 годах вблизи территориальных вод Ямайки в районе мыса Луана. Отцом-основателем «суверенной республики» стал один из сотрудников экспедиции Лейстер Хэмингуэй (Leicester Hemingway), брат Эрнеста Хемингуэя. Не встретив сопротивления властей Ямайки, новоявленное «государство» начало выпускать свои марки, газеты и даже монеты[14].

[править] Нуре

Республика Нуре (порт. Rep. de Nure). В 1902 году на территории бразильского штата Минас-Жерайс появилось ещё одно «независимое государство» Нуре, которое выпустило свои «марки». Спекулятивно-фантастический выпуск.

[править] Окуси-Амбено

«Марка» Окуси-Амбено

Основная статья: Окуси-Амбено

«Государство» Султанат Окуси-Амбено (также Окусси-Амбено; Occussi-Ambeno)[15] было основано в 1968 году группой новозеландских анархистов во главе с Брюсом Гренвиллом. Ими была выбрана действительно существовавшая территория португальского Восточного Тимора под названием Окуси-Амбено. Была выдумана история династии султанов Абдуллахов возглавивших 7 племён, объединившихся в 1848 году для совместного отпора португальцам. Позднее страна попала под номинальное господство Португалии и вплоть до 1968 года управлялась как часть колонии Восточный Тимор, а затем получила полный суверенитет.

В начале 1970-х годов во многих американских и английских филателистических журналах появились статьи об Окуси-Амбено и его марках. Из филателистических магазинов пошли заказы, дело стало приносить доход. В 1971 году газеты Новой Зеландии, а затем и Австралии сообщили что крупнейшая провинция султаната — Катаир в результате военного переворота попала под власть марксистов. Последовала девятимесячная гражданская война. После кровопролитных боев Катаир был захвачен федеральной полицией, повстанцы с боями отступили на территорию Индонезии. Единственным зримым доказательством реальности конфликта стали выпущенные «марксистским правительством» Катаира марки с Лениным, вскоре наводнившие филателистические магазины по всему миру. Авторами марок была всё та же группа анархистов, решившая подогреть интерес к своему «государству».

После этого Окуси-Амбено развило бурную дипломатическую деятельность. Были установлены дипломатические отношения «султаната» с другими карликовыми государствами, в том числе с Монако и Лихтенштейном. Новозеландские газеты продолжали тем временем давать информацию о научных достижениях Окуси-Амбено, новых почтовых марках, политических убийствах, создании толкового словаря местного языка и тому подобных новостях. Наиболее сенсационные и скандальные перепечатки этих сообщений встречались в газетах Австралии, Японии и государств Персидского залива.

В 1977 году в «консульство» султаната в Новой Зеландии в Окленде, то есть фактически к создателям Окуси-Амбено, обратились представители Европейского консорциума. Они предложили взятку работникам консульства в размере 40 тысяч долларов, за то, чтобы те уговорили султана заключить эксклюзивный договор, по которому консорциум получал бы право изготовлять марки Окуси-Амбено и продавать их коллекционерам. Договор конечно же был заключён. В результате «марки» Окуси-Амбено из изделий дешёвой полиграфии, напечатанных в одну краску, превратились в четырёхцветное чудо офсетной печати. В течение года консорциум изготовил множество серий: средневековые парусные суда, азиатские птицы, дирижабли и многое другое. Почтовые марки «султаната» пользовались огромным спросом. Филателисты платили двадцатикратную сумму против номинала. Это был настоящий филателистический бум. Марки этого государства-призрака вошли почти во все каталоги мира.[16]

Создатели Окуси-Амбено пошли ещё дальше. Они направили в парижское издательство, выпускающее энциклопедии и географические справочники, справку для публикации с краткой характеристикой «султаната». Бланк с текстом справки украшал герб государства с птицами и лианами. Обратный адрес гласил: «Окленд, Новая Зеландия. Генеральное консульство государств Окуси-Амбено». Издатели запросили подробности в ООН. В ответе говорилось, что султанат ещё не принят в организацию. Но есть частные письма из Монако и Лихтенштейна, поддерживающие просьбу правителя султаната о принятии его государства в ООН, факты проверяются. И все же сведения о султанате Окуси-Амбено вошли в 1983 году в географический справочник. Ведь из новозеландского консульства пришли карты, брошюры по истории страны, вырезки из газет о гражданской войне на острове, образцы денег, статистические сводки, серии почтовых марок. Сомнения закрались из-за того, что о султане хранили полное молчание в Лихтенштейне. Автора рекомендательного письма оттуда найти не удалось, не было дополнительных сведений и из ООН. Опасаясь за свою репутацию, французские издатели поручили проверить данные об Окуси-Амбено непосредственно на месте группе этнографов, работающих на острове Тимор. Тут-то и разразился скандал. В районе, где по карте значилась столица государства, оказалась небольшая деревушка, типичная для индонезийских островов. Ни о восстании, ни о самом султане никто и не слыхал.

Только тогда в новозеландских газетах появилось сенсационное саморазоблачение Брюса Гренвилла о мифичности султаната Окуси-Амбено. Самое интересное, что отцы-основатели султаната не были привлечены к суду, так как новозеландские законы нарушены не были.[17]

[править] Оман

Государство Оман (англ. State of Oman, Oman Imamate State). Начиная с 1967 года, в основном в Ливане, выходят маркоподобные виньетки с надписями «State of Oman», «Oman Imamate State» и другими. На них — репродукции картин, птицы, животные, цветы и так далее. Небольшими тиражами печатаются также блоки (с зубцами и без зубцов). Данные «изделия» имеются и на письмах, якобы прошедших почту. Всё это фантастическо-спекулятивные выпуски, не имеющие к Султанату Оман никакого отношения. Почтовые марки Султаната Оман издаются с 1966 года. До 1971 года название страны на марках было Маскат и Оман (англ. Muscat and Oman, араб. مسقط وعمان‎‎). В 1971 году вышли марки с новым названием — «Султанат Оман» (англ. Sultanate of Oman, араб. سلطنة عُمان‎‎).

[править] Паломбия

Паломбия[18], или Атлантис (Атлантида; англ. Palombia, Atlantis). В 1917 году появились «марки» с таким названием, приписываемые Центральным (?) Виргинским островам. Спекулятивно-фантастический выпуск.

[править] Рейнбоу-Крик

«Марка» Рейнбоу-Крик с портретом «правителя» (1980)

Независимое государство Рейнбоу-Крик (Independent State of Rainbow Creek) — микрогосударство, находящееся на территории австралийского штата Виктория. Это частное владение было объявлено его хозяином «независимым государством», для которого с июля 1979 года начали выпускаться марки.[19]

[править] Республика острова Розы

«Марки» Республики острова Розы после её ликвидации: момент взрыва платформы (слева) и надпечатка «Военная оккупация Италии» (1968)

Основная статья: Республика острова Розы

Республика острова Розы (эспер. Respubliko de la Insulo de la Rozoj) — микрогосударство, которое было провозглашёно 24 июня 1968 года итальянским инженером Джорджио Роза (итал. Giorgio Rosa) на купленной им за 100 млн лир (примерно 800 тысяч евро) 400-метровой платформе в Адриатическом море, находящейся в 11,6 км от Римини в нескольких сотнях метров от тогдашней границы итальянских территориальных вод. Хозяин платформы устроил на ней ресторан, бар, ночной клуб, магазин сувениров, по некоторым данным радиостанцию, а также почтовое отделение. Государственным языком нового образования был определён эсперанто, валютой — миллы (отпечатаны и отчеканены так и не были). Джорджио Роза занялся производством марок и популяризацией своей затеи в итальянской прессе для привлечения публики и бизнеса на освобождённый от налогов Италии «остров». История закончилась высадкой на платформу четырёх карабинеров и налогового инспектора. Перед депортацией с неё Роза успел послать телеграмму итальянскому правительству, где он выражал возмущение «оккупацией суверенного государства». Вскоре после этого платформа была уничтожена военно-морским флотом Италии. Впрочем, Роза организовал на континенте «правительство в изгнании» и надпечатал свои оставшиеся марки словами «военная итальянская оккупация» (эспер. Milita itala okupado).[20]

[править] Сарофу

Княжество Сарофу (Sarofu). В начале XX века на филателистическом рынке появились оригинальные марки с надписью «B. TE SAROFU» якобы выпущенные «Княжеством Сарофу», расположенном на одном из атоллов в южной части островов Лайн. Эти марки являются спекулятивным выпуском.

[править] Себорга

«Марка» Себорги

Основная статья: Княжество Себорга

Княжество Себорга (Principato di Seborga) — микрогосударство, находящееся на территории итальянской провинции Лигурия. Княжество Себорга существовало на Апеннинском полуострове с XI века. Формально оно не входило ни в состав Генуэзской республики, ни в объединившееся в середине XIX века Королевство Италия. В 1946 году, когда были подписаны документы о формировании Республики Италия, Себорга не была включена в список территорий, вошедших в её состав. В начале 1960-х годов в Себорге распространилась идея о сохранении исторической независимости. В 1963 году Себорга провозгласила независимость от Италии. Первая марка Себорги была выпущена в 1994 году, на ней изображён герб княжества. Номиналы указаны в местной валюте — луиджино. Несколько серий марок с портретом князя Джорджио І, монетами Себорги, гербами и др. были выпущены в 1995 году. Выпуски предназначались для туристов и коллекционеров.[21][22]

[править] Седанг

«Марки» Седанга

Основная статья: Седанг (королевство)

Королевство Седанг (Deh Sedang) — микрогосударство, от имени которого были выпущены две 7-марочные серии с гербом королевства. Первая вышла в 1888 году, она печалась в литографии Шанхая и была очень плохого качества. Вторая серия, вышедшая в 1889 году, напечатана в Париже. Марки Королевства Седанг, выпущенные в 1888 году, в настоящее время очень редки.[23][24]

[править] Силенд

«Марка» Силенда

Основная статья: Силенд

Княжество Силенд (англ. Sealand)  — микрогосударство, созданное на морской платформе в Северном море в 10 километрах от берегов Великобритании. Первые «марки» этого «княжества» с портретами великих мореплавателей были выпущены в 1968 году. Самопровозглашённый князь Силенда Рой Бейтс даже намеревался вступить во Всемирный почтовый союз. Для этого в октябре 1969 года он прислал в Брюссель своего эмиссара, с почтовым грузом из 980 писем. Именно столько писем необходимо новому государству, чтобы потребовать принятия в эту организацию. Письма были снабжены первыми марками Силенда. Однако намерение «князя» Роя I так и осталось лишь намерением.[25]

[править] Тринидад

Основная статья: Княжество Тринидад

Остров Тринидади (не путать с островом Тринидад, ныне входящим в Республику Тринидад и Тобаго) находится в восьмистах километрах от побережья Бразилии в Атлантическом океане. Остров необитаем, площадь его не превышает 15 км². В 1893 году во время шторма у этого островка нашёл пристанище корабль, одним из пассажиров которого был французский журналист и авантюрист Джеймс Харден-Хикки (по другой версии, Джеймс остров купил). Обосновавшись на острове, Харден-Хикли провозгласил себя князем Тринидада Джеймсом I. В том же 1893 году он отправился в Нью-Йорк, где открыл посольство своего «княжества» и отпечатал большим тиражом серию из 7 марок. Самозванное княжество просуществовало около трёх лет. Конец ему, а заодно и почтовой афере настал в 1896 году, когда остров Тринидади присоединили к Бразилии. По другой версии, Джеймсу не удалось вернуться в свои «владения» из-за того, что Великобритания превратила островок в свою телеграфную станцию. Узнав об этом, «князь» Джеймс I якобы покончил с собой.

[править] Фрестония

Почтовое отправление, франкированное «марками» Фрестонии

Свободная и независимая республика Фрестония (англ. The free and independent Republic of Frestonia) — микрогосударство, площадью 1,8 акров (7300 м²), образованное 27 октября 1977 года на лондонской улице Фрестон-роуд. «Независимость» была провозглашена по итогам референдума, жителей улицы, оказавшихся под угрозой выселения из-за возможного строительства на месте их квартала фабрики. Новоиспечённое «государство» обзавелось собственной газетой, радио, гимном и почтовыми марками. Через несколько лет начали работу посольства в других странах. Фрестонцы подавали заявление на членство в ООН и ЕС. Благодаря журналистам, Фрестония стала одной из туристических достопримечательностей Лондона.[26]

[править] Фридомлэнд и Конеуве

Княжество Фридомлэнд и Республика Конеуве (Principality of Freedomland and Republic of Koneuwe)[27]. В 1974 году некий Отмар А. ди Смидер (Othmar di Schmieder Rocca-Forozata) провозгласил независимость этого микрогосударства, якобы расположенного на островах Спратли в Южно-Китайском море. Однако площадь новоявленного государства составила всего лишь 10 м². Дело в том, что акт о «независимости» был принят в одной из цюрихских квартир (Швейцария). Как один из атрибутов суверенности, были выпущены «почтовые марки». Однако республиканская форма правления не устроила Смидера. Он решил стать полновластным хозяином своей «страны». Новое государственное образование он назвал «Княжество Фридомлэнд» — «Княжество Свободная Земля», а сам стал «князем Отмаром». По заявлению «князя», его «государство» находилось на островах между островом Борнео и Филиппинами. Сразу же были изготовлены весьма примитивные «марки» княжества. Помимо филателистической деятельности «князь» торговал недвижимостью и учёными степенями своего «государства». Вскоре «князь Отмар» был арестован уголовной полицией по обвинению в мошенничестве.

[править] Халистан

Основная статья: Халистан

Халистан (Khalistan). В 1918 году американский гражданин Ганга Сингх Дхилон изобрёл слово «Халистан». Так он назвал несуществующее государство, которое должно было быть образовано на территории индийских штатов Пенджаб и Харьяна. Президентом государства Халистан стал английский гражданин сикхского вероисповедания Джагджит Мингх Чаухан, лишённый в своё время индийского гражданства за ведение подрывной деятельности. Чаухан и Дхилон развернули свою деятельность в США. В ряде стран Запада были открыты «посольства» и «консульства» Халистана, которые стали выдавать «паспорта» несуществующего государства. Был налажен выпуск почтовых марок.

 Хатт

«Марка» Княжества реки Хатт (1981)

Основная статья: Провинция Хатт-Ривер

Княжество реки Хатт (Hutt River Province Principlity)[28] — микрогосударство в Австралии. 21 марта 1970 года Леонард Хасли владелец фермы площадью 75 км², расположенной в 595 км к северу от австралийского города Пета, в знак протеста против повышения налога с продаж зерна объявил свою ферму «Княжеством реки Хатт», а себя — «князем Леонардом I». Австралийские власти, в свою очередь, лишили «монарха» и его семью гражданства, что косвенно подтвердило его право на суверенитет. Леонард I придумал для своего «княжества» флаг и герб, а с 1973 года начал выпускать свои марки. Первая серия вышла с изображением цветов, затем — с библейскими сюжетами (1975), птицами (1976) и т. д. Письма, франкированные этими марками, встречаются также с дополнительной оплатой официальными марками Канады, Кокосовых островов и Австралии. В 1976 году Хасли объявил о введении собственной денежной единицы. Ежегодно «княжество» посещает несколько десятков тысяч туристов. К их услугам — отель, центр водного спорта, почта. Деятельностью почты ведает сын «князя», Ян — министр связи.[29]

 Химрия

Правительство Химрии (Government of Himriyya). Химрия — населённый пункт на побережье Персидского залива в эмирате Шарджа (ОАЭ). В апреле 1965 года на филателистическом рынке появились марки с надпечаткой «Government of Himriyya» («Правительство Химрии»). Однако почтовая администрация Шарджи эти марки не признала.

Хорватия

Советская Социалистическая Республика Хорватия (хорв. NDH SSR). В 1945 году на марках Югославии были сделаны надпечатки несуществующей республики. Спекулятивный выпуск.

 Целестия

«Марка» Целестии

Целестия (англ. Celestia) — несуществующее микрогосударство. В 1948 году житель штата Иллинойс (США) некий Джеймс Томас Мэнген сделал заявление о том, что он вступает во владение Вселенной, которую он окрестил Целестия (Небесная страна). На выпущенных им открытках значилось, что он отныне и навсегда является единственным владельцем мирового пространства и именно к нему надлежит обращаться за разрешением побывать в Целестии. Позже появились и марки с названием экзотического «государства» «Nation of Celestial Space» и номиналом в «местной валюте» эргах. На марках изображён флаг с символом #.

Шотландские острова

Шотландские острова (Scotland Islands). «Отцом» этого почтового призрака стал владелец английской филателистической фирмы «Филателик дистрибьюшен корпорейшн» (Philatelic Distribution Corporation Ltd.) Клайв Фейгенбаум (Clive Feigenbaum). В 1989 году он передал нескольким американским фирмам право на печатание и сбыт «почтовых марок» Шотландских островов — государства, которое никогда не появлялось ни на географической, ни на политической карте мира. Однако Фейгенбаум довольно быстро был уличён в мошенничестве.

Шуар

См. также статью: Хиваро.

Шуар (Shuar State) — «индейское государство» на востоке Эквадора. В 1992 году появились красочные марки с изображением эпизодов из жизни коренных жителей, относящихся к группе группа индейских народов хиваро (или шуара).

[править]

THE END @ copyright dr iwan Suwandy 2011

Driwan Book :”The mistery Of Indonesian Vienna Printing Stamp”(Buku Misteri Prangko Cetak wina)

MUSEUM DUNIA MAYA DR IWAN S.

Dr IWAN ‘S CYBERMUSEUM

 THE FIRST INDONESIAN CYBERMUSEUM

  MUSEUM DUNIA MAYA PERTAMA DI INDONESIA

   DALAM PROSES UNTUK MENDAPATKAN SERTIFIKAT MURI

     PENDIRI DAN PENEMU IDE

      THE FOUNDER

    Dr IWAN SUWANDY, MHA

                     

     WELCOME TO THE MAIN HALL OF FREEDOM               

  SELAMAT DATANG DI GEDUNG UTAMA “MERDEKA

The Driwan’s  Cybermuseum

                    

(Museum Duniamaya Dr Iwan)

Showroom :

The Driwan’s 

Indonesian Postal History  Cybermuseum

                                    

(Museum Dunia Maya Koleksi  Benda Pos bersejarah RI) 

                                 

Museum Dunia Maya Pribadi Untuk Seluruh rakyat Indonesia

E-BOOK FOR PREMIUM MEMBER ONLY

                   

THE MYSTERY OF INDONESIAN VIENNA PRINTING STAMP

         1949-1950

                   

      Dr Iwan s Creations  

Based on His Own Postal and Document History Collections

Limited Private Edition 100 expl 

Special For Premium Member 

       Jakarta,April. 2011

________________________________________________________________________________

THE MYSTERY OF INDONESIAN VIENNA PRINTING STAMP

                                       1949-1950

Edisi Terbatas 100 eksp

Publikasi Pribadi Khusus untuk Kolektor postal Histori

Penulis : Dr Iwan S

Editor  : Anton J.S.

Penyunting : Lily W.

Photographer : Albert SDO

NAMA PEMILIK: Dr Iwan S

NO. PERCOBAAN 001

@Copyright Dr Iwan S 2011

 

 _____________________________________________________________

Introduction

(KataPengantar)

informasi ini masih banyak kekurangannya ,harap komentar dan saran perbaikan dan tambahan informasi dari seluruh kolektor didunia.’

_________________________________________

Table Of Content

 Introduction

A. Chapter One : The vienna printing stamps in 1949

1.stamp

2.porto

3.souvenir sheet 

B.Chapter Two: The vienna Printing Stamp in 1950(RIS overprint)

1.stamp

2.porto

3.souvenir sheet 

C.Chapter Three: The Vienna Printing Stamp Used On cover.

1. CTO Postal used Cover

2.CTO On Fragment

3. Guinine Postal Used Cover.

Book IV : The Indonesian Vienna Printing stamp Literature

1. Indonesian issued

2. abroad isssued

a. Dutch

b.USA

c.Other countries

 

__________________________________________________________________________

 

Introductions 

Misteri  Benda Pos dan document  

Prangko Cetak Wina

1949/1950                                                                                                           

1. The  Indonesia vienna printing  still mistery until this day,because not exist the history of  this stamps issued at Jogya Post Office in 1949-1950 . Many fact must  still mistery like :

Misteri dari prangko Indonesia  Cetak wina 1949-1950 sampai saat ini masih menjadi suatu misteri, karena sejarah tentang penerbitan prangko ini di Jogya masih belum terungkap, antara lain 

:(1)The stamps issued by whom.(prangko ini diterbitkan atas gagasan siapa),

(2)Who painted the stamp’s design ( siapa yang mengambar desain prangko ini,)

(3) Are this stamp issued ,by sold in the post office and use on cover postally(Apakah Prangko ini pernah dijual diloket kantor pos jogya dan dipergunakan untuk pengiriman surat ?) Until this day I had nevers een the guinine postal used cover, only CTO Cover exist. ( sampai saat ini saya belum pernah melihat prangko cetak wina yang terkirim liwat pos, yang ada dalam bentu CTO saja.)

2. BUKU INI DISUSUN BERDASARKAN KOLEKSI PRIBARI Dr IWAN SUWANDY. ANTARA LAIN:

(1) .Information about Indonesian Vienna Printing stamp based on my several vintage Vienna Printing  Books and collections(Dr iwan Collections) and also my friend collections.

(2) My article about CTO stamp included Indonesian Vienna printing stamps in my web blog Driwancybermuseum April 2011. This article had comment by Ir MF Hartman and he asked me more info , as the premium member , this book I write special for him and I hope this information  useable for upgrade his vienna printing collections.

(a) Viena Printing stamp info from netherland collectors ABOUT THE CONTACT BETWEEN sTOLOW usA WITH jOGYA pOSTAL oFFICE IN 1949 in dutch language

Weense Drukken

Een vreemd intermezzo zijn de in Philadelphia, USA en Wenen, Oostenrijk gedrukte plaatjeszegels ‘Repoeblik Indonesia’ welke volgens zeggen ook in Indonesië uitkwamen, naar het schijnt vanaf 17 december 1949 – dus kort na de souvereiniteitsoverdracht – alleen op het postkantoor Djocja (Java). Die plaatjeszegels waren in de handel gebracht door postzegelhandel Stolow in New York. Ze worden ‘Weense Drukken’ genoemd. De listige heer Stolow had in 1948 in New York een postzegelcontract gesloten met Indonesische delegatieleden bij de UNO resp. de ‘ambassadeur’. Als dat zo is, dan waren die heren daartoe niet bevoegd en de Djawatan PTT wist van niets. Geen nood: in opdracht van Stolow werden in de USA en Oostenrijk ca 700 verschillende ‘Weense Drukken’ Repoeblik/Republik Indonesia zegels en blokken geproduceerd, getand en ongetand, met en zonder overdruk, en wereldwijd in de handel gebracht. Ze werden zelfs bij de Wereldpostvereniging, de UPU aangemeld. Gebruikt zijn ze voor zover ik weet, alleen bekend als maakwerk, bijvoorbeeld op brieven door Stolow aan zichzelf geschreven en niet door de reguliere post bezorgd. Ongebruikt/postfris kan men Weense Drukken nog steeds vinden in de handel, rondzending en postzegelmarkt. Mijn opinie: pure nep. Vele Indonesische verzamelaars vinden dat misschien ook maar Weense Drukken zijn sinds uitgave 1997 wel in de Prangko te vinden.

er verschenen in ‘Onder de Loupe’ van PV Haarlemmermeer. Ik heb gebruik kunnen maken van op- en aanmerkingen van Leo Vosse van Vereniging Dai Nippon waarvoor mijn dank. De tekst is echter voor mijn verantwoording.

Voor Ned.Indië postzegels geeft de NVPH catalogus informatie. Voor Repoeblik postzegels kan men terecht bij de Prangko Indonesian Stamp Catalogue en/of  de 1945-49 catalogus van de Vereniging Dai Nippon. Ook de z.g  ‘Weense Drukken’ (zie onder) zijn daarin vermeld.

 another info of staaddruckrei wien where the vienana stamp were printing

(1) From Catalogue

Non issued stamps,Vienna issues, inscription: ‘REPOEBLIK INDONESIA’ or ‘REPUBLIK INDONESIA’ and ‘staatsdruckerei Wien’ in small letters at the bottom of the stamp.

 

 

Scott Catalogue

 
Figure 6. A 5-rupiah Military Officer with Flag stamp (Scott 51).

The nationalist authorities also ordered new stamps inscribed “Repoeblik Indonesia” or “Republik Indonesia,” printed by the Austrian State Printing Office in Vienna. Known as the Vienna issues, these stamps were first listed by the Scott standard catalog in the 2008 edition. A 5-rupiah Vienna issue, the Military Officer with Flag stamp (Scott 51), is shown in Figure 6.

(2) The picture of the staad druckreei wien(The viena City Printing office)

please compare with the viena design print in USA, and the mad price of the Indonesian trader of the common unissued stamps below(the collectors must be careful) Please compare between the  really fair price  with the mad price :

THE FAIR PRICE

 
 
 
 
 
 
This listing has ended.
 
 
 
 
99 Diff MNH Repoeblik Indonesia Vienna Issue Coll LR29
Please wait
Image not available

99 Diff MNH Repoeblik Indonesia Vienna Issue Coll LR29

 
Item condition:
 
 
Price: US $19.99

Approximately PHP 864.36
 
 
 
   
 
 
Postage: Read item description or contact seller for details.See more services  See shipping discounts  |  See all shipping details

Estimated delivery time varies for items shipped from an international location.

99 Diff MNH Repoeblik Indonesia Vienna Issue Coll LR29

 
Item condition:
 
 
Price: US $19.99

Approximately PHP 864.36
 
 
 
 
   
 
 
Postage:  

 

 PERANGKO/ BAYAR PORT CETAKAN WINA – AUSTRIA.

Jumlah  : 13 Lembar ( 1 Set )
Harga   : Rp. 4 Juta. (be care full this mad price, I have evers seen this stamps in full sheet complete-Dr iwan S) 
Kondisi : Mint .

                            Perangko  yang banyak dibicarakan 
                       oleh  Para Kolektor dan Penjual dari Luar negeri. 
                        
                               seri cetakan Wina dan Philadelphia.
                      

Jual PERANGKO/ BAYAR PORT CETAKAN WINA - AUSTRIA.

 
 

DI JUAL PERANGKO RIS MISCUT.( LANGKA )(off center-dr iwan)

Jumlah    : 1 Lembar.
Nominal  :  50 Sen
Kondisi   : MINT
Harga     :  Rp. 4 Juta.(this mad price,be careful,I have block twenty of this stamps -Dr Iwan)

Keterangan : Perangko Ini Merupakan Cetakan WINA – AUSTRIA.

Jual PERANGKO RIS MISCUT ( Cetakan Wina - Austria )

 
 

Category:Staatsdruckerei Wien

Datei:Hof- und Staatsdruckerei Wien-Kupferdruckerei.JPG

 

Datei:Hof- und Staatsdruckerei Wien-Kupferdruckerei.JPG
Keine höhere Auflösung vorhanden.

Media in category “Staatsdruckerei Wien”

The following 12 files are in this category, out of 12 total.

(2) Dr Iwan Information about Vienna Printing stamp:

(a)THE WIEN STAMPS (PRANGKO CETAK WINA)

STILL IN DISCUSSION, ABOUT SOME POSTALLY USED WIEN STAMP ON COVER TO ADIS ABEBA  AND USA, BUT I THINK THSI IS ONLY PHILLATELIC CREATION OR CTO.(THE ILLUSTRATION WERE NO CLEAR,ONLY FOTOCOPY FROM OLD USA  MAGAZINE 1950)

 

(b)I HAVE REP.INDONESIA  SOUVENIER BOOK DURING INTERNATIONA UPU CONFRENCE  FLORENCE 1950 WITH WIEN STAMPS , THIS OFFICIAL GUININE OR TRADER CTO,PLEASE WHO HAVE THE SAME COLLECTIONS TO COMMENT.

Artikel saya tentang prangko CTO  termasuk prangko cetak wina di web blog Driwancybermuseum. April 2011.Artikel ini mendapat tanggapan dari Ir MF Hartman dan ia meminta informasi lebih lanjut,sebagai anggota premium blog ini,buku ini saya tulis khusus untuknya semoga dapat menambah informasi bagi koleksinya.

(c) Ir MF Hartman Literature send to me and he asked the information about that literature.

Show quoted text –
Dear Mr Suwandy, Thank you for all the answers.I know mr Bulterman very well, he lives in France at the moment so we only have e-mail contact.The picture of the Banteng was not a stamp but a design for the stamp, an original drawing! It is very important for me if you could help me for instance with a copy of the particulary catalogue of which I sent you a scan of the cover in my last e-mail. If you think you can help me with this copy and maybe with some other copies and information I like to become a premium member. Van: Iwan SuwandyVerzonden: vrijdag 15 april 2011 6:04
Aan: Architectenbureau Ir M.F. Hartkamp
Onderwerp: Re: 07 – Vienna printings of Indonesia

On Fri, Apr 15, 2011 at 4:13 AM, Architectenbureau Ir M.F. Hartkamp <

Dear Sir Suwandy, Thank you for your reaction, Hereby I send you a scan of a real rare painting; it’s made by the Austrian Prof. Ernst Schrom, who designed a great number of the Vienna printings. Would you please be so kind to tell me how I can become a Premium member and what are the advantages of such a membership? How much do I have to pay for this membership? I like to have information about the archive you have about the Vienna printings. It is very important for me to know what kind of material about these Vienna Printings you have in your archive.  However I have a great number of publications, I am still looking for some particularly others. For instance I like to know where I can become a (collar) copy of the catalogue of: Indonesian Postage Stamps (I attached a scan of this catalogue)  I would like to have a copy of the next catalogue as well:  Katalogus dari Perangko2 Republik Indonesia 1959. Edisi Ke I. Popular Katalogus (33 pages) . Soon I will write in Holland and in the USA some articles in philatelic magazines, ofcourse I will mention all the people who have helped me with gattering all the information about this subject! If I can help you with your investigations about the Vienna printings it would be an honour for me to help you with information about this subject. Best regards Maarten Hartkamp
(2)Majallah dan buku album prangko dengan prangko cetak wina.tahun 1950..

Magazine  and stamp album indonesian vienna printing stamp in 1950-1955

(c) another Indonesian collectors info

(c1)

Prangko Cetak tindih

April 23, 2010 — satriyo57

Prangko cetak tindih VS biasa.
Di cetak oleh Staatdruckerei Wien Schrom – Tahun 1949.

Prangko Wanita memBatik

April 23, 2010 — satriyo57

Prangko Wanita memBatik Cetakkan Staatdruckerei Wien Schrom – Tahun 1949.
Merupakan bukti sejarah bahwa Batik milik bangsa Indonesia.
(bandingkan Malaysia baru merdeka 31 Agustus 1957, jadi jangan ngaku-ngaku)

Prangko Presiden Republik Indonesia Pertama Ir. Soekarno

April 23, 2010 — satriyo57

Prangko Presiden Republik Indonesia Pertama Ir. Soekarno
Dicetak oleh Staatdruckerei Wien Schrom – Tahun 1949.

 

Saksi Sejarah demi tegaknya NKRI

Saksi sejarah demi tegaknya NKRI.

Dengan terbitnya prangko di cetak  STAATSDRUCKEREI-WIEN- SCHROM

Dicetak tahun 1949.

(4)Buku suvernir kongres UPU di Florence tahun 1950 dengan prongko cetak wina dalam kondisi mint.

(b)I HAVE REP.INDONESIA  SOUVENIER BOOK DURING INTERNATIONA UPU CONFRENCE  FLORENCE 1950 WITH WIEN STAMPS , THIS OFFICIAL GUININE OR TRADER CTO,PLEASE WHO HAVE THE SAME COLLECTIONS TO COMMENT.

The Special Indonesia souvenier for the UPU congrees at Florence with mint vienana printing stamps,1950.

(5) Dr Iwan Postal  and document History which collected from 1979,the biggest founded in 1985,1989 and 1994.included stamps, postal cover  and  ,document ,literature .etc

Koleksi Dr iwan yang dikumpulkan sejak tahun 1979, yang paling banyak ditemui tahun 1985 ,1989 dan 1994

2.Buku ini masih banyak kekurangannya ,oleh karena itu saran dan koreksi dari para pembaca sanagat diharapkan.

This Book still haven’t complete , that is why need more suggestion and corection from the collectors and historian.

3.Terima kasih atas bantuan yang telah diberikan kepada saya,mohon maaf karena berbagai keterbatasan,namanya tidak dapat saya sebutkan,untuk itu saya haturkan terima kasih,karena tanpa bantuan para sahabat tersebut buku ini tidak akan terwujud.

Thanks very much to all my frien which given many info ,without their helping this book cann’t finish, Iam sorry I cannot write their name.

4. To all Postal  , Picture and Historian collector, this the interesting and informatif historic collections book special for you,espescially the web blog premium emember.also the Indonesian young generation.

Kepada seluruh kolektor postal history dan dokumen sejarah, buku ini ini khusus buat anda semoga ada manfaaatnya terutama kepada generasi Muda Indonesia.

Jakarta April 2011.

Dr Iwan Suwandy

PS the Chapter One will add tomorrow.plesea visit back.

the end @copryright Dr Iwan suwandy 2011

Driwan Masterpiece Cybermuseum:”The Value Of Propaganda Label collections “

 Click on the image to enlarge it. Poster # 048

MUSEUM DUNIA MAYA DR IWAN S.

Dr IWAN ‘S CYBERMUSEUM

 THE FIRST INDONESIAN CYBERMUSEUM

  MUSEUM DUNIA MAYA PERTAMA DI INDONESIA

   DALAM PROSES UNTUK MENDAPATKAN SERTIFIKAT MURI

     PENDIRI DAN PENEMU IDE

      THE FOUNDER

    Dr IWAN SUWANDY, MHA

                     

     WELCOME TO THE MAIN HALL OF FREEDOM               

  SELAMAT DATANG DI GEDUNG UTAMA “MERDEKA

Showroom :

The Driwan’s  Cybermuseum

                    

(Museum Duniamaya Dr Iwan)

 

                    Please Enter

                   

              DMC SHOWROOM

(Driwan Masterpiece  Cybermuseum)Showcase:

The Value Of Propaganda Label  collections

 

Click on the image to enlarge it. Poster # 034
034/ Social development – the people’s right    €284 (original)      ::
Click on the image to enlarge it. Poster # 035silk
035/ silkscreen Hatuey El Primero  €498 Thick paper, hand-printed original  by Gladys Acosta, OSPAAAL    :: From Wikipedia:
Hatuey (d. February 2, 1512) was a Taíno Cacique (chief) from the island of Hispaniola, who lived in the early sixteenth century. He has attained legendary status for leading a group of natives in a fight against the invading Spanish, and thus becoming the second fighter against colonialism in the New World after Anacaona. He is celebrated as “Cuba’s First National Hero.
s177.jpg (8561 bytes)
177/ Che Guevara. Warning: this is not a Cuban original, it is a reprint! 
Buy thru other site:
normal size 24″x34″   $ 7,99
giant size cca 40″x60″   $16,99
Click on the image to enlarge it. Poster # 036
036/ For a Vietnam ten times more beautiful (Ho-Chi-Minh)   €317 (original, 1980)      ::
From Wikipedia:
(19 May 1890 – 2 September 1969) was a Vietnamese Communist revolutionary and statesman who was prime minister (1946–1955) and president (1945–1969) of the Democratic Republic of Vietnam (North Vietnam).
Hồ led the Viet Minh independence movement from 1941 onward, establishing the communist-governed Democratic Republic of Vietnam in 1945 and defeating the French Union in 1954 at Dien Bien Phu. He lost political power inside North Vietnam in the late 1950s, but remained as the highly visible figurehead president until his death. The former capital of South Vietnam, Saigon, after the Fall of Saigon, was renamed Hồ Chí Minh City in his honor.
Click on the image to enlarge it. Poster # 039
039/ South Africa. Against apartheid €249 (original, 1982)     :: design: Morante
Click on the image to enlarge it. Poster # 040
040/ Central America: No to imperial bases   €187 (original, 1983)      ::
Czech propaganda posters.....   click to enlarge
889/ The socialism opened the path to the liberation of the nations from colonies. Fidel Castro marching with some communist leaders from Asia.
Click on the image to enlarge it. Poster # 038
038/ Freedom now! For the Wilmington 10. €189 (original, 1979)     :: From Wikipedia:
The Wilmington Ten were a group of civil rights activists who spent nearly a decade in jail after being convicted of arson and conspiracy in 1971. The case became an international cause celebre amidst widespread beliefs that the individuals in the case were only guilty of holding dissenting political beliefs.[1] Amnesty International took up the case in 1976 and the convictions were finally overturned on a technicality in 1980.
Click on the image to enlarge it. Poster # 045
045/ Coated paper   World solidarity with Cuba.  €169 (original, 1980)      ::
Click on the image to enlarge it. Poster # 043
043/ Camilo Torres    €326 (original, 1981)     :: From Wikipedia:
Father Camilo Torres Restrepo (born in Bogotá, Colombia on 3 February 1929 – died in Santander on 15 February 1966) was a Colombian socialist, Roman Catholic priest, a predecessor of liberation theology and a member of the National Liberation Army (ELN) guerrilla organisation. During his life, he tried to reconcile revolutionary Marxism and Catholicism.
Click on the image to enlarge it. Poster # 042
042/ South Africa. The writing Whites Only in his eyes €337 (original, 1983)      ::
Click on the image to enlarge it. Poster # 048
048/ Che Guevara €339 (original, 1968)     ::
Click on the image to enlarge it. Poster # 049
049/ US president Nixon presented as vampire (we will cite one of the visitors to this page: “Nixon is best and most fondly remembered for his overwhelming paranoia, secret bombings of Laos & Cambodia during his massive escalation of the Vietnam war (note poster 049 shows the “hawkish” Nixon sinking his talons into southern Laos)” . Thin paper, folded. €375 (original, 1971)design: Mederos     ::
Click on the image to enlarge it. Poster # 046
046/ No economic blockade of Cuba! Foreign exchange, petroleum, medicaments, imported and exported goods (disappearing in the US hat) €174 (original, 1991)      ::
Click on the image to enlarge it. Poster # 047
047/ He who plunders… …always lives in terror €208 (original, 1982)      ::
Click on the image to enlarge it. Poster # 051view1
051/ US president Nixon. Poster that was originally made for an attachment to a magazine. It unfolds dramatically…     ::
Click on the image to enlarge it. Poster # 051view2
051/ next view     ::
Click on the image to enlarge it. Poster # 051view3
051/ next view     ::
Click on the image to enlarge it. Poster # 051view4
051/ full view    €540 (original, 1972)     ::
Click on the image to enlarge it. Poster # 052
052/ Tricontinental conference anniversary  €283 (original)      ::From Wikipedia: The OSPAAAL was founded in Havana in January 1966, after the Tricontinental Conference, a meeting of leftist delegates from Guinea, the Congo, South Africa, Angola, Vietnam, Syria, North Korea, the Palestine Liberation Organization, Cuba, Puerto Rico, Chile and the Dominican Republic. Mehdi Ben Barka, the Moroccan leader of the Tricontinental Conference, was murdered the year before, allegedly with complicity of the CIA.
One of the main purposes of the organisation is to promote the causes of freedom fighters in the Third World; for example, OSPAAAL strongly supports Hugo Chávez and demands that the Cuban Five be released. Social development is a recurring theme in OSPAAAL publications, it is called a human right by the organization.
s193.jpg (12557 bytes)
193/ Che Guevara. Warning: this is not a Cuban original! 
Buy thru other site:
normal size 24″x34″   $ 8,99
giant size cca 38″x54″   $17,99
Click on the image to enlarge it. Poster # 057
057/ Central America has said: enough! (Salvator Allende)   €167 (original, 1989)      ::  From Wikipedia: Salvador Isabelino Allende Gossens (Spanish pronunciation: (June 26, 1908 – September 11, 1973) was a physician and the first democratically elected Marxist socialist to become president of a state in the Americas.
Allende’s involvement in Chilean political life spanned a period of nearly forty years. As a member of the Socialist Party, he was a senator, deputy and cabinet minister. He unsuccessfully ran for the presidency in the 1952, 1958, and 1964 elections, but was appointed in 1970.
Allende served as the President of Chile from November 4, 1970 until the U.S.-backed September 11, 1973 coup d’état that ended his democratically elected Popular Unity government. During the air raids and ground attacks that preceded the coup, Allende gave his last speech where he vowed to stay in the presidential palace. The cause of death was suicide.
Click on the image to enlarge it. Poster # 059
059/ Silkscreen Lebanon. Unity is victory.   €389 (original, 1978)   Thick paper, hand-printed original   ::
Click on the image to enlarge it. Poster # 056
056/ Vietnam is winning. 2000. This number relates to the number of US planes shot down in Vietnam. Every round number was celebrated…  €331, very bad condition of the poster (original, 60’s)     ::
Click on the image to enlarge it. Poster # 053
053/ Grenada   €244 (original, 1984)From Wikipedia: The Invasion of Grenada, codenamed Operation Urgent Fury, was an invasion ordered by U.S. President Ronald Reagan of the nation of Grenada, an island in the Caribbean Sea, 100 miles (160 km) north of Venezuela, and over 1,500 miles (2,400 km) southeast of the United States. After an internal power struggle on the island (which has a population of just over 100,000) ended with the deposition and execution of Grenadian Prime Minister Maurice Bishop, the invasion began on October 25, 1983. A combined force of troops from the United States (nearly 10,000 troops), Jamaica and members of the Regional Security System (RSS) (approximately 300 troops) defeated Grenadian resistance and the military government of Hudson Austin was deposed.
The invasion was criticised by the United Kingdom, Canada and the United Nations General Assembly, which condemned it as “a flagrant violation of international law”.     ::
Click on the image to enlarge it. Poster # 058silk.jpg (93160 bytes)
058/ silkscreen Fidayin €485 (original, 1968)   Thick paper, hand-printed :: From Wikipedia:
Fedayeen are a group of people known to be volunteers, not connected to an organized government or military, in the Arab and Muslim world. They are usually deployed for a cause where the government has been viewed as failure or non-existent. They are associated with the role of resistance against occupation or tyranny. The name “fedayeen” is used to refer to armed struggle against any form of enslavement basing their actions on resistance. Armed militias known as the fedayeen, grew from militant elements within the Palestinian refugee population.The Fedayeen made efforts to infiltrate and strike against Israelis and their allies due to the Israeli occupation of their lands. Members of these groups were largely based within the refugee communities living in Egyptian-controlled Gaza, Jordanian-controlled West Bank, or in neighboring Lebanon, and Syria.
During this time (1948-c.1965), the word entered international usage and was frequently used in newspaper articles and political speeches as a synonym for great militancy.
Click on the image to enlarge it. Poster # 050
050/ Palestina. Solidarity with the struggle of the people of Palestine. €187 (original, 1979)  Poster was originally distributed folded => creases. But we also have one that was collected BEFORE the folding.   ::
Click on the image to enlarge it. Poster # 062
062/ Solidarity with Syria   €359 (original, 1971)     ::
Click on the image to enlarge it. Poster # 060
060/ Day of solidarity with the people of Palestine. May 15th. €366 (original, 1968)      ::
Click on the image to enlarge it. Poster # 063
063/ Unity of the Arab people. Nationalization of oil. €269 (original, 1972)      ::
Click on the image to enlarge it. Poster # 064
064/ IMF-WB [International monetary fund – World bank]. Neoliberalism, plunder and unemployment. €188 (original, 1994)     ::
Click on the image to enlarge it. Poster # 066.jpg (72833 bytes)
066/ Chile: will win The swastika is crumbling…  €228 (poster was folded originally – so it has creases from that) (original, 70’s)     ::
Click on the image to enlarge it. Poster # 067
067/ World day of solidarity with the struggle of the people of Puerto Rico. September 23rd. €287 (poster was folded by OSPAAAL since it was distributed by shipping, that means creases.  price after  €244(original, 1974)     ::
Click on the image to enlarge it. Poster # 065
065/ Haiti. Solidarity with the suffering people.   €230 (original, 1983)      ::
Click on the image to enlarge it. Poster # 070
070/ No to the Guantanamo naval base  €268 (original, 1971)     ::
Click on the image to enlarge it. Poster # 071
071/ Portrait of Amilcar Cabral, coated paper  €329 (original, 1978)     ::
From Wikipedia: Amílcar Lopes Cabral (12 September 1924 – 20 January 1973) was an African agronomic engineer, writer, Marxist and nationalist guerrilla and politician. Also known by his nom de guerre Abel Djassi, Cabral led African nationalist movements in Guinea-Bissau and the Cape Verde Islands and led Guinea-Bissau’s independence movement. He was assassinated in 1973 by Guinea-native agents of the Portuguese colonial authorities, just months before Guinea-Bissau declared unilateral independence.
Click on the image to enlarge it. Poster # 073
073/ Undertaking history. €173 (original, 1993)     ::
Click on the image to enlarge it. Poster # 068
068/ (these posters were folded originally to be distributed with the Tricontinental magazine – that left creases on them) July 26th. The day of world’s solidarity with the cuban revolution. €252 (original, 1975)     ::
Click on the image to enlarge it. Poster # 069.jpg (102955 bytes)
069/ No to militarism and hunger   €178 (original, 1982)     ::
Click on the image to enlarge it. Poster # 072.jpg (86033 bytes)
072/ “CHILE. A people in struggle” €248 (original, 1983)     ::
Click on the image to enlarge it. Poster # 076.jpg (73230 bytes)
076/ Korea   €224 (original, 1988)     ::
Click on the image to enlarge it. Poster # 074.jpg (62926 bytes)
074/ Comandante Carlos Fonseca (Nicaragua)   €198 (original, 1986)      ::
Click on the image to enlarge it. Poster # 079.jpg (73050 bytes)
079/ Guatemala. Solidarity with guatemalan National Revolutionary Unity, URNG    €264 (original, 1982)      :: From Wikipedia:
The Guatemalan National Revolutionary Unity (in Spanish: Unidad Revolucionaria Nacional Guatemalteca, URNG-MAIZ or most commonly URNG) is Guatemalan political party that started as a guerrilla movement but laid down its arms in 1996 and became a legal political party in 1998 after the peace process after the Guatemalan Civil War .
The URNG was formed as guerrilla umbrella organization on February 7 by four revolutionary groups active in Guatemala: the Guerrilla Army of the Poor (EGP), the Revolutionary Organization of the People in Arms (ORPA), the Rebel Armed Forces (FAR), and the National Directing Nucleus of PGT (PGT-NDN).
Click on the image to enlarge it. Poster # 080.jpg (113130 bytes)
080/ Stop repression in Guatemala  €191 (original, 1980)     ::
Click on the image to enlarge it. Poster # 077.jpg (84132 bytes)
077/ Afghanistan defends its revolution   €378 (original, 1983)      ::
Click on the image to enlarge it. Poster # 078.jpg (87157 bytes)
078/ We’ll create two, three, more Vietnams….   Little pictures of Che Guevara  €427 (original, 1967)     ::
Click on the image to enlarge it. Poster # 075.jpg (88667 bytes)
075/ …. Puerto Rico   €394 (original, 1967)     ::
Click on the image to enlarge it. Poster # 082.jpg (89287 bytes)
082/ €177 (original, 70’s)     ::
Click on the image to enlarge it. Poster # 083silk.jpg (97949 bytes)
083/ Silkscreen  El Salvador. €430   Thick paper, hand-printed original, 1981   ::
Click on the image to enlarge it. Poster # 084.jpg (83562 bytes)
084/ Sandino is alive   €325 (Also smaller and much cheaper version is available – see below) (original, 1984)     ::
Click on the image to enlarge it. Poster # 085.jpg (91397 bytes)
085/ Farabundo is El Salvador. €227 (original, 1982)     :: From Wikipedia: Augustín Farabundo Martí Rodríguez (May 5, 1893 – February 1, 1932) was a social activist and Communist leader in El Salvador. He helped start a guerrilla revolt of indigenous farmers. In the government reprisals against the movement, over 30,000 indigenous people were killed in 1932, which became known as La Matanza (The Slaughter). The peasant uprising against dictator Maximiliano Hernández Martínez was crushed by the Salvadoran military ten days after it had begun. The Communist-led rebellion, fomented by collapsing coffee prices, enjoyed some initial success, but was soon drowned in a bloodbath. President Hernández Martínez, who had himself toppled an elected government only weeks earlier, had the defeated Martí shot after a perfunctory hearing. Martí remains a martyr figure for El Salvador’s Left, and he is the namesake of the leftist Salvadoran political party Farabundo Martí National Liberation Front (FMLN) (Frente Farabundo Martí para la Liberación Nacional), which fought a bloody guerrilla war against the Salvadoran military government (backed by the U.S.) in the 1980s. That war is to this day renowned for grave human rights violations committed by both sides. The FMLN is today one of El Salvador’s two major political parties.
Click on the image to enlarge it. Poster # 089.jpg (110079 bytes)
089/ …The day of world solidarity with the struggle of people of Palestina  €229 (original, 1975)      ::
Click on the image to enlarge it. Poster # 087.jpg (73756 bytes)
087/ Long live free Zimbabwe   €305 (original, 1980)     ::
Click on the image to enlarge it. Poster # 081.jpg (83329 bytes)
081/ The 25th anniversary of International solidarity. €186 (original, 1991)      :: From Wikipedia: The OSPAAAL was founded in Havana in January 1966, after the Tricontinental Conference
Click on the image to enlarge it. Poster # 090.jpg (120786 bytes)
090/ Che Vive    €377 (from Cuba, possibly reprint –  but definitely Cuban made, before 1997)     ::
Click on the image to enlarge it. Poster # 086.jpg (90476 bytes)
086/ Nasir… Egypt    €181 (original, 1982)     ::
Click on the image to enlarge it. Poster # 088.jpg (83687 bytes)
088/ The 5th anniversary – F. Polisario   €212 (original, 1981)      :: From Wikipedia:
The Polisario, Polisario Front, or Frente Polisario, from the Spanish abbreviation of Frente Popular de Liberación de Saguía el Hamra y Río de Oro (“Popular Front for the Liberation of Saguia el-Hamra and Río de Oro”) is a Sahrawi rebel movement working for the independence of Western Sahara from Morocco. The Polisario is an observer member of Socialist International.
Click on the image to enlarge it. Poster # 095.jpg (80643 bytes)
095/ World solidarity with the Cuban revolution   €316133
 (original, 1980)      ::
Click on the image to enlarge it. Poster # 091silk.jpg (86018 bytes)
091/ Silkscreen. Apartheid – no. €239 (original, 1977)     ::
Click on the image to enlarge it. Poster # 093.jpg (74986 bytes)
093/ …January 1975. Second anniversary of his assassination  €189 (original, 1975)      :: Assassination of Amilcar Cabral, leader of the African Party for the Independence of Guinea and Cape Verde (PAIGC) on January 20, 1973
Click on the image to enlarge it. Poster # 094.jpg (78474 bytes)
094/ International campaign of solidarity with the people of Korea  €395 (original, 1973)      ::
Click on the image to enlarge it. Poster # 096.jpg (104353 bytes)
096/ Vietnam Build and defend the new life  €287 (original, 1982)      ::
Click on the image to enlarge it. Poster # 099.jpg (104341 bytes)
099/ For The Falklands / Malvinas €195 (original)     :: design: Morante
From Wikipedia:
The Falklands War (Spanish: Guerra de las Malvinas/Guerra del Atlántico Sur), also called the Falklands Conflict/Crisis, was fought in 1982 between Argentina and the United Kingdom (UK) over the disputed Falkland Islands and South Georgia and the South Sandwich Islands. The Falkland Islands consist of two large and many small islands in the South Atlantic Ocean east of Argentina; their name and sovereignty over them have long been disputed.
The Falklands War started on Friday, 2 April 1982 with the Argentine invasion and occupation of the Falkland Islands and South Georgia, and ended with the Argentine surrender on 14 June 1982. The war lasted 74 days, and resulted in the deaths of 255 British and 649 Argentine soldiers, sailors, and airmen, and three civilian Falklanders.
Click on the image to enlarge it. Poster # 098.jpg (78624 bytes)
098/ Sandino presente   €215 (original, 1989)     ::
Click on the image to enlarge it. Poster # 092.jpg (65313 bytes)
092/ Che Guevara   €272 (coated paper)    Printed in Cuba in 90’s. Very representative portrait of Che   ::
Click on the image to enlarge it. Poster # 101.jpg (63397 bytes)
101/ OSPAAAL The 30th anniversary  €232 (original)     ::
Click on the image to enlarge it. Poster # 100.jpg (68749 bytes)
100/ Solidarity with the people of Haiti  €193 (original, 1983)      ::
Click on the image to enlarge it. Poster # 104.jpg (81974 bytes)
104/ Panama: to resist is to win   €149 (original, 1989)     ::
Click on the image to enlarge it. Poster # 097.jpg (82767 bytes)
097/  Stop Yankee attacks on Nicaragua.  €170 (original, 1985)      ::
Click on the image to enlarge it. Poster # 106.jpg (95667 bytes)
106/ El Salvador. €279 (original, 1984)     ::
Click on the image to enlarge it. Poster # 107.jpg (90088 bytes)
107/ This poster is too rare ,still could not to estimate the valeu. (original)    
Click on the image to enlarge it. Poster # 103.jpg (78104 bytes)
103/ International solidarity with the Lebanese people’s struggle.  €212 (original)      ::
Click on the image to enlarge it. Poster # 105.jpg (88020 bytes)
105/ OSPAAAL. 15 years of tricontitental solidarity   €324 (original)      :: From Wikipedia: The OSPAAAL was founded in Havana in January 1966, after the Tricontinental Conference
s858.jpg (33411 bytes)
858/ We greet the heroic Cuban nation. Slovakian poster. More still couldnot estimate the value
Click on the image to enlarge it. Poster # 112.jpg (96016 bytes)
112/ et cette… Nothing will stop the march of gigants  €175 (original, 60’s)     :: From Wikipedia: Les Géants is the title of a novel by Jean-Marie Gustave Le Clézio (born 13 April 1940), usually identified as J. M. G. Le Clézio – a globetrotting French author, professor, and Nobel laureate. The author of over forty works, he was awarded the 1963 Prix Renaudot for his novel Le Procès-Verbal.
Click on the image to enlarge it. Poster # 110.jpg (115775 bytes)
110/ €553 (original, 1971)     ::
Click on the image to enlarge it. Poster # 102.jpg (70856 bytes)
102/ Uruguay. Freedom for political prisoners. €182 (original, 1980)     ::
Click on the image to enlarge it. Poster # 108.jpg (91476 bytes)
108/ Giron. 20th anniversary  €188 (original, 1981)     :: From Wikipedia: The Bay of Pigs Invasion (known as La Batalla de Girón, or Playa Girón in Cuba), was an unsuccessful attempt by a CIA-trained force of Cuban exiles to invade southern Cuba with support from US government armed forces, to overthrow the Cuban government of Fidel Castro.
The plan was launched in April 1961, less than three months after John F. Kennedy assumed the presidency in the United States. The Cuban armed forces, trained and equipped by Eastern Bloc nations, defeated the exile combatants in three days. Bad Cuban-American relations were made worse by the 1962 Cuban Missile Crisis.
s884.jpg
884/ Homeland or death. We will win. Czech poster. value caanot estimate
Click on the image to enlarge it. Poster # 114.jpg (90296 bytes)
114/ International campaign of solidarity with the people of Korea. June 25 – July 27    €322 (original, 1968)     ::
Click on the image to enlarge it. Poster # 115.jpg (90922 bytes)
115/ Korea. Month of solidarity with Korea. June 25 to July 27.  €309 (original, 1968)      ::
Click on the image to enlarge it. Poster # 113.jpg (113116 bytes)
113/ Victory or death   €390 (original, 1971)     ::
Click on the image to enlarge it. Poster # 120.jpg (76180 bytes)
120/ 4000. Vietnam. Tomb of imperialism. €430 (original, 1972)     ::
Click on the image to enlarge it. Poster # 109.jpg (68272 bytes)
109/ Power to the people. George.   (original, 1971)   €590  :: From Wikipedia:
In 1966, George Jackson formed the Black Guerilla Family in the California prison of San Quentin. The goal of this group was to overthrow the white-run government in America and the prison system in general. In 1970, this group displayed their dedication after a white prison guard was found not guilty for shooting three black prisoners from the prison tower. The guard was found cut to pieces, and a message was sent throughout the whole prison of how serious the group was.
Click on the image to enlarge it. Poster # 117.jpg (86444 bytes)
117/ Guinea. €330 (original, 1972)     ::
Click on the image to enlarge it. Poster # 119.jpg (124050 bytes)
119/ Zimbabwe   €328 (original, 1972)     :: From Wikipedia: The white-minority government declared itself a “republic” in 1970. A civil war ensued, with Joshua Nkomo’s ZAPU and Robert Mugabe’s ZANU using assistance from the governments of Zambia and Mozambique. Although Smith’s declaration was not recognised by the United Kingdom nor any other significant power, Southern Rhodesia dropped the designation ‘Southern’, and claimed nation status as the Republic of Rhodesia in 1970. The Smith administration declared itself a republic in 1970 which was recognised only by South Africa, then governed by its apartheid administration. Over the years, the guerrilla fighting against Smith’s UDI government intensified…
Click on the image to enlarge it. Poster # 121.jpg (90436 bytes)
121/ Solidarity with… Palestina   €226 (original, 1979)     ::
Click on the image to enlarge it. Poster # 123.jpg (63963 bytes)
123/ Apartheid cannot be reformed. It has to be eliminated. Olof Palme. €76 (original, 1986)   (Swedish prime minister killed possibly for political reasons. Palme said, “Apartheid cannot be reformed, it has to be eliminated.” on February 21, 1986 — a week before he was murdered, but no evidence was found by Swedish police investigators to support this theory)      ::
Click on the image to enlarge it. Poster # 118.jpg (49821 bytes)
118/ Day of solidarity with The Congo. February 15th.  (Note that the English and French translations on the poster got partially switched.)  €259 (original, 1972)      ::
Click on the image to enlarge it. Poster # 125.jpg (117138 bytes)
125/ Unity in the face of imperialist aggression against Nicaragua. Central Intelligence agency. United States of America.  €178 (original, 1985)     ::
Click on the image to enlarge it. Poster # 116.jpg (109047 bytes)
116/ Month of solidarity with the people of Korea…  €580 (original, 1972)      ::
Click on the image to enlarge it. Poster # 122.jpg (102434 bytes)
122/ Nelson Mandela. €246 (original, 1986)     :: From Wikipedia:
Nelson Rolihlahla Mandela; born 18 July 1918 in Transkei, South Africa)[1] is a former President of South Africa, the first to be elected in a fully representative democratic election, who held office from 1994–99. Before his presidency, Mandela was an anti-apartheid activist, and the leader of the African National Congress’s armed wing Umkhonto we Sizwe. The South African courts convicted him on charges of sabotage, as well as other crimes committed while he led the movement against apartheid. In accordance with his conviction, Mandela served 27 years in prison, spending many of these years on Robben Island. He is currently a celebrated elder statesman who continues to voice his opinion on topical issues. In South Africa he is often known as Madiba, an honorary title adopted by elders of Mandela’s clan. The title has come to be synonymous with Nelson Mandela.
Click on the image to enlarge it. Poster # 124.jpg (71519 bytes)
124/ Sandino vive   €144 (original, 1984)     :: From Wikipedia:
Augusto Nicolás Calderón Sandino (May 18, 1895 Niquinomo – February 21, 1934 Managua) was a Nicaraguan revolutionary and leader of a rebellion against the U.S. military presence in Nicaragua between 1927 and 1933. He was labeled as a bandit by the U.S. government, and his exploits made him a hero throughout much of Latin America, where he became a symbol of resistance to U.S. domination. Drawing the United States Marines into an undeclared guerrilla war, his guerrilla organization suffered many defeats, but he successfully evaded capture. US troops withdrew from the country after overseeing the inauguration of President Juan Bautista Sacasa. Sandino was assassinated by General Anastasio Somoza García, who went on to seize power in a coup d’état two years later, establishing a family dynasty that would rule Nicaragua for over forty years. Sandino’s legacy was claimed by the Sandinista National Liberation Front (FSLN), which overthrew the Somoza government in 1979.
Click on the image to enlarge it. Poster # 129.jpg (99111 bytes)
129/ Namibia. Power to the people. €238 (original, 1981)     ::
Click on the image to enlarge it. Poster # 130.jpg (86982 bytes)
130/ Israel: a wound in Lebanon’s side  €179 (original, 1983)     ::
Click on the image to enlarge it. Poster # 127.jpg (83017 bytes)
127/ Solidarity with the African Northamerican people. August 18th, 1968     977 (original, 1968)     €594::
Click on the image to enlarge it. Poster # 132.jpg (64071 bytes)
132/ Apartheid   €214 (original, 1984)     ::
Click on the image to enlarge it. Poster # 131.jpg (83742 bytes)
131/ Africa  €223 (original, 1973)     ::
Click on the image to enlarge it. Poster # 128.jpg (76531 bytes)
128/ Day of the world solidarity with the people of Mosambique   €187 (original, 1973)      ::
Click on the image to enlarge it. Poster # 133.jpg (133235 bytes)
133/ Namibia. For its total independence    €274 (original, 1986)      :: From Wikipedia:
In 1966, uprisings and demands by African leaders led the United Nations to assume direct responsibility over the territory, changing the name to Namibia in 1968 and recognizing South West Africa People’s Organization (SWAPO) as official representative of the Namibian people in 1973. Namibia, however, remained under South African administration during this time. Following internal violence, South Africa installed an interim administration in Namibia in 1985. Namibia obtained full independence from South Africa in 1990
s191.jpg (41963 bytes)
191/ Che Guevara. Many faces of his. Warning: this is not a Cuban original!   
24×36″…..   $7.99
Click on the image to enlarge it. Poster # 135.jpg (76554 bytes)
135/ Fidel Castro. One of the few posters with his face… There is reportedly a law in Cuba that prohibits making posters with images of the politicians that are still in the office. So the frequently depicted guy on the Cuban posters is not Castro, but Che Guevara. €822 (original, 1985)     €457::
Click on the image to enlarge it. Poster # 134.jpg (87871 bytes)
134/ Libya   €216 (original, 1983)     ::
Click on the image to enlarge it. Poster # 138.jpg (111602 bytes)
138/ €199 (original, 1971)     ::
Click on the image to enlarge it. Poster # 142.jpg (78682 bytes)
142/ On saving herself, she saves. Jose Marti.  €164 (original, 1992)      :: From Wikipedia: José Julián Martí Pérez (January 28, 1853–May 19, 1895) was a Cuban national hero and an important figure in Latin American literature. In his short life he was a poet, an essayist, a journalist, a revolutionary philosopher, a translator, a professor, a publisher, and a political theorist. Through his writings and political activity, he became a symbol for Cuba’s bid for independence against Spain in the 19th century, and is referred to as the “Apostle of Cuban Independence”. He also fought against the threat of United States expansionism into Cuba. From adolescence, he dedicated his life to the promotion of liberty, political independence for Cuba and intellectual independence for all Spanish Americans.
Click on the image to enlarge it. Poster # 139.jpg (91513 bytes)
139/ Solidarity with the people of Palestine   €189 (original, 1971)      ::
Click on the image to enlarge it. Poster # 154ads.jpg (74545 bytes)
154/ doublesided Sabra y Chatila  (€179) (original, 1983)      :: This refers to Sabra and Shatila Massacre, 1983, Lebanese Civil War
Click on the image to enlarge it. Poster # 154bds.jpg (100932 bytes)
154/ doublesided Sabra y Chatila  (original, 1983)      ::
Click on the image to enlarge it. Poster # 037
037/ Solidarity with the people of South Africa. APARTHEID.  €229 (original, printed 1978)      ::
Click on the image to enlarge it. Poster # 054
054/    €199 (original, 1971. These posters were originally distributed folded = creases)     ::
s180.jpg (11637 bytes)
180/ Till the victory, always! Che Guevara. Warning: this is not a Cuban original!                 
Click on the image to enlarge it. Poster # 137.jpg (66834 bytes)
137/ €274 (original, 1970)     ::
Che Guevara original poster
190/ Che Guevara. (Czech original, recent) 12      ::

AFTER NOW THE VALUE OF PROPAGANDA POSTER, PLEASE STARTING

TO BUILT YOUR COLLECTIONS.

Click on the image to enlarge it. Poster # 041
041/ [Patricio] Lumumba. 20th anniversary.  €205 (original, 1981)      :: From Wikipedia:
Patrice Émery Lumumba (2 July 1925–11 February 1961) was an African anti-colonial leader and the first legally elected Prime Minister of the Republic of the Congo after he helped win its independence from Belgium in June 1960. Only ten weeks later, Lumumba’s government was deposed in a coup during the Congo Crisis.[1] He was subsequently imprisoned and murdered in circumstances suggesting the support and complicity of the governments of Belgium and the United States.
THE END @ COPYRIGHT Dr IWAN SUWANDY 2011
Click on the image to enlarge it. Poster # 033
033/ Nguyen Trai 1380-1980. 6th century.  Vietnamese motiff €177 (original, 1980)      :: From Wikipedia:
Nguyen Trai – an illustrious Vietnamese Confucian scholar, a noted poet, a skilled politician and a master tactician. He was inspiring the Vietnamese populace to support open rebellion against the Ming Dynasty rulers. He is also the author of the declaration of independence from China

Driwanmasterpiece Cybermuseum:”The Djokjakarta Historic Collections”(Koleksi sejarah Kota Jogya)

MUSEUM DUNIA MAYA DR IWAN S.

Dr IWAN ‘S CYBERMUSEUM

 THE FIRST INDONESIAN CYBERMUSEUM

  MUSEUM DUNIA MAYA PERTAMA DI INDONESIA

   DALAM PROSES UNTUK MENDAPATKAN SERTIFIKAT MURI

     PENDIRI DAN PENEMU IDE

      THE FOUNDER

    Dr IWAN SUWANDY, MHA

                     

     WELCOME TO THE MAIN HALL OF FREEDOM               

  SELAMAT DATANG DI GEDUNG UTAMA “MERDEKA

Showroom :

The Driwan’s  Cybermuseum

                    

(Museum Duniamaya Dr Iwan)

 

                    Please Enter

                   

              DMC SHOWROOM

(Driwan Masterpiece  Cybermuseum)Showcase:

The Jogyakarta City Historic collections

Frame One :

Dr Iwan collections

1.Postal History Collections

Postal Stationer cover send from Jogya poinstamped no 10 with cds little round stamp Djogdjakarta 11.10.1882 to Toelongagung cds 12.1o.1882 via CDS Madioen 11.10.82 and Soerabaia 11.10.82(rare four destination via train )

Frontside

Backside

2Picture

1)Picture Postcard Of Former Sultan Jogyakarta,Hemangkubowono IX 

2)Lithography Profile Of Former Sultan Jogya Hemangkubuwono IX

3) Vintage Photography Of General Sudirman during Post operation healthcare after lung lobe operation by prof Dr Picauly at Pantih Rapih Hospital Djogyakarta Nopember 1948

 3.Autography

Handsigned Of Sultan Jogyakarta Hemangkubuwono IX

Frame Two:

The International Collections

1.Postal history

2.Document History

3.Vintage Picture

4.Sultan HemangkuBuwono X

Sultan Jogya,… yaaagh sekaligus Kepala Pemerintah Daerah …!!!    Quantcast

Kemelut yang meliputi Jogya,… bikin gue prihatin … !!! Yaagh bukan karena gue mempunyai keturunan dari Raja-Raja Jawa… !!! Tapi teruz terang gue nggak habis pikir … gimana bisa sejarahnya… kepala pemerintah daerah Jogya.. akan dipilih berdasarkan Pilkada… ??? Sejarahnya jelas.. Jogya terbentuk dari perjanjian Giyanti yang membagi Mataram menjadi dua… yaitu Solo dan Jogya.. !!! Pada saat Indonesia merdeka … ada piagam kedudukan 19 Agustus 1945… dan maklumat 5 September 1945… yang intinya… Sultan Jogya sekaligus Kepala Daerah DIY… !!!

Jadi itu… sudah semacam ‘kesepakatan’ (Kanjeng Sultan menyebutnya ‘ijab kabul’ red.) antara Presiden Sukarno dan Sultan HB IX… !!! Menurut gue,… Sultan HB IX sudah mau melebur dengan Negara Kesatuan RI… makanya status propinsinya disebut Daerah Istimewa Jogyakarta… !!! Teruz.. apakah ini monarki absolut… ??? Yaagh tidak… ada DPRD nya kok.. sebagai lembaga kontrol… !!! Mosok Sultan Jogya… nggak bisa sebagai kepala daerah… ??? Hal itu berarti mengingkari sejarah… dan gue nggak bisa membayangkan jika Kepala Daerah Jogya … bukan dari kalangan Keraton… !!!

Apa jadinya… jika seorang kepala pemerintah daerah… akan lebih ‘berkuasa’ dari seorang Sultan… ??? Sekalipun dari kalangan keraton pun… jika bukan Sultan… apakah sanggup ‘berhadapan’ dengan Kanjeng Sultan… ??? Rakjat Jogya masih sangat menghormati Kanjeng Sultan… !!! Itu terbukti sewaktu mau gegeran .. mau bakar-bakar di pasar Beringharjo… hanya Kanjeng Sultan laagh yang bisa menenangkan rakjatnya… !!! Demokrasi boleh… tapi liat konteks nya… jangan kebablasan… !!! Demokrasi harus menghormati … hak orang lain pula… !!!

So menurut gue,… Kanjeng Sultan tuh sekaligus Kepala Pemerintah Daerah… !!! Jabatan itu … secara historis melekat… !!! Apa ada dalam sejarah Kerajaan di Indonesia… seorang Raja.. nggak punya hak untuk memerintah… wilayahnya

5.Jogya Antique shop

Antique Is My World

Jorgya antique shop at Bantul, Yogyakarta. look at the antique showroom that displays many antique stuff, such as old iron safes, iron boxes, old fans, radios, old furniture, and manymore. . To Antique hunters and lovers whowant to either complete their collections or resellthem.

5.Recent Picture

Frame Three:

 The History Of Jogya City

version 1

Yogyakarta (city)

This article is about the city of Yogyakarta. For the Yogyakarta Special Region, see Yogyakarta (special region).
 
Yogyakarta City

Malioboro, the most famous street in the city for shopping and eating out.


Seal
Nickname(s): Kota Pelajar (Student’s City) or Kota Gudeg (Gudeg City)
Motto: Memayu Hayuning Bawono
Yogyakarta City is located in Indonesia
Yogyakarta City

Location of Yogyakarta in Indonesia

Coordinates: 7°48′5″S 110°21′52″E / 7.80139°S 110.36444°E / -7.80139; 110.36444Coordinates: 7°48′5″S 110°21′52″E / 7.80139°S 110.36444°E / -7.80139; 110.36444
Country Indonesia
Province Yogyakarta Special Region
Government
 – Mayor Herry Zudianto
Area
 – City 32.5 km2 (12.5 sq mi)
Population (2008)
 – Density 11,941/km2 (30,927/sq mi)
 – Metro 1,588,622
Time zone WIB (UTC+7)
Website www.jogjakota.go.id

Yogjakarta City (also Jogja, Jogjakarta) is a city in the Yogyakarta Special Region, Indonesia. It is renowned as a centre of classical Javanese fine art and culture such as batik, ballet, drama, music, poetry, and puppet shows. It is also famous as a centre for Indonesian higher education and the seat of Gadjah Mada University, one of the three most prestigious universities in Indonesia. Yogyakarta was the Indonesian capital during the Indonesian National Revolution from 1945 to 1949.

Contents

 

Orientation

The Gondolayu bridge in the afternoon

The Yogyakarta sultanate palace‘s main pavilion

The Taman Sari Water Castle

The area of the city of Yogyakarta is 32.5 km². While the city spreads in all directions from the kraton (the Sultan’s palace), the core of the modern city is to the north, centring around Dutch colonial-era buildings and the commercial district. Jalan Malioboro, with rows of pavement vendors and nearby market and malls, is the primary shopping street for tourists in the city, while Jalan Solo, further north, is a shopping district more frequented by locals. At the southern end of Malioboro, on the east side is the large local market of Beringharjo, not far from Fort Vredeburg a restored Dutch fort.

At Yogyakarta’s centre is the kraton, or Sultan’s palace. Surrounding the kraton is a densely populated residential neighbourhood that occupies land that was formerly the Sultan’s sole domain. Evidence of this former use remains in the form of old walls and the ruined Taman Sari, built in 1758 as a pleasure garden. No longer used by the sultan, the garden had been largely abandoned. For a time, it was used for housing by palace employees and descendants. Reconstruction efforts began in 2004, and an effort to renew the neighbourhood around the kraton has begun. The site is a developing tourist attraction.

Nearby to the city of Yogyakarta is Mount Merapi. The northern outskirts of the city run up to the southern slopes of the mountain in Sleman Regency (Indonesian language–Kabupaten). Gunung Merapi (literally Mountain of Fire in Indonesian/Javanese), is an active Stratavolcano located on the border between Central Java and Yogyakarta, Indonesia. It is the most active volcano in Indonesia and has erupted regularly since 1548. The volcano last erupted in November 2010.

 Administration

The city is divided into 14 districts (kecamatan).

  1. Gondokusuman
  2. Jetis
  3. Tegalrejo
  4. Umbulharjo
  5. Kotagede
  6. Mergangsan
  7. Ngampilan
  8. Danurejan
  9. Kraton
  10. Wirobrajan
  11. Pakualaman
  12. Mantrijeron
  13. Gedongtengen
  14. Gondomanan

Arts and culture

Yogyakarta is known for its silver work, leather puppets used for shadow plays (wayang kulit), and a unique style of making batik dyed fabric. It is also known for its vivid contemporary art scene. Yogyakarta is also known for its gamelan music, including the unique style Gamelan Yogyakarta, which developed in the courts.

Yogyakarta is also a haven for underground art. It is home to many independent filmmaking communities, independent musicians, performance artists, and visual artists. One underground community that is internationally reputable among art collectors but barely heard of within the country is the Taring Padi community in Bantul, which produces posters using a technique called cukil. daren kidul Dono Kerto Turi

 Demography and language

Most population is Javanese, but being a student city, there are also significant population of people from other ethnicities in Indonesia. This status makes Yogyakarta as one of the most heterogeneous city in terms of ethnicity in Indonesia. Indonesian as the official national language, and Javanese are widely used as daily spoken languages, especially by the Javanese.

 Education

Yogyakarta is well-known as home of Gadjah Mada University,[1] one of Indonesia’s most prominent state universities. This city also houses several well known private universities such as Muhammadiyah University of Yogyakarta,[2] Islamic University of Indonesia,[3] Atma Jaya University[4] and Sanata Dharma University.[5]

 History

The historical building of Bank of Indonesia in European architecture

The City of Jogjakarta and the Kingdom of Jogjakarta was established as a result of a “Gianti war treaty” (Perjanjian Gianti) by HRH Prince Mangkubumi, who later become HRH Sultan Hamengkubuwono I. Officially, the creation of Kingdom of Jogjakarta is dated to October 7, 1756 as a result of civil war among the bloodline of The Kingdom of Mataram. The civil war was fought against Hamengkubuwono’s and his elder brother, HRH Sunan Pakubuwono II. This civil war marked the end of the Kingdom of Mataram and resulted in the birth of the Kingdom of Jogjakarta and the Kingdom of Surakarta.

The root of the civil war started when Sunan Pakubuwono II agreed to cooperate with the Dutch colonial government and submit to foreign (western) powers. His younger brother, HRH Prince Mangkumbumi (HRH Sultan Hamengkubuwono) stood against the concept, due to concern that his people would become slaves under Dutch rule. The Javanese slaves were used to work for businesses owned by V.O.C. and the Dutch Colonial Government and exported to present day Suriname in South America. In the Netherlands itself, some of the Dutch people stood against the policy of their home government.

Prince Mangkubumi fought until the defeat of the Pakubuwono forces and declared sovereignty in the Kingdom of Jogjakarta south of the original Kingdom of Mataram. Because of this historical act of bravery and sacrifice, Jogjakarta is given Special Administrative Region (SAR) status, making the Province of Jogjakarta the only province headed by a monarchy.

 Museums

Due to the importance of Yogyakarta during the war of independence from the Dutch, there are numerous memorials and museums. Yogya Kembali, and Fort Vredeburg are two major museums of about 11 named in the city.

To the east of the town centre is a large air-force museum; as Indonesia was for a period in the Soviet sphere of influence this museum contains a number of vintage Russian aircraft not widely available for inspection in the NATO sphere of influence. The collection includes examples of the Mig 15 trainer (NATO designation Mongol), MiG 17 (Fresco), MiG 19 (Farmer), Mig 21 (Fishbed) and Tu16 (Badger), together with an assortment of American and British aircraft.

 Transportation

Trans Jogja Bus. A bus rapid transit system in Yogyakarta City

Yogyakarta is served by Adisucipto International Airport which connects the city with some other major cities in Indonesia, such as Jakarta, Surabaya, Bali, Makassar, Balikpapan, Banjarmasin, and Pontianak. It also connects the city with Singapore (operated by Indonesia AirAsia) and Kuala Lumpur (operated by AirAsia and Malaysia Airlines).

The city is located on one of the two major railway lines across Java between Jakarta / Bandung and Surabaya. It has two passenger railway stations, Tugu Railway Station which serves business and executive class trains, and Lempuyangan Station which serves economy class trains. Both stations are located in the heart of the city.

The city has an extensive system of public city buses, and is a major destination for inter-city buses to elsewhere on Java or Bali, as well as taxis, andongs, and becaks. Motorbikes are by far the most commonly used personal transportation, but an increasing number of residents own automobiles.

Starting from early 2008, the city has operated a bus rapid transit system called Trans Jogja. This system is modeled after TransJakarta. But unlike Trans Jakarta, there is no particular lane for Trans Jogja buses, they run on main streets. Currently there are six lines of Trans Jogja service, with routes throughout main streets of Yogyakarta, which some overlap one another. The lines extend from Jombor bus station in the north as far as Giwangan main bus terminal in the south and Prambanan bus shelter in the east via Adisucipto International Airport. Trans Jogja has now become a new trademark of Yogyakarta and frequently used by local citizens and tourists alike.

In a recent forum discussion on long-term future transportation plans in Yogyakarta held in Universitas Gadjah Mada, Head of Yogyakarta region transportation master plan team, Prof Ahmad Munawar, said that, in 2016 various modern transport modes include monorail, aerobus, and tram will begin operating in the city and the region.[6]

 Climate

Yogyakarta features a tropical monsoon climate. The city features a lengthy wet season running from October until June and a short dry season that only covers the months of July, August and September. The city averages roughly 2200 mm of precipitation annually. Yogyakarta experiences particularly heavy rainfall from November through April. Temperatures remain relatively constant throughout the course of the year, with average high temperatures at around 30 degrees Celsius and average lows at around 22 degrees Celsius.

Climate data for Yogyakarta
Month Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec Year
Average high °C (°F) 28.9
(84)
28.9
(84)
29.4
(85)
30.6
(87)
30
(86)
30
(86)
29.4
(85)
30
(86)
30.6
(87)
31.1
(88)
30
(86)
29.4
(85)
30
(86)
Average low °C (°F) 22.2
(72)
22.2
(72)
22.2
(72)
22.2
(72)
22.2
(72)
21.1
(70)
20.6
(69)
20.6
(69)
21.7
(71)
22.2
(72)
22.2
(72)
22.2
(72)
21.7
(71)
Precipitation mm (inches) 350
(13.78)
330
(12.99)
310
(12.2)
210
(8.27)
120
(4.72)
80
(3.15)
40
(1.57)
20
(0.79)
30
(1.18)
90
(3.54)
220
(8.66)
340
(13.39)
2,180
(85.83)
Source: http://www.weatherbase.com/weather/weather.php3?s=35869&refer=&units=metric

 Tourism

Yogyakarta is the second most important tourist destination in Indonesia after Bali. Most tourists come to Yogyakarta for its strong Javanese culture and tradition. This makes it prominent among other Javanese cities. Along with Surakarta or Solo, a city lying about 64 km to the east, Yogyakarta is the centre of Javanese culture.

 Health facilities

The major hospitals in Yogyakarta include Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) Dr Sardjito Yogyakarta – Dr. Sardjito Hospital, Bethesda Hospital Yogyakarta, Panti Rapih Hospital, and Jogja International Hospital.

Sister cities

version2

Yogyakarta Vs Jogjakarta


(Yogyakarta Vs Jogjakarta)

 PROLOG:

 

Fenomena Crop Circle di Berbah, Sleman, Yogyakarta, menyusul ribut-ribut mengenai Keistimewaan Yogyakarta, Wedhus Gembel atau awan panas Merapi termasuk fenomenon Mbah Marijan, Gempa dahsyat di Yogya 27 Mei 2006, dan Salak Pondoh yang dapat menyeruak pongah di Pusat-pusat pembelanjaan ritel modern di antara gempuran buah impor, telah membawa ingatan saya pada perseteruan panjang tentang penulisan baku nama kota:

Yogyakarta Versus Jogjakarta.

 Saya tidak tahu persis, namun di antara kota-kota atau tempat di Indonesia, bahkan di dunia ini, mungkin hanya “Yogyakarta”, kota atau tempat yang dapat disingkat. “Yogyakarta” dapat disingkat menjadi “Yogya”, namun masih memberikan pengertian dan konotasi yang sama. Coba simak nama-nama kota Bandung, Jakarta, Surabaya, Makassar, Jayapura, Manado, Milwaukee, Philadelphia, San Fransisco, Los Angeles, Vladivostok, Bukittinggi, New York, Beijing, Rawalpindi, Baghdad, Johanesburg, Ciudad Juarez, Port-au-Prince, dan lain-lain, mana ada yang dapat disingkat? (Mohon bantuan anggota milis, mana lagi kota yang namanya dapat disingkat?) Oh ya, saya menemukan dua kota, sementara saya menyelesaikan tulisan ini, yaitu yang pertama adalah Rio de Janeiro, yang dapat disingkat Rio, yang terkenal dengan Copacabana-nya, dan Gunung Sugar Loaf, yang menjulang tinggi di atas Teluk Guanabara, yang dilengkapi oleh Puncak Gunung Corcovado yang menjulang tinggi, dengan patung Kristus raksasa-nya. Ya…Rio de Janeiro yang mantan ibukota Brasilia. Bahkan nama negara satu-satunya yang dapat disingkat di dunia ini, mungkin hanya Brasilia, yang dapat disingkat menjadi Brasil. Entah nama negara yang lain. Oh, ya United States of America dapat disingkat menjadi America, meskipun konotasinya jadi berubah, karena America merujuk pada benua America, tempat berkumpulnya banyak negara. Sementara kalau disingkat menjadi United States, lebih baik, karena konotasi dan pengertiannya tetap. Sedang kota kedua yang dapat disingkat adalah Hidalgo del Parral, yang dapat disingkat menjadi Hidalgo, di Mexico Utara. Jadi konklusi sementara hanya ada 3 (tiga) kota di dunia ini yang dapat disingkat tanpa mengubah konotasi dan pengertiannya, salah satunya di Indonesia, sementara nama negara yang dapat disingkat hanya 2 (dua) yaitu United States of America dan Brasilia.

 (Catatan: orang Malaysia, sebenarnya menyingkat nama orang-orang dari Indonesia menjadi “Indon”, bagi etnis dari Indonesia yang ratusan ribu jumlahnya menjadi TKI di Malaysia, yang konon berkonotasi negatif, menurut persepsi mereka. Tetapi itu singkatan untuk nama etnis, bukan nama negara).

 Yogyakarta, nama kunonya adalah Ngayogyokarto Hadiningrat, nama kota terpanjang di Indonesia, bahkan di Asia, atau mungkin di belahan Selatan garis Katulistiwa dari Bola Dunia. Untuk mengatakan bahwa itu terpanjang di dunia saya tidak berani, karena memang masih ada nama tempat atau nama kota yang lebih panjang di dunia, yang berada di belahan Utara garis Katulistiwa, yang merupakan nama tempat terpanjang di dunia, yaitu:

“Llanfairpwllgwyngyllgogerychwymdrobwllllandysiliogogogoch”
 (Catatan: Karena tidak pernah hafal dan tidak pernah ingat satu persatu jumlah hurufnya, setiap mau menulis kembali nama tempat tersebut, saya selalu membuka literatur supaya tidak salah tulis, daripada kembali ke tempat tersebut. Yang saya ingat, hanya jumlah hurufnya ada 55. Literatur yang saya miliki adalah: Lands and Peoples, Grolier International Inc., 1988)

 yang berada di Wales, Great Britain, atau United Kingdom. Sayangnya nama tersebut sampai sekarang saya tidak tahu bagaimana cara menyingkatnya dan cara membacanya, karena itu merupakan Bahasa Wales atau Welsh, salah satu bahasa di dunia yang hampir punah, karena orang Wales sendiri lebih suka berbahasa Inggris. Ibarat Bahasa Jawa Kromo Inggil, dimana orang Jawa sekarang lebih banyak yang bertutur dalam bahasa Indonesia daripada Bahasa Jawa Kromo Inggil. Namun Bahasa Jawa Kromo Inggil sulit untuk punah, karena penutur-nya sangat jauh lebih banyak dari etnis Welsh, mengingat etnis Jawa jumlahnya banyak sekali, tidak seperti etnis Welsh. Nama kota tersebut saya hanya bisa menulisnya dengan mengutip secara teliti dengan memelototi satu persatu hurufnya dari yang sudah ada, karena takut salah tulis, sementara untuk menyebut secara lisan saya menyerah deh!!! Saya hanya berpikir, kalau nama itu di tulis sebagai alamat pos, pasti akan memenuhi sampul suratnya. Itupun baru menulis nama kota, belum alamat lengkapnya. Kalau harus ditulis di papan nama kota orang pasti enggan untuk membacanya (atau malah membikin tercengang atau kenyang makan huruf-hurufnya). Jika akan memasang iklan di surat kabar, pasti berpikir 2 sampai 3 kali, karena pasti akan membengkak biayanya. Memakan banyak kolom atau baris itu pasti, dan tidak mungkin masuk dalam katagori iklan mini, iklan kecil, iklan kecik, atau apapun namanya, yang isinya hanya sekitar 3 atau 6 baris dalam satu kolom. Penduduknya sendiri mungkin tidak hafal dengan urutan deretan abjadnya. Sekali-sekali mungkin diperlukan “Lomba Menghafal Nama Tempat” tersebut. Saya sih tidak mau ikut. “Emangnya gue pikirin”…he..he..he..! Yang pasti nama yang panjang tersebut tidak ada singkatannya seperti nama “Yogyakarta”.

 Karena keunikannya tersebut, maka tempat tersebut menjadi destinasi para pelancong, hanya karena memilki daya tarik sebagai kota dengan nama terpanjang di dunia.

 Sudah menjadi rahasia umum (atau baru rahasia terbatas?), kalau terjadi polarisasi penulisan nama baku untuk “Yogyakarta” di media. Kompas Group, Media Indonesia Group, dan beberapa yang lain menuliskannya dengan “Yogyakarta”, sementara Jawa Pos Group di seluruh Indonesia selalu menulisnya dengan “Jogjakarta”. Demikian juga di media elektronik televisi. Di media televisi, termasuk MNC Group, Trans Group, hampir semua menulisnya dengan “Yogyakarta”, kecuali televisi milik Jawa Pos Group, seperti JTV, SBO, dan lain-lain, yang umumnya merupakan TV lokal di Indonesia, dengan jumlah sekitar 20 local television stations. Kalau anda mengirim naskah artikel untuk dimuat di harian Jawa Pos Group (Indo Pos, Rakyat Merdeka, Radar Lampung, Radar Jogja, Radar Malang, Radar Tegal, dan-lain-lain yang jumlahnya lebih kurang 150 penerbitan media cetak di seluruh Indonesia), jika anda menulis dengan nama “Yogyakarta” pasti teredit menjadi “Jogjakarta”, begitu juga sebaliknya jika anda menulis artikel di Kompas Group, maupun Media Indonesia Group, akan di-edit menjadi “Yogyakarta”. He..he..he.. nama kota saja ada diskriminasi. Semacam “silence war”, begitulah. Kalau saya menulisnya dengan “Yogyakarta” bukan “Jogyakarta” itu karena historis saja. Seperti halnya untuk tetap menuliskan nama baku almamater saya dengan ejaan lama “dj” bukan “j” pada nama Universitas Gadjah Mada. Contoh lain adalah untuk tetap menuliskan nama “Universitas Padjadjaran” bukannya “Universitas Pajajaran”. Juga tetap menulis dengan nama “Soetjipto” bukannya “Sucipto”. Di samping itu juga karena saya dilahirkan di kota tersebut, meskipun sudah hampir 30 tahun saya meninggalkannya. Kalau saya kebetulan menulis untuk Jawa Pos Group, sebelum diedit, saya pasti sudah menuliskannya dengan “Jogjakarta”, semata-mata supaya meringankan beban editornya, begitulah.

 Saya jadi ingat dengan penggantian nama baku Yogyakarta menjadi Jogjakarta yang diusulkan oleh salah seorang pakar pemasaran kepada Sri Sultan Hamengkubuwono X. Penggantian nama baku tersebut konon supaya lebih layak jual, demikian menurut yang saya dengar (Maaf, kalau saya salah dengar atau salah menerima informasi, yang berarti bahwa informasi itu salah. Mohon jika salah supaya diluruskan). Tentu saja penggantian nama tersebut menimbulkan pro dan kontra. Saya sebenarnya lebih condong tetap dengan nama lama Yogyakarta, dan itu juga dilakukan oleh orang-orang asli dari Yogyakarta. Alasan saya karena nama Yogyakarta adalah historis dari nama panjang Ngayogyakarto Hadiningrat.

 Penggantian nama menurutku tidak ada kaitannya dengan layak tidaknya untuk dijual, tergantung dari cara, metode dan sistem pemasarannya. Memperkuat brand tidak selamanya harus dengan mengganti nama. Contohnya Gudang Garam, Dji Sam Soe, merek-merek rokok yang sangat terkenal, yang menjadi terkenal karena nama tersebut diciptakan karena faktor historis. Ada lagi rokok merk Jeruk yang sangat populer di kawasan Jawa Tengah. Rokok kok diberi merk Gudang Garam, Dji Sam Soe, dan Jeruk, bahkan Bentoel, dan Nojorono. Nama-nama yang ketika dibuat dulu mungkin tidak akan terbayangkan akan dapat dijual. Tokh akhirnya nama-nama tersebut jika diganti akan banyak yang keberatan, karena reputasinya sudah dibangun sangat lama. Demikian juga nama baku Yogyakarta, tidak usah diganti dengan Jogjakarta, karena sejarah mencatat, tidak terlalu siginifikan dalam menjual potensinya, karena kota tersebut sudah dapat menjual dirinya sendiri dengan sukses. Kalau tokh Yogya tetap selalu ramai dengan pariwisatanya dan selalu menjadi tempat tujuan anak-anak muda untuk mengenyam pendidikan itu bukan karena perubahan nama bakunya.

 Sementara meskipun tidak diganti namanya, setelah pindah kekuasaan dari semula wilayah Mexico menjadi wilayah Amerika Serikat (setelah menang dalam perangnya dengan Mexico pada pertengahan abad sembilan belas), nama-nama berbau Spanyol tetap dipertahankan tanpa diubah menjadi nama-nama berbau Amerika-Inggris. Contoh nama-nama tersebut adalah Texas, Los Angeles, San Fransisco, San Antonio, El Paso, San Diego, Santa Fe, Arizona, Albuquerque, Tucson, Dallas, Alamo, Rio Grande, dan lain-lain. Nama-nama historis Indian juga tetap dipertahankan dan sangat populer seperti Chicago, Ohio, Cheyenne, Wyoming, Oklahoma, dan lain-lain.

 Dengan kata lain, nama Yogyakarta, tanpa diubah menjadi Jogjakarta tetap akan layak jual (tergantung masyarakatnya, sistem pemasaran dan kemampuan untuk memasarkannya). Faktor historis justru akan lebih menjual, khususnya dalam perpektif pariwisata. Jadi perubahan nama Yogyakarta menjadi Jogjakarta, menurut penulis adalah mengada-ada dan mubazir. Popularitas Yogyakarta sebagai tempat tujuan wisata, sebagai kota pelajar, sebagai sentra produsen dan tempat lahirnya salak pondoh, tidak ada kaitannya dengan penggantian nama. Sementara tentang nama-nama lain yang bukan nama baku, seperti Djogyakarta, Djokdjakarta, Jogdjakarta, Jogyakarta, Yogjakarta, dan lain-lain, biarkan saja berkembang sebagai nama-nama slank, yang dapat dijadikan bahan pajangan di kaos-kaos DAGADU atau kaos JOGER. Memang aneh, karena di Indonesia ini hanya nama kota Yogyakarta yang dapat memiliki sejuta nama lain yang tidak baku. Bandung, Jakarta, Solo, Palembang, Medan, Samarinda, Denpasar, Jayapura dan lain-lain kota di Indonesia sulit untuk dicari nama slank-nya.

 Nama tempat atau wilayah memang sering diganti namun karena alasan politis (jarang yang diganti karena alasan pemasaran), seperti New Amsterdam menjadi New York, Soekarnopura menjadi Jayapura, Puncak Soekarno menjadi Puncak Jaya, Noertanio menjadi IPTN kemudian PTDI, Jalan Raya Waru menjadi Jalan Letjend S. Parman, Jalan “X” menjadi Jalan Jendral Soedirman, Jalan Jendral A. Yani, atau Jalan Jendral Gatot Soebroto, dan lain-lain.

 Itulah sekelumit tentang nama Yogyakarta, tempat yang tak pernah sepi menjadi berita, dan masih tetap menjadi tempat kunjungan wisata tingkat dunia.

Version 3

The History of Yogyakarta

Yogyakarta was founded in 1755 and was the capital of Mataram kingdom when the Dutch came along. The Dutch granted the kings by title Sultan of Yogyakarta territory. Yogyakarta was also the scene of Indonesia’s most successful rebellions against the Dutch – firstly with Prince Diponegoro who waged a holy war against colonial rule from 1825 to 1830, and also serving as the capital of the newly independent republic after World War II when the Dutch reoccupied Batavia (Jakarta).

//   People have lived in Central Java and Yogyakarta area since immemorial time as over the centuries they have been attracted by the rich soil caused by the numerous volcanic eruptions. The earliest recorded history dares from the 9th century and was dominated by Hindu and Buddhist kingdoms that gave rise to the magnificent temples such as Prambanan, Ratu Boko, Kalasan, Sambisari and Borobudur found in this area. Yogyakarta itself dates back to the 18th century. In the early 18th century, Pakubuwono II ruled the Muslim Mataram Kingdom of the time. After he passed away, there was a conflict between his son and his brother, which was encouraged by the Dutch who were trying to colonize the region on a ‘divide and rule’ basis.The Kingdom was divided into two regions namely Surakarta Hadiningrat kingdom under Sunan Pakubuwono III rule, and Nyayogyakarta Hadiningrat kingdom under Sultan Hamengku Buwono I rule. He was the founder of the present line of Sultans who still live in the Kraton and play important role in Javanese culture. The second kingdom was later called Yogyakarta, now better known as Yogyakarta.

After the independence of the Republic of Indonesia was proclaimed, Sri Sultan Hamengkubuwono IX and Sri Paku Alam VIII launched a statement that the Kasultanan and Kadipaten (the two royal regions), belonged to Republic of Indonesia as a part of the whole area of Indonesia Republic. Since then, it has been known as Yogyakarta Special Region and was given a provincial status in 1950 in recognition of its important role in it fighting for the independence

the end @ copyright Dr Iwan Suwandy 2011

Driwanmasterpiece Cybermuseum:”The Merak Harbour Historic Collections”(Koleksi sejarah Kota Merak)

MUSEUM DUNIA MAYA DR IWAN S.

Dr IWAN ‘S CYBERMUSEUM

 THE FIRST INDONESIAN CYBERMUSEUM

  MUSEUM DUNIA MAYA PERTAMA DI INDONESIA

   DALAM PROSES UNTUK MENDAPATKAN SERTIFIKAT MURI

     PENDIRI DAN PENEMU IDE

      THE FOUNDER

    Dr IWAN SUWANDY, MHA

                     

     WELCOME TO THE MAIN HALL OF FREEDOM               

  SELAMAT DATANG DI GEDUNG UTAMA “MERDEKA

Showroom :

The Driwan’s  Cybermuseum

                    

(Museum Duniamaya Dr Iwan)

 

                    Please Enter

                   

              DMC SHOWROOM

(Driwan Masterpiece  Cybermuseum)Showcase:

The Merak City Historic collections

Frame One :

Dr Iwan collections

1.Merak City Postal History in early 20th century(Koleksi Sejarah  Pos Kota Merak sekitar tahun 1910)

After 25 years seaking, this day I find the rare MERAK CITY Halte straigth Line Stampedsend by trai across by boat in Sunda Straigt to cds (Kali)anda lampong (Stempel Kantor Pos Halte Kereta Api Merak, pada masa Hindia Belanda tidak ada Kantorpos dikota Merak)

 

this off cover still rare but if in complete posatl used cover very rare, please who have that collections please show us via comment,thanks You (Dr Iwan s notes). This the only one type of MERAK city Postal History ever found.

FRAME TWO :

THE VINTAGE MERAK CITY PICTURES COLLECTIONS(International Collections)

1.DEI Gouveneur general De Graaf visit Merak harbour in 1930

File:COLLECTIE TROPENMUSEUM Gouverneur-Generaal De Graeff tijdens een bezoek aan Merak of Poelau Merak TMnr 10018721.jpg
No higher resolution available.
   
   

2.The Japanese 2d Division celebrates landing at Merak, Java

File:The Japanese 2d Division celebrates landing at Merak, Java.jpg
No higher resolution available.
The_Japanese_2d_Division_celebrates_landing_at_Merak,_Java.jpg‎ (640 × 404 pixels, file size: 58 KB, MIME type: image/jpeg)
  • Description: The Japanese 2d Division celebrates landing at Merak, Java – 1 March 1942

FRAME THREE:

THE RECENCT MERAK CITY PICTURES COLLECTIONS

1.Merak Harbour 

arrived in merak, Merak,banten, Indonesia travel blog

arrived in merak

arrived in merak harbour waiting for ferry to bakauheni,buy a ticket for crossing, and then wait for the queue to hold the ship, this really bored, when cross was almost 3 hours

2.At Night From Merak to Bakauheni Lampong by Fery Boat across the Sunda Straits in Indonesian language

I ever across thhe Sunda Straight from Merak to bakauheni 4 time circa 1985 to 1990, the ferry still good but the rest room not so well ,we must pay extra bill if want to sit at the aircondaitioning room with Video across  that tie about one and half hours,but during the raining seasons at Dec until february the sea flow high until 2 meter we must add one hours more to cross. The recent info the fery became bad and some were burn and thinking, that made the truck and bus long queing look the article and  pictures below.

Government Add Ship To Overcome Congestion at the Merak

The government finally decided to re-add a fleet of ships to overcome the current congestion at the port of Merak ferry, Banten. It was decided at the cabinet meeting on Wednesday (1 / 3).

Minister of Transportation, Freddy Numberi stressed that the move adds another fleet was not an instruction from President Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). This time the government set up four military ships from the navy.

“Hopefully, about 27 or 28. The navy is 4, then from some companies such operations from NTT (East Nusa Tenggara) would pull us all. Because we see the volume of trade between Sumatra-Java greatest right now, “he said.

Freddy also attract a number of promising steps boats from other provinces are not going to disrupt operations in the waters of other regions. The addition of these vessels will continue until no new vessels entered the port of Merak.

“So hopefully we have the ASDP with the addition of more ships, hopefully can help in addition to that of other agencies to help,” he said.

In addition, the government hoped the operators involved are working together to increase the number of vessels both local and foreign private operators.

So far, Kemenhub claimed to have been carrying out the procurement of new ships with a capacity of 5000 GT (gross tons). Kemenhub deliberately raise capacity to 5,000 GT vessel of 200 GT to be able to deal with natural conditions, especially the big wave.

Previously, the government has added to the previous vessel of 23 vessels. The ship originated from Pelni. (Source)

about the recent travel read ib indonesian language story below :

Seputar Jalan Jalan kali ini berwisata ke Lampung dan kami akan menggunakan jasa penyembrangan kapal fery untuk dapat menyebrangi Selat Sunda dari pelabuhan Merak ke pelabuhan Bakauheni.
Seputar Jalan Jalan sengaja menggunakan kendaraan umum agar dapat menikmati selama di perjalanan, kami sengaja mencegat bus yang menuju ke Merak dari pintu toll Kebun Jeruk pukul 21:00 wib karena lebih efektif dan lebih cepat dan juga tidak harus menunggu terlalu lama di terminal. Tidak begitu lama kami menunggu akhirnya datang juga bus yang lewat (Primajasa) hanya mengeluarkan kocek 18 ribu rupiah sudah dapat menikmati perjalanan dengan bus ac yang sangat nyaman sekali.
Memakan waktu 2,5 jam perjalan kami dari pintu toll Kebun Jeruk menuju ke Merak, seandainya tidak banyak berhenti disetiap terminal mungkin hanya 1-1.5 jam kami sampai di pelabuhan Merak, kami tiba di pelabuhan merak pukul 23:30 wib akhirnya kami langsung beli tiket kapal roro dgn harga tiket 10 ribu rupiah per kepala untuk dewasa.

Kami dari Seputar Jalan Jalan melihat kapal-kapal very yang bersandar di pelabuhan Merak banyak kapal-kapal yang perawatannya kurang baik, terutama sekali di bagian toilet, emmm ….. aromanya seperti di terminal bus (bau pesing) begitu juga dengan yang di ruangan vip, disini kalau kita ingin masuk keruangan vip di kenakan tambahan biaya sebesar 5 ribu rupiah tetapi tergantung kapalnya, kalau ruangannya nyaman kita di kenakan biaya tambahan 7 ribu rupiah per penumpang.

Seputar Jalan Jalan memperhatikan keadaan kapal-kapal fery ini yang bersandar di pelabuhan Merak, kalau di perhatikan dari jam berlayarnya sudah sangat lama dan kebanyakan kapal-kapal fery ini berasal dari Negeri Matahari Terbit (Jepang).

Ada beberapa kapal untuk kelas ekonomi  yang ruangannya sangat tidak nyaman sekali untuk para penumpangnya, dilihat dari kondisi bangku penumpang untuk kelas ekonomi seperti tempat duduk bus metro mini dan kadang ada satu baris bangku (10 bangku) yang lepas entah kemana perginya dan juga tempat penyimpanan live jacket, disini kami jumpai tidak terkunci dan terbuka begitu saja, dan kami berpikir apakah cukup live jacket tsb untuk para penumpangnya ??, dan kami sangat yakin pasti ada tangan-tangan jahil yang mengambilnya karena posisi lemarinya terbuka dan tidak terkunci rapat kalau seperti ini siapa yang disalahkan dan yang bertanggung jawab ??? penumpang yang disalahkan atau para crew kapal yang teledor karena tidak memperhatikan inventaris kapal fery  ???.
Dan kami pernah menaiki beberapa kapal fery yang sangat-sangat nyaman dan bersih sekali dan interiornya yang sangat terawat, tempat penyimpanan live jacketnya sangat tertib dan rapih serta mudah dijangkau oleh para penumpang bila terjadi kecelakaan dan yang utama sekali adalah toiletnya yang bersih dan tidak bau pesing.

Di ruangan vip yg kami utarakan diatas tersebut, setiap kapal berbeda-beda fasilitasnya, ada yg vip lesehan, ada vip yg interiornya meniru cafe dan banyak lagi ragamnya. Untuk yang di kelas ekonomi jangan kuatir walaupun tempat duduknya tidak senyaman yg diruangan vip tetapi ada satu hiburan yang membuat semua penumpang terhibur selama perjalanan ke pelabuhan Bakauheni yaitu “organ tunggal” yang biduannya lumayan cantik-cantik dengan dandanannya yang sangat sexy-sexy ….. !!. Kebetulan sekali Seputar Jalan Jalan di dalam perjalanan ini malam minggu jadi suasana di kapal sangat ramai terutama di ramaikan oleh ulah para penggemar musik organ tunggal terutama sekali para supir truk yang mengangkut kebutuhan sembako dari pulau Jawa ke pulau Sumatera dengan rute jalan darat.

Rata-rata para supir ini berjoget dan menyawer si biduannya dan ada juga yang jahil sambil menyawer ke biduanitanya tangan yang satunya mencoel badan si biduan ….. dan yang dicoel malah bilang, tambah lagi sawerannya kalau nyoel…nyoel …., suasana semakin ramai dengan sorakan penumpang lainnya yang menyaksikan aksi yang joget penyanyinya. Selain hiburan organ tunggal masih banyak lagi hiburan-hiburan yang ada diatas kapal seperti hiburan para pedagang obat dan penjual pernak-pernik kebutuhan alat-alat listrik yang semuanya selalu ditingkahi dengan guyonan-guyonan yang membuat penumpang tertarik apa yang di jajakan si pedagang tsb.

Akhirnya kami memutuskan berkeliling di geladag kapal dan turun ke bawah tempat parkiran mobil, truk dan sepeda motor, ada kejadian yang unik Seputar Jalan jalan alami didalam kapal terutama di tempat parkir kendaraan. Ketika Seputar Jalan Jalan sedang menikmati secangkir coffe mix indocaffee tiba-tiba ada wanita menawarkan jamu dan pijat, dalam hati kami mau mijat dimana emangnya ada tempat untuk mijat ??, lalu kami dihampiri oleh seorang wanita menawarkan jamu dan jasa pijat,

Saking asyiknya kami menikmati coffe mix tanpa di tanya lagi si-wanita penjual jamu telah menghilang dari hadapan kami dan ketika kami tanya kepada si penjual kopi katanya si-wanita penjual jamu telah pergi karena takut melihat id card kami yang bertuliskan dari media online, dan menurut informasi si penjual kopi bisnis seperti ini sudah lama ada dan memang hanya sebagian penumpang yang mengerti, yang sering bepergian dan menyembrangi Selat Sunda ini dengan kapal fery.

Tanpa terasa perjalanan kami pun sudah hampir 3 jam lamanya diombang-ambingkan di atas lautan Selat Sunda tanpa dari kejauhan pelabuhan Bakauheni sudah tampak dengan wajahnya yang anggun yang dihiasi lampu-lampu terutama sekali pemandangan yang nampak sangat menonjol adalah Menara Siger, yang berada diatas pelabuhan Bakauheni.

Akhirnya kami tiba di pelabuhan Bakauheni tepat pukul 02:30 WIB, dan kami mencari bus jurusan terminal Rajabasa, bus ini baru berangkat dari pelabuhan Bakauheni tepat pukul 03:30 wib, hampir semua bus di terminal ini menjejalkan penumpangnya hingga penuh baru berangkat kalau belum penuh dalam artian kalau dilorong bus ini sudah terisi oleh penumpang  baru bisa berangkat kalau belum jangan harap bisa berangkat dan kita bisa berjam-jam lamanya di pelabuhan Bakauheni ini.
Seputar Jalan Jalan tak henti-hentinya memandangi pemandangan pagi melalui jendela kaca bus yang akan membawa kami ke Pasir Putih, di kanan jalan pemandangannya di penuhi oleh kebun pisang, pohon kelapa dan pohon durian dan di kiri jalan pemandangannya adalah lautan/pantai dan tambak-tambak udang serta tambak ikan bandeng. hampir 3 jam lamanya kami diatas bus, akhirnya kami sampai ditujuan dan kami segera bergegas mencari penginapan, banyak penginapan diwilayah ini dan hampir rata-rata sekelas melati dari harga 40-150 ribu rupiah.
Kami pun mendapatkan penginapan yang cukup nyaman dan kami memilih penginapan yang harganya 100 ribu (tv, ac dan double bad), dan kamipun akhirnya dapat meluruskan badan ini yang sangat lelah sekali selama dalam perjalanan.

FRAME FOUR :

THE HISTORY OF MERAK HARBOUR

Rapat Untuk Melawan VOC. Foto : www.jakarta.go.idDilakukan sejak tahun 1619 oleh Kerajaan Banten saat VOC berusaha hendak merebut bandar pelabuhan Merak, yang membuat orang Banten sangat marah dan menaruh dendam terhadap VOC. Apalagi VOC telah dengan sewenang-wenang merebut Jayakarta yang menjadi wilayah kekuasaan Kerajaan Banten dan berusaha memblokade pelabuhan dengan Kerajaan Banten.

Untuk menghadapi bahaya dan ancaman Kerajaan Mataram, VOC berusaha mendekati Kerajaan Banten. Tetapi Banten sudah terlanjur menaruh dendam terhadap Belanda. Pada Desember 1627 orang-orang Banten merencanakan pembunuhan terhadap J.P. Coen. Tetapi rencana itu bocor dan telah diketahui musuh. Kemudian mereka mengamuk dan membunuh beberapa orang Belanda.

Tahun 1633, ketika VOC bertindak sewenang-wenang terhadap orang-orang Banten yang berlayar dan berdagang di Kepulauan Maluku, maka pecah lagi peperangan antara Banten dan VOC. Keangkuhan orang Belanda ini memicu kemarahan dan sikap anti terhadap sifat kolonialis. VOC bukan saja ingin menguasai perdagangan tetapi juga menerapkan pajak yang tinggi terhadap rakyat Banten.

Orang-orang Banten merasa harga diri mereka dilecehkan. Mereka adalah penganut Islam kuat dan selalu memiliki semangat untuk menegakkan keadilan. Rakyat Banten menganggap orang-orang Belanda adalah orang-orang yang akan merusak tatanan kehidupan di tanah Banten.

Hubungan antara Kerajaan Banten dan VOC lebih gawat lagi ketika kerajaan itu diperintah oleh Sultan Abdulfatah. Abdulfatah yang dikenal gelarnya Sultan Ageng Tirtayasa (1650-1682). Hal ini dibuktikan dengan peperangan-peperangan yang dilakukannya melawan VOC atau Kompeni Belanda, baik di darat maupun di laut. Di daerah-daerah perbatasan antara Batavia dan Kerajaan Banten seperti di daerah Angke, ‘Pesing dan Tangerang sering terjadi pertempuran-pertempuran yang membawa korban kedua belah pihak.

Untuk melawan Banten, VOC membentuk pasukan-pasukan bayaran yang terdiri dari pelbagai suku bangsa seperti: Suku Bugis, Suku Bali, Suku Banda dan lain-Iainnya. Selain itu VOC juga terdiri dari pelbagai suku bangsa Indonesia yang bermukim dan bertempat tinggal di Jakarta, termasuk orangorang Cina, orang-orang Jepang serta keturunan orang-orang Portugis yang sudah menjadi kawula atau pegawai-pegawai VOC. Orang-orang Belanda senfliri yang tidak seberapa jumlahnya, karenanya selalu berada di garis belakang, namun dengan persenjataan lengkap bahkan mempergunakan senjata meriam.

VOC juga mendirikan dan memperkuat perbentengan-perbentengan mereka di perbatasan Kerajaan Banten, seperti di daerah Angke, Pesing dan lain-lainnya, Tahun 1658, dipimpin Raden Senopati Ingalaga dan Haji Wangsaraja menyerang Batavia di daerah Angke dan Tangerang. Kedatangan tentara Banten itu sudah diketahui VOC melalui mata-mata dan kaki tangan mereka.

VOC menyiapkan pasukan-pasukannya dan segera menyongsong tentara Banten itu. Dan terjadilah pertempuran seru. Dengan kapalkapalnya dan persenjataan meriam-meriamnya yang besar VOC mengurung serta menutup pelabuhan Banten, yang berakibat terhentinya perdagangan Kerajaan Banten.

Dengan cara yang demikian VOC banyak menimbulkan kerugian lawan, karena hidup kerajaan itu sebagian besar bergantung kepada perdagangan. Belanda yang licik berusaha memecah belah dan mengadu domba orang-orang Banten, yang berhasil mengadu domba Sultan Ageng Tirtayasa dan puteranya, Sultan Haji. Akhimya ayah dan anak itu bermusuhan dan berperang. Sultan Ageng Tirtayasa melawan VOC, sedang Sultan Haji berpihak pada VOC.

Pada bulan Pebruari 1682 pecah perang antara Sultan Ageng Tirtayasa dan Sultan Haji. Tanggal 6 Maret 1682 VOC mengirimkan bantuan di bawah pimpinan Saint Martin. Sultan Ageng Tirtayasa dipukul mundur dan bertahan di Tirtayasa. Januari 1683 Sultan Ageng Tirtayasa, Pangeran Purbaya serta sejumlah pasukan Banten berada di Parijan, Tangerang. Mereka tetap melanjutkan perjuangan melawan VOC. Kemudian Sultan Haji mengirim surat kepada ayahnya agar datang ke Istana, yang curiga memenuhi undangan puteranya.

Tanggal 14 Maret 1683 Sultan Ageng tiba di Istana dan diterima dengan baik, tetapi kemudian ditangkap dan dibawa ke Batavia. Tahun 1695 Sultan Ageng Tirtayasa wafat. Setelah Sultan Ageng wafat, sisa-sisa tentara Banten tetap mengadakan perlawanan.

Setelah Kesultanan Banten dihapus oleh Belanda, perjuangan melawan penjajah dilanjutkan oleh rakyat Banten yang dipimpin oleh ulama dengan menggelorakan semangat perang sabil. Keadaan ini berlangsung sampai Negara Republik Indonesia diproklamasikan kemerdekaannya. Hal ini terlihat di berbagai pemberontakan yang dipimpin oleh kiai dan didukung oleh rakyat, antara lain peristiwa “Geger Cilegon” pada tahun 1886 di bawah pimpinan KH Wasyid (w. 28 Juli 1888) dan “Pemberontakan Petani Banten” pada tahun 1888

the end @copyright Xr Iwan Suwnady 2011

Driwanmasterpiece Cybermuseum:”The Karawang City Historic Collections”(KOleksi Sejarah Kota Kerawang)

MUSEUM DUNIA MAYA DR IWAN S.

Dr IWAN ‘S CYBERMUSEUM

 THE FIRST INDONESIAN CYBERMUSEUM

  MUSEUM DUNIA MAYA PERTAMA DI INDONESIA

   DALAM PROSES UNTUK MENDAPATKAN SERTIFIKAT MURI

     PENDIRI DAN PENEMU IDE

      THE FOUNDER

    Dr IWAN SUWANDY, MHA

                     

     WELCOME TO THE MAIN HALL OF FREEDOM               

  SELAMAT DATANG DI GEDUNG UTAMA “MERDEKA

Showroom :

The Driwan’s  Cybermuseum

                    

(Museum Duniamaya Dr Iwan)

 

                    Please Enter

                   

              DMC SHOWROOM

(Driwan Masterpiece  Cybermuseum)Showcase:

The Karawang City Historic collections

Frame One :

Dr Iwan collections

Krawang Postal History in 19th century(Koleksi Prestamp sampul Pos Krawang 1853)Front

Back

2. Vintage Karawang City picture 1949(KNIL patrol)

3.Vintage Karawang Railway bridge

Frame Two:

Internasional Collections

1.city map

 2.mall

 3.san diego hill cementary

4.bus

 5,railway

6native dancer

 

7.native people

8. Buddish Temple

 9.Kerawang City pictures

Frame three :

The History of Kerawang City

Karawang

Karawang
Karawang
Karawang is located in Indonesia
Karawang

Location of Karawang in Indonesia

Coordinates: 6°18′0″S 107°0′0″E / 6.3°S 107°E / -6.3; 107
Country Indonesia
Province West Java
Government
 – Mayor  
Time zone WIB (UTC+7)
ZIP Code  

Karawang is the capital of the Karawang Regency of West Java, Indonesia. It is located 32 miles east of Jakarta.[1] Karawang has a population of 198 882 (2004).[1]

In March 2010 Karawang suffered severe flooding with 10,747 houses being flooded, 11,540 families affected and 44,071 persons affected

Kabupaten Karawang

Kabupaten Karawang
Lambang Kabupaten Karawang
Lambang Kabupaten Karawang 
 
Locator kabupaten karawang.png
Peta lokasi Kabupaten Karawang
Koordinat : 107º02`–107º40` BT, 5º56`–6º34` LS
Motto
Semboyan
Slogan pariwisata
Julukan  
Demonim
Provinsi Jawa Barat
Ibu kota Karawang
Luas 1.737,30 km²
Penduduk  
 · Jumlah 2.073.356 (2007)[1]
 · Kepadatan 1.193 jiwa/km²
Pembagian administratif  
 · Kecamatan 30
 · Desa/kelurahan 309
Dasar hukum  
Tanggal  
Hari jadi {{{hari jadi}}}
Bupati Ade Swara
Kode area telepon 0267, 0264 (Khusus Wilayah Eks-Kawedanan Cikampek)
APBD {{{apbd}}}
DAU  
Suku bangsa {{{suku bangsa}}}
Bahasa {{{bahasa}}}
Agama {{{agama}}}
Flora resmi {{{flora}}}
Fauna resmi {{{fauna}}}
Zona waktu {{{zona waktu}}}
Bandar udara {{{bandar udara}}}

Situs web resmi: http://www.karawangkab.go.id/

Kabupaten Karawang, adalah sebuah kabupaten di Provinsi Jawa Barat, Indonesia. Ibukotanya adalah Karawang. Kabupaten ini berbatasan dengan Kabupaten Bekasi dan Kabupaten Bogor di barat, Laut Jawa di utara, Kabupaten Subang di timur, Kabupaten Purwakarta di tenggara, serta Kabupaten Cianjur di selatan.

Toponomi dan Sejarah

Kata karawang muncul pada Naskah Bujangga Manik dari akhir abad ke-15 atau awal abad ke-16. Bujangga Manik menuliskan sebagai berikut:

leteng karang ti Karawang,
leteng susuh ti Malayu,
pamuat aki puhawang.
Dipinangan pinang tiwi,
pinang tiwi ngubu cai,

Dalam bahasa Sunda, karawang mempunyai arti penuh dengan lubang. Bisa jadi pada daerah Karawang jaman dulu banyak ditemui lubang.

Cornelis de Houtman, orang Belanda pertama yang menginjakkan kakinya di pulau Jawa, pada tahun 1596 menuliskan adanya suatu tempat yang bernama Karawang sebagai berikut:

Di tengah jalan antara Pamanukan dan Jayakarta, pada sebuah tanjung terletak Karawang.[2]

Meskipun ada sumber sejarah primer yaitu Naskah Bujangga Manik dan catatan dari Cornelis de Houtman yang menyebutkan kata Karawang, sebagian orang menyebutnya Kerawang adapula yang menyebut Krawang seperti yang ditulis dalam buku miracle sight west java yang diterbitkan oleh Provinsi Jawa Barat. Sedangkan dalam buku Sejarah Karawang yang ditulis oleh R. Tjetjep Soepriadi disebutkan asal muasal kata tersebut, pertama berasal dari kata ‘Karawaan’ yang mengandung arti bahwa daerah ini banyak terdapat rawa, hal ini dibuktikan dengan banyaknya daerah yang menggunakan kata rawa di depannya seperti, Rawa Gabus, Rawa Monyet, Rawa Merta dan lain-lain. selain itu berasal dari kata Kera dan Uang yang mengandung arti bahwa daerah ini dulunya merupakan habitat binatang sejenis monyet yang kemudian berubah menjadi kota yang menghasilkan uang, serta istilah lain yang berasal dari Belanda seperti Caravan dan lainnya.

Wilayah Karawang sudah sejak lama dihuni manusia. Peninggalan Situs Batujaya dan Situs Cibuaya menunjukkan pemukiman pada awal masa moderen yang mungkin mendahului masa Kerajaan Tarumanagara. Penduduk Karawang semula beragama Hindu dan wilayah ini berada di bawah kekuasaan Kerajaan Sunda. Setelah Kerajaan Sunda runtuh maka Karawang terbagi dua. Menurut Cerita Sajarah Banten, Sunan Gunungjati membagi Karawang menjadi dua bagian; sebelah timur masuk wilayah Cirebon dan sebelah barat menjadi wilayah Kesultanan Banten.[3] Agama Islam mulai dipeluk masyarakat setempat, pada masa Kerajaan Sunda, setelah seorang patron bernama Syekh Hasanudin bin Yusuf Idofi, konon dari Makkah, yang terkenal dengan sebutan “Syekh Quro”, memberikan ajaran; yang kemudian dilanjutkan oleh murid-murid Wali Sanga. Makam Syeikh Quro terletak di Pulobata, Kecamatan Lemahabang, Karawang.

Sebagai suatu daerah berpemerintahan sendiri tampaknya dimulai semenjak Karawang diduduki oleh Kesultanan Mataram, di bawah pimpinan Wiraperbangsa dari Sumedang Larang tahun 1632. Kesuksesannya menempatkannya sebagai wedana pertama dengan gelar Adipati Kertabumi III. Semenjak masa ini, sistem irigasi mulai dikembangkan di Karawang dan perlahan-lahan daerah ini menjadi daerah pusat penghasil beras utama di Pulau Jawa hingga akhir abad ke-20.

Selanjutnya, Karawang menjadi kabupaten dengan bupati pertama Panembahan Singaperbangsa bergelar Kertabumi IV yang dilantik 14 September 1633. Tanggal ini menjadi hari jadi Kabupaten Karawang. Selanjutnya, bupatinya berturut-turut adalah R. Anom Wirasuta 1677-1721, R. Jayanegara (gelar R.A Panatayuda II) 1721-1731, R. Martanegara (R. Singanagara dengan gelar R. A Panatayuda III) 1731-1752, R. Mohamad Soleh (gelar R. A Panatayuda IV) 1752-1786.[4] Pada rentang ini terjadi peralihan penguasa dari Mataram kepada VOC (Kompeni).

Pada masa menjelang Kemerdekaan Indonesia, Kabupaten Karawang menyimpan banyak catatan sejarah. Rengasdengklok merupakan tempat disembunyikannya Soekarno dan Hatta oleh para pemuda Indonesia untuk secepatnya merumuskan naskah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia pada tanggal 16 Agustus 1945.

Kota Karawang juga menjadi inspirasi sastrawan Chairil Anwar menulis karya Antara Karawang-Bekasi karena peristiwa pertempuran di daerah sewaktu pasukan dari Divisi Siliwangi harus meninggalkan Bekasi menuju Karawang yang masih menjadi daerah kekuasaan Republik.

Kecamatan Rengasdengklok adalah daerah pertama milik Republik Indonesia yang telah berani mengibarkan bendera Merah Putih sebelum Proklamasi kemerdekaan Indonesia.[rujukan?] Oleh karena itu selain dikenal dengan sebutan Kota Lumbung Padi Karawang juga sering disebut sebagai Kota Pangkal Perjuangan. Di Rengasdengklok didirikan sebuah monumen yang dibangun oleh masyarakat sekitar, kemudian pada masa pemerintahan Megawati didirikan Tugu Kebulatan Tekad untuk mengenang sejarah Republik Indonesia.

 Topografi

Sebagian besar wilayah Kabupaten Karawang adalah dataran rendah, dan di sebagian kecil di wilayah selatan berupa dataran tinggi.

Geologi

Wilayah Kabupaten Karawang sebagian besar tertutup dataran pantai yang luas, yang terhampar di bagian pantai Utara dan merupakan batuan sedimen yang dibentuk oleh bahan–bahan lepas terutama endapan laut dan aluvium vulkanik. Di bagian tengah ditempati oleh perbukitan terutama dibentuk oleh batuan sedimen, sedang di bagian Selatan terletak Gunung Sanggabuana dengan ketinggian ± 1.291 m diatas permukaan laut.

 Iklim

Sesuai dengan bentuk morfologinya Kabupaten Karawang terdiri dari dataran rendah yang mempunyai temperatur udara rata-rata 270C dengan tekanan udara rata-rata 0,01 milibar, penyinaran matahari 66 persen dan kelembaban nisbi 80 persen. Curah hujan tahunan berkisar antara 1.100 – 3.200 mm/tahun. Pada bulan Januari sampai April bertiup angin Muson Laut dan sekitar bulan Juni bertiup angin Muson Tenggara. Kecepatan angin antara 30 – 35 km/jam, lamanya tiupan rata-rata 5 – 7 jam.

Hidrografi

Kabupaten Karawang dilalui oleh aliran sungai yang melandai ke arah utara: Ci Be’et yang mengalir dari selatan karawang menuju sungan citarum yang juga menjadi batas antara Kabupaten Karawang dan Bekasi,Ci Tarum, yang merupakan pemisah Kabupaten Karawang dari Kabupaten Bekasi, dan Ci Lamaya, yang merupakan batas wilayah dengan Kabupaten Subang. Selain sungai, terdapat juga tiga buah saluran irigasi yang besar yaitu Saluran Induk Tarum Utara, Saluran Induk Tarum Tengah dan Saluran Induk Tarum Barat yang dimanfaatkan untuk pengairan sawah, tambak, dan pembangkit tenaga listrik.

Curah Hujan

Curah hujan di suatu tempat dipengaruhi oleh keadaan iklim, keadaan orografhi dan perputaran/ pertemuan arus udara. Oleh karena itu, jumlah curah hujan sangat beragam menurut bulan. Catatan rata-rata curah hujan di Kabupaten Karawang selama tahun 2005 mencapai 2.534 mm dengan rata-rata curah hujan per bulan sebesar 127 mm, lebih tinggi jika dibandingkan dengan rata-rata curah hujan pada tahun 2004 yang mencapai 1.677 mm dengan rata-rata curah hujan per bulannya mencapai 104 mm. Pada tahun 2005 rata-rata curah hujan tertinggi terjadi di Kecamatan Tegalwaru yaitu mencapai 318 mm per bulan, dan yang terendah terjadi di Kecamatan Talagasari yaitu hanya 51 mm.

 Demografi

 

Penduduk umumnya adalah suku Sunda yang menggunakan Bahasa Sunda, tetapi di Karawang terdapat beberapa bahasa dan budaya diantaranya budaya dan bahasa Betawi di daerah utara Karawang tepatnya sebagian Kecamatan Batujaya dan Kecamatan Pakisjaya serta bahasa Jawa Cirebonan di jalur Utara Kecamatan Tempuran Kecamatan Cilamaya. Masyarakat pada umumnya memiliki mata pencaharian yang beragam, tetapi banyak yang bekerja sebagai petani

 Administratif

Kabupaten Karawang terdiri atas 30 kecamatan, yang dibagi lagi atas sejumlah desa dan kelurahan. Pusat pemerintahan di Kecamatan Karawang Barat.

Potensi

  • Di Kabupaten Karawang berdiri beberapa Kawasan Industri, antara lain Karawang International Industry City KIIC, Kawasan Surya Cipta, kawasan Bukit Indah City atau BIC di jalur Cikampek(Karawang)
  • Di bidang pertanian, Karawang terkenal sebagai lumbung padi Jawa Barat.

 Transportasi

Ibukota kabupaten Karawang berada di jalur pantura. Kabupaten Karawang dilintasi ruas jalan tol Jakarta-Cikampek(Karawang) serta Cipularang (Cikampek(Karawang)-Purwakarta-Padalarang). Cikampek merupakan kecamatan yang berada di bagian timur Kabupaten Karawang. Di Cikampek terdapat stasiun kereta api

yang merupakan pertemuan dua jalur utama dari Bandung dan dari Cirebon menuju Jakarta.

 Olahraga

  • Karawang adalah tuan rumah PORPROV Jabar X tahun 2006.
  • Klub olahraga yang berbasis di kabupaten Karawang diantaranya adalah Persika dan Pelita Jaya FC (sepak bola), yang merupakan klub kesayangan warga Karawang. Persika dan Pelita Jaya menggunakan Stadion Singaperbangsa sebagai kandang.
  • PRSI Karawang yang di koordinir oleh Bp. H. Tatang, sesepuh karawang yang telah membawa PRSI karawang ke arah yang lebih baik.

Demografi

Penduduk Menurut Jenis Kelamin
Tahun/
Jenis Kelamin
2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008
Laki-laki 916.554 935.634 972.174 968.511 985.727
Perempuan 872.971 927.205 931.337 965.761 985.736
Total 1.799.525 1.862.839 1.903.511 1.934.272 1.971.463
Sumber: [5]
Jumlah penduduk, Rumahtangga dan Rata-rata penduduk per rumahtangga
Tahun/
Rincian
2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008
Penduduk 1.934.272 1.971.463
Rumahtangga 475.251 490.414
Penduduk/Rumahtangga 4,07 4,02
Sumber: [6]

Kota kembar

 

the end @ copyright Dr Iwan Suwandy 2011

Driwanmasterpiece Cybermuseum:”The Dai Nippon Military Postal stationer card”(Koleksi Kartus Pos Militer Balatentara Nippon)

MUSEUM DUNIA MAYA DR IWAN S.

Dr IWAN ‘S CYBERMUSEUM

 THE FIRST INDONESIAN CYBERMUSEUM

  MUSEUM DUNIA MAYA PERTAMA DI INDONESIA

   DALAM PROSES UNTUK MENDAPATKAN SERTIFIKAT MURI

     PENDIRI DAN PENEMU IDE

      THE FOUNDER

    Dr IWAN SUWANDY, MHA

                     

     WELCOME TO THE MAIN HALL OF FREEDOM               

  SELAMAT DATANG DI GEDUNG UTAMA “MERDEKA

Showroom :

The Driwan’s  Cybermuseum

                    

(Museum Duniamaya Dr Iwan)

 

                    Please Enter

                   

              DMC SHOWROOM

(Driwan Masterpiece  Cybermuseum)Showcase:

The Dai Nippon(imperial Japan) Military Postcard(Koleksi Kartupos Militer Balatentara Nippon)

Frame One:

The Dai Nippon Military Postcard(Dr Iwan Collections)

Please the native collectors help me to translate the postcard ‘s info from native Nippon katakana  or hiragana langguage to english languague thank(Dr Iwan S.)

A Japan

B.Occupation Indonesia

1.Tamanan Gun Cho(Tamanan was  an area  at East java -military Command),used DEI postal Stationer because this time  Dai Nippon Military Postalcard  not exist.

2.Military Postcard send via military courier from Magelang to Djatinegara.Read the translate .

C.Occupation South Korea

D.Occupation China

E.Occupation Malaya

F.Occupation Myanmar(Burma)

Frame Two:

The Dai Nippon Military Picture Postcard Found In Indonesia (Dr Iwan Collections)

A.The Central Museum Jakarta Indonesia Ethnic Pictures

1.the Picture postcard cover

Gunseikanbu(Dai Nippon Military Office) Moesioem Jakarta(Jakarta Museum)

2.The Indonesia Ethnic Picture

B.The Japanese Military Propaganda Pictures

FrameThree:

The International Collections

1.Dai Nippon Prisoner Of War Java Card

the end @ copyright Dr Iwan suwandy 2011

Driwanmasterpiece Cybermuseum:”Lukisan sketch Pastor katolik semarang Saat dalam Kamp internir Jepang 1943 (Dai nippon Internering camp painted by Catholic Priest)

MUSEUM DUNIA MAYA DR IWAN S.

Dr IWAN ‘S CYBERMUSEUM

 THE FIRST INDONESIAN CYBERMUSEUM

  MUSEUM DUNIA MAYA PERTAMA DI INDONESIA

   DALAM PROSES UNTUK MENDAPATKAN SERTIFIKAT MURI

     PENDIRI DAN PENEMU IDE

      THE FOUNDER

    Dr IWAN SUWANDY, MHA

                     

     WELCOME TO THE MAIN HALL OF FREEDOM               

  SELAMAT DATANG DI GEDUNG UTAMA “MERDEKA

Showroom :

The Driwan’s  Cybermuseum

                    

(Museum Duniamaya Dr Iwan)

 

                    Please Enter

                   

              DMC SHOWROOM

(Driwan Masterpiece  Cybermuseum)Showcase:

The Japanese Internering Camp book sketch illustration Collections 

Frame One:

The front Cover Sketch

Front page

Foeword

The sketch of Dai Nippon Ship Landing at Tandjong Priok

Last Page (the painter profile)

Frame Two: The Kesilir

1)The sketch of Kesilir bridge over Kali baroe

2) The map of Kesilir at East Java

The Dutch Priest bring to the Kesilir Camp east Java by dai Nippon Military from semarang

3)At Kesilir the priest worked as

 irrigation “mandoer”

,Cutting Coconut tree

,made the bread

, smoking

,made Nasi goreng

 coocking

Menumbuk Padi (rice paddle)

Witte Donderdaag(Kemis Putih)

Bruder Kloster at Kesilir

Frame  Three :

Bandoeng and Tjimahi

Work at the railway built project

Frame Four:

Sketch during Internering(POW camp) at Jogya and Bara

The old “sandal”

In the Djogja Fort

Frame Four

Tjimahi and Baros

This exhibition special for the remam brance of the Catholic priest family which their have been in the interner (prison of War) by the Dai Nippon Military in Java in 1943-1945.Please they send their comment and more infor about them.

FRAME SIX.

THE JAPANESE POW CAMPS

Please look the picture of Japanese Prisoner oF war Below:

Tenko

Follow the experiences of a group of British, Australian and Dutch women captured in Singapore during 1942. The 1980s captivating drama series portrays the hardship of life in a Japanese Prisoner-of-war camp.

Prisoner of War

An Allied prisoner of war lies weakly on his cot, almost reduced to a bundle

An Allied prisoner of war lies weakly on his cot, almost reduced to a bundle

Japanese Prisoner of War Bathing

Japanese Prisoner of War Bathing

Featherston prisoner of war camp

Featherston prisoner of war camp

 

Photo of POWs taken in 1945

Extracts from NO SURRENDER

p 113
‘B’ Garage Party was notorious for the punishments meted out, and became known as the poko, or ‘beating-up’, party. Men came back from work bleeding and sick, not as a result of the hard work-Lord knows, that was bad enough-but of the general beatings they had suffered during the day. The party was in charge of a Nip Chief Petty Officer, with a PO second in command, ad an appropriately cruel and mean set of ratings who never missed an opportunity of savaging a prisoner.
At the end of the working day the prisoners, physically exhausted after non-stop cement-mixing, or carrying heavy loads, were told to fall in, while grinning with delight, the Nip guards would rush off to fetch their implements. The POWs would wait apprehensively in rows of five for the proceedings to begin.
The Chief would then walk along the front row asking questions in Malay. If answered correctly he would repeat the question in Japanese. If no answer was forthcoming the unfortunate individual would then be pulled from the ranks and literally thrown to the waiting guards, who would start beating and kicking him, then throwing him judo style until either he lapsed into unconsciousness or his limbs gave under the assault.
On other occasions we would be drilled, with the orders rapped out in Japanese. Soon chaos would ensue, as none of us knew any but the basic commands. A mass beating would then take place, no one being excused. Tools for this beating would include baseball bats, bamboo canes split so that they cut the flesh, the occasional horsewhip, which usually managed to churn out pieces from flesh was left on our bodies. The most cruel and terrible weapon was a solid one-inch-diameter iron bar, whose owner was known as the ‘Iron-Bar Merchant’. Such treatment was to say the
least, poor recompense for a hard days work.

p 115
. . .This in many case would be the last straw for men who had literally slaved all day, been beaten up savagely, and wearily walked back to camp then to be savaged again by Yoshida and his sadistic guards. The example set by Yoshida to his ape-like guards made sure that a tyrannical standard of toughness and unveiled cruelty was maintained. and punishment was only a portion of the cross we had to bear-there was in addition hunger, disease, backbreaking toil, and the complete severance from our homes and loved ones. to them we were now the legion of the dead.

p 158
For many POW’s survival was linked to their initial physical condition and the amount of hardship and punishment they were able to withstand. Those who were tough and strong when they first marched through the gates of Macassar camp had a head start on their less fortunate brethren, and though nearly all of us eventually fell sick, those who had the initial reserves of strength managed to weather those critical
years of imprisonment. . .

p 184
. . .As the third year of our captivity drew on, the deaths mounted. It seemed a long while since we had been shocked by the news of five men dying in one day. Now the death cart was kept waiting at the end of each day, waiting just in case of a ‘late departure’. Then it would be rushed off to the burial ground, where the prisoners were interred with indecent haste and virtually unmorned. It made my blood boil to realise that in the hospital less than a mile away were medical supplies that could have put the cart out of business.
Such was the apathy at this stage that as the grim burial party passed through the camp entrance only one question was asked: How many today?
The eerie parting note of the bugler sounding the ‘Still’ was the only record of their departure; but they had gone beyond the walls of the camp and the guards would
molest them no more. . .

p 185
. . .Virtually everyone in the camp was now sick. All men who could stand, and many who could not, were forced out of camp to work. . .
. . .The guards showed a sadistic delight in the pain and torture endured by those
poor wretches.

p 196
Inside the camp there was much speculation. One story was that the war was over. . .. . .We waited apprehensively as the Dutch Commandant climbed on to the platform and began to speak in Dutch. We listened without comprehending, but as he spoke we began to sense his meaning, confirmed for us by a Dutchman in the ranks who muttered, ‘The war is over, The war is over’. . .
. . .pandemonium broke loose; tears, shouts, screams, kissing and handshaking.

p 202
Things now began to move, Event followed event, sometimes in bewildering confusion.

p 203
The Australian officer walked slowly down the gangway, preceded by determined Australian guards with rifles at the ready, coolly surveying the Japanese onlookers. The Japanese admiral moved forward with a bunch of flowers which he offered to the Australian.
The officer ignored the Admiral and the reception party, heading instead for the wizened POWs, shaking hands with each member of that special guard. With that clasp of the hand we returned to our own world and our self respect.
To this day I can see the look of disdain on the Australian officer’s face as he tossed the proffered bunch of flowers into the Java Sea.

PERTH
On the way home at last:
HMS Maidstone arrived in Fremantle, the port near Perth, on September 30, 1945, to a rousing welcome from the Western Australian public.

FRAME SEVEN :

THE STORY OF JAPANESE POW CAMPS

Timeline:
22 Oct 1942:
2500 POWs depart Tanjeong Priok (Port of Batavia) on Yoshida Maru.
25 Oct 1942: Arrive Singapore- many depart for Thailand-Burma Railway (Death Railway)
30 Oct 1942: Dainichi Maru departs for Moji
12 Nov 1942: Arrive Takao on Formosa; remain for 3 days
24 Nov 1942: Arrive and anchors off Moji
26 Nov 1942: POWS depart Dainichi in summer clothes
27 Nov 1942-100 British POWS arrive from Singapore on Dainichi Maru. Established as YAHATA Provisional Fukuoka POW CAMP MUKAIJIMA Branch Camp 14 (Fukuoka-14B)
1 Jan 1943– Renamed FUKUOKA POW CAMP MUKAIJIMA Branch Camp
1 Mar 1943-Renamed Fukuoka 11-B
14 Jul 1943– Jurisdictional control transferred to ZENTSUJI POW CAMP
7 Sep 1944- 116 Americans arrive from Philippines on the Noto Maru.
13 Apr 1945
– Established as Hiroshima 1-D (formerly ZENTSUJI POW CAMP 1-D)
Aug 1945 Renamed Hiroshima 4-B
12 Sept 1945 Rescue effected; departed on 15th


Short Overview: per Koshi Kobayashi.
There were over 90 prison camps throughout Japan, and about 32,000 prisoners of war in all. Here in Mukaishima, the Hiroshima Prisoner of War Sub-camp No.4 was set up and the number of prisoners of war, including British and American men, totaled 216. First, in November 1942, 100 British airmen were shipped from Indonesia to Mukaishima on the Dainichi Maru, and put to work in the shipyards. Of these, 23 men died. Later, in September 1944, 116 American soldiers came up from the Philippines on the Noto Maru, and at the end of war all of these returned to their home country (one American died).

Labor: Shipyard labor
Hell Ships:
British:
All 116 (RAF) arrived Dainichi Maru 27 Nov 1942; previously captured on Java
Americans: 100 came from Noto Maru and arrived 7 Sept 1944, majority of men from theNichols Field Detail; Guam men had arrived at Zentsuji on the Argentina Maru (Jan 1942).


American Roster – Source NARA RG 407 Box 103 plus confirmation of name on photograph; 118 men plus one deceased.
British Rescue Roster – Source NARA RG 407 Box 103
Roster of deceased British (From Memorial at camp site)
Special: John Ovens BBC Interview. Notes that he was sent to Australia for several weeks of convalescence (via carrier HMS Ruler) thence flown home to England.
Deceased: (PDF) Developed by Japan POW Network
Data Set: Excel spreadsheet includes much more information


External Link: Japanese school in Mukaishima honors the men of this camp. Developed under the guidance of Koshi Kobayashi. Very detailed and well done. About 1/3rd down the page are group pictures of men on the beach before the rescue.


 

Picture: Major William O. Dorris accepting the surrender of Japanese Camp Commander
80-G-346525: Former Japanese commandant of POW camp, Fukuoka #3, Major Rikatake, yielding sword to Major W.O. Dorris, USA, present commandant of POW camp in Tobata, Kyushu, Japan. [Fukuoka #3] 15 Sep 1945. Major Dorris was leader of the rescue team for the Fukuoka camps. Records indicate he was rescued in the Philippines in early 1945.


Forbes Diary: Excellent diary detailing Tanagawa and this camp- while known at Fukuoka #11.
Special: Article regarding Pvt Edwards testimony against fellow American at Courts Martial. Navy man, Hirshberg, accuse of collaboration and beatings of fellow Americans. (Pending)


The Second  World War – 605 Squadron RAFDerrick William Shouler joined the RAF as a wireless operator in 1940, training at Yatesbury and joining the 605 fighter squadron as volunteer reserve Aircraftsman 1st Class 906113. In February 1940 the squadron moved to Scotland, but returned south in May to fly patrols over northern France for a week before moving back to Drem. It moved south again in September for the closing stages of the Battle of Britain and in December began escorting bombers over northern France. At the end of March 1941, it moved to the Midlands for day and night defensive patrols and in October was posted overseas. It reached Singapore in January 1942, too late to affect the campaign, and was evacuated to Sumatra on arrival in the area, moving later to Java. There it became caught up in the Japanese invasion and after operating a collection of surviving aircraft, was either evacuated in small groups or captured by the Japanese by early March.  Derrick was captured and became a prisoner of war at a Japanese camp in Java.  Below are pictures of an official Japanese POW card, sent home by Derrick, comprising 3 stereotyped, ‘permitted’ sentences and 20 words of ‘his own text’. 

In 1943, the Japanese decided to ship the sick back to Java.  A total of 640 men, including a number of Japanese sick patients, were taken on board the 4,645-ton passenger-cargo ship Suez Maru.  In two holds there were 422 sick British (of which 221 were RAF servicemen, including Derrick William Shouler) and 127 sick Dutch prisoners, including up to twenty stretcher cases, the Japanese patients filled the other two holds. 

Escorted by a minesweeper W-12, the Suez Maru set sail from Port Amboina but while entering the Java Sea and at about 327 kilometres east of Surabaya, Java (Netherlands East Indies – off Kangean Islands North of Bali, 6º 22′ South by 116º 35′ East.) the vessel was torpedoed by the American submarine USS Bonefish.  The USS Bonefish was on her second war patrol and was commanded by Cdr. Tom Hogan. Following the torpedoing, the Suez Maru started to list, and water poured into the holds drowning many, those that managed to escape, so far, swam away from the sinking ship.  The Japanese mine sweeper W-12 then picked up the Japanese survivors, but left between 200 and 250 men in the sea.  At 14.50, the minesweeper, W-12, under orders from Captain Kawano, opened fire on the remaining survivors, using a machine gun and rifles. Rafts and lifeboats were rammed and sunk by the W-12. The firing did not cease till all the prisoners had been killed, the minesweeper then sped off towards Batavia (Jakarta) at 16.30 hours. 

Sixty-nine Japanese had died during the attack, 93 Japanese soldiers and 205 Japanese sick patients were rescued by the Japanese.  Of the 547 British and Dutch prisoners, there is reported to be one survivor, a British soldier, Kenneth Thomas, who was picked up twenty-four hours later by the Australian minesweeper HMAS Ballarat.

No one was ever brought to justice for this war-crime.  The USS Bonefish was later sunk by the Japanese in 1945, becoming the last USS Submarine to be sunk in World War Two.

18th June 1945 – the last USS Submarine to be sunk.

USS Bonefish (Cdr. L.L. Edge) is sunk with all hands by the Japanese escort vessels Okinawa, Kaibokan No.63, Kaibokan No.75, Kaibokan No.158 and Kaibokan No.207 in the Sea of Japan in position 37.18N, 137.55E.

Suez Maru Roll-of-Honour

605 Squadron Roll-of-Honour.

Derrick also has an entry in the RAF memorial book in St. Clement Danes, the RAF church, in the Strand London.


 

 Derrick Shouler and Margaret  605 Squadron emblem.  Report in the Torquay Times 11th. June 1943
  Card sent by Derrick from Japanese POW Camp Java
     
  

the end @copyright Dr iwan suwandy 2011

Driwanmasterpiece Cybermuseum:”The World Pop Song Fetival Tokyo 1973 at Budokan Hall”(Medali Festival Penyanyi Pop Dunia)

MUSEUM DUNIA MAYA DR IWAN S.

Dr IWAN ‘S CYBERMUSEUM

 THE FIRST INDONESIAN CYBERMUSEUM

  MUSEUM DUNIA MAYA PERTAMA DI INDONESIA

   DALAM PROSES UNTUK MENDAPATKAN SERTIFIKAT MURI

     PENDIRI DAN PENEMU IDE

      THE FOUNDER

    Dr IWAN SUWANDY, MHA

                     

     WELCOME TO THE MAIN HALL OF FREEDOM               

  SELAMAT DATANG DI GEDUNG UTAMA “MERDEKA

Showroom :

The Driwan’s  Cybermuseum

                    

(Museum Duniamaya Dr Iwan)

 

                    Please Enter

                   

              DMC SHOWROOM

(Driwan Masterpiece  Cybermuseum)Showcase:

The International Pop song Festival at Budokan Hall Medal 1973 . 

Nippon Budokan Hall Main entrance

Budokan Hall Tokyo

Frame One:

Dr Iwan Collections

1.Tailside

2.Headside

Frame Two :

Kisah Festival Lagu Pop 1973

Festival Lagu Pop 1973

Menuju bintang liwat lotre

Festival lagu pop tingkat nasional 1973 di rri jakarta telah selesai. para finalis punya bobot kemam puan sama. panitia kesulitan dalam menentukan dasar penilaian. arah orientasi festival perlu dirubah.MARGIE SEGERS yang mendapat nomor undian 5 melepaskan teriakanterakhir.

Margie Segers – Cinta

Wajahnya mendongak ke atas serta matanya mengecil
dengan tangan-kanannya menuangkan plat pengeras suara ke
mulutnya yang ternganga sementara tangan kirinya membuka ke
samping. Dengan itu Margie telah menutup babak terakhir malam
final pestival Lagu-Lagu Populer tingkat Nasional 1973 yang
berlangsung di Studio V RRI Jakarta Minggu malam tanggal 15 Juli
yang lalu. Tepuk tangan penonton mengiringi tubuh Margie yang
membungkuk memberi hormat. Tapi rupanya Margie bukan tidak
menyadari keadaan. Setelah meluruskan tubuh kembali nampak
wajahnya sudah berubah pucat dan ketika menyantelkan alat
pengeras suara ke tiangnya tangan Margie kelihatan agak
gemetaran. Bahkan ketika meninggalkan pentas, langkah-langkahnya
sudah tak teratur lagi. Dan ketika Pranajaya selaku ketua dewan
juri yang terdiri dari 17 orang mengumumkan hasil-hasil
pertandingan di bagian penyanyi, nama Margie memang disebutnya
pertama tapi dengan kedudukan sebagai juru kunci. Atau dalam
istilah panitia: juara harapan III.

Sangat Tidak Sedap

Lagu Kawan, Inilah Jakarta ciptaan Syumantiasa yang juga sedang
diperlombakan untuk bagian komposisi dan harus dibawakan Margie
sebagai lagu wajib berdasarkan undian, jelas Lelah menyeret
penyanyi wanita ini ke kedudukan paling sial di antara kelima
penyanyi finalis. “Improvisasinya keluar dari nada dasar yang
seharusnya” komentar Iskandar, pemimpin Orkes Studio Jakarta
yang mengiringi acara malam itu kepada TEMPO. Pendapat yang sama
juga di kemukakan Mus Mualim

eddy tulis 4

Mus Mualim at the center with edy tulis and Bachrumsjah

(Mus Mualim seorang musikus berbobot. Tapi dari sisi lain popularitas dia kalah jauh dari istrinya, Titiek Puspa. Dikenal sebagai pencipta lagu dan penata musik film. Dia menonjol sebagai pianis jazz. Lahir 12 Februari 1935, dikota Bandung, Jawa Barat. Menempuh pendidikan SR, SMP, SMA hingga selesai. Selanjutnya otodidak. Debutnya sebagai seorang musikus secara serius ditempuhnya tahun 1959. Mula-mula ia senang jenis lagu berirama langgam, bozanova, jazz, slow fox. Khususnya yang berjiwa musik karakter, psikologi musik, karakter instrumen.

Ini karena hubungannya sebagai arranger dan dirigen (conductor). Pernah memimpin group jazz The Indonesia Six yang melawat ke Expo 70, Osaka, Jepang (1970). Menjadi juara pertama kali pada festival jazz Expo 70 Jepang. Pernah berkerja di RRI Jakarta sebagai penulis aransemen Orkes Simfoni Radio Jakarta ditahun 1961.

Mus Mualim seorang pemain gitar yang kemudian menjadi pemain piano. Ia kemudian bergerak dalam bidang rekaman. Mulanya sebagai musical supervisor Studio Piringan Hitam Irama diahun 1963. Pernah menyelenggarakan jazz beberapa kali di ITB pada tahun yang sama. Berturut-turut membuat piringan hitam sendiri, Long Play (LP) yang menghasilkan 100 rekaman selama periode 1962-1969. Pada tahun 1965, membentuk Badan Kerjasama Artis dengan Kostrad bernama BKS-Kostrad dan ia memangku jabatan Wakil Ketua.

Buat pertama kali setelah hangat-hangatnya peristiwa Gestapu/PKI, ia mengadakan Jazz Concert di Universitas Indonesia pada tahun 1965. Pernah mengadakan eksperimen dalam Jazz Concert di Bali Room Hotel Indonesia, dengan sponsor PT Irama Records. Dalam eksperimen itu ia mempertunjukan perpaduan musik jazz dengan Gamelan Sunda tahun 1967. Pada tahun yang sama, ia memimpin The Indonesian All Stars ke Eropa dalam acara World Jazz Festival di Berlin, Jerman Barat. Memimpin The Indonesian Six sebagai salah satu kegiatan kontingen Indonesia di Expo 1970 dalam World Jazz, Festival Expo 1970. Mengadakan Konser Jazz di Taman Ismail Marzuki dengan judul-judul Silaturrakhmi in Jazz, Jazz Universal dan Konser Pamit.

Tahun 1970, mengadakan konser musik pop The Gipsy. Di bidang film pernah jadi penata musik untuk film Buruh Pelabuhan, Bintang Kecil tahun 1963, Di Balik Cahaya Gemerlapan, Minah Gadis Dusun, Menyusuri Jejak Berdarah tahun 1965, The Big Village, Hidup Cinta dan Air Mata tahun 1970, Ambisi tahun 1973, Inem Pelayan Seksi tahun 1976. Bersama istrinya, Titiek Puspa, pernah memproduksi Operet untuk TVRI tahun 1978-1979.)

. anggota panitia yang juga membuat
aransemell lagu tersebut. Dan Margie memang telah terpeleset
dari semestinya, terutama ketika sampai di buntut lagu itu. Tapi
sekiranya Margie tidak sampai membuat kekeliruan itu, masih
tetap jadi tanda tanya apakah nasibnya akan bisa juga lebih
baik. Kawan, Inilah Jakarta dengan syairnya yang cengeng dan
sangat tidak sedap, disadari atau tidak oleh panitia, merupakan
perangkap yang tidak adil untuk para penyanyi yang sedang
berlomba. Inilah kelemahan pertama dari festival ini. Ketentuan
bahwa halus ada 5 buah lagu diambil untuk ikut dalam final dari
semua ciptaan yang masuk, mengakibatkan dijejalkannya lagu-lagu
yang sesungguhnya amat lemah dari berbagai sudut. Dan malangnya
kelemahan sistim ini, justru menyeret nasib si penyanyi finalis.

Broery Marantika yang dinyatakan sebagai pemenang pertama —
atau dalam istilah panitia grand prize winl1er dan berhak
mewakili Indonesia dalam Festival Musik Pop Internasional di
Tokyo tahun ini

broery marantika

broery marantika tableau

broery marantika presence

broery marantika ringer

— memang berhasil meyakinkan juri liwat gaya
bernyanyinya yang terkonsentrasi dan barangkali sedikit banyak
dengan pakaiannya yang memang sedap dipandang. Padahal Broery
sesungguhnya berada di bawah Anna dalam kebersihan pengucapan
pada lagu-lagu Indonesia dan di bawah Deddy Damhudi

Dedy Damhudi

 
  Aku Terkenang Selalu – Dedy Damhudi .mp3 (2,488 KB)
  PELUKLAH DAKU DAN LEPASKAN – Dedy Damhudi 02.38 .mp3 (2,479 KB)
  Dedy Damhudi-Merana .mp3 (4,165 KB)
   
   
   
 

 

 
 Free Download Video Peluklah Daku Dan Lepaskan - Dedy Damhudi.......p'dhede Ciptamas.wmv 3GP & mp4
[Download Video 3gp, mp4]

Free Download Video Gubahanku - Deddy Damhudi 3GP & mp4
[Download Video 3gp, mp4]

Free Download Video Mega Dikala Sendja - Dedy Damhudi...koleksi P'dhede Tjiptamas.wmv 3GP & mp4
[Download Video 3gp, mp4]

dalam mutu
suara. Tapi Broery membawakan lagu-lagu tanpa bertingkah “agar
lain” seperti yang dilakukan Anna Mathovani maupun Margie.
Meskipun demikian masih boleh diragukan adakah Broery akan
berhasil meraih gelar juara pertama sekiranya dalam undian ia
memperoleh lagu Kawan, Inilah Jakarta, sementara lagu Gubahanku
ciptaan Gatot Sanjoto yang didapat Broery jatuh ke tangan Trio
Bimbo.

Seperti Bintang Radio

Berbeda dengan Broery yang stabil dan lumrah saja. Anna
Mathovaniyang pada semi final justru mendapat nilai paling
tuinggi dan satu angka di atas Broery meriskir satu improvisasi
yang tidak perlu pada babak pertama ketika membawakan lagu
pilihannya sendiri Mimpi Sedih ciptaan A. Ryanto. Konsentrasinya
yang sudah baik pada bait-bait pembukaan tiba-tiba diretakatlnya
sendiri dengan memasukan improvisasi jazz pada baris-baris
refrein. Dan ketika baru sadar bahaya yang telah ditempuhnya,
Anna nampak gugup sendiri: seperti terbata-bata ia berusaha
meraih kembali jejak-jejak popnya yang telah terputus pada dua
tiga tarikan nafas berikutnya. Tapi keutuhan konsentrasinya
ternyata sudah tak sempat dipulihkannya lagi sampai lagu yang
dinyanyikannya berakhir. Di babak kedua Anna memang mencoba
menebus ketinggalannya liwat lagu wajib yang dipilihnya Cast
Away Loneliness ciptaan Takashi Hagiwara. Dan harus diakui dia
menonjol sekali pada babak ini dibandingkan dengan para finalis
yang laim Tapi di babak kedua ini juga, meskipun tidak sebaik
Anna, Broery masih tetap mantap seperti sebelumnya. Dan di babak
ketiga dari lagu wajib yang dibawakan masing-masing, hasil
pertarungan antara Anna dan Broery sudah dapat ditebak. Dengan
lagu wajib Ikhlaskan Daku ciptaan Sori Yunus dari Palembang, nna
sudah dapat mengukur bahwa peruntungan akan jatuh ke tangan
Broery yang kebetulan mendapatkan lagu Gubahanku ciptaan Gatot
Sanjoto. Dengan Ikhklaskan Daku, Anna dengan suaranya yang tipis
itu ditambah pul dengan kekeliruamlya pada babak pertama, memang
tak bisa lagi berbuat banyak. Iklaskan Daku “lebih berat dari
lagu jenis hiburan Bintang Radio tempo dulu”, komentar Nien
Lesmana, isteri Jack Lesmana, Lagu itu agaknya akan lebih aman
jika dibawakan oleh Deddy Damhudi yang pernah turut dalam
pemilihan Bintang Radio dan berkecimpung dalam musik seriosa.

Tapi pengalaman dari bintang radi rupanya justru tidak
menurunkan beruntungan bagi Deddy untuk berlomba di forum musik
pop. Dia kalah gaya, terlalu sopan dan malu-malu untuk satu
forum pop. Dan secara keseluruhan agaknya di sinilah perbedaan
yang menonjol pada sikap panggung kelima penyanyi finalis yang 3
berasal dari Jawa Barat sedang 2 berasal dari Maluku itu. Baik
Deddy, Anna maupun Trio Bimbo yang berlatar belakang kebudayaan
Sunda yang “tenang” itu tidaklah sebebas dan sebergaya kedua
penyanyi-asal Maluku yang penuh riak: Broery dan Margie. Mungkin
terbawa o}eh “suasananya seperti pemilihan bintang radio saja”,
seperti dikatakan Syamsuddin dari Bimbo, ketika membawakan lagu
pilihannya sendiri Mawar Berduri ciptaan A.Ryanto, Deddy seakan
sedang menyanyikan sebuah lagu jenis langgam. Lagi pula dari
segi tehnis Deddy “keliwat cepat”, seperti dikatakan pengarang
lagu itu sendiri yang juga duduk sebagai anggota dewan juri. Dan
pada babak terakhir dengan lagu wajib Penuh Harapan ciptaan Nick
Mamahit — yang keluar sebagai grand prize winner untuk bagian
komposisi dalam festival ini dan juga berhak ikut ke Tokyo –
Deddy nampaknya mengalami kesulitan memunculkan improvisasi pop
dalam musik yang berwarna ballada ini. Sehingga Iskandar,
pemimpin orkes pengiring yang tahu betul mutu suara Deddy yang
bagus itu akan dapat membawakan lagu ini beberapa kali menoleh
kepada Deddy yang terus terkurung mencari-cari.

Kontes Berbisik

Dan bagaimana dengan Trio Bimbo ? Satu-satunya grup musik pop
yang ikut dalam festival ini dan sempat sampai ke final. Trio
Bimbo tidak hanya mengalami kesulitan dari segi tehnis peralatan
tapi Juga memang masih memperlihatkan kelemahan-kelenahan dasar
di bandingkan dengan finalis lainnya. Dalam suara mereka
bukannya menyanyi, tapi berbisik” seperti dikatakan seorang
tokoh musik malam itu. Dan selama festival ini bukan festival
berbisik, maka dari Bimbo diharapkan bernyanyi. Untuk ruangan
seperti Teater Tertutup Taman Ismail Marzuki Jakarta berbisik
dengan iringan gitar memang masih bisa mencekam, lebih-lebih
jika main tanpa saingan. Tapi untuk ruangan yang lebih besar,
apalagi untuk gedung Budokan Tokyo di mana Festival Pop
Internasional biasanya diadakan plus ratusan saingan pula, Bimbo
hanya akan menyanyi untuk dirinya sendiri. Mengenai suaranya
yang samar-samar ini Bimbo menuding hal itu sebagai kesalahan
pengeras suara lihat box: Menanti Keputusan Juri. Dan itu
agaknya karena mereka teringat pada tidak sempurna nya perekaman
suara Bimbo dalam babak semi final. Tapi pada malam final itu,
sebenarnya tak ada kekurangan apa-apa pada alat pengeras suara.
Obsesi ini malahan menimbulkan ketegangan pada diri mereka
sendiri dan lebih jauh lagi menciptakan jarak antara mereka
dengan seisi ruangan. Pada babak kedua dengan lagu Cast Away
Loneliness, Bimbo mencoba mempertautkan diri kembali dengan
sekitarnya dengan jalan bertepuk-tepuk tangan memancing
partisipasi, tapi langkah ini malahan mengaburkan apa yang harus
dinilai dari mereka sebagai peserta final. Kekurangan pengalaman
termasuk juga kurang terbiasa membawakan lagu-lagu oran lain,
menempatkan Bimbo dalam posisi yang lemah dalam forun1 kontes
yang berat seperti festival ini.

Agaknya tidaklah berlebihan jika di katakan terhindarnya Trio
Bimbo dari menduduki posisi juru kunci alias nomor buntut,
hanyalah karena kebetulan jatuhnya Margie. Di samping
pengalamannya yang fatal dengan ciptaan Syumantiasa, Margie
memang tidak memperlihat kan keistimewaan pada dua lagu
sebelumnya malam itu. Dia bahkan tidak sebaik ketika menyanyi
dalam babak semi final di mana akhirnya sempal menduduki urutan
ke–3 untuk maju ke babak final dengan nilai 9 di bawah Anna dan
Broery yang- masing-masing mendapat nilai 14 dan 13. Pada
tingkat pendahuluan, Margie malahan berhasil mengumpulkan nilai
di atas Broery Marantika. Tapi ternyata dalam final suara Margie
tidak stabil, sementara kecenderungan memasukkan improvisasi
jazz lebih besar dibandingkan dengan Anna.

Kelas Elite Pop

Kecenderungan pada improvisasi jazz seperti yang terlihat pada
Margie dan akhir-akhir ini juga pada Anna, tentu saja sama
sekali tidak berarti bahwa penyanyi-penyanyi tersebut bukan
penyanyi yang baik. Sebab apa yang selama ini dikenal sebagai
penyanyi yang baik umumnya adalah penyanyi yang cocok dengan
seleranya. Tony Koeswoyo misalnya memberikan ilustrasi: Lagulagu
Louis Amstrong bagus-bagus dan semua orang menyenanginya, tapi
coba lagu-lagu itu dinyanyikan oleh Pranajaya, apa yang akan
terjadi? Dan kemudian orang mengenal ancy Wilson atau Ella
Fitzgerald yang dengan sengaja memberikan interpretasi jazz pada
lagu-lagu The Beatles. Hanya soalnya, seperti dikatakan
Iskandar, itu berarti bukan lagi pop murni. Dan yang bukan pop
murni tidaklah berarti lebih rendah dari pop. Ada satu waktu di
mana seorang penyanyi sudah berada di tingkat tertinggi pop dan
dia perlu melangkah ke luar dari sana jika dia memang mengejar
karir dalam seni-suara. Di Indonesia, Anna Mathovani misalnya
jika belum boleh dikatakan sudah mencapai setidak-tidaknya sudah
menghampiri tingkat tertinggi pop itu.

Walhasil, nomor-nomor kemenangan dalam festival pop yang baru
saja selesai dan mendapat minat yang besar itu, belumlah dapat
dipakai sebagai pengukur terakhir bahwa penyanyi yang satu lebih
baik dari yang lain sebagai penyanya. Lebih-lebih dengan
sistimnya yang sekarang, jelas nomor kemenangan hanya separuh
ditentukan oleh penguasaan bidang yang dipertarungkan, sedang
separuhnya lagi ditentukan oleh faktor nasib. Terjadinya
perubahan-perubahan urut urutan nilai mulai dari babak
pendahuluan hingga ke tingkat final, jelas menunjukkan bahwa
para finalis sesungguhnya berada dalam satu kelas sebagai
penyanyi –katakanlah mereka merupakan kelas elite pop Indonesia
dewasa ini. Tapi yang masuk kelas ini pastilah bukan hanya
kelima finalis. Dari perlombaan pada tingkat semi final terlihat
bahwa lebih banyak penyanyi yang sesungguhnya bisa masuk ke
final sekiranya tidak terdapat ketentuan bahwa yang akan diambil
tidak lebih dari 5 orang. John Phillips asal Irian, Buddy
Prasetya asal Madiun dan lebih-lebih penyanyi muda-belia Andi
Sitti Meriem Nurul Kusumawardhani Mattalata dari Ujung Pandang –
untuk menyebut beberapa nama saja – sesungguhnya ada lah
penyanyi-penyanyi yarig masih dapat sampai ke babak final
sekiranya sistim yang dipakai adalah nilai minimum.

Merobah Orientasi

Melihat bahwa para peserta final sesungguhnya memiliki materi
yang bedanya satu dengan yang lain hanya sepertl setali dengan
setangsul, bisa di bayangkan bagaimana sulitnya panitia mencari
ukuran-ukuran untuk dijadikan dasar penilaian. Kesulitan inilah
menurut dugaan kita, mengapa baik pada babak semi final maupun
pada babak final panitia tidak mengumumkan berapa sesungguhnya
masing-masing peserta mendapat nilai. Hoegeng Iman Santoso,
bekas Kapolri yang jadi ketua panitia dan hampir setiap hari
dalam rangka festival ini berada di RRI Jakarta dengan murung
berkata kepada TEMPO “Coba mas, kita harus membulluh empat dari
5 yang semuanya sama-sama mampu hidup’. Itulah sebabnya
terdengar lasul agar mengusahakan mengirim tidak hanya satu
orang penyanyi ke Tokyo nanti, tapi paling sedikit dua orang.
Sebab bukan tidak mungkin, yang bukan menjadi juara pertama di
Jakarta, justru bisa meraih nomor kemenangan di Tokyo.
Kemungkinan pengiriman lebih dari seorang itu masih terbuka
dengan ikut diperlombakannya pula rekaman suara dari
masing-masing penyanyi yang turut dalam final. Tapi di luar
kemungkinan itu, Watanabe, juri dari Jepang yang dari
pengalamannya pernah menjadi juri pada berbagai festival
internasional musik pop menyokong usul tersebut. Alasannya
karena rata-rata penyanyi Indonesia tidak kalah dari
penyanyi-penyanyi pop yang sudah mendapat nama internasional.

Apa yang kurang dari rata-rata mereka — seperti terlihat
melalui festival ini adalah – sekali lagi – pengalaman, terutama
pengalaman menyanyi dengan diiringi oleh orkes yang besar.
Padahal bagi penyanyi-penyanyi pop dunia hal ini sudah biasa
mereka lakukan. Festival yang baru lalu agaknya merupakan
langkah yang baik dalam membiasakan para penyanyi pop Indonesia
tidak hanya mampu menyanyi dengan band, tapi juga menyanyi
dengan orkes. Akhirnya dari segi perkembangan dunia musik dalam
negeri, yang penting dari festival ini bukanlah soal bahwa
Indonesia akan ikut ke festival internasional musik pop di
Tokyo. Yang lebih penting adalah bahwa untuk ke festival itu
telah lebih dahulu dengan suatu seleksi yang serius dan jika
festival seperti ini bisa dijadikan tradisi setiap tahun, maka
ia akan menjadi satu forum yang dapat menjadi tangga bagi
penyanyi-penyanyi pop Indonesia untuk mendapat predikat sebagai
bintang penyanyi pop Indonesia. Sebagaimana dulu penyanyi
dikenal dan terkenal liwat forum pemilihan bintang radio,
festival ini agaknya bisa juga berfungsi serupa itu. Tapi untuk
itu orientasi lestival agaknya perlu dirobah arahnya. Festival
yang baru lalu jelas orientasinya diarahkan ke forum Tokyo yang
di sana-sini tercium usaha untuk sedapat-dapatnya wakil yang
dikirim diharapkan akan memenuhi “selera Jepang”. Forum Budokan
hendaknya semata-mata hanya dipakai sebagai daya tarik untuk
berkompetisi dan tidak untuk mencetak selera.

Mengapa mereka ikut?

Peserta festival lagu pop tingkat nasional 1973, agaknya punya motif yang berbeda. untuk meraih kesempatan ikut kontes int, cari pengalaman, tertarik bea siswa, mengukur kemampuan, dll, adalah alasannya.BROERY MARANTIKA. Suaranya sesungguhnya biasa saja. “Tapi dia
banyak akal”, komentar Mus Mualim atas berhasilnya Broery
Marantika menjadi juara pertama festival lagu-lagu populer
tingkat nasional tahun ini. Lahir di Ambon 29 tahun yang lalu
sebagai anak tertua dari 4 bersaudara putera pendeta Simon
Marantika. Broery — yang kemudian ditambah y — semula
diharapkan ayahnya masuk sekolah pendeta. Karena itu ketika 21
tahun yang lalu pendeta Marantika pindah tugas ke Jakarta,
Broery dimasukkannya dalam rombongan koor gereja. Selama 5
tahun, sebagai penyanyi solo setiap hari Minggu Broery
mendampingi ayahnya yang memberikan khotbah pada gereja Effatha
yang terletak di samping rumah mereka di Kebayoran. Tapi gereja
ternyata tidak cukup memberi tempat bagi anak muda Broery yang
mulai terpengaruh oleh “wabah Elvies” yang memang sedang melanda
anak-anak muda di seluruh dunia termasuk Indonesia.

Akhirnya Broery masuk anggota band, mula-mula pada band
Aflagatha bersama Remy Leimena, di mana ia memainkan instrumen
bongo dan sekali-sekali juga menyanyi. Tidak lama kemudian ia
pindah ke band Bhayangkara, untuk akhirnya pindah lagi ikut
dalam band The Riza’s. Sementara itu ia berkenalan dengan Jack
Lesmana. dan diajak membawakan lagu-lagu jazz. Karirnya mulai
mendapat bentuk ketika ia bergabung denKan The Pro’s sekitar 7
tahun yang lalu. “Tapi saya masih tetap anak bawang waktu itu”,
kata Broery. Dua tahun kemudian ia mendapat kontak menyanyi di
rumah hiburan-malam Tropicana di Singapura. Dan di sinilah
Broery untuk pertama kalinya memperoleh kesempatan membuat
rekaman lagu-lagu yang sedang populer waktu itu seperti Before
You Go, Danny Boy dan Loe is Blue. Sehabis kontrak di Singapura,
ia kemudian mendapat kontrak baru untuk menyanyi di Jepang
selama setahun.

Diakuinya sampai waktu itu ia hanya membawakan lagu-lagu bahasa
Inggeris. Selari-hari keluarga Simon Marantika memang banyak
memakai bahasa Inggeris, sehingga “saya sukar sekali membawakan
lagu-lagu Indonesia”. Pada lomba penyanyi Pop Jakarta Raya 5
tahun yang lalu, Broery hanya menduduki tempat kedua di bawah
Frans Daromez. “Coba bayangkan, saya harus membawakan lagu wajib
Mari lari Titiek Puspa, ya berantakan”. Juga dalam angket siaran
ABRI 2 tahun yang lalu, Broery hanya menduduki tempat kedua di
bawah Muchsin suami Titiek Sandhora. Terakhir pengalamannya
selama 6 bulan menyanyi di Ramayana Restaurant milik Pertamina
di New York tahun lalu rupanya telah benar-benar membuat dirinya
bukan anak-bawang lagi di dunia musik pop. 70 buah lagu sudah
direkamnya dan untuk lagu-lagu Indonesia bagian terbesar ciptaan
Ryanto dan beberapa ciptaan Abadi Soesman. Bebcrapa tahun yang
lalu Broery juga mulai berkenalan dengan bidang baru, yaitu
film.

Sukses Broery dalam pestival itu bagaimanapun tak dapat
dilepaskan dari andil Berthy Lumanauw, manager yang sekaligus
juga pengasuhnya. Lagu Gubahanku ciptaan Gatot Sanjoto memang
sudah diincar Lumanauw agar jatuh pada Broery, dan kebetulan
dalam undian Broery mendapatkannya. Katanya, ia memang tidak
membuat improvisasi aneh-aneh dalam final, “habis itu kan kontes
pop”. Tapi dalam bernyanyi yang penting, “bagaimana
memperkenalkan lagu itu seperti kita sedang bercerita”, katanya.
Dan apa yang mendorongnya ikut dalam festival ini? Broery yang
katanya suka pada penyanyi hitam dan “ingin jadi Nat King Cole”,
terang-terangan menjawab: PLiwat forum ini saya berkesempatan
ikut kontes tingkat internasional. Dan cita-cita saya ingin
menjadi penyanyi tingkat internasional”,

Anak ke-6 dari suami-isteri Mathovani-Roosmiati yang berputera
10 orang Anna mulai karir menyanyinya liwat rombongan koor dan
angklung sekolahnya di Bandung. Pada umur 11 tahun dia untuk
pertama kalinya menyanyi di muka umum. Waktu itu
penyanyi-penyanyi cilik di Bandung seperti Fenty Effendy dan
Tetty Kadi serta tiga bersaudara Yanti sudah lebih dulu dikenal.
“Sedang saya masih mengejar-ngejar tanda-tangan Lilis Suryani”,
kata Anna kepada reporter Yusril Jalinus. Berdiri di panggung
Gelora Bandung dalam acara pertunjukan The Blue Diamond di zaman
KAMI/KAPPI — dengan iringan band Jazz Rider, Anna mendapat
kesempatan muncul dengan lagu Lilis Suryani Persambahanku.
Sesudah itu Anna ikut menjadi penyanyi dari band Delimas dan
kemudian Genta Istana. Sekembali dari perlawatan ke Medan, dia
mendapat kesempatan menyanyi di depan kamera TVRI dengan
membawakan lagu antara lain Di Keheningan Malam. Lagu itu
ternyata segera mengangkat penyanyi ini ke tingkat kepopuleran
“Tanpa setahun saya, lagu yang saya nyanyikan itu ternyata sudah
direkam”, kata Amla. “Sebab tahu-tahu saya sudah menerima
piringan hitamnya”. Ayahnya, Mathovani, yang memang bekas
penyanyi di zaman Sam Saimun dan juga penggubah lagu, sejak itu
mulai memberikan bimbingan agak serius pada anaknya ini.

Sekarang dalam usia menginjak 18 tahun dan baru tamat dari SMA,
Anna sudah merekam sekitar 75 buah lagu. Dari jumlah itu hanya 2
buah hasil ciptaan ayahnya yaitu lagu isikan Hati dan Permata
Bunda. Selebihnya bagian terbesar adalah ciptaan Mus K. Wirya
dan Jessy Wenas. Sebagai juga penyanyi pop yang sedang laku Anna
pernah mendapat kesempatan mengadakan perlawatan ke Malaysia,
bernyanyi di rumah hiburan malam Flamingo Jakarta dan terakhir
di hotel Lisboa, Macao. Kini Anna Mathovani mulai mencari warna
baru dan mengarahkan diri pada lagu-lagu pop standard sementara
mengikuti pelajaran jaz pada Jack Lesmana. Ternyata bidang jazz
ini sudah mulai memberi corak baru pada Anna, terbukti dengan
improvisasi-improvisasinya dalam festival lagu-lagu pop kemarin.
“Kalau saya membawakan lagu secara biasa, itu berarti sama saja
dengan penyanyi lain”, katanya menjelaskan mengapa ia meriskir
improvisasi yang bisa dinilai keluar dari pop. Biduanita yang
katanya pengagum Dinall Washington, Nancy Wilson dan Barbara
Streisand ini agaknya memang sudah mulai jemu dengan selera pop
yang hidup di Indonesia sekarang. Dan ini tentu saja mengandung
risiko bahwa ia akan kehilangan pendengar-pendengarnya yang lama
yang masih bisa teringat suara Anna Mathovani yang polos dan
kebocahan dalam Angsa Pufih ataupun Antara Pria dan Wanita.

Tapi mengapa dia tertarik ikut dalam testival pop kemarin? Anna
yang ingin melanjutkan pelajaran pada Akademi Bahasa Asing
dengan tegas berkata: Saya tertarik pada beasiswa yang
disediakan bagi pemenang untuk memperdalam pelajaran musik di
Jepang. Dan ayahnya Mathovani yang bersama-sama nyonya Mathovani
terus menerus mengawal Anna selama festival berlangsung
menambahkan: “Inilah satu-satunya kesempatan yang terbuka bagi
Anna untuk memperdalam pengetahuan musiknya”. Dan si ayah
berusaha keras untuk membantu anaknya memenangkan perlombaan.
Setiap pulang dari latihan di RRI mereka berdiskusi mengenai
kekurangan-kekurangan Anna. Agaknya apa boleh buat bahwa Anna
untuk kali ini harus puas dulu dengan kedudukan juara II atau
runner-up.

* MARGIE SEGERS

Berdarah Ambon dan lahir di Cimahi tahun 1950. Pernah tinggal di
Negeri Belanda selama 17 tahun dan kembali ke Indonesia tahun
1969. Tahun 1960 mulai menyanyi di sekolah Negeri Belanda. Tahun
1964 sebagai penyanyi amatir pada sebuah orkes di negeri yang
sama. Ayahnya seorang bekas KNI L. yang menyukai musik
keroncong. Rekamannya yang pertama bersama Fuad dengan Abstract
Club Band dalam Lagu Inggeris dan Indonesia. Lebih menyukai lagu
blues dan Jazz, serta kini belajar pada Jack Lesmana dalam musik
jenis itu. Ikut Festival Pop Nasional, karena saya ingin mencari
pengalaman Broery dan Anna Mathovani saya kira lebih banyak
pengalaman dibanding dengan saya. Lagi pula kalau saya menang,
saya akan bisa turut perlombaan tingkat Internasional”. Margie
Segers hanya berhasil mendapatkan nomor buntut dalam kedudukan
juara harapan III.

* SYAMSUDIN/TRIO BIMBO

Lahir di Bandung 31 tahun yang lalu. Lepas sarjana jurusan
Senirupa ITB pada tahun 1969. Mendirikan Trio Bimbo tahun 1967
bersama saudaranya Acil, Jaka dan kini bersama Iin Parlina.
Pernah bermain dengan Guntur Soekarno Putera dalam band Aneka
Nudu. Kini sedang membuat rekamannya yang kelima. Pernah
mengadakan pertunjukan di Malaysia dan Singapura. Mengapa Bimbo
ikut Festival Pop Nasional yang lalu? “Banyak orang menuduh Trio
Bimbo tidak mau diajak duel atau takut mengadakan pertunjukan
bersama dengan grup lainnya/Saya ingin membuktikan bahwa
festival itu adalah arena yang paling kena untuk membuktikan
tuduhan itu.Sayang grup yang ikut hanya Bimbo. Coba kalau lebih
dari satu, saya kira akan lebih fair lagi. Bimbo hanya menjadi
juara harapan II.

* ANDI MERIEM MATTALATA

Lahir di Ujung Pandang tahun 1957. Kejuaraan yang diperoleh:
tahun 1968 juara II Pop Singer se Kotamadya Ujung Pandang, 1970
juara Pop Singer se kotamadya Ujung Pandang, 1971 juara Pop
Singer se kota-madya Ujung Pandang dan juara I kontes lagu-lagu
populer RRI Nusantara I Ujung Pandang. Tahun 1971 juara III
kontes lagu-lagu populer tingkat Nasional di Jakarta. Ikut
Festival Pop Nasi,onal karena ingin mencari pengalamarBanyak
kawan-kawan yang ingin ikut serta, tapi melihat banyaknya
penyanyi pop seperti Broery juga ikut, jadi banyak yang gagal.
Gagalnya saya barangkali karena kami dari daerah memang kalah
pengalaman dibanding dengan penyanyi Jakarta. Tapi coba-coba
bolehkan?” Meriem Mattalata hanya berhasil sampai babak semi
final.

* DEDDY DAMHUDI

Lahir di Tasikmalaya tahun 1939. Tahun 195 juara bintang radio
Jawa Barat untuk jenis seriosa dan juga juara I lomba seni suara
tingkat pelajar mahasiswa Jawa Barat di Bandung. Tahun 1965
juara Nasional bintang radio di Jakarta. Tahun 1969 mendapat
piala dari siaran ABRI sebagai penyanyi op yang paling digemari.
Tahun 1968 mengadakan rekaman piringan hitam dengan lagu-lagu
antara lain Aku Terkenang Selalu, Peluklah dan Lepaskan dan
ciptaan sendiri Jatuh Cinta. Mengadakan pertunjukan hampir ke
seluruh Indonesia, pernah ke Malaysia, Singapura dan Australia.
Kini menjadi penyanyi tetap dan pembawa acara di LCC Group Club
Jakarta. Dia ikut dalam Festival Pop Nasional yang lalu karena
“saya memang menunggu festival semacam ini. Bagi saya dengan
banyaknya penyanyi pop yang ikut serta, festival ini bisa
menjadi kuran kemampuan saya Deddy Damhudi berhasil menjadi
juara harapan 1.

* IVO NILAKRESHNA

Lahir di Medan, 31 tahun yang lalu. Tahun 1957 juara III bintang
radio tingkat nasional jenis hiburan, tahun 1964 menjadi juara
pertama dalam kejuaraan yang sama. Pernah merekam lagu-lagu pada
perusahaan piringan hitam Philips di Negeri Belanda dan
mengadakan pertunjukan di Malaysia. Sampai kini sebanyak 150
lalu 25% hasil ciptaan sendiri – telah direkamanya. Kini
menyanyi di Miraca. “Saya ikut festival pop ini atas anjuran
Titiek Puspa. Saya gagal karena kata orang tidak punya pop
touch. Tapi kalau saya idak pop barangkali ini akan didegar
orang di Miraca. Apa sih pop touch itu? Yang terang mereka
memenangkan yang muda-muda” ini. Ivo ternyata tidak berhasil
masuk babak semi final.

* OLAN SITOMPUL

Lahir di Padang tahun 1939. Tahun 1966 berhasil menduduki tempat
pertama kejuaraan bintang radio jenis hiburan tingkat Jakarta
Raya. Tapi hanya sampai juara II ketika dalam tingkat nasional.
Beberapa kejuaulan bintang radio pernah diikuti, rata-rata
merebut tempat ketiga atau kedua dan belum pernah mendapatkan
yang pertama untuk tingkat nasional. Penyiar RRI dan sering
menjadi pembawa acara pada kesempatan semacam pesta serta aktif
mengisi suaranya untuk keperluan iklan radio dan televisi.
Mengenai Festival Pop Nasional saya ikut untuk
berpartisipasi.Saya gagal karena memang sudah bukan dunia saya
lagi. Tapi penyanyi angkatan saya bukannya tidak mungkin untuk
memperoleh hasil yang lebih baik dalam festival itu”. Olan
Sitompul tidak berhasil mencapai babak semi final.

Menanti keputusan juri

Saat menunggu keputusan juri dalam festival lagu pop nasional para finalis mengalami ketegangan. brury tampak diam terpaku seperti sedang berdoa, anna bahkan kelihatan melamun. yang lain, juga demikian.RUANG terang-benderang di belakang panggung Studio V RRI Jakarta
Minggu malam itu barangkali sudah menjadi terlalu panas bagi
Broery. Masih dalam stelan jas hitam — stelan terakhir yang
dikenakannya malam itu setelah ganti mula-mula putih kemudian
hijau — ia membuka jendela. Tapi daun jendcla yang disentuhnya
itu mendepak sebotol Fanta dan isinya tersiram ke gaun putih
Masa Takagi, bintang tamu dari Jepang yang sudah siap-siap untuk
mengisi acara selingan sementara dewan juri mengadakan rapat.
Kejadian tak sengaja ini telah membuat si bintang tamu yang
berwajah kekanak-kanakan itu menangis. Broery nampaknya menyesal
betul. “Saya betul-betul tidak enak”, katanya entah kepada
siapa. Akhirnya Boery pindah ke tangga di sisi luar panggung
yang terlindung dari cahaya lampu. Dia diam terpaku di sana
nampak seperti berdoa.

“Ketegangan sudah menguasai para peserta Festival Lagu-Lagu
Populer tingkat Nasional 1973 ini sejak masih di babak semi
final yang berlangsung tanggal 7 Juli malam. Dan ketegangan
kelima finalis rupanya mencapai puncaknya pada saat-sadt
menunggu keputusan juri pada Minggu malam 15 Juli itu. Deddy
Damhudi yang berjambang dan bertubuh paling subur di antara
semua finalis dan juga Djaka dari Bimbo barangkali yang kurang
memperlihatkan keanehan-keanehan, meskipun kentara juga
gurau-gurau mereka tak lepas-lepas seperti biasanya. Iin Parlina
dari Bimbo maupun Amla Mathovani memang sekali-sekali dibikin
sibuk oleh wartawan yang nyelonong ke belakang pentas, tapi
wajah mereka pun tak dapat menyembunyikan apa yang sesungguhnya
sedang bergolak di dada masing-masing Amla bahkan sering
terlihat dan melamun dan hanya senyum seperlunya manakala
matanya sempat tertumbuk pada seseorang yang melayangkan pandang
kepadanya. Hal yang sama juga terlihat pada Syamsuddin orang
pertama dari Trio Bimbo,

Obsesi

Tapi yang paling tak bisa menyembunyikan kegelisahan barangkali
adalah Margie Segers. Lagu Kawa, Inilah Jakarta ciptaan
Syumantiasa dengan syairnya (oleh Syumantiasa, Taufik Ismail dan
Titiek Puspa) yang luar biasa cengeng dan mengharu-biru
anak-telinga namun terpaksa dinyanyikan Margie berdasarkan
undian, rupanya telah melumpuhkan penyanyi kelahiran Cimahi yang
pernah 16 tahun berdiam di Negeri Belanda ini. Margie lebih
banyak berdiri dan mundar-mandir pindah dari satu pojok ke pojok
yang lain daripada duduk tenang. “Saya memang agak nervous”,
katanya terus-terang, ketika semua finalis diinterview Eddy Rosa
dari RRI pada kesempatan istirahat di akhir babak ke 2 dari
acara tiga babak malam itu. “Deg-degan”, kata Deddy Damhudi
menjawab reporter RRI. “Saya juga gemetar”, kata Broery ketika
mendapat giliran ditanya. “Tapi yah, nggak boleh kelihatan
dong”. Komentar Anna lebih banyak berbentuk senyum sementara
Syamsuddin dari Bimbo mengambil kesempatan mengutarakan
kekesalannya terhadap alat pengeras suara yang dinilainya tidak
beres. Dari pengalamannya ketika menyanyi dalam babak semifinal
di mana suara Trio Bimbo tak terekam dengan baik karena pengeras
suara macet, kecurigaannya terhadap ketidak-beresan pengeras
suara pada malam final itu nampaknya sudah menjadi semacam
obsesi bagi grup Bimbo. Mereka mengetok-ngetok alat pengeras
suara itu lebih dahulu setiap kali mereka mendapat giliran
tampil ke pentas. Bahkan dalam babak ke-2 sebelum membawakan
lagu wajib Cast Away Loneliness, Iin menyebut “testing testing”.
Bukan tidak mungkin seperti dikatakan A. Ryanto – sikap Bimbo
ini tidak memancing simpati para juri yang duduk berjajar di
deretan depan di balkon. “Sound systemnya yang salah, bukan kami
yang salah”, kata Syamsuddin dalam wawancara dengan RRI itu.
Malah tanpa tedeng aling-aling dalam bahasa Sunda ia menambahkam
“Kasarna mah pengen nalampung” – maksudnya saking kesalnya ia
ingin menendang alat pengeras suara itu. Bukan mustahil inilah
sebabnya Trio Bimbo diboikot oleh TVRI ketika rekaman malam
final itu disiarkan TVRI beberapa malam kemudian.

Tempo Edisi. 21/III/28 Juli – 03 Agustus 1973

Kuping awam: selera dan mutu

Lagu “penuh harapan” sebagai pemenang i dalam festival lagu pop dipersoalkan. bila dibanding dengan lagu lain, lagu ini kurang komunikatif. unsur nilai tergantung mutu, bukan selera publik.BOLEH setuju atau tidak. Bagi Mus Mualim, festival lagu-lagu pop
bulan Juli kemarin merupakan “pintu gerbang ke arah titik
terang”. Katanya, musik pop yang berkembang liar selama ini
telah mendapat penyaluran yang baik. Orang macam Mus, Pranajaya
atau Jack Lesmana ingin menunjukkan bahwa lagu pop mestinya
seperti lagu Penuh Harapan punya Nick Mamahit, pemenang pertama
komposisi. Dan kalau menyanyi contohlah Broery Marantika, sang
juara.

Anggapan seperti itu setidaknya ditunjang oleh musisi-musisi
yang berderet di kursi juri festival tempo hari-sekalipun tidak
seluruh penyanyi menganggukkan kepala menyetujui. Ivo
Nilakrishna misalnya terheran-heran, karena menganggap lagu Nick
itu tak beda dengan jenis hiburan dulu. Bagi penyanyi yang tak
dapat nmor dalam festival karena tak memiliki pop touch itu,
Penuh Harapan rasanya jauh dari selera musik pop masa kini.
Bahkan Gubahanku karya Gatot Sanyoto yang menduduki tempat kedua
lebih komunikatif di kuping awam. Dan kebetulan dibawakan pula
oleh Broery. “Apa sih pop touch itu? tanya Ivo (TEMPO 28 Juli).

Campur-aduk. Itulah soalnya. Bagi Pranajaya, musik pop ialah
“apa yang muncul pada saat tertentu dan disenangi”. Namun
popularitas lagu toh banyak tergantung dari apresiasi
masyarakat. Membandingkan ciptaan Nick dengan lagu Riyanto
misalnya, dalam hal popularitas tentulah Mawar Berduri jauh
lebih banyak pendengarnya dari pada Penuh Harapan yang juara.
Tapi kalau bicara sampai tingkat internasional di mana ukuran
pop sudah tinggi,”soalnya akan jadi lain”, kata Prana pula. Lagu
yang karena sesuai dengan selera masyarakat lalu menjadi
populer, kata bekas jagoan seriosa itu, tidak akan tahan lama.
Sebaliknya dengan ciptaan Nick Mamahit.

Tampaknya jurang antara pop selera masa kini — pinjam istilah
Jack Lesmana — dengan ukuran juri festival bukan tak ada. Jack
malah menunjuk Burt Bacharach yang populer itu sebagai pencipta
musik pop yang memenuhi hukumhukum seni musik. Tidak ganjil
memang. Sebab orang Amerika yang bikin lagu Rain Drop Keep
Fallin’ on My Head itu memang komposer yang terdidik. Rupanya
inilah jurangnya. “Kelemahan komposer kita hanya dalam
pendidikan saja”, tutur Pranajaya. Sementara Tony Koeswoyo dan
A. Riyanto menurut Jack Lesmana — “membuat lagu secara spontan
tanpa memikirkan harmoni. Mereka kebanyakan hanya berpegang pada
niat harus membuat lagu yang baik. Titik”. Bahkan ia menilai,
komposer muda membuat lagu hanya dengan perasaan saja. Sehingga
kekurangannya terdapat pada susunan-nada atau harmoni. “Padahal
kelemahan itu bisa dihindari kalau saja mercka tahu musik”, kata
Nick lagi — yang katanya ikut festival buat mendorong musisi
muda.

Betapapun kritik musisi tua bukannya tanpa alasan. Golongan muda
sendiri yang misalnya diwakili Riyanto, melihat ukuran festival
sebagai telah “mendekatkan penyanyi dan komposisi pada standar
internasional”. Pimpinan Favourite’s Group itu bahkan mengakui
lagu-lagu ciptaannya masih campuraduk, sementara
komposer-komposer muda belum berhasil mendapatkan ciri
masing-masing. “Masih terlihat persamaan antara lagu saya dengan
ciptaan orang lain”, ujarnya. Di Barat, bisa dibedakan mana
karya Burt Bacharach dan mana puny John Lenon. Sehingga, bagi
Riyanto, lagu pop Indonesia masa kini tak bisa dibandingkan
dengan komposisi yang menjadi finalis dalam festival.

Iroth. “Perlombaan itu berat. Dan lagu yang sudah populer belum
tentu menang”, katanya. “Membuat lagu untuk festival harus
konsentrasi pada akord”. Dan menurut pencipta ratusan lagu pop
itu, “akord yang baik merupakan kunci buat mengembangkan lagu
menjadi musik yang besar”. Jelasnya, harus dibedakan antara pop
sekarang dan pop yang diperlombakan. Yang terakhir itu, bagi
Riyanto merupakan lagu buat pasaran internasional. Sedang
lagu-lagunya sendiri belum tentu bisa populer di pasaran itu.
Pokoknya pop Indonesia masa kini “belum punya bentuk dan masih
ngambang”, seperti kata Paul Hutabarat, ketua IMI atau Ikatan
Musisi Indonesia.

Maka buat menggalakkan pop, penyajian dengan orkes besar, kata
Riyanto, mestinya tidak hanya terbatas pada lagu-lagu yang
akordnya bagus. Untuk Inenlbiasakan masyarakat mendengar musik
pop dengan orkes besar, “sebaiknya lagu dengan akord sederhana
juga dicoba”, kata Riyanto. “Karena lima sampai seuluh tahun
mendatang musik pop akan mengarah ke sana”. Sedang di luar
negeri, menurut Iskandar penyajian seperti itu sudah biasa. Di
Amerika misalnya ada Boston Pop Orchestra pimpinan Arthur Fidler
yang benanggotakan hampir 120 orang. Dibanding Orkes Simfoni
Jakarta yang jarang lebih dari 50 orang — waktu festival bahkan
cuma 30 orang — orkes pop Arthur memang bukan main.

Iringan orkes buat lagu-lagu pop sebenarnya bukan barang baru.
Sekitar tahun limapuluhan sudah ada Orkes Metropolitan pimpinan
Jos Cleber yang sering mengiringi Sam Saimun dan Bing Slamet.
Tampaknya kini mau dicoba lagi. Bagi penyanyi angkatan sekarang,
diiringi orkes besar tentulah tidak semudah diiringi band kecil.
Tapi KJeS Plus atau Bimbo kabarnya sudah punya rencana bikin
lagu dengan orkes besar. Beberapa antaranya sudah meliwati
rekaman –misalnya Broery dalam Mimpi Yang Sedih atau rekaman
telakhir Bimbo — sekalipun masih terbatas pada orkes yang cuma
berkekuatan 10 orang. Soalnya, perusahaan piringan hitam harus
memperhitungkan telinga publik yang belum terbiasa. Itupun bagi
Remaco “masih dalam taraf eksperiman”, seperti kata Ferry Iroth,
manager pemasaran.

Lho kok. Soalnya kini bisa tambah jelas. Bagi Mus Mualim, paling
tidak musisi tua harus punya misi. “Kita harus berkelahi dengan
musik cengeng”, katanya. “Musik pop harus ditingkatkan, dan
harus bisa menemiatkan pendengar awam”. Misalnya bisa dimulai
dengan membuat lagu yang baik. Atau meningkatkan komposer dengan
pendidikan seperti anjuran Pranajaya. Tapi bisakah publik
menerima lagu macam punya Nick? Diterima atau tidak, bagi
Pranajaya bukan masalah. Sebab kelak masyarakat dergan
sendirinya bakal terangkat ke atas.

Soalnya sekarang, menurut Pranajaya lagi, “publik selalu
dibiasakan mendengar musik pop yang macam sekarang”. Riyanto
lain pula sikapnya. Kaum musisi tak usah meloncat terlalu
tinggi. “Harus fifty-fifty, setengah mengikuti selera
masyarakat, setengah lagi membuat lagu bermutu”, katanya. Sebab
bagaimaapun, selera tetap memegang peranan. Seperti yang
diakuinya selama ini, ia membuat lagu-lagu pop ringan dan hampir
tak pernah lupa mencipta dengan akord yang bagus. Katanya, yang
pertama perlu agar tak terpisah dari publik. Sedang yang
terakhir mengajak masyarakat menikmati musik yang baik.

Itu Riyanto. Bagaimana dengan Tony Koeswoyo? Baginya musik pop
yang penting harus menyentuh selera masyarakat. “Kita bikin lagu
untuk siapa?” tanyanya. “Memenuhi selera masyarakat tidak
semudah menyebutnya sebagai kampungan”. Katanya, ia pernah
membuat lagu menuruti hukum-hukum musik. Tapi ketika
dinyanyikan, “lho, larinya kok ke jazz”, katanya pula. Membuat
lagu yang susah dijangkau kuping awam, “bunuh diri namanya”. Tak
peduli musik bisa mendidik atau tidak. Karenanya, “penuhi selera
masyarakat, kemudian bersama-sama naik ke atas”, tukasnya.

Gairah muda. Jalan fikiran Tony mungkin yang paling banyak
dianut musisi muda selama ini. Koes Plus memang punya kelompok
sendiri dalam peta bumi permusikan di negeri ini. Tak terlalu
susah, namun tak mudah ditiru Lain dengan Riyanto yang nampaknya
lebih kompromistis. Yang terakhir ini tidak selalu harus
memenuhi selera masyarakat tapi juga mesti bikin musik yang
baik. Bimbo barangkali bisa masuk kelompok ini. Tapi satu hal
jelas bahwa kelompok Mus, Pranajaya, Jack dan musisi-musisi yang
tak muda lagi agaknya tak mudah merangkul pendengar yang bukan
angkatannya. Soalnya persis seperti kata Paul Hutabarat:
“Popularitas sebuah lagu pop lebih banyak ditunjilng oleh unsur
gairah muda, bukan nilai seninya”.

Sementara itu ada penyanyi yang memakai improvisasi buat mencari
warna lain dalam lagu pop. Anna Mathovani dan Margie Segers
adalah sedikit dari yang banyak. Terhadap hal itu, Jack Lesmana
menganggapnya sebagai usaha mencari mutu pop yang lebih baik.
Kata Jack, Anna telah mencapai tingkat tertinggi “dari pop
selera sekarang”. Dan kini dia berupaya mcncari yang lebih
tinggi hati. Akan halnya Koes Plus, jelas tak bisa dikatakan
melakukan hal yang sama. Tony Koeswoyo bahkan lebih banyak
mencari warna musik daerah dalam lagu-lagunya — dalam Topeng
Beat misalnya, atau beberapa lagu yang bermotif gamelan Jawa.
“Secara musikal itu pun suatu kemajuan”, kata Nick Mamahit .

Sekarang masalahnya terpulang kembali kepada masing-masing.
Kelompok Mus boleh saja jalan terus dengan misinya. Bisa juga
seperti Riyanto yang mengambil jalan tengah. Atau sarma sekali
seperti Tony – Koeswoyo, a1lg “jalan sendiri-sendiri. Nanti
kalau sudah berhasil, boleh coba-coba bergabung bikin musik yang
baik”, begitulah.

Tempo Edisi. 29/III/22 – 28 September 1973 

Frame Three A:

International collections

 

 

 

Gilda Giuliani – Parigi a volte cosa fa (WPSF 1973, Italy)
4.45 min. | 5.0 avaliação | 5611 exibições
(Audio only) Probably best known in Italy for her tune “Serena”, which she sang at the 1973 San Remo festival, Gilda Giuliani is considered the Italian Edith Piaf. She was only 19 when she travelled to Tokyo to perform “Parigi a volte cosa fa” at the 1973 World Popular Song Festival, which won both Grand Prize and “Most Outstanding Performance”. Gilda is considered the most successful artist ever to take part in the WPSF, as she came in second place (winning a second “Most Outstanding Performance” award) five years later with the song “Due parole”.

 

Prestasi yang cukup membanggakan dari musik Indonesia di tahun 1982 berhasil diukir oleh sang “Macan Festival” Harvey Malaiholo. Bersama dengan group vokal Geronimo yang mewakili tanah Air. Harvey yang tampil dengan kekuatan vokal prima yang total All Out membawakan tembang “Lady” ciptaan Antonn Issudibyo. Kematangan Vokal diimbangi dengan support dari Geronimo Singers, berhasil membawa Indonesia merebut Trophy “ KAWAKAMI SPECIAL AWARD” pada WORLD POP SONG FESTIVAL 1982 di Tokyo Jepang.Ternyata ada 1 hal yang menarik dari Ajang Festival lagu internasional ini. Yaitu di deretan kontestan yang mewakili beberapa negara peserta ada 1 nama yang akhirnya berhasil mendunia 5 tahun kemudian setelah menjadi peserta di festival ini. Yups,dia adalah CELINE DION. Sosok perempuan berdarah Prancis yang sekarang menjelma menjadi Diva musik Pop dunia.

Dalam festival ini Celine Dion mewakili negara Prancis ( kemudian setelah Go International, Celine menetap di Kanada ). Dion menyanyikan lagu berbahasa negaranya yang berjudul Tellement J’ai D’Amour Pour Toi. Dengan kekuatan warna vokal yang tak berubah seperti setelah dia mendunia. Dan tak sia-sia, Penghargaan Outstanding Song Award pun berhasil diraihnya.

Selain itu ada pula nama John Rowles, nama yang 1 ini pun pernah akrab di telinga pecinta lagu-lagu manca era 70-an dengan hitsnya Hush! Not A Word to Mary. Rowles mewakili negara Selandia Baru dan tampil dengan lagu Holiday in Mexico yang juga meraih Outstanding Song Award.

Dalam Festival ini Meksiko yang diwakili oleh penyanyi Yoshio berhasil meraih 2 penghargaan internasional yaitu Most Outstanding Performance dan Best Song Award.

Nah!!! Berikut urutan lengkap para peserta WORLD POP SONG FESTIVAL TOKYO 1982 serta lagu dan penghargaan yang mereka raih pada saat itu :

1. Anne Bertucci ( AS ) – Where did We Go Wrong ; Trophy : Grand Prix Winner for Non Japan
2. Yoshio ( Meksiko ) – Esename A Querer; Trophy : Most Outstanding Performance & Best Song
3. Ronen Bahunker ( Israel ) – Off All My Love Song; Trophy : Outstanding Song Award
4. Asuka ( Jepang ) –Flower Thief; Trophy : Grand Prix Winner For Japan
5. John Rowles ( Selandia Baru ) – Holiday in Mexico;Trophy : Outsanding Song Award
6. Harvey Malaiholo ( Indonesia ) – Lady; Trophy : Kawakami Special Award
7. Taffy McElroy ( AS ) – Just One Chance To Be Free
8. Celine Dion ( Prancis) – Tellement J’ai D’Amour Pour Toi; Trophy: Outstanding Song Award
9. Mio Honda ( Jepang ) – Sad Dancer; Trophy : Outstanding Song Award
10. Sarah Chen ( Taiwan ) – Promise Me Tonight

Frame Three:

The Nippon Budokan Hall

Nippon Budokan (日本武道館?)
Budokan
Nippon Budokan Hall Main entrance
Location 2-3 Kitanomarukōen, Chiyoda, Tokyo 102-8321, Japan
Coordinates 35°41′36″N 139°45′00″E / 35.69333°N 139.75°E / 35.69333; 139.75
Built 1964
Opened October 3, 1964
Owner The Nippon Budokan Foundation (財団法人 日本武道館, Zaidan Hōjin Nippon Budōkan?)
Construction cost 2 billion Japanese yen
(5.6 million USD in 1964)
Architect Mamoru Yamada
Main contractors Takenaka Corporation
Capacity 14,201
Field dimensions Height: 42 m (140 ft)

The Nippon Budokan (日本武道館, Nippon Budōkan?), often shortened to just Budokan, is an arena in central Tokyo, Japan.

It was here that The Beatles and Kiss made their Japanese debut[1] and the location where many “Live at the Budokan” albums were recorded. The Nippon Budokan, however, was originally built for the judo competition in the 1964 Summer Olympics, hence its name, rendered in English as Martial Arts Hall.

Contents

 

Location

The Nippon Budokan is located in Kitanomaru Park in the center of Tokyo, two minutes’ walking distance from Kudanshita Subway Station, and near Yasukuni Shrine. This 42 m (140 ft) high imposing octagonal structure holds 14,201 people (arena seats: 2,762, 1st floor seats: 3,199, 2nd floor seats: 7,760, standee: 480) and is modeled after Yumedono (Hall of Dreams) in Hōryū-ji in Nara.

Venue history

 Martial arts

A Concert Stage at Budokan

Though it still functions as a venue for big musical events, its primary purpose is for Japanese martial arts. The national championships of the different branches of the martial arts (judo, kendo, karate, aikido, shorinji kempo, kyūdō, naginata, etc.) are held annually at the Budokan. For wrestling fans the Budokan means professional wrestling‘s big shows. Now, the Budokan is mostly used by Pro Wrestling Noah, who often hold major events there.

Music

Roof of Budokan and cherry blossoms

The Beatles were the first rock group to perform here, in a series of shows in June/July 1966; their appearances were met with opposition from those who felt the appearance of a western pop group would defile the martial arts arena.[2]

However, the Budokan gained worldwide fame when American artists Cheap Trick & Bob Dylan used the arena to record their concert albums, At Budokan (1978) and Bob Dylan at Budokan (1979), respectively. In explaining the popularity of the venue for live albums, Eric Clapton described the Tokyo audience as “almost overappreciative” in interviews promoting his own live Just One Night (1980), recorded at Budokan.

Other artists to release live recordings from this venue include:

The original Beatles concert is heavily bootlegged on audio and video;[3] the first night’s concert video was officially released by Apple in Japan only as Beatles Concert at Budokan 1966, and excerpts are included in The Beatles Anthology. Chatmonchy currently holds the record for the largest crowd at Budokan.[citation needed]

Nippon Budokan

 Other events

A national ceremony to mourn the Second World War dead is held with the attendance of the Prime Minister, the Emperor and the Empress annually in Budokan on August 15, the day of Japan’s surrender.

Frame Four:

The History of World Pop song Festival Tokyo 1973

The Yamaha Music Festival, officially known as World Popular Song Festival and unofficially as the “Oriental Eurovision”, was an international song contest held in 1970-1989. It was organised by the Yamaha Music Foundation in Tokyo, Japan from 1970 until 1989. The first edition of the World Popular Song Festival (WPSF) took place on 20, 21 and 22 November 1970 with 37 participating countries from all continents.

Belgium was represented at the 1970 edition by Daliah Lavi, famous for her role in Casino Royale (1967), the James Bond parody featuring Woody Allen as well with Samantha Gilles in 1987 ending second with the song Hold Me. Lavi performed the chanson “Prends L’Amour” and ended up 13th in the Grand Final (the contest had two semi-finals and one final). The Netherlands delegated world-known jazz singer Rita Reys with the song “Just Be You”, a composition by her husband Pim Jacobs. Other famous 1970 participants were 1969 Eurovision winner Frida Boccara for France, Jacques Michel for Canada and Ted Mulry for Australia, who scored a national number 1 hit with his entry. Winner of the 1st WPSF was Israel with the duo Hedva & David. More than 2 million copies of their winning entry “Ani Holem Al Naomi” (“I Dream Of Naomi”) were sold worldwide, giving a serious credibility boost to the new Festival.

Well established names as well as new talents tried their fortune at the WPSF: a very young ABBA under the name Björn & Benny with uncredited backing vocals by their partners Agnetha and Anni-Frid performing the track “Santa Rosa” with little success (later relegated to the B-side of their second single “He Is Your Brother”), Céline Dion (Best Song Award in 1982), Bryan Adams (Participating in 1982), Tina Charles, Eros Ramazzotti, Daniela Romo, Gianna Nannini, Demis Roussos, Bonnie Tyler, B.J. Thomas, LaToya Jackson, Erasure, Cissy Houston, Italian singer-songwriter Alice and many others.

In the history of the WPSF the United Kingdom has been the most successful, winning the “WPSF Grand Prix” 5 times in the seventies (even three times in row). The United Kingdom is followed by the United States with 4 Grand Prix victories. Smaller countries won as well: Jamaica in 1972 with Ernie Smith, Norway in 1974 with Ellen Nikolaysen, Cuba in 1981 with Osvaldo Rodríguez and Hungary in 1983 with Newton Family.

 Grand Prix Winners

Year Country Artist Title
1970  Israel Hedva & David “I Dream of Naomi”
1971  France Martine Clémenceau “Un Jour l’Amour”
   Japan Tsunehiko Kamijo & Rokumonsen “Tabidachi No Uta”
1972  United Kingdom Capricorn “Feeling”
   Jamaica Ernie Smith “Life is Just for Livin'”
1973  Italy Gilda Giuliani “Parigi a Volte Cosa Fa”
   United States Shawn Phillips All the Kings and Castles
   United Kingdom Keeley Ford “Head over Heels”
1974  Norway Ellen Nikolaysen “You Made Me Feel I Could Fly”
1975  Mexico Mister Loco “Lucky Man”
   Japan Miyuki Nakajima “Jidai (Time Goes Around)”
1976  Italy Franco & Regina “Amore Mio”
   Japan Sandy “Goodbye Morning”
1977  United Kingdom Rags “Can’t Hide My Love”
   Italy Mia Martini “Ritratto di donna”
   Japan Masanori Sera and Twist “Anta no Ballade”
   Turkey Ajda Pekkan “A Mes Amours”
1978  United Kingdom Tina Charles Love Rocks
   Japan Hiroshi Madoka “Musoubana (Fly on All the Way)”
1979  United Kingdom Bonnie Tyler “Sitting on the Edge of the Ocean”
   Japan Crystal King “Daitokai (In the City of Strangers)”
1980  United States Mary MacGregor “What’s The Use”
1981  Cuba Osvaldo Rodríguez “Digamos Que Mas Da”
1982  United States Anne Bertucci “Where Did We Go Wrong”
1983  Hungary Newton Family “Time Goes By”
1984  Canada France Joli “Party Lights”
1985  Argentina Valeria Lynch “Rompecabezas”
1986  United States Stacy Lattisaw “Longshot”
1987  Australia Pseudo Echo “Take on the World”
1988   (Undecided)  
1989   (Benefit Concert Only)  

Awards

  • Grand Prix International
  • Grand Prix National 1975-1979
  • Most Outstanding Performance Award (MOPA)
  • Outstanding Performance Award (OPA)
  • Outstanding Song Award (OSA)
  • Kawakami Award

the end @ copyright Dr Iwan Suwandy 2011