Driwan Stem CEll therapy Information center

 

FOUNDER
 
Dr Iwan Suwandy,MHA
more infocontact
iwansuwandygmail.com
all free of charge
this info to all human in the world
with
 
THE MIGHTY GOD BLESS
 
 

The development of stem therapy in Indonesia
Stem Cell Therapy Could Prevent Various Diseases
Qalbinur Nawawi – Okezone
THURSDAY , NOVEMBER 7 2013 14:57 pm
 
The discussion ( Photo : qalbi / Okezone )
THROUGH Dr . Boenjamin Setiawan Distinguished Lecture Series 2013 , Dr . Boenjamin Setiawan, PhD , Chairman of the Scientific Advisory Board of Stem Cell and Cancer Institute , to educate the public about the research and development of health technology . One of them is that stem cell therapy , the results of the latest medical technology and treatment is believed to answer the needs of Indonesia in the future .

 
Stem cells or stem cell is a cell that can reproduce itself and has the ability to differentiate into many cell . Because of this ability , the potential of stem cells to regenerate damaged cells or dysfunction in many diseases and potential to cure many incurable diseases .
 
” Stem cells are the future of medicine and can cope with various diseases .
 In our bodies there are many cells , such as bone marrow and fat cells in our body .
Cells in our own bodies there are 100 trillion cells , and every day there will be a lot of dead and all.
 All it takes is regenerated and the efforts of the solutions come from stem cell therapy , ” said Dr. . Boenjamin Setiawan, PhD , Chairman of the Scientific Advisory Board of Stem Cell and Cancer Institute in the event themed Increasing Quality Life Through Cell Therapy at the University Tarumanagara Main Building , Auditorium Room 3rd Floor , West Jakarta , Thursday ( 07/11/2013 )
 

” Our body is like a car , which is often used when the inevitable damage .
 And it can be fixed with stem cell therapy through the ‘ five R ‘ . First , replacing damaged cells or to repair and replace , then regenerated by stem cell therapy , and the fourth R rehabilitated . Anyway , all the damaged cells enhanced , then finally rejuvenated , “he continued .
 
The biggest benefit of stem cell therapy is very diverse , can make the skin taut and youthful look , then also can cure incurable diseases .
 
” So far , stem cell therapy is still small . RSCM itself which is the reference point of all disease , had stem cell therapy to cure four diseases . Firstly , osteoarthritis handled dr . Andri Lubis , Sp.OT , heart attack or heart , burns , and fractures that do not want to connect – connect , ” he explained .
 
Not merely that, this stem cell therapy can cure degenerative diseases , such as heart failure , cartilage injury , stroke , diabetes , and kidney failure .

 However, to be able to get the formula of the treatment of degenerative it should continue to be extracted by the related parties , primarily academics and practitioners , as well as the government .
The goal is that the more types of diseases that can be cured by this stem cell therapy .
Where indirect already advancing research and development of health technology in Indonesia .
 
” The existence of this educational program and sharing so that existing lecturers in medical school ikutresearch , not just teaching in the classroom .
It was because of the many benefits that can be cured of this cell therapy . I wish health and health technology Indonesian move on and do not be retarded . Do not want to be followers . And to achieve that , the teachers can not only in the classroom alone . They must participate researching , ” he explained .
 
Meanwhile , the education program itself runs from 6-8 November 2013 in Jakarta, which is housed in several large campuses in Jakarta , namely the University of Atma Jaya , Tarumanegara University , University of Indonesia and the peak of the event will be held at the Four Seasons on 9 November 2013 .
( tty )
Dr. . Boenjamin Setiawan, PhD
 
dr . Boenjamin Setiawan, Ph.D.

This is one example of a figure model of health that have multidimensional mindset . Broad insights to help successful reading opportunities .
Consistency will be the nature of his concern for the world of medical research in Indonesia helped memerbanyak existing business opportunities .
Establish a pharmacological company had indeed ideals of the ancients . His experience in fostering research memerkaya helped perpetuate the success of Kalbe Farma road gait .
He is one of the exemplary model of health . Open minded but firm .
Kalbe Farma is the founding manifesto of a sense of love for the field of pharmacology .
Also, concern for the progress of the development of medical science gets a share of attention in developing the health agenda in Indonesia .
 
Not a bit of research it supports . As well as well as some foundations that receive special attention in the advancement of health .
Here are some of them who built the foundation , Foundation for the Development of Human Resources in 1970 and the Foundation for Development of Creativity in 1985 .
Pun , who cultivated many pharmacological companies supported by the results of scientific research in its development process .
He is a multi – dimensionil doctor and has a soul of steel -minded entrepreneurs

Perkembangan stem terapi di Indonesia

Terapi

 Stem Cell 

Bisa Cegah Beragam Penyakit

Qalbinur Nawawi – Okezone

 

 

KAMIS, 7 NOVEMBER 2013 14:57 wib

Acara diskusi (Foto: Qalbi/Okezone)

MELALUI

 Dr. Boenjamin Setiawan Distinguished Lecture Series 2013, Dr. Boenjamin Setiawan PhD, Chairman of Scientific Advisory Board Stem Cell and Cancer Institute, memberikan edukasi kepada masyarakat mengenai perkembangan riset dan teknologi kesehatan. Salah satunya ialah terapi stem cell

, hasil teknologi kesehatan terbaru dan diyakini bisa menjawab kebutuhan pengobatan Indonesia di masa depan.

 

 

 

 

Stem cell atau sel punca merupakan sel yang bisa memperbanyak dirinya dan mempunyai kemampuan untuk berdiferensiasi menjadi banyak sel. Karena kemampuannya ini, stem cell berpotensi untuk meregenerasi sel yang rusak atau disfungsi dalam berbagai penyakit dan potensial untuk menyembuhkan berbagai penyakit yang sulit disembuhkan.
 
Stem cell

 merupakan pengobatan masa depan dan bisa mengatasi beragam penyakit.

Dalam tubuh kita terdapat banyak sel, seperti di sumsum tulang belakang dan sel lemak dalam tubuh kita.

Sel dalam tubuh kita sendiri ada 100 triliun sel dan setiap hari akan ada yang mati dan banyak sekali.

Semua itu butuh diregenerasi dan upaya itu jalan keluarnya datang dari terapi 

stem cell,” kata Dr. Boenjamin Setiawan PhD, Chairman of Scientific Advisory Board Stem Cell and Cancer Institute dalam acara bertema Increasing Quality Life Through Cell Therapy

 di Gedung Utama Universitas Tarumanagara, Ruang Auditorium Lantai 3, Jakarta Barat, Kamis (7/11/2013)
 

 

 

 

“Badan kita itu ibarat mobil, di mana saat sering dipakai pasti terjadi kerusakan.

Dan itu bisa diperbaiki dengan terapi 

stem cell melalui ‘lima R’. Pertama, sel yang rusak diganti atau di-repair dan replace, kemudian diregenerasi melalui terapi stem cell, dan R keempat direhabilitasi. Pokoknya, semua sel yang rusak disempurnakan, kemudian akhirnya diremajakan,” sambungnya.
 
Manfaat terbesar terapi 
stem cell ini sangat beragam, bisa membuat kulit kencang dan tampak awet muda, kemudian juga bisa menyembuhkan penyakit yang sulit disembuhkan.
 
“Sejauh ini, terapi 
stem cell masih sedikit. RSCM sendiri yang merupakan tempat rujukan semua penyakit, sudah terapi stem cell

 untuk penyembuhan empat penyakit. Pertama, osteoartritis yang ditangani dr. Andri Lubis, Sp.OT, serangan jantung atau jantung, luka bakar, dan patah tulang yang tidak mau menyambung-nyambung,” jelasnya.
 

 

Tak sebatas itu, terapi stem cell ini bisa menyembuhkan penyakit degeneratif, seperti gagal jantung, cedera tulang rawan, stroke, diabetes, dan gagal ginjal

.

 

 

Kendati demikian, untuk bisa mendapat formula dari pengobatan degeneratif itu  harus terus digali oleh pihak terkait, utamanya akademisi dan praktisi, serta pemerintah.

 

Tujuannya agar makin banyak jenis penyakit yang bisa disembuhkan oleh terapi 

stem cell ini.

 

Di mana secara tak langsung sudah memajukan perkembangan riset dan teknologi kesehatan di Indonesia.
 
“Adanya program edukasi dan 

sharing ini agar para dosen yang ada pada fakultas kedokteran ikutresearch, bukan hanya sekadar mengajar di kelas.

Hal itu karena banyak manfaat yang bisa disembuhkan dari terapi sel ini. Saya ingin teknologi kesehatan dan kesehatan Indonesia maju terus dan jangan terbelakang. Jangan mau jadi 

follower. Dan untuk mencapai hal itu, para dosen tidak bisa hanya dalam kelas saja. Mereka harus ikut meneliti,” jelasnya.
 

Sementara itu, program edukasi ini sendiri berlangsung dari tanggal 6-8 November 2013 di Jakarta yang bertempat di beberapa kampus besar di Jakarta, yaitu Universitas Atmajaya, Universitas Tarumanegara, Universitas Indonesia dan puncak acara akan dilaksanakan di Hotel Four Seasons pada 9 November 2013

.

(tty)

 

Dr. Boenjamin Setiawan PhD

 

 

 

dr. Boenjamin Setiawan Ph.D.

 

I

nilah salah satu contoh figur tokoh kesehatan yang memiliki pola pikir multidimensional. Wawasannya yang luas membantu sukses membaca peluang yang ada.

Konsistensi akan sifat kepeduliannya pada dunia penelitian medis di Indonesia membantu memerbanyak peluang usaha yang ada.

Mendirikan perusahaan farmakologi merupakan sudah memang cita-citanya dari dahulu. Pengalamannya dalam membina memerkaya penelitian-penelitian turut membantu melanggengkan jalan kiprah kesuksesan Kalbe Farma.

Beliau merupakan salah satu tokoh kesehatan yang patut diteladani. Pikirannya terbuka namun tegas.

Berdirinya Kalbe Farma merupakan manifesto dari rasa kecintaannya pada bidang farmakologi.
Pun, kepeduliannya kepada kemajuan perkembangan ilmu kesehatan mendapatkan porsi perhatian dalam agenda mengembangkan kesehatan di Indonesia.

Tidak sedikit penelitian yang didukungnya. Serta pula beberapa yayasan yang mendapatkan perhatian khusus dalam kemajuan bidang kesehatan.

Berikut diantaranya beberapa yayasan yang didirikannya yakni, Yayasan Pengembangan Sumber Daya Manusia pada tahun 1970 dan Yayasan Pengembangan Kreatifitas pada tahun 1985.

Pun, perusahaan farmakologi yang dibinanya banyak didukung oleh hasil-hasil penelitian ilmiah dalam proses pengembangannya.

Beliau merupakan dokter multi-dimensionil serta memiliki jiwa pengusaha yang bermental baja. []s

Kalbe, The Making of No. 1 Pharma

Kalbe , The Making of No . 1 Pharma
Thursday, June 1, 2006
By : Prih Sarnianto
Through the merger , Kalbe Farma burst into the top ranks of pharmaceutical companies terakbarIndonesia . What are the strengths that enable them become the biggest in the ASEAN region ?
This is the grandest marriage in Indonesian business stage . Through the internal merger , PT Kalbe Farma Tbk . as the surviving company overtake Sanbe Farma fluttering over the years at the peak of the largest pharmaceutical companies in the country .
In fact , more than that . With a market capitalization of U.S. $ 2 billion , the company whose shares are listed on the Jakarta Stock Exchange with code KLBF also establish itself in the top ranks of public companies in Southeast Asia .
In terms of sales , Kalbe result of a merger that grossed $ 267.2 million revenueUS , in the Southeast Asian region is second only to Pfizer and GlaxoSmithKline ( GSK ) is indeed the world pharmaceutical industry giant .
Nevertheless, as a group of pharmaceutical business , Kalbe Group is actually always the biggest .
Understandably , under the umbrella of one ‘s business empire , directly or indirectly there are big names , including Toedjoe star ( Extra Joss producers who enter the ranks of Top 10 Pharmaceutical Companies in Indonesia ) , Hexpharm ( the largest generic drug manufacturer in the 5th Indonesia ) , Saka Farma ( ABC Sakatonic remember ? ) , Mighty Biosciences ( producer Prenagen , Diabetasol , and other health foods ) , Kalbe Morinaga ( leading dairy producer ) , Innogene Kalbiotech ( biotechnology -based drug manufacturer in Singapore ) and Kageo Igar Jaya ( packaging ) .
Mergers involving PT Enseval sebagaisuperholding and three companies listed on the JSE – Kalbe Farma , Dankos Laboratories ( DNKS ) , Enseval Son Megatrading ( EPMS ) – as well as forming a company that truly integrated . Horizontally , Kalbe ” new ” offer a product range that is much wider , ranging from various forms of drug and health food supplements and energy drinks through . Vertically, they perform activities from procurement of raw materials , finished product manufacturing , marketing , to sales and distribution.
Consolidation is done , Kalbe officials and analysts predict , will improve the efficiency of business operations . For any procurement , centralized management will make bargaining power increases so that the purchase price of raw materials can be reduced . Inventory will also be more efficient . Similarly , economies of scale production skyrocketed .
On the marketing side , the allocation of funds for the expansion of the market will swell to new markets that can be worked will also be much more extensive and , tail , improve competitiveness . Marketing efforts are cleverly divided by the market from various sides – OTC ( over-the- counter drugs that can be sold freely , without a doctor’s prescription ) , ethical ( prescription drugs ) , hospitals , physician practices , medical specialists , institutions – can be done more focused .
“If the company is not large , do this responsibility , ” said Herman Widjaja . The reason , according to the Kalbe Group Marketing Director , for maintaining that particular row salespeople were required considerable additional cost .
Beyond the issue of efficiency , the merger is done to stop the ” civil war ” that has been happening . Previously , people Kalbe and Dankos , for example , because it knows properly the contents of the stomach , respectively , in each field with fierce jegal . With the merger that made them into one team , aggressiveness on the field will certainly be transferred to outside competitors .
Remarkably , despite civil war , Kalbe and Dankos pramerger can share market area . In product categories flu medicine , for example , Kalbe Procold carrying flags fluttering in Indonesia Region West , from Central Java and Jakarta . Meanwhile , Mixagrip which bears the name of Dankos strong in eastern Indonesia , ranging from East Java to Bali , East Nusa Tenggara and Sulawesi . Not surprisingly , both of these brands so equally large and in the aggregate owns 40 % of the national market .
Separation of the market , according to Herman , was not formally designed . Nevertheless, he said , ” We , right , perform in a focused marketing activity so as not to overflow into all areas . So , the bags are formed . ” Reason behind this ? ” To be ( in marketing efforts ) do not run out of funds . ”
In terms of sales , Mixagrip become the market leader with a share of around 30 % so that even surpass Procold lost Ultraflu ( Henson pharma ) and Decolgen ( Medifarma ) .
However , mastering the higher market segments ( mass affluent and middle mass ) , Procold provide higher profit margins than Mixagrip the lower market segments (middle massdan lower mass ) .
The division of the target market segments like this is definitely not a coincidence . In 1974 , when Procold launched , the market for flu drugs lower-middle segment is very crowded . Therefore , Kalbe Procold then positioned on top of the local products that have mastered the lower segment through price competition , but still below the industry champion of foreign pharmaceutical products . For the market segment under greater – in 2005 , mass pasarlower size estimated at U.S. $ 900 million or much larger than the mass middle market ( U.S. $ 400 million ) , mass affluent ( U.S. $ 300 million ) or affluent ( U.S. $ 400 million ) – many years later Kalbe candidate Mixagrip produced Dankos .
Powered bold marketing efforts and painstaking , positioning the tandem paired proven to seize the market in all segments – from the bottom up . Although overall sales Procold ranks only 4th , for the upper – middle segment Kalbe flu drug product is still above Neozep and the like . Thus , in one category only products of this fat , Kalbe has created two major growth engine .
What do they do when conquering the market category of medicinal products arguably typical flu Kalbe . Established in 1966 , since the beginning Boenjamin Setiawan want to put Kalbe as the company that owns differentiation . When taking a pharmacology Ph.D. program at the University of California , Boenjamin who was then a young lecturer at the Faculty of Medicine, University of Indonesia sees growth opportunities not only pharmaceutical company that produces generic drugs in the country .
” Products are made to be unique , different from the existing ones in the market , ” said dr . Boen . ” And , the product must be marketed with a good strategy . ”
However , despite a clear vision , not easy to be a business to make it happen . The proof , initial efforts dr . Young Boen with some fellow lecturers FKUI failed .
In 1963 , a new two -year return of the United States , socio- economic condition of Indonesia may not have been too conducive to a business with great ideals . Or maybe , he and his friends are fellow physicians experienced no run business so chaotic results.
Fortunately , Boen not despair though was tempted offer big paying job in the Netherlands . Together with five siblings who have a variety of scientific backgrounds – some are doctors , dentists , pharmacists and economics graduate – he tried again .
This time , after initially rented a garage in the area of ​​Tanjung Priok , 6 brothers issued capital each big enough . ” Kamicommitted because then bought the building in Tanjung Priok so no way back , ” said born in Tegal , 23 September 1933 , with a laugh . “If not , we will lose . ”
Commitments made ​​at the right time , we know , successful childbirth .
In 1966 , with the rise of Suharto as President who opened the door wide for the entry of foreign capital , ranks multinationals flocked to Indonesia . Pfizer , GSK and Boehringer not only bring capital but also technology . ” And the most important technologies that they bring , ” said dr . Boen earnestly , ” is … marketing . ”
Boen remember very well , when it was a local company such as Incense and Soho only produce generic drugs are sold at low prices .
 Meanwhile , the champion of the world pharmaceutical industry to sell its products at high prices due to the marketing efforts are not cheap .
Given this reality , he said , ” We went in with a price in the middle position . ”
Positioning at the top but the generic product under the originator ‘s product makes Kalbe can reap enough profit margins fat and still have a price advantage that allows to compete with multinational corporations .
Create boost brand created , Boen also not rely solely on marketing .
From the beginning , he incorporates elements of research and development into products Kalbe . By replacing or adding 1-2 active ingredients of the original composition of the product , he can differentiate the product . Moreover , the scientific background as a physician pharmacologists enabled him to create a rational composition .
Until now , the basic strategy is still adhered to by Kalbe . In terms of prices , for example , despite already having an extensive network of doctors , Kalbe still set prices ” at the top of a generic product , but under the product originator ” .
” On average they ( Kalbe ) set the price of the product 8 times the price of a generic drug and under the price of the originator product , ” said an executive of a national pharmaceutical company .
The director who refused to be named this call Kalmoxillin as an example . Kalbe artificial antibiotic product is priced about 8 times the price of Amoxicillin , at least before the generic product whose price is set by the government is downgraded , but still cheaper than Amoxil is an original product .
Perhaps you will ask , is there a national company that dared to set product prices , which in fact is just a cheat , higher than the original products of the pharmaceutical industry champions abroad ?
And he said no . And the product of this greedy pharmaceutical companies still find a buyer .
Understandably , the drugs we call it by the name ” S ” it is a prescription medication that is prescribed by doctors, anyone can not replace the Amoxicillin ( generic ) ,
Kalmoxillin ( branded generics are less expensive and may not necessarily be of poor quality ) , even Amoxil ( original brand ) , without the consent of the doctor who wrote the prescription .
Pharmaceutical companies are well-known greedy doctor is obviously a lot to buy quickly skyrocket . Therefore , given that the wood without messing Kalbe like it could be the biggest pharmaceutical companies , it raises its own admiration .
Another thing that is admirable , it was, courage Kalbe OTC product launches .
 Different from the ethical product purchasing decisions in the hands of a doctor , in order to be successful in the market , a drug that can be purchased without a prescription it must obtain the final consumer trust .
 Because it involves millions of his own pocket and population , the end consumer is obviously more difficult than the doctor who persuaded tens of thousands and the population is only just getting patients to buy ( and , of these transactions , he could get a big bonus ) . In addition , the price of OTC products also can not be set too high because the competition is much more free , so that the relatively low profit margins .
In short, build brand OTC products is much more difficult – takes longer and costs more – than prescription drugs . Take for example Fatigon .
Previously marketed as ethical products , multivitamins of Dankos was launched as an OTC in the mid -1990s . However , Arie Wibowo message through a new entrance into the minds of consumers in the early 2000s , so they were only able to enjoy the results in recent years .
To build OTC brands , the efforts made much longer than the existence of ad impressions that can be monitored through the television set . Long before the products are formulated , first conducted research for knowing the needs of the market . From these results – for example , some people will need medications to eliminate fatigue with a certain price range – the exact composition of the product created and developed the production process accordingly.
Products that respond to these needs, Fatigon , developed based formulations neurovitamin plus vitamin E.
 This combination is already on the market , the product has even made ​​me too it by a national pharmaceutical company .
Dankos innovation lies in the addition of potassium and magnesium salts of L – aspartate which can accelerate the dismantling of lactic acid .
 Well , because it can accelerate the dismantling of a substance which is a metabolic waste that causes muscle fatigue and communicated this Fatigon as a multivitamin to make fatigue go away ( gone ) , aka tired relievers . This ingenious Positioningyang make Fatigon able to capture 35 % market share multivitamin .
And they did not stop there . Create meremajakannya – or mengapitalisasi Fatigon name that has been built at a cost of tens of billions – Dankos develop another variant : Spirit Fatigon spiked with L- carnitine , an amino acid compound which can accelerate the burning of fat into energy .
Create distinguish it from ordinary Fatigon , product extensions which no longer contain L – aspartate salt is dressed in a bright red packaging and take Primus Yustisio as endorser .
Kalbe is good at developing brand and meremajakannya . View Promag alone . Launched in 1971 as the first stomach pain medications advertised , antacid ( neutralizing stomach acid ) this one is one of the few local products which is able to defeat the dominant products of multinational companies in almost all countries .
Bottles are Teh Bak conquer the Coca-Cola Soft Drinks Global King , Promag garnering 80 % market share of stomach pain medications , making Mylanta is popular all over the world it did not move . Ke-4/2005 quarter , according to a survey conducted by a third , with sales of Rp 33.13 billion Promag was ranked 5th best-selling drug in the ranks of drug stores .
Amazingly, Kalbe is not only able to maintain a relatively cheap Promag it . Later , they were also able to develop it into a more upper class with Promag Double Action . Then , to keep the attack from below , Kalbe use Toedjoe Star to confront the Chinese-yam which , again , has a product differentiation . Joint Chinese-yam which also controls the sale of greater than Mylanta , Kalbe holding 89 % market share of stomach pain medications .
In the category of other medicinal products , Kalbe also triumphed . Neo – Enterostop holding 48 % market share antidiarrheal medication . In kerubutan , Woods , Komix , Mixadin and controls 50 % market Mextril cough medicine . Then , as mentioned above , and Mixagrip Procold captured 40 % market share of the flu drug .
In fact , with sales of USD 8.92 billion , according to a survey conducted third party , Procold ” reformula ” which was launched in February 2004 was ranked top selling new medicines in drugstores for IV/2005 quarter , followed by Extra Joss B7 ( selling USD 6.11 billion ) which was launched in May 2005 . The new OTC products other Kalbe Group , Irex Max , which launched in July 2004 was ranked as the 7th with sales of USD 2.99 billion .
Kalbe successful launching of this OTC product range makes them hoist themselves as the most successful company sells its products through drug stores . IV/2005 quarter , the Group Kalbe reap sales of Rp 284.42 billion of free drug was the biggest outlets – leaving far its closest competitor , Pfizer Group and Tempo Group is in the same quarter each only grossed sales of Rp 177.30 billion and Rp 160.93 billion .
In the energy drink product category , with Extra Joss is holding 43 % market share , again Kalbe successful global brand memecundangi dominant everywhere . Currently , Extra Joss which is one of the biggest growth engine Kalbe has set foot in the Philippines market . In Indonesia , the products cleverly formulated in the form of effervescent powder has diekstensi so Extra Joss LG , Extra Joss Extra Joss X and Endurance .
In dairy products and other health foods , Kalbe also showed his power . Drawn Prenagen (which has over 68 % market share of dairy product categories for pregnant women ) and Diabetasol ( which is holding 51% market share clinical food product category ) as the biggest growth locomotive , in 2005 they reap sales of U.S. $ 104 million from health food – far over -the-counter as well as energy drinks , each of which only U.S. $ 88 million .
For products that can be bought , Kalbe occupy an honored place in every major category . In the category of OTC drug products , for example , with a market share of 12.7 % in 2005 Kalbe fluttering at the top , beat Tempo ( 10.4 % ) or Konimex ( 7.4 % ) were known to have a strong brand it .
In the category of energy drink products , Kalbe dominance almost impossible shaken . Extra Joss market share and its derivatives in 2005 reached 43.5 % which is much larger than the Red Bull ( 22.4 % ) and Hemaviton and its derivatives ( 12.5 % ) combined.
Only in the category of nutritional products Kalbe is holding a 10.1 % market share lost to specialist dairy products : Nestle ( 36.1 % ) and Sari Husada ( 14.4 % ) . Nevertheless, considering Kalbe mainly go into the premium market , profit margins are fatter certainly ditangguk
For ethical product category ? Kalbe still have to admit supernatural Dexa Medica and Pharma were indeed whiz Sanbe ethical products . However , control of the national market share of 9.4 % , in the categories of products should only be sold with a doctor ‘s prescription Kalbe who was ranked 3rd narrowly lost Dexa ( 12.0 % ) and Sanbe ( 10.3 % ) .
Kalbe income of ethical product category is mostly obtained through the sale of branded drug products ( 60.0 % , valued at U.S. $ 83 million ) , followed by products licensed drugs ( 29.0 % , valued at U.S. $ 41 million ) , which gives a relatively high margin . Product sales are low-margin generic drugs accounted for only 11.0 % ( worth U.S. $ 15 million ) .
If dissected according to the target market , revenue Kalbe of ethical product categories derived primarily from sales through specialist physicians ( 46 % ) , followed by general practitioners ( 21 % ) and institute ( 13 % ) . Of this target market , again the composition of high -margin sales of ethical products is very dominant . Specialists, we know , always prescribe the most expensive drugs . Meanwhile , sales to institutions normally associated with generic drugs . For non-branded drugs , market institutions provide higher profit margins than regular market in the era of regional autonomy is highly fragmented , so the high cost of marketing .
Kalbe success marketing products with high margins also reflected on their key products are relatively brand new . Subcategory of antibiotic products carrying names Cefspan , Fixef , Cravit , Reskuin , Tarivid , Danofloc , Cefizox and Cefazol . Then , no more than a subcategory produkhospital ( Fimalbumin and Octalbin ) , antineoplastic and immunomodulatory ( Paxus , epirubicin ) , musculo – skeletal system ( Mediflex ) .
Ke-4/2005 quarter , Cefspan even ranked 7th best-selling drug list with sales of Rp 19.14 billion, growing 26 % from the previous year to Rp 15.22 billion and was ranked 15th . For new drug products in pharmacies , managed to put Mediflex Kalbe ranked 8th best sellers with sales of USD 3.20 billion and Doxorubicin at No. 11 (USD 2.59 billion ) . Meanwhile , for new pharmaceutical products in hospitals , they managed to put Cernevit ( sales of USD 3.21 billion ) billion at No. 4 , followed by doxorubicin (USD 2.20 billion ) at No. 9 , epirubicin ( USD 2 billion ) at No. 12 , Fima Hes 200 ( USD 1.86 billion ) at No. 16 , and Kalbamin (USD 1.83 billion ) in the rankings to 18th .
The number of new products whose sales shot shows that Kalbe has a lot of future growth engines . ” We will regularly launches 15 new products every year , ” said Johannes Setijono , CEO of Kalbe , sure .
If the products are launched it as they had done before – at least in part based biotechnology which , because of the high – tech , very few competitors – the engine of future growth Kalbe will certainly extraordinary .
 Moreover , if the grand plan went into biogenerik products through Innogene materialize .
Understandably , in the whole world will be confirmed only a handful of pharmaceutical companies are able to produce generic biotechnology-based products that complicated .
Beyond this , in collaboration with Recombio , Innogene even develop a vaccine for cancer called 1E10 .
With anti – idiotypic cancer vaccine made ​​from mammalian cells needed this particular , breast cancer , lung cancer and skin cancer will have an effective alternative to drugs and 40 % less expensive . Another big leap pursued Kalbe Group is the product of a stem cell biotechnology .
Other growth engine , which is no less great , is selling to overseas markets . In 2005 , the export value of their drug products that Rp 294.83 billion – plus packaging (USD 7.26 billion ) and health foods ( USD 8.76 billion ) – a new portion occupies 5.2 % of the total sales . That is , the export market segments still gives a very spacious room to grow .
In 2005 , with the Orange holding Drug Ltd. . , Nigeria , Kalbe establish a joint venture . With Orange – Kalbe operation in 2007 , sales are expected Promag , Procold , Neo – Enterostop , and other Kalbe mainstay products in the West African country will exceed U.S. $ 10 million / year . For the 30 % ownership stake , Kalbe plant U.S. $ 3 million .
” But , all the equipment we send from here , anyway, ” said dr . Boen sumringah Tegalnya subtle accent . Elderly men who still energetic hope , in the next five years , exports soared Kalbe will contribute 15 % to total sales .
Joint venture with Morinaga , Kalbe which controls 70.0 % of shares is also building dairies . This step will obviously strengthen their position in the dairy business premium class . Currently, Chil Mil and its derivatives have defeated foreign premium brands in other countries generally dominate the market .
Beyond that , Kalbe presumably could also hope to develop Enseval Son Megatrading be considerable growth engine . Has 40 distribution centers that are directly or indirectly mengover 1 million outlets , trunk distribution Kalbe is the largest distributor of healthcare products in Indonesia . In 2005 , 25 % Enseval reap revenue from Eisei , Takeda , L’ Oreal , Mead Johnson and other international business partners .
With the increasing number of foreign products coming into the country , experienced Enseval poduk distributes various categories – from OTC , prescription drugs , chemicals and other raw materials to consumer products healthdan health equipment – will certainly get a chance to enlarge his business . Understandably , however , new entrants from outside is not possible to handle its own distribution elaborate .
In addition , although lagging step of Dexa , Kalbe is also developing a test lab bioavailability / bioekivalen ( BA / BE ) . Under harmonization of ASEAN market in 2008 , which requires all drugs to be distributed in Southeast Asian markets tested BA / BE , Pharma Labs built Metrics is certainly a great opportunity to become a profit center .
All of this makes Kalbe one of the few Indonesian business entities that are well- positioned in the AFTA era soon . Moreover , if the consolidation is done running smoothly . Opportunities to it ? They are quite certain, that a grand merger will be done as smoothly as planned . The reason is simple , it just happened in the merger between the parent companies who are committed to one , with the same purpose . All subsidiaries are taken each parent only needs to submit to the commitment of its parent .
For example , Star Toedjoe previously under Dankos , stay involved just what the commitment Dankos . Even if there is displacement position , said officials Kalbe , ” That was ordinary . We have often experienced the rotation . ”
In metamorphosis Kalbe , what is done now to 2015 is a big stage of globalization . To that end , the expansion should be done at least to the ASEAN region . Here , because of his elephant -sized , large -sized businesses is a must . That is why , the merger is done . After the completion of internal consolidation , mergers and acquisitions will be done externally in order to stimulate growth .

Previously , the first metamorphosis ( 1966-94 ) , Kalbe been expanding rapidly in a similar way . In 1975 , for example , Kalbe establish subsidiaries outside its core business – but still related , ie Igar Jaya engaged in the packaging industry . This expansion was followed by the formation Dankos intended to enter the market further down .
Then , in 1981 , when the government requires a separate distribution business of production , Kalbe Enseval release . That same year , Kalbe parenteral preparations go into business and consumer health business venturing , each through Finusol Prima Perkasa and Biosciences .
In 1985 , Kalbe first major acquisition . Using Dankos hand , they annexed Toedjoe Star and Hexpharm . Then , in 1989 , as an exploratory step into the capital market , stock Dankos and Igar Jaya launched on the JSE and the Surabaya Stock Exchange . After that go public TEBUKTI it profitable , then the main company , Kalbe Farma , brought to the trading floor .
With stronger capital , 1993 , Kalbe Farma first consolidation : Mighty Biosciences annexed and put bisnisconsumer health subsidiary to this one . That same year , went into business Kalbe energy drinks . In 1994 , the stock turn Enseval released to the trading floor . The era of expansion led new business development and acquisition closed with the establishment of PT Bifarma Adiluhung and the launch of Extra Joss by Toedjoe Star in 1995 .
Entering 1996, the major consolidation Kalbe start by removing 50 % stake Hill manikam Sakti engaged in the food business to Arnotts . More comprehensive consolidation carried out in 1997 and thereafter when Kalbe worse by the financial crisis that hit Asia .
The fast pace back to the core business – consumer health , ethical pharmaceutical products , as well as distribution and packaging – Kalbe saved from the brink of bankruptcy . In 2005 , consumer healthyang include OTC pharmaceutical products , product nutisi and energy drinks accounted for 47 % of revenue. The rest , contributed ethical pharmaceutical products ( 23 % ) as well as distribution and packaging ( 30 % ) . A balanced portfolio is one of the pillars of strength Kalbe .
Another pillar of strength , we have referred to above , is their prowess in research & development as well as the skill and perseverance to market products , especially OTC , which they developed . Still less ?
Yes , there is one more pillar of the biggest : human resources and management professionals . Different from Lippo Ciputra Group or its management or the Salim family dikangkangi still strong , Kalbe arguably the only large conglomerates are almost fully staffed professional management .
Realizing its strength as a scientist and visionary but less control of the management of everyday business – perhaps the wisdom of two times the initial failure – dr . Boen since the beginning of setting up the management ranks of professionals to manage Kalbe . When in this country not many qualified executives , he did not hesitate to pay expensive expatriates .
Currently , management Kalbe has arguably matured . In terms of lessons learned , they may be more complete than any big company management in the country . And they managed to rise from adversity to remain the largest .
” The blow was severe , if not deadly , it will make us stronger , ” said the wise man . This power alone , plus the advantages of being a public company whose majority shares are still controlled by the family – must be transparent , but strong enough to resist the urge to minority investors are usually more concerned with short-term gains – likely to be a sufficient provision for Kalbe become big companies , even the grandest in the ASEAN region

Kamis, 01 Juni 2006
Oleh : Prih Sarnianto

Melalui merger, Kalbe Farma menyeruak ke posisi puncak jajaran perusahaan farmasi terakbarIndonesia. Apa saja kekuatan yang memungkinkan mereka jadi yang terbesar di kawasan ASEAN?

Inilah perkawinan terakbar di panggung bisnis Indonesia. Melalui merger internal itu, PT Kalbe Farma Tbk. sebagai surviving company menyalip Sanbe Farma yang selama bertahun-tahun berkibar di puncak sebagai perusahaan farmasi terbesar di Tanah Air.

Bahkan, lebih dari itu. Dengan kapitalisasi pasar US$ 2 miliar, perusahaan yang sahamnya tercatat di Bursa Efek Jakarta dengan kode KLBF ini juga memantapkan diri di peringkat teratas jajaran perusahaan publik di Asia Tenggara.

Dari segi penjualan, Kalbe hasil merger yang meraup revenueUS$ 267,2 juta, di kawasan Asia Tenggara hanya kalah dari Pfizer dan GlaxoSmithKline (GSK) yang memang raksasa industri farmasi dunia.

Kendati demikian, sebagai kelompok bisnis farmasi, Grup Kalbe sebenarnya selalu yang terbesar.

Maklum, di bawah payung kerajaan bisnis yang satu ini, secara langsung maupun tak langsung terdapat nama-nama besar, termasuk Bintang Toedjoe (produsen Extra Joss yang masuk jajaran 10 Besar Perusahaan Farmasi di Indonesia), Hexpharm (produsen obat generik terbesar ke-5 di Indonesia), Saka Farma (ingat Sakatonic ABC?), Sanghiang Perkasa (produsen Prenagen, Diabetasol, dan makanan kesehatan lainnya), Kalbe Morinaga (produsen susu terkemuka), Innogene Kalbiotech (produsen obat berbasis bioteknologi di Singapura) dan Kageo Igar Jaya (pengemas).

Merger yang melibatkan PT Enseval sebagaisuperholding dan tiga anak perusahaan yang terdaftar di BEJ tersebut  – Kalbe Farma, Dankos Laboratories (DNKS), Enseval Putera Megatrading (EPMS) — sekaligus membentuk perusahaan yang betul-betul terintegrasi. Secara horisontal, Kalbe “baru” menawarkan rentang produk yang jauh lebih luas, mulai dari berbagai bentuk obat dan makanan kesehatan sampai suplemen dan minuman berenergi. Secara vertikal, mereka melakukan kegiatan dari pengadaan bahan baku, manufakturing produk jadi, pemasaran, sampai penjualan dan distribusi.

Konsolidasi yang dilakukan, para petinggi Kalbe maupun analis meramalkan, bakal meningkatkan efisiensi operasional bisnis. Untuk pengadaan saja, penanganan yang terpusat akan membuat posisi tawar meningkat sehingga harga beli bahan baku dapat ditekan. Inventori juga bakal lebih efisien. Demikian pula, produksi yang skala ekonominya melejit.

Di sisi pemasaran, alokasi dana untuk perluasan pasar akan menggelembung sehingga pasar baru yang bisa digarap juga akan jauh lebih luas dan, buntutnya, meningkatkan daya saing. Upaya pemasaran yang dengan cerdik dibagi berdasarkan pasar dari berbagai sisi — OTC (over the counter, obat yang dapat dijual bebas, tanpa resep dokter), etikal (obat dengan resep), rumah sakit, dokter praktik, dokter spesialis, institusi — dapat dilakukan secara lebih fokus.

“Kalau perusahaannya tidak besar, melakukan ini tanggung,” ujar Herman Widjaja. Pasalnya, menurut Direktur Pemasaran Grup Kalbe ini, buat memelihara barisan tenaga penjualan yang khusus itu diperlukan biaya tambahan yang besar.

Di luar masalah efisiensi, merger yang dilakukan menghentikan “perang saudara” yang selama ini terjadi. Sebelumnya, orang-orang Kalbe dan Dankos, misalnya, karena tahu benar isi perut masing-masing, di lapangan saling jegal dengan sengit. Dengan penggabungan yang membuat mereka jadi satu tim, agresivitas di lapangan tentunya akan dapat dialihkan ke pesaing luar.

Hebatnya, walau terjadi perang saudara, Kalbe dan Dankos pramerger dapat berbagi wilayah pasar. Di kategori produk obat flu, misalnya, Procold yang membawa bendera Kalbe berkibar di Kawasan Indonesia Barat, mulai dari Jawa Tengah dan Jakarta. Sementara itu, Mixagrip yang menyandang nama Dankos kuat di Kawasan Indonesia Timur, mulai dari Jawa Timur sampai Bali, Nusa Tenggara Timur dan Sulawesi. Tak mengherankan, kedua merek ini jadi sama-sama besar dan secara agregat menguasai 40% pasar nasional.

Pemisahan pasar tersebut, menurut Herman, secara resmi tidak dirancang. Kendati demikian, katanya, “Kami, kan, melakukan marketing activity secara terfokus agar tidak meluber ke semua wilayah. Jadi, dibentuklah kantong-kantong tersebut.” Alasan di balik ini? “Agar (dalam upaya pemasaran) tidak kehabisan dana.”

Dari sisi penjualan, Mixagrip menjadi pemimpin pasar dengan pangsa sekitar 30% sehingga mengungguli Procold yang bahkan kalah dari Ultraflu (Henson farma) dan Decolgen (Medifarma).

Namun, menguasai segmen pasar yang lebih tinggi (mass affluent dan middle mass), Procold memberikan margin laba yang lebih tinggi ketimbang Mixagrip yang segmen pasarnya lebih rendah (middle massdan lower mass).

Pembagian target segmen pasar seperti ini jelas bukan merupakan kebetulan. Pada 1974, ketika Procold diluncurkan, pasar obat flu untuk segmen menengah-bawah sudah sangat sesak. Sebab itu, Kalbe lalu memosisikan Procold di atas produk lokal yang telah menguasai segmen bawah melalui persaingan harga, tetapi masih di bawah produk kampiun industri farmasi asing. Untuk segmen pasar bawah yang lebih besar — pada 2005, size pasarlower mass diperkirakan US$ 900 juta atau jauh lebih besar ketimbang pasar middle mass (US$ 400 juta), mass affluent (US$ 300 juta) ataupun affluent(US$ 400 juta) — bertahun-tahun kemudian Kalbe menjagokan Mixagrip yang diproduksi Dankos.

Didukung upaya pemasaran yang berani dan telaten,positioning yang dipasangkan secara tandem tersebut terbukti ampuh untuk merebut pasar di seluruh segmen — dari yang bawah sampai ke atas. Walau secara keseluruhan penjualan Procold hanya menduduki peringkat ke-4, untuk segmen menengah-atas produk obat flu Kalbe ini masih di atas Neozep dan sebangsanya. Dengan demikian, di satu kategori produk yang gemuk ini saja, Kalbe berhasil menciptakan dua mesin pertumbuhan yang besar.

Apa yang mereka lakukan ketika menaklukkan pasar kategori produk obat flu boleh dibilang khas Kalbe. Didirikan pada 1966, sejak awal Boenjamin Setiawan ingin menempatkan Kalbe sebagai perusahaan yang memiliki diferensiasi. Ketika mengambil program Ph.D bidang farmakologi di University of California, Boenjamin yang kala itu menjadi dosen muda di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia melihat peluang tumbuhnya perusahaan farmasi yang tak hanya memproduksi obat generik di Tanah Air.

“Produk yang dibuat haruslah unik, berbeda dari yang sudah ada di pasar,” tutur dr. Boen. “Dan, produk itu harus dipasarkan dengan strategi yang baik.”

Namun, walau visinya jelas, tak gampang mewujudkannya jadi sebuah bisnis. Buktinya, upaya awal yang dilakukan dr. Boen muda bersama beberapa rekan dosen FKUI gagal.

Pada 1963 itu, baru dua tahun pulang dari Amerika Serikat, kondisi sosial-ekonomi Indonesia mungkin belum kelewat kondusif untuk sebuah bisnis dengan cita-cita besar. Atau mungkin, dia dan kawan-kawan yang sesama dokter tak ada yang berpengalaman menjalankan bisnis sehingga amburadul hasilnya.

Untungnya, Boen tak putus asa walau sempat tergiur tawaran kerja bergaji gede di Belanda. Bersama lima saudaranya yang memiliki berbagai latar belakang keilmuan — ada yang dokter, dokter gigi, apoteker dan sarjana ekonomi — dia mencoba lagi.

Kali ini, setelah awalnya menyewa garasi di kawasan Tanjung Priok, 6 bersaudara itu masing-masing mengeluarkan modal cukup besar. “Kamicommitted lantaran lalu beli gedung di Tanjung Priok sehingga tak bisa mundur lagi,” tutur kelahiran Tegal, 23 September 1933, itu sambil tertawa. “Kalau tidak, kami akan rugi.”

Komitmen yang dilakukan pada saat yang tepat tersebut, kita tahu, melahirkan sukses.

Pada 1966 itu, dengan naiknya Soeharto sebagai Presiden RI yang membuka pintu lebar-lebar bagi masuknya modal asing, barisan perusahaan multinasional berbondong ke Indonesia. Pfizer, GSK dan Boehringer bukan hanya membawa modal, melainkan juga teknologi. “Dan teknologi terpenting yang mereka bawa,” ungkap dr. Boen dengan sungguh-sungguh, “adalah … marketing.”

Boen ingat betul, waktu itu perusahaan lokal seperti Dupa dan Soho hanya memproduksi obat generik yang dijual dengan harga murah.

Sementara itu, para jawara industri farmasi dunia menjual produknya dengan harga mahal karena melakukan upaya pemasaran yang tidak murah.

Melihat kenyataan ini, tuturnya, “Kami masuk dengan posisi harga di tengah.”

Positioning di atas produk generik tetapi di bawah produk originator ini membuat Kalbe dapat menangguk margin laba cukup gemuk dan tetap memiliki keunggulan harga yang memungkinkan bersaing dengan kalangan perusahaan multinasional.

Buat mendongkrak merek yang diciptakan, Boen juga tak hanya mengandalkan pemasaran.

Sejak awal, dia memasukkan unsur riset & pengembangan ke dalam produk-produk Kalbe. Dengan mengganti atau menambah 1-2 bahan aktif dari komposisi produk original, dia dapat mendiferensiasi produk. Apalagi, latar belakang keilmuannya sebagai dokter yang ahli farmakologi memungkinkannya menciptakan komposisi yang rasional.

Sampai saat ini, strategi dasar ini masih dipegang teguh oleh Kalbe. Dari sisi harga, misalnya, walau telah memiliki jaringan dokter yang luas, Kalbe tetap menetapkan harga yang “di atas produk generik, tetapi di bawah produk originator”.

“Rata-rata mereka (Kalbe) menetapkan harga produknya 8 kali harga obat generik dan di bawah harga produk originator,” ujar seorang eksekutif perusahaan farmasi nasional.

Sang direktur yang tak mau disebut namanya ini menyebut Kalmoxillin sebagai contoh. Produk antibiotik buatan Kalbe ini dibanderol sekitar 8 kali harga Amoxicillin, setidaknya sebelum produk generik yang harganya ditetapkan pemerintah ini diturunkan, tetapi masih lebih murah ketimbang Amoxil yang merupakan produk original.

Mungkin Anda akan bertanya, adakah perusahaan nasional yang berani menetapkan harga produknya, yang notabene cuma contekan, lebih tinggi ketimbang produk original dari kampiun industri farmasi mancanegara?

Jawabnya: ada. Dan produk perusahaan farmasi yang serakah ini tetap mendapatkan pembeli.

Maklum, obat yang kita sebut saja dengan nama “S” itu adalah obat etikal yang diresepkan dokter, siapa pun tak boleh mengganti dengan Amoxicillin (generik),

Kalmoxillin (generik bermerek yang lebih murah dan belum tentu lebih jelek kualitasnya), bahkan Amoxil (merek original), tanpa persetujuan dokter yang menulis resep tersebut.

Perusahaan farmasi serakah yang terkenal banyak membeli dokter ini jelas cepat meroket. Karena itu, menilik bahwa Kalbe tanpa main kayu seperti itu bisa jadi perusahaan farmasi terbesar, sungguh menimbulkan kekaguman tersendiri.

Hal lain yang patut diacungi jempol adalah, itu tadi, keberanian Kalbe meluncurkan produk OTC.

Berbeda dari produk etikal yang keputusan belinya ada di tangan dokter, agar sukses di pasar, obat yang dapat dibeli tanpa resep itu harus memperoleh kepercayaan konsumen akhir.

Karena menyangkut kocek sendiri dan populasinya jutaan, konsumen akhir jelas lebih sulit dibujuk ketimbang dokter yang populasinya hanya puluhan ribu dan sekadar menyuruh pasien untuk beli (lalu, dari transaksi tersebut, dia bisa mendapat bonus gede). Selain itu, harga produk OTC juga tak dapat ditetapkan kelewat tinggi karena persaingannya jauh lebih bebas, sehingga margin labanya relatif rendah.

Pendek kata, membangun merek produk OTC jauh lebih sulit — makan waktu lebih lama dan biaya lebih banyak — ketimbang obat etikal. Ambil contoh Fatigon.

Sebelumnya dipasarkan sebagai produk etikal, multivitamin dari Dankos ini diluncurkan sebagai OTC pada pertengahan 1990-an. Namun, pesan melalui Arie Wibowo baru masuk ke benak konsumen pada awal 2000-an, sehingga mereka baru bisa menikmati hasilnya beberapa tahun belakangan.

Untuk membangun merek OTC, upaya yang dilakukan jauh lebih panjang ketimbang adanya tayangan iklan yang bisa dipantau melalui pesawat televisi. Jauh sebelum produk diformulasikan, dilakukan dulu penelitian buat mengetahui kebutuhan pasar. Dari hasil penelitian ini — misalnya, kebutuhan sebagian masyarakat akan obat yang dapat menghilangkan kelelahan dengan kisaran harga tertentu — diciptakan komposisi produk yang tepat dan dikembangkan proses produksi yang sesuai.

Produk yang menjawab kebutuhan ini, Fatigon, dikembangkan berdasarkan formulasi neurovitamin plus vitamin E.

Kombinasi ini sudah ada di pasar, bahkan sudah dibuat produk me too-nya oleh sebuah perusahaan farmasi nasional.

Inovasi Dankos terletak pada penambahan garam kalium dan magnesium dari L-aspartat yang dapat mempercepat pembongkaran asam laktat.

Nah, karena bisa mempercepat pembongkaran zat yang merupakan sisa metabolisme yang menimbulkan lelah otot inilah Fatigon lalu dikomunikasikan sebagai multivitamin untuk membuat fatigue pergi (gone), alias obat penghilang lelah. Positioningyang cerdik ini membuat Fatigon mampu merebut 35% pangsa pasar multivitamin.

Dan mereka tak berhenti sampai di situ. Buat meremajakannya — atau mengapitalisasi nama Fatigon yang telah dibangun dengan biaya puluhan miliaran — Dankos mengembangkan varian lain: Fatigon Spirit yang dibubuhi L-carnitin, senyawa asam amino yang dapat mempercepat pembakaran lemak menjadi energi.

Buat membedakannya dari Fatigon biasa, produk ekstensi yang tak lagi mengandung garam L-aspartat ini didandani dengan kemasan merah menyala dan mengambil Primus Yustisio sebagai endorser.

Kalbe memang piawai mengembangkan merek dan meremajakannya. Lihat saja Promag. Diluncurkan pada 1971 sebagai obat nyeri lambung pertama yang diiklankan, antasida (penetral asam lambung) yang satu ini adalah satu dari sedikit produk lokal yang mampu mengalahkan produk perusahaan multinasional yang dominan di hampir semua negara.

Bak Teh Botol yang menaklukkan Coca-Cola sang Raja Minuman Ringan Global, Promag meraup 80% pangsa pasar obat nyeri lambung, membuat Mylanta yang ngetop di seluruh penjuru dunia itu tak berkutik. Pada kuartal ke-4/2005, menurut survei yang dilakukan pihak ketiga, dengan penjualan Rp 33,13 miliar Promag menduduki peringkat ke-5 jajaran obat terlaris di toko-toko obat.

Hebatnya lagi, Kalbe bukan cuma mampu mempertahankan Promag yang harganya relatif murah itu. Belakangan, mereka juga mampu mengembangkannya ke kelas yang lebih atas dengan Promag Double Action. Lalu, untuk menjaga serangan dari bawah, Kalbe menggunakan Bintang Toedjoe untuk menghadang dengan Waisan yang, lagi-lagi, memiliki diferensiasi produk. Bersama Waisan yang juga menguasai penjualan lebih besar ketimbang Mylanta, Kalbe menggenggam 89% pangsa pasar obat nyeri lambung.

Di kategori produk obat lainnya, Kalbe juga berjaya. Neo-Enterostop menggenggam 48% pangsa pasar obat antidiare. Secara kerubutan, Woods, Komix, Mixadin dan Mextril menguasai 50% pasar obat batuk. Lalu, seperti yang telah disebutkan di atas, Procold dan Mixagrip merebut 40% pangsa pasar obat flu.

Bahkan, dengan penjualan Rp 8,92 miliar, menurut survei yang dilakukan pihak ketiga, Procold “reformula” yang diluncurkan pada Februari 2004 menduduki peringkat puncak obat-obat baru terlaris di toko obat untuk kuartal IV/2005, disusul Extra Joss B7 (penjualan Rp 6,11miliar) yang diluncurkan pada Mei 2005. Produk OTC baru Grup Kalbe lainnya, Irex Max, yang diluncurkan pada Juli 2004 menempati peringkat ke-7 dengan penjualan Rp 2,99 miliar.

Sukses Kalbe meluncurkan berbagai produk OTC ini membuat mereka mengibarkan diri sebagai perusahaan yang paling sukses menjual produknya melalui toko obat. Pada kuartal IV/2005, Grup Kalbe meraup penjualan Rp 284,42 miliar dari gerai terbesar obat bebas itu — meninggalkan jauh pesaing terdekatnya, Grup Pfizer dan Grup Tempo yang pada kuartal yang sama masing-masing hanya meraup penjualan Rp 177,30 miliar dan Rp 160,93 miliar.

Di kategori produk minuman berenergi, dengan Extra Joss yang menggenggam 43% pangsa pasar, lagi-lagi Kalbe berhasil memecundangi merek global yang dominan di mana-mana. Saat ini, Extra Joss yang merupakan salah satu motor pertumbuhan terbesar Kalbe telah menancapkan kaki di pasar Filipina. Di Indonesia, produk yang dengan cerdik diformulasikan dalam bentuk serbuk effervescent ini telah diekstensi jadi Extra Joss LG, Extra Joss X dan Extra Joss Endurance.

Di produk susu dan makanan kesehatan lainnya, Kalbe juga menunjukkan kesaktiannya. Dihela Prenagen (yang menguasai 68% pangsa pasar kategori produk susu untuk ibu hamil) dan Diabetasol (yang menggenggam 51% lebih pangsa pasar kategori produk clinical food) sebagai lokomotif pertumbuhan terbesar, pada 2005 mereka menangguk penjualan US$ 104 juta dari makanan kesehatan — jauh di atas obat OTC maupun minuman berenergi yang masing-masing hanya US$ 88 juta.

Untuk produk-produk yang dapat dibeli bebas ini, Kalbe menduduki tempat terhormat di setiap kategori besar. Di kategori produk obat OTC, misalnya, dengan pangsa pasar 12,7% Kalbe pada 2005 berkibar di puncak, mengalahkan Tempo (10,4%) ataupun Konimex (7,4%) yang dikenal memiliki banyak merek kuat itu.

Di kategori produk minuman berenergi, dominasi Kalbe bahkan hampir mustahil digoyahkan. Pangsa pasar Extra Joss dan turunannya pada 2005 yang mencapai 43,5% jauh lebih besar ketimbang Kratingdaeng (22,4%) dan Hemaviton beserta turunannya (12,5%) digabung jadi satu.

Hanya di kategori produk nutrisi Kalbe yang menggenggam 10,1% pangsa pasar kalah dari spesialis produk susu: Nestle (36,1%) dan Sari Husada (14,4%). Kendati demikian, mengingat Kalbe terutama masuk ke pasar premium, margin laba yang ditangguk tentu lebih gemuk

Untuk kategori produk etikal? Kalbe masih harus mengakui kesaktian Dexa Medica dan Sanbe Farma yang memang jagoan produk etikal. Akan tetapi, menguasai 9,4% pangsa pasar nasional, di kategori produk yang hanya boleh dijual dengan resep dokter ini Kalbe yang menduduki peringkat ke-3 kalah tipis dari Dexa (12,0%) dan Sanbe (10,3%).

Pendapatan Kalbe dari kategori produk etikal ini sebagian besar diperoleh melalui penjualan produk obat bermerek (60,0%, senilai US$ 83 juta), disusul produk obat lisensi (29,0%, senilai US$ 41 juta), yang memberikan margin relatif tinggi. Penjualan produk obat generik yang bermargin rendah hanya menyumbang 11,0% (senilai US$ 15 juta).

Jika dibedah menurut target pasar, pendapatan Kalbe dari kategori produk etikal terutama diperoleh dari penjualan melalui dokter spesialis (46%), disusul dokter umum (21%) dan insititusi (13%). Dari target pasar ini, lagi-lagi komposisi penjualan produk etikal bermargin tinggi sangat dominan. Dokter spesialis, kita tahu, selalu memberikan resep obat-obat yang termahal. Sementara itu, penjualan ke institusi biasanya terkait dengan obat generik. Untuk obat tanpa merek, pasar institusi memberikan margin laba yang lebih tinggi ketimbang pasar reguler yang di era otonomi daerah ini sangat terfragmentasi, sehingga biaya pemasarannya tinggi.

Keberhasilan Kalbe memasarkan produk dengan margin tinggi juga tecermin pada produk kunci mereka yang relatif gres. Dari subkategori produk antibiotik tercatat nama-nama Cefspan, Fixef, Cravit, Reskuin, Tarivid, Danofloc, Cefizox dan Cefazol. Lalu, ada lagi dari subkategori produkhospital (Fimalbumin dan Octalbin), antineoplastik dan imunomodulator (Paxus, Epirubicin), musculo-skeletal system (Mediflex).

Pada kuartal ke-4/2005, Cefspan bahkan menduduki peringkat ke-7 daftar obat terlaris dengan penjualan Rp 19,14 miliar atau tumbuh 26% dari tahun sebelumnya yang hanya Rp 15,22 miliar dan menduduki peringkat ke-15. Untuk produk obat baru di apotek, Kalbe berhasil menempatkan Mediflex di peringkat ke-8 terlaris dengan penjualan Rp 3,20 miliar dan Doxorubicin di peringkat ke-11 (Rp 2,59 miliar). Sementara itu, untuk produk obat baru di rumah sakit, mereka berhasil menempatkan Cernevit (penjualan Rp 3,21 miliar) miliar di urutan ke-4, disusul Doxorubicin (Rp 2,20 miliar) di peringkat ke-9, Epirubicin (Rp 2 miliar) di peringkat ke-12, Fima Hes 200 (Rp 1,86 miliar) di peringkat ke-16, dan Kalbamin (Rp 1,83 miliar) di peringkat ke-18.

Banyaknya produk baru yang penjualannya melesat ini menunjukkan bahwa Kalbe memiliki banyak mesin pertumbuhan masa depan. “Kami akan rutin meluncurkan 15 produk baru setiap tahun,” ujar Johannes Setijono, CEO Kalbe, yakin.

Jika produk-produk yang diluncurkan tersebut seperti yang sudah-sudah — paling tidak sebagiannya berbasis bioteknologi yang, karena high-tech, sangat sedikit pesaingnya — mesin pertumbuhan masa depan Kalbe tentu akan luar biasa.

Apalagi, jika rencana besar masuk ke produk biogenerik melalui Innogene terwujud.

Maklum, di seluruh dunia dipastikan hanya akan ada segelintir perusahaan farmasi yang mampu menghasilkan produk generik berbasis bioteknologi yang rumit itu.

Di luar ini, bekerja sama dengan Recombio, Innogene bahkan mengembangkan vaksin untuk kanker yang disebut 1E10.

Dengan anti-idiotypic cancer vaccine yang dibuat dari sel mamalia yang diperlukan khusus ini, penderita kanker payudara, kanker paru dan kanker kulit akan memiliki obat alternatif yang efektif dan 40% lebih murah. Lompatan besar lain yang diupayakan Grup Kalbe adalah produk bioteknologi dari stem cell.

Mesin pertumbuhan lainnya, yang tak kalah besar, adalah penjualan ke pasar mancanegara. Pada 2005, nilai ekspor produk obat mereka yang Rp 294,83 miliar — ditambah kemasan (Rp 7,26 miliar) dan makanan kesehatan (Rp 8,76 miliar) — baru menempati porsi 5,2% dari penjualan total. Artinya, segmen pasar ekspor masih memberikan ruang yang sangat luas untuk tumbuh.

Pada 2005, dengan menggandeng Orange Drug Ltd., Nigeria, Kalbe mendirikan perusahaan patungan. Dengan beroperasinya Orange-Kalbe pada 2007, diharapkan penjualan Promag, Procold, Neo-Enterostop, dan produk andalan Kalbe lainnya di negara Afrika Barat itu akan menembus US$ 10 juta/tahun. Untuk kepemilikan 30% saham, Kalbe menanam US$ 3 juta.

“Tapi, semua peralatan kami kirim dari sini, kok,” ujar dr. Boen sumringah dengan logat Tegalnya yang kentara. Lelaki sepuh yang masih energik ini berharap, dalam lima tahun ke depan, ekspor Kalbe akan melejit hingga menyumbang 15% penjualan total.

Berpatungan dengan Morinaga, Kalbe yang menguasai 70,0% saham juga sedang membangun pabrik susu. Langkah ini jelas akan memperkuat posisi mereka di bisnis persusuan kelas premium. Saat ini saja, Chil Mil dan turunannya telah mengalahkan merek-merek premium asing yang di negara lain umumnya mendominasi pasar.

Di luar itu, Kalbe agaknya juga bisa berharap mengembangkan Enseval Putera Megatrading menjadi mesin pertumbuhan yang cukup besar. Memiliki 40 pusat distribusi yang secara langsung maupun tak langsung mengover 1 juta gerai, belalai distribusi Kalbe ini adalah distributor produk kesehatan terbesar di Indonesia. Pada 2005, Enseval menangguk 25% pendapatannya dari Eisei, Takeda, L’Oreal, Mead Johnson dan mitra bisnis internasional lainnya.

Dengan semakin banyaknya produk mancanegara yang masuk ke Tanah Air, Enseval yang berpengalaman mendistribusikan berbagai kategori poduk — dari OTC, obat etikal, bahan kimia dan bahan baku lainnya sampai produk consumer healthdan peralatan kesehatan – tentu akan mendapat peluang memperbesar bisnisnya. Maklum, bagaimanapun, pendatang baru dari luar tak mungkin menangani sendiri distribusi yang rumit itu.

Selain itu, walau tertinggal selangkah dari Dexa, Kalbe juga sedang mengembangkan laboratorium uji bioavailabilitas/bioekivalen (BA/BE). Di bawah harmonisasi pasar ASEAN pada 2008 yang mewajibkan seluruh obat yang akan diedarkan di pasar Asia Tenggara lulus uji BA/BE, Pharma Metrics Labs yang dibangun ini tentu berpeluang besar menjadi profit center.

Semua ini menjadikan Kalbe satu dari sedikit entitas bisnis Indonesia yang well-positioned di era AFTA yang tak lama lagi. Terlebih, jika konsolidasi yang dilakukan berjalan mulus. Peluang untuk itu? Mereka yakin benar, merger akbar yang dilakukan akan semulus yang direncanakan. Alasannya sederhana, merger itu hanya terjadi di antara perusahaan induk yang berkomitmen menjadi satu, dengan tujuan sama. Seluruh anak perusahaan yang dibawa masing-masing induk hanya perlu tunduk pada komitmen induknya.

Sebagai contoh, Bintang Toedjoe yang sebelumnya di bawah Dankos, tinggal ikut saja apa yang menjadi komitmen Dankos. Kalaupun ada perpindahan posisi, ujar para petinggi Kalbe, “Itu sudah biasa. Kami sudah sering mengalami rotasi.”

Dalam metamorfosis Kalbe, apa yang dilakukan sekarang sampai 2015 adalah tahapan besar globalisasi. Untuk itu, harus dilakukan ekspansi setidaknya ke kawasan ASEAN. Di sini, karena lawannya berukuran gajah, ukuran bisnis yang besar merupakan keharusan. Itu sebabnya, merger dilakukan. Setelah konsolidasi internal rampung, akan dilakukan merger dan akuisisi eksternal guna memacu pertumbuhan.

 

Sebelumnya, pada metamorfosis pertama (1966-94), Kalbe pernah melakukan ekspansi cepat dengan cara serupa. Pada 1975, misalnya, Kalbe mendirikan anak perusahaan di luar bisnis inti — tetapi masih berhubungan, yaitu Igar Jaya yang bergerak di industri pengemasan. Ekspansi ini diikuti dengan pembentukan Dankos yang dimaksudkan untuk masuk ke pasar lebih bawah.

Lalu, 1981, ketika pemerintah mengharuskan bisnis distribusi terpisah dari produksi, Kalbe melepas Enseval. Tahun itu juga, Kalbe masuk ke bisnis sediaan parenteral dan merambah bisnis consumer health, masing-masing melalui Finusol Prima dan Sanghiang Perkasa.

Pada 1985, Kalbe melakukan akuisisi besar pertama. Menggunakan tangan Dankos, mereka mencaplok Bintang Toedjoe dan Hexpharm. Lalu, pada 1989, sebagai langkah penjajakan ke pasar modal, saham Dankos dan Igar Jaya diluncurkan di BEJ dan Bursa Efek Surabaya. Setelah tebukti bahwa go public itu menguntungkan, barulah perusahaan utama, Kalbe Farma, dibawa ke lantai bursa.

Dengan modal lebih kuat, 1993, Kalbe Farma melakukan konsolidasi pertama: mencaplok Sanghiang Perkasa dan menempatkan bisnisconsumer health ke anak perusahaan yang satu ini. Tahun itu juga, Kalbe masuk ke bisnis minuman berenergi. Pada 1994, giliran saham Enseval diluncurkan ke lantai bursa. Era ekspansi yang dimotori pengembangan bisnis baru dan akuisisi ditutup dengan pendirian PT Bifarma Adiluhung dan peluncuran Extra Joss oleh Bintang Toedjoe pada 1995.

Memasuki 1996, Kalbe memulai konsolidasi besar dengan melepas 50% saham Bukit Manikam Sakti yang bergerak di bisnis makanan ke Arnotts. Konsolidasi yang lebih komprehensif dilakukan pada 1997 dan sesudahnya ketika Kalbe terpuruk oleh krisis moneter yang melanda Asia.

Langkah cepat kembali ke bisnis inti – consumer health, produk farmasi etikal, serta distribusi dan pengemasan — berhasil menyelamatkan Kalbe dari jurang kebangkrutan. Pada 2005, consumer healthyang meliputi produk farmasi OTC, produk nutisi dan minuman berenergi menyumbang 47% pendapatan. Sisanya, disumbang produk farmasi etikal (23%) serta distribusi dan pengemasan (30%). Portofolio yang seimbang ini merupakan salah satu pilar kekuatan Kalbe.

Pilar kekuatan lain, yang telah kita sebut di atas, adalah kehebatan mereka dalam riset & pengembangan serta kepiawaian dan keuletan memasarkan produk, terutama OTC, yang mereka kembangkan. Masih kurang?

Ya, ada satu lagi pilar terbesar: sumber daya manusia dan manajemen yang profesional. Berbeda dari Grup Ciputra atau Lippo atau Salim yang manajemennya masih kuat dikangkangi keluarga, Kalbe boleh dibilang satu-satunya konglomerat besar yang hampir sepenuhnya dikelola manajemen profesional.

Menyadari kekuatannya sebagai seorang saintis dan visioner tetapi kurang menguasai pengelolaan bisnis sehari-hari — mungkin ini hikmah dari dua kali kegagalan awalnya — dr. Boen sejak awal menyiapkan barisan manajemen profesional untuk mengelola Kalbe. Ketika di negeri ini belum banyak eksekutif yang mumpuni, dia bahkan tak segan membayar mahal ekspatriat.

Saat ini, manajemen Kalbe boleh dibilang telah matang. Dari segi pelajaran yang diambil, mereka mungkin lebih komplet ketimbang manajemen perusahaan besar mana pun di Tanah Air. Dan mereka berhasil bangkit dari keterpurukan untuk tetap jadi yang terbesar.

“Pukulan berat itu, kalau tak mematikan, akan membuat kita lebih kuat,” begitu kata orang bijak. Kekuatan ini saja, ditambah keuntungan menjadi perusahaan publik yang saham mayoritasnya masih dikuasai keluarga — harus transparan, tetapi cukup kuat untuk menahan keinginan investor minoritas yang biasanya lebih mementingkan keuntungan jangka pendek — agaknya cukup menjadi bekal bagi Kalbe menjadi perusahaan besar, bahkan terakbar di kawasan ASEAN.

URL : http://202.59.162.82/swamajalah/sajian/details.php?cid=1&id=4427

 

 

LIPI Biotechnology Research Center in collaboration with PT . Kalbe Farma Tbk held a meeting which was held on February 7, 2014 . The event was held in the auditorium of the Research Center for Biotechnology LIPI , Cibinong attended by 62 people from LIPI and Kalbe Farma .

Head of LIPI Biotechnology Research Center (Dr. Ir . Witjaksono , M.Sc ) in the opening of the event emphasized the importance of cooperation with the private sector .
Cooperation is supported by science , technology , equipment , human resources are formidable , networks and biodiversity that we have to be very fundamental role in doing good cooperation . Besides synergistic cooperation with the private sector is an appreciation of this sort of research capability in the country .
 
The first session of the event speakers from PT . Kalbe Farma ( Mr. Ahmad R. Utomo , PhD and Mr. Indra Bachtiar , PhD ) and the next session speakers from LIPI Biotechnology Research Center (Dr. Wien Kusharyoto , Dr. . Adi Santoso , Dr. . Abd M.Fuad , Dr. . Ratih Asmana Ningrum , Dr . Sukma Nuswantara ) . Last Session at the event to present three (3 ) speakers Dr . Andria Agusta from LIPI and Biological Research Center of Bioteknonologi LIPI Research Center (Dr. and Dr. Yantyati Widyastuti . Puspita Lisdiyanti ) .
Indra Bachtiar , PhD from PT . Kalbe Farma in his presentation on stem cell pertaining to the extent of the use of stem cells in medicine .
It can be used to treat various types of diseases , stem cells can also be used for medicinal beauty .
On this occasion Dr discussion session . Sukma Nuswantara posed the question whether man-made stem cells can be packed in capsules and swallowed by the patient after stem cells can serve as treatment with stem cells in general .

Questions are answered by Mr. Indra Bachtiar , Ph.D. which says that in cold conditions stemcell we can not survive more than 5 ( five ) hours .
 So even if the capsule has benefits , contained in a capsule that is certainly not a stem cell but is most likely a protein that may stimulate the cells in our body .
Metrotvnews.com , Jakarta : Stem cell therapy is believed to harbor great potential for treating a variety of diseases in the future .
This is related to the nature of stem cells capable of shape-shifting into any organ .

Not surprisingly , at this time , almost all of the global pharmaceutical companies seeking to develop stem cell products .

In Indonesia , Kalbe Farma pharmaceutical companies participate through its subsidiary ,
Stem Cell and Cancer Institute ( SCI ) .

According to principal investigator SCI Yuyus Kusnadi , one of SCI research being done is the development of stem cells from umbilical cord tissue baby .

” Based on our research , stem cells from umbilical cord tissue much better than stem cells from umbilical cord blood , ” said Yuyus at Iftar Kalbe Farma , some time ago .

Citing research results , Yuyus explained that stem cells obtained from the blood , including umbilical cord blood of infants , ideally used to treat diseases associated with blood , such as leukemia .

As for diseases associated with organ damage , such as osteoarthritis ( wear of cartilage ) , fracture , stroke , and kidney failure should ideally be treated with stem cells originally not of blood ( type of mesenchymal stem cells ) .

Mesenchymal stem cells can be obtained from the spinal cord .
However , making the spinal cord that is invasive and can only be done by competent medical personnel often complicate special .

That’s one reason the SCI develop mesenchymal stem cells from umbilical cord tissue .

Practice, further Yuyus , newborn umbilical cord is taken approximately 1 cm . ” Selected section closest to the placenta , because it is good . ”

Furthermore , umbilical cord tissue was processed in the laboratory to be taken puncanya cells .

Stem cells and cultured according to the dosage needed for later use in therapy . Later , the therapy is allogeneic . That is , patients given stem cells taken from others .

” At present , a new study early stages , will be followed by testing on animals , if successful will be forwarded to clinical trials in humans , ” said Yuyus . ( MI )

Editor : Basuki Eka Purnama

 

Pusat Penelitian Bioteknologi LIPI bekerjasama dengan PT. Kalbe Farma, Tbk menyelenggarakan pertemuan yang dilaksanakan pada tanggal 7 Februari 2014. Acara tersebut digelar di Auditorium Puslit Bioteknologi LIPI, Cibinong dihadiri 62 orang dari LIPI dan Kalbe Farma.

Kepala Pusat Penelitian Bioteknologi LIPI (Dr. Ir. Witjaksono, M.Sc) dalam pembukaan acara tersebut menekankan pentingnya kerjasama dengan pihak swasta.

Kerjasama yang disupport oleh sains, teknologi, peralatan, sumber daya manusia yang tangguh, network dan biodiversity yang kita miliki akan sangat fundamental peranannya dalam melakukan kerjasama yang baik. Disamping itu kerjasama yang sinergis dengan swasta semacam ini adalah bentuk apresiasi kemampuan peneliti dalam negeri.

Session pertama acara tersebut menghadirkan pembicara dari PT. Kalbe Farma (Bapak Ahmad R. Utomo, PhD dan Bapak Indra Bachtiar, PhD) dan session berikutnya menghadirkan pembicara dari Pusat Penelitian Bioteknologi LIPI (Dr. Wien Kusharyoto, Dr. Adi Santoso, Dr. Asrul M.Fuad, Dr. Ratih Asmana Ningrum, Dr. Sukma Nuswantara). Session terakhir dalam acara tersebut menghadirkan 3 (tiga) orang pembicara Dr. Andria Agusta dari Pusat Penelitian Biologi LIPI dan dari Pusat Penelitian Bioteknonologi LIPI (Dr. Yantyati Widyastuti dan Dr. Puspita Lisdiyanti).

Bapak Indra Bachtiar, PhD dari PT. Kalbe Farma dalam presentasinya tentang stem cell menyinggung tentang luasnya penggunaan stem cell dalam dunia kedokteran.

Selain dapat digunakan untuk mengobati berbagai macam jenis penyakit, stem cell juga dapat digunakan untuk obat kecantikan.

Pada kesempatan diskusi session ini Dr. Sukma Nuswantara melontarkan pertanyaan apakah stem cell yang dibuat manusia dapat dikemas dalam kapsul dan setelah di telan oleh pasien stem cell tersebut dapat berfungsi sebagaimana pengobatan dengan stem cell pada umumnya.

 

 

Pertanyaan tersebut dijawab oleh Bapak Indra Bachtiar, Ph.D. yang mengatakan bahwa dalam kondisi dingin stemcell kita ini tidak bisa bertahan lebih dari 5 (lima) jam.

Jadi kalaupun kapsul tersebut mempunyai manfaat, yang terdapat dalam kapsul itu tentu bukan stem cell tapi kemungkinan besar adalah protein yang mungkin dapat menstimulasi sel dalam tubuh kita.

Metrotvnews.com, Jakarta: Terapi sel punca diyakini memendam potensi besar untuk mengobati beragam penyakit di masa depan.

Hal itu terkait dengan sifat sel punca yang mampu berubah bentuk menjadi organ tubuh apa pun.

Tidak mengherankan, saat ini, hampir semua perusahaan farmasi global berupaya mengembangkan produk sel punca.

Di Indonesia, perusahaan farmasi Kalbe Farma turut ambil bagian melalui anak perusahaannya,

Stem Cell and Cancer Institute (SCI).


Menurut peneliti utama SCI Yuyus Kusnadi, salah satu penelitian yang tengah dilakukan SCI adalah pengembangan sel punca dari jaringan tali pusat bayi.

“Berdasarkan penelitian kami, sel punca dari jaringan tali pusat jauh lebih baik daripada sel punca dari darah tali pusat,” ujar Yuyus pada acara buka puasa bersama Kalbe Farma, beberapa waktu lalu.

Dengan mengutip hasil-hasil penelitian, Yuyus menjelaskan bahwa sel punca yang diperoleh dari darah, termasuk darah tali pusat bayi, idealnya digunakan untuk mengobati penyakit-penyakit yang terkait dengan darah, seperti leukemia.

Adapun untuk penyakit-penyakit yang terkait dengan kerusakan organ, seperti osteoartritis (ausnya tulang rawan), patah tulang, stroke, dan gagal ginjal idealnya diterapi dengan sel punca yang asalnya bukan dari darah (sel punca jenis mesenkimal).

 

Sel punca mesenkimal bisa diperoleh dari sumsum tulang belakang.

Namun, pengambilan sumsum tulang belakang yang bersifat invasif dan hanya bisa dilakukan oleh tenaga medis berkompetensi khusus kerap menjadi penyulit.

 

Itulah yang menjadi salah satu alasan SCI mengembangkan sel punca mesenkimal dari jaringan tali pusat.

Praktiknya, lanjut Yuyus, tali pusat bayi baru lahir diambil sekitar 1 cm. “Dipilih bagian yang terdekat dengan plasenta, karena lebih bagus.”

Selanjutnya, jaringan tali pusat itu diolah di laboratorium untuk diambil sel puncanya.

 

Sel punca lalu dibiakkan sesuai dosis yang dibutuhkan untuk kemudian digunakan dalam terapi. Nantinya, terapi bersifat alogenik. Artinya, pasien diberi sel punca yang diambil dari orang lain.

“Saat ini, penelitian baru tahap awal, nantinya akan disusul dengan ujicoba kepada hewan, kalau berhasil akan diteruskan dengan uji klinis pada manusia,” terang Yuyus. (MI)

 

 

 

Editor: Basuki Eka Purnama

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Kebijakan Menteri Riset Dan Teknologi

The Indonesia Menistry Reaseach And Development have starting to built th Science Parks in order to get theinteraction between the REseachers in the world , traders and Government but this project have develoed in many years agot but not advanced

With the moving of the world economic from western to Asia , Indonesian must use this momentum maximaly

The Government target are

TO STIMULATING INOVATION,REASEACHING AND CREATIVATION

With the giving of tax incentive for that field

 

Dr Iwan Notes

Science Parlks too broad notion example we see the difficulties faced by Prof. Sangkot Marzuki of the Eijkman institute that examines the broad aspects of gene and disease that so much so that no visible results, see Pusdokkes Indonesian National Police Department has succeeded with its DVI DNA, according to the opinion of Dr. Iwan preferably in ranging from scientific research that is most needed at this time as
Stem cell gene Biological Research Center

 

Gagasan Science Parks terlalu luas contohnya kita lihat kesulitan yang dihadapi Prof Sangkot Marzuki dengan lembaga Eijkman yang meneliti terlau luas aspek gen dan penyakit yang jumlahya sangat banyak sehingga tidak kelihatan hasilnya ,lihat pusdokkes POLRI telah berhasil dengan DNA DVI nya ,menurut pendapat Dr Iwan sebaiknya di mulai dari penelitian ilmiah yang paling diperlukan saat ini seperti

Gen Biological stem cell Research center

 

Danny Halim , dr . ( researchers Stem Cell Research Working Group – ubuntu , members of the Association of Indonesian Stem Cells ( ASPI ) )
– Harry Murti , S.Si. ( Researchers in the Stem Cell and Cancer Institute ( SCI ) , a member ASPI )
– Ferry Sandra , drg , PhD , LFIBA ( SCI founder , co-founder of ASPI , SCI Director & Chairman of the Executive Board ASPI )
– Prof . Arief Boediono , DVM , PhD ( Professor of IPB , IPB researchers in particular fields of parthenogenesis , governing board ASPI )
– Dr . Tono Djuwantono , dr , SpOG ( K ) ( consultant fertility & reproductive endocrinology ubuntu , researchers at the Stem Cell Research Working Group – ubuntu , members ASPI )
– Boenjamin Setiawan , dr , PhD ( founder of SCI with Sandra Ferry , one of the founders of ASPI )

Disclosure of privileged number of potential stem cell ( stem cells ) in the late 20th century is a major phenomenon in the world of medicine . With its characteristics , stem cell -based medical technology promises hope of a total cure for patients with degenerative diseases such as stroke , Alzheimer’s , diabetes mellitus , Parkinson’s , and heart failure .

Stem Cell – Basic Theory & Clinical Application This is a book that presents a reliable scientific explanation of the basic theories that underlie the use of stem cells in the clinical world .

TABLE OF CONTENTS
Chapter 1
Definitions and Basic Stem Cell Biology
– Stem Cell Characteristics
– Types of Stem Cell

Chapter 2
Diversity of Stem Cell Type : Sources , Isolation Technique , Kulturisasi , Differentiation , and Kriopreservasinya
– Embryonic Stem Cell : Sources & Engineering isolation
– Adult Stem Cell source , identification , and isolation techniques
– Induction of Stem Cell Results ( Induced Pluripotent Stem Cell , iPS )
– Stem Cell Type Other : Fetal Stem Cell and Cancer Stem Cell
– Kulturisasi and Stem Cell Differentiation in In Vitro
– Keep Frozen ( Stem Cell Cryopreservation )

Chapter 3
Mechanism In Stem Cell Regeneration
– Homing
– Mechanism Regeneration by Stem Cell Network
– The use of Stem Cell in Chapter 4 Potential Gene Therapy in the World Stem Cell Research and Clinical Applications
– Aging ( Aging )
– Organ Transplant Exit For Degenerative Diseases
– New Hope For Cell Transplant Patients with Degenerative Diseases
– Role in Stem Cell Therapy Degenerative Diseases
– Role of Stem Cell in Degenerative Disease Diagnosis

SPECIFICATIONS
Year of Publication : 2010
Field of Study : Medicine ( General , Dental , Animal ) , Biology , Pharmacy
Book Size : 15.7 x 24 cm
Hlm Number : 160
Color : Full Color
Paper : HVS 70 g
Cover : Hardcover
Book Code : 0076100030
ISBN : 978-979-075-330-3
   

 Application of a modified method for the isolation of stem cells from lipoaspirates in a basic lab
Caroline T. Sardjono1 , 2 , Melina Setiawan1 , Frisca1 , Virgi Saputra3 , gwendy Aniko4 , Ferry Sandra1

1 Stem Cell and Cancer Institute
2 Microbiology Department , Faculty of Medicine , Maranatha Christian University , Bandung , Indonesia
3 Kalbe Farma Tbk
4 Mitra Kemayoran Family
abstract
The purpose Lipoaspirate containing mesenchymal stem cell numbers are much , so lipoaspirate now become a source of mesenchymal stem cells with huge potential for research and for clinical applications . Simple method mesenchymal stem cell isolation that can be applied on the basis of the laboratory will facilitate the development of stem cell research in developing countries . Hopefully, the results of this study can enhance the development of stem cell research in Indonesia .

Methods Lipoaspirate digested with type I collagenase enzyme then carried filtration .
 Purification of mesenchymal stem cells is done by culturing the cells for 2-3 days followed by disposal of the supernatant .
Confirmation of a homogeneous population of cells with the analysis performed by flowcytometry method in accordance with the criteria of the Mesenchymal and Tissue Stem Cell Committee of the International Society of Cell Therapy .
Results of mesenchymal stem cells that can be obtained using this procedure are as 16.41 ± 8.22 x 108 cells per 120 ml lipoaspirate . Cell culture results showed fibroblastic morphology , in accordance with the characteristics of mesenchymal stem cells and successfully purified from other cells . This was confirmed by flowcytometry analysis showed that CD105 expression , in the absence of expression of HLA – Class II , CD 45 , CD 34 , CD14 , and CD19 .

Conclusion This study showed that mesenchymal stem cells can be isolated from lipoaspirate is simple . This procedure is very possible to be done in a laboratory basis . ( Med J Indones 2009; 18:91-6 )

 

 

Danny Halim, dr. (peneliti Stem Cell Research Working Group-UNPAD, anggota Asosiasi Sel Punca Indonesia (ASPI))
– Harry Murti, S.Si. (peneliti di Stem Cell & Cancer Institute (SCI), anggota ASPI)
– Ferry Sandra, drg, PhD, LFIBA (pendiri SCI, salah satu pendiri ASPI, Direktur SCI & Ketua Dewan Pelaksana ASPI)
– Prof. Arief Boediono, drh, PhD (Guru Besar IPB, peneliti di IPB khususnya bidang partenogenesis, dewan pelaksana ASPI)
– Dr. Tono Djuwantono, dr, SpOG(K) (konsultan fertilitas & endokrinologi reproduksi UNPAD, peneliti di Stem Cell Research Working Group-UNPAD, anggota ASPI)
– Boenjamin Setiawan, dr, PhD (pendiri SCI bersama Ferry Sandra, salah satu pendiri ASPI)

 

 

Terungkapnya sejumlah potensi istimewa stem cell (sel punca) pada akhir abad ke-20 adalah suatu fenomena besar dalam dunia kedokteran. Dengan karakteristik yang dimilikinya, teknologi kedokteran berbasis stem cell menjanjikan harapan kesembuhan total bagi penderita penyakit degeneratif seperti stroke, Alzheimer, diabetes melitus, Parkinson, maupun gagal jantung.

Stem Cell – Dasar Teori & Aplikasi Klinis ini adalah buku yang menyajikan penjelasan ilmiah terpercaya mengenai dasar teori yang menjadi landasan penggunaan stem cell dalam dunia klinis.

 

 

DAFTAR ISI
Bab 1
Definisi dan Biologi Dasar Stem Cell
– Karakteristik Stem Cell
– Jenis-jenis Stem Cell

Bab 2
Keragaman Jenis Stem Cell: Sumber,Teknik Isolasi, Kulturisasi, Diferensiasi, dan Kriopreservasinya
– Stem Cell Embrionik: Sumber & Teknik Isolasinya
– Stem Cell Dewasa: Sumber, Identifikasi, dan Teknik Isolasinya
– Stem Cell Hasil Induksi (induced Pluripotent Stem Cell, iPS)
– Stem Cell Jenis Lain: Stem Cell Fetal dan Stem Cell Kanker
– Kulturisasi dan Diferensiasi Stem Cell secara In Vitro
– Simpan Beku (Kriopreservasi Stem Cell)

 

Bab 3
Mekanisme Stem Cell Dalam Regenerasi
– Homing
– Mekanisme Regenerasi Jaringan oleh Stem Cell
– Penggunaan Stem Cell dalam Terapi Gen Bab 4 Potensi Stem Cell dalam Dunia Riset dan Aplikasi Klinis
– Aging (Penuaan)
– Transplantasi Organ Sebagai Jalan Keluar Penyakit Degeneratif
– Transplantasi Sel Sebagai Harapan Baru Penderita Penyakit Degeneratif
– Peran Stem Cell dalam Terapi Penyakit Degeneratif
– Peran Stem Cell dalam Diagnosis Penyakit Degeneratif

SPESIFIKASI
Tahun Terbit : 2010
Bidang Studi : Kedokteran (Umum, Gigi, Hewan), Biologi, Farmasi
Ukuran Buku : 15,7 x 24 cm
Jumlah Hlm : 160
Warna : Full Color
Kertas : HVS 70 g
Cover : Hardcover
Kode Buku : 0076100030

 

 

 

 

 


ISBN : 978-979-075-330-3

 

 

 

Top of Form

 

 

 

 

 

Application of a modified method for stem cell isolation from lipoaspirates in a basic lab

Caroline T. Sardjono1,2, Melina Setiawan1, Frisca1, Virgi Saputra3, Gwendy Aniko4, Ferry Sandra1

 

 

1 Stem Cell and Cancer Institute

2 Microbiology Department, Faculty of Medicine, Maranatha Christian University, Bandung, Indonesia

3 Kalbe Farma Tbk

4 Mitra Keluarga Kemayoran

Abstrak

Tujuan Lipoaspirate mengandung jumlah sel punca mesenkimal yang banyak, sehingga lipoaspirate kini menjadi sumber sel punca mesenkimal yang sangat potensial bagi riset maupun untuk aplikasi klinis. Metode sederhana isolasi sel punca mesenkimal yang dapat diaplikasikan pada laboratorium dasar akan memfasilitasi perkembangan riset sel punca di negara berkembang. Diharapkan, hasil studi ini dapat meningkatkan pengembangan riset sel punca di Indonesia.

 

Metode Lipoaspirate dicerna dengan enzim collagenase type I kemudian dilakukan filtrasi.

Pemurnian sel punca mesenkimal dilakukan dengan mengkultur sel selama 2-3 hari disusul dengan pembuangan supernatan.

Konfirmasi populasi yang homogen dilakukan melalui analisis sel dengan metode flowcytometry sesuai dengan kriteria dari Mesenchymal and Tissue Stem Cell Committee of the International Society of Cell Therapy.

Hasil Sel punca mesenkimal yang dapat diperoleh dengan menggunakan prosedur ini adalah sebanyak 16,41 ± 8,22 x 108 sel per 120 ml lipoaspirate. Sel hasil kultur menunjukan morfologi fibroblastik, sesuai dengan karakteristik sel punca mesenkimal dan berhasil dipurifikasi dari sel lainnya. Hal ini dikonfirmasi dengan analisis flowcytometry yang menunjukan ekpresi CD105, tanpa adanya ekspresi HLA-Class II, CD 45, CD 34, CD14, and CD19.

 

 

Kesimpulan Studi ini menunjukan bahwa sel punca mesenkimal dapat diisolasi dari lipoaspirate secara sederhana. Prosedur ini sangat memungkinkan untuk dilakukan di laboratorium dasar. (Med J Indones 2009; 18:91-6)

Abstract

Aim Lipoaspirate, a wasted by product from liposuction procedure recently has been shown to contain abundant mesenchymal stem cells (MSCs). MSCs have been studied in many research areas to regenerate many cell lineages including, myogenic, cardiomyogenic, and angiogenic lineages. The large quantity of MSCs in lipoaspirate, makes it an attractive source for stem cells used in research and clinical applications. A simplified method which is suitable to be performed in a basic laboratory will facilitate development of stem cell research in developing countries. Therefore the outcomes from this study are expected to encourage the progress of stem cell research in Indonesia.

Methods Lipoaspirate was digested using collagenase type I, followed by a basic filtration method. Purification of MSCs was done by cell culture for 2-3 days followed by supernatant removal. To confirm the homogenous population of MSCs, an analysis using flowcytometry was performed based on the MSCs minimal criteria developed by Mesenchymal and Tissue Stem Cell Committee of the International Society of Cell Therapy.

Resuts MSCs were able to be obtained at 16.41 ± 8.22 x 108 cells per 120 ml lipoaspirate. The cultured cells showed fibroblastic morphology which is characteristic for MSCs and were able to be purified from non-MSCs cells. This was confirmed by flowcytometry assay showing expression of CD105 and the absence of HLA-Class II, CD 45, CD 34, CD14, and CD19.

Conclusions This study has shown that it was feasible to isolate messenchymal stem cell from human lipoaspirate. The procedure was practicable to be performed within a basic laboratory. (Med J Indones 2009; 18: 91-6)

Key words: mesenchymal stem cell, lipoaspirate, stem cell isolation technique

Med J Indones

92

Sardjono et al.

Liposuction is one of the most popular cosmetic surgical procedures worldwide with an estimated one million liposuctions performed annually.1 Lipoaspirate, which often wasted as by product from liposuction procedure recently has been shown to contain abundant mesenchymal stem cells (MSCs).2

The use of lipoaspirate as a source for stem cells offers a far less invasive procedure for cell sampling than the aspiration of bone marrow.

Moreover, the numbers of stem cells obtained from lipoaspirate are reportedly higher in lipoaspirate than its bone marrow counterpart.3

The average of MSCs occurrence in lipoaspirate was 1.2 ± 0.3 per 100 Adipose-derived Cells, much higher compared to 1 MSC per 50,000 bone marrow nucleated cells.4

The clinical utilizations of MSCs from adipose tissue have been reported in the regenerative-reconstructive surgical procedures such as calvarial repair, tracheal repair, fistula healing in Crohn’s disease, osteogenesis imperfecta, breast reconstructions, and tissue reconstruction of post-radiotherapy damage.5-8 Recently, MSC therapies have been extended into treatment for cardiovascular diseases including acute myocardial infarction and chronic heart failure.9

Moreover, several types of medical device have been developed in order to fulfill the high demand of procedures that can cater quick isolation with high yield of MSCs from adipose tissue.6,10

Moreover, there have been several providers offering an option for patients undergo liposuction to be able to store their stem cells in cryopreservation facility.11 This option allows the individuals to take benefits from their own stem cells for future applications.

Mesenchymal stem cells (MSCs), also known as marrow stromal cells or mesenchymal progenitor cells, are defined as self-renewable, multipotent progenitor cells with the capacity to differentiate into several distinct mesenchymal lineages. MSCs can be induced to differentiate into adipogenic, chondrogenic, and osteogenic linages in the laboratory using appropriate cocktails of growth factors and supplements (Figure 1).12

Furthermore, MSCs have been studied in many research area to regenerate cell linages including, myogenic, cardiomyogenic lines, and also differentiate into neurogenic, angiogenic and hepatic lineages.10,13,14 Despite their capability to differentiate in vivo and in vitro into mesenchymal lineages, MSCs have also been shown to have an important role in the maintenance of haematopoiesis.13 and legends Figure 1. Multilineages Differentiation of Mesenchymal Stem Cell (MSC) and additives used to stimulate cell differentiation

ChondrocyteOsteoblastAdipocyteChondrogenicDifferentiation markers-Proteoglycans-Sulfated glycosaminoglycans(stained using SafraninO, Fast Green, or AlcianBlue)OsteogenicEarly markers-Upregulatedalkaline phosphatase(detected by naphtol-based chemical stain)-Late markers-Bone sialoprotein-Osteocalcin-Osteonectin(stained von Kossa, Alizarin Red)AdipogenicDifferentiation markers-Intracellular Lipid vacuoles(stained using Oil Red-O)TGF-􀁅BMP-6High dose dexamethasone1-methyl-3-isobutylxanathineIndomethacinLow dose dexamethasoneL-ascorbic acid 2 phosphate􀁅-glycerophosphateBMP-2, -6, -9MesenchymalStem CellChondrocyteOsteoblastAdipocyteChondrogenicDifferentiation Cell100􀁐m100m

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Figure 1. Multitineages differentiation of Mesenchymal Stem Cell (MSC) and additives used to stimulate cell differentiation

93 Vol.18, No.2, April – June 2009 Stem cell isolation from lipoaspirates

Many publications have shown MSCs present and able to be isolated from many tissue types, such as bone marrow, trabecular bone, periosteum, synovial membrane, muscle, dermis, pericytes, blood, and adipose tissue.15-17 These demonstrate the potential of MSCs in addition to their plasticity and their usefulness in cell therapy. It is also of interest that neither autologous nor allogeneic MSCs induce any immunoreacti-vity in the host upon local transplantation or systemic administration.18,19 Finally, the large quantity of MSCs in lipoaspirates, makes it an attractive source for stem cells isolation for research and clinical applications.14,17 An optimized method which is suitable to be performed in a basic research laboratory clearly will facilitate development for basic laboratory to conduct stem cell research. Therefore the aim of this study was to modify the method of Zuk et al so that it would perform well in a minimal laboratory setting.

Methods

Mesenchymal stem cell isolation from lipoaspirates

All protocols were reviewed and approved by the Stem Cell and Cancer Institute Institutional Review Board prior to the study (Proposal number 13/IRB/SCI/KF/2008).

Lipoaspirates were obtained with informed consent from individuals undergoing tumescent liposuction surgery in hospitals collaborated with Stem Cell and Cancer Institute.

Lipoaspirates were stored at 2–8°C for no longer than 24 hours before they were used. Methods used to isolate the mesenchymal stem cells from lipoaspirate were adapted from methods in Zuk et al.17

The raw lipoaspirates (120 ml) were diluted with equal volume of Phosphate Buffer Saline (PBS) and were divided evenly in 50ml-tubes (Figure 2).

The diluted lipoaspirates were centrifuged at 430 × g for 10 minutes continously at 20oC.

After centrifugation, the target cell–containing lipid phase was removed from the top and transferred in to new tubes and diluted with an equal volume of PBS.

 

 

This washing step was repeated twice followed by further an equal volume dilution of cell-containing lipid fraction with pre-warmed (37oC) 0.075% collagenase type I (Sigma) in PBS. Enzyme digestion was done by incubation at 37°C for 30 minutes on an orbital shaker (Figure 3).

After digestion, enzyme activity was neutralized by adding equal volume of Dulbecco’s modified Eagle’s medium (DMEM) containing 10% Fetal Bovine Serum (FBS). Digested product then subjected to centrifugation at 600×g for 10 minutes. Pellet was resuspended in DMEM with 10% PBS then filtered through a 100-

μm strainer mesh attached to a vacuum-pump to remove cellular debris (Figure 4).

Collected cells after filtration were then ready for utilization. An aliquot was taken for cell count using hemocytometer under a light microscope to determined cell yields. Counts and viability were determined with a hemocytometer and the trypan blue dye exclusion technique. Briefly, 10 l trypan blue stock solution (0.4% w/v) was mixed with 10 l cells suspension, incubated for 3 minutes at room temperature then cells were counted in a hemocytometer chamber. With this method, dead cells appear blue and were therefore distinguishable from viable cells.

 

Figure 3. Procedure to isolate mesenchymal stem cells from lipoaspirate using collagenase was done by incubation at 37oC for 30 minutes on a rotating shaker

 

Figure 4. Filtration procedure by using a 100-

m strainer mesh attached to a vacuum pump to remove cellular debris18Figures and legends Figure 1. Multilineages Differentiation of Mesenchymal Stem Cell (MSC) and additives used to stimulate cell differentiation Figure 2. Procedure to dilute lipoaspirate by adding equal volume of Phosphate Buffer Saline (PBS) prior to the washing step

ChondrocyteOsteoblastAdipocyteChondrogenicDifferentiation CellChondrocyteOsteoblastAdipocyteChondrogenicDifferentiation markers-Proteoglycans-Sulfated glycosaminoglycans(stained using SafraninO, Fast Green, or AlcianBlue)OsteogenicEarly markers-Upregulatedalkaline phosphatase(detected by naphtol-based chemical stain)-Late markers-Bone sialoprotein-Osteocalcin-Osteonectin(stained von Kossa, Alizarin Red)AdipogenicDifferentiation markers-Intracellular Lipid vacuoles(stained using Oil Red-O)TGF-􀁅BMP-6High dose dexamethasone1-methyl-3-isobutylxanathineIndomethacinLow dose dexamethasoneL-ascorbic acid 2 phosphate􀁅-glycerophosphateBMP-2, -6, -9MesenchymalStem Cell100􀁐m100m

Figure 3. Procedure to isolate mesenchymal stem cells from lipoaspirate using collagenase was done by incubation at 37 °C for 30 minutes on a rotating shaker Figure 4. Filtration procedure by using a 100-

μm strainer mesh attached to a vacuum-pump to remove cellular debris

Figure 2. Procedure to dilute lipo-aspirate by adding equal volume of Phosphate Buffer Saline (PBS) prior to the washing step

19

 

 

Figure 3. Procedure to isolate mesenchymal stem cells from lipoaspirate using collagenase was done by incubation at 37 °C for 30 minutes on a rotating shaker Figure 4. Filtration procedure by using a 100-

μm strainer mesh attached to a vacuum-pump to remove cellular debris 94 Med J Indones Sardjono et al.

Mesenchymal stem cell culture

The simplest technique to purify MSC from other contaminating cells was done by allowing the cells to adhere on plastic-surfaced disc. Cells were seeded at 1.3x105cells/cm2 in M-199 medium (Gibco 11150) supplemented with 20 % Fetal Bovine Serum (Invitrogen 26140-079), 100 unit/ml penicillin and 0.1 mg/ml streptomycin antibiotics (Sigma P0781), then kept in 37oC, 5% CO2. After 2-3 days unwanted cells (non-MSC cells and debri) were removed by two washes with medium and expanded to reach 80% confluence. In another 6-7 days, adherent cells were detached using 0.25% trypsin EDTA solution (Sigma T4049), then M-199 medium + 20% FBS was used to inactivate trypsin. Detached cells with fibroblast-like morphology were cultured in another flask with cell density of 1.2×105 cells/cm2 for 1 week or until confluence was achieved.

 

Flo

wcytometry assay to determine MSC homogenous population

To confirm the simplified protocols were able to isolate good quality MSCs, several assays were conducted. MSCs have been known to express CD105 and deficient in the expression of HLA Class II, CD34 and CD45.

Expression HLA Class II molecules were determined using PE fluorescein conjugated monoclonal antibodies against HLA Class II (abcam 23901). Antibodies directed against CD45 were conjugated with FITC (BD 555482) and CD34 with FITC (BD 348053) incubated at 4oC in the dark for 15 minutes. Mouse IgG1-FITC (BD 349041) isotype matched negative controls were used to define background staining. The cells then analysed by flow analysis using FACSCalibur 3 argon laser 488nm (Becton Dickinson).

Results

Mesenchymal stem cell isolation and culture

Using the methods described, MSCs were able to be obtained at 16.41 ± 8.22 x 108 cells per 120 ml lipo-aspirate which have provided an abundant number of cells for further used (Table 1). The simplified method has proven to be gentle enough for the cells as shown by the high viability cells obtained (viable cells 92.57% ± 4.5%).

 

 

 

 

 

Table 1. Lipoaspirate donors and cell yield

Donor No.

 

Lipoaspirate volume (ml)

 

Cell yield

 

(x 108)

 

Viability

 

(%)

 

1

 

2

 

3

 

4

 

120

 

120

 

120

 

120

 

4.27

 

20.55

 

22.2

 

18.6

 

90.05

 

91.95

 

89.16

 

99.12

 

average

 

120

 

16.405

 

92.57

 

 

 

 

 

 

Iqbal Rais Stem Cell Patient First in Indonesia
  
TEMPO.CO , Surabaya :
Secretary of the Center for Regenerative Medicine and Stem Cell Hospital Dr . Atopic Dermatitis , Purwati , said Iqbal Rais patient immediately underwent stem cell therapy ( stem cells ) on Wednesday next week .

 Young director , Iqbal Rais , 29 years gush movie trilogy The Tarix Jabrix , lying in hospitals Soetomo weak due to a blood cancer ( leukemia ) .

To Tempo , Purwati said components taken from tissue stem cells bonmero aka spinal cord patients .
Currently , Iqbal was undergoing chemotherapy at the hospital .
” It’s still isolated . Probably , stem cell therapy started next Wednesday , ” said Purwati told Tempo in Jakarta, Friday, 2013 .

Purwati knowledge , Iqbal Rais is the first leukemia patient using stem cell therapy in Indonesia .
 Stem Cell Therapy for leukemia cases abroad , he said , the average success rate of 80 percent .
 Purwati hope , Iqbal body condition is getting better with Stem Cell therapy .
 By injection into a vein Daran , stem cell is inserted into the body Iqbal .
Stem Cell will replace body tissue damaged by the attack cancer cells in blood.

The plan , and the team will Purwati Iqbal menerapi three times Stem Cell therapy . If the patient’s condition indicates a positive development , the use of stem cell therapy to the patient’s body tried really recovered .

Since the first new case of childhood leukemia through stem cell therapy , Purwati reluctant to insure success rate . He hopes stem cell therapy on body Soetomo Hospital Dr Iqbal has a higher success rate than overseas .
 Once therapy , it was USD 25 million charge to the patient . ” It ‘s still a clinical trial . Costs so much, ” he said .

DIANANTA P. Sumedi

Iqbal Rais Pasien Stem Cell Pertama di Indonesia

 

 

 

 

 

 

TEMPO.CO

 

 

 

 , Surabaya

 

:

Sekretaris Pusat Kedokteran Regeneratif dan Stem Cell RSUD Dr. Soetomo, Purwati, mengatakan pasien Iqbal Rais segera menjalani terapi stem cell (sel punca) Rabu,pekan depan.

 

 

 

Sutradara muda, Iqbal Rais, 29 tahun yang membesut film trilogi The Tarix Jabrix, tergolek lemah di RSUD dr Soetomo karena terserang kanker darah (leukemia).

 

 

 

 

Kepada 

Tempo, 

 

Purwati menuturkan komponen stem cell diambilkan dari jaringan bonmero alias sumsum tulang belakang pasien.

Saat ini, Iqbal masih menjalani kemoterapi di rumah sakit tersebut.

 

“Sekarang masih diisolasi. Mungkin, terapi stem cell mulai dilakukan Rabu pekan depan,” kata Purwati kepada Tempo di Surabaya, Jumat 2013.

Sepengetahuan Purwati, Iqbal Rais merupakan pasien leukimia pertama yang menggunakan terapi stem cell di Indonesia.

 

Terapi Stem Cell untuk kasus leukimia di luar negeri, kata dia, tingkat keberhasilannya rata-rata 80 persen.

 

Purwati berharap, kondisi tubuh Iqbal semakin membaik dengan terapi Stem Cell.

 

Melalui injeksi ke pembuluh daran, stem cell dimasukkan ke tubuh Iqbal.

 

Stem Cell akan menggantikan jaringan tubuh yang rusak akibat serangan sel-sel kanker darah.

Rencananya, Purwati dan tim akan menerapi Iqbal sebanyak tiga kali terapi Stem Cell. Bila kondisi badan pasien menunjukkan perkembangan positif, penggunaan terapi Stem Cell dicoba hingga tubuh pasien benar-benar pulih.

 

 

 

Karena baru pertama menangani kasus leukimia melalui terapi Stem Cell, Purwati enggan memastikan tingkat keberhasilannya. Ia berharap terapi Stem Cell RSUD Dr Soetomo pada tubuh Iqbal memiliki tingkat keberhasilan lebih tinggi ketimbang di luar negeri.

 

Sekali terapi, pihaknya mengenakan biaya Rp 25 juta kepada pasien. “Ini kan masih uji klinis. Jadi biayanya segitu,” kata dia.

 

 

 

 

 

 

DIANANTA P. SUMEDI

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Terapi Stem Cell di Jakarta

Stem cell therapy in Jakarta

Mesenchymal stem cell therapy for cartilage defects and fracture reconstruction in RSCM – FKUI
Written by Dr. Okki Ramadian SpPD
Wednesday, January 6, 2010 09:01
Cluster Muscles , Bones and Joints have been preparing for clinical trials ” mesenchymal Stem Cell Therapy for Cartilage Defects and Fracture Reconstruction ” . The principle clinical trial in the case of cartilage is a form of treatment decision marrow from the iliac crest bone patients , cultured bone marrow For isolation and proliferation Bone marrow stromal stem cells ( bMSCs ) or differentiation towards kondrogenesis , and bMSCs implantation in cartilage defect cases , which is symptomatic cartilage defects with an area of ​​more than 4 square meters .
MORE …

  
Biomedical research mesenchyme stem cells
Written by dr Radiana MBiomed
Monday, April 19, 2010 07:57
The development of biomedical research on multipotent stromal mesenchymal cells or more popularly known as mesenchymal stem cells is very fast and lively . Many research lab and biomedical researchers who jumped into the research area and the number is increasing along with the increase in the number of publications and clinical applications of mesenchymal stem cell therapy . This phenomenon on the other hand the negative impact of ambiguity and inconsistency of the results of research in the field of mesenchymal stem cells .
MORE …

  
Regulatory Guide Selpunca India
Written by dr . M. Adi Firman
Wednesday, July 15, 2009 15:01
Each country must have its own guide on the use of stem cells . One of them is India . Here is a guide selpunca regulations in force in India .
For more information , please click on the Stem Cell Regulation in India , the information in the form of pdf files .
You can download these files via the Download Zone menu ( make sure you have registered as a member ) .
  
The role of endothelial progenitor cell ( EPC ) on Neovascularization
Written by dr.Saut Nababan / dr.Okki , SpPD
Wednesday, August 11, 2010 08:10
EPC are cells that have the ability to divide and differentiate into endothelial cells . EPC is part of the stem cells that are more mature and unipoten . Clinically , the EPC can improve conditions of disease that begins with damage to the endothelial cells , both anatomically / structurally and functionally , through the mechanism of neovascularization . The researchers believe that in the bone marrow and peripheral blood flow cells are capable of dividing and differentiate into endothelial cells and ischemic tissue repair due to damage to blood vessel walls . These cells are called endothelial progenitor cells or EPC .
MORE …

  Autologous Stem Cell Transplantation for Autoimmune Disease : Results of a Cohort Study
Written by Dr. Excellency , Dr. Okki SpPD
Wednesday, April 14, 2010 08:48
Autoimmune disease which affects 5-8 % of the population in the world , accounting for short-term morbidity and mortality and long-term meaningful . Although conventional immunosuppressant therapies and new biological agents to control the severe autoimmune disease , this treatment modality is rarely curative . Severe systemic autoimmune diseases such as multiple sclerosis ( MS ) , systemic sclerosis ( SSC ) , rheumatoid arthritis ( RA ) , systemic lupus erythematosus ( SLE ) , juvenile idiopathic arthritis ( JIA ) , hematologic immune cytopenia ( HIC ) , and Crohn’s disease is difficult to treat ; therefore , other treatment strategies are needed . Since 1996 , autologous stem cell transplantation has been performed for the treatment of severe autoimmune diseases refractory to conventional treatment .
MORE …

  
Stem Cell Therapy Regulatory Guide from the FDA
Written by dr . M. Adi Firman
Saturday, July 18, 2009 08:55
Selpunca technological development and adult stem cell based therapy is increasingly prevalent . This prompted the FDA ( Food and Drug Administration ) in 2006 , issued regulations and guidelines on the production and marketing of stem cell -based therapies ( stem – cell – based therapy ) .
Click the following link to listen to the complete guide from the FDA . FDA Regulation of the Stem Cell -Based Therapies .

  

Articles …
• Seminar day : Stem Cell Update ; May 8, 2010
• Clinical Trials Peripheral Blood Stem Cell Implantation in Cardiac Infarction , RSCM – FKUI
• Stem Cell Development Cooperation Iran-FKUI/RSCM
• Stem Cell Clinical Implementation Guide
• Learning from the Dutch Experience Stem Cell Center
• Cooperation Stem Cell Faculty of medicine / RSCM with Leiden Medical Center
• Questions for Materials Posts
• Stem Cell Guide for General
• Stem Cell Therapy in Autoimmune Disease
• Recommendations Cord Blood Storage Services Center of the Royal College of Obstetrics & Gynecology
• Clinical Trials Stem Cell Therapy in Peripheral Arterial Disease type 2 DM
• Presentation Materials Symposium Selpunca
• Prof. Dr. visits . Eduard Willem Fibbe PhD
• Development of Stem Cell Symposium Faculty of medicine / RSCM Success Held

Statistics since 24/06/09
      

________________________________________
Your IP : 118.136.1.235
February 24, 2014
visitors Counter
Latest Articles
• The role of endothelial progenitor cell ( EPC ) on Neovascularization
• Assessing Biomedical mesenchyme stem cells
• Cooperation Stem Cell Faculty of medicine / RSCM with Leiden Medical Center
• Autologous Stem Cell Transplantation for Autoimmune Disease : Results of a Cohort Study
• Seminar day : Stem Cell Update ; May 8, 2010
• mesenchymal stem cell therapy for cartilage defects and fracture reconstruction in RSCM – FKUI
• Clinical Trials Peripheral Blood Stem Cell Implantation in Cardiac Infarction , RSCM – FKUI
is Online
We have 1 guest online
maintenanced by
 
 
Dahlan Iskan finance therapy ” stemcell ” Putu Wijaya
Friday, November 29, 2013 22:53 pm | 3479 Views
 
SOE Minister Dahlan Iskan ( AFP PHOTOS / Dhoni Setiawan )
Jakarta ( ANTARA News ) – State Enterprises Minister Dahlan Iskan Putu Wijaya help writers who suffered a stroke with pay for treatment through therapy ” stemcell ” .

A press release received by ANTARA here on Friday , said Dahlan was once a colleague Putu Wijaya in the magazine ” Tempo ” Putu visit at his home in Chester district , South Tangerang .

Dahlan come with a medical expert ” stemcell ” from Surabaya , known as the expert ” stemcell ” in Indonesia .

To Putu , Dahlan became a fan of short stories and novels Putu , telling that someone who had a stroke likely to be cured with therapy back ” stemcell ” .

Dahlan as well as introducing new physician home teaching ” stemcell ” in Tokyo and Amsterdam it . ” Thank God , Mas Putu very enthusiastic to join the discussion and states are willing to undergo treatment , ” Dahlan said via text message .

Dahlan said the cost of treatment with the ” stemcell ” it becomes a dependent personality. ” I hope that the Lord to heal us of this great artist , ” said Dahlan .

Putu Wijaya known to have suffered a stroke in early October . As a result of stroke , 69 -year -old artist was not able to work anymore . A number of colleagues and fans then took the initiative to raise funds after reading the news on social media that Putu can not afford the cost of treatment .

Editors : Ruslan Burhani

Terapi sel punca mesenkimal untuk defek tulang rawan dan rekonstruksi fraktur di RSCM-FKUI

 

 

 

Ditulis oleh dr Okki Ramadian SpPD   

 

Rabu, 06 Januari 2010 09:01

 

 

 

 

 

Klaster Otot, Tulang dan Sendi telah mempersiapkan uji klinis “Terapi Sel Punca Mesenkimal untuk Defek Tulang Rawan dan Rekonstruksi Fraktur”.

Prinsip uji klinis pada kasus tulang rawan adalah berupa penanganan yang berupa pengambilan sum-sum tulang dari krista iliaka pasien, kultur bone marrow utk isolasi dan proliferasi Bone marrow stromal stem cells (bMSCs) ataupun diferensiasi kearah kondrogenesis, dan implantasi bMSCs pada kasus defek tulang rawan, yaitu defek tulang rawan simtomatik dengan luas lebih dari 4 meter persegi.

 

 

 

SELENGKAPNYA…

 

 

 

 

 

 

Telaah Biomedik Sel Punca Mesenkim

 

 

 

Ditulis oleh dr Radiana MBiomed   

 

Senin, 19 April 2010 07:57

 

 

 

 

 

Perkembangan riset biomedik terhadap sel mesenkim stroma multipoten atau lebih populer disebut sel punca mesenkim sangat cepat dan semarak. Banyak lab riset dan peneliti biomedik yang terjun ke area riset ini dan jumlahnya meningkat seiring dengan peningkatan jumlah publikasi dan aplikasi klinis terapi sel punca mesenkim. Fenomena ini di sisi lain menimbulkan dampak negatif yakni ambiguitas dan inkonsistensi hasil riset di bidang sel punca mesenkim.

 

SELENGKAPNYA…

 

 

Panduan Regulasi Selpunca India

 

 

 

Ditulis oleh dr. M. Adi Firmansyah   

 

Rabu, 15 Juli 2009 15:01

 

 

 

Setiap negara tentunya memiliki panduan tersendiri mengenai pemanfaatan sel punca. Salah satunya adalah India. Berikut adalah panduan regulasi selpunca yang berlaku di India.

 

Untuk informasi lebih lengkap, silahkan klik 

 

 

Stem Cell Regulation in India

, informasi dalam bentuk file pdf.

Anda dapat mengunduh file ini melalui menu Zona Unduh (pastikan Anda telah terdaftar sebagai member).

 

 

 

 

Peranan Endothelial Progenitor Cell(EPC) pada Neovaskularisasi

 

 

 

Ditulis oleh dr.Saut Nababan/dr.Okki, SpPD   

 

Rabu, 11 Agustus 2010 08:10

 

 

 

 

 

EPC merupakan sel-sel yang memiliki kemampuan untuk membelah dan berdiferensiasi menjadi sel-sel endotel. EPC merupakan bagian dari sel induk yang bersifat lebih matang dan unipoten. Secara klinis, EPC dapat memperbaiki kondisi-kondisi penyakit yang diawali dengan kerusakan sel-sel endotel, baik secara anatomis/struktural maupun fungsional, melalui mekanisme neovaskularisasi. Para peneliti menyakini bahwa di dalam sumsum tulang dan aliran darah tepi terdapat sel-sel yang mampu membelah dan berdiferensiasi menjadi sel-sel endotel dan memperbaiki jaringan iskemik akibat rusaknya dinding pembuluh darah. Sel-sel ini disebut endothelial progenitor cell atau EPC.

 

 

SELENGKAPNYA…

 

 

Transplantasi Autologus Sel Punca untuk Penyakit Autoimun: Hasil Sebuah Studi Cohort

 

 

 

Ditulis oleh dr Mulia , dr Okki SpPD   

 

Rabu, 14 April 2010 08:48

 

 

 

 

Penyakit autoimun yang mana diderita oleh 5-8% penduduk di dunia, menyumbangkan angka morbiditas jangka pendek maupun jangka panjang dan mortalitas yang bermakna. Meskipun terapi imunosupresan konvensional dan agen biologi baru dapat mengontrol penyakit autoimun berat, modalitas pengobatan ini jarang bersifat kuratif. Penyakit autoimun sistemik berat seperti multiple sclerosis (MS), systemic sclerosis (SSc), rheumatoid arthritis (RA), systemic lupus erythematosus (SLE), juvenile idiopathic arthritis (JIA), hematologic immun cytopenia (HIC), dan penyakit Crohn sulit diobati; oleh karena itu, dibutuhkan strategi pengobatan lain. Sejak tahun 1996, transplantasi autologus sel punca telah dilakukan untuk pengobatan penyakit autoimun berat yang refrakter terhadap pengobatan konvensional.

 

SELENGKAPNYA…

 

 

Panduan Regulasi Terapi Sel Punca dari FDA

 

 

 

Ditulis oleh dr. M. Adi Firmansyah   

 

Sabtu, 18 Juli 2009 08:55

 

 

 

Perkembangan teknologi selpunca dan terapi berdasarkan sel punca dewasa ini kian marak. Hal ini mendorong FDA (

Food and Drug Administration) pada tahun 2006, mengeluarkan peraturan dan panduan mengenai terhadap produksi dan pemasaran terapi berbasis sel punca (stem-cell-based therapy). 

Klik pranala berikut untuk menyimak secara lengkap panduan dari FDA tersebut.

 

Regulasi FDA terhadap Terapi Berbasis Sel Punca

.

 

 

 

 

 

 

 

 

Artikel Lain…

 

Seminar sehari : Stem Cell Update; 8 Mei 2010Uji Klinis Implantasi Sel Punca Darah Perifer pada Infark Jantung, RSCM-FKUIKerjasama Pengembangan Sel Punca Iran-FKUI/RSCMPanduan Implementasi Klinis Sel PuncaBelajar dari Pengalaman Pusat Sel Punca BelandaKerjasama Stem Cell FKUI/RSCM dengan Leiden Medical CenterPertanyaan untuk Bahan TulisanPanduan Sel Punca untuk UmumTerapi Sel Punca pada Penyakit AutoimunRekomendasi Jasa Layanan Penyimpanan Darah Tali Pusat dari Royal College of Obstetrics & GynecologyUji Klinis Terapi Sel Punca pada Penyakit Arteri Perifer DM tipe-2Bahan Presentasi Simposium SelpuncaKunjungan Prof Dr. Willem Eduard Fibbe PhDSimposium Pengembangan Sel Punca FKUI/RSCM Sukses Digelar

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Statistik sejak 24/06/09

 

 

 

 

 

 

 

IP Anda: 118.136.1.235
24 Februari 2014

 

 

Visitors Counter

Artikel Terbaru

Peranan Endothelial Progenitor Cell(EPC) pada NeovaskularisasiTelaah Biomedik Sel Punca MesenkimKerjasama Stem Cell FKUI/RSCM dengan Leiden Medical CenterTransplantasi Autologus Sel Punca untuk Penyakit Autoimun: Hasil Sebuah Studi CohortSeminar sehari : Stem Cell Update; 8 Mei 2010Terapi sel punca mesenkimal untuk defek tulang rawan dan rekonstruksi fraktur di RSCM-FKUIUji Klinis Implantasi Sel Punca Darah Perifer pada Infark Jantung, RSCM-FKUI

Sedang Online

 

Kami memiliki 1 Tamu online

 

Maintenanced by

 

 

 

Dahlan Iskan biayai terapi “stemcell” Putu Wijaya

Jumat, 29 November 2013 22:53 WIB | 3479 Views

 

Menteri BUMN Dahlan Iskan (ANTARA FOTO/Dhoni Setiawan)

Jakarta (ANTARA News) – Menteri BUMN Dahlan Iskan membantu sastrawan Putu Wijaya yang menderita stroke dengan membiayai pengobatan melalui terapi “

stemcell“.

 

Siaran pers yang diterima ANTARA di Jakarta, Jumat, menyebutkan Dahlan yang pernah menjadi teman kerja Putu Wijaya di majalah “Tempo” menjenguk Putu di rumahnya di kawasan Ciputat, Tangerang Selatan.

Dahlan datang bersama seorang dokter ahli “stemcell” dari Surabaya yang dikenal sebagai ahli “stemcell” terbaik di Indonesia.

 

 

Kepada Putu, Dahlan yang menjadi penggemar cerita pendek dan novel Putu, menceritakan bahwa seseorang yang terserang stroke berpeluang disembuhkan kembali dengan terapi “stemcell“.

Dahlan sekaligus memperkenalkan dokter yang baru pulang mengajar “stemcell” di Tokyo dan Amsterdam itu. “Alhamdulillah, Mas Putu sangat antusias mengikuti diskusi dan menyatakan bersedia menjalani perawatan,” kata Dahlan melalui pesan pendek.

Dahlan mengatakan, biaya pengobatan dengan “stemcell” itu menjadi tanggungan pribadinya. “Harapan saya, semoga Tuhan memberikan kesembuhan kepada seniman besar kita ini,” kata Dahlan.

Putu Wijaya diketahui menderita serangan stroke awal Oktober lalu. Akibat stroke, seniman berusia 69 tahun itu tidak bisa berkarya lagi. Sejumlah kolega dan penggemarnya kemudian berinisiatif menggalang dana setelah membaca berita di media sosial bahwa Putu tidak mampu membayar biaya pengobatan.

 

 

Editor: Ruslan Burhani

KOMPAS.com – Many people with kidney failure , heart disease, diabetes , stroke , Parkinson’s cure is now helped by stem cell therapy or stem cell therapy .

Not only degenerative diseases , stem cell therapy can also heal skin problems such as acne , burns , until the problem of aging . Stem cell therapy is also powerful to overcome baldness .

This therapy is the latest medical technology that serves to regenerate cells in the body so it can recover and regrow damaged tissue .

Through two choices therapeutic procedure , ie injection and topical , stem cells derived from humans and processed in the laboratory will be entered into the patient’s body . Implant or implantation of stem cells into the patient’s body is carried out when stem cell processing laboratory results have been developed ( progenitor cells) or differentiated into cells expected .

 Then , stem cells are implanted in the patient’s body will grow and connect with the body’s cells to repair systems and cell regeneration .

” By engineering biology , stem cells can alter other body cells , the damaged bone , skin destroyed , to be normal again , in addition to the cell will continue to improve, ”

said stem cell therapy expert , Dr. Indah Julianto , in launching a new breakthrough in stem cell Women’s and Children ‘s Hospital UB , Jakarta , Saturday ( 09/21/2013 ) .

Source of stem cells
Beautiful dr therapy practiced using stem cells from human sources , mainly from umbilical cord blood and umbilical cord Wharton’s jelly . According to Dr. Beautiful , stem cells derived from baby to have the best quality . In applying the therapy , he also uses a source of stem cells from the placenta , not the embryo .

” Immature cells are not known viruses or bacteria . Umbilical cord was never infected with the virus , ” he said .

Dr. Beautiful explains , stem cells derived from the placenta is the source of about 8-10 human stem cells that have been clinically proven through laboratory research . In addition to the placenta , other sources of human stem cells derived from fat , hair , skin , arteries , veins , and others .

Human stem cells , he explained , has 8,000 times the power of its antibiotic and anti – inflammatory . ” Stem cells that miracle . Were no side effects because it is not a drug and not chemicals , ” said Dr. Lovely .

To get optimum benefit from stem cell therapy , stem cells need to be considered quality .

 According to Dr. Beautiful , types of stem cells from the umbilical cord can last only 36 hours .

While stem cells derived from umbilical cord Wharton’s jelly after 48 hours can not function .

” Every 30 minutes , the ability of the cells decreased one percent , ” he said .

Using stem cells that supply is available in UNS Solo , stem cell therapy will take can not be beaten flat .

The duration of therapy depends illness . In patients who experience problems with hair growth , within four months after the treatment , the hair on the head began to grow heavy . Dr. Beautiful using injection and topical procedures to address these issues . As for acne , the treatment is carried out for one month and topically .

However , indeed , for certain diseases , stem cell therapy could take longer.

Dr. Lovely said , people with kidney failure requiring the longest time to undergo this therapy .

” It took about 18 times injection for renal disease , ” he said .

Other diseases that have the potential to improve with stem cell therapy among autism , lupus , epilepsy , blood disorders ( hematopatology ) , autoimmune diseases, multiple sclerosis , Alzheimer’s , and a number of other diseases .

Types of diseases that affect the number of stem cell use ( injection / topical ) will determine how much money is needed for therapy . Per 1 cc of stem cells can cost about Rp 3 million . Once syringes cost about Rp 6 million .

editor :
Asep Candra

KOMPAS.com — Banyak penderita gagal ginjal, jantung, diabetes, stroke, parkinson yang penyembuhannya kini terbantu dengan terapi stem cells atau terapi sel punca.

 

Bukan hanya penyakit degeneratif, terapi sel punca juga dapat menyembuhkan masalah kulit seperti jerawat, luka bakar, hingga masalah penuaan. Terapi sel punca juga ampuh mengatasi kebotakan.

Terapi ini merupakan teknologi kedokteran terkini yang berfungsi meregenerasi sel dalam tubuh sehingga dapat memulihkan dan menumbuhkan kembali jaringan yang rusak.

Lewat dua pilihan prosedur terapi, yakni injeksi dan topikal, sel punca yang bersumber dari manusia dan diproses di laboratorium ini akan masuk ke tubuh pasien. Implan atau penanaman sel punca ke tubuh pasien ini dilakukan bila sel punca hasil pemrosesan di laboratorium sudah berkembang (progenitor cell) atau berdeferensiasi menjadi sel yang diharapkan.

 

Kemudian, sel punca yang ditanamkan di tubuh pasien ini akan berkembang dan berkoneksi dengan sel tubuh untuk melakukan perbaikan sistem dan regenerasi sel.

“Dengan rekayasa biologi, sel punca dapat mengubah sel tubuh lain, tulang yang rusak, kulit hancur, menjadi normal kembali, di samping sel akan terus memperbaiki diri,”

 

ungkap ahli terapi sel punca, dr Indah Julianto, dalam launching terobosan baru sel punca di Rumah Sakit Ibu dan Anak Brawijaya, Jakarta, Sabtu (21/9/2013).

 

 

 

 

 

 

 

Sumber sel punca
Terapi yang dipraktikkan dr Indah menggunakan sumber sel punca dari manusia, utamanya darah dari tali pusat dan jelly wharton tali pusat. Menurut dr Indah, sel punca yang bersumber dari bayi memiliki kualitas terbaik. Dalam mengaplikasikan terapi, ia juga menggunakan sumber sel punca dari plasenta, bukan embrio.

Sel immature tidak kenal virus atau kuman. Tali pusat tidak pernah terinfeksi virus,” ungkapnya.

Dr Indah menjelaskan, sel punca bersumber dari plasenta merupakan satu dari sekitar 8-10 sumber human stem cells yang telah teruji klinis melalui penelitian di laboratorium. Selain plasenta, sumber stem cells manusia lainnya berasal dari lemak, rambut, kulit, arteri, vena, dan lainnya.

Human stem cells, jelasnya, memiliki 8.000 kali kekuatan antibiotiknya dan anti-inflamasi. “Stem cells itu miracle. Tidak ada efek samping karena bukan obat dan bukan bahan kimia,” jelas dr Indah.

Untuk mendapatkan manfaat optimal dari terapi stem cells, kualitas stem cells perlu diperhatikan.

 

 

 

Menurut dr Indah, tipe stem cells dari tali pusat hanya bisa bertahan 36 jam.

 

 

 

Sementara sel punca yang berasal dari jeli wharton tali pusat setelah 48 jam tidak bisa berfungsi.

“Setiap 30 menit, kemampuan sel menurun satu persen,” ungkapnya.

Menggunakan sel punca yang pasokannya tersedia di UNS Solo, terapi stem cells akan memakan waktu yang tak bisa dipukul rata.

 

 

 

 

 

 

 

Durasi terapi ini bergantung penyakit yang diderita. Pada pasien yang mengalami masalah pada pertumbuhan rambut, dalam waktu empat bulan setelah terapi, rambut di kepala mulai tumbuh lebat. Dr Indah menggunakan prosedur injeksi dan topikal untuk mengatasi masalah ini. Sementara untuk mengatasi jerawat, terapi ini cukup dilakukan selama satu bulan dan secara topikal.

Namun, memang, untuk penyakit tertentu, terapi stem cells bisa memakan waktu lebih lama.

 

 

 

 

Dr Indah menyebutkan, penderita gagal ginjal membutuhkan waktu paling lama untuk menjalani terapi ini.

“Butuh sekitar 18 kali injeksi untuk penyakit gagal ginjal,” ungkapnya

 

.

Penyakit lain yang berpotensi membaik dengan terapi sel punca di antaranya autisme, lupus, epilepsi, penyakit gangguan darah (hematopatology), autoimun, multiple sclerosis, alzheimer, dan sejumlah penyakit lainnya.

Jenis penyakit yang memengaruhi jumlah penggunaan sel punca (suntik/topikal) akan menentukan berapa biaya yang dibutuhkan selama terapi. Per 1 cc sel punca biayanya mencapai Rp 3 juta. Sekali suntik biayanya sekitar Rp  6 juta.

 

 

Editor :

 

Asep Candra

 

 

 

 

 

 

SOME disease has been known to be cured by stem cell therapy , such as heart disease , stroke , and even cancer . So how about the stages of treatment of stem cell therapy ?

According to dr . Her Yudi Oktaviono , Sp.JP ( K ) , to process autologous stem cell therapy is that the source is not derived from umbilical cord blood , treatment episodes starting from a thorough examination of the patient’s condition .

” When patients eligible for stem cell therapy , the patient will have blood drawn for her then purified stem cells , ” said dr . Yudi in the seminar ” New Hope Treatment of Disease with Stem Cell Regenerative Therapy through ” in Prodia Tower Auditorium , Central Jakarta , Tuesday ( 03/12/2013 ) .

Furthermore , dr . Yudi explains that the stem cells will be cultivated in the laboratory .
Then , the stem cells are cultivated will continue with the process of cryogenic storage ( low temperature to -196 ° C ) .

” Or it can also be used directly by injection or intravenously its stem cells into the patient’s body , ” he continued .

Meanwhile , in the process of developing stem cell dr . Yudi said that it should also pay attention to sterility and engineering in the work environment . The processing of stem cells , ranging from separation until breeding facilities must be done in accordance with cGMP standards .

For therapeutic purposes , dr . Yudi said that the stem cells will be bred to reach sufficient numbers before being transplanted into the patient .
 In addition , any pengembangbiakannya period varies depending on the type of stem cell that is expected .

” For hematopoietic stem cell takes about 4-5 days , whereas for mesenchymal stem cells reach the incubation period of 4-5 weeks , ” he explained . ( tty )
INILAH.COM , Jakarta – been growing since 1998 , but has yet to bloom or stem cell treatment stem cells in Indonesia .
 Reportedly , no berkembangannya stem cell , because the cost is mahal.d

Beautiful doctor Yulianto Professor of Dermatology Association and the University of March Venerologi admit , in Indonesia the use of stem cells has not been well developed .
 In addition to the lack of regulations , costly problems also be a factor.

” Regulations have not been there , here no one would be examined because it is too difficult and expensive , while they asked him cheap , it’s a hassle , ” said Indah which is also Principal Researcher Dermama Biotechnology Laboratory , at Brawijaya Women & Children Hospital , Jakarta , new – recently.

Stem cell therapy is the latest medical technologies that harness stem cells to regenerate cells in the body so it can recover and regrow body tissue damaged by degenerative diseases .

Beautiful confirms continuing to develop the use of stem cells derived from umbilical cord blood and umbilical cord Wharton’s Jelly with holding four hospitals in Indonesia : Jakarta UB Women Children Hospital , Muwardi RS and RS PKU Muhammadiyah Solo and Mayapada Hospital in Tangerang .

” Because these stem cells is a form of healing that is created directly from the power , I do not want anyone to inhibit this , ” said Belle eagerly .

Beautifully explained , stem cell processing to mnjadi treatment requires lengthy and expensive process . ” Stem cells obtained will be processed in the laboratory and then berdeferensi be expected cell .
It will be an implant or implantation of stem cells into the patient’s body which will further evolve and connect with the body’s cells and perform system repair and regeneration of cells , “said Lovely ..
So far , the disease can be cured with stem cells : the complications of diabetes mellitus , epilepsy , Parkinson’s , heart disease, paralysis , Alzheimer , stroke .
 Stem cells can also treat autism , cerebral palsey and others .
Stem cells also can be used for beauty treatments and skin diseases such as pigmentation , acne and baldness cases . [ aji ]
Many people with kidney failure , heart disease, diabetes , stroke , Parkinson’s cure is now helped by stem cell therapy or stem cell therapy .

Not only degenerative diseases , stem cell therapy can also heal skin problems such as acne , burns , until the problem of aging . Stem cell therapy is also powerful to overcome baldness .

This therapy is the latest medical technology that serves to regenerate cells in the body so it can recover and regrow damaged tissue .

Through two choices therapeutic procedure , ie injection and topical , stem cells derived from humans and processed in the laboratory will be entered into the patient’s body . Implant or implantation of stem cells into the patient’s body is carried out when stem cell processing laboratory results have been developed ( progenitor cells) or differentiated into cells expected .

 Then , stem cells are implanted in the patient’s body will grow and connect with the body’s cells to repair systems and cell regeneration .

” By engineering biology , stem cells can alter other body cells , the damaged bone , skin destroyed , to be normal again , in addition to the cell will continue to improve, ”

said stem cell therapy expert , Dr. Indah Julianto , in launching a new breakthrough in stem cell Women’s and Children ‘s Hospital UB , Jakarta , Saturday ( 09/21/2013 ) .

Source of stem cells
Beautiful dr therapy practiced using stem cells from human sources , mainly from umbilical cord blood and umbilical cord Wharton’s jelly . According to Dr. Beautiful , stem cells derived from baby to have the best quality . In applying the therapy , he also uses a source of stem cells from the placenta , not the embryo .

” Immature cells are not known viruses or bacteria . Umbilical cord was never infected with the virus , ” he said .

Dr. Beautiful explains , stem cells derived from the placenta is the source of about 8-10 human stem cells that have been clinically proven through laboratory research . In addition to the placenta , other sources of human stem cells derived from fat , hair , skin , arteries , veins , and others .

Human stem cells , he explained , has 8,000 times the power of its antibiotic and anti – inflammatory . ” Stem cells that miracle . Were no side effects because it is not a drug and not chemicals , ” said Dr. Lovely .

To get optimum benefit from stem cell therapy , stem cells need to be considered quality .

 According to Dr. Beautiful , types of stem cells from the umbilical cord can last only 36 hours .

While stem cells derived from umbilical cord Wharton’s jelly after 48 hours can not function .

” Every 30 minutes , the ability of the cells decreased one percent , ” he said .

Using stem cells that supply is available in UNS Solo , stem cell therapy will take can not be beaten flat .

The duration of therapy depends illness . for certain diseases , stem cell therapy could take longer.

Dr. Lovely said , people with kidney failure requiring the longest time to undergo this therapy . ” It took about 18 times injection for kidney disease , ”

 

BEBERAPA penyakit telah diketahui dapat disembuhkan dengan terapi stem cell, seperti penyakit jantung, stroke, bahkan kanker. Lantas bagaimana tahapan pengobatan dari terapi stem cell?

Menurut dr. Yudi Her Oktaviono, Sp.JP(K), untuk proses terapi stem cell secara autologous yang sumbernya bukan berasal dari darah tali pusat, tahapan pengobatan dimulai dari pemeriksaan kondisi pasien secara menyeluruh.

“Apabila pasien memenuhi syarat untuk menjalani terapi stem cell, pasien akan diambil darahnya untuk kemudian stem cell-nya dimurnikan,”jelas dr. Yudi dalam seminar “Harapan Baru Pengobatan Penyakit dengan Stem Cell melalui Terapi Regeneratif” di Auditorium Prodia Tower, Jakarta Pusat, Selasa (3/12/2013).

Selanjutnya, dr. Yudi menjelaskan bahwa stem cell tersebut akan dikembangbiakkan di laboratorium.

Kemudian, stem cell yang dikembangbiakkan tersebut akan dilanjutkan dengan proses penyimpanan kriogenik (suhu rendah sampai -196 °C).

“Atau dapat juga langsung digunakan melalui penyuntikan atau diinfus stem cell-nya ke dalam tubuh pasien,”lanjutnya.

Sementara, dalam proses pengembangan stem cell dr. Yudi mengatakan bahwa itu juga harus memperhatikan kesterilan lingkungan dan teknik dalam bekerja. Proses pengolahan stem cell, mulai dari pemisahan sampai pengembangbiakan harus dilakukan dalam fasilitas yang sesuai dengan standar cGMP.

Untuk keperluan terapi, dr. Yudi mengatakan bahwa stem cell akan dikembangbiakkan hingga mencapai jumlah yang cukup sebelum ditransplantasikan ke tubuh pasien.

Selain itu, masa pengembangbiakannya pun bervariasi tergantung dari jenis stem cell yang diharapkan.

“Untuk stem cell hematopoitik dibutuhkan waktu sekitar 4-5 hari, sedangkan untuk stem cell mesenkimal masa inkubasinya mencapai 4-5 minggu,”terangnya. (tty)

INILAH.COM, Jakarta – Sudah berkembang sejak 1998, namun belum marak pengobatan stem cell atau sel punca di Indonesia.

Kabarnya, tak berkembangannya stem cell, karena biayanya yang mahal.d

 

Dokter Indah Yulianto dari Assosiasi Profesor Dermatologi dan Venerologi Universitas Sebelas Maret mengakui, di Indonesia penggunaan stem cell belum berkembang baik.

Selain belum adanya peraturan, masalah biaya yang mahal juga menjadi faktor penyebab.

“Peraturan belum ada, di sini belum ada yang mau meneliti karena ini terlalu sulit dan mahal, sementara mereka mintanya murah, ini kan repot,” kata Indah yang juga Principal Researcher Laboratorium Bioteknologi Dermama, di Brawijaya Women & Children Hospital, Jakarta, baru-baru ini.

Terapi stem cells merupakan teknologi kedokteran terkini yang memanfaatkan sel punca untuk meregenerasi sel dalam tubuh sehingga dapat memulihkan dan menumbuhkan kembali jaringan sel tubuh yang rusak akibat berbagai penyakit degeneratif.

 

Indah menegaskan terus mengembangkan penggunaan stem cell yang berasal dari darah tali pusat dan Wharton Jelly tali pusat dengan menggandeng empat rumah sakit di Indonesia: Brawijaya Women Children Hospital Jakarta, RS Muwardi dan RS PKU Muhammadiyah Solo dan Rumah Sakit Mayapada Tangerang.

“Karena stem cell ini adalah bentuk penyembuhan yang diciptakan langsung dari yang kuasa, saya tidak mau ada yang menghambat ini,” ujar Indah bersemangat.

Indah menjelaskan, pengolahan stem cell hingga mnjadi pengobatan memerlukan proses panjang dan mahal. “Stem cells yang diperoleh akan diproses di laboratorium kemudian berdeferensi menjadi sel yang diharapkan.

Maka akan dilakukan implan atau penanaman stem cells tersebut ke dalam tubuh pasien yang selanjutnya akan berkembang dan berkoneksi dengan sel-sel tubuh serta melakukan perbaikan sistem dan regenerasi sel,” terang Indah..

Sejauh ini, penyakit bisa sembuh dengan stem cells: diabetes melitus dengan komplikasi, epilepsi, parkinson, jantung, kelumpuhan, alzeimer, stroke.

Stem cell juga bisa mengobati autisme, cerebal palsy dan lainnya.

Stem cell juga bisa untuk perawatan kecantikan dan penyakit kulit seperti pigmentasi, jerawat dan kasus kebotakan. [aji]

Banyak penderita gagal ginjal, jantung, diabetes, stroke, parkinson yang penyembuhannya kini terbantu dengan terapi stem cells atau terapi sel punca.

 

Bukan hanya penyakit degeneratif, terapi sel punca juga dapat menyembuhkan masalah kulit seperti jerawat, luka bakar, hingga masalah penuaan. Terapi sel punca juga ampuh mengatasi kebotakan.

Terapi ini merupakan teknologi kedokteran terkini yang berfungsi meregenerasi sel dalam tubuh sehingga dapat memulihkan dan menumbuhkan kembali jaringan yang rusak.

Lewat dua pilihan prosedur terapi, yakni injeksi dan topikal, sel punca yang bersumber dari manusia dan diproses di laboratorium ini akan masuk ke tubuh pasien. Implan atau penanaman sel punca ke tubuh pasien ini dilakukan bila sel punca hasil pemrosesan di laboratorium sudah berkembang (progenitor cell) atau berdeferensiasi menjadi sel yang diharapkan.

 

Kemudian, sel punca yang ditanamkan di tubuh pasien ini akan berkembang dan berkoneksi dengan sel tubuh untuk melakukan perbaikan sistem dan regenerasi sel.

“Dengan rekayasa biologi, sel punca dapat mengubah sel tubuh lain, tulang yang rusak, kulit hancur, menjadi normal kembali, di samping sel akan terus memperbaiki diri,”

 

ungkap ahli terapi sel punca, dr Indah Julianto, dalam launching terobosan baru sel punca di Rumah Sakit Ibu dan Anak Brawijaya, Jakarta, Sabtu (21/9/2013).

 

 

 

 

 

 

 

Sumber sel punca
Terapi yang dipraktikkan dr Indah menggunakan sumber sel punca dari manusia, utamanya darah dari tali pusat dan jelly wharton tali pusat. Menurut dr Indah, sel punca yang bersumber dari bayi memiliki kualitas terbaik. Dalam mengaplikasikan terapi, ia juga menggunakan sumber sel punca dari plasenta, bukan embrio.

Sel immature tidak kenal virus atau kuman. Tali pusat tidak pernah terinfeksi virus,” ungkapnya.

Dr Indah menjelaskan, sel punca bersumber dari plasenta merupakan satu dari sekitar 8-10 sumber human stem cells yang telah teruji klinis melalui penelitian di laboratorium. Selain plasenta, sumber stem cells manusia lainnya berasal dari lemak, rambut, kulit, arteri, vena, dan lainnya.

Human stem cells, jelasnya, memiliki 8.000 kali kekuatan antibiotiknya dan anti-inflamasi. “Stem cells itu miracle. Tidak ada efek samping karena bukan obat dan bukan bahan kimia,” jelas dr Indah.

Untuk mendapatkan manfaat optimal dari terapi stem cells, kualitas stem cells perlu diperhatikan.

 

 

 

Menurut dr Indah, tipe stem cells dari tali pusat hanya bisa bertahan 36 jam.

 

 

 

Sementara sel punca yang berasal dari jeli wharton tali pusat setelah 48 jam tidak bisa berfungsi.

“Setiap 30 menit, kemampuan sel menurun satu persen,” ungkapnya.

Menggunakan sel punca yang pasokannya tersedia di UNS Solo, terapi stem cells akan memakan waktu yang tak bisa dipukul rata.

Durasi terapi ini bergantung penyakit yang diderita. untuk penyakit tertentu, terapi stem cells bisa memakan waktu lebih lama.

 Dr Indah menyebutkan, penderita gagal ginjal membutuhkan waktu paling lama untuk menjalani terapi ini. “Butuh sekitar 18 kali injeksi untuk penyakit gagal ginjal,”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s