KISAH PERTUALANGAN HOK TANZIL

INI ADALAH CONTOH BUKU ELEKTRONIK DALAM CD-ROM KREASI Dr IWAN TANPA ILLUSTRASI

THIS IS THE SAMPLE OF Dr IWAN CD-ROM E-BOOK WITHOUT ILLUSTRATIONS

THE COMPLETE CD WITH ILLUSTRATION EXIST,TO GET IT PLEASE SUBSCRIBED VIA COMMENT WITH UPLOAD YOUR ID COPY.

Kisah Pertualangan

HOK Tanzil

Oleh

Dr Iwan Suwnady,MHA

Khusus Untuk Anggota KISI

Hak Cipta@ 2013

PENGANTAR

Kisah pertualangan HOK Yanzil keliling Indonesia dan dunia sekitar tahun 1970-1980 yang dimuat dalam majallah Inti sari telah memebrikan inspirasikepada saya untuk melakukan pertualangan yang sama yang sudah di tulis dalam buku Kisah Pertualangan WANLISON (Iwan Lily dan anak-anak) .

Perbedaannya adalah HOK Tanzil selainmemberikan catatan tentang keusliatan perjalanannya dan anyak mengenai Kuliner yang digarap oleh isternia yang kemudian terkenal dengan restaurant NY Tanzil.

Kami sama –sama seorang dokter ,bedanya HOK Tanzil ahli mikrobiologi yang menemukan cara p0ewarnaan pemeriksaan preparat dari ludah penderita untuk menemukan basil than asam alias BTA kuman TBC yang mengabungkan dua tehnik yang lebih sulit sehingga jadi prkatis yaitu Kinyoun dan Gabbet,awalnya Kinyou dn akhirnya Gabbet. Sedang saya ahli strategi administrasi Rumag Sakit yang lebih memikirkan strategi dan tekti menempuh masa depan yang diawali dengan menulis tentang sejarah Indonesia dari sbelum masehi sampai 19999, dan juag memiliki hobi mengumpulkan koleksi langka dan unik yang didapat inspirasi dari pertualng yang lain seperti Columbus,magelhaens dan penulis komik yang terkenal Bielive or Not.

Sat ini akan saya bahas tentang kisah pertualangan HOK Tanzil ,ia smapai saat ini masih hidup dan berumur 90 tahun.

Jkaarta November 2013

Dr Iwan Suwandy,MHA

KISAH PERTUALANGAN  HOK TANZIL

DI INDONESIA

HOK Tanzil: Tempat Ini Hanya Satu di Dunia

author : Verena Gabriella
Sunday, 15 September 2013 – 09:03 am
 

SUMBER :akarrumputadventure

Tanah Toraja yang indah.

Intisari-Online.com – Inilah kisah perjalanan H.O.K. Tanzil ke Tana Toraja yang dia tulis di Intisari edisi Oktober 1978 dengan judul asli “Mengunjungi Tana Toraja”.

Desa Kete (2 km) adalah tempat keempat yang kami kunjungi. Kami lihat para penduduk mengukir dinding rumahnya. Gambar langsung diukir dengan sebilah pisau yang sangat tajam tanpa lebih dulu dilukiskan dengan pensil. Di desa inipun nampak ada beberapa peti jenazah yang dipertontonkan.

Setelah mengisi perut, perjalanan dilanjutkan ke Palawa, 9 km ke Utara, ke sebuah desa Toraja tua. Di Marante, sebuah desa Toraja terdapat kuburan yang katanya tertua. Letaknya tinggi sekali, kira-kira 50 m di atas dan sisa sebuah balkon masih nampak. Di gua-gua kecil di bawah tercecer tebela-tebela terbuka berisi kerangka.

Obyek pariwisata terakhir hari itu ialah Nanggala. Katanya, kampung itu dimiliki oleh seorang janda ningrat yang kaya. Ia masih tinggal di situ. Terlihat belasan rumah tinggal khas Toraja berderet rapih dan di depannya ada sederetan lumbung padi. Sawah dan tanah yang ditumbuhi pohon buah-buahan sangat luas.

Sore pukul 16.30 selesailah tour yang sangat menarik tapi melelahkan itu. Akhirnya kami sampai ke hotel di Ujung Pandang pada pukul 4 pagi, setelah 10 jam perjalanan. Patut dicatat bahwa makanan lain yang nikmat dan murah di kota itu ialah ayam goreng dengan sopnya yang banyak dikenal umum di sana.

Paginya sebelum berangkat ke Jakarta kami masih berkesempatan ke Malino, kota di daerah pegunungan pada ketinggian 1050 m. Letaknya 70 km ke timur dari Ujung Pandang melalui Sungguminasa. Kira-kira sepertiga perjalanan sebelum tujuan, jalan mendaki dan berliku-liku dengan lembah dan pegunungan yang cantik. Kota peristirahatan ini tak besar.

Bila mencari ketenteraman di hawa sejuk inilah tempatnya. Keamanan di Sul-Sel baik. Pintu mobil yang diparkir tak perlu dikunci, bahkan jendela kaca tak pernah kami tutup padahal barang belian tetap di mobil. Tidak ada barang yang hilang. Disiplin penumpang bus dan para pengemudi di Sul-Sel patut dicontoh. Sifat toleran dan mau mengakui hak orang lain sangat menyenangkan kami. Tator (Tana Toraja) sebagai obyek pariwisata internasional bernilai tinggi. Buktinya banyak turis asing mengunjungi daerah itu.

Sebagai obyek pariwisata Nasional, menurut saya, mengunjungi Tator termasuk sesuatu yang mewah. Berpiknik ke Tator sangat dianjurkan, karena biayanya ringan. Naik bis selain lebih cepat dan murah (Ujung Pandang-Rantepao biayanya Rp. 1.350,- untuk satu tempat duduk) dapat pula dipesan lebih untuk seorang tanpa kuatir diserobot. Mengenai ongkos makan dan hotel tentu tergantung dari masing-masing selera dan kemampuan.

Yang membuat biaya trip ke Tator jadi tinggi adalah harga tiket p.p. Jakarta-Ujung Pandang yaitu lebih kurang Rp. 85.000,- seorang. Kalau semata-mata hendak pesiar maka orang akan memilih ke Singapura, apalagi untuk orang yang sok luar negeri. Biaya pesawat terbang ke sana p.p. hanya sekitar Rp.55.000,-. Namun untuk kami, mengunjungi Tana Toraja dengan kuburan-kuburan khasnya memberi kepuasan walaupun dengan susah payah karena melihat sesuatu tidak ada di tempat lain di dunia.

 

HOK Tanzil: Naik Bis Air ke Muara Bengkal

SUMBER : Birgitta Ajeng

id.wikipedia.org

Bis air.

Inilah cerita H.O.K. Tanzil saat pergi ke Kalimantan yang dia tulis di Intisari edisi Agustus 1979 dengan judul asli

“Melancong ke Kalimantan”.

Intisari-Online.com – Pukul 14.00 tibalah kami di dermaga ferry dan antri sebagai mobil no. 16 untuk menyeberang. Biayanya Rp 1000 untuk jip dan Rp 25 untuk orang.

Ferry satu-satunya mondar-mandir untuk menghubungkan kedua tepi S. Mahakam tiap setengah jam dalam waktu kurang lebih 10 menit penyeberangan. Pengapalan dan pendaratan kendaraan secara “rollon and roll-off” lancar sekali.

Langsung saya menuju ke jurusan pusat kota Samarinda yang lebih kurang 7 km ke hilir S. Mahakam. Dari kota yang saya pernah kunjungi hampir 40 tahun yang lalu ini, yang diingat dan digunakan sebagai patokan adalah batas paling hilir, yaitu Karangmumus.

Bukan nama-nama saja yang berlainan, namun buat saya semuanya berubah. Kota meluas, memadat, tambah cantik dan modern.

Kami menginap di mess PT MS. Pemimpinnya Ir. Yahya begitu baik menemani dan membantu kami lebih mengenali kotanya. Tujuan utama kami ke Kalimantan ialah menelusuri S. Mahakam sedalam-dalamnya dengan bis air.

Menurut koran yang pernah saya baca, hal itu dapat dilaksanakan sampai Long Iram.

Dengan perkiraan ini pada tanggal 25 April 1979 pukul 07.30 kami ke dermaga ferry, untuk memesan tempat di bis air (BA) ke hulu Mahakam. Ternyata ada bis air hanya sampai Muara Muntai sejauh 201 km (Long Iram sejauh 404 km), yang akan berangkat pukul 10.00 (Belum sebulan setelah kami kembali dari Kalimantan, hubungan dengan Long Iram dengan bis air dibuka.

Sayang sekali terlambat! Saya beli 2 helai karcis a Rp 1500 dan mendapat nomor tempat duduk, di antara 42 buah. Konon BA itu akan sampai pukul 12.00 malam, dan kami dapat menginap di sebuah losmen. Saya pikir esoknya akan mencari pengangkutan selanjutnya ke Long Iram.

Kebetulan di dekat loket ada seorang pramugari BA mengatakan esoknya akan ada BA yang akan dicoba ke Muara Bengkal, suatu kota sejauh 368 km ke hulu Samarinda. Langsung saya tanya apakah kami boleh ikut, walaupun harus membayar. Dikatakan agar saya ke kantor (sejauh 7 km) untuk menghubungi bapak kepala.

Mesin jip sudah dihidupkan untuk ke sana, ketika kami dipanggil karena kebetulan Bapak R. Soewarto, Kepala Sub. Proyek ASDF (Angkutan Sungai, Danau dan Ferry) Kaltim, baru datang di situ.

Kepada beliau (kebetulan seorang pembaca Intisari juga) saya utarakan maksud kami. Ternyata, bukan saja tak usah bayar, bahkan kami mendapat undangan resmi untuk mengikuti pelayaran percobaan ke Muara Bengkal pada esok harinya tanggal 26 April 1979 pukul 07.30.

Secara bergurau beliau juga minta agar isteri saya membantu masak selama pelayaran, yang akan memakan waktu sekitar 40 jam itu. Dengan senang hati kami menyanggupinya.

Pada saat yang ditentukan kami tiba di dermaga ferry dengan membawa bahan pangan ala kadarnya untuk sangu.

Ternyata bahwa kami akan ikut serta sudah diberitahukan kepada semua pembantu di dermaga ferry. Penyambutan, keramahan dengan keterangan-keterangan mereka sangat mengesankan kami.

Begitu Pak Soewarto datang, Bis Air 004 siap berangkat memulai pelayaran percobaannya ke Muara Bengkal.

 

Kisah Perjalanan HOK Tanzil

DI ASIA DAN AFRIKA

  

Kisah Perjalanan HOK Tanzil

DI ALASKA  DAN EROPA

Kisah Perjalanan HOK Tanzil

PASIFIK

AUSTRALIA

AMERIKA LATIN

 

a traveler’s notes – the published version of Mr. Tanzil’s traveler’s notes series run in Intisari monthly magazine.

HOK Tanzil Keliling Australia (1): Ingin Naik Bis Ansett Pioneer

SUMBER  : Birgitta Ajeng

dok. Intisari

Tulisan H.O.K. Tanzil di Majalah Intisari edisi Februari 1980 dengan judul asli

Intisari-Online.com – Pengembaraan saya dan isteri di Australia ini berlangsung antara tanggal 30 Mei s/d 19 Juni 1976.

Jauh sebelumnya, waktu di Hong Kong, saya membaca sebuah brosur mengenai kemungkinan membeli Aussieoass untuk berkeliling di Australia dengan bis Ansett Pioneer selama 30 hari. Biayanya AU$140. Karcis ini harus dibeli di luar Australia dan sepengetahuan saya, tidak dapat dibeli di Jakarta.

Karena itu saya minta keterangan dari Ansett Pioneer Office,Oxford Square, Cnr. Oxford & Riley Streets, Sydney, Australia. Mereka memberi balasa: bila kami mengirim biaya sebesar dua kali AU$ 140 untuk kami berdua, mereka akan menyiapkan tiket dan segala yang diperlukan. Kami dapat mengambilnya bila tiba di Sydney. Anjuran itu saya penuhi.

Pesawat DC 10 dari UTA sampai di L.U. Kingsford Smith, Sydney, pada tanggal 30 Mei 1976 pukul 17.00, dari Noumea, New Caledonia. Lama penerbangan 3 jam (Lihat Intisari no. 194, September 1979). Pemeriksaan imigrasi dan Bea Cukai lancar dan cepat. Kami menukarkan uang di bank. Untuk tiap AS$1 diperoleh AU$0.80.

Di bagian penerangan saya tanyakan hotel yang dekat dengan letak kantor Ansett Pioneer, agar kami mudah mengambil ticket bis.

Dengan sebuah taxi kami dibawa ke Hotel Koala, Oxford Square. Biayanya AU$4.50. Hotel Koala yang cukup mewah ini segedung dengan kantor Ansett Pioneer. Segera kami ambil Aisiepass yang sudah tersedia dan langsung memesan tempat untuk esoknya. Kami akan memulai perjalanan dengan bis dari Sydney ke Melbourne.

Malamnya setelah makan dalam kamar hotel kami menikmati siaran TV yang mempunyai 4 saluran.

Bis Ansett Pioneer

Esok paginya pukul 06.30 kami meninggalkan hotel setelah membayar AU$ 28.50. Setasiun bis di bagian belakang hotel sangat memudahkan.

Kami meninggalkan Sydney secepat mungkin dengan pertimbangan akan melihat-lihat kota itu pada akhir perjalanan.

Bis Pioneer Australia sebanding dengan bis Greyhound di AS/Kanada. Suhu dalam bis 22°C. Tempat duduk seperti dalam pesawat udara, dapat disetel. Masing-masing dilengkapi dengan lampu untuk membaca. Di bagian belakang ada kamar kecil. Jendela kaca yang luas dan rendah melapangkan penglihatan.

Kalau pengemudi bis Greyhound AS disebut “operator”, maka di Australiaia dijuluki “captain”. Mereka ini mendapat pendidikan khusus, harus rohani dan jasmani sehat. Ini dikontrol secara periodik oleh dokter. Mereka sangat dapat diandalkan dan ramah. Tiap 4-5 jam perjalanan mereka diganti.

Inilah cerita H.O.K. Tanzil saat mengelilingi Australia yang ditulis di Majalah Intisari edisi Februari 1980 dengan judul asli

“Keliling Australia dengan Bis Ansett Pioneer”.

HOK Tanzil Keliling Australia (3): Buah Apel Kami Disita

SUMBER  : Birgitta AjenG

dok. Intisari 

Tulisan H.O.K. Tanzil di Majalah Intisari edisi Februari 1980 dengan judul asli

Intisari-Online.com – Beberapa menit setelah meninggalkan Albury, dilintasilah perbatasan negara-bagian New South Wales masuk ke negara bagian Victoria.

Tadinya hal itu tidak menarik perhatian saya. Di AS melintasi perbatasan pelbagai negara telah kami lakukan kerap kali.

Kini bis kami berhenti di depan sebuah pos: “Fruit and Fly Controle” untuk mencegah pemindahan hama yang dapat merugikan pertanian dan sebagainya. Bis harus berjalan pelahan-lahan melintasi selonjor selang yang ditaruh melintang di jalan depan pos. Selang menyemprotkan obat antihama ke seluruh bagian bawah bis.

Lalu seorang petugas yang berseragam masuk ke dalam bis sambil menanyakan pada setiap penumpang apakah membawa buah-buahan, sayuran dan sebagainya.

Kebetulan kami masih memiliki sebuah apel sisa makan siang. Benda itu masih di pangkuan isteri saya. Tampaknya seperti menantang si petugas. Dengan hormat di “sita”-nya apel tadi, karena kami tak mampu lagi memakannya sampai habis di tempat itu. 

Namun satu pon buah anggur sebagai persediaan untuk camilan dalam hotel, tidak kami relakan untuk disita. Kami memberanikan diri menyelundupkannya karena tidak dilakukan penggeledahan barang bawaan.

Kemudian dalam 4 jam kami lalui kota-kota Wodonga, Wangaratta, Benalla, Ewioa dan Seymour di jalan raya no. 31. Tepat pukul 19.00 tibalah kami di setasiun bis Pioneer Melbourne.

Di sini kami tinggalkan koper kami dalam sebuah “locker” (lemari-lemari besi yang tersedia untuk menyimpan barang dan dapat dikunci bila memasukkan uang logam 25 sen Australia). Dalam 2 buah travel bags kami tenteng pakaian dan barang seperlunya yang cukup untuk 2 hari menginap di hotel.

Dari bagian penerangan dikatakan ada sebuah hotel YWCA yang katanya dekat hanya sejauh 2 blok! Pengertian “dekat” sangat relatif. Memang untuk saya pribadi tidak jauh, namun untuk isteri saya yang biasa berbecak, walaupun untuk jarak 50 m, alangkah menyiksanya!

Lagipula angin yang menggigilkan pada musim gugur itu membuat perjalanan kami pada petang yang gclap itu lebih memasgulkannya. Untuk menghibur isteri saya, saya katakan bahwa di Melbourne es-krimnya enak, makanan ini sangat digemarinya walaupun ia menderita diabetes! (Hal ini janganlah dicontoh oleh penderita lain!).

Akhirnya pukul 19.30 sampai juga kami di hotel YWCA,489 Elizabeth Street. Berlainan seperti umumnya, di hotel sederhana ini pembayaran harus dimuka, yaitu A$ 30 untuk 2 malam. Langsung kami diberi kunci setelah menerima kwitansi. Kamar 609 harus dicari sendiri di tingkat 6 setelah naik lift.

Ternyata kamar di hotel murah ini walaupun tidak mewah, namun bersih sekali, juga kamar kecilnya. Dua hari di situ tidak membuat kami mengeluh.

Inilah cerita H.O.K. Tanzil saat mengelilingi Australia yang ditulis di Majalah Intisari edisi Februari 1980 dengan judul asli “Keliling Australia dengan Bis Ansett Pioneer”.

HOK Tanzil Keliling Australia (4): Melbourne, Victoria Lalu Ke Adelaide, South Australia

sumber : Birgitta Ajeng

dok. Intisari

 

Tulisan H.O.K. Tanzil di Majalah Intisari edisi Februari 1980 dengan judul asli

Intisari-Online.com – Ibukota negara bagian Victoria berpenduduk ± 2.700.000 jiwa, terletak di teluk Port Phillip. Menurut hemat kami, tiap kota besar di Australia lebih mirip dengan keadaannya di Amerika Serikat daripada di Eropa. Soalnya karena usianya, yaitu lebih “baru”.

Untuk menjelajah kota kami pergunakan trem, yang tentunya ekonomis. Dengan trem tua, berwarna hijau, lebar dan berjalan santai itu kami banyak melihat-lihat. Jalan-jalan lebar dirindangi dengan pohon-pohon.

Collins Streetyang ramai mengingatkan saya pada San Francisco dengan gedung-gedung pencakar langitnya serta rel trem di tengah jalan yang agak menanjak. Di bagian lain menyerupai Paris dengan cafe-cafe di pinggir jalan dan toko-toko kecil.

Di “China-town”, kami menikmati santapan di sebuah restoran Cina, diLt. Burke Street. Sudah agak lama kami makan kurang cocok. “Windou shopping” dilakukan di Royal Arcade, sebuah pusat pertokoan yang sudah lebih seabad usianya.

Tidak kalah indahnya denganCanberra,kotaini juga banyak taman-taman. Katanya, kebun rayanya (Royal Botanic Gardens) di pinggirkota, merupakan yang terbesar di belahan bumi bagian Selatan dimana terdapat 10.000 jenis tanaman.

Ke Adelaide, South Australia

Karena bis Pioneer dari Melbourne ke Adelaide hanya ada sekali sehari (yang berjalan pada siang hari), maka agar tidak kehabisan tempat, kami memesannya sehari di muka.

Esok paginya pukul 07.00 kami sudah berada di terminal bis. Kami masih sempat sarapan pagi dengan memasukkan uang logam AU$0.20 ke dalam “slot machine” untuk memilih sesuatu yang dikehendaki. Buat saya pribadi yang cocok hanya kaldu ayam panas saja.

Pukul 07.45 bis no. 32 jurusan Adelaide meninggalkan tempatnya. Kota sudah mulai ramai dengan kendaraan. Melalui jalan raya no. 8 ke barat kami lalui dusun-dusun Barybrook, Deer Park, Melton, Bacchus Marsh dan Ballan di daerah berbukit yang terlihat banyak “farms” (rumah pertanian).

Kami sampai di kota yang agak besar: Ballarat yang berpenduduk 60.000 jiwa pukul 09.30. Dekat Beaufort kami lewati sebuah danau, Lake B. (maaf, saya tak dapat membaca catatan sendiri, karena tulisan waktu bis berjalan sangat terganggu!). Di sini Campbell, pembalap di air memecahkan recordnya. Konon, di situ pula ia meninggal karena kecelakaan dengan kapal motornya.

Di Ararat (penduduk 8.300) bis berhenti 15 menit. Pengemudi diganti. Perjalanan dilanjutkan melewati daerah datar. Pukul 12.00 bis berhenti selama 45 menit di Horsham (penduduk 10.100) untuk memberi waktu ketika para penumpang makan siang. Mixed grill dan steak seharga AS 7.50 kami pilih, sebab paling cocok dengan selera kami.

Kemudian kami lewati Dimboola, Nhill dan Kaniva di daerah pertanian gamdum. Melintasi perbatasan ke South Australia tidak ada pos “fruit & fly controle”. Di Bordertown bis berhenti agar kami dapat jajan.

Jam di South Australia diundurkan 30 menit dari waktu Victoria. Kini jalan melalui “wild life sanctuary”, di pinggir Kangaroo di alam bebas. Mulai Tailem Bend kami masuki jalan raya no. 1. Pukul 17.00 sampai di Murray Bridge, yang dikenal sebagai kota pertanian terkaya di Selatan. Berhenti di sini seperempat jam.

Setelah Nairne di Princes Highway (no. 1) ini, jalan mulai berliku-liku menurun dari ketinggian ± 600 meter: Mount Lofty Ranges.

Setelah ±11 jam dan menempuh sejauh 744 km dari Melbourne, tibalah bis kami di Adelaide pukul 18.30 waktu setempat.

Inilah cerita H.O.K. Tanzil saat mengelilingi Australia yang ditulis di Majalah Intisari edisi Februari 1980  dengan judul asli

“Keliling Australia dengan Bis Ansett Pioneer”. 

HOK Tanzil Keliling Australia (6):

Coober Pedy, Kota Batu Opal

sumber : Birgitta Ajeng

dok. Intisari

 

Tulisan H.O.K. Tanzil di Majalah Intisari edisi Februari 1980 dengan judul asli

Intisari-Online.com – Pukul 11.00 tibalah kami (terlambat 2 jam) di Coober Pedy, 938 km dariAdelaide, setelah I6 ½ jam. Di sini bis berhenti selama sejam. Di restorannya kami makan steak (melulu!) yang harganya lebih tinggi karena jauhnya jarak dari kota-kota besar lain.

Coober Pedy yang berpenduduk hanya 4.500 terkenal dengan parit batu opalnya. Konon, hasil batu di situ melebihi dari separuh produksi di seluruh dunia. Para penggali dan sebagian penduduk bermukim di gua-gua galian di bawah tanah untuk menghindari panas yang luar biasa di musim panas.

Semua toko dan perusahaan yang kami lihat selalu menjual batu permata itu dalam pelbagai bentuk sebagai perhiasan. Isteri saya hanya membeli beberapa butir untuk oleh-oleh. Harga AU$ 25 tidak kami ketahui apakah mahal atau murah bila dibandingkan dengan harga di Jakarta, karena kami belum pernah memiliki atau membeli barang perhiasan apa pun.

Yang menyolok ialah relatif banyaknya nama-nama berasal dari Italia dan Yunani, khususnya rumah makan. Pemandangan kota kecil itu rasanya seperti dalam film koboi.

Pukul 12.00 bis berangkat. Kami lalui gurun pasir dengan pepohonan yang kering. Pemandangan yang membosankan. Setelah 3 jam tiba di Mt. Willoughby. Yang sangat mengganggu ialah banyaknya lalat!

Kemudian jalan melalui daerah berbukit yang berliku-liku. Karena tak beraspal maka sangat berdebu. Walaupun jendela ditutup tidak dapat dihindarkan bahwa rambut kami memutih seperti menjadi tua mendadak. Sesudah itu, gurun pasir yang tandus. Setelah melewati Welbourn Hill yang dilihat masih itu-itu saja.

Alice Springs, Northern Territory

Akhirnya sampai jugalah bis kami di setasiun terminalAlice Springspukul 03.30, yaitu 5 jam terlambat! Para”captain” menasihatkan penumpang untuk tidur saja dalam bis sampai pagi untuk menghemat ongkos hotel.

Pukul 07.45 dengan bis yang akan masuk bengkel, kami dibawa ke Pines Homestead Lodge. Di sini kami akan menginap hanya semalam karena esoknya akan ikut tour ke Ayers Rock, tujuan utatna kami. Biayanya hanya AU$ 16 semalam.

Walaupun kami “bermukim” di bis sejak dari Melbourne selama 48 jam, dan menempuh 2432 km dalam bis pasar yang brengsek, tidak ada niat untuk beristirahat.

Mandi air panas membuat kami segar untuk berjalan kaki di pusat kota yang kecil itu. Hawanya sekitar 10°C, dingin juga. Alice Springs terletak di pusat benua Australia, dan satu-satunya kota yang beratus-ratus km terpisah dari segala jurusan. Di sini juga basis “Royal Flying Doctor Service” dan “School of the air”.

Karena jarak jauh dan jalan kurang baik ke kota/dusun sekitarnya, maka para dokter berdinas dan dalam keadaan darurat mempergunakan pesawat terbang untuk kewajibannya. Mereka dapat dipanggil melalui radio. Penyiarannya dariAlice Springsini.Kotaini juga menjadi pusat untuk pariwisata dan peternakan.

Daerah pertokoan seperti di Pasar Baru Jakarta, namun sepi. Melihat perumahan di situ rasanya seperti villa-villa di daerah pegunungan tapi di kota.

Siang itu kami makan di Papa Luigi’s Restaurant. Kami pesan oysters, steak dan ice cream, hanya AU$ 10. Cocok juga dengan selera kami, sehingga malamnya kami kembali lagi. Malam itu kami tidur nyenyak setelah 2 malam tidur dalam posisi duduk!

Pukul 08.00 pagi kami sudah berada di setasiun bis Ansett Pioneer Alice Springs. Sejam kemudian bis berangkat menuju Ayers Rock yang jaraknya 480 km, melalui jalan tanpa aspal. Kini bisnya bukanlah bis “pasar”. Umumnya para penumpang wisatawan.

Di antara yang ikut dan telah kami kenal adalah pasangan suami-isteri sebaya kami, Mr & Mrs. Scott yang memulai perjalanan dari Adelaide bersama dengan kami. (Sehingga kini kami saling berkirim kartu Natal setiap tahun).

Jalan ke selatan sudah dilalui pada malam hari kemarinnya sampai Erldunda. Kini terlihat tandusnya dataran yang kering itu. Debunya bukan main! Membuat kami ubanan lagi.

Tengah hari tibalah kami di “Mt. Ebenezer Cattle Station” untuk makan siang.

Selama berhenti di situ kami lihat cukup banyak binatang unta, bahkan ada yang nampaknya berkeliaran sendiri. Heran juga kami melihatnya. Konon, binatang itu diimpor dari Afghanistan dan digembala oleh orang Afghanistan dan India Islam pada akhir abad yang lalu. Maksud kegunaannya (waktu itu) untuk pengangkutan di daerah gurun Australia.

Inilah cerita H.O.K. Tanzil saat mengelilingi Australia yang ditulis di Majalah Intisari edisi Februari 1980  dengan judul asli

“Keliling Australia dengan Bis Ansett Pioneer”.INFO LENGKAP TERSEDIA HANYA UNTUK ANGGOTA PERHIMPUNAN kisi,SILAHKAN MENDAFTAR LIWAT EMAIL

iwansuwandy@gmail.com

 

DENGAN MENGUPLOAD KOPI ktp(id) SERTA RIWAYAT HIDUP SINGKAT UNTUK SEKURITI.

 

 

 

 

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s