KOLEKSI SEJARAHAN KERAJAAN NUSANTARA(BERSAMBUNG)

INI ADALAH CONTOH Dr IWAN CD-ROM TANPA ILLUSTRASI,CD LENGKAP TERSEDIA, HARAP  MENGHUBUNGI LIWAT COMMWNT  DENGAN MENGUPLOAD IDENTITAS KTP LIWAT E-MAIL LIWAT COMMENT

The kingdom of Deli

History Collections

The  Deli Sultanate History Collections

Koleksi Sejarah Kesultanan Deli

 

 Created By

Dr Iwan Suwandy,MHA

Private Limited E_BOOK in CD-ROM Edition

Special from Premium Member

Copyright @ 2013

 

 

 

 

Lambang Kesultanan Deli

Sumber

 

1436

Pada abad ke 15 sudah berdiri kerajaan yang bernama Haru atau Aru , ini dapat kit abaca dari laporan Fei Sin tahun 1436 :

 

Menurut laporan Tome Pirres tentang Aru sebagai berikut:

 

1612

Kisah kerajaan Deli dimulai dari beririnya Kesultanan Aru(Haru) pada tahun 1612

 

Pada masa itu Aceh dipimpin oleh Sultan Iskandar Muda dan beliau mengalami keultian menghadapi perusush berbangsa RUM(Turki) ,dan Muhamma Dalhik dapat membunuh perusuh tersebut,bacalah kisahnya sebagai berikut:

 

Tahun 1612 Kerajaan Aru dapat ditaklukan oleh Pasukan Kerajaan Aceh dibawah pimpiann Panglima Gocah Pahlawan dan akhirnya diangkat oleh sultan Iskandar menjadi wakil kerajaan Aceh untuk wilayah Sumatera Timur yang berkedudukan di sungai Lalang(Deli Tua)

 

1623

Keberadaan Medan sebagai wilayah yang ramai tak lepas dari campur tangan Sultan Iskandar Muda dari Aceh yang berjaya saat itu. Sultan Aceh mengirimkan salah seorang panglima terbaiknya, yaitu Panglima Gocah Pahlawan, untuk menaklukan wilayah Medan yang banyak didiami oleh orang Batak Karo. Sebagai representasi Aceh di Tanah Deli, didirikanlah Kesultanan Deli dengan sultan pertamanya Tuanku Panglima Gocah Pahlawan, pada tahun 1623. (bakosultanal)

1630

Menurut Hikayat Deli, seorang pemuka Aceh bernama Muhammad Dalik menjadi laksamana di Kesultanan Aceh. Muhammad Dalik, yang kemudiannya juga dikenali sebagai Gocah Pahlawan dan bergelar Laksamana Khuja Bintan (ada pula sumber yang mengeja Laksamana Kuda Bintan), adalah keturunan daripada Amir Muhammad Badar ud-din Khan, seorang bangsawan dari Delhi, India yang mengahwini Putri Chandra Dewi, puteri Sultan Samudera Pasai. Dia mendapat kepercayaan dari Sultan Aceh untuk menjadi wakil bekas wilayah Kerajaan Haru yang berpusat di daerah Sungai Lalang-Percut. Dalik mendirikan Kesultanan Deli yang masih di bawah Kesultanan Aceh pada tahun 1630.(wiki)

1632

Pada tahun 1632, kerajaan Aceh menetapkan berdirinya Kerajaan Deli,kisahnya sebagai berikut:

 

Panglima Gocah Pahlawan menikahi adik Datuk Hitam Sunggal yang bernama Puteri Nang Buluan Beru Surbakti

1634

Pada tahun 1634,dari pernikahan Panglima Gocah ini lahirlah puteranya bernama Perunggit

 

Sebelum mangkat Tuanku Panglima Gocah Phlawan menyerahkan kekuasaannya kepada puteranya Tuanku Panglima Perunggit untuk menjadi Sultan

1640

Secara turun menurun masyarakat disekitar lokasi makam tersebut menyebut makam itu dengan nama “Makam Raja Keling”,Portugis mencata Gocah Pahlawan mangkat tahun 1640-1641 dalam usia 70-75 tahun

1653

 Setelah Dalik meninggal pada tahun 1653, puteranya Tuanku Panglima Perunggit mengambil alih kekuasaan dan pada tahun 1669 mengumumkan memisahkan kerajaannya dari Aceh. Ibu kotanya berada di Labuhan, kira-kira 20 km dari Medan(wiki)

 

1654

Lahirlah Tuanku Panglima Panderap di Aru putra Raja Deli II

 

 

Foto Lokasi makam Gocah Pahlawan

Menurut catatan “Hikayat Deli” yang ditulis Panglima Besar Deli pada tahun 1654 dan penuturan saksi-saksi penduduk setempat yang mayoritas bersuku Karo ,makam Panglima Gocap  berada didekat batu besar yang bentuknya  sekilas menyerupai posisi manusia  yang sedang jongkok dan dikenal dengan istilah “Batu Jerguk”

 

Secara turun menurun masyarakat disekitar lokasi makam tersebut menyebut makam itu dengan nama “Makam Raja Keling”,Portugis mencata Gocah Pahlawan mangkat tahun 1640-1841 dalam usia 70-75 tahun

 

Foto  batu Jerguk

Menurut T.Husni O Delikhan ,beliau pernah bermalam dimakam yang kemudian diykini adalah makam Puteri Nang Baluan Surbekti,kisahnya sebagai berikut:

 

 

1669

Kesultanan Deli ialah sebuah kesultanan yang didirikan pada tahun 1669 oleh Tuanku Panglima Perunggit di wilayah bernama Tanah Deli (kini Medan, Indonesia). Kerajaan Deli merupakan sebuah kerajaan ufti(wiki)

 

Pada tahun 1669 Perunggit menikah dengan adik Raja Sukapiring dan saat yang sama ia memproklamirkan Deli Lepas dari Kesultan Aceh kisahnya sebagai beikut:

 

 

 

 

 

1698

Tuanku Panglima Parunggit mangkat,ia digantikan oleh puteranya Tuanku Panglima Panderap,kisahnya sebagai berikut:

 

1705

Tuanku Panglima Gandar Wahid lahir

1720

Satu pertikaian dalam pergantian tampuk kekuasaan pada tahun 1720 menyebabkan Deli terpecah dan terbentuknya Kesultanan Serdang. Setelah itu, Kesultanan Deli sempat direbut Kesultanan Siak Sri Indrapura dan Aceh(wiki)

1728

Tuanku Panglima Padarap Wafat dan saat pemilihan penerus kerajaan deli terjadilah perselisihan,kisahnya sebagai berikut:

 

 

Pada tahun 1728 Pasutan memindahkan pusat kerajaan  ke Kampung Alaikisahnya sebagai berikut:

 

Untuk memperkuat kedudukannya ia mengangkat gealr datuk kepada 4 kepala suku ,kisahnya sebagai berikut:

 

Pada masa kekuasaan Tuanku Pasutan kerajaan Siak berperang dengan kerajaan Aceh untuk merebut Kerajan Deli

1805

Tuanku Kanduhid mangkat dan digantikan putranya Tuanku Amaluddin,kisahnya sebagai berikut:

 

 

 

 

1809

 

Tunku Raja Amaluddin menikah dengan anak Raja Hitam dari Langkat ,dan memperoleh putra Tuanku Osman di Labuhan

1814

 

 

Putera Deli, Langkat dan Serdang.

menjadi sebuah kesultanan merdeka pada tahun 1814 selepas mendapat kemerdekaan daripada Kesultanan Siak(wiki)

Sultan Siak mengangkat Tuanku Amaluddin menjadi Sultan Pnglima Mangendar Alam kisahnya sebagai berikut:

 

 

 

1823

John Anderson berkujnung ke Medan tahun 1823,kisahnya sebagai berikut:

 

Osman Perkasa Alam Shah diangkat swakil direktur dengan gelar Sultan Moeda Panglima Perkasa Alam

 

1824

Sultan Amaluddin mangkat,ia digantikan puteranya Osman Perkasa Alam Shah,kisahnya sebagai berikut:

 

 

 

 

 

1825

Deli menguat dan melepaskan diri dari kekuasan Aceh,menaklukan wilayah kecil disekitarnya menjadi wilayah deli,wilayah tersbeut  adalah :

 

1851

Sulatn Osman memperoleh putra pertama Tengku Mahmud

 

1852

Tuanku Osmann menikah dengan isteri kedua Raja Siti Asmah ,putrid Raja Mohammad Ali sultan Asahan.

 

1853

 

Pedang Bawar yang diberikan sultan Aceh kepada Sulatn Deli

 

Deli ditaklukan lagi oleh Sultan Aceh,dan bagaimana nasibnya Sultan Osman  yang dijadikan wakil sultan Aceh , kisahnya sebagai berikut.

 

Cucu Sultan Osman bernama Tengku Ma’mun Al Rasyid lahir

 

1854

Sultan Osman membangun sebuag Mesjid Megah besr dna permanent dengan anma Mesjid Al Osmani di Labuan Deli

 

Foto Mesjid Al Osmani

1857

Sultan Osman sebelum mangkat pada usia muda  pernah menikah dan memiliki 3 putera   Tengku Mahmud,soelaiman dan Haji Ismail.,kisahnya sebagai berikut.:

 

 

Foto sultan Mahmud

Pada tahun 1858 setelah Sultan Osman Mangkat, putra sulungnya Sultan Mahmud dinobatkan sebagai pengantinya ,kishanya sebagai berikut:

 

Selama lima belas tahun memerintah sultan Mahmud bekerja sma dengan pihak asing membuka perkebunan tembakau dikerajaan deli,diawali pengusaha Jakobus Nienhuys denga nama Deli Maatscvhapij

1858

Pada tahun 1858, Tanah Deli menjadi milik Belanda setelah Sultan Siak, Sharif Ismail, menyerahkan tanah kekuasaannya tersebut kepada mereka. (wiki)

1862

Pada bulan Agustus 1862 timbul isu bahwa kerajaan deli tidak mengakui kerajaan Siak sewhingga Resident Riau hindia belanda melakukan inspeksi ke kerajan deli,kisahnya sebagai berikut:

 

 

 

 

Selanjutnya sulatn Deli membuat kontrak perjanjian dengan pihak Hindia belanda  yang dikenal dengan Acte van Verband kisahnya sebagai berikut

 

1863

Pada tahun 1861, Kesultanan Deli secara rasmi diakui merdeka dari Siak dan Aceh. Hal ini menyebabkan Sultan Deli bebas untuk memberikan hak-hak lahan kepada Belanda mahupun perusahaan-perusahaan luar negeri yang lain.

Pada masa ini Kesultanan Deli berkembang pesat. Perkembangannya dapat terlihat dari semakin kayanya pihak kesultanan berkat usaha perladangan terutamanya tembakau dan lain-lain.

1870

 

 

Foto istana Kota batu dilabuhan Deli 1870

1872

Sultan mahmud merenovasi Mesjid Al Osmani dan saat ini timbul ancaman kepada Kesltanan deli  dari para Kepala di Timbangan Langkat karena tidak meratanya pembagian lahan anata pribumi dna pihak kolonial, dan pihak hindia Belanda membantu kerajan Deli kisahnya sebagai berikut:

 

1873

Sultan mahmud meninggal,digantikan puteranya Sultan Ma’mun Al Rasyid

 

 

Foto Sultan Ma’mun

 

1886

Sultan Ma’mun membangun  Kampung bahari di  Labuhan deli,pada masa ini perdaganagn tembakau  semakin maju dan kemakmuran kesultan deli  mencapai puncaknya dan pusat pemerintahan dipidhka ke Medan.(tembakau Deli)

Sebuah alat berangka tahun 1886 teronggok berdiri tanpa fungsi apapun. Di sebelahnya terlihat tumpukan tembakau yang telah berujud tanah coklat, hancur dan hanya terlihat serat-seratnya saja.

 

Tembakau Deli adalah simbol kejayaan Kerajaan Deli. Melalui komoditas inilah Kerajaan Deli tersohor di dunia pada awal abad ke-19. Namun, seiring dengan menurunnya kekuasaan Deli akibat campur tangan penjajah, menurunkan pula produksi komoditas tembakau di Tanah Deli.

Deli adalah tanah yang subur dan makmur. Jika kini kita tidak dapat melihat kejayaan Deli dengan tembakaunya, sudah sepantasnya jika kita berharap dapat melihat Kelapa Sawit jaya di pasar dunia.

Oleh Agung Christianto

 

 

 

 

 

 

1888

Sultan deli membangun istana  Maimoon

 

Kiahnya sebagai berikut:

 

 Beberapa bangunan peninggalan Kesultanan Deli juga menjadi bukti perkembangan daerah ini pada masa itu, misalnya

 

Istana Maimun..(wiki)

Dalam benak gw waktu itu, medan isinya orang batak semua. tnyata gw salah. banyak juga penduduk keturunan melayu disini. salah satu bukti peninggalan kerajaan melayu yang pernah berjaya adalah

 

 Istana Maimun.

Aga disayangkan, sewaktu gw kesana sekitar 2 thn silam, kondisinya sudah seperti rumah hunian yang dipenuhi jemuran dan antena televisi. mudah2an skr sudah kembali seperti layaknya Istana yang dulu pernah berjaya

Berlokasi di Jl. Brigjen Katamso Medan (10 km dari bandara), Istana Maimun merupakan peninggalan Sultan Kerajaan Deli (jadi inget soto deli di deket kesawan, enak banget!!!)bernama Sultan Makmun Al Rasyid Perkasa Alamsyah. pusat kerajaan deli ini didominasi dengan warna kuning (warna khas orang melayu) dan selesai dibangun tahun 1888 dengan arsitek berkebangsaan Italia. kalau diperhatikan, bangunan ini memiliki perpaduan antara budaya Islam dan Eropa, dengan beberapa material (seperti ubin dan marmer) yang memang langung diimpor dari Eropa. Bagunan terdiri dari 2 lantai dengan 3 bagian yaitu bangunan induk, sayap kiri dan sayap kanan. pengaruh budaya eropa agaknya cukup kental tertata di istana ini, dari mulai lampu, kursi, meja, lemari, jendela sampai pintu dorong. sedangkan pengaruh Islam dapat dilihat dari bentuk lengkungan (arcade) di bagian atap yang menyerupai perahu terbalik (lengkungan persia) yang biasanya dijumpai pada bangunan2 di kawasan timur tengah.

salah satu ruang yang ada di dalam bangunan adalah balaiurung. tempat ini biasa digunakan untuk upacara penobatan Sultan Deli dan tempat keluarga sultan sungkem2an di hari raya Islam. selanjutnya terdapat 40 kamar yang terdiri dari 20 kamar di lantai atas (tempat singasana sultan) dan lainnya di bagian bawah. tnyata dilantai bawah ada penjaranya jg lho.

Di komplek istana, kita bisa liat sebuah meriam yang agaknya dikeramatkan. meriam ini punya cerita. konon legendanya di jaman kesultanan Deli lama tinggallah seorang putri cantik bernama Putri Hijau. kecantikannya sempat membuat Sultan Aceh jatuh cinta dan hendak melamar tuk dijadikan permaisuri. namun lamaran tersebut ditolak kedua saudara laki2 sang putri.

 Sultan Aceh marah, dan timbullah perang antara kesultanan aceh dan deli. dengan kesaktiannya, seorang saudara sang putri menjelma menjadi ular tangga dan seorang lagi menjadi sepucuk meriam yang tidak pernah berhenti menembak tentara aceh (meriam ini yang skr ada di Istana Maimun). kesultanan deli lama mengalami kekalahan dan putra mahkota yang menjelma menjadi meriam meledak sebagian karena kecewa. ledakan itu konon melontarkan bagian belakang meriam sampai ke Labuhan Deli dan bagian depan ke dataran tinggi Karo.

Sang putri kemudian ditawan, dimasukkan ke peti kaca dan dibawa ke aceh. sampai di Ujung Jamboe Aye membuat permintaan terakhir dengan upacara penyerahan beras dan telur sebelum peti diturunkan dari kapal. saat upacara dimulai, angin ribut berhembus, disertai gelombang laut yang sangat tinggi. dari dalam laut muncul saudara sang putri yang menjelma menjadi ular naga dan dengan rahangnya ia mengambil peti adiknya dan dibawa masuk ke laut(Siertha)

 

Istana Maimun terlihat dari depan

 

Istana Maimun ini didesain atau dirancang oleh arsitek dari Italia yang kemudian dibangun oleh Sultan Deli, Makmun Al Rasyid Perkasa Alamsyah pada taun 1888 silam, Istana Maimun memiliki luas sebesar 2.772 meter persegi dengan jumlah ruangan sebanyak 30 kamar.
Istana Maimun menjadi salah satu tempat tujuan wisata yang sudah cukup populer, bukan hanya karena usianya yang sudah tua, melainkan desain interiornya yang sangat unik dapat mengundang para wisatawan berkunjung ke Istana Maimun ini,

 

dengan memadukan unsur-unsur warisan kebudayaan dari Melayu dan gaya Islam, Spanyol, India dan Italia. namun sayang sekali sekarang keadaanya kurang begitu terurus. Jika kita sedang melewati tempat ini pada waktu sore hari, kita dapat melihat anak-anak bermain sepak bola di halaman istana ini.

Istana Maimun tepatnya terletak di Jl. Brigjen Katamso Kota Medan sekitar 10 km dari bandara, wisata Istana Maimun merupakan sebuah peninggalan dari Sultan Kerajaan Deli Sultan Makmun Al Rasyid Perkasa Alamsyah. Bagunan ini terdiri dari 2 lantai dengan memiliki 3 bagian bangunan induk, sayap kiri dan sayap kanan dan dipengaruhi budaya Eropa yang cukup kental.

 

Istana Maimun penghuni medan lorong atas

 
 

Istana Maimun penghuni medan

 

 

istana maimun tampak ruangan dalam

(josheiwaf)

 

 

 

1889

 

Foto jalan Tjong a Fie (Kesawan ) Medan in 1889

Bandingkan dengan

 

The Kesawan Streen(Tjong a Fie Street) Medan in 1920

 

 

 

 

1893

Putera Sulung

 

 sultan Tengku Amaluddin

 diangkat sebagai Tsahilah Tjendera selaku Tengku Besar Deli

 

1894

Sulatan Ma’mun datang ke labuhan deli dengan kereta api khusus milik sultan

 

Foto acara penyambutan Sultan di stasiu keret api labuhan deli 1894

 

Abad ke 20

Awal Abad ke 20

Kejayaan Deli pun masih dapat kita saksikan hingga saat ini, yaitu Istana Maimun dan Masjid Raya Al-Mahsun. Kedua bangunan monumental itu didirikan oleh sultan ke-9 Kerajaan Deli, Sultan Ma’mun Al-Rasyid Perkasa Alamsyah, pada awal abad ke-20.



Pada saat itu, Medan telah menjadi kota niaga yang berkembang pesat. Hubungan raja dengan asing (Belanda) untuk membuka lahan tembakau, semakin meramaikan lalu lintas barang di kota ini. Tembakau Deli pun dikenal luas sebagai tembakau kelas 1 karena ditanam di lahan yang sangat cocok, demikian setidaknya papar Profesor Abdul Rauf dari Universitas Sumatera Utara (USU), saat diskusi dengan Tim EGI 2009 Sumatera Utara (Selasa, 19 Mei 2009
).

 

Hingar bingar perdagangan di Medan pun tidak dilakukan sendiri oleh Kesultanan Deli. Selain Belanda sebagai pemilik modal, orang Jawa turut serta didatangkan ke Tanah Deli sebagai tenaga ahli di bidang pertanian tembakau, sedangkan orang China sebagai pemasarannya. Suatu kolaborasi etnis yang hingga kini menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Medan.

Tjong A Fie adalah pelopor etnis China untuk membangun Medan. Pada awal abad ke-19, jiwa muda Tjong A Fie membawanya untuk merantu hingga ke Tanah Deli. Di sini, dengan dibantu oleh saudaranya Tjong Yong Hian, A Fie melakukan perdagangan dengan penduduk setempat. Kesuksesannya dalam niaga menarik hati Pemerintah Belanda untuk mengangkatnya sebagai Walikota (semacam itu sekarang-red) yang khusus mengurusi komunitas China di Medan. Selain itu, Kekaisaran China pun memberi kepercayaan kepada A Fie sebagai Duta Besar untuk wilayah Indonesia.

Kemajemukan Medan di masa lalu inilah yang telah menjadi cikal bakal perkembangan Medan dewasa ini. Bukan hanya etnis lokal (Batak) dan Melayu saja, tetapi orang Jawa, China, India dan lainnya, telah bahu membahu membangun Medan, hingga menjadikan kota terbesar ke-4 di Indonesia ini semakin menggeliat.

Catatan kota tua Medan merupakan awal dari perjalanan Ekspedisi Geografi Indonesia ke-6, yang mengambil kajian Provinsi Sumatera Utara. Perjalanan yang diawali pada tanggal 19 Mei 2009, dilakukan untuk mengamati fenomena geografi pada suatu trase atau rute tertentu. Fenomena itu meliput abiotik, biotik, kultur, dan dampak lingkungan yang diakibatkan dari interaksi ketiga unsur tersebut.

Untuk kesekian kalinya BAKOSURTANAL pun memberikan sumbangan nyata kepada daerah untuk mengangkat potensi wilayahnya.

Oleh Agung Christianto

read more about Tjong a Fie

 TJONG A FIE History collections

 

 

THE HISTORY OF TJONG A FIE

Koleksi SEJARAH

Tjong A Fie

Sejarah Mansion A Tjong A Fie


Sebuah rumah yang menonjol yang terletak di jantung Kota Medan di Kesawan Square, rumah yang indah penuh dengan karakter dan budaya belakang sejarah di Medan.

Sejarah Tjong A Fie

 

Tjong Nam Fung, was born from a family known as Hakka and Tjong A Fie was born in 1860 in the village Sungkow, Moyan or Meixien.

He was raised from a humble home, with his brother, Tjong Yong Hian. Both must submit a school from a young age to help their father in his shop. Even with a limited education, Tjong A Fie Quick to learn business skills and trades and immediately pursue his dreams to become independent and successful, therefore leaving the village in search of a better life

Tjong Fung Nam, lahir dari keluarga Hakka dan lebih dikenal sebagai Tjong A Fie lahir pada 1860 di desa Sungkow, Moyan atau Meixien. Ia dibesarkan dari sebuah rumah sederhana, dengan kakaknya, Tjong Yong Hian. Keduanya harus menyerahkan sekolah dari usia muda untuk membantu ayah mereka di tokonya. Bahkan dengan pendidikan yang terbatas, Tjong A Fie Cepat belajar keterampilan bisnis dan perdagangan dan segera mengejar mimpi-mimpinya untuk Menjadi Independen dan Sukses, Oleh karena meninggalkan desanya dalam mencari kehidupan yang lebih baik.

 

Tjong A Fie Mansion, the command center of the local Chinese community at the turn of the 20th century

 

 

In 1880, after sailing for months, he finally arrived at the port of Deli (Medan). That time at his brother Tjong Yong Hian Have been living in Sumatra for five years and has become a respected merchant in Sumatra. However, independent of Tjong A Fie want to look for his own life and goes about his own work. Tjong A Fie began to study and develop the business skills of working for the Sui For Tjong. He developed the social skills to interact with people of all races, Chinese, Malay, Arab, India, including the Netherlands. He began by learning the Malay language the national language Being used in Medan Deli

Tjong A Fie

Pada tahun 1880, setelah berlayar selama berbulan-bulan, ia akhirnya tiba di pelabuhan Deli (Medan). Itu waktu di Tjong Yong saudaranya Hian Apakah sudah tinggal di Sumatera selama lima tahun dan telah menjadi seorang pedagang dihormati di Sumatera. Namun, Tjong A Fie independen ingin mencari hidup sendiri dan pergi tentang menemukan karyanya sendiri. Tjong A Fie mulai belajar dan mengembangkan keterampilan bisnis dari bekerja untuk Tjong Sui Untuk. Dia mengembangkan keterampilan sosialnya berinteraksi dengan orang-orang dari semua ras, Cina, Melayu, Arab, India, termasuk Belanda. Dia mulai dengan mempelajari bahasa Melayu yang yang Menjadi bahasa nasional yang digunakan di Deli Medan.

Aula Menghibur

 

Tjong A Fie tumbuh dan Menjadi orang yang dihormati di Medan Sumatera, di mana dia tinggal jauh dari judi, alkohol dan Prostitusi di kota Medan berkembang. Dengan rasa yang kuat tentang kepemimpinan dan keadilan, ia Menjadi mediator bagi Cina. Belanda juga mencari Pls bantuannya Perkebunan mereka memiliki masalah dengan isu-isu perburuhan. Kemampuannya untuk memecahkan masalah ini membuatnya mendapatkan Cina untuk Menjadi Mayor. Dengan kinerja yang luar biasa, ia terpilih menjadi Kapten (Kapten).

Para Berbagai kamar

 

Tjong A Fie dikenal sebagai pengusaha dihormati WHO memiliki jaringan sosial yang baik dan telah membangun hubungan baik dengan Sultan Deli, Al Rasjid Perkasa Alamsjah Makmoen Moeda raja dan tuan. Seperti Mereka Menjadi teman yang baik, Tjong A Fie terpercaya Menjadi pribadi-Nya dan membantu banyak urusan bisnis ditangani.

Tjong A Fie juga Menjadi orang China pertama yang memiliki perkebunan tembakau. Ia juga dikembangkan dan diperluas untuk perkebunan teh di Bandar Baroe dan Besar Kelapa / Palm Perkebunan Kelapa.

Seiring dengan saudaranya Tjong Yong Hian tua, Tjong A Fie mitra joint dengan Tio Tiaw Siat juga dikenal sebagai Chang Pi Shih, pamannya serta Konsulat China di Singapura dan mendirikan sebuah perusahaan kereta api yang dikenal sebagai The Chow-Chow & Swatow Railyway Co.Ltd. di Cina

Ruang Tidur

Tjong A Fie, kontributor sosial yang sangat aktif, menyumbangkan sebagian besar kekayaan-bangunannya banyak fasilitas untuk kesejahteraan masyarakat miskin terlepas dari keyakinan ras, kebangsaan atau budaya termasuk banyak tempat ibadah Seperti kuil-kuil Cina & Hindu, Masjid dan Gereja.

Sebagai orang yang dihormati di Medan WHO memiliki banyak Perkebunan, kelapa sawit dan pabrik gula, bank dan perusahaan kereta api, ia mempekerjakan lebih dari 10.000 pekerja. Seperti yang direkomendasikan oleh Sultan Deli, Tjong A Fie diangkat anggota gemeenteraad (dewan kota) dan cultuurraad (budaya dewan)

4 Februari 1921, Tjong A Fie meninggal dari ayan atau perdarahan di otak, di rumahnya di Jalan Kesawan, Medan. Ini Shook kota Medan, Ribuan kawanan untuk membayar hormat dari seluruh termasuk Sumatera Timur, Aceh, Padang, Penang, Malaysia, Singapura dan Jawa. Dia Menjadi legenda dikenal oleh banyak orang di Medan sampai hari ini.

Empat bulan sebelum kematiannya, Tjong A Fie menulis Will di hadapan Notaris Grave Dirk Johan den Facquin.

Side mobil: Mungkin ini nama yang aneh adalah miss-ejaan Kuburan de Fouquain – seperti misalnya ditunjukkan pada Blog Pucca di: Kenangan dari Grave Notaris Nonya Fouquain de – tapi entah cara saya tidak ingin mengucapkan Bahwa nama terkemuka dengan aksen amerika .

Ditulis dalam surat wasiatnya, ia ingin semua kekayaannya untuk dikelola oleh Yayasan Toen Moek Tong tersebut yang didirikan di Medan dan Sungkow pada saat kematiannya. Foundation, yang berbasis di Medan telah diberikan lima misi. Tiga dari Mereka adalah untuk Memberikan bantuan keuangan kepada Orang muda berbakat yang ingin menyelesaikan pendidikan mereka, tanpa ada pilihan budaya atau ras. Foundation juga akan membantu para penyandang cacat yang mampu untuk bekerja tidak lagi termasuk Buta atau Mereka dengan penyakit yang fatal. Ketiga, Yayasan juga Akan Membantu Korban bencana alam dari setiap ras atau kebangsaan.

1873-1924 Aturan Sultan Rashid Al Perkasa Alamsyah Ma’mum, “Builder”.
1878-Miao Zhenjun didirikan oleh orang-orang Chaozhou di Tanjung Mulia (antara Titipapan & Labuan)
Guandi 1880-Miao (Guandi, Caishen, Dabogong) didirikan oleh orang-orang Guangdong di Medan (Jl Irian Barat. 2).
Guanyin 1880-gong (Shakyamuni, Guanyin, Dizang-wang) didirikan oleh orang-orang Xinghua di Medan (Jl. Yos Sudarso 46).
1885 Surat kabar pertama “Deli Courant” diterbitkan.
 
Side Catatan: dalam memeriksa web untuk “Deli Courant” Saya DATANG di banyak gerai makanan cepat saji, atau di toko makanan, di mana Mereka melayani “toko makanan” (Belanda untuk makanan lezat), tetapi juga referensi ke Sutan Sharir – sebuah awal Penting indonesian Negarawan – satu itu para pendiri negara pada kenyataannya, WHO Apakah Akar di Padang dan Medan. Apakah ia juga telah menjadi teman saya studi di Leiden Opa Otto University, di mana Mereka Baik hukum dipelajari. Di perjalanan kembali ke Hindia, Sharir membuat perjalanan laut yang panjang sebagai ‘baby sitter’ pro forma pamanku Ernst (alias Paman Kiddie) Opa sejak Otto masih pada membayar Pemerintah dan berhak atas satu ‘hamba’. Dia memilih untuk membantu Sharir temannya sebagai gantinya.
 
Sjahrir: politik dan pengasingan di Indonesia – Hasil Google Books oleh Rudolf Mrazek – 1994 – Biografi & Otobiografi – 526 halaman
128 Pada 1909-1934 Gemeente Medan (Medan: Deli Courant, 1934), yang menyebutkan Deli Itu adalah sedikit seperti Hindia Timur, liar barat: jika Anda Apakah melakukan pembunuhan di Batavia, Anda masih akan disambut di Medan – dan setiap sepatu Belanda merupakan potensi besar bangsawan di Deli. Sharir Saya Disebutkan sebelumnya dalam entri jurnal saya
 
Kita sekarang dapat melanjutkan dengan timeline:

1886 Lapangan Menjadi ibukota Sumatera Utara.
1886 “Witte Societeit” (“klub lebih besar”) didirikan di samping kantor pos. [Lihat di bawah ini foto]

 

1888 Sultan Deli (Sultan Rashid Al Perkasa Alamsyah Ma’mum) pindah dari Deli Labuan [serangkaian pitcures bawah ini]


ke Istana Maimun di Medan. [Setelah dua foto eksterior dan interior:]
 

1890 Guandi-gong (Guandi) didirikan di Medan (Jl. Pertemburan 81 – Pulo Brayan dekat)
Shoushan 1891-gong (Guanyin) didirikan oleh Fujianese di Deli Labuan
1895-Miao Zhenjun didirikan oleh orang-orang Chaozhou di Titipapan.
Hotel De Boer 1898 dibangun.
1898-1939 Publikasi dari “Post Sumatera De” oleh Joseph Hallermann, seorang Jerman.
1900 Tjong A Fie rumah dibangun.
1906 Tianhou-gong (Mazu Temple) didirikan di Medan (Baru Jl Pandu 2.)
1907 Sultan Masjid ini dibangun [lihat gambar di bawah ini]
 
 

 

1908 City Hall (Hulswit & Fermont Weltevreden + Ed Cuypers Amsterdam)
1909-1911 Pembangunan kantor pos (Snuyf, arsitek – kepala Ned.Ind.PWD)
1910 Lapangan adalah kota kecil. Penduduk = 17,500.
1910 Javasche Bank (Hulswit & Fermont Weltevreden + Ed Cuypers Amsterdam) [lihat gambar di bawah ini]
 

  

 

1913 Tjong A Fie menyumbangkan menara jam balai kota.
Gerobak ditarik kuda 1917 adalah nara sumber dengan Sapu digunakan untuk membersihkan kota.
1923 Renovasi Balai Kota.
1923 Zhenlian-si (Guangze-zunwang, Yii-dadi) didirikan oleh orang-orang Chaozhou di toko-toko Durian.
1924-1945 Aturan Sultan Amaluddin Al Sani Perkasa Alamsyah
1928 Bermotor kendaraan nara sumber yang digunakan untuk menggantikan kuda mobil untuk membersihkan kota.
1929 Kantor Perusahaan Dagang Belanda (sekarang Bank Exim) telah selesai (digunakan oleh Gunseikanbu Selama pendudukan Jepang).
1936-ting Guanyin (Guanyin) dibangun oleh Hakka perempuan di Medan (Jl. Lahat 54)
1936 Baolian-tang (Guanyin) didirikan oleh perempuan Chaozhou di Medan (Jl. Sun Yat Sen)
Akhir 1942 pemerintahan Belanda. Penduduk = 80.000.
2000 populasi Field = 1.898.013
 
. Cf: Deli Maatschappij – Wikipedia
Deli Maatschappij NV de bedrijf van een adalah Nederlands koloniale oorsprong. Het bedrijf pintu adalah pada tahun 1869 Nienhuys opgericht Yakub als een tabakscultuurmaatschappij Met voor het concessie Sultanaat Deli di Sumatera, Nederlands-Indie. Di Deli Maatschappij voor de 50% geparticipeerd werd pintu de Nederlandsche Handel-Maatschappij. Dalam de eeuw negentiende exploiteerde Deli Maatschappij de 120 000 hektar. De activiteiten vormden Maatschappij voor een van de een impuls sterke groei van de stad Medan. Het toenmalige hoofdkantoor Deli Maatschappij van de di Medan Paleis van het tegenwoordig van de Gouverneur Sumatera.

Terjemahan: Deli Maatschappij NV adalah sebuah perusahaan asal Belanda kolonial. Perusahaan ini didirikan pada tahun 1869 oleh budaya tembakau Nienhuys Yakub sebagai perusahaan dengan konsesi untuk Kesultanan Deli di Sumatera, Hindia Belanda. Di Deli Company ada partisipasi 50% dari Masyarakat Perdagangan Belanda. Pada Abad Kesembilan Belas Deli Company dieksploitasi 120.000 hektar. Kegiatan perusahaan membentuk suatu dorongan untuk pertumbuhan yang kuat dari kota Medan. Markas mantan Deli Company di Medan saat ini istana Gubernur Sumatera. [Lihat foto di bawah ini di sebelah kiri]

 

English Version

THE HISTORY OF TJONG A FIE

History of The Tjong A Fie Mansion

A prominent home located in the heart of Medan City at Kesawan Square, this beautiful mansion is full of characters and cultures behind its history in Medan.

The History of Tjong A Fie

Tjong Fung Nam, born from Hakka family and more popularly known as Tjong A Fie is born on 1860 in the village of Sungkow, Moyan or Meixien.  He was raised from a simple home, with his elder brother Tjong Yong Hian.  Both have to give up schooling from a young age to help their father in his shop.  Even with limited education, Tjong A Fie quickly learned the business and trading skills and soon pursued his dreams to become independent and successful, hence leaving his village in search for a better life.

 

Tjong A fie

In 1880, after sailing for months, he finally arrived at the port of Deli (Medan).  At that time his brother Tjong Yong Hian had already been living in Sumatra for 5 years and had became a respected merchant in Sumatra.  However, the independent Tjong A Fie wanted to find his own living and went about finding his own work.  Tjong A Fie started to learn and develop business skills from working for Tjong Sui Fo. He developed his social skills interacting with people of all races, Chinese, Melayu, Arab, India, including Dutch.  He began by learning the language Bahasa Melayu which became the national language used in Medan Deli.

 

The Entertaining Hall

Tjong A Fie grew and became a well respected person in Medan Sumatra, where he stayed away from gambling, alcohol and prostitution in the developing town of Medan.  With his strong sense of leadership and fairness, he became the mediator for the Chinese. The Dutch also seek his help when their plantations have problems with labor issues.  His ability to solve these issues earned him to become the Chinese lieutenant. With his outstanding performance, he was elected to become a Captain (Kapiten).

 

The various rooms

Tjong A Fie was known as a respected businessman who has good social networks and has build good relation with the Sultan Deli, Makmoen Al Rasjid Perkasa Alamsjah and Tuanku Raja Moeda.  As they became good friends, Tjong A Fie became his trusted person and helped dealt with many business matters.

Tjong A Fie also became the first Chinese to own a tobacco plantation. He also developed and expanded to tea plantation in Bandar Baroe and large coconut/palm oil plantations.

Along with his elder brother Tjong Yong Hian, Tjong A Fie joint partner with Tio Tiaw Siat also known as Chang Pi Shih, his uncle as well as consulate of China in Singapore and set up a railway company known as The Chow-Chow & Swatow Railyway Co.Ltd. in China

 

The Bedroom

Tjong A Fie, a very active social contributor, donated much of his wealth building many facilities for the welfare of the poor regardless of race, cultural beliefs or nationality including many places of worships such as Chinese & Hindu temple, Mosques and Churches.

As a well respected person in Medan who owns many plantations, palm oil and sugar factories, banks and railway companies, he employed more than 10.000 workers. As recommended by Sultan Deli, Tjong A Fie was appointed member of gemeenteraad (city council) and cultuurraad (cultural council)

4 February 1921, Tjong A Fie passed away from apopleksia or bleeding in the brain, in his home at Jalan Kesawan, Medan.  It shook the city Medan, thousands flock to pay respect from all over including Sumatera Timur, Aceh, Padang, Penang, Malaysia, Singapore and Java. He became a legend known by many in Medan till today.

Four months before his death, Tjong A Fie wrote his will in the presence of notary Dirk Johan Facquin den Grave.

Side  car: this odd name is probably a miss-spelling of Fouquain de Grave–as for instance shown in Pucca’s Blog: Memories of a Nonya Notaris Fouquain de Grave–but either way I would not want to pronounce that eminent name with an American accent.

Written in his will, he wanted all his wealth to be managed by Yayasan Toen Moek Tong which was established in Medan and Sungkow at the time of his death. The Yayasan based in Medan has been given 5 missions. Three of them are to provide financial help to young talented people that wished to complete their education, without no cultural or racial choice. Yayasan will also help the disabled who are no longer able to work including the blind or those with fatal illness.  Thirdly, the Yayasan will also help victims of natural disaster of any race or nationality.

1873-1924 The rule of Sultan Ma’mum Al Rashid Perkasa Alamsyah, “the Builder”.
1878 Zhenjun-miao was erected by Chaozhou people in Tanjung Mulia (between Titipapan & Labuhan)
1880s Guandi-miao (Guandi, Caishen, Dabogong) was erected by Guangdong people in Medan (Jl. Irian Barat 2).
1880s Guanyin-gong (Shakyamuni, Guanyin, Dizang-wang) was erected by Xinghua people in Medan (Jl. Yos Sudarso 46).
1885 The first newspaper “Deli Courant” was published.

 

Side Note: in checking the web for “Deli courant” I came across many fastfood outlets, or deli’s, where they serve ”delicatessen” (Dutch for delicacies) but also a reference to Sutan Sharir–an important early Indonesian statesman–one of that country’s founding fathers in fact, who had roots in Padang and Medan. He had also been a study friend of my Opa Otto at Leiden University, where they both studied law. On the way back to the Indies, Sharir made the long ocean trip as the pro forma ‘babysitter’ of my uncle Ernst (aka Oom Kiddie) since Opa Otto was still on Government pay and entitled to one ‘servant’. He opted to help out his friend Sharir instead.

 

Sjahrir: politics and exile in Indonesia – Google Books Result by Rudolf Mrázek – 1994 – Biography & Autobiography – 526 pages
128 In Gemeente Medan 1909-1934 (Medan: Deli Courant, 1934),  which mentions that Deli was a bit like the East Indies wild west: if you had committed murder in Batavia, you’d still be welcome in Medan–and every Dutch loafer was a potential grand seigneur in Deli. I mentioned Sharir before in my journal entry

 

Now we can continue with the timeline:

1886 Medan became the capital of northern Sumatra.
1886 “Witte Societeit” (“a rather grand club”) was erected next to the post office. [see photo hereunder]

 

1888 Sultan of Deli (Sultan Ma’mum Al Rashid Perkasa Alamsyah) moved from Labuhan Deli [series of pitcures below]

 

 

 

to the Maimoon Palace in Medan. [following two photographs of exterior and interior:]

 

 

 

 

1890 Guandi-gong (Guandi) was erected in Medan (Jl. Pertemburan 81 – near Pulo Brayan)
1891 Shoushan-gong (Guanyin) was erected by Fujianese in Labuhan Deli
1895 Zhenjun-miao was erected by Chaozhou people in Titipapan.
1898 Hotel De Boer was constructed.
1898-1939 Publication of “De Sumatra Post” by Joseph Hallermann, a German.
1900 Tjong A Fie mansion was built.
1906 Tianhou-gong (Mazu temple) was erected in Medan (Jl. Pandu Baru 2)
1907 Sultan Mosque was built [see pictures below]

 

 

1908 City Hall (Hulswit & Fermont Weltevreden + Ed Cuypers Amsterdam)
1909-1911 Construction of post office (Snuyf, architect – head of Ned.Ind.PWD)
1910 Medan was a small city. Population = 17,500.
1910 Javasche Bank (Hulswit & Fermont Weltevreden + Ed Cuypers Amsterdam) [see pictures below]

 

 

 

 

 

1913 Tjong A Fie donated the city hall’s clock tower.
1917 Horse drawn carts with brooms were used for town cleaning.
1923 Renovation of City Hall.
1923 Zhenlian-si (Guangze-zunwang, Yuhuang-dadi) was erected by Chaozhou people in Kedai Durian.
1924-1945 The rule of Sultan Amaluddin Al Sani Perkasa Alamsyah
1928 Motorized vehicles were used to replace the horse drawn cars for town cleaning.
1929 Office of Netherlands Trading Company (now Bank Exim) was completed (used by Gunseikanbu during the Japanese occupation).
1936 Guanyin-ting (Guanyin) was erected by Hakka women in Medan (Jl. Lahat 54)
1936 Baolian-tang (Guanyin) was erected by Chaozhou women in Medan (Jl. Sun Yat Sen)
1942 End of Dutch rule. Population = 80,000.
2000 Medan’s population = 1,898,013

 

Cf.: Deli Maatschappij – Wikipedia

De N.V. Deli Maatschappij is een Nederlands bedrijf van koloniale oorsprong. Het bedrijf is in 1869 opgericht door Jacob Nienhuys als tabakscultuurmaatschappij met een concessie voor het Sultanaat Deli in Sumatra, Nederlands-Indië. In de Deli Maatschappij werd voor 50 % geparticipeerd door de Nederlandsche Handel-Maatschappij. In de negentiende eeuw exploiteerde de Deli Maatschappij 120.000 hectare. De activiteiten van de maatschappij vormden een impuls voor een sterke groei van de stad Medan. Het toenmalige hoofdkantoor van de Deli Maatschappij in Medan is tegenwoordig het paleis van de Gouverneur van Sumatra.

Translation: The NV Deli Maatschappij is a Dutch company of colonial origin. The company was founded in 1869 by Jacob Nienhuys as a tabacco culture company with a concession for the Sultanate Deli in Sumatra, Netherlands East Indies. In the Deli Company there was a 50% participation of the Netherlands Trading Society. In the nineteenth century the Deli Company exploited 120,000 hectares. The activities of the company formed an impulse for the strong growth of the city of Medan. The onetime headquarters of the Deli Company in Medan is today the palace of the Governor of Sumatra. [See photo below on the left]

 

1893

//

The Sultang of Deli Mammon Al Rasyid Perkasa alam in 1893

 

tHE bATTAKS wOMEN IN 1893

 

The Battaks Village “Bekioen” in 1893

1895

1894

 

 

 

 

The Nias Island in 1894

 

 

 

 

190Sultan of Langkat Abdoe azis Abdoel djalil Rahmatsyah in 18950

1900

 

The Tiongha Water seller Medan in 1900

 

 

 

The India Bombay Bhamana Medan in 1900

 

 

 

The DEI KNIL

enter Medan City in 1900

1900

 

Foto pernikahan tengku Amaluddin  dengan Tengku Maheran tahun 1900

20 agustus 1900

Tengku Amaluddin memperoleh seorang putra Tengku Osman

 

1901

Setelah tengku Osman Lahir,Tengku Maheran ibnya meninggal dunia

1903

3 mei 1903, sultan deli menidrikan

 

Kantor Kerapatan Besar(Kantor Sultan)

 

Anggota Pengadilan sultan deli di Istana Medan

Pad masa Pemerintahanya sultan deli banyak membangun fasilitas umum,kisahya sebagai berikut:

 

Atas jasanya Sultan Deli dianugrahkan bintang oleh pemerintah Hindia belanda

 

Foto bintang Knight Order Of The Dutch Lion

1903

Tengku besar Amaluddin menikah lagi setalh isteri pertamanya meninggal dengan Encek Maryam (Encek Negara)

 

1905

Perumahan Keluarga sultan dan

 

Taman Derikhan                                                                                                                                  dibangun didepan mesjid raya Al Mahsun

 

 

 

 

 

1905

Sultan deli mendirikan istana baru

 

“Istana Kota Maksum”

 

 

Istana tengku besar deli

 

 

1906

Sultan deli mendirikan mesjid raya  dan tengku Amaluddin menikah lagi denga adik kandung isterinya yang sudah meninggal yaitu Tengku Chalijah.

 

1907

Kontrak Acte van Verband diperbagharui pasal-pasalnya sehingga banyak memberika keuntunga kepada pemerintah hindia beanda

1909

Sultan deli meresmikan  Ustana baru dan mesjid Raya dihadiri  Sultan Langkat dan Sultan Serdang.

1910

 

//

Tobacco deli plantation in 1910

1911

 

Tengku Otteman

 

Berangkat  ke Batavia melanjutkan pendidikan tinngi dibidang hokum

1918

Tengku Otteman menamatkan epndidikan Tinggi Hukum di Batavia

 

 

 

 

 

1920

Kunnujgan gubernur general Hindia belanda  de Fock ke kerajaan deli

 

Foto k De Fock di istana Maimoon tahun 1920

1922

 

The Sultan deli Palace at Medan in 1922

 

The Battaks women and children in 1922

1923

 

 

Toba lake in 1923

 

 

1923.Acara Besar-besaran menyambut ulang tahun SultanMa’maun ke 70 di Istana Maimoon

 

 

1924

 

Foto pemakaman Sultan Ma’mun yang  mangkat dalam usia 71

 

Sebagai pengantinya putra sulungnya Amaluddin sebagai Sulatan deli X bernama Amaluddin Sani Perkasa Alamsyah

 

Foto penotbatan Sulatan Amaluddin 1924

 

 Sultan Amaluddin meminta putranya Tengku Otteman bekerja di Makamah Agung kerajan Deli

 

 

 

1926

 

Tengku Otteman

menikah dengan Raja Amnah putrid Raja Chulan Dihilir Negeri Perak (Malaya)

 

Foto pernikahan Tengku Otteman

 

 

 

1926

Gubernur General Hindia belanda mengeluar surat keputusan yang menetapkan Tengku Otteman sebagai Putra Mahlota Kerajaan Deli, dan di Istana Maimoon diadakan perayaan besar=besaran secara adat kisahnya sebagai berikut:

 

 

 

Surat Cindra Gelaran sebagai berikut

 

 

Setelah tamat membaca surat Cindera  gelaran dilangsungkan acara penembakan meriam dan diadkan pula acara peanugrahan gelar kepada Raja Annah isteri Tengku Mahkota ,kisahnya sebagai berikut :

 

 

Foto Tengku Mahkota Otteman berserta isteri Tengku Puan Indera

 

 

 

1927

 

The ceremony of Sultan Langkat dead”Pemakaman”  at Keraton Langkat in 1927

1930

 

 

 

The Tionghoa medan Tomb in 1930

1931

 

Foto Tengku Amaruddin putra kedua Sultan Amaluddin

Tengku Mahkota berkunjung ke Eropah bersam adiknya menghadap Ratu Wihelmina,dan kemudian ke Mesir ,kisahnya sebagai berikut

 

 

Foto Tengku Otteman  meninjau pabrik karet di Endhovend

 

Foto Tengku Ottemen dengan pangeran Belanda

 

Foto Tengku ottoman naik perahu Gendola menitari sungai

 

1934

Tengku Puan Indera isteri Tengku Otteman, mereka memperoleh 4 orang putri

 

Tengku mahkota berangkat ke Puklau Penang dan Negeri Perak dan kemudian  menemani ayahnya ke Betawi untuk mengikuti perayaan  Peringatan Ratu wihelmina

 

 

Foto Bintang Knight Order F Oranje Nassau yang dianugerahkan kepada sultan Amaluddin oleh Ratu Belanda

 

 

 

1935

Tengku Mahkota Otteman menikah lagi dengan Raja Nor Shida putrid Harun Al rasyid Kechik Sulubg dan  ia diberikan  gelar Tengku Puan Besar kisahnya sebagai berikut:

 

1942

 

 

The dai nippon POW camps policlinic sketc bey the prisoner of war Meda in 1942

 

1943

 

//

The Great Mosqee of Medan in 1943

 

 

The native Battaks guitar in 1943

1945

Indonesia mempropklamasiksi Kemerdekaan 17 Agustsus 1945

Sultan Amaluddin Mangkat dan putanya

 

 sulatan Otteman

 diangkat sebagai gantinya dan saat ini kedudukan Sultan hanya sebagai kepala adat

 

 

 

 

 

1946

Bagaimanakah kisahnya Kerajaan deli tahun 1946 inilah kisahnya:

 

 

Sultan ottoman beserta isteri

 

1967

Bagaimankah sejarah Kerajaan Deli selanjutnya pada tahun 1967 , inilah kisahnya

 

Pertalian dengan Raja Perak lihat table dibawah ini

 

 

Sultan Azmi Perkasa Alam

 

1967

Sultan Azmi mengantikan ayah sebagai Sultan Deli dan  kisah selanjutnya sebagai berikut:

 

 

30 Agustus 1966 Putera Sullan Azmi  lahir dan diberi nama Otteman III

1998

Sultan Azmi mangkat dan digantikan oleh

 

 sultan ottoman III

 

 1989

Tengku Otteman Mahmud tamat pendidikan Akademi Militer Magelang dan menikah dengan Ir HJ Siska Marabintang,mereak meperoleh dua anak Aria Lamidji dan Zulkarnain Otteman Mangendar Alam

 

 

 

 

1998

 

Sultan Azmi manglat dan puteranya diangkat menjadi penganti dengan nama Sultan Otteman Mahmud Panderap Perkas aAlam sebagai kepala adat Kerajaan deli, kendatipun beliau tidak dapat sepenunuhnya memimpin karena tugasnya sebagai anggota TNI .

Selanjutnya timbullah kejadian yang tragis menimpa  Kerajaan deli,kisahnya sebagai berikut

 

Tahun 1998 anal sultan Otteman Mahmud lahir dengan nama Tengku Artia Lamiji

2006

Sultan Otteman Mahmud mangkat karena kecelakaan saat bertugas di TNI,kisahnya sebagai berikut

 

2005

Tengku Mahmudf Aria diangkat menjadi sultan Deli XIV,kisahmnya sebagai berikut:

 

 

 

 

Foto Aji sultan termuda

 

Arakan jenazah sultan Deli yang dimakamkan

 

 

 

Foto Sultan Deli XIV

Bagaimanka informasi Kerajaan deli saat ini bacalahla kisah selanjutnya dibawah ini

One of Medan’s numerous mosques, with tiled minaret and domes visible.

A tiny random portion of the many impressive rooms of taxidermy at the Rahmat International Wildlife Museum and Gallery

Entrance to the Chinese Daoist temple of Vihara Gunung Timur.

View toward the main hall with incense burner at left. Chinese Daoist temple of Vihara Gunung Timur.

  

Street view of Perhimpunan Shri Mariamman, a Tamil Indian Hindu temple.

 

The end @ copyright Dr Iwan 2013

the complete CD-ROM exist ,to get it please subscribed via comment with upload your iD card copy

2 thoughts on “KOLEKSI SEJARAHAN KERAJAAN NUSANTARA(BERSAMBUNG)

  1. Zamani Hussein January 16, 2016 / 9:25 am

    Mohon tahu Hajjah Raja Nor Shida.Putri Raja Kecil Sulung Perak adinda Sultan Perak.Adinda dari Raja Nor Aziah isteri Tengku Amiruddin(Adinda Tengku Mahkota).Pada 11April 1935 Raja Nor Shidah bernikah dengan Sultan Osman Al Sani Perkasa Alam Syah II di kurniakan seorang Puteri.Mohon tahu nama Puteri tersebut tarikh lahirnya dan di mana beliai berada sekarang.? Dan keturunan Puteri tersebut.Terima kasih

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s