The Indonesian Heros Historic Collections part seven

Tjilik Riwut

 

Tjilik Riwut (lahir di Kasongan, Katingan, Kalimantan Tengah, 2 Februari 1918 – meninggal di Rumah Sakit Suaka Insan, Kota Banjarmasin, Kalimantan Selatan, 17 Agustus 1987 pada umur 69 tahun) adalah salah satu pahlawan nasional Indonesia. Ia meninggal setelah dirawat di rumah sakit karena menderita penyakit lever/hepatitis dalam usia 69 Tahun, dimakamkan di makam Pahlawan Sanaman Lampang, Palangka Raya Kalimantan Tengah.

Tjilik Riwut yang dengan bangga selalu menyatakan diri sebagai “orang hutan” karena lahir dan dibesarkan di belantara Kalimantan, adalah pencinta alam sejati juga sangat menjunjung tinggi budaya leluhurnya. Ketika masih belia ia telah tiga kali mengelilingi pulau Kalimantan hanya dengan berjalan kaki, naik perahu dan rakit.

Tjilik Riwut adalah salah satu putera Dayak yang menjadi KNIP. Perjalanan dan perjuangannya kemudian melampau batas-batas kesukuan untuk menjadi salah satu pejuang bangsa. Penetapannya sebagai Pahlawan Nasional pada tahun 1998 merupakan wujud penghargaan atas perjuangan di masa kemerdekaan dan pengabdian membangun Kalimantan (Tengah).

Setelah dari Pulau Jawa untuk menuntut ilmu, Tjilik Riwut diterjunkan ke Kalimantan sebagai pelaksana misi Pemerintah Republik Indonesia yang baru saja terbentuk, namun beliau tidak terjun. Nama-nama yang terjun merebut kalimantan adalah Harry Aryadi Sumantri, Iskandar, Sersan Mayor Kosasih, F. M. Suyoto, Bahrie, J. Bitak, C. Williem, Imanuel, Mika Amirudin, Ali Akbar, M. Dahlan, J. H. Darius, dan Marawi.

Rombongan-rombongan ekspedisi ke Kalimantan dari Jawa yang kemudian membentuk barisan perjuangan di daerah yang sangat luas ini. Mereka menghubungi berbagai suku Dayak di berbagai pelosok Kalimantan untuk menyatukan persepsi rakyat yang sudah bosan hidup di alam penjajahan sehingga bersama-sama dapat menggalang persatuan dan kesatuan.

Selain itu, Tjilik Riwut berjasa memimpin Operasi Penerjunan Pasukan Payung Pertama dalam sejarah Angkatan Bersenjata Republik Indonesia pada tanggal 17 Oktober 1947 oleh pasukan MN 1001, yang ditetapkan sebagai Hari Pasukan Khas TNI-AU yang diperingati setiap 17 Oktober. Waktu itu Pemerintah RI masih di Yogyakarta dan pangkat Tjilik Riwut adalah Mayor TNI. Pangkat Terakhir Tjilik Riwut adalah Marsekal Pertama Kehormatan TNI-AU.

Tjilik Riwut adalah salah seorang yang cukup berjasa bagi masuknya pulau Kalimantan ke pangkuan Republik Indonesia. Sebagai seorang putera Dayak ia telah mewakili 142 suku Dayak pedalaman Kalimantan bersumpah setia kepada Pemerintah RI secara adat dihadapan Presiden Sukarno di Gedung Agung Yogyakarta, 17 Desember 1946.

Sebagai tentara, pengalaman perangnya meliputi sebagian besar pulau Kalimantan dan Jawa. Setelah perang usai, Tjilik Riwut aktif di pemerintahan. Dia pernah menjadi Gubernur Kalimantan Tengah, menjadi koordinator masyarakat suku-suku terasing untuk seluruh pedalaman Kalimantan, dan terakhir sebagi anggota DPR RI.

Keterampilan dalam menulis diasahnya semasa dia bergabung dengan Sanusi Pane di Harian Pembangunan. Tjilik Riwut telah menulis sejumlah buku mengenai Kalimantan: Makanan Dayak (1948), Sejarah Kalimantan (1952), Maneser Panatau Tatu Hiang (1965,stensilan, dalam bahasa Dayak Ngaju), Kalimantan Membangun (1979).

 

 

   

 

 
 
 
 

 

   
 

H. Fachruddin

 

Di tangannya, Islam terasa sangat mudah dan toleran. Prinsipnya dalam berdakwah, Islam harus dibawakan dengan senyum. Agaknya prinsip ‘senyum’ ini, ikut membentuk wajah Muhammadiyah –ormas Islam yang pernah beberapa periode dipimpinnya– terasa teduh. “Memimpin dengan senyum”, kesan itulah yang melekat pada diri ulama kharismatik ini. Ia menyadari betul, senyum memiliki nilai ibadah. Kata Nabi, “Senyummu kepada saudaramu adalah shadaqah.”

Tokoh dan ulama Muhammadiyah itu tak lain adalah KH Abdul Rozak Fachruddin. Sosok sederhana yang akrab dipanggil Pak AR ini dilahirkan pada 14 Februari 1916, di Brosot, sebuah dusun kecil di wilayah Kabupaten Kulonprogo, Yogyakarta. Sejak kecil, AR Fachruddin sudah berkecimpung di Muhammadiyah. Setelah lulus dari bangku SD Muhammadiyah tahun 1928, AR kecil melanjutkan ke Muallimin selama dua tahun.

Tak sampai selesai, karena orang tuanya jatuh pailit. AR pun dipanggil orang tuanya pulang ke desa, dan meneruskan ngaji kepada para kiai di desa. Dalam usia 16 tahun, AR menjadi yatim karena ayahnya meninggal.

Sepeninggal ayahnya, AR Fachruddin kembali ke bangku sekolah. Ia belajar di Wustho (sekolah sore) sampai 1932, diteruskan ke Muballighin hingga 1935. Selanjutnya AR masuk Darul Ulum, semacam SPG (sekolah pendidikan guru) Muhammadiyah. Selepas itu, ia dikirim oleh PP Muhammadiyah untuk mengajar di Palembang. Sejak di bangku sekolah, AR sudah dikenal pandai berpidato.

Pengabdiannya bukan saja di lingkungan Muhammadiyah, tapi juga di pemerintahan dan perguruan tinggi. Pak AR misalnya, pernah menjabat sebagai kepala Kantor Urusan Agama, Wates (1947). Tidak lama di jabatannya itu, dia ikut bergerilya melawan Belanda. Pada 1950-1959, ia menjadi pegawai di kantor Jawatan Agama wilayah Yogyakarta, lalu pindah ke Semarang, sambil merangkap dosen luar biasa bidang studi Islamologi di Unissula, FKIP Undip, dan STO.

Sedangkan di Muhammadiyah, dimulai sebagai pimpinan Pemuda Muhammadiyah (1938-1941). Ia menjadi pimpinan mulai di tingkat ranting, cabang, wilayah, hingga sebagai Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Jabatan sebagai ketua PP Muhammadiyah dipegangnya pada 1968 setelah di fait accompli menggantikan KH Faqih Usman, yang meninggal.

Pada Muktamar Muhammadiyah ke-38 di Ujungpandang, Pak AR terpilih sebagai ketua. Hampir seperempat abad ia menjadi orang paling atas di Muhammadiyah, sebelum digantikan oleh almarhum KH Azhar Basyir (setelah tidak lagi bersedia dicalonkan dalam Muktamar Muhammadiyah 1990). Setelah dirawat di RS Islam Jakarta, Pak AR wafat pada 17 Maret 1995, meninggalkan 7 putra dan putri.

Sesuatu yang nampak menonjol dari pribadi Pak AR adalah kesederhanaan, kejujuran, dan keikhlasan. Tiga sifat itulah, menurut Dr Amien Rais, warisan utama Pak AR yang perlu terus dihidupkan tidak hanya oleh kalangan Muhammadiyah. Selaku pemimpin umat, Pak AR sangat sepi dari limpahan harta benda. Beliau sangat mungkin untuk memiliki mobil mengkilap, atau rumah mewah. Tetapi Pak AR memilih untuk tidak punya apa-apa, kata Amien.

Kesejukannya sebagai pemimpin umat Islam juga bisa dirasakan oleh umat agama lain. Ketika menyambut kunjungan pemimpin umat Kristiani sedunia, Paus Yohannes Paulus II, di Yogyakarta dalam sebuah kunjungan resmi ke Indonesia, Pak AR menyampaikan ‘uneg-uneg’ dan kritik kepada Paus.

Pak AR mengeluhkan, bahwa tak sedikit umat Islam yang lemah dan tak berkecukupan seringkali dirayu umat Kristen untuk masuk agama mereka. Kesempatan itu juga digunakan Pak AR menjelaskan pada Paus, bahwa agama harus disebarluaskan dengan cara-cara yang perwira dan sportif. Kritik ini diterima dengan lapang dada oleh umat lain karena disampaikan dengan lembut dan sejuk, serta dijiwai dengan semangat toleransi tinggi.

Tak hanya kesejukan, Pak AR juga dikenal sangat merakyat. Meski ia menduduki jabatan puncak di organisasi Muhammadiyah, namun dia tidak pernah jauh dari umat yang dipimpinnya. Ia memberikan seluruh diri dan hidupnya kepada Muhammadiyah. Suatu ketika di tahun 1975, becak yang dinaikinya dicegat seorang pedagang kaki lima. Pedagang itu ternyata hanya ingin bertanya tentang hukum pinjam-meminjam. Lebih setengah jam, Pak AR memberi penjelasan kepada pedagang tersebut. Setelah si penanya puas, Pak AR kembali melanjutkan perjalanan.

Pak AR yang memang selalu ingin dekat dengan rakyat kecil itu, paling senang jika diundang berceramah di kalangan rakyat bawah di lembah Kali Code dan kampung-kampung pinggiran di Yogyakarta. Suatu kali, dalam sebuah kultum (kuliah tujuh menit), Pak AR menjelaskan mengapa dirinya senang ceramah di kalangan rakyat kecil dan miskin. “Karena itulah sunnah Nabi SAW,” jawabnya.

Para pengikut Islam, pertama-tama, jelas Pak AR, adalah rakyat miskin dan budak belian. “Karena itu, sebagai dai jangan berharap pada orang-orang besar dan kaya. Bukankah Nabi pernah mendapat teguran dari Allah karena menyepelekan orang kecil demi berdakwah untuk orang besar?” jelasnya.

Sikapnya yang merakyat inilah yang membuat periode kepemimpinannya dinilai sangat berhasil. Totalitas Pak AR dalam ber-Muhammadiyah, itu juga ditunjukkan dalam bentuk penolakannya ketika pemerintah Orde Baru berkali-kali menawarinya menjadi anggota DPR dan jabatan lainnya. Di sisi lain, Pak AR juga tetap menjaga hubungan baik dengan pemerintah, dan bekerja sama secara wajar. Sikap dan kebijakannya ini membuat warga Muhammadiyah merasa teduh, aman dan memberikan kepercayaan yang besar kepadanya.n hery sucipto

Tak Punya Rumah Sendiri

Bagaimana Pak AR di mata keluarganya? “Bapak tidak pernah marah. Kepada kami, juga kepada orang lain. Kalaupun menasihati kami, dilakukannya secara halus kadang diselingi dengan humor,” ujar Siti Zahanah, anak ketiga Pak AR, sebagaimana dituturkannya dalam buku Pak AR, Profil Kiai Merakyat.

Meski sebagai teladan dan sangat dihormati di keluarga, bukan berarti urusan keluarga menjadi prioritas. Baginya, keluarga adalah nomor dua, sementara Muhammadiyah dan umat adalah urusan pertama dalam hidupnya. Namun, dukungan keluarga sangat penting bagi Pak AR untuk menjalankan aktivitas dan amanat organisasi.

Setiap akan meninggalkan rumah lebih dari sehari semalam, Pak AR mempunyai kebiasaan berpesan kepada sang istri, Siti Qomariyah, dan anak-anaknya. “Aku arep lungo nang kene semene dino. Kowe kabeh tak pasrahke Gusti Allah (Aku akan pergi ke kota ini sekian hari. Kamu sekalian saya titipkan kepada Allah),” tutur Qomariyah, menirukan pesan Pak AR. Pak AR memang berharap istrinya benar-benar berperan sebagai ibu rumah tangga secara penuh. Menjadi istri sekaligus ibu rumah tangga yang istiqomah, yang mampu membimbing dan memberi motifasi kepada anak-anak. Pak AR sadar betul, tugasnya yang berat sebagai ketua Muhammadiyah, membuatnya tak cukup waktu untuk keluarga. Karena itulah, sang istri yang mengambil alih tugas-tugas keseharian di rumah ketika Pak AR tugas keluar.

Toh demikian, sudah menjadi rahasia umum, jika keluarga Pak AR yang tergolong keluarga besar (9 orang) ini tidak mempunyai rumah pribadi. Padahal, sebagai orang penting, bila ia mau, bisa saja hal itu terpenuhi dalam hitungan hari. Tapi tidak demikian dengan Pak AR.

Rumah cukup besar yang ditempatinya sejak 1971 adalah milik persyarikatan Muhammadiyah. Sebelumnya, Pak AR sekeluarga menghuni rumah sewa sederhana di Kauman nomor 260, Yogyakarta. Tapi, bukan berarti Pak AR tidak ingin memiliki rumah pribadi. Hal itu pun sudah ia usahakan saat menjabat sebagai kepala Kantor Agama Jawa Tengah di Semarang tahun 1959-1964, dengan cara membeli rumah secara angsuran yang diusahakan pihak swasta.

Karena memang sifatnya yang tidak pernah berburuk sangka, angsuran rumah yang tanpa disertai surat jaminan itu pun tak berumur panjang. Pak AR tertipu oleh pengembang yang membawa lari uangnya. “Wis ora usah dirembug maneh. Sesuk bakal diijoli omah sing luwih apik neng suwargo (Sudah, tidak usah dibicarakan lagi. Nanti akan mendapat ganti rumah yang lebih baik di surga),” tutur Qomariyah, ketika menanyakan kelanjutan dan status rumah yang diangsur itu.n her () Kalau nyebut pak AR, benak saya langsung mengarah kepada pak AR Fachruddin (alm), ketua PP Muhammadiyah. Saya sangat mengagumi gaya pak AR (alm) kalau ceramah: Santun, lembut, sejuk…….

 

 

   

 

 
 
 
 

 

 

   
 

Ferdinand Lumbantobing

 

Ferdinand Lumbantobing atau sering pula disingkat sebagai FL Tobing (lahir di Sibuluan, Sibolga, Sumatera Utara, 19 Februari 1899 – meninggal di Jakarta, 7 Oktober 1962 pada umur 63 tahun) adalah seorang pahlawan nasional Indonesia dari Sumatra Utara.

Ia lulu sekolah dokter STOVIA pada tahun 1924 dan bekerja di CBZ RSCM, Jakarta.

Pada tahun 1943 ia diangkat menjadi Syu Sangi Kai’ (DPD) Tapanuli dan juga sebagai Chuo Sangi In (DPP).

Setelah kemerdekaan ia diangkat menjabat beberapa jabatan penting seperti Menteri Penerangan dan Menteri Kesehatan (ad interim). Selain itu ia juga pernah menjabat sebagai Gubernur Sumatera Utara.

Beliau dimakamkan di Desa Kolong, Sumatra Utara.

 

 

   

 

 
 
 
 

 

 

   
 

Raja Haji Fisabilillah

 

Raja Haji Fisabilillah (Kota Lama, Ulusungai, Riau, 1725 – Ketapang, 18 Juni 1784) adalah salah satu pahlawan nasional Indonesia. Ia dimakamkan di Pulau Penyengat, Indera Sakti, Tanjung Pinang, Provinsi Kepulauan Riau. Namanya diabadikan dalam nama bandar udara di Tanjung Pinang, Bandar Udara Internasional Raja Haji Fisabilillah.

Riwayat perjuangan
Raja Haji Fisabililah atau dikenal juga sebagai Raja Haji marhum Teluk Ketapang adalah (Raja) Yang Dipertuan Muda Riau-Lingga-Johor-Pahang IV. Ia terkenal dalam melawan pemerintahan Belanda dan berhasil membangun pulau Biram Dewa di sungai Riau Lama. Karena keberaniannya, Raja Haji Fisabililah juga dijuluki (dipanggil) sebagai Pangeran Sutawijaya (Panembahan Senopati) di Jambi. Ia gugur pada saat melakukan penyerangan pangkalan maritim Belanda di Teluk Ketapang (Melaka) pada tahun 1784. Jenazahnya dipindahkan dari makam di Melaka (Malaysia) ke Pulau Penyengat oleh Raja Ja’afar (putra mahkotanya pada saat memerintah sebagai Yang Dipertuan Muda).

 

 

   

 

 
 
 
 

 

 

   
 

Frans Kaisiepo

 

 

Frans Kaisiepo (lahir di Wardo, Biak, Papua, 10 Oktober 1921 – meninggal 10 April 1979 pada umur 57 tahun) adalah pahlawan nasional Indonesia dari Papua.

Frans terlibat dalam konferensi Malino (1946) yang membicarakan mengenai pembentukan Republik Indonesia Serikat sebagai wakil dari Papua. Ia mengusulkan nama Irian, yang berasal dari bahasa Biak yang berarti beruap. Selain itu ia juga pernah menjabat sebagai Gubernur Papua periode 1964 sampai dengan 1973.

Beliau dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Cendrawasih, Jayapura.

 

 

   

 

 
 
 
 

 

 

   
 

Gatot Mangkoepradja

 

Gatot Mangkoepradja (lahir di Sumedang, Jawa Barat, 25 Desember 1898 – meninggal 4 Oktober 1968 pada umur 69 tahun). Ayahandanya adalah dr. Saleh Mangkoepradja, dokter pertama asal Sumedang.

Karir Organisasi dan Politik
Keterlibatan Gatot Mangkoepradja dalam pergerakan nasional diawali ketika ia bergabung dengan Perhimpunan Indonesia (PI). Ketika Partai Nasional Indonesia (PNI) berdiri di Bandung pada tanggal 4 Juli 1927, Gatot Mangkoepradja segera menggabungkan diri dengan organisasi yang dipimpin oleh Ir. Soekarno itu. Akibat menjunjung tinggi konsep revolusi Indonesia, maka pada tanggal 24 Desember 1929 Pemerintah Hindia Belanda mengeluarkan perintah penangkapan terhadap Gatot Mangkoepradja dan para pemimpin PNI lainnya. Penangkapan terhadap Gatot Mangkoepradja baru dapat dilakukan pada tanggal 29 Desember 1929 di Yogyakarta. Gatot ditangkap bersama-sama dengan Ir. Soekarno. Mereka kemudian dibawa ke Bandung dan dijebloskan ke Penjara Banceuy.

Pada tanggal 18 Agustus 1930, Gatot Mangkoepradja mulai dihadapkan ke Landraad Bandung bersama-sama dengan Ir. Soekarno, Maskoen Soemadiredja, dan Soepriadinata. Mereka dijerat dengan tuduhan Pasal 169 bis dan 153 bis Wetboek van Strafrecht (KUHP-nya zaman kolonial). Mereka diadili dengan Hakim Ketua: Mr. Siegenbeek van Heukelom dengan Jaksa Penuntut: R. Soemadisoerja. Peristiwa ini dikenal dengan nama Indonesia Menggugat.

Pada tanggal 25 April 1931, akibat perpecahan PNI menjadi Partindo dan PNI-Baru, maka Gatot Mangkoepradja bergabung dengan Partindo karena ia merasa partai ini mempunyai persamaan ideologi dengan PNI. Namun tak lama, akhirnya ia keluar dari Partindo karena merasa kecewa dengan Soekarno dan bergabung dengan PNI-Baru pimpinan Hatta.

Pada masa penjajahan Jepang, Gatot Mangkoepradja yang telah dikenal baik oleh Jepang diberi wewenang untuk menjalankan Gerakan 3 A yaitu Nippon Pelindung Asia, Nippon Cahaya Asia, Nippon Pemimpin Asia. Akan tetapi usaha Jepang ini gagal karena Gatot Mangkoepradja tidak mau kooperatif. Karena penolakan ini maka ia ditahan oleh Kempeitei.

Setelah keluar dari tahanan, beliau mengajukan usul kepada Jepang untuk membentuk Tentara Pembela Tanah Air (PETA). Akhirnya pada tanggal 3 Oktober 1943 dibentuklah secara resmi Pasukan Sukarela Pembela Tanah Air (PETA) melalui Osamu Seirei No. 44 Tahun 1943.

Setelah kemerdekaan Gatot Mangkoepradja kembali bergabung dengan PNI pada tahun 1948. Setahun kemudian ia menjabat Sekretaris Jenderal PNI menggantikan Sabillal Rasjad yang ditarik ke BP KNIP. Ia meninggalkan PNI pada tahun 1955 karena kecewa bahwa anggota PNI tidak boleh turut serta dalam organisasi kedaerahan.

Setelah peristiwa Gestapu tahun 1965, Gatot Mangkoepradja menyatakan dirinya masuk ke Partai IPKI karena partai ini berjuang untuk menyelamatkan Pancasila dari ancaman komunisme.

Gatot Mangkoepradja meninggal dunia pada tanggal 4 Oktober 1968 dan dimakamkan di pemakaman umum Sirnaraga, Bandung.

 

 

   

 

 
 
 
 

 

 

   
 

Harun Thohir

 

Kopral Harun Said (lahir di Bawean, Kabupaten Gresik, Jawa Timur, 4 April 1947 – meninggal di Singapura, 17 Oktober 1968 pada umur 21 tahun) adalah salah satu dari dua anggota KKO (Korps Komando Operasi; kini disebut Marinir) Indonesia yang ditangkap di Singapura pada saat terjadinya Konfrontasi dengan Malaysia.

Bersama dengan seorang anggota KKO lainnya bernama Usman, ia dihukum gantung oleh pemerintah Singapura pada Oktober 1968 dengan tuduhan meletakkan bom di wilayah pusat kota Singapura yang padat pada 10 Maret 1965 (lihat Pengeboman MacDonald House).

Ia dimakamkan di TMP Kalibata, Jakarta.

 

 

   

 

 
 
 
 

 

 

   
 

Hazairin

 

Prof. Dr. Hazairin (lahir di Bukittinggi, Sumatera Barat, 28 November 1906 – meninggal di Jakarta, 11 Desember 1975 pada umur 69 tahun) adalah Menteri Dalam Negeri dalam kabinet Ali-Wongso-Arifin (1953-1955). Ia adalah Guru Besar Hukum Adat dan Hukum Islam dari Universitas Indonesia. Ia dimakamkan di TMP Kalibata, Jakarta.

 

 

   

 

 
 
 
 

 

 

   
 

Herman Johannes

 

Prof. Dr. Ir. Herman Johannes, sering juga ditulis sebagai Herman Yohannes atau Herman Yohanes (lahir di Rote, NTT, 28 Mei 1912 – meninggal di Yogyakarta, 17 Oktober 1992 pada umur 80 tahun) adalah cendekiawan, politikus, ilmuwan Indonesia, guru besar Universitas Gadjah Mada (UGM), dan Pahlawan Nasional Indonesia. Ia pernah menjabat Rektor UGM (1961-1966), Koordinator Perguruan Tinggi (Koperti) tahun 1966-1979, anggota Dewan Pertimbangan Agung (DPA) RI (1968-1978), dan Menteri Pekerjaan Umum (1950-1951).

Karir
Herman Johannes adalah lulusan Technishce Hogeschool (THS) Bandung (ITB) yang kemudian dipindahkan sebagai Sekolah Tinggi Teknik Bandung di Yogyakarta dan menjadi cikal bakal Universitas Gadjah Mada. Herman Johannes banyak mengabdikan dirinya kepada kepentingan negara dan bangsanya, terumata rakyat kecil. Hingga menjelang akhir hayatnya, ia masih melakukan penelitian yang menghasilkan kompor hemat energi dengan briket arang biomassa. Keprihatinannya akan tingginya harga minyak bumi, selalu mendorongnya untuk mencari bahan bakar alternatif yang bisa dipakai secara luas oleh masyarakat. Herman Johannes pernah meneliti kemungkinan penggunaan lamtoro gung, nipah, widuri, limbah pertanian, dan gambut sebagai bahan bakar.

Meski lebih banyak dikenal sebagai pendidik dan ilmuwan, Herman Johannes tercatat pernah berkarir di bidang militer. Tanggal 4 November 1946 Herman Johannes menerima Surat Perintah yang ditadatangani Kapten (Kavaleri) Soerjosoemarno (kemudian menjadi ayah dari Yapto Soerjosoemarno) yang mengatasnamakan Kepala Staf Umum Kementerian Keamanan Rakyat Letjen Urip Sumohardjo, yang isinya agar segera hadir dan melapor ke Markas Tertinggi Tentara di Yogyakarta. Ternyata Herman Johannes diminta membangun sebuah laboratorium persenjataan bagi TNI, karena pemerintah Indonesia saat itu sedang mengalami krisis persenjataan. Permintaan ini diterimanya dengan satu syarat, yakni jika laboratorium itu sudah bisa berdiri dan berproduksi, maka penanganannya harus dilanjutkan orang lain sebab Herman Johannes ingin melanjutkan karirnya di bidang pendidikan. Di bawah pimpinan Herman Johannes, Laboratorium Persenjataan yang terletak di bangunan Sekolah Menengah Tinggi (SMT) Kotabaru ini selama perang kemerdekaan berhasil memproduksi bemacam bahan peledak, seperti bom asap dan granat tangan.

Keahlian Herman Johannes sebagai fisikawan dan kimiawan ternyata berguna untuk memblokade gerak pasukan Belanda selama clash I dan II. Bulan Desember 1948, Letkol Soeharto sebagai Komandan Resimen XXII TNI yang membawahi daerah Yogyakarta meminta Herman Johannes memasang bom di jembatan kereta api Sungai Progo. Karena ia menguasai teori jembatan saat bersekolah di THS Bandung, Johannes bisa membantu pasukan Resimen XXII membom jembatan tersebut. Januari 1949, Kolonel GPH Djatikoesoemo meminta Herman Johannes bergabung dengan pasukan Akademi Militer di sektor Sub-Wehrkreise 104 Yogyakarta. Dengan markas komando di Desa Kringinan dekat Candi Kalasan, lagi-lagi Herman Johannes diminta meledakkan Jembatan Bogem yang membentang di atas Sungai Opak. Jembatan akhirnya hancur dan satu persatu jembatan antara Yogya-Solo dan Yogya-Kaliurang berhasil dihancurkan Johannes bersama para taruna Akademi Militer. Aksi gerilya ini melumpuhkan aktivitas pasukan Belanda sebab mereka harus memutar jauh mengelilingi Gunung Merapi dan Gunung Merbabu melewati Magelang dan Salatiga untuk bisa masuk ke wilayah Yogyakarta.

Pengalamannya bergerilya membuat Herman Johannes juga ikut serta dalam Serangan Umum 1 Maret 1949 yang menyerbu kota Yogyakarta di pagi buta dan bisa menduduki ibukota Republik selama enam jam. Herman Johannes juga menjadi saksi sumbangan Sri Sultan Hamengkubuwono IX kepada perjuangan kemerdekaan Indonesia. Bersama Letnan Soesilo Soedarman dan Letnan Djajadi, Mayor Johannes pernah bertugas ke Wedi, Klaten, untuk melakukan koordinasi perjuangan. Mereka bertiga berangkat memakai seragam baru hadiah dari Sultan Yogya. Sultan pun memberi gaji seratus rupiah Oeang Republik Indonesia (ORI) setiap bulan kepada para taruna Akademi Militer.

Dalam sebuah makalahnya Herman Johannes pernah mengemukakan bahwa Sri Sultan dan Paku Alam bersama Komisi PBB menjemput para gerilyawan masuk kota Yogyakarta pada 29 Juni 1949. Pasukan Akademi Militer masuk kota dari arah Pengok dan dijemput langsung Paku Alam VIII, dan Herman Johannes kemudian harus berpisah dengan teman-teman seperjuangannya utuk kembali ke dunia pendidikan. Jasanya di dalam perang kemerdekaan membuat Herman Johannes dianugerahi Bintang Gerilya pada tahun 1958 oleh Pemerintah RI. Almarhum Herman Johannes mendapat anugerah gelar Pahlawan Nasional dari Presiden Yudhoyono dalam rangka peringatan Hari Pahlawan 2009.

Riwayat Hidup
Umum

Herman Johannes menikah tahun 1955 dengan Annie Marie Gilbertine Amalo (lahir 18 Juni 1927), seorang putri raja dari wilayah Leli di Pulau Rote. Mereka dikaruniai empat anak: Christine yang menikah dengan Dr. Wisnu Susetyo, seorang Wakil Presiden Freeport Indonesia; Henriette yang menikah dengan Robby Mekka, seorang musikus dan dosen musik di Institut Seni Indonesia; Daniel Johannes yang bekerja di Schlumberger Information Solutions; dan Helmi Johannes, seorang presenter berita televisi di VOA. Herman Johannes adalah sepupu Pahlawan Nasional Dr. Wilhelmus Zakaria Johannes. Herman Johannes meninggal dunia pada 17 Oktober 1992 karena kanker prostat. Meski sebagai pemegang Bintang Gerilya dan Bintang Mahaputra almarhum berhak dimakamkan di Taman Makam Pahlawan, namun sesuai amanat beliau sebelum meninggal, maka keluarganya memakamkannya di Pemakaman Keluarga UGM di Sawitsari, Yogyakarta, bersama dengan para koleganya sesama pendidik bangsa. Pada tahun 2003, nama Herman Johannes diabadikan oleh Keluarga Alumni Teknik Universitas Gadjah Mada (KATGAMA), atas prakarsa Ketua Katgama saat itu, Airlangga Hartarto, menjadi sebuah penghargaan bagi karya utama penelitian bidang ilmu dan teknologi: Herman Johannes Award. Sesuai Keputusan Presiden RI (Keppres) No. 80 Tahun 1996, nama Herman Johannes diabadikan sebagai nama Taman Hutan Raya bagi kelompok hutan Sisinemi-Sanam seluas 1.900 hektare di Kabupaten Kupang, Provinsi Nusa Tenggara Timur. Nama Prof Herman Johannes juga diabadikan menjadi nama jalan yang menghubungkan Kampus UGM dengan Jalan Solo dan Jalan Jenderal Sudirman di kota Yogyakarta.

Pendidikan
* Sekolah Melayu, Baa, Rote, NTT, 1921
* Europesche Lagere School (ELS), Kupang, NTT, 1922
* Meer Uitgebreid Lager Onderwijs (MULO), Makassar, Sulawesi Selatan, 1928
* Algemene Middelbare School (AMS), Batavia, 1931
* Technische Hogeschool (THS), Bandung, 1934

Pekerjaan
* Guru, Cursus tot Opleiding van Middelbare Bouwkundingen (COMB), Bandung, 1940
* Guru, Sekolah Menengah Tinggi (SMT), Jakarta, 1942
* Dosen Fisika, Sekolah Tinggi Kedokteran, Salemba, Jakarta, 1943
* Lektor, Sekolah Tinggi Teknik (STT) Bandung di Yogyakarta, 1946–1948
* Mahaguru, STT Bandung di Yogyakarta, Juni 1948
* Dekan Fakultas Teknik UGM, Yogyakarta, 1951–1956
* Dekan Fakultas Ilmu Pengetahuan Alam (FIPA) UGM, Yogyakarta , 1955–1962
* Rektor, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, 1961–1966[4]
* Koordinator Perguruan Tinggi (Koperti), DIJ-Jateng, 1966–1979
* Ketua, Regional Science and Development Center (RSDC), Yogyakarta, 1969

 

 

   

 

 
 
 
 

 

 

   
 

Ida Anak Agung Gde Agung

 

Dr. Ida Anak Agung Gde Agung (Gianyar, Bali, 24 Juli 1921 – 1999) adalah ahli sejarah dan tokoh politik Indonesia. Di Bali ia juga berposisi sebagai raja Gianyar, menggantikan ayahnya Anak Agung Ngurah Agung. Anaknya, Anak Agung Gde Agung, adalah Menteri Masalah-masalah Kemasyarakatan pada Kabinet Persatuan Nasional.

Sarjana hukum (Mr.) diraihnya di Jakarta dan gelar doktor diperolehnya di Universitas Utrecht, Belanda, di bidang sejarah. Ia pernah menjabat sebagai Menteri Dalam Negeri maupun Menteri Luar Negeri pada era pemerintahan Presiden Soekarno. Selain itu ia pernah menjabat pula sebagai Dubes RI di Belgia (1951), Portugal, Perancis (1953), dan Austria.

Pada tanggal 9 November 2007, almarhum dianugerahi gelar pahlawan nasional oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono

 

 

   

 

 
 
 
 

 

 

   
 

I Gusti Ketut Jelantik

 

I Gusti Ketut Jelantik (??? – 1849) adalah pahlawan nasional Indonesia yang berasal dari Karangasem, Bali. Ia merupakan patih Kerajaan Buleleng. Ia berperan dalam Perang Jagaraga yang terjadi di Bali pada tahun 1849. Perlawanan ini bermula karena pemerintah kolonial Hindia Belanda ingin menghapuskan hak tawan karang yang berlaku di Bali, yaitu hak bagi raja-raja yang berkuasa di Bali untuk mengambil kapal yang kandas di perairannya beserta seluruh isinya. Ucapannya yang terkenal ketika itu ialah “Apapun tidak akan terjadi. Selama aku hidup aku tidak akan mangakui kekuasaan Belanda di negeri ini”. Perang ini berakhir sebagai suatu puputan, seluruh anggota kerajaan dan rakyatnya bertarung mempertahankan daerahnya sampai titik darah penghabisan. Namun akhirnya ia harus mundur ke Gunung Batur, Kintamani. Pada saat inilah beliau gugur.

 

 

   

 

 
 
 
 

 

 

   
 

I Gusti Ngurah Rai

 

Brigjen TNI Anumerta I Gusti Ngurah Rai (lahir di Desa Carangsari, Petang, Kabupaten Badung, Bali, Hindia Belanda, 30 Januari 1917 – meninggal di Marga, Tabanan, Bali, Indonesia, 20 November 1946 pada umur 29 tahun) adalah seorang pahlawan Indonesia dari Kabupaten Badung, Bali.

Ngurah Rai memiliki pasukan yang bernama “Ciung Wenara” melakukan pertempuran terakhir yang dikenal dengan nama Puputan Margarana. (Puputan, dalam bahasa bali, berarti “habis-habisan”, sedangkan Margarana berarti “Pertempuran di Marga”; Marga adalah sebuah desa ibukota kecamatan di pelosok Kabupaten Tabanan, Bali)

Bersama 1.372 anggotanya pejuang MBO (Markas Besar Oemoem) Dewan Perjoeangan Republik Indonesia Sunda Kecil (DPRI SK) dibuatkan nisan di Kompleks Monumen de Kleine Sunda Eilanden, Candi Marga, Tabanan. Detil perjuangan I Gusti Ngurah Rai dan resimen CW dapat disimak dari beberapa buku, seperti “Bergerilya Bersama Ngurah Rai” (Denpasar: BP, 1994) kesaksian salah seorang staf MBO DPRI SK, I Gusti Bagus Meraku Tirtayasa peraih “Anugrah Jurnalistik Harkitnas 1993”, buku “Orang-orang di Sekitar Pak Rai: Cerita Para Sahabat Pahlawan Nasional Brigjen TNI (anumerta) I Gusti Ngurah Rai” (Denpasar: Upada Sastra, 1995), atau buku “Puputan Margarana Tanggal 20 November 1946” yang disusun oleh Wayan Djegug A Giri (Denpasar: YKP, 1990).

Pemerintah Indonesia menganugerahkan Bintang Mahaputra dan kenaikan pangkat menjadi Brigjen TNI (anumerta). Namanya kemudian diabadikan dalam nama bandar udara di Bali, Bandara Ngurah Rai.

 

 

   

 

 
 
 
 

 

 

   
 

Ilyas Ya’kub

 

H. Ilyas Yakoub (juga dieja Ilyas Yacoub; Sumatra Barat, 1903 – Koto Barapak, 2 Agustus 1958) adalah seorang pahlawan nasional Indonesia dari Sumatra Barat. Ia ditetapkan sebagai pahlawan melalui Surat Keputusan Presiden No. 074/TK/1999 bertanggal 13 Agustus 1999.

Ilyas Ya’kub (Lahir di Asam Kumbang, Bayang, Pesisir Selatan, Sumatera Barat, 1903 — 2 Agustus 1958) ialah seorang ulama besar dan syikh al-Islam dari Minangkabau, Indonesia tamatan Mesir. Ia pernah memimpin mahasiswa Malaysia-Indonesia di Mesir, juga pendiri Partai Politik PERMI (Persatuan Muslimin Indonesia, 1932) berbasis pada lembaga-lembaga pendidikan Islam di Indonesia. Beralasan pula dengan kemampuan dan jasanya sebagai ulama, tokoh pendidikan dan politikus Islam di awal kemerdekaan (1948) ia dipercaya pada negeri yang Islam dan semangat melayunya kuat sebagai Ketua DPR Provinsi Sumatera Tengah merangkap penasehat Gubernur.

Perjuangan Ilyas Ya’kub: Islam dan Kebangsaan
Sa’at di Mesir ini Haji Ilyas Ya’kub aktif dalam berbagai organisasi dan partai politik di antaranya Hizb al-Wathan (partai tanah air) didirikan oleh Mustafa Kamal semakin membangkitkan semangat anti penjajah. Ia pernah pula menjabat sebagai ketua Perkumpulan Mahasiswa Indonesia dan Malaysia (PMIM) di Mesir. Selain itu ia juga fungsionaris wakil ketua organisasi sosial politik Jam’iyat al-Khairiyah dan ketua organisasi politik Difa` al-Wathan (Ketahanan Tanah Air).

Selain gerakan politik yang amat peduli dengan nasib bangsanya terjajah Belanda, Haji Ilyas Ya’kub di Mesir juga aktif menulis artikel dan dipublikasi pada berbagai Surat Kabar Harian di Kairo. Bersama temannya Muchtar Luthfi ia mendirikan dan memimpin Majalah Seruan Al-Azhar dan majalah Pilihan Timur. Majalah Seruan Al-Azhar adalah majalah bulanan mahasiswa sedangkan majalah Pilihan Timur adalah majalah politik. Kedua produk jusnalistik ini banyak dibaca mahasiswa Indonesia – Malaysia di Mesir ketika itu.

Gerakan Haji Ilyas Ya’kub dalam jurnalistik dan politik anti penjajah di Mesir, tercium oleh Belanda ketika itu. Melalui perwakilannya di Mesir, Belanda mencoba melunakkan sikap radikal Ilyas Ya’kub, tetapi gagal. Sejak itu Belanda semakin mengaris merah Ilyas Ya’kub tidak saja sebagai radikalis bahkan dicap sebagai ekstrimis dan musuhnya di Indonesia.

Ketika masih dalam ancaman Belanda, tahun 1929 Haji Ilyas Ya’kub kembali dari Mesir, memaksanya transit di Singapura kemudian nyasar berlabuh di Jambi. Di tanah air, ia menemui teman-temannya di Jawa yang bergerak dalam PNI dan PSI. Dari pengalaman dua partai temannya tadi (PNI dan Partai Serikat Islam) Ilyas Ya’kub berfikir, bahwa jiwa yang dimiliki kedua partai tersebut, yakni Islam dan kebangsaan adalah penting dikombinasikan, dikonversi dan dikonsolidasikan kemudian diwadahi dengan satu wadah yang refresentartif. Ternyata kemudian Haji Ilyas Ya’kub sekembali dari kunjungan ini tahun 1930 men-set up idenya: Islam dan kebangsaan dalam dua kegiatannya yakni bidang jurnalistik dan politik. Dalam bidang jurnalistik diwadahi dengan penerbitan pers yakni Tabloid Medan Rakyat. Dalam bidang politik ia bersama temannya Mukhtar Luthfi mendirikan wadah baru bernama PERMI (Persatuan Muslimin Indonesia) dengan asas Islam dan kebangsaan. Tujuannya menegakan Islam dan memperkuat wawasan kebangsaan untuk mewujudkan kemerdekaan Indonesia. Dengan dasar Islam dan kebangsaan ini, PERMI menjalankan sikap politik non kooperasi dan tak kenal kompromi dengan bangsa apapun yang kental punya prilaku imperialisme dan kolonialisme. Karena itu pula PERMI secara prinsipil mencap bahwa kapitalisme dan imperalisme merupakan penyebab penderitaan rakyat Indonesia.

PERMI pada awal mula bernama PMI (Partai Muslimin Indonesia) didirikan Haji Ilyas Ya’kub tahun 1930. PMI ini berbasis pada lembaga pendidikan Islam Sumatera Thawalib dan Diniyah School. Ide dasarnya, pemberdayaan sekolah agama dengan berbagai inovasi ke arah sistem modern, dimulai perbaikan kurikulum, sistem penjenjangan program dan lama masa pendidikan, memberi perlindungan kepada pelajar serta mengorganisasikan sekolah agama sebagai basis perjuangan kemerdekaan dan sentra pencerdasan bangsa dengan pengatahuan Islam dan kebangsaan. Beralasan kemudian PMI berambisi menambah jumlah sekolah agama dengan mendirikan sekolah baru dengan sistem modern, mulai dari tingkat pendidikan dasar (ibtidaiyah) sampai pendidikan tinggi (Al-Kulliyat). Di antara pendidikan tinggi, di Alang Laweh, 12 Pebruari 1931 didirikan perguruan tinggi dalam bentuk college Islam untuk diploma A dan diploma B, bernama Al-Kulliyat Al-Islamiyah, diselenggarakan intelektual jebolan Timur Tengah di antaranya Janan Thaib (sebagai pimpinan), Syamsuddin Rasyid (onder director) dan Ilyas Ya’kub. Mahasiswa awal diterima lulusan Sumatra Thawalib, Diniyah School, Tarbiyah Islamiyah, AMS (Algemeene Middelbare School), Schakel School dan lulusan sekolah tingkat menengah lainnya.

Tahun 1932 PMI mengadakan konsolidasi. Partai ini menyadari perjuangan Islam dan Kebangsaan perlu dikokohkan baik internal maupun eksternal. Tantangan Masyarakat Islam Indonesia sebagai bagian dari Muslim Asean yang ketika itu (sejak abad ke-16) disebut dengan istilah jawi, juga berpeluang berfikir pengembangan Islam tidak terlepas dari politik kekuasaan meskipun di wilayah konsentrasi Islam seperti di Indonesia, Malaysia dan Brunei Darussalam, apalgi di wilayah minoritas Islam. Mari belajar konflik minoritas muslin Moro (sejak abad ke-19) dengan pemerintahan Filipina berbeda sedikit dengan Burma (Myanmar) perkembangan muslin relative stabil sejak tahun 1930-han atau Singapura tahun 1932 sudah mendirikan Jam’iyat (Pesekutuan) Seruan Islam, apakah ini pengaruh Singapura pernah (tahun 1840) menjadi sentra pengembangan Tarekat Naqsyabandi yang dikembangkan Syeikh Ismail Simabur (Minangkabau) di kawasan Nusantara (Asean) menarik untuk diteliti dianalisis sintesis dengan fenomena terakhir (sejak tahun 1957) Muhammaddiyah telah pula berkembang di Singapura bersamaan dengan gerakan dakwah didukung ABIM (Angkatan Belia Islam Malaysia) di Malaysia. Masih kurun itu (1932) kasus di belahan Nusantara (Asean) juga, Thailand yang tidak pernah dijajah misalnya, agama Negara yang diakui kekakuasaan raja secara resmi adalah Budha Trevada, namun kepada masyarakat Islam yang dominant al-syafi’iyah diberikan kemerdekaan menghurus al-ahwal al-syakhshiyyah (hukum keluarga) termasuk munakahat (perkimpoian) terutama dalam bentuk NTCR (Nikah Talak-Cerai dan Rujuk) dilakukan kadhi yang mendapat legalisasi pemerintahan raja (lihat juga Taufik Abdullah, d., 2003:305-339). Angin segar dan peluang masyarakat muslim di Nusanatara yakni Negara Asean yang satu ini tidak terlepas dari jaringan pembaharuan Ahmad Wahab (dari Minangkabau) di Bangkok tahun 192-han dan kawan-kawan seperti juga Syeikh Thaher Jalaluddin Al-Falaki (dari Minangkabau) di Malaysia (Yulizal Yunus, 1982).

Konsolidasi PMI merupakan bagian kesadaran bagi penguatan lembaga ke-Islam menunjang visi Islam dan kebangsaan Indonesia. Konsolidasi dilakukan dalam bentuk Kongres Besar bertempat di dekat daerah kelahiran Ilyas Ya’kub yakni Koto Marapak (Bayang Pesisir Selatan) dihadiri oleh seluruh pengurus cabang se Sumatera seperti dari Tapanuli Selatan, Bengkulu, Palembang, Lampung dll. Di antara keputusan Kongres Besar, PMI dirubah namanya menjadi PERMI yang dicap Belanda sebagai partai Islam radikal revolusioner. Kantornya di gedung perguruan Islamic College, Alang Lawas, Padang.

Kalau tadi Ilyas Ya’kub tidak mengenal kompromi dengan komponen yang punya watak imperialisme dan kolonialisme, dalam PERMI ia bisa kompromi dengan Pertindonya Soekarno. Bentuk komprominya dalam bentuk koalisi memperkuat perjuangan kebangsaan, yakni dimana telah ada berdiri cabang Pertindo maka di sana tidak lagi perlu ada cabang PERMI dan sebaliknya. Karena dianggap membahayakan pemerintahan, maka berdasarkan vergarder verbod Belanda mengeluarkan kebijakan exorbita terechten yang menyatakan PERMI terlarang dan diikuti tindakan penangkapan terhadap tokoh-tokohnya. Haji Ilyas Ya’kub bersama dua temannya Mukhtar Luthfi dan Janan Thaib ditangkap dan dipenjarakan. Setelah 9 bulan di penjara Muaro Padang, ia diasingkan selama 10 tahun (1934-1944) ke Bouven Digul Irian Jaya bersama para pejuang pergerakan kemerdekaan Indonesia lainnya.

Oktober 1945 pemulangan para tahanan perang dari Australia ke Indonesia dengan kapal Experence Bey Oktober, Haji Ilyas Ya’kub tidak diizinkan turun di pelabuhan Tanjung Periuk, bahkan ia kembali ditahan dan diasingkan bersama isteri selama 9 bulan berpindah-pindah di Kupang, Serawak, Brunei Darussalam, kemudian ke Labuhan, Singapura (anaknya iqbal meninggal di sana). Ia ikut bergrillya pada clas II (1948) dan ikut membentuk PDRI (Pemerintahan Darurat Republik Indonesia) yang kemudian dipimpin oleh Mr. Safruddin Prawiranegara. Ia mendapat tugas menghimpun kekuatan politik (seluruh partai) di Sumatera untuk melawan agresor Belanda. Tahun itu ia menjabat ketua DPR Sumatera Tengah kemudian terpilih lagi sebagai anggota DPRD wakil Masyumi dan merangkap sebagai penasehat Gubernur Sumatera Tengah bidang politik dan agama.

 

 

   

 

 
 
 
 

 

 

   
 
Fakhruddin al-Falimbani
Ulama Kesultanan Palembang Darus Salam

FAKTA untuk menjejaki ulama yang berasal dari Palembang ini ialah sebuah manuskrip karya beliau yang selesai ditulis pada 16 Syaaban 1297 H/24 Juli 1880 M, selanjutnya disebut MS 1731 (PMM-PNM). Tarikh tersebut saya jadikan bukti bahwa saya tidak sependapat dengan beberapa pendapat yang menyebut bahawa usia Kemas Fakhruddin lebih tua daripada Syeikh Abdus Shamad al-Falimbani.
Menurut penyelidikan saya (Wan Mohd. Shaghir Abdullah), Syeikh Abdus Shamad al-Falimbani lebih dulu menghasilkan karya, iaitu, Zahrah al-Murid tahun 1178 H/1764 M dan Risalah Nikah tahun 1179 H/1764 M. Pada hari Ahad, 8 Rabiul awal 1421 H/11 Juni 2000 M, sewaktu saya ke Ranai, Pulau Natuna/Bunguran Timur saya peroleh sebuah karya besar Kemas Fakhruddin berjudul Futuh asy-Syam, jilid pertama.

Kitab Futuh asy-Syam tersebut dicetak dengan huruf batu (litografi) milik Datuk Kaya Wan Husein, Datuk Kaya Bunguran/Natuna di Ranai. Kitab tersebut diserahkan kepada saya oleh cucunya, Urai Nurseha binti Urai Utsman di rumahnya di Ranai pada hari dan tarikh seperti tersebut di atas. Oleh sebab kitab tersebut hanya dijumpai jilid pertama, maka belum diketahui tahun selesai penulisan dan nama tempat mencetak juga tidak jelas.

PERBANDINGAN TAHUN

Berdasarkan informasi, manuskrip Futuh asy-Syam yang lengkap dapat diketahui tersimpan di School of Oriental and African Studies (Universiti London) dengan nombor kelas MS 11505. Sebagaimana telah saya sebutkan bahawa Futuh asy-Syam cetakan huruf batu (litografi) yang dijumpai di Pulau Natuna belum diketahui tarikhnya. Namun, karena dapat diketahui manuskripnya yang bernombor kelas MS 11505 ada dinyatakan tarikh, iaitu diselesaikan pada hari Jumaat, bulan Safar 1183 H/Jun 1769 M, maka dirasakan perlu membuat analisis perbandingan.

Di atas telah saya sebutkan sebuah naskhah MS 1731 (PMM-PNM) karya Syeikh Kemas Fakhruddin yang diselesaikan pada 16 Syaaban 1297 H/24 Juli 1880 M. Memperhatikan jarak tahun pengkaryaan antara tahun 1183 H dengan 1297 H yang berarti sekitar 114 tahun, berarti ulama yang berasal dari Palembang tersebut berusia sangat panjang. Atau kemungkinan terjadi kekeliruan penulisan tahun yang diberikan. Atau kemungkinan terdapat dua orang ulama bernama Kemas Fakhruddin di Palembang.

Jika kita dapat menerima tahun yang diberikan oleh Dr. Aryumardi Azra bahwa Syeikh Fakhruddin hidup antara tahun 1133 H/1719 M – 1177 H/1763 M, ini berarti Syeikh Fakhruddin hanya berusia 44 tahun. Dengan perbandingan ini berarti bertambah sukar mencari data yang tepat tentang Syeikh Kemas Fakhruddin. Dengan diperoleh tahun penulisan Futuh asy-Syam, 1183 H/1769 M, ternyata juga ia tidak lebih dahulu daripada kedua-dua karya Syeikh Abdus Shamad al-Falimbani, Zahrah al-Murid tahun 1178 H/1764 M dan Risalah Nikah tahun 1179 H/1764 M. Daripada berbagai informasi ada diriwayatkan bahwa karya-karya Syeikh Kemas Fakhruddin dihasilkan atas permintaan Sultan Susuhunan Ahmad Najamuddin Adi Kesumo (1171 H/1758 M-1190 H/1776 M).

Penulisan

Jika kita perhatikan tahun penulisan Futuh asy-Syam, 1183 H/1769 M, berarti memang dalam masa pemerintahan Sultan Susuhunan Ahmad Najamuddin Adi Kesumo, tetapi di Futuh asy-Syam MS 11505 terdapat catatan bahawa “atas kehendak Pangeran Ratu ibni Paduka Seri Sultan Ahmad Najamuddin Kerajaan Palembang Darul Ihsan”. Ini sangat meragukan kerana dalam pemerintahan Palembang terdapat lagi nama Sultan Ahmad Najamuddin Pangeran Ratu yang memerintah tahun 1234 H/1819 M-1236 H/1821 M dan Sultan Ahmad Najamuddin Prabu Anom yang memerintah 1236 H/1821 M-1238 H/1823 M.

Ada pun penulisan MS 1731 (PMM-PNM), 1297 H/1880 M, adalah bukan pada zaman pemerintahan Sultan Susuhunan Ahmad Najamuddin Adi Kesumo (1171 H/1758 M – 1190 H/1776 M), tetapi tahun yang berdekatan ialah pada zaman pemerintahan Sultan Ahmad Najamuddin Pangeran Ratu (1234 H/1819 M-1236 H/1821 M) dan Sultan Ahmad Najamuddin Prabu Anom (1236 H/1821 M-1238 H1823 M). Penulisan MS 1731 (PMM-PNM), 1297 H/1880 M berarti terjadi pada tahun kesultanan Palembang telah dihapuskan oleh Belanda (penghapusan terjadi tahun 1825 M). Daripada hal-hal yang tersebut di atas saya berkesimpulan bahawa masih sukar menentukan tahun-tahun kehidupan Syeikh Kemas Fakhruddin yang sedang dibicarakan ini, walau pun beliau telah menghasilkan karangan yang cukup memadai.

SENARAI KARYA DAN KETERANGAN

Informasi karya-karya Syeikh Kemas Fakhruddin berdasarkan tulisan Salman Aly sejauh ini baru diketahui empat buah. Sungguh pun demikian bagi saya dua buah di antaranya masih belum jelas sebagai karyanya, yang akan dijelaskan sebagai berikut di bawah ini:

1. Tuhfah az-Zaman fi Zharfi Ahli al-Yaman. Kitab ini dikatakan karya Syeikh Kemas Fakhruddin disebut oleh Salman Aly. Walau bagaimana pun manuskrip judul ini yang tersimpan di Perpustakaan Bodleian Universiti Oxford MS. Malay ternyata nama penterjemah tidak terdapat. Oleh itu masih diragukan sebagai karya Syeikh Kemas Fakhruddin.

Mengenai tahun selesai penulisan ada catatan dinyatakan di Palembang tahun 1175 H/1761 M. Karya ini berarti mendahului karya Syeikh Abdus Shamad al-Falimbani berjudul Zahrah al-Murid (1178 H/1764 M) sekitar tiga tahun. Manuskrip setebal 324 halaman di atas kandungan keseluruhannya ialah mengenai ilmu falakiyah / astronomi. Pada mukadimah digubah puisi dalam bahasa Melayu, adalah sebagai berikut: “Bahawa ini kitab ramal namanya, karangan Syeikh Syaddadiyah namanya Negeri Yaman tempat kediamannya, telah masyhurlah di dalam zamannya Tersurat ia pada hari Jumat, pada bulan Safar ketika Zuhrah. Seribu seratus diperhijrah, tujuh puluh lima tarikh Nubuwah. Adalah yang menyurat kitab ini, faqir yang hina dalam negeri. Daripada surat ibni as-Sulthani, Pangeran Ratu negeri Falimban. Hai sekalian orang ‘arif yang ikhwan, jika dikau lihat maknanya bersalahan. Perbaiki olehmu supaya bayan, kepada yang thalib berteman kesukaan. Kerana Pangeran sangat bebalnya, belum tahu pada bahasa Arabnya. Melayu pun lagi belum didapatnya, daripada sangat berkehendak padanya.”

2. Khawash al-Quranil ‘Azhim. Salman Aly menulis, “… sebuah kitab yang penuh kutipan-kutipan al-Quran terutama yang berkenaan dengan nilai-nilai luhur. Kitab yang ditulis pada tahun 1769 ini dianggap oleh van Ronkel sebagai sebuah karya terjemahan dari Tamimi”. Saya memiliki sebuah manuskrip yang tersebut ini yang diperoleh di Pontianak pada 17 Ramadan 1420 H/20 Disember 1999 M. melalui Rahmatillah dan Muhammad Safar yang diperoleh di persekitaran istana kesultanan Pontianak.

Benar

Pendapat Salman Aly di atas masih belum dapat diterima sepenuhnya kerana pada manuskrip tersebut tidak terdapat nama Syeikh Kemas Fakhruddin sebagai penterjemahnya. Yang dapat disepakati ialah kandungannya memang benar membicarakan fadhilat-fadhilat ayat-ayat dalam al-Quran. Mulai penulisan 1183 H/1769 M. Berarti dalam tahun yang sama dengan penulisan Futuh asy-Syam. Pada mukadimah dinyatakan bahawa kitab ini diterjemahkan daripada bahasa Arab ke bahasa Melayu adalah disuruh oleh Paduka Seri Ratu Ahmad Najamuddin. Karya asal disusun oleh asy-Syeikh al-Imam al-’Alim al-Hakim al-Fadhil Ahmad bin Muhammad at-Tamimi Radhiyallahu ‘anhu.

3. Futuh asy-Syam, 1183 H/1780 M, kandungannya merupakan hikayat lengkap peperangan yang dilakukan oleh para sahabat Nabi Muhammad s.a.w. sehingga berhasil menakluk negeri Syam. Keseluruhan kandungannya merupakan petikan daripada karangan Syeikh Abu Abdullah Muhammad bin Umar al-Waqidi (lahir 130 H/747 M, wafat 207 H/823 M). Halaman akhir jilid pertama ditutup dengan kalimat, “Syahdan kemudian daripada perang Hamash ini, maka iaitu menyambutkanlah waqi’ah perang tempat yang bernama Yarmuk. Maka di dalam perang itu, iaitu terlalu besar. Dan perang Yarmuk apabila tampaklah beberapa kelebihan dan ketinggian agama Islam dan tampaklah beberapa mukjizat Rasulullah Shallallahu alaihi kemudian daripada wafatnya di dalam perang. Inilah nyata shadaqal Quran al-’Azhim … Dan perang inilah hampir-hampir habis kekuatan ahlir Rum adanya”. Kalimat terakhir daripada keseluruhan judul ini ditulis dalam bentuk puisi:

“Selesai kitab Futuh asy-Syam tersebut, pada bulan Safar, pada malam Jumaat.
Seribu seratus daripada hijrat, delapan puluh tiga tarikh Nubuwat
Dan adalah yang menyurat kitab ini, yang bernama Kemas Fakhruddini.
Dengan disuruh Pangeran Ratu ibni Paduka Seri Sulthan Ahmad Najamuddini.
Yang duduk di atas Kerajaan Negeri Palembang Jawi Darul Ihsan”.

4. Mukhtashar Fat-hir Rahman, 16 Syaaban 1297 H/1879 M.

KEKELUARGAAN KEMAS

Sekian banyak tulisan yang telah saya baca mengenai Syeikh Kemas Fakhruddin maka tidak seorang pun menyebut nama orang tua ulama Palembang tersebut, demikian juga keturunannya. Yang pasti istilah ‘Kemas’ barangkali digunakan untuk golongan kaum bangsawan yang berasal dari Palembang.

Beberapa orang ulama Palembang yang menggunakan istilah ‘Kemas’ untuk namanya, di antaranya ialah: Kiyai Haji Kemas Muhammad Azhari (Kiyai Pedatukan), Kiyai Haji Kemas Abdur Rahman (Kiyai Delamat), Kemas Muhammad bin Ahmad dan ramai lagi. H. Rusdhy Cosim dalam Sejarah Kerajaan Palembang dan Perkembangan Hukum Islam menulis nama Syeikh Abdus Shamad al-Falimbani juga meletakkan istilah ‘Kemas’ pada awal nama. Saya berkesimpulan kemungkinan Syeikh Kemas Fakhruddin memang ada pertalian dekat dengan semua ulama Palembang yang layak diletakkan istilah ‘Kemas’ pada awal namanya itu.

 

 

   

 

 
 
 

 

 

   
 
 

dr. Adnan Kapau Gani

Dr. Adnan Kapau Gani (1905 – 1968) lahir pada 16 September 1905 di Desa Palembayan, Kecamatan Palembayan, Kabupaten Agam (Bukittinggi). Menyelesaikan ELS di Bukittinggi pada tahun 1923. Masuk Sekolah kedokteran STOVIA di Jakarta. Tetapi pada tahun 1927 sekolah kedokteran itu ditutup, kemudian melanjutkan ke AMS dan tamat tahun 1928. Dan tahun 1929 sampai dengan tahun 1940 menyelesaikan kuliah di Sekolah Tinggi Kedokteran Jakarta (Geneeskundige Hoge School/GHS). Selama di Jakarta aktif dalam organisasi pergerakan. Menjadi anggota Pemuda Sumatera cabang Jakarta, kemudian Dewan Eksekutif Pusat Pemuda Sumatera, Komite Persiapan pendirian Organisasi Indonesia Muda, dan menjadi anggota Persatuan Pemuda Pelajar Indonesia (PPPI).

Hidup sebagai mahasiswa yang berdikari, pernah bekerja sebagai makelar, wartawan, pemain teater, bintang film, dan pernah juga AK. GANI menjadi manajer ‘Club Indonesia’ di Kramat Raya 106 Jakarta, tempat untuk pertama kalinya lagu kebangsaan Indonesia Raya diperdengarkan pada tahun 1928.

Gerakan politik yang diikuti antara lain menjadi anggota Partai Indonesia (PARTINDO), Ketua Dewan Eksekutif Partai Gerakan Rakyat Indonesia, salah seorang sekretaris dan
Sekretariat Bersama Federasi Partai-partai Politik Indonesia (GAPI), kemudian menjadi salah seorang anggota GAPI yang berunding dengan Komisi Penyelidik Partai-partai Politik Belanda (Komisi Visman) mengenai masa depan Indonesia.

Pada jaman pendudukan Jepang, ditahan Polisi Militer Jepang (kempetai) dan mengalami penyiksaan selama kurang lebih 13 bulan. Mulai tahun 1945, berturut-turut menjabat ketua Badan Kebaktian Rakyat Palembang, Ketua Panitia Persiapan Kemerdekaan Daerah Palembang, Kepala Pemerintahan Bangsa Indonesia untuk Keresidenan Palembang, mendirikan Partai Nasional Indonesia di Palembang (PNI) di Sumatera, sampai tahun 1954 menjadi komisaris PNI untuk Sumatera Selatan. Sedangkan Oktober 1945 sampai Juli 1946 menjadi Koordinator Tentara Republik Indonesia (BKR/TKR/TNI)
untuk Sumatera dengan pangkat Mayor Jenderal.

Pernah menjabat Gubernur Muda Daerah Sumatera bagian Selatan. Juli 1946 diangkat sebagai Wakil Kementerian Keamanan dan Pertahanan untuk pulau Sumatera sampai bulan Oktober 1946.

Kemudian diangkat sebagai Menteri Kemakmuran Kabinet Syahrir sampai Juni 1947. Pada tanggal 5 Januari 1947 diutus oleh Pemerintah Pusat untuk menghentikan palagan Lima Hari Lima Malam di kota Palembang. Menjadi Anggota Delegasi RI pada perundingan Linggarjati. Dari Juni 1947 sampai Februari ditunjuk menjadi Wakil Perdana Menteri merangkap Menteri Kemakmuran dalam Kabinet Syahrir.

Ditangkap tentara Belanda dibawah pimpinan Kapten Westerling pada tanggal 20 Juli 1947. Tidak lama kemudian dibebaskan, dan pada Nopember 1947 sampai Mei 1948 sudah di Havana, Cuba, mengetuai Delegasi RI pada konferensi PBB untuk Perdagangan dan Ketenagakerjaan.

Belum lama kembali di tanah air, Juli 1948 diutus ke Sumatera untuk meninjau keadaan ekonomi. Selama hampir dua tahun dan Desember 1948 sampai Februari 1950 menjabat Gubernur Militer Daerah Sumatera bagian Selatan. Akhir tahun 1951 sampai Februari 1952 berada di Holland sebagai anggota Delegasi RI pada perundingan Indonesia-Belanda dari hasil KMB, dan mengenai kedaulatan Irian Barat, tepatnya di kota Den Haag.

Dr. AK. Gani pernah menjadi Menteri Perhubungan RI Kabinet Ali Sastroamijoyo I dari Nopember 1954 sampai Agustus 1955. Tahun 1956 Dr. AK. Gani mendirikan P.T. Indonesia Rubber (P.T. Indo – rub) kerjasama dengan Pengusaha Nasional dan Bank Industri Negara.

Tahun 1956-1959 ditunjuk sebagai Anggota Konstituante, 1960-1966 Ketua Pengurus Daerah Angkatan ‘45 Sumatera Selatan, merangkap juga sebagai Anggota DPRGR. September 1965 menjadi Staf Pribadi Panglima Komando Mandala Siaga I. Sedangkan 1964 sampai 1966 Ketua Pasca Tunggal Daerah Sumatera Selatan merangkap Ketua Front Nasional Sumatera Selatan.

Dinihari tanggal 23 Desember 1968 Dr. AK. Gani wafat di Rumah Sakit Charitas Palembang dalam usia 63 tahun. Beliau adalah pejuang besar, sejarah telah mencatat kebesarannya. TMP Ksatria Ksetra Siguntang, Palembang, tempat peristirahatannya terakhir pejuang besar itu.

Untuk mengenang jasa-jasa Dr. Adnan Kapau Gani yang banyak berjuang membantu Angkatan Perang RI (APRI) melawan Kolonial Belanda, Pemerintah melalui Surat Keputusan Kasad Nomor : Skep/1210/VIII/1976 tanggal 28 Agustus 1976 meresmian penggunaan nama Rumah Sakit Tingkat II Dr AK Gani/Kesdam II/Sriwijaya, menggantikan instalasi kesehatan TNI yang pada waktu itu dikelola oleh Yankesad.

Pemerintah RI memberikan gelar Pahlawan Nasional kepada Mayjen TNI (Purn) dr. Adnan Kapau Gani melalui Keputusan Presiden RI Nomor 066/TK/Tahun 2007 tertanggal 6 November 2007 bersama Dr.Ide Anak Agung Gde Agung, Mayjen TNI (Purn) Prof.Dr.Moestopo, dan Brigjen TNI (Anumerta) Ignatius Slamet Rijadi. Upacara penganugerahan gelar Pahlawan Nasional akan dilaksanakan di Istana Negara pada 9 November 2007 dengan Inspektur Upacara Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.

 

 

   

 

 
 
 

 

 

   
 
Syeikh Muhammad Azhari al-Falimbani
Penyambung Ulama Palembang

Penyelidikan awal yang saya lakukan terhadap ulama besar ahli sufi yang berasal dari Palembang, Sumatera Selatan ini dimulai dengan terdapat sebuah kitab berjudul Badi’uz Zaman, karyanya yang disebut oleh Syeikh Ahmad al-Fathani dalam karyanya Al-Fatawal Fathaniyah. Ada satu permasalahan Syeikh Ahmad al-Fathani tidak sependapat dengan Syeikh Muhammad Azhari al-Falimbani itu, yaitu mengenai perbahasan sifat “harus bagi Allah”. Menurut Syeikh Muhammad Azhari al-Falimbani “harus bagi Allah ada empat perkara”, sedangkan menurut Syeikh Ahmad al-Fathani dan pendapat ulama ahli tauhid “harus bagi Allah itu hanya satu sahaja”, yaitu “memperbuat sekalian mungkin atau meninggalkannya”.
Bertahun-tahun saya mencari kitab Badi’uz Zaman karya Syeikh Muhammad Azhari al-Falimbani itu akhirnya diperoleh juga, bahkan banyak lagi karangan beliau selain itu dapat saya kumpulkan. Pada mulanya ada beberapa perkara yang saya ragukan terhadap ulama ini, di antaranya sebuah karyanya yang diselesaikan pada tahun 1259 Hijrah/1843 Masehi dan karya beliau yang terakhir disebutkan bahwa diselesaikan dalam tahun 1324 Hijrah/1906 Masehi.

Memperhatikan tahun yang tersebut itu berarti beliau telah hidup pada zaman Syeikh Daud bin Abdullah al-Fathani dan masih hidup pula pada zaman Syeikh Ahmad al-Fathani. Berarti dari penulisan pertama hingga yang terakhir memakan waktu sekitar 65 tahun. Mengenai nama beliau pula ada yang ditulis dengan menggunakan Muhammad bin Abdullah al-Azhari al-Falimbani dan yang lain dengan Muhammad Azhari bin Abdullah al-Falimbani.

Dalam buku Masuk dan Berkembangnya Islam di Sumatera Selatan, tercatat nama yang lain pula, iaitu Kiyai Haji Kemas Muhammad Azhari atau dikenal juga dengan sebutan Kiyai Syeikh dan Kiyai Pedatukan. Disebutkan juga riwayat yang sangat ringkas mengenainya, “Beliau sangat mendalami ajaran Islam, dan mungkin merupakan orang Indonesia pertama menuntut ilmu serta melakukan pengembaraan ke negeri-negeri Arab, Mesir, Syria, dan India serta negeri-negeri lainnya. Beliau diikuti oleh puteranya iaitu Haji Kemas Abdullah Azhary”(2).

Terakhir sekali biografi yang agak lengkap mengenai anaknya ditulis oleh Syeikh Yasin Padang dalam beberapa buah bukunya banyak dapat menolong ke arah jawaban kemusykilan-kemusykilan penyelidikan terhadap ulama ini.

PENDIDIKAN

Nama lengkapnya adalah As-Shufi as-Syeikh Muhammad Azhari bin Abdullah bin Muhammad Asyiquddin bin Shafiyuddin Abdullah al-’Alawi al-Husaini. Mengenai guru-guru beliau dalam beberapa tempat karyanya ada beliau catatkan di antaranya, “Maka inilah salasilah Thariqat al-Khalwatiyah as-Samaniyah, turun-turun tempat mengambil zikir dan kaifiyatnya bagi Wali Allah yang terlebih takut akan Allah Taala, iaitu Quthbur Rabbani dan arif yang shamadani, guru kita dan penghulu kita, iaitu asy-Syeikh Muhammad bin asy-Syeikh Abdul Karim as-Samani yang telah masyhur. Dan sesungguhnya telah mengambil talqin zikir ini oleh faqir Muhammad Azhari ibnu Abdullah al-Falimbani. Ia mengambil daripada asy-Syeikh Muhammad Aqib bin Hasanuddin al-Falimbani. Ia mengambil daripada asy-Syeikh Abdus Shamad al-Falimbani. Ia mengambil daripada Quthbul Akwan Saiyidinasy Syeikh Muhammad Saman al-Madani…”

Pada tempat yang lain Syeikh Muhammad Azhari al-Falimbani menyebut Syeikh Ma’ruf bin Abdullah (belum jelas apakah sama dengan Syeikh Abdullah bin Ma’ruf seperti yang tersebut di atas). Selain itu beliau menyebut bahwa menerima Thariqat Qadiriyah kepada Syeikh Muhammad Zainuddin as-Sumbawi. Ia mengambil daripada Syeikh Muhammad Mukrim, Mufti Hamad di Syam. Menurut Syeikh Muhammad Azhari al-Falimbani lagi bahwa Syeikh Muhammad Zainuddin as-Sumbawi itu adalah penyusun kitab Tuhfatul Qudsiyah.

Pada bacaan hadiah al-Fatihah pula disebut beberapa orang ulama, iaitu Syeikh Abdul Lathif Musyarri’, Syeikh Abdur Rahman Musyarri’, Syeikh Abdullah Amin al-Haji Bastam. Kemungkinan yang beliau sebutkan ini adalah guru-guru beliau, yang beliau sebut sebagai Syaikhuna.

Belajar

Selain sumber asli Syeikh Muhammad Azhari al-Falimbani sendiri seperti yang telah dinukil di atas, daripada sumber Syeikh Yasin Padang pula beliau menyebut nama-nama guru Syeikh Muhammad Azhari al-Falimbani itu. Bahwa beliau belajar kepada ayahnya Syeikh Abdullah. Syeikh Abdullah belajar kepada ayahnya Syeikh Asyiquddin. Syeikh Asyiquddin belajar kepada beberapa orang ulama iaitu Muhammad Murad as-Sandi, Muhammad bin Sulaiman al-Kurdi al-Madani, Muhammad bin Abdul Karim Saman, Abdul Wahhab at-Tantawi, Sa’id bin Hilal al-Makki. Semua ulama tersebut adalah murid kepada Ahmad bin Muhammad an-Nakhali, Abdullah bin Salim al-Basri dan Sayid Muhammad bin Abi Bakar asy-Syibli. Ketiga-tiga ulama ini adalah murid asy-Syamsu Muhammad bin al-’Ala al-Babili.

Kemudian Syeikh Yasin Padang menyebut pula daripada silsilah yang lain, bahwa Syeikh Muhammad Azhari al-Falimbani adalah murid kepada Syeikhah Fatimah binti Syeikh Abdus Shamad al-Falimbani. Syeikhah Fatimah ini adalah murid ayahnya sendiri, iaitu Syeikh Abdus Shamad al-Falimbani, sanad/silsilah beliau ini ada beberapa jalur, tetapi tidak disebutkan di sini.

Dari silsilah lainnya Syeikh Yasin Padang menyebut pula bahwa Syeikh Muhammad Azhari al-Falimbani murid kepada Sayid Ahmad bin Muhammad al-Hadhrawi. Beliau adalah murid kepada ayah dan datuknya asy-Syihab Ahmad bin Ahmad al-Mansuri. Beliau murid kepada Sayid Muhammad Murtadha az-Zabidi, Muhammad al-Amir al-Kabir, Abi Abdillah Muhammad bin ‘Aqilah al-Makki al-Ahdal dan Abdul Ghafur as-Sandi.

Kesimpulan daripada silsilah/sanad di atas dan hasil kajian dari karya-karya Syeikh Muhammad Azhari al-Falimbani sendiri yang menyebut nama beberapa orang ulama yang berasal dari Palembang, terutama yang menjadi rujukan utama dan pegangan kukuh bagi beliau ialah Syeikh Abdus Shamad al-Falimbani, bahkan Syeikh Muhammad Azhari adalah murid Fatimah anak Syeikh Abdus Shamad al-Falimbani, maka dapat dipastikan bahwa beliau sebagai ulama penyambung aktivitas-aktivitas penulisan ulama Palembang.

Pada pandangan dan pendapat saya sesudah Syeikh Abdus Shamad al-Falimbani, Palembang, Sumatera Selatan nampaknya dalam kekeringan ulama yang terjun ke dunia penulisan kitab. Dengan kemunculan Syeikh Muhammad Azhari al-Falimbani yang pertalian keilmuannya mempunyai hubungan dengan ulama-ulama Palembang secara asli, maka dapatlah kita anggap bahawa beliaulah tokoh terbesar ulama Palembang sesudah Syeikh Abdus Shamad al-Falimbani yang sangat terkenal itu.

KARYA-KARYA DAN PEMIKIRAN

Berikut ini karya-karya Syeikh Muhammad Azhari bin Abdullah al- Falimbani yang telah ditemui ialah:

1. ‘Atihyatur Rahman fi Bayani Qawa’idil Iman, ditulis pada tahun 1259 H/1843 M. Kitab ini banyak kali dicetak bersama karya gurunya Syeikh Muhammad Zainuddin bin Muhammad Badawi Sumbawi berjudul Sirajul Huda. ‘Athiyatur Rahman sentiasa dicetak di bahagian tepi Sirajul Huda

2. ‘Aqaidul Iman li Ma’rifatil Ilahir Rahman, diselesaikan di Mekah, 18 Safar 1309 Hijrah/1891 Masehi. Dicetak dengan huruf batu di Singapura pada 8 Syawal 1319 Hijrah/1901 Masehi, iaitu naskhah yang disalin oleh ‘Alwi bin Idrus al-’Aidrus.

3. Badi’uz Zaman fi Bayani ‘Aqaidil Iman, diselesaikan di Mekah, 21 Rabiulakhir 1310 Hijrah/1892 Masehi, cetakan pertama dan ketiga oleh Mathba’ah al-Miriyah al-Kainah, Mekah (pertama 1310 Hijrah dan ketiga 1329 Hijrah).

4. Bidayatur Rahman, 1324 Hijrah/1906 Masehi. Pernah dicetak oleh Mathba’ah al-Miriyah, Mekah, 1330 Hijrah/1911 Masehi.

5. Amalan Doa ‘Ukasyah Bergantung Makna Serta Dengan Syarahnya, tanpa disebutkan tarikh penulisan. Dicetak di tempat Haji Muhammad Sa’id bin Haji Arsyad, Singapura. Cetakan ini diusahakan oleh seorang muridnya Hasan bin Abdusy Syukur.

Tasawuf

Apabila kita mengkaji pemikiran Syeikh Muhammad Azhari al-Falimbani, maka sebahagian besar jalan pemikirannya menjurus kepada pemikiran tasawuf dan sedikit pemikirannya mengenai tauhid. Selain itu dari sudut sastra Melayu beliau juga menggubah beberapa untaian syair.

Menurut Syeikh Muhammad Azhari bahwa jalan tetap iman itu ada kalanya mengambil dalil daripada ayat al-Quran, hadis dan pandangan yang membawa kepada ‘ilmul yaqin‘, dan adakalanya dengan ‘musyahadah‘ akan ‘Kamal Sifat-Nya‘. Syeikh Muhammad Azhari, memetik pendapat Syeikh Tusi, mengenai martabat orang ‘ahli syuhud’, yang diuraikan dengan agak panjang.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s