The Indonesian Heros Historic Collections Part Eight(Tokoh Yang Sangat Populer Di Indonesia)

Cipto Mangunkusumo

Born: Pecangakan, Ambarawa, 1886
Died: New York, March 8, 1943
Buried: Watu Ceper, Ambarawa
Education: STOVIA (medical school) in Jakarta
Work Experience:
Government doctors in Demak
Solo practice physician in
Other Achievements:
– Successfully eradicate the plague (1910)
– Develop “Kartini Club”
Political Activities:
– Writing in the daily De Express
– Established the Indische Partij (1912)
– Forming a Committee of Bumiputera
– Volksraad
Struggle Experience:
– Banished to the Netherlands (1913)
– Prisoners at the city of Bandung
– Banished to Banda Neira (1927)
– Disposed to Ujungpandang
– From Ujungpandang moved to Sukabumi, West Java
– From Sukabumi moved to Jakarta
Signs Award:
– Star Order of Orange Nassau van from the Dutch government (the return)
Respect signs:
– Nominated as a National Hero
– His name is immortalized as the name of the General Hospital Center for Jakarta

Cipto Mangunkusumo doctor is a professional doctor who is better known as the hero of national independence. He is a cofounder of the Indische Partij, the first party party organizations are struggling to achieve independence of Indonesia and actively participate in the Committee on Bumiputera.

In addition, other active Bumiputera Committee, he also did a lot of struggles through his writings that his tone is always criticizing the Dutch government in Indonesia. Some associations are intended to arouse nationalism has also been established and cultivated. Its activities are always at odds with the Dutch made him often discarded and retained to various corners of the country and even into the Netherlands itself.

Cipto Mangunkusumo initial struggle, the man born Pecangakan, Ambarawa in 1886, it started since he often wrote essays that tell about the suffering of the people due to the Dutch colonization. Essays published by the Daily Express De Dutch government considered the effort to instill hatred against the Dutch reader.

When actively writing in De Express is, in fact he has worked as a government physician, in this case the Dutch government. The job he got after obtaining a diploma STOVIA (medical school) in Jakarta. At that time he was stationed in Demak. And that is where he wrote essays criticizing the Dutch colonization of his breath in Indonesia. As a result of these writings, he was dismissed from his job as a government doctor.

Not working as government physician hired by the Dutch government, making dr. Cipto the more intense a struggle. In 1912, he was with Douwes Dekker and Suwardi Suryaningrat (Ki Hajar Dewantara) founded the Indische Partij, a political party which is the first party to strive to achieve Indonesia’s independence.

When the centenary year of the independent Netherlands French colonial, Dutch colonial pemeritah in Indonesia are planning to celebrate on a large scale (in Indonesia).

The freedom fighter was offended by the plan. The Netherlands is considered not appropriate to celebrate its independence prominently in colonial countries such as Indonesia at that time. Doctors Cipto Mangunkusumo with the other fighters to form a special committee to protest the government’s intention Bumiputera Dutch. However, due to its activities in the Bumiputera Committee, in 1913, he was exiled to Holland. But not until a year, he was sent back to Indonesia because he suffered an attack of asthma.

Upon his return from the Netherlands, dr. Cipto do struggle through the Volksraad. There he continued criticism of the Dutch government and vice versa has always defended the interests of the people. Because of its activities in the Volksraad, he had another penalty from the Dutch government. He was forced by the Dutch left the Solo, the town where he lived at that time. And then, he was opening practice and is actively developing “Kartini Club” in the city.

From Solo he subsequently lived in Jakarta as a city jail. Although the status of prisoners of the city, which means that he was not allowed out of the city of Bandung without approval from the Dutch government, but the struggle is not to be receding.

In many ways he always found a form of activity to continue the movement as to make his home became a gathering place, discuss and debate the leaders of national movements in between such as Ir. Soekarno (Proclaimers / first President of Indonesia). Activities during the Bandung especially business leaders gather at his home national movement finally uncovered. He again had the sanction of the Dutch government. In 1927, he was banished from Jakarta to Banda Neira.

In Banda Neira, dr. Cipto crouch / wasted as a prisoner for thirteen years. From Banda Naire he moved to longer significant. And soon moved again to Sukabumi, West Java. But because the illness more severe asthma, while air Sukabumi not suitable for people with the disease, she moved back to Jakarta. Jakarta is the city last until the end of his life. Dr. Cipto Mangunkusumo died in Jakarta, March 8, 1943, and was buried in Watu Ceper, Ambarawa.

As a physician, dr. Cipto never get good achievement when successfully eradicate an outbreak of bubonic plague in the area of ​​Malang. Plague is an infectious disease caused by a bacillus that is transmitted by rodents. Because it is so contagious that many Dutch physicians are not willing to be assigned to eradicate the outbreak.

Kegemilangannya eradicate the plague made its name famous. Even the Dutch government which had previously been fired from her job as a doctor instead of government-star award bestowed the Order of Orange Nassau van to him. But the award of the Netherlands does not make her proud. The award is actually a return to the Dutch government.

Top service and sacrifice as a warrior defenders of the nation, state his name has been named a National Hero which was passed by Presidential Decree No.109 of 1964, dated May 2, 1964, and his name was immortalized as the name of the General Hospital in Central Jakarta.


Lahir: Pecangakan, Ambarawa, tahun 1886
Meninggal: Jakarta, 8 Maret 1943
Dimakamkan: Watu Ceper, Ambarawa
Pendidikan: STOVIA (Sekolah Dokter) di Jakarta
Pengalaman Pekerjaan:
Dokter pemerintah di Demak
Praktik dokter di Solo
Prestasi Lain:
– Berhasil membasmi wabah pes (1910)
– Mengembangkan “Kartini Club”
Kegiatan Politik:
– Menulis di harian De Express
– Mendirikan Indische Partij (1912)
– Membentuk Komite Bumiputera
– Volksraad
Pengalaman Perjuangan:
– Dibuang ke negeri Belanda (1913)
– Tahanan kota di Bandung
– Dibuang ke Banda Neira (1927)
– Dibuang ke Ujungpandang
– Dari Ujungpandang dipindahkan ke Sukabumi, Jawa Barat
– Dari Sukabumi dipindahkan ke Jakarta
Tanda Penghargaan:
– Bintang Orde van Oranye Nassau dari Pemerintah Belanda (dikembalikannya)
Tanda Penghormatan:
– Dinobatkan sebagai Pahlawan Kemerdekaan Nasional
– Namanya diabadikan sebagai nama Rumah Sakit Umum Pusat Jakarta

Dokter Cipto Mangunkusumo adalah seorang dokter profesional yang lebih dikenal sebagai tokoh pejuang kemerdekaan nasional. Dia merupakan salah seorang pendiri Indische Partij, organisasi partai partai pertama yang berjuang untuk mencapai Indonesia merdeka dan turut aktif di Komite Bumiputera.

Di samping itu, selain aktif di Komite Bumiputera, ia juga banyak melakukan perjuangan melalui tulisan-tulisan yang nadanya selalu mengkritik pemerintahan Belanda di Indonesia. Beberapa perkumpulan yang ditujukan untuk membangkitkan nasionalisme rakyat juga pernah didirikan dan dibinanya. Kegiatannya yang selalu berseberangan dengan Belanda tersebut membuat dirinya sering dibuang dan ditahan ke berbagai pelosok negeri bahkan ke negeri Belanda sendiri.

Awal perjuangan Cipto Mangunkusumo, pria kelahiran Pecangakan, Ambarawa tahun 1886, ini dimulai sejak dia kerap menulis karangan-karangan yang menceritakan tentang berbagai penderitaan rakyat akibat penjajahan Belanda. Karangan-karangan yang dimuat harian De Express itu oleh pemerintahan Belanda dianggap sebagai usaha untuk menanamkan rasa kebencian pembaca terhadap Belanda.

Ketika aktif menulis di De Express tersebut, sebenarnya dia sudah bekerja sebagai dokter pemerintah, dalam hal ini pemerintahan Belanda. Pekerjaan itu dia dapatkan setelah memperoleh ijazah STOVIA (Sekolah Dokter) di Jakarta. Saat itu dia ditugaskan di Demak. Dan dari sanalah dia menulis karangan-karangan yang nafasnya mengkritik penjajahan Belanda di Indonesia. Akibat tulisan tersebut, dia diberhentikan dari pekerjaannya sebagai dokter pemerintah.

Tidak bekerja sebagai dokter pemerintah yang diupah oleh pemerintahan Belanda, membuat dr. Cipto semakin intens melakukan perjuangan. Pada tahun 1912, dia bersama Douwes Dekker dan Suwardi Suryaningrat (Ki Hajar Dewantara) mendirikan Indische Partij, sebuah partai politik yang merupakan partai pertama yang berjuang untuk mencapai Indonesia merdeka.

Ketika peringatan seratus tahun bebasnya negeri Belanda dari penjajahan Perancis, pemeritah kolonial Belanda di Indonesia berencana merayakannya secara besar-besaran (di Indonesia).

Para pejuang kemerdekaan merasa tersinggung dengan rencana tersebut. Belanda dianggap tidaklah pantas merayakan kemerdekaannya secara menyolok di negara jajahan seperti Indonesia saat itu. Dokter Cipto Mangunkusumo bersama para pejuang lainnya membentuk Komite Bumiputera khusus memprotes maksud pemerintah Belanda tersebut. Namun akibat kegiatannya di Komite Bumiputera tersebut, pada tahun 1913, dia dibuang ke negeri Belanda. Tapi belum sampai setahun, dia sudah dikembalikan lagi ke Indonesia karena serangan penyakit asma yang dideritanya.

Sekembalinya dari negeri Belanda, dr. Cipto melakukan perjuangan melalui Volksraad. Di sana dia terus melakukan kritik terhadap pemerintah Belanda dan sebaliknya selalu membela kepentingan rakyat. Karena kegiatannya di Volksraad tersebut, dia kembali mendapat hukuman dari pemerintah Belanda. Ia dipaksa oleh Belanda meninggalkan Solo, kota dimana dia tinggal waktu itu. Padahal saat itu, ia sedang membuka praktik dokter dan sedang giat mengembangkan “Kartini Club” di kota itu.

Dari Solo ia selanjutnya tinggal di Bandung sebagai tahanan kota. Walaupun berstatus tahanan kota, yang berarti bahwa dirinya tidak diperbolehkan keluar dari kota Bandung tanpa persetujuan dari pemerintah Belanda, namun perjuangannya tidak menjadi surut.

Dengan berbagai cara dirinya selalu menemukan bentuk kegiatan untuk melanjutkan pergerakan seperti menjadikan rumahnya menjadi tempat berkumpul, berdiskusi dan berdebat para tokoh pergerakan nasional di antaranya seperti Ir. Soekarno (Proklamator/Presiden pertama RI). Kegiatan-kegiatannya selama di Bandung terutama usaha mengumpulkan para tokoh pergerakan nasional di rumahnya akhirnya terbongkar. Dia kembali mendapat sanksi dari pemerintah Belanda. Pada tahun 1927, dari Bandung dia dibuang ke Banda Neira.

Di Banda Neira, dr. Cipto mendekam/terbuang sebagai tahanan selama tiga belas tahun. Dari Banda Naire dia dipindahkan ke Ujungpandang. Dan tidak lama kemudian dipindahkan lagi ke Sukabumi, Jawa Barat. Namun karena penyakit asmanya semakin parah, sementara udara Sukabumi tidak cocok untuk penderita penyakit tersebut, dia dipindahkan lagi ke Jakarta. Jakarta merupakan kota terakhirnya hingga akhir hidupnya. Dr. Cipto Mangunkusumo meninggal di Jakarta, 8 Maret 1943, dan dimakamkan di Watu Ceper, Ambarawa.

Sebagai seorang dokter, dr. Cipto pernah memperoleh prestasi gemilang ketika berhasil membasmi wabah pes yang berjangkit di daerah Malang. Pes merupakan penyakit menular yang disebabkan oleh basil yang ditularkan oleh tikus. Karena sifatnya yang menular tersebut maka banyak dokter Belanda yang tidak bersedia ditugaskan untuk membasmi wabah tersebut.

Kegemilangannya membasmi wabah tersebut membuat namanya kesohor. Bahkan pemerintah Belanda yang sebelumnya telah memecatnya dari pekerjaannya sebagai dokter pemerintah malah menganugerahkan penghargaan Bintang Orde van Oranye Nassau kepadanya. Namun penghargaan dari Belanda tersebut tidak membuatnya bangga. Penghargaan tersebut malah dikembalikannya pada pemerintah Belanda.

Atas jasa dan pengorbanannya sebagai pejuang pembela bangsa, oleh negara namanya dinobatkan sebagai Pahlawan Kemerdekaan Nasional yang disahkan dengan SK Presiden RI No.109 Tahun 1964, Tanggal 2 Mei 1964 dan namanya pun diabadikan sebagai nama Rumah Sakit Umum Pusat di Jakarta.




Raden Mas Tirto Adisuryo
Not many know, who Tirto Adi Suryo, a pioneer, a masterpiece in the field of media and a real national movement. The story is summed up clearly in the books by Pramoedya Ananta Toer, the island of Buru tetralogy. That some time in the ban circulated by the Indonesian authorities and reemerge when the new order regime collapsed.
Raden Mas Suryo Adhi Tirto is aristocratic Javanese pioneers forming the consciousness of nationalism. Through his skill as a primbumi educated, born the first modern organization; States priyayi (SP). This organization is not long-lived, and never seem to lead anti-colonial political consciousness because it incorporated the Java priyayi who still adhere to the status kepriayiannya. But this organization has become the first media to discuss the structure of the native embryo of a Nation. Awareness of nation-forming in fact it comes from the newspaper called “Field priyayi” Adhi suryo Tirto established in 1907 with 125 times the 195mm format, with a thick 22-page published once a week. Why this paper is the founder of the bottom? Because through this paper the idea of ​​nationalism was first written and read and be forming the initial awareness of nationalism transcend differences in religion, ethnicity, and organization. The newspaper is published by the motto: “Voice of the people who terperintah”. We still remember how the role has been to determine the motion of writing the history of nations, including the formation of nation, for without writing it how hard it is to unite the archipelago There are more than three hundred different ethnic groups in Indonesia, each with its own cultural identity, and more than two hundred fifty different languages spoken in the islands (archipelago) of Indonesia.

Pioneer of the national press
Raden Mas Adhi Tirto Soerjo born in Blora in 1880 as Raden Djokomono. He is a student Stovia in Batavia who had not completed a “doctor of Java”. Since young, had sent writings to a number of newspapers in the Dutch language and Java. For two years, he helped the Indian Chabar Olanda, chairman Alex Regensburg, then moved into the editor Pembrita Betawi, chairman F. Wiggers, who later replaces.

After marrying R.A. Siti Habibah, he lived in the village of Pasircabe, 3 pal from the district capital of Bandung. This is where he was offered by the Regent of Cianjur, RAA Prawiradiredja, to publish their own newspapers. Terbitlah Soenda News in 1903. This is the first native newspaper in Malay, which dimodali, printed, handled by the natives.
Soenda News ceased publication in 1906. Adhi Tirto Soerjo live in Bogor, then with some Prijaji in Batavia, founded Sarikat Prijaji with members of approximately 700 people from various regions in the Netherlands Indies. Sarikat Prijaji want a newspaper to funnel their voices more than Soenda news that will not talk politics. So on January 1, 1907, was issued Prijaji Medan. As the name implies, is the voice of Medan Prijaji priyayi group.

In a busy life, Tirto Adhi Soerjo held a meeting in his home, in Bogor on March 27, 1909 to establish SI Trade Islamiyah. This association led by Achmad Badjenet, a merchant in Bogor. Adhi Tirto Soerjo itself serves as Secretary-Adviseur.
1909, Tirto Adhi Soerjo through Medan Prijaji dismantle the scandal that made aspirants Controller Purworejo A. Simon. Reported that A. Simon called “snot aap” (snot-nosed monkey) had conspired with the district officer in appointing a headman in the village of Bapangan. Headman is elected by majority vote instead arrested, sentenced and discharged into the Bay of Lampung Betung.

Coming home from exile, Tirto Adhi Soerjo fix Prijaji NV-Medan, HM Arsyad out of the company, now Tirto Adhi Soerjo himself became chairman of the company with the commissioner Haji Anang Tajib, a great merchant, and Haji Amir, a cloth merchant, both lived in Bandung.
The period began with the collapse of Medan Prijaji-news coverage about the Regent Apex, R. Duke Djojodiningrat (RA Kartini’s husband) who was accused of abusing power, the issue of May 17, 1911, then news that is considered insulting Ravenswaai Resident and Resident Boissevain accused of blocking the son of R. Djojodiningrat Duke of substitute father’s office. Adhi Tirto Soerjo press offenses and was exposed to the court decided to put waste to Ambon for 6 months. Meanwhile, the mismanagement led to severe financial difficulties and eventually declared bankrupt Prijaji NV Medan. Prijaji field ceased publication August 22, 1912. Fate worse, Tirto Adhi Soerjo held hostage its creditors so the new year 1913 he went into exile. Adhi Tirto Soerjo mental break and go with what’s already built part collapsed.

After returning from Ambon, he stayed at the Hotel Medan Prijaji (when he was in Ambon was renamed the Hotel Samirono by Goenawan). Between the years 1914-1918, Tirto Adhi Soerjo sick and eventually died on December 7, 1918. He was initially buried in Manggadua Jakarta later moved to Bogor in 1973. On her tombstone is written: “Pioneers of Independence; Pioneer Press Indonesia.” Layaklah he called the Father of the National Press.

However, the title of the Pioneer Press or the Pioneers of Independence is not enough. Of the total 129 national heroes that we have until the year 2006, there were only 3 people who had registered as a journalist namely, Abdul Muis, Douwes Dekker, and Adam Malik. Based on applicable government regulations (Law No. 33 of 1964, Act No. 22 of 1999, the PP government in 2000, Kep Mensos 1997), Adhi Soerjo Tirto is qualified to put forward as a national hero of West Java. Although he is not a Sundanese, West Java, he was acting in, lifting the name of West Java in a national movement, both through the press and in politics, even his grave was in West Java.


Tak banyak yang tahu, siapa Tirto Adi Suryo, seorang pelopor, masterpiece dalam bidang media dan pergerakan nasional yang sesungguhnya. Kisahnya terangkum jelas dalam buku-buku karya Pramudya Ananta Toer, Tetralogi Pulau Buru. Yang beberapa waktu lamanya di larang beredar oleh penguasa Indonesia dan kembali muncul ketika rezim orde baru runtuh.

Raden Mas Tirto Adhi Suryo adalah bangsawan jawa pelopor pembentuk kesadaran nasionalisme tersebut. Lewat kecakapannya sebagai primbumi terdidik, lahir organisasi modern pertama; Serikat Priayi (SP). Organisasi ini tidak berumur panjang, dan tidak pernah kelihatan memimpin kesadaran politik anti penjajah karena di dalamnya tergabung kaum priayi Jawa yang masih memegang teguh status kepriayiannya. Namun organisasi ini telah menjadi media pertama kali secara struktur kaum pribumi mendiskusikan embrio sebuah Nation. Kesadaran pembentuk nation justru sesungguhnya berasal dari koran bernama “Medan Priayi” yang didirikan Tirto Adhi suryo pada tahun 1907 dengan format 125 kali 195mm, dengan tebal 22 halaman terbit seminggu sekali. Kenapa koran ini yang menjadi peletak dasarnya? Karena lewat koran inilah gagasan nasionalisme tertulis pertama kali dan dibaca dan menjadi pembentuk kesadaran awal tentang nasionalisme melampaui perbedaan agama, suku, dan organisasi. Koran tersebut diterbitkan dengan semboyan: “Suara orang-orang yang terperintah”. Kita masih mengingat bagaimana peranan tulisan telah menentukan proses gerak sejarah bangsa termasuk pembentukan nation, karena tanpa tulisan maka betapa sulitnya menyatukan nusantara yang Terdapat lebih dari tigaratus etnik berbeda di Indonesia, masing-masing dengan identitas budayanya sendiri, dan lebih dari duaratus limapuluh bahasa berbeda yang diucapkan di kepulauan (archipelago)Indonesia.

Pelopor pers nasional
Raden Mas Tirto Adhi Soerjo lahir di Blora tahun 1880 sebagai Raden Djokomono. Ia adalah siswa Stovia di Batavia yang tidak tamat menjadi “dokter Jawa”. Sejak muda, sudah mengirimkan tulisan-tulisan ke sejumlah surat kabar dalam bahasa Belanda dan Jawa. Selama dua tahun, ia ikut membantu Chabar Hindia Olanda, pimpinan Alex Regensburg, kemudian pindah menjadi redaktur Pembrita Betawi, pimpinan F. Wiggers, yang kelak digantikannya.

Setelah menikah dengan R.A. Siti Habibah, ia tinggal di Desa Pasircabe, 3 pal dari ibu kota Kabupaten Bandung. Di sinilah ia ditawari oleh Bupati Cianjur, R.A.A. Prawiradiredja, untuk menerbitkan surat kabar sendiri. Terbitlah Soenda Berita pada tahun 1903. Inilah surat kabar pribumi pertama berbahasa Melayu, yang dimodali, dicetak, ditangani oleh pribumi.
Soenda Berita berhenti terbit tahun 1906. Tirto Adhi Soerjo tinggal di Bogor, kemudian bersama beberapa prijaji di Batavia, mendirikan Sarikat Prijaji dengan anggota sekira 700 orang dari berbagai daerah di Hindia Belanda. Sarikat Prijaji menginginkan sebuah surat kabar untuk corong suara mereka yang lebih dari Soenda Berita yang tak mau bicara politik. Maka pada tanggal 1 Januari 1907, diterbitkanlah Medan Prijaji. Sesuai dengan namanya, Medan Prijaji merupakan suara golongan priayi.

Dalam kesibukannya, Tirto Adhi Soerjo mengadakan rapat di rumahnya, di Bogor tanggal 27 Maret 1909 untuk mendirikan Sarekat Dagang Islamiyah. Perkumpulan ini dipimpin Achmad Badjenet, seorang saudagar di Bogor. Tirto Adhi Soerjo sendiri berkedudukan sebagai Sekretaris-Adviseur.
Tahun 1909, Tirto Adhi Soerjo melalui Medan Prijaji membongkar skandal yang dilakukan Aspiran Kontrolir Purworejo A. Simon. Diberitakan bahwa A. Simon yang disebutnya “snot aap” (monyet ingusan) telah bersekongkol dengan wedana dalam mengangkat seorang lurah di Desa Bapangan. Lurah yang terpilih dengan suara terbanyak malah ditangkap, dikenakan hukuman dan dibuang ke Teluk Betung Lampung.

Sepulang dari pembuangan, Tirto Adhi Soerjo membenahi NV-Medan Prijaji, H.M. Arsyad keluar dari perusahaan, kini Tirto Adhi Soerjo sendiri menjadi pemimpin perusahaan dengan komisaris Haji Anang Tajib, seorang saudagar besar, dan Haji Amir, saudagar kain, keduanya tinggal di Bandung.
Masa keruntuhan Medan Prijaji dimulai dengan pemberitaan-pemberitaan tentang Bupati Rembang, R. Adipati Djojodiningrat (suami R.A. Kartini) yang dituduh menyalahgunakan kekuasaan, pada terbitan 17 Mei 1911, kemudian pemberitaan yang dianggap menghina Residen Ravenswaai dan Residen Boissevain yang dituduh menghalangi putra R. Adipati Djojodiningrat menggantikan jabatan ayahnya. Tirto Adhi Soerjo pun terkena delik pers dan diputus pengadilan untuk dihukum buang ke Ambon selama 6 bulan. Sementara itu, kesalahan manajemen menyebabkan kesulitan keuangan yang berat hingga akhirnya NV Medan Prijaji dinyatakan pailit. Medan Prijaji berhenti terbit 22 Agustus 1912. Nasib lebih buruk lagi, Tirto Adhi Soerjo disandera para kreditornya sehingga baru tahun 1913 ia pergi ke tempat pembuangannya. Tirto Adhi Soerjo pergi dengan mental patah dan apa yang sudah dibangunnya ikut runtuh.

Sekembali dari Ambon, ia tinggal di Hotel Medan Prijaji (ketika ia sedang di Ambon namanya diubah menjadi Hotel Samirono oleh Goenawan). Antara tahun 1914-1918, Tirto Adhi Soerjo sakit-sakitan dan akhirnya meninggal pada tanggal 7 Desember 1918. Mula-mula ia dimakamkan di Manggadua Jakarta kemudian dipindahkan ke Bogor tahun 1973. Di nisannya tertulis: “Perintis Kemerdekaan; Perintis Pers Indonesia”. Layaklah ia disebut sebagai Bapak Pers Nasional.

Namun, gelar Perintis Pers atau Perintis Kemerdekaan saja tidak cukup. Dari jumlah 129 pahlawan nasional yang kita miliki hingga tahun 2006, hanya ada 3 orang yang tercatat pernah sebagai wartawan yaitu, Abdul Muis, Douwes Dekker, dan Adam Malik. Berdasarkan peraturan pemerintah yang berlaku (UU No 33 Tahun 1964, UU No 22 Tahun 1999, PP Pemerintah tahun 2000, Kep Mensos tahun 1997), Tirto Adhi Soerjo ini memenuhi syarat untuk diajukan sebagai pahlawan nasional dari Jawa Barat. Meskipun ia bukan orang Sunda, ia berkiprah di Jawa Barat, mengangkat nama Jawa Barat dalam pergerakan nasional, baik melalui pers maupun politik, bahkan kuburannya pun di Jawa Barat.




                    B.J Habibie

Prof. DR (HC). Ing. Dr. Sc. Mult. Bacharuddin Jusuf Habibie atau dikenal sebagai BJ Habibie (73 tahun) merupakan pria Pare-Pare (Sulawesi Selatan) kelahiran 25 Juni 1936. Habibie menjadi Presiden ke-3 Indonesia selama 1.4 tahun dan 2 bulan menjadi Wakil Presiden RI ke-7. Habibie merupakan “blaster” antara orang Jawa [ibunya] dengan orang Makasar/Pare-Pare [ayahnya].

Dimasa kecil, Habibie telah menunjukkan kecerdasan dan semangat tinggi pada ilmu pengetahuan dan teknologi khususnya Fisika. Selama enam bulan, ia kuliah di Teknik Mesin Institut Teknologi Bandung (ITB), dan dilanjutkan ke Rhenisch Wesfalische Tehnische Hochscule – Jerman pada 1955. Dengan dibiayai oleh ibunya, R.A. Tuti Marini Puspowardoyo, Habibie muda menghabiskan 10 tahun untuk menyelesaikan studi S-1 hingga S-3 di Aachen-Jerman.

Berbeda dengan rata-rata mahasiswa Indonesia yang mendapat beasiswa di luar negeri, kuliah Habibie (terutama S-1 dan S-2) dibiayai langsung oleh Ibunya yang melakukan usaha catering dan indekost di Bandung setelah ditinggal pergi suaminya (ayah Habibie). Habibie mengeluti bidang Desain dan Konstruksi Pesawat di Fakultas Teknik Mesin. Selama lima tahun studi di Jerman akhirnya Habibie memperoleh gelar Dilpom-Ingenenieur atau diploma teknik (catatan : diploma teknik di Jerman umumnya disetarakan dengan gelar Master/S2 di negara lain) dengan predikat summa cum laude.

Pak Habibie melanjutkan program doktoral setelah menikahi teman SMA-nya, Ibu Hasri Ainun Besari pada tahun 1962. Bersama dengan istrinya tinggal di Jerman, Habibie harus bekerja untuk membiayai biaya kuliah sekaligus biaya rumah tangganya. Habibie mendalami bidang Desain dan Konstruksi Pesawat Terbang. Tahun 1965, Habibie menyelesaikan studi S-3 nya dan mendapat gelar Doktor Ingenieur (Doktor Teknik) dengan indeks prestasi summa cum laude.

Karir di Industri

Selama menjadi mahasiswa tingkat doktoral, BJ Habibie sudah mulai bekerja untuk menghidupi keluarganya dan biaya studinya. Setelah lulus, BJ Habibie bekerja di Messerschmitt-Bölkow-Blohm atau MBB Hamburg (1965-1969 sebagai Kepala Penelitian dan Pengembangan pada Analisis Struktrur Pesawat Terbang, dan kemudian menjabat Kepala Divisi Metode dan Teknologi pada industri pesawat terbang komersial dan militer di MBB (1969-1973). Atas kinerja dan kebriliannya, 4 tahun kemudian, ia dipercaya sebagai Vice President sekaligus Direktur Teknologi di MBB periode 1973-1978 serta menjadi Penasihast Senior bidang teknologi untuk Dewan Direktur MBB (1978 ). Dialah menjadi satu-satunya orang Asia yang berhasil menduduki jabatan nomor dua di perusahaan pesawat terbang Jerman ini.

Sebelum memasuki usia 40 tahun, karir Habibie sudah sangat cemerlang, terutama dalam desain dan konstruksi pesawat terbang. Habibie menjadi “permata” di negeri Jerman dan iapun mendapat “kedudukan terhormat”, baik secara materi maupun intelektualitas oleh orang Jerman. Selama bekerja di MBB Jerman, Habibie menyumbang berbagai hasil penelitian dan sejumlah teori untuk ilmu pengetahuan dan teknologi dibidang Thermodinamika, Konstruksi dan Aerodinamika. Beberapa rumusan teorinya dikenal dalam dunia pesawat terbang seperti “Habibie Factor“, “Habibie Theorem” dan “Habibie Method“.

Kembali ke Indonesia

Pada tahun 1968, BJ Habibie telah mengundang sejumlah insinyur untuk bekerja di industri pesawat terbang Jerman. Sekitar 40 insinyur Indonesia akhirnya dapat bekerja di MBB atas rekomendasi Pak Habibie. Hal ini dilakukan untuk mempersiapkan skill dan pengalaman (SDM) insinyur Indonesia untuk suatu saat bisa kembali ke Indonesia dan membuat produk industri dirgantara (dan kemudian maritim dan darat). Dan ketika (Alm) Presiden Soeharto mengirim Ibnu Sutowo ke Jerman untuk menemui seraya membujuk Habibie pulang ke Indonesia, BJ Habibie langsung bersedia dan melepaskan jabatan, posisi dan prestise tinggi di Jerman. Hal ini dilakukan BJ Habibie demi memberi sumbangsih ilmu dan teknologi pada bangsa ini. Pada 1974 di usia 38 tahun, BJ Habibie pulang ke tanah air. Iapun diangkat menjadi penasihat pemerintah (langsung dibawah Presiden) di bidang teknologi pesawat terbang dan teknologi tinggi hingga tahun 1978. Meskipun demikian dari tahun 1974-1978, Habibie masih sering pulang pergi ke Jerman karena masih menjabat sebagai Vice Presiden dan Direktur Teknologi di MBB.

Habibie mulai benar-benar fokus setelah ia melepaskan jabatan tingginya di Perusahaan Pesawat Jerman MBB pada 1978. Dan sejak itu, dari tahun 1978 hingga 1997, ia diangkat menjadi Menteri Negara Riset dan Teknologi (Menristek) sekaligus merangkap sebagai Ketua Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT). Disamping itu Habibie juga diangkat sebagai Ketua Dewan Riset Nasional dan berbagai jabatan lainnya.

Ketika menjadi Menristek, Habibie mengimplementasikan visinya yakni membawa Indonesia menjadi negara industri berteknologi tinggi. Ia mendorong adanya lompatan dalam strategi pembangunan yakni melompat dari agraris langsung menuju negara industri maju. Visinya yang langsung membawa Indonesia menjadi negara Industri mendapat pertentangan dari berbagai pihak, baik dalam maupun luar negeri yang menghendaki pembangunan secara bertahap yang dimulai dari fokus investasi di bidang pertanian. Namun, Habibie memiliki keyakinan kokoh akan visinya, dan ada satu “quote” yang terkenal dari Habibie yakni :

“I have some figures which compare the cost of one kilo of airplane compared to one kilo of rice. One kilo of airplane costs thirty thousand US dollars and one kilo of rice is seven cents. And if you want to pay for your one kilo of high-tech products with a kilo of rice, I don’t think we have enough.”

Kalimat diatas merupakan senjata Habibie untuk berdebat dengan lawan politiknya. Habibie ingin menjelaskan mengapa industri berteknologi itu sangat penting. Dan ia membandingkan harga produk dari industri high-tech (teknologi tinggi) dengan hasil pertanian. Ia menunjukkan data bahwa harga 1 kg pesawat terbang adalah USD 30.000 dan 1 kg beras adalah 7 sen (USD 0,07). Artinya 1 kg pesawat terbang hampir setara dengan 450 ton beras. Jadi dengan membuat 1 buah pesawat dengan massa 10 ton, maka akan diperoleh beras 4,5 juta ton beras.

Pola pikir Pak Habibie disambut dengan baik oleh Pak Harto.Pres. Soeharto pun bersedia menggangarkan dana ekstra dari APBN untuk pengembangan proyek teknologi Habibie. Dan pada tahun 1989, Suharto memberikan “kekuasan” lebih pada Habibie dengan memberikan kepercayaan Habibie untuk memimpin industri-industri strategis seperti Pindad, PAL, dan PT IPTN.




Anda pasti kenal dengan Bapak Ki Hadjar Dewantara, tokoh yang berjasa memajukan pendidikan di Indonesia. Ki Hadjar yang bernama asli R.M. Suwardi Suryaningrat merupakan tokoh pendidikan nasional, beliau ahir di Yogyakarta, 2 Mei 1889 selanjutnya disingkat sebagai “Soewardi” atau “KHD”) adalah aktivis pergerakan kemerdekaan Indonesia, kolumnis, politisi, dan pelopor pendidikan bagi kaum pribumi Indonesia dari zaman penjajahan Belanda.

Tanggal kelahirannya sekarang diperingati di Indonesia sebagai Hari Pendidikan Nasional. Bagian dari semboyan ciptaannya, tut wuri handayani, menjadi slogan Departemen Pendidikan Nasional. Namanya diabadikan sebagai salah sebuah nama kapal perang Indonesia, KRI Ki Hajar Dewantara. Potret dirinya diabadikan pada uang kertas pecahan 20.000 rupiah.

Masa muda dan awal karier

 Ki Hadjar Dewantara Muda:

Perjalanan hidupnya benar-benar diwarnai perjuangan dan pengabdian demi kepentingan bangsanya. Ia menamatkan Sekolah Dasar di ELS (Sekolah Dasar Belanda) Kemudian sempat melanjut ke STOVIA (Sekolah Dokter Bumiputera), tapi tidak sampai tamat karena sakit. Kemudian ia bekerja sebagai wartawan di beberapa surat kabar antara lain Sedyotomo, Midden Java, De Express, Oetoesan Hindia, Kaoem Moeda, Tjahaja Timoer dan Poesara. Pada masanya, ia tergolong penulis handal. Tulisan-tulisannya sangat komunikatif, tajam dan patriotik sehingga mampu membangkitkan semangat antikolonial bagi pembacanya.

Selain ulet sebagai seorang wartawan muda, ia juga aktif dalam organisasi sosial dan politik. Sejak berdirinya Boedi Oetomo (BO) tahun 1908, ia aktif di seksi propaganda untuk menyosialisasikan dan menggugah kesadaran masyarakat Indonesia (terutama Jawa) pada waktu itu mengenai pentingnya persatuan dan kesatuan dalam berbangsa dan bernegara. Kongres pertama BO di Yogyakarta juga diorganisasi olehnya. Soewardi muda juga menjadi anggota organisasi Insulinde, suatu organisasi multietnik yang didominasi kaum Indo yang memperjuangkan pemerintahan sendiri di Hindia Belanda, atas pengaruh Ernest Douwes Dekker (DD).

Mendirikan Indische Partij (partai politik pertama yang beraliran nasionalisme Indonesia)
Bersama Douwes Dekker (Dr. Danudirdja Setyabudhi) dan dr. Cipto Mangoenkoesoemo, Ki Hadjar Dewantara mendirikan Indische Partij (partai politik pertama yang beraliran nasionalisme Indonesia) pada tanggal 25 Desember 1912 yang bertujuan mencapai Indonesia merdeka. Mereka bertiga di juluki Tiga Serangkai

Tiga Serangkai:


Anda pasti kenal dengan Bapak Ki Hadjar Dewantara, tokoh yang berjasa memajukan pendidikan di Indonesia. Ki Hadjar yang bernama asli R.M. Suwardi Suryaningrat merupakan tokoh pendidikan nasional, beliau ahir di Yogyakarta, 2 Mei 1889 selanjutnya disingkat sebagai “Soewardi” atau “KHD”) adalah aktivis pergerakan kemerdekaan Indonesia, kolumnis, politisi, dan pelopor pendidikan bagi kaum pribumi Indonesia dari zaman penjajahan Belanda.

Tanggal kelahirannya sekarang diperingati di Indonesia sebagai Hari Pendidikan Nasional. Bagian dari semboyan ciptaannya, tut wuri handayani, menjadi slogan Departemen Pendidikan Nasional. Namanya diabadikan sebagai salah sebuah nama kapal perang Indonesia, KRI Ki Hajar Dewantara. Potret dirinya diabadikan pada uang kertas pecahan 20.000 rupiah.

Masa muda dan awal karier

Spoiler for Ki Hadjar Dewantara Muda:

Perjalanan hidupnya benar-benar diwarnai perjuangan dan pengabdian demi kepentingan bangsanya. Ia menamatkan Sekolah Dasar di ELS (Sekolah Dasar Belanda) Kemudian sempat melanjut ke STOVIA (Sekolah Dokter Bumiputera), tapi tidak sampai tamat karena sakit. Kemudian ia bekerja sebagai wartawan di beberapa surat kabar antara lain Sedyotomo, Midden Java, De Express, Oetoesan Hindia, Kaoem Moeda, Tjahaja Timoer dan Poesara. Pada masanya, ia tergolong penulis handal. Tulisan-tulisannya sangat komunikatif, tajam dan patriotik sehingga mampu membangkitkan semangat antikolonial bagi pembacanya.

Selain ulet sebagai seorang wartawan muda, ia juga aktif dalam organisasi sosial dan politik. Sejak berdirinya Boedi Oetomo (BO) tahun 1908, ia aktif di seksi propaganda untuk menyosialisasikan dan menggugah kesadaran masyarakat Indonesia (terutama Jawa) pada waktu itu mengenai pentingnya persatuan dan kesatuan dalam berbangsa dan bernegara. Kongres pertama BO di Yogyakarta juga diorganisasi olehnya. Soewardi muda juga menjadi anggota organisasi Insulinde, suatu organisasi multietnik yang didominasi kaum Indo yang memperjuangkan pemerintahan sendiri di Hindia Belanda, atas pengaruh Ernest Douwes Dekker (DD).

Mendirikan Indische Partij (partai politik pertama yang beraliran nasionalisme Indonesia)
Bersama Douwes Dekker (Dr. Danudirdja Setyabudhi) dan dr. Cipto Mangoenkoesoemo, Ki Hadjar Dewantara mendirikan Indische Partij (partai politik pertama yang beraliran nasionalisme Indonesia) pada tanggal 25 Desember 1912 yang bertujuan mencapai Indonesia merdeka. Mereka bertiga di juluki Tiga Serangkai

Spoiler for Tiga Serangkai:

Mereka berusaha mendaftarkan organisasi ini untuk memperoleh status badan hukum pada pemerintah kolonial Belanda. Tetapi pemerintah kolonial Belanda melalui Gubernur Jendral Idenburg berusaha menghalangi kehadiran partai ini dengan menolak pendaftaran itu pada tanggal 11 Maret 1913. Alasan penolakannya adalah karena organisasi ini dianggap dapat membangkitkan rasa nasionalisme rakyat dan menggerakan kesatuan untuk menentang pemerintah kolonial Belanda.

Kemudian setelah ditolaknya pendaftaran status badan hukum Indische Partij ia pun ikut membentuk Komite Bumipoetra pada November 1913. Komite itu sekaligus sebagai komite tandingan dari Komite Perayaan Seratus Tahun Kemerdekaan Bangsa Belanda. Komite Boemipoetra itu melancarkan kritik terhadap Pemerintah Belanda yang bermaksud merayakan seratus tahun bebasnya negeri Belanda dari penjajahan Prancis dengan menarik uang dari rakyat jajahannya untuk membiayai pesta perayaan tersebut.

Sehubungan dengan rencana perayaan itu, ia pun mengkritik lewat tulisan berjudul Als Ik Eens Nederlander Was (Seandainya Aku Seorang Belanda) dan Een voor Allen maar Ook Allen voor Een (Satu untuk Semua, tetapi Semua untuk Satu Juga). Tulisan Seandainya Aku Seorang Belanda yang dimuat dalam surat kabar de Expres milik dr. Douwes Dekker itu antara lain berbunyi:

“Sekiranya aku seorang Belanda, aku tidak akan menyelenggarakan pesta-pesta kemerdekaan di negeri yang kita sendiri telah merampas kemerdekaannya. Sejajar dengan jalan pikiran itu, bukan saja tidak adil, tetapi juga tidak pantas untuk menyuruh si inlander memberikan sumbangan untuk dana perayaan itu.
Pikiran untuk menyelenggarakan perayaan itu saja sudah menghina mereka dan sekarang kita garuk pula kantongnya. Ayo teruskan penghinaan lahir dan batin itu! Kalau aku seorang Belanda. Apa yang menyinggung perasaanku dan kawan-kawan sebangsaku terutama ialah kenyataan bahwa bangsa inlander diharuskan ikut mengongkosi suatu pekerjaan yang ia sendiri tidak ada kepentingannya sedikitpun”.

Masa Pengasingan
Akibat karangannya itu, pemerintah kolonial Belanda melalui Gubernur Jendral Idenburg menjatuhkan hukuman tanpa proses pengadilan, berupa hukuman internering (hukum buang) yaitu sebuah hukuman dengan menunjuk sebuah tempat tinggal yang boleh bagi seseorang untuk bertempat tinggal. Ia pun dihukum buang ke Pulau Bangka.

Douwes Dekker dan Cipto Mangoenkoesoemo merasakan rekan seperjuangan diperlakukan tidak adil. Mereka pun menerbitkan tulisan yang bernada membela Soewardi. Tetapi pihak Belanda menganggap tulisan itu menghasut rakyat untuk memusuhi dan memberontak pada pemerinah kolonial. Akibatnya keduanya juga terkena hukuman internering. Douwes Dekker dibuang di Kupang dan Cipto Mangoenkoesoemo dibuang ke pulau Banda.

Namun mereka menghendaki dibuang ke Negeri Belanda karena di sana mereka bisa memperlajari banyak hal dari pada didaerah terpencil. Akhirnya mereka diijinkan ke Negeri Belanda sejak Agustus 1913 sebagai bagian dari pelaksanaan hukuman.

Kesempatan itu dipergunakan untuk mendalami masalah pendidikan dan pengajaran, sehingga Raden Mas Soewardi Soeryaningrat berhasil memperoleh Europeesche Akte.
Kemudian ia kembali ke tanah air di tahun 1918. Di tanah air ia mencurahkan perhatian di bidang pendidikan sebagai bagian dari alat perjuangan meraih kemerdekaan.

Mendirikan Taman Siswa

Spoiler for Taman Siswa:

Setelah pulang dari pengasingan, bersama rekan-rekan seperjuangannya, ia pun mendirikan sebuah perguruan yang bercorak nasional, Nationaal Onderwijs Instituut Tamansiswa (Perguruan Nasional Tamansiswa) pada 3 Juli 1922. Perguruan ini sangat menekankan pendidikan rasa kebangsaan kepada peserta didik agar mereka mencintai bangsa dan tanah air dan berjuang untuk memperoleh kemerdekaan.

Tidak sedikit rintangan yang dihadapi dalam membina Taman Siswa. Pemerintah kolonial Belanda berupaya merintanginya dengan mengeluarkan Ordonansi Sekolah Liar pada 1 Oktober 1932. Tetapi dengan kegigihan memperjuangkan haknya, sehingga ordonansi itu kemudian dicabut.

Di tengah keseriusannya mencurahkan perhatian dalam dunia pendidikan di Tamansiswa, ia juga tetap rajin menulis. Namun tema tulisannya beralih dari nuansa politik ke pendidikan dan kebudayaan berwawasan kebangsaan. Tulisannya berjumlah ratusan buah. Melalui tulisan-tulisan itulah dia berhasil meletakkan dasar-dasar pendidikan nasional bagi bangsa Indonesia.

Pengabdian di masa Indonesia Merdeka
Setelah zaman kemedekaan, Ki hajar Dewantara pernah menjabat sebagai Menteri Pendidikan, Pengajaran dan Kebudayaan yang pertama. Nama Ki Hadjar Dewantara bukan saja diabadikan sebagai seorang tokoh dan pahlawan pendidikan (bapak Pendidikan Nasional) yang tanggal kelahirannya 2 Mei dijadikan hari Pendidikan Nasional, tetapi juga ditetapkan sebagai Pahlawan Pergerakan Nasional melalui surat keputusan Presiden RI No.305 Tahun 1959, tanggal 28 November 1959. Penghargaan lain yang diterimanya adalah gelar Doctor Honoris Causa dari Universitas Gajah Mada pada tahun 1957.

Akhir Hayat
Dua tahun setelah mendapat gelar Doctor Honoris Causa itu, ia meninggal dunia pada tanggal 28 April 1959 di Yogyakarta dan dimakamkan di sana.

Spoiler for Makam Ki Hadjar Dewantara :

Kemudian oleh pihak penerus perguruan Taman Siswa, didirikan Museum Dewantara Kirti Griya, Yogyakarta, untuk melestarikan nilai-nilai semangat perjuangan Ki Hadjar Dewantara. Dalam museum ini terdapat benda-benda atau karya-karya Ki Hadjar sebagai pendiri Tamansiswa dan kiprahnya dalam kehidupan berbangsa.


Spoiler for Museum Dewantara Kirti Griya :



Perjalanan hidupnya benar-benar diwarnai perjuangan dan pengabdian demi kepentingan bangsanya. Ia menamatkan Sekolah Dasar di ELS (Sekolah Dasar Belanda) Kemudian sempat melanjut ke STOVIA (Sekolah Dokter Bumiputera), tapi tidak sampai tamat karena sakit. Kemudian ia bekerja sebagai wartawan di beberapa surat kabar antara lain Sedyotomo, Midden Java, De Express, Oetoesan Hindia, Kaoem Moeda, Tjahaja Timoer dan Poesara. Pada masanya, ia tergolong penulis handal. Tulisan-tulisannya sangat komunikatif, tajam dan patriotik sehingga mampu membangkitkan semangat antikolonial bagi pembacanya.Selain ulet sebagai seorang wartawan muda, ia juga aktif dalam organisasi sosial dan politik. Sejak berdirinya Boedi Oetomo (BO) tahun 1908, ia aktif di seksi propaganda untuk menyosialisasikan dan menggugah kesadaran masyarakat Indonesia (terutama Jawa) pada waktu itu mengenai pentingnya persatuan dan kesatuan dalam berbangsa dan bernegara. Kongres pertama BO di Yogyakarta juga diorganisasi olehnya. Soewardi muda juga menjadi anggota organisasi Insulinde, suatu organisasi multietnik yang didominasi kaum Indo yang memperjuangkan pemerintahan sendiri di Hindia Belanda, atas pengaruh Ernest Douwes Dekker (DD).Mendirikan Indische Partij (partai politik pertama yang beraliran nasionalisme Indonesia)
Bersama Douwes Dekker (Dr. Danudirdja Setyabudhi) dan dr. Cipto Mangoenkoesoemo, Ki Hadjar Dewantara mendirikan Indische Partij (partai politik pertama yang beraliran nasionalisme Indonesia) pada tanggal 25 Desember 1912 yang bertujuan mencapai Indonesia merdeka. Mereka bertiga di juluki Tiga Serangkai



Tjilik Riwut: Pahlawan Dayak-Nasional

Seorang yang bangga akan tanah leluhurnya serta selalu menyatakan dirinya sebagai “orang hutan” karena ia lahir dan tumbuh besar di belantara hutan Kalimantan. Ia lahir di Katunen, Kasongan, tepatnya Kabupaten Katingan, Kalimantan Tengah. Ia adalah seorang yang mencintai alam dan dan seorang yang mempunyai pendirian yang kuat yang dapat melihat sekitarnya dengan dasar yang kokoh terutama mengenai budaya Dayak.

Ketika Ia menginjak usia remaja, ia sering pergi seorang diri menuju Bukit Batu, untuk bertapa. Pada waktu melakukan pertapaan inilah ia memperoleh petunjuk pertama kali yang mengarahkannya untuk menyeberangi lautan menuju ke Pulau Jawa. Pada jaman dulu bisa dibayangkan keterbatasan sarana transportasi apalagi sarana komunikasinya sangatlah sulit. Unruk mencapai pulau Jawa ia tak kenal lelah dan putus asa, halangan serta rintangan dianggapnya sebagai pemacu semangat untuk mencapai sesuatu yang dicita-citakan. Segala macam cara ia coba untuk melakukannya baik itu ia harus berjalan kaki menerobos lebatnya belantara Kalimantan, menyusuri sungai menggunakan perahu maupun rakit, agar ia dapat mencapai pulau Jawa di seberang laut sana. Akhirnya, ia pun sampai juga di Banjarmasin, sekarang ibukota Kalimantan Selatan, dan di sinilah ia mendapatkan pekerjaan yang akan mengantarkannya ke tempat tujuan, yaitu Pulau Jawa.

Pada awal perjalanan karirnya (1940) di mulai menjadi seorang pemimpin redaksi majalah Pakat Dayak bersama “Suara Pakat”. Koresponden Harian Pemandangan, pimpinan M. Tambran. Dan juga koresponden Harian Pembangunan, pimpinan Sanusi Pane, seorang sastrawan Indonesia angkatan pujangga baru. Ia juga menjadi salah seorang tokoh yang mewakili 142 suku Dayak yang berada di pedalaman Kalimantan (185.000 jiwa) yang menyatakan diri dan melaksanakan Sumpah Setia dengan upacara adat leluhur suku Dayak kepada pemerintah Republik Indonesia (17 Desember 1946). Ia adalah putra Dayak yang menjadi seorang anggota KNIP (1946 – 1949). Ia juga berjasa dalam memimpin Operasi penerjunan Pasukan Payung yang pertama kali dalam sejarah Angkatan Bersenjata Republik indonesia (17 Oktober 1947), tepatnya di desa Sambi, Pangkalanbun. Dengan pasukan MN 1001. Peristiwa ini kemudian ditetapkan sebagai hari jadi Pasukan Khas TNI-AU.

Dalam suatu kesempatan, ia akhirnya dapat pulang kembali ke tanah leluhurnya, dan kembali bertapa di Bukit Batu. Pada pertapaannya kali ini ia memohon petunjuk dari Yang Maha Kuasa untuk perjuangannya melawan penjajah yang pada saat itu sedang “bertengger” di Indonesia. Dalam kesempatan itu ia pun bernazar untuk tidak menikah sebelum Indonesia merdeka. Setelah ia selesai melakukan pertapaanya, ia memperoleh suatu benda, yaitu sebuah batu yang berbentuk seperti daun telinga. Petunjuk yang ia peroleh sewaktu bertapa mengatakan bahwa batu yang ia peroleh itu dapat dipergunakan untuk mendengar dan memantau musuh apabila di letakkan berdekatan dengan daun telinganya. Namun setelah kemerdekaan Indonesia, batu itu pun gaib keberadaannya.

Sebagai seorang pejuang yang sangat mencintai kebudayaan leluhurnya, ia sangat fanatik dengan angka 17, yaitu angka kemerdekaan Republik Indonesia 17 Agustus 1945. Karena begitu menyatunya dengan angka 17 ini pada dirinya maka sebagaian besar kehidupannya dipengaruhi oleh angka 17, berikut beberapa contohnya.

1. Pelaksanaan sumpah setia 142 suku di pedalaman Kalimantan yang ia wakili kepada pemerintah Republik Indonesia secara adat dihadapan Presiden Soekarno di Gedung Agung, Yogyakarta 17 Desember 1946.
2. Desa Pahandut yang merupakan cikal bakal dari ibukota Kalimantan Tengah, yaitu Palangka Raya. Merupakan desa yang ke-17 yang dihitung dari sungai Kahayan.
3. Peletakkan batu pertama kota Palangka Raya yang melambangkan perjuangan yang telah memberikan hasil kepada masyarakatnya, pada tanggal 17 Juli 1957.
4. Ia menjadi gubernur yang pertama bagi provinsi yang ke-17, yaitu provinsi Kalimantan Tengah
5. Kelahiran provinsi Kalimantan Tengah tepat pada masa pemerintahan Republik Indonesia Kabinet yang ke-17.

Akhirnya pada tanggal 17 Agustus 1987, putra terbaik Dayak ini tutup usia dalam usia 69 tahun di Rumah Sakit Suaka Insan, Banjarmasin, Kalimantan Selatan. Begitu banyak jasa dan pengorbanan yang telah dilakukan oleh seorang putra Dayak ini, bahaya pun selalu mengintai keselamatannya. Namun berbekal keyakinan teguh serta semangat yang membara akan cita-cita yang telah lama diimpikannya, ia pun melakukan tugasnya tanpa kenal lelah apalagi kata menyerah dalam dirinya. Tidaklah kecil jasa seorang Tjilik Riwut kepada bangsa Indonesia. Haruslah generasi sekarang ini mengenang jasa-jasanya agar dapat memetik keteladanan, kegigihan serta perjuangan hidupnya agar dapat dijadikan panutan bagi kita.

Atas jasa-jasanya yang telah memperjuangkan kemerdekaan Indonesia serta membangun provinsi Kalimantan Tengah maka, pada masa pemerintahan presiden B.J. Habibie, ia ditetapkan sebagai pahlawan nasional Indonesia. untuk mengingat jasa seorang Tjilik Riwut, putra Kasongan sungai Katingan ini diabadikan pada berbagai tempat di Kalimantan Tengah, diantaranya bandara Palangka Raya, jalan terpanjang di Kalimantan yang menghubungkan kota Palangka Raya hingga daerah Kotawaringin.

gw bangga bro jdi putra dayak kalimantan tengah..



Gesang, Sang Maestro Keroncong



Gesang Gesang or full Martohartono (born in Surakarta, Central Java, October 1, 1917 – died in Surakarta, Central Java, May 20, 2010 at age 92 years) is a singer and songwriter from Indonesia. Known as the “maestro keroncong Indonesia,” he became famous through the song Solo creations, famous in Asia, especially in Indonesia and Japan. The song ‘Solo’ creations have been translated into at least 13 languages ​​(including English, Chinese, and Japanese)

Solo Song

This song was created in 1940, when he beusia 23 years. Gesang young when it was sitting on the edge of the Solo River, he was always fascinated by the river, was inspired to create a song. This song creation process takes about 6 months.
Solo song also has its own popularity abroad, especially in Japan. Solo was used in one of Japan’s big-screen films.

The song “handkerchief” and “Solo” Warmly Welcomed Once Gesang (Weekly article Djaja 6 April 1963) Applaus genuruh mengema in the Palace of the Bung Karno Sports welcomed the announcement that the song “handkerchief”.’s Gesang symphony orchestra played immediately kaan School of Music Indonesia Jogjakarta Nikolai aransmen Verfelomejev.

with all respect for the expertise Nikolai Varfolomejev as aranseur, namaun in this assessment is influenced by several other processing of that song ever in the past didengan A. Sadji among Filipino musician and bandleader famous Japanese occupation era.

Arrangement “Solo” which juuga recomposition of Varfolomejev Gesang, instrumental and vocal better, more instrumental life brighter and more varied. In terms of vocal sung in duet by Kusmini Prodjolalito and H. Saptojo, with the School of Music choir Indonesia Jogjakarta as a pretty good background.


Gesang stay at No. 5 Village Road Bedoyo Kemlayan, Serengan, Solo with nephew and his family, having previously lived in his house Perumnas Palur granting the Governor of Central Java in 1980 for 20 years. He has split with his wife in 1962. Selepasnya, choosing to live alone. He had no children.
Gesang initially was not a songwriter. Formerly, he was just a singer of songs for the event keroncong and just a little party in the city of Solo. She has also created a few songs, such as; Keroncong World Wheel, Keroncong the Orphanage, and Sweep Hand, during World War II. Unfortunately, these three songs is not received from the public.
As a form of appreciation for his services towards the development of music keroncong, in 1983 Japan set up Gesang Park near Solo. Management of the park was funded by the Fund Gesang, an institution founded for Gesang in Japan.
Gesang had reportedly died on May 18, 2010 after his health reportedly deteriorating.
Gesang was rushed to hospital due to his health declined on Wednesday (19/05/2010). Furthermore, Gesang be treated in the ICU since Sunday (16 / 5) because of his health continued to decline. Hospitals formed a team to deal with health consisting of five different specialists. Until finally he died on Thursday (20/05/2010) At 18:10 in the Hospital PKU Muhammadiyah Surakarta.

Songs creation Gesang

Red Bridge
Farewell (the Indonesian version was popularized by Broery Pesulima)
Caping Mount
World Peace
The Orphanage
Wheel World
Great Wall
Seto Ohashi
Pearl Necklace
Youth Adult
Food Sandhang
-Handkerchief handkerchief

 about Gesang:
“God created the Solo River, Gesang running it up to the corners of the world”

Good bye Mbah Gesang

Gesang atau lengkapnya Gesang Martohartono (lahir di Surakarta, Jawa Tengah, 1 Oktober 1917 – meninggal di Surakarta, Jawa Tengah, 20 Mei 2010 pada umur 92 tahun) adalah seorang penyanyi dan pencipta lagu asal Indonesia. Dikenal sebagai “maestro keroncong Indonesia,” ia terkenal lewat lagu Bengawan Solo ciptaannya, yang terkenal di Asia, terutama di Indonesia dan Jepang. Lagu ‘Bengawan Solo’ ciptaannya telah diterjemahkan kedalam, setidaknya, 13 bahasa (termasuk bahasa Inggris, bahasa Tionghoa, dan bahasa Jepang)

Lagu Bengawan Solo

Lagu ini diciptakan pada tahun 1940, ketika ia beusia 23 tahun. Gesang muda ketika itu sedang duduk di tepi Bengawan Solo, ia yang selalu kagum dengan sungai tersebut, terinspirasi untuk menciptakan sebuah lagu. Proses penciptaan lagu ini memakan waktu sekitar 6 bulan.
Lagu Bengawan Solo juga memiliki popularitas tersendiri di luar negeri, terutama di Jepang. Bengawan Solo sempat digunakan dalam salah satu film layar lebar Jepang.

Lagu “Saputangan” dan”Bengawan Solo” Gesang Disambut Hangat Sekali (Artikel Mingguan Djaja 6 april 1963) Applaus genuruh mengema dalam Istana Olah Raga Gelora Bung Karno menyambut pengumuman bahwa lagu”Saputangan”.karya Gesang segera kaan diperdengarkan orkes simfoni Sekolah Musik Indonesia Jogjakarta aransmen Nikolai Verfelomejev.

dengan segala penghargaan bagi keahlian Nikolai Varfolomejev sebagai aranseur, namaun dalam penilaian ini dipengaruhi oleh beberapa pengolahan lain dari lagu itu yang pernah didengan pada masa yang lampau antaranya A.Sadji musikus Filipina dan pemimpin band termashur zaman pendudukan jepang.

Aransemen “Bengawan Solo” yang juuga gubahan Gesang dari Varfolomejev,intrumental dan vokal lebih baik,instrumental lebih hidup lebih hidup dan lebih bervariasi. Segi vokal yang dibawakan dalam duet oleh Kusmini Prodjolalito dan H.Saptojo,dengan paduan suara Sekolah Musik Indonesia Jogjakarta sebagai latar belakang cukup baik.



Gesang tinggal di di Jalan Bedoyo Nomor 5 Kelurahan Kemlayan, Serengan, Solo bersama keponakan dan keluarganya, setelah sebelumnya tinggal di rumahnya Perumnas Palur pemberian Gubernur Jawa Tengah tahun 1980 selama 20 tahun. Ia telah berpisah dengan istrinya tahun 1962. Selepasnya, memilih untuk hidup sendiri. Ia tak mempunyai anak.
Gesang pada awalnya bukanlah seorang pencipta lagu. Dulu, ia hanya seorang penyanyi lagu-lagu keroncong untuk acara dan pesta kecil-kecilan saja di kota Solo. Ia juga pernah menciptakan beberapa lagu, seperti; Keroncong Roda Dunia, Keroncong si Piatu, dan Sapu Tangan, pada masa perang dunia II. Sayangnya, ketiga lagu ini kurang mendapat sambutan dari masyarakat.
Sebagai bentuk penghargaan atas jasanya terhadap perkembangan musik keroncong, pada tahun 1983 Jepang mendirikan Taman Gesang di dekat Bengawan Solo. Pengelolaan taman ini didanai oleh Dana Gesang, sebuah lembaga yang didirikan untuk Gesang di Jepang.
Gesang sempat dikabarkan meninggal dunia pada tanggal 18 Mei 2010 setelah kesehatannya dilaporkan memburuk.
Gesang dilarikan ke rumah sakit akibat kesehatannya menurun pada Rabu (19/05/2010). Selanjutnya, Gesang harus dirawat di ruang ICU sejak Minggu (16/5) karena kesehatannya terus menurun. Rumah sakit membentuk sebuah tim untuk menangani kesehatan yang terdiri dari lima dokter spesialis yang berbeda. Hingga akhirnya beliau meninggal pada hari Kamis (20/05/2010) Pukul 18:10 di Rumah Sakit PKU Muhammadiyah Surakarta.

Lagu-lagu ciptaan Gesang

  • Bengawan Solo
  • Jembatan Merah
  • Pamitan (versi bahasa Indonesia dipopulerkan oleh Broery Pesulima)
  • Caping Gunung
  • Ali-ali
  • Andheng-andheng
  • Luntur
  • Dongengan
  • Saputangan
  • Dunia Berdamai
  • Si Piatu
  • Nusul
  • Nawala
  • Roda Dunia
  • Tembok Besar
  • Seto Ohashi
  • Pandanwangi
  • Impenku
  • Kalung Mutiara
  • Pemuda Dewasa
  • Borobudur
  • Tirtonadi
  • Sandhang Pangan
  • Kacu-kacu

 about Gesang :
“Tuhan menciptakan Bengawan Solo,Gesang mengalirkannya hingga ke penjuru dunia”

Selamat Jalan Mbah Gesang





Panglima Batur


Panglima Batur

Panglima Batur (lahir di Buntok Baru, Barito Utara, Kalimantan Tengah pada tahun 1852 – meninggal di, Banjarmasin, Kalimantan Selatan, 5 Oktober 1905 pada umur 53 tahun) adalah seorang panglima suku Dayak Bakumpai dalam Perang Banjar yang berlangsung di pedalaman Barito, sering disebut Perang Barito, sebagai kelanjutan dari Perang Banjar. Panglima Batur adalah salah seorang Panglima yang setia pada Sultan Muhammad Seman. Panglima Batur seorang Panglima dari suku Dayak yang telah beragama Islam berasal dari daerah Buntok Kecil, 40 Km di udik Muara Teweh.

Gelar Panglima khusus untuk daerah suku-suku Dayak pada masa itu menunjukkan pangkat dengan tugas sebagai kepala yang mengatur keamanan dan mempunyai pasukan sebagai anak buahnya. Seorang panglima adalah orang yang paling pemberani, cerdik, berpengaruh dan biasanya kebal.

Panglima Batur yang bersama Sultan mempertahankan benteng terakhir di Sungai Manawing dalam perjuangan mereka melawan Belanda. Pada saat Panglima Batur mendapat perintah untuk pergi ke Kesultanan Pasir untuk memperoleh mesiu, saat itulah benteng Manawing mendapat serangan Belanda. Pasukan Belanda dibawah pimpinan Letnan Christofel yang berpengalaman dalam perang Aceh, dengan sejumlah besar pasukan marsose yang terkenal ganas dan bengis, menyerbu benteng Manawing pada Januari 1905. Dalam pertempuran yang tidak seimbang ini Sultan Muhammad Seman tidak dapat bertahan. Sultan tertembak dan dia gugur sebagai kesuma bangsa.

Tertegun dan dengan rasa sedih yang mendalam ketika Panglima Batur kembali ke benteng Manawing yang musnah, dan Sultan Muhammad Seman, pimpinannya telah tewas. Panglima Batur dan teman seperjuangannya Panglima Umbung pulau ke kampung halaman mereka masing-masing. Panglima Umbung kembali ke Buntok Kecil. Sultan Muhammad di Seman di makamkan di puncak gunung di Puruk Cahu.

Kini Panglima Baturlah satu-satunya pimpinan perjuangan yang masih bertahan. Ia terkenal sangat teguh dengan pendiriannya dan sangat patuh dengan sumpah yang telah diucapkannya, tetapi ia mudah terharu dan sedih jika melihat anak buahnya atau keluarganya yang jatuh menderita. Hal itu diketahui oleh Belanda kelemahan yang menjadi sifat Panglima Batur, dan kelemahan inilah yang dijadikan alat untuk menjebaknya. Ketika terjadi upacara adat perkimpoian kemenakannya di kampung Lemo, dimana seluruh anggota keluarga Panglima Batur terkumpul, saat itulah serdadu Belanda mengadakan penangkapan. Pasangan mempelai yang sedang bertanding juga ditangkap dimasukkan ke dalam tahanan, dipukuli dan disiksa tanpa perikemanusiaan. Cara inilah yang dipakai Belanda untuk menjebak Panglima Batur.

Dengan perantaraan Haji Kuwit salah seorang saudara sepupu Panglima Batur Belanda berusaha menangkapnya. Atas suruhan Belanda, Haji Kuwit mengatakan bahwa apabila Panglima Batur bersedia keluar dari persembunyian dan bersedia berunding dengan Belanda, barulah tahanan yang terdiri dari keluarganya dikeluarkan dan dibebaskan, dan sebaliknya apabila Panglima tetap berkeras kepala, tahanan tersebut akan ditembak mati. Hati Panglima Batur menjadi gundah dan dia sadar bahwa apabila dia bertekad lebih baik dia yang menjadi korban sendirian dari pada keluarganya yang tidak berdosa ikut menanggungnya. Dengan diiringi orang-orang tua dan orang sekampungnya Panglima Batur berangkat ke Muara Teweh. Sesampainya di sana bukan perundingan yang didapatkan tetapi ia ditangkap sebagai tawanan dan selanjutnya dihadapkan di meja pengadilan. Ini terjadi pada tanggal 24 Agustus 1905. Setelah dua minggu ditawan di Muara Teweh, Panglima Batur diangkut dengan kapal ke Banjarmasin.

Di kota Banjarmasin, dia diarak keliling kota dengan pemberitahuan bahwa inilah pemberontak yang keras kepala dan akan dijatuhkan hukuman mati. Pada tanggal 15 September 1905 Panglima Batur dinaikkan ke tiang gantungan. Permintaan terakhir yang diucapkannya dia minta dibacakan Dua Kalimah Syahadat untuknya. Dia dimakamkan di belakang masjid Jami Banjarmasin, tetapi sejak 21 April 1958 jenazahnya dipindahkan ke kompleks Makam Pahlawan Banjar.





Thaha Syaifuddim
Sultan Thaha Syaifuddin

Sultan Thaha Syaifuddin (Jambi, 1816 – Betung, 26 April 1904) adalah seorang sultan terakhir dari Kesultanan Jambi. Dilahirkan di Keraton Tanah pilih Jambi pada pertengahan tahun 1816. Ketika kecil ia biasa dipanggil Raden Thaha Ningrat dan bersikap sebagai seorang bangsawan yang rendah hati dan suka bergaul dengan rakyat biasa.[1]
Pada pertempuran di Sungai Aro itu jejak Sultan Thaha tidak diketahui lagi oleh rakyat umum, kecuali oleh pembantunya yang sangat dekat. Sultan Thaha Syaifuddin meninggal pada tanggal 26 April 1904 dan dimakamkan di Muara Tebo, Jambi

Keris Siginjai terbuat dari bahan-bahan berupa kayu, emas, besi dan nikel. Keris Siginjai menjadi pusaka yang dimiliki secara turun temurun oleh Kesultanan Jambi. Selama 400 tahun keris Siginjai tidak hanya sekadar lambang mahkota kesultanan Jambi, tapi juga sebagai lambang pemersatu rakyat Jambi.
Sultan terakhir yang memegang benda kerajaan itu adalah Sultan Achmad Zainuddin pada awal abad ke 20. Selain keris Siginjai ada sebuah keris lagi yang dijadikan mahkota kerajaan yaitu keris Singa Marjaya yang dipakai oleh Pangeran Ratu (Putra Mahkota). Pada tahun 1903 Pangeran Ratu Martaningrat keturunan Sultan Thaha yang terakhir menyerahkan keris Singa Marjaya kepada Residen Palembang sebagai tanda penyerahan. Pemerintah Hindia Belanda kemudian menyimpan Keris Siginjai dan Singa Marjaya di Museum Nasional (Gedung Gajah) di Batavia (Jakarta).

1790 – 1812 Mas’ud Badruddin bin Ahmad Sultan Ratu Seri Ingalaga
1812 – 1833 Mahmud Muhieddin bin Ahmad Sultan Agung Seri Ingalaga
1833 – 1841 Muhammad Fakhruddin bin Mahmud Sultan Keramat
1841 – 1855 Abdul Rahman Nazaruddin bin Mahmud
1855 – 1858 Thaha Safiuddin bin Muhammad (1st time)
1858 – 1881 Ahmad Nazaruddin bin Mahmud
1881 – 1885 Muhammad Muhieddin bin Abdul Rahman
1885 – 1899 Ahmad Zainul Abidin bin Muhammad
1900 – 1904 Thaha Safiuddin bin Muhammad (2nd time)
1904 Dihancurkan Belanda



          K.H Zainal Mustafa
Part-1K.H. Zainal Mustafa (lahir di Bageur, Cimerah, Singaparna, Tasikmalaya, 1899 – Jakarta, 28 Maret 1944) adalah salah satu pahlawan nasional Indonesia. Ia dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Tasikmalaya.KH. Zaenal Mustofa Zaenal Mustofa adalah pemimpin sebuah pesantren di Tasikmalaya dan pejuang Islam pertama dari Jawa Barat yang mengadakan pemberontakan terhadap pemerintahan Jepang. Nama kecilnya Hudaeni. Lahir dari keluarga petani berkecukupan, putra pasangan Nawapi dan Ny. Ratmah, di kampung Bageur, Desa Cimerah, Kecamatan Singaparna (kini termasuk wilayah Desa Sukarapih Kecamatan Sukarame) Kabupaten Tasikmalaya (ada yang menyebut ia lahir tahun 1901 dan Ensiklopedia Islam menyebutnya tahun 1907, sementara tahun yang tertera di atas diperoleh dari catatan Nina Herlina Lubis, Ketua Masyarakat Sejarawan Indonesia Cabang Jawa Barat). Namanya menjadi Zaenal Mustofa setelah ia menunaikan ibadah haji pada tahun 1927.Hudaeni memperoleh pendidikan formal di Sekolah Rakyat. Dalam bidang agama, ia belajar mengaji dari guru agama di kampungnya. Kemampuan ekonomis keluarga memungkinkannya untuk menuntut ilmu agama lebih banyak lagi. Pertama kali ia melanjutkan pendidikannya ke pesantren di Gunung Pari di bawah bimbingan Dimyati, kakak sepupunya, yang dikenal dengan nama KH. Zainal Muhsin. Dari Gunung Pari, ia kemudian mondok di Pesantren Cilenga, Leuwisari, dan di Pesantren Sukamiskin, Bandung. Selama kurang lebih 17 tahun ia terus menggeluti ilmu agama dari satu pesantren ke pesantren lainnya. Karena itulah ia mahir berbahasa Arab dan memiliki pengetahuan keagamaan yang luas.Lewat ibadah haji, ia berkenalan dengan ulama-ulama terkemuka. Ia pun mengadakan tukar pikiran soal keagamaan dan berkesempatan melihat pusat pendidikan keagamaan di Tanah Suci. Kontak dengan dunia luar itu mendorongnya untuk mendirikan sebuah pesantren. Maka sekembalinya dari ibadah haji, tahun 1927, ia mendirikan pesantren di Kampung Cikembang dengan nama Sukamanah. Sebelumnya, di Kampung Bageur tahun 1922 telah berdiri pula Pesantren Sukahideng yang didirikan KH. Zainal Muhsin. Melalui pesantren ini ia menyebarluaskan agama Islam, terutama paham Syafi’i yang dianut oleh masyarakat Indonesia pada umumnya dan umat Islam Jawa Barat pada khususnya.Di samping itu, ia juga mengadakan beberapa kegiatan keagamaan ke pelosok-pelosok desa di Tasikmalaya dengan cara mengadakan ceramah-ceramah agama. Maka sebutan kiai pun menjadi melekat dengan namanya. KH. Zaenal Mustofa terus tumbuh menjadi pemimpin dan anutan yang karismatik, patriotik, dan berpandangan jauh ke depan. Tahun 1933, ia masuk Jamiyyah Nahdhatul Ulama (NU) dan diangkat sebagai wakil ro’is Syuriah NU Cabang Tasikmalaya.

K.H Zainal Mustafa

Perlawanan kepada penjajah

Sejak tahun 1940, KH. Zaenal Mustofa secara terang-terangan mengadakan kegiatan yang membangkitkan semangat kebangsaan dan sikap perlawanan terhadap pendudukan penjajah. Ia selalu menyerang kebijakan politik kolonial Belanda yang kerap disampaikannya dalam ceramah dan khutbah-khutbahnya. Atas perbuatannya ini, ia selalu mendapat peringatan, dan bahkan, tak jarang diturunkan paksa dari mimbar oleh kiai yang pro Belanda.

Setelah Perang Dunia II, tepatnya pada 17 November 1941, KH. Zaenal Mustofa bersama KH. Ruhiat (dari Pesantren Cipasung), Haji Syirod, dan Hambali Syafei ditangkap Belanda dengan tuduhan telah menghasut rakyat untuk memberontak terhadap pemerintah Hindia Belanda. Mereka ditahan di Penjara Tasikmalaya dan sehari kemudian dipindahkan ke penjara Sukamiskin Bandung, dan baru bebas 10 Januari 1942.

Kendati sudah pernah ditahan, aktivitas perlawanannya terhadap penjajah tidak surut. Akhir Februari 1942, KH. Zaenal Mustofa bersama Kiai Rukhiyat kembali ditangkap dan dimasukkan ke penjara Ciamis. Kedua ulama ini menghadapi tuduhan yang sama dengan penangkapannya yang pertama. Hingga pada waktu Belanda menyerah kepada Jepang, ia masih mendekam di penjara.

Pada tanggal 8 Maret 1942 kekuasaan Hindia Belanda berakhir dan Indonesia diduduki Pemerintah Militer Jepang. Oleh penjajah yang baru ini, KH. Zaenal Mustofa dibebaskan dari penjara, dengan harapan ia akan mau membantu Jepang dalam mewujudkan ambisi fasisnya, yaitu menciptakan Lingkungan Kemakmuran Bersama Asia Timur Raya. Akan tetapi, apa yang menjadi harapan Jepang tidak pernah terwujud karena KH. Zaenal Mustofa dengan tegas menolaknya. Dalam pidato singkatnya, pada upacara penyambutan kembali di Pesantren, ia memperingatkan para pengikut dan santrinya agar tetap percaya pada diri sendiri dan tidak mudah termakan oleh propaganda asing. Ia malah memperingatkan bahwa fasisme Jepang itu lebih berbahaya dari imperialisme Belanda.

Pasca perpindahan kekuasaan dari Belanda ke Jepang, sikap dan pandangannya itu tidak pernah berubah. Bahkan, kebenciannya semakin memuncak saja manakala menyaksikan sendiri kezaliman penjajah terhadap rakyat.

Pada masa pemerintahan Jepang ini, ia menentang pelaksanaan seikeirei, cara memberi hormat kepada kaisar Jepang dengan menundukkan badan ke arah Tokyo. Ia menganggap perbuatan itu bertentangan dengan ajaran Islam dan merusak tauhid karena telah mengubah arah kiblat. Sikap ini pernah ia tunjukkan secara terang-terangan di muka Jepang. Pada waktu itu, semua alim ulama Singaparna harus berkumpul di alun-alun dan semua diwajibkan melakukan seikerei. Di bawah todongan senjata, semua ulama terpaksa melakukan perintah itu, hanya KH. Zaenal Mustofa yang tetap membangkang. Ia juga mengatakan kepada Kiai Rukhiyat, yang hadir pada waktu itu, bahwa perbuatan tersebut termasuk musyrik.

Menurutnya, orang-orang musyrik itu tidak perlu ditakuti, apalagi diikuti perintahnya. Sebaliknya, mereka justeru harus diperangi dan dimusnahkan dari muka bumi. Ia yakin bahwa dalam Islam hanya Allah Swt lah yang patut ditakuti dan dituruti; Allah Swt selalu bersama-sama orang yang mau dekat kepada-Nya dan selalu memberikan pertolongan dan kekuatan kepada orang-orang yang mau berjuang membela agamanya. Ia berprinsip lebih baik mati ketimbang menuruti perintah Jepang. Keyakinan seperti ini senantiasa ditanamkan kepada para santrinya dan masyarakat Islam sekitarnya. Ia juga menentang dan mengecam romusha, pengerahan tenaga rakyat untuk bekerja dengan paksa.

Dengan semangat jihad membela kebenaran agama dan memperjuangkan bangsa, KH. Zaenal Mustofa merencanakan akan mengadakan perlawanan terhadap Jepang pada tanggal 25 Pebruari 1944 (1 Maulud 1363 H). Mula-mula ia akan menculik para pembesar Jepang di Tasikmalaya, kemudian melakukan sabotase, memutuskan kawat-kawat telepon sehingga militer Jepang tidak dapat berkomunikasi, dan terakhir, membebaskan tahanan-tahanan politik. Untuk melaksanakan rencana ini, KH. Zaenal Mustofa meminta para santrinya mempersiapkan persenjataan berupa bambu runcing dan golok yang terbuat dari bambu, serta berlatih pencak silat. Kiai juga memberikan latihan spiritual (tarekat) seperti mengurangi makan, tidur, dan membaca wirid-wirid untuk mendekatkan diri kepada Allah Swt.

Persiapan para santri ini tercium Jepang. Segera mereka mengirim camat Singaparna disertai 11 orang staf dan dikawal oleh beberapa anggota polisi untuk melakukan penangkapan. Usaha ini tidak berhasil. Mereka malah ditahan di rumah KH. Zaenal Mustofa. Keesokan harinya, pukul 8 pagi tanggal 25 Februari 1944, mereka dilepaskan dan hanya senjatanya yang dirampas.

Tiba-tiba, sekitar pukul 13.00, datang empat orang opsir Jepang meminta agar KH. Zaenal Mustofa menghadap pemerintah Jepang di Tasikmalaya. Perintah tersebut ditolak tegas sehingga terjadilah keributan. Hasilnya, tiga opsir itu tewas dan satu orang dibiarkan hidup. Yang satu orang ini kemudian disuruh pulang dengan membawa ultimatum. Dalam ultimatum itu, pemerintah Jepang dituntut untuk memerdekakan Pulau Jawa terhitung mulai 25 Pebruari 1944. Dalam insiden itu, tercatat pula salah seorang santri bernama Nur menjadi korban, karena terkena tembakan salah seorang opsir. Setelah kejadian tersebut, menjelang waktu salat Asar (sekitar pukul 16.00) datang beberapa buah truk mendekati garis depan pertahanan Sukamanah. Suara takbir mulai terdengar, pasukan Sukamanah sangat terkejut setelah tampak dengan jelas bahwa yang berhadapan dengan mereka adalah bangsa sendiri. Rupanya Jepang telah mempergunakan taktik adu domba. Melihat yang datang menyerang adalah bangsa sendiri, Zaenal Mustofa memerintahkan para santrinya untuk tidak melakukan perlawanan sebelum musuh masuk jarak perkelahian. Setelah musuh mendekat, barulah para santri menjawab serangan mereka. Namun, dengan jumlah kekuatan lebih besar, ditambah peralatan lebih lengkap, akhirnya pasukan Jepang berhasil menerobos dan memorak-porandakan pasukan Sukamanah. Peristiwa ini dikenal dengan Pemberontakan Singaparna.

Para santri yang gugur dalam pertempuran itu berjumlah 86 orang. Meninggal di Singaparna karena disiksa sebanyak 4 orang. Meninggal di penjara Tasikmalaya karena disiksa sebanyak 2 orang. Meninggal di Penjara Sukamiskin Bandung sebanyak 38 orang, dan yang mengalami cacat (kehilangan mata atau ingatan) sebanyak 10 orang.

Pun, sehari setelah peristiwa itu, antara 700-900 orang ditangkap dan dimasukkan ke dalam penjara di Tasikmalaya. Sementara itu, KH. Zaenal Mustofa sempat memberi instruksi secara rahasia kepada para santri dan seluruh pengikutnya yang ditahan agar tidak mengaku terlibat dalam pertempuran melawan Jepang, termasuk dalam kematian para opsir Jepang, dan pertanggungjawaban tentang pemberontakan Singaparna dipikul sepenuhnya oleh KH. Zaenal Mustofa. Akibatnya, sebanyak 23 orang yang dianggap bersalah, termasuk KH. Zaenal Mustofa sendiri, dibawa ke Jakarta untuk diadili. Namun mereka hilang tak tentu rimbanya.

Besarnya pengaruh KH Zaenal Mustofa dalam pembentukan mental para santri dan masyarakat serta peranan pesantrennya sebagai lembaga pendidikan dan pembinaan umat membuat pemerintah Jepang merasa tidak bebas jika membiarkan pesantren ini tetap berjalan. Maka, setelah peristiwa pemberontakan tersebut, pesantren ini ditutup oleh Jepang dan tidak diperbolehkan melakukan kegiatan apapun.

Belakangan, Kepala Erevele Belanda Ancol, Jakarta memberi kabar bahwa KH. Zaenal Mustofa telah dieksekusi pada 25 Oktober 1944 dan dimakamkan di Taman Pahlawan Belanda Ancol, Jakarta. Melalui penelusuran salah seorang santrinya, Kolonel Syarif Hidayat, pada tahun 1973 keberadaan makamnya itu ditemukan di daerah Ancol, Jakarta Utara, bersama makam-makam para santrinya yang berada di antara makam-makam tentara Belanda. Lalu, pada 25 Agustus 1973, semua makam itu dipindahkan ke Sukamanah, Tasikmalaya.

Diangkat menjadi pahlawan

Pada tanggal 6 Nopember 1972, KH. Zaenal Mustofa diangkat sebagai Pahlawan Pergerakan Nasional dengan Surat Keputusan Presiden Republik Indonesia No. 064/TK/Tahun 1972.







 Raden SalehPelopor Seni Lukis Modern Indonesia

Raden Saleh
Raden Saleh Syarief Bustaman was born in 1807 in Terbaya near Semarang, died in Bogor on 23 April 1880. He received basic training to draw and paint from a Belgian painter, AAJ Payen between 1817 and 1820. Raden Saleh is actually prepared by the ‘Dutch East Indies’ to prospective employees at the Agency for Science and Arts of Inquiry, headed by prof. C.G.C. Reinwardt, in Bogor. In 1829 Prince pious accompany the Inspector of Arts de Linge Netherlands on its way to the Netherlands.In the Netherlands, at the instigation of Payen, Raden pious allowed to study painting at the Dutch painters, such as Cornelius Krusemen and Andreas Schelfhout. Ditahun 1839 he left Holland and went to Germany kekota Berlin, Dresden and Coburg. Here Raden pious horse painting portraits of people in power, in 1845 he visited his former teacher, Payen in Doornik, Holland and from there he went to Paris and became acquainted with the famous French painter Horace Vernet. Together Vernet he had visited Algeria. -In Europe, famous as a painter Raden Saleh animal life, in 1851 he returned to Indonesia and a lot of people painting rank and rich. In Jakarta he built a mansion on the edge of times Ciliwung, who is now a Cikini Hospital. “Some of his property had been a gardener animal, which has become the Jakarta Arts Centre-Taman Ismail Marzuki.”Raden Saleh was married to V. Winkelman, a Dutch woman Indo wealthy, but eventually divorced. Raden Saleh did not paint portraits, but also painted landscapes and various animal species. He never returned to Europe between the years 1875-1879. Coming home from Europe he lived in Bogor until eventually dies there on 23 April 1880, his second wife was Raden Ayu Danudirdjo.PaintingRomanticism of Delacroix figures assessed affects the following works of Raden Saleh, which clearly displays romantic beliefs. When the romance flourished in Europe in the early 19th century, Raden Saleh lived and worked in France (1844-1851).Characteristic of romanticism emerged in Raden Saleh’s paintings that contain paradoxes. Picture of majesty as well as cruelty, a reflection of expectations (religiosity) as well as the uncertainty of fate (in reality). Expression of the French painter who pioneered Gerricault (1791-1824) and Delacroix is ​​revealed in a gripping dramatic atmosphere, paintings that throw brownish gray, and the critical tension between life and death.

His paintings clearly show the expression of this is evidence of Raden Saleh, a romanticist. That said, through his work he quipped human passions that continue to harass other creatures. For example with hunting lions, deer, bison, etc.. Raden Saleh was impressed not only absorb but also digesting Western education to address the reality before him. Another strong impression was Raden Saleh believes in the ideals of freedom and independence, then he was against oppression.

Naturally, if the argument, although the Dutch royal painter, he did not hesitate to criticize the Dutch East Indies government’s repressive politics. This accomplishment in the arrest of Prince Diponegoro painting.

Although similar to the work of Nicolaas Pieneman, he gave a different interpretation. Painting Pieneman events emphasize the surrender of Prince Diponegoro who stood with tired face and two arms stretched. Overlay a bunch of spear guns is a sign of losing the war. In the background of General de Kock stood hands on hips pointing train prisoners as ordered detention of Diponegoro.

Unlike the version of Raden Saleh, in a painting completed in 1857 that his followers did not carry weapons. Keris at the waist, the hallmark of Diponegoro, was not there. This shows, events that occurred in the month of Ramadan. Meaning, the Prince and his followers come with good intentions. However, negotiations failed. Diponegoro was arrested easily, because General de Kock knew his enemy was ready to fight in the month of Ramadan. In the painting of Prince Diponegoro still depicted standing in a tense pose stand. His face seemed to hold a hardline anger, clenched his left hand clutching a rosary.

Painting about the arrest of Prince Diponegoro events by General De Cock in 1830, which occurred at the residence of the Resident Magelang. In the painting looks Raden Saleh describes himself in a manner respectful atmosphere of tragic witness together the other followers of Prince Diponegoro. General De Kock was looking very shy and respectful of Prince Diponegoro to deliver a train that will take him into exile.

At the time of the arrest, he was in the Netherlands. After tens of years and then returned to Indonesia and find information regarding the incident of Prince Diponegoro relatives. Of effort and work, not so much when he received the title as National Heroes. Finally, the reputation of the work shown by artistic achievements, make Raden Saleh remembered with pride.

Of the few that still exist, one painting of a lion’s head, now stored properly in the Palace Mangkunegaran, Solo. This painting was purchased for 1500 guilders. What’s it worth now probably not easy to count. Just for comparison, one of his paintings are large, Deer Hunting, in 1996 sold at Christie’s auction house in Singapore worth USD 5.5 billion.

Warnings and awards

1883, to commemorate the third anniversary of the death held exhibitions of his paintings in Amsterdam, among them titled Burned Forests, Hunting Buffalo in Java, and the arrest of Prince Diponegoro. The paintings were sent, among others, by King Willem III and Ernst of Saxe-Coburg-Gotha.

Indeed many of the rich and the official Dutch, Belgian, and German painters who admired abroad during a unique look with traditional dress complete with blangkon Javanese aristocrat. Among them are noble Saxe Coburg-Gotha, Queen Victoria’s family, and a number of governor-general as Johannes van den Bosch, Jean Chrétien Baud, and Herman Willem Daendels.

Not a few also bestowed a token of appreciation, which he always pinned on his chest. Among them, star de Ridder van der Order Eikenkoon (REK), Commandeur de ster der Met Frans Joseph Order (CFJ), Knight of the Order of Crown of Prussia (RKP), Ridder van de Witte Valk (RWV), etc..

While the appreciation of the Indonesian government in 1969 awarded by the Ministry of Education and Culture, posthumously in the form of the Charter of the Arts Award as Pioneer Painting in Indonesia. Another concern is the form of the rebuilding of his tomb in Bogor by Ir. Silaban by order of President Sukarno, a number of paintings used to illustrate the state precious objects, such as the end of 1967, PTT Raden Saleh issued a series of stamps with reproductions of paintings illustrated two beasts are fighting.

Thanks to Raden Saleh, Indonesia should be proud to see children’s work through the nation’s great museums like the Rijksmuseum, Amsterdam, The Netherlands, and exhibited at the prestigious Louvre museum, Paris, France.


Raden Saleh Syarief Bustaman dilahirkan tahun 1807 di Terbaya dekat Semarang, meninggal di Bogor tanggal 23 April 1880. Ia mendapat didikan dasar menggambar dan melukis dari seorang pelukis Belgia, A.A.J. Payen antara tahun 1817 dan 1820. Sebenarnya Raden Saleh dipersiapkan oleh pemerintah ‘Hindia-Belanda’ menjadi calon pegawai pada Badan Penyelidikan Ilmu Pengetahuan dan Kesenian yang dikepalai oleh Prof. C.G.C. Reinwardt, di Bogor. Pada tahun 1829 Raden saleh mengiringi Inspektur Kesenian Belanda de Linge dalam perjalanannya ke Belanda.

Di Belanda, atas anjuran Payen, Raden saleh diperbolehkan belajar melukis pada pelukis-pelukis Belanda, seperti; Cornelius Krusemen dan Andreas Schelfhout. Ditahun 1839 ia meninggalkan Belanda dan pergi ke Jerman kekota Berlin, Dresden dan Coburg. Disini Raden saleh melukis potret-potret kuda dari orang-orang yang berkuasa, di tahun 1845 ia mengunjungi bekas gurunya, Payen di Doornik, Belanda dan dari situ ia menuju Paris dan berkenalan dengan pelukis Prancis kenamaan Horace Vernet. Bersama Vernet ia pernah mengunjungi Aljazair. –

Di Eropa, Raden Saleh terkenal sebagai pelukis kehidupan hewan, pada tahun 1851 ia kembali ke Indonesia dan banyak melukis orang-orang berpangkat dan kaya. Di Jakarta ia membangun rumah mewah di pinggir kali Ciliwung, yang kini menjadi Rumah Sakit Cikini.”Sebagian tanah miliknya pernah menjadi kebon binatang, yang kini menjadi Pusat Kesenian Jakarta-Taman Ismail Marzuki.”

Raden Saleh beristrikan V. Winkelman, seorang wanita Belanda Indo yang kaya raya, tetapi akhirnya bercerai. Raden Saleh tidak melukis potret-potret saja, tetapi juga melukis pemandangan dan berbagai jenis hewan. Ia pernah kembali ke Eropa di antara tahun 1875-1879. Sepulang dari Eropa ia tinggal di Bogor hingga akhirnya tutup usia di sana pada tanggal 23 April 1880, istri keduanya ialah Raden Ayu Danudirdjo.


Tokoh romantisme Delacroix dinilai mempengaruhi karya-karya berikut Raden Saleh yang jelas menampilkan keyakinan romantismenya. Saat romantisme berkembang di Eropa di awal abad 19, Raden Saleh tinggal dan berkarya di Perancis (1844 – 1851).

Ciri romantisme muncul dalam lukisan-lukisan Raden Saleh yang mengandung paradoks. Gambaran keagungan sekaligus kekejaman, cerminan harapan (religiusitas) sekaligus ketidakpastian takdir (dalam realitas). Ekspresi yang dirintis pelukis Perancis Gerricault (1791-1824) dan Delacroix ini diungkapkan dalam suasana dramatis yang mencekam, lukisan kecoklatan yang membuang warna abu-abu, dan ketegangan kritis antara hidup dan mati.

Lukisan-lukisannya yang dengan jelas menampilkan ekspresi ini adalah bukti Raden Saleh seorang romantisis. Konon, melalui karyanya ia menyindir nafsu manusia yang terus mengusik makhluk lain. Misalnya dengan berburu singa, rusa, banteng, dll. Raden Saleh terkesan tak hanya menyerap pendidikan Barat tetapi juga mencernanya untuk menyikapi realitas di hadapannya. Kesan kuat lainnya adalah Raden Saleh percaya pada idealisme kebebasan dan kemerdekaan, maka ia menentang penindasan.

Wajar bila muncul pendapat, meski menjadi pelukis kerajaan Belanda, ia tak sungkan mengkritik politik represif pemerintah Hindia Belanda. Ini diwujudkannya dalam lukisan Penangkapan Pangeran Diponegoro.

Meski serupa dengan karya Nicolaas Pieneman, ia memberi interpretasi yang berbeda. Lukisan Pieneman menekankan peristiwa menyerahnya Pangeran Diponegoro yang berdiri dengan wajah letih dan dua tangan terbentang. Hamparan senjata berupa sekumpulan tombak adalah tanda kalah perang. Di latar belakang Jenderal de Kock berdiri berkacak pinggang menunjuk kereta tahanan seolah memerintahkan penahanan Diponegoro.

Berbeda dengan versi Raden Saleh, di lukisan yang selesai dibuat tahun 1857 itu pengikutnya tak membawa senjata. Keris di pinggang, ciri khas Diponegoro, pun tak ada. Ini menunjukkan, peristiwa itu terjadi di bulan Ramadhan. Maknanya, Pangeran dan pengikutnya datang dengan niat baik. Namun, perundingan gagal. Diponegoro ditangkap dengan mudah, karena Jenderal de Kock tahu musuhnya tak siap berperang di bulan Ramadhan. Di lukisan itu Pangeran Diponegoro tetap digambarkan berdiri dalam pose siaga yang tegang. Wajahnya yang bergaris keras tampak menahan marah, tangan kirinya yang mengepal menggenggam tasbih.

Lukisan tentang peristiwa penangkapan Pangeran Diponegoro oleh Jendral De Cock pada tahun 1830 yang terjadi di rumah kediaman Residen Magelang. Dalam lukisan itu tampak Raden Saleh menggambarkan dirinya sendiri dengan sikap menghormat menyaksikan suasana tragis tersebut bersama-sama pengikut Pangeran Diponegoro yang lain. Jendral De Kock pun kelihatan sangat segan dan menghormat mengantarkan Pangeran Diponegoro menuju kereta yang akan membawa beliau ke tempat pembuangan.

Pada saat penangkapan itu, beliau berada di Belanda. Setelah puluhan tahun kemudian kembali ke Indonesia dan mencari informasi mengenai peristiwa tersebut dari kerabat Pangeran Diponegoro. Dari usaha dan karya tersebut, tidaklah terlalu berlebihan bila beliau mendapat predikat sebagai Pahlawan Bangsa. Akhirnya, reputasi karya yang ditunjukkan oleh prestasi artistiknya, membuat Raden Saleh dikenang dengan rasa bangga.

Dari beberapa yang masih ada, salah satunya lukisan kepala seekor singa, kini tersimpan dengan baik di Istana Mangkunegaran, Solo. Lukisan ini dulu dibeli seharga 1.500 gulden. Berapa nilainya sekarang mungkin susah-susah gampang menghitungnya. Sekadar perbandingan, salah satu lukisannya yang berukuran besar, Berburu Rusa, tahun 1996 terjual di Balai Lelang Christie’s Singapura seharga Rp 5,5 miliar.

Peringatan dan penghargaan

Tahun 1883, untuk memperingati tiga tahun wafatnya diadakan pameran-pameran lukisannya di Amsterdam, di antaranya yang berjudul Hutan Terbakar, Berburu Kerbau di Jawa, dan Penangkapan Pangeran Diponegoro. Lukisan-lukisan itu dikirimkan antara lain oleh Raja Willem III dan Ernst dari Sachsen-Coburg-Gotha.

Memang banyak orang kaya dan pejabat Belanda, Belgia, serta Jerman yang mengagumi pelukis yang semasa di mancanegara tampil unik dengan berpakaian adat ningrat Jawa lengkap dengan blangkon. Di antara mereka adalah bangsawan Sachsen Coburg-Gotha, keluarga Ratu Victoria, dan sejumlah gubernur jenderal seperti Johannes van den Bosch, Jean Chrétien Baud, dan Herman Willem Daendels.

Tak sedikit pula yang menganugerahinya tanda penghargaan, yang kemudian selalu ia sematkan di dada. Di antaranya, bintang Ridder der Orde van de Eikenkoon (R.E.K.), Commandeur met de ster der Frans Joseph Orde (C.F.J.), Ksatria Orde Mahkota Prusia (R.K.P.), Ridder van de Witte Valk (R.W.V.), dll.

Sedangkan penghargaan dari pemerintah Indonesia diberikan tahun 1969 lewat Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, secara anumerta berupa Piagam Anugerah Seni sebagai Perintis Seni Lukis di Indonesia. Wujud perhatian lain adalah, pembangunan ulang makamnya di Bogor yang dilakukan oleh Ir. Silaban atas perintah Presiden Soekarno, sejumlah lukisannya dipakai untuk ilustrasi benda berharga negara, misalnya akhir tahun 1967, PTT mengeluarkan perangko seri Raden Saleh dengan reproduksi dua lukisannya bergambar binatang buas yang sedang berkelahi.

Berkat Raden Saleh, Indonesia boleh berbangga melihat karya anak bangsa menerobos museum akbar seperti Rijkmuseum, Amsterdam, Belanda, dan dipamerkan di museum bergengsi Louvre, Paris, Perancis.




Maulana Sri Sultan Alauddin Iskandarsyah Johan Zirullah Fil Alamin yang bergelar Nara Singa II

 Tiga Tungku Sejarangan (Sejarah Kesultanan Indragiri)Keterangan: Sejarah singkat dari Narasinga II, Raja Kesultanan IndragiriPaduka Maulana Sri Sultan Alauddin Iskandarsyah Johan Zirullah Fil Alamin yang bergelar Nara Singa II merupakan generasi sultan ke-4 dari Kesultanan Indragiri. Beliau merupakan putra dari Raja Merlang II yang terkenal kegigihannya dalam menghadapi armada Portugis yang memutuskan berpangkal di Malaka. Seperti diketahui, Malaka ditaklukkan oleh Alfonse d’Albuquerque pada tahun 1511. Dengan ditaklukkannya Malaka, maka para pembesar-pembesar kesultanan mulai menyusun kekuatan dari berbagai tempat. Kesultanan Indragiri pada masa Narasinga II memilih Pekan Tua ( sekitar 10 km dari Rengat) sebagai basis pemerintahan dan militer. Narasinga II memutuskan menghadapi tantangan Portugis dari tahun 1512-1532. Beliau lah satu-satunya sultan di Kesultanan Indragiri yang memilih berjuang mengusir Portugis dari perairan Malaka selama 20 tahun. Dalam usahanya tersebut, salah satu keberhasilannya adalah menaklukkan armada Portugis dibawah pimpinan salah seorang kepercayaan Alfonse d’Albuquerque, yakni Jenderal Pedro Mario. Atas jasa-jasa perjuangannya itulah, pemerintah Kabupaten Indragiri Hulu pada tahun 2008 mengusulkan beliau ditetapkan sebaga Pahlawan Nasional. Saat ini, jasad beliau bersemayam di Pemakaman Raja-Raja Indragiri, Kota Lama, Indragiri Hulu.



Mgr. Albertus Soegijapranata SJ

Mgr. Albertus Soegijapranata, SJ
Mgr. Albertus Soegijapranata, National SJPahlawan
(Decree of the President of the Republic of Indonesia
No. 152 of 1963) Birth: Surakarta, Wednesday 25 November 1896 POND
Died: Steyl, Netherlands, Wednesday July 10, 1963 Pahing
Tomb: Heroes Cemetery Giritunggal, Semarang
Small name Mgr. Soegijapranata is Soegija. Soegija born from a family of Javanese courtiers Kasunanan Surakarta palace.
Then he moved to Yogyakarta, apply and be accepted in HIS and Kweekschool in Muntilan founded by pastor Van Lith, SJ In 1910, baptized in Muntilan Soegija by Pastor Meltens, by taking the name of Albertus Magnus bath and then in 1915 became a teacher in Muntilan. In 1916-1919 he studied Latin and Greek because they want to be a Jesuit priest. In 1919 he left for the Netherlands and a year later started novisiatnya under the guidance of P. Willekens, S.J. (Which later became Vicar Apostolic of Batavia). In 1923 he began studies in philosophy and in 1926-1928 became the civil Muntilan Seminary and editor of ‘Sound of Tama’. In 1928 to study theology at Maastricht; was ordained priest in 1931 and since 1933 became assistant pastor at the parish Bintaran, Yogyakarta. Romo Soegijapranata, S.J. in addition to leading several of the Congregation of Mary is also the editor of “Voice of all ‘. In 1940 he was elected Pope Pius XII became the first Vicar Apostolic of Semarang. In this new ecclesiastical territory there are 44,170 Catholics, of whom 28 574 Javanese and Chinese. When the Japanese occupation (1942) live 11 Jesuit priests, 34 brothers and 79 sisters natives, while 73 priests, 103 brothers and 251 nuns interned Dutch. Personnel are available not only to serve the new Vicariate of Semarang separated from Batavia, but also forced to help Catholics in almost all of Indonesia (except NTT). Mgr. Soegijapranata is the only bishop who can move freely (except Mgr. Yamaguchi, Bishop of Nagasaki; Mgr. Leven, SVD and Mgr. Willekens not interned, but limited motion).In 1945 Mgr. Soegijapranata tried to mediate and conciliator between young fighters and Japanese soldiers, the Gurkhas and the Japanese in Semarang and not infrequently also between the Government of Indonesia and some of the Netherlands. Though clearly sided with the Republicans and therefore moved from Gendangan (Semarang) to Bintaran (Yogyakarta) in 1946, he never tired of seeking a settlement without a human sacrifice. While in Yogya he established a close relationship with President Sukarno and his family and other government figures. The relationship is very useful in the 1950s to counter the actions of the left against the church and its institutions.In 1950 restoration of damaged material and spiritual lethargy Vikartiat Semarang is a heavy burden for Mgr. Soegijaparnata. Also need to put a solid foundation for the development of the Catholics in the independent state with the new demands of the times, especially the integration of people in Indonesia and the provision of distinctive contribution to the future development. Mgr. Soegijaparanata very instrumental in giving attention and support fully the efforts of ordinary people in the social economy, for example on Pancasila Labour Organisation which was established in Semarang (1954) as the implementation of a resolution KUKSI I in Yogyakarta (1949). As chairman of the Indonesian Bishops’ Social Committee (1955) Mgr. effect on the Conference II, who decided that the Association of Labor / Pancasila Farmers developed throughout Indonesia (1957) with the assistance of ‘Central Bureau of Social Affairs “which was founded in 1958. Many activities in the social and economic social begins at Vicariate Semarang thanks to being open his bishop, who gives encouragement, guidance (eg through pastoral letters) and freedom.Mgr. Soegijapranata best known as a character, which along with the IJ Kasimo integrate Catholics since the beginning of the Republic of Indonesia, which emphasizes the Pancasila as a unifying across the nation, calling on Catholics to fight for the common welfare with no strings attached. Although difficult position in the conflict between Indonesia and the Netherlands, Mgr. managed to make it clear, that on the one hand the Catholic Church is supra-national and on the other hand Catholics fully support the just struggle of the Indonesian nation. Mgr. Soegijaparanata became the first Archbishop of Semarang (1961) and follow the First Session of Vatican Council II (1962). “He knows no fear, bad or hopeless. Many people dijiwainya with assertiveness. ‘(P. Dijkstra, SJ). However, his duties are more and more, weaken his health, so he recommended a doctor for treatment to the Netherlands. On July 6, 1963 Msgr. Soegijapranata died in the convent of the Sisters of Divine Operation in Steyl, Netherlands. On orders of President Sukarno, he was buried at the Heroes Cemetery Giritunggal, Semarang, in a military ceremony. As the first Bishop of the Armed Forces, he was given the rank of General (posthumously) and declared as a National Hero.

Mgr. Soegijapranata  
Pahlawan Nasional
(Surat Keputusan Presiden Republik Indonesia
No. 152 Tahun 1963 )Lahir : Surakarta, Rabu Kliwon 25 November 1896
Wafat : Steyl, Nederland, Rabu Pahing 10 Juli 1963
Makam : Taman Makam Pahlawan Giritunggal, Semarang

Nama kecil Mgr. Soegijapranata adalah Soegija. Soegija lahir dari sebuah keluarga Kejawen abdi dalem keraton Kasunanan Surakarta.

Kemudian ia pindah ke Yogyakarta, melamar dan diterima di HIS dan Kweekschool di Muntilan yang didirikan oleh pastor Van Lith, S.J. Pada tahun 1910 Soegija dibaptis di Muntilan oleh Pastor Meltens, dengan mengambil nama permandian Albertus Magnus dan kemudian pada tahun 1915 menjadi guru di Muntilan. Pada tahun 1916–1919 ia belajar bahasa Latin dan Yunani karena ingin menjadi imam Yesuit. Pada tahun 1919 ia berangkat ke Nederland dan setahun kemudian memulai novisiatnya di bawah bimbingan P. Willekens, S.J. (yang kemudian menjadi Vikaris Apostolik Batavia). Pada tahun 1923 ia mulai studi filsafat dan pada tahun 1926-1928 menjadi pamong di Seminari Muntilan serta redaktur ‘Swara Tama’. Pada tahun 1928 belajar teologi di Maastricht; ditahbiskan imam pada tahun 1931 dan sejak tahun 1933 menjadi pastor pembantu di Paroki Bintaran, Yogyakarta. Romo Soegijapranata, S.J. selain memimpin beberapa Kongregasi Maria juga menjadi editor “Swara tama’. Pada tahun 1940 ia diangkat Paus Pius XII menjadi Vikaris Apostolik Semarang yang pertama. Di wilayah gerejawi yang baru ini terdapat 44.170 orang Katolik, di antaranya 28.574 orang Jawa dan Tionghoa. Waktu pendudukan Jepang (1942) tinggal 11 imam S.J., 34 bruder dan 79 suster pribumi; sedangkan 73 imam, 103 bruder dan 251 suster berkebangsaan Belanda diinternir. Tenaga-tenaga yang tersedia ini tidak hanya harus melayani Vikariat Semarang yang baru dipisahkan dari Batavia, melainkan terpaksa harus membantu juga umat Katolik di hampir seluruh Indonesia (kecuali NTT). Mgr. Soegijapranata merupakan satu-satunya uskup yang dapat bergerak bebas (kecuali Mgr. Yamaguchi, Uskup Nagasaki; Mgr. Leven, SVD dan Mgr. Willekens tidak diinternir, tetapi terbatas geraknya).

Pada tahun 1945 Mgr. Soegijapranata berusaha menjadi perantara dan pendamai antara pemuda pejuang dan tentara Jepang, antara Gurkha dan Jepang di Semarang dan tidak jarang pula antara Pemerintah RI dan beberapa tokoh Belanda. Walaupun jelas berpihak pada Republik dan karenanya pindah dari Gendangan (Semarang) ke Bintaran (Yogyakarta) pada tahun 1946, ia tak pernah lelah mencari penyelesaian tanpa korban manusia. Selama di Yogya ia menjalin hubungan erat dengan Presiden Soekarno serta keluarganya dan tokoh pemerintahan lain. Hubungan itu sangat bermanfaat dalam tahun 1950 untuk menangkis tindakan-tindakan kaum kiri terhadap gereja dan lembaga-lembaganya.

Pada tahun 1950 pemulihan kerusakan material dan kelesuan rohani Vikartiat Semarang merupakan beban berat bagi Mgr. Soegijaparnata. Selain itu perlu diletakkan dasar yang kuat bagi perkembangan umat Katolik di negara merdeka dengan tuntutan zaman yang baru, khususnya integrasi di masyarakat Indonesia dan pemberian sumbangan khas pada pembangunan masa depan. Mgr. Soegijaparanata sangat berjasa dalam memberi perhatian dan dukungan sepenuhnya pada usaha-usaha orang awam di bidang sosial ekonomi, misalnya pada Organisasi Buruh Pancasila yang didirikan di Semarang (1954) sebagai pelaksanaan suatu resolusi KUKSI I di Yogyakarta (1949). Sebagai ketua Panitia Sosial para Waligereja Indonesia (1955) Mgr. berpengaruh pada Konferensi II, yang memutuskan supaya Ikatan Buruh/ Petani Pancasila dikembangkan di seluruh Indonesia (1957) dengan bantuan ‘Biro Sosial Sentral” yang didirikan pada tahun 1958. Banyak kegiatan dalam bidang sosial dan sosial ekonomi dimulai di Vikariat Semarang berkat sikap terbuka uskupnya, yang memberi dorongan, bimbingan (misalnya melalui surat-surat gembala) dan kebebasan.

Mgr. Soegijapranata paling dikenal sebagai tokoh, yang bersama dengan I.J. Kasimo mengintegrasikan umat Katolik sejak semula dalam Republik Indonesia, yang menekankan Pancasila sebagai pemersatu seluruh bangsa, yang menyerukan agar umat Katolik berjuang demi kesejahteraan bersama tanpa pamrih. Walaupun posisinya sulit dalam konflik antara RI dan Belanda, Mgr. berhasil membuat jelas, bahwa di satu pihak Gereja Katolik bersifat supra-nasional dan di lain pihak orang-orang Katolik mendukung sepenuhnya perjuangan adil bangsa Indonesia. Mgr. Soegijaparanata diangkat menjadi Uskup Agung Semarang yang pertama (1961) dan mengikuti Sidang Pertama Konsili Vatikan II (1962). “Beliau tidak mengenal takut, payah atau putus asa. Banyak umat dijiwainya dengan sikap tegas.’ (P. Dijkstra, S.J.). Tetapi, tugas-tugasnya yang semakin banyak, melemahkan kesehatannya, sehingga ia dianjurkan dokter untuk berobat ke Belanda. Pada 6 Juli 1963 Mgr. Soegijapranata meninggal di biara Suster-suster Penyelenggaraan Illahi di Steyl, Nederland. Atas perintah Presiden Soekarno, ia dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Giritunggal, Semarang, dalam upacara kemiliteran. Sebagai Uskup ABRI yang pertama, ia diberi pangkat Jenderal (Anumerta) dan dinyatakan sebagai Pahlawan Nasional.




DjohanHanafiah bag 1

Djohan Hanafiah

Riwayat Hidup

Djohan Hanafiah adalah anak sulung dari tujuh bersaudara yang lahir pada tanggal 5 Juni 1939 di Palembang dari pasangan Raden Muhammad Ali Amin dan Raden Ayu Ning Fatimah. Ayah Djohan Hanafiah adalah seorang biroktat beraliran nasionalis. Sikap nasionalis sang ayah ditunjukkan ketika zaman revolusi fisik tahun 1945-1946, Raden Muhammad Ali Amin turut bergerilya ke pedalaman Sumatra Selatan melawan tentara NICA (Nederlandsch Indië Civil Administratie). Selain itu ayah Djohan Hanafiah juga tidak mau memasukan anaknya ke sekolah-sekolah buatan Belanda dan lebih memilih Taman Siswa

Sejak usia dini, Djohan Hanafiah telah dikenalkan dengan pendidikan di Taman Siswa. Sejak masuk pendidikan sekolah dasar antara tahun 1945-1946 sampai dengan sekolah menengah atas, semua ditempuh oleh Djohan Hanafiah di Taman Siswa di Palembang . Besar kemungkinan dari sinilah pengaruh sosok Ki Hajar Dewantara sangat dirasakan oleh Djohan Hanafiah. Sosok pendidik dan penggali budaya sebagaimana yang tercermin dalam pribadi Ki Hajar Dewantara membekas kuat dalam kehidupan Djohan Hanafiah selanjutnya.

Pria yang akhirnya menempuh pendidikan di Universitas Sriwijaya, Palembang, Sumatra Selatan ini kemudian aktif dalam kegiatan tulis-menulis untuk menyalurkan minatnya dalam bidang kebudayaan. Di bangku kuliah inilah, Djohan Hanafiah banyak menghabiskan waktu untuk bergulat dengan kajian kebudayaan. Organisasi Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) dan koran Panji Revolusi akhirnya dijadikan media bagi Djohan Hanafiah untuk menyalurkan minatnya dalam bidang kebudayaan

Aktivitas Djohan Hanafiah di bidang kebudayaan sempat terhenti karena selepas menyelesaikan kuliah, Djohan Hanafiah mulai merambah ke dunia bisnis. Keputusan untuk terjun ke dunia bisnis ternyata lebih dipengaruhi oleh faktor politis, yaitu peristiwa Gerakan 30 September 1965 yang mengharuskan Djohan Hanafiah untuk tidak menulis tentang kebudayaan.

Pada tahun 1967-1971, Djohan Hanafiah menjadi Representative Area Sumatra for CIBA-GEIGY. Selanjutnya pindah menjadi Sales Manager for Southern Sumatra Grolier International hingga tahun 1973, lalu membuat perusahaan sendiri yakni CV.Mitra, authorized dealer Volkswagen di Palembang hingga tahun 1975. Kemudian Djohan terjun sebagai pengurus HIPMI (Himpunan Pengusaha Muda Indonesia) dan KADIN (Kamar Dagang Indonesia)

Bisnis Djohan Hanafiah terus berkembang hingga memimpin sejumlah perusahaan di Palembang. Terakhir, Djohan Hanafiah menjabat sebagai Direktur Utama PT.Tejacatur Primaperkasa hingga 1993, sebelum akhirnya memutuskan terjun ke dunia politik dan meluangkan waktu yang lebih banyak untuk menggali sejarah dan budaya Palembang. Selama dua periode, yaitu periode 1992-1997 dan 1999-2004, Djohan Hanafiah terpilih menjadi anggota DPRD Sumatra Selatan.

Ternyata di sela-sela kesibukannya dalam berbisnis dan berpolitik, minat Djohan Hanafiah untuk menulis tentang budaya kembali muncul. Bermula dari rasa penasaran dan kegelisahan akan kalimat yang lazim berlaku di masyarakat tentang penyebutan wong Palembang sebagai Palembang “Buntung”, Djohan Hanafiah mencoba mengurai makna dari anggapan Palembang “Buntung” tersebut.

Sebutan Palembang “Buntung” sebenarnya lebih bermakna sebagai anekdot karena para pendatang, baik dari Jawa, Minang, atau Melayu, menilai bahwa wong Palembang adalah perwujudan dari budaya yang “gado-gado”, yaitu suatu anggapan yang dikenakan kepada wong Palembang karena dinilai tidak memiliki identitas yang jelas. Wong Palembang dinilai tidak memiliki budaya yang mengakar kuat karena adanya dua budaya besar yang berpangaruh bagi orang Palembang, yaitu Melayu dan Jawa.

Sebagai salah satu upaya untuk mengaplikasikan pemikirannya, Djohan Hanafiah menulis buku yang berjudul Melayu-Jawa: Citra budaya dan sejarah Palembang. Buku yang terbit pada tahun 1995 ini mengupas tentang wong Palembang, asal dan adat istiadatnya yang ternyata berkaitan erat dengan budaya yang datang silih berganti di Palembang sehingga mendistorsikan budaya setempat (local genius) yang berujung pada penyebutan Palembang “Buntung” (Djohan Hanafiah, 1995:2, 10, 13-14).

Selain bergiat di bidang kebudayaan, Djohan Hanafiah juga menaruh perhatian yang serius terhadap sejarah Palembang. Jika ditilik ke belakang, latar belakang ketertarikan Djohan Hanafiah tentang sejarah Palembang, khususnya nasionalisme, terpengarauh dari dua figur utama, yaitu Ki Hajar Dewantara dan Raden Muhammad Ali Amin (ayah Djohan Hanafiah).

Dua figur inilah yang membentuk karakter Djohan Hanafiah. Ki Hajar memberikan cerminan bagaimana cara mengangkat derajat kaum Bumiputera yang diwujudkan melalui Perguruan Taman Siswa. Sedangkan Raden Muhammad Ali Amin mengajarkan tentang sisi nasionalisme yang diterjemahkan dengan keikutsertaaannya dalam perang gerilya pada masa revolusi fisik dan menolak untuk memasukkan anak-anaknya di sekolah buatan Belanda dan lebih memilih Taman Siswa.

Sisi nasionalisme telah diajarkan oleh dua figur utama yang membentuk karakter Djohan Hanfiah yang mengedepankan pemikiran untuk mengangkat budaya dan sejarah lokal Palembang. Djohan Hanafiah mencoba untuk menuliskan budaya dan sejarah Palembang, baik tentang peristiwa maupun adat istiadat. Lewat berbagai tulisan yang kemudian dibukukan dan diseminarkan tersebut, Djohan Hanafiah menaruh harapan bahwa budaya dan sejarah Palembang dapat dikenal dan lestari.

Buku pertama yang ditulis oleh Djohan Hanafiah yang berbicara tentang masalah sejarah adalah peperangan antara pihak Belanda dengan Kesultanan Palembang Darussalam pada tahun 1819-1821. Buku tersebut berjudul Perang Palembang 1819-1821 yang diterbitkan oleh Pariwisata Jasa Utama pada tahun 1986. Secara khusus, Djohan Hanafiah menyatakan bahwa, “Saya menulis soal sejarah perang ini, sebab hanya perang itu yang terus membangun rasa nasionalisme wong Palembang,” katanya

Lewat karya Djohan Hanafiah gairah untuk menanamkan nasionalisme di kalangan wong Palembang mulai tersemai. Bisa dikatakan minat wong Palembang untuk kembali menggali sejarah daerahnya berawal dari pembacaan kembali tulisan-tulisan dari Djohan Hanafiah. Tulisan-tulisan Djohan Hanafiah berpengaruh untuk membangun kesadaran tentang kepedulian wong Palembang terhadap sejarah daerahnya sendiri.

Meskipun telah cukup memberikan hasil, aktivitas Djohan Hanafiah untuk terus menulis tidak berhenti sebatas hanya menerbitkan sebuah buku saja. Djohan Hanafiah terus mencari ide-ide baru yang berkenaan dengan sejarah Palembang dan akhirnya berhasil menerbitkan beberapa karya tulis, antara lain Masjid Agung, sejarah dan masa depannya (1988); Palembang zaman baru, citra Palembang tempo doeloe (1988); Kuto Besak: Upaya Kesultanan Palembang menegakkan kemerdekaan (1989)

Selain menulis buku tentang sejarah dan kebudayaan, Djohan Hanafiah juga merupakan seorang organisator. Setidaknya ada dua organisasi kebudayaan yang pernah didirikan oleh suami dari Napsiah ini, yaitu Kerukunan Keluarga Palembang (KKP) pada tahun 1997 dan Himpunan Zuriat Kesultanan Palembang Darussalam yang dipimpin oleh Drs. Raden H. Muhammad Sjafei Prabu Diradja, S.H. bin Raden H. Abdul Hamid Prabudiradja IV dengan gelar Sultan Mahmud Badaruddin Prabudiradja (Sultan Mahmud Badaruddin III). Zuriat ini didirikan pada tanggal 3 Maret 2003 di Masjid Lawang Kidul, Palembang (Kemas Ari, 2006, dalam Kiprah Djohan Hanafiah dalam menggali, mengembangkan kebudayaan, dan sejarah lokal Palembang sepertinya merupakan pekerjaan yang tidak akan pernah selesai. Akan tetapi kondisi fisik Djohan Hanafiah yang semakin renta akhirnya mencapai titik maksimal. Ayah dari Revi Vereyanthi, Resi Stantiawati, Reli Everyanti, dan Mohamad Iksan ini harus dirawat di rumah sakit karena didiagnosa menderita penyakit jantung.

Djohan Hanafiah di usia senja

Tokoh besar yang dikenal oleh masyarakat Palembang sebagai budayawan dan sejarawan ini akhirnya tutup usia pada hari Kamis, 15 April 2010, pukul 01.15 WIB, di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM), Jakarta dalam usia 71 tahun  Beliau didiagnosa menderita penyakit jantung koroner. Setelah sempat dirawat selama 12 hari di RSCM, akhirnya Djohan Hanafiah meninggal dunia. Pada hari yang sama, jenazah Djohan Hanafiah dimakamkan di TPU Puncak Sekuning, Palembang


1. Palembang “Buntung”

Ketertarikan Djohan Hanafiah dalam mengkaji tentang budaya dan sejarah Palembang bisa dikatakan bermula dari ungkapan Palembang “Buntung”. Sebagai wong Palembang, pada awalnya seorang Djohan Hanafiah tidak mengerti akan maksud ungkapan tersebut. Didorong oleh rasa ingin tahu akan ungkapan Palembang “Buntung”, maka Djohan Hanafiah mencoba untuk menerjemahkan ungkapan yang sering dia dengar tersebut.

Setelah mencari sumber dan data untuk menuntaskan rasa ingin tahu, akhirnya Djohan Hanafiah mendapatkan arti tentang ungkapan Palembang “Buntung”. Palembang “Buntung” ternyata diartikan sebagai ketidakjelasan akan akar budaya pada masyarakat Palembang (wong Palembang).





 Berawal dari sinilah, maka Djohan mencoba menyumbangkan pemikiran untuk mencairkan, atau setidaknya mendistorsi, ungkapan yang terlanjur melekat pada wong Palembang tersebut.Penelitian yang kemudian dilakukan oleh Djohan Hanafiah akhirnya terpolarisasi dengan terbitnya buku yang berjudul Melayu-Jawa: Citra budaya dan sejarah Palembang. Buku yang terbit pada tahun 1995 ini secara khusus mengupas tentang sejarah dan budaya Palembang. Buku tersebut juga mencoba memaparkan dan menjawab kenapa ungkapan Palembang “Buntung” kemudian melekat pada wong Palembang.Ditilik dari segi sejarah, jika kita membaca buku Melayu-Jawa: Citra budaya dan sejarah Palembang, maka jelas terlihat bahwa sejarah Palembang memang terbentuk dari beragam suku bangsa yang pernah mendiami bahkan menguasai daerah yang kini dikenal dengan nama Palembang tersebut. Mulai suku bangsa Cina, Jawa, Melayu, bahkan Eropa (Belanda) pernah ambil bagian dalam pembentukan sejarah dan budaya di Palembang. Maka tidak mengherankan jika kemudian banyak warisan, khususnya peninggalan budaya, yang tertinggal dan diamalkan oleh orang-orang setelahnya.Banyaknya budaya warisan tersebut tampaknya membaur dan bercampur sehingga menghasilkan kebudayaan baru yang kemudian dipakai oleh wong Palembang. Sebagaimana dinyatakan oleh Djohan Hanafiah, “… digodok oleh local genius dan disebutlah sebagai kebudayaan Palembang” (Djohan Hanafiah, 1995:2). Melalui buku tersebut, Djohan Hanafiah menuangkan pemikirannya bahwa budaya yang kemudian lazim dipakai oleh wong Palembang adalah percampuran antara budaya Melayu-Jawa yang kemudian bercampur dengan local genius sehingga memunculkan budaya Palembang. Inilah jawaban atas kegelisahan Djohan Hanafiah yang telah dirasakannya sejak usia remaja. Sebagaimana yang diungkapkan Djohan Hanafiah, “Buku merupakan cermin kegelisahan saya sejak remaja mengenai identitas wong Palembang. Ya, identitas wong Palembang itu yakni Melayu-Jawa,” katanya ( buku ini Djohan Hanafiah mendapat pengakuan sebagai budayawan dari publik di Palembang, dan kemudian meluas secara nasional maupun international. Djohan dinilai telah mampu merumuskan identitas wong atau masyarakat Palembang yang sebelumnya seakan tidak memiliki identitas atau “buntung” 2. NasionalismePemikiran tentang nasionalisme didapatkan Djohan Hanafiah dari dua figur, yaitu Ki Hajar Dewantara dan Raden Muhammad Ali Amin. Ki Hajar Dewantara memberikan cerminan bagaimana cara mengangkat derajat kaum Bumiputera yang diwujudkan melalui Perguruan Taman Siswa. Sedangkan Raden Muhammad Ali Amin adalah seorang biroktat beraliran nasionalis. Sikap nasionalis sang ayah ditunjukkan ketika zaman revolusi fisik tahun 1945-1946, Raden Muhammad Ali Amin turut bergerilya ke pedalaman Sumatra Selatan melawan tentara NICA (Nederlandsch Indië Civil Administratie). Selain itu ayah Djohan Hanafiah juga tidak mau memasukan anaknya ke sekolah-sekolah buatan Belanda dan lebih memilih Taman Siswa  Dari dua tokoh inilah, tercipta sisi nasionalis seorang Djohan Hanafiah yang diwujudkan dengan lahirnya berbagai karya dengan tema sejarah dan budaya lokal Palembang.Pandangan Djohan Hanafiah mengenai sejarah cukup menarik. “Sejarah harus ditulis apa adanya. Sejarah yang jelek secara moral juga harus ditulis, tidak hanya yang baik-baik. Ini penting, sebab ini akan menentukan sejarah selanjutnya. Sejarah di Indonesia banyak ditulis yang baik-baik saja, sehingga sering berbenturan dengan realitas hari ini. Dampaknya orang ragu menjadikannya sebagai pijakan buat menyusun sejarah ke depan,” katanya Berpijak dari pandangan tersebut, maka Djohan Hanafiah berupaya untuk menuliskan sejarah wong Palembang. Bagi Djohan Hanafiah, terlepas dari pandangan para pembaca nantinya, menuliskan tentang sejarah wong Palembang merupakan suatu hal yang penting, yaitu sebuah upaya untuk membangun kesadaran bagi wong Palembang agar mau mengerti, atau setidaknya tahu, tentang sejarah daerahnya sendiri.Pemikiran Djohan Hanafiah untuk menuliskan tentang sejarah Palembang akhirnya tersalurkan ketika buku pertamanya yang membahas tentang sejarah terbit pada tahun 1986. Buku berjudul Perang Palembang 1819-1821 tersebut ditulis oleh Djohan Hanafiah dengan tujuan untuk menggali semangat nasionalisme yang dimiliki oleh wong Palembang ketika terjadi perseteruan antara pihak Belanda dan Kesultanan Palembang DarussalamBagi Djohan Hanafiah, upaya untuk mengenal jati diri bisa dimulai dengan cara mengenal sejarah bangsanya sendiri, yang dalam hal ini adalah sejarah lokal Palembang. Untuk itulah, berbagai tulisan yang kemudian dihasilkan oleh Djohan Hanafiah mengambil tema besar tentang sejarah lokal Palembang.Upaya Djohan Hanafiah di awal era 1980-an ternyata berbuah cukup manis. Karyanya yang berjudul Perang Palembang 1819-1821 ternyata banyak dibaca dan memberikan warna sehingga memantik beberapa orang untuk menulis tentang sejarah Palembang, baik dalam karya tulis ilmiah seperti skripsi maupun dalam artikel-artikel.

Semangat Djohan Hanafiah dalam menggarap pemikiran orang Palembang untuk mau menulis tentang sejarahnya sendiri tidak berhenti sampai pada penulisan buku pertamanya. Djohan Hanafiah terus memainkan peran nyata dengan tetap produktif menulis beberapa buku yang terbit pada era 1980-an, antara lain Masjid Agung, sejarah dan masa depannya (1988); Palembang zaman baru, citra Palembang tempo doeloe (1988); Kuto Besak: Upaya Kesultanan Palembang menegakkan kemerdekaan (1989)


Sejak tahun 1980, Djohan Hanafiah telah menghasilkan puluhan buku bertemakan sejarah dan budaya dan tidak kurang dari tidak kurang dari 288 artikel. Artikel-artikel tulisan Djohan Hanafiah tersebut banyak dipublikasikan di berbagai media massa dan jurnal. Berikut ini adalah beberapa karya dari Djohan Hanafiah:

a. Buku

Djohan Hanafiah, 1986. Perang Palembang 1819-1821. Palembang: Pariwisata Jasa Utama.
Djohan Hanafiah, 1987. Kuto Gawang: Pergolakan dan permainan politik dalam kelahiran Kesultanan Palembang Darussalam. Palembang: Pariwisata Jasa Utama.
Djohan Hanafiah, 1988. Masjid Agung Palembang: Sejarah dan masa depannya. Jakarta: Haji Masagung.
Djohan Hanafiah, 1989. 82 tahun Pemerintah Kota Palembang. Palembang: Humas Pemda Kotamadya Palembang.
Djohan Hanafiah, 1989. Palembang zaman baru, citra Palembang tempo doeloe. Palembang: Humas Pemda Kotamadya Palembang.
Djohan Hanafiah, 1989. Kuto Besak: Upaya Kesultanan Palembang menegakkan kemerdekaan. Jakarta: Haji Masagung.
Djohan Hanafiah, 1995. Melayu-Jawa: Citra budaya dan sejarah Palembang. Jakarta: Pemerintah Daerah Tingkat II Kotamadya Palembang bekerjasama dengan PT Raja Grafindo Persada.
Djohan Hanafiah, 1996. Perang Palembang melawan VOC. Palembang: Karyasari.
Djohan Hanafiah, 1996. Sejarah perkembangan pemerintahan di Sumatra Selatan. Palembang: Pemerintah Daerah Sumatra Selatan.
Djohan Hanafiah, 1999. Pasemah Sindang Merdika. Palembang: Paguyuban Masyarakat Peduli Musi.
b. Artikel atau Makalah

Djohan Hanafiah, “Palembang sebagai ajang pertemuan aneka macam kebudayaan dalam dimensi waktu”. Makalah yang disampaikan pada Lokakarya Nasional Pengajaran Sejarah Arsitektur 6, kerjasama LSAI dan Jurusan Arsitektur STT Musi, Palembang: 2001.
Djohan Hanafiah, “Dinasti Syailendra berasal dari Gunung Dempo”. Makalah yang disampaikan pada Seminar Nasional “Peradaban Besemah sebagai Pendahulu Kerajaan Seriwijaya”, Palembang: 28 Februari 2009 .
C. Organisasi

Pendiri Kerukunan Keluarga Palembang (KKP) pada tahun 1997. KKP merupakan sebuah organisasi di Palembang yang didirikan dengan tujuan untuk menggali seni dan adat-istiadat Palembang (
Himpunan Zuriat Kesultanan Palembang Darussalam yang dipimpin oleh Drs. Raden H. Muhammad Sjafei Prabu Diradja, S.H. bin Raden H. Abdul Hamid Prabudiradja IV dengan gelar Sultan Mahmud Badaruddin Prabudiradja (Sultan Mahmud Badaruddin III). Zuriat ini didirikan pada tanggal 3 Maret 2003 di Masjid Lawang Kidul, Palembang (Kemas Ari, 2006, dalam


Totalitas Djohan Hanfiah dalam menggali sejarah dan kebudayaan Palembang memang tidak diragukan lagi. Pelacakan kembali sejarah dan budaya Palembang yang mulai marak pada tahun 1980-an, bisa dikatakan, dipicu oleh pembacaan atas tulisan-tulisan yang telah dibuat oleh Djohan Hanafiah.

Atas kerja keras tersebut, maka tidak berlebihan jika beberapa pihak memberikan apresiasi berupa penghargaan kepada Djohan Hanafiah. Beberapa penghargaan tersebut antara lain:

Mendapatkan sebutan sebagai “Bapak penggali sejarah dan budaya Palembang” oleh wong Palembang setelah bukunya yang berjudul Melayu-Jawa: Citra budaya dan sejarah Palembang, terbit pada tahun 1995. Melalui buku ini, Djohan Hanafiah berhasil memunculkan identitas wong Palembang yang dikatakan telah”buntung”
3rd Malay and Islamic World Convention dari Dr. M. Mahatir, Prime Minister di Melaka pada tahun 2002
Satya Lencana Kebudayaan dari Presiden Republik Indonesia, Megawati Soekarno Putri pada tahun 2004





 pahlawan tanpa tanda jasa

Samin Surosentiko lahir pada tahun 1859, di Desa Ploso Kedhiren, Randublatung Kabupaten Blora. Ayahnya bernama Raden Surowijaya atau lebih dikenal dengan Samin Sepuh. Nama Samin Surosentiko yang asli adalah Raden Kohar . Nama ini kemudian dirubah menjadi Samin, yaitu sebuah nama yang bernafas kerakyatan. Samin Surosentiko masih mempunyai pertalian darah dengan Kyai Keti di Rajegwesi, Bojonegoro dan juga masih bertalian darah dengan Pengeran Kusumoningayu yang berkuasa di daerah Kabupaten Sumoroto ( kini menjadi daerah kecil di Kabupaten Tulungagung) pada tahun 1802-1826. Pada tahun 1890 Samin Surosentiko mulai mengmbangkan ajarannya di daerah Klopoduwur, Blora. Banyak penduduk di desa sekitar yang tertarik dengan ajarannya, sehingga dalam waktu singkat sudah banyak masyarakat yang menjadi pengikutnya. Pada saat itu pemerintah Kolonial Belanda belum tertarik dengan ajarannya, karena dianggap sebagai ajaran kebatinan biasa atau agama baru yang tidak membahayakan keberadaan pemerintah kolonial. Pada tahun 1903 Residen Rembang melaporkan bahwa ada sejumlah 722 orang pengikut samin yang tersebar di 34 Desa di Blora bagian selatan dan daerah Bojonegoro. Mereka giat mengembangkan ajaran Samin. Sehingga sampai tahun 1907 orang Samin berjumlah + 5.000 orang. Pemerintah Kolonial Belanda mulai merasa was-was sehingga banyak pengikut Samin yang ditangkap dan dipenjarakan. Dan pada tanggal 8 Nopember 1907, Samin Surosentiko diangkat oleh pengikutnya sebagai RATU ADIL,dengan gelar Prabu Panembahan Suryangalam. Kemudian selang 40 hari sesudah peristiwa itu, Samin Surosentiko ditangkap oleh raden Pranolo, yatu asisten Wedana Randublatung. Setelah ditangkap Samin beserta delapan pengikutnya lalu dibuang ke luar Jawa, dan berliau meninggal di luar jawa pada tahun 1914.

Beberapa pergerakan masyarakat Samin
Tahun 1908, Penangkapan Samin Surosentiko tidak memadamkan pergerakan Samin. Wongsorejo, salah satu pengikut Samin menyebarkan ajarannya didistrik Jawa, Madiun. Di sini orang-orang Desa dihasut untuk tidak membayar Pajak kepada Pemerintah Kolonial. Akan tetapi Wongsorejo dengan baberapa pengikutnya ditangkap dan dibuang keluar Jawa.
Tahun 1911 Surohidin, menantu Samin Surosentiko dan Engkrak salah satu pengikutnya menyebarkan ajaran Samin di daerah Grobogan, sedangkan Karsiyah menyebarkan ajaran Samin ke Kajen, Pati.
Tahun 1912, pengikut Samin mencoba menyebarkan ajarannya di daerah Jatirogo, Kabupaten Tuban, tetapi mengalami kegagalan.
Tahun 1914, merupakan puncak Geger Samin. Hal ini disebabkan karena Pemerintah Kolonial belanda menaikkan Pajak, bahkan di daerah Purwodadi orang-orang Samin sudah tidak lagi menghormati Pamong Desa dan Polisi, demikian juga di Distrik Balerejo, Madiun. Di Kajen Pati, Karsiyah tampil sebagai Pangeran Sendang Janur, menghimbau kepada masyarakat untuk tidak membayar pajak. Di Desa Larangan, Pati orang-orang Samin juga menyerang aparat desa dan Polisi Di Desa Tapelan, Bojonegoro juga terjadi perlawanan terhadap Pemerintah Kolonial Belanda, yaitu dengan tidak mau membayar pajak.
Tahun 1930, perlawanan Samin terhadap pemerintah Kolonial terhenti, hal ini disebabkan karena tidak ada figur pimpinan yang tanggguh Dalam naskah tulisan tangan yang diketemukan di Desa Tapelan yang berjudul Serat Punjer Kawitan, disebut-sebut juga kaitan Samin Surosentiko dengan Adipati Sumoroto. Dari data yang ditemukan dalam Serat Punjer Kawitan dapat disimpulkan bahwa Samin Surosentiko yang waktu kecilnya bernama Raden Kohar , adalah seorang Pangeran atau Bangsawan yang menyamar dikalangan rakyat pedesaan. Dia ingin menghimpun kekuatan rakyat untuk melawan Pemerintah Kolonial Belanda dengan cara lain

Pokok-pokok ajaran Samin
1.Agama adalah senjata atau pegangan hidup. Paham Samin tidak membeda-bedakan agama, yang penting adalah tabiat dalam hidupnya.
2.Jangan mengganggu orang, jangan bertengkar, jangan irihati dan jangan suka mengambil milik orang lain.
3.Bersikap sabar dan jangan sombong.
4.Manusia harus memahami kehidupannya, sebab roh hanya satu dan dibawa abadi selamanya.
5.Bila orang berbicara, harus bisa menjaga mulut, jujur dan saling menghormati. Orang Samin dilarang berdagang karena terdapat unsur ‘ketidakjujuran’ didalamnya. Juga tidak boleh menerima sumbangan dalam bentuk apapun.

Ajaran Samin
Wong Samin, begitu orang menyebut mereka. Masyarakat ini adalah keturunan para pengikut Samin Soersentiko yang mengajarkan sedulur sikep, dimana dia mengobarkan semangat perlawanan terhadap Belanda dalam bentuk lain diluar kekerasan. Bentuk yang dilakukan adalah menolak membayar pajak, menolak segala peraturan yang dibuat pemerintah kolonial. Masyarakat ini acap memusingkan pemerintah Belanda maupun penjajahan Jepang karena sikap itu, sikap yang hingga sekarang dianggap menjengkelkan oleh kelompok diluarnya.
Masyarakat Samin sendiri juga mengisolasi diri hingga baru pada tahun 70an mereka baru tahu Indonesia telah merdeka. Kelompok Samin ini tersebar sampai pantura timur Jawa Tengah, namun konsentrasi terbesarnya berada di kawasan Blora, Jawa Tengah dan Bojonegoro, Jawa Timur yang masing-masing bermukim di perbatasan kedua wilayah. Jumlah mereka tidak banyak dan tinggal dikawasan pegunungan Kendeng diperbatasan dua propinsi. Kelompok Samin lebih suka disebut wong sikep, karena kata Samin bagi mereka mengandung makna negatif. Orang luar Samin sering menganggap mereka sebagai kelompok yang lugu, suka mencuri, menolak membayar pajak, dan acap menjadi bahan lelucon terutama dikalangan masyarakat Bojonegoro.



 P.K Ojong dan Jacob Oetama

Petrus Canisius Ojong
Real name:
Ow Jong Peng Koen
Bukittinggi, July 25, 1920
Jakarta, 1980
Ow Jong PauwPendidikan:
– Hollandsch Chineesche School (HCS, elementary school Chinese) Payakumbuh
– Hollandsche Chineesche Kweekschool (HCK, school teachers) Occupation:
Senior journalist, founder of Kompas-Gramedia
Ow Jong Peng Koen, later popularly known Ojong PK (Peter Canisius Ojong), is one of the founders of Compass Group – Gramedia. He was a journalist thought noble. For her idealism should not walk alone, but must be accompanied by intelligence, expertise sought, and beautiful character. Compass former boss died in 1980.As a journalist, since the early 30s, PK Ojong already faced with complicated choices: berpena sharp or banned.
It was impossible to be idealistic journalist. Luckily he had a “spiritual adviser” heart of gold, which gives a lot of lessons. One of them: idealism should not walk alone, but must be accompanied by intelligence, expertise sought, and beautiful character. Otherwise, be prepared to be martyred.Excerpts journey Ojong Peter Canisius, who dibesut Helen PK Ojong Ishwara in the book: Living Simple Thinking Honor (2001) feels like a guide for journalists in print media to build properly. His experience, background of political intrigue Old Order and New Order, so detailed.Since its birth in London, July 25, 1920, under the name Ow Jong Peng Koen, Ojong been blessed with gifts beyond measure. Namely the father, Ow Jong Pauw, early aggressive whisper efficient, disciplined, and diligent in his ear. Jong Pauw a farmer on the island of Quemoy (now Taiwan region) has always dreamed of a better life. So he migrated to Sumatra, West Sumatra precisely.

Later, despite the skipper tobacco, trilogy thrift, discipline, and perseverance remain guided large families (11 children from two wives; Jong Pauw’s first wife died after giving birth to seven children. Peng Koen eldest son from his second wife) who settled in Payakumbuh this. When Peng Koen small, the number of cars in Payakumbuh not ten, one of which belonged to his father.

That is, they are affluent. But, Jong Pauw always advised, rice on a plate to be spent until the last point. Until the end of life, Peng Koen was never menyentong rice more than the roughly can be spent.

Even after becoming boss Kompas – Gramedia, Ojong unchanged. “Money change $ 25, – also must be returned to Papi,” said her youngest daughter, Mariani. Ojong have six children, four of them men.

However, he did not “stingy” in people or charities that really need, even willing to donate up to tens of millions of dollars. But, do not ask money for the party mate, or even the Christmas celebration. “If you do not have money, do not have a party,” he explained always.

Professor senile and old virgin
Koen Peng is also disciplined and serious, as he showed when attended Hollandsch Chineesche School (HCS, Chinese residents elementary school) Payakumbuh. In this period, he became acquainted with the teachings of the Catholic religion.

Some time later, he converted to Catholicism and get a baptismal name Andrew. Dolf Tjoa Tjeng Kong, a former classmate at HCS, remembered him as a serious student. “He’s not only smart, but too much to ask,” said Dolf.

While at home, her sisters to witness just how disciplined Peng Koen. He liked farming, but not like a neglected plant. They often get yelled at if you let the displaced pages.

If Peng Koen at home (he had moved to Padang HCS), prior to her sisters at 17.00 a quick shower. If not, they could be dragged into the bathroom. Not surprisingly, her sisters were afraid of him.

On the other hand, the brother-sister (half) think of him as an “adult”. He does look a quick chat with a mature and happy adult in a coffee shop. In Hollandsche Chineesche Kweekschool (HCK, school teacher), she likes to read newspapers and magazines are subscribed association boarder. If other students just pay attention to the editorial content, Auwjong also examine ways of writing and presenting ideas.

The properties that form the character Auwjong. The habit of saving him carefully and thoroughly. Discipline and perseverance he be the one to form a straight and serious. During law school, Oei Tjoe Tat, fellow college who later became minister of state at the end of the reign of Sukarno, commented, “He often responded to everything too seriously. If it be funny, lelulonnya dry.”

The story of former friends in HCK more “exciting”. At school teacher high school level, the elected chairman of the association Auwjong students. He is responsible for providing reading materials and organizing a party for members of the Lunar New Year’s Eve and the year-end picnic. On the night of Chinese New Year, the tradition event held polonaise, skits, singing, and dinner special.

But Auwjong just chatting and chatting. That said, he was a little stiff when dealing with the opposite sex. A mother, a former classmate and now employers sweetshop in Cianjur, Oei Yin Hwa, still remember very well, in school Auwjong verstrooide professor dubbed aka senile professor.

Regarding nicknames, names Auwjong also had a history of funny. Another with his father who wrote “Ow Jong” separate, Ojong actually write “Auwjong” version number. In August 1937, when introducing themselves in front of his friends in the HCK, Auwjong her name with a thick accent of West Sumatra. Until there are classmates thought Auwjong said Ouwe jongen aka “old virgin”. (Source: Digest Novemeber 2002)

Peng Koen Auyong MULO school teacher brothers in Padang with Servaas Brother, Brother Sevaas set up printing in Padang and Auyong Volharding Peng Koen helped, that’s where his printing career began, and then he moved to Jakarta Hukum.dan School in faculty work in the embryo of the Kompas daily namely Keng Poo who also publishes Star magazine weekly, later he also helped the Catholic church publishes a magazine of the Sower, in collaboration with Mr. Jacob Oetama, then they pioneered the establishment of the daily Kompas Gramedia and magazines essence.

 Drs ARAbdisa a tax consultant is a good friend they termasu Indonesian badminton players are also affected by Ferry Soeneville Drs. PK Persahabatn Ojong premises Oetama Jacob who fought to establish and Kompas Gramedia, wearing an old car that often strike and should be encouraged-dorng ever written in Majallah sower. after PK Ojong died dna Kompas Gramedia forwarded by Jacob Oetama to date.



Petrus Kanisius Ojong
Nama Asli:
Peng Koen Auw Jong
Bukittinggi, 25 Juli 1920
Jakarta, 1980
Auw Jong PauwPendidikan:
– Hollandsch Chineesche School (HCS, sekolah dasar khusus warga Cina) Payakumbuh
– Hollandsche Chineesche Kweekschool (HCK, sekolah guru)Pekerjaan:
Wartawan Senior, Pendiri Kompas-Gramedia

Peng Koen Auw Jong, yang kemudian populer dengan nama PK Ojong (Petrus Kanisius Ojong), adalah salah satu pendiri Kelompok Kompas – Gramedia. Dia seorang jurnalis berpikir mulia. Baginya idealisme tak boleh berjalan sendirian, tapi harus didampingi kecerdasan, kepiawaian berusaha, dan watak nan indah. Mantan Bos Kompas ini meninggal tahun 1980.

Sebagai kuli tinta, sejak awal usia 30-an, PK Ojong sudah dihadapkan pada pilihan rumit: berpena tajam atau dibredel.
Rasanya, mustahil menjadi jurnalis idealis. Beruntung dia punya “penasihat spiritual” berhati emas, yang banyak memberi pelajaran. Salah satunya: idealisme tak boleh berjalan sendirian, tapi harus didampingi kecerdasan, kepiawaian berusaha, dan watak nan indah. Jika tidak, bersiap-siaplah menjadi martir.

Cuplikan perjalanan hidup Petrus Kanisius Ojong, yang dibesut Helen Ishwara dalam buku PK Ojong: Hidup Sederhana, Berpikir Mulia (2001) terasa bak tuntunan bagi wartawan dalam membangun media cetak dengan baik dan benar. Pengalamannya, berlatar belakang intrik politik Orde Lama dan Orde Baru, begitu rinci.

Sejak lahir di Bukittinggi, 25 Juli 1920, dengan nama Peng Koen Auw Jong, Ojong sudah dikaruniai anugerah tak terkira. Yakni sang ayah, Auw Jong Pauw, sejak dini giat membisikkan kata hemat, disiplin, dan tekun ke telinganya. Jong Pauw yang petani di Pulau Quemoy (kini wilayah Taiwan) selalu memimpikan kehidupan yang lebih baik. Maka ia merantau ke Sumatra, tepatnya Sumatra Barat.

Kelak, meski sudah menjadi juragan tembakau, trilogi hemat, disiplin, dan tekun tetap dipedomani keluarga besar (11 anak dari dua istri; istri pertama Jong Pauw meninggal setelah melahirkan anak ke-7. Peng Koen anak sulung dari istri kedua) yang menetap di Payakumbuh ini. Saat Peng Koen kecil, jumlah mobil di Payakumbuh tak sampai sepuluh, salah satunya milik ayahnya.

Artinya, mereka hidup berkecukupan. Tapi, Jong Pauw selalu berpesan, nasi di piring harus dihabiskan sampai butir terakhir. Sampai akhir hayat, Peng Koen tak pernah menyentong nasi lebih dari yang kira-kira dapat dihabiskan.

Bahkan setelah menjadi bos Kompas – Gramedia, Ojong tak berubah. “Uang kembalian Rp 25,- pun mesti dikembalikan kepada Papi,” bilang putri bungsunya, Mariani. Ojong mempunyai enam anak, empat di antaranya laki-laki.

Namun, ia tak “pelit” pada orang atau badan sosial yang benar-benar membutuhkan, bahkan rela menyumbang sampai puluhan juta dolar. Tapi, jangan minta duit untuk pesta kimpoi, atau perayaan Natal sekalipun. “Kalau tidak punya uang, jangan bikin pesta,” kilahnya selalu.

Profesor pikun dan perjaka tua
Peng Koen juga berdisiplin tinggi dan serius, seperti dia tunjukkan saat bersekolah di Hollandsch Chineesche School (HCS, sekolah dasar khusus warga Cina) Payakumbuh. Di masa ini, ia berkenalan dengan ajaran agama Katolik.

Beberapa waktu kemudian, dia masuk Katolik dan mendapat nama baptis Andreas. Dolf Tjoa Tjeng Kong, mantan teman sekelas di HCS, mengingatnya sebagai murid serius. “Dia bukan cuma pandai, tapi juga banyak bertanya,” tegas Dolf.

Sedangkan di rumah, adik-adiknya menjadi saksi betapa disiplinnya Peng Koen. Dia suka bertanam, tapi tidak suka tanaman yang tak terurus. Mereka kerap dimarahi kalau membiarkan halaman terlantar.

Jika Peng Koen di rumah (ia sempat pindah ke HCS Padang), sebelum pukul 17.00 adik-adiknya cepat-cepat mandi. Bila tidak, mereka bisa diseret ke kamar mandi. Tak heran, adik-adiknya pun takut padanya.

Di sisi lain, kakak-kakak (tiri) menganggap dia sebagai “orang dewasa”. Ia memang terlihat cepat matang dan senang ngobrol dengan orang dewasa di kedai kopi. Di Hollandsche Chineesche Kweekschool (HCK, sekolah guru), ia gemar membaca koran dan majalah yang dilanggani perkumpulan penghuni asrama. Kalau murid lain cuma memperhatikan isi tajuk rencana, Auwjong menelaah juga cara penulisan dan penyajian gagasan.

Sifat-sifat itu membentuk karakter Auwjong. Kebiasaan hemat membuatnya hati-hati dan teliti. Disiplin dan tekun membentuk dia jadi orang yang lurus dan serius. Semasa kuliah hukum, Oei Tjoe Tat, rekan kuliah yang kemudian menjadi menteri negara di akhir masa pemerintahan Sukarno, berkomentar, “Ia sering terlalu serius menanggapi segala hal. Kalau melucu, lelulonnya kering.”

Cerita mantan teman-temannya di HCK lebih “seru”. Di sekolah guru setingkat SLTA ini, Auwjong terpilih sebagai ketua perkumpulan siswa. Ia bertugas menyediakan bahan bacaan buat anggota serta menyelenggarakan pesta malam Tahun Baru Imlek dan piknik akhir tahun. Di malam Imlek, tradisinya digelar acara polonaise, sandiwara, menyanyi, dan makan malam istimewa.

Tapi Auwjong cuma ngobrol dan ngobrol. Konon, ia agak kaku jika berhadapan dengan lawan jenis. Seorang ibu, bekas teman sekelasnya dan kini pengusaha toko manisan di Cianjur, Oei Yin Hwa, masih ingat betul, di sekolah Auwjong dijuluki verstrooide professor alias profesor pikun.

Mengenai julukan, nama Auwjong juga punya sejarah lucu. Lain dengan ayahnya yang menulis “Auw Jong” terpisah, Ojong justru menuliskan “Auwjong” versi sambung. Bulan Agustus 1937, saat memperkenalkan diri di depan teman-temannya di HCK, Auwjong menyebut namanya dengan aksen Sumatra Barat yang kental. Sampai ada teman sekelasnya mengira Auwjong berkata ouwe jongen alias “perjaka tua”. (Sumber: Intisari Novemeber 2002)

Auyong Peng Koen sekolah di MULO frater di Padang  dengan gurunya Frater Servaas, Frater Sevaas mendirikan percetakan Volharding di Padang dan Auyong Peng Koen ikut membantu,disanalah karier percetakannya dimulai,kemudian ia pindah ke Jakarta Sekolah di fakultas Hukum.dan kerja di cikal bakal harian Kompas yaitu Keng POo yang juga menerbitkan majalah Star weekly, kemudia ia juga membantu gereja menerbitkan majalah Katolik Penabur,bekerja sama dengan Bp Jacob Oetama, kemudian mereka merintis berdirinya Gramedia dengan harian Kompas dan majalah Intisarinya.

 Drs A.R.Abdisa seorang konsultan Pajak merupakan teman baik mereka termasu juga pemain bulutangkis Indonesia yang terkena Drs Ferry Soeneville. Persahabatn PK Ojong denga Jacob Oetama yang berjuang mendirikan Gramedia dan Kompas ,memakai mobil tua yang sering mogok sehingga harus didorong-dorng pernah ditulis dalam majallah penabur. setelah PK Ojong meninggal Gramedia dna Kompas diteruskan oleh Jacob Oetama sampai saat ini.


LEBIH kurang dua tahun lalu ada .  sebuah tinjauan buku mengenai “Sejarah Kompas” yang ditulis dan upload pada 22 Mei 2007 tanpa perubahan sedikit pun, yang bisa Anda baca di bawah ini:
Dari Belakang Ke Depan
SEBUAH buku telah lahir. Buku sejarah. Sejarah pers, khususnya Kompas, sebuah harian yang terbit untuk pertama kalinya 28 Juni 1965. Pendirinya adalah dwitunggal, Petrus Kanisius Ojong dan Jakob Oetama. Ojong telah meninggal 27 tahun lalu, sedangkan Jakob masih sehat wal afiat. Semoga beliau panjang usia.
Buku ini diterbitkan Penerbit Buku Kompas (PBK). Orang menyebutnya penerbit “Kebo”, merujuk pada logo perusahaan penerbitan yang berlambang seekor kerbau dimana di atasnya bertengger seorang “bocah angon” (penggembala) yang sedang meniup seruling. Kantor PBK berada di samping kiri Gedung Kompas Gramedia lama, berbaur dengan rumah-rumah penduduk.
Ada beberapa rekan yang memelesetkan PBK menjadi Penerbit Buku Kliping. Ada benarnya, sebab beberapa buku merupakan dokumentasi dari ribuan artikel yang pernah dimuat di Harian Kompas, khususnya yang memberi inspirasi dan memompa semangat dan gairah berkiprah. Tetapi tidak semua dari kliping. Ada buku-buku yang murni ditulis memang untuk menjadi buku. Ditulis secara serius, bukan hasil kliping. Salah satunya adalah buku “Kompas, dari Belakang ke Depan: menulis dari dalam“. Diterbitkan baru seminggu lalu dan mungkin baru beberapa hari lewat saja menghias rak-rak toko buku.
Inilah buku sejarah Kompas terkomplit yang pernah terbit. Selain bercerita mengenai kelahirannya, buku ini juga menceritakan jatuh-bangun, kisah sukses, sampai strategi bertahannya yang unik. Frans M. Parera, salah seorang penyumbang tulisan tidak harus malu mengatakan “jurnalisme kepiting” untuk strategi bertahan Kompas yang menjadikan harian ini tetap eksis bertahan.
Saat beberapa harian diberangus penguasa Orde Baru, yakni Soeharto dan antek-anteknya yang menciptakan mesin antidemokrasi di tahun 1978, Kompas termasuk salah satu korban pemberangusan itu. Dua minggu kemudian, Jakob diminta menandatangani surat pernyataan agar Kompas tidak galak lagi terhadap pemerintah Soeharto.
August Parengkuan, seorang sesepuh Kompas dalam buku itu mengatakan, “Bagi Pak Jakob, Kompas harus terbit kembali. bukan saja agar para karyawan bisa terus bekerja tetapi yang penting tetap mempunyai medium untuk menyampaikan gagasan, pemikiran, dan ide-ide baik kepada pemerintah maupun ke masyarakat. Jadi tidak perlu gagah-gagahan seakan-akan menjuadi pahlawan karena berseberangan dengan pemerintah, tulis August, “tetapi satu minggu sesudahnya semua orang lupa pernah ada koran bernama Kompas” (hal. 298).
Sejumlah penulis memberi konstribusi dalam penulisan buku ini, antara lain St Sularto, Mamak Sutamat, Ninok Leksono, Suryopratomo, Agung Adiprasetyo, dan Arbain Rambey. Jakob memberi sambutan dalam buku ini. Buku dihiasi foto-foto lawas dari dokumentasi foto yang tidak atau belum pernah dipublikasikan. Unsur mengejutkan dan mencengangkan sudah pasti ada saat melihat foto-foto yang disunnting Arbain ini. Buku memuat pula kartun GM Sudarta yang dikenal sangat “menyentil dan mengena” itu, juga ada ilustrasi dua halaman penuh sosok PK Ojong dan Jakob Oetama karya Jitet (lihat foto di atas).
Buku ini tentu saja memberi inspirasi bagi siapapun, dari orang pers, mahasiswa, atau masyarakat umum yang ingin lebih kenal dekat Kompas. Dari buku ini kita bisa belajar bagaimana cara mempertahankan diri, penanaman karakter baik, integritas dan loyalitas, juga bisa tahu bahwa membangun sebuah kerajaan bisnis seperti yang bisa dilihat sekarang ini tidaklah semudah membalik telapak tangan. Perlu waktu 42 tahun untuk membangunnya. Sedangkan orang yang ingin menjatuhkan sekaligus menghancurkan Kompas, tidak perlu menunggu selama itu. Bila perlu cukup satu hari saja!
Buku ini tidak hanya wajib dibaca oleh 246 wartawan Kompas atau seluruh karyawannya yang berjumlah 953 orang (data 2007) dan kerabat serta keluarganya, juga oleh sekitar 5.000an karyawan yang bernaung di bawah bendera KKG, tetapi oleh mereka yang ingin mendalami nilai-nilai sebuah kejuangan dan semangat survive sebuah harian bernama Kompas. Tentu saja kiprah orang-orang di dalamnya; dari pendiri, pemegang saham, petinggi sampai office boy.

Petrus Kanisius Ojong


Petrus Kanisius Ojong

Petrus Kanisius Ojong atau Auwjong Peng Koen (lahir di Bukittinggi, Sumatera Barat, Indonesia, 25 Juli 1920 – meninggal di Jakarta, Indonesia, 31 Mei 1980 pada umur 59 tahun) adalah salah satu pendiri Kelompok Kompas Gramedia (bersama Jakob Oetama). Ojong menjadi jurnalis sejak awal usia 30-an. Ojong mempunyai enam anak, empat di antaranya laki-laki. PK Ojong meninggal tahun 1980.


Lahir di Bukittinggi, 25 Juli 1920, dengan nama Auw Jong Peng Koen. Ayahnya, Auw Jong Pauw, sejak dini giat membisikkan kata hemat, disiplin, dan tekun kepadanya. Auw Jong Pauw awalnya petani di Pulau Quemoy (kini wilayah Taiwan) yang kemudian merantau ke Sumatra Barat.

Kelak Auw Jong Pauw menjadi juragan tembakau di Payakumbuh, dan menghidupi keluarga besar 11 anak dari dua istri, istri pertama Auw Jong Pauw meninggal setelah melahirkan anak ke-7. Peng Koen anak sulung dari istri kedua. Saat Peng Koen kecil, jumlah mobil di Payakumbuh tak sampai sepuluh, salah satunya milik ayahnya.

Auw Jong Peng Koen juga berdisiplin tinggi dan serius, seperti dia tunjukkan saat bersekolah di Hollandsch Chineesche School (HCS, sekolah dasar khusus warga Tionghoa) Payakumbuh. Di masa ini, ia berkenalan dengan ajaran agama Katolik. Beberapa waktu kemudian, dia masuk Katolik dan mendapat nama baptis Andreas. Peng Koen kemudian sempat pindah ke HCS Padang, lalu melanjutkan ke Hollandsche Chineesche Kweekschool.

Di Hollandsche Chineesche Kweekschool (HCK, sekolah guru), ia gemar membaca koran dan majalah yang dilanggani perkumpulan penghuni asrama. Di sini Auwjong Peng Koen mulai belajar menelaah cara penulisan dan penyajian gagasan. Di sekolah guru setingkat SLTA ini, Peng Koen terpilih sebagai ketua perkumpulan siswa. Ia bertugas menyediakan bahan bacaan buat anggota serta menyelenggarakan pesta malam Tahun Baru Imlek dan piknik akhir tahun. Di malam Imlek, tradisinya digelar acara polonaise, sandiwara, menyanyi, dan makan malam istimewa. Tapi Peng Koen cuma ngobrol dan ngobrol. Konon, ia agak kaku jika berhadapan dengan lawan jenis. Seorang ibu, bekas teman sekelasnya dan kini pengusaha toko manisan di Cianjur, Oei Yin Hwa, masih ingat betul, di sekolah Peng Koen dijuluki verstrooide professor alias profesor pikun.

Kelak kebiasaan hemat membuatnya hati-hati dan teliti. Disiplin dan tekun membentuk dia jadi orang yang lurus dan serius. Bahkan setelah menjadi bos Kompas – Gramedia, Ojong tak berubah. “Uang kembalian Rp 25,- pun mesti dikembalikan kepada Papi,” bilang putri bungsunya, Mariani. Namun, ia tak “pelit” pada orang atau badan sosial yang benar-benar membutuhkan, bahkan rela menyumbang sampai puluhan juta dolar. Tapi, jangan minta duit untuk pesta kawin, atau perayaan Natal sekalipun. “Kalau tidak punya uang, jangan bikin pesta,” kilahnya selalu.

Semasa kuliah hukum, Oei Tjoe Tat, rekan kuliah yang kemudian menjadi menteri negara di akhir masa pemerintahan Sukarno, berkomentar, “Ia sering terlalu serius menanggapi segala hal. Kalau melucu, lelulonnya kering.”

Mengenai nama keluarganya, nama Auwjong juga punya sejarah lucu. Lain dengan ayahnya yang menulis “Auw Jong” terpisah, Auw Jong Peng Koen justru menuliskan “Auwjong” versi sambung. Bulan Agustus 1937, saat memperkenalkan diri di depan teman-temannya di HCK, Auwjong Peng Koen menyebut namanya dengan aksen Sumatra Barat yang kental. Sampai ada teman sekelasnya mengira Peng Koen berkata ouwe jongen alias “perjaka tua”.


Cuplikan perjalanan hidup Petrus Kanisius Ojong, yang dibesut Helen Ishwara dalam buku PK Ojong: Hidup Sederhana, Berpikir Mulia (2001) terasa bak tuntunan bagi wartawan dalam membangun media cetak dengan baik dan benar. Pengalamannya, berlatar belakang intrik politik Orde Lama dan Orde Baru, begitu rinci.



Jakob Oetama




Dr (HC) Jakob Oetama

Dr (HC) Jakob Oetama (lahir di Borobudur, Magelang, 27 September 1931; umur 79 tahun), adalah wartawan dan salah satu pendiri Surat Kabar Kompas. Saat ini ia merupakan Presiden Direktur Kelompok KompasGramedia, Pembina Pengurus Pusat Persatuan Wartawan Indonesia, dan Penasihat Konfederasi Wartawan ASEAN.

Jakob adalah putra seorang pensiunan guru di Sleman, Yogyakarta. Setelah lulus SMA (Seminari) di Yogyakarta, ia mengajar di SMP Mardiyuwana (Cipanas, Jawa Barat) dan SMP Van Lith Jakarta. Tahun 1955, ia menjadi redaktur mingguan Penabur di Jakarta. Jakob kemudian melanjutkan studinya di Perguruan Tinggi Publisistik Jakarta dan Fakultas Sosial Politik UGM Yogyakarta.

Bersama P.K. Ojong, ia mengelola majalah Intisari pada tahun 1963, yang mungkin diilhami majalah Reader’s Digest dari Amerika. Tahun 1965, bersama Ojong, Jacob mendirikan harian Kompas, dan dikelolanya hingga kini.

Daftar isi


  • Sekolah Guru Sejarah B-1 (1956)
  • Jurusan Jurnalisme Akademi Jurnalistik Jakarta, lulus tahun 1959
  • Jurusan Publisistik Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Universitas Gajah Mada

Pengalaman Bekerja

  • Majalah Penabur
  • Ketua Editor majalah bulanan Intisari
  • Ketua Editor harian Kompas
  • Pemimpin Umum/Redaksi Kompas
  • Presiden Direktur Kompas Gramedia
  • Presiden Komisaris Kompas Gramedia

Karya Tulis

  • Kedudukan dan Fungsi Pers dalam Sistem Demokrasi Terpimpin (skripsi di Fisipol UGM tahun 1962)
  • Dunia Usaha dan Etika Bisnis (Penerbit Buku Kompas, 2001)
  • Berpikir Ulang tentang Keindonesiaan (Penerbit Buku Kompas, 2002).
  • Bersyukur dan Menggugat Diri (Penerbit Buku Kompas, 2009)

 Keanggotaan Organisasi

  • Sekretaris Jenderal Persatuan Wartawan Indonesia (PWI)
  • Anggota DPR Utusan Golongan Pers
  • Pendiri dan Anggota Dewan Kantor Berita Nasional Indonesia
  • Anggota Dewan Penasihat PWI
  • Anggota Dewan Federation Internationale Des Editeurs De Journaux (FIEJ)
  • Anggota Asosiasi International Alumni Pusat Timur Barat Honolulu, Hawai, Amerika Serikat
  • Ketua Bidang Organisasi dan Manajemen Serikat Penerbit Surat Kabar.




 the end @ copyright Dr Iwan suwandy 2011  

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in: Logo

You are commenting using your account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )


Connecting to %s