Maestro Bulutangkis Indonesia

 MUSEUM DUNIA MAYA DR IWAN S.Dr IWAN ‘S CYBERMUSEUM THE FIRST INDONESIAN CYBERMUSEUM

  encyclopedia/ac41638d0395dbc9c18dff7187909fed

MUSEUM DUNIA MAYA PERTAMA DI INDONESIA

   DALAM PROSES UNTUK MENDAPATKAN SERTIFIKAT MURI

     PENDIRI DAN PENEMU IDE

      THE FOUNDER

    Dr IWAN SUWANDY, MHA

                     

     WELCOME TO THE MAIN HALL OF FREEDOM               

  SELAMAT DATANG DI GEDUNG UTAMA “MERDEKA

The Driwan’s  Cybermuseum

                    

(Museum Duniamaya Dr Iwan)

Showroom :

The Driwan’s 

Indonesian Sport  Cybermuseum

 showcase:

Maestro Bulutangkis Indonesia

1. Kata Pengantar

1.Dalam rangka nostalgia dan mengenang para maestro bulutangkis Indonesia, saya menampilkan beberfapa koleksi majalah,buku dan gambar lama dari para mmasetro tersebut.

2.Semoga informasi ini berguna bagi sejarah olah raga bulutangkis kiita dan memacu para generasi muda untuk dapat menyamai bahkan melebihi prestasi para maestro tersebut.

Jakarta Juni 2011

Dr Iwan suwandy

FRAME SATU:

Ferry Sonneville

Mantan pemain bulu tangkis Indonesia, organisatoris olahraga dan pengusaha. Lahir di Jakarta, 3 Januari 1931, dan meninggal di Jakarta, 20 November 2003. Menyelesaikan pendidikan: SD St. Yosef Jakarta (1942); HBS Nasau Boulevard, Jakarta (1951); Nederlandse Economische Hogeschool, Rotterdam (1963). la merupakan pemain pertama dan pemimpin regu bulu tangkis Indonesia dalam perebutan Piala Thomas tahun 1958 sampai dengan 1967. Pada perebutan Piala Thomas, Indonesia tampil sebagai juara. Prestasi lain yang dicatatnya antara lain juara Negeri Belanda (1955-1961), Jerman Barat (1959-1960), Kanada (1962) dan Amerika Serikat (1962).

Sebagai mantan pemain bulu tangkis Indonesia, ia adalah salah seorang pemrakarsa berdirinya PBSI yang berkali-kali menjabat ketua IBF dan menjadi anggota Dewan AGF (Asin Games Federation). la juga dikenal sebagai pengusaha real estate. Di pemerintahan, ia sempat diperbantukan sebagai ahli ekonomi pada Gubernur Bank Indonesia (1965-1967); Ketua KONI Pusat dan Anggota Pengurus Asian Games Federation Council (1970); Ketua IBF (1972-1975); Direktur PT Ferry Sonneville & Co. (1968-sekarang).

Kegiatan lain Ketua Perhimpunan Pelajar Indonesia di Belanda; Ketua Yayasan Perguruan Tinggi Swasta; Anggota Pengurus Real Estate Indonesia; Ketua Jiu Jitsu Indonesia; Ketua Umum PB-PBSI (1981-1985); Ketua Advisory Council IESC (International Executive Corps). Kaya tulis Better Badminton, Nederland, 1958; Bulu Tangkis Bermutu, Jakarta, 1959. Pada tahun 1961 ia menerima anugerah Satyalencana Kebudayaan dari pemerintah RI. Pengalaman sebagai pemain bulu tangkis mengilhami dirinya menulis buku Better Badminton (1958) dan Bulu Tangkis Bermutu (1959).

encyclopedia/ac41638d0395dbc9c18dff7187909fed
Ferry Sonneville (kiri) salah satu anggota tim piala Thomas Indonesia yang memenangi lambang supremasi tertinggi bulutangkis

DARI DUNIA BULUTANGKIS ,

KEJUARAN PBSI DJAKARTA RAYA.

1.Jakarta,13 Nopember 1962(Mingguan Djaja,no 43-17 nop 1962)

DARI DUNIA BULUTANGKIS ,

KEJUARAN PBSI DJAKARTA RAYA.

FRAME DUA

 

Semi-Finale Thomas Cup, Pantjawarna 9 Djuni 1958

Artikel ini bertjeritera tentang Tan Joe Hok, salah saorang pemain badminton jang mendjadi djoeara di All England 1958.

Oentoek bisa membatja dengan satjoekoep djelasnja, silaken klik di djoedoel artikel ini, soepaja bisa ditampilken di monitor jij dengan lebi’ lebar..

semi-finale-thomas-cup-9-djuni-1958

FRAME TIGA

.TAN YOE HOK MEMPERKUAT REGU BULU TANGKIT KITA( mingguan Djaja,n0.25.21 Juli 1962)

Berita tentang tibanya Joe Hok di Tanah air ( dengan pesawat PANAM hari senin sore tanggal 16 Juli yl) sudah barang tentu disambut dengan gembira oleh para peminat olah raga kita pada umumnya dan para peminat bulutangkis khususnya. Semenjak pertandingan try out antara pemain-pemain TC melawan Kombinasi Thomas Cup dibulan Juni Yl ,dunia olahraga kita menanti-nantikan kembalinya,terutama setealh Ferry tiba disini pada tanggal 27 juni jl. Ketika belum juga ada berita bila Joe Hok akan tiba, mulailah sementara orang bertanya-tanya , apakah ia akan tiba pada waktu masih ada kesempatan untuk berlatih sehingga taraf permainannya yang biasa pulih menjelang Asian Games nati.

Tibanya Joe Hok di tanah Air,sekaligus melenyapkan rasa gawat yang mencengkam sementara oreang dalam menanti-nantikan kembalinya dan menimbulkan rasa lega; walaupun kekalah-kekalahannya yang paling belakang dalam beberapa tornoi Internasional Joe Hok, sebagaimana beberapa kali telah kami kemukakan , tetap seorang  pemain yang berkaliber besar,yang kedatangannya di tanah Air bersama Ferry berarti perkuatan tidak sedikit bagi regu bulutangkis kita.Keyakinan kami mengenai hal itu diperkuat pula oleh kata-kata Ferry, dalam suatu pertemuan yang kebetulah beberapa hari setelah Ferry tiba di tanah Air,bahwa yoe hok tiada dalam kondisi yang baik( tubuhnya kegemukan) ketika menghadapi lawannya dalam tornoi tsb dan bahwa dengan latihan serius dalam sedikit waktu ia akan memperoleh lagi vormnya yang lama. Kini berat badan Yoe hok kuarng lebih 78 kg ,berat badan ini akan dapat diturunkan setelah siutu masa latihan sehingga dengan demikian kelincahannya yang biasa pasti akan pulih. Kembalinya Joe Zhok di tanah Air tidak saja berarti suatu perkuatan fisik bagi regu kita,melainkan juga “moral boosting”(mempertinggi morfal) tidak sedikit bagi pemain kita,terutama yang muda-muda. Dengan Ferry dan Joe Hok dalam regu kita, yang kini sebagian besar terdiri atas pemain-pemain muda dengan harapan baik,dapatlah kita menantikan Asian games IV dengan penuh kepercayaan.

FRAME TIGA

.FERRY SONNEVILLE TERGELINCIR DIFINAL(mingguan Djaja no 6,3 maret 1962)

Dilapangan bulutangkis kita kurang begitu beruntung diluar negeri pekan yang lampau. Moh.Djundi telah berhasil mencapai babak kedua Invstasi Skotlandia di Glasgow, akan tetapi dijatuhkan pemain Thomas Cup Muangthai ,Narong Boonchina, yang sudah tidak asing lagi bagi kita. Playing captain regu Thomas Cup kita,Ferry Sonnevile berhasil menyisihkan lawan-lawan nya dan masuk final. Ia berhadapan dengan lasan lama Charoen Wattanasin,bekas pemain Thomas Cup Muangthai . Diluar dugaan Ferry telah jatuh terhadap lawan ini dalam straight set 15-3 dan 15-5.Sebelumnya dalam kejuaran Belanda sebelum bertoilak ke Glasgow Ferry telah mengalahkannyadalam long set 15-7,7-15 dan 15-3. Charoen telah masuk final setelah menyisihkan pemain thomascup Denmark Finn Kobero dengan 15-6 dan 15-4, Dengan demikian pemain muangthaui itu telah keluar sebagai Juara dan Ferry sebagai runner up. Dalam pada itu diberitakan , bahwa Tan Yoe Hok kini berada dalam perjalanan untuk turut serta dalam kejuaraan All England, yang befarti kejuaran dunia tak resmi.JUga Ferry dan Edy Yusuf akan turut serta dalam kejuaraan tersebut yang tahun ini kabarnya mencatat suatu jumlah rekor peserta dari 15 negara.

FRAME EMPAT:

MENGENANG MAESTRO BULUTANGKIS INDONESIA  HADI MULYADI (Fan tek Hong)

Kamis, 9 Juni 2011

   
 

 
 
Mantan pemain Timnas Indonesia Fan Tek Fong Alias Hadi Mulyadi 
 
     
  PSSI berkabung, Fan Tek Fong Terkena Jantung  
  Olahraga – – 31 January 2011 | 14:29  
     
  JAKARTA, Licom:Mantan pemain Timnas Indonesia Fan Tek Fong yang kemudian dikenal dengan nama Hadi Mulyadi (67), meninggal dunia pada Minggu (30/1) malam di Jakarta, karena serangan jantung.Almarhum adalah salah seorang pemain besar pada zamannya, sebagaimana teman-teman seangkatannya yang telah mendahuluinya pergi, seperti Soetjipto Soentoro, Abdul Kadir, dan Yakob Sihasale.”Kita kehilangan salah seorang bintang besar yang banyak berjasa pada persepakbolaan nasional,” kata Sekjen PSSI Nugraha Besoes dikutip dari situs resmi PSSI, Senin.Menurut Nugraha, Hadi Mulyadi adalah pemain besar yang sangat bersahaja, tidak sombong, mudah diajak bicara oleh orang yang usianya jauh di bawah dia sekalipun.Jenazah Fan Tek Fong masih disemayamkan di Ruang C RS Husada itu. Pihak keluarganya memastikan, almarhum akan dikremasi pada Rabu (2/2) sekitar pukul 10.00 WIB.Fan Tek Fong, lahir di Serang, Banten, 19 September 1943, adalah salah satu bintang timnas Indonesia era 1960-an dan 1970-an.Belajar sepak bola secara serius sejak usia 10 tahun di bawah bimbingan pelatih nasional legendaris (alm) Endang Witarsa, Tek Fong memulai karir fenomenalnya di klub UMS Petak Sinkian, sebelum kemudian bergabung dengan Persija Jakarta.Ia kemudian sempat bermain untuk Pardedex, Medan, walau kemudian kembali ke Jakarta memperkuat klub Warna Agung.Pada tahun 1960, Tek Fong diterima masuk Union Makes Strength (UMS) setelah Dokter Endang melihat ada kelebihan di kakinya. Hampir bersamaan dengannya, masuk pula Surya Lesmana, Reni Salaki, Kwee Tik Liong, dan Yudo Hadianto.

Saat dokter Endang Witarsa dipercaya sebagai pelatih tim nasional, ia juga meminta Tek Fong untuk bergabung. Pretasinya di tim nasional semakin cemerlang.

Tek Fong bersama dengan Soetjipto Soentoro, Abdul Kadir, Yacob Sihasale, Risdianto, Surya Lesmana, Reni Salaki, Yuswardi, serta Anwar Udjang berhasil membawa berbagai gelar juara ke Indonesia.

Tek Fong memang tak tergeserkan selama delapan tahun di tim nasional.

Ia tidak hanya membawa Persija Jakarta menjadi juara Perserikatan pada tahun 1963 tetapi juga ikut mempersembahkan empat gelar juara bagi tim nasional Indonesia, yaitu; King`s Cup 1968, Merdeka Games 1969, Anniversary Cup 1972, dan Pesta Sukan 1972.(Ant/Red)

Daftar pemain bulu tangkis tingkat dunia

 

Pemain yang sudah pensiun

Pemain yang masih bermain

 
 

Ferry Sonneville

From Wikipedia, the free encyclopedia
 
Jump to: navigation, search
Ferry Sonneville
Personal information
Birth name Ferdinand Alexander Sonneville
Date of birth January 3, 1931(1931-01-03)
Place of birth Jakarta, DKI Jakarta
Date of death November 20, 2003(2003-11-20) (aged 72)
Place of death Jakarta, DKI Jakarta
Country  Indonesia
Handedness Right
Men’s singles

Ferry Sonneville (3 January 1931 – 20 November 2003) was an Indonesian badminton player noted for his touch, consistency, tactical astuteness, and coolness under pressure. He won numerous international singles titles from the mid 1950s through the early 1960s and his clutch performances helped Indonesia to win its first three Thomas Cup (men’s world team) titles consecutively in 1958, 1961, and 1964, setting the pattern for his country’s continued formidable presence in world badminton. Unfortunately, Sonneville’s playing career ended on a sour note in the 1967 Thomas Cup final in Jakarta when, past his prime, he was roundly booed by his countrymen after dropping singles matches in Indonesia’s controversial loss to Malaysia.[1]

After his high-level playing days ended Sonneville was elected to terms as both president of the International Badminton Federation (now World Badminton Federation) and president of the Badminton Association of Indonesia (PBSI).

Contents

Private life

His wife’s name was Yvonne Theresia de Wit (they married September 1954) and had 3 children, called Ferdinand Rudy Jr. (died in age 21 years old), Genia Theresia Sonneville, and Cynthia Guedolyn Sonneville. Sonneville also had two grandchild. Sonneville’s parents name were Dirk Jan Sonneville (father) and Leonij Elisabeth Hubeek (mother). His religion was Catholic.

Education

Erasmus University, Netherlands

Sports career

  • Jiujitsu Athlete and coach (1949–1955)
  • Playing captain or coach when Indonesia won or successfully defended Thomas Cup (world team badminton championships) 3 times in succession (1958, 1961, and 1964).
  • Winning Malaysia Open (1955), Dutch Open (1956, 1958, 1960, 1961, 1962), Scotland’s World Invitational Tourney (1957), French Open (1957, 1960), German Open (1958, 1960, 1961), Canadian Open (1962), U.S. Open (1962), along with runner-up finish at All England (1959)
  • PB PBSI’s founder (1951) and KONI‘s founder (1966)
  • KONI’s President (1970)
  • Member of staff Asian Games Federation Council (1970)
  • Chef de Mission Indonesian contingen to Olympic (1971)
  • International Federation Badminton/IBF President (1971–1974)
  • PBSI‘s President (1981–1985)

 Business career

  • Vayatour Chairman Executive Board Lippo Cikarang inc.
  • Ferry Sonneville & Co inc. owner
  • Chairman of Realestat Indonesia Center Council (REI) 1986-1989 periods
  • President and Member of Executive Committee Realestat Internasional Federation (FIABCI) since 1989.
  • Advisory Council IESC Chairman (International Executive Service Corp)

 Educational career

  • Pioneer of Trisakti Foundation represent Lembaga Pembinaan Kesatuan Bangsa (LPKB)
  • Founder of Himpunan Pembina Perguruan Tinggi Swasta (HIPPERTIS)
  • Founder of Asosiasi Perguruan Tinggi Katholik Indoneisa (APTIK)
  • Special Citizen and member of Atma Jaya Foundation
  • Member of Fatmawati Foundation
  • Member of Bhakti Medika Foundation
  • Member of Penyandang Anak Cacat Foundation (YPAC)
  • Member of Gedung Arsip Nasional Foundation
  • Indonesian Nederland Forum (FINED), etc.

Honours

  • Satya Lencana Kebudayaan (1961)
  • Tanda Jasa Bintang RI Kelas II (1964)
  • ”Knighthood” from Catholic Rome Church (1972)
  • FIABCI Medal of Honour, Melbourne (1988).

References

  1. ^ Pat Davis, The Guinness Book of Badminton (Enfield, Middlesex, England: Guinness Superlatives Ltd., 1983) 123.

 

 

the end @ Copyright Dr Iwan suwandy 2011

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s