Driwanmasterpiece Cybermuseum:”The World Pop Song Fetival Tokyo 1973 at Budokan Hall”(Medali Festival Penyanyi Pop Dunia)

MUSEUM DUNIA MAYA DR IWAN S.

Dr IWAN ‘S CYBERMUSEUM

 THE FIRST INDONESIAN CYBERMUSEUM

  MUSEUM DUNIA MAYA PERTAMA DI INDONESIA

   DALAM PROSES UNTUK MENDAPATKAN SERTIFIKAT MURI

     PENDIRI DAN PENEMU IDE

      THE FOUNDER

    Dr IWAN SUWANDY, MHA

                     

     WELCOME TO THE MAIN HALL OF FREEDOM               

  SELAMAT DATANG DI GEDUNG UTAMA “MERDEKA

Showroom :

The Driwan’s  Cybermuseum

                    

(Museum Duniamaya Dr Iwan)

 

                    Please Enter

                   

              DMC SHOWROOM

(Driwan Masterpiece  Cybermuseum)Showcase:

The International Pop song Festival at Budokan Hall Medal 1973 . 

Nippon Budokan Hall Main entrance

Budokan Hall Tokyo

Frame One:

Dr Iwan Collections

1.Tailside

2.Headside

Frame Two :

Kisah Festival Lagu Pop 1973

Festival Lagu Pop 1973

Menuju bintang liwat lotre

Festival lagu pop tingkat nasional 1973 di rri jakarta telah selesai. para finalis punya bobot kemam puan sama. panitia kesulitan dalam menentukan dasar penilaian. arah orientasi festival perlu dirubah.MARGIE SEGERS yang mendapat nomor undian 5 melepaskan teriakanterakhir.

Margie Segers – Cinta

Wajahnya mendongak ke atas serta matanya mengecil
dengan tangan-kanannya menuangkan plat pengeras suara ke
mulutnya yang ternganga sementara tangan kirinya membuka ke
samping. Dengan itu Margie telah menutup babak terakhir malam
final pestival Lagu-Lagu Populer tingkat Nasional 1973 yang
berlangsung di Studio V RRI Jakarta Minggu malam tanggal 15 Juli
yang lalu. Tepuk tangan penonton mengiringi tubuh Margie yang
membungkuk memberi hormat. Tapi rupanya Margie bukan tidak
menyadari keadaan. Setelah meluruskan tubuh kembali nampak
wajahnya sudah berubah pucat dan ketika menyantelkan alat
pengeras suara ke tiangnya tangan Margie kelihatan agak
gemetaran. Bahkan ketika meninggalkan pentas, langkah-langkahnya
sudah tak teratur lagi. Dan ketika Pranajaya selaku ketua dewan
juri yang terdiri dari 17 orang mengumumkan hasil-hasil
pertandingan di bagian penyanyi, nama Margie memang disebutnya
pertama tapi dengan kedudukan sebagai juru kunci. Atau dalam
istilah panitia: juara harapan III.

Sangat Tidak Sedap

Lagu Kawan, Inilah Jakarta ciptaan Syumantiasa yang juga sedang
diperlombakan untuk bagian komposisi dan harus dibawakan Margie
sebagai lagu wajib berdasarkan undian, jelas Lelah menyeret
penyanyi wanita ini ke kedudukan paling sial di antara kelima
penyanyi finalis. “Improvisasinya keluar dari nada dasar yang
seharusnya” komentar Iskandar, pemimpin Orkes Studio Jakarta
yang mengiringi acara malam itu kepada TEMPO. Pendapat yang sama
juga di kemukakan Mus Mualim

eddy tulis 4

Mus Mualim at the center with edy tulis and Bachrumsjah

(Mus Mualim seorang musikus berbobot. Tapi dari sisi lain popularitas dia kalah jauh dari istrinya, Titiek Puspa. Dikenal sebagai pencipta lagu dan penata musik film. Dia menonjol sebagai pianis jazz. Lahir 12 Februari 1935, dikota Bandung, Jawa Barat. Menempuh pendidikan SR, SMP, SMA hingga selesai. Selanjutnya otodidak. Debutnya sebagai seorang musikus secara serius ditempuhnya tahun 1959. Mula-mula ia senang jenis lagu berirama langgam, bozanova, jazz, slow fox. Khususnya yang berjiwa musik karakter, psikologi musik, karakter instrumen.

Ini karena hubungannya sebagai arranger dan dirigen (conductor). Pernah memimpin group jazz The Indonesia Six yang melawat ke Expo 70, Osaka, Jepang (1970). Menjadi juara pertama kali pada festival jazz Expo 70 Jepang. Pernah berkerja di RRI Jakarta sebagai penulis aransemen Orkes Simfoni Radio Jakarta ditahun 1961.

Mus Mualim seorang pemain gitar yang kemudian menjadi pemain piano. Ia kemudian bergerak dalam bidang rekaman. Mulanya sebagai musical supervisor Studio Piringan Hitam Irama diahun 1963. Pernah menyelenggarakan jazz beberapa kali di ITB pada tahun yang sama. Berturut-turut membuat piringan hitam sendiri, Long Play (LP) yang menghasilkan 100 rekaman selama periode 1962-1969. Pada tahun 1965, membentuk Badan Kerjasama Artis dengan Kostrad bernama BKS-Kostrad dan ia memangku jabatan Wakil Ketua.

Buat pertama kali setelah hangat-hangatnya peristiwa Gestapu/PKI, ia mengadakan Jazz Concert di Universitas Indonesia pada tahun 1965. Pernah mengadakan eksperimen dalam Jazz Concert di Bali Room Hotel Indonesia, dengan sponsor PT Irama Records. Dalam eksperimen itu ia mempertunjukan perpaduan musik jazz dengan Gamelan Sunda tahun 1967. Pada tahun yang sama, ia memimpin The Indonesian All Stars ke Eropa dalam acara World Jazz Festival di Berlin, Jerman Barat. Memimpin The Indonesian Six sebagai salah satu kegiatan kontingen Indonesia di Expo 1970 dalam World Jazz, Festival Expo 1970. Mengadakan Konser Jazz di Taman Ismail Marzuki dengan judul-judul Silaturrakhmi in Jazz, Jazz Universal dan Konser Pamit.

Tahun 1970, mengadakan konser musik pop The Gipsy. Di bidang film pernah jadi penata musik untuk film Buruh Pelabuhan, Bintang Kecil tahun 1963, Di Balik Cahaya Gemerlapan, Minah Gadis Dusun, Menyusuri Jejak Berdarah tahun 1965, The Big Village, Hidup Cinta dan Air Mata tahun 1970, Ambisi tahun 1973, Inem Pelayan Seksi tahun 1976. Bersama istrinya, Titiek Puspa, pernah memproduksi Operet untuk TVRI tahun 1978-1979.)

. anggota panitia yang juga membuat
aransemell lagu tersebut. Dan Margie memang telah terpeleset
dari semestinya, terutama ketika sampai di buntut lagu itu. Tapi
sekiranya Margie tidak sampai membuat kekeliruan itu, masih
tetap jadi tanda tanya apakah nasibnya akan bisa juga lebih
baik. Kawan, Inilah Jakarta dengan syairnya yang cengeng dan
sangat tidak sedap, disadari atau tidak oleh panitia, merupakan
perangkap yang tidak adil untuk para penyanyi yang sedang
berlomba. Inilah kelemahan pertama dari festival ini. Ketentuan
bahwa halus ada 5 buah lagu diambil untuk ikut dalam final dari
semua ciptaan yang masuk, mengakibatkan dijejalkannya lagu-lagu
yang sesungguhnya amat lemah dari berbagai sudut. Dan malangnya
kelemahan sistim ini, justru menyeret nasib si penyanyi finalis.

Broery Marantika yang dinyatakan sebagai pemenang pertama —
atau dalam istilah panitia grand prize winl1er dan berhak
mewakili Indonesia dalam Festival Musik Pop Internasional di
Tokyo tahun ini

broery marantika

broery marantika tableau

broery marantika presence

broery marantika ringer

— memang berhasil meyakinkan juri liwat gaya
bernyanyinya yang terkonsentrasi dan barangkali sedikit banyak
dengan pakaiannya yang memang sedap dipandang. Padahal Broery
sesungguhnya berada di bawah Anna dalam kebersihan pengucapan
pada lagu-lagu Indonesia dan di bawah Deddy Damhudi

Dedy Damhudi

 
  Aku Terkenang Selalu – Dedy Damhudi .mp3 (2,488 KB)
  PELUKLAH DAKU DAN LEPASKAN – Dedy Damhudi 02.38 .mp3 (2,479 KB)
  Dedy Damhudi-Merana .mp3 (4,165 KB)
   
   
   
 

 

 
 Free Download Video Peluklah Daku Dan Lepaskan - Dedy Damhudi.......p'dhede Ciptamas.wmv 3GP & mp4
[Download Video 3gp, mp4]

Free Download Video Gubahanku - Deddy Damhudi 3GP & mp4
[Download Video 3gp, mp4]

Free Download Video Mega Dikala Sendja - Dedy Damhudi...koleksi P'dhede Tjiptamas.wmv 3GP & mp4
[Download Video 3gp, mp4]

dalam mutu
suara. Tapi Broery membawakan lagu-lagu tanpa bertingkah “agar
lain” seperti yang dilakukan Anna Mathovani maupun Margie.
Meskipun demikian masih boleh diragukan adakah Broery akan
berhasil meraih gelar juara pertama sekiranya dalam undian ia
memperoleh lagu Kawan, Inilah Jakarta, sementara lagu Gubahanku
ciptaan Gatot Sanjoto yang didapat Broery jatuh ke tangan Trio
Bimbo.

Seperti Bintang Radio

Berbeda dengan Broery yang stabil dan lumrah saja. Anna
Mathovaniyang pada semi final justru mendapat nilai paling
tuinggi dan satu angka di atas Broery meriskir satu improvisasi
yang tidak perlu pada babak pertama ketika membawakan lagu
pilihannya sendiri Mimpi Sedih ciptaan A. Ryanto. Konsentrasinya
yang sudah baik pada bait-bait pembukaan tiba-tiba diretakatlnya
sendiri dengan memasukan improvisasi jazz pada baris-baris
refrein. Dan ketika baru sadar bahaya yang telah ditempuhnya,
Anna nampak gugup sendiri: seperti terbata-bata ia berusaha
meraih kembali jejak-jejak popnya yang telah terputus pada dua
tiga tarikan nafas berikutnya. Tapi keutuhan konsentrasinya
ternyata sudah tak sempat dipulihkannya lagi sampai lagu yang
dinyanyikannya berakhir. Di babak kedua Anna memang mencoba
menebus ketinggalannya liwat lagu wajib yang dipilihnya Cast
Away Loneliness ciptaan Takashi Hagiwara. Dan harus diakui dia
menonjol sekali pada babak ini dibandingkan dengan para finalis
yang laim Tapi di babak kedua ini juga, meskipun tidak sebaik
Anna, Broery masih tetap mantap seperti sebelumnya. Dan di babak
ketiga dari lagu wajib yang dibawakan masing-masing, hasil
pertarungan antara Anna dan Broery sudah dapat ditebak. Dengan
lagu wajib Ikhlaskan Daku ciptaan Sori Yunus dari Palembang, nna
sudah dapat mengukur bahwa peruntungan akan jatuh ke tangan
Broery yang kebetulan mendapatkan lagu Gubahanku ciptaan Gatot
Sanjoto. Dengan Ikhklaskan Daku, Anna dengan suaranya yang tipis
itu ditambah pul dengan kekeliruamlya pada babak pertama, memang
tak bisa lagi berbuat banyak. Iklaskan Daku “lebih berat dari
lagu jenis hiburan Bintang Radio tempo dulu”, komentar Nien
Lesmana, isteri Jack Lesmana, Lagu itu agaknya akan lebih aman
jika dibawakan oleh Deddy Damhudi yang pernah turut dalam
pemilihan Bintang Radio dan berkecimpung dalam musik seriosa.

Tapi pengalaman dari bintang radi rupanya justru tidak
menurunkan beruntungan bagi Deddy untuk berlomba di forum musik
pop. Dia kalah gaya, terlalu sopan dan malu-malu untuk satu
forum pop. Dan secara keseluruhan agaknya di sinilah perbedaan
yang menonjol pada sikap panggung kelima penyanyi finalis yang 3
berasal dari Jawa Barat sedang 2 berasal dari Maluku itu. Baik
Deddy, Anna maupun Trio Bimbo yang berlatar belakang kebudayaan
Sunda yang “tenang” itu tidaklah sebebas dan sebergaya kedua
penyanyi-asal Maluku yang penuh riak: Broery dan Margie. Mungkin
terbawa o}eh “suasananya seperti pemilihan bintang radio saja”,
seperti dikatakan Syamsuddin dari Bimbo, ketika membawakan lagu
pilihannya sendiri Mawar Berduri ciptaan A.Ryanto, Deddy seakan
sedang menyanyikan sebuah lagu jenis langgam. Lagi pula dari
segi tehnis Deddy “keliwat cepat”, seperti dikatakan pengarang
lagu itu sendiri yang juga duduk sebagai anggota dewan juri. Dan
pada babak terakhir dengan lagu wajib Penuh Harapan ciptaan Nick
Mamahit — yang keluar sebagai grand prize winner untuk bagian
komposisi dalam festival ini dan juga berhak ikut ke Tokyo –
Deddy nampaknya mengalami kesulitan memunculkan improvisasi pop
dalam musik yang berwarna ballada ini. Sehingga Iskandar,
pemimpin orkes pengiring yang tahu betul mutu suara Deddy yang
bagus itu akan dapat membawakan lagu ini beberapa kali menoleh
kepada Deddy yang terus terkurung mencari-cari.

Kontes Berbisik

Dan bagaimana dengan Trio Bimbo ? Satu-satunya grup musik pop
yang ikut dalam festival ini dan sempat sampai ke final. Trio
Bimbo tidak hanya mengalami kesulitan dari segi tehnis peralatan
tapi Juga memang masih memperlihatkan kelemahan-kelenahan dasar
di bandingkan dengan finalis lainnya. Dalam suara mereka
bukannya menyanyi, tapi berbisik” seperti dikatakan seorang
tokoh musik malam itu. Dan selama festival ini bukan festival
berbisik, maka dari Bimbo diharapkan bernyanyi. Untuk ruangan
seperti Teater Tertutup Taman Ismail Marzuki Jakarta berbisik
dengan iringan gitar memang masih bisa mencekam, lebih-lebih
jika main tanpa saingan. Tapi untuk ruangan yang lebih besar,
apalagi untuk gedung Budokan Tokyo di mana Festival Pop
Internasional biasanya diadakan plus ratusan saingan pula, Bimbo
hanya akan menyanyi untuk dirinya sendiri. Mengenai suaranya
yang samar-samar ini Bimbo menuding hal itu sebagai kesalahan
pengeras suara lihat box: Menanti Keputusan Juri. Dan itu
agaknya karena mereka teringat pada tidak sempurna nya perekaman
suara Bimbo dalam babak semi final. Tapi pada malam final itu,
sebenarnya tak ada kekurangan apa-apa pada alat pengeras suara.
Obsesi ini malahan menimbulkan ketegangan pada diri mereka
sendiri dan lebih jauh lagi menciptakan jarak antara mereka
dengan seisi ruangan. Pada babak kedua dengan lagu Cast Away
Loneliness, Bimbo mencoba mempertautkan diri kembali dengan
sekitarnya dengan jalan bertepuk-tepuk tangan memancing
partisipasi, tapi langkah ini malahan mengaburkan apa yang harus
dinilai dari mereka sebagai peserta final. Kekurangan pengalaman
termasuk juga kurang terbiasa membawakan lagu-lagu oran lain,
menempatkan Bimbo dalam posisi yang lemah dalam forun1 kontes
yang berat seperti festival ini.

Agaknya tidaklah berlebihan jika di katakan terhindarnya Trio
Bimbo dari menduduki posisi juru kunci alias nomor buntut,
hanyalah karena kebetulan jatuhnya Margie. Di samping
pengalamannya yang fatal dengan ciptaan Syumantiasa, Margie
memang tidak memperlihat kan keistimewaan pada dua lagu
sebelumnya malam itu. Dia bahkan tidak sebaik ketika menyanyi
dalam babak semi final di mana akhirnya sempal menduduki urutan
ke–3 untuk maju ke babak final dengan nilai 9 di bawah Anna dan
Broery yang- masing-masing mendapat nilai 14 dan 13. Pada
tingkat pendahuluan, Margie malahan berhasil mengumpulkan nilai
di atas Broery Marantika. Tapi ternyata dalam final suara Margie
tidak stabil, sementara kecenderungan memasukkan improvisasi
jazz lebih besar dibandingkan dengan Anna.

Kelas Elite Pop

Kecenderungan pada improvisasi jazz seperti yang terlihat pada
Margie dan akhir-akhir ini juga pada Anna, tentu saja sama
sekali tidak berarti bahwa penyanyi-penyanyi tersebut bukan
penyanyi yang baik. Sebab apa yang selama ini dikenal sebagai
penyanyi yang baik umumnya adalah penyanyi yang cocok dengan
seleranya. Tony Koeswoyo misalnya memberikan ilustrasi: Lagulagu
Louis Amstrong bagus-bagus dan semua orang menyenanginya, tapi
coba lagu-lagu itu dinyanyikan oleh Pranajaya, apa yang akan
terjadi? Dan kemudian orang mengenal ancy Wilson atau Ella
Fitzgerald yang dengan sengaja memberikan interpretasi jazz pada
lagu-lagu The Beatles. Hanya soalnya, seperti dikatakan
Iskandar, itu berarti bukan lagi pop murni. Dan yang bukan pop
murni tidaklah berarti lebih rendah dari pop. Ada satu waktu di
mana seorang penyanyi sudah berada di tingkat tertinggi pop dan
dia perlu melangkah ke luar dari sana jika dia memang mengejar
karir dalam seni-suara. Di Indonesia, Anna Mathovani misalnya
jika belum boleh dikatakan sudah mencapai setidak-tidaknya sudah
menghampiri tingkat tertinggi pop itu.

Walhasil, nomor-nomor kemenangan dalam festival pop yang baru
saja selesai dan mendapat minat yang besar itu, belumlah dapat
dipakai sebagai pengukur terakhir bahwa penyanyi yang satu lebih
baik dari yang lain sebagai penyanya. Lebih-lebih dengan
sistimnya yang sekarang, jelas nomor kemenangan hanya separuh
ditentukan oleh penguasaan bidang yang dipertarungkan, sedang
separuhnya lagi ditentukan oleh faktor nasib. Terjadinya
perubahan-perubahan urut urutan nilai mulai dari babak
pendahuluan hingga ke tingkat final, jelas menunjukkan bahwa
para finalis sesungguhnya berada dalam satu kelas sebagai
penyanyi –katakanlah mereka merupakan kelas elite pop Indonesia
dewasa ini. Tapi yang masuk kelas ini pastilah bukan hanya
kelima finalis. Dari perlombaan pada tingkat semi final terlihat
bahwa lebih banyak penyanyi yang sesungguhnya bisa masuk ke
final sekiranya tidak terdapat ketentuan bahwa yang akan diambil
tidak lebih dari 5 orang. John Phillips asal Irian, Buddy
Prasetya asal Madiun dan lebih-lebih penyanyi muda-belia Andi
Sitti Meriem Nurul Kusumawardhani Mattalata dari Ujung Pandang –
untuk menyebut beberapa nama saja – sesungguhnya ada lah
penyanyi-penyanyi yarig masih dapat sampai ke babak final
sekiranya sistim yang dipakai adalah nilai minimum.

Merobah Orientasi

Melihat bahwa para peserta final sesungguhnya memiliki materi
yang bedanya satu dengan yang lain hanya sepertl setali dengan
setangsul, bisa di bayangkan bagaimana sulitnya panitia mencari
ukuran-ukuran untuk dijadikan dasar penilaian. Kesulitan inilah
menurut dugaan kita, mengapa baik pada babak semi final maupun
pada babak final panitia tidak mengumumkan berapa sesungguhnya
masing-masing peserta mendapat nilai. Hoegeng Iman Santoso,
bekas Kapolri yang jadi ketua panitia dan hampir setiap hari
dalam rangka festival ini berada di RRI Jakarta dengan murung
berkata kepada TEMPO “Coba mas, kita harus membulluh empat dari
5 yang semuanya sama-sama mampu hidup’. Itulah sebabnya
terdengar lasul agar mengusahakan mengirim tidak hanya satu
orang penyanyi ke Tokyo nanti, tapi paling sedikit dua orang.
Sebab bukan tidak mungkin, yang bukan menjadi juara pertama di
Jakarta, justru bisa meraih nomor kemenangan di Tokyo.
Kemungkinan pengiriman lebih dari seorang itu masih terbuka
dengan ikut diperlombakannya pula rekaman suara dari
masing-masing penyanyi yang turut dalam final. Tapi di luar
kemungkinan itu, Watanabe, juri dari Jepang yang dari
pengalamannya pernah menjadi juri pada berbagai festival
internasional musik pop menyokong usul tersebut. Alasannya
karena rata-rata penyanyi Indonesia tidak kalah dari
penyanyi-penyanyi pop yang sudah mendapat nama internasional.

Apa yang kurang dari rata-rata mereka — seperti terlihat
melalui festival ini adalah – sekali lagi – pengalaman, terutama
pengalaman menyanyi dengan diiringi oleh orkes yang besar.
Padahal bagi penyanyi-penyanyi pop dunia hal ini sudah biasa
mereka lakukan. Festival yang baru lalu agaknya merupakan
langkah yang baik dalam membiasakan para penyanyi pop Indonesia
tidak hanya mampu menyanyi dengan band, tapi juga menyanyi
dengan orkes. Akhirnya dari segi perkembangan dunia musik dalam
negeri, yang penting dari festival ini bukanlah soal bahwa
Indonesia akan ikut ke festival internasional musik pop di
Tokyo. Yang lebih penting adalah bahwa untuk ke festival itu
telah lebih dahulu dengan suatu seleksi yang serius dan jika
festival seperti ini bisa dijadikan tradisi setiap tahun, maka
ia akan menjadi satu forum yang dapat menjadi tangga bagi
penyanyi-penyanyi pop Indonesia untuk mendapat predikat sebagai
bintang penyanyi pop Indonesia. Sebagaimana dulu penyanyi
dikenal dan terkenal liwat forum pemilihan bintang radio,
festival ini agaknya bisa juga berfungsi serupa itu. Tapi untuk
itu orientasi lestival agaknya perlu dirobah arahnya. Festival
yang baru lalu jelas orientasinya diarahkan ke forum Tokyo yang
di sana-sini tercium usaha untuk sedapat-dapatnya wakil yang
dikirim diharapkan akan memenuhi “selera Jepang”. Forum Budokan
hendaknya semata-mata hanya dipakai sebagai daya tarik untuk
berkompetisi dan tidak untuk mencetak selera.

Mengapa mereka ikut?

Peserta festival lagu pop tingkat nasional 1973, agaknya punya motif yang berbeda. untuk meraih kesempatan ikut kontes int, cari pengalaman, tertarik bea siswa, mengukur kemampuan, dll, adalah alasannya.BROERY MARANTIKA. Suaranya sesungguhnya biasa saja. “Tapi dia
banyak akal”, komentar Mus Mualim atas berhasilnya Broery
Marantika menjadi juara pertama festival lagu-lagu populer
tingkat nasional tahun ini. Lahir di Ambon 29 tahun yang lalu
sebagai anak tertua dari 4 bersaudara putera pendeta Simon
Marantika. Broery — yang kemudian ditambah y — semula
diharapkan ayahnya masuk sekolah pendeta. Karena itu ketika 21
tahun yang lalu pendeta Marantika pindah tugas ke Jakarta,
Broery dimasukkannya dalam rombongan koor gereja. Selama 5
tahun, sebagai penyanyi solo setiap hari Minggu Broery
mendampingi ayahnya yang memberikan khotbah pada gereja Effatha
yang terletak di samping rumah mereka di Kebayoran. Tapi gereja
ternyata tidak cukup memberi tempat bagi anak muda Broery yang
mulai terpengaruh oleh “wabah Elvies” yang memang sedang melanda
anak-anak muda di seluruh dunia termasuk Indonesia.

Akhirnya Broery masuk anggota band, mula-mula pada band
Aflagatha bersama Remy Leimena, di mana ia memainkan instrumen
bongo dan sekali-sekali juga menyanyi. Tidak lama kemudian ia
pindah ke band Bhayangkara, untuk akhirnya pindah lagi ikut
dalam band The Riza’s. Sementara itu ia berkenalan dengan Jack
Lesmana. dan diajak membawakan lagu-lagu jazz. Karirnya mulai
mendapat bentuk ketika ia bergabung denKan The Pro’s sekitar 7
tahun yang lalu. “Tapi saya masih tetap anak bawang waktu itu”,
kata Broery. Dua tahun kemudian ia mendapat kontak menyanyi di
rumah hiburan-malam Tropicana di Singapura. Dan di sinilah
Broery untuk pertama kalinya memperoleh kesempatan membuat
rekaman lagu-lagu yang sedang populer waktu itu seperti Before
You Go, Danny Boy dan Loe is Blue. Sehabis kontrak di Singapura,
ia kemudian mendapat kontrak baru untuk menyanyi di Jepang
selama setahun.

Diakuinya sampai waktu itu ia hanya membawakan lagu-lagu bahasa
Inggeris. Selari-hari keluarga Simon Marantika memang banyak
memakai bahasa Inggeris, sehingga “saya sukar sekali membawakan
lagu-lagu Indonesia”. Pada lomba penyanyi Pop Jakarta Raya 5
tahun yang lalu, Broery hanya menduduki tempat kedua di bawah
Frans Daromez. “Coba bayangkan, saya harus membawakan lagu wajib
Mari lari Titiek Puspa, ya berantakan”. Juga dalam angket siaran
ABRI 2 tahun yang lalu, Broery hanya menduduki tempat kedua di
bawah Muchsin suami Titiek Sandhora. Terakhir pengalamannya
selama 6 bulan menyanyi di Ramayana Restaurant milik Pertamina
di New York tahun lalu rupanya telah benar-benar membuat dirinya
bukan anak-bawang lagi di dunia musik pop. 70 buah lagu sudah
direkamnya dan untuk lagu-lagu Indonesia bagian terbesar ciptaan
Ryanto dan beberapa ciptaan Abadi Soesman. Bebcrapa tahun yang
lalu Broery juga mulai berkenalan dengan bidang baru, yaitu
film.

Sukses Broery dalam pestival itu bagaimanapun tak dapat
dilepaskan dari andil Berthy Lumanauw, manager yang sekaligus
juga pengasuhnya. Lagu Gubahanku ciptaan Gatot Sanjoto memang
sudah diincar Lumanauw agar jatuh pada Broery, dan kebetulan
dalam undian Broery mendapatkannya. Katanya, ia memang tidak
membuat improvisasi aneh-aneh dalam final, “habis itu kan kontes
pop”. Tapi dalam bernyanyi yang penting, “bagaimana
memperkenalkan lagu itu seperti kita sedang bercerita”, katanya.
Dan apa yang mendorongnya ikut dalam festival ini? Broery yang
katanya suka pada penyanyi hitam dan “ingin jadi Nat King Cole”,
terang-terangan menjawab: PLiwat forum ini saya berkesempatan
ikut kontes tingkat internasional. Dan cita-cita saya ingin
menjadi penyanyi tingkat internasional”,

Anak ke-6 dari suami-isteri Mathovani-Roosmiati yang berputera
10 orang Anna mulai karir menyanyinya liwat rombongan koor dan
angklung sekolahnya di Bandung. Pada umur 11 tahun dia untuk
pertama kalinya menyanyi di muka umum. Waktu itu
penyanyi-penyanyi cilik di Bandung seperti Fenty Effendy dan
Tetty Kadi serta tiga bersaudara Yanti sudah lebih dulu dikenal.
“Sedang saya masih mengejar-ngejar tanda-tangan Lilis Suryani”,
kata Anna kepada reporter Yusril Jalinus. Berdiri di panggung
Gelora Bandung dalam acara pertunjukan The Blue Diamond di zaman
KAMI/KAPPI — dengan iringan band Jazz Rider, Anna mendapat
kesempatan muncul dengan lagu Lilis Suryani Persambahanku.
Sesudah itu Anna ikut menjadi penyanyi dari band Delimas dan
kemudian Genta Istana. Sekembali dari perlawatan ke Medan, dia
mendapat kesempatan menyanyi di depan kamera TVRI dengan
membawakan lagu antara lain Di Keheningan Malam. Lagu itu
ternyata segera mengangkat penyanyi ini ke tingkat kepopuleran
“Tanpa setahun saya, lagu yang saya nyanyikan itu ternyata sudah
direkam”, kata Amla. “Sebab tahu-tahu saya sudah menerima
piringan hitamnya”. Ayahnya, Mathovani, yang memang bekas
penyanyi di zaman Sam Saimun dan juga penggubah lagu, sejak itu
mulai memberikan bimbingan agak serius pada anaknya ini.

Sekarang dalam usia menginjak 18 tahun dan baru tamat dari SMA,
Anna sudah merekam sekitar 75 buah lagu. Dari jumlah itu hanya 2
buah hasil ciptaan ayahnya yaitu lagu isikan Hati dan Permata
Bunda. Selebihnya bagian terbesar adalah ciptaan Mus K. Wirya
dan Jessy Wenas. Sebagai juga penyanyi pop yang sedang laku Anna
pernah mendapat kesempatan mengadakan perlawatan ke Malaysia,
bernyanyi di rumah hiburan malam Flamingo Jakarta dan terakhir
di hotel Lisboa, Macao. Kini Anna Mathovani mulai mencari warna
baru dan mengarahkan diri pada lagu-lagu pop standard sementara
mengikuti pelajaran jaz pada Jack Lesmana. Ternyata bidang jazz
ini sudah mulai memberi corak baru pada Anna, terbukti dengan
improvisasi-improvisasinya dalam festival lagu-lagu pop kemarin.
“Kalau saya membawakan lagu secara biasa, itu berarti sama saja
dengan penyanyi lain”, katanya menjelaskan mengapa ia meriskir
improvisasi yang bisa dinilai keluar dari pop. Biduanita yang
katanya pengagum Dinall Washington, Nancy Wilson dan Barbara
Streisand ini agaknya memang sudah mulai jemu dengan selera pop
yang hidup di Indonesia sekarang. Dan ini tentu saja mengandung
risiko bahwa ia akan kehilangan pendengar-pendengarnya yang lama
yang masih bisa teringat suara Anna Mathovani yang polos dan
kebocahan dalam Angsa Pufih ataupun Antara Pria dan Wanita.

Tapi mengapa dia tertarik ikut dalam testival pop kemarin? Anna
yang ingin melanjutkan pelajaran pada Akademi Bahasa Asing
dengan tegas berkata: Saya tertarik pada beasiswa yang
disediakan bagi pemenang untuk memperdalam pelajaran musik di
Jepang. Dan ayahnya Mathovani yang bersama-sama nyonya Mathovani
terus menerus mengawal Anna selama festival berlangsung
menambahkan: “Inilah satu-satunya kesempatan yang terbuka bagi
Anna untuk memperdalam pengetahuan musiknya”. Dan si ayah
berusaha keras untuk membantu anaknya memenangkan perlombaan.
Setiap pulang dari latihan di RRI mereka berdiskusi mengenai
kekurangan-kekurangan Anna. Agaknya apa boleh buat bahwa Anna
untuk kali ini harus puas dulu dengan kedudukan juara II atau
runner-up.

* MARGIE SEGERS

Berdarah Ambon dan lahir di Cimahi tahun 1950. Pernah tinggal di
Negeri Belanda selama 17 tahun dan kembali ke Indonesia tahun
1969. Tahun 1960 mulai menyanyi di sekolah Negeri Belanda. Tahun
1964 sebagai penyanyi amatir pada sebuah orkes di negeri yang
sama. Ayahnya seorang bekas KNI L. yang menyukai musik
keroncong. Rekamannya yang pertama bersama Fuad dengan Abstract
Club Band dalam Lagu Inggeris dan Indonesia. Lebih menyukai lagu
blues dan Jazz, serta kini belajar pada Jack Lesmana dalam musik
jenis itu. Ikut Festival Pop Nasional, karena saya ingin mencari
pengalaman Broery dan Anna Mathovani saya kira lebih banyak
pengalaman dibanding dengan saya. Lagi pula kalau saya menang,
saya akan bisa turut perlombaan tingkat Internasional”. Margie
Segers hanya berhasil mendapatkan nomor buntut dalam kedudukan
juara harapan III.

* SYAMSUDIN/TRIO BIMBO

Lahir di Bandung 31 tahun yang lalu. Lepas sarjana jurusan
Senirupa ITB pada tahun 1969. Mendirikan Trio Bimbo tahun 1967
bersama saudaranya Acil, Jaka dan kini bersama Iin Parlina.
Pernah bermain dengan Guntur Soekarno Putera dalam band Aneka
Nudu. Kini sedang membuat rekamannya yang kelima. Pernah
mengadakan pertunjukan di Malaysia dan Singapura. Mengapa Bimbo
ikut Festival Pop Nasional yang lalu? “Banyak orang menuduh Trio
Bimbo tidak mau diajak duel atau takut mengadakan pertunjukan
bersama dengan grup lainnya/Saya ingin membuktikan bahwa
festival itu adalah arena yang paling kena untuk membuktikan
tuduhan itu.Sayang grup yang ikut hanya Bimbo. Coba kalau lebih
dari satu, saya kira akan lebih fair lagi. Bimbo hanya menjadi
juara harapan II.

* ANDI MERIEM MATTALATA

Lahir di Ujung Pandang tahun 1957. Kejuaraan yang diperoleh:
tahun 1968 juara II Pop Singer se Kotamadya Ujung Pandang, 1970
juara Pop Singer se kotamadya Ujung Pandang, 1971 juara Pop
Singer se kota-madya Ujung Pandang dan juara I kontes lagu-lagu
populer RRI Nusantara I Ujung Pandang. Tahun 1971 juara III
kontes lagu-lagu populer tingkat Nasional di Jakarta. Ikut
Festival Pop Nasi,onal karena ingin mencari pengalamarBanyak
kawan-kawan yang ingin ikut serta, tapi melihat banyaknya
penyanyi pop seperti Broery juga ikut, jadi banyak yang gagal.
Gagalnya saya barangkali karena kami dari daerah memang kalah
pengalaman dibanding dengan penyanyi Jakarta. Tapi coba-coba
bolehkan?” Meriem Mattalata hanya berhasil sampai babak semi
final.

* DEDDY DAMHUDI

Lahir di Tasikmalaya tahun 1939. Tahun 195 juara bintang radio
Jawa Barat untuk jenis seriosa dan juga juara I lomba seni suara
tingkat pelajar mahasiswa Jawa Barat di Bandung. Tahun 1965
juara Nasional bintang radio di Jakarta. Tahun 1969 mendapat
piala dari siaran ABRI sebagai penyanyi op yang paling digemari.
Tahun 1968 mengadakan rekaman piringan hitam dengan lagu-lagu
antara lain Aku Terkenang Selalu, Peluklah dan Lepaskan dan
ciptaan sendiri Jatuh Cinta. Mengadakan pertunjukan hampir ke
seluruh Indonesia, pernah ke Malaysia, Singapura dan Australia.
Kini menjadi penyanyi tetap dan pembawa acara di LCC Group Club
Jakarta. Dia ikut dalam Festival Pop Nasional yang lalu karena
“saya memang menunggu festival semacam ini. Bagi saya dengan
banyaknya penyanyi pop yang ikut serta, festival ini bisa
menjadi kuran kemampuan saya Deddy Damhudi berhasil menjadi
juara harapan 1.

* IVO NILAKRESHNA

Lahir di Medan, 31 tahun yang lalu. Tahun 1957 juara III bintang
radio tingkat nasional jenis hiburan, tahun 1964 menjadi juara
pertama dalam kejuaraan yang sama. Pernah merekam lagu-lagu pada
perusahaan piringan hitam Philips di Negeri Belanda dan
mengadakan pertunjukan di Malaysia. Sampai kini sebanyak 150
lalu 25% hasil ciptaan sendiri – telah direkamanya. Kini
menyanyi di Miraca. “Saya ikut festival pop ini atas anjuran
Titiek Puspa. Saya gagal karena kata orang tidak punya pop
touch. Tapi kalau saya idak pop barangkali ini akan didegar
orang di Miraca. Apa sih pop touch itu? Yang terang mereka
memenangkan yang muda-muda” ini. Ivo ternyata tidak berhasil
masuk babak semi final.

* OLAN SITOMPUL

Lahir di Padang tahun 1939. Tahun 1966 berhasil menduduki tempat
pertama kejuaraan bintang radio jenis hiburan tingkat Jakarta
Raya. Tapi hanya sampai juara II ketika dalam tingkat nasional.
Beberapa kejuaulan bintang radio pernah diikuti, rata-rata
merebut tempat ketiga atau kedua dan belum pernah mendapatkan
yang pertama untuk tingkat nasional. Penyiar RRI dan sering
menjadi pembawa acara pada kesempatan semacam pesta serta aktif
mengisi suaranya untuk keperluan iklan radio dan televisi.
Mengenai Festival Pop Nasional saya ikut untuk
berpartisipasi.Saya gagal karena memang sudah bukan dunia saya
lagi. Tapi penyanyi angkatan saya bukannya tidak mungkin untuk
memperoleh hasil yang lebih baik dalam festival itu”. Olan
Sitompul tidak berhasil mencapai babak semi final.

Menanti keputusan juri

Saat menunggu keputusan juri dalam festival lagu pop nasional para finalis mengalami ketegangan. brury tampak diam terpaku seperti sedang berdoa, anna bahkan kelihatan melamun. yang lain, juga demikian.RUANG terang-benderang di belakang panggung Studio V RRI Jakarta
Minggu malam itu barangkali sudah menjadi terlalu panas bagi
Broery. Masih dalam stelan jas hitam — stelan terakhir yang
dikenakannya malam itu setelah ganti mula-mula putih kemudian
hijau — ia membuka jendela. Tapi daun jendcla yang disentuhnya
itu mendepak sebotol Fanta dan isinya tersiram ke gaun putih
Masa Takagi, bintang tamu dari Jepang yang sudah siap-siap untuk
mengisi acara selingan sementara dewan juri mengadakan rapat.
Kejadian tak sengaja ini telah membuat si bintang tamu yang
berwajah kekanak-kanakan itu menangis. Broery nampaknya menyesal
betul. “Saya betul-betul tidak enak”, katanya entah kepada
siapa. Akhirnya Boery pindah ke tangga di sisi luar panggung
yang terlindung dari cahaya lampu. Dia diam terpaku di sana
nampak seperti berdoa.

“Ketegangan sudah menguasai para peserta Festival Lagu-Lagu
Populer tingkat Nasional 1973 ini sejak masih di babak semi
final yang berlangsung tanggal 7 Juli malam. Dan ketegangan
kelima finalis rupanya mencapai puncaknya pada saat-sadt
menunggu keputusan juri pada Minggu malam 15 Juli itu. Deddy
Damhudi yang berjambang dan bertubuh paling subur di antara
semua finalis dan juga Djaka dari Bimbo barangkali yang kurang
memperlihatkan keanehan-keanehan, meskipun kentara juga
gurau-gurau mereka tak lepas-lepas seperti biasanya. Iin Parlina
dari Bimbo maupun Amla Mathovani memang sekali-sekali dibikin
sibuk oleh wartawan yang nyelonong ke belakang pentas, tapi
wajah mereka pun tak dapat menyembunyikan apa yang sesungguhnya
sedang bergolak di dada masing-masing Amla bahkan sering
terlihat dan melamun dan hanya senyum seperlunya manakala
matanya sempat tertumbuk pada seseorang yang melayangkan pandang
kepadanya. Hal yang sama juga terlihat pada Syamsuddin orang
pertama dari Trio Bimbo,

Obsesi

Tapi yang paling tak bisa menyembunyikan kegelisahan barangkali
adalah Margie Segers. Lagu Kawa, Inilah Jakarta ciptaan
Syumantiasa dengan syairnya (oleh Syumantiasa, Taufik Ismail dan
Titiek Puspa) yang luar biasa cengeng dan mengharu-biru
anak-telinga namun terpaksa dinyanyikan Margie berdasarkan
undian, rupanya telah melumpuhkan penyanyi kelahiran Cimahi yang
pernah 16 tahun berdiam di Negeri Belanda ini. Margie lebih
banyak berdiri dan mundar-mandir pindah dari satu pojok ke pojok
yang lain daripada duduk tenang. “Saya memang agak nervous”,
katanya terus-terang, ketika semua finalis diinterview Eddy Rosa
dari RRI pada kesempatan istirahat di akhir babak ke 2 dari
acara tiga babak malam itu. “Deg-degan”, kata Deddy Damhudi
menjawab reporter RRI. “Saya juga gemetar”, kata Broery ketika
mendapat giliran ditanya. “Tapi yah, nggak boleh kelihatan
dong”. Komentar Anna lebih banyak berbentuk senyum sementara
Syamsuddin dari Bimbo mengambil kesempatan mengutarakan
kekesalannya terhadap alat pengeras suara yang dinilainya tidak
beres. Dari pengalamannya ketika menyanyi dalam babak semifinal
di mana suara Trio Bimbo tak terekam dengan baik karena pengeras
suara macet, kecurigaannya terhadap ketidak-beresan pengeras
suara pada malam final itu nampaknya sudah menjadi semacam
obsesi bagi grup Bimbo. Mereka mengetok-ngetok alat pengeras
suara itu lebih dahulu setiap kali mereka mendapat giliran
tampil ke pentas. Bahkan dalam babak ke-2 sebelum membawakan
lagu wajib Cast Away Loneliness, Iin menyebut “testing testing”.
Bukan tidak mungkin seperti dikatakan A. Ryanto – sikap Bimbo
ini tidak memancing simpati para juri yang duduk berjajar di
deretan depan di balkon. “Sound systemnya yang salah, bukan kami
yang salah”, kata Syamsuddin dalam wawancara dengan RRI itu.
Malah tanpa tedeng aling-aling dalam bahasa Sunda ia menambahkam
“Kasarna mah pengen nalampung” – maksudnya saking kesalnya ia
ingin menendang alat pengeras suara itu. Bukan mustahil inilah
sebabnya Trio Bimbo diboikot oleh TVRI ketika rekaman malam
final itu disiarkan TVRI beberapa malam kemudian.

Tempo Edisi. 21/III/28 Juli – 03 Agustus 1973

Kuping awam: selera dan mutu

Lagu “penuh harapan” sebagai pemenang i dalam festival lagu pop dipersoalkan. bila dibanding dengan lagu lain, lagu ini kurang komunikatif. unsur nilai tergantung mutu, bukan selera publik.BOLEH setuju atau tidak. Bagi Mus Mualim, festival lagu-lagu pop
bulan Juli kemarin merupakan “pintu gerbang ke arah titik
terang”. Katanya, musik pop yang berkembang liar selama ini
telah mendapat penyaluran yang baik. Orang macam Mus, Pranajaya
atau Jack Lesmana ingin menunjukkan bahwa lagu pop mestinya
seperti lagu Penuh Harapan punya Nick Mamahit, pemenang pertama
komposisi. Dan kalau menyanyi contohlah Broery Marantika, sang
juara.

Anggapan seperti itu setidaknya ditunjang oleh musisi-musisi
yang berderet di kursi juri festival tempo hari-sekalipun tidak
seluruh penyanyi menganggukkan kepala menyetujui. Ivo
Nilakrishna misalnya terheran-heran, karena menganggap lagu Nick
itu tak beda dengan jenis hiburan dulu. Bagi penyanyi yang tak
dapat nmor dalam festival karena tak memiliki pop touch itu,
Penuh Harapan rasanya jauh dari selera musik pop masa kini.
Bahkan Gubahanku karya Gatot Sanyoto yang menduduki tempat kedua
lebih komunikatif di kuping awam. Dan kebetulan dibawakan pula
oleh Broery. “Apa sih pop touch itu? tanya Ivo (TEMPO 28 Juli).

Campur-aduk. Itulah soalnya. Bagi Pranajaya, musik pop ialah
“apa yang muncul pada saat tertentu dan disenangi”. Namun
popularitas lagu toh banyak tergantung dari apresiasi
masyarakat. Membandingkan ciptaan Nick dengan lagu Riyanto
misalnya, dalam hal popularitas tentulah Mawar Berduri jauh
lebih banyak pendengarnya dari pada Penuh Harapan yang juara.
Tapi kalau bicara sampai tingkat internasional di mana ukuran
pop sudah tinggi,”soalnya akan jadi lain”, kata Prana pula. Lagu
yang karena sesuai dengan selera masyarakat lalu menjadi
populer, kata bekas jagoan seriosa itu, tidak akan tahan lama.
Sebaliknya dengan ciptaan Nick Mamahit.

Tampaknya jurang antara pop selera masa kini — pinjam istilah
Jack Lesmana — dengan ukuran juri festival bukan tak ada. Jack
malah menunjuk Burt Bacharach yang populer itu sebagai pencipta
musik pop yang memenuhi hukumhukum seni musik. Tidak ganjil
memang. Sebab orang Amerika yang bikin lagu Rain Drop Keep
Fallin’ on My Head itu memang komposer yang terdidik. Rupanya
inilah jurangnya. “Kelemahan komposer kita hanya dalam
pendidikan saja”, tutur Pranajaya. Sementara Tony Koeswoyo dan
A. Riyanto menurut Jack Lesmana — “membuat lagu secara spontan
tanpa memikirkan harmoni. Mereka kebanyakan hanya berpegang pada
niat harus membuat lagu yang baik. Titik”. Bahkan ia menilai,
komposer muda membuat lagu hanya dengan perasaan saja. Sehingga
kekurangannya terdapat pada susunan-nada atau harmoni. “Padahal
kelemahan itu bisa dihindari kalau saja mercka tahu musik”, kata
Nick lagi — yang katanya ikut festival buat mendorong musisi
muda.

Betapapun kritik musisi tua bukannya tanpa alasan. Golongan muda
sendiri yang misalnya diwakili Riyanto, melihat ukuran festival
sebagai telah “mendekatkan penyanyi dan komposisi pada standar
internasional”. Pimpinan Favourite’s Group itu bahkan mengakui
lagu-lagu ciptaannya masih campuraduk, sementara
komposer-komposer muda belum berhasil mendapatkan ciri
masing-masing. “Masih terlihat persamaan antara lagu saya dengan
ciptaan orang lain”, ujarnya. Di Barat, bisa dibedakan mana
karya Burt Bacharach dan mana puny John Lenon. Sehingga, bagi
Riyanto, lagu pop Indonesia masa kini tak bisa dibandingkan
dengan komposisi yang menjadi finalis dalam festival.

Iroth. “Perlombaan itu berat. Dan lagu yang sudah populer belum
tentu menang”, katanya. “Membuat lagu untuk festival harus
konsentrasi pada akord”. Dan menurut pencipta ratusan lagu pop
itu, “akord yang baik merupakan kunci buat mengembangkan lagu
menjadi musik yang besar”. Jelasnya, harus dibedakan antara pop
sekarang dan pop yang diperlombakan. Yang terakhir itu, bagi
Riyanto merupakan lagu buat pasaran internasional. Sedang
lagu-lagunya sendiri belum tentu bisa populer di pasaran itu.
Pokoknya pop Indonesia masa kini “belum punya bentuk dan masih
ngambang”, seperti kata Paul Hutabarat, ketua IMI atau Ikatan
Musisi Indonesia.

Maka buat menggalakkan pop, penyajian dengan orkes besar, kata
Riyanto, mestinya tidak hanya terbatas pada lagu-lagu yang
akordnya bagus. Untuk Inenlbiasakan masyarakat mendengar musik
pop dengan orkes besar, “sebaiknya lagu dengan akord sederhana
juga dicoba”, kata Riyanto. “Karena lima sampai seuluh tahun
mendatang musik pop akan mengarah ke sana”. Sedang di luar
negeri, menurut Iskandar penyajian seperti itu sudah biasa. Di
Amerika misalnya ada Boston Pop Orchestra pimpinan Arthur Fidler
yang benanggotakan hampir 120 orang. Dibanding Orkes Simfoni
Jakarta yang jarang lebih dari 50 orang — waktu festival bahkan
cuma 30 orang — orkes pop Arthur memang bukan main.

Iringan orkes buat lagu-lagu pop sebenarnya bukan barang baru.
Sekitar tahun limapuluhan sudah ada Orkes Metropolitan pimpinan
Jos Cleber yang sering mengiringi Sam Saimun dan Bing Slamet.
Tampaknya kini mau dicoba lagi. Bagi penyanyi angkatan sekarang,
diiringi orkes besar tentulah tidak semudah diiringi band kecil.
Tapi KJeS Plus atau Bimbo kabarnya sudah punya rencana bikin
lagu dengan orkes besar. Beberapa antaranya sudah meliwati
rekaman –misalnya Broery dalam Mimpi Yang Sedih atau rekaman
telakhir Bimbo — sekalipun masih terbatas pada orkes yang cuma
berkekuatan 10 orang. Soalnya, perusahaan piringan hitam harus
memperhitungkan telinga publik yang belum terbiasa. Itupun bagi
Remaco “masih dalam taraf eksperiman”, seperti kata Ferry Iroth,
manager pemasaran.

Lho kok. Soalnya kini bisa tambah jelas. Bagi Mus Mualim, paling
tidak musisi tua harus punya misi. “Kita harus berkelahi dengan
musik cengeng”, katanya. “Musik pop harus ditingkatkan, dan
harus bisa menemiatkan pendengar awam”. Misalnya bisa dimulai
dengan membuat lagu yang baik. Atau meningkatkan komposer dengan
pendidikan seperti anjuran Pranajaya. Tapi bisakah publik
menerima lagu macam punya Nick? Diterima atau tidak, bagi
Pranajaya bukan masalah. Sebab kelak masyarakat dergan
sendirinya bakal terangkat ke atas.

Soalnya sekarang, menurut Pranajaya lagi, “publik selalu
dibiasakan mendengar musik pop yang macam sekarang”. Riyanto
lain pula sikapnya. Kaum musisi tak usah meloncat terlalu
tinggi. “Harus fifty-fifty, setengah mengikuti selera
masyarakat, setengah lagi membuat lagu bermutu”, katanya. Sebab
bagaimaapun, selera tetap memegang peranan. Seperti yang
diakuinya selama ini, ia membuat lagu-lagu pop ringan dan hampir
tak pernah lupa mencipta dengan akord yang bagus. Katanya, yang
pertama perlu agar tak terpisah dari publik. Sedang yang
terakhir mengajak masyarakat menikmati musik yang baik.

Itu Riyanto. Bagaimana dengan Tony Koeswoyo? Baginya musik pop
yang penting harus menyentuh selera masyarakat. “Kita bikin lagu
untuk siapa?” tanyanya. “Memenuhi selera masyarakat tidak
semudah menyebutnya sebagai kampungan”. Katanya, ia pernah
membuat lagu menuruti hukum-hukum musik. Tapi ketika
dinyanyikan, “lho, larinya kok ke jazz”, katanya pula. Membuat
lagu yang susah dijangkau kuping awam, “bunuh diri namanya”. Tak
peduli musik bisa mendidik atau tidak. Karenanya, “penuhi selera
masyarakat, kemudian bersama-sama naik ke atas”, tukasnya.

Gairah muda. Jalan fikiran Tony mungkin yang paling banyak
dianut musisi muda selama ini. Koes Plus memang punya kelompok
sendiri dalam peta bumi permusikan di negeri ini. Tak terlalu
susah, namun tak mudah ditiru Lain dengan Riyanto yang nampaknya
lebih kompromistis. Yang terakhir ini tidak selalu harus
memenuhi selera masyarakat tapi juga mesti bikin musik yang
baik. Bimbo barangkali bisa masuk kelompok ini. Tapi satu hal
jelas bahwa kelompok Mus, Pranajaya, Jack dan musisi-musisi yang
tak muda lagi agaknya tak mudah merangkul pendengar yang bukan
angkatannya. Soalnya persis seperti kata Paul Hutabarat:
“Popularitas sebuah lagu pop lebih banyak ditunjilng oleh unsur
gairah muda, bukan nilai seninya”.

Sementara itu ada penyanyi yang memakai improvisasi buat mencari
warna lain dalam lagu pop. Anna Mathovani dan Margie Segers
adalah sedikit dari yang banyak. Terhadap hal itu, Jack Lesmana
menganggapnya sebagai usaha mencari mutu pop yang lebih baik.
Kata Jack, Anna telah mencapai tingkat tertinggi “dari pop
selera sekarang”. Dan kini dia berupaya mcncari yang lebih
tinggi hati. Akan halnya Koes Plus, jelas tak bisa dikatakan
melakukan hal yang sama. Tony Koeswoyo bahkan lebih banyak
mencari warna musik daerah dalam lagu-lagunya — dalam Topeng
Beat misalnya, atau beberapa lagu yang bermotif gamelan Jawa.
“Secara musikal itu pun suatu kemajuan”, kata Nick Mamahit .

Sekarang masalahnya terpulang kembali kepada masing-masing.
Kelompok Mus boleh saja jalan terus dengan misinya. Bisa juga
seperti Riyanto yang mengambil jalan tengah. Atau sarma sekali
seperti Tony – Koeswoyo, a1lg “jalan sendiri-sendiri. Nanti
kalau sudah berhasil, boleh coba-coba bergabung bikin musik yang
baik”, begitulah.

Tempo Edisi. 29/III/22 – 28 September 1973 

Frame Three A:

International collections

 

 

 

Gilda Giuliani – Parigi a volte cosa fa (WPSF 1973, Italy)
4.45 min. | 5.0 avaliação | 5611 exibições
(Audio only) Probably best known in Italy for her tune “Serena”, which she sang at the 1973 San Remo festival, Gilda Giuliani is considered the Italian Edith Piaf. She was only 19 when she travelled to Tokyo to perform “Parigi a volte cosa fa” at the 1973 World Popular Song Festival, which won both Grand Prize and “Most Outstanding Performance”. Gilda is considered the most successful artist ever to take part in the WPSF, as she came in second place (winning a second “Most Outstanding Performance” award) five years later with the song “Due parole”.

 

Prestasi yang cukup membanggakan dari musik Indonesia di tahun 1982 berhasil diukir oleh sang “Macan Festival” Harvey Malaiholo. Bersama dengan group vokal Geronimo yang mewakili tanah Air. Harvey yang tampil dengan kekuatan vokal prima yang total All Out membawakan tembang “Lady” ciptaan Antonn Issudibyo. Kematangan Vokal diimbangi dengan support dari Geronimo Singers, berhasil membawa Indonesia merebut Trophy “ KAWAKAMI SPECIAL AWARD” pada WORLD POP SONG FESTIVAL 1982 di Tokyo Jepang.Ternyata ada 1 hal yang menarik dari Ajang Festival lagu internasional ini. Yaitu di deretan kontestan yang mewakili beberapa negara peserta ada 1 nama yang akhirnya berhasil mendunia 5 tahun kemudian setelah menjadi peserta di festival ini. Yups,dia adalah CELINE DION. Sosok perempuan berdarah Prancis yang sekarang menjelma menjadi Diva musik Pop dunia.

Dalam festival ini Celine Dion mewakili negara Prancis ( kemudian setelah Go International, Celine menetap di Kanada ). Dion menyanyikan lagu berbahasa negaranya yang berjudul Tellement J’ai D’Amour Pour Toi. Dengan kekuatan warna vokal yang tak berubah seperti setelah dia mendunia. Dan tak sia-sia, Penghargaan Outstanding Song Award pun berhasil diraihnya.

Selain itu ada pula nama John Rowles, nama yang 1 ini pun pernah akrab di telinga pecinta lagu-lagu manca era 70-an dengan hitsnya Hush! Not A Word to Mary. Rowles mewakili negara Selandia Baru dan tampil dengan lagu Holiday in Mexico yang juga meraih Outstanding Song Award.

Dalam Festival ini Meksiko yang diwakili oleh penyanyi Yoshio berhasil meraih 2 penghargaan internasional yaitu Most Outstanding Performance dan Best Song Award.

Nah!!! Berikut urutan lengkap para peserta WORLD POP SONG FESTIVAL TOKYO 1982 serta lagu dan penghargaan yang mereka raih pada saat itu :

1. Anne Bertucci ( AS ) – Where did We Go Wrong ; Trophy : Grand Prix Winner for Non Japan
2. Yoshio ( Meksiko ) – Esename A Querer; Trophy : Most Outstanding Performance & Best Song
3. Ronen Bahunker ( Israel ) – Off All My Love Song; Trophy : Outstanding Song Award
4. Asuka ( Jepang ) –Flower Thief; Trophy : Grand Prix Winner For Japan
5. John Rowles ( Selandia Baru ) – Holiday in Mexico;Trophy : Outsanding Song Award
6. Harvey Malaiholo ( Indonesia ) – Lady; Trophy : Kawakami Special Award
7. Taffy McElroy ( AS ) – Just One Chance To Be Free
8. Celine Dion ( Prancis) – Tellement J’ai D’Amour Pour Toi; Trophy: Outstanding Song Award
9. Mio Honda ( Jepang ) – Sad Dancer; Trophy : Outstanding Song Award
10. Sarah Chen ( Taiwan ) – Promise Me Tonight

Frame Three:

The Nippon Budokan Hall

Nippon Budokan (日本武道館?)
Budokan
Nippon Budokan Hall Main entrance
Location 2-3 Kitanomarukōen, Chiyoda, Tokyo 102-8321, Japan
Coordinates 35°41′36″N 139°45′00″E / 35.69333°N 139.75°E / 35.69333; 139.75
Built 1964
Opened October 3, 1964
Owner The Nippon Budokan Foundation (財団法人 日本武道館, Zaidan Hōjin Nippon Budōkan?)
Construction cost 2 billion Japanese yen
(5.6 million USD in 1964)
Architect Mamoru Yamada
Main contractors Takenaka Corporation
Capacity 14,201
Field dimensions Height: 42 m (140 ft)

The Nippon Budokan (日本武道館, Nippon Budōkan?), often shortened to just Budokan, is an arena in central Tokyo, Japan.

It was here that The Beatles and Kiss made their Japanese debut[1] and the location where many “Live at the Budokan” albums were recorded. The Nippon Budokan, however, was originally built for the judo competition in the 1964 Summer Olympics, hence its name, rendered in English as Martial Arts Hall.

Contents

 

Location

The Nippon Budokan is located in Kitanomaru Park in the center of Tokyo, two minutes’ walking distance from Kudanshita Subway Station, and near Yasukuni Shrine. This 42 m (140 ft) high imposing octagonal structure holds 14,201 people (arena seats: 2,762, 1st floor seats: 3,199, 2nd floor seats: 7,760, standee: 480) and is modeled after Yumedono (Hall of Dreams) in Hōryū-ji in Nara.

Venue history

 Martial arts

A Concert Stage at Budokan

Though it still functions as a venue for big musical events, its primary purpose is for Japanese martial arts. The national championships of the different branches of the martial arts (judo, kendo, karate, aikido, shorinji kempo, kyūdō, naginata, etc.) are held annually at the Budokan. For wrestling fans the Budokan means professional wrestling‘s big shows. Now, the Budokan is mostly used by Pro Wrestling Noah, who often hold major events there.

Music

Roof of Budokan and cherry blossoms

The Beatles were the first rock group to perform here, in a series of shows in June/July 1966; their appearances were met with opposition from those who felt the appearance of a western pop group would defile the martial arts arena.[2]

However, the Budokan gained worldwide fame when American artists Cheap Trick & Bob Dylan used the arena to record their concert albums, At Budokan (1978) and Bob Dylan at Budokan (1979), respectively. In explaining the popularity of the venue for live albums, Eric Clapton described the Tokyo audience as “almost overappreciative” in interviews promoting his own live Just One Night (1980), recorded at Budokan.

Other artists to release live recordings from this venue include:

The original Beatles concert is heavily bootlegged on audio and video;[3] the first night’s concert video was officially released by Apple in Japan only as Beatles Concert at Budokan 1966, and excerpts are included in The Beatles Anthology. Chatmonchy currently holds the record for the largest crowd at Budokan.[citation needed]

Nippon Budokan

 Other events

A national ceremony to mourn the Second World War dead is held with the attendance of the Prime Minister, the Emperor and the Empress annually in Budokan on August 15, the day of Japan’s surrender.

Frame Four:

The History of World Pop song Festival Tokyo 1973

The Yamaha Music Festival, officially known as World Popular Song Festival and unofficially as the “Oriental Eurovision”, was an international song contest held in 1970-1989. It was organised by the Yamaha Music Foundation in Tokyo, Japan from 1970 until 1989. The first edition of the World Popular Song Festival (WPSF) took place on 20, 21 and 22 November 1970 with 37 participating countries from all continents.

Belgium was represented at the 1970 edition by Daliah Lavi, famous for her role in Casino Royale (1967), the James Bond parody featuring Woody Allen as well with Samantha Gilles in 1987 ending second with the song Hold Me. Lavi performed the chanson “Prends L’Amour” and ended up 13th in the Grand Final (the contest had two semi-finals and one final). The Netherlands delegated world-known jazz singer Rita Reys with the song “Just Be You”, a composition by her husband Pim Jacobs. Other famous 1970 participants were 1969 Eurovision winner Frida Boccara for France, Jacques Michel for Canada and Ted Mulry for Australia, who scored a national number 1 hit with his entry. Winner of the 1st WPSF was Israel with the duo Hedva & David. More than 2 million copies of their winning entry “Ani Holem Al Naomi” (“I Dream Of Naomi”) were sold worldwide, giving a serious credibility boost to the new Festival.

Well established names as well as new talents tried their fortune at the WPSF: a very young ABBA under the name Björn & Benny with uncredited backing vocals by their partners Agnetha and Anni-Frid performing the track “Santa Rosa” with little success (later relegated to the B-side of their second single “He Is Your Brother”), Céline Dion (Best Song Award in 1982), Bryan Adams (Participating in 1982), Tina Charles, Eros Ramazzotti, Daniela Romo, Gianna Nannini, Demis Roussos, Bonnie Tyler, B.J. Thomas, LaToya Jackson, Erasure, Cissy Houston, Italian singer-songwriter Alice and many others.

In the history of the WPSF the United Kingdom has been the most successful, winning the “WPSF Grand Prix” 5 times in the seventies (even three times in row). The United Kingdom is followed by the United States with 4 Grand Prix victories. Smaller countries won as well: Jamaica in 1972 with Ernie Smith, Norway in 1974 with Ellen Nikolaysen, Cuba in 1981 with Osvaldo Rodríguez and Hungary in 1983 with Newton Family.

 Grand Prix Winners

Year Country Artist Title
1970  Israel Hedva & David “I Dream of Naomi”
1971  France Martine Clémenceau “Un Jour l’Amour”
   Japan Tsunehiko Kamijo & Rokumonsen “Tabidachi No Uta”
1972  United Kingdom Capricorn “Feeling”
   Jamaica Ernie Smith “Life is Just for Livin'”
1973  Italy Gilda Giuliani “Parigi a Volte Cosa Fa”
   United States Shawn Phillips All the Kings and Castles
   United Kingdom Keeley Ford “Head over Heels”
1974  Norway Ellen Nikolaysen “You Made Me Feel I Could Fly”
1975  Mexico Mister Loco “Lucky Man”
   Japan Miyuki Nakajima “Jidai (Time Goes Around)”
1976  Italy Franco & Regina “Amore Mio”
   Japan Sandy “Goodbye Morning”
1977  United Kingdom Rags “Can’t Hide My Love”
   Italy Mia Martini “Ritratto di donna”
   Japan Masanori Sera and Twist “Anta no Ballade”
   Turkey Ajda Pekkan “A Mes Amours”
1978  United Kingdom Tina Charles Love Rocks
   Japan Hiroshi Madoka “Musoubana (Fly on All the Way)”
1979  United Kingdom Bonnie Tyler “Sitting on the Edge of the Ocean”
   Japan Crystal King “Daitokai (In the City of Strangers)”
1980  United States Mary MacGregor “What’s The Use”
1981  Cuba Osvaldo Rodríguez “Digamos Que Mas Da”
1982  United States Anne Bertucci “Where Did We Go Wrong”
1983  Hungary Newton Family “Time Goes By”
1984  Canada France Joli “Party Lights”
1985  Argentina Valeria Lynch “Rompecabezas”
1986  United States Stacy Lattisaw “Longshot”
1987  Australia Pseudo Echo “Take on the World”
1988   (Undecided)  
1989   (Benefit Concert Only)  

Awards

  • Grand Prix International
  • Grand Prix National 1975-1979
  • Most Outstanding Performance Award (MOPA)
  • Outstanding Performance Award (OPA)
  • Outstanding Song Award (OSA)
  • Kawakami Award

the end @ copyright Dr Iwan Suwandy 2011

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s