Studikelayakan tulisan Kompasiana II(3)”Stop Meledek dengan kata”Autism”

JUDUL :” STOP MELEDEK DENGAN KATA “AUTIS”(CURHAT SEOARANG IBU) berdasarkan cerita teman pengarang.
Stop Meledek dengan Kata “Autis”! (Curhat Seorang Ibu)
Dewa Klasik Alexander
|  25 September 2010  |  00:25 via Mobile Web
2665
22
     
   
   
5 dari 8 Kompasianer menilai Inspiratif.

“Setiap anak adalah anugerah dari Yang Maha Kuasa yang dibekali talenta meski terlahir dalam keadaan yang tidak diinginkan.”

Dewa klasik Alexander

Aku selalu percaya bahwa  Pencobaan-pencobaan yang aku alami ialah pencobaan-pencobaan biasa, yang tidak melebihi kekuatan manusia. Sebab Tuhan setia dan karena itu Ia tidak akan membiarkan aku dicobai melampaui kekuatanku. Pada waktu aku dicobai Ia akan memberikan kepadaku jalan ke luar, sehingga aku dapat menanggungnya. Berbahagialah orang yang bertahan dalam pencobaan, sebab apabila ia sudah tahan uji, ia akan menerima mahkota kehidupan yang dijanjikan Tuhan kepada barangsiapa yang mengasihi Dia.

Satu persatu ujian yang diberikan-Nya, kuhadapi dengan sebuah doa yang beriringan air mata. Ketika usia kehamilan anak pertamaku memasuki tujuh bulan, suamiku meninggal dunia karena kecelakaan. Aku harus melahirkan tanpa didampingi suamiku. Keluargaku juga tidak ada yang menjengukku. Pernikahanku tidak direstui oleh kedua pihak keluargaku dan suamiku hanya karena kami berbeda suku. Sehingga ketika kami nekat menikah, kami tidak lagi dianggap leh keluarga masing-masing.

Namu aku selalu berharap, satu hari nanti aku akan diterima kembali. Apa lagi aku akan memberikan cucu pertama bagi orang tuaku dan mertuaku. Namun ternyata itu tidak merubah sedikit pun hati mereka.

Beruntung aku memiliki sebuah salon yang bisa membuat dapur tetap “berasap” tanpa perlu memita belas kasihan dari siapa pun. Kini anakku beranjak enam tahu. Namanya Angel Sastra Klasik. Siapa pun yang melihatnya pasti akan terpesona dengan kecantikannya. Namun di balik kecantikan yang diwarisinya dariku dan ayahnya tersimpan sesuatu ujian bagiku untuk membesarkannya.

#####

Setiap hari aku harus memasak untuk makanan Angel. Khusus untuk makanannya, aku memutuskan untuk memasak sendiri karena hanya aku yang tahu berapa gram atau mililiter asupan yang ada dalam setiap porsi makanan yang masih bisa ditoleransi oleh tubuh Angel. Bukan pekerjaan yang mudah tapi itulah tugasku. Angel suka alergi terhadap makanan tertentu.

Setahu aku penderita autis umumnya mengalami masalah pencernaan, terutama makanan yang mengandung casein (protein susu) dan gluten (protein tepung). kedua jenis protein tersebut sulit dicerna, maka akan menimbulkan gangguan fungsi otak apabila mengonsumsi kedua jenis protein ini. Sehingga perilaku penderita autis akan menjadi lebih hiperaktif.

Aku memberikan suplemen bagi Angel yang mengalami lactose intolerance (ketidakmampuan pencernaan untuk mencerna laktosa). Salah satu suplemen yang aku berikan baginya adalah sinbiotik. Sinbiotik yaitu gabungan probiotik dan prebiotik. Probiotik adalah mikroorganisme hidup yang dimakan untuk memperbaiki secara menguntungkan keseimbangan mikroflora usus.

Membesarkan Angel seperti bekerja sebagai bodyguard pada orang terkenal yang kapan dan di mana saja harus selalu siap siaga . Harus selalu waspada. Sedetik saja lengah bisa berbahaya baginya. Loh bukannya Angel sudah enam tahun? Mungkin ada yang bertanya demikian. Angel berbeda dari anak normal lainnya. Angel mengidap autis. Anugerah terbesar dalam hidupku adalah memiliki kesabaran yang luar biasa untuk membesarkan seorang anak autis.

Autis adalah suatu kondisi mengenai seseorang sejak lahir ataupun saat msa balita yang membuat dirinya tidak dapat membentuk hubungan sosial atau komunikasi yang normal. Akibatnya anak tersebut terisolasi dari manusia lain dan masuk dalam dunia repetitive, aktivitas dan minat yang obsesif.

Tidak mudah seorang single parent sepertiku harus membesarkan anak seperti Angel dan harus mencari uang untuk tetap bisa bertahan hidup. Hanya bahasa air mataku yang jatuh dalam setiap bait-bait doaku yang bisa menggambarkan perasaanku.

Aku tahu, kalau Tuhan mengizinkan aku memiliki seorang anak autis itu karena Tuhan tahu aku mampu membesarkannya dengan penuh cinta. Kenapa Tuhan tidak memilih keluarga lain? Kenapa harus aku seorang janda? Aku tahu karena Tuhan mempercayaiku untuk memiliki seorang anak yang adalah amanah dari-Nya.

Aku mendengar suara yang cukup keras dari ruang keluarga. Aku beranjak meninggalkan masakanku.

Aku benar-benar kaget melihat Angel bersimbah darah dikepalanya. Ya Tuhan, Angel sedang membenturkan kepalanya ke kaca jendela.

“Angel… Apa yang kamu lakukan sayang?”

Aku bergegas menghampirinya. Aku menahannya untuk tidak membenturkan kepalanya meski dia memberontak.

Tidak ada tangisan atau ekspresi kata yang menggambarkan kalau dia kesakitan. Mungkin jika itu terjadi kepada anak normal, pasti mereka menangis kesakitan. Tapi berbeda dengan Angel. Dia hanya diam seribu bahasa dengan sorot mata yang sulit aku mengerti.

Aku berusaha menghentikan pendarahan di bagian kepalanya dengan baju yang aku kenakan. Hanya beberapa detik saja baju biru yang aku kenakan dipenuhi darah segar. Aku panik. Aku bergegas membawanya ke mobil setelah dia tidak berontak lagi.

Aku mengemudi mobilku dengan kecepatan yang cepat ke rumah sakit. Beruntung tidak macet. Begitu tiba di rumah sakit dia langsung dibawah ke UGD.

Dia tidak menangis sama sekali. Tidak ada satu pun air matanya yang jatuh. Hanya aku yang menangis.

“Ya Tuhan… Berikan aku kekuatan!” Ucapku dalam hati.

Beruntung Angel tidak kenapa-kenapa.

Ini bukan kejadian pertama yang menimpa Angel. Ada begitu banyak hal yang dia lakukan dan itu membahayakan dirinya. Aku sendiri tidak mengerti kenapa Angel melakukan hal-hal yang berbahaya bagi dirinya sendiri.

Angel pernah menjatuhkan dirinya dengan sengaja di tangga sehingga jatuh terguling-guling, mengiris lengannya dengan pisau dapur dan bermain korek api lalu mencoba membakar bajunya sendiri.

Dua hari yang lalu, ketika aku keluar dari kamar mandi. Aku menemukan Angel yang sedang menggunting rambutnya dan baju yang dikenakannya. Seminggu yang lalu ketika aku membawa Angel ke salon, ketika aku dan yang lainnya sibuk melayani pelanggan yang lagi ramai. Angel sibuk memoles wajahnya dengan shampoo. Sementara sebulan yang lalu, ketika aku lupa menggembok pagar rumah, dia bermain di jalan raya. Yang paling sering dia lakukan adalah memukul-mukul dirinya sendiri atau  memutar dirinya sendiri yang dilakukan berulang kali.

“Angel cantik tapi sayang dia autis.”

Itu kata-kata yang sering aku dengar dari orang lain termasuk teman-temanku.

Aku telah melanglang buana mencarikan TK untuk Angel. Tapi tidak ada yang mau menerimanya. Alasannya hanya karena dia autis. Astaga!!! Bukannya anak autis juga butuh bersosialisasi? Makanya aku terus berusaha mencari TK untuk Angel. Aku sudah kebal dengan penolakan tapi aku tidak akan menyerah begitu saja.

Angel tidak pernah mengatakan sayang kepadaku tapi aku mengasihinya. Dia tidak pernah berkomentar setiap kali aku menceritakan dongeng atau menyanyikan lagu Nina bobo, tapi aku terus melakukannya. Orang bilang dia tidak normal tapi bagiku Angel sama seperti anak lain yang memiliki hak yang sama untuk mendapatkan yang terbaik. Mungkin hanya kasih sayang dari seorang ayah yang belum bisa aku berikan untukknya. Siapa yang mau dengan janda sepertiku yang memiliki anak autis?

Namun aku percaya, Tuhan tidak pernah iseng ketika merajut Angel dalam rahimku. Bertahun-tahun aku membesarkannya dengan penuh kasih sayang melebihi aku memperhatikan diriku sendiri. Ketika banyak ibu sibuk berdandan dan bekerja sementara anaknya diasuh oleh pembantu atau baby sister, aku memilih meluangkan banyak waktu untuk Angel, semata wayangku.

Aku selalu tersenyum bangga ketika melihat gayanya di depan kamera. Ia bergaya seperti model profesional meski usianya masih sangat kecil. Dibalik kelemahannya ada talenta yang Tuhan titipkan dalam dirinya. Aku percaya itu adalah bekal untuk masa depannya nanti. Sekarang tingal bagaimana aku membuatnya berubah menjadi jauh lebih baik setiap hari seperti anak normal lainnya. Hati ibu mana yang tidak miris jika melihat anak lainnya hidup normal sedangkan anak sendiri penuh dengan keterbatasan?

#####

Aku membutuhkan waktu yang lama hanya untuk melatih Angel menggenggam sendok dan
garpu dengan benar. Belum lagi mengajarinya menatapku setiap kali aku ajak berkomunikasi. Itu bukan pekerjaan yang mudah. Berkali-kali aku ajarin belum tentu bisa. Rasanya ingin menyerah tapi aku memilih untuk tidak menyerah karena dia anakku. Aku adalah ibu, sahabat sekaligus guru baginya.

Memiliki anak autis bukan sesuatu yang diinginkan oleh setiap orang tua. Aku tidak tahu sampai kapan Angel akan menjadi autis. Tapi aku selalu optimis bahwa, selalu ada harapan. Bintang hanya bersinar di kala langit mulai hitam pekat. Pelangi indah hanya muncul setelah hujan. Demikian juga mujizat akan selalu ada disetiap persoalan hidupku. Yang bisa aku lakukan adalah mengenali dan melakukan berbagai terapi agar Angel dapat hidup mandiri dan dapat  melakukan hal-hal sebagaimana anak normal lainnya.

Hanya aku terkadang sedih ketika mendengar orang lain dengan seenaknya memakai kata autis hanya untuk meledek temannya yang sednag asyik dengan blackberrynya atau dijadikan sebagai sebuah bahan untuk bercanda dan saling meledek.

“Dasar, autis lo! Seharian main BB!”

Atau status update seperti, “gua ngautis di kamar sendirian.”

Kenapa harus memilih kata autis sebagai julukan mereka yang asyik dengan gadget mereka?  Apa tidak ada kata lain? Saya sudah merasakan dan tahu betul sulitnya membesarkan anak autis.  Ketika orang lain membuat autis sebagai bahan lucu-lucuan, padahal autis nggak ada lucu-lucunya buat mereka. Hati kecilku hanya bisa berkata, “stop embarrassing yourself by making fun of the Autism.”  Semoga saja mereka menyadari hal tersebut. Autis bukan sesuatu yang bisa dijadikan bahan lelucon.

Jika masih ada yang menggunakan kata itu sebagai ledekan atau bahan bercanda, sebaiknya sadar diri. Bahwa kalian mempermalukan diri kalian sendiri dengan menunjukan kepada dunia, betapa bodohnya kalian tidak tahu apa dan bagaimana autis itu. Jangan sampai kalian memiliki anak atau saudara seperti Angel baru mengerti arti autis sebenarnya. 

Stop embarrassing yourself by making fun of the Autism

Catatan : Kisah Ini dikarang berdasarkan kisah dari teman penulis, dan dsi add atas izin ybs, untuk mengetahui Autism secar ilmiah ,baca dalm blog ini karangan Dr Iwan S tentang Upaya penanganan Autism, cari di search” Dr Pusat informasi Autism Dr Iwan “.

2 thoughts on “Studikelayakan tulisan Kompasiana II(3)”Stop Meledek dengan kata”Autism”

    • iwansuwandy October 11, 2010 / 1:05 pm

      thanks adik santi ,anda dari Faterna Unand,saya juga alumni FKunand 1972.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s