Studikelayakan tulisan Kompasiana(7)” Anak Muda Tionghoa harus Meneruskan Langkah Ong Hok Ham”

Sejarah
Lihat Profil    Jadikan teman    Kirim Pesan
Aku bersaksi bahwa aku berpikir dengan otak dan aku bersaksi bahwa aku berjalan dengan dengkul. Masalah terbesarku ialah menentukan lebih penting mana: otak atau dengkul. Tapi aku percaya, mula-mula pewarta warga bekerja dengan dengkulnya, baru kemudian berkreasi dengan otaknya.

Anak Muda Tionghoa Perlu Meneruskan Langkah Ong Hok Ham
Herman Hasyim
|  21 September 2010  |  02:19
111
7
     
   
   
2 dari 3 Kompasianer menilai Inspiratif.

Selaku penyokong proses asimilasi, Hok Ham mengkritik sebagian Tionghoa peranakan yang menurutnya lebih mengedepankan “Bhinneka” tapi melalaikan “Tunggal Ika”.

Klenteng Kwan Sing Bo dijejali puluhan orang berkaos putih bergambar naga dengan tulisan “Melantjong Petjinan Toeban” di dada. Suatu siang di awal Agustus itu, mereka datang bukan hanya untuk membakar dupa. Mereka memotret apa saja: arsitektur klenteng dengan simbol kepiting raksasa, patung dewa-dewa, orang-orang bersembahyang. Mereka juga mengumbar tanya. Mencatat setiap hal yang tertangkap panca indra di klenteng yang usianya sudah ratusan tahun itu.

Di antara mereka, Ardian Po Purwosupetro tampak menonjol. Bukan semata karena dia mengenakan kaos merah berlogo Manchester United. Ardian adalah salah satu penggagas event yang sebagian besar pesertanya adalah anak muda Tionghoa ini.

Di Facebook, beberapa hari kemudian, saya menemuinya. Kami berbincang. Saya adalah orang Tuban, kawasan pesisir utara pulau Jawa yang pernah menjadi basis masyarakat Tionghoa selain Lasem, Rembang, di mana klenteng Kwan Sing Bo—salah satu klenteng termegah di Indonesia—berdiri dengan gagah.

Namun fokus pembicaraan kami bukan soal Tuban. Bukan pula tentang Klenteng Kwan Sing Bo. Kami membincang sekenanya mengenai perkembangan masyarakat Tionghoa di Indonesia. Saya menyinggung Ong Hok Ham, dan Ardian meresponnya dengan gesit. “Saya juga ingin meneruskan langkah beliau,” ujar Ardian.

Siapakah Ong Hok Ham?

Pertanyaan itu boleh jadi terasa usang bila diajukan kepada para sejarawan. Sebab, siapapun yang pernah belajar sejarah Indonesia—terutama yang menyertakan masyarakat Tionghoa sebagai bagian tak terpisahkan—hampir pasti mengenalnya. Di panggung sejarah kita, dia tak kalah meninggalkan jejak dibanding Soe Hok Gie, Harry Tjan Silalahi, maupun PK Ojong.

Tetapi toh tidak semua warga Kompasiana, khususnya yang berdarah daging Tionghoa, mengenal sejarawan yang wafat pada 30 Agustus 2007 ini. Dengan demikian, memperkenalkan kembali Hok Ham bukanlah tindakan mubazir. Walau kita tidak bisa mencicipi masakannya yang konon maknyus itu, setidaknya dapat meresapi perjalanan hidup dan pemikirannya.

Saya ditemani buku Riwayat Tionghoa Peranakan di Jawa (2005) ketika menulis artikel ini. Tionghoa peranakan berarti masyarakat Tiongho yang lahir di Indonesia. Ini berbeda dengan istilah Tionghoa totok yang digunakan untuk menyebut Tionghoa yang lahir di Tiongkok dan kemudian menyeberang ke Indonesia. Tentu saja, Hindia Belanda dan Nusantara diidentikkan dengan Indonesia dalam konteks ini.

Lewat buku yang berisi kumpulan tulisan Hok Ham tersebut saya hendak memperkenalkan sejarawan yang seumur hidupnya melajang ini. Hok Ham lahir di Surabaya pada 1 Mei 1933 dari keluarga Tionghoa peranakan yang berkedudukan penting dan secara kultural sangat Belanda-sentris. Keluarga ini menaruh minat yang tinggi terhadap pendidikan modern sekolah kolonial Belanda. Saking terlalunya berkiblat pada Belanda, keluarga ini memakai pula nama-nama Belanda. Ibu Hok Ham dipanggil Lies, bapaknya Klaas. Pamannya Piet dan Jan. Kakak Hok Ham masing-masing bernama Freddy dan Olga. Hok Ham sendiri dipanggil Hans.

Tetapi di kemudian hari Hok Ham tumbuh menjadi sosok yang sangat sadar akan ke-Indonesia-an. Seiring dengan tumbuhnya kesadaran tersebut, cita-citanya menjadi diplomat dia lupakan. Pada pertengahan 1950 dia memutuskan pindah dari Fakultas Hukum UI ke Jurusan Sejarah di kampus yang sama. Dia memang jarang terlihat di kampus, namun produktif menulis di mingguan Star Weekly—cikal bakal majalah Intisari. Dari situlah mulai tampak keahlian Hok Ham dalam bidang sejarah.

Hok Ham juga terlibat aktif dalam polemik seputar Tionghoa di Indonesia. Bersama PK Ojong dan kawan-kawannya, dia memilih pendekatan asimilasi ketimbang integrasi. Hal itu ditunjukkannya dengan menjadi salah satu penandatangan Statemen Asimilasi dan Piagam Asimilasi pada Maret 1960. Yang dia maksud asimilasi atau pembauran itu mencakup asimilasi biologis, ekonomis, sosial, politik dan lain-lain.

Selaku penyokong proses asimilasi, Hok Ham mengkritik sebagian Tionghoa peranakan yang menurutnya lebih mengedepankan “Bhinneka” tapi melalaikan “Tunggal Ika”. Diapun menangkal pendapat sebagian kalangan yang pesimis terhadap keberhasilan asimilasi mengingat Yahudi di Eropa dan Negro di Amerika gagal melakukan asimilasi.

Hok Ham yakin, asimilasi Tionghoa peranakan dengan pribumi dapat berjalan dengan baik tanpa perlu ada ‘paksaan’. Menurutnya, Yahudi di Eropa dan Negro Eropa tidak cocok dijadikan contoh. Mengenai hal ini, dia menulis:

Indonesia tak mengenal prasangka rasial, tak mengenal prasangka agama. Pun soal ciri-ciri fisik dari golongan minoritas tak dapat menjadi soal yang besar. Sebab mata sipit, kulit kuning dan lain-lain ciri bangsa Mongol juga dimiliki oleh orang-orang Indonesia “asli”. Yang sebetulnya menjadikan golongan minoritas adalah bukan prasangka rasial seperti di Amerika, juga bukan prasangka agama seperti di Eropa dengan bangsa Yahudi, melainkan politik dan sejarah yang membentuk golongan peranakan ini sebagai suatu golongan tersendiri dalam masyarakat. Dengan merobohkan sisa-sisa zaman lampau ini, dengan menghilangkan ciri-ciri yang nyata, seperti nama-nama, dan lain-lain maka asimilasi dimajukan.

Menurut David Reeve, professor dari Department of Chinese and Indonesian di University of New South Wales, Hok Ham tidak hanya memfokuskan diri pada sejarah Tionghoa. Hok Ham juga berminat pada kebudayaan Jawa dan merasa dapat mencari ‘akar-akarnya’ dalam kebudayaan priyayi atau abangan. Bahkan di kemudian hari perhatiannya lebih banyak ke orang Jawa daripada orang peranakan.

Nama Hok Ham semakin menanjak setelah pulang dari Yale University, Amerika, dan menggondol titel Ph.D pada 1975. Waktu itu, dia menulis disertasi berjudul The Residency of Madiun: Priyayi and the Peasant in the 19th Century.

Selain mengajar di kampus dan melakukan riset, Hok Ham rajin menulis artikel di media massa sebagai intelektual publik. Kumpulan kolomnya di Kompas dibukukan dalam Dari Soal Priyayi sampai Nyi Blorong (2003). Sementara itu, Wahyu yang Hilang Negeri yang Guncang (2003) adalah bukunya yang berisi kumpulan kolom di majalah Tempo.

Sejumlah eseinya dibukukan dalam Rakyat dan Negara (1991), The Thugs, The Curtain Thief, and The Sugar Lord (2003). Sebelum itu, diterbitkan pula buku Runtuhnya Hindia Belanda (1987) yang diangkat dari skripsinya di Fakultas Sastra UI.

Bagi sejarawan JJ Rizal, Hok Ham adalah sosok sejarawan yang punya nilai unik, selain bahwa dia sendiri bernilai sejarah sebagai seorang Tionghoa peranakan.

Dengan demikian, tepatlah kiranya bila generasi muda Tionghoa mengikuti jejak Hok Ham. Anak muda asal Surabaya tetapi lahir di Blitar, Ardian Po Purwoseputro, sudah memulai. Setidaknya dia sedang merancang buku babon tentang jejak sejarah Tionghoa di Indonesia. Namun Ardian tidak bisa sendirian mewujudkan impiannya itu. Masyarakat Tionghoa perlu memiliki Hok Ham-Hok Ham lebih banyak lagi.

Menteng, 21 September 2010@hak cipta Herman Hasyim 2010(atas izin ybs)

One thought on “Studikelayakan tulisan Kompasiana(7)” Anak Muda Tionghoa harus Meneruskan Langkah Ong Hok Ham”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s