Studikelayakan Tulisan kompasiana (3)”Siapakah yang mati di Sini ?”

Fiksi
Lihat Profil    Jadikan teman    Kirim Pesan
seorang pembelajar yan malas

Siapakah yang Mati di Sini? (Cerlat)
Ramdhani Nur
|  1 September 2010  |  11:19
50
17
     
   
   
3 dari 5 Kompasianer menilai Menarik.

Mereka menggambarkannya seolah ini sebuah kenduri kematian. Meja kursi dikosongkan dari ruang tamu. Tikar dan kerpet digelar. Berduyun tetangga dan kerabat berdatangan membawa sebakom beras dan wajah yang berduka. Tangis tersudut diantara syahdu yaasiin yang bersahut. Aku tidak bisa bertanya tentang apa yang terjadi pada orang-orang yang menyalamiku dengan haru. Tak bisa pula kubalas pelukan sedalam ucapan mereka yang terus berulang. “Yang sabar ya, jeng! Ini semua sudah takdir Allah.

Aku tidak cukup mengerti dengan situasi ini. Siapakah yang mati disini? Aku lihat keluargaku semua lengkap. Kami berlima di rumah ini. Ada Ghafar, suamiku yang dikerubungi uwa dan saudara-saudara misanku. Ada mbak Esti yang sibuk menerima tetamu yang terus berdatangan. Ada ibu yang duduk sekarpet dengan Aliyah, putri kecilku satu-satunya yang lelap dibalik selimut. Dan terakhir ada aku yang memandang heran suasana disini.

Pasti ada sesuatu dan belum mereka ceritakan. Tapi biarlah, mereka melakukan itu mungkin karena tidak ingin mencemaskanku. Mereka tahu sejak dulu aku memang mudah sekali syok dan jatuh pinsan jika ada hal luar biasa yang mengagetkanku. Tapi entah mengapa, aku sama sekali tidak terpengaruh pada situasi ini. Aku malah lebih mencemaskan Aliyah. Bagaimana dia bisa tertidur lelap diantara tangisan orang-orang disini. Apalagi dia belum sembuh benar. Semalam demamnya tinggi sekali, untungnya pagi tadi panasnya sudah benar-benar turun. Karena itu, aku segera mendekati ibu untuk membawa Aliyah ke kamar. Ke tempat dimana dia lebih nyaman tertidur.

“Mau dibawa kemana, Tih?” tanya ibu terkejut.

Puluhan mata mengarah padaku saat Aliyah yang baru berumur delapan bulan ini aku rengkuh.

“Biar dia tidur di kamar saja, bu. Disini terlalu ramai”

Tiba-tiba raut ibu berubah. Ibu malah menangis panjang. “Duh, gustiii…! Eling, Tih, eling!”

Sontak semua terdiam. Suamiku segera menghampiri dan memaksaku meletakkan kembali Aliyah diantara selimut putih yang membalut penuh tubuhnya.

Dekapannya yang erat membuatku tidak bisa berbuat apa-apa selain mendengar isaknya. “Ikhlaskan ya, sayang, ikhlaskan! Tak ada yang bisa kita lakukan lagi sekarang”

Aku cuma bisa terdiam. Bingung dan kosong.

Cirebon, 31 Agustus 2010

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s