Studi Kelayakan Kompasiana II.(1)Judul :”Perjalanan Ke Vietnam”

JUDUL : PERJALAN KE VIETNAM
PENGARANG :HELMY KUSUMA
Wisata Helmy Kusuma Lihat Profil    Jadikan teman    Kirim Pesan Seorang manusia yang mengikuti impiannya, dan bermimpi membagikannya kepada siapa saja follow on @hanzpk visit http://easternlight.hanzpk.com Catatan Perjalanan dari Vietnam (I) REP Helmy Kusuma |  19 September 2010  |  23:36 123 4 Belum ada chart.
     
     
     

Nihil.Beberapa minggu lamanya telah lewat sejak kepulangan dari negeri yang terkenal dengan perangnya melawan Amerika yang telah menghiasi berbagai film di layar lebar. Ada semacam kerinduan untuk me-memento-kan pengalaman yang tak terlupakan itu. Perjalananku dimulai dari suatu keinginan untuk menggenapi impian, mengunjungi Halong Bay ( pertama kali melihat di harian Kompas, hati langsung terkesan ). Terbukalah kesempatan itu ( menghabiskan cuti yang beberapa hari lagi hangus ) dan langsung disambar dengan senang hati.

Persiapan dilakukan dengan kilat, pesan tiket, pesan penginapan, tukar duit ( waktu itu perhitungan selisih kurs lebih menguntungkan apabila tukar dollar, baru kemudian tukar đống disana, jangan lupa siapkan đống sedikit untuk ongkos taksi ) dan menjelajahi travelfish. Menjadi Backpacker!

Mendarat di Tan Son Nhat, Ho Chi Minh pukul 8 malam, kesan pertama adalah bersih, modern. Pelayanan imigrasi cukup cepat (sedikit catatan, bahasa Inggris tidak terlalu fasih ), dan aku tidak merepotkan diri dengan mem-bagasi-kan backpack ( backpack 40 liter masih mampir dengan manis dibagasi kabin ), jadi langsung melenggang!

Perjalanan ke tempat menginap di distrik 1 dilakukan dengan taksi ( ah dengan banyaknya peringatan yang dibaca di internet, membuat pengalaman naik taksi yang pertama mengubah rasa kuatir menjadi ”vietnam experience” ) dan hanya ditempuh dibawah 1 jam ( bayangkan dengan Jakarta😛 ). Lalu lintas cukup ramai tapi lancar dan tidak tersendat.

Tiba di Pham Ngu Lao, situasi cukup ramai ( ramai yang lebih mirip jalan sabang pada jumat malam daripada prj pada sabtu malam😛 ). Distrik 1 adalah surganya backpacker, banyak kutemui sesama backpacker dari Eropa, Amerika, Asia ( terutama orang Jepang, Cina -Vietnam bagian utara berbatasan langsung dengan Cina- dan Korea ).

Tinggal di penginapan dengan gaya Backpacker adalah pengalaman yang sangat unik dan menyenangkan ( walaupun bukan yang pertama, beberapa tahun yang lalu penginapan backpacker di singapura pernah dijajal. Waktu itu bersama dengan 7 teman, sehingga pengalaman yang didapat sedikit berbeda, kurang backpacker-ish😉 ). Analoginya seperti melanglang buana di dalam kamar. Berbagai macam bangsa dalam satu ruangan kecil, tak lebih dari 5×5 meter, membuat pengalaman interaksi menjadi luar biasa. Pertemuan dan perpisahan menjadi suatu hal biasa. Kehidupan menjadi dinamis dalam arti yang sebenarnya.

Kadang kala sendirian di kamar yang tiba-tiba serasa luas, kadang kala seperti di suatu rapat PBB, yang membahas pengalaman para anggota rapat, rencana para anggota rapat, tanpa kesimpulan, yang biasanya selesai secara tiba-tiba, seperti dimulainya yang tanpa permisi. Kebetulan waktu itu bertepatan dengan akan dimulainya piala dunia 2010 di afrika dan liga negara juga sudah mendekati klimaksnya ( waktu itu liga inggris sedang hangat ).

Bahasa inggris menjadi penghubung yang ampuh untuk sesama backpacker, walaupun untuk warga vietnam sendiri yang kutemui tidak banyak yang bisa berbahasa inggris dengan lancar ( menulis nama jalan adalah ide bagus, dan latihlah bahasa tarzan anda, ya tentu saja selain belajar bahasa vietnam itu sendiri😀 ).


Situs warisan dunia UNESCO, “Teluk Naga Menukik”, terdiri dari ribuan bukit batu lime dan pulau kecil

1976 Saigon berganti nama jadi Ho Chi Minh

Dua hari pertama dilalui dengan berpergian bersama seorang teman, warga vietnam, mengunjungi kafe yang menyajikan live music dengan penyanyi lokal maupun penyanyi dari luar vietnam ( untuk pertama kalinya mendengar penyanyi dari kamboja, oh warna lagunya mirip sekali dengan lagu-lagu yang biasa kudengar pada saat masih kecil dahulu ), mencicipi tempat makan favorit anak muda setempat, mencoba sejenis shabu-shabu dengan ikan air tawar, yaitu ikan kekeu ( aku tidak berhasil menemukan referensinya di internet. Bentuknya mirip dengan ikan seluang dari kota asalku, palembang ).

Oh ya selama perjalanan di Vietnam ini, ada beberapa kali kejadian menarik yang terulang, kesalahan identifikasi. Rupanya warga setempat salah mengidentifikasikanku warga vietnam dan acap kali diajak berbicara bahasa vietnam, seakan warga setempat. Aku hanya bisa tersenyum dan mengangkat tangan, ”Sorry, I am not vietnamese”. Ada satu yang paling kuingat, waktu itu aku sedang berjalan mencari kudapan sore di sekitar Hanoi. Aku berjalan kaki melewati ruko-ruko kecil, terlihat bangku-bangku plastik kecil, kira-kira ½ dari tinggi bangku baso. Karena tertarik melihatnya ( di Saigon tidak kujumpai bangku-bangku kecil ini ), langsung aja kumasuk ke salah satu ruko yang terletak di sudut jalan. Ternyata tempat ini menjual Phò, yaitu makanan favorit warga vietnam yang berupa mie beras yang halus dengan kuah gurih dengan banyak taoge dan daun bawang serta sejenis daun yang tidak kukenal namanya ( sangat menyegarkan! Ditambah lagi dengan chanh-jeruk limau ). Terjadi dialog yang menarik, yang tentunya diawali dengan salah identifikasi tersebut. Untung yang menjaga toko bisa sedikit ( sangat sedikit ) berbahasa Inggris. Dengan dicampur bahasa tarzan, berhasillah dipesan Phò polos plus telur ½ matang. Sambil menyeruput Phò, kami terus berbincang ( tentunya dengan permainan silat bahasa tarzan) dan sang penjaga toko masih tidak percaya kalau aku bukan orang vietnam. Kukatakan saja bahwa aku adalah orang vietnam, asalkan tidak berbicara ( hahahaha ).

Aku berada di Hanoi selama 4 hari dan sempat mengunjungi Halong Bay serta Perfume Pagoda. Karena tidak mau membuang waktu, aku ikut dalam tour lokal ke dua tempat tersebut. Di Hanoi aku menginap di Hanoi Backpackers Hotel. Tour ke Halong juga kupesan dari hotel ini. Perjalanan dari hotel menuju pelabuhan Halong memakan waktu sekitar 4-5 jam, kemudian dari pelabuhan menggunakan kapal kayu yang mempunyai 3 lantai ( dari pelabuhan menuju kapal kayu menggunakan sejenis perahu dengan muatan sekitar 20 orang. Perjalanan menuju ke tengah-tengah teluk memakan waktu sekitar 1 jam. Cuaca bulan itu sangat terik, bisa mencapai 36-38 derajat celcius ( ketika kutanya dengan orang vietnam, ini adalah juga merupakan anomali, merupakan cuaca terpanas dalam beberapa tahun ). Sebagai catatan, siklus air yang menyebabkan anomali cuaca ini. Panas dari inti bumi memanasi lautan, dan kemudian lautan melepaskan panasnya ke udara.


85% Penduduk Vietnam ber-etnis sino, tahun 1100 beremigrasi dari daratan china. Yg menjelaskan kesalahan identifikasi yg kualami.

Ibukota Vietnam, menggantikan Saigon, setelah terjadi Reunifikasi.

Dipopulerkan oleh China, pertama kali muncul tahun 206 BC- 220 AD pada masa dinasti Han

Setelah sampai ditempat yang dituju, kapal melepas jangkarnya, kayak-kayak disiapkan. Yay! Kami berkayak ria melewati gugusan bukit batu, kemudian menuju gua kecil di salah satu bukit batu. Wah mengayuh kayak selama 1 jam menuju gua tersebut benar-benar menguras tenaga ( apalagi ini adalah pengalaman kayak pertama ), apalagi ditambah dengan ombak yang menerpa dari arah laut. Disinilah baru pertama kali juga merasakan masuk kedalam gua. Ketika senter dimatikan, didalam gua benar-benar gelap pekat. Tiba-tiba dunia terasa hening sekali,orientasi arah mendadak hilang, dan rasa menjadi tajam.

Di dalam gua terasa agak pengap dan lembab, namun lantai gua tidak terasa licin, hanya pada beberapa bagian saja yang disisinya terdapat air baru terasa licin. Kelelawar kecil terlihat bergelantungan, namun jumlahnya tidak banyak dan mereka tidak terkesan terganggu dengan kehadiran kami. Setelah berjalan singkat melewati gua, kami sampai pada tempat yang dituju, yaitu danau kecil di tengah-tengah, yang memang hanya bisa dicapai melalui gua tersebut ( atau tentu saja jika menggunakan helikopter ). Perjalanan balik ke kapal relatif dilalui dengan lebih cepat, walaupun tidak kurang capeknya. Setelah sampai dikapal, perut terasa benar-benar lapar.

Tempat lain yang kukunjungi selama di Hanoi, adalah Perfume Pagoda. Legenda setempat menyatakan asal usul nama pagoda ini diambil dari harumnya yang dapat dirasakan ketika berada di sekitar pagoda. Dan harum ini konon berasal dari roh suci biksu yang pernah tinggal disini, selain tentunya dari hasil pembakaran dupa dari pengunjung pada festival. Sebelum memasuki kompleks kuil yang tersebar ( dan diakses dengan anak tangga batu ratusan tingkat ), harus melewati dulu sungai Day. Sungai ini mengingatkanku pada film Ramboo, dengan alang-alang yang tinggi di kiri dan kanan, dengan gua-gua tempat sarang buaya, dan dengan dasar sungai yang dipenuhi tumbuhan air. Sungai ini tidak terlalu dalam, sekitar 1-2 meter saja, dan karena tumbuhan air tersebut, kapal dengan menggunakan baling-baling akan kesulitan melewati sungai ini,

 sehingga penduduk setempat menggunakan sampan-sampan kecil, terbuat dari besi, seluruhnya ( ya anda tidak salah baca, seluruhnya terbuat dari besi. Amboi! Panas sekali! Pemandu tour tidak bercanda sebelumnya waktu ia berkata, kita akan naik Barbeque Boat ). Dan “Jalur Panggangan” ini berjarak 1 jam lamanya. Bayangan 1 jam lagi untuk kembali saja sudah membuat pantat terasa berkeringat. Para pendayung sampan ini benar-benar luar biasa, mereka mayoritas wanita, dari yang terlihat 18 tahun sampai yang terlihat 35 tahun, dan mendayung, dengan dayung besar, di tengah “api” ini. Untuk duduk saja sudah merupakan perjuangan, apalagi mendayung! Teknik mendayungnya sangat stabil, dan meninggalkan semacam pusaran air kecil pada ujung dayung. Amazing!

Pemandangan di kiri dan kanan sungai juga stunning. Dan disini terbentuklah suatu legenda, tentang 99 gajah ( yang menjadi barisan 99 bukit batu ) yang melihat ke satu arah dan 1 gajah yang melihat ke arah lainnya. Mereka dikutuk menjadi batu karena ‘pembelot’ yang salah arah tadi dan selamanya menangis menjadi aliran-aliran mata air ke sungai tersebut. Menuju kuil utama, Chua Trong


Terletak di gunung Huong Tich, berdiri sekitar abad 15, merupakan kompleks kuil yang tersebar dan ramai dikunjungi pada festival Tet ( tahun baru Vietnam ). Chua Trong berarti kuil dalam dan terletak di gua Huong Tich

melalui jalur mendaki dan menurun, melewati jalan berbatu kecil, jalan setapak yang dibentuk menjadi tangga-tangga, dan tentunya tangga batu itu sendiri. Aku tidak menghitung jumlahnya, tapi mendengar jumlah ratusan, aku percaya😀. Pada festival Tet tempat ini sangat ramai sekali, luar biasa ramai, sehingga untuk mencapai kuil utama ini dapat mencapai 3-4 jam ( kami mencapai dalam waktu 30 menit ). Di sisi kiri dan kanan jalan menuju kuil-kuil dipenuhi oleh banyak pedagang. Mereka menjual pernak-pernik persembahan dan sembahyang, selain juga ada yang menjual kelapa muda. Oh iya disini juga ada yang menjual kura-kura hidup untuk dipakai sebagai Fang Sheng ( melepaskan makhluk hidup, dengan  tujuan memberikan kebebasan hidup ).

Gua tempat letak kuil utama ini terasa sejuk dan dingin. Di depan disambut dengan satu batu besar yang di hadapannya terhampar meja persembahan. Di belakang batu besar ini ada jalan setapak lebih jauh kedalam gua. Aku tidak masuk lebih jauh lagi, tapi di dalam sana terdapat patung Budha.

Sepanjang perjalanan Perfume Pagoda ini, bahasa Inggris relatif tidak bisa dipakai, karena penduduk setempat benar-benar tidak mengerti sama sekali. Apabila anda bepergian sendirian, hapalkanlah nama minuman dan makanan, karena anda akan membutuhkannya.

Kami juga sempat mengunjungi beberapa kuil lainnya di sepanjang jalan pulang menuju tempat sampan. Kuil-kuil ini sedikit mengingatkanku akan kota Semarang.

Sekembalinya dari Hanoi, aku sempat berkunjung ke mall setempat ditemani oleh beberapa orang komunitas orang Indonesia yang berada di Ho Chi Minh. Kami bertemu di Gereja Notre-Dame Basilica yang terletak disimpang jalan besar dan berhadapan dengan Kantor Pos Utama Ho Chi Minh.

Di dalam kantor pos ini terpampang foto Paman Ho, bapak bangsa Vietnam ( seperti Bung Karno yang dihormati sebagai pemersatu negara ) pada latar belakangnya. Suasananya mirip dengan peron kereta api ( dalam imajinasi ku tergambar demikian, entah mengapa terasa seperti peron kereta api bawah tanah tempat Harry Potter pertama kali diajak oleh ayahnya Ron mengunjungi ministry of magic ).

Di tengah-tengah persimpangan ini seperti sebuah alun-alun besar dengan tamannya ( ya di kota Ho Chi Minh ini banyak kujumpai taman, alangkah menyenangkan jika Jakarta juga mempunyai taman yg sama banyaknya ) dan ini banyak dipakai sebagai tempat foto pre-wedding ( waktu aku berkunjung kesana, kulihat ada 3 pasang, lengkap dengan jas dan gaunnya, padahal aku saja merasa begitu panas dengan pakaian tshirt biasa😛 ). Oh ya mengenai taman ini, aku mengunjungi beberapa buah taman yang tersebar di sekitar tempatku menginap, dan taman-taman ini pagi hari banyak dipakai untuk aktivitas olahraga ( pastinya ), siang hari banyak yang mengaso disana, malam hari pun banyak yang bermain permainan setempat ( seperti sepak takraw, tapi memakai semacam <!–[if gte vml 1]> <![endif]–>buntelan seperti shuttlecock ). Dan satu yang kuperhatikan berbeda dengan Jakarta adalah peminta-minta. Di sepanjang perjalanan, tak pernah kutemui satu pun peminta-minta, mereka semua bekerja, dari penjaja pernak-pernik, penjaja minuman. Mereka semua berusaha, dengan warung, dengan kios, dengan pikulan, dengan gelaran, dan lain-lain. Aku tak pernah bertanya dan menyelediki perihal apakah ada inisiatif pemerintah dalam membantu mereka berusaha, tapi yang menjadi kesan terdalam bagi ku adalah mereka semua berusaha dengan sekuat tenaga dan pikiran mereka, tidak terbersit semangat menunggu dan meminta belas kasihan. Sebenarnya masih banyak sekali yang belum diceritakan dan belom sempat terdokumentasi, ini akan menjadi dasar untuk bahan tulisan selanjutnya ( belom ditentukan waktunya😀 ). Untuk sekarang cukup sekian dulu!@hakcipta Helmy Kusuma  2010 (di add pada blog ini atas izin ybs)

PS JIKA MASIH PENASARAN BACA KISAH PERJALAN (THE ADVENTUR OF ) Dr Iwan S, di web blog hhtp://www.uniquecollection.wordpress.com.

2 thoughts on “Studi Kelayakan Kompasiana II.(1)Judul :”Perjalanan Ke Vietnam”

    • iwansuwandy September 19, 2010 / 11:29 am

      ok belum ada komentar dari teman-teman

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s