the old books about RATU ADIL

TIGA VERSI “RATU ADIL” INFO BAGI GENERASI MUDA

Tiga versi Ratu Adil dari tiga penulis berbeda, untuk generasi  muda  demi kejayaan masa depan. Bagi yang telah memahami anggaplah sebagai nostalgia  dan bagi yang belum memahami guna menambah wawasan bahwa Bangsa Indonesia adalah bangsa besar yang telah memiliki konsepsi Bangsa baik dimasa lampau yang merupakan senjata ampuh dalam menghadapi perjuangan hidup  yang masih berpengaruh pada masa kini.

1.Ratu Adil Versi  Djojobojo(1157)

Ramalan Djojobojo, salinan kitab Ramalan Djojobojo, buah tangan almarhum R.Ng.Ronggowarsito, Najaka Kliwon punjangga Kraton Surakarta. (Izin mengutip dari R.M.T.Ronggowarsito, kepala Radyopustoko ,Sala) dari Bahasa Kejawen,setelah diterjemahkan sebagai berikut :

” ….berganti zaman itu  dengan zaman kemuliaan Raja, pada waktu itu datanglah kebahagiaan bagi Tanah Jawa, lenyaplah penyakit bumi, sebab dalam padam oleh datangnya Ratu Ginaib. Beliau adalah seorang Raja kerturunan  orang Utama, diberi nama Ratu Amisan. Beliau dalam keadaan miskin. Dinobatkan menjadi Raja dengan tidak memakai syarat secarikpun. Sifatnya ngadam makdum, bersemayan di Istananya Sonyaruri, yang maksudnya sunyi tidak dengan syarat suatupun, tidak ada terjadi apa-apa.

Diwaktu masih disembunyikan (dikelit) oleh Tuhan , tak ada seorangpun yang mengetahui,meskipun beliau itu tersintuh(kesampar kesandung). Beliau menjadi Raja Pandita Adil Paramarta, tidak suka pada harta , nama baginda : Sultan Heru Cokro.

Pada waktu sedang berkobarnya perang ( datangnya parangmuka)  tibalah beliau tidak diketahui dari mana asalnya. Beliau tidak mengadu tentara manusia, melainkan prajurit Sirollah, dengan mempergunakan panji-panji dikir. Biarpun begitu musuh bertekuk lutut, Musuh yang berani melawannya akan rebah, sedang yang tidak mau mengakui (mungkir) akan hancur lebur sampai habis. Sri Baginda memerintah semata-mata untuk kemakmuran Negara dan Keselamatan seluruh Dunia.

Untuk kepentingan Sri Baginda disediakan tiap tahun tujuh ribu real. Lebih dari jumlah ini tidak diperbolehkan . Beban rakyat diringankan. Sawah yang 4 bahu luasnya hanya dikenakan pajak sedinar setahunnya . Selain dari pajak itu tidak ada beban lagi bagi rakyat.

Rakyat senang hatinya, karena ,urah “sandang pangan”. Disebutkan pula, bahwa pada waktu itu tidak ada pencuri. Oara penjahat bertobat, takut akan tulah Ratu Adil, yang bersemayan dikota “Bumi Petik” dekat “Kali Katongga” didalam hutan “Alas Pundak”

Beliau memerintah hanya sampai dua turunan. Ketiganya pindah kota ke Bumi Katanga Kacepit di Karangbaja, Sampai pada zaman putera baginda, hilanglah kerajaannya karena perselisihan dengan nafsunya sendiri”

Apa yang tersebut diatas adalah cocok dengan ramalan yang terdapat di Jogjyakarta. Bedanya hanyalah bahwa Alas Pundak, di Jogyakarta disebutkan alam Pundak. selain itu ramalan yang tersimpan di Jogyakarta menyebutkan sebagai berikut : ” Datangnya sendiri dari perahu yang hanyut, anaknya bok randa kasihan, sangat memilukan hati ”

Kapankah Datangnya Ratu Adil ? Kita semua masih ingat kepada tafsiran ramalan Djojobojo oleh Sunan Ngatas Angin, seorang Wali dari Wali Sanga. Pada permusyawaratan yang diselenggarakan oleh Sultan Demak (Raden patah0 dengan para wali pada abad ke -15 (masehi) Sunan Ngatas Angin memberi tafsiran atas ramalan tersebut ,asal salinan dari buku “lambang Praja” Kinanti.

Bunyi tembang pupuh Dandanggala yang dikutip dari Kapujangaan Jogyakarta. Sjair ini mengandung ramalan, diantarnya sebagian sudah terjadi. Tafsirannya menurut sumber yang kita peroleh berhubungan erat denagbn perjuangan kemerdekaan kita, setalah diterjemahkan sebagi berikut :

1).”Semut hitam bertelor didalam unggun api”.( Rakyat Indonesia melahirkan atau memproklamasi-kan  Kemerdekaannya dalam api peperangan ).

2) “Ada burung Merak berkasih-kasihan dengan Buaya” (Burung merak adalah lambangnya negeri besar yang kaya raya dan kuat. Yang diibaratkan sebagai burung merak disini adaah Inggris. Buaya artinya sama dengan buaya  atau musuh ,artinya Inggris membantu musuh kita)

3) ” Kejong  matanya sebesar  Gamelan” (Kejong lambang Rakyat, matanya sebesar  gong, berarti besar. Rakyat kita awas dan melihat bagaimana gerak-gerik para pemimpinnya)

3) “Tikusnya menyanyi.” (Tikus adalah binatang yang suka merusak,merugikan. Dengan tikus dilambangkan semua koruptor, yang katanya bertindak atas nama rakyat dan untuk rakyat,tetapi dalam hakekatnya mereka berbuat kecurangan untuk kepentingan diri sendiri, Sebagai senjata para tikus itu mempergunakan segala tipu daya antara lain suap,untuk mencapai maksudnya.)

4) ” Kucing sakit disuruh menjaga “( Kucing suka makan dan menerkam tikus, tetapi bila sakit tikus didepannya tidak diganggu,bahkan tikus dapat bersahabat dengan kucing, yang suka diberi ikan dendeng artinya Kucing adalah alat negara yang menjaga peraturan negara ditaati rakyat. Tapi kucing itu pada suatu saat karena lemah tak dapat menangkap tikus, maksudnya Alat negara yang lemah tidak dapat bertindak terhadap koruptor.)

5″.Katak menimba air laut dan menangkap seribu ekor Banteng” (Katak kiasan rakyat. Banteng yang ditangkap disini adalah banteng yang suka bermandi atau hidup dalam laut dan suka sekali bermain-main dengan buaya artinya Rakyat mengadkan aksi pembersihan dikalangan pengacau masyarakat. Mereka berhasil menangkap patriot palsu, yang suka mempermainkan rakyat.

6)” Semut ngarangang gunung Merapi”(semut mengrangrang ibarat rakyat yang marah warnanya merah. Semut tersebut hidupnya bergerombolan, Jika seekor semut diganggu, lainnya tidak boleh tidak tentu marah. Ngrangsang gunung merapi artinya menyerang dengan susah gunung berapi, rakyat masuk dalam perang(aksi militer) hanya bersenjatakan sederhana, sehingga sulit melawan musuh dengan senjata modern. artinya rakyat Indonesia bertempur karena diserang oleh musuh.

7) “Pohon Ranti berbuah Delima”. ( mengiaskan Republik waktu baru lahir masih serba lemah bagaikan pohon ranti(tomat). Lahirnya Republik oleh Bung Karno dikatakan sebagai lahirnya Raden bambang Tetuko , anaknya Werkudara. baru saja dilahirkan sang bayi Bambang Tetuko dimasukan dalam kawah Candradimuka. Tetuko tidaklah menjadi mati, melainkan menjadi makin besar dan sakti dengan diberi nama baru Raden Gatutkaca alias Raden Rimbyatmoko,Tringcibingwesi Konconegoro dan di Jawa barat terkenal sebagai Rahaden Purubaya. Demikian pula hanya dengan negara kita yang masih muda,baru saja lahir sudah diuji dalam kesaktiannya oleh sebuah negara besar, yang suka membanggakan dirinya, karena dapat menguasai segala lautan :England Rules The Waves” bukan musnah,akan tetapi hari makin hari makin tambah kuat.,

2. Siapa Dan Apakah Ratu Adil Itu? Versi Bung Karno (1929)

“Apakah sebabnya, rakyat senantiasa percaya dan menunggu-nunggu datangnya Ratu Adil, apakah sebabnya sabda Prabu Djojobojo sampai hari ini masih terus menyala harapan rakyat? Apakah sebabnya sering kali kita mendengan kabar, bahwa didesa ini atau didesa itu telah muncul seorang “Iman Mhadi” atau “Heru Cokro” atau turunan seorang dari Wali Sanga? “demikian antara lain isi Pledoi Bung Karno waktu mengadakan pembelaan atas tuduhan-tuduhan pemerintah Hindia Belanda didepan Landraad Bandung pada tahun 1929.

“Tak lain tak bukan ialah oleh karena hati rakyat yang menangis itu tak berhenti-henti,tak habis menunggu-nunggu, atau mengharap-harap datangnya pertolongan, sebagimana orang yang berada kegelapan tak berhenti-henti pula saban jam, saban menit, saban detik , menunggu-nunggu dan mengharap-harap kapan, kapankah matahai terbit? O, siapa yang mengerti akan sebab-sebab yang lebih dalam ini, siapa yang mengerti akan dasar yang lebih dalam daripada kepercayaan rakyat ini, sebagimana yang diterangkan pula oleh Prof. Snoock Hugronye didalam brosurnya “Vergeten Jubile’s” tentu sedih dan ikut menangis hatinya, kalau ia saban-saban kali mendengar suara rakyat meratap : kapan,kapankah Ratu Adil datang,tentu sedih dan menangislas hatinya pula dan tidak tertawa, jikalau ia saban-saban kali melihat lekasnya dan setianya rakyat menyerahkan diri kedalam tangannya sesuatu orang Kiayi atau dukun yang menyebut dirinya “Heru Cokro” atau “Ratu Adil ”

Menurut buku itu pada zaman penjajahan yanglampau selama kaum intelek bangsa Indonesia belum dapat mengemukakan keberatan bangsanya, maka keributan-keributan yang demikian itu adalah peledakan yang semestinya dari pada dendam hati dan rasa perlawanan yang lama telah terbenam terhadap usaha memerintah rakyat dengan tidak memperdulikan keinginan-keinginan dan kepentingan-kepentingan rakyat itu sebagai arah haluan pemerintahannya.

Sebagaimana pada waktu yang lampau besar jumlahnya orang Bangsa Indonesia yang senantiasa dengan terus terang bersedia akan berdiri dibelakang seorang intelektual bangsanya sendiri, yang membela kepentingan mereka,walaupun mereka belum matang “buat mengerti semua teori-teorinya”, begitu pula rakyat itu dul sering kali suka mengikuti pemimpin-pemimpin yang menyanggupkan akan kebebasan sengsara kepadanya dengan menginjak jalan-jalan rahasia dan mengusahakan upaya-upaya rahasia atau yang mengumpulkan  tentara untuk perang sabil dengan kaum kafir bilamana ada kesempatan baik. Rakyat itu tak bisalah mengerti,bahwa percobaan-percobaan membuka dunia dengan jalan yang sama sekali kurang sempurna itu tentu akan sia-sia belaka dan itulah sebabnya tiap-tiap orang menyanggupkan kepadanya seorang Ratu Adil atau mahdi, lantas sajalah dipandangnya sebagai Nabi. Syarat-syarat hidup yang perlu-perlu, yang menurut perasaannya adalah tak dikasihkan kepadanya oleh kodrat alam, oleh jalannya keadaan-keadaan yang biasa, atau oleh sipemerintah asing: mereka cobalah merebutnya dengan jalan gaib….dengan menentukan pertolongan Tuhan.

Dan sebagaimana Sang Kiyai atau Sang Dukun itu membikin dari kepercayaan umum dan harapan umum atas kedatangannya Ratu Adil atau Heru Cokro itu, sebagaimanan mereka mendapatnya pengaruh itu ialah hanya oleh karena rakyat umum hatinya memang menangis mendoa-doa dan menunggu-nunggu datangan Ratu Adil atau Herucokro itu, maka pemimpin-pemimpin yang membela Nusa dan Bangsanya bukanlah pula bikinan pergerakan Rakyat dan bukanlah pengaruh mereka itu terjadinya ialah oleh karena main lidahnya atau ketajaman penanya (dan seterusnya ,oleh karena keterbatasan tempat,silahkan dibaca secara lengakp dlam  buku  Peranan Ramalan Djojobojo dalam Revolusi Kita ,karangan Tjantrik Mataran ,tahun 1966)

3. Versi  Dr Ir.Sunario Waluyo (1981)

Ratu Adil diambil sebagai judul buku ini,karena ia adalah lambang keluhuran bangsa, yang tercermin sebagai wujud idiil dari kebudayaan.Wujud Kebudayaan sebagai suatu kompleks dari ide-ide, gagasan, nilai-nilai dan norma-norma yang termuat dalam kesusateraan bangsa dan falsafah bangsa yang dapat dibanggakan. suatu peninggalan Budaya Bangsa yang tidak ternilai dan masih merupakan nilai yang berlaku pada masa kini dan masa yang akan datang.

Nilainya sama besarnya, bahkan mungkin lebih besar daripada peninggalan budaya yang berupa candi-candi, istana-istana kuno., seni budaya traditional dan tata budaya yang masih hidup lainnya.

Ratu Adil tidak dpat dianggap semata-mata sebagai ramalan akan dunia yang didam-idamkan dan dipakai sebagai tempat pelarian diri dari realitas, tetapi harus dilihat pula sebagai suatu pandangan hidup bangsa, suatu hasil pemikiran dan karya budaya bangsa yang sangat tinggi (informasi lengakp baca buku  karanran Dr Ir Sunario berjudul Ratu Adil,terbitanP.T. Tri Darma,cetakan CV Bayu Ringan,edisi pertama 1981.)

Penulis mengirim tulisan singkat ini, berdasarkan permintaan beberapa penulis kompasiana, dengan harapan seluruh Bangsa Indonesia dan Dunia mengetahui betapa besarnya ide pemikiran Pangeran  Djojobojo dan Ronggowarsito, dengan harapan karya mereka yang masih disimpan di Pustaka Radyopustoko Solo ini ,dapat dipelihara kalau perlu dibuatkan suatu tempat khusus seperti koleksi Emas Museum Gajah Jakarta, agar tidak hilang dicuri orang biadap demi untuk uang, karena nilainya lebih tinggi dari candi-candi dan benda budaya lainnya yang ada di indonesia.

 Besar harapan penulis atas dukungan para penulis kompasiana, Pemerintah Indonesia memberikan penghargaan dan gelar  Pahlawan kepada kedua pujangga tersebut  karena karyanya sangat mengagungkan Nama Bangsa dan Tanah Air yang kita cintai dimata Dunia International. karya mereka perlu diusulkan sebagai salah satu dari Tujuh Karya Terbaik Umat manusia  di dunia melalui UNESCO setara dengan karya filosofis Tiongkok Konfusius dan negara lainnya didunia seperti Trias Politica dan sumpah Hippocrates..

Selesai @hakcipta Dr Iwan Suwandy 2010

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s