Serial Si KONTJENG DALAM INTERNIR JEPANG 2

Dituturkan dalam Star weekly no,28 1946 oleh Bo Pak To @hak cipta Dr Iwan S 2010. iwansuwandy.wordpress.com

Dengen lantes  si Kong Tjeng laloe oeroengken  niatannja  menggoda si  Oh Tek ,dalem hatinja  timboelah pengrasahan kasian  jang besar  jang besar sekali terhadap itoe kawan ,jang meski  boekan teritoeng  anak hartawan, tapi boleh doeloenja  elon pernah  alamken kelaparan  segitoe roeps seperti kali ini.

SELANJUTNYA  KISAH INI DITULIS DALAM EJAAN SAAT INI AGAR GENERASI PENERUS TIDAK JADI BINGGUNG :

Berbareng dengan itu ,si Kong Tjeng jadi kasihan  pada si  Bontjel, si Ponjeh , Si Bengek dan pada …dirinya sendiri. Yang paling celaka  ia tidak tahu berapa lama  ia musti  hadapkan  ini macam  siksaan , akan tetapi  rasanya bukan  cuma  buat beberapa minggu , sudah dibilang (dikatakan)  kliwat mujur(beruntung)  apabila ia musti  mendekam lagi delapan bulan  dalam internir. Betul itu waktu  menurut  kabar koran Serikat seeang lajunya  ia punya ofnsif (serangan)  dan setindak  dengan setindak (selangkah demi selangkah)  musuh terus  kateter , akan tetapi…Pasifik ada begitu besar dan biar bagaimana  Jepang  pasti melawan  dengan nelkat  dan ulet  hingga jangan diharapkan Serikat   bisa beroleh (memperoleh ) kemajuan  sama pesatnya dengan Jepang  tempo hari , yang dalam tiga bulan  sudah bikin’beres ‘ segala-galanya  karena Jepang boleh dibilang (dikatakan)  tidak dapat  perlawanan sama sekali dari pihak  negeri-negeri Serikat  jang kutika(ketika)  dibokong secara mendadak belon (belum) bersedia(siap) sama sekali.Dan kalau sampai bertahun-tahun lagi ia ,usti kekurangan makan cara begini apa akan djadinya(qapa yang akan terjadi).. Bagaimanakh dengan si Bengek, yang tempo di Bukit Duri (penjara di jatinegara) , ini si Kong Tjeng masih ingat betul ,  asal tidak bapat roti ekstra dari dokter lantas nafasn ya  mengi-meni (megap-megap). Sudah begitu hawanja(udaranya) begitu dingin menambah saja orang punya nafsu makan betul=betul rongrongan…!

Akhirnya dengan rupa (muka) lemes si Kong Tjeng pun jatuhkan diri disebelah  si Oh Tek sambil rebahan (berbaring)  mengawaskan plafond rumah dan  berdua mereka tidak berhenti-henti tarik nafas panjang.  Tiba-tiba si Bontjel yang roepanja(wajahnya)  dari setadian (dari tadi) ngelalang buana diluar,coba-coba cari jalan ‘dapat izin’ ialah perhubungan smokel(penyeluduopan0 , masuk kekamar  itu, diikutin  oleh lain-lain  kawan Bo Pak To.

Zonder(Tanpa) bilang ( berkata)  puti (putih ) atawa(atau0  item (hitam) artinya  tanpa memberi keterangan,  ia  lalu keluarkan kuwe (kue) Keranjang  dan piso(pisau)  dan potong itu precles di depan si Oh Tek ketika itu sangk8ing lemesnya (lemahnya) telah meremin mata kaga(tanpa) mau lihat apa-apa. Tapi aneh,meski matanya’merem'(tertutup)  ternyata si Oh Tek  bisa ngeliat (melihat)  apa yang siBontjel buat(lakukan) , sebab dengan mendadak  ia lantas jadi seger (segar) kembali, ia mel;ekin matanya dan melompat  bangun secara begitu mengagumkan , hingga rasanya satu akrobat yang bagaimana  jjempolan akan merasa kalah padanya dengan engko Oh Tek itu  diitu waktu, juga si Kong Tjeng lompat bangun  dengan terbirit-birit dan menunggu  sampai kue itu dibagi-bagi, meski buat jaga  hari-hari besok punya keperluan, seorang cuma (hanya) dibagikan sejuring(sepotong) , tapi…waduh (aduh) .. rasanya kajak apa  saja, buat orang yang berhari-hari kesasar di padang pasir , tia-tiba mendapat air.

Heran belum ada seminggu kue   ini macam(seperti) juga di (kota) Serang kagak laku dan malah tempo disana kue kranjang  ini sampai spesial digorengin  pakai telur dan toch  dikamar sembilan si Lauw  Pang sampai  sampai musti memohon  separuh meratap ‘sudilah kiranya  tuan-tuan internir  seorangnya  suka ambil ini kue paling sedikit tiga potong’  tapi  tidak seorang jang ladenin padanya, hingga itu kue  dibagikan pada orang rante(orang rantai arti tahanan penjara)  dan capai-lelah  si Lauw  Pang seorang diri membagikan kue itu……maaf kisah selanjutnya ada diklipping koleksi perang kemerdekaan ,saya AKAN mencari   file itu  agar dapat melanjutkan kisah si kontjeng,harap sabar……………………………………

=============================================================================== 

pADA sTAR WEEKLY NO. 28 TANGGAL 14 MEI 1946 INI, DIKULIT DEPAN TERTULIS PENERBIT nvhm&’DRUKKERIJ KENG PO ,  TELEFON REDACTIE &ADMINISTRASI DJK-KOTA 590590 HARGA f 7,-  DAN BERITA :

DI BLAKANG LAJJAR INDONESIA OLEH YUEH

Pada 27-28/6-’46. Premier Soetam Sjahrir bersama rombongannja ditjoelik dan pada 3 Juli jl Presiden Soekarno disodorkan ultimatum sementara berbareng itoe Menteri Pertahanan Mr.Amir Sjarifoedin poe tjoba disingkirkan .Pertjobaan  reboet kekoeasaan tertinggi dalem kalangan repoebliek Indonesia.(kisah secara lengkap akan di tulis dalam buku elektronik dunia maya berjudul PERANG KEMERDEKAAN REPUBLIK INDONESIA 1945-1950. tulisan ini akan diinstall apabila ada sponsor, saya sangat mengharapkan pihak GRAMEDIA YANG ERAT HUBUNGANNYA DENGAN MAJALLAH STAR WEEKLY  BERKENAN MENJADI SPONSOR, HALO BAPAK JACOB OETAMA SAYA MENUNGGU ULURAN TANGGAN ANDA AGAR KARYA TULIS ITU DAPAT DIBACA DAN ILLUSTRASINYA DAPAT DILIHAT OLEH SELURUH BANGSA INDONESIA, SERIAL SI KONG TJENG INI JUGA ADA DALAM MAJALLAH STAR WEEKLY SAAT PERANG KEMERDEKAAN RI, SEBELUMNYA SAYA UCAPKAN TERIMA KASIH ATAS PERHATIANNYA. DARI Dr IWAN S.

=====================================================================

SEBAGAI INFORMASI TERNYATA PADA TAHUN 1946 JUGA ADA MAJALLAH STAR WEEKLY DI AMERIKA SERIKAT DAN CANADA , LIHAT ILLUSTRASI DIBAWAH INI:

Desert Valley Star Weekly

 

Star Weekly
 
ARTICLE CONTENTS:  |  Suggested Reading  |  Links to Other Sites
 
 
 
 
 
The Star Weekly began publication in April 1910 in Toronto. Founded by J.E. Atkinson, the publisher of the TORONTO STAR, the Toronto Star Weekly was an attempt to create a Canadian counterpart to the popular British type of Sunday NEWSPAPERS. Initially the Weekly was a grab-bag of features, articles by the daily paper’s reporters, ADVERTISING and pieces purchased cheaply from syndicates. Before long, however, the Weekly had comic strips, good illustrations and cartoons, and by 1920 it was lavishly using colour. Eventually, able writers were recruited as free lances or put on staff, a list that included at various times Morley CALLAGHAN, Ernest Hemingway and Gregory Clark; artists found in the Star Weekly‘s pages included Arthur LISMER, Fred VARLEY, C.W. JEFFERYS, and in the cartoons, Jimmy Frise’s “Birdseye Centre.” The Weekly had a national audience, and after 1938 the “Toronto” identification was dropped from the masthead. Like the MONTREAL STANDARD, the Star Weekly fell victim to television and the newspapers’ weekend supplements, and it ceased publication in 1973.============================================================

 

THE END@ HAK CIPTA Dr IWAN S 2010

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s