The Henk Ngantung Sketch Painting

I.AUTOBIOGRAPHY OF HENK NGANTUNG.

1.HENK DURING DAI NIPPON OCCUPATION  1942-1945(Darmawan,Agus,Seni Lukis Indfonesia,2000)

The Dai Nippon Military administation in Java developted Keimin Bunka Sidhoso, the art organization for development Indonesian nation art.This oragization collecting the art and painters in order to win the WWII.the Leader of this orgganization was Sanusi Pane, the painting section Agus Djaya, Film Usmar Ismael and traditional dancer Armijn Pane and singing Mrs Sud(Ibe Sud).  The propaganda poster lead by Mr Kono,the painting teacher Sudjojo in 1944. the Indonesian painters member of Keimin Bunka biside Agus Djaya,Dullah,Otto Djaya,Siauw Tik Kwie also Henk Ngantung. Keimin Bunka Sidhoso have giver the price on Henk Ngantung painting Biduan Jalanan (Street singer) and Tukang sate (Barbeqiue seller).

2. Henk Ngantung as the member Of LEKRA under the Indonesia Communist Party(ibid Darmawan,Agus page 44-55)  .

Between 1955-1965 the painting art were under the principle and ideology political of the Political  Party ,were dominant by The Indonesian Communist Party which developded LEKRA(lembaga Kedudayaan Rakyat or People Art Institute). the member of Lekra were some famous painter like Hendra Gunawana nd also Henk Ngantung .During this time , the famous Henk Ngantung painting was Dua Wanita Dengan Caping (The two Caping Womens)                                         

3. HENK NGANTUNG PICTURE PROFILE FROM GOOGLE EXPLORATION

                                                         

Autobiografy Of Henk Ngantung from Wikipedia.google exploration

(1)HENK AS THE PAINTER

Before became the Jakarta Governor , Henk was known as the autodicdac painter without formal education.  With Chairil Anwar and Asrul Sani ,He joint to built “Gelanggang”. Henk had ever mananged Indonesia-China friendly association 1955-1958. Henk also as the painter of affiliated Indonesia Communist Party Organization LEKRA(the People art association) .

Ngantung, Henk (1921 –1994)
Born in Bogor, his parents were from Tomohon, Minahasa, North Sulawesi. He began painting in 1934 and he had his first solo exhibition in Tomohon in 1936, after which he went to Java. From 1937-41 he studied with the Dutch painter, Willem F.M. Bosschaert and Austrian artist Rudolf Wenghart in Bandung. He had a solo exhibition at Hotel Savoy-homann, Bandung in 1939. He was a member of POETERA/PEOPLE’S ACTIVITY CENTRE and later studied at Keimin Bunka Shidoso cultural centre in Jakarta 1942-1944. In 1946 he was a co-founder of the gelanggang arts organization. In 1947 he had a solo exhibition at the hotel des Indes, Jakarta. In the 1950s and 1960s he was involved in the communist-sponsored art organization LEKRA / PEOPLE’S CULTURAL INSTITUTE and participated in cultural missions to the soviet union and china. He was vice-governor of Jakarta from 1960 – 1964 and governor of Jakarta in 1964 – 1965.

 (2) HENK AS THE JAKARTA GOUVERNOR 

                                                                    

Henk Ngantung in the center,during visit Wina, with ther mayor of  Wina that time, Bruno Marek and Indonesian Consult at  Wina, A. Kobir S.

Before elected as the Governor, Henk Ngantung were pointed by President Sukarno as the Vice Governor under Dr Sumarno. At that time many protest against Henk Ngantung pointed. Presideny Sukarno want Henk Ngantung built Jakarta as the Indonesian Art City, and he think Henk had the artistic skill..One day President Sukarno  asked Henk to came to The Castle only to asked him cutting the tree beside the street which made the scene dirty. . but Henk didnot succeed to built Jakarta as the art City.

Henk suddenly get down from the Jakarta City Governur while the operation agians Communist 30 Sept.Movement G30S/PKI due to Henk as the member of Lekra Communist Party. 

(3)HENK AS EX- GOUVENOR

Henk Ngantung not only live in poor economic and he was not only sold his house in the center of city inorder to move the village area. Henk also suffer the eye sickness near blind and he had sue as the Communist Party member without any Law judgmen and not put in jail, he live at the very small street at Cawang East Jakarta until in December 1991 Henk was passed away.

Henk still painting althoud he under The Haert disease and eye disease Glaucome which madae his right total 100 % blind and the left eyes only 30 % of function, he stil painting withn helping of  spice glass and in the end of 1980 he draw the painting with his face nearly contacted the canvaas in the end of 1980 .One month before died,Henk which in not good healthy, with the sponsor of Ciputra, had made the first and last painting exhibition.

 (4)HENK FAMILY

Henk(died at 71 years old due to Heart Disease), wife Evie Ngantung.  4 children Maya Ngantung, Genie Ngantung, Kamang Ngantung and Karno Ngantung .

(5) Henk creations

The Wecome Statue (Tugu Selamat Datang) which ma and women up their hand(   yang menggambarkan sepasang pria dan wanita yang sedang melambaikan tangan)  at the Indoensia Hotel circle(yang berada di bundaran Hotel Indonesia0 was created by Henk(merupakan hasil sketsa Henk.) The idea from President Sukarno (Ide pembuatan patung ini berasal dari Presiden Soekarno) dan the early design by Henk ( design awalnya dikerjakan oleh Henk Ngantung ) ad the vice gouvenur of Jakarta (yang pada saat itu merupakan wakil Gubernur DKI Jakarta) . Henk  also created Jakarta emblem sketch and Kostrad emblem(juga membuat sketsa lambang DKI Jakarta dan lambang Kostrad).

The painting created by Henk, The Mother and Child was his latest painting (Lukisan hasil karya Henk antara lain adalah Ibu dan Anak yang merupakan hasil karya terakhirnya.)

II.THE LATEST INFORMATIONS OF HENK NGANTUNG.

1.The Henk Ngantung Painting at London Auctions

 Liputan6.com, Jakarta: Lukisan bertajuk Ibu & Anak di Kalimantan karya terakhir Henk Ngantung, seniman Indonesia era Soekarno dan juga mantan Gubernur DKI Jakarta, pernah di lelang di Balai Lelang Christie di London, Inggris. Hal itu dikemukakan janda mendiang Henk, Evie Ngantung, di kediamannya kawasan Cawang, Jakarta Timur, baru-baru ini.

“Saya tahu kabar itu melalui internet dan nama beliau tertera di sana,” kata Evie. “Saya tidak pernah menjual karya tersebut.”

Seingat Evie, lukisan itu dititipkan pada seorang kenalan Henk yang ingin membantu menjualkannya. Belakangan, katanya, lukisan itu sudah berada di tangan seorang kolektor bernama Haw Ming Sang dan pernah mengkonfirmasi keasliannya.”Saya pernah disuruh foto di samping lukisan tersebut,” ujar .Lukisan Henk berupa gambar pemandangan pernah dijual melalui sebuah forum di internet seharga Rp 400 juta. Henk meninggal dunia pada 1991.(Ant/SHA)

                                                    

2. THE KOMPAS NEWSPAPER ABOUT HENK NGANTUNG SKETCH PAINTING .
Sketsa Ngantung Masih Menggantung
Rabu, 14 April 2010 | 00:27 WIB
google.com

Henk Ngantung

JAKARTA, KOMPAS.com–Jika ditanya siapakah mantan Gubernur DKI Jakarta yang paling anda kenal? mungkin jawabannya adalah Ali Sadikin, Sutiyoso atau Fauzi Bowo yang sekarang sedang menjabat. Tapi, bagaimana dengan sosok Henk Ngantung, seorang Seniman Sketsa yang juga pernah menjadi menjadi Guburnur DKI Jakarta.

Hendrik Hermanus Joel Ngantung atau lebih dikenal dengan sebutan Henk Ngantung, menjabat  Gubernur DKI di era pemerintahan Presiden Soekarno periode 1964 – 1965. Sebelum diangkat menjadi Gubernur Henk mengawali karirnya sebagai seniman Sketsa otodidak yang kerap turut serta meliput beberapa peristiwa penting dan bersejarah di Indonesia dalam bentuk sketsa antara lain : Perundingan Linggarjati, Perundingan Renville,dan Perundingan Kaliurang.

“Lukisan perjanjian Renville dan karya lain Pak Henk semuanya ada di museum, semua peristiwa demi peristiwa pak Henk gambar,” kata Janda Henk Ngantung,Evie Ngantung (71).

Pada tahun 1957 dia  diangkat menjadi ketua seksi dekorasi dalam panitia Negara Penerimaan Kepala –kepala Negara asing, Selanjutnya di tahun 1959-1966, menjadi anggota Pertimbangan Agung mewakili golongan Karya Seniman, 1959-1964 menjabat sebagai wakil Gubernur Kepala Daerah Khusus Ibukota di bawah Soemarno. Pada saat itu banyak kalangan yang protes atas pengangkatannya.

Puncaknya ketika Presiden Soekarno ingin menjadikan Jakarta sebagai kota budaya, dia  mengangkat Henk Ngantung menjadi Gubernur DKI Jakarta karena satu alasan : Henk memiliki jiwa Artistik yang tinggi.

Karya Henk Ngantung sebagai seorang seniman yang monumental antara lain adalah Sketsa Tugu Selamat Datang,Lambang DKI,dan Lambang Kostrad, selain itu ada juga lukisan seperti “memanah”,”Gadjah mada” dan peninggalan terakhirnya yang kini berada di pelelangan London Inggris bertajuk “Ibu & Anak di Kalimantan”.

Henk yang wafat di bulan Desember 1991 di kediaman terakhirnya  di sebuah gang sempit perkampungan kawasan Cawang Jakarta timur meninggalkan seorang istri dan empat orang anak yaitu Evie Ngantung, dan  4 orang anak yaitu Maya Ngantung, Genie Ngantung, Kamang Ngantung dan Karno Ngantung yang meninggal pada usia 71 tahun karena sakit jantung.

Pecahnya peristiwa G30S PKI (Partai Komunis Indonesia) pada tahun 1965, membuat karir Henk Ngantung sebagai Gubernur DKI Jakarta Berakhir.

Henk tiba-tiba diberhentikan bersamaan dengan pemberantasan G30S/PKI. Henk terlibat organisasi Lekra yang berafiliasi dengan PKI.

Sejak itu, kehidupan Henk dan Keluarga mulai mengalami kesulitan dengan dicap sebagai PKI yang membuat ruang geraknya baik secara sosial,politik dan ekonomi menjadi terpasung.

“Yang saya tahu persis waktu itu PKI sedang merancang sesuatu, mungkin mau bikin G30S, jadi mereka mau pak Henk Ngantung itu bekerjasama. Tapi, pak Henk pernah bilang saya kan bukan gubernur Lekra tapi gubernur Jakarta Raya DKI,” Kenang Evie.

Setelah Berakhirnya Karir Henk Ngantung di Lingkungan Pemda DKI, dian melanjutkan hidup dengan tetap membuat sketsa dan lukisan yang dijual untuk menghidupi keluarga. Henk  menempati rumah di kawasan Tanah Abang.

“Pak Henk pernah membuat lambang Kostrad dan lambang DKI, dari Kostrad saya dihargai oleh Kostrad sebagai anggota kehormatan Kostrad tapi kenapa kalian mau gubris – gubris saya sebagai PKI,” Kenang Evie.

Evie mengaku masa-masa yang paling sulit adalah ketika ia akan menyekolahkan anak-anak dan selalu diminta menunjukkan surat bersih dari PKI.

“Saya pernah datang menghadap pak Sudomo yang pada waktu itu menjabat sebagai Komkabtib dan menjelaskan bahwa kami sekeluarga di cap sebagai PKI dan harus ada surat bebas G30S jika ingin pergi kemanapun, dan pak Domo menjelaskan kalau pak Henk kan tidak pernah ditahan jadi untuk apa surat itu? tidak perlu kan, berarti memang tidak terlibat G30S tapi kenyataannya sudah terlanjur dicap,” ujar Evie.

Akibat adanya cap PKI, Henk dan Keluarga menjual rumah di Tanah Abang dan  pindah ke perkampungan yang melewati gang sempit di kawasan Cawang Jakarta Timur.

“Kami menjual rumah di Tanah Abang karena sering dicap PKI yang membuat hidup kami susah, nggak enak seolah-olah mereka itu takut kepada kami dan lagipula kami tidak punya uang, tapi sekarang kami akrab sekali dengan tetangga-tetangga kami di sini,” Tutur Evie.

Setelah Henk wafat tahun  1991 Evie mengaku berjuang menghidupi keluarganya dengan jalan menjual lukisan karya Henk.

Evie tidak menerima uang pensiun suaminya hingga pada dasawarsa 80-an Pemda DKI memberi rapelan dana pensiun.

“Yang saya terima hanya uang pensiun saja sebagai penghargaan sebesar Rp830 ribu perbulan hingga sekarang. Kami tidak pernah dapat apa-apa dari pemda DKI dan dari pemerintah pun tidak ada,” tutur Evie.

Henk Dan Tugu Selamat Datang
Tak banyak orang tahu kalau Tugu Selamat Datang di Bundaran Hotel Indonesia itu lahir dari guratan tangan Henk Ngantung.

Tugu Selamat Datang yang menjadi Landmark Ibu Kota Jakarta itu memang dibuat oleh pematung Edhie Sunarso namun  adalah Henk yang membuat sketsanya. Sepasang pemuda –pemudi melambaikan tangan seakan-akan menyambut orang datang.

Karya seni itulah yang kemudian menjadi dasar pembuatan Tugu Selamat Datang seperti diabadikan dalam buku “Sketsa-sketsa Henk Ngantung dari masa ke masa” yang disusun oleh Baharudin M.S dan diterbitkan Sinar Harapan di tahun 1981.

Sejak satu tahun yang lalu bergulir kasus mengenai penggunaan logo yang identik dengan sketsa Tugu Selamat datang karya Henk Ngantung dan digunakan oleh PT Grand Indonesia (GI). Perusahaan tersebut tidak mengakui bahwa logo tersebut dibuat terinspirasi berdasarkan karya seni hasil karya Henk Ngantung.

“Kalau seandainya Grand Indonesia itu membuat logo patung (Selamat Datang), urusannya adalah dengan Edhie Sunarso (seniman pembuat patung tersebut). Tapi ketika logonya adalah gambar dua dimensi maka ada sejarah yang menyatakan bahwa tugu itu dibuat dari suatu sketsa, “Kata Pengacara Keluarga Ngantung Andy I Nababan S.H.

Keluarga Ngantung sudah melakukan somasi terhadap GI namun belum ada titik temu. “Dulu kami sudah bicara persuasif baik baik tapi tidak ada tanggapan, , ya sudah kami akan tempuh upaya hukum ,itu fakta sejarah oleh karena itu kita perlu diakui, bahwa Tugu Selamat Datang dibuat berdasarkan sketsa hasil karya Henk Ngantung,” tutur Andy.

Keluarga Ngantung mengaku tidak keberatan jika hasil karya Henk dikomersilkan tapi mereka meminta ada pengakuan bahwa logo tersebut dibuat berdasarkan sketsa karya Henk Ngantung.

Sementara itu, pihak GI mengemukakan logo Grand Indonesia hanya terinspirasi oleh tugu yang lokasinya di bundaran Jalan MH Thamrin.

“Logo Grand Indonesia adalah gambar yang menyerupai siluet dari patung itu (Tugu Selamat Datang), tetapi tidak persis dengan gambar aslinya. Kalau aslinya kan ada bunga-bunganya. Kami memang terinspirasi dengan patung itu karena hotel ini memiliki hubungan historis dengan patung tersebut. Jadi dalam hal ini tidak ada hubungannya dengan seniman pembuat patung tersebut,” kata  Government and Corporate Affairs, PT Grand Indonesia, Koentjoro Noerwibowo kepada pers.

                                                                        

Logo Grand Indonesia itu, kata Koentjoro, telah dibuat oleh para tim kreatif pada tahun 2004, bahkan logo itu telah memiliki nilai legalitas dengan terdaftar pada Dirjen Hak Kekayaan Intelektual, Kementerian HAM RI.

3.Henk Ngantung Book about his sketch (Buku Sketsa-sketsa Henk Ngantung dari Masa ke Masa)

 Sketsa-sketsa Henk Ngantung dari Masa ke Masa | ISBN: – | Henk Ngantung | Sinar Harapan, Jakarta | Cetakan Pertama, 1981 | xviii + 242 halaman | (21 x 20,5) CM |

3. HENK NGANTUNG PAINTING AUCTIONS FROM INTERNET EXPLORATION

Untitled)

oil on canvas, signed ‘Henk Ngantung’ lower left, 53.5 x 88cm
Estimate $1,000-$2,000Auction:
Art
Held:
Sunday 21 March 2010 2pm
 
224 Young Street, Waterloo, Sydney, NSW
Preview:
Friday 19 March 2010 10am – 5pm
Saturday 20 March 2010 10am – 5pm
Sunday 21 March 2010 8:30am
 
224 Young Street, Waterloo, Sydney, NSW
224 Young Street, Waterloo, Sydney, NSW
224 Young Street, Waterloo, Sydney, NSW
                                                            
 

THE END @copyright Dr Iwan s 2010

2 thoughts on “The Henk Ngantung Sketch Painting

  1. ADOLF MICHAEL LINO September 5, 2010 / 9:45 am

    Pesan untuk Zus Evie dari Dolf suaminya Jenny Mamesah (Almarhumah),bangga sekali melihat kembali karya2 bernilai seni yang tinggi dari Bung Henk (Alm). Kiranya Tuhan Yesus Kristus dengan setiaNya menyertai Zus Evie sekeluarga besar. Paktuan pakalawiren. Harap bisa kontak semua keluarga besar Mamesah di jakarta n Tompaso. A.M.Lino,24/60 Ancona SAtr.Carrara-Gold Coast, Queensland-Australia 4220. (Jln.Alam Hijau I/1, Elysium-Lippo Cikarang ,Indonesia)

    • iwansuwandy September 5, 2010 / 11:02 am

      halo Adolf Michael Lino.
      terima kasih atas komentar anda
      tulisan ini saya buat, agar khalayak ramai mengenal jasa dan pendritaan yang dialami oleh pelukisa nasioanal kita Alm Henk Ngatung dan isterinays serta kelaurag, Saya doakan agar peemrintah memperhatikan isteri dan keluarganya,
      salam dari penulis
      Iwan suwandy

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s