KOLEKSI SEJARAH INDONESIA 1900 (BERSAMBUNG)

 

INI CONTOH BUKU ELEKTRONIK DALM CD ROM KARAYA DR IWAN TANPA ILLUSTRASI ,UNTUK LENGKAPNYA DAPAT MEMBERLI CD ALSI HARGA PER CD LIMA RATUS RIBU RUPIAH SUDAH TERMAUK ONGKOS KIRIM, JANGAN LUPA MENGUPLOAD KOPI KTP DAN ALAMAT LENGKAPNYA MAKLUM SAAT IN BANYAK PENIPUAN LIWAT INTERNET

 silah menghubungi

email

iwansuwandy@gmail.com

ini cuplikan dari info yang sama diwb Dr iwan lainnya

hhtp://www.Driwancybermuseum.wordpress.com

 

 

KOLEKSI SEJARAH INDONESIA

AWAL ABAD KE-20

OLEH

Dr Iwan Suwandy , MHA

EDISI PRIBADI TERBATAS

KHUSUS UNTUK KOLEKTOR  DAN HISTORIAN SENIOR

Copyright @ 2013

INI ADALAH CUPLIKAN DAN CONTOH BUKU KOLEKSI SEJARAH INDONESIA HASIL PENELITIAN Dr  IWAN , HANYA DITAMPILKAN SEBAGIAN INFO DAN ILUSTRASI TAK LENGKAP.

BUKU YANG LENGKAP TERSEDIA BAGI YANG BERMINAT HUBUNGGI LIWAT KOMENTAR(COMMENT) DI WEB BLOG INI

sORRY FOR THE UNEDITED ARTICLES BELOW,I DID  TO PROTEC T AGAINST THE COPY WITHOUT PERMISSSION

 

Driwancybermuseum Homeoffic 

Copyrught @ Dr Iwan suwandy,MHA 2013

Forbidden to copy without written permission by the author

Koleksi Sejarah Indonesia

Awal Abad Ke 20

 

Oleh

Dr Iwan Suwandy,MHA

Private Limited Edition Special For Senior Collectors

Copyright @ Dr Iwan 2013

 

 

1899-1904:

Willem Rooseboom

 

 

Willem Rooseboom.

Willem Rooseboom (Amsterdam, 9 March 1843 – The Hague, 6 March 1920) was a Dutch Major General and politician who wasgovernor general of the Dutch East Indies from 1899 until 1904

20 Agustus 1900

Pada tanggal 20 Agustus 1990 lahirlah putra Tengu Amaludin dari Deli  yang diberi nama  Tengku Otteman 

1900

Budaya Barat Dan Fashion (Mode):

Surakarta Masa Kolonial

 

Iklan Pembuatan Pakaian di Surat Kabar Kawan Kita Jang Toeloes (Sumber: Surat Kabar Kawan Kita Yang Toeloes tahun 1918, Koleksi Bapak Bambang Surakarta)

“Aku Berbicara Lewat Pakaianku” (Dick Hebdige, Sub Culture: The Meaning Of Style, Routledge, 1979)

Pada awal abad XX

 dalam kehidupan masyarakat di Pulau Jawa terjadi suatu perubahan yang mengarah kepada suatu proses transformasi kebudayaan.[1] Proses perubahan kebudayaan yang menurut Sartono Kartodirdjo[2] disebut sebagai proses modernisasi dapat terjadi karena diakibatkan oleh faktor-faktor pemicu antara lain: pesatnya laju pertumbuhan penduduk, perkembangan sekolah Barat, liberalisasi perekonomian yang meningkatkan arus migrasi penduduk asing dan arus investasi modal asing, pesatnya industrialisasi, pesatnya pembangunan infrastruktur dan sistem komunikasi modern, pembaharuan sistem administrasi dan birokrasi pemerintahan kolonial Belanda.

Modernisasi kehidupan masyarakat perkotaan serta terjadinya diferensiasi dan spesialisasi lapangan pekerjaan. Proses modernisasi yang diakibatkan karena terjadinya kontak secara intensif antar unsur-unsur kebudayaan yang didukung oleh agen-agen perubahan yaitu elit birokrat dan elit ekonomi, serta elit pribumi yang terdididik secara Barat yang lebih mengarah kepada dominasi kebudayaan Barat atas kebudayaan agraris tradisional yang oleh Wertheim dimaksudkan sebagai proses Westernisasi.[3]

Dukungan pembuktian terjadinya proses dalam kehidupan masyarakat perkotaan di Surakarta pada masa kolonial Belanda terekam dalam informasi-informasi yang dimiliki oleh perkembangan mode (fashion) terutama pakaian.

 Sebagai salah satu bukti, perkembangan pakaian mempunyai kredibilitas sebagai alat perekam dinamika kehidupan sosial, ekonomi, dan budaya masyarakat.

Fashion (mode) Sebelum Masuknya Kebudayaan Barat

Berpakaian, sesungguhnya bukan sekedar memenuhi kebutuhan biologis untuk melindungi tubuh dari panas, dingin, bahkan serangan binatang, akan tetapi terkait dengan adat istiadat, pandangan hidup, peristiwa, kedudukan atau status dan juga identitas. Pakaian merupakan salah satu penampilan lahiriah yang paling jelas dimana penduduk dibedakan dengan yang lain dan sebaliknya menyamakan dengan kelompok lainnya.[4]

Sartono Kartodirdjo yang mengutip pernyataan HR van Heekren menyatakan bahwa berdasarkan bukti arkeologis, di daerah Sulawesi, Kalimantan, Seram, Halmahera, Nias, dan pantai barat Irian Jaya telah ditemukan sisa-sisa kehidupan zaman pra sejarah yang diantaranya terdapat pakaian dari kulit kayu  yang dinamakanfuya atau tapa.[5]

 Pengetahuan suku bangsa di Indonesia tentang tata cara berpakaian atau berbusana semakin berkembang ketika agama Hindu dan Budha masuk ke Indonesia. Kenyataan bahwa kebudayaan Hindu dan Budha berpengaruh besar terhadap model pakaian Indonesia tampak pada relief-relief bangunan candi. Relief-relief di dinding candi Borobudur misalnya adalah contoh konkrit dan lengkap yang menggambarkan keanekaragaman pakaian dan perhiasan pada zamannya. Pada relief-relief tersebut jelas ditampilkan busana yang dipakai manusia ketika pada masa itu dengan latar belakang peristiwa yang tengah berlangsung.

Dalam berbagai kegiatan seperti mengolah swah, membangun rumah, bermain musik atau tari digambarkan dengan pakaian yang berbeda. Perbedaan juga tampak pada pakaian yang dipakai oleh para pembesar, raja, ratu, tokoh agama serta rakyat kebanyakan.

 Bersamaan dengan pakaian tampil pula kelengkapannya atau perhiasan yang dikenakan. Perhiasan yang dikenakan pun sangat kompleks, meliputi hiasan kepala sebagai lambang kebesaran pemakainya, hiasan telinga, leher, pergelangan kaki bahkan perhiasan dibagian pinggang dan pangkal lengan. Tradisi berpakaian indah dan mengenakan perhiasan dari macam-macam benda tidaklah mati karena terus berubah.

Pengaruh Hindu dan Budha dalam hal berpakaian tampak dalam penggunaan kain terusan tanpa dijahit atau yang biasa disebut sebagai kain panjang yang menutupi tubuh para wanita ataupun pinggang para pria. Hal ini berkaitan dengan ideologi bahwa kain panjang yang tidak dipotong merupakan sebuah hal yang melambangkan kesucian dan bagi masyarakat Jawa hal tersebut merupakan lambang kesakralan.[6] Masyarakat Jawa lebih menyukai kain yang diwiru daripada kain yang dijahit.Tetapi, semenjak kedatangan bangsa Eropa dan mulai berpengaruhnya budaya Eropa di Jawa, pakaian panjang mulai ditinggalkan terutama bagi kaum pria dan perlahan digantikan dengan pakaian gaya Eropa.

 

Reid mengutip dari Crawfurd, menyebutkan bahwa orang Jawa kalaupun mereka telah berpakaian tetapi masih dianggap nyaris telanjang.[7] Ketika Islam datang, model pakaian di Jawa mengalami perubahan yang sangat signifikan. Pakaian yang pada awalnya terbuka pada bagian dada, kemudian disempurnakan sesuai norma-norma keislaman. Sarung atau kain panjang yang tadinya dililitkan disekitar pinggang kemudian diangkat lebih tinggi untuk menutupi dada. Selain dengan cara di atas, kaum perempuan Jawa juga menambahkan satu pakaian lagi yang dililitkan secara ketat di sekitar dada.[8] Satu keunikan tersendiri bahwa kerajaan-kerajaan Jawa dimana pengaruh budaya Islam telah masuk seperti pada upacara adat, pandangan hidup, seni bangunan, namun ternyata dalam etika berpakaian tidaklah banyak membawa perubahan. Dari beragam komposisi pakaian, perhiasan sampai kepada makna simbolik yang ingin ditampilkan pengaruh Hindu masih memegang dominasi yang kuat dalam lingkungan istana.[9]

Di Indonesia kontak dengan bagian dunia Islam lebih tua dibandingkan dengan benua Eropa. Kontak dengan Islam mulai tampil sebelum Belanda dan orang-orang Eropa lainnya muncul di wilayah ini. Karenanya pilihan antara pemakaian busana didasarkan pada bidang Islam atau pribumi sudah sangat lama ini dilukiskan dalam satu gambaran Barat tentang Indonesia.

 

Susuhunan Pakubuwana IX berpakaian Haji sebagai pengaruh Islam dengan turban di kepala tahun 1866. (Sumber:http://www.kitlv.nl.).

Gambar di atas menunjukkan bagaimana pengaruh Islam berpengaruh hingga dalam berbusana. Pakaian Raja-Raja Jawa terutama Surakarta mengadopsi pakaian Islam dengan memakai celana panjang, pakaian dan turban gaya Turki. Tidak hanya Raja tetapi masyarakat umum juga memakai gaya berpakaian Islam dengan sarung dan kain yang dililitkan dikepala (turban) yang biasanya berwarna putih. Hal ini dapat dilihat pada gambar berikut:

 

Masyarakat menggunakan pakaian gaya Islam di sebuah kapal ketika akan berangkat ke tanah suci Mekah tahun 1940 (Sumber: Majalah Pawartos Surakarta tahun 1940).

Pembakuan dalam pakaian merupakan tanda lahir dari perubahan dalam berbagai bidang. Menurut Taylor[10] perubahan penting dalam pakaian untuk semua kelompok laki-laki dan perempuan Jawa adalah mencakup betis ke atas. Kecenderungan menutup tubuh bagian atas pertama tampak di kota-kota pelabuhan Jawa pada abad XVI. Tubuh yang kurang tertutup oleh pakaian menjadi penanda bagi golongan non-muslim, orang miskin, budak dan anak-anak. Dengan kedatangan bangsa Eropa, perkembangan “mode” menjadi lebih beragam. Pada masa VOC pakaian Belanda merupakan penanda yang jelas tentang kebudayaan dan agama para tuan tanah asing. Pada awalnya Belanda ingin mempertahankan pakaian Eropa untuk diri mereka sendiri. Orang-orang Indonesia yang diperbolehkan memakai pakaian gaya Eropa di daerah-daerah yang dikendalikan oleh VOC adalah penganut Kristiani.[11] Meskipun ada aturan ketat yang diterapkan oleh VOC mengenai cara berpakaian berbagai bangsa, peminjaman dan saling meniru unsur-unsur pakaian tetap nampak.

VOC bisa menerapkan aturannya di Batavia dan kota-kota lain tempat mereka memiliki kontrol ketat, namun di luar daerah ini jauh lebih sulit, khususnya menyangkut elit Indonesia yang sering bekerjasama dengan para pejabat VOC. Salah satu orang pertama yang memakai pakaian Eropa adalah Amangkurat II (1677-1703).[12] Pada pertengahan abad XVII ketika Rickloff van Goens, sebagai wakil VOC, mengunjungi istana Mataram, menyaksikan salah satu penampilan publik biasa raja Mataram, Susuhunan Mangkurat I (1646-1677). Van Goens mendeskripsikan bagaimana “sekitar empat, lima, enam, tujuh, sampai 800 bangsawan berkuda berkumpul di alun-alun” dan “dengan sangat tekun” mengamati dandanan kepala sang raja, apakah memakai tutup kepala Jawa atau turban gaya Turki. Jika raja mengenakan turban, semua orang menanggalkan tutup kepala mereka dan mengambil tutup kepala yang lain dari pelayan mereka agar sama dengan sang raja.[13] Hal ini menunjukan bahwa pengaruh Islam sangat besar terhadap kerajaan dan penggunaan tutup kepala Jawa menunjukkan perjuangan bagi hegemoni kultural yang dimulai sejak kedatangan Islam dan restorasi nilai-nilai Jawa di dalam latar Islam.

Mengenai deskripsi awal bangsa Eropa tentang kostum-kostum di Jawa, sering didapati bahwa para pria berdada terbuka. Akan tetapi, tidak semua orang orang Jawa selalu membiarkan dada mereka tidak tertutup. Dalam puisi lama Siwaratrikalpa (abad kelima belas) terdapat suatu deskripsi tentang seorang pemburu yang berburu mengenakan jas pemburu berwarna biru tua. Namun demikian, kaum bangsawan setidaknya membiarkan sebagian dari dada mereka terbuka. Menurut tata cara berpakaian di istana biasanya seorang pangeran mengenakan dua macam benda dalam berpakaian yaitu wastra atau kampuh, dodot dan sbuah sabuk. Wastra dililitkan disekeliling bagian bawah tubuh, sementara sabuk adalah sebuah selempang yang dikenakan di sekeliling pinggang. Dalam lingkaran kerajaan, tradisi tidak menutup dada bagi pria memiliki fungsi spesifik yaitu cara untuk memperlihatkan penghormatan dan kepatuhan.[14]

 

Dua orang pemuda dengan bertelanjang dada serta berpakaian dodot dan sabuk serta memakai tutup kepala dan aksesoris berupa senjata keris (sumber: http://www.kitlv.nl.)

Peran Barat sebelum tahun 1850 diungkapkan dengan mengimpor ke Jawa bahan kain dari India dan menampilkan tubuh yang berbaju sebagai simbol penguasa. Sejak pertengahan abad XIX, peran Barat dalam perubahan kostum di Jawa ditunjukkan dalam penerimaan unsur-unsur khusus dari pakaian Barat bagi pria.

Beberapa tahun kemudian kaum perempuan mulai menerima pengaruh Barat pada gaya pakaian yang mereka kenakan. Perubahan-perubahan dari penerimaan pengaruh tersebut adalah nulai dikenakannya celana panjang, jas, dan sepatu bagi pria sedangkan pakaian perempuan adalah penerimaan batik sebagai bahan pakaian bagi semua orang.

Sejarah pakaian yang sekarang dikenal sebagai pakaian daerah Surakarta baik laki-laki maupun perempuan berkaiatan dengan keberadaan budaya keraton Surakarta. Keraton sebagai pusat institusi dan tata pemerintahan, mempunyai aturan-aturan khusus yang berkaitan dengan pakaian. Apabila dilihat secara seksama pakaian atau gaya busana Surakarta dapat dibedakan menurut kebutuhan, tingkat umur, dan status pemakainya. Perbedaan keturunan ikut memainkan peran untuk terciptanya ketegasan batasan penggunaan pakaian, baik untuk kegiatan sehari-hari atau dalam kegiatan yang bersifat resmi.

Model dan jenis pakaian yang dikenakan oleh mereka yang tinggal di keraton atau yang mempunyai kaitan tugas dengan keraton antara satu orang dengan lainnya berbeda, sesuai dengan tugas, waktu pakai dan jabatan.

Pergeseran makna simbolis yang terjadi pada pemakaian busana di Jawa khususnya di Surakarta terjadi semenjak kedatangan VOC yang menerapkan larangan-larangan pemakaian busana yang sama bagi setiap penduduk dengan maksud sebagai bentuk kontrol sosial VOC terhadap masyarakat jajahan.

 Kostum Jawa sendiri pada masa VOC berupa kain persegi panjang tidak dipotong yang menutupi tubuh bagian bawah, beragam kain lilit penutup dada dan pinggul, serta kain penutup bahu. Kostum itu dipakai oleh pria dan perempuan, dan pada dasarnya sama untuk semua kelas. Status seseorang ditunjukkan melalui kualitas kain yang dipakai, desain-desain dan perhiasan. Selop digunakan oleh anggota-anggota istana. Selama masa VOC, para pria dan perempuan istana mulai memakai kain batik sebagai bahan untuk pakaian. Lebih jauh, batik kini dikenakan para pria ningrat dalam dua mode baru yaitu kain dodot dan celana yang terbuat dari sutra yang dibordir atau dihias dengan jalinan pita di bagian pergelangan kaki, sedangkan wanita hanya memiliki mode dodot dan pemakaian baju kebaya.[15] Desain-desain batik khusus digunakan oleh kaum ningrat beserta badi dalem mereka, dan pemakaiannya ditentukan oleh aturan-aturan khusus.

 

Pemakaian kain panjang dalam model dodot oleh wanita Jawa dengan menutupi tubuh tetapi dengan bahu terbuka (Sumber: P.H. Van Moerkerken J.R dan R. Noordhoof, Atalas Gambar-Gambar Akan Dipakai Oentoek Pengadjaran Ilmoe Boemi, Amsterdam-S.L. van Looy: Balai Pustaka, 1922)

 

Peraturan-peraturan tentang pemakaian busana telah diatur semenjak Susuhunan Pakubuwana IV tahun 1788-1820.[16]Peraturan ini berupa larangan pemakaian busana tertentu bagi para keluarga raja, pejabat kerajaan dan rakyat kecil di wilayah keraton Kesunanan Surakarta. Larangan-larangan tersebut berupa:

1. Larangan pemakaian kain

Larangan pemakaian kain yang dibuat oleh Pakubuwanan IV pada tahun 1788-1820 adalah kain batik batik sawat, parang rusak, cemukiranyang memakai talacap modang, udan riris, dan tumpal. Adapaun yang disebut batik tumpal, di tengah putih pinggir batik, kain kakembanganbercorak udaraga (coraknya bermacam-macam) merah di tengah, pinggirnya bercorak hijau kuning, bangun tulak di tengah hitam pinggir putih, lenga teleng di tengah putih pinggir hitam, dara getemmerah di tengah pinggir kiri kanan ungu, batik cemukiran yang ber-talacap lulungan atau bermotif bunga yang diperkenankan memakai adalah patih, keluarga raja, dan wadana. Sedangkan batik sawat katandhan sembagen ber-elar (sayap) semua abdi dalem boleh memakainya.

2. Larangan pemakaian keris

Keris (dhuwung) merupakan aksesoris dalam berpakaian bagi para priyayi dan abdi dalem raja maupun rakyat Surakarta pada umumnya. Larangan pemakaian keris yang dikeluarkan oleh Pakubuwana IV antara lain adalah keris dengan gagang tunggak semi, pendhok parijatha, pendhok tatahan sawat, kemalon abang, warangka pupulasan dhasar kayu, sedangkan keris dengan gagang tunggak semiitu, yang boleh memakai hanya abdi dalem mantri dan abdi dalemtamtama.

Keris dengan gagang kawandasa yang diperkenankan memakai hanyalurah dan bekel, sedangkan paneket hanya diperuntukkan bagi abdi dalem Gedhong Kapedhak. Keris dengan gagang tunggak semi yangbubunton, semua abdi dalem baik mantri dan lainnya tidak diperbolehkan memakainya.

3. Larangan memakai payung

Payung merupakan aksesoris dalam berbusana yang menunjukkan sebuah status sosial seseorang. Larangan yang dikeluarkan oleh Paku Buwana IV dalam hal pemakaian payung hanya melarang penggunaan payung di sekitar wilayah kraton. Larangan tersebut berupa tidak bolehnya seseorang yang berpayung besar atau sejenisnya membuka payung di kraton. Kecuali keluarga raja yang bergelar pangeran boleh membuka payung di utara ringin kurung. Masyarakat lainnya hanya sampai pada galedhegan alun-alun.

 

Model payung yang digunakan oleh keluarga dan bangsawan Kraton Surakarta (sumber: http://www.kitlv.nl)

Peraturan-pertauran ini berlangsung hingga Surakarta memasuki dunia modern, tetapi masyarakat yang berkembang telah banyak merubah gaya dan penampilan mereka dalam hal berpakaian yaitu mengikuti mode barat yang terlihat lebih necis dan terlihat mengikuti perkembangan budaya baru dan pemikiran baru.

Perubahan Fashion (mode) Setelah Masuknya Kebudayaan Barat

Perubahan dalam hal berpakaian bagi masyarakat Jawa terutama di Surakarta tidak terlepas dari perkembangan industrialisasi yang telah menggejala pada akhir abad ke-19. Industri pakaian tidak lagi menjadi industri rumah tangga seperti pada masa-masa sebelumnya. Industri rumah tangga berupa pembuatan pakaian di Surakarta memang telah menjadi pekerjaan perempuan di Jawa. Pekerjaan tersebut meliputi kegiatan menenun dan menghias kain yang lebih terkenal dengan bahasa membatik.

 

Perempuan-perempuan di Surakarta sedang mengerjakan aktivitas membatik di sebuah halaman rumah tahun 1901-1902 (Sumber:http://www.kitlv.nl)

Produksi batik pada awal-awal akhir abad ke-19 dan memasuki abad ke-20 telah menunjukkan diri sebagai industri yang cukup besar baik secara kualitas produksi maupun penyerapan tenaga kerja dengan munculnya pusat industri batik di daerah Laweyan dan memunculkan saudagar-saudagar batik yang terkenal.[17] Di bawah ini tabel yang menunjukkan produktifitas perusahaan besar batik di Laweyan tahun 1930.

Tabel 5. Produktifitas Perusahaan Besar di Laweyan Tahun 1930[18]

Keadaan Produktifitas

Jumlah Tukang Cap

Produk Tiap hari

Jumlah Produk

Prosentase

3 bulan Keadaan ramai

8

360 potong

32400 potong

54%

7 bulan keadaan biasa

8

200 potong

18000 potong

30%

2 bulan keadaan sepi

8

120 potong

10000 potong

16%

Masuknya alat bantu berupa mesin jahit sebagai bagian modernisasi industri pakaian massal tidak serta merta mengubah cara pembuatan pakaian dari yang semula dikerjakan dengan tangan menjadi mempergunakan mesin. Pada beberapa bagian di industri pakaian pengerjaan dengan tangan masih terus dilakukan berdampingan dengan metode industri.[19]

 

Aktivitas industri pakaian jadi dengan menggunakan mesin jahit sebagai bagian dari modernisasi (Sumber: Majalah Pawartos Surakarta tahun 1940).

Menurut Ash dan Wright[20] terdapat beberapa komponen utama yang membentuk mode, yaitu produksi, komoditi, pemasaran, strata sosial dan pencitraan oleh media. Produksi pakaian di Surakarta sendiri telah berkembang dengan adanya industri batik dengan komoditas berupa kain batik dengan pemasaran yang cukup luas meliputi pulau Jawa diluar pulau Jawa. Penggunaan kain batik sebagai bahan pakaian dilakukan oleh berbagai golongan masyarakat dari tingkat strata sosial yang terendah hingga golongan raja dan bangsawan, yang membedakan hanya kualitas kain dan corak yang telah diatur oleh penguasa local Surakarta. Bahkan pada awal abad ke-20 masyarakat Belanda yang tinggal di Surakarta juga telah ikut menggunakan kain batik dan kebaya sebagai pakaian sehari-hari dan biasanya yang banyak menggunakan adalah kaum perempuan. Hal ini nampak pada gambar di bawah ini:

 

Miss A. Johan seorang guru Belanda bersama dengan putri Susuhunan Pakubuwana X di Kraton Surakarta menggunakan pakaian kebaya dan kain batik tahun 1926-1927 (Sumber:http://www.kitlv.nl)

Pencitraan mode pada masa awal abad ke-20 dilakukan melalui media massa yang terbit pada waktu itu. Pencitraan ini terutama dilakukan kepada mode pakaian barat yang menampilkan bentuk modernisasi yang sesuai dengan perubahan jaman. Pencitraan mode pakaian ini dilakukan melalui iklan-iklan tidak hanya iklan pakaian tetapi iklan-iklan lainnya menampilkan gambar-gambar seseorang dengan pakaian barat.[21] Hal ini terlihat pada iklan rokok dibawah ini yang termuat dalam surat kabar Kawan Kita Jang Toeloes terbitan Surabaya dan beredar di Surakarta tahun 1918.

 

Iklan rokok dengan seseorang berpakaian Eropa (Sumber: Surat Kabar Kawan Kita Jang Toeloes tahun 1918, Koleksi Bapak Bambang Surakarta)

Surat Kabar Pawartos Surakarta tahun 1940 menampilkan iklan seseorang Jawa dengan pakaian jas Eropa lengkap dengan dasi tetapi menggunakan tutup kepala gaya Surakarta. Perpaduan ini menunjukkan sebuah kombinasi gaya berpakaian antara gaya modern dan tradisional yang tidak ingin ditinggalkan oleh masyarakat Jawa. Hal ini dapat terlihat dalam gambar berikut:

 

Iklan tembakau Van Nelle, perhatikan pakaian yang digunakan oleh masyarakat dalam gambar iklan tersebut (Sumber: Majalah Pawartos Surakarta tahun 1940).

Perkembangan fashion (mode) pada awal abad ke-20 yang didukung oleh modernisasi dalam industri pakaian membawa perubahan-perubahan dalam hal jenis pakaian yang akan dipakai baik dalam dimensi tempat maupun waktu. Pengaruh ini dibawa oleh bangsa barat dengan memasukkan unsur-unsur pemakaian pakaian dengan mode dan waktu tertentu. Setiap waktu dan acara-acara resmi, masyarakat Surakarta mulai mengganti mode pakaian disesuaikan dengan aturan-aturan barat. Dari berbagai sumber terutama rekaman foto, pakaian yang dikenakan oleh masyarakat di Surakarta pada awal abad ke-20 tampil dalam dua model yaitu jenis pakaian tradisional dan pakaian modern. Pakaian modern adalah pakaian yang mengacu pada gaya pakaian Barat yang dianggap lebih maju dari segi teknologi. Pakaian jenis ini mempunyai ciri-ciri dan syarat-syarat pakaian untuk berbagai kesempatan, yakni pakaian rumah atau harian,  pakaian kerja (termasuk pakaian sekolah), dan pakaian resmi atau pesta.. Berikut ini akan dipaparkan macam-macam pakaian modern yang dipakai masyarakat di Surakarta.

Pakaian Harian

Pengertian pakaian harian atau pakaian rumah disini adaloah seperangkat pakaian yang dikenakan di rumah. Pakaian harian yang lazim digunakan oleh para perempuan Jawa pada awal abad ke-20 terdiri atas baju yang berbentuk kebaya,[22] kain panjang,[23]setagen,[24], alas kaki, dan kelengkapan atas berupa hiasan rambut yang berbentuk konde atau sanggul. Gaya pakaian tersebut dibuat dari kain lurik ataupun batik. Pakaian harian bias tampil dalam gaya yang utuh atau lengkap, namun seringkali tampil dalam gaya yang tidak lengkap. Sedangkan pakaian laki-laki menggunakan celana yang terbuat dari kain atau menggunakan kain sarung dan baju tanpa kancing di bagian depan dan terkadang menggunakan baju lurik. Golongan terpelajar biasa menggunakan celana sebatas lutut dan pakaian dengan kancing didepan dan terkadang menggunakan topi.

Gambar di bawah ini menunjukkan pakaian harian perempuan Jawa di Surakarta dengan menggunakan pakaian kebaya serta kain panjang dengan berbagai motif. Sedangkan gambar satunya menunjukkan para pria dan perempuan dengan pakaian sehari-hari. Pakaian laki-laki dengan gaya Eropa biasanya berwarna putih.

 

Para perempuan Jawa di Surakarta menggunakan pakaian sehari-hari berupa kain kebaya dan kain panjang pada awal abad XX

Pakaian harian di Surakarta berupa setelan berupa kain kebaya. Selain itu, pakaian harian yang juga telah lazim dipakai adalah rok Barat. Jenis pakaian itu dipakai oleh anak perempuan usia sekolah dan biasanya dari golongan bangsawan atau golongan orang-orang kaya dengan pendidikan barat. Kelengkapan yang dikenakan berupa alas kaki (sandal). Potongan rambut biasanya panjang ataupun pendek dengan hiasan berupa pita ataupun penjepit rambut. Model baju dengan potongan gaya modern berbahan tekstil buatan pabrik. Perhatikan gambar di bawah ini.

 

Para perempuan Jawa di Surakarta dengan pakaian gaya Eropa berupa rok dan baju berbahan tekstil pabrik (Sumber: Majalah Pawartos Surakarta tahun 1940).

Penggunaan pakaian sehari-hari gaya Barat pada anak-anak juga telah diterapkan terutama oleh golongan bangsawan dan priyayi-priyayi yang memiliki anak dan memberikan pendidikan barat kepada anak-anaknya. Foto di bawah ini menunjukkan pakaian Goesti Raden Adjeng Noeroel Kamaril Asjarati Koesoemawardani putri Mangkunegara VII telah menggunakan pakaian gaya Eropa berupa baju terusan berenda berlengan pendek dengan gaya rambut yang dipotong pendek. Sedangkan kedua orangtuanya Mangkunegara VII dan istrinya Ratoe Timoer menggunakan pakaian tradisional model Mangkunegaran. Hal lain yang terlihat adalah pakaian Mangkunegaran VII merupakan perpaduan gaya Barat dan tradisional dengan baju sikepan ageng, kain panjang yang diwiru serta dasi kupu-kupu sebagai aksesoris.

 

Goesti Raden Adjeng Noeroel bersama Ayah dan Ibunya, Mangkunegara VII dan Ratoe Timoer tahun 1924 (Sumber:http://www.kitlv.nl).

Gambar di bawah ini juga menunjukkan bagaimana remaja putri telah menggunkan rok dan baju berlengan pendek dengan rambut panjang yang diikat kelabang serta menggunakan alas kaki berupa sepatu, dan pria disampingnya menggunakan pakaian berlengan pendek dan bercelana pendek dengan gaya potongan rambut pendek serta memakai alas sepatu.

 

Goesti Raden Adjeng Siti Noeroel Koesoemowardini dan saudara laki-lakinya Raden Mas Saroso Notosoeparto (Mangkoe Nagoro VIII) di Soerakarta tahun 1935 (Sumber: http://www.kitlv.nl).

Selain itu pemakaian kain panjang pada tahun-tahun 1920-an dipakai hingga ke dada dengan dilengkapi oleh kemben (kain penutup dada), baik dengan baju atas atau tanpa baju atas merupakan hal yang biasa dipakai para perempuan terutama perempuan yang telah tergolong tua. Perhatikan gambar dibawah ini, yang melukiskan penggunaan kain hingga dada yang dilengkapi kemben.

 

Para perempuan tengah menjajakan dagangannya dengan pakaian berupa kain yang dipakai hingga ke dada di Surakarta tahun 1928 (Sumber: http://www.kitlv.nl)

Pakaian Kerja

Surakarta pada paruh pertama abad XX telah muncul menjadi kota yang penuh dengan pusat perkantoran dan pendidikan. Terutama administrasi pemerintah kolonial Belanda, Kerajaan Surakarta serta Mangkunegaran dan administrasi perkebunan. Banyak foto-foto yang merekam gaya pakaian seragam kerja serta pakaian siswa-siswa sekolah yang ada di kota Surakarta. Lembaga pemerintahan serta pendidikan merupakan lembaga yang memiliki peraturan-peraturan yang ketat dalam setiap aktivitasnya, oleh karena itu peraturan-peraturan mengenai model pakaian dalam lembaga pemerintahan baik kolonial maupun tradisional serta sekolah dapat memberikan gambaran bagaimana pakaian dapat membedakanstatus seseorang di Surakarta.

Perbedaan pakaian kerja dapat ditemukan pada sebuah iklan yang dikeluarkan oleh toko pakaian Sidho Madjoe. Iklan pakaian dalam bentuk bulletin yang dikeluarkan oleh toko Sidho Madjoe ini menggambarkan bentuk pakaian dan harga pakaian serta aksesoris yang digunakan sebagai pelengkap pakaian tersebut. Pakaian yang ditawarkan oleh toko Sidho Madjoe merupakan pakaian yang diperuntukkan bagi priyayi-priyayi (Groot-Ambtscostuums) buatInlandsche Ambtenaren tanah Jawa dan Madura.[25] Pakaian-pakaian tersebut terdiri dari jas, pantalon dengan warna putih dan hitam, dengan harga yang berbeda-beda sesuai dengan pangkat dan kedudukan dalam pemerintahan. Gambar berikut menunjukkan perbedaan pakaian dari pangkat yang tinggi hingga terendah bagi pejabat Hindia Belanda.

 

Merupakan pakaian dinas bagi pemerintah kolonial Belanda dari kanan ke kiri Pakaian Gubernur, Residen atau Asisten Residen van Billiton, Asisten Residen, Gewestelijk Secretaris, dan Controleur B.B. (Sumber: Prijscourant Tahoen 1940-1941, Toko Sidho Madjoe Solo Jawa Tengah).

Gambar di atas dapat diketahui perbedaan pakaian seragam dinas yang digunakan oleh pemerintah kolonial Belanda. Pakaian Gubernur dengan jas putih bergaris hitam dibagian kancing jas depan dan memiliki hiasan berupa bunga di ujung lengannya serta memakai pantalon putih bergaris hitam di bagian sisinya dilengkapi aksesoris pedang. Pakaian Residen atau Asisten van Billiton hampir sama dengan pakaian Gubernur hanya tidak menggunakan aksesoris pedang. Pakaian Asisten Residen hingga controleur B.B.hanya dibedakan oleh jas yang tidak memiliki garis hitam di bagian kancing serta ujung lengan yang motifnya semakin sedikit.

Pakaian yang diperuntukkan bagi Inl. Gouv. Ambtenaren juga memiliki perbedaan sesuai dengan tinggi rendahnya pangkat. Seseorang yang menjabat sebagai pejabat pemerintah Hindia Belanda harus memakai seragam dinas sesuai dengan pangkatnya begitu pula dengan aksesoris yang menyertainya. Perbedaan yang nyata dari pakaian dinas ambtenar Hindia Belanda adalah pada bagian jas kancing depan yang bermotif, bagian pundak belakang, ujung lengan baju, dan bagian bawah jas. Semakin tinggi pangkatnya maka semakin banyak hiasan yang menyelimuti pakaian tersebut. Kancing pakaian juga memiliki perbedaan baik dari bentuk maupun bahan yang digunakan, semua hal tersebut disesuaikan dengan hirarki kepangkatan dalam tubuh pemerintahan Hindia Belanda.[26] Berikut ini adalah gambar pakaian bagi Inl. Gouv.Ambtenaren di tanah Jawa dan Madura.

 

Dari atas kanan ke kiri bawah merupakan pakaian bagi Boepati-Pangeran, Boepati-Adipati GS, Boepati-Adipati, dan Boepati-Toemenggoeng (Sumber: Prijscourant Tahoen 1940-1941, Toko Sidho Madjoe Solo Jawa Tengah).

Perbedaan pakaian-pakaian tersebut juga diikuti dengan perbedaan harga secara kualitas bahan yang digunakan. Di bawah merupakan tabel harga pakaian-pakaian dari para ambtenar Hindia Belanda di Jawa dan Madura.

Tabel 6. Daftar Harga Pakaian Groot-Ambtscostuums oentoek Inl. Gouv.Ambtenaren di Tanah Jawa dan Madoera.[27]

HARGA-CREDIET

Compleet terpasang knoopen, boord, manchetten dan pasment asli

DIENTS-PET

Compleet

Boeat pangkat:

Jas

Pantalon

Stel

Item

Putih

  1. Boepati-Pangeran
  2. Boepati-Adipati GS.
  3. Boepati-Adipati
  4. Boepati-Toemenggoeng
  5. Patih
  6. Wedana
  7. Assitent-Wedana
  8. Mantri Politie
  9. Reg. Secretaris klas I
  10. Reg. Secretaris klas II
  11. Mantri Kaboepaten
  12. Hoofd-Djaksa
  13. Djaksa (Adj. Hfd. Djaksa)
  14. Adjunt-Djaksa

172,-

160,-

144,-

136,-

92,-

80,-

48,-

36,-

80,-

48,-

36,-

80,-

60,-

48,-

44,-

40,-

40,-

40,-

34,-

32,-

24,-

22,-

32,-

24,-

22,-

32,-

24,-

24,-

216,-

200,-

184,-

176,-

126,-

112,-

72,-

58,-

112,-

72,-

58,-

112,-

84,-

72,-

20,-

18,-

18,-

18,-

14,-

13,-

11,-

10,-

13,-

11,-

10,-

13,-

12,-

12,-

10,50,-

10,50,-

10,50,-

10,50,-

8,50,-

8,50,-

7,75,-

7,75,-

8,50,-

7,75,-

7,75,-

8,50,-

8,50,-

8,50,-

Boeat Pangkat:

Jas

Model djobah

Songsong

  1. Hoofd-Pengoeloe
  2. Pengoeloe (Landraad)
  3. Adj. Pengoeloe (Naib)

80,-

60,-

48,-

92,-

72,-

60,-

20,-

20,-

16,-

Pakaian kerja bagi abdi dalem kerajaan Surakarta dan Mangkunegara juga memiliki perbedaan sesuai dengan tingkat kebangsawanannya, tetapi biasanya para abdi dalem kerajaan Surakarta dan Mangkunegara memakai pakaian tradisional berupa beskap dan kain panjang serta memakai tutup kepala berupa kulukatau blangkon. Para abdi dalem wanita biasanya memakai kebaya dan kain panjang serta ada pula yang memakai kemben. Gambar di bawah ini menunjukkan pakaian abdi dalem Kraton Kasunanan Surakarta.

 

Para abdi dalem perempuan kraton Surakarta dengan pakaian kerja berupa pakaian lurik dan jarit (Sumber: Majalah Pawartos Surakarta tahun 1940).

Pakaian kerja yang berubah adalah pakaian seragam militer yang terdapat di kerajaan Surakarta dan Mangkunegaran. Pakaian seragam militer di keraton Surakarta dan Mangkunegaran telah mengadopsi pakaian militer modern dengan baju seragam ala Barat. Seragam militer Kraton Surakarta memadukan unsur pakaian seragam militer Barat dengan baju dan celana pendek ditambah unsur tradisional dengan kain batik yang dililitkan dipinggang menjuntai dibagian depan celana serta aksesoris berupa topi. Selain itu juga masih digunakannya pakaian tradisional bagi prajurit kraton Surakarta dengan bertelanjang dada dan hanya memakai celana pendek serta kain dengan aksesoris sebuah topi. Sedangkan pakaian seragam militer Mangkunegaran (legiun Mangkunegaran) secara total menyerap pakaian seragam militer barat, dengan baju dan pantalon. Perhatikan gambar di bawah ini.

 

Prajurit legiun Mangkunegaran dengan pakaian seragam militer Barat lengkap dengan jas, pantalon, topi dan sepatu tahun 1900 (Sumber: http://www.kitlv.nl).

 

Prajurit Kraton Surakarta dengan pakaian seragam militer perpaduan antara pakaian model Barat dan Tradisional tahun 1900 (Sumber: http://www.kitlv.nl).

Pakaian kerja yang digunakan oleh masyarakat umum biasanya terdiri dari pakaian harian berupa kebaya dan kain bagi perempuan dan baju serta celana pendek bagi pria. Masyarakat umum tidak terikat dengan seragam dalam bekerja dikarenakan sebagian besar adalah petani, pedagang yang tidak terikat dengan peraturan pemakaian pakaian seperti pekerja di kantor pemerintahan kolonial, maupun abdi dalem kerajaan. Hal ini ditunjukkan oleh gambar berikut.

 

Masyarakat sedang bekerja membatik di sebuah desa di Surakarta tahun 1901-1902 (Sumber: http://www.kitlv.nl)

Pakaian Sekolah

Pendidikan merupakan bagian terpenting dari kemajuan dan perkembangan kota Surakarta pada masa kolonial. Munculnya sekolah-sekolah bagi masyarakat juga diikuti dengan aturan-aturan yang menyertainya, terutama dalam hal berpakaian. Pakaian sekolah memiliki aturan yang berbeda-beda sesuai dengan kepemilikan sekolah tersebut. Pakaian sekolah bagi anak-anak bangsawan berbeda dengan anak-anak masyarakat umum lainnya. Anak-anak bangsawan atau priyayi biasanya bersekolah di sekolah milik pemerintah kolonial Belanda, sehingga aturan berpakaian akan mengikuti aturan di sana.

Pakaian sekolah pada masa kolonial Belanda memang terbagi menjadi dua yaitu pakaian sekolah rakyat kebanyakan dan pakaian sekolah Eropa. Pakaian sekolah rakyat kebayakan biasanya murid-murid perempuan menggunakan kebaya dan jarik, sedangkan pria memakai baju dan jarik. Perhatikan gambar dibawah ini.

 

Pakaian sekolah masayarakat umum dengan kebaya dan jarik untuk perempuan, baju lurik dan jarik bagi pria (Sumber: Koleksi Pribadi).

Pakaian sekolah bagi anak-anak priyayi yang bersekolah di sekolah-sekolah milik pemerintah kolonial biasanya memakai pakaian gaya Eropa, rok dan blouse bagi perempuan serta kemeja dan celana pendek atau panjang bagi pria. Pakaian guru-guru di sekolah-sekolah milik pemerintah kolonial kebanyakan menggunakan pakaian Eropa dengan kemeja dan celana panjang bersepatu. Gambar di bawah ini menunjukkan pakaian guru-guru di sekolah Christelijke Hollands-Inlandse Kweekschool Surakarta.

 

Para guru di sebuah sekolah milik pemerintah kolonial Belanda (Sumber: http://www.kitlv.nl).

Pakaian Resmi

Pada masa kolonial Belanda untuk acara-acara resmi seperti perjamuan makan, pernikahan, maupun penyambutan pejabat pemerintah kolonial pakaian yang digunakan biasanya pakaian yang telah ditetapkan oleh aturan-aturan yang jelas. Kaum perempuan biasanya menggunakan kebaya bagi perempuan pribumi dan gaun terusan ataupun baju dan rok dengan mode yang modern digunakan oleh perempuan Eropa. Pakaian pria biasanya menggunakan seragam sesuai dengan pangkat dan jabatannya, sedangkan pria-pria Eropa menggunakan jas dan celana panjang serta dasi yang beraneka ragam. Gambar di bawah menunjukkan penampilan seseorang dalam perjamuan makan bagi pejabat kolonial Belanda.

 

Perjamuan makan malam bagi Gubernur Jendral K.J.A. Orie di Istana Mangkunegaran tahun 1941 (Sumber: http://www.kitlv.nl)

Pakaian resmi lain dalam perhelatan pesta-pesta pernikahan bagi masyarakat Surakarta masa kolonial biasanya kaum perempuan menggunakan kain kebaya dengan bahan berkualitas baik dengan kain yang di wiru, selendang, dan aksesoris perhiasan. Sedangkan kum laki-laki menggunakan pakain Jawa lengkap (jas beskap, kain yang di wiru, blankon) dan juga terkadang memakai pakaian gaya Eropa yaitu jas, celana panjang, serta dasi.

 

Keluarga K.P.H. Tjokrokoesoemo dalam sebuah pesta perkawinan tahun 1940 (Sumber: Majalah Pawartos Surakarta tahun 1940).

Perkembangan fashion (mode) pakaian dan pengaruh kebudayaan asing di Surakarta masa kolonial telah membawa sebuah implikasi-implikasi yang tidak sedikit. Implikasi-implikasi ini tertanam dalam sebuah bentuk perilaku yang harus dilakukan sesuai dengan apa yang dipakai. Perkembangan fashion (mode) pakaian di Surakarta masa kolonial juga mempengaruhi sebuah debat-debat mengenai perkembangan pakaian dan pengaruh asing terhadap etika berpakaian di Surakarta. Selain itu juga munculnya budaya politik dengan bentuk diskriminasi maupun simbolisasi perlawanan melalui pakaian yang dilakukan oleh penguasa kolonial maupun penguasa lokal di Surakarta.

 


[1] Umar Kayam, “Tranformasi Budaya Kita, dalam Kedaulatan Rakyat, Senin 22 Mei 1989.

[2] Sartono Kartodirdjo, Perkembangan Peradaban Priyayi, (Yogyakarta: Gajah Mada University Press, 1987), hal. 166.

[3] W.F. Wertheim, Masyarakat Indonesia dalam Transisi: Studi Perubahan Sosial, (Yogyakarta: Tiara Wacana, 1999), hal. 236.

[4] Jennifer Craik, The Face of Fashion: Cultural Studies in Fashion, (London/New York: Routledge, 1994), hal. 5.

[5] Sartono Kartodirdjo, dkk., Sejarah Nasional Indonesia 1, (Jakarta: Balai Pustaka, 1977), hal. 276.

[6] Menurut Leslie (1991), Joshi (1991) dan Bayly (1986) mencatat perbedaan ideologis penting antara pakaian yang dijahit dan yang tidak dijahit bagi kaum Hindu. Pakaian yang tidak dijahit dianggap lebih suci. Para pria tidak diperbolehkan memasuki bagian dalam kuil memakai celana; dhuti dan sari merupakan pakaian yang disyaratkan untuk ritus-ritus seremonial seperti pernikahan dan ziarah keagamaan, dalam Jean German Taylor, “Kostum dan Gender di Jawa Kolonial tahun 1800-1940”, dalam Henk Schulte Nordholt (ed.), Outward Appearances: Trend, Identitas, Kepentingan, (Yogyakarta: LKiS, 2005), hal. 131.

[7] Anthony Reid, Asia Tenggara Dalam Kurun Niaga 1450-1680. Jilid 1: Tanah di Bawah Angin, (Jakarta: YOI, 1992), hal. 99.

[8] Ibid., hal. 100.

[9] Dwi ratna Nurhajarini, “Perkembangan Gaya Pakaian Perempuan Jawa Di Kota Yogyakarta Pada Awal Sampai Pertengahan Abad XX”, Tesis S-2, (Yogyakarta: Program Pasca Sarjana UGM, 2003), hal. 73.

[10] Jean German Taylor, “Kostum dan Gender di Jawa Kolonial tahun 1800-1940”, dalam Henk Schulte Nordholt (ed.), Outward Appearances: Trend, Identitas, Kepentingan, (Yogyakarta: LKiS, 2005), hal. 121.

[11] Kees van Dijk, “Sarung, Jubah dan Celana: Penampilan Sebagai Sarana Pembedaan dan Diskriminasi”, dalam Henk Schulte Nordholt (ed.), Ibid., hal. 66.

[12] Ibid., hal.

[13] Ibid., hal. 65.

[14] Ibid., hal. 73.

[15] Jean German Taylor, op. cit. hal. 133.

[16] Naskah No. 7 mengenai undang-undang tentang larangan pemakaian busana tertentu bagi keluarga raja, pejabat kerajaan dan rakyat kecil di wilayah Keraton Kasunanan Surakarta. Undang-undang ini dikeluarkan oleh Susuhunan Pakubuwana IV (1788-1820), dalam S. Margana, Kraton Surakarta dan Yogyakarta 1788-1880, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2005), hal. 289-292.

[17] Menurut Soedarmono bahwa industri batik di laweyan memproduksi batik cap yang terdiri dari batik kasar, menengah (dagel), batikan cap atau tulis halus. Produksi batik-batik ini lebih diutamakan pada pelayanan kebutuhan batik sandang bagi rakyat daripada batik jenis tulis halus, Soedarmono, “Munculnya Kelompok Pengusaha Batik Di Laweyan Pada Awal Abad XX”, Tesis, (Yogyakarta: Fakultas Pasca Sarjana UGM, 1987), hal. 16-46.

[18] P. De Kat Angelino, Batikrapport II, (Weltrevreden: Landsdrukkeerij, 1930), hal. 133. Koleksi Perpustakaan Sanapustaka Kraton Surakarta.

[19] Herman Jusuf, “Industri Mode: Sinergi Desain, Manufaktur, dan Pencitraan” dalam Kompas, 20 Maret 2005.

[20] Ibid.

[21] Lihat Bedjo Riyanto, Iklan Surat Kabar dan Perubahan Masyarakat di Jawa Masa Kolonial (1870-1915), Yogyakarta: Tarawang, 2000, untuk pembahasan mengenai pencitraan sebuah produk melalui iklan.

[22] Kebaya adalah model pakaian perempuan dengan bukaan baju di sebelah depan.

[23] Kain panjang adalah sehelai kain yang berukuran lebih kurang 2,25 X 1 meter, terbuat dari kain mori, sutera atau kain katun dan kain jenis lainnya. Kain tersebut umumnya berupa kain batik atau lurik.

[24] Stagen adalah sepotong kain yang panjang, terbuat dari katun yang kuat. Panjang kain untuk stagen mencapai 12 meter dengan lebar kira-kira 12,5 centimeter. Fungsinya sebagai pengikat kain atau sarung pada pinggang.

[25] Prijscourant Tahoen 1940-1941, Toko Sidho Madjoe Solo Jawa Tengah, hal. 1.

[26] Ibid.

 

1900

 

Picture postcard of Pangeran  Ngabehi solo 1900

 

Compare with the same place now

 

nDalem Hangabehi Kasunanan Surakarta

A pavilliun next to Sasono Mulyo. Used by the crowned prince Hangabehi in the 19th century, now used by prince Dipokusumo. Several ornaments might have changed but most of the parts of the house are relatively quite similar to as it was.

————————————————————-

nDalem Hangabehi ini terletak di samping Sasono Mulyo, sekarang dipergunakan untuk tempat tinggal keluarga GPH Dipokusumo. Ornamen burung yang mengepakkan sayap sudah tidak ada. Tapi selebihnya masih mempertahankan bentuk bangunan aslinya

 

 

 

 

Pendopo Mangkunegaran 1900

 

Princess Of susuhunan Pakoeboewono X Surakarta in 1900

 

lower garment, circa 1900. cotton, from Surakarta, Java.

 

 

 

DEI Padang City  Wapen

 

Toko A.H. tunneberg milik keluarga J.Boon, took serba ada pada awal abad ke-20 yang iklannya ada dalam surat kabar terbitan Padang masa hindia belanda sinar Sumatra dan warta berita dll. Toko ini menjual barang impor seperti  sepeda jam,alat music dan gramofon.

Kakek saya punya jam saku merk Junghans,mungkin berasal dari took ini yang lokasinya disamping rumahnya, kakek tersebut kami pangil engkong tanah lapang.

Toko ini juga menerbitkan kartus Pos bergambar yang memiliki tulisan agenschaap  Ne.Indie sport maatscapij  dan dibawahnya ada tulisan Rijwelhandel A.H.Tuuelberg.lihat kartu pos diatas yang dicetak tahun 1899. Kartus pos ini diterbitkan dalam rangka promosi olah raga sepeda yang kelihatan dari deretan sepeda didepan took yang merknya Fonger

Betul kata tukang rabab pariaman Amir Hosen

Lakuak Ubahnya tabingnya tinggi

Padang gantiang duo basimpang

La batandiang Honda jo Suzuki

Tampak tacia releigh Usang

 

Between 1900 and 1932,


when many Chinese organizations stand with political overtones two organizations HTT and HBT  stand in the middle as a socio-cultural organization that is not politically aligned at all.

 

1900

Film di Indonesia masa colonial

Gambar Idoep tiba di Betawi
Sumber 
<http://petualangwaktu.multiply.com/photos/hi-res/upload/RgtkNwoKCq8AAHL

 

Tanggal 5 Desember 1900 warga Betawi utuk pertama kalinya dapat melihat "gambar-gambar idoep" atau Pertunjukan Film. Pertunjukan iniberlangsung di Tanah Abang, Kebonjae.
 Film pertama yang ditampilkanadalah sebuah dokumenter yang terjadi di Eropa & Afrika Selatan, jugadiperlihatkan gambar Sri Baginda Maha Ratu Belanda bersama Yang MuliaHertog Hendrig memasuki kota Den Haag.
Bioskop yang terkenal saat itu antara lain adalah dua bioskopRialto di Tanah Abang (kini bioskop Surya) dan Senen (kini menjadigedung Wayang Orang Baratha) serta Orion di Glodok. 
Saat itu bioskopdibagi-bagi berdasarkan ras, bioskop untuk orang-orang eropa hanyamemutar film dari kalangan mereka sementarabioskop untuk pribumi &tionghoa selain memutar film import juga memutar film produksi lokal.Kelas pribumi mendapat sebutan kelas kambing, konon hal ini disebabkankarena mereka sangat berisik seperti kambing.
 

 

 

 

Koleksi foto Indonesia tahun 1900

 

 

 

 

Micheill spleen(lapangan tugu)  kota Padang 1900

 

 

 

Emmahaven(Teluk Bayur) in 1900

 

 

Moeara Araoe River Padang in 1900

 

 

The Painting of Moeara Arau river Padang 1900  by Jhr Cornelius rappard

 

Padang city where ? I cannot identified

 

 

Lithography Padang westsumatra city 1900  by

Charles William Meredith van de Velde this collection only  all collections

 

 

 

Native padang women in 1900

 

 

Sekolah Tionghoa Hwee koan di Padang  1900

 

Adabiah School in 1900

 

 

 

 

Minangkabau House brass model  in 1900

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Michele spielen now lapangan Tugu Padang in 1900

 

 

 

Lubuk Paraku 1900

 

Muara batang arau park in 1900

 

 

 

 

 

 

Gezelschap in het Stormpark te Padang Sumatra`s We in 1900

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Minag sarong(kain panjang)

 

 

 

 

 

 

 

Selndang balapak minangkabau shoulder  cloth

 

 

 

Minangkabau selendang shoulder cloth

 

 

 

 

Minang headcloth or scarf

 

 

 

Kain Panjang saruang minangkabau

 

 

 

Saruang kain panjang minangkabau

 

 

 

 

 

Saluak head cloth Minangkabau

 

 

 

Scarf salendang minangkabau

 

 

Minangkbau Women head dress

 

 

 

Minangkabau keris dagger

 

 

 

 

 

 

Galang gadang Minangkabau  goldwomen brecelete

 

 

Tepian Singkarak Tahun 1900

 

 

Di Lubuk Paraku Tahun 1890

 

 

Solok Tahun 1900

 

 

Rumah gadang di Singkarak Tahun 1890

 

 

Jembatan Ombilin di Singkarak Tahun 1920

 

 

Sungai Lasi 1900

 

 

Kolam Air Panas di Cupak Talang solok 1900

 

 

 

Masjid di Muara Labuh Tahun 1900

 

 

Asisten Residen Solok Tahun 1900

 

 

Stasiun Sungai Lasi Solok  1900

 

 

Keluarga Eropa di sebuah Hotel di Talang Solok 1900

Para ulama Minangkabau sejak tahun 1900-an cenderung lebih berfokus pada pendidikan dan aktivitas intelektual daripada perlawanan fisik.

Gerakan modernisme Islam di Timur Tengah, yang antara lain digerakkan oleh Syekh Muhammad Abduh dan Syekh Rasyid Ridha, juga berimbas pada alim ulama Minangkabau di masa itu. Para ulama reformis di Sumatera Barat disebut juga disebut juga “Kaum Muda”, sedangkan para ulama pendukung tradisi disebut “Kaum Tua”.[23][28]

Syekh Ahmad Khatib Al-Minangkabawi (1860–1916) adalah seorang ulama kelahiran Koto Gadang, Agam, yang menjadi imam besar non-Arab pertama di Masjidil Haram, Mekkah.[29] Ia merupakan guru bagi ulama-ulama besar nusantara pada zamannya, dan sangat kritis terhadap adat-istiadat dan praktik tarikat yang dianggapnya bertentangan dengan ajaran agama.[29] Seorang sepupunya, Syekh Tahir Jalaluddin (1869-1956), juga banyak menganjurkan gagasan pembaharuan dan menerbitkan majalah reformisme Islam Al-Imam (1906) di Singapura yang isinya sejalan dengan majalah Al-Manar terbitan Rasyid Ridha di Mesir.[23]

 

Syekh Muhammad Jamil Jambek (1860-1947) adalah salah seorang pelopor ulama reformis di Minangkabau.[28] Ia banyak menganjurkan pembaharuan dan pemurnian Islam melalui ceramah atau dakwah secara lisan, serta menulis buku-buku yang menentang praktik tarikat yang berlebihan.[28]

Haji Abdul Karim Amrullah (juga dipanggil Haji Rasul atau Inyiak Doto, 1879–1945) berasal dari Sungai Batang, Maninjau adalah tokoh lainnya yang mendirikan sekolah Islam moderen Sumatera Thawalib (1919), dan bersama Haji Abdullah Ahmad (1878–1933) merupakan orang Indonesia terawal yang mendapat gelar doktor kehormatan dari Universitas Al-Azhar, Mesir.[30]

Selain itu Haji Abdullah Ahmad juga menerbitkan majalah Al-Munir(1911) di Padang, yang mengusung ide kesesuaian Islam dengan sains dan rasionalitas moderen.[23] [28]

Ulama lainnya Syekh Ibrahim Musa (Inyiak Parabek, 1882-1963), berasal dari Parabek, Bukittinggi, turut mendirikan Sumatera Thawalib; di mana Syekh Ibrahim Musa mengelola sekolah cabang di Parabek, Bukittinggi, sedangkan Haji Rasul mengelola cabang diPadangpanjang.[28]

Syekh Muhammad Saad Mungka (1857-1942) adalah ulama pendukung tradisi tarikat, yang pernah dua kali mukim di Mekkah (1884-1900 dan 1912-1915).[28] Ia sezaman dengan Syekh Ahmad Khatib, dan keduanya terlibat polemik mengenai tarikat.[28]

Syekh Khatib Ali dan Syekh Muhammad Dalil (juga dipanggil Syekh Bayang, 1864–1923) adalah tokoh-tokoh polemik ulama pendukung tradisi yang cukup menonjol. Di sisi lain, Syekh Abbas Qadhi dari Ladang Laweh melakukan modifikasi pendidikan surau, dengan mendirikan pendidikan dasar bersistim sekolah Arabiyah School.[28]

Ia meminta Syekh Sulaiman Ar-Rasuli (juga dipanggil Inyiak Canduang, 1871-1970) membuka sekolah pada tingkat yang lebih tinggi, sehingga Syekh Sulaiman mendirikan Madrasah Tarbiyahuntuk menampung lulusan Arabiyah School.[28] Syekh Sulaiman juga mengajak Syekh Abdul Wahid dari Tabek Gadang, Syekh Muhammad Jamil Jaho dari Padang Panjang, dan Syekh Arifin Al-Arsyadi dari Batuhampar untuk mengembangkan pendidikan bersistim sekolah.[28] Persatuan Tarbiyah Islamiyah (Perti) (1930) kemudian menjadi organisasi wadah dalam mengembangkan pendidikan di kalangan mereka.[28]

Keprihatinan atas kondisi sosial, politik, dan ekonomi pasca kemerdekaan Indonesia dan di Sumatera Barat pada khususnya, membuat ketegangan antara kedua kelompok ulama tersebut kemudian memudar.[31] Kedua kelompok kemudian bertemu tanggal 10 Desember 1950, disusul dengan konferensi besar mubaligh dan alim ulama pada 21-23 April 1951.[31] Konferensi ini dihadiri wakil-wakil ulama dari hampir semua daerah di Sumatera Barat, serta sedikit dari Riau dan Jambi, yang umumnya adalah ulama yang berasal dari atau pernah belajar di Sumatera Barat.[31]

 

Diputuskanlah misi bersama untuk mencerdaskan kehidupan para pemuda melalui pendidikan Islami, sehingga mereka bersatu dan mendirikan suatu sekolah tinggi Perguruan Tinggi Islam Sumatera Tengah.[31]

Para pemuka kedua kelompok, seperti Ibrahim Musa Parabek, Sulaiman Ar-Rasuli, Mansyur Daud Dt. Palimo Kayo, Darwis Dt. Batu Besar, Nazaruddin Thaher, Saaduddin Jambek, dan A. Malik Sidik kemudian bersama-sama terlibat dalam kepengurusannya.[31]

Menantu dan anak Haji Rasul, yaitu AR Sutan Mansur (1895–1985) dan

 

 

Buya Hamka; ulama Minangkabau abad ke-20

Abdul Malik Karim Amrullah (Hamka, 1908-1981),

kemudian juga menjadi ulama terkenal. AR Sutan Mansur adalah seorang ulama yang pernah memimpin Muhammadiyah.[32]

Sementara itu Hamka selain menjadi pemimpin Muhammadiyah (1953-1971) juga dikenal sebagai ulama internasional serta juga seorang sastrawan. Dia dianugerahi gelar Pahlawan Nasional Indonesia oleh Pemerintah Indonesia atas jasa-jasanya dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia.[30]

 

 

 

 

 

 

Mohammad Natsir (1908-1993)

adalah seorang ulama sekaligus tokoh pejuang kemerdekaan Indonesia kelahiran Alahan Panjang, Lembah Gumanti, Kabupaten Solok.[33]

Ia pernah menjabat sebagai Presiden Liga Muslim se-Dunia, Ketua Dewan Masjid se-Dunia serta pemimpin partai politik Masyumi, serta pernah menjadi Perdana Menteri Indonesia.[33] Natsir dianugerahi gelar Pahlawan Nasional Indonesia atas jasa-jasanya dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia, meskipun sebelumnya pernah bergabung dengan PRRI tahun 1958 untuk menentangDemokrasi Terpimpin di masa Orde Lama, dan sebagai pembangkang penanda-tangan Petisi 50 di masa Orde Baru.[33][34][35]

 

d. Periode 1900 – 1960 M

Mulai tahun 1900 Belanda mulai melirikkan matanya terhadap pertenunan Silungkang. Belanda mulai menyediakan bahan baku untuk pertenunan seperti benang yang didatangkan dari berbagai negeri seperti Jepang, Inggris, Cina. Apakah saat itu Belanda juga mendatangkan celup kimia, entahlah. Tapi Belanda juga memodifikasi alat-alat tenun menjadi seperti yang dipakai sekarang. Pada tahun 1924 orang Silungkang diajarkan juga cara memakai celup kimia. Pada tahun 1910 dua orang Silungkang dibawa oleh Gubernur General Vanderbergstroom untuk pameran kain songket di Brussel Belgia. Menurut keterangan orang Silungkang yang pulang dari Negeri Belanda, sampai sekarang kain songket Silungkang masih tersimpan di museum negeri Belanda. Piagam dari Negeri Belanda itu juga masih tersimpan baik, juga ada di Bapak Umar Melayu dan pada Bapak Rivai Murad Dalimo Godang. Ibu-ibu yang pergi pameran itu pertama bernama Baiyah, kampung Melayu dan Bainsyah serta Dt. Mangkuto Sati, Kepala Stasiun Silungkang yang berasal dari Paninjauan Solok, beliau juga sangat peduli terhadap pertenunan Silungkang.

 

Medali dari Ratu Belgia

Dari tahun 1900 sampai hari ini kain tenun Songket Silungkang seringkali mengalami pasang naik dan pasang surut. Pada tahun 1926-1929 sewaktu harga karet mahal, kain tenun Songket Silungkang sangat laku dijual ke daerah Jambi, Koto baru, Teluk Kuantan, Palembang, Medan bahkan sampai ke Pulau Jawa. Menurut buku Konferensi Silungkang 1938 diawal abad ini jumlah tenun Songket di Silungkang mencapai 1200 buah. Pada Tanggal 1 Juli tahun 1938 dibentuk badan urusan pertenunan Silungkang dengan nama K.O.T.S (KANTOR OEROESAN TENOENAN SILOENGKANG). Tugasnya semata-mata mengurusi masalah pertenunan dan berupaya untuk meningkatkan pertenunan Silungkang. Dengan adanya badan diatas, maka pemerintah dapat bekerja sama memajukan kain tenun Silungkang.

Mulai dari tahun 1900 produksi kain tenun Silungkang tidak saja sarung songket tapi sudah beraneka ragam jenis produksi, seperti kain kafan, kain bantal kursi, bahan baju, sapu tangan, selendang, ikat kepala, ikat pinggang lelaki, sarung pucuk, dan kain bola buluah yaitu kain penutup jenazah dan lain-lain. Pada masa itu sebagai pembeli utama kain songket Silungkang selain orang Indonesia dan orang Tionghoa, ada pembesar Belanda yang akan pulang ke negaranya, mereka membeli kain songket Silungkang untuk menjadi oleh-oleh pulang ke kampungnya.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Native Toeankoe Koto Gadang  with children in 1900

 

 

 

Maninjau man kajeinan 1900

Micheill spleen(tugu) 1900

 

 

 

 

Fort de Cock Boekitinggi –maninjaoe  road with native horse carriage”bendi “

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Ngarai Sianok Canyon”Karbouwengat” Fort de Cock Boekittingi

 

 

Fort de Cock Boekittinggi Manindjaoe road

 

 

Bative Minang Fort de Cock Boekitinggi childrens in the front of their house

 

 

Mosque”Soeraoe” Fort de Cock Boekittinggi

 

The Car on Fort de Cock boekittinggi road

 

 

 

Minang traditional House at Fort de Cock Boekittinggi

 

 

Lawang Matoer Minang native house in 1900

 

 

The river at the base of Ngarai sianok “karbouwengat”canyon Boekittinggi in 1900

 

 

 

Ngarai Sianok”Karbouwengat”Canyon Boekittinggi  road to Matoer in 1900

 

 

Road to Matoer at Ngarai sianok in 1900

 

 

Ngarai sianok”Karbouwengat” canyon Boekittinggi in 1900

 

 

Ngarai sianok”Karbouwengat” canyon Boekittinggi in 1900

 

 

Merapi Mount fort de Cock Boekittinggi in 1900

 

 

 

Merapi Agam Mount painting by J.C.Poortenaar(1886-1956)

 

 

Merapi Mount seen from Fort de Cock boekittinggi

 

 

Taloek Boekittinggi Village 1900

 

 

 

Soengai Ombilin sawahloento in 1900

 

 

Talang river minagkabau in 1900

 

1901

Tahun 1901 Belanda mendirikan klub sepakbola di kota Padang dengan nama Padangsche Voetbal Club (PSV), konon merupakan klub sepakbola tertua di Indonesia.
Beberapa tahun kemudian muncul enam tim berikutnya, termasuk tiga tim beranggotakan warga etnis Minang dan satu klub dari kesatuan tentara yang bernama Sparta. Julukan ini mengambil nama dari legenda Yunani, menggambarkan sosok-sosok tangguh dan suka perang, hingga populer dijadikan nama tim sepakbola di lingkungan tentara Hindia Belanda saat itu.

Sumber

http://aswilnazir.com/2009/10/14/dari-plein-van-rome-hingga-lapangan-imam-bonjol/

 

 

1901

 

Military leaders and Dutch politicians said they had a moral duty to free the Indonesian peoples from indigenous rulers who were oppressive, backward, or did not respect international law.[10]Although Indonesian rebellions broke out, direct colonial rule was extended throughout the rest of the archipelago from 1901 to 1910 and control taken from the remaining independent local rulers.[11]Southwestern Sulawesi was occupied in 1905–06, the island of Bali was subjugated with military conquests in 1906 and 1908, as were the remaining independent kingdoms in Maluku, Sumatra, Kalimantan, and Nusa Tenggara.[12][7] Other rulers including the Sultans of Tidore in Maluku, Pontianak (Kalimantan), andPalembang in Sumatra, requested Dutch protection from independent neighbours thereby avoiding Dutch military conquest and were able to negotiate better conditions under colonial rule.[13]The Bird’s Head Peninsula (Western New Guinea), was brought under Dutch administration in 1920. This final territorial range would form the territory of the Republic of Indonesia.

16 April 1901

Isteri tengku Besar Amaludin dari Deli(tengku Maheran meninggal dunia tidak berapa lama setelah melahirkan putranya Tengku Otteman

1902

 

Panthaleon Emile Hajenius (Rotterdam, 25 januari 1874 Leeuwarden, 29 oktober 1939) was een Nederlands kolonel derinfanterie en hoofd van de luchtbeschermingsdienst te Leeuwarden, onder meer ridder in de Militaire Willems-Orde. Hajenius volgde de Koninklijke Militaire Academie en slaagde in juli 1897 voor zijn examens; hij werd vervolgens bij Koninklijk Besluitvan augustus van dat jaar benoemd tot tweede luitenant bij het zesde regiment der infanterie. Bij dit regiment won hij in februari 1900 de zesde prijs bij degengevechten; hij werd bij Koninklijk Besluit van 8 augustus 1901 voor de tijd van vijf jaar gedetacheerd bij het Indische leger, waar hij werd geplaatst bij het elfde bataljoninfanterie en in december 1902 een verlof van één maand kreeg naar Soekaboemi en Sindanglaja.

 

1903

13 Mei 1903

Sultan deli Ma’mun mendirikan

 

kantor  kerapatan besar (Kantor Sultan deli)

 

anggotaPengadilan sultan deli,disitana Maimoon Medan

Pada mas pemerintaahan beliau banyak didirikan fasilitas umumlainnya untuk kemajuan masyarakat dan mesjid-mesjid  yang berjumlah 800 buah  demi kepentingan menyiarkan agama islam dan atas jasa besar kepada belanda beliau mendapat penghargaan

 

Knight Order of the Dutch Lion dari pemerintah belanda

Setelah tiga tahun isteri sultan Ma’mun meninggal, putranya Tengku Besar amaludin  menikah  dengan Encek maryam  yang kemudian diangkat jadi encek Negara.

Sultan  Aceh M. Dawud

akhirnya meyerahkan diri kepada Belanda pada tahun 1903 setelah dua istrinya, anak serta ibundanya terlebih dahulu ditangkap oleh Belanda. Kesultanan Aceh akhirnya jatuh seluruhnya pada tahun1904. Saat itu, hampir seluruh Aceh telah direbut Belanda.

Sultan Aceh

Sultan Aceh merupakan penguasa / raja dari Kesultanan Aceh, tidak hanya sultan, di Aceh juga terdapat Sultanah / Sultan Wanita. Daftar Sultan yang pernah berkuasa di Aceh dapat dilihat lebih jauh di artikel utama dari Sultan Aceh.

Tradisi kesultanan

GELAR-GELAR YANG DIGUNAKAN DALAM KERAJAAN ACEH

 

Read the complete info at

Dr Iwan CD-ROM

The Aceh History Collections

 

1903

 

 

Tionghoa marchant at Medan belawan harbor in 1903

1903

Under the Decentralization Act (Decentralisatiewet) issued in 1903 and the Decree on decentralization (Decentralisasi Besluit) and the Local Council Ordinance (Ordinance Raden Locale) from the date of 1 April 1906 set as the gemeente (municipality) the governing otonomom. The decision further strengthens the function of the city of Bandung as a center of government, especially Dutch Colonial government in Bandung. Originally Gemeente Bandung
Led by the Assistant Resident Priangan as Chairman of the Board of the City (Gemeenteraad), but since 1913, led by burgemeester gemeente (mayor).

 

 

J. B. van Heutsz

 

 

Portrait of J. B. van Heutsz by Hannké

J. B. (Joannes Benedictus) van Heutsz (February 3, 1851,Coevorden, Drenthe – July 11, 1924, Montreux), was a Dutchmilitary commander who was appointed governor general of theDutch East Indies in 1904. He had become famous years before by bringing to an end to the long Aceh War.

[edit] Aceh war

Main article: Aceh War

Following twenty-five years of protracted warfare, J. B. van Heutsz was appointed as Military Governor of Aceh.[1] In consort with the Islamic scholar Christiaan Snouck Hurgronje, Van Heutsz succeeded in weakening the Acehnese resistance by exploiting tensions between the Acehnese aristocracy and the religious ulama. He also solicited the support of the Acehnese ruling classes while isolating the rebels from their rural bases. At the advice of an Acehnese noble, he also altered the tactics of the Royal Dutch East Indies Army by introducing small mobile forces which were successful against the guerrilla tactics of the Achenese.[2]

 

 

J. B. van Heutsz circa 1900

Van Heutsz commissioned Colonel Van Daalen with the challenge of breaking any remaining resistance. Van Daalen destroyed several villages, killing at least 2,900 Acehnese, among which were 1,150 women and children. Dutch losses numbered just 26, and Van Daalen was promoted. By today’s standards, these actions would be considered war crimes.[3][4] By 1903, Van Heutsz tactics had succeeded in convincing several secular Acehnese resistance leaders including Sultan Muhammad Daud, Tuanku Raja Keumala, Tuanku Mahmud and Teuku Panglima Polem Muda Perkasa to surrender to the colonial authorities.[1] Having overcome the secular elements of the resistance, Aceh was declared by the Dutch to be officially pacified by 1903.[2] Despite this, resistance from the ulama continued until 1913.[1]

Hendrikus Colijn – future Prime Minister of the Netherlands, was the adjutant of Van Heutsz. In the Netherlands at the time, Van Heutsz was considered a hero, named the ‘Pacificator of Aceh’ and was promoted to the position of Governor-General in 1904.[2] His efforts boosted support for imperialism in Dutch society and government while weakening the position of anti-imperialists.[2]Van Heutsz returned to the Netherlands in 1909 and died inSwitzerland on 11 July 1924.

[edit] Monument

During the 1920s and 1930s, monuments to Van Heutsz were erected throughout the major cities of the Netherlands and the Dutch East Indies including Amsterdam, Banda Aceh and Batavia.[2]On 15 June 1935, The Van Heutsz Monument in South Amsterdam(Amsterdam-Zuid) was inaugurated by Queen Wilhelmina. The monument underwent many defacements several times during various protests from 1965 to 2004. The municipality of Amsterdam changed its name and purpose in 2004. The monument is now known as the ‘Dutch East India – Netherlands Monument’ (Monument Indië-Nederland), and all references to Van Heutsz have been removed.

[edit] Regiment Van Heutsz

After the departure of the Dutch from independent Indonesia in 1949, the Regiment Van Heutsz of the Dutch Army was created with the specific aim of being “the bearer of the traditions of KNIL” (the former Dutch Indies colonial army which had carried out the Aceh War).

 

1904

In 1904, he led a group of prominent Chinese leaders in Penang to establish the Chung Hwa Confucian School, and was claimed as the first modern Chinese school in Southeast Asia.

Cheong Fatt Tze’s name had gained high reputation and recognition in the Imperial Chinese Palace, and was made a High Commissioner for Railways and Commerce in China in 1902, and later became the Special Commissioner for Trade in Southeast Asia in

1904.

April 1904, pertahanan terakhir Sultan Thaha diserang secara besar-besaran oleh Belanda.

Sultan Thaha berhasil meloloskan diri. Sultan Thaha akhirnya wafat pada tanggal 24 April 1904 dan dimakamkan di Muara Tebo.

Saat ini namanya diabadikan menjadi nama lapangan terbang utama di Kota Jambi.

 

Pakubuwono X, 1866 – 1939 Tenth Susuhunan or ruler of Surakarta, Java, Indonesia From The Century Illustrated Monthly Magazine, May to October 1904 |

KNIL after 1904

After 1904 the Netherlands East Indies were considered “pacified”, with no large-scale armed opposition to Dutch rule until World War II, and the KNIL served a mainly defensive role protecting the Dutch East Indies from the possibility of foreign invasion. Once the archipelago was considered “pacified” the KNIL was mainly involved with military police tasks.

1905

 

Frederik Casper Marks

(Schiedam, 17 januari 1877  Java, tussen 1944  1945)

was een Nederlandse sergeant der infanterie van het Indische legeren ridder en officier in de Militaire Willems-Orde. Marks (stamboeknummer 41568), Europees sergeant, raakte in juni 1902 tijdens de krijgsverrichtingen te Atjeh en Onderhorigheden niet levensgevaarlijk gewond gedurende het doorzoeken van een huis te Peudada. Hij werd in augustus 1904 voor zijn verrichtingen tijdens het eerste half jaar van 1903 eervol vermeld.

In juni 1905 behoorde hij tot de landingstroepen nabij Badjowè (Celebes) onder kapitein H. van Stipriaan Luiscius..

1905

Batavia

A significant consequence of these expanding commercial activities was the immigration of large numbers of Dutch employees, as well as rural Javanese, into Batavia. In 1905, the population of Batavia and the surrounding area reached 2.1 million, including 93,000 Chinese people, 14,000 Europeans, and 2,800 Arabs (in addition to the local population).[15]

This growth resulted in an increased demand for housing and land prices consequently soared. New houses were often built in dense arrangements and kampung settlements filled the spaces left in between the new structures. However, such development proceeded with little regard for the tropical conditions and resulted in overly dense living conditions, poor sanitation, and an absence of public amenities.

(wiki)

16 Maret 1905

 

Perumahan keluarga sultan deli

 

dan taman Derikhan

dibangun di depan Masjid raya Al Masun medan

 

 

 

 

 

 

 

 

12  Nopember 1905

 

Sultan Ma’mun mendirikan  sebuah istana baru  antara jalan amaliun dan jalan Puri  yang diberi nama istana kota Maksun.

 

Istana tngku Besar deli

 

 

Sumatra’s first Malay newspaper in Padang. Akhbar pertama

One of my father’s favorite stories was how in 1905 he was talked into buying a printing press by a representative of a printing press firm when he had one too many at his club.

He forgot all about it but one day the press arrived. He had no idea as to what to do and interested a few people into starting a first malay newspaper on Sumatra in 1905. It became a succes.

 

This building maybe beside the Tionghoa Kelenteng which before the Major Tionghoa Lie say house(Dr Iwan)

And in the front the small street

 

pasar borong

Tahun 1905 ada tujuh klub bergabung membentuk asosiasi WSVB (West Sumatran Football Association). Sejarah mencatat bertahun kemudian WSVB bertahan sebagai persatuan klub sepakbola yang memungkinkan klub dengan anggota beragam etnis, yaitu Minang, Eropa dan Cina, melaksanakan kompetisi dan duduk berdiskusi dalam satu meja.

 

 

 

Arena bertanding mereka adalah di lapangan yang punya nama keren, Plein van Rome (Stadion Roma), itulah lapangan Imam Bonjol sekarang.

Kini nama Lapangan Imam Bonjol sudah tidak asing lagi terutama bagi penduduk kota Padang dan sekitarnya.

Sumber

http://aswilnazir.com/2009/10/14/dari-plein-van-rome-hingga-lapangan-imam-bonjol/

 

1905

 

In 1905, Cheong Fat Tze came a member of a commission to study the commercial affairs in Southeast Asia on behalf of the Chinese Board of Commerce. Upon his return to China, he had few audiences by the Emperor and Empress Dowager of China, their Majesties were satisfied with his reports. Little was known that, Cheong Fatt Tze had also established business affairs in his homeland, engaged in manufacturing bricks, textile, glass and salt farm by using modern machineries.

Cheong Fatt Tze had eight wives and was the father of eight sons and six daughters, all distributed over the Dutch and British Colonies in Southeast Asia. His mansion at 14 Leith Street was occupied by his third, sixth and seventh wives. All his sons were educated at the St Xavier’s Institution. He died in 1916 in Batavia due to pneumonia and as a mark of respect, the Dutch and British decreed to fly their flags at half-mast.

 

His eldest son though his first wife in Batavia, Chang Kiam Hoe (Thio Nghean Leong) was a well-known figure in Penang and Perak. He had vast interest in tin mining business in Ipoh, Perak as well as large plantation estates in Province Wellesley and Kedah. He was appointed as a trustee in Cheong Fatt Tze’s Will.

 

Cheong Fatt Tze had uncountable number of fine houses all over China, and Dutch and British Colonies in Southeast Asia, among of all, he laid a legacy that remained forever by building the finest Chinese mansion in Southeast Asia, which was then known as Le’ Bleu Mansion.

The double-story mansion built in between 1897 to 1904 was enough to accommodate his large extended families with 34 rooms. Where he expected the mansion shall live for nine generations after him. The most intriguing part of Cheong Fatt Tze’s Will, besides the inheritance of his estate to all his wives and children, he mentioned the future management of his favourite mansion in 14 Leith Street, Penang.

In his will, he said that ordinary repairs of the mansion shall be paid for a monthly sum not exceeding $250. And the house was given to his seventh wife Tan Tay Po @ Chan Kim Po and his last son, Cheong Kam Long and must not be sold until the death of Cheong Kam Long.

 

Cheong Fatt Tze’s business affairs in the Straits Settlements were under the management of his cousin Thio Chee Non also known by the name Chong Yit Nam and Chong Chee Non who was the Kapitan of Deli. While his Penang estate was managed by Thio Siow Kong at 5 Beach Street. Cheong Fatt Tze Estate first appointed Henry Haley Busfield, Choo Shou San and Soo Beng Lim as Executors and Trustees of his estate in Penang, and in 1937 under the Court’s order the positions were taken by Cheong Hock Chye and Wee Sin Choe.

 

Throughout the time after his death,

one by one Cheong Fatt Tze’s considerable property was sold out, and the most significant sale which almost ended up his entire estate was in 1939. And in 1988 the last call for the sale of old porcelain and Chinese furniture belonged to Cheong Fatt Tze at the family mansion at 14 Leith Street was auctioned by Dominion Victor & Morris of Singapore.

Cheong Fatt Tze’s illustrious life ended with the death of his last son, Cheong Kam Long in 1989. Where the family sold the last property of Cheong Fatt Tze at 14 Leith Street, Penang to a cooperate company by Cheong Kam Long’s wife Thong Siew Mee. One of Cheong Fatt Tze’s sons, Thio Phin Long who was also a trustee of his estate violated his capacity by defrauding the estate through illicit transaction involving the three wholesale and retail druggist businesses, and since then escaped to Hong Kong with his son Thio Chee Fook to avoid the warrant arrest on him in 1931. Today many of Cheong Fatt Tze’s descendants lived in Australia.

 

Float Banjir Canal Padang in 1905

 

The bridge at Mata Air between Padang and emma haven teluk Bayur in 1905

 

 

emma haven Teluk Bayur beach in 1905

 

Muara Batang Arau in 1905

 

1905

Chinese Overseas from China

Tionghoa sinkek(asli dari tiongkok) tahun1905

 

 

Tionghoa women with small feet

 

Wanita tionghoa dengan kipas sering disebut nona shanghai

 

 

Wanita tionghoa dengan anaknya

 

Tauke (bos) tionghoa dengan pekerjanya masih pakai taucang era akhir dinasti Ming,saat merdeka tahun 1915 kakek saya Tjoa Gin toen segera memotong Taocangnya.

 

 

 

 

Keluarga tionghoa dengan pakaian tradisional tahun 1905

 

Kakek Tionghoa(Ngkong) dengan cucunya tahun 1905

 

Upacara pemakan etnis Tionghoa di Padang. Peti dihias dengan indah keluarga memakai pakaian dan  topi kain merkan

 

 

1905

 

Auto on the solok hill road 1905

 

 

 

Rumah Gadang(bigger House at Tilatang ) built in 1996

 

Dutch East Indie

Although Indonesian rebellions broke out, direct colonial rule was extended throughout the rest of the archipelago from 1901 to 1910 and control taken from the remaining independent local rulers.[24]

Southwestern Sulawesi was occupied in 1905–06

1906

Sultan Deli  mulai  mendirikan mesjid raya  tahun 1906

 

KNIL  at Sanur Bali in 1906

 

1906

the island of Bali was subjugated with military conquests in 1906

 

 

 

 

1906

 

Herman Scheurleer (Amsterdam, 29 december 1880  Doorn, 13 maart 1937) was een Nederlands majoor der infanterie van hetIndische leger en ridder in de Militaire Willems-Orde. Scheurleer werd op 22 juni 1902 benoemd tot tweede luitenant, geplaatst bij het zestiende bataljon en vervolgens op 10 april 1904 bij hetgarnizoensbataljon van Sumatra’s Westkust overgeplaatst, waar hij zijn eerste expeditie meemaakte. Hij werd op 6 augustus 1905 bij het derde bataljon geplaatst, op 6 maart 1906 overgeplaatst naar het zeventiende bataljon en op 2 mei 1906 bij het eerste garnizoensbataljon van Atjeh en Onderhorigheden geplaatst.

 

1906

 

Wilhelmus Johannes Mosselman (Geertruidenberg, 7 september1884  Rangoon, 4 januari 1943) was een Nederlandse tweede luitenant titulair der infanterie van het Indische leger en ridder enofficier in de Militaire Willems-Orde.

Mosselman (stamboeknummer 58330) trad op 16 april 1900 inmilitaire dienst bij het Instructiebataljon te Kampen, werd op 8 augustus van datzelfde jaar bevorderd tot korporaal en ging op 8 september 1901 over naar de grenadiers en jagers. Hij legde in april 1902 het examen voor sergeant af en vertrok in die rang in april 1904 naar Indië;

hier diende hij van december 1906 tot januari 1912 bij het Korps Marechaussees

 

 

Pada 1 Maret 1906,

Padang resmi ditetapkan sebagai daerah Cremente melalui ordonansi yang menetapkan (STAL 1906 No.151) yang berlaku mulai 1 April 1906. Setelah Proklamasi 1945, daerah ini berstatus kotapraja.

2 oktober 1906

Tewngku Amaludin menikah dengan adik kanung tengku Maheran Tengku Chaldijah

1907

Acte van Verband kontrak Kerajaaan deli dan belanda  diperbaharui  pasal-pasalnay dan lahirlah Politiek Contract 2 juni 1907 yang banyak menguntungkan Belanda

1908

1908, as were the remaining independent kingdoms in Maluku, Sumatra, Kalimantan, and Nusa Tenggara.[20][23] Other rulers including the Sultans of Tidore in Maluku, Pontianak (Kalimantan), and Palembang in Sumatra, requested Dutch protection from independent neighbours thereby avoiding Dutch military conquest and were able to negotiate better conditions under colonial rule.[23]The Bird’s Head Peninsula (Western New Guinea), was brought under Dutch administration in 1920. This final territorial range would form the territory of the Republic of Indonesia.

 

1908

 

 

Sjarifah nawawi

the first student of first school at Padang

Sjarifah lahir di Boekittinggi 1896

adalah anak Engku Nawawi sutan Makmoer

 

Engku Nawawi sutan Makmoer(1858-1929)

guru sekolah raja(kweekschool) di Fort de Kock Boekittinggi dan ibunya bernam chatimah sjarifah.

Sjarifah disekolahkan di ELS European large school dan terus ke Kweekschool tahun 1907

 

 

 

Kweekschool

fort de Kock Bukittinggi in 1908

 

 

 

Women and Child at Solok in 1908

 

 

 

The street at Fort de Cock Boekittinggi in 1908

 

Adytiawarman statue from Majapahit found at Rambatan Soengei Langsat branch of Batanghari river above Sidjoedjoeng in 1908 , before only seen the part of stone and used for cloth cleaning by the native people this statue then move to

Boekittinggi Zoo, later put at

The Djakarta Central Museum.

Starting the events of 1908

uprising led by the clergy, the application of taxes by the Dutch colonial government. This is done as a form of resistance to the Dutch who want to implement direct tax. This is contrary to the content of what was once a long plaque agreement has ended the war Padri.

1908

Since its entry into Pariaman Trains in 1908 no longer ship docked in Pariaman (Said Zakaria, 1930)

 

 

 

 

1909

Mesjid Raya  yang didirikan sultan Ma’mun dari Deli diresmikan tanggal  10 Nopember 1909,dihadiri oleh sultan Langkat dan sultan Serdang.

 

1909 building in pondok, padang, west sumatra, indonesia..it was photographed with my Cecil (nikon D60)..look the other  old building at the sam area

 

 

Geo Whery Building near batang arau river(Gho kong Liang ever been the directur here) look the building from other side’

 

 

 

 

Same building from other side name geo Whery

 

 

 

1905

 

Majalah bahasa belanda Het Volk van de arde ( bangsa-bangsa di dunia)

 

Putri jawa

 

anak  jawa telanjang

 

Termasuk pemain korps  musik Jawa tahun 1905

 

 

1906

01/07/1906 – 31/10/1912 G. Vissering (LL.M.)
By decree of February 2, 1906, Vissering,  Director of the Amsterdamsche Bank was appointed as Director of the Javasche Bank.Vissering resigned on October 31, 1912.31/10/1912 – 01/07/1924 E.A. Zeilinga Azn.
In April 1907 Zeilinga started as Director of the Bank and was promoted to President per October 31, 1912. Zeilinga resigned after almost 12 years of serving as President and was honorably discharged on July 1, 1924. (Azn.stands for the Dutch “Abrahamzoon” which means “Son of Abraham”)

1907

unidentified building in batavia postcard 1907

 

 

 

 

 

 

 

Pondik street 1909

Compaere wit  Situation now

 

 

 

1920

The first of Bandung’s university, the Technische Hogeschool (TH) was established on July 3, 1920. Now known as the Institut Teknologi Bandung (ITB), TH’s alumni include independence leader and first president Soekarno.

1907

 

Hendrikus (Hendrik) Colijn (Burgerveen, 22 juni 1869  Ilmenau,18 september 1944) was een Nederlands militair, topfunctionaris enpoliticus van de Anti-Revolutionaire Partij (ARP). Van 1925 tot 1926en van 1933 tot 1939 was hij van vijf kabinetten voorzitter van de ministerraad (minister-president). In 1904 werd hij adjudant van generaal Van Heutsz en daarna assistent-resident van de Gajoe- en Alaslanden. In 1907 verliet hij de militaire dienst met de rang vanmajoor en werd benoemd tot secretaris van het gouvernement van Nederlands-Indië. Hij maakte in deze periode vele reizen door de hele Indonesische archipel. De vrucht van deze jaren is zijn uitvoerige studie Politiek beleid en bestuurszorg in de Buitenbezittingen (1907).

1907

Tahun 1907, Belanda berhasil memperkuat pasukan dan persenjataannya. Kondisi ini membuat pasukan Raja Batak ini semakin terdesak dan terkepung. Pada pertempuran yang berlangsung di daerah Pak-pak inilah Sisingamangaraja XII gugur tepatnya pada tanggal 17 Juni 1907. Bersama-sama dengan putrinya (Lopian) dan dua orang putranya (Patuan Nagari dan Patuan Anggi).

Sisingamangaraja kemudian dimakamkan di Balige dan selanjutnya kembali dipindahkan ke Pulau Samosir.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

1910

1910

 

 

 

 

 

Batik ALTAR CLOTH 1910

 

 

Walter Robert de Greve (Buitenzorg, 25 mei 1864  Den Haag, 18 augustus 1924) was een Nederlands luitenant-generaal en commandant van het Nederlands-Indisch leger, onder meer ridderin de Militaire Willems-Orde vierde klasse. De Greve volgde deKoninklijke Militaire Academie en werd in 1883 benoemd tot tweede luitenant der genie bij het Nederlands-Indisch leger. Hij maakte snel promotie en nam van 1905 tot 1908 deel aan de krijgsverrichtingen in Zuid-Celebes; al in 1914 (1887 eerste luitenant, 1898 kapitein, 1905 majoor, 1909 luitenant-kolonel en 1910 kolonel) werd hij benoemd tot generaal-majoor, chef van degenerale staf.

1910

 

 

Salido Goldmine Bond in 1910

 

 

Singkarak school in 1910

 

 

 

 

 

 

Payakumbuh market in 1910

 

 

 

 

 

 

 

Dutch language school farewell party during DEI in 1910

 

 

The Nine turn road  from Payakumbuh to Pekanbaru (Kelok Sembilan)  in 1910

 

 

Tenunan Padang 1910

 

 

 

 

 

Budaya seni tenun tradisional di Sumatera Barat diyakini sudah berumur ratusan tahun. Bahkan, dalam beberapa arsip menyebut bahwa seni tradisional ini sudah berumur lebih dari 100 tahun..

Tidak diketahui secara pasti kapan persisnya seni tenun tradisional, seperti di Pandai Sikek maupun di Kubang muncul dalam catatan sejarah. Seperti yang kita  lihat, tampak ibu-ibu yang menenun kain sarung, ada juga yang menenun tingkuluak dengan benang emas.

Tentunya, kain tenunan dengan benang emas itu dipakai ketika mereka menikah. Tapi, ada juga sebagian dari kain tenunan itu dijual di pasar.

Bahan baku kain songkat yang biasa dipakai perempuan Minang pada masa lalu adalah benang emas atau benang perak, benang linen, bahkan benang sutera, menggunakan Alat Tenun Bukan Mesin (ATBM) yang sangat sederhana dan masih tergolong tradisional.

Kalau kita simak dalam foto berikut ini, tampaknya pekerjaan ini benar-benar hanya hasil karya dan kreatifitas tangan manusia, tentunya membutuhkan keahlian dan ketekunan. Sehingga waktu untuk menyelesaikan satu lembar kain sarung yang indah dan berkualitas pada masa lalu, bisa mencapai 1 sampai 3 bulan. Itu pun tergantung kerumitan proses pembuatannya.

Adalah wajar, jika harga sehelai kain songket bisa mencapai belasan, bahkan puluhan juta rupiah. Namun, untuk pengrajin yang mampu menghasilkan songket dengan motif-motif kuno perpaduan bahan sutera dengan benang emas jumlahnya sudah sangat terbatas.

Nah, biasanya kain Songket digunakan pada Upacara Adat di Minangkabau seperti Batagak Gala (Upacara Penobatan Gelar), Baralek Gadang (Pesta Perkawinan), dan lain sebagainya

 

 

 

 

 

The Ombilin Coal Mine Worker Sawahloento in 1910

 

 

The DEI Govermenment Coal Ombilin Mine sawahloento 1910

 

 

Tobacco market Pajakoemboeh 1910

 

 

 

Lithography Pajakoemboeh Market

 

 

 

Tobacco Plantation Pajakoemboeh 1910

 

 

The Princes of Padang Halai Kisam in 1910

 

Salido painan goldmine bonds in 1910

 

KONDISI DAN PERKEMBANGAN PENDIDIKAN DI HINDIA BELANDA AWAL ABAD XX

 

Kampongschool. Kedoe. Village school. Central Java 1910 (Koleksi:http://www.kitlv.nl)

A. Kondisi dan Perkembangan Pendidikan Hindia Belanda

Sebelum pemerintah kolonial menguasai Indonesia, sejarah pendidikan di Indonesia sudah dimulai. Ketika itu pendidikan pribumi hanya mengenal satu jenis pendidikan yang biasa disebut lembaga pengajaran asli yaitu sekolah-sekolah agama Islam dalam berbagai bentuknya seperti langgar, surau atau pesantren. Di tempat tersebut murid-murid dilatih untuk belajar membaca Al-Qur’an dan mempelajari kepercayaan dan syariat agama Islam.[1]Kemudian pada awal abad XX, melalui peraturan pemerintah tahun 1818, maka pemerintah Belanda menetapkan bahwa orang-orang pribumi diperbolehkan masuk sekolah-sekolah Belanda. Pemerintah juga akan menetapkan peraturan-peraturan tata tertib yang diperlukan mengenai sekolah-sekolah bagi penduduk pribumi.[2]

Sebenarnya pendidikan bumiputra telah dimulai pada masa V.O.C. yang didirikan oleh para misionaris dan diperuntukkan bagi pribumi yang beragama Kristen. Tahun 1799 V.O.C. bangkrut dan diambilalih oleh pemerintah kolonial Belanda, selanjutnya antara tahun 1811-1816 Indonesia dikuasai oleh pemerintah Inggris dan ketika pemerintah kolonial Belanda mengambil alih kekuasaan dari pemerintah Inggris menunjukkan bahwa tidak ada sekolah yang ditinggalkan.

Regeeringsreglement (Peraturan Pemerintah) yang dimulai tahun 1818 terdapat peraturan yang berhubungan dengan perguruan untuk pribumi. Akan tetapi hal ini tidak jadi dilaksanakan karena pemerintah kolonial mengalami kekurangan uang, dan uang yang mengalir seluruhnya diperuntukkan bagi kas negeri induk. Pada tahun 1848 ditetapkan bahwa tiap-tiap tahun dari begrooting(anggaran belanja) akan diambil f.25.000 untuk mendirikan sekolah-sekolah bumiputra. Tetapi sekolah itu tidak untuk kemajuan rakyat, dan hanya untuk keperluan pemerintah yaitu untuk “mencetak ambtenaar”. Ambtenaar-ambtenaar ini nantinya harus bekerja sebagai mandor dan lain-lain di kebun-kebun milik pemerintah.[3]

Sesudah tahun 1850, pemerintah Hindia Belanda diwajibkan untuk memperhatikan sekolah-sekolah bagi orang-orang Eropa. Untuk sistem pendidikan di sekolah ini, mereka menggunakan sistem yang berlaku dinegeri Belanda. Untuk bumiputra sendiri apabila ingin masuk ke sekolah ini maka syarat-syarat yang sangat berat harus dipenuhi. Pertama-tama, yang boleh masuk sekolah untuk orang Eropa ini ialah bumiputra yang beragama nasrani. Pada tahun 1863 pintu dibuka untuk anak-anaki regent (bupati) dan pada tahun 1864 pintu dibuka (in pricipe/pada prinsipnya) untuk segenap bumiputra, akan tetapi harus memenuhi syarat-syarat yang ditentukan oleh Gubernur Jendral.[4]

Pada tahun 1860 di Jakarta didirikan Gymnasium Willem III. Pintu sekolah ini tertutup bagi bumiputra. Baru pada tahun 1874 bumiputra dapat memasuki sekolah ini. Pada waktu itu hanaya ada dua sekolah di mana bumiputra sesudah tamat sekolah rendah, dapat meneruskanpelajarannya yaitu Dokter Djawa School danKweekschool (sekolah guru). Ini untuk memenuhi kebutuhan pemerintah yang kekurangan tenaga medis dan tenaga pengajar, selain itu juga dikarenakan pengiriman guru dan tenaga dari negara induk banyak mengeluarkan biaya.

Perubahan politik di Hindia Belanda dimana politik cultuurstelseldigantikan oleh politik liberal membawa perubahan pula bagi pengajaran di Hindia Belanda. Bila tujuan awal pengajaran adalah kebutuhan akan ambteenar maka pada masa politik liberal kebutuhan akan tenaga kerja terdidik diperuntukkan bagi perkebunan-perkebunan swasta (onderneming-onderneming). Hal ini dicanangkan oleh Koninklijk Besluit mulai tanggal 3 Mei 1871 dan kebijakkan bagi yang bersekolah pun masih sama yaitu mereka yang merupakan keturunan bangsawan dan ambteenar dengan alasan bahwa pemerintah tidak mampu membiayai pendidikan bagi rakyat kebanyakan.[5] Hal ini tentunnya sangat aneh bila melihat bagaimana perkembangan perdagangan swasta pada masa politik liberal. Perkembangan perdagangan swasta (partikelir) dengan Pemerintah Kolonial dapat dilihat pada tabel 1 berikut:

Tabel. 1. Pertumbuhan Perdagangan (dalam jutaan gulden) [6]

Tahun

Perdagangan Partikelir

Impor dan Ekspor Pemerintah (Perdagangan Partikelir)

Ekspor

Impor

Kelebihan ekspor

Ekspor

Impor

Kelebihan ekspor

1876-1880

119,7

143,7

24,0

129,3

188,0

58,7

1881-1885

133,8

156,3

22,5

141,9

189,0

47,1

1886-1890

126,0

162,1

36,1

130,3

185,3

54,9

1891-1895

154,5

184,3

29,8

161,8

206,0

44,2

1896-1900

164,1

209,1

45,0

170,1

226,7

56,6

1901-1905

187,1

255,1

68,0

196,7

275,2

78,5

1906-1910

250,7

394,9

143,9

258,4

413,8

155,4

1911-1915

386,2

602,6

216,4

407,4

643,3

235,9

1915-1920

630,1

1333,9

703,8

685,2

1338,8

653,6

Tabel di atas menunjukkan bagaimana semakin besarnya keuntungan perdagangan baik swasta maupun pemerintah pada masa awal politik liberal hingga berlakunya politik Ethis, dengan keuntungan yang mencapai hampir f.24,0 juta dan f.58,7 juta pada awal politik liberal dan meningkat menjadi hampir 650%. Merupakan hal aneh ketika pemerintah kolonial tidak mau memberikan pengajaran secara menyeluruh kepada masyarakat pribumi. Padahal untuk biaya sekolah pemerintah kolonial telah memberikan sebuah diskriminasi antara anak-anak Eropa dan pribumi, dimana anak-anak Eropa membayar uang sekolah sebesar f.7,5 sebulan sedangkan anak-anak pribumi sebesar f.15,0 sebulan. Hal ini merupakan kebijakan pemerintah kolonial di dalam menyaring orang-orang pribumi untuk bersekolah dengan menerapkan biaya sekolah yang tinggi.[7]

Perkembangan pengajaran hingga berakhirnya politik liberal masih meneruskan upaya bagaimana memenuhi kebutuhan akan buruh yang terdidik dan murah. Pada tahun 1893 didirikan 1e klasse scholen(sekolah Klas I) dan Hoofden Scholen (Sekolah Kepala Negeri) yang didirikan tahun 1878 dijadikan untuk Inlandsche ambtenaren(O.S.V.I.A. atau Sekolah Pendidikan untuk Pejabat Pribumi). Dan sejak tahun 1892 pendidikan sekolah dasar bagi pribumi dibagi menjadi dua yaitu sekolah angka siji (Eerste School) yang diperuntukan bagi anak-anak priyayi dan “berada” serta sekolah angka loro (Tweede School) yang diperuntukan bagi anak-anak rakyat kebanyakan.[8] Dari sekolah ini dapat melanjutkan di sekolah rendah Eropa dengan masa belajar tujuh tahun dan menuntut persyaratan bahasa Belanda.

Perkembangan sekolah bumiputra angka dua dan muridnya sejak tahun 1900 mengalami kenaikan, hal ini dapat terlihat dari tabel 2 berikut:

Tabel. 2. Jumlah Sekolah Bumiputra Angka Dua dan Murid[9]

Tahun

Jumlah Sekolah

Jumlah Murid

Negara

Swasta

Total

Negara

Swasta

Total

1900

551

836

1387

64742

36431

98173

1905

674

1286

1942

95975

66741

161816

1910

1021

2106

3127

133425

99204

232629

1915

1202

2198

3400

186300

134644

320974

1920

1845

2368

4213

241414

116556

357970

Walaupun perkembangan sekolah gaya barat mengalami kemajuan yang pesat tetapi jumlah murid-muridnya tidak pernah besar jika dibandingkan dengan jumlah penduduk Hindia Belanda dan orang terpelajar hanya sebagian dari seluruh penduduk. Hal ini dapat dilihat dari tabel 3 berikut:

Tabel. 3. Perbandingan anak-anak yang bersekolah dan tidak bersekolah[10]

Anak-anak yang berumur

Jumlah

Yang mendapat pengajaran

Yang tidak mendapat pengajaran

6 – 9 tahun

4.803.600 (100%)

1.431.429 (29,8%)

3.372.200 (70,2%)

6 – 11 tahun

8.009.900 (100%)

1.623.745 (20,3%)

6.386.200 (79,7%)

6 – 13 tahun

11.216.339 (100%)

1.647.761 (14,7%)

9.568.578 (85,3%)

Perkembangan selanjutnya adalah sekolah angka siji pada tahun 1914 dirubah menjadi Hollandsche Inlandsche School (HIS) dengan bahasa Belanda sebagai pengantar dan dihubungkan dengan sistem sekolah lanjutan Belanda. Sebelum itu, orang tua yang menyadari manfaat pendidikan gaya barat dan cukup mampu menyekolahkan anak-anak mereka ke Europeesche Lagere Schoolen (ELS), sekolah dasar Eropa, dan setelah tamat dapat terus ke sekolah lanjutan Belanda seperti Hollandsche Burgerscholen (HBS), Sekolah Kelas Menengah Belanda atau S.T.O.V.I.A. dan O.S.V.I.A. (sekolah dokter bumiputra dan pegawai bumiputra).

Menurut M.C. Ricklefs bahwa pembaharuan sekolah-sekolah Kelas Satu dan pengembangan-pengembangan pendidikan selanjutnya sama sekali tidak ada kaitannya dengan rakyat Indonesia golongan bawah, yang telah diberi kesempatan memasuki sekolah-sekolah Kelas Dua. Memperluas pendidikan untuk rakyat banyak merupakan suatu masalah keuangan yang luar biasa, dan suatu cita-cita yang sama sekali tidak mendapat dukungan penuh di kalangan pendukung-pendukung gagasan Ethis pun. Pada tahun 1918 diperkirakan bahwa akan menghabiskan biaya 417 juta guldensetahun guna mengurus sekolah-sekolah Kelas Dua bagi seluruh penduduk Indonesia, biaya ini jauh lebih besar daripada seluruh pengeluaran pemerintah kolonial.[11]

Untuk mengurangi pengeluaran biaya yang besar bagi kas kolonial maka pada tahun 1904 van Heutsz berhasil mendapatkan jawabannya. Sekolah-sekolah desa (desascholen yang juga disebutvolksscholen: sekolah rakyat) akan dibuka yang sebagian besar biayanya ditanggung oleh penduduk desa sendiri, tetapi dengan bantuan pemerintah kalau perlu. Seperti halnya dengan banyak perbaikan Ethis lainnya, pemerintah menetapkan apa yang terbaik untuk rakyat Indonesia dan sesudah itu memberitahukan berapa yang harus dibayar oleh rakyat itu demi perbaikan mereka. Di sekolah-sekolah tersebut akan diterapkan masa pendidikan tiga tahun dan mata pelajarannya, yang memberikan ketrampilan dasar membaca, berhitung dan ketrampilan praktis, diajarkan dalam bahasa daerah serta dipungut uang sekolah.[12]

 

Vijf Javaanse jongens in een schoolbank 1920 (Koleksi:http://www.kitlv.nl)

Perkembangan pendidikan ini banyak mendapat kritik terutama mengenai sekolah Kelas Dua karena hanya sedikit dari murid sekolah ini yang dapat melanjutkan sekolah ke jenjang yang lebih tinggi. Untuk mengatasi hal tersebut Direktur Pendidikan dan Agama, K.F. Creutzberg mengirimkan surat kepada Gubernur Jenderal van Limburg Stirum untuk membangun sekolah peralihan dimana sekolah ini akan menampung murid-murid sekolah Kelas Dua yang pintar untuk dapat melanjutkan belajar di M.U.L.O. (Meer Uitgebreid LagerOnderwijs atau sekolah menengah pertama)[13]. Di dalam sekolah peralihan ini diajarkan bahasa Belanda yang lebih intensif sebagai bekal untuk melanjutkan ke sekolah menengah pertama.  Sekolah peralihan ini dibuka pertama kali di Bandung dan Padang Panjang pada tahun 1921.

Sekolah H.I.S. sendiri masih merupakan impian bagi sebagian besar penduduk pribumi di Hindia Belanda, karena berdasarkan ketentuan pemerintah (Staatblad 1914 No. 359) ada empat dasar penilaian yang memungkinkan orang tua mengirimkan anak-anaknya ke H.I.S. yaitu keturunan, jabatan, kekayaan dan pendidikan. Jadi seorang anak keturunan bangsawan tradisional, keturunan orang yang mempunyai jabatan dalam pemerintahan seperti wedana, demang dan sebagainya, pendidikan barat yang pernah dimiliki orang tua minimal M.U.L.O. atau yang setingkat dan kalangan orang tua yang berpenghasilan f.100 per bulan mempunyai hak untuk sekolah di sekolah ini.[14]

Pemerintah kolonial sengaja membatasi penduduk pribumi yang bersekolah dengan diferensiasi sosial baik secara ras maupun secara materi. Hal ini ditujukan guna mempertahankan hegemoni kekuasaan pemerintahan dan ekonominya di dalam tanah jajahan. Menurut Antonio Gramsci, sifat ekonomi kapitalisme yang berkembang akan selalu diikuti dengan struktur-struktur yang memperkuat sistem tersebut, seperti struktur sosial, struktur politik, hukum  dan kepolisian. Struktur pemerintah atau negara adalah sebagai kekuatan represif dan pelayan bagi klas yang dominan yaitu klas borjuis[15] yang di Hindia Belanda diwakili oleh pemerintah kolonial dan para pemilik modal.

Permasalahan pendidikan sendiri menjadi bagian dari struktur sosial di dalam masyarakat Hindia Belanda. Pendidikan gaya Barat yang diadakan oleh pemerintah kolonial merupakan bagian dari tatanan kolonial yang terbagi secara rasial dan linguistik serta terpusat secara politik, sehingga pemerintah kolonial membatasi segala bentuk pencerdasan penduduk pribumi dengan membuat berbagai produk hukum yang mengharuskan masyarakat pribumi mengikuti garis politik Ethis yang telah ditetapkan. Maka dapat dilihat dari tabel 4 di bawah ini dari tahun 1900-1920 jumlah murid pribumi yang lulus sekolah dasar dan melanjutkan ke sekolah lanjtan dan sekolah kejuruan sangat sedikit sekali.

Tabel. 4. Jumlah Murid Pribumi di Sekolah Lanjutan[16]

Tahun

Sekolah Dasar

Sekolah Lanjutan

Sekolah Kejuruan

1900

896

13

376

1905

1353

118

1910

1681

50

1470

1915

25808

406

1920

38024

1168

3917

Sedikitnya jumlah kelulusan ini disebabkan sedikitnya kesempatan bersekolah bagi masyarakat pribumi dalam mengenyam pendidikan hingga tingkat sekolah lanjutan. Hanya golongan kaya dan priyayibangsawan yang dapat bersekolah tinggi bahkan hingga tingkat pendidikan universitas.

 

Inlandse landbouwschool op Java 1915 (Koleksi:http://www.kitlv.nl)

B. Sekolah Bersubsidi dan Sistem Pendidikan Kolonial Belanda

Semenjak dijalankannya Politik Etis, terlihat adanya kemajuan yang lebih pesat dalam bidang pendidikan. Sebelumnya di Hindia Belanda hanya terdapat dua macam sekolah yang didirikan pada tahun 1892, yaitu Sekolah Angka I khusus untuk anak bumiputra terkemuka dan Sekolah Angka Dua untuk anak-anak bumiputra pada umumnya. Setelah munculnya Politik Etis pendidikan di Hindia Belanda mulai mendapat perhatian khusus, yang menyebabkan dalam dua dasawarsa pertama setelah tahun 1900, lembaga pendidikan dasar di Hindia Belanda.

Pemerintah kolonial Belanda kemudian menciptakan suatu sistem pendidikan untuk menangani bermacam-macam golongan yang ada dalam masyarakat. Secara umum, sistem pendidikan tersebut menganut sistem diskriminasi ras yang didasarkan menurut keturunan atau lapisan sosial yanga ada. Selain itu sekolah-sekolah yang ada di Hindia Belanda dibagi menjadi dua yaitu Sekolah Bersubsidi dan Sekolah Tak Bersubsidi (Partikelir). Sekolah yang didirikan oleh pemerintah kolonial Belanda semuanya diberikan subsidi begitu pula sekolah-sekolah yang dianggap satu aliran dengan kebijakkan pemerintah diberikan subsidi serta disediakan guru-guru untuk menunjang kegiatan belajar-mengajar.

1. Sekolah Negeri Pemerintah Kolonial

Pendidikan rendah di Hindia Belanda disebut dengan Lager Onderwijsyang terbagai menjadi tiga macam yaitu sekolah rendah dengan bahasa pengantar bahasa Belanda atau Westerch Lagere Onderwijas, sekolah rendah dengan bahasa pengantar bahasa daerah dan terakhir Sekolah Peralihan atau sekolah Schakelschool.

Sekolah rendah dengan bahasa pengantar bahasa Belanda terbagi menjadi tiga, yaitu Europeese Lagere School atau disingkat ELS yang merupakan sekolah rendah Eropa, sekolah yang kedua adalahHollandsche Chinese School atau disebut HCS, yaitu sekolah untuk anak-anak keturunan China dan sekolah bumiputra Belanda atauHollandsche Inlandsche School atau disebut HIS yang merupakan peleburan dari Sekolah Kelas Satu. ELS didirikan untuk mendidik anak-anak keturunan Eropa, anak-anak keturunan Timur Asing dan anak-anak pribumi golongan atas. Pada awalnya sekolah yang lama pendidikannya tujuh tahun tersebut merupakan satu-satunya jalur seseorang untuk mengikuti ujian pegawai rendah (Klein Ambtenaars Examen). Dalam perkembangan selanjutnya HIS dan HCS pun dapat mengantar seseorang untuk dapat mengikuti ujian pegawai rendah. HIS dan HCS lama pendidikan yang ditempuh sama seperti pada sekolah ELS yaitu tujuh tahun. Jenis sekolah ini sangat membatasi anak-anak pribumi yang akan menjadi siswa di dalamnya. Selain itu sekolah ini mendapat subsidi dari pemerintah kolonial Belanda karena merupakan sekolah negeri.[17]

 

Leerlingen en onderwijzend personeel van de Fröbelschool te Ternate 1903 (Koleksi:http://www.kitlv.nl)

Jenis sekolah rendah yang kedua adalah sekolah rendah dengan bahasa pengantar bahasa daerah, yang terbagai menjadi tiga yaitu Sekolah Bumiputra Kelas Dua atau Tweede Klasse Scholen atau Sekolah Angka Dua, Sekolah Desa atau Volkschool dan Sekolah Lanjutan atau Vervolgschool. Sekolah Bumiputra Kelas Dua pertama kali didirikan untuk masyarakat umum pada tahun 1906. Lama pendidikan yang ditempuh mula-mula hanya tiga tahun dengan kurikulum yang sangat sederhana yaitu meliputi membaca, menulis, berhitung dan bahasa Melayu. Dalam tahun-tahun berikutnya sekolah ini mengalami peningkatan mutu, lama pendidikannya diperpanjang menjadi lima tahun dengan tambahan mata pelajaran menggambar, menyanyi, ilmu bumi, geografi, ilmu pengetahuan alam dan pendidikan jasmani. Lulusan pendidikan ini diarahkan menjadi guru sekolah desa setelah mengikuti ujian yang diadakan oleh Kepala Sekolah Negeri bumiputra. Dalam perkembangannya sekolah ini menjadi lembaga pendidikan golongan elit rendah yang keadaannya hampir sama seperti Sekolah Kelas Satu.[18]

Sekolah rendah dengan bahasa pengantar dengan bahasa pengantar bahasa daerah yang kedua adalah volkshool. Lama pendidikan yang ditempuh tiga tahun dan sekolah tersebut didirikan pertamakali pada tahun 1907. Pendirian sekolah ini diawali dari adanya permintaan penambahan tenaga terdidik dari perusahaan-perusahaan Barat. Sekolah ini dinilai tepat untuk dikembangkan, karena pemerintah tidak perlu mengeluarkan biaya. Semua pembiayaan sekolah harus ditanggung oleh kas desa. Walaupun tidak diberikan subsidi oleh pemerintah kolonial Belanda tetapivolkschool dianggap sekolah milik pemerintah. Tujuh tahun setelah pembentukan Sekolah Desa, yaitu pada tahun 1914 didirikanvervolgschool atau sekolah lanjutan dari Sekolah Desa dan bertujuan menampung lulusan dari Sekolah Desa. Sebelumnya Sekolah Desa tidak mampu mengantar siswanya untuk melanjutkan pendidikan yang lebih tinggi, karena kurikulumnya yang sederhana.[19] Akibat keterbatasan tersebut mendorong pemerintah untuk mendirikan sekolah lanjutan yang terdiri dari kelas empat dan kelas lima.

Pemerintah kolonial Belanda juga menyelenggarakan sekolah lanjutan selain sekolah dasar. Jenis sekolah lanjutan yang pertama adalah sekolah dasar yang diperluas yaitu MULO. Sekolah ini merupakan kelanjutan dari Sekolah Dasar berbahasa Belanda dengan masa pendidikan tiga tahun. Sekolah lanjutan ini terbagi menjadi dua yaitu Sekolah Menengah Umum atau Algemeene Middelbareschool (AMS) dan Sekolah Tinggi Warga Negara atauHogere Burgerschool (HBS). Sekolah AMS diperuntukkan bagi golongan pribumi dan golongan Timur Asing lulusan MULO. Sekolah HBS diperuntukkan bagi lulusan ELS yang merupakan golongan Eropa, bangsawan pribumi dan anak-anak tokoh terkemuka.

Untuk memenuhi kebutuhan tenaga kerja, pemerintah Belanda juga mendirikan sekolah-sekolah kejuruan, agar alumni sekolah jenis ini dapat langsung memperoleh pekerjaan sesuai dengan bidangnya. Sekolah kejuruan ini terdiri dari berbagai macam, antara lain Sekolah Pertukangan yang dibagi menjadi dua yaitu Ambachts leergang yang menerima lulusan Sekolah Bumiputra Kelas Dua danvervolgschool. Sekolah pertukangan yang kedua adalah Ambacthsshool, sekolah ini menerima lulusan dari HIS, HCS, dan sekolah Peralihan. Kedua sekolah pertukangan tersebut mempunyai masa pendidikan tiga tahun. Ambachts leergang mencetak tukang listrik, mebel, dan lain-lain sedangkan Ambacthsshool mencetak mandornya.

Sekolah kejuruan lainnya adalah sekolah dagang atau Handels Onderwijs yang bertujuan untuk memenuhi tenaga administrasi perusahaan-perusahaan Eropa yang berkembang pesat. Kweekschoolatau sekolah guru dibagi menjadi tiga yaitu Noormalschool, sekolah guru bagi siswa lulusan Sekolah Kelas Dua dan lama pendidikan empat tahun, Kweekschool adalah sekolah guru yang diperuntukkan bagi lulusan sekolah desa berbahasa Belanda dengan masa studi empat tahun, dan yang terkahir adalah Hollandsche Inlandsche Kweekschool merupakan sekolah guru berbahasa Belanda yang bertujuan menghasilkan guru HIS atau HCS dengan lama belajar enam tahun.

Selain serangkaian sekolah dasar, sekolah kejuruan, dan sekolah lanjutan yang ada, pemerintah kolonial Belanda juga menyelenggarakan jenis pendidikan tinggi atau Hooger Onderwijs. Mulai tahun 1910 ada tiga macam pendidikan tinggi atau perguruan tinggi yang didirikan di wilayah Hindia Belanda, yaitu Pendidikan Kedokteran, Pendidikan Tinggi Hukum dan Pendidikan Tinggi Teknik. Ketiga sekolah tinggi ini mencetak lulusan-lulusan dokter, ahli hukum dan ahli teknik yang bekerja sebagai dokter, ahli hukum dan ahli teknik di Hindia Belanda.

2. Sekolah-sekolah yang dikelola oleh Zending

Salah satu motif kedatangan bangsa Belanda di Hindia Belanda adalah motif theokratis, yaitu penyebaran Injil. Awalnya sasaran penyebarannya dilakukan secara langsung melalui gereja, penerbitan buku-buku Kristen dan lain-lain. Untuk mendapatkan hasil yang memuaskan usaha tersebut berkembang dengan pendirian-pendirian rumah sakit dan sarana pendidikan.

 

School in Kalitjeret met onderwijzer. Salatiga-zending Java 1906 (Koleksi: http://www.kitlv.nl)

Sekolah ini terbagi menjadi dua kelompok yaitu sekolah yang dibuka khusus bagi anak-anak Eropa atau yang sederajat serta sekolah Kristen untuk anak Bumiputera. Dalam kurikulumnya selain memperkenalkan ajaran-ajaran Kristen juga memperkenalkan kebudayaan Barat seperti cara berpakaian, cara makan, belajar dan lainnya. Bahasa Belanda menjadi kurikulum pelajaran yang penting, bahasa ini juga digunakan sebagai bahasa pergaulan. Untuk mendukung program di atas maka siswa maupun guru-guru yang mengajar diharuskan tinggal di asrama yang telah disediakan dan sehari-harinya diwajibkan menggunakan bahasa Belanda sebagai bahasa pengantar. Aturan-aturan ini menyebabkan orang-orang yang dididik di tempat tersebut terpisah dari budaya Jawa, lebih-lebih Zending juga mampu menampung para alumni sekolahnya dengan memberikan lapangan pekerjaan di berbagai bidang. Tujuan dari sekolah ini yaitu menyebarkan ajaran agama Kristen dan sesuai dengan tujuan pemerintah kolonial Belanda maka sekolah ini mendapatkan bantuan dan kemudahan dari pemerintah kolonial.

3. Sekolah-sekolah yang dikelola oleh Missie

Sekolah Katolik berhasil didirikan oleh Pastor Keyser di daerah Yogyakarta dan Klaten pada tahun 1892 dan sebelumnya telah didirikan pula sekolah yang sama pada tahun 1890 di Semarang dan Magelang. Semula sekolah ini bercorak Europees yang netral dengan memberi kebebasan kepada murid-muridnya untuk mengikuti atau tidak mengikuti pelajaran agama Katolik. Dalam perkembangan selanjutnya dengan masuknya ajaran Kotekismus, pelajaran agama Katolik menjadi pelajaran wajib dan diajarkan juga melalui peraturan-peraturan dalam asrama siswa.[20] Sekolah Katolik pada tahun 1921 terus berkembang dengan bantuan pemerintah melalui penyediaan dana dan fasilitas.

C. Munculnya Sekolah Partikelir Bumiputra tidak Bersubsidi

Perkembangan pendidikan akibat dari politik Ethis belum mampu memberikan kepuasan kepada penduduk pribumi. Mahalnya uang sekolah dan pembatasan secara rasial dan politik untuk mengakses pendidikan membawa organisasi-organisasi modern yang telah berkembang pada saat itu dan individu-individu yang berpikiran maju merencanakan pembangunan sekolah-sekolah bagi penduduk pribumi. Pemerintah kolonial sendiri telah mengeluarkan peraturan bagi pendirian sekolah-sekolah partikelir ini dalam Lembaran Negara (Indisch Staatblad) tahun 1880 nomor 21 yaitu pengawasan terhadap pendidikan swasta dari orang Eropa kepada orang Bumiputra. Untuk pengawasan ini baik yang diberikan di sekolah maupun di rumah diwajibkan ada ijin dari Kepala Daerah yang diberikan dengan syarat bahwa kondisi setempat tidak mempunyai keberatan[21].

Perkembangan pendidikan barat yang dibawa dan diperkenalkan oleh pemerintah kolonial walaupun banyak terjadi diskriminasi secara sosial, tetapi membawa perubahan dan cakrawala kepada penduduk pribumi untuk melihat dunia. Menurut Robert Van Niel, bahwa perluasan dan perkembangan pendidikan yang diberikan oleh pemerintah kolonial Belanda pada gilirannya membuahkan beragamnya elit Indonesia. Bila di tahun 1900 kelompok priyayilah yang menjadi kaum bangsawan dan administratur, menjelang tahun 1914 kelompok ini bertambah dengan dengan sejumlah pegawai pemerintah, teknisi-teknisi pemerintah dan cendikiawan yang sama-sama memerankan peran elit dan yang di mata rakyat biasa Indonesia di desa-desa tercakup ke dalam yang umumnya disebut “priyayi”.[22] Tentu saja termasuk juga kompetisi antara priyayi lama dan priyayi baru ini, terutama dalam hal kepemimpinan dan pengendalian keinginan-keinginan rakyat biasa.

Perkembangan pendidikan ini juga membawa pengaruh yang besar dalam konteks pergerakan rakyat. Pendidikan dapat dipandang sebagai sebuah dinamit bagi sistem kolonial. Pengaruh pendidikan terhadap masyarakat kolonial diakui sepenuhnya oleh penguasa-penguasa kolonial sendiri, dan menurut Colijn “merupakan tragedi politik kolonial, karena ia membentuk dan membangun kekuatan-kekuatan yang di kemudian hari akan melawan pemerintah kolonial”.[23] Alasan yang dikemukakan Colijn merupakan ekspresi dari penguasa kolonial yang merasa kepentingannya merasa terancam dan apa yang diperkirakan memang menjadi sebuah kenyataan yang tak terelakkan walaupun berjalan sangat lamban.

Organisasi modern pertama pribumi adalah Boedi Oetomo yang terbentuk pada tahun 1908. Organisasi ini mewadahi para priyayi Jawa sebagai anggotanya dan berjalan sesuai dengan garis politik Ethis pemerintah kolonial. Hal ini dapat terlihat dalam permohonan organisasi Boedi Oetomo kepada pemerintah kolonial. Permohonan ini banyak memfokuskan pada bidang pendidikan yaitu (1) menyempurnakan pendidikan Kweekscholen dan O.S.V.I.A., (2) mempertahankan mutu pendidikan di S.T.O.V.I.A., (3) mendirikan sekolah-sekolah Frobel[24] untuk anak-anak pribumi laki-laki dan perempuan dan membuka pintu sekolah-sekolah dasar Eropa bagi anak-anak pribumi, walaupun mereka tidak memahami bahasa Belanda atau jika tidak, mendirikan sekolah-sekolah untuk anak-anak pribumi serupa dengan sekolah-sekolah Belanda-China, (4) mendirikan sekolah-sekolah dagang untuk pribumi termasuk kaum perempuan, (5) menyediakan lebih banyak tanah untuk sekolah-sekolah pertanian, (6) memberikan beasiswa kepada murid-murid pribumi, (7) memberi izin penyelenggaraan undian (dengan tujuan mengumpulkan dana beasiswa, dan (8) memberi izin Boedi Oetomo mendirikan sekolah-sekolah desa.[25]

Perkembangan dari permohonan yang diajukan oleh Boedi Oetomo memang sangat lamban di respon oleh pemerintah kolonial. Sehingga memunculkan ide-ide untuk membangun sekolah-sekolah yang bebas dari intervensi pemerintah kolonial tetapi masih dalam garis politik Ethis. Secara umum bahwa pendirian sekolah-sekolah yang dilakukan oleh organisasi-organisasi pergerakan adalah didorong oleh pertentangan kepentingan sosial dengan penjajah, karena perbedaan rasial pertentangan tersebut menjadi lebih serius. Selain itu bahwa sekolah merupakan lahan yang tepat bagi perekrutan kader-kader yang terdidik, sehingga organisasi dapat berjalan sesuai dengan arah yang dituju.

Sejak dekade pertama abad ke-20 telah bermunculan sekolah-sekolah partikelir. Sekolah-sekolah partikelir ini tidak hanya didirikan oleh kaum pergerakan Hindia Belanda, tetapi juga banyak dilakukan oleh komunitas China di Hindia Belanda. Mengenai munculnya sekolah swasta yang dilakukan oleh pribumi dapat dilihat yaitu perkembangan sekolah-sekolah swasta Boedi Oetomo yang mendirikan perhimpunan Neutraal Onderwijs (Sekolah Netral) sebagai pengumpul dana bagi pendirian sekolah Boedi Oetomo dan telah berhasil mendirikan tiga buah sekolah di kota Jogjakarta dua buah dan satu buah di Soerakarta.[26]

Organisasi lain yang pertumbuhannya melalui bidang sosial dan keagamaan adalah Muhammadiyah, yang sejak didirikan pada tahun 1912 sampai tahun 1925 mempunyai anggota 4000 orang, mampu mendirikan 55 sekolah dengan 4000 orang murid.[27]Sekolah-sekolah partikelir banyak didirikan oleh organisasi Islam sebagai bentuk penjagaan umat Islam dari makin masifnya penetrasi para zending (misionaris) dalam penyebaran agama Kristen. Pendidikan yang dibangun oleh para misionaris Kristen melalui sekolah-sekolah mampu menghasilkan guru-guru agama Kristen dari kalangan bumiputra. Selain itu pendirian sekolah-sekolah oleh para misionaris ini didukung oleh pemerintah kolonial melalui subsidi pendidikan yang diberikan kepada sekolah-sekolah tersebut.

Tumbuh dan berkembangnya sekolah-sekolah partikelir juga disebabkan kurangnya pemeritah kolonial Belanda di dalam menyediakan sarana pendidikan bagi anak-anak di Hindia Belanda. Dalam publikasi yang dikeluarkan oleh Komisi Pengajaran Hindia Belanda No. 12 halaman 7b disebutkan bahwa bila kita memperbandingkan perluasan pengajaran sejak tahun 1920 dengan bertambahnya jumlah penduduk sejak tahun yang sama kita akan melihat bahwa pengajaran sekolah dasar dalam bahasa Belanda, betapapun jumlah sekolah itu diperbanyak masih saja terlalu sedikit bila dibandingkan dengan penduduk yang berjuta-juta itu. Dan pengajaran yang biasa pun jauh terbelakang dengan besarnya pertambahan penduduk.[28]

Masalah-masalah pendidikan yang dilakukan oleh organisasi-organisasi pergerakan mendapatkan sebuah perhatian yang besar setelah tahun 1920-an. Hal ini dikarenakan pada tahun 1920-an perubahan-perubahan ekonomi dan sosial semakin terasa menghimpit masyarakat Hindia Belanda. Selain itu banyaknya sekolah partikelir yang didirikan pada masa ini dilakukan karena biaya anggaran untuk pendidikan dipangkas sebagai akibat dari memburuknya kondisi perekonomian Hindia Belanda. Padahal dapat terlihat bagaimana kecilnya dana pendidikan bila dibandingkan dengan keuntungan perdagangan Hindia Belanda dalam tabel 5 berikut:

Tabel. 5. Anggaran Belanja Pengajaran[29]

Tahun

Anggaran Belanja Onderwijs (Pengajaran)

1848

0,25 Juta

1854

1,50 juta

1911

9,70 juta

1915

14,9 juta

1920

28,4 juta

1925

37,7 juta

Memang dalam laporan pemerintah kolonial bahwa masyarakat masih mengutamakan sekolah negeri milik pemerintah baru bila hal ini sulit terjangkau biasanya masyarakat akan memilih sekolah swasta bersubsidi dan sekolah swasta yang tidak mendapat subsidi dari pemerintah kolonial.[30]

Sekolah-sekolah swasta tidak bersubsidi banyak dibangun oleh kaum pergerakan yang berfungsi selain memenuhi kebutuhan pendidikan masyarakat pribumi yang tidak tertampung di sekolah milik pemerintah kolonial, juga sebagai tempat perekrutan kader bagi organisasi pergerakan tersebut. Memang tidak semua sekolah yang dibangun oleh kaum pergerakan sebagai pemenuhan akan kader yang terdidik, tetapi sebagian besar memiliki tujuan dari keprihatinan akan minimnya aksesbilitas masyarakat pribumi akan pelayanan pendidikan oleh pemerintah kolonial.

Sedangkan pemerintah kolonial Belanda sendiri memiliki tujuan yang berbeda untuk bidang pengajaran ini. Pemerintah mengharapkan dengan jumlah penduduk Indonesia yang besar maka dengan pengajaran bahasa Belanda maka buku-buku yang mereka baca dapat mempengaruhi masyarakat untuk membeli barang-barang yang dihasilkan oleh pemerintah kolonial Belanda. Artinya bahwa motif keuntungan ekonomi sangat di utamakan oleh pemerintah kolonial Belanda dalam menghasilkan lulusan pendidikannya.

Tumbuhnya sekolah-sekolah partikelir ini dikarenakan dua hal yaitu kurangnya jumlah sarana dan prasarana pendidikan yang disediakan oleh pemerintah kolonial Belanda bagi masyarakat. Tujuan kedua adalah tujuan pendidikan kolonial yang jauh dari harapan Artinya bahwa kaum pergerakan nasional ingin merubah maksud dan tujuan dari pendidikan kolonial dengan pendidikan yang lebih selaras dengan kebutuhan penghidupan rakyat dengan mendirikan sekolah partikelir.

Dapat dilihat, bahwa sebagian besar kurikulum pada prinsipnya berhubungan dengan bidang-bidang di luar kegiatan lapangan pekerjaan yang biasanya terdapat dalam lingkungan yang tradisional seperti pertanian, industri rumah tangga, kerajinan, dan sebagainya. Kurikulum di sekolah-sekolah kolonial, meskipun menawarkan subjek yang hampir mirip dengan yang diperkenalkan di negeri asal penjajah, tetapi isi materinya berbeda secara mencolok. Sebagai contoh di sekolah-sekolah Eropa (atau negeri asal penjajah) murid-murid perlu mempelajari sejarah negeri mereka sendiri. Ini mulai diperkenalkan mulai dari tingkat sekolah dasar. Akan tetapi di sekolah-sekolah kolonial di negeri jajahan jarang sekali mata pelajaran sejarah diajarkan dan jika itu ada hanya tersedia waktu yang relatif singkat (setengah jam seminggu) itu pun tidak pernah dimasukkan sebagai salah satu mata pelajaran wajib.[31]

Hal inilah yang menjadi alasan utama sekolah partikelir didirikan oleh akum pergerakan nasional sebagai pemenuhan kebutuhan pendidikan masyarakat dan juga pemberian pelajaran yang sesuai dengan kebudayaan masyarakat Indonesia. Sehingga murid-murid tidak menjadi meminjam istilah Mestika Zeid “Belanda Hitam”.


[1] H. Baudet dan I.J. Brugmans, Politik Etis dan Revolusi Kemerdekaan(YOI: Jakarta, 1987), hal. 176.

[2] Ibid., hal. 178.

[3] Sejarah Onderwijs (pengajaran)  Nasional diterbitkan oleh Perhimpoenan Peladjar-Peladjar Indonesia (Indonesische Studenten Unie), Januari 1933 dalam Pitut Soeharto dan A. Zainul Ihsan,Belenggu Ganas: Capita Selecta Kelima,  Aksara Jayasakti: Jakarta, 1982, hal. 177-179.

[4] Ibid.

[5] Ibid.,  hal. 181.

[6] Boekoe Peringatan P.P.P.I., dalam Ibid., hal. 182

[7] S. Nasution,  Sejarah Pendidikan di Indonesia, Jemmars: Bandung, 1983, hal. 40.

[8] Takashi Shiraishi, Zaman Bergerak, Radikalisme Rakyat di Jawa 1912-1926, Grafiti Press, 1997, hal. 37.

[9]. S.L. van der Wal, Pendidikan di Indonesia 1900-1940: Kebijaksanaan Pendidikan di Hindia Belanda 1900-1940,  Depdikbud: Jakarta, 1977, hal. 7.

[10] Publicatie Hollandsche Inlandsche Onderwijsche Commisie No. 7a hal. 18 dalam Sejarah Onderwijs (Pengajaran) Kolonial, diterbitkan oleh Perhimpoenan Peladjar-Peladjar Indonesia (Indonesische Studenten Unie), Januari 1933. Dalam Pitut Soeharto dan A. Zainul Ihsan, Belenggu Ganas: Capita Selecta Kelima,  Aksara Jayasakti: Jakarta, 1982,  hal. 185.

[11] M.C. Ricklefs, Sejarah Indonesia Modern, UGM Press: Yogyakarta, 1995, hal. 240.

[12] Ibid.

[13] Surat Direktur Pendidikan dan Agama K.F. Creutzberg kepada Gubernur Jendral van limburg Stirum tanggal 11 Maret 1920, dalam S.L. van der Wal, Pendidikan di Indonesia 1900-1940: Kebijaksanaan Pendidikan di Hindia Belanda 1900-1940,  Depdikbud: Jakarta, 1977.

[14]Marwati Djoend Poesponegoro dan Noegroho Notosusanto,Sejarah Nasional Indonesia V, Balai Pustaka: Jakarta, 1993, hal. 143.

[15] Nezar Patria dan Andi Arief, Antonio Gramsci: Negara Dan Hegemoni, Pustaka Pelajar: Jogjakarta, 1999, hal. 30.

[16] Takashi Shirashi, Zaman Bergerak, Radikalisasi Rakyat di Jawa 1912-1926, Grafiti Press: Jakarta, 1997, hal. 38.

[17] S.L. van der Wal, Pendidikan di Indonesia 1900-1940: Kebijaksanaan Pendidikan di Hindia Belanda 1900-1940,  Depdikbud: Jakarta, 1977, hal. 142-

[18] Ibid.

[19] Sekolah Desa hanya mengajarkan membaca, berhitung dan menulis bagi para siswanya.

[20] H. Baudet dan I.J. Brugmans, Politik Etis dan Revolusi Kemerdekaan, (Jakarta: YOI, 1987), hal. 362.

[21] Dalam Lembaran Negara 1903 nomor 389 diganti dengan jika tidak menimbulkan gangguan tata tertib dan keamanan. Dalam Lembaran Negara tahun 1912 nomor 286 ditetapkan bahwa yang bersangkutan harus membuktikan telah tamat sekolah rendah di negeri Belanda atau sekolah rendah dengan pengantar bahasa Belanda di Hindia Belanda, dalam S.L. van der Wal, Op.Cit., hal. 62.

[22] Robert van Niel, Munculnya Elit Modern Indonesia, Pustaka Jaya: Jakarta, 1984, hal. 75.

[23]Sartono Kartodirdjo, Sejarah Pergerakan Nasional: Dari Kolonialisme Sampai Nasionalisme, Gramedia: Jakarta, 1993, hal. 60.

[24] Sekolah frobel merupakan sekolah bahasa, dimana murid akan diajarkan bahasa Belanda.

[25] Akira Nagazumi, Bangkitnya Nasionalisme Indonesia: Budi Utomo 1908-1918, Grafitti Press: Jakarta, 1989, hal. 85.

[26] Soembangsih, Gedenkboek Boedi Oetomo, 1908-1918, Tijdschrift Nederlandsche Oud & Nieuw, Amsterdam, 1918, hal. 17, dalam Pitut Soeharto dan A. Zainul Ihsan, Cahaya di Kegelapan: Capita Selecta Kedua, Boedi Oetomo dan Sarekat Islam Pertumbuhannya dalam Dokumen Asli,  Aksara Jayasakti: Jakarta, 1982,  hal.131.

[27] M.C. Ricklefs, Op.Cit., hal. 260, lihat juga Deliar Noer, Gerakan Modern Islam di Indonesia 1900-1942, LP3ES: Jakarta, 1996, hal. 95.

[28] Publicatie Hollandsche Inlandsche Onderwijsche Commisie No. 12 hal. 7b dalam Sejarah Onderwijs (Pengajaran) Kolonial, diterbitkan oleh Perhimpoenan Peladjar-Peladjar Indonesia (Indonesische Studenten Unie), Januari 1933.[28]

[29] Sejarah Onderwijs (Pengajaran) Kolonial, diterbitkan oleh Perhimpoenan Peladjar-Peladjar Indonesia (Indonesische Studenten Unie), Januari 1933, dalam Pitut Soeharto dan A. Zainul Ihsan,Op.Cit., hal. 183. Bandingkan dengan tabel 1 mengenai Pertumbuhan Perdagangan di Hindia Belanda.

[30] Dari Pejabat Sementara Penasehat Urusan Bumiputera (R.A. Kern) kepada Gubernur Jenderal (Fock), 24 Januari 1924, dalam S.L. van der Wal, Op.Cit., hal. 68.

[31] Mestika Zeid, Pendidikan Nasional dan Masalah Distribusi Ilmu Pengetahuan, MSI dan Gramedia: Jakarta, 1991, hal. 24

(phesolo)

MASYARAKAT DAN PERUBAHAN SOSIAL: SURAKARTA AWAL ABAD XX

 

Tengah Passar Besar-Solo 1895 (Koleksi: http://www.kitlv.nl)

Pada awal abad XX tumbuh elit modern Indonesia yang gejala dan prosesnya juga tampak dalam konteks lokal Surakarta yang semula merupakan kota kerajaan di pedalaman yang diawasi pemerintah kolonial, mulai berubah wajah dan semangatnya. Perubahan ini disebabkan berbagai faktor yang mendorong berbagai kemajuan di tanah kerajaan berkaitan dengan berbagai kebijakan yang dikeluarkan oleh pemerintah kolonial Belanda, mulai dari status kerajaan hingga berbagai kebijakan ekonomi – politik kolonial.

A.   Struktur Masyarakat

Surakarta sejak lama telah berhubungan dengan bangsa-bangsa lain. Kehadiran bangsa-bangsa lain maupun etnis lain dari luar Surakarta menyebabkan pertemuan beberapa kebudayaan yang berlainan itu semakin “erat”. Kebudayaan asing yang masing-masing didukung oleh etnik berbeda mempunyai struktur sosial yang berbeda pula, bercampur dalam wilayah Surakarta. Akibat pertemuan kebudayaan tersebut, kebudayaan Jawa di Surakarta diperkaya dengan berbagai kebudayaan lain. Lambat laun pengaruh tersebut semakin besar mempengaruhi berbagai bidang dan unsur kebudayaan. Terkait dengan pertemuan berbagai kebudayaan itu menimbulkan perubahan struktur pada masyarakat Jawa. Selain itu wilayah-wilayah kerajaan telah memiliki struktur sosial tradisional yang bertahan hingga pemerintahan kolonial dan bahkan dipertahankan oleh pemerintah kolonial Belanda sebagai bagian politik kolonialnya.

Banyak ahli antara lain Burger[1], Wertheim[2], Larson[3], Kuntowijoyo[4], Sartono Kartodirdjo[5], Houben[6] dan sebagainya yang telah membahas tentang stratifikasi sosial masyarakat Jawa, khususnya Surakarta. Stratifikasi sosial atau pelapisan masyarakat di Surakarta sangat bertalian dengan kedudukan keraton di dalam struktur sosial di Jawa. Struktur masyarakat di Surakarta memiliki dua anutan yaitu struktur masyarakat tradisional kerajaan dan struktur masyarakat yang dibangun oleh pemerintah kolonial Belanda.

Menurut F.A. Sutjipto[7] lapisan atas atau merupakan kelas elite,priyayi luhur, atau wong gede, merupakan kelas yang memerintah. Di strata ini ada raja dan para bangsawan serta pejabat kerajaan. Sebenarnya bila dilihat dalam sistem kategorisasi, kelompok atau golongan ini merupakan kelompok campuran priyayi yang berasal dari darah dalem dengan priyayi yang karena pangkat atau pengabdian. Adapaun lapisan bawah atau rakyat biasa, rakyat kecil atau wong cilik merupakan mayoritas penduduk kelas yang diperintah, baik penduduk kota maupun yang berada di pedesaan. Mereka adalah para pekerja yang tidak terdidik atau sedikit mendapat latihan kerja di perusahaan kecil. Rakyat kecil ini biasanya bekerja sebagai petani, buruh tani, buruh perkebunan dan pabrik serta tukang, perajin dan lainnya.

Sartono Kartodirdjo lebih menekankan pada analisis tentang struktur pada masyarakat Jawa selama jaman kolonial, yang dipusatkan pada ”peranan pekerjaan dan pendidikan serta sebagai indikasi posisi sosial”. Pengamatan perubahan struktur sosial dilakukan oleh Sartono Kartodirdjo dalam perspektif sejarah karena masyarakat Jawa pada masa itu sebagian besar masih berakar pada tradisi lama.[8] Dampak perkembangan pendidikan dan pengajaran, menurut Sartono, menumbuhkan golongan sosial baru yang mempunyai fungsi status baru, sesuai dengan diferensiasi dan spesialisasi dalam bidang sosial ekonomi dan pemerintahan. Lebih lanjut Sartono Kartodirdjo membagi masyarakat Hindia Belanda dalam beberapa kelompok sosial, yaitu: 1) elite birokrasi yang terdiri dari Pangreh Praja Eropa (Europees Binnenlands Bestuur) danPangreh Praja Pribumi, 2) Priyayi birokrasi termasuk Priyayi ningrat, 3) Priyayi profesional, 4) golongan Belanda dan golongan Indo yang secara formal masuk status Eropa dan mempunyai tendensi kuat untuk mengidentifikasikan diri dengan pihak Eropa, dan 5) orang kecil (wong cilik) yang tinggal di kampung[9].

Struktur sosial tradisional menempatkan raja dan priyayi sebagai kelas penguasa sedangkan rakyat biasa yang terdiri dari petani, pedagang sebagai kelas yang diperintah. Struktur masyarakat tradisional ini mulai dirombak oleh pemerintah kolonial Belanda semenjak diberlakukannya politik liberal dan dilanjutkan hingga politik etis diberlakukan. Dengan direduksinya kekuasaan feodal Surakarta maka struktur masyarakat Surakarta pada masa awal abad XX mengalami perubahan dengan diberlakukannya struktur masyarakat yang dibuat oleh pemerintah kolonial yaitu golongan Eropa menempati piramida tertinggi dilanjutkan dengan golongan Timur asing yang terdiri dari bangsa China, Arab dan asia lainnya. Masyarakat pribumi Surakarta ditempatkan sebagai masyarakat kelas bawah dalam struktur masyarakat kolonial Belanda.

 

Gambar 1. Bangsawan Keraton Kasunanan Surakarta tahun 1915 (Sumber: www.kitlv.nl).

Konsekuensi dari pembagian struktur masyarakat kolonial di Surakarta adalah berhubungan dengan politik yaitu untuk melemahkan kekuasaan golongan bangsawan yang memiliki kekuasaan penuh dalam struktur masyarakat tradisional. Walaupun begitu, pemerintah kolonial Belanda tidak menghapuskan struktur masyarakat tradisional di Surakarta secara penuh, struktur masyarakat tradisional ini digunakan oleh pemerintah kolonial Belanda dalam mengatur masyarakat di wilayah Surakarta. Selain itu, pembagian struktur masyarakat kolonial ini juga memberikan hak dan kewajiban yang berbeda dalam kehidupan masyarakat di Surakarta.

Suhartono[10] menggambarkan bahwa masyarakat Surakarta terbagi dalam dua golongan sosial yang besar yaitu golongan atas yang terdiri dari para bangsawan dam priyayi, dan golongan bawah yang terdiri dari petani, buruh tani, pedagang, tukang, perajin dan lain-lain. Bangsawan adalah golongan sosial atas yang memiliki hubungan genealogi dengan raja. Mereka merupakan sentana atau keluarga raja. Priyayi juga termasuk golongan sosial atas dan mereka merupakan pejabat dalam pemerintahan kerajaan atau narapraja.

 

Gambar 2. Raden Adipati Sosrodiningrat rijksbestuurder Surakarta bersama para nayaka tahun 1900 (Sumber: www.kitlv.nl).

Dua golongan sosial yaitu priyayi dan wong cilik menempati wadah budaya yang berbeda yang ditunjukkan oleh struktur apanage. Di satu pihak, priyayi dengan gaya hidupnya, kebiasaan, makanan, dan pakaian, serta simbol-simbolnya menunjukkan gaya aristokrat. Keadaan semacam ini menjadi pola ideal bagi priyayi, bahkan Dezentje, penyewa tanah asing yang luas meniru gaya hidup bangsawan Jawa. Di lain pihak bagi wong cilik, lingkungan pedesaan banyak mempengaruhi tingkah laku mereka. Kebiasaan polos, terbuka, dan kasar merupakan bentuk budaya pedesaan.

 

Gambar 3. Masyarakat desa di Surakarta sebagai penjual arang dan pengrajin anyaman pandan tahun 1920 (Sumber: www.kitlv.nl).

Status sosial memiliki hirarki yang terdiri dari golongan-golongan sosial sebagai berikut, golongan penguasa, bangsawan, dan priyayimenempati status sosial atas. Para elit birokrat yang mendapatkan tanah apanage membentuk golongan penguasa. Mereka hidup daripajeg, pundhutan, dan berbagai layanan. Status sosial serta hak-hak pribadi mereka dapat diketahui dari gelar dan lambang yang dipakai yang menunjukkan dari golongan mana mereka berasal.

Bersamaan dengan perkembangan birokrasi kolonial dan agro-industri pada pertengahan abad XIX, golongan birokrat makin kuat statusnya untuk mendukung pelaksanaan administrasi kolonial. Banyak jabatan dalam pemerintahan kolonial mulai diisi olehpriyayi cilik, seperti juru tulis, penarik pajak dan kasir sampai dengan pengawas-pengawasnya dengan gelar mantri. Jadi kedudukan golongan bangsawan dalam birokrasi kolonial maupun dalam pemerintahan kerajaan mulai tergeser setelah masuknya golonganpriyayi cilik.

Kuntowijoyo[11] menegaskan bahwa keberadaan priyayi cilik yang mampu menguasai kedudukan dalam birokrasi kerajaan maupun birokrasi kolonial dilakukan melalui beberapa tahapan yaitu suwitapada priyayi tinggi kemudian magang pada salah satu profesi. Diwisuda menjadi priyayi sungguhan adalah sebuah kehormatan bagi seseorang. Maka mata rantai kepriyayian yang bergerak dari bawah ke atas itu menjadikan politik bagi priyayi adalah patron-client politics. Hal ini berlaku baik bagi priyayi yang bekerja dalam pemerintahan maupun yang bekerja sebagai abdi dalem keraton.

B.   Modernisasi

Perkembangan Masyarakat di kota Surakarta dalam perjalanannya ditunjang dan dibatasi oleh kondisi-kondisi kekinian masyarakat. Tingkat perkembangan masyarakat di Surakarta merupakan hasil dari proses perkembangan jaman yang dipahami bukan sebagai proses yang bersifat kebetulan, melainkan sebagai fenomena historis. Keunikan-keunikan yang terkandung di dalamnya akan dapat dipahami dengan lebih baik apabila realitas-realitas sosio kultural masyarakat tempat berlangsungnya proses perubahan itu tidak dikesampingkan.

Ketika Surakarta mulai bersentuhan dengan modernisasi, masyarakat di daerah ini terbentuk atas beberapa etnis. Selain kelompok pribumi yang menduduki jumlah terbesar, terdapat pula sekelompok orang-orang Eropa dan Timur Asing. Pada tahun 1920 jumlah penduduk Karesidenan Surakarta mencapai 2.049.547 penduduk dan mengalami kenaikan jumlah penduduk ketika sensus pertama kali dilakukan oleh pemerintah kolonial Belanda pada tahun 1930 menjadi 2.564.460 penduduk.[12] Sedangkan penduduk kota Surakarta sendiri pada tahun 1920 berjumlah 343.681 penduduk dan mengalami kenaikan pada tahun 1930 menjadi 391.734 penduduk. Hal ini dapat dilihat dari tabel di bawah ini:

Tabel 1.

Jumlah Penduduk di Karesidenan Surakarta dan Kadipaten Mangkunegaran Tahun 1920 dan Tahun 1930

Kabupaten

Banyaknya Jumlah Penduduk

Luas Wilayah (km)

Banyak Penduduk dalam km

1920

1930

1920

1930

Surakarta

343.681

391.734

5247

656

747

Sragen

244.943

323.621

9953

256

325

Klaten

476.364

574.788

7258

657

792

Boyolali

286.538

378.063

10643

270

355

Jumlah

1.351.526

1.666.906

33101

408

504

Mangkunegaran

217.524

321.441

8127

267

395

Wonogiri

480.497

576.113

19287

244

298

Jumlah

698.021

897.554

27414

218

327

Jumlah Keseluruhan

2.049.547

2.564.460

60515

337

424

Sumber: Diolah dari Bab Pangetaning Cacah Jiwa Bawah Dalem Surakarta serta Bawah Mangkunegaran Taun 1930, Koleksi Arsip Sana Pustaka Kraton Surakarta No. 19500 (166 Ca).

Sedangkan penduduk yang bertempat tinggal di kota khususnya Surakarta dan Kadipaten Mangkunegaran berjumlah 163.013 jiwa, yaitu di pusat kota Surakarta berjumlah 127.830 jiwa dan Kadipaten Mangkunegaran berjumlah 35.183. Hal ini dapat dilihat dari tabel di bawah ini:

Tabel 2.

Jumlah Penduduk Yang Tinggal di Kota Tahun 1930

Kota

Banyak Penduduk

Luas Wilayah (km)

Banyak Penduduk dalam km

Surakarta

127.830

20

6.391

Kadipaten Mangkunegaran

35.183

4

9.021

Klaten

12.166

2

6.083

Boyolali

10.166

54

1.804

Sragen

15.381

62

2.461

Wonogiri

7.831

49

1.598

Jumlah

208.557

191

27.358

Sumber: Diolah dari Bab Pangetaning Cacah Jiwa Bawah Dalem Surakarta serta Bawah Mangkunegaran Taun 1930, Koleksi Arsip Sana Pustaka Kraton Surakarta No. 19500 (166 Ca).

Banyaknya penduduk yang tinggal di perkotaan banyak disebabkan semakin berkembangnya kota Surakarta awal abad XX dengan banyak dibangunnya infrastruktur kota dan juga pembukaan industri-industri baru yang banyak membutuhkan tenaga kerja baru. Sehingga terjadi arus urbanisasi dari pedesaan-pedesaan ke kota yang baru berkembang. Hal ini mengindikasikan bahwa kota Surakarta menjadi tempat yang cukup memberikan harapan bagi usaha-usaha di bidang ekonomi.

Jumlah penduduk di Surakarta pada tahun 1930 memiliki keberagaman suku bangsa. Penduduk pribumi yang tinggal di Surakarta menempati jumlah yang cukup besar selanjutnya diikuti oleh masyarakat Cina, Eropa dan Arab. Hal ini dapat dilihat dari tabel di bawah ini:

Tabel 3.

Jumlah Penduduk di Karesidenan Surakarta dan Kadipaten Mangkunegaran Menurut Suku Bangsa Tahun 1930.

Kabupaten

Jumlah Penduduk

Pribumi

Belanda

China

Arab

Surakarta

377.153

2.493

10.745

1.343

Sragen

321.385

474

946

16

Klaten

569.422

1.754

3.580

32

Boyolali

376.445

466

641

11

Mangkunegaran

317.558

1.222

2.593

68

Wonogiri

574.463

45

1.600

5

Kota Wilayah Dalem Surakarta I

32.541

873

1.708

61

Wilayah Kadipaten Mangkunegaran I

114.607

2.330

9.566

1.327

Jumlah

2.683.574

9.657

31.379

2.863

Sumber: Diolah dari Bab Pangetaning Cacah Jiwa Bawah Dalem Surakarta serta Bawah Mangkunegaran Taun 1930, Koleksi Arsip Sana Pustaka Kraton Surakarta No. 19500 (166 Ca).

Dari tabel di atas terlihat bahwa jumlah pribumi yang tinggal di wilayah Surakarta cukup besar dan masyarakat pribumi tersebar diberbagai pelosok desa maupun kota Surakarta. Sebagian besar masyarakat pribumi yang hidup di pedesaan hidup sebagai petani maupun buruh perkebunan yang dimiliki oleh orang Eropa maupun China.

 

Gambar 4. Sebuah perkampungan di desa Djawa (Sumber: P.H. Van Moerkerken J.R dan R. Noordhoof, Atalas Gambar-Gambar Akan Dipakai Oentoek Pengadjaran Ilmoe Boemi, Amsterdam-S.L. van Looy: Balai Pustaka, 1922).

Penduduk Eropa dan Belanda banyak tinggal di daerah perkotaan dengan ditandai adanya bangunan yang disebut “loji” dan berada di daerah dekat dengan benteng Vastenburg serta alun-alun utara. Biasanya mereka bekerja sebagai pejabat Gouvernement ataupun sebagai pengusaha perkebunan swasta, dinas militer, dan sebagainya.

Selesai

Hal Cipta

Dr Iwan suwandy

Ini contoh vbuku elektronik dalam Cd-Rom karya Dr iwan

bagi yang beminat silahkan mengunbungi liwat emailiwansuwandy@gmail.com

jangan lupa upload kopi KTP dan alamat lengkap karena banyak hiject internet saat ini

harga empat Cd rom lima ratus ribu rupia per Cd

 

 

DR IWAN CD ROM SAMPLE”KOLEKSI SEJARAH PRRI”

 

DR IWAN MENGAJUKAN TAWARAN KEPADA PIHAK TELEVISI MILIK BOOS HERRY TANOE AGAR MENAYANGKAN FILM DOKUMENTER SEJARAH PRRI BERDASARKAN BUKU ELEKTROIK DR IWAN BERJUDUL THE PRRI HISTORY COLLECTION.

FILM DOKUMENTER INI AKAN MENJELASKAN MENGAPA TERJADINYA PRRI

BAGAIMANA TERJADI PERSAINGAN POLITIS DAN IDEOLOGIS ANTARA PROF DR SOEMITRO DJOYOHADIKUSUMOALAM AYANHNYA CAPRES PRABOWO SUBIATO VS BUNG KARNO AYAHNYA BU MEGA DGN JABOANNYA JOKOWI.

FILM DOKUMENTER INI PERLU DIKETAHUI OLEH SELURUH RAKYAT INDONESIA BAGAIMANA PROF DR SOEMITRO BERJUANG UNTUK IDEOLOGI ANTI KOMUNIS DAN REFORMASI DEMOKRASI VS BUNG KARNO DENGAN IDEOLOGIS BEBAS AKTIF TAK KE KIRI ATAU KEKANAN DAN DEMOKRASI TERPIMPIN.

BAGAIMANA  PROF SOEMITRO DAN PUTRANYA PRABOWO SUBIANTO TERPAKSA MELARIKAN DIRI KE SUMATRA MULANYA KE PALEMBANG KEMUDIAN KE SUMATERA BARAT,MENDIRIKAN FAKULTAS EKONOMI UNIVERSITAS ANDALAS

baca cuplikan film dokumentyer dibawah ini

 

15 Februari 1958

Reaksi dari PRRI adalah dengan mengumumkan pendirian Pemerintahan Tandingan yaitu Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia (PRRI) lengkap dengan kabinetnya pada tanggal 15 Februari 1958. Susunan Kabinet PRRI adalah sebagai berikut:
1. Syarifuddin Prawiranegara sebagai Perdana Mentri dan Mentri Keuangan.
2. M Simbolon sebagai Mentri Luar Negri.
3. Burhanudin Harahap sebagai Mentri Pertahanan dan mentri kehakiman.
4. Dr. Sumitro Djojohadikusumo sebagai Ment
eri Perhubungan/Pelayaran

 

Sejumlah tokoh pusat juga bergabung ke dalamnya seperti Dr. Sumitro Djojohadikusumo, Mr. Asa’at, Moh. Natsir, Kol. Zulkifli Lubis dan bekas Perdana Menteri Burhanuddin Harahap dan lain-lain.

Sejak itu meletuslah apa yang disebut oleh Jakarta sebagai ”pemberontakan” oleh PRRI, tetapi sebaliknya para pendukungnya menyebut gerakan mereka sebagai ”pergolakan” daerah menentang rejim Jakarta yang inkonstitusional. amanah konstitusionalnya

 

Semenjak meresmikan pendirian Sekolah Tinggi Ekonomi (STE), Prof.Dr. Sumitro Djojohadikusumo tetap tinggal di Padang. Bahkan beliau tetap memberikan kuliah, disamping berbagai tugas yang dihadapinya dalam Dewan Banteng, sampai sekitar seminggu sebelum diproklamirkannya Pemerintah Revolusioner Republik Indonesia (PRRI) pada tanggal 15 Februari 1958.

Selama pergolakan PRRI, sebagian sivitas akademika Unand, termasuk dari Sekolah Tinggi Ekonomi dan bukan Unand secara institusional mulai terlibat dalam kegiatan PRRI, dampaknya tidak dapat dielakkan. Kegiatan perkuliahan di luar kota Padang terhenti sama sekali, sebagian tenaga pengajar Unand mulai berperan selaku staf ahli dalam lingkungan PRRI. Sebaliknya, sebagian besar mahasiswa telah berada dalam medan pertempuran melawan pasukan ABRI. Sebagian besar Tim affiliasi FEUI memegang peranan penting dalam Dewan Banteng. Sjofjan Jusuf langsung ditugaskan untuk mendirikan sebuah bank kemudian berkembang menjadi Bank Pembangunan Daerah (BPD), Samiadji Djajengwinardo sebagai Kepala Urusan Perdagangan Luar Negeri, dan Dwiono Chandradi sebagai penasihat Menteri Perdagangan Kabinet PRRI yang dijabat oleh Prof.Dr. Sumitro Djojohadikusumo.(fekonenand)

 

KATA SANJAK INI DIBACA OLEH SASTRAWAN INDONESIA ASAL MINANGKABAU AGAR TERDENGAR DENGAN INDAH 

19 56 waktunya lupa
Natsir bicara apa adanya
Ummat Islam menghadapi bahaya
Inilah cobaan Allah ta’ala

Akan diindang, ditampi teras
Biar terpisah padi dan beras
Kaum muslimin haruslah tegas
Orang Komunis sedang mengganas

 

Dengan serius Natsir berqalam
Ibarat Ikan di dalam kolam
Dilempar batu jatuh ke dalam
Ummat Islam sedang terancam

Akan terjadi suatu drama
Ummat Islam harus waspada
Maju kena, mundurpun kena
Kepada Allah kita berdoa

Tiada perlu berpikir lama
Ummat Islam siaplah segera
Membela negeri, tanah tercinta
Diancam Komunis anti agama

Ada ditulis di koran koran
D.N. Aidit pernah mengatakan
Orang P.K.I anti Tuhan
Hatiku geram tiada tertahan

Membaca syair mungkin bosan
Tapi cerita perlu diteruskan
Eseipun ditulis dalam karangan
Silakan dibaca untuk dipikirkan

(Burhanuddin St Kayo)

 

Keadaan yang berubah

Situasi politik berkembang cepat
Orang Minang telah bersepakat
Rezim Soekarno sedang berkhianat
Jauh di hati harapan rakyat

Achmad Husein muncul ke depan
Mengumumkan tuntutan dengan permintaan
Lima hari lima malam waktu diberikan
Pemerintah mundur dari kekuasaan

Dua tuntutan dicatat sejarah
Perlu ditandai tinta merah
Berikan otonomi kepada daerah
Orang Komunis jangan memerintah

Presiden Soekarno bernafas sesak
Para panglima sedang menggertak
Daerah dianggap sebagai pemberontak
Kaum Komunis lalu bersorak

 

 

DAN MENJADI MENTERI PRRI DAN MENCARI DUKUNGAN DARI LUAR NEGERI SENJATA MELALUI AGEN CIA,DAN AKHIRNYA LARI KE MALAYA MEMBUKA SEKOLAH.

PROF SOEMITRO SAMPAI SAAT INI BELUM DIANUGRAHKAN GELAR PAHLAWAN NASIONAL BEGITU JUGA SAUDARANYA SUBIANTO DJOYOHADIKUSUMO YANG MENINGGAL SAAT REVOLUSI.

MEMANG PERSETERUAN DAN PERSAINGAN POLITIK ANTARA SWASTA DAN MILITER,JAWA DAN NON JAWA SUDAH ADA SEJAK DULU.

KISAH PRRI INI BANYAK DITUTPTUPI DAN NANYAK GENERASI MUDA TIDAK TAHU APA SEBENARNYA TERJADI

OLEH KARENA ITU DR IWAN TERHIMBAU MEMBERIKAN HAK UNTUK PENAYANGAN FILM DOKUMENTER PRRI INI KEPADA TV BOSS HARRY TANOE YANG MERUPAKAN PEDUKUNG CAPRES PRABOWO SUBIATO

DENGAN SYARAT HAK CIPTA DIHORMATI. SECARA GRATIS.

LIHAT BEBRAPA CUPLIKAN DARI FILM DOKUMENTER PRRI TERSEBUT

PADANG SUMATERA BARAT

TANAH KELAHIRANKU TERCINTA

Koleksi Sejarah Pergolakan PRRI Bagian Pertama

DEWAN BANTENG

 

Oleh

Dr Iwan Suwandy,MHA

Edisi Pribadi terbatas khusus Untuk Kolektor & Historian

Hak Cipta@Dr Iwan Suwandy 2013

PADANG SUMATERA BARAT

TANAH KELAHIRANKU TERCINTA

Bagian Keempat

Koleksi Sejarah Dewan Banteng dan PRRI

Oleh

Dr Iwan Suwandy,MHA

Edisi Terbatas Buku Elektronik Dalam CD-ROM

Hak Cipta @Dr Iwan Suwandy 2013

DAFTAR ISI

Pengantar

Buku Pertama

Koleksi Sejarah Dewan Banteng (1945-1957)

Buku Kedua

Koleksi Sejarah PRRI

( 1958-1961)

Lampiran Artikel Terkait

Pembahasan Catatan Kaki

Profil Penulis

 

KOLEKSI SEJARAH

DEWAN BANTENG

Oleh

 

Dr Iwan Suwandy,MHA

Edisi Pribadi Terbatas Buku Elektronik Dalam CD-ROM

Khusus Untuk Kolektor  Senior dan Historian

Hak Cipta @ 2013

Uang RI  yang sudah ditarik tetap berlaku diwilayah PRRI dengan Tanda tangan Ahmad Husein warna merah dan cap Panglima  Angkatan Darat Devisi  Dewan banteng.sedangkan uang 100o rupiah dengan tandatangan Sjafruddinprawiranegara.

 

Dr  Iwan  berdiri nomor dua kanan dihalaman rumah jalan Bundo Kandung 16  yang lokasi  didepan

Kantor Dewan Banteng(sebelumnya adalah Panti Asuhan Bundo Kandung),sekarang  Kantor Polisi Militer Korem SUMBAR

 

Pemilik Koleksi

Dr Iwan Suwandy ,MHA

Kombes Pol (P)

Penemu

Driwancybermuseum web Blog

Hhtp://www.Driwancybermuseum.wordpress.com

 JIKA TV BERSEDIA SILAHKAN BACA  FILM DOKUMENTER SELANJUTNYA

TERIMA KASIH

DR IWAN SUWANDY,MHA

 

 

 

 

FILM DOKUMENTER”KOLEKSI SEJARAH PRRI’

DR IWAN MENGAJUKAN TAWARAN KEPADA PIHAK TELEVISI MILIK BOOS HERRY TANOE AGAR MENAYANGKAN FILM DOKUMENTER SEJARAH PRRI BERDASARKAN BUKU ELEKTROIK DR IWAN BERJUDUL THE PRRI HISTORY COLLECTION.

FILM DOKUMENTER INI AKAN MENJELASKAN MENGAPA TERJADINYA PRRI

BAGAIMANA TERJADI PERSAINGAN POLITIS DAN IDEOLOGIS ANTARA PROF DR SOEMITRO DJOYOHADIKUSUMOALAM AYANHNYA CAPRES PRABOWO SUBIATO VS BUNG KARNO AYAHNYA BU MEGA DGN JABOANNYA JOKOWI.

FILM DOKUMENTER INI PERLU DIKETAHUI OLEH SELURUH RAKYAT INDONESIA BAGAIMANA PROF DR SOEMITRO BERJUANG UNTUK IDEOLOGI ANTI KOMUNIS DAN REFORMASI DEMOKRASI VS BUNG KARNO DENGAN IDEOLOGIS BEBAS AKTIF TAK KE KIRI ATAU KEKANAN DAN DEMOKRASI TERPIMPIN.

BAGAIMANA  PROF SOEMITRO DAN PUTRANYA PRABOWO SUBIANTO TERPAKSA MELARIKAN DIRI KE SUMATRA MULANYA KE PALEMBANG KEMUDIAN KE SUMATERA BARAT,MENDIRIKAN FAKULTAS EKONOMI UNIVERSITAS ANDALAS

baca cuplikan film dokumentyer dibawah ini

 

15 Februari 1958

Reaksi dari PRRI adalah dengan mengumumkan pendirian Pemerintahan Tandingan yaitu Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia (PRRI) lengkap dengan kabinetnya pada tanggal 15 Februari 1958. Susunan Kabinet PRRI adalah sebagai berikut:
1. Syarifuddin Prawiranegara sebagai Perdana Mentri dan Mentri Keuangan.
2. M Simbolon sebagai Mentri Luar Negri.
3. Burhanudin Harahap sebagai Mentri Pertahanan dan mentri kehakiman.
4. Dr. Sumitro Djojohadikusumo sebagai Ment
eri Perhubungan/Pelayaran

 

Sejumlah tokoh pusat juga bergabung ke dalamnya seperti Dr. Sumitro Djojohadikusumo, Mr. Asa’at, Moh. Natsir, Kol. Zulkifli Lubis dan bekas Perdana Menteri Burhanuddin Harahap dan lain-lain.

Sejak itu meletuslah apa yang disebut oleh Jakarta sebagai ”pemberontakan” oleh PRRI, tetapi sebaliknya para pendukungnya menyebut gerakan mereka sebagai ”pergolakan” daerah menentang rejim Jakarta yang inkonstitusional. amanah konstitusionalnya

 

Semenjak meresmikan pendirian Sekolah Tinggi Ekonomi (STE), Prof.Dr. Sumitro Djojohadikusumo tetap tinggal di Padang. Bahkan beliau tetap memberikan kuliah, disamping berbagai tugas yang dihadapinya dalam Dewan Banteng, sampai sekitar seminggu sebelum diproklamirkannya Pemerintah Revolusioner Republik Indonesia (PRRI) pada tanggal 15 Februari 1958.

Selama pergolakan PRRI, sebagian sivitas akademika Unand, termasuk dari Sekolah Tinggi Ekonomi dan bukan Unand secara institusional mulai terlibat dalam kegiatan PRRI, dampaknya tidak dapat dielakkan. Kegiatan perkuliahan di luar kota Padang terhenti sama sekali, sebagian tenaga pengajar Unand mulai berperan selaku staf ahli dalam lingkungan PRRI. Sebaliknya, sebagian besar mahasiswa telah berada dalam medan pertempuran melawan pasukan ABRI. Sebagian besar Tim affiliasi FEUI memegang peranan penting dalam Dewan Banteng. Sjofjan Jusuf langsung ditugaskan untuk mendirikan sebuah bank kemudian berkembang menjadi Bank Pembangunan Daerah (BPD), Samiadji Djajengwinardo sebagai Kepala Urusan Perdagangan Luar Negeri, dan Dwiono Chandradi sebagai penasihat Menteri Perdagangan Kabinet PRRI yang dijabat oleh Prof.Dr. Sumitro Djojohadikusumo.(fekonenand)

 

KATA SANJAK INI DIBACA OLEH SASTRAWAN INDONESIA ASAL MINANGKABAU AGAR TERDENGAR DENGAN INDAH 

19 56 waktunya lupa
Natsir bicara apa adanya
Ummat Islam menghadapi bahaya
Inilah cobaan Allah ta’ala

Akan diindang, ditampi teras
Biar terpisah padi dan beras
Kaum muslimin haruslah tegas
Orang Komunis sedang mengganas

 

Dengan serius Natsir berqalam
Ibarat Ikan di dalam kolam
Dilempar batu jatuh ke dalam
Ummat Islam sedang terancam

Akan terjadi suatu drama
Ummat Islam harus waspada
Maju kena, mundurpun kena
Kepada Allah kita berdoa

Tiada perlu berpikir lama
Ummat Islam siaplah segera
Membela negeri, tanah tercinta
Diancam Komunis anti agama

Ada ditulis di koran koran
D.N. Aidit pernah mengatakan
Orang P.K.I anti Tuhan
Hatiku geram tiada tertahan

Membaca syair mungkin bosan
Tapi cerita perlu diteruskan
Eseipun ditulis dalam karangan
Silakan dibaca untuk dipikirkan

(Burhanuddin St Kayo)

 

Keadaan yang berubah

Situasi politik berkembang cepat
Orang Minang telah bersepakat
Rezim Soekarno sedang berkhianat
Jauh di hati harapan rakyat

Achmad Husein muncul ke depan
Mengumumkan tuntutan dengan permintaan
Lima hari lima malam waktu diberikan
Pemerintah mundur dari kekuasaan

Dua tuntutan dicatat sejarah
Perlu ditandai tinta merah
Berikan otonomi kepada daerah
Orang Komunis jangan memerintah

Presiden Soekarno bernafas sesak
Para panglima sedang menggertak
Daerah dianggap sebagai pemberontak
Kaum Komunis lalu bersorak

 

 

DAN MENJADI MENTERI PRRI DAN MENCARI DUKUNGAN DARI LUAR NEGERI SENJATA MELALUI AGEN CIA,DAN AKHIRNYA LARI KE MALAYA MEMBUKA SEKOLAH.

PROF SOEMITRO SAMPAI SAAT INI BELUM DIANUGRAHKAN GELAR PAHLAWAN NASIONAL BEGITU JUGA SAUDARANYA SUBIANTO DJOYOHADIKUSUMO YANG MENINGGAL SAAT REVOLUSI.

MEMANG PERSETERUAN DAN PERSAINGAN POLITIK ANTARA SWASTA DAN MILITER,JAWA DAN NON JAWA SUDAH ADA SEJAK DULU.

KISAH PRRI INI BANYAK DITUTPTUPI DAN NANYAK GENERASI MUDA TIDAK TAHU APA SEBENARNYA TERJADI

OLEH KARENA ITU DR IWAN TERHIMBAU MEMBERIKAN HAK UNTUK PENAYANGAN FILM DOKUMENTER PRRI INI KEPADA TV BOSS HARRY TANOE YANG MERUPAKAN PEDUKUNG CAPRES PRABOWO SUBIATO

DENGAN SYARAT HAK CIPTA DIHORMATI. SECARA GRATIS.

LIHAT BEBRAPA CUPLIKAN DARI FILM DOKUMENTER PRRI TERSEBUT

PADANG SUMATERA BARAT

TANAH KELAHIRANKU TERCINTA

Koleksi Sejarah Pergolakan PRRI Bagian Pertama

DEWAN BANTENG

 

Oleh

Dr Iwan Suwandy,MHA

Edisi Pribadi terbatas khusus Untuk Kolektor & Historian

Hak Cipta@Dr Iwan Suwandy 2013

PADANG SUMATERA BARAT

TANAH KELAHIRANKU TERCINTA

Bagian Keempat

Koleksi Sejarah Dewan Banteng dan PRRI

Oleh

Dr Iwan Suwandy,MHA

Edisi Terbatas Buku Elektronik Dalam CD-ROM

Hak Cipta @Dr Iwan Suwandy 2013

DAFTAR ISI

Pengantar

Buku Pertama

Koleksi Sejarah Dewan Banteng (1945-1957)

Buku Kedua

Koleksi Sejarah PRRI

( 1958-1961)

Lampiran Artikel Terkait

Pembahasan Catatan Kaki

Profil Penulis

 

KOLEKSI SEJARAH

DEWAN BANTENG

Oleh

 

Dr Iwan Suwandy,MHA

Edisi Pribadi Terbatas Buku Elektronik Dalam CD-ROM

Khusus Untuk Kolektor  Senior dan Historian

Hak Cipta @ 2013

Uang RI  yang sudah ditarik tetap berlaku diwilayah PRRI dengan Tanda tangan Ahmad Husein warna merah dan cap Panglima  Angkatan Darat Devisi  Dewan banteng.sedangkan uang 100o rupiah dengan tandatangan Sjafruddinprawiranegara.

 

Dr  Iwan  berdiri nomor dua kanan dihalaman rumah jalan Bundo Kandung 16  yang lokasi  didepan

Kantor Dewan Banteng(sebelumnya adalah Panti Asuhan Bundo Kandung),sekarang  Kantor Polisi Militer Korem SUMBAR

 

Pemilik Koleksi

Dr Iwan Suwandy ,MHA

Kombes Pol (P)

Penemu

Driwancybermuseum web Blog

Hhtp://www.Driwancybermuseum.wordpress.com

 

 

Koleksi Sejarah

Dewan Banteng

1945-1957

Agustus 1945

Ahmad Hussein pada masa pendudukan Jepang  terpilih menjalani Latiha Gyugun,suatu latihan militer seperti PETA di Jawa.

Ahmad Gusein termasuk angkatan pertama pendidikan Gyugun di Padang bersama sekitar 40 orang lainnya,pendidikan tersebut selama aenam bulan dan ia diangkat menjadi Letnan Dua.

Ketika Jepang menyerah pada tahun 1945 disusl Proklamasi kemerdekaan Indonesia , Ahmad HUsein mengambil inisiatif mengumpulkan Pemuda, dan saat tersebut terbentuk BKR(Badan keaman Rakyat) di Padang .

(PRRI-Permesta,R.Z.Leirissa.jakarta.1991)

September 1945

Sekitar dua bulan setelah diproklamasikannya Republik Indonesia  pada bulan september 1945 , pasukan sekutu yang dipimpin Mayor Anderson tiba di Emma Haven, Teluk Bayur. Mereka kemudian menduduki gedung-gedung, gudang dan barak bekas Jepang di Padang.

 

Bersama sekutu itu, membonceng pula NICA (Nedelandsch Indie Civil Administratie), yakni pemerintahan Sipil Hindia Belanda. Tujuannya tak lain mencengkeramkan kukunya kembali setelah tiga setengah tahun lamanya hengkang dari Indonesia karena keok oleh Jepang. Waktu Jepang takluk dalam perang dunia kedua karena dibombardir sekutu, gantian Belanda tergiur lagi hendak masuk ke Indonesia.

Janji Belanda kepada sekutu waktu masuk ke Sumatera dan tempat lainnya di Indonesia adalah untuk membebaskan tawanan perang , memulangkan Jepang ke negerinya dan ikut serta menjaga keamanan dan ketertiban umum hingga pemerintahan peralihan berfungsi kembali.

 

Belanda tidak diperkenankan oleh Komando Sekutu Asia Tenggara yang disebut SEAC untuk campur tangan dalam urusan pemerintahan Republik, baik sipil maupun militer.

Demikian cerita Zulwadi Datuk Bagindo Kalih, Ketua III Dewan Harian Daerah (DHD) ’45 Sumatera Barat, mengutip buku Sejarah Perjuangan Kemerdekaan 1945 – 1949 di Kota Padang dan sekitarnya yang disusun Dr Mestika Zed, MA dan kawan – kawan, tahun 2002.

 

 

Waktu ditemui di Gedoeng Joeang, jalan Samudera, Padang, ia menceritakan catatan-catatan sejarah perjuangan Kota Padang tempo dulu yang dirangkum dari berbagai sumber.

Merinding juga bulu roma ketika diceritakan tentang perlawanan rakyat Padang hingga peristiwa Indarung dan Bandar Buat dibombardir Belanda dari udara.

Sejak sekutu menyerahkan kembali Indonesia ke tangan Belanda, meskipun dengan perjanjian tidak akan turut campur dalam urusan Republik, namun kurenah Belanda yang terkenal “cerdik buruk” itu malah ingin menguasai kembali Indonesia sepenuhnya. Belanda melancarkan agresi dimana-mana di wilayah Republik.(Zulwardi Dt.Bagindo)

  Pada masa konflik dengan tentara sekutu dari Inggris ,Ahmad Husein dipercayakan sebagai Komandan Padang Area,untuk koordinasi Pasukan serta Laskar Rakyat yang menentang Upaya Inggris  dan belanda untuk menduduki Sumatera barat.

(PRRI-Permesta,R.Z.Leirissa.jakarta.1991)

 

 

Desember 1945

Pasukan Pemuda Bersenjata sedang siap menerima perintah di Aur Tajungkang Bukitttingi pada achir tahun 1945

17 Agustus 1947

 

Kartupos Khusus Perinagtan  dua tahun Indonesia Merdeka dengan gambar Tentara,Tank dan pesawat Udara diterbitkan oleh BKST sumatera Tengah, kartupos ini terkirim dengan tambahan prangko NRI ,inilah satu-satunya kartupos asli yang liwat pos ditemukan oleh Dr Iwan di Padang.

 

17 Agustus 1947

Upacara pelantikan Kadet

 

 

 

 

Tiga orang Komandan Resimen  : Abdul Halim, Resimen I di Bukittinggi, Burhanuddin resimen II di Sungai Penuh(Kerinci) dan Ahmad Hussein Resimen III di Solok.

 

Komandan Divis III Banteng Kolonel Dahlan Djambek  dan Letnan Kolonel Jazid Aladin Kepala Markas Umum Divisi III dan Letnan Kolonel Ismael Lengah Komanda resimen III Divisi III Banteng.

 

Puteri Ksatria yang sedang melaksanakan tugas

 

 

 

 

 

 

Markas Polisi Tentara Detasmen 27 Resimen IV Divisi Banteng di Riau saat peringatan 2 tahun Indonesia merdeka 17 Agustus 1947

Laporan pelantikan perwira prajurit tamatan pendidikan Opsir Bukittinggi Angkatan Peratama dihadiri  oleh dari kiri  Letnan Kolonel Dahlan,Rasyid  Manggis, Mayor Alude St.Maradjo,Major  K.Rasjid. Baris Belakang dari kiri kekanan : Letnan Kolonel Hassan Basri,Mayor  Nazif Latif,kapten zainuddin, Kapten St.Muchtar, Kapten Iljas Jakub, Kapten Djamhur Djamin

 

Pendidikan angkatan Kedua dalam latihan di Lapangan ,kapten Zainuddin dan Letnan II Rustam Djafar berada ditengah-tengah mereka

 

Peragaan sebelum pelantikan para kadet Tamatan Pendidikan Opsir Divisi IX/Banteng dilantik.

 

Panji-Panji Divisi IX yang baru diserahkan oleh Residen Sumatera Barat Mr.S.M Rasjid kepada Komandan Divisi IX Kolonel Ismael Lengah diarak keliling Buktitinggi

 

 

 

Upacra Pemakaman Mayor Rasyid di Taman Bahagia Bukittinggi  kelihatan beberapa orang perwira sekutu yang menyeberang kepihak Republik Indonesia

 

Pasukan-pasukan Resimen VI/IX sedang berlatih  dengan mariam  anti tank

Pertemuan Komandan TNI NRI Sumatera Jenderal Major Suhardjo dengan  Datuk Simaradjo Ninik Mamak Minangkabau Sumatera Barat

 

April 1948

 

Pada bulanApril 1948, berdasarkan hasil musyawarah para panglimadan pembesar Militer di Bukittinggi, setiap perwira harus diturunkan pangkatnya satu tingkat

(syamaun Gaharu)

 

4 Juni 1948

Presiden Sukarno berkunjung ke Bukittinggi,

dan IPHOS mengabadikan  foto 

 

Divisi Banteng  sewaktu kedatangan Presiden Sukarno Di Bukittinggi tahun 1948

 

Bung Karno diatas Panggung kehormatan menyaksikan defile pasukan TNI dilapangan.

 

 

 

Dan Bung karno melihat defile pasukan disamping  Jam Gadang dari Istana Wakil presiden,

 

(Nugroho Notosutanto)

Lokasi upacara di Bukittinggi

Dr Iwan  3 year old with Brothers-Sisters with mother at Kali kecil Padang dibelakang pasar tanah kongs (1948)

 

September 1948

September 1948 Bung Karno Pernah Berkunjung dan Pidato di Matur

Rakyat Matur bukan hanya cinta kepada pemimpin yang ada dipusat saja, tapi ajaran agama yang memuliakan Tuhan dan Rasul serta kedua orang tua dan guru mereka tertanam sejak lama. Oleh sebab itu tiap fatwa atau petunjuk dari guru-guru atau pemimpin pasti mereka terima tanpa ragu-ragu. Oleh sebab itu bagaimanapun meluapnya semangat jihad untukmenjaga kehormatan negara

 

(bandarost web blog)

 

19 Desember 1948

 

Kira-kira setengah jam sebelum jam 00.00 malam tgl 19 Desember 1948, pihak Belanda mengumumkan kepada Republik Indonesia dan pada Komisi Tiga Negara (KTN) bahwa Belanda tidak mengakui dan tidak terikat lagi dengan persetujuan Renville.

.

 

Bukittinggi, kota pusat pemerintahan Sumatera pada masa itu, sejak tengah malam tgl. 18 Desember 1948 pula telah menjadi incaran penyerbuan pihak Belanda dengan penerbangan pesawat udara militer Belanda berkeliling-keliling sambil menyebarkan pamflet-pamflet.

 

Pagi tgl 19 Desember satuan pesawat udara pemburu jenis mustang dari pihak Belanda menyerang kota Bukittinggi dan sekitarnya dengan membom serta menembaki beberapa obyek. Menjelang tengah hari serangan pesawat-pesawat udara itu dilakukan secara bergelombang-gelombang, menyebabkan timbulnya kepanikan penduduk.

 

Terlihat sampai malam orang-orang berkelompok mapun sendiri-sendiri meninggalkan kota mengungsi menyelamatkan diri.

 

Sebagai seorang pemuda pelajar SMA di Bukittinggi pada masa itu, penulis adalah juga anggota Tentera Pelajar (T.P.) Sumatera Tengah – Batalyon Bukittinggi .

 

Sungguhnya namanya anggota Tentera Pelajar, tetapi belum mempunyai pengalaman bertempur dalam peperangan.

 

Kalau perang-perangan dalam latihan kemiliteran pernah juga ada pengalaman diperoleh secara teratur sejak tahun 1946 sampai awal 1948, dengan pelatih-pelatihnya para perwira dan bintara dari unit Pendidikan dan Latihan Divisi III TKR (kemudian Divisi IX Banteng).

 

Pembentukan dan pembinaan Tentera Pelajar di Sumatera Tengah oleh Pimpinan Divisi III TKR/TRI tidaklah diarahkan untuk dijadikan pasukan tempur, tetapi disiapkan sebagai satuan-satuan cadangan dan bantuan dalam rangka wajib bela negara.

 

Kolonel M. Dahlan Jambek (alm.) selaku pimpinan Divisi III TRI pernah didatangi oleh wakil-wakil pelajar yang dengan semangat menyala-nyala meminta agar TRI mengikut sertakan satuan-satuan pelajar terlatih (T.P.) dalam pasukan tempur. Tetapi dengan hati-hati sekali beliau meminta pengertian para pelajar untuk terus bersekolah demi persiapan hari depan bangsa dan negara, disamping itu tetap berlatih menurut kesatuan masing-masing dengan teratur dan sungguh-sungguh. (lihat: Chaidir Nien Latief, Nostalgia dan Sejarah Perjuangan Pelajar di Sumatera, Merdeka 27 Desember 1980).

 

Dengan datangnya serangan yang mendadak dari pihak Belanda pada 19 Desember 1948 yang kebetulan pula mulainya liburan sekolah, maka maka tidak ada satupun pedoman, petunjuk maupun instruksi pimpinan Tentera Pelajar atau Pimpinan Organisasi pertahanan/keamanan lainnya yang dapat diikuti oleh para anggota T.P. di Sumatera Barat.

 

Pada umumnya para anggota T.P. yang bertebaran di Sumatera Barat mengambil inisiatif dan mengambil keputusan masing-masing untuk memilih cara dan bentuk perjuangan yang dapat dilanjutkan sebagai pelajar terlatih militer. Ada yang tinggal di dalam kota untuk menunggu kesempatan bersekolah kembali, tetapi ada pula yang memilih ke luar kota bergabung dengan kesatuan-kesatuan pejuang lainnya untuk bergerilya.

 

Dalam keadaan terombang-ambing untuk menentukan sikap disaat gawat tersebut, penulis terdampar pada senja 19 Desember 1948 ke markas Mobiele Brigade Polisi (Mobbrig) Sumatera Barat, di Birugo Bukittinggi. Rencana semula hendak menemui paman penulis sendiri (alm. Amir Mahmud, Inspektur Polisi I, Komandan Mobbrig Sumatera Barat, tetapi malam itu berkesempatan bertatap muka dengan Bapak Suleiman Effendi (Pembantu Komisaris Besar, Kepala Polisi Propinsi Sumatera Tengah) dan Bapak R. Abdurachman Suriokusumo (Komisaris Polisi I, Kepala Kepolisian Sumatera Barat).

 

Dari beliau beliau inilah penulis beroleh keterangan bahwa dalam waktu singkat mungkin tentera Belanda akan sampai di Bukittinggi; semua pasukan pasukan bersenjata serta pejabat pejabat pemerintah Republik Indonesia akan meninggalkan kota dan akan melanjutkan perjuangan secara bergerilya dari luar kota  melawan kekuatan pemerintahan dan tentera pendudukan Belanda.

 

Penulis juga diberi advis pada waktu itu, supaya sebaiknya sebagai pelajar pulang saja ke kampung dan menunggu perkembangan sampai ada kemungkinan untuk bersekolah.

Dengan mengemukakan alasan bahwa penulis adalah pula salah seorang anggota Tentera Pelajar  yang pernah mendapat latihan kemiliteran, memohon kiranya bapak bapak pimpinan kepolisisan tersebut mau membawa serta penulis dalam perjuangan ge-rilya di luar kota kemanapun akan pergi.

 

Permohonan penulis diperkenankan oleh Bapak Suleiman Effendi dan pada malam itu juga diberi tugas untuk membantu Pemb. Inspektur II Bustaman (terakhir Let. Kol. Pol. di Kodak Jakarta Raya) mengemasi arsip-arsip / dokumen-dokumen yang perlu diselamatkan.

 

Sebagai anggota polisi yang bergabung dalam korps Mobiele Brigade (Mobbrig) malam itu pula penulis memperoleh baju seragam / uniform Mobbrig Sumatera Barat yang pada waktu itu terdiri dari: celana dan kemeja khaki-dril, jaket wol berwarna coklat (bekas uniform tentera Australia) dan karena sepatu kulit tidak ada saat itu hanya diberi sepatu karet. Senjata diberi sebilah kelewang.

Meninggalkan markas di Birugo.

 

Tanggal 20 Desember 1948 pagi, didapat perintah supaya markas Mobbrig Sumatera Barat di Birugo, Bukittinggi (sekarang: kompleks di belakang SMA Negeri No.2) di-pindahkan ke Jirek (pada waktu itu kantor Jawatan Sosial), sedangkan bagian perlengkapan / perbekalan serta perbengkelan dipindahkan ke Sipisang (arah Utara dari Bukittinggi pada jalan raya menuju Bonjol). Hari ini serangan pesawat udara Belanda masih bergelombang gelombang datang menjelang tengah hari.

Bagi pimpinan pimpinan unit kerja memang tidak mudah dan ringan tanggung jawab yang harus dipikul dalam kekalutan yang dihadapi. Selain dari pada tugas dinas kepolisian harus lebih ditingkatkan kewaspadaan, disamping itu pengungsian keluarga keluar kota harus pula berjalan teratur, sedangkan fasilitas transport tidak tersedia cukup; pula distribusi / supply makanan petugas maupun pengungsi pengungsi memerlukan perhatian pengaturannya, dsb dsb.

 

Dalam kesibukan dan kekalang kabutan yang terjadi itu,  penulis menemukan sepucuk senjata senapan/karabijn tergeletak di belakang pintu markas di Jirek. Sesudah ditanyakan berkeliling siapa yang bertanggung jawab atas pemakaian senjata itu, tidak seorang pun yang merasa kehilangan. Sejak hari itu penulis diberi izin oleh Komandan untuk memegang senapan yang sudah kehilangan tuan tersebut.

 

17 Oktober 1952

peristiwa 17 Oktober 1952.

Tntara di Istana Merdeka

Demonstrasi rakyat di Jakarta dan dikeluarkannya Pernyataan Pimpinan Angkatan Darat kepada Presiden Soekarno

di Istana Merdeka Jakarta oleh 16 perwira menengah Angkatan Darat.Petisi yang disampaikan kepada Presiden di depan Istana tersebut meminta agar Parlemen dibubarkan karena bukan hasil pilihan rakyat, dan menuntut agar segera diadakan Pemilu. 

Peristiwa yang berlangsung pagi hari ini terjadi akibat kemelut yang terjadi di kalangan TNI Angkatan Darat sehubungan dengan diberlakukannya rasionalisasi tentara dan keterlibatan militer dalam lapangan politik.Atas demonstrasi tersebut

presiden akan memperhatikan semua tuntutan itu dan berpesan agar Angkatan Perang tetap menjaga ketenteraman umum.

Presiden juga mengatakan akan berkonsultasi dengan pemerintah mengenai hal ini dan mengusahakan secepat mungkin diadakan Pemilu.erjadinya Peristiwa 17 Oktober berkaitan dengan pro dan kontra rasionalisasi di tubuh militer. Kelompok lain dalam TNI, terutama dari kalangan yang dilatih pada jaman Jepang, berpendapat bahwa rasionalisasi yang hanya didasarkan pada kriteria pendidikan, umur, dan keterampilan saja, akan menimbulkan rasa kecewa dari beberapa pihak. Oleh sebab itu, perlu dipertimbangkan faktor nilai yang dibawa dari revolusi, yakni semangat. Semangat inilah yang membuat TNI berhasil mempertahankan kemerdekaan. Jadi bukan semata-mata karena profesionalisme keprajuritan.

Memang persoalannya tidak sederhana, karena kelompok yang pro-rasionalisasi adalah kelompok perwira bekas taruna Akademi Militer sebelum Jepang, dan yang kontra-rasionalisasi adalah kelompok yang berasal dari tentara yang dilatih pada jaman Jepang.

Kedua kelompok itu mempunyai pendukung yang beragam walaupun perwira-perwira bekas taruna Akademi Militer sebelum Jepang, seperti Nasution , Simatupang, Hidayat, dan Kawilarang terlihat cukup dominan pada kelompok prorasionalisasi.

Perbedaan kedua kelompok militer ini menjadi terbuka ketika Kolonel Bambang Supeno, bekas Komandan Akademi Militer, berusaha menentang rencana rasionalisasi tentara yang dilancarkan oleh Nasution dan memperoleh dukungan Menteri Pertahanan. Bambang Supeno menulis surat kepada Seksi Pertahanan dan Keamanan di DPR yang isinya menentang kebijaksanaan atasannya mengenai rencana rasionalisasi.

Akibatnya, Kolonel Bambang Supeno diskors oleh KSAD. Surat Supeno segera menjadi perhatian DPR.

Pada tahap ini, konflik yang berkembang tidak lagi bersifat militer belaka namun merentang ke persoalan politik di parlemen. Reaksi parlemen atas surat Kolonel Bambang Supeno dimulai oleh Ketua Seksi Pertahanan sendiri, Zainul Baharuddin.

17 Oktober 1952

Semua orang mengira Sultan Yogya akan meletakkan jabatannya. Tapi sebelum Sultan mengambil keputusan, terjadilah peristiwa 17 Oktober 1952.

Pagi hari itu sejumlah orang mengadakan demonstrasi. Mereka datang ke gedung Parlemen di Lapangan Banteng, mengusung spanduk bertulisan tuntutan “Bubarkan Parlemen”, “Parlemen bukan warung kopi”. Pelaku-pelaku demo terdiri dari abang becak, pelajar, rakyat biasa yang mau ikut karena dikasih bayaran.

Demo itu diorganisasi

oleh Kol. Drg. Mustopo Kepala Perawatan Gigi Tentara. Mustopo mengira Presiden akan senang dengan adanya demonstrasi itu, karena dianggapnya Soekarno tidak suka parlemen menurut model Barat.

Ketika Mustopo melapor di Istana, bukannya dia dipuji oleh Soekarno, melainkan dimarahi.

Para demonstran mendapati gedung parlemen kosong, karena sudah mulai rusak.

 Mereka lalu bergerak menuju Lapangan Merdeka. Di tengah jalan rakyat biasa dan ingin tahu, bergabung.

Tiba di depan Istana jumlah orang demo sudah mencapai kira-kira 30.000 orang. Mereka berteriak “Bubarkan Parlemen”.

Presiden keluar dari Istana, lalu berjalan kaki menuju kerumunan yang berkumpul dekat pagar. Ia mengucapkan pidato singkat. Ia tidak menuruti tuntutan para demonstran.

 

Ia malahan berkata membubarkan parlemen berarti membuat dirinya sebagai diktator. Dia tak mau jadi diktator. Dia mau jadi abdi pertama dari rakyat.

Ketika selesai bicara dia melihat ke tempat di belakang kumpulnya para demonstran. Di sana terdapat dua buah tank dengan laras meriamnya ditujukan ke arah Istana. Demonstrasi yang diorganisasi oleh Kol. Mustopo rupanya bukan perkara kecil.

Komandan KMKBDR (Komando Militer Kota Besar Djakarta Raja) yang diberitahu ada sesuatu yang terjadi, lalu atas insiatif sendiri mengumumkan keadaan darurat dan mengirim satuan tentara

di bawah komando Mayor Kemal Idris ke Istana tanpa memberitahukan kepada Kemal apa tujuannya. Soekarno yang melihat semua itu dengan tenang menyelesaikan pidatonya, kemudian balik masuk Istana.

Tidak lama setelah demo bubar, sejumlah perwira staf dan panglima daerah dengan dipimpin oleh Simatupang-Nasution datang menemui Soekarno di Istana. Mereka mau berbicara, Soekarno terlebih dulu meminta hadir Wakil Presiden Hatta dan PM Wilopo, Sultan Yogya tidak hadir.

Nasution menyampaikan keluhan bahwa parlemen mencampuri organisasi tentara. Itu adalah urusan pimpinan tentara, bukan urusan politisi.

Lalu Letkol Sutoko Deputi KSAD dengan hampir menangis memohon kepada Presiden untuk membubarkan parlemen,

 

Panglima TT I Kol Simbolon dari Sumatera Timur mendukung permohonan Sutoko dan menyerahkan sebuah petisi dengan alasan kenapa mereka minta parlamen dibubarkan.

Simbolon meminta agar isi petisi bisa dipublikasikan. Soekarno menasihatkan supaya jangan menyiarkan petisi tersebut.

Dia menjanjikan akan mendesak kabinet agar mempercepat persiapan pemilihan umum. Setelah itu para perwira tadi pulang dengan tangan hampa.

Peristiwa 17 Oktober 1952 kemudian dicap oleh penulis-penulis Barat sebagai suatu “Wuld-be cup”, maunya satu kudeta. Tapi tidak jadi, karena aksi itu mempunyai ciri maksimum improvisasi , tapi minimum organisasi.
Tak lama kemudian Nasution dipecat dan digantikan sebagai KSAD oleh Kolonel Bambang Sugeng. Simatupang pada usia 34 tahun minta pensiun sebagai KSAP. Sultan Yogya keluar exit sebagai Menteri Pertahanan. Itulah sejarah 17 Oktober 1952
(Rosihan Anwar)

Bung Karno Dan Peristiwa 17 Oktober 1952

Sumber

http://www.berdikarionline.com/bung-karnoisme/20120219/bung-karno-dan-peristiwa-17-oktober-1952.html

 

 

 

Apa yang terjadi pada 17 oktober 1952?

Pagi-pagi sekali, 17 oktober 1952, 5000-an orang muncul di jalanan Jakarta. Mereka berbaris menuju gedung parlemen di Pejambon, Jakarta Pusat—sekarang jadi kantor Departemen Luar Negeri.

Sampai di gedung parlemen, massa langsung menerobos masuk dan menghancurkan beberapa kursi. Setelah menggelar aksinya di gedung parlemen, massa bergerak menuju ke istana Presiden. Jumlah massa bertambah besar: 30-an ribu jumlah mereka.

Sementara itu, di depan istana negara, tentara juga bertindak. Beberapa tank dan panser diparkir dengan moncong menghadap istana. Tidak ketinggalan empat meriam diarahkan tepat ke arah istana.

Bung Karno punya cerita tersendiri tentang kejadian itu. Dalam buku otobiografinya, Bung Karno: penyambung lidah rakyat, Soekarno bercerita: “pagi-pagi pada tanggal 17 oktober 1952, dua buah tank, empat kendaraan lapis baja, dan ribuan orang menyerbu memasuki gerbang Istana Merdeka. Mereka membawa poster –poster ‘bubarkan parlemen’. Satu batalyon altileri dengan empat buah meriam memasuki lapangan keliling istana. Meriam-meriam 25 pounder dihadapkan kepadaku. Pameran kekuatan ini mencerminkan kelatahan daripada jaman itu. Tindakan ini tidak dapat dikatakan bijaksana, olehkarena para panglima yang menciptakannya berada denganku di dalam Istana.”

Upaya Kudeta militer

Indonesianis terkemuka, Herbert Feith, dalam bukunya The Decline of Constitutional Democracy in IndonesiaI, menyebut para perwira angkatan darat berada di belakang aksi tersebut.

Ada juga yang menuding PSI, yang saat itu memainkan kartu anti-Soekarno dan anti-komunis, berada di balik gerakan tersebut. Posisi ini dipegang oleh Partai Komunis Indonesia (PKI), dan pernah disampaikan langsung oleh ketuanya, DN Aidit, saat kongres ke-VI PKI.

Pemicunya, kata Aidit, PSI dan Masyumi tersingkir dari kekuasaan paska kejatuhan kabinet Sukiman. Kita tahu, kabinet Sukiman sangat disokong oleh PSI-Masyumi dan karakter kabinet ini sangat anti-kiri.

Soekarno sendiri punya pandangan lain perihal peristiwa tersebut. Kepada penulis otobiografinya, Cindy Adams, Soekarno menganggap peristiwa 17 oktober 1952 itu sebagai percobaan “setengah coup”. Istilah “percobaan setengah coup” itu disampaikan sendiri oleh Nasution kepada Bung Karno.

Hanya saja, versi Nasution, seperti dikutip Bung Karno, “upaya kudeta tersebut bukan ditujukan kepada Bung Karno, melainkan kepada sistim pemerintahan.” Mereka (Nasution dan kelompok) menuntut Bung Karno membubarkan parlemen.

Gerakan 17 oktober 1952 juga dirancang rapi. Pada 16 oktober 1952, perencanaan gerakan ini disusun. Wakil KSAD Letnan Kolonel Sutoko dan Letnan Kolonel S. Parman ditunjuk sebagai pelaksana operasi. Sedangkan pelaksana di lapangan ditunjuk Kolonel dr Mustopo dan Letkol Kemal Idris.

Seksi Intel Divisi Siliwangi mengerahkan demonstran dari luar Ibu Kota dengan menggunakan truk militer. Komondao militer kota Djakarta raya mengarahkan para jagoan betawi untuk memobilisasi massa.

Pagi hari, 17 oktober 1952, militer sudah bergerak sesuai pos masing-masing. Rakyat kebanyakan, termasuk buruh, juga diprovokasi untuk bergabung dalam aksi. Koran Harian Rajat pada edisi 18 oktober melaporkan bahwa banyak kantor dan pabrik yang tutup karena buruhnya berbelot ikut demonstrasi.

Pemicu Kudeta Militer

Di penghujung 1952, militer sudah sangat gerah dengan politisi sipil dan parlemen. Sementara, pada sisi lain, parlemen juga resah dengan meningkatnya pengaruh militer sebagai kekuatan politik tersendiri.

Pada tahun 1952, kementerian pertahanan dan angkatan perang, yang sangat dipengaruhi oleh PSI, berencana menjalankan reorganisasi dan memberhentikan 60 ribu pasukan non-reguler dan 30 ribu pasukan kepolisian. Selain itu, militer telah aktif melakukan kerjasama dan menerima bantuan dari Belanda.

Tindakan angkatan perang ini memicu protes dari dalam dan luar. Dari dalam, sejumlah perwira, khususnya yang dipimpin oleh Kolonel Bambang Supeno, mengajukan mosi tidak percaya kepada pimpinan angkatan perang.

Sedangkan dari luar, yakni sejumlah kekuatan politik di parlemen, telah mengajukan mosi tidak percaya.

Sejumlah pemimpin angkatan perang, khsusunya Nasution dan TB Simatupang, menganggap tindakan Kolonel Bambang Supeno telah melanggar hirarki dalam angkatan perang. Pada malam 11 Juli 1952, bertempat di rumah Mayor Jenderal T.B. Simatupang, berlangsung rapat 17 perwira tinggi angkatan perang.

Sementara itu, di parlemen, sejumlah politisi mengajukan mosi tidak percaya terhadap angkatan perang. Pada 28 September, anggota parlemen Zaenul Baharuddin mengajukan mosi tidak percaya terhadap Menteri Pertahanan dalam menyelesaikan konflik Angkatan Perang. Ia meminta selekasnya disusun Undang-Undang Pertahanan Negara.

Dua pekan setelah Baharuddin, Kasimo, dari Partai Katolik, mengajukan mosi yang lain: menuntut penyempurnaan Angkatan Perang dan pembentukan Panitia Negara untuk keperluan itu.

Sehari setelahnya, Manai Sophiaan menambah tuntutan Kasimo, yaitu usul agar Panitia Negara diberi kewenangan memecat pemimpin Angkatan Perang.

“Serangan” parlemen membuat para perwira angkatan perang mendidih.

Mereka menganggap parlemen telah memasuki wilayah teknis militer. Kolonel Gatot Soebroto, Panglima Teritorium VII/Sulawesi Selatan, bahkan sampai memberikan ultimatum. “Pokoknya di sana atau di sini harus bubar!,” katanya.

Pada tanggal 16 oktober 1952, parlemen menyetujui mosi Manai Sophiaan. Posisi Bung Karno, seperti dicatat Herbert Feith, cenderung menyetujui langkah Manai Sophiaan ini. Apalagi, sejak awal Bung Karno kurang setuju dengan langkah militer berpolitik dan mencampuri kehidupan sipil.

Sementara, pada persoalan yang lain, angkatan perang mengetahui ketidaksukaan Bung Karno terhadap demokrasi liberal. Bung Karno gerah dengan perdebatan panjang di parlemen tetapi tidak menyentuh persoalan rakyat.

Bahkan, tidak jarang debat warung kopi itu mengancam persatuan nasional. Jadinya, seolah-olah hendak menyatakan pandangan politik yang sama, pimpinan angkatan perang berusaha memanfaatkan Bung Karno untuk membubarkan parlemen.

 

Sikap Bung Karno

Bung Karno, yang ditempa puluhan tahun oleh alam perjuangan dan revolusi, bukanlah pemimpin yang gampang ditekan. Ia sama sekali tidak takut menghadapi aksi massa yang digerakkan oleh militer itu.

Bung Karno juga tidak gentar dengan tank, panser, dan meriam yang diarahkan kepadanya. “Hatiku tidak gentar melihat sekitar itu (istana) dikuasai oleh meriam-meriam lapangan. Bahkan, sebaliknya, aku menantang langsung kedalam mulut senjata itu dan kulepaskan kemarahanku kepada mereka yang hendak mencoba mematikan sistim demokrasi dengan pasukan bersenjata.”

Yah, pada saat itu Bung Karno memang sangat marah kepada Nasution. “Engkau benar dalam tuntutanmu, tetapi salah dalam caranya,” kata Bung Karno.

Saat itu, Presiden meminta lima orang perwakilan massa untuk menemui dirinya. Akan tetapi, tak satupun dari pemimpin massa itu yang berani. Akhirnya, Bung Karno keluar sendiri menemui massa.

“Utusan kalian menyampaikan tuntutan agar parlemen dibubarkan,” katanya seperti dikutip harian Suara Rakjat. “Ini jawaban saya: Bapak tidak mau berbuat dan dikatakan sebagai diktator.”

Bung Karno lebih lanjut mengatakan: “Siapa hendak memperkosa demokrasi, dia hendak memperkosa kemerdekaan itu sendiri. Siapa hendak diktator, dia akan digilas oleh rakyat sendiri. Bila kita tinggalkan demokrasi, negara kita ini akan hancur….”

Setelah mendapat penjelasan dari Bung Karno, massa pun membubarkan diri. Mereka tahu bahwa Presiden tidak menyetujui aksi mereka.

Setelah massa bubar, giliran petinggi militer, termasuk Nasution, menemui Bung Karno. Konon, Nasution menyodorkan konsep keadaan bahaya di seluruh Indonesia. Akan tetapi, usulan tersebut ditolak Bung Karno.

Hari itu, seusai menggelar aksi, militer memutus jalur telpon, melarang pertemuan massa yang melebihi 5 orang, dan memperpanjang jam malam dari pukul 22.00-05.00 menjadi pukul 20.00-05.00.

Militer juga membredel sejumlah media yang tidak mendukungnya: Harian Merdeka, Madjalah Merdeka, Mimbar Indonesia, dan Berita Indonesia. Sejumlah anggota parlemen juga ditangkap.

Beberapa bulan setelah kejadian, pertentangan di tubuh militer makin menajam. Sejumlah perwira militer yang tunduk kepada Bung Karno melancarkan gerakan pengambil-alihan kepemimpinan terhadap perwira militer pro-17 Oktober 1952. Itu terjadi di Teritorium V/Brawijaya (Jatim), Teritorium VII/Sulawesi Selatan, Teritorium II di Sumatera Selatan.

Nasution juga sempat diberhentikan karena kejadian itu. Akan tetapi, karena pertimbangan persatuan nasional, Bung Karno mengaktifkan kembali Nasution pada jabatan lain.

5 Desember 1952

Kol Bambang soegeng diangkat menjadi kASAD mengantikan A.H.Nasution

(wiki)

1953

Lantas di balik selubung bahaya ancaman komunisme, AS selalu berhasil memperdayai elite militer dan politik Indonesia.

Gambaran lebih jelas mengenai Indonesia dikemukakan Presiden Eisenhower dalam konferensi gubernur negara bagian AS tahun 1953.

 

 Ia mengatakan, sumbangan AS sebesar 400 juta dollar AS membantu Perancis dalam perang Vietnam bukanlah sia-sia. Jika Vietnam jatuh ke tangan komunis, negara tetangganya akan menyusul pula. “Kita tidak boleh kehilangan Indonesia yang sangat kaya sumber daya alamnya,” ujarnya.

Bagi AS, di dunia ini hanya dikenal dua blok, yaitu komunis dan liberal. Di luar jalur itu dikategorikan sebagai condong ke komunis. Maka dengan kosmetik demikianlah bagi AS tidak ada ampun untuk seorang nasionalis seperti Soekarno.

(penasukarno)

30 Juli 1953

Tanggal 30 Juli 1953 – 24 Juli 1955 adalah masa Kabinet Ali Sastroamidjojo I(iluni)

 

 

1 Agustus 1953

. Kabinet yang dipimpin oleh Mr Ali Sastroamidjojo dari PNI sebagai Perdana Menteri dan Mr Wongsonegoro dari PIR (Persatuan Indonesia Raya) sebagai wakilnya, kala itu belum genap berusia dua tahun sejak dibentuk 1 Agustus 1953.

 Ali baru saja menjadi penyelenggara Konperensi Asia Afrika di Bandung pada bulan April yang dianggap suatu keberhasilan internasional.

(gungun Gunawan)

1955

1 Mei 1955

Merasa terjepit, KSAD Jenderal Mayor Bambang Soegeng memilih untuk mengundurkan diri dan menyerahkan kepemimpinan Angkatan Darat kepada

 Wakil KSAD Kolonel Zulkifli Lubis.

 Kolonel bermarga Lubis ini masih terbilang sepupu Kolonel Nasution, namun kerapkali bersilang jalan dalam beberapa peristiwa karena berbeda pendapat dan sikap.

(gungun Gunawan)

21 Juni 1955

Tanggal 21 Djuni 1955 adalah hari ulang tahun ke-4 Teritorial I “Bukit Barisan”. Empat tahun juang lalu pada tanggal 21 Djuni 1951 oleh panglima Tentara Teritorium I(Bukit barisan) diresmikan ,kewadjiban pemakaian lentjana”Bukit barisan” untuk anggota Angkatan darat Territorium I.

(SK Penerangan,koleksi Dr Iwan)

 

Peristiwa 27 Juni 1955

Pemerintah mengisi kekosongan jabatan KSAD itu dengan mengangkat

 Kolonel Bambang Utojo

 pada 27 Juni 1955, yang tadinya adalah Panglima Tentara dan Teritorium II/Sriwijaya.

Namun ketika Kolonel Bambang Utojo dilantik oleh Presiden Soekarno, tak seorangpun perwira teras dan pimpinan Angkatan Darat yang hadir, mengikuti apa yang diinstruksikan Wakil KSAD Zulkifli Lubis, untuk menunjukkan ketidaksetujuan mereka –yang tadinya tidak digubris oleh pemerintah.

 Zulkifli Lubis sekaligus menolak melakukan serah terima jabatan KSAD dengan Bambang Utojo yang telah berpangkat Jenderal Mayor.

 Peristiwa ini dikenal sebagai Peristiwa 27 Juni, yang mengakibatkan jatuhnya pemerintahan sipil Kabinet Ali-Wongso

(gungun Gunawan)

Saya pernah membaca disurat kabar(sayang belum ketemu dimana menaruhnya,sedang dicari),saat pelantikan diistana Negara para tamu yang bersalaman dengan Bambang Utoyo binggung  saat mengajukan tangan kanan untuk bersalaman ternyata  tanggannya bunting(akibat ledakan franat) sehingga bersalaman dengan kedua tangan saja ,tak mungkin dengan tangan kiri kurang etis.

(Dr Iwan)

12 Agustus 1955

Masalah penggantian pimpinan Angkatan Darat ini akhirnya diselesaikan oleh kabinet baru – koalisi Masjumi dengan beberapa partai, dengan PNI sebagai partai oposisi – yang dipimpin oleh Burhanuddin Harahap yang dilantik 12 Agustus 1955, hanya 38 hari sebelum Pemilihan Umum 1955 untuk DPR.

(gungun Gunawan)

Kabinet Burhanuddin Harahap (12 Agustus 1955 – 24 Maret 1956) dan Sumitro kembali dipercaya sebagai Menteri Keuangan.(iluni)

Dr Iwan age 10 years olddan keluarga di Benteng Fort de Kock Bukittinggi tahun 1955

25 Agustus 1955
bung hatta pidato di banyuwangi 25 agustus 1955, sampe kambing pun ikut dengerin..

29 September 1955

pemungutan suara dalam Pemilihan Umum 1955 –yakni pemilihan 272 anggota DPR 29 September

(gungun Gunawan)

Tahap pertama adalah Pemilu untuk memilih anggota MPR. Tahap ini diselenggarakan pada tanggal 29 September1955, dan diikuti oleh 29 partai politik dan individu

(wiki)

Koleksi dokumen Kampanye Pemilu Pertama

Brosur sebaran PSI Pada Pemilu I

Kampanye Pemilu Pertama

Sutan Syahrir kampanye PSI pada Pemilu Pertama 1955

Sukarno saat Pemilu pertama

Bung Karno Saat Pemilu Pertama

Bung Hatta saat Pemilu Pertama

Koleksi Kartu Suara Pemilu Pertama Indonesia 29 September  1955

Koleksi Dr Iwan suwandy

 

1. bagian atas kartu suara

 

 

2. (Tanda gambar Partai Peserta PEMILU

 

a. Seluruh Partai)

 

 

 

b. tanda Gambar beberapa Partai

(Dr Iwan)

 

 

Pemilihan Umum Indonesia 1955

adalah pemilihan umumpertama di Indonesia dan diadakan pada tahun 1955. Pemilu ini sering dikatakan sebagai pemilu Indonesia yang paling demokratis.

Pemilu tahun 1955 ini dilaksanakan saat keamanan negara masih kurang kondusif; beberapa daerah dirundung kekacauan oleh DI/TII (Darul Islam/Tentara Islam Indonesia) khususnya pimpinan Kartosuwiryo. Dalam keadaan seperti ini, anggota angkatan bersenjata dan polisi juga memilih. Mereka yang bertugas di daerah rawan digilir datang ke tempat pemilihan. Pemilu akhirnya pun berlangsung aman.

Pemilu ini bertujuan untuk memilih anggota-anggota MPR dan Konstituante. Jumlah kursi MPR yang diperebutkan berjumlah 260, sedangkan kursi Konstituante berjumlah 520 (dua kali lipat kursi MPR) ditambah 14 wakil golongan minoritas yang diangkat pemerintah.

Pemilu ini dipersiapkan di bawah pemerintahan Perdana MenteriAli Sastroamidjojo. Namun, Ali Sastroamidjojo mengundurkan diri dan pada saat pemungutan suara, kepala pemerintahan telah dipegang oleh Perdana Menteri Burhanuddin Harahap

Lima besar dalam Pemilu ini adalah Partai Nasional Indonesia mendapatkan 57 kursi MPR dan 119 kursi Konstituante (22,3 persen), Masyumi 57 kursi MPR dan 112 kursi Konstituante (20,9 persen), Nahdlatul Ulama 45 kursi MPR dan 91 kursi Konstituante (18,4 persen), Partai Komunis Indonesia 39 kursi MPR dan 80 kursi Konstituante (16,4 persen), dan Partai Syarikat Islam Indonesia (2,89 persen).

Partai-partai lainnya, mendapat kursi di bawah 10. Seperti PSII (8), Parkindo (8), Partai Katolik (6), Partai Sosialis Indonesia (5). Dua partai mendapat 4 kursi (IPKI dan Perti). Enam partai mendapat 2 kursi (PRN, Partai Buruh, GPPS, PRI, PPPRI, dan Murba). Sisanya, 12 partai, mendapat 1 kursi (Baperki, PIR Wongsonegoro, PIR Hazairin, Gerina, Permai, Partai Persatuan Dayak, PPTI, AKUI, PRD (bukan PRD modern), ACOMA dan R. Soedjono Prawirosoedarso).

DPR[sunting]

Partai Jumlah Suara Persentase Jumlah Kursi
Partai Nasional Indonesia (PNI) 8.434.653 22,32 57
Masyumi 7.903.886 20,92 57
Nahdlatul Ulama (NU) 6.955.141 18,41 45
Partai Komunis Indonesia (PKI) 6.179.914 16,36 39
Partai Syarikat Islam Indonesia (PSII) 1.091.160 2,89 8
Partai Kristen Indonesia (Parkindo) 1.003.326 2,66 8
Partai Katolik 770.740 2,04 6
Partai Sosialis Indonesia (PSI) 753.191 1,99 5
Ikatan Pendukung Kemerdekaan Indonesia (IPKI) 541.306 1,43 4
Pergerakan Tarbiyah Islamiyah (Perti) 483.014 1,28 4
Partai Rakyat Nasional (PRN) 242.125 0,64 2
Partai Buruh 224.167 0,59 2
Gerakan Pembela Panca Sila (GPPS) 219.985 0,58 2
Partai Rakyat Indonesia (PRI) 206.161 0,55 2
Persatuan Pegawai Polisi RI (P3RI) 200.419 0,53 2
Murba 199.588 0,53 2
Baperki 178.887 0,47 1
Persatuan Indonesia Raya (PIR) Wongsonegoro 178.481 0,47 1
Grinda 154.792 0,41 1
Persatuan Rakyat Marhaen Indonesia (Permai) 149.287 0,40 1
Persatuan Daya (PD) 146.054 0,39 1
PIR Hazairin 114.644 0,30 1
Partai Persatuan Tharikah Islam (PPTI) 85.131 0,22 1
AKUI 81.454 0,21 1
Persatuan Rakyat Desa (PRD) 77.919 0,21 1
Partai Republik Indonesia Merdeka (PRIM) 72.523 0,19 1
Angkatan Comunis Muda (Acoma) 64.514 0,17 1
R.Soedjono Prawirisoedarso 53.306 0,14 1
Lain-lain 1.022.433 2,71
Jumlah 37.785.299 100,00 257

 

7 Nopember 1955

Paada  tahun 1955 Bung Karno memanggil kembali Nasution menjabat KASAD untuk kedua kalinya

(baratamedia web blog)

Pada penyelesaian akhir, berdasarkan musyawarah para perwira senior dan pimpinan Angkatan Darat, diajukan enam calon KSAD, salah satunya adalah Kolonel Abdul Harris Nasution.

 Kabinet memilih Nasution. Soekarno ‘terpaksa’ mengangkat kembali

 Nasution sebagai KSAD dan melantiknya 7 Nopember 1955

 dengan kenaikan pangkat dua tingkat menjadi Jenderal Mayor

16 Oktober 1956

 

Saya ingin peringatan  soal-soal ini kembali ,yang ini meningkat kepada Peristiwa 16 Oktober di Jakarta pada waktu RPKAD dan sebagian Pasukan  didalam kota tersangkut  untuk melakukan pula  suatu tindakan yang melanggar hokum , yaitu Menagkap Pimpinan Angkatan darat  dan ingin memaksakan perubahan Pemerintah.

Syukurlak soal ini semua yang terutama  berlangsung dikalangan Markas Besar angkatan Darat TT III dan Jakarta Raya sendiri dapat diatasi walaupun tindakan-tindakan ini tidak diselesaikan sebagimana sesuatu tentara, tapi dapat diselesaikan dalam arti kita kembali kepada pendirian sebagai Negara dan sebagai Alat Negara yang sebagaimana mustinya.

(A.H.Naustion,Ceramah KASAD Dgn Perwira gernizun Jakarta 22 Feb 1958,Majallah PHB AD.1958)

 

20 Oktober  1956

Setelah peristiwa ini(13 agustus dan 16 oktober 1956), mka pada bulan Desember Peristiwa di daerah-daerah , saya mengingatkan  kepada para Panglima  yang terakhir pad tanggal 20 Oktober dimana memang  jelas dikalangan Pimpinan Angkatan darat timbul suatu  pendapat yang sama  bahwa  keadaan Negara  banyak sekali  tidak memuaskan menurut  apa yang dicita-citakan  dan dalam saat ini sejumlah  dari teman-Teman kita dengan tegas  menyatakan  satu-satunya jalan ialah bahwa  Tentara  mengambil tindakan  untuk mempelopori yang akhir ini dan tidak bisa diharapkan lagi dalam rangka Tata Negara yang berlaku sekarang ini.

 

(A.H.Naustion,Ceramah KASAD Dgn Perwira gernizun Jakarta 22 Feb 1958,Majallah PHB AD.1958)

 

November 1956.

 

Salah satu yang dibahas adalah kekecewaan atas kepemimpinan Nasution sebagai Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD). Dia dianggap kurang memiliki perhatian kepada prajurit.Kawan-kawan di Korps SSKAD itu bersepakat, situasi ke depan bakal semakin gawat.

 

Keretakan di tubuh TNI tak terbendung. Apalagi pengaruh komunisme semakin merajalela. Dalam reuni itu diputuskan, “Bila kami terpaksa berhadapan, tidak akan saling menembak.”

 

Ventje samual dan Bung Karno

 

Keresahan di sejumlah daerah di Sumatera akhirnya melahirkan pergolakan.

( Ventje Samual )

 

 

Pada bulan November 1956 Rombongan Alumni SSKAD(Sekolah Staf Komando Angkatan Darat)  TT Bukit Barisan kembali dari reuni Alumni SSKAD di bandung, Tim TT Bukit Barisan, yang dipimpin Mayor Wahab Makmour memberi penjelasan panjang lebar kepada Palingmanya . Intinya adalah masalah Pemimpin Angkatan darat dan kekacauan yang terjadi dalam jajaran Alat Negara ini,

Kol. Simbolon berkesimpulan situasi Negara sudah sangat gawat karenya,sesuai desakan para stafnya, ia menunda berangkat ke Jakarta padahal KSAD ingin ia segera ke Jakarta hendak mengantinya dengan Kolonel Lubis sebagai Panglima TT Bukit Barisan, sementara itu Kolonel Lubis pun telah menghilang. Berbagai lasan perlu dikemukakan karena Kolonel Yani datang ke Medan, menanyakan mengapa Simbolon belum ke Jakarta.

(PRRI-Permesta,R.Z.Leirissa.jakarta.1991)

 

10 November 1956

 

Anggota konstituante mulai bersidang pada 10 November 1956. Namun pada kenyataannya sampai tahun 1958 belum berhasil merumuskan UUD yang diharapkan. 

 

20-24 November 1956

Pertemuan sejumlah perwira aktif dan perwira pensiunan eks. Divisi Banteng di Jakarta itu kemudian dilanjutkan dengan mengadakan Reuni di Padang dari perwira-perwira aktif dan pensiunan eks. Divisi Banteng pada tanggal 20 –24 Nopember 1956 yang pada pokoknya membahas masaalah politik dan sosial ekonomi rakyat di Sumatera Tengah.

Reuni yang dihadiri oleh sekitar 612 orang perwira aktif dan pensiunan dari eks. Divisi Banteng itu akhirnya membuat sejumlah keputusan yang kemudian dirumuskan di dalam tuntutan Dewan Banteng

(Ventje Samual)

Reuni Padang November 1956

Reuni Jakarta  dilanjutkan dengan Reuni  di Padang pada tanggal 20-24 November 1956. Reuni ini dihadiri oleh 612 orang perwira aktif maupun pensiunan.

(oetoesan melajoe)

26 November 1956

Dua hari setelah deklarasi yang dikeluarkan Dewan Banteng di Padang, Kolonel Maluddin Simbolon di Sumatera Utara mengeluarkan deklarasi serupa namun lebih radikal dari Deklarasi Dewan Banteng.

 Simbolon langsung menyatakan tidak mengakui pemerintahan PM. Djuanda dan menyatakan daerahnya berada daam Darurat Perang (SOB).

Akibatanya Simbolon digantikan dengan Djamin Ginting, akibatnya Simbolon beserta pasukannya melarikan diri ke Padang.

Sangat aneh sekali, kenapa Kol. Maluddin Simbolon memutuskan membangkang terhadap pusat?

Sebab kondisi pasukan dan daerahnya tidak serupa dengan di Sumatera Tengah. Selain itu, deklarasi Simbolonpu lebih radikal, tidak seperti Dewan Banteng. Salah satu penyebab kenapa Simbolon tidak berhasil di Sumatera Utara ialah karena keragaman etnis dan agama. Sehingga tempat berpijaknya kurang kokoh. Kondisi ini berlainan dengan yang berlaku du Sumteng.

Lalu kenapa Simbolon yang seorang Nasrani memutuskan melarikan diri ke Padang? Kenapa bukan ke Singapura ataupun Sulawesi Utara? Kenapa Ahmad Hussein menerimanya di sana, padahal Simbolon sedang bermasalah dengan pusat? Bukankah hal tersebut dapat mempersulit posisi Ahmad Husein di hadapan pemerintahan pusat?

(Oetoesan Melajoe)

 

 

20 November 1956

Adalah juga pada bagian kedua tahun 1956 itu di masa pemerintahan Kabinet Ali Sastroamidjojo, bermunculan gerakan-gerakan yang berdasar kepada ketidakpuasan daerah terhadap pemerintahan pusat.

Gerakan-gerakan daerah ini secara signifikan diperlopori oleh kalangan militer di daerah. Dalam reuni eks Divisi Banteng di Padang pada 20 Nopember, muncul inisiatif pembentukan Dewan Banteng yang diketuai oleh Komandan Resimen IV Tentara dan Teritorium (TT) I, Letnan Kolonel  Achmad Husein. Dewan ini menuntut otonomi daerah yang lebih luas.

(gungun Gunawan)

On December 1, 1956,

 Mohammad Hatta had resigned as vice president in protest against Sukarno’s growing authoritarianism. Hatta’s exit from the political scene did not improve the relations among the central government, Sumatra, and the eastern archipelago, where Hatta was very popular.

4 Desember 1956

Melihat situasi yang gawat, simbolon mengadakan rapat perwira yang disebut “Ikrar 4 Desember 1956

(kolektor sejarah Web Blog)

Ikrar 4 Desember 1956

Situasi Negara yang gawat mendorong Simbolon mengadakan Rapat dengan Perwira-Perwira Utama dalam TT I pada 4 Desember 1956 di Medan.Disini  Keputusan reuni Korps SSKAD di bandung kembali dibicarakan.

Dalam kesempatan ini Kolonel Simbolon mengajukan pandangan  Politiknya seperti yang eprnah dikemukakannya kepada Bung Karno di jkarta beberapa tahun sebelumnya.

Baginya, langkah yang tepat adalah mengubah seluruh Sistem Pimpinan Negara, bukan hanya Pimpinan Angkatan darat.Yang diperlukan adalah koreksi menyeluruh yang mencakup keiingan Korps SSKAD,Keputusan Dewan banteng, dan gagasan Kolonel Simbolon  sendiri.

Kesimpulan Rapat ini disebut “Ikrar 4 Desember”, yang realisasinya ,menurut pemahaman Simbolon dan disepakati semua Perwira yang hadir saat ini, dipercayakan kepadanya.

Gelaspun diangkat untuk memperkuat tekad mereka, isinya diminum dan gelas dilemparkan sampai pecah sebagai simbol , mereka bersatu padu, membuang semua perselisihan dan perbedaan yang pernah timbul pada masa lalu.

Pertemuan 4 Desember 1956 ini dihadiri seluruh Staf Pimpinan T & T I dan kemudian Komandan resimen, berberapa Perwira Menengah dan Para Komandan Btalyon Cadangan T & T I .

Para Penanda Tangan Naskah Ikrar 4 Desember 1956 anatar lain : Kolonel simbolon Panglima TT I Bukit Barisan, Letkol Djamin Gintings,KS TT I BBB, Letkol Sjamaun Gaharu Komadan Resimen I(Aceh),Mayor Wahab Makmour,Dan Resimen (Sumatera Timur), Mayor Junis Samosir,Dan Resimen III(Tapanuli), Letkol Ahmad Husein Dan resimen Sumatera tengah.

Persamaan Ikrar 4 Desember 1956 dengan Gagasan dewan Banteng memang banyak, namun sangat banyak perbedaan Politis dan Kemasyarakatn anatara Wilayah sumatera timur dan sumatera tengah. Selan itu, selain ada kesamaan cita-cita gerakan itu, dalam pelaksanaannya tampak perbedaan yang besar, perbedaan yang menyebabkan pelaksanaa”Ikrar 4 desember” tersebut mengalami kegagalan.

Ada beberapa hal perbedaan:Kedudukan Kolonel Simbolon tidak sekokoh kedudukan Letkol Ahmad Husein.sejak Agustus 1956 , KSAD sudah menetapkan Simbolon harus menyerahkan Tongkat Komandonya di Medan karena itu perannya dalam  Gerakan “Ikrar 4 Desember” merupakan pembangkangan langsung.Pada pihak lain, posisi Letkol Ahmad Husein,yang didukung para perwira eks Divisi Banteng diberbgai daerah Indonesia lebih kuat sehingga kedudukannya sebagai Ketua Dewan Banteng tidak mendapat kecaman terbuka dari pihak MBAD,juka ketika ia mendapat mandat dari Gubernur Sumatera tengah untuk menjalankan tugas Kepala Daerah sejak 21 Desember 1956, kedudukannya bahkan diperkuat setelah MBAD meningkatkan Komandonya Daerah sumatera Tengah(KDMST) sehingga ia pun mendapat predikat Panglima.

(PRRI-Permesta,R.Z.Leirissa.jakarta.1991)

22 Desember 1956

Simbolon memisahkan diri dari Pusat

(Nugroho Notosutanto)

 

Tidak lama kemudian mulailah meletus  peristiwa  di Medan  dimana Panglima TT I memisahkan diri dari pusat dan tidak mengakui Pemerintah lagi tetapi menyatakan tetap taat kepada Panglima Tertinggi(Sukarno).

Disusul pula oleh peristiwa daerah-Daerah lain seperti sumatera tengah satu hari sebelumnya, daerah lain seperti Sumatera Selatan atas dasar putusan DPR Peralihan maka diputuskan supaya Panglima TT II memimpin Pemerintahan di Sumatera Selatan.

 

(A.H.Naustion,Ceramah KASAD Dgn Perwira gernizun Jakarta 22 Feb 1958,Majallah PHB AD.1958)

 

 

24 Desember 1956

Menyusul tindakan simbolon di medan tanggal 22 Desember 1956, Let Kol Barlian Panglima TT II (Sriwijaya) pada tanggal 24 Desember 1956 juga menyatakan memutuskan hubungan dengan Pemerintah Pusat.

(R.Z.Leirissa)

 

26 Desember 1956

Pada tanggal 26 Desember, di Pematang Siantar, yang menjadi Ibu Kota RES.II , Letkol Wahab Macmour  menyatakan mengambil alih kekuasaan.Letkol Franz Hutabat menyerang  Pematang siantar dan tewas sebagai pemberontak , Let Kol Wahab Makmoer telah mengambil alih kekuasaan Resort II Pematang siantar.karena ketika Pusat merintahkan untuk mengambil alih kekusaan disini, Let Kol djamin Gintings  menyatakan tidak sanggup dan baru bertindak  Letkol Wahab Macmour Kolonel Simbolon melarikan diri  ke Tapanuli , keadaan di  TT –I  boleh dikatakan tenang kembali serta Kol Simbolon dibiarkan berkeliaran di Sumatera Tengah sesuak hatinya

 

.(Majallah Terang Bulan Medan 1958)

 

Pada tanggal 26 Desember malam,

Kol Simbolon masih mengadakan Perayaan Natal ditempat Kediaman Panglima yang dihadiri seluruh Perwira Garnizun Medan, termasuk Djamin Gintings. Perayaan ini berlangsung meriah dan tidak ada tanda-tanda bakal terjadi sesuatu.

 

(R.Z.Leirissa)

 

27 Desember 1956

Pada tanggal 27 Desember 1956 menjelang pagi, Simbolon menerima berita bahwa Pasukan Mayor Wahab Makmour sedang berusaha menangkapmnya. Tindakan Komandan Rseimen Sumatera timur itu rupanya berhubungan dengan berita bahwa ia diangkat KSAD mengantikan Simbolon di sumatera Utara.

 

 Keadaan semakin gawat karena Kepala staf TT I Bukit Barisan Let.Kol. Djamin gintings pun mendapat berita bahwa dirinyalah yang diunjuk menjadi penganti Simbolon sebagai Panglima. Simbolon sendiri tidak mendengar berita itu,juga tidak ad laporan dari Perwira Stafnya.

 

Perwira Staf TT I yang ikut memimpin Penyergapan ke rumah Panglima Kol.Simbolon adalah mayor Ulung Sitepu (yang kemudian terlihat dalam G 30 S PKI dan dijatuhi hukuman mati oleh Mahmilub,), Mayor Wahab Makmour kemudian ternyata sudah dibina PKI.

 

 

Dalam situasi yang serba mendadak itu Kolonel Simbolon hanya bisa mengandalkan satu batalyon di Kota Medan yang tetap setia padanya, Batalyon 132 yang dipimpin Kapten Sinta Pohan, yang merupakan Batalyon cadangan yang tidak dimasukkan dalam salah satu resimen langsung berapa dibawah Panglima.

Batalion 131 yang dipimpin  Mayor Henry Siregar pun sebenarnya batalion cadangan tetapi  ketika itu Batalyon tersebut sedang bertugas ke Aceh .

 

Setelah mempertimbangkan secara matang, Kol Simbolon memutuskan untuk tidak menghadapi Pasukan Wahab Makmour  yng dibantu Kesatuan Kavaleri, ia mengundurkan diri ke Tapanuli  menuju tempat Resimen III yang dipimpin Mayor J.Samosir yang masih bisa diandalkan.

 

Tindakan ini diambilnya  karena bila bertahan dalam kota,pasti akan terjadi pertempuran dan yang akan paling menderita  adalah rakyat umum..Keputusan ini disampaikan juga kepada Gubernur Komala Pontas ,selain itu  ia juga menyarankan  Gubernur  supaya menghubungi pasukan Wahab Makmour  agar gerakan  Pasukan  yang mengawalnya  jangan dihalang-halangi karena suatu provokasi kecil saja akan mengakibatkan pertempuran.

 

(R.Z.Leirissa)

 

27 Desember 1956

Pada tanggal 27 Desember 1956 dinyatakan melalui RRI Medan bahwa Let Kol Djamin Ginting  telah mengambil alih kekuasaan dari Kolonel Simbolon dan hubungan ke Pusat dibuka kembali. Kemudian diangkatlah Letkol Djamin Gintings sebagai Panglima TT I .

 

(Terang Bulan,1958)

 

 

Foto Jamin Ginting

 

 Tahun 1975, let jen Jamin ginting meninggal di Canada sebagai sebagai Duta besar RI di Canada.

(Dr Iwan)

 

 

 

Pada 27 Desember 1956 subuh, Simbolon menerima berita ada pasukan yang diperintahkan menangkapnya. Dengan perlindungan dari Batalyon 132 dibawah Kapten Sinta Pohan, dia bergerak ke Tapanuli bergabung dengan Resimen III Mayor J Samosir

 

(kolektorsejarah web blog)

 

Kira-kira sekita jam 09.00 pagi tanggal 27 Desember Kolonel Simbolon dikawal Batalion Sinta Pohan bergerak meninggalkan Medan menuju Tapanuli, melalui wilayah yang dikuasai Pasukan Wahab Makmour.

 

Sejak di Prapat sampai tarutung Rombongan Simbolon selalu diamati oleh Pesawat tempur AURI, yang bahkan sering menukik tanpa menembak, keadaan ini menyadarkan Simbolon  bahwa ia tidak dapat berdiam di tapanuli karena sewaktu-waktu wilayah itu bisa diserang, ia memutuskan bertolak ke Padang tanpa pasukan. Hanya Mayor Rambe  ,ajudan Letda K.Sinaga dan Lettu  Zulkifli Nasution yang menyertainya ke Padang. Ketiga perwira ini kemudian diperintahkan ke Jakarta dan melapor kepada KSAD.

 

Pasukan sinta Pohan diperintahkan bergabung dengan mayor Samosir di Tapanuli,sejak itu Kolonel Simbolon berada di Padang dan mengikuti per-kembangan selanjutnya dari Kota dewan banteng itu dengan mendapat segala fasilitas dari resimen 4 yang kemudian menjadi KDMST.

 

(R.Z.Leirissa)

 

 KATA SANJAK INI DIBACA OLEH SASTRAWAN INDONESIA ASAL MINANGKABAU AGAR TERDENGAR DENGAN INDAH 

19 56 waktunya lupa
Natsir bicara apa adanya
Ummat Islam menghadapi bahaya
Inilah cobaan Allah ta’ala

Akan diindang, ditampi teras
Biar terpisah padi dan beras
Kaum muslimin haruslah tegas
Orang Komunis sedang mengganas

 

Dengan serius Natsir berqalam
Ibarat Ikan di dalam kolam
Dilempar batu jatuh ke dalam
Ummat Islam sedang terancam

Akan terjadi suatu drama
Ummat Islam harus waspada
Maju kena, mundurpun kena
Kepada Allah kita berdoa

Tiada perlu berpikir lama
Ummat Islam siaplah segera
Membela negeri, tanah tercinta
Diancam Komunis anti agama

Ada ditulis di koran koran
D.N. Aidit pernah mengatakan
Orang P.K.I anti Tuhan
Hatiku geram tiada tertahan

Membaca syair mungkin bosan
Tapi cerita perlu diteruskan
Eseipun ditulis dalam karangan
Silakan dibaca untuk dipikirkan

(Burhanuddin St Kayo)

In late 1956, there were demands by Regional Commanders in Sumatra for more autonomy in the Provinces. When these demands were not met by the Central Government, they began to rebel and by early 1957, they had taken control of Governance in Sumatra by force. Then, on 15th February 1958, Lieutenant Colonel Ahmad Hussein declared the establishment of the PRRI (Revolutionary Government of the Republic of Indonesia).
This prompted the Central Government to deploy troops
.(sukarnoyeras)

 

Pada tahun 1957 Jakarta  belum ramai benar, saat itu banyak orang asing memberikan julukan Desa Besar ,belum banyak mobil dan masih banyak orang kekantor naik sepeda.

 

Ahmad Yani  Pindah dari  tempat tinggalnya setelah kembali dari  luar negeri di Hotel Des Indes (saat ini Gajahmada Plaza-Dr Iwan) ke tempat tinggal di Jalan Lembang (menteng) walaupun belum slesai dibangun, mau beli perabot uang tidak ada sehingga dipinjam dari ke Jawatan Kesejahteraan TNI AD dan pinjam uang dari koperasi , PUSKOPAD TNI AD .

Saat ini Ahmad Yani ia masih diberi “Meja Kosong” sebagai Staf di  Markas besar TNI AD, staf Assisten I KASAD.

(Ahmad Yani)

Penulis Dr Iwan  berumur 12 tahun ditengah belakang dengan keluarga besar di Sukaramai  Talang kabupaten Solok tahun 1957

Kunjungan Bung Hatta Ke Sawahlunto Tahun 1957

Pada tahun 1957 ada pesta adat di Sawahlunto, dimana kedua orang tuaku ikut aktif, dengan berpakaian adat kebesaran, lengkap dengan payung kuning.

Pesta adat dilaksanakan dalam menyambut kedatangan Bung Hatta ke Sawahlunto pada saat memperingati hari jadi Dewan Banteng.

Pada waktu itu kami sangat senang dan bangga, rasanya banyak kemajuan yang diperolah.Masyarakat bergembira ria, merasakan perkembangan atau kemajuan pembangunan selama Dewan Banteng ada.Bapak saya berfoto dengan berpakaian adat, saat penyambutan Bung Hatta yang datang ke Sawahlunto.

Kami berasal dari Talawi ibu kota Kecamatan Talawi, waktu itu masuk Kabupaten Sawahlunto Sijunjung.Bapak saya bernama Djamaluddin gelar Dt. Padoeko Labiah, penghulu suku Caniago di Sijantang Talawi.

 

Selain tokoh adat di negerinya Bapak saya waktu itu seorang Camat Talawi.
Ibu saya bernama Syamsiri anak Muhammad Dt. Sampanghulu, penghulu suku Patapang

di Talawi sawahlunto



Ibu saya kemenakan Dt. Indosati adalah penghulu pucuak di Talawi, secara otomatis menjadi Bundo Kanduang.Pada waktu itu Bapak saya pengurus MTKAAM (Madjelis Tinggi Kerapatan Adat Alam Minangkabau, saya tidak tahu jabatannya.

Melihat foto Bapak yang dipayungi dalam upacara adat waktu upacara penyambutan Bung Hatta berkunjung ke Sawahlunto, mungkin saja Bapak saya sebagai ketua MTKAAM Sawahlunto Sijunjung.

Waktu itu Kecamatan Talawi adalah yang paling maju di kabupaten Sawahlunto Sijunjung.Sebenarnya saya tidak begitu paham apa yang akan terjadi, apalagi bicara politik.
Masih terngiang-ngiang di telinga saya ada kata-kata Bapak ke ibu.
Beliau berdiskusi dan Bapak mengatakan bahwa sepertinya ada ketidak cocokan antara Bung Hatta dan Bung Karno.


Bapak saya mengatakan kepada ibu bahwa Bung Hatta telah berhenti jadi Wakil Presiden.

 

Kata Bapak… yah semoga nanti bila ada pemilihan umum, Bung Hatta bisa terpilih menjadi presiden…….??

Ketika itu, ibu saya sebagai isteri seorang pegawai negeri atau isteri Camat, maka beliau disebut juga seorang Bundo Kanduang.Selain itu beliau ikut pula jadi anggota Aisyiah.
Banyak sekali kesibukannya.
Saya tahu bahwa ibu saya, sering kumpul dengan ibu-ibu di kampungnya.
Saya ingat, ibu saya meminta kepada ibu ibu lainnya, bahwa sebelum memasak nasi, beras yang akan dimasak itu diambil 2 genggam dan ditabung (disimpan terpisah) untuk bantuan.
Bila sudah terkumpul kira-kira sebuntil, ada ibu lainnya yang mengumpulkannya.Kegiatan ini dilakukan oleh organisasi ibu-ibu yaitu yang disebut seksi G.Memang organisasi ibu-ibu ini aktif dan sangat efektif, dan ibu saya adalah ketuanya.
Seperti sebelumnya saya sering menemani dan mengantar ibu saya setelah magrib dengan mengggunakan
suluah (semacam obor yang terbuat dari daun kelapa tua yang disusun and diikat kuat, dibakar ujungnya sebagai penerang dijalan).

Ibu mengajak ibu-ibu lainnya, bersama saya, dan saya berteriak memanggil ibu-ibu itu.
Maklum kalau di kampuang memang harus berteriak agar terdengar, karena gelap dan juga halamannya luas-luas.Kemudian ibu-ibu dikumpulkan dan diajak ke surau yang ada di kampung saya, yang disebut
surau Gadang.

Surau di kampung saya banyak dan tiap suku ada yang punya.
Surau Gadang ini adalah surau yang menampung santri-santi dari mana saja, ada yang dari daerah lain.Dengan menggunakan lampu minyak tanah, ibu saya mengajarkan ibu-ibu belajar membaca di surau itu.Waktu itu di kampung saya belum masuk listrik.

(Prof. DR. Ir. Zoer’aini Djamal Irwan)

Kisah lengkap baca  lampiran Kisah Masa PRRI

 

 

 

Dewan Banteng Tetap Mengakui Sukarno, Juanda dan Nasution

TUNTUTAN Dewan Banteng yang terpenting diantaranya adalah:

• Menuntut pemberian serta pengisian otonomi luas bagi daerah-daerah dalam rangja pelaksanaan sistem Pemerintahan desentralisasi serta pemberian perimbangan keuangan antara pusat dan daerah yang wajar,layak dan adil.

• Menuntut dihapuskan segera sistem sentralisme yang dalam kenyataannya mengkaibatkanb birokrasi yang tidak sehat dan juga menjadi pokok pangkal dari korupsi, stagnasi pembangunan daerah, hilangnya inisiatif dan kegiatan daerah serta kontrol.

• Menuntut suatu Komando Pertahanan Daerah dalam arti Teritorial, operatif dan administratif yang sesuai dengan pembagian administratif dari Negara Republik Indonesia dewasa ini dan merupakan komando utama dalam Angkatan Darat.Juga menuntut ditetapkannya eks. Divisi Banteng Sumatera Tengah sebagai kesatuan militer yang menjadi satu korps dalam Angkatan Darat.

Walaupun Letkol Ahmad Husein selaku Ketua Dewan Banteng mengambil alih jabatan Gubernur Sumatera Tengah dari tangan Gubernur Ruslan Mulyoharjo, namun Ahmad Husein tidak ditindak sebagai Komandan Resimen 4 TT. I. BB, malah sebaliknya tuntutan Dewan Banteng agar dibentuk satu Komando Militer di Sumatera Tengah yaitu Komando Militer Daerah Sumatera Tengah (KDMST) dipenuhi lepas dari TT. I BB dan Letkol, Ahmad Husein diangkat menjadi Panglima KDMST. Dewan Banteng tetap mengakuo Sukarno sebagai Presiden Republik Indonesia, tetap mengakui Pemerintahan Juanda dan tetap mengakui Jenderal A.H. Nasution sebagai Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD).

Berbeda dengan Dewan Banteng, Kolonel Maluddin Simbolon, Panglima TT. I BB setelah mengumumkan pembentukan Dewan Garuda yang seluruh pengurusnya militer pada tanggal 22 Desember 1956, dua hari sesudah Dewan Banteng, pada hari itu juga Simbolon menyatakan melepaskan diri dari Pemerintahan Juanda dan menyatakan daerah TT. I BB dalam keadaan Darurat Perang (SOB). Pemerintah Juanda cepat memberikan jawaban.

Pada hari itu juga memerintah KSAD memecat Simbolon dari jabatan Panglima TT.I BB dan mengangkat Kepala Stafnya Letkol.Jamin Ginting menggantikan Simbolon menjadi Panglima TT.I BB. Simbolon bersama sejumlah anak buahnya akhirnya melarikan diri ke Sumatera Barat, Padang dan tidak kembali lagi ke Medan.

Setelah Pemerintah Pusat tidak memperhatikan usul alokasi dana untuk pembangunan daerah Sumatera Tengah,maka Dewan Banteng tidak mengirimkan lagi seluruh penghasilan Daerah Sumatera Tengah ke Pusat, ditahan di daerah dan digunakan untuk pembangunan Daerah.

Masalah ini meningkatkan konlik dengan Pemerintah Pusat. Selanjutnya, Dewan Banteng melakukan “Barter”, pedagang langsung dengan luar negeri, tanpa melalui prosedur yang lazim yaitu melalui Departemen Perdagangan dan Bea Cukai

. Yang dibarter adalah teh, karet dan hasil bumi Sumatera Tengah lainnya. Dana yang diperoleh dari hasil barter itu digunakan untuk mendatangkan alat-alat berat untuk pembangunan jalan seperti traktor, buldozer, aspal dan berbagai alat berat lainnya.

Dalam beberapa bulan saja keadaan pembangunan di Sumatera Tengah meningkat, sehingga ada jalan dinamakan orang “ Jalan Dewan Banteng”.Pembangunan Sumatera Tengah di bawah Dewan Banteng dianggap terbaik waktu itu di Indonesia.

 Untuk mempercepat pembangunan di daerah-daerah Kabupaten dan Kota, Dewan Banteng pernah membagi-bagikan uang Rp. 1juta kepada tiap Kabupaten dan Kota.Kalau sekarang uang Rp.1 juta tidak punya harga,

akan tetapi pada tahun 1957 itu uang Rp. 1 juta punya nilai yang tinggi. Keadaan ini tidak berlangsung lama, hanya sekitar dua tahun, karena situasi politik di Jakarta bertambah panas disebabkan sikap dan tingkah laku Presiden Sukarno yang membela Partai Komunis Indonesia (PKI) yang waktu itu berakiblat ke Moskow. Waktu itu Sukarno akrab dengan Moskow

12 Maret 1957

 

 

Foto IPPHOS Penjelasan  mengenai berlakunya  SOB kepada wartawan di Palembang 12 Maret 1957

 

(Nugroho Notosutanto)

 

21 Maret 1957

 

Sepanjang tahun 1957, koran komunis dan pers nasional seperti Harian Rakyat dan Bintang Timur melansir pemberitaan buruk tentang Sumitro. Ia dituduh melakukan korupsi besar-besaran.

Pada 23 Maret 1957 Sumitro dipanggil Corps Polisi Militer (CPM) Bandung. Tapi pemeriksa menyatakan, tidak ada alasan untuk menahan Sumitro. Panggilan kedua oleh CPM terjadi pada tanggal 6 – 7 Mei 1957. Kemudian 8 Mei 1957, ia dipanggil lagi.

Sumitro semakin tertekan oleh serangan koran prokomunis dan merasa hendak ditangkap. Atas prinsip “pengabdian dan perlawanan” ia memilih melawan rezim Soekarno yang dianggap terlalu dekat dengan golongan komunis dan mengabaikan pembangunan daerah.(iluni)

 

 

 

 

April 1957

 

Pada April 1957, Roeslan Abdul Gani dinyatakan terbukti bersalah karena menerima suap dan melanggar aturan (Ulf Sundhausen, Politik Militer Indonesia 1945-1967, 1986 : 177). Penangkapan itu lantas mendapat dukungan luas dari korps perwira TNI-AD.

Namun, perseteruan Zulkifli dan Nasution berlanjut. Ada kelompok perwira senior yang tergolong menentang pimpinan AD. Mereka adalah Kolonel Simbolon, Kolonel Zulkifli Lubis, Kolonel A.E. Kawilarang, Letkol Warouw, dan Letkol Sumual.

(mustprast web blog)

Permasalahan ketimpangan Pusat – Daerah menuai protes sejumlah perwira di Sumatera dan terbentuklah Dewan Gajah di Sumatera Utara Dewan Banteng di Sumatera Tengah serta Dewan Garuda di Sumatera Bagian Selatan. Tahap awal yang terjadi adalah Dewan Garuda melatih kedisiplinan untuk membantu pembangunan dengan anggota pemuda dari PSI, MASYUMI dan sebagian dari mliter.Gerakan ini ternyata tercium oleh MBAD atas laporan dari Lettu Sainan Sagiman yang kelanjutanya adalah pada April 1957 Asisten I MBAD Letkol. Achmad Sukendro mengeluarkan perintah kepada Komandan Resimen V Mayor Djuhartono untuk menangkap perwira TT. II/SRIWIJAYA termasuk Panglimanya Letkol Burlian

(KODAM Sriwjaya web blog)

26 April 1957

 

Foto IPPHOS

Rapat seluruh Penguasa Militer, Gubernur, Pemerintah Pusat  di Istana Negara, 26 April 1957(Nugroho Notosutanto)

 

 

27 April 1957

 

Pidato Let Kol Ahmad Husein

Pada Rapat Penguasa militer Pusat Di Istana Negara Jakarta

 

Yang terhormat Ketua Sidang

 

Saudara-saudara para rekan serta hadirin yang terhormat.

Saya merasa berbahagia atas kesempatan yang diberikan oleh ketua Sidang pada Rapat Penguasa Militer seluruh Indonesia pada saat ini.

Untuk mengucapkan satu dan lain hal dimuka para hadirin yang terhormat , yang dihadiri oleh tokoh-tokoh yang bertanggung jawab atas keselamatan Negara di masa sekarang dan dimasa yang akan dating  yang mana oleh karena keadaan , sampai drewasa ini belum pernah dapat dilaksanakan, dan atas pemberian kesempatan ini saya menyatakan penghargaan serta mengaturkan terima kasih yang tidak terhingga.

 

Izinkanlah saya menyampaikan pernyataan “ maaf saya” dan rombongan, terutama kepada Ketua Rapat dan selanjutnya kepada hadirin yang terhormat, atas terlambatnya kami dating menghadiri rapat ini, hal mana yang menyebabkan terlambat itu telah kami sampaikan kepada KSAD.

 

 

 

Saudara Ketua dan hadirin yang terhormat,

Saya tidak berani menyatakan bahwa persoalan-persoalan  yang akan saya k3emukakan pada hadirin akan cukup menarik perhatian para rekan dan hairin yang terhormat, tetapi sungguhnya demikian perkenankanlah saya  dari sini mengemukakan beberapa persolan yang menurut anngapan kami adalah berfaedah sekali untuk ditinjau dan dipahami agara hasild an maksud rapat ini dapat kita peroleh  menurut proporsi yang sewajarnya.

Setelah kami mempelajari acara rapat yang disampaikan kepada kami, timbullah rasa kegembiraan di hati kami , karena rapat ini akan membahas persoalan-persoalan otonomi, ekonomi, keuangan dan keamanan daerah secara teknis, yang akan diekmukakan kelak dalam seksi-seksi yang akan dibentuk untuk memendekkan waktu, tetapi sayang rasa kegembiraan ini segera berkurang , setelah kami perhatiakan bahwa rapat sekarang ini tidak membicarakan soal-soal pokok dari sebab musabab timbulnya pergolakaan di daerah-daerah yang didorong oleh semangat rakyat yang bergejolak , menghendaki perubahan-perubahan radikal dalam taraf pimpinan nasional dan perubahan dari mismajemen yang bersimarajalela dalam segala lapanga.

Ketua siding yang terhormat

Semenjak meletusnya Peristiwa Dewan Banteng pada tanggal 20 Desember 1956, bayaklah hal-hal yang telah terjadi yang pasti menimbulkan pertanyaan : apakah yang sebenarnya menjadi latar belakang dan sebab musabab daris egala rentetan kejadian-kejadian yang dinamakan gerakan daerah tersebut.

Sebagai seorang petugas Negara dan sebagai TNI sejati yang ingin betanggung jawab bersama masyarakat dalam rangka usaha untuk menyelamatkan Nusa dan Bangsa, kami tidak dapat mengesampingkan fakta-fakta , yang tumbuh dan hidup disekeliling kami.

Kami merasa  berkewajiban  untuk menguraikan secara ringkas dan umum apa yang dinamakan sebab musabab gerakan daerah yang tersebut tadi, sehingga jelas b agi kita kedudukan dan tujuan dari pada gerakan daerah itu dan seterusnya terserahlah bagi yang bertanggung jawab untuk memahami.

Yang menjadi latar belakang dari gerakan daerah adalah pada pokoknya bersumber pada pengalaman pahit selama sebelas tahun sampai saat ini dalam melaksanakan apa yang dinamakan “ demokrasi “.

 

Penyalahgunaan demokrasi yang telah meningkat kepada politieke verwording dan verwording van het partijwezen (degenerasi dan degenerasi dari Partai)

yang memang diberi kesempatan bertumbuh dan berkembang oleh system-sistem sentralisme yang sudah kita pakai sampai saat ini.

 

Tidak dapat disangkal kiranya , bahwa system sentralisme mengakibatkan birokrasi yang tidak sehata, stagnasi dalam segala lapangan  terutama dalam lapangan pembangunan daerah, sehingga mengakibatkan seakan-akan seluruh rakyat menjadi apatis dan kehilangan inisiatif, apalagi adanya unsur-unsur dan golongan-golongan yang tidak bertangungg jawab yang hendak memaksakaan kemauan mereka yang tidak sesuai dengan alam pikiran rakyat Indonesia yang demokratis dan bersendikan Ke-Tuahanan.

 

Keadaan yang seperfti itulah pada umumnya menjadi latar belakang dan sebab musabab dari tumbuhnya gerakan daerah di Sumatera tengah dan daerah-daerah lain.

Jelaslah bahwa perjuangan atau Gerakan-Gerakan di daerah-daerah tersebut justru bersumber kepada tujuan yang suci kearah pembinaan suatu masyarakat yang adil,makmur dan  berwtaak seperti berbahagia, dibawah pemerintah oleh rakyat, dari rakyat dan untuk rakyat., dimana terkandung unsure-unsur persamaan dalam lapangan ekonomi, social dan kebudayaan.

 

 

 

Ketua siding yang terhormat,

Pada tempatnya kiranya, Pimpinan Negara berteriama kasih kepada Gerakan Rakyat di Daerah-Daerah , yang ingin mencegah pembelokan cicta-cita Proklamasi 1945, yang disebabkan oleh usaha yang tidak jujur dari pemimpin-pemimpin yang berkuasa diwaktu-waktu yang lalu, tapi alangkah kecewanya kami mendengar reaksi-reaksi dari beberapa  pemimpin dan Golongan di Ibu Kota ini, sekan-akan Gerakan-Gerakan yang timbul didaerah itu adalah suatu kesalahan yang besar, dan kami menolak dengan keras dan tegas segala provokasi dan propaganda palsu yang dilancarkan oeh siapapun, yang mencap perjuangan suci rakyat didaerah-daerah  untuk mempertahankan  Republik Indonesia sebagai dicita-citakan oleh Proklamasi 1945, sebagai gerakan saparatisme, sukuisme, agen imperialism, dan lain-lain nama, yang hanya hati yang jahat dapat memikirkannya dan mulut yang kotor dapat mengucapkannya.

 

Puncak kesabaran rakyat di daerah-daerah hamper mencapai puncaknya mendengar fitnahan dan tuduhan durhaka dari golongan-golongan demikian itu yang mencap perjuangan dan keinginan luhur dari rakyat sebagai pengkhianatan terhadap Proklamasi 1945.

Apabila kita boleh berkata tentang pengkhianatan, maka sejarahlah yang telah dan akan menentukannya, tetapi yang pasti pada masa yang silam Daerahlah yang telah menyelamatkan kelanjutan hidup Pemerintah Negara Republik Indonesia yang ada sekarang ini , dengan diselamatkannya Pemerintah Darurat Republik Indonesia pada waktu masa  Revolusi tengah bergejolak.

 

Jauh berbeda dengan orang-orang yang siang-siang telh menaikkan Bendera merah Putih karena tidak mempunyi kesanggupan untuk melanjutkan perjuangan yang maha berat itu.

 

Ketua Sidang yang terhormat

Kami merasa kasihan bahwa masih ada orang, pemimpin  dan go.longan dalam masyarakat Indonesia  ini, yang belum sanggup mengerti, bahwa perjuangan di daerah-daerah justru bersumber pada kesetiaan terhadap cita-cita proklamasi yang sedang terbengkalai dan terinjak-injak itu.

 

Bagi mereka itu rupanya sulit dapat menginsjafi bahwa perjuangan daerah-daerah ditujukan dengan sadar dan penuh rasa tanggung jawab kepada kebahagiaan dan Kemakmuran yang merata bagi Rakyat Semesta di Tumpah darah Indonesia yang kita cintai ini.

Adalah menjadi keyakinan Rakyat di daerah-daerah bahwa kegiatan yang dinamis did aerah-daerah itu adalah reaksi terhadap kebobrokan Kehidupan Negara dan Kehidupan Politik di Negara kita ini, yang harus dikoreksi dengan jiwa dan cara radikal, dinamis dan revolusioner.

 

Ketua Sidang yang terhormat

Adalah suatu kejadian yang logis, bahwa tenaga-tenaga yang revolusioner dalam masyarakat telah bangkit serentak dengan tenaga-tenaga dalam TNI , apabila kita mau melayangkan pandangan kita kembali kepada sejarah pertumbuhan dan sejarah Perjuanagn TNI serta masyarakat kita.

Unsur yang dua sejoli ini tidak dapat dipisahkan  dalam meninjau , mempelajari dan menilai Pergolakan di daerah-daerah sekarang.

Pikiran-pikiran yang menyatakan :” You are not human being, but only a soldier” adalah perkataan yang tidak tepat dan sangat tidak sesuai sekali dengan prinzip yang sebeanrnya.

 

Harus kianya dapat diinsjafi bahwa Landasan Perjuangan di daerah-daerah adalah tetap Proklamasi 1945 dan Negara Kesatuan Republik Indonesia sedangkan tuntutan  serta program Perjuangan di daerah baik dalam taraf Nasional maupun Taraf Regional adalah ditujukan kepada realisasi  yang adil dan luhur dari Bhinneka Tunggal ika.

Justru karena itulah salah satu tuntutan dari pada daerah-daerah yang berjalan sejajar dengan keinginan –keinginan TNI ditujukan kepada utuhnya kembali Dwitunggal Sukarno-Hatta.

 

Menurut pertumbuhan waktunya  walaupun bagaimana bentuknya, guna dapat memelihara Landasan yang kuat dari Persatuan dan Perdamaian Nasional agar tercapai dan terpelihara Stabilitas dalam segala Lapangan , yang menjadi syarat mutlak bagi pembangunan Negara dalam arti yang seluas-luasnya in woord in daad.

 

Demikian pun mengenai tuntutan lain , yang menjadi jaminan pokok bagi Pembangunan yang dicita-citakan oleh Gerakan Daerah , yaitu menitik-beratkan Usaha Negara pada Pembangunan Daerah dalam segala lapangan, dengan segala jaminannya dalam rangka Kenegaraan dan Sistem Pemerintahan, memakai bentuk Negara yang tetap Berbentuk Negara Kesatuan yang bersifat desentralistis anatranya memberikan otonomi yang seluas-luasnya kepada Daerah-Daerah sesuai dengan jiwa Bhinneka Tunggal Ika,

 

serta dengan financiele verhoudingen yang layak dan adil, memakai system dan dua-kamar dalam DPR Pusat.

 

Sewajarnyalah bahwa dalam masa Peralihan adanya Dewan Nasional yang bersifat Pra-Senaat ( Perwakilan Daerah Yang Ditunjuk Oleh Daerah sendiri) sementara menunggu terbentuknya Senaat yang sebenarnya.

 

Disamping itu seharusnyalah diutamakan pengisian (besetting) dari controle –organen (organ Pengawas) termasuk Markas Besar Angkatan-Angkatan  dengan orang-orang yang ahli, jujur, dinamis, serta berwataksehingga terhindar adanya klik-klikan dan birokrasi yang tidak sehat serta inmoralitas.

 

Ketua Sidang uang terhormat

Adalah sangat bertentangan dengan cita-cita dan kepentinagn-kepentinagn Rakyat Indonesia yang hidup sekarang da generasi yang akan dating , apabila reaksi daerah terhadap kebobrokan seperti yang diuaraikan tadi disambut oleh sementara Golongan Instansi-instansi yang sedang Berwenang katanya di Ibu Kota dengan suatu Reaksi untuk memadamkan c.q. meniadakan Pergolakan di daerah-daerah itu dengan mempergunakan kekerasan berupa apapu juga.

 

 Apabila hal yang demikian terjadi maka lahirlah Tragedi Nasional yag mungkin akan membawa maut bagi Negara kita.

 

 

Baiklah kita sadari benar-benar bahaya kemungkinan yang terkutuk itu  dan berusaha menghindarinya. Marilah kita pertimbangkan tuntutan-tuntutan Daerah itu dengan tenang dan dengan jiwa yang besar, lepas dari nafsu ingin berkuasa sendiri.                                                                                                                                                             Ketua Sidang yang terhormat

Adalah kewjiban yang utama daris emua Pemimpin kita baik yang di Pusat maupun yang di Daerah untuk kanaliseer hasrat-hasrat Rakyat ini menurut semestinya dan akan sangat berbahayalah apabila tidak diacuhkan dan diindahkan.

Adalah menjadi kenyataan sekarang akibat dari segala persoalan-persoalan tersebut, timbullah keinginan untuk mencari penyelesaiaan yang konkret , baikpun datangnya dari Pusat maupun suara-suara dari daerah.Tetapi yang mengelikan sekali segala keinginan itu yang seharusnya disampingkan dan dijadikan bahan untuk menentukan sikap  selanjutnya tidka dilaksanakan, melainkan mengambil  suatu tindakan penyelesaiaan yang dipaksakan menurut keinginan sendiri dengan tidak mengindahkan sma sekali keinginan-keinginan yang jujur dari pihak lain, dengan menonnjolkan semboyan yang hebat dan menarik yaitu Kebijaksanaan, tegas dan cepat, yang sebenarnya adalah kekeliruan, kesalahan dan keserampangan belaka.

 

Ketua Sidang yang terhormat

Mengenai SOB , berhubung antara Pengumuman SOB dengan Kejadian-kejadian di daerah-daerah jelas maka sebuah pertanyaan apakah SOB itu dimaksud untuk membentug cq memadamkan Perjuanagn Rakyat di Daerah,Dus sebagai Senjata Politik. Kalau itu betul maka jelas kita tidak dapat menyetujui maksud-maksud serupa itu.

 

Apabila SOB diadakan untuk memerangi korupsi dan untuk mencegah anasir-anasir yang ingin menangguk di air Keruh, maka kalau boleh dikatakan kita setuju tidak seratus persen melainkan seribu persen. Hal yang demikian lebih cocok dengan maksud dan tujuan SOB sebagai Undang-Undang dalam alam Kemerdekaan kita.

Kita juga sangat setuju untuk mempergunakan SOB  itu dipergunakan oleh Pwnguasa-Penguasa Militer untuk Pembangunan dan dalam pengertian ini sudah termasuk umpamanya Pengerahan Tenaga rakyat,Pembatasan Hak Mogok untuk mempertinggi Produksi dan Pembrantasan Penyalahgunaan da lain-lain.

 

Kita juga sangat setuju untuk mengunakan SOB dlam arti meneliti dan mengawasi jalannya Pemerintahan Sipil serta Jawatan Sipil untuk melancarkan Jalannya Roda Pemerintahan.Tegasnya janganlah kita pergunakan SOB sebagai momok terhadap Rakyat dan janganlah SOB dipergunakan sebagai Senjata Politik untuk menghancurkan sesuatu Golongan dalam Masyarakat, sebab pasti akan menimbulkan Ketagnagan-Ketegangan cq Permusuhan-Permusuhan yang akan merember-rembet dan sulit diselesaikan.

Tentang soal lain seperti finaciel otonomi,Pembangunan Daerah dan sebagainya akan diamsukkan nati ke dalam seksi-seksi yang akan dibentuk untuk ini sesuai dengan apa yang diterangkan oleh Ketua pada pembukaan siding.

Sekian dan terima kasih.

 

(sumber  buku PRRI Permesta Strategi Membangun Indonesia Tanpa Komunis ,R.Z.Leirissa,Jakarta,  1991)

 

Mei 1957.

 Wakil dari semua kabupaten di empat provinsi Indonesia Timur hadir sekaligus menyatakan dukungan kepada Permesta. Belakangan, Nasution dan Ahmad Yani setuju dengan konsep itu.

 

 Sekitar Mei 1957, saat berkunjung ke Makassar, Nasution menyatakan sepakat dengan isi Permesta.

(Ventje Samual)

 

 

Pada Mei 1957 ia ke Sumatra, bertemu

 

 

Letkol Barlian

 

dan Mayor Nawawi di Palembang. Ia sempat menyamar sebagai Letnan Dua Rasyidin

 

 Pada 13 Mei 1957,

 ia tiba di Padang, bertemu Panglima Divisi Banteng,

 

 

 

Letkol Achmad Husein.

Malamnya Sumitro menuju Pekanbaru, menemui Kapten Yusuf Baron. (iluni)

Dari Jakarta, Sjahrir menugaskan Djoeir Moehamad dan Djohan Sjahruzah menghubungi dewan-dewan militer di daerah. Sekaligus menghubungi Sumitro Djojohadikusumo.

 

Mereka “mengejar” Sumitro hingga ke Padang. Tapi Sumitro keburu ke Pekanbaru, kemudian ke Bengkalis, sempat menyamar jadi kelasi kapal menuju Singapura.

“Ia ternyata menempuh jalan sendiri dan diumumkan menjadi salah seorang menteri PRRI,” tulis Djoeir dalam bukunya, Memoar Seorang Sosialis (1997, hlm 268)

 

8 September, 1957

 

Pada 8 September, 1957 saya bertemu dengan Letkol Ahmad Husein dan Letkol Barlian di Palembang.Hasilnya, lahir enam pasal tuntutan yang kami bawa ke Munas.

 

 Di antaranya, pemulihan kembali dwitunggal Soekarno-Hatta, penggantian pimpinan TNI-AD (terutama Nasution), desentralisasi dengan otonomi luas bagi daerah, pembentukan senat, penyederhanaan aparatur negara, dan pelarangan komunisme.

 

Namun Jakarta ternyata hanya mengagendakan tiga masalah: pemulihan kembali dwitunggal, pelaksanaan pembangunan nasional, dan perubahan pimpinan Angkatan Darat. Soal komunis tidak dibahas.

 

Para perwira yang “bermasalah” juga tidak diundang. Hasilnya, dwitunggal setuju dipulihkan kembali.

 

Pada saat penutupan Munas, Soekarno berjanji akan segera berbaikan dengan Hatta.

 

Sedangkan urusan keretakan pimpinan AD dibahas tim tujuh yang diketuai Soekarno sendiri.

 

 Anggotanya enam orang: Hatta, Djuanda, Wakil Perdana Menteri Leimena, Sultan Hemengku Buwono IX, Aziz Saleh, dan Nasution. Sewaktu tim itu diumumkan, kami protes.

 

Kami bilang, Nasution itu terlibat masalah, kenapa masuk.

 

Dalam rapat terjadi perdebatan sengit antara Nasution dan saya tentang legalitas dan disiplin militer, hingga akhirnya saya menggebrak meja dan keluar ruangan.

 

Munas rencananya akan dilanjutkan dengan Musyawarah Pembangunan pada akhir November.(Ventje Samual)

 

 

 

PIAGAM PERSETUJUAN PALEMBANG

 

Z.Lubis

 dan komplotannya ketika sedang bersiap sedia untuk melaksanakan rencana mereka, digempur oleh adanya Kabinet Djaunda  untuk melangsungkan Musyawarah Nasional di Jakarta guna mencari jalan keluar mengatasi kesulitan-kesulitan Negara.

Maka mereka mengadakan pertemuan untuk menghadapi Musyawarah Nasional tersebut.

Pertemuan itu tidak hanya dilangsungkan sekali  melainkan beberapa kali  dan menghasilkan Persetujuan Palembang yang bunyinya sebagai berikut:

 

Kami Yang bertanda tangan dibawah ini :

1.Let.Kol. Ahamd Husein

2.Lektok H.N.V.Samual

3.Let.Kol Barlian

 Masing-maaing pemimpin daerah yang bergolak, setlah mengadakan perundingan yang mendalam mulai tanggal 012030- sampai 080100 september 1957 bertempat di Staf Kwartier Palembang mengambil keputusan bersama sebagai berikut:

 

1.Tentang Musyawarah Nasional

a.Kami belum mempunyai keyakinan melihat kenyataan-kenyataan  yang berlaku, bahwa Musyawarah Nasional  tanggal 10 September yang akan datang  ini  akan menghasilkan penyelesaian  Nasional.

b.Demi  untuk mengharapkan tiap-tiap usaha kearah Musyawarah ,maka kami mengambil ketetapan untuk memerlukan hadir.

c.Kehadiran kami itu adalah  dengan tujuan sekurang-kurangnya  dapat memperjuangkan tercapainya Musyawarah  Nasional yang sebenarnya.

 

2.Pokok-pokok Tuntutan

a.Menuntut segera dipulihkan nya DWI TUNGGAL  dalam rangka Pimpinan Negara dan Bangsa  dan jika ini tidak mungkin harus mengambil jalan yang tegas.

b.Negara menganti Pimpinanan Angkatan Darat sebagai langkah Pertama  terhadap stabilitas Tentara Nasional Indonesia yang akan menjadi landasan mutlak bagi stabilitas Negara.

c.Dilaksanakannya Desentralisasi dalam Sistem Pemerintahan Negara yang antaranya meliputi antaranya memberi otonomi yang lebih luags bagi Daerah dan Reoranisasi dalam organ-organ Sentral bagi Pusat.

d.Pembentukan Senaat

e.Peremajaan dan Penyederhanaan seluruh  Lapangan dan Angkatan.

f.Dilarang Komunisme yang pada dasarnya berpusat Internasional.

 

3.Koordinasi Perjuangan

a.Solider-konsekwen mengutuk dan menentang segala Jalan Kekerasan fisik maupun administrasi yang mungkin diambil  oleh Pusat terhadap sesuatu Daerah  Pengikut.

b.Mengadakan Koordinasi/Kerjasama Militer dan Finec. Radio.

c. Mengadakan langkah-langkah untuk mempersiapkan perwujudan Komando Sumatra.

 4.Selesai

 

Palembang 081415 September ‘57

 

Ttd                                                                                                      Ttd

Barlian                                                                                      Ahmad Husein

Let.Kol.                                                                                         Let.kol.

Ttd

H.N.V.Samual

Let.kol.

 

 

 

(Sekts Massa Des.1958,koleksi Dr iwan)

 

9-14 September 1957

Untuk menghindari perpecahan  Nasional serta untuk menyelesaikan pertentangan  antara daerah-daerah yang bergolak dengan  pemerintah secara damai, maka pada tanggal 9 dampi 14 September 1957 di Jakarta diadakan  Musyawarah Nasional (MUNAS)  yang dihadiri oleh seluruh Pimpinan Daerah ,Tokoh – Tokoh Politik dan Militer dari seluruh Indonesia untuk menyelesaikan maslah yang timbul secara Musyawarah.

(Ahmad Yani)

 

Pertengahan September 1957,

 

 

Soekarno dan Kabinet Perdana Menteri Djuanda menggelar Musyawarah Nasional (Munas).

 

Sebenarnya ini tawaran kompromi pemerintah atas tuntutan daerah.

 

 

Terlihat sekali Soekarno ingin melakukan rekonsiliasi.

 

Ia bahkan melepaskan 41 anggota Dewan Banteng dan Garuda yang ditahan.

 

Agenda Jakarta ini membuat kami merapat.

(Ventje Samual)

 

 

10-15 September 1957

Munas diadakan selama lima hari yakni dari tanggal 10-15 September 1957, tuntutan Dewan Perjuangan yang termaktup dalam Piagam Palembang disetujui, kecuali point nomor lima.

Dari tuntutan-tuntutan yang dilontarkan oleh pimpinan di daerah dapat kita tarik kesimpulan, gerangan apa yang menyebabkan mereka memberontak?Tak lain dan tak bukan ialah: Komunisme, dimana Soekarno lebih dekat dengan PKI.hubungan pusat dan daerah dimana pola pemerintahan lebih mengarah kepada Sentralistis. Dan pecahnya Dwi Tunggal, dimana terpetik kabar bahwa Hatta hendak mengundurkan diri dari jabatan Wapres.

Kita juga tidak memungkiri akan keterlibatan kekuatan asing dalam pergolakan ini. Karena walau bagaimanapun juga, dalam tatanan yang lebih besar sedang terjadi ketegangan antara Blok Timur (Komunis) dan Blok Barat (Kapitalis). Dan masing-masing kekuatan berkeinginan untuk menananmkan pengaruh di sebanyak mungkin negara yang berhasil dikuasai oleh ideologi mereka.

(Oetoesan Melajoe)

 

Dalam menghadiri Musyawarah Nasional tersebut ketiga sekutu Palembang  tersebut dalam menghadapi masalah Dwi Tunggal  mempunyai bekal berjuang yang isinya sebagai bewrikut :

 

Secara positif harus diperjuangkan

1.Bung Karno sebagai Presidendna Bung Hatta kembali menjadi Wakil Presiden

2. Bung karno sebagai Presiden dan Bung Hatta sebagai Perdana Menteri suatu zaken cabinet

3. Dibentuk suatu Presidentiel Kaninet dengan Bung Karno sebagai Presiden sebagai Perdana menteri  satu dan Bung Hatta sebagai perdana menteri kedua dengan berpatokan satu program Nasional dimanamaaing-masing mempunya lapangan tugas Pertanggung Jawab yang penuh : Bung Karno bidang politis dan Bung Hatta bidang ekonomi

 

Yang Nagatif Harus diperjungkan ialah:

  1. Kedua tokoh nasional itu berhenti sama sekali dan atau diadakan Pemlihan Presiden baru atau dibentuk suatu Presidium.

 

Berhubung gagalnya perjuangan mereka dalam Musyawarah Nasional , maka mereka menyusun siasat baru.

 

Ketiga tokoh Militer petualang tersebut , Ahmad Hussein, Samual dan Barlian  mengadakan Pertemuan lagi  dan menentukan  siasat baru dengan dasar Piagam Palembang.

Pertemuan itu tersebut resminya hanya diantara ketiga petulang tersebut , tetapi didukung oleh Z.Lubis sebagai “ dalqang” denga actor intelektualis Natsir.

Adapun wujud dari siasat baru itu  rencana Perjaunagn baru yang menuju proklamasi PRRRI adalah sebagai berikut

 

 

MENETAPKAN DASAR,PEDOMAN DAN PROGRAM BERSAMA  DARI PERJUANGAN DAERAH YANG BERGOLAK

I.DASAR-DASAR PERJUANGAN

Dalam menuju  cita-cita Perjuangan Daerah Yang Bergolak maka Piagam Persetujuan Palembang tetap dijadikan Dasar yang memuat antara lain :

 

1.Justru karena kenyataan menunjukkan bahwa realisasi dari pemulihan  keutuhan Dwi Tunggal  tidak mungkin lagi dilaksanakan sebagaimana yang diinginkan Daerah-Daerah yang Bergolak maka sesuai dengan Piagam Perjuangan Palembang punt 2a, mulai dari saat ini Mengambil Jalan Yang Tegas yaitu:

a.Melaporkan dan Meniadakan “Mythos Dwi Tunggal”

b.Memperjuangkan terlaksananya Pemilihan Presiden RI Yang baru.

 

2.Tetap memperjuangkan terbentuknya suatu Senaat yang merupakan suatu Instiut Perwakilan Daerah.

 

3.Tetap menghendaki pelaksanaan Pengantian Pimpinan Angkatan Darat (KSAD dan SUAD) yang sekarang.

 

4.Berpendirian secara mutlak bahwa kejelasan soal Angkatan Darat terus dilaksanakan dengan Musyawarah yang lebih luas .dimana Permasalah semua Tokoh-Tokoh Angkatan Darat yang terlibat dalam Pergolakan daerah-Daerah.

 

5.Menganggap mutlak adanya suatu Panitia atau Dewan ( Super-Team) yang akan menampung dan memecahkan persoalan-persoaln yaitu Persoalan-Persoalan Politik yang Pokok, persoalan-persoalan Militer yang pokok yang sampai sekarang tidak ada penyelesaiannya sebagai yang diinginkan oleh Daerah-Daerah Yang Bergolak.

Panitia atau Deawan(Super-team ) tersebut haruslah merupakan Forum Tertinggi dalam rangka Kenegaraan dalam masa Peralihan.

 

6.Menegaskan harus ada Larangan terhadap Komunisme yang ada Hakekatnya bersifat anti Ketuhanan , anti kebangsaan, bersifat Diktatur, Internasional dan Subversif ,pendeknya berrtentangan dengan Ideologi Negara (Pancasila).

 

7.Tetap menganggap  mutlak terlaksananya Peremajaan ,Penyederhanaan, dalam segala Angkatan dan Lapangan.

 

8.Tetap menganggap mutlak adanya desentralisai dan dekonsentrasi dalam system Pemerintahan  yang anatarnya meliputi otonomi yang seluas-luasnya bagi Daerah-Daerah serta Reorganisasi dalam oragn-oran sentral dari Pusat

 

 

II.PEDOMAN PERJUANGAN

 

1.Menyusun Seluruh  Kekuatan dalam segala Bidang dan Tingkatan  untuk menjamin terlaksananya  dari semua Dasar-Dasar Perjuangan tersebut diatas.

 

2.Selama masih bercokolnya PKI di Pusat (Pulau Jawa) selama itu pula Pusat tak dapat diakui sebagai Pusat  dari Negara R.I. dan untuk menampung hal-hal  tersebut haruslah semenjak sekarang dimulai usaha kearah pembentukan suatu Pemerintah Pusat Darurat  Republik Indonesia yang berkedudukan diluar pulau Jawa (Sandaran Piagan Jakarta 22 Juni 1945)

 

3.Dari pada hidup dibawah Penjajahan Komunis ,lebih baik hancur dalam mempertahankan Perjuangan Dearah dalam rangka Menegakan  Negara ( Ketuahan Yang Maha Esa,Kebangsaan) menuju Pembinaan Indonesia Baru.

 

 

III.PROGRAM PERJUANGAN

 

1.Bidang Politik

a.Dalam rangka Kewaspadaan Nasional membentuk dengan segera dan seluas mungkin suatu Front Anti Komunis untuk membasmi bahaya nasional, dan menyelamatkan Peri Kehidupan Bangsa Indonesia sebagai Bangsa Yang Hidup berTuhan ,biasa hidup damai dan demokrasi.

b.Menciptakan Undang-Undang KePartaian, yang akan menyehatkan hidup Kepartaiaan dan menghindarkan Ekses(exes-partijverwording)

c.Tetap meluaskan dan meyakinkan seluruh daerah dan Golongan akan cita-cita Indonesia baru sebagai penyempurnaan bentuk dan isi  dari cita-cita Proklamasi 17 agustus 1945.

d.Mempergunakan segala bentuk alat komunikasi dalam rangka member Pengertian dan Keyakinan tentang Cita-Cita Indonesia Baru tersebut.

e.Segera mulai persiapan membentuk suatu Pemerintahan Pusat Darurat R.I. yang berkedudukan diluar Pulau Jawa.

 

2.Bidang Militer

a.Segera merealisir Komando Bersama  yang akan menyusun Strategi bersama dalam bentuk Komando Antar daerah sedapat-dapatnya didahului pembentukan Komando Sumatra yang diprcayakan kepada Kol.Simbolon cs.

b.Memakai dasar”Collective Defense” dengan tetap solider,konsekwen, mengutuk dan menentang segela kekerasan fisik maupun administratif yang mungkin diambil oleh Pusat terhadsp daerah Pengikut .

 

Dengan demikian apabila tindakan administrative dan Militer/operatif, maupun fiansial ekonomi yang dianggap merugikan Perjuangan Daerah yang Bergolak, maka serentak seluruh Daerah yang menyokong Piagam Perjuahngan Palembang mengadakan Reaksi sebagai Tindakan Balasan.

c.Memperhatikan keperluakan akan adanya suatu ALRI dengan suatu AURI dalam rangka suatu Komando Bersama.

d.Memperhatiak akan adanya “Operation Special”

e.Membentuk Panitia Teknis Antar Daerah untuk segera mewujudkan hubungan Telekomunikasi.

 

3.Bidang Finec.

Dalangan Ekonomi Kuangan, mempertinggi potensi daerah dengan memperhitungkan Putusnya hubungan PUSAT-DAERAH pada suatu waktu.

Membentuk suatau Kerjasama menuju kesatuan Pimpinan secara intergral dalam lapangan FINEC antara daerah-daerah.

 

Demikianlah kami menetapkan bersama

DASAR,PEDOMAN DAN PROGRAM BERSAMA DARI PERJUANGAN DAERAH”(D-P2PB)

Dengan penuh kesadaran Keinsjafan serta rasa tangung jawab terhadapcita-cita murni dalam menyelamatkan Negara dan Bangsa Indonesia menuju kearah Indonesia baru.

 

Ditetapkan Dikota Perjuangan

Pada tanggal 5 Oktober 1957

Pada Jam 24.00 GMT

Pimpinan-Pimpina Dewrah Bergolak

 

Barlian

Let.Kol. NRP 13574

 

Ahmad Hussein

Let.Kol. NRP

 

H.N.V. Samual

Let.Kol. NRP 15958

Dari dasar ,pedoman dan program bersama inilah lahirnya Pemberontakn dengan dikobarkan dan di”nasehati”  oleh Petualang Politik yang gagal serta didudukung gerakan Subversif Asing yang menjanjikan yang menjanjikan mantual material,moril dan Politis, tetapi gagal dan berantakan.sebab Republik Kesatuan Proklamasi 17 agustus 1945 adalah Keramat.

Siapa mencoba dan berusaka mendobraknya, menghancurkankan,pasti hancur lebur sendiri.

SATRYA

Penulis Majalah Skets Masa 1958

 

(Skets Masa 1958,koleksi Dr iwan)

September 1957

Beberapa ikhtiar untuk mendamaikan konflik pusat dan daerah telah dilakukan, baik lewat lobi-lobi pribadi maupun lewat forum terbuka nasional seperti Munas kemudian Munap bulan September 1957, Piagam Palembang dan lain-lain.

30 November 1957.

 

Cover buku peristiwa cikini(Dr Iwan)

(Infomasi lengkap baca pad CD-Rom Dr iwan “Koleksi sejarah Indonesia 1957)

 

Kisah peristiwa cikini dapat dibaca dalam buku peristiwa cikini koleksi Dr Iwan yang ilustrasi sampulnya diatas.

 

 

Bung Karno ikut di stand menembak sesaat sebelum terjadinya peristiwa cikini(Dr Iwan)

 

Terjadi Peristiwa Cikini.

 

 Presiden Soekarno digranat ketika sedang menghadiri acara sekolah anaknya di Perguruan Cikini

 

 

Usaha pembunuhan Presiden gagal, tapi banyak siswa jadi korban.Soekarno marah.

 

 Sampai di Istana, ia berkata kepada wartawan, pelakunya adalah kami.

 

Zulkifli Lubis, rekan kami yang dikenal ahli intelijen, dituding sebagai dalang utama.

 

(Ventje Samual)

 

Akhir Nopember 1957

 

Namun niat baik itu menjadi mentah ketika terjadi “Peristiwa Cikini di akhir November 1957, sehingga segala sesuatu yang diupayakan sebelumnya menjadi buyar dan pada saat yang sama teror, intimidasi dan fitnah makin tak terkendali.

 

Sejumlah pemimpin terpaksa menyelamatkan diri keluar Jakarta dan bergabung dengan dewan-dewan perjuanagan di daerah yang dipelopori oleh kelompok militer Sumatera Tengah (Kol. Ahmad Husein) dengan mendirikan Dewan Banteng, kemudian disusul oleh Dewan Garuda di Sumatera Selatan (Kol. Burlian), Dewan Gajah di Sumatera Utara (Kol. Simbolon), Dewan Lambung Mangkurat dan Permesta di Sulawesi (Kol. Ventje Samual).

Dengan pelembagaan gerakan protes menentang Jakarta ini, polarisasi pertentangan pusat dan daerah dan sebaliknya semakin mendekatkan daerah ke tubir jurang perpecahan yang lebih dalam.

(DR Mestika Zed)

 

1 Desember 1957

 

Panitia 7 Beku Berhubung Peristiwa Cikini

Panoitia 7 dari Musyawarah Nasional beku karena Peristiwa Cikini, peristiwa percobaan pembunuhan  presiden sukarno  dalam rangka usaha-usaha politik Setelah  berlampau 24 jam ditangkap sejumlah dari merekaPelaksana dari pembuhunan tersebut.

Maka sudah dapat jelas bahwa usaha itu bukan satu kali tau usaha yang berdiri sendiri.tetapi rentetan Usaha sejak dulu, yaitu terror dan pengranatan –pengranatan yang telah berlaku di Ibukota ini dan dilakukan oleh Golongan yang sama,orang-orang yang sama, yang dipimpin Kolonel Zulkifli Lubis.

Inilah ketentuan yang didapat dari pemeriksaan itu, bahkan dari pemeriksaan itu kita dapat melihat  lebih luas apa yang telah kita hentikan.

Seperti telah diketahui Musyawarah Nasional yang telah dihentikan ,penangkapan-penangkapan dan tindakan lebih lanjut dari peristiwa-peristiwa sebelumnya ,bahkan sejumlah besar dari orang-orang yang telah tersangkut dalam tindakan-tindakan sebelumnya telah dilepaskan.

Yang dengan ini, kita kembali kepada taraf , kit kembali menangkapi, kembali harus bertindak.

Seperti diketahui Panitia 7 maupun Pemerintah berpendirian yang sama bahwa Peristiwa Cikini dan yang bersangkutan dengan itu tidak dimusyawarkan tetapi ditindaki dengan hokum militer,

Tidak ada satu orangpun dari Panitia 7 yang ingin bermusyawarah Peristiwa itu.Tetapi pemeriksaan dari itulah membawa kita kepada perdoalan-persoalan yang lebih luas. Seperti yang saya katakan, dimana kita melihat sejumlah senjata yang ditangkap dari sumatera selatan ke Jakarta yang digunakan dalam teror-teror disini yang sampai sekarang belum dapat kita tentukan siapa-siapa dari sumatera selatan yang bertanggung jawab tentang pembawaan senjata-senjata ke Jakarta.

Begitu juga kemudian  bahwa mereka yang tersangkut dalam komplot ini yang antara lain Kolonel Zulkifli Lubis dm lain-lain  yang bersifat preman, sudah dapat melarikan diri dari jkarta melalui sumatera selatan dan terus ke Sumatera tengah.sehingga menimbulkan persoalan baru dimana KASAD telah mengeluarkan Perintah menankap semua yang tertuduh dalam soal itu, bahwa ada Pejabat-Pejabat didaerah itu yang membantu kepada mereka, ini sehingga menimbulkan persoalan yang baru.

(A.H.Naustion,Ceramah KASAD Dgn Perwira gernizun Jakarta 22 Feb 1958,Majallah PHB AD.1958)

Amnesti Umum Tak Jadi Karena Peristiwa Cikini

Pekerjaan Panitia 7 setelah peristiwa Cikini terpaksa dibekukan  dan amnesty umum tidak bisa diteruskan,karena tidak ada dikalangan kita maupun dalam masyarakat yang dapat membenarkan  bahwa jmereka yang berbuat itu akan diamnestikan ,tapi harus ditindaki menurut hokum , yang saya harap setelah itu ditangan Jaksa selekas mungkin memang secara hokum diselesaikan, begitu juga lain-lain peristiwa yang berhu ung dengan itu, karena seperti yang saya katakana semua  satu rentetatan.

Pembunuhan terhadap kepala Negara dan pemeriksaan ternyata bukan sekali itu saja diusahakan.

Selama Musyawarah Nasional Pembangunan berkali-kali diusahakan tetapi gagal dan juga pada peristiwa-peristiwa sebelumnya begitu juga dapat  kita ketahui usaha pembununahan terhadap diri saya sendiri.

 

Dengan demikian timbul kesulitan-kesulitan berhubung dengan penahanan dan pemeriksaan dari mereka yang tersangkut, ini termasuk Lubis Cs.dan Preman-premannya yang kebetulan dapat lolos ke Sumatera Selatan dan Sumatera Tengah   tidak dapat diurus berhubung adanya pejabat yang memberikan perlindungan dan bantuan kepada mereka.

Jandi memang dalam hubungan itu kita masih belum dapat melaksanakan tindakan sebagaimana mestinya.

Sementara itu juga Panitia 9 dalam mencari bentuk resmi kerjasama dwitunggal  pada saat Presiden berangkat keluar negeri dalam laporannya yang telah diumumkan  juga disurat kabar belum dapat dicapai sesuatu pendirian dalam soal ini. Memang adalah soal yang sulit dimana kita melihat 2 pendirian yang berbeda pada waktu itu banyak pendirian itu tentu yang berbeda.

 

(A.H.Naustion,Ceramah KASAD Dgn Perwira gernizun Jakarta 22 Feb 1958,Majallah PHB AD.1958)

 

 

Saya kaget, dan saya suruh orang mencari Lubis. Dia bilang, ”Bukan saya. Kalau saya, mana mungkin gagal?”

 

Maksudnya, jika Lubis yang merencanakan, Soekarno pasti tewas.

 

Terus terang, tudingan ini lucu. Untuk apa kami mengacaukan sendiri usaha kami di Munas yang sedang di atas angin?

 

Akibat peristiwa itu, kami yang sedang menghadiri Musyawarah Pembangunan sempat ditahan. Rencana mengumumkan pelaksanaan hasil Munas,

 (Ventje Samual)

 

Dokumen Lubis

Satu alternatif adalah yang dikatakan membikin front yang lebar  antara daerah yang bergolak , dimana daerah yang begolak  itu  marterieel berdiri sendiri , artinya tidak bergantung pada Pusat , sambil menyerang  macht concentratie di Pusat dalam dokumen itu adalah Kepala Negara dan Pimpinan Angkatan darat sebagai landasannya, dengan cabinets ebagai landasan hukumny dan Dewan Nasional sebagai landasan  penghimpunan tenaga .

Disitu disebut juga  alternative yang kedua  yaitu membentuk  Negara  yang  lain dan  Pemerintah  yang lain sebagai move tactisch yang maksimum dikatakan.

Dalam suasana  keragu-rahuan dan simpang siur berita itu disitulah Penerangan Angkatan Darat mengumumkan isi daripada dokumen ini yang dokumen  ini didapat dari seorang  penjabat Polisi yang tertangkap  dalam komplot Lubis Cs itu.

Dengan itu memang jelas apa yang akan terjadi  sehingga kemudian  kira mengetahui  adanya rapat di Sungai dareh pada tanggal 9 Januari  dimna hadir Panglima TT II,Komandan KDMST,Overste samual,para Kolonel yang pada waktu itu  berperistiwa seperti Kol simbolon, Dahlan Djambek, Bung Natsir, Sumitro dlll lagi yang tentu sduah banyak kita denagr nama-nama itu dimana persoalan  ini dibicarakan.

Pemerintahdan Pimpinan Angkartan darat tidak mengumumkan  seluruhnya apa yang menjadi pembicaraan disitu dan apa yang menjadi  pembicaraan disitu dan apa telah kita tangkap sebagai laporan.

Akan tetapi dapat kita apsti  bahwa satu hal yang penting disini  denag konsep yang disebut dalam dokumen  tadi itu  diketemukan lagi menjadi acara disitu tentang pembentukan suatu Pemerintahan yang lain.

Rapat itu dimana juga hadir Kol Lubis yang sudah diperintahkan untuk menangkapnya berhubung peristiwa Cikini membawa sesuatu  konflik situstie yang baru di Sumatera Tengah

 

(A.H.Naustion,Ceramah KASAD Dgn Perwira gernizun Jakarta 22 Feb 1958,Majallah PHB AD.1958)

 

Saya suruh mencari Zulkifli Lubis dan ketika ditanyakan apakah ia terlibat peristiw Cikini, jawabanya bila saya terlibat pasti Presiden sukarno sudah mati

 

(Ventje Samual)

 

 

1957

 

Peristiwa penggranatan tanggal 30 November 1957 atau lebih dikenal dengan sebutan Peristiwa Cikini, misalnya, tidak bisa dilepaskan dari skenario CIA. Walaupun bukti dalam peristiwa yang menewaskan 11 orang dan 30 lainnya cedera masih simpang-siur, tetapi indikasi keterlibatan CIA sangat jelas.

 

Pengakuan Richard Bissell Jr, mantan Wakil Direktur CIA bidang Perencanaan pada masa Allan Dulles, kepada Senator Frank Church, Ketua Panitia Pemilihan Intelijen Senat tahun 1975, yang melakukan penyelidikan atas kasus tersebut, membuktikan itu.

 

Ia menyebut sejumlah nama kepala negara, termasuk Presiden Soekarno, untuk “dipertimbangkan” dibunuh. Bagaimana kelanjutannya, ia tidak mengetahui. Bung Karno sendiri yakin CIA di belakang peristiwa ini. David Johnson, Direktur Centre for Defence Information di Washington, juga membuat laporan sebagai masukan bagi Komite Church.

Peristiwa Cikini yang dirancang Kolonel Zulkifli Lubis, yang dikenal sebagai pendiri intelijen Indonesia, bukanlah satu-satunya upaya percobaan pembunuhan atas Bung Karno. Maukar, penerbang pesawat tempur TNI AU, juga pernah menjatuhkan bom dan menghujani mitraliur dari udara ke Istana Presiden.

Presiden Eisenhower sendiri memutuskan dengan tergesa persiapan invasi ke Indonesia sepekan setelah percobaan pembunuhan yang gagal dalam Peristiwa Cikini. Ia makin kehilangan kesabaran. Apalagi peristiwa itu justru makin memperkuat dukungan rakyat pada Bung Karno.

Ketegangan Bung Karno dengan Gedung Putih mulai mengendur setelah Presiden JF Kennedy terpilih sebagai Presiden AS. Ia malah mengundang Bung Karno berkunjung ke Washington. Dalam pandangan Kennedy, seandainya pun Bung Karno membenci AS, tidak ada salahnya diajak duduk bersama. Kennedy yang mengutus adiknya bertemu Bung Karno di Jakarta, berhasil mencairkan hati proklamator ini hingga membebaskan penerbang Allan Pope.

Begitu Kennedy tewas terbunuh, suatu hal yang membuat duka Bung Karno, hubungan Jakarta-Washington kembali memanas. Penggantinya, Presiden Johnson yang disebut-sebut di bawah “todongan” CIA, terpaksa mengikuti kehendak badan intelijen yang “mengangkatnya” ke kursi kepresidenan. Pada masa ini pula seluruh kawasan Asia Tenggara seperti terbakar.

CIA yang terampil dalam perang propaganda, kembali menampilkan watak sesungguhnya. Fitnah dan berita bohong mengenai Bung Karno diproduksi dan disebar melalui jaringan media massa yang berada di bawah pengaruhnya. Tujuannya mendiskreditkan proklamator itu. Hanya di depan publik menyatakan gembira atas kebebasan Allan Pope, tetapi diam-diam diproduksi berita bahwa kebebasan itu terjadi setelah istri Allan Pope berhasil merayu Bung Karno. Sedang pengeboman istana oleh Maukar, diisukan secara sistematis sebagai tindak balas setelah Bung Karno mencoba menggoda istri penerbang itu.

CIA terus melakukan berbagai trik perang urat syaraf mendiskreditkan Bung Karno. Termasuk di antaranya Bung Karno berbuat tidak senonoh terhadap pramuria Soviet dalam penerbangan ke Moskwa. Jauh sebelum itu, Sheffield Edwards, Kepala Keamanan CIA pada masa Allan Dulles, pernah meminta bantuan Kepala Kepolisian Los Angeles untuk dibuatkan film cabul dengan peran pria berpostur seperti Bung Karno.

 

 

Dalam satu artikel di majalah Probe, Mei 1996, Lisa Pease yang mengumpulkan berbagai arsip dan dokumen, termasuk dokumen CIA yang sudah dideklasifikasikan, menyebut yang terlibat dalam pembuatan film itu Robert Maheu, sahabat milyarder Howard Hughes, serta bintang terkenal Bing Crosby dan saudaranya.

Lantas apa akhir semua ini?

(penasukarno.web blog)

1 Desember 1957

Moh Hatta

 

Akhirnya yang dicemaskan para pemimpin di daerah terjadi juga, Bung Hatta mengundurkan diri pada bulan Desember 1957

(oetoesan melajoe)

1 Desember 1957

makin mencuat adanya perbedaan pandangan antara Mohammad Hatta dengan Soekarno yang berujung pada pengunduran diri Hatta sebagai Wakil Presiden pada 1 Desember 1957.

 (gungun Gunawan)

2 Desember 1957.

 

Sebagai lanjutan musyawarah Nasional , bulan Desember 1957 di Jakarta diadakan Musyawarah Nasional Pembangunan.

 

Musyawarah-musyawarah ini tidak berhasil mendapatkan cara penyelesaian masalah daerah-daerah yang membangkang terhadap pemerintah Pusat.

 

Kegagalan ini antara lain disebabkan tokoh-tokoh nasional seperti Mohammad Hatta dan Sri Sultan Hamengkubuwono, tidak diikutsertakan dalam pimpinan pemerintahan.

 

 Selain itu daerah-daerah yang bergolak melontarkan tuduhan-tuduhan bahwa politik pemerintah Pusat mengarah kepada komunisme.

(ventje Samua)

 

Persoalan Barter

Persoalan barter sejak kurang lebih satu tahun ini telah merugikan republic Indonesia rata-rata setiap bulan 40 juta dolar. Memang bafter ini buat taraf pertama kita bisa memberikan perbaikan buat daerah yang tersangkut.

 

 

Harus diakui prosedur untuk memasukkan barang-barang  Pembangunan melalui Birokrasi yang sentral di Pusat selama ini sangat sulit buat  daerah-daerah, sehingga dengan jalan Barter mereka mengharapkan langsung bisa mendapatkan alat-alat  yang dibutuhkan dari luar negeri.

Akan tetapi lambat laun barter itu akan merugikan bukan saja seluruh Negara tapi daerah itu sendiri karena dengan barter  itu devisen hilang sama sekali, salah satu sumber dari Negara.

 

Kedua,macam-macam bea  dan Cukai, TPI,bukti eksport dan lain lain yang merupakan penghasilan dari Negara , yang penting dengan  sendirinya hilang dan buat daerah itu sendiripun,karena ini dijual keluar Negara dengan nama partikulir maka penjual-penjual itulah yang membawa dipasaran diluar negeri sehingga pembelinya dari luar negeri yang mempunyai kedudukan  menentukan  sehingga kita  dapat mengetahui barang-barang yang dimasukkan 

 

akhirnya juga  merugikan  terlalu mahal  kita bawa atay kualiasnya  kurang baik dan lain-lain.

Jadi bagaimanapun  juga barter  itu harus  diakhiri dan kalau dilihat  dari segi Pemerintah  sekian puluh juta dolar  tiap bulan yang  kehilangan,dapat dimegerti bagaimana  merosotnya Pendapatan Negara  sampai sekarang  ini karena itu  Pemerintah memutuskan  melarang Barter  dan Angkatan Perang  dan Polisi  diperintahkan mengambil tindakan

 

 

Pemerintah Buka Jalan Lain

 

Pemerintah membuka jalan lain, ialah dengan jalan kecuali melaksanakan perimbangan keuangan  buat daerah,juga memberikan sejumlah daripada hasil bea cukai dan devisen eksport,tiap-tiap daerah langsung  buat keperluan daerah itu. Dengand emikian diberkan satu jalan lain,bahwa secara langsung mereka mendapat hasil-hasil itu karena itulah saya berkeliling kedaerah-daerah untuk menyusun BDP-BDP,kantor import/eksport dan lain lain dengan Kementerian-kementerian yang tersangkut supaya selekas mungkin dipenuhi kebutuhan ini.

 

 Persoalan Baru

Timbul lagi persoalan yang baru yaitu keputusan Pemerintah untuk memecat  perwira-perwira  yang secara  pokok telah melanggar norma-norma militer, sudah diketahui  bahwa ini tidak dapat diterima  oleh sejumlah Perwira  yang berperistiwa itu,karena itu dalam meningkat-ningkatnya itu jelas danlah kita melihat salah satu  ketentuan , baik dalam masalah Dwi Tunggal , baik soal  penyelesaian  Angkatan Darat,baik yang disebut soal Pusat dan Daerah itu, dalam suasana  demikianlah  timbul masalah yang baru, yaitu masalah didesas-desuskannya  pembentukan suatu Negara yang baru atau Pemerintah yang baru di Sumatera.

Berita yang pertama kita terima adalah dari Radio Belanda Hilversum, yang telah mengumumkan keseluruh dunia akan digulingkannya Presiden dan dibentuknya Pemerintah yang baru dan bahkan  timbulnya Negara  Sumatera yang merdeka.

Dengan mulainya  Radio Hilversum mengumumkan ini maka ramailah  masyarakat membicarakan persoalan ini.

Begitu juga suatu interview  daripada Simbolon dengan wartawan Amerika, yang mengatakan kalau komunis mengoper Pemerintahan di jawa, kami akan membentuk  Pemerintahan yang baru di Sumatera.

Berita-berita  ini disebarkan diseluruh dunia dan digunakan oleh musuh-musuh kita untuk menyerang kita  dalam lapangan perang  urat syaraf dan perang politik.

Berita itu tidak segera dapat kita men-evalueer isi yang sebenarnya,akan tetapi kemudian berhubung banyak keragu-raguan , maka pimpinan Angkatan Darat merasa perlu mengumumkan suatu dokumen yang terkenal ,dokumen Lubis,dimana dalam cita-cita nenperhjuangkan tindkan mereka itu telah dengan jelas dirumuskan 2 alternatif yang tentu sudah dibaca disurat kabar.

 

 

 

(A.H.Naustion,Ceramah KASAD Dgn Perwira gernizun Jakarta 22 Feb 1958,Majallah PHB AD.1958)

 

 3 Desember 1957

 

 

 di forum kabinet, bubar. Wakil Perdana Menteri Leimena mengumumkan bahwa segala keputusan Munas dibekukan.

 

(ventje samual)

7 Desember 1957

TANGGAL 7 Desember 1957, pukul 19.39, Laksamana Felix Stump, panglima tertinggi Angkatan Laut (AL) AS di Pasifik, menerima perintah melalui radiogram dari Kepala Operasi Angkatan Laut (AL) Laksamana Arleigh Burke. Isinya, dalam empat jam ke depan gugus satuan tugas di Teluk Subic, Filipina, bergerak menuju selatan ke perairan Indonesia. “Keadaan di Indonesia akan menjadi lebih kritis,” demikian salah satu kalimat dalam radiogram tersebut.

Kesibukan luar biasa segera terlihat di pangkalan AL AS. Malam itu juga satuan tugas dengan kekuatan satu divisi kapal perusak, dipimpin kapal penjelajah Pricenton, bergerak mengangkut elemen tempur dari Divisi Marinir III dan sedikitnya 20 helikopter.

 “Berangkatkan pasukan, kapal penjelajah dan kapal perusak dengan kecepatan 20 knots, yang lainnya dengan kecepatan penuh. Jangan berlabuh di pelabuhan mana pun,” bunyi perintah Laksamana Burke.

 

Inilah keadaan paling genting, yang tidak sepenuhnya diketahui rakyat Indonesia. Perpecahan dalam tubuh Angkatan Darat, antara mereka yang pro dan kontra Jenderal Nasution, serta yang tidak menyukai Presiden Soekarno, mencapai titik didih. Pada saat yang sama, beragam partai politik ikut terbelah memperebutkan kekuasaan.

 

Kabinet jatuh bangun. Usianya rata-rata hanya 11 bulan. Paling lama bertahan hanyalah Kabinet Juanda (23 bulan), yang merupakan koalisi PNI-NU.

 

Situasi memanas menjalar ke daerah, benteng terakhir para elite politik di pusat. Daerah terus bergolak. Pembangkangan terhadap Jakarta dimulai sejak militer menyelundupkan karet, kopra, dan hasil bumi lainnya.

 

Militer Indonesia yang lahir dan berkembang dari milisi berdasarkan orientasi ideologi pimpinannya, bukanlah jenis pretorian. Mereka tetap kepanjangan dari parpol, entah itu PNI, PSI, Masyumi, PKI, dan seterusnya.

 

Terlalu kekanak-kanakan jika dikatakan tindakan sekelompok perwira mengepung Istana Bogor dan mengarahkan meriam pada 17 Oktober 1952 sebagai ekspresi ketidakpuasan semata, dan bukan percobaan “kudeta” terselubung.

 

Demikian pula ketika Kolonel Zulkifli Lubis mencoba menguasai Jakarta, sebelum kemudian merencanakan pembunuhan atas Presiden Soekarno dalam Peristiwa Cikini, dengan eksekutor keponakan pimpinan salah satu parpol.

 

Bagi Gedung Putih, inilah saat tepat melaksanakan rencana tahap III, yaitu intervensi militer terbuka ke wilayah RI.

 Presiden Soekarno harus tamat segera.

 

 CIA di bawah Allen Dulles telah mematangkan situasi. Melalui jaringannya di Singapura, Jakarta, dan London, sebagaimana dikemukakan Audrey R Kahin dan George McT Kahin dalam bukunya yang sudah diterjemahkan ke bahasa Indonesia,

 

Subversi Sebagai Politik Luar Negeri, agen-agen CIA berulang kali melakukan kontak khusus dengan Sumitro Djojohadikusumo, pencari dana untuk pemberontakan tersebut. Demikian pula dengan para perwira pembangkang seperti Kolonel Simbolon, Kolonel Fence Sumual, dan sejumlah perwira dan tokoh parpol lainnya.

 

Namun, ketika perintah menggerakkan elemen Armada VII dikeluarkan, keputusan itu tampak tergesa-gesa yaitu kurang dua jam setelah pembicaraan melalui telepon antara Presiden Eisenhower dengan Menlu John Foster Dulles. Itu sebabnya ketika gugus tugas AL di Teluk Subic bergerak, barulah kedua tokoh ini sadar atas alasan apa intervensi nantinya dilakukan.

(penasukarno web blog)

17 Desember 1957

17 Desember 1957,  keadaan itu ditingkatkan menjadi keadaan bahaya tingkat keadaan perang.

(gungun gunawan)

20 Desember 1957

Reuni Militer Pejuang Di Salido

*ill pemuka  PRRI di Sumatera Barat

Dari kiri  ke kanan Kol Dahlan Djambek, Letkol Ahmad Husein,Burhanuddin Harahap, Kol. Maludin Simbolon,  Syafei dan lain lain.

 

Pada tanggal  20 Desember 1957, di sebuah kota kecil di Pesisir Barat pantai Sumatera yang bernama Salido(ada tambang emas saat masa hindia belanda disana ,dekat kota Painan Kabupaten Pesisir Selatan SUMBAR-Dr Iwan s),

 berlangsung suatu iding reuni para militer pejuang yang tergabung dalam Resimen IV Divisi Banteng Sumatera Tengah.

 

 Reuni tersebut menghasilkan dan membentuk suatu badan organisasi yang dinamai “Dewan Banteng” dengan tokoh-tokoh militer seperti Kolonel Achmad Husein, Kolonel Dahlan Jambek, Kolonel M. Simbolon dan lain-lain sebagai para atasan dan penggeraknya.(ventje Samual)

 

 Salido saat ini , dulu terkenal dengan  Tambang Masnya masa Hindia belnda, dan  kemudian Bukit Langkisau dengan lagunya yang diciptakan Lagu ini diciptakan oleh (alm) Huriah Adam dan dulu dipopulerkan oleh penyanyi Lily Syarief dan Elly Kasim

 

23 Desember 1957

Pemerintah Inggris, sekutu terdekat AS, sempat terperanjat dan menolaknya, sehingga kapal-kapal perang tersebut kembali ke pangkalannya.

 

Namun, setelah lobi-lobi intensif, tanggal 23 Desember 1957 PM Harold Macmillan menyetujuinya dan membentuk kerja sama operasi untuk Indonesia.

(penasukarno web blog)

 

KOLEKSI SEJARAH

PRRI

Oleh

Dr Iwan Suwandy,MHA

Edisi Pribadi Terbatas Buku Elektronik Dalam CD-ROM

Khusus Untuk Kolektor  Senior. Produser Film documenter  dan Historian

Hak Cipta @ 2013

 

Pemilik Koleksi

Dr Iwan Suwandy ,MHA

Kombes Pol (P)

Penemu

Driwancybermuseum web Blog

Hhtp://www.Driwancybermuseum.wordpress.com

Koleksi Sejarah

PRRI

 

 

1958

Tahun 1958 didirikan organisasi yang bernama Gerakan Perjuangan Menyelamatkan Negara Republik Indonesia yang diketuai oleh

 Letnan Kolonel Achamad Husein.

Gerakan Husein ini akhirnya mendirikan PRRI (Pemerintah Revolusioner Republik Indonesia) yang berkedudukan di Bukittinggi dengan Syafruddin Prawiranegara sebagai  pejabat presiden.

(Masa ke Masa DEPLU,2005)

 

 

 

 

 

 

Januari 1958

 

 

Tak lama kemudian Ahmad Yani Mendapat jabatan  Deputi  I-KASAD Bidang Intel dan pangkatnya naik jadi Kolonel.

 

Pak Yani turut dalam misi pembelian senjata ke Yugoslavia. Yang saat itu dipimpin

 

 

Jozeb Broz Tito dan bung Karno

Pada waktu itu bepergian keluar negeri masih sulit  harus ada izin dari Presiden

 (Dr Iwan sebagai perwira POLRI-ABRI tahun 1974 pergi ke Singapura atas biaya sendiri harus ada izin dari Panglima ABRI,setelah melalui perjalanan panjang izin mulai kari Kapolres,Kapolda,Asspers KAPOLRI,KAPOLRI,sampai PANGAB selama satu tahun-Dr Iwan).

 

Pada saat ini Presiden Yugoslavia Josef Broz Tito sedang berkunjung ke Indonesia dan saat pesta perjamuan oleh Presiden Sukarno  di Istana Negara, Pak Yani diundang dan mulai dikenal oleh Bung Karno.

(Ahmad yani)

 

 

 

 

4 Januari 1958

 

Sekembalinya ke dari Luar negeri, Pak Yani mendapat tugas lagi ke London, dan saat itu Ibu Ahmad Yani melahirkan anak ke delapan, dan Ibnu Sutowo menirim berita  liwat telex ke Pak Yani.

 

(Ahmad yani)

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                     

15 Januari 1958

 

 

Pada tanggal 15 Januari 1958 , Tokoh PSI Prof  Soemitro Djojohadikusumo meninggalkan Sumatera Barat menuju singapura dan kemudian ke  Eropa Barat untuk mengalang dana dan bantuan lainnya termasuk mendapatkan senjata

 

(Audrey Kahin,Dari Pemebrontakan ke Integrasi,yayasan Obor,Jakarta,2008 hal 322)

 

Sumitro lalu ke Saigon juga dengan menyamar sebagai kelasi kapal sebelum ke Manila dan melakukan kontak dengan Perjuangan Semesta (Permesta). Menyamar menjadi cargo supervisor atas nama pemilik kopra, Sumitro masuk ke Bitung. Ia ke Sumatra menggelar pertemuan dan memperluas hubungan dengan pemimpin militer di Sumatra, juga Sumual di Sulawesi.

Subadio, utusan Sjahrir, bertemu Sumitro di Singapura. Sumitro berperan menangani bidang logistik bersama Kolonel Simbolon dan Husein bagi PRRI. Ia sempat mengecek pengadaan senjata. Sebagian senjata dibeli di Phuket (Thailand) dan Taiwan. Dua kali ia masuk Taiwan, dan kembali ke Minahasa dengan pesawat bermuatan amunisi.

Konsep semula, menurut Sumitro, hanya untuk memperbaiki Jakarta. Tidak ada bayangan membuat suatu pemerintahan tandingan. Tuntutan mereka hanyalah ingin otonomi dan pengembangan daerah.

Sumitro mempercayai gagasan persatuan Indonesia. Namun, tatkala PRRI hendak mendirikan Republik Persatuan Indonesia (RPI), dan Pulau Jawa tidak termasuk di dalamnya, ia menolak tegas, “Kalau demikian, saya tidak bisa ikut, sebab negara kita satu.”(iluni)

 

Informasi terkait dari Prabowo Subianto putra Sumitro

 

Ketua Dewan Pembina Partai Gerakan Indonesia Raya sekaligus calon presiden untuk pemilihan umum 2014 Prabowo Subianto mengaku pernah menjadi pengungsi di Malaysia dan Singapura sekitar 1960-an. Dia menghabiskan masa kecilnya di dua negara itu.

Karena itu, menurut Prabowo, dia memiliki ikatan emosional dengan dua negara tetangga itu. “Waktu itu keluarga saya menjadi pengungsi karena kalah dalam konflik politik. Singapura dan Malaysia memberi kami tempat berlindung,” kata Prabowo berkemeja batik merah saat menjadi pembicara tunggal dalam acara makan siang digelar oleh Dewan Dagang Singapura bersama Malaysian Club di Ballroom Hotel Grand Hyatt, Jakarta Pusat, Rabu (29/5).

Selama sepuluh tahun, Sumitro Dojohadikusumo membawa lari keluarganya ke luar negeri setelah rencana PRRI Permesta (Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia Perjuangan Rakyat Semesta) mendirikan RPI (Republik Persatuan Indonesia) tidak memasukkan Pulau Jawa sebagai wilayahnya.

Dia tidak bisa kembali ke Jakarta lantaran Presiden Soekarno masih menganggap dia sebagai pemberontak. Sumitro bergabung dengan PRRI dipimpin oleh Sjafruddin Prawiranegara karena menolak Soekarno terlalu dekat dengan komunis.

 


Meski sudah setengah abad, Prabowo masih ingat kenangan masa kecilnya di Malaysia dan Singapura. “Saya sangat suka nasi lemak, sangat berbahaya (disambut tawa hadirin) dan pergi ke warung makan Uncle Don di Kuala Lumpur.”

Demi keamanan, Sumitro bersama keluarganya tak mau tinggal di suatu negara lebih dari dua tahun. Mereka berpindah mulai dari Singapura, Hong Kong, Kuala Lumpur (Malaysia), Zurich (Swiss), London (Inggris), kemudian pindah ke Bangkok.

Untuk menghidupi keluarganya di pelarian, dia menjadi saudagar mebel dan pengembang perumahan di Malaysia. Juga mendirikan Economic Consultans for Asia and the Far East (Ecosafe) di Hong Kong dan cabangnya di Kuala Lumpur. Dia memakai nama Kusumo.(fas)

(Merdeka Com)

 

Ketidak sepakatan ini mendorong Sumitro mengungsi ke luar negeri, lantaran belum memungkinkan pulang ke Jakarta. Pemerintahan Soekarno masih menganggapnya pemberontak yang harus disingkirkan.

Selama 10 tahun di pelarian, Sumitro menggunakan banyak nama samaran. Para mahasiswa di Jepang mengenalnya sebagai Sungkono. Di Jerman dipanggil Sunarto.

Di luar Frankfurt pakai nama Abdul Karim. Di Hongkong orang mengenalnya Sou Ming Tau (bahasa Kanton) dan Soo Ming Doo (bahasa Mandarin). Warga Malaysia mengenalnya Abu Bakar. Ia dipanggil Henry Kusumo atau Henry Tau di Bangkok.

 

Demi keamanan, Sumitro bersama keluarganya tak mau tinggal di suatu negara lebih dari dua tahun. Mulai dari Singapura, Hongkong, Kuala Lumpur, Zurich-Swiss, London, kemudian pindah ke Bangkok.

Untuk menghidupi keluarganya di pelarian, ia menjadi saudagar mebel dan real estate di Malaysia. Juga mendirikan Economic Consultans for Asia and the Far East (Ecosafe) di Hongkong, dan cabangnya di Kuala Lumpur. Ia memakai nama Kusumo.

Sebagai orang tua, ia dikenal keras dan disiplin dalam mendidik keempat anaknya.

 Buktinya, putri tertua, Ny. Biantiningsih yang istri mantan Gubernur BI J Soedrajat Djiwandono, sampai memiliki dua gelar kesarjanaan.

 

Begitu juga Ny Marjani Ekowati, putri kedua yang menikah dengan orang Prancis. Letjen Prabowo Subianto berhasil meniti karier sebagai Danjen Kopassus dan Pangkostrad.

Lalu si bungsu Hashim Sujono menjadi pengusaha sukses.

(iluni)

 

 

Tanggal 15 Januari 1958, Ahmad Husein memaklumkan

berdirinya Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia

(PRRI)

 

16 Januari 1958

 

Pada 16 Januari 1958 Bung Hatta & Bung Syahrir mengirim seorang utusan ke daerah-derah bergolak seperti Syauman Gaharu  di Palembang dan Dewan Banteng di Sumteng.

Utusan itu ialah Djoeir Moehammad salah seorang anggota dari DPP Partai Sosialis Indonesia (PSI).

Kok bakisa duduak ja’an kalua di lapiak nan sahalai

Kok bakisa tagak ja’an kalua di tanah nan sabingkah

Kalau bergeser dari duduk jangan keluar dari lapik yeng sehalai

Kalau bergeser berdiri jangan keluar dari paki yang sehelai

Pesan Bung Hatta dan Syarir itu adalah:

 ”Pergolakan-pergolakan daerah di Indonesia dewasa ini (maksudnya: waktu itu) terjadi pada saat-saat sedang hangatnya berlangsung Perang Dingin antara Blok Komunis dan Blok Barat ( termasuk Eropa Barat).

 Tidak tertutup kemungkinan, bahwa pergolakan daerah itu merupakan peluang bagi Blok Amerika untuk menungganginya, karena khawatir akan sikap Presiden Soekarno yang akrab dengan Blok Uni Soviet”.

 

Djoeir Moehamad juga menyampaikan pesan kepada Letkol Barlian, Ketua Dewan Garuda di Palembang dan Ahmad Husein, Ketua Dewan Banteng di Padang, bahwa suatu pemberontakan untuk membentuk Pemerintahan yang lain akan menimbulkan korban yang tidak sedikit, setidak-tidaknya akan mengakibatkan perkembangan daerah yang bersangkutan tertinggal selama satu generasi.

 Pesan ini kemudian menjadi kenyataan. Letkol Barlian di Palembang mematuhi nasihat Bung Hatta dan Syahrir ini,

akan tetapi Ahmad Husein semula akan bersedia melaksanakan nasihat Bung Hatta dan Syahrir itu, tapi tampaknya waktu itu dia telah dikepung oleh teman-teman militernya, sehingga ia mengingkari nasihat Bung Hatta dan Syahrir itu.

(oetoesan melajoe)

.

Menanggapi rapat rahasia di Sungai Dareh itu,

 Bung Hatta mengirim pesan yang kemudian disiarkan Pers di Jakarta: ”Kok bakisa duduak jan bakisa dari lapiek nan salai, kok bakisa tagak jan bakisa dari tanah nan sabungkah”.

Sekitar tanggal 16 Januari 1958 Bung Hatta dan Syahrir mengirim seorang utusan ke daerah-daerah bergolak seperti Dewan Garuda di Palembang dan Dewan Banteng di Padang. Utusan itu adalah Djoeir Moehamad, salah seorang anggota Dewan Pimpinan Partai Sosialis Indonesia (PSI).

 

Pesan Bung Hatta dan Syarir itu adalah: ”Pergolakan-pergolakan daerah di Indonesia dewasa ini (maksudnya: waktu itu) terjadi pada saat-saat sedang hangatnya berlangsung Perang Dingin antara Blok Komunis dan Blok Barat ( termasuk Eropa Barat). Tidak tertutup kemungkinan, bahwa pergolakan daerah itu merupakan peluang bagi Blok Amerika untuk menungganginya, karena khawatir akan sikap Presiden Soekarno yang akrab dengan Blok Uni Soviet”.

Ternyata kemudian, bahwa yang disinyalir oleh Bung Hatta dan Syahrir ini benar adanya. PRRI terperangkap ke dalam strategi Amerika Serikat.

Djoeir Moehamad juga menyampaikan pesan kepada Letkol Barlian, Ketua Dewan Garuda di Palembang dan Ahmad Husein, Ketua Dewan Banteng di Padang, bahwa suatu pemberontakan untuk membentuk Pemerintahan yang lain akan menimbulkan korban yang tidak sedikit, setidak-tidaknya akan mengakibatkan perkembangan daerah yang bersangkutan tertinggal selama satu generasi.

Pesan ini kemudian menjadi kenyataan. Dapat dirasakan sekarang. Letkol Barlian di Palembang mematuhi nasihat Bung Hatta dan Syahrir ini, akan tetapi Ahmad Husein semula akan bersedia melaksanakan nasihat Bung Hatta dan Syahrir itu, tapi tampaknya waktu itu dia telah dikepung oleh teman-teman militernya, sehingga ia mengingkari nasihat Bung Hatta dan Syahrir itu.

Isi tulisan itu menyadarkan akan kualitas Bung Hatta sebagai bapak bangsa yang ingin mempertahankan keutuhan NKRI, dan kemampuan beliau untuk membaca apa kira-kira akibat buruk dari sesuatu kebijaksanaan yang akan diambil.

Pertanyaan sejak lama, kenapa TT II Sriwijaya dibawah komando Let Kol Barlian tidak meneruskan perlawanan terhadap pemerintahan pusat. Beliau patuh mengikuti petunjuk dan permintaan dari Bung Hatta tersebut. “Wong Kito Palembang” selamat tanpa korban baik jiwa maupun masa depan daerahnya. Tidak ada trauma pada mereka.

(dokumentasi buya)

Peristiwa Mayor Djuhartono

Apa yang terjadi ternyata diluar kehendak MBAD, malahan Panglima TT. II/SRIWIJAYA memerintahkan menangkap Komandan Resimen V dengan menggerakan pasukan dari KMKB. Hal ini mengakibatkan Mayor Djuhartono membawa pasukannya ke Talang Betutu dalam rangka mengamankan diri.

 KKMB (Garnisun) segera memerintahkan Lettu. Sainan Sagiman, dan dibantu oleh skuadron-skuadron panser pimpinan Lettu. Faisol dan Satu Batalyon Penuh Infrantri pimpinan Kapten. Abdulla yang bersama-sama untuk memimpin pasukan serta meminta penyerahan diri Mayor Djuhartono dan pasukan yang ternyata ditanggapi dingin oleh Mayor Djuhartono.

Mayor Riacudu segera mengambil usulan untuk menempuh jalur diplomasi mengingat kawan dan lawan adalah sesama mantan pejuang kemerdekaan dengan usulan-usulan :

  • Semua pasukan siap ditempat dan tidak boleh bergerak
  • Tidak ada sebutir peluru ditembakkan
  • KSAD dibenarkan mendarat di Talang Betutu

 

Peristiwa semakin rumit dengan mendaratnya tiga flight Dakota yang membawa Pasukan RPKAD

di Talang Betutu.

 Mengingat kondisi yang rumit Mayor Nawawi segera diperintahkan untuk membawa pasukan dalam jumlah besar mengepung Talang Betutu.

 Untunglah sebelum front terbuka, Ketengan mulai mencair ketika jalur diplomasi dari TT. II/SRIWIJAYA yang dipimpin oleh Mayor Kastubi mencapai kesepakatan dengan dihadiri oleh Kolonel A.Yani dan Kolonel Ibnu Sutowo sebagai utusan KSAD. Peristiwa ini sangat menggemparkan dan dikenal dengan peristiwa “Djuhartono”.

Setelah dimutasikanya Djuhartono dan disetujuinya tidak ada released ke media massa tentang peristiwa ini, tiba-tiba terdengar issu bahwa akan adanya serangan dari pusat terhadap daerah dan penangkapan tokoh-tokoh pergerakan daerah dari kalangan mliter. Hal ini mengakibatkan ketersinggungan unsur TT. II/SRIWIJAYA dan mensiagakan seluruh kekuatan mliter yang ada.

Untunglah sebelum situasi bertambah panas Lettu Sainan Sagiman diperintahkan untuk mengkonsolidasi dan mengkoordinasikan dengan Panglima Sumatera Tengah Letkol A. Husain, Panglima Sumatera Utara Letkol. Djamin Ginting serta Panglima Aceh Letkol  Syamaun Gaharu agar memberikan dukungan kepada TT. II/SRIWIJAYA meyakinkan MBAD masalah Sumatera Selatan dibawa ketingkat pusat dan tidak perlu dengan pengerahan kekuatan mliter. Usulan ini didukung secara penuh oleh ketiga panglima wilayah sumatera dengan tujuan mencegah pertempuran sesama kekuatan NKRI

 

(KODAM Sriwjaya web blog)

 

 

 

 

Pertemuan Sungai Dareh dari kiri kekanan Letnan Tema,Kol Zulkifli Lubis,Kol Dahlan Djambek, Kolonel Mauludin Simbolon,Letkol Ventje Samual,Letkol Barlian,Letkol Ahmad Husein

 

 

Pertemuan Sungei Dareh

 

Hadir dalam pertemuan itu, selain para panglima yang dianggap memberontak, juga politisi seperti Sjafruddin Prawiranegara, Burhanuddin Abdullah, Mohammad Natsir, hingga Sumitro Djojohadikusumo.

 

 Di desa itu, kami sepakat membuat wadah perjuangan yang nantinya dinamakan Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia (PRRI).

 

Selain menyiapkan logistik perang, saya juga melakukan pembicaraan untuk membantu perjuangan di dalam negeri. Dalam perjalanan ke Taipei, Manila, dan Tokyo, saya sempat mampir ke Hong Kong.

 

Di situ saya bertemu Joop Warouw, mantan Panglima Kodam Wirabuana. Warouw saat itu sudah menjadi atase militer RI di KBRI Beijing.

 

Saya dan Warouw terbang ke Tokyo. Presiden sedang berada di Tokyo, awal Februari. Warouw adalah perwira yang dikenal Soekarno lantaran loyalitas dan integritasnya karena menolak Nasution dalam peristiwa 17 Oktober 1952.

 

 Warouw menemui Soekarno dan menjelaskan perihal krisis yang terjadi setelah peristiwa Cikini.

 

Soekarno setuju perlunya jalan damai. Ia langsung mengirim surat ke Perdana Menteri Djuanda.

Tapi itikad baik Soekarno gagal dilaksanakan. Nasution sudah memerintahkan pengeboman Padang dan Manado.

(Ventje Samual)

 

 Pebruari 1958

Pertemuan Padang

 

 

were not so much attempts to break away from Indonesia as they
were attempts to get more local control over local affairs and resources within Indonesia. Rebellious officers meet in Padang

while Sukarno is in Thailand. Masyumi leaders join in, including Natsir

 

10 Februari 1958

Pertemuan Sungei dareh

 

Ultimatum yang dibacakan Ahmad Husein itu menyebut, ”Dalam tempo 5 x 24 jam kabinet Djuanda menyerahkan mandat kepada Presiden atau Presiden mencabut mandat Kabinet Djuanda.

 

 Presiden membentuk kabinet baru di bawah Bung Hatta dan Sultan Hamengku Buwono IX.”

 

Ultimatum ditolak. Buntutnya, Ahmad Husein dan Maludin Simbolon dipecat. Dua hari berselang Padang dibom oleh AURI. Menyusul kemudian Manado.

(Ventje Samual)

 

 

Menyusul ultimatum yang dikirim Jakarta, kami sepakat berkumpul lagi. Saya terbang ke Singapura dan menyewa motor ke Pekanbaru. Dari sana saya langsung meluncur ke Sungai Dareh di perbatasan antara Sumatera Barat dan Jambi,

 

Perintah pengeboman menyusul ultimatum yang dilontarkan Dewan Perjuangan, 10 Februari 1958, di Sungai Dareh.

 

 (Ventje Samual)

 

Info terkait

Saat Bung Karno tahun 1967 diajak mengungsi keluar negeri atau ke jawa timur ia teringat dengan peristiwa PRRI

Soekarno yang semula diam, angkat bicara.

 

 Dia mengingatkan tahun 1957, kapal induk Amerika Serikat sudah berlayar ke perairan Indonesia. AS kala itu membantu pemberontakan PRRI/Permesta di Sulawesi dan Sumatera. AS menyumbang dana dan senjata untuk memecah Indonesia. Kini, jika dirinya pergi, pasti AS akan melakukan hal itu lagi.

 

(Merdeka Com)

 

Akibatnya segenap pemimpin di daerah semakin khawatir dengan perkembangan politik di Jakarta.

 Pada bulan Januari 1958, atas usul dari Kol. Barlian maka diadakanlah pertemuan di Sungai Dareh. Pertemuan ini berlangsung dari 8-9 Januari 1958. Dihadiri oleh segenap pimpinan sipil daerah dan beberapa pimpinan politik pusat (Masyumi).

Dalam pertemuan ini para pemimpin Masyumi terperangkap dalam persekongkolan dengan AS yang sudah digarap oleh Sumitro, Simbolon, dan Sumual. Menurut Syafruddin, mereka tidak tahu sebelumnya tentang kontak-kontak Kolonel Hussein dengan CIA. Namun mereka terdesak oleh para pemimpin militer yang hadir pada saat itu.

(oetoesan melajoe)

di Palembangpun ada persiapan perang

Banyak hal yang dapat dipelajari dan hikmah yang dapat disimpulkan dari rentetan peristiwa PRRI ini.
Saya sendiri berada di Palembang antara tahun 1950-1958, yang merupakan wilayah dari Dewan Garuda (Teritorium II = TT II Sriwijaya).

 

Sebagai siswa SMP saya mengikuti suasana pergolakan daerah ini melalui cerita orang-orang yang lebih dewasa, koran, siaran radio RRI, dan kemudian Radio PRRI yang disiarkan dari Malaysia dengan suaranya yang sangat jernih dan jelas.

 

Suara bariton penyiarnya sangat khas, dan ada yang mengatakan bahwa penyiarnya itu adalah Des Alwi.

KOLEKSI FILM DOKUMENTER DES ALWI SUDAH DIBELI PUTYRA SOEMITRO DAPAT

DIJADIKAN TAMBAHAN TAYANGAN BUKTI SEJARAH FILM DOKUMENTER

Pada waktu sejumlah pimpinan daerah Sumatera Selatan (Lampung dan Bengkulu masih termasuk Sumsel) masih banyak yang dipegang urang awak, seperti antara lain Dr. Isa, Dr. Adnan Kapau (AK) Gani, Kol. Hasan Kasim.

 

Yang paling terlihat jelas dengan jelas adalah suasana harian yang diwarnai oleh semangat perjuangan yang tampak melalui latihan tentara sukarela Sriwijaya Training Center (STC) yang setiap hari berlangsung di dekat kediaman saya di daerah Bukit Kecil, Palembang.

Acara-acara latihan ini sangat menarik bagi anak-anak, karena dapat mengamati senjata-senjata baru yang tidak pernah dilihat sebelumnya, dengan para sukarelawan yang memakai pakaian tentara Amerika yang kedodoran (belum sempat divermaak).
Kalau mereka memakai singlet hijau militer, belahan singlet bagian bawah sudah sampai di pinggang mereka.
Walau demikian dengan senjata barunya mereka tetap terlihat gagah.
Semangat kedaerahan sangat menonjol saat itu, yang juga merasuki anak-anak dengan tingkat pemahaman yang masih terbatas

(nagai web blog)

 

10 Pebruari 1958

Hussein demands that the Djuanda goverment step down in five days

On February 10, 1958, when Sukarno was out of the country, a group of Sumatran military officers, Masyumi politicians, and others sent an ultimatum to Jakarta demanding Sukarno’s return to a figurehead role as president and the formation of a new government under Hatta and Yogyakarta sultan Hamengkubuwona IX. Five days later, the group proclaimed the Revolutionary Government of the Indonesian Republic (PRRI).

(sukarnoyeras web blog)

 

Maksud Melo Kaliseer Keadaan

Saya sendiri sebagai kSAD selalu menyatakan tidak akan datang di Padang selama mereka yang harus ditangkap berkeliaran disana dngan leluasa.

Memang sulit buat saya sebagai pimpian Angkatan Darat untuk datang kesuatu tempat  dimana orang-orang  yang diperintahkan ditangkap  tidak ditangkap tapi dengan biasa dapat dipekerjakan .

Hal ini kejadian di Sungai Dareh , maka Pemerintah dan Pimpinan Angkatan  Perang No 1 ditujukan untuk mengusahakan  jangan sampai  terjadi dan kalau terjadi  supaya dilokalisir  karena kita dapat memperhitungkan  kalau kejadian yang semacam itu yang secara militer kurang lebih  sepertiperistiwa Madiun , akan membawa pula suatu peristiwa yang berat yang minta korban yang berat dari tentara dan masyarakat.

Jadi dengan tulus ikhlas baik Pemerintah yang berhubungan dengan pemimpin politik  yang mundar mandir ke Padang, maupun saya yang langsung ke Sumatera Utara dan Sumatera selatan untuk mengusahakan kalau  mereka punya pendirian begitu, tapi lain daerah jangan ikut, supaya dilokalisir  persoalan ini  di Sumatera tengah.Dengan demikian  dapat kita batasi .

Begitu juga saya memanggil  komandan  dari Indonesia bagian Timur  untuk menjaga supaya dilokalisir soal ini, jangan terjadi juga  di Indonesia bagian Timur. Untuk itulah pula diadakan  rapat-rapat.

Saya telah menerima Panglima KDMSST di Jawa Timur , juga saya sampaikan pe4intah-perintah dan mendapat kesanggupan  pelaksanaan perintah itu.

Begitu juga saya menerima Komandan  dari pada Sulawesi Utara dan tengah, uang juga menyanggupi pelaksanaan perintah itu.

Dan terhadap komandan-komandan  Sumatera saya  adakan rapat di bandung berhubung mereka  punya keberatan mengadakan di Jakarta yang dianggap  pada waktu rapat yang dulu  mempunyai suasana yang menekan terhadap jiwa mereka, tapi Komanda KDMST tidak hadir , yang mengusulkan supaya  diadakan ditempat dan waktu lain.

Soal ini saya penuhi  dan saya tugaskan kepada Panglima TT-II untuk mengaadakan rapat di Bangka, supaya dapat kita membicarakan maslah-masalah Sumatera yng seang dihadapi dan mengusahakan menghindari jangan terjadi dan kalau terjadi supaya kita dapat melokalisir.

 

(A.H.Naustion,Ceramah KASAD Dgn Perwira gernizun Jakarta 22 Feb 1958,Majallah PHB AD.1958)

9 Februari 1958

Pada tanggal 9 Februari 1958, Badan Aksi Rakyat Sumatera Tengah (BARST) mengadakan rapat akbar di Padang untuk mendorong Ahmad  Husein mengambil langkah-langkah yang bijaksana dan kuat terhadap Pemerintah Jakarta.

 

Dalam rapat akbar itu berpidato Kol. Dahlan Jambek

dan Kol. Simbolon yang kemudian rapat akbar itu mengeluarkan sebuah resolusi yang ditujukan kepada Ahmad Husein.

Sebagian besar dari isi resolusi itu yang diadopsi ke dalam ultimatum Dewan Perjuangan yang diumumkan lewat radio tanggal 10 Pebruari 1958:

*    Agar Ahmad Husein mengirim tuntutan kepada Perdana Menteri Djuanda dan Kabinetnya di Jakarta supaya mengembalikan mandatnya dan menunjuk Hatta dan Hamengkubowono IX sebagai formatur pembentukan Kabinet baru.

*    Agar Pemerintah Pusat mencabut larangan terhadap barter.

*    Agar Presiden Soekarno kembali ke UUD 1950 dalam membentuk kabinet. Jika tuntutan itu tidak dipenuhi, Ahmad Husein harus mengambil langkah-langkah bijaksana dan kuat

Kol Dahlan Jambek berkata lewat pidato-pidatonya, bahwa keadaan sekarang sudah berada pada titik, ”the point of no return”.

Pada tanggal 9 Februari 1958 Badan Aksi Rakyat Sumatera Tengah (BARST) mengadakan rapat akbar di Padang untuk mendorong Ahmad Husein mengambil langkah-langkah yang bijaksana dan kuatk terhadap Pemerintah Jakarta.

Dalam rapat akbar itu berpidato Kol. Dahlan Jambek dan Kol. Simbolon yang kemudian rapat akbar itu mengeluarkan sebuah resolusi yang ditujukan kepada Ahmad Husein

(kedaikopi web blog)

 

Dalam Buku Dokumentasi Dinas sejarah TNI Angkatan darat, Ibu Ahmad Yani pernah membaca bahwa bekas Kolonel Dahlan Djambek dalam rapat umum yang yang diadakan tanggal 9 Pebruari 1958 di Padang, mengatakan bahwa kalau tuntutan itu tidak dipenuhi , maka akan dipilih jalan Sjahid dan  kepada Kepala Staf  TNI Angkatan darat, Laut dan Udara diperingatkannya agar jangan mengambil tindakan karena itu berarti  mayat-mayat akan bergelimpangan.

Inilah keadaan yang mencemaskan

 (Ahmad Yani, hal 171-172)

 

Situasi politik berkembang cepat
Orang Minang telah bersepakat
Rezim Soekarno sedang berkhianat
Jauh di hati harapan rakyat

Achmad Husein muncul ke depan
Mengumumkan tuntutan dengan permintaan
Lima hari lima malam waktu diberikan
Pemerintah mundur dari kekuasaan

Dua tuntutan dicatat sejarah
Perlu ditandai tinta merah
Berikan otonomi kepada daerah
Orang Komunis jangan memerintah

(H.Bustanudin St Kayo)

Sesudah Rapat di Sungai Dareh(tepatnya berlokasi dekat tepi sungai ,(Dr Iwan pernah mampir disana saat bertugas sebagai perwira kesehatan dokter polisi POLRES  tahun 1975)

 

Letkol Ventje Samual dan Prof Soemitro Djojohadikusumo berangkat ke Singapura . Pada suatu ketika sedang makan  di sebuah restaurant  seorang yang mereka belum kenal  mendekati mereka  menawarkan sejumlah senjata , sungguh mengherankan  penawaran tersebut adalah orang yang belum dikenal dan  sejata itu tidak usah dibeli  dan akan diberikan cuma-cuma.(Gratis)

Tawaran itu diterima  dengan catatan tanpa persyaratan  dan ikatan apapun.Belakangan baru diketahui  bahwa orang tersebut anngota dinas rahasia Amerika Serikat CIA.

 

(Mauludin Simbolon)

 

 

 

 

10 Februari 1958

 

PRRI membentuk Dewan Perjuangan dan tidak mengakui kabinet Djuanda. Dewan Perjuangan PRRI membentuk Kabinet baru, Kabinet Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia (Kabinet PRRI). Pembentukan kabinet ini berlangsung saat Persiden Soekarno sedang berada di Tokyo, Jepang.

Pada tanggal 10 Februari 1958 sebuah Dewan Perjuangan melalui RRI Padang mengeluarkan pernyataan “Piagam Jakarta” yang berisi sejumlah tuntutan yang ditujukan pada Persiden Soekarno agar “bersedia kembali kepada kedudukan yang konstitusional menghapus segala akibat dan tindakan yang melanggar UUD 1945 serta membuktikan kesediaannya itu dengan kata dan perbuatan…”.

Tuntutan tersebut diantaranya adalah:
1. Supaya kabinet Djuanda mengundurkan diri dan mengembalikan mandatnya pada Persiden.
2. Agar pejabat persiden Sartono membentuk kabinet baru Zaken kabinet nasional yang bebas dari pengaruh komunis dibawah Mohammad Hatta dan Hamengkubuwono IX.
3. Agar kabinet baru diberi mandat sepenuhnya untuk bekerja sampai pemilihan umum yang akan dating.
4. Agar Persiden Soekarno membetasi diri menurut konstitusi.
5. Apabila tuntutan diatas tidak dipenuhi dalam tempo 5×24 jam maka Dewan Perjuangan akan mengambil langkah kebijakan sendiri
.

(kolektorsejarah)

 

 

Keadaan yang berubah

Situasi politik berkembang cepat
Orang Minang telah bersepakat
Rezim Soekarno sedang berkhianat
Jauh di hati harapan rakyat

Achmad Husein muncul ke depan
Mengumumkan tuntutan dengan permintaan
Lima hari lima malam waktu diberikan
Pemerintah mundur dari kekuasaan

Dua tuntutan dicatat sejarah
Perlu ditandai tinta merah
Berikan otonomi kepada daerah
Orang Komunis jangan memerintah

Presiden Soekarno bernafas sesak
Para panglima sedang menggertak
Daerah dianggap sebagai pemberontak
Kaum Komunis lalu bersorak

Nagari Com

 

Ultimatum kepada Presiden dan Kabinet

 

(A.H.Naustion,Ceramah KASAD Dgn Perwira gernizun Jakarta 22 Feb 1958,Majallah PHB AD.1958)

 

Ketika semua upaya rekonsialisasi mengalami jalan buntu, sebuah badan disebut dengan Dewan Perjuangan, yaitu unsur inti dari gabungan dewan-dewan yang disebut sebelumnya, mengeluarkan ultimatum kepada pusat pada 10 Februari 1958, setelah mengadakan rapat di Sungai Dareh, Sumatera Tengah.

Isinya antara lain ialah tuntutan agar Kabinet (Pemerintahan) Djuanda dibubarkan dan menyerahkan mandatnya kepada Presiden atau Pejabat Presiden; memberikan kesempatan dan bantuan sepenuhnya kepada Hatta dan Sultan Hamengkubuwno IX untuk membentuk “zakenkabinet” sampai Pemilu berikutnya; meminta kepada Presiden Soekarno agar bersedia kembali sebagai Presiden konstitusional dengan membatalkan semua tindakannya yang melanggar konstitusi selama ini.

Apabila dalam tempo 5 x 24 jam Presiden Soekarno dan Kabinet Djuanda tidak mememuhi tuntutan tersebut, maka mereka akan membentuk pemerintahan sendiri yang “terlepas dari kewajiban untuk mentaati pemerintah Jakarta.” Oleh karena kedua belah pihak tidak mau mundur dengan pendirian masin-masing, maka ketika ultimatum itu mencapai tenggat waktu yang ditetapkan,

(DR Mestika Zed)

Ultimatum Kepada Presiden Dan Kabinet

Tapi  ini(upaya melokalisir persoalan) belum dapat berbukti, kita telah membaca yang disebut Ultimatum Dalam tempo Lima Kali Dua Puluh Empat Jam  kepada Presiden Dan kepada Kabinet,  agar Presiden atau Kabinet  membubarkan Kabinet  sekarang ini dan menunjuk Hatta-Hemangkubuwono sebagai pembentuk Kabinet  yang baru.

Kalau ini tidak dipenuhi maka akan memutuskan hubungan  dengan Kepala Negara  dan bahwa dari pada ketaatan kepada Kepala Negara.

Dengan adanya Ultimatum ini terus  terang saja pada saat itu estimasi kita tidak sampai begitu jauh.

Kalau kita lihat peristiwa yang lalu belum  pernah sampai bersedia untuk  tidak mengakui Kepala Negara .

Inilah pertama kali . Paling bnayak tidak mengakui pemerintah,maka dengan demikian kita dapat menghitung reaksi dalam soal ini.

Pemerintah dan Pimpinan Angkatan Perang sependapat bahwa  tindakan dari sejumlah perwira Menengah  ini harus dihukum dan tidak bisa dibenarkan.

Mereka yang pernah turut dalam aksi ini harus dihukum dan tidak bia dibenarkan lagi sebagai Perwira karena itu dengan tegas Dipecat dan diperintahkan penangkapan dari pada mereka yang telah berbuat ini.

Saya perlu menjelaskan tindakan ini lebih lanjut, Pemerintah selalu katakana Pergolakan di Daerah seperti di Sumatera Selatan ada yang disebut Terbukti, artinya mereka mengusahakan stabilitas Pemerintah ,Pembangunan Daerah  dan Keaaman sebagai usaha yang murni dari Daerah, diakui dan disokong sepenuhnya oleh Pemerintah,dibantu  sepenuhnya dengan segala  tenaga yang ada  pada Pemerintah supaya  bisa tercapai.

Tapi soal yang lain seperti yang terjadi ini tidak lagi dalam batas apa yang terjadi, tidak lagi dalam batas apa yang disanggupi oleh Pemrintah.Ini sudah meliwati batas.

Klau sesuatu Pemerintah membiarkan beberapa Komandan bawahan mengultimatum dia, dan kemudian memenuhi  tuntutannya , kita dapat mengerti bahwa selanjutnya tidak aka nada satu Pemerintahanpun. Kemudian  yang bisa berdiri .Bisa setiap waktu oleh seorang Pejabat Angkatan Darat di ultimatum dan  dengan demikian tidak ada lagi norma-norma Militer dsn norma-norma Negara buat itu. Jadi bagaimanapun juga hal yang semacam itu harus dihukum.

Jika kita melihat seorang Komandan Batalion juga mengirim ultimatum kepada Komandan Resimen,kalu tidak dipenuhi tuntutan saya dalam tempo sekian jam ,maka  saya tidak mengakui Komanda resimen lagi.

Kita semua bisa menghadapi keadaan ini ,KSAD bisa menghadapi Panglima, bisa . Komandan resimen  dan setiap Pejabat akan menghadapi kemungkinan-kemungkinan semacam itu.

Bagaimanapun juga tidak ada satu Pemerintahpun atau Pejabat  Militerpun yang dapat mengelakkan diri dari pada kewajiban  untuk mengambil tindakan Penghukuman terhadap kejadian yang sebegaitu jauh.

Kita bisa melanggar hokum dan disiplin dalam batas-batas  yang sering ,saya tidak usah bicara  mengenai Politik

Bolehlah kita katakana pelangaran yang merupakan pelangaran rutin ,akan tetapi pelanggarn seperti tadi bukan ppelangaran rutin lagi, sudah merupakan pelanggaran yang fundamental yang Pemerintah manapun juga,Kepala Negara manapun juga.pimpinan Tentara manapun tidak bisa mengelakkan diri dari pada menghukum dan menindaki kejadian yang semacam itu.

Saya kira dikalangan kita dalam Angkatan darat tidak ada yang berbeda dalam pendapat ini, kalau kita masih mau menyelamatkan Angkatan darat itu sebagai Tentara dan Negara  karena bagaimanapun orang bilang jangan adakan tindakan hokum, musyawarahlah berdengung juga banyak sampai kepada Pimpinan Angkatan Perang, sama  pendirian hal ini harus dihukum dan ditindaki .

Harus juga kita mengerti yang penting buat  kita  pendirin sebagai Negara  yang selalu  menyebut setia kepada Proklamsi 17 Agustus a945.Pada kita cukup sekarang petunjuk-petunjuk bahwa usaha ini juga dibidang lain telah meliwati batas-batas yang bisa kita pakai.

 

Pertama saya berpendapat selaludan  dengan saya juga saya kira sebagian besar  dari pada Angkatan Perang kita bahwa  Pergolakan dalam negeri ini tidak pada tempatnya ada  Militer yang bekerja sama dengan Gerembolan DI.Dalam hal semacam ini kita tidak  dapat sebagai tentara  menyebut ini masih dalam batas pelanggaran rutin, seperti dalam peristiwa Cikini dan lain-lainnya  maupun dalam soal ini .

 

 Kedua kita  tidak bisa membenarkan  bagaimanapun juga bahwa  dalam Pergolakan anatar kita  dengan kita sebagai Negara  yang muda ini kita bersedia  bekerja sama dengan Angkatan Perang Asing.Hal ini sudah melanggar  Tujuh Belas Agustus  Empat Lima Saya tidak usah bicara mengenai  Politik Bebas Yang Aktif  tapi  semua kita  percuma lah berjuang  sejak  45 kalau kita  dalam perkelahian anatar kita dengan kita yang  lumayan sebagai Negara Yang Muda ini, juga bersedia bekerja sama dengan Negara Asing  dan juga alat-alat Senjata asing.Saya tidak akan memberikan satu persatu peristiwa disini,kan tetapi inipun sekarang kita konstantir.

 

TIDAK ADA YANG DAPAT MEMBENARKAN ULTIMATUM

Jadi hal ini jelas sekali tidak ada satupun Pemerintah yang menyebut dirinya Pemrintah atau KSAD yang menyebut dirinya KSAD  atu CPM  yang menyebut dirinya CPM atau Prajurit-Prajurit  yang menyebut dirinya Prajurit  TNI bisa membenarkan bawahan memberikan Ultimatum sedemikian kepada Kepala Negara.

 

Bisa membiarkan dalam pergolakan itu bekerja sama dengan Gerembolan DI yang tidak mengakui Republik lagi dan bersama dengan Kekuatan Angkatan Perang Asing karena itu walaupun kerja sama dengan Asing tidak pada tingkat legal ,akan  tetapi  tingkat Ilegal ,kita tidak bisa membenarkan  itu semua.Dan karena itu  inilah Landasan dari pada keputusan Pemerintah dan  Angkatan Perang selanjutnya dalam menjelaskan soal ini.

 

Keadaan kita memang sekarang ini pada waktu Cikini mulai dalam satu konflik yang besar sekali dengan belanda yang disebut  Pembebasan Irian Barat.Dimana kita sedang  melikwidasi  Kekuasaan ekonomi Belanda di Indonesia  dan dimana  Belanda  dan lain-lainnya  yang suka membantunya  itu  berusaha  meniadakan tindakan kita  itu yang  dianggap  sebagai lanjutan Kemerdekaan kita  harus  kita laksanakan.

Dalam hubungan ini juga  juga tidak dapat kita benarkan pendirian dari mereka yang membentuk Pemrintahan yang baru  itu yang juga tidak membenarkan ini dan  mereka bersedia mengembalikan atau meminta tolong kepada mereka itu kembali.

 

 

(A.H.Naustion,Ceramah KASAD Dgn Perwira gernizun Jakarta 22 Feb 1958,Majallah PHB AD.1958)

 

11 Februari 1958

Pada 11 Februari 1958 Kabianet menyiarkan Jawaban Penolakannya dan memerintahkan kASAD untuk memecat Ahmad Husein, dan Simbolon. Selain itu , Komado kDMST STTT dibekukan dan hubungan darat maupun udara dengan Sumatera tengah dihentikan sama sekali seperti yang dilakukan di Sulawesi Utara. Kedua belah pihak pada awal Februari 1956 itu berada pada point of no return Konfrontasi adalah akibatnya

(R.Z.Leirissa)

 

Tuntutan yang semakin mencemaskan diajukan (pihak PRRI), dialamatkan kepada pemerintah ,mereka menuntut  dalam waktu 5 x 24 jam  sejak diumumkannya Ultimatum  Kabinet Djuanda menyerahkan Mandatnya kepada Prseiden Sukarno  atau Pejabat Presiden.

 

Selanjutnya Presiden atau Pejabat Presiden  member tugas kepada Drs Moh Hatta dan Sri Sultan hemangkubuwono  untuk membentuk Kabinet baru.Anggotanya terdiri dari tokoh-tokoh yang jujur , berwibawa  dan bebas dari anasir-anasir anti Tuhan.

 

Ultimatum ini tidak dapat diterima oleh Pemerintah ,tidak diterima jelas ! KSAD mengatakan tuntutan ini merupakan perbuatan melanggar  Sumpah Jabatan dan Sumpah Prajurit.

 

Kabinet Djuanda menanggapi Ultimatum sebagai tindakan yang membahayakan disiplin seluruh Angkatan Perang dan Keamanan Negara.

Penolakn ini akhirnya membawa Dewan Perjuangan di Sumatera tengah  itu kepada suatu Keputusan yang mengejutkan .

 

Dari Padang diumumkan  Proklamasi berdirinya PRRI Pemrintah revolusioner republic Indonesia.Inilah yang perlu segera diselesaikan  Pemerintah agar keutuhan Bangsa dapat dijamin .

 

 

  KASAD TNI AD Jendral Nasution

 

memangil Ahmad yani untuk segera kembali  ke Tanah Air.

Pak Nasution sedang pusing  menghadapi keadaan di tanah Air  yang semakin panas.

 

Pada saat ini Jenderal Gatot Subroto menjadi Wakil KASAD  timbul ekseemnya karena situasi Tanah Air Gawat.karena  terlalu prihatin memikirkan Bangsa dan Tanah Air.

 

Ahmad yani dipanggil pulang ke tanah Air ketika sedang menjalankan tugas Negara Kleuar negeri, untuk memimpin Gerakan Operasi Militer untuk memulihkan keamanan di Sumatera Barat yang terganggu karena adanya PRRI.

Sebenarnya Pak Hatta tidak menyetujui gerakan PRRI dan berusaha mencegah Ahmad husein dari tindakan itu.tetapi Ahmad Husein lebih menuruti Simbolon, Sjafruddin Prawira Negara .

Kembali Ahmad yani mendapat tugas memimpin Pasukan Gabungan   TNI Darat, Laut dan Udara untuk mengakhiri Pemberontakan PRRI.

 

 

(Ahmad Yani)

 

   Presiden Soekarno bernafas sesak
Para panglima sedang menggertak
Daerah dianggap sebagai pemberontak
Kaum Komunis lalu bersorak

Soekarno marah bertambah berang
Tentara dikirim untuk berperang
Sumatera Tengah akan diserang
Target utama ke ranah Minang

(H.Bustanuddin St Kayo)

                                                

15 pebruari 1058

 

Rebels set up rival PRRI government (Pemerintah Revolusioner Republik Indonesia) at Bukittingi. Prawiranegara is PRRI President. Natsir and Harahap of Masyumi support the PRRI, as odes Djojohadikusumo of the PSI party.

Permesta rebels in Sulawesi join forces with PRRI.

The USA promises secret aid to the rebels. Sukarno demands a hard response

 

 

14 Pebruari 1948

 

 

 

Foto IPPHOS

Rapat Pejuang-Pejuang Sumatera mempertahankan Kabinet Karya di Jakarta ,14 Pebruari 1958                                                                                                                                       (Nugroho Notosutanto)

 

 

 

Foto IPPHOS

Demo mahasiwa Jakarta mengutuk PRRI 14 Pebruari 1958                                                                  (Nugroho Notosutanto)

 

 

 

 

 

 

 

15 Februari 1958

Reaksi dari PRRI adalah dengan mengumumkan pendirian Pemerintahan Tandingan yaitu Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia (PRRI) lengkap dengan kabinetnya pada tanggal 15 Februari 1958. Susunan Kabinet PRRI adalah sebagai berikut:
1. Syarifuddin Prawiranegara sebagai Perdana Mentri dan Mentri Keuangan.
2. M Simbolon sebagai Mentri Luar Negri.
3. Burhanudin Harahap sebagai Mentri Pertahanan dan mentri kehakiman.
4. Dr. Sumitro Djojohadikusumo sebagai Ment
eri Perhubungan/Pelayaran

 

(kolektorsejarah

 

 

Pada 15 Februari 1958,

 

Kabinet PRRI diumumkan di Bukittinggi, Sumatera Tengah. Sjafruddin Prawiranegara menjadi perdana menteri.

 

Disebut juga pembentukan angkatan perang PRRI.

 

 Sewaktu proklamasi, saya sedang ada di Manila.

 

 Segala perkembangan saya pantau melalui radio, termasuk pemecatan saya oleh Markas Besar Angkatan Darat.

 

Sebetulnya, dengan proklamasi PRRI, terjadi perpecahan di tubuh deklarator Permesta.

 

Ada Permesta yang ikut PRRI, ada yang tidak.

 

Ada pula yang anti-Permesta tapi ikut PRRI.

 

Dari 51 orang deklarator Permesta, hanya 16 yang bertahan. Kebetulan, semuanya berasal dari Sulawesi Utara, yang kemudian meneruskan gerakan.

 

Lantaran itu saya tidak sepakat jika istilah PRRI dan Permesta digabung, karena keduanya berbeda.

 

 Pada 1970-an, ketika bertemu Jenderal M. Yusuf, kami berkelakar. “Ven, kalau aku Permesta saja, kau Permesta perang,” ujarnya.

 

 

Bom yang dijatuhkan di Padang, Manado, dan Ambon memaksa kami tak lagi bertahan, tapi menyerang.

 

Apalagi logistik kami cukup memadai untuk melakukan serangan.

 

Mayor Jenderal Alex Kawilarang juga telah meninggalkan pos Duta Besar nya di Washington dan ikut bergabung.

 

 Posko penyerangan tak lagi berada di Sumatera, tapi sudah berpindah ke Sulawesi Utara.

 

 Inilah awal perang saudara di antara sesama pejuang kemerdekaan.(Ventje Samual)

 

Info terkait

Melihat kekerasan hati dari Kabinet Djuanda, maka tak ada lagi jalan keluar selain melawan sehingga  pada tanggal 15 Februari 1958 Dewan Perjuangan memutuskan untuk membentuk Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia (PRRI) untuk menggantikan pemerintahan Jakarta yang dipimpin oleh Perdana Mentri Djuanda.

 Cakupan wilayah kekuasaan dari Pemerintahan Baru yang berpusat di Sumatera ini ialah seluruh wilayah Indonesia.

Dalam artian, dengan dikeluarkannya deklarasi pembentukan pemerintahan baru ini maka Pemerintahan Jakarta yang dikomandoi oleh PM Djuanda tidak berlaku lagi.

Namun sayangnya, pendirian semacam itu hanya berlaku jika berada di pihak yang berkuasa. Nyatanya yang berkuasa dengan segenap alat kekuasaan yang sah ialah orang-orang Jakarta.

 Oleh karena itu, betapapun keras hati orang Minang mengatakan bahwa tindakannya pada hari itu merupakan tindakan koreksi terhadap pemerintah pusat, meraka mau tidak mau harus pasrah dicap sebagai pemberontak.

Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia (PRRI) memutuskan untuk menyusun pemerintahan sendiri, dengan Perdana Menteri sebagai kepala pemerintahan sedangkan Soekarno tetap diakui sebagai Kepala Negara. Adapun susunan Kabinet PRRI ialah:

 

PM. PRRI Syafruddin Prawiranegara Berpidato Dihadapan Kabinetnya di Padang

Perdana Menter   : Mr. Syafruddin Prawiranegara                                                                                                Menteri Luar Neger  : Kol. Maluddin Simbolon                                                                                                          Menteri Pertahanan & Menteri Kahakiman : Mr. Burhanuddin Harahap                                                             Menteri Perhubungan & Pelayaran : Dr. Soemitro Joyohadikusumo                                                                       Menteri Pendidikan, Pengajaran, & Kebudayaan(PP & K)                                                                                        merangkap Menteri Kesehatan : Mohammad Syafei                                                                                                                                                                                                                             Menteri Perhubungan     : JF. WarouwMenteri Pertanian & Perburuhan    : S. Sarumpait                            Menteri Agama: Mochtar Lintang                                                                                                                               Menteri Penerangan  : M.Saleh Lahade                                                                                                                     Menteri Sosi    : Ayah Gani Usman                                                                                                                                                 Menteri Dalam Negeri* : Kol. Dahlan Djambek kemudian digantikan Mr. Assa                                               tmenteri Pos dan Telekomunikasi*  : Kol. Dahlan Djambek.

Jabatan Menteri Dalam Negeri dijabat oleh Kol. Dahlan Djambek sampai Mr. Assat Dt.Mudo tiba di Padang.

Setelah kedatangan Mr. Assat tersebut, jabatan Mendagri diserahkan kepada beliau.

 Sedangkan Kol. Dahlan Djambek menjabat sebagai Menteri Pos dan Telekomunikasi.

maka pada tanggal 15 Februari, genderang “perang saudara” segara ditabuh.

Itu ditandai dengan dibentuknya PRRI (Pemerintah Revolusioner Republik Indoensia) lengkap dengan susunan kabinet tandingan Jakarta.


Beberapa tokoh utamanya, ialah Ahmad Husein sebagai Ketua Dewan Perjuangan dan Mr. Sjafruddin Prawiranegara (bekas Ketua PDRI) sebagai Perdana Menterinya.

 

 

 

 

 

Sejumlah tokoh pusat juga bergabung ke dalamnya seperti Dr. Sumitro Djojohadikusumo, Mr. Asa’at, Moh. Natsir, Kol. Zulkifli Lubis dan bekas Perdana Menteri Burhanuddin Harahap dan lain-lain.

Sejak itu meletuslah apa yang disebut oleh Jakarta sebagai ”pemberontakan” oleh PRRI, tetapi sebaliknya para pendukungnya menyebut gerakan mereka sebagai ”pergolakan” daerah menentang rejim Jakarta yang inkonstitusional. amanah konstitusionalnya
( DR Msetika Zed)

TINDAKAN ISOLASI TERHADAP SUMATERA TENGAH

Inilah masalah yang besar  sekali yang tiap hari  kit abaca dan kita dengar  tetapi manjadi kewajiban kita mau tidak mau semua yang memegang uniform TNI ini sudah menjadi  sumpahnya untuk menyelamatkan  Negara.

Kita tidak bisa menghindarkan diri dari pada ini, lebih-lebih Pejabat  seperti  Komandan KDMST ,sepeerti KOMSUT yang 6telah saya sumpah  sendiri dengan  sumaph agama  akan tetap setia kepada Pemerintah republic Indonesia , akan tetap taat  kepada atasan  dengan tidak membantah  perintah atau keputusan  dll.

Saya kira kita dapat mengukur  dalam hati sendiri, saya juga sebagai  pejabat yang disumpah sedemikian  secara agama  tidak ada kita yang  bisa melanggar sumpah  jabatan kita itu dengan tidak hati kecil kita  akan menuduh kita  telah melanggar sumpah kita kepada Tuhan.

Karena sumpah itu bukanlah kita kerjakan terhadap orang-orang  tapi menurut Agama kita kerjakan kepada Tuhan kita sendiri  tentu saja dalam usaha ini mereka akan berusaha dengan macam-macam taktik, taktik ekonomi.

Sekarang mengusahakan supaya  misalnya perkongsian minyak membayar kepada mereka kalau tidak mereka ancam ,memanggil kembali KPM  supaya belayar kembali  buat mereka , memanggil kembali lain-lain dari Asing untuk  bekerja dan mereka tentu akan berusaha  juga dengan sendirinya keluar negeri sebanyak mungkin  membeli senjata.

Di Singapura sudah beli banyak Jeep bekas  panserwagen  ddl yang selekas mungkin ingin diangkut ,berusaha keluar negeri supaya mendapat pengangkutan dari banyak Negara,

 

Berusaha didalam Negeri supaya di Tapanuli,di Aceh,di Sumatera selatan, di Jawa Barat , di Sulawesi , dimana-mana timbul gerakan yang sama memperluas itu dengan  sendirinya dapat kita perhitungkan , Tentu kita menghadapi kesulitan-kesulitan didalam soal ini.

Sebaliknya dapat dimengerti bahwa dari pihak Pemerintah yang harus bertindak dalam  soal ini menutup hubungan-hubungan itu agar supaya jangan diteruskan usaha mereka keluar negeri. Jangan sampai  bekerja sama dengan Angkatan Perang Luar Negeri.

Mengambil tindakan  supaya jangan  mereka meneruskan maksud untuk mengirim  senjata dan pasukan  kedaerah lain , dengan sendirinya  diambil tindakan-tindakan itu  sehingga sekarang dilakukan tindakan –tindakan isolasi  terhadap  Sumatera tengah yang saya harap tidak  bagian yang hubungan baik kembali  sebagaimana mustinya tentu akan dibuka  hubungan dengan yang sudah terurus itu.

 

 

(A.H.Naustion,Ceramah KASAD Dgn Perwira gernizun Jakarta 22 Feb 1958,Majallah PHB AD.1958)

 

Then, on 15th February 1958, Lieutenant Colonel Ahmad Hussein declared the establishment of the PRRI. This prompted the Central Government to deploy troops.

As Army Chief of Staff, Nasution would have been involved in mobilizing the troops to Sumatra. However, it would be his 2nd Deputy, Colonel Ahmad Yani who would make his name by successfully putting down the rebellions

 

Pasukan  PRRI

 

 

Bersiap mengantisipasi serangan pemerintahan pusat

Sumber: Citizen Jurnalist,2012

 

 

15 Februari 1958

Kol Dahlan Djambek, Mr Burhanuniddin harahap, Letkol Ahmad Husein,Mr Sjafruddin Prawira Negara  dan Kol Maludin Simbolon 

Namun, pada 15 Februari 1958, atas prakarsa “Dewan Banteng”, organisasi yang dilahirkan dari hasil reuni militer yang dikepalai oleh Letkol Achmad Husein, Kolonel Dahlan Jambek dan Kolonel Maludin Simbolon, “diproklamirkan” sebuah pemerintahan baru yang bernama “Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia” yang disingkat dengan sebutan PRRI, dengan kota Padang sebagai “ibukota negara” dan Mr. Syafrudin Prawiranegara sebagai “Presiden PRRI”.

Kolonel Mauludin simbolon  ditunjuk sebagai Menteri Luar Negeri  dalam pemerintahan ( Kabinet) PRRI. Kedudukan itu sangat penting  bagi PRRI  yang membutuhkan  dukungan diplomatic dan bantuan senjata  dan perlengkapan militer . Penilaian Pers asing atas pribadinya  sebagai jurubicara tak resmi  dari Pemberontah suamteraeletak kebijaksanaan  dan tokoh penting  dibelakang gerakan Sumatera.(maludin Simbolon)

 Proklamasi PRRI ini, menjadi titik awal perlawanan secara terbuka terhadap kepemimpinan Presiden Sukarno dan keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

 Ranah Minang dikuasai oleh oknum-oknum, baik militer maupun sipil, yang tidak merasa puas dengan kepemimpinan Bung Karno, dan membawa rakyat Minangkabau untuk memberontak melepaskan diri dari ikatan persatuan NKRI.

Sementara itu, dalam waktu yang sama, di bagian Timur tanah air, juga timbul satu pemberontakan yang senada, perlawanan terhadap NKRI di bawah pimpinan Letkol Ventje Sumual, dengan membentuk pemerintah tandingan yang bernama PERMESTA (Pemerintah Rakyat Semesta).

Alasan-alasan yang dikemukakan oleh pemimpin-pemimpin gerakan-gerakan tersebut sama, tidak lain adalah pemerintah Pusat dianggap kurang memperhatikan keadaan daerah disertai tuntutan menambah anggota kabinet dengan Mohammad Hatta dan Sri Sultan Hamengkubuwono. Menghadapi tantangan dari daerah-daerah, pemerintah Pusat memprakarsai Musyawarah Nasional di Jakarta yang berlangsung tanggal 9 hingga 11 Februari 1958

Para tokoh dan pentolan PRRI maupun PERMESTA mendapat bantuan dan sokongan kuat dari Imperialis Amerika Serikat yang memang tidak suka atas kepemimpinan Bung Karno. AS memberi support dan bantuan apa saja untuk PRRI/PERMESTA.

Persenjataan-persenjataan modern dari Amerika, seperti LMG 12,7 MM, penangkis serangan udara, Bazooka, Granat-semi automatis, persenjataan Infantri, dan lain-lain diturunkan dari kapal terbang pengangkut AS di hutan-hutan Sumatra untuk melengkapi persenjataan militer PRRI guna melawan Pemerintahan NKRI.

Proklamasi berdirinya PRRI menyebabkan Pemerintahan Republik Indonesia  melakukan tindakan disiplin  terhadap anggota tentara, Kepolisian dan Pegawai Negeri  yang terlibat dalam PRRI.  Kol simbolon, Let Kol Ahmad Hoesein, Termasuk AKBP Soetan Soeis dan Des Alwi seta perintah penangkapan  terhadap  H.D.Manopo ,Yan A Toran dan  Saladin sarumpaat. Dewan –Dewan didaerah yaitu Dewan Banteng, DEwan Gajah ,Dewan Garuda  dan Permesta  beserta cabang-cabangnya  dinyatakan sebagai terlarang.

Selain itu dilakukan pembekuan terhadap KDMST(Komando Daerah Militer Sumatera tengah)  dan Penguasa Perang Daerah Swatentara Tingkat I Sumatera barat dan Riau, dan selanjutnya bekas daerah TT I  yang terdiri dari KDMA(komando Daerah Milter Aceh), TT-I  dan KDMST dikonsolidasi  dibawah Brigadir Jenderal Djatikusumo sebagai Deputi KSAD untuk Komando Antar Daerah  Militer Bagian Barat , dan Brigadir jenderal Gatot Subroto sebagai Deputi Kasad untuk Komandio Antar Daerah  Militer Bagian Timur.

Untuk mengambil alih Pemerintahan daerah oleh Ahmad Husein maka untuk propinsi Riau diangkat S.M.Amin menjadi Gubernur yang berkedudukan di tanjung Pinang.(Maludin Simbolon)Saya hadir bersama teman-teman dari sekolah  saat itu saya SMP Frater kelas I.

 Proklamasi dibacakan oleh Let Kol Ahmad Hussein di halaman istana  Gubernurjalan Sudirman Padang, saya melihat seoran rohaniwan italia Bruder Tossi mengabil foto dengan kameranya, hanya sayang saya saat itu masih belum mengerti nilai sejarah dari foto tersebut sehingga tidak meminatnya dari bruder tosi yang say kenal baik,banyak rakyat berkumpul disana,

ada sebuah foto  situasi tersebut cukup  jelas lihatlah foto tersebut dibawah ini (Dr Iwan)

16 Februari 1958

Setelah liwat lima hari Kabinet memberi tanggapan terhadap ultimatum Ahmad Husein(16 februari 1958)

Dewan Perjuangan membentuk Kabinet Baru dan tidak lagi mengakui Kabinet Djuanda, Kabinet Baru ini dinamakan Pemerintah Revolusioner Republik Indonesia.

(R.Z.Leirissa

 

 

Bertepatan waktu dengan diumumkannya PRRI pada tanggal 15 Pebruari 1958, di Staf Umum Angkatan Darat oleh Gabungan Kepala-Kepala Staf Angkatan dibentuklah suatu Komando Operasi Gabungan (Task Force) yang diberi nama “TEGAS” dengan Komandannya waktu itu Letkol Inf Kaharudin Nasution (sekarang Mayjen TNI) dari AD, dengan Wakil Komandan I Letkol (U) Wirijadinata dari AU dan Wakil Komandan II Mayor (L) Indra Soebagio dari AL. Komando ini merupakan komando pertempuran expedisionir yang langsung di bawah perintah Kasad dengan ditentukan sebagai kawasan operasi daerah Sumatera Tengah

  1. Kesatuan-Kesatuan yang termasuk dalam susunan Komando Operasi Gabungan “TEGAS” adalah satuan-satuan dari AD, AU dan AL ditambah dengan Jawatan-Jawatan Dinas-Dinas teknis AD yang terdiri dari:
    1. 2 (dua) Kompi RPKAD (1 Ki para troops, 1 Ki Komando),
    2. 1 (satu) Kompi KKO dari Angkatan Laut,
    3. 1 (satu) Kompi PGT dari Angkatan Udara,
    4. 1 (satu) Esquadron Angkatan Udara,
    5. 1 (satu) Kapal Perang dari Angkatan Laut,
    6. 1 (satu) Baterai Altilleri Lapangan Ringan,
    7. 3 (tiga) Batalyon Infanteri yaitu:
      1. Satu Batalyon dari Ter-V (Bn-528),
      2. Satu Batalyon dari Ter-IV (Banteng Raiders),
      3. Satu Batalyon dari Ter-III (Bn-322),
    8. 1 (satu) Kompi Intendans,
    9. 1 (satu) Kompi Peralatan,
    10. 1 (satu) Kompi Kesehatan,
    11. 1 (satu) Kompi Zeni Pionir,
    12. 1 (satu) Kompi Perhubungan,
    13. 1 (satu) Kompi Polisi Militer,
    14. 1 (satu) Kompi Angkutan Bermotor,
    15. 1 (satu) Peleton Perawatan Udara dari DAAD
  2. Untuk pengangkutan seluruh pasukan AD, AU serta peralatan dan perbekalan, diperbantukan 12 (dua belas) kapal angkut dan pemindahan pasukan dalam operasi dipergunakan 38 (tiga puluh delapan) kapal udara yang terdiri dari: 24 (dua puluh empat) buah pesawat Dakota, 4 (empat) buah pesawat B-25, 10 (sepuluh) buah pesawat Mustang. Adapun untuk kebutuhan persediaan logistik disediakan untuk masa waktu 3 (tiga) bulan.
  3. Batalyon 322 dari Ter-III dan Baterai Altilleri Lapangan Ringan dari Jakarta merupakan pasukan cadangan dari Komando Operasi Gabungan “TEGAS”, dan pemberangkatannya ke daerah operasi ditentukan dengan perintah. Untuk melaksanakan operasi menuju sasaran pokok, pasukan dibagi dan disusun dalam team-team taktis sebagai berikut:
    1. Komando X Ray (Airbone) di bawah pimpinan Letkol (U) Wirijadinata,
    2. Komando Kuat (Airground) di bawah pimpinan Mayor Inf Tjiptono,
    3. Komando Kaladjengking (Seaborne) di bawah pimpinan Mayor Inf Soekartojo,
    4. Komando Kantjil di bawah pimpinan Mayor (L) Indra Soebagio,
    5. Team Tempur di bawah pimpinan Letkol Inf Magenda,
    6. Komando Lambung di bawah pimpinan Letkol Inf Bedjo,
    7. Komando Obor (Advance Staf) di bawah Koordinasi Kapten Inf Mohd. Zazoeli,
    8. Komando Rear Area (Rear Staf) di bawah Koordinasi Kapten Inf Kadaroesno

(korem031)

16 Pebruari 1958

Sukarno Kembali dari Luar negeri

Setelah Persiden Soekarno kembali dari luar negeri pada 16 Februari 1958 Persiden Soekarno menyatakan “Kita harus menghadapi penyelewengan tanggal 5 Februari 1958 di Padang dengan segala kekuatan yang ada pada kita”.

 

Diputuskan akan menggunakan kekerasan senjata untuk menghadapi Dewan Kabinet PRRI. Persiden Soekarno memerintahkan untuk menangkap tokoh-tokoh PRRI. Hubungan darat maupun udara dengan Sumatra Tengah dihentikan.

 

Tidak semua tokoh dalam pemerintah pusat setuju dengan keputusan ini. Salah seorang yang menentang keputusan ini adalah Mohammad Hatta. Sebagai Wakil Persiden dia muncul ke depan menentang keputusan ini.

Dia mengirim utusan ke Padang untuk menemui Ahmad Husein dan meminta agar Dewan Banteng menghindari konflik bersenjata dengan pemerintah pusat namun entah mengapa utusan ini tidak pernah sampai ke Padang. Karena pengiriman utusan gagal maka Mohammad Hatta berusaha untuk mendekati Persiden Soekarno agar mengurungkan niatnya agar tidak meletus perang saudara. Namun usaha ini juga gagal.

(Kolektor Sejarah)

Presiden sukarno kembali ke Jakarta pada 16 februari 1958, lalu mengatakan “ Kita harus menghadapi penyelewengan pada 15 februari 1958 di Padang itu dengan tegas dan dengan segala kekuatan yang ada pad kita”

Pada  dasarnya ia menyokong rencana Djuanda dan Nasution  untuk menggunakan Kekerasan senjata, kemudian Kabinet juga mengeluarkan pereintah menangkap Mr Sjafruddin,Mr Burhanuddin Harahap dan dr Soemitro Djojohadikusumo.

Menghadapi situasi ini, Bung Hatta muncul kedepan, garis besar perkembangan ini dikemukan Muchtar Lubis dalam sebuah bukunya. Dr Hatta berusaha mendekati Bung Karno untuk mencegah Perang Saudara,

namun usaha yang dilakukannya dengan sangat hati-hati itu, disalhgunakan oleh media masa tertentu sehingga Sukarno membatalkan niatnya berunding dengan mantan Wakil Presiden tersebut

(R.Z.Leirissa)

 

Sejak februari 1958 Sumatera Barat berdiri sepenuhnya dibelakang PRRI yang dibentuk 15 Februari 1958

(R.Z.Leirissa)

 

Beberapa hari setelah proklamasi PRRI di Padang

 

Masyarakat sumatera barat melakukan aksi protes menentang pemerintah Pusat yang mereka tuduh pro komunis, aksi dilakukan didepan kantor pusat penerangan kedutaan besar  amerikan serikat(USIS) di Padang

 

Foto ini hasil jempretean majalah Life James Burke,ini secara jelas menunjukkan keterlibatan Amerika serikat yang tidak mengenal lelah untuk menyingkirkan Sukarno dari tumpuk kekuasaan dan mendegredasi  semua potendsi revolusioner  yang terdapat dalam kalangan masyarakat Indonesia.

 

Masyarakat pendukung PRRI di depan Balai Pemuda Padang

Bung Karno dan tertembaknya Allan Pope pada sampul Majallah time terkait  pemberontakan PRRI

Permesta (Perjuangan Rakyat Semesta) pada  hari berikutnya mendukung dan bergabung dengan PRRI sehingga gerakan bersama itu disebut PRRI/Permesta. Permesta yang berpusat di Manado tokohnya adalah Letnan Kolonel Vantje Sumual, Mayor Gerungan, Mayor Runturambi, Letnan Kolonel D.J. Samba, dan Letnan Kolonel Saleh Lahade.

(ventje Samual)

Ketika  PRRI terbentuk, Sumatera Selatan mengambil jalan berbeda dengan dewan banteng dan Permesta, Let Kol Barlian mengadakan Rapat Dewan Garuda dikediamannya . Disini Panglima TT III Sriwijaya  itu  berhasil mempengaruhi  para  perwira lainnya agar tidak mengikuti jejak  Padang.

Sejak semula  Dewan Perjuanagan memang meragukan iktikad Barlian , hubungannya dengan para Utusan KSAD seperti colonel  dr Ibnu Sutowo  dan Kolonel Hasan Kasim  membuatnya ragu-ragu.Akhirnya Ibnu Sutowo berhasil  mempengaruhinya untuk tidak bergabung dengan PRRI. Malah ketika itu, Barlian mengirim Ryucudu  ke Jakarta untuk melaporkan situasi kepada Presiden sukarno.

Selain memutuskan  untuk tidak mengakui PRRI, Dewan Garuda pun mempersilahkan pihak yang tetap ingin melanjutkan perjuangan  untuk meninggalkan Sumatera selatan.

(R.Z.Leirissa)

 

Tiada perlawanan di Palembang

Sampailah pada suatu pagi di awal tahun 1958, sewaktu saya mengayuh sepeda menuju sekolah yang terletak di jalan Pagar Alam.

Suatu pemandangan yang sama sekali tidak biasa tampak di sepanjang jalan Pagar Alam tersebut pasukan berpakaian tempur lengkap berdiri berjaga pada jarak-jarak tertentu.

Sikap mereka tampak sangat profesional, dan ternyata mereka adalah pasukan KKO-AL (Korps Komando AL, sekarang: Marinir).

Tidak ada pertempuran, tidak ada kekacauan, tidak ada kerusuhan sama sekali, dan…… tidak ada tembakan.

Sekolah berjalan seperti biasa.
Sepulang sekolah ternyata mereka masih standby, tetapi tidak dengan wajah sangar atau menakutkan.Kami para anak-anak kecewa dan tidak mengerti (tidak habis pikir, bahasa populernya), karena Palembang diduduki secara sangat mudah oleh Tentara Pusat.

Tentara TT II Sriwijaya dan STC ternyata tidak melakukan perlawanan sama sekali.

Lapangan terbang Talang Betutu kemudian juga diduduki, dan sejak itu sejumlah pesawat fighter Harvard dan Mustang selalu ada di lapangan terbang tersebut.

Kalau tidak salah, komando tentara Pusat berada dibawah Letkol. Juhartono.

(nagari web blog)

Satu-atunya anggota Dewan Garuda yang ikut serta dengan PRRI adalah Mayor Nawawi , dengan bekal senjata dan perlengkapan ia bersama sejumlah Pasukannya bertolak kedaerah Bengkulu dan selanjutnya membentuk pasukan disana untuk mendampingi Pasukan Ahmad Husein sampai tahun 1961

(R.Z.Leirissa)

Saya menemukan di bukittinggi dan lampung uang kertas PRRI Sumatera selatan pecahn rp 500,- dengan tanda tangan Mayor Nawawi lihat fotonya dibawah ini

(Dr Iwan)

 

 

 

Uang Rp 500,- PRRI Sumatera selatan ditanda tangani Oleh Mayor   Nawawistempel Pemerintah revolusioner republic Indonesia  Komado kordinator Sumatera Selatan dan Stempel alat pembajaran jang sah  dibagian depan, khusus  untuk daerah Sumatera Selatan

Ditemukan di Bukittinggi

ditemukan di Tanjungkarang Lampung oleh Dr Iwan Suwandy.

15 Pebruari 1958

Kartupos stasioner RI  15 sen  dikirim dari Bukittinggi dengan stempel pos tanggal 15.2.58 ke Padang Panjang, ini merupakan kartu pos RI yang tidak diberikan cetak tindih PRRI,merupakan kartu selamat tahum baru Tionghoa  Sin Tjoen Kiong Hie.(Dr Iwan)

 

 

 

 

 

Semenjak meresmikan pendirian Sekolah Tinggi Ekonomi (STE), Prof.Dr. Sumitro Djojohadikusumo tetap tinggal di Padang. Bahkan beliau tetap memberikan kuliah, disamping berbagai tugas yang dihadapinya dalam Dewan Banteng, sampai sekitar seminggu sebelum diproklamirkannya Pemerintah Revolusioner Republik Indonesia (PRRI) pada tanggal 15 Februari 1958.

Selama pergolakan PRRI, sebagian sivitas akademika Unand, termasuk dari Sekolah Tinggi Ekonomi dan bukan Unand secara institusional mulai terlibat dalam kegiatan PRRI, dampaknya tidak dapat dielakkan. Kegiatan perkuliahan di luar kota Padang terhenti sama sekali, sebagian tenaga pengajar Unand mulai berperan selaku staf ahli dalam lingkungan PRRI. Sebaliknya, sebagian besar mahasiswa telah berada dalam medan pertempuran melawan pasukan ABRI. Sebagian besar Tim affiliasi FEUI memegang peranan penting dalam Dewan Banteng. Sjofjan Jusuf langsung ditugaskan untuk mendirikan sebuah bank kemudian berkembang menjadi Bank Pembangunan Daerah (BPD), Samiadji Djajengwinardo sebagai Kepala Urusan Perdagangan Luar Negeri, dan Dwiono Chandradi sebagai penasihat Menteri Perdagangan Kabinet PRRI yang dijabat oleh Prof.Dr. Sumitro Djojohadikusumo.(fekonenand)

 

17 Februari 1958

 Pada tanggal 17 februari atas desakan stafnya,  Somba menyatakan dukungan pad PRRI dan pemutusan hubungan dengan cabinet Djuanda .

(R.Z.Leirissa

18 Februari 1958

February,18th 1958. RI Lettersheet 35 cent without overprint  from Padang To Padang Panjang. Pada era PRRI kantor pos masih mengunakan benda pos RI tanpa cetak tindih PRRI seperti warkat pos stationer 35 sen  diatas dikirim dari Padang Ke Padang Panjang  beberapa hari setelah proklamasi PRRI dari ayahnya wirako Ang Isiang kepada mertuanya Ori Bie Giok Padang Panjang untuk mengucapkan selamat tahun baru Tionghoa

(Dr iwan)

19 Februari 1958

Beberapa hari kemudian keluar peintah KSAD untuk menangkap Letkol Somba,mayor Dolf Runturambi,Gubernur manopo dan Jan Torar.

Sesunggunya Kawat Ventje samual kepad Somba bertujuan mengulur waktu , ia memerlukan waktu untuk berhubungan dengan tokoh-tokoh Permesta di Sulawesi Selatan. Selain itu para anggota Korps SSKAD di Jakrta juga belum dihubungi , untuk mengatur siasat baru.

Dengan diputuskannya hubungan dengan Jakarta ,maka sirna pula kemungkinan itu.Strategi ventje samual adalah melancarkan tekanan-tekanan pada Jakarta agar mau berunding dengan PRRI.

Dengan bantuan pesawat dan senjata, ia berniat membom tangki-tangki bensin di Surabaya,Bandung,Semarang,Jakarta.dan ketika pasukan Pusat lumpuh , ia akan mendaratkan pasukan di cilincing (Jakarta) untuk membentuk suatu tekanan pada cabinet agar mau berunding dengan PRRI.

Untuk itu ia telah mendapat dukungan Balikpapan(Hartoyo) dan diharapkan  Banjarmasin(Kol Hasan Basri,Ketua dewan Lambung Mangkurat) akan menyediakan Bandar Udara untuk pesawat pembomnya. Kapal-kapal pendarat ke Jakarta itu bersifat pendadakan, karena pasukan Pusat sedang memusatkan perhatian ke Indonesia Timur dan Sumatera tengah. Padahal serangan-serang di indonesai Timur itu (antara lain Pope) hanya gerak tipu saj karena Pusat sudah terikat pada mitos “ Gerakan separatis” yang seolah-olah ingin memisahkan Indonesia  Timur dari RI,maka strategi itu tidak pernah dipahami.Berkobarnya pertempuran di Sulawesi Utara dan Sumatera tengah sejak April 1958 menutup kemungkinan dilaksanakannya rencana tersebut

(R.Z.Leirissa)

Kartu Pos era PRRI

dengan prangko RI kancil  15 sen tanpa cetak tindih PRRI dikirim dari Padang (Lie thian Hwie)  jalan sungei Bong no 5 setempel pos 19.3.58 kepada  Oei Bie Giok Padang Panjang ,kartu ucapan selamat tahun baru Tionghoa(Dr Iwan)

20 – 21 Februari 1958

Pada tanggal 20 dan 21 Februari 1958 serangan ke Padang dimulai. Serangan dipimpin oleh Kolonel Ahmad Yani dengan diangkat menjadi Komandan Komando Operasi 17 Agustus. PRRI mendapat dukungan rakyat Sumatra Tengah

(Kolektor Sejarah web blog)

Dalam pertemuan di Istana negara, Presiden Sukarno bertanya kepada Ahmad Yani, apakah sanggup dan berani melakukan pendaratan di pantai Padang.Ahmad Yani menjawab Bagi saya  hanya ada dua  alternative pertama berkubur didalam lautan dan kedua  ialah mendarat  di Padang.(Ahmad Yani)

Tidak lama setelah pengumuman berdirinya PRRI, tiga Orang Amerika  dengan mempergunakan Pesawat Catalina  mendarat di danau singkarak.

Kedatangan mereka untuk mengatur  penerimaan pengiriman  Senjata dan Peralatan Militer lainnya. Mereka menghubungi Komando Militer Sumatera tengah  dan meminta bantuan  mempertemukan mereka dengan Kolonel Mauludin Simbolon , Kolonel Mauludin simbolon melayani mereka  dengan baik sebagai mana biasanya . Besama Letkol Ahmad Husein ia menerima  perangkat alat komunikasi  serta buku sandi  dan memberikan pelatihan cara mengunakannya.

Satu perangkat untuk KDMST dan satu lagi diguankan oleh  Kapten Azwar Lukman dan puteranya Sudaryanto.

Setelah itu dilakukan pengiriman senjata dengan kapal laut, melalui penerjunan dua kali di  udara di lapangan terbang tabing  sehingga cukup untuk mempersenjatai 8000 orang. Sebagain senjata itu secara sembunyi-sembunyi dikirim Kol Simbolon ke Tapanuli untuk melengkapai persenjataan  Mayor Sinta Pohan  dan 3000 pucuk kepada Daud Berueh  di Aceh dan sebagian lagi untuk melengkapi persenjataan Mayor  Nawawi di Bengkulu , Kol Zulkifli Lubis diperbatasan  Sumatera Barat dan Jambi.menurut orang Amerika tersebut pemberian senjata  dalam rangka menjamin  tetap adanya daerah de Facto PRRI dan dijadikan basis operasi militernya dalam rangka membentung kekuatan Komunis diwilayah tersebut.

(Mauludin Simbolon)

Semangat rakyat Sumatera Barat menngkat, ketika pada tanggal 20-21 Februari Pesawat AURI membom Kota Padang.

Pada Tanggal 20 februari 1958 Ahmad Husein mengadakan rapat umum di Padang dan berseru kepada masyarakat untuk member dukungan kepada PRRI. Sambil melepaskan tanda-tanda pangkatnya  dan melemparkannya ke tanah, ia mengatakan , apabila rakyat tidak mempercayainya,mereka dapat menangkapnya ketika itu juga dan menyerahkannya kepada Pusat.

Beberapa orang pemuda lalu memunggut  tanda pangkat itu dan mengembalikan nya kepada Ahmad husein.

(R.Z.Leirissa)

21 Pebruari 1958

Air Force bombs Padang, Bukittingi, and Manado.

22 Februari 1958

KSAD A.H.Nasution

(halaman depan majallah PHB  Angkatan Darat Suara telekomunikasi no  3 1958)

Ceramah KSAD DGN Perwira Garnizun Jakarta Raya di Gedung OLah Raga Pada Tanggal 22 Februari 1958

Para Perwira saya akan jelaskan perkembngan terakhir si Tanah Air,khususnya dengan adanya Pemberontakan di Padang dan di Menado  dan bagaimana kita harus menghadapi ini sebagai Perwira dan sebagai Tentara.

Soal yang terakhir ini kita tidak bisa melepaskan dari  perkembangan sejak bermula kita melihat selama ini didalam Negeri  adanya pertentangan politik mengenai Pemerintahan,pimpinan Negara dan lain lain yang tidak habis-habisnya  yang meluas kedalam Angkatan Perang kita kecuali  itu janganlah kita lupakan bahwa  Republik kita ini juga belum lepas dari pada persoalan  Perjuangan lain, baik dalam persoalan Irian Barat menghadapi Belanda,maupun dalm persoalan ada dua blok didunia yang juga ingin  membikin Indonesia ini  menjadi  sesuatu  operasi  dari pada cold war yang berlaku itu (di Asia) sekarang ini.

Ini semua  kita tidak bisa lepaskan satu sama lain. Seperti Presiden kemarin katakana, itu semua bisa dengan jalan terbuka tetapi juga bisa dengan jalan tidak terbuka. Masalahnya, persolannya, didalam negeri kita lihat berganti-ganti

Kesimpulan

Demikianlah bermacam-macam uraian yang saya berikan tentang kejadian itu mengapa kita mengambil  tindakan dan  saya ingin sekarang berbicara kepada Perwira-Perwira persatu.

Saya yakin bahwa dikalangan Perwira yang bnayk dihadapan saya  sekarang ini saya kira hamper 70 orang , tentu ada yang setuju  dengan tujuan daripada  mereka  yang telah memberontak di Padang , saya  sebut dengan tujuannya, aertinya tumuannya itu  Kabinet Hatta,Hemangakubuwono adanya  sesaat, adanya Pemerintahan yang tegas anti Komunis  dan Presiden  Sukarno Cuma  konstitutionil  Presiden. Mungkin disini ada yang setuju  saya akan menghormat, tujuan dari tiap-tiap  orang yang semacam itu.itu tersilah, Mungkin  ada yang setuju  dengan perbuatan  itu.Dalam soal ini saya tidak bisa menghormati . Tujuan Politik itu bisa disetujui  tapi  perbuatan itu tidak bisa disetujuinya.

 Terletak kepada kita yang beruniform ini, karena  Tentara ini melakukan perintah  dari Kepala Negara untuk mengambil tindakan menghukum Pemberontakan itu, lebih baik kita tegas satu sama lain.

Saya memberikan kesempatan kepada semua Perwira Angkatan darat  juga sekarang meminta berhenti berhubung menyetujui  itu.

Juga perlu buat kita  jelas masing-masing  bahwa buat selanjutnya perintah saya tegas kepada  semua Pejabat ,setiapang  yang membantu dan menyanggupi akan membantu, kita ambil tindakan menurut hokum dengan tidak pandang siapapun  juga.

Jadi harus ini juga menjadi pegangan dari pada kita semuanya,jangan kita terkecuali karena kita justru pada saat yang genting buat kelanjutan daripada Negara Kita.

Inilah Perintah  Saya  dan Penjelasan saya kepada Perwira-Perwira yang saya harapkan direnungkan sepenuhnya.

Sekian terima kasih

(Pidato KASAD AH Nasution di Garnizun Jakarta  22 februari 1958 dalam majalah PHB AD no 2 1958)

Pernyataan Seluruh Perwira Garnizun Jakarta Diucapkan Oleh Brigjen Sungkono Pada tanggal 22-2-1958

1.Kami menyambut dengan antusias pertemuan perwira yang ada di Jakarta ,yang diadakn hari ini.Keadaan Tanah Air  cukup genting ,sehingga tak mungkin lagi putera-putera Indonesia, yang patriotic seperti  telah berulang kali diuji oleh  sejarah akan tinggal diam.Lebih-lebih bagi putera-putera yang telah dinyatakan sebagai perwira seperti kita yang berkumpul  sekarang  ini.

Rasa tanggung-jawab  kita terhadap kesatuan Bangsam rasa tanggung jawab kita terhadap sejarah  Bangsa tidak bisa lagi kecuali kita harus  tampil kedepan ,menunjukkan pelaksanaan tanggung jawab yang dipikulkan oleh Rakyat kita, oleh Pemerintah Kita  dang oleh Bangsa kita. Pertemuan ini merupakan manifestasi dari kesadaran kita,kesadaran bertanggung jawab.

2.Penjelasan KSAD mengenai  situasi Tanah Air, cukup memberikan penjelasan kepada kita semua, bahwa ujian sejarah kembali kita hadapi.

Kita semua tahu bahwa ujian itu tidaklah mudah. Tetapi bagaimanapun sulitnya ,kalau kita mau maju terus  mencapai cita-cita bangsa dan Rakyat, yaitu satu Indonesia  yang bersatu jaya dan sejahtera  bagi seluruh rakyatnya, betapun rumitnya ujian itu, harus kita tempuh,. Dari penjelasan tentang situasi Tanah Air, dapatlah  kita pahami, bahwa anasir-anasir yang lebih mementingkan diri daripada  kepentingan bangsa  dan Rakyat, sudah menyatakan dirinya sebagai pemberontak, dengan segala kemampuan nya yang ada, dengan segala cara kaum pemberontak, sudah berbuat jauh bertentangan  dengan sumpah pemuda, bertentangan dengan Proklamasi 1945, bertentangan dengan Undang-Undang Dasar Negara,bertentangan dengan Sumpah Prajurit.

3.Menginggat bahwa taraf perjuangan Bangsa Indonesia sekarang sedang sengit-sengitnya dan tak kenal mundur  terys berjuang menghapuskan sisa-sisa kolonialisme Belanda, yang menjadi sumber segala kesengsaraan Rakyat, yang menjadi sumber segala ketidk puasan Rakyat, maka tindakan kaum pemberontak tersebut, sangat merugikan Bangsa dan Rakyat Indonesia dan  sebalikny menguntungkan Belanda.

Kita semua tahu bahwa penderitaaan Rakyat disebabkan karena belum bebasnya secara penuh Tanah Air kita ini dari sisa-sisa Kolonialisme terutama dilapangan ekonomi.Sekarang Rakyat selangkah demi selangkah secara postif menghapuskan sisa-sisa Kolonialisme ini. Dengan penuh rasa persatuan, saling mengerti akan tugasnya, terutama anatara angkatan Perang dan Rakyat,tugas pembebasan ini dilakukan dengan setia tanpa mementingkan diri sendiri.Tetapi kita melihat bahwa pukulan dari rakyat Indonesia terhadap Kolonialisme ini ternyata membikin beringasan orang-orang  avonturir yang mengabdi kepada kolonialsme . Seelsi alam tersu menerus terjadi dan ini akan berfjalan terus. Orang-orang ini dengan berbagai dalih, dengan menunggangi tokoh-tokoh daerah  yang sempit, dengan menggunakan kekuasaan yang diperolehnya dari Rakyat untuk memberontak.Karena  itu penilaian yang secepat-cepatnya dari kita tidak bisa lain pemebrontak ini adalah pengkhianatan! Pengkhianatan terhadap Proklamasi 1945, pengkhianatan terhadap UUD,Negara RI,pengkhianatan terhadap Sumpah Prajurit,Sumpah jabatan dan Saptamarga.

4.Dalam menghadapi keadaan tanah-air yang genting ini,yaitu rongrongan oleh kaum pemberontakan,Pemerintah kita yaitu Kabinet Juanda dan juga Pimpina Angkatan Perang kita sudah mengambil langkah-langkah yang tegas.

Tindakan-tindakan tersebut adalah tindkan yang wajar, suatu tindakan yang adil demi keselamatn Bangsa,Rakyat dan Tanah Air dijiwai oleh api cita-cita Rewvolusi Agustus 1945.Cita-cita yang senantiasa menuntun arah eprjuangan kita,cita-cita keramat bagi seluruh Bangsa Indonesia,kita harus bertindak setimpal terhadap kaum pemberontak itu. Jalan lain tidak da,demikian pula jalan-jalan mundur tidak ada,sepenuhnya kami menyetujui sikap Pimpina Angkatan Perang bahwa tindkan itu hanya ditujukan kepada yang bersalah.

5.Kita semua tahu bahwa sandaran kaum pemberontak bukan Rakyat di Suamtera Barat,rakyat disana sendiri  dengan putera-puteranya ayng patriotic,putera-puteranya sadar akan tanggung jawabnya terhadap keutuhan Negara Republik Indonesia pasti tidak dipihak pemberontak.

Sandarn kaum pemerontak buka Rakyat, malainkan impian kekuatan asing, kekuatan kolonialisme. Memang kekuatan kolonialisme di Asia masih ada, Tetapi terang bahw akekuatan ini sedang dengan secepat menuju keproses keruntuhannya. Sebaliknya kekuatan rakyat inti Kolonialisme sedang tumbuh berkembang ddengan kemungkinan tak terbatas. Kaum pemberontak bersandar kepada kekuatan yang lapuk, sebaliknay kita berada dalam kandungan  kekuatan Raksasa rakyat yang sedang tumbuh. Inilah  yang meyakinkan kami,bahwa kaum pemberontak pasti  dapat kita hancurkan, betapapun sulitnya.

Angkatan Perang beserta Rakyat dan Pemerintahnya pasti dapat menyelesaikan tugas sejarah yang mulia ini,yaitu melaksanakan sumpah epmuda tahun ’28, cita-cita Revolusi Agustus 1945 dengan bersatu dengan Rakyat kami yakin tidak ada kesulitan yang tidak bisa diatasi.

6.Bedasarkan kesadaran dan keyakinan seperti diuraikan diatas,maka kami menyatakan dengan tegas sikap sebagai berikut :

1) tetap setia kepada Proklamasi 17-8-1945 dan Negara Kesatuan Republik Indonesia bersendikan Pancasila.

2)Menjunjung tinggi dan mentaati Undang-Undang Dasar Negara republic Indonesia,Sumpah Prajurit, Sumpah Jabatan dan Sapat Marga.

3)Mendudkung penuh hikmah kebijakasanaan yang ditempuh oleh Pemerintah Djuanda dan Pimpinan Angkatan Perang.

4) Menyarankan segera merealisir tindakan lanjutan yang  lebih tegas dan cepat untuk menindas kaum pemberontak.

5)Mengajak Rakyat Indonesia seluruhnya untuk mengikuti jejak Pemeintah dan Pemimpin Angkatan Perang.

Selesai

Jakarta 22 Pebruari 1958.

(pidato kASAD AH Nasution di Garnizun Jakarta ,majalah PHB AD no 2 1958)

22 pebruari 1958.

 Battalion  322/Siliwangi  kali ini berangkat  meninggal kampung halaman  tanggal 22 pebruari 1958  sewaktu battalion  tersebut sedang bertugas  di Kerawang ,perintah  bertugas ke Pulau sumatera diterima  tanggal 22 pebruari 1958 .

(Umar Wirahadikusuma)

23 Pebruari 1958

Kwitansi era PRRI tanda  terima uang Rp 450  di Padang Panjang dengan meterai RI RP 50.-tanpa cetak tindih PRRI

(Dr Iwan)

 

 

24 Pebruari 1958

Surat dari Kepala daerah Pos 5 kepada Kepala kantor pos padang tentang  pertanyaan kecakapan Marah Sjoekur(Alh), M Zai (Pasar kuok) buat kenaikan pangkat degan form 1956.

(Buku agenda RHS Kantor pos padang, buku ini sudah dibuang dan dikar tetapi sebagian masih ditemukan pada lapak kertas bekas di pasar Jawa Pdang oleg Dr Iwan,buku ini memuat banyak informasi terkait PRRRI tahun 1958,koleksi Dr Iwan)

25 Pebruari 1958

Surat Dewan Pemerintah  daerah Peralihan Kotapradja Padang Panjang kepada  pengusaha kapur di padang panjang oei bie giok,laykai lunah,Sapa,Gaek,Maruheen,Bagindo Sutan

 Perihal  Gotong Royong mengerjakan perbaikan jalan pondok kapur diharapkan para pengusaha  perusahan kapur

 untuk mengeluarkan tenaga gotong royong dari perusahannya  dengan membawa  perkakas,cangkul,sikap(skop), keranjang,linggis,baling pada  hari minggu tanggal 2 maret 1958  jam 8 pagi

Ditanda tangani seksi Pekerjan Umum  MUhamad Sjafei dengan stempel  kotapradja padang panjang dengan lambang Garuda RI

Maret 1958

Foto Kalender Maret  juga terlihat Pebruari dan April 1958 masa PRRI

Army units from Diponegoro and Siliwangi divisions land in Sumatra and take Medan.

1 Maret 1958

Kartu Penduduk Era PRRI kepala kampong Pondok Padang anggota Polisi PRRI Goei Tjoen Goan alias sibuncit(gendut) ayahnya Lin

8 Maret 1958

March,8th.1958.RI Lettersheet without overprint send from Padang to Padang PanjangPada era PRRI kantor Pos tetap mengunakan benda pos RI  warkat pos stationer 35 sen tanpa dicetak tindih dan stempelnya juga tidak diubah. Padang  8.3.58, surat dari oei tiong gie kepada ayahnya oei bie giok memesan kapur  untuk temnnya oey tjij tjay  sekalaian juga pesan sayur-sayuran untuk dikirim ke Padang (Dr Iwan)

Ketika Kota Padang diserang dalm bulan maret 1958,KSAD memerintahkan agar M.Saleh Lahade dan semua tokoh Permesta di Makasar di tangkap

(R.Z.Leirissa)

10 Maret 1958

 10/3 Kapal perang jakarta di perairan PRRI ,jam 12.000 terdengar bunyi dentuman mariam ,kami seiisi rumah dikejutkan oleh dentuman mariam dari kapal tersebut

(catatan tertulis  Soewil St Bandaro pegawai kantor pos Padang,koleksi Dr iwan)

Info terkait

Untuk mengalihkan perhatian lawan(PRRI), beberapa hari sebelum Operasi 17 Agustus di parairan Pantai Padang  telah hilir mudik  Kapal-kapal TNI ALRI , kegiatan ini member kesan  seakan-akan  pendaratan akan dilakukan  melalui perairan itu  sehingga kekuatan untuk menahannya dipusatkan didaerah itu. Tetapi rencananya serangan pertama tidak disitu,  tetapi ke Riau.

(Ahmad Yani)

11 Maret 1958

Sejak ditunjuk sebagai pemimpin Operasi 17 Agustus, kelihatan kesibukan Ahmad yani meningkat , sekalipun hari sebelumnya  selalu sibuk untuk menghadapi tugasnya , namun  semenjak itu  kelihat kesibukannya agak meningkat.

Ibu Yani tahu apa yang sedang Ahmad Yani lakukan. Hanya dari dokumen-dokumen Dinas sejarah TNI Angkatan Darat  Ibu Yani ketahui  kemudian bahwa  Pak Yani ketika itu membentuk Staf  Komando Operasi 17 Agustus nama yang diberikan untuk tugas ke Sumatera barat.

Karena dalam Rapat-Rapat  yang dilakukan  sudah didapat kata sepakat  bhwa pendaratan  akan merupakan  suatu Operasi gabungan  dari Angkatan Darat, Laut dan Udara dengan susunan komado sebagai berikut:

Komandan : Kol. TNI ADAhmad Yani

Wakil Komandan I : Let.KOl. TNI AL.John Lie

 

Wakil Komandan II : Let.KOl. TNI AU Wiriadinata

Staf terdiri dari Kepala Staf Letkol Daryatmo, KSU I, KSU II, KSU III<KSU IVITPR dan Penerangan AD Kapten Muin Muchtar.

Jawatan Dinas serta senjata Bantuan yang disipakan terdiri dari :

Batalyon Perhubungan, Destamen Zeni,Batalyon Artileri,Detasmen Kavaleri, Detasmen Polisi Militer,Kompi Kesehatan, Konpi Angkutan, Kompi Intendans dan Kompi Markas

(Ahmad Yani)

16 Maret 1958

Pada tanggal 16 Maret 1958  Masyarakat

 Kota Medan dikejutkan oleh suara tembakan-tembakan meriam yang bergema sejak jam 03.00   sampai jam 07.00 pagi.Paginya baru diketahui  kiranya tembakan mariam itu datang dari dua jurusan  dan menembaki landing 

Lapangan terbang Polonia  dengan maksud untuk dirusak supaya  pasukan-pasukan  Pusat tidak bisa mendarat.

Kemudian berturut-turut terdengar di

RRI Medan,suara Mayor Said Usman  yang mengatakan bahwa Komando TT-IV yang menamakan dirinya “Operasi Sabang Marauke” tindakan kekuatan Pemerintah Pusat  dan KSAD terhadap penyelesaiaan Peristiwa Sumatera tengah,Sulawesi Tengah dan Utara.

Jika Pemerintah Pusat tidak mau menyetujui  apa yang diminta Komando Operasi sabang Marauke , akan mengambil jalan tersendiri dan Komando dari Pasukan itu adalah Mayor M.F.Naingolan ,Wakil Kepala Staf TT-I yang terkenal dengan nama Boyke untuk mengerakkan Pasukannya guna menentang tindakan Pusat.

Boyke mengunakan Batalyon TT-I yang dipimpin Mayor Henry Siregar dan Pasukan Polisi  PM Mobrig dan Pelajar-pelajar yang dipersenjatai.

Malam itu mulanya Boyke dan Anak Buahnya ingin mendinamit Polonia dan Belawan tetapi ketika beberapa motor Berlapis Baja yang dibawa mereka masuk kelapngan Polonia ditembak Pasukan AURI hiangga dua diantaranya terpaksa diseret pulang.

Karena itu mereka menembak dari jauh dengan mariam Polonia ,.

(Terang Bulan 1958)

Foto IPPHOS

Demonstrasi Front Masional  Pembebasan Irian Barat Di Jakarta  ,16 maret 1958,mengutuk PRRRI

(Nugroho Notosutanto)

17 Maret 1958

Dalam waktu 5 (lima) hari seluruh daerah Riau Daratan sebelah Utara(daerah konsesi Caltex) dapat dikuasai dalam keadaan utuh tanpa korban dipihak kita.

Begitu pula Bagan Siapi-api diduduki oleh Komando Lambung, dan selanjutnya team-team taktis dibubarkan dalam rangka pelaksanaan operasi selanjutnya.

 Dapat dikatakan bahwa seluruh pelaksanaan operasi ini mencapai hasil sebagaimana yang dikehendaki oleh pimpinan Angkatan Darat.Kemudian posisi pasukan mulai ditetapkan dengan ketentuan bahwa Batalyon 528 ditugaskan untuk menduduki daerah yang telah kita kuasai, dan seluruh kesatuan Angkatan Laut sesampainya di Pekanbaru ditarik dari penugasannya dalam susunan Komando Operasi Gabungan “TEGAS”.

 

Dengan adanya pemberontakan oleh Nainggolan Cs. di Medan, pasukan PGT dan kompi para RPKAD didrop ke Medan untuk memperkuat kedudukan pasukan kita, begitu pula Batalyon dari Ter-III dan Baterai Altilleri Lapangan Ringan yang telah berada di Tanjung Pinang diperbantukan pula ke Medan.

 Dengan demikian praktis kekuatan Komando Operasi Gabungan “TEGAS” sangat berkurang sekali, sehingga rencana untuk melanjutkan operasi ke Sumatera Barat dibatalkan dan ditetapkan menduduki, menguasai serta melakukan pembersihan di seluruh daerah Riau Daratan.

(korem031)

Melihat perkembangan PRRI di Kota Medan,maka Batalion 322/Siliwangi  yang sebetulnya mendarat di kota Pangkal Pinang(RIAU Kepulauan),segera dengan

kapal Tampomas bergerak ke

 Belawan Deli tanggal 17 Maret 1958,

hari itu juga masuk kota  Medan,

(Djamin Ginting)

 

17 Maret 1958

Pagi ini  Boyke Naingolan mengancam Komandan AURI Polonia, sebelum Polonia sebelum jam 12.00 Siang harus diserahkan kepada mereka (Boyke Naingolan Komando Operasi sabang marauke), kalau tidak lapangan Polonia akan digempur Habis-habisan.

Nyatanya sehari itu Masyarakat jadi sangat gelisah, karena disana-sini kelihatan Setumpuk  Tentara berjaga dengan senjata lengkap dan ada beberapa jalan dinyatakan tertutup karena dipasang dinamit.

Hari Ini Boyke naingolan berkuasa penuh , beberapa kali Via radio dia menyatakan pendapatnya yang ditujukan kepada Panglima tertinggi Presiden Sukarno .

Kiranya sebelum peristiwa ini Kapten Sinta Pohan  dan kapten P.Hasibuan telah mencoba pula mengadakan coup dan mempersenjatai Pelajar-pelajar .Demikian pula di Kota Medan sendiri,ketika Naingolan berkuasa 24 jam banyak sekali pelajar mereka persenjatai

Pihak AURI meskipun diancam akan diserang tetap tidak mau menyerahkan Polonia.Mereka bertindak demikian karena telah mengetahui  bahwa jam 13.00 berikutnya akan tiba Pasukan RPKAD dan KKO di Medan.

Pagi ini Dua  Mustang AURI telah menembak Pemancar RRI Medan  yang terletak di Sei Sekambing,penembakan karena mereka menyangka Naingolan masih berkuasa.

Karena Kedatangan Pasukan Pemerintah ini diketahui oleh Boyke Naingolan hingga maksudnya untuk merusak Belawan jadi terhenti dan mereka sebelumnya melarikan diri dengan membawa seluruh alat-alat TT 4  kebetulan Panglima TT I Let.Kol. Djamin Gintings sedang pergi kegunung untuk beristirahat. Sebelum mereka melarikan diri dari Kota Medan ,mereka memasuki Bank Indonesia dan mengambil uang sejumlah Rp 120 Juta.

 

Menurut catatan Naingolan membawa  pasukan Artileri ,Kavaleri dan Kendaraan  lainnya serta Senjata-senjata Berat.Dalam perlarian itu Naingolan  berpencar dan Naingolan menuju arah Tapanuli , sedangkan Mayor Said Usman menuju Aceh.

Dan benar saja sore ini Kota Medan kembali dikuasai Pasukan Pemerintah yaitu RPKAD dan KKO yang turun via udara di Belawan.Kemudian diperkuat dengan Pasukan dalam Kota Medan yang tidak mau turut dalam Gerakan Naingolan.

Malam ini KSAD  via Radio Jakarta menyatakan bahwa Perwira-Perwira yang terlibat peristiwa ini dipecat.Mereka ialah Mayor Said Usman,Overste  Dr Nazaruddin, Kapten Liano Siregar, Kapten PM Hasannuddin, Kapten Pendeta R.L.Sihombing dan Kapten Sinta Pohan.

(Terang Bulan 1958)

18 Maret 1958

Pasukan Pemerintah kemudian mengadakan pengejaran jurusan Prapat dan Pangklaan Brandan.

(terang Bulan 1958)

Foto Mobil Berlapis Baja yang dikerahkan untuk menduduki Prapat

(terang Bulan 1958)

Foto  mereka inilah yang tidak insyaf untuk apa berjuang.Pemuda-pemuda yang mendaftarkan diri untuk menjadi Pasukan Sukarela  di Medan tanggal 18 maret 1958 kebanyakan diantara mereka tewas karena tidak paham tentang Perang

(terang Bulan 1958)

17 Maret 1958

Melihat perkembangan di medan , battalion 322/Siliwangi yang  sudah mendarat di  kota pelabuhan Pangkal Pinang  segera diembarkasikan  lagi ke kapal “Tampomas”  dan mendarat di belawan deli  tanggal 17 Maret 1958,hari itu juga memasuki  kotaMedan ,

 (Umar Wirahadikusuma)

 

18 Maret  1958

setelah dipukul mundur dalam petempuran diSamarimbun pada tanggal 18 Maret 1958 oleh pasukan RPKAD dan TT 2/ Bukitbarisan.

(Djamin Ginting)

 

 

18 Maret 1958

Bataliom 322/Siliwangi menuju  kota  Pematang Siantar  dan harus banyak menyingkirkan rintanagn di jalan yang dibuat oleh  PRRI.

(Umar Wirahadikusuma)

 

Surat dikirim dari  Padang ke Padang Panjang ,prangko sudah disobek

dengan stempel pos militer  18.4.58

Isinya surat undangan perkawinan

 

19 Maret 1958

Pasukan Batalion 322/Siliwangi  bergerak ke Pematang siantar dan tiba dikota tersebut pada tanggal 19 Maret 1958 pagi dengan menyingkirkan banyak rintangan-rintangandi Jalan yang dibuat TNI Bukit Braisan yang semula dibuat untuk menghabat jalan mundur PRRI kearah Medan.

Hari ini juga jam 13.00 Kompi A dan B dibantu  1 panser  digerakan untuk mengejar pasukan PRRI yang mundur kearah Prapat

(Djamin Ginting)

19 Maret 1958

Pagi hari ini Batalion 322/siliwangi memasuki kota Pematang siantar

(Umar Wirahadikusuma)

Beberapa hari setelah banteng raiders memasuki

 kota Talukuantan ,hubungan telpon  dengan Pakanbaru dapat dibuka kembali. Baik untuk militr ataupun untu interlokal umum.

Selama pasukan mengadakan   konsolidasi beberapa hari,saya mencoba mendengar hubungan raio PHB KDMST Banteng yang meliputi 7 radio-station subsector. Semua pemberitaan yang dikirim oleh/diantara mereka saya ambil(opname)dengan jelas.

 Tentu saja kekuatan suara penerimaaan sangat jelas, karena kedudukan dan tempat saya sudah dekat  sekali dengan stasion musuh.Radio gram PRRI mengenai dislokasi pasukannnya sangat menguntungkan bagi siasat pengempuran  Komando Operasi gabungan Tegas khusunya kesatuan banteng Raiders.

Secara kebetulan yang kami gunakan untuk hubungan dengan PHB Komando Operasi Tegas sangat dekat dengan  frekuensi PRRI yang saya sebutkan diatas.Pernah satu kali station PRRI SHX-1 masuk dalam net frekuensi saya dan memangil-mangil. Untunglah berpendapat bahwa pangilan tersebut  harus saya diamkan saja, kalau tidak dijawab tentu mereka akan beranggapan bahwa suara radio stationnya tidak didengar oleh Tentara Pusat.

Dengan demikian banyak sekali radiogram dikirim plain karena merasa aman dari censuur musuh.Akhirnya kami yang untung dapat teryus langsung mendapatkan berita-berita itu.

Contoh sebuah berita yang kami tangkap, sangat berguna bagi pimpinan Angkatan Darat sebagai beriktu:

Dari : kmd kdmst banteng o414 1900

Untuk :kmd sector 1 s/d 7 kdmst

Tembusan: l.kol Moh Dahlan Djambek

2.Overste Sjuib

Sumber dari Jakarta utk I operasi 17 Agustus hari h 15 April rencana penyerangan 3 etape utk 1 pendaratan dari laut dan udara tt 2.menduduki tabing kma padang koma telukbayurkmsolokkmapajakumbuhttk3.konsolidasitth II timetable ttk 1 dari jamD-60 menit sampai D-30 menit penembakan dari laut dan udarattkdari jam D-30 menit smapai d+menit auri akan menembaki daerah ujungkarang dan air tawar ttkdari jam D-5 menit samapai jam 30 menit penembakan atas tabing dan sekitarnya ttk

Jam D pendaratan 1 bn kko didaerah airtawar dan paratroop di tabing dan sekitarnya ttk jam D tambah 30 menit sampai jam D tambah 210 menit  pemboman objek-objek militer  termasuk jembatan-jembatan ttk jam D tambah 30 menit kapal-kapal mendekati pantai ttk jam D tambah 35 menit waktu untuk 1 bn Infanteri dan komando rtp 2 mendarat ttk jam D tambah X menit pendaratan dari keseluruhan rtp-rtp time table 2 rtp I akan menduduki solok dan pajakumbuh kurungbuka kemungkinan rtp 1 ini adalah pasukan yang dipimpin oleh kaharudin nasution yang bergerak dari timur kuruntutup ttk rtp 2 menduduki jembatan muarapenjalinan dan mengambil over dari rpkad tabing dengan 1 bn cadangan ttp rtp 3 mnduduki padang dan telukbayur ttk konosildasi sesudah itu tt IV keteragan-kterangan sesudah itu kko mendarat akan diberi tanda dengan 2 sein hijau ttk jika mendapat perlawanan yang sengit akan diberi seinmerah ttk batas dari komadua  pancangan kaki komadua kurungbuka bechea kurungtutup akan diberi tanda panels kuning/oranye ttk headquarters dri komando bersama rtp3 berada dikapal tampomas ttk auri akan mempergunakan pbr dan rgt sebagai landasan untuk untuk pemberian penembakan dan drop ttk habis(X)0414 1900 =

Hasil censuur tersebut diatas segera kami serahkan kepada Komandan operasi Tegas lewat Kmd Banteng raiders entah berguna atau tidak nyatanya penyerangan dan pendudukan kota Padng dilakukan oleh Komado Operasi 17 agustus termasuk Bn Perhubungannya pada 17 April 1958.

Kecualai radiogram penting seperti ditas, kami juga dapat mengikuti hubungan radio anatara KDMST BANTENG dengan perwakilannya di TT-II dengan samara Kancil. Contoh tidak perlu saya kemukakan disini.

Waktu Banteng Raiders sampai

Di Kiliranjao.

sebuah persimpangan jalan anatar Jambi-Padang, saya berhasil  mengunakan saluran telepon yang masih terdapat baik akan tetapi lucunya,segala pembicaraan yang kita lakukan terpaksa campur aduk dengan pembicaraan  PRRI karena saluran tersebut merupakan “driesprong”

Lubukjambi

-Kiliranjao-Sungaidareh –Kiliranjao dan Tandjunggadang-Kiliranjao.

Sedangkan

Sungaidareh

dan Tandjunggadang masih diduduki PRRI.

Kode yang paling ampuh kita gunakan adalah bahasa Jawa halus sedangkan pRRRI mengunakan bahasa Minang yang mudah kita ketahui artinya.

Jadi aneh kecuali perang radio  terjadi juga perang telpon, saatu kejadian lucu pada waktu Banteng raiders samapai di Sijunjung segera kami perbaiki semua hubungan telepon kesegala jurusan semampu-mampunya.

Ternyata kita kita dapat bicara dengan sawahlunto yang pada waktu itu masih diduduki PRRI .

 Secara kebetulan saya dapat berbicara dengan Seorang tetara yang berasal dari Jawa dengan nama samaran smj Wongso, dengan perantaraan telpon kami menganjurkan agar mereka (PRRI) menyerah saja tentu akan selamat dan terjamin pensiunnya.

Benar setelah kita masuk kota sawahlunto yang mengaku sebagai smj Wongso itu tidak lain dari  smj/PHB Z.Subaidi yang menjabat sebagai Kmd Peleton PHB Bn 141 trermasuk CPHB Detasmen 1o dia bernama sran PHB Moch Sanusi sekarang kami serah menyelengarakan hubungan telepon PTTT Sawahlunto selama para pegawai PTT belum diisi dari Bandung.

Nyata sekali bahwa PHB KDMST BANTENG mempunyai alat dan tenaga yang cukup sempurna untuk menghadapi datangnya APRI waktu itu.Karena semua pegawai PTTT baik radio telegrafist meupun teknikersnya dibawah oleh PRRRI .

Perang radio  dan perang telepon masih terbatas pad prosedur PHB jadi belum menjengkelkan . Akhir-akhir ini pada waktu banteng riders betugas menghancurkan pertahanan apa yang diseurt :Harimau Kuranji” telah bertemu dengan PRRI dalam P 22 ,perang P 22 inilah yang betul-betul memerlukan kecerdasan system komunikasi  dan kecepatan bertindak  dalam mengkoordinir jaring hubungan yang sedang berjalan.

Pesawt P 22 adalah satu-satunya alat yang banyak menolong gerakan pasukan Infantri APRI,akan tetapi kalau sudah terbentur pada persoalan diganggu  obatnya hanya keuletan dan sabar. Klaau dikutib perkatam-perkatan musuh PRRRI pada waktu menyerobot hubungan kita sangat tidak pantas diucapkan untuk adat kesopanan bangsa kita.

Bagaimana cara mengatasinya kalau kita jawab akhirnya tetu hanya caci maki yang megakibatkan terlanatrnya hubungan, Kalau kita memindahkan channel(frekuensi) mereka bisa mengejar dengan mudah, karena memutar seluruh channel P 22 itu lebih dari 15 detik.

Sungguh suatu kejadian perlu mendapat perhatian para pencipta teknis pesawart P 22. Wlaupun kita diganggu,kita harus diam saja.Perlunya agar mereka mengira bahwa suaranya tidak bisa kita tangkap (ingat jarak capai dari pesawat P 22).Disamping itu ada satu hal lagi yang dapat merhasiakan pembicaraan kita melalui P 22 yaitu mengunakan bahsa jawa halus. Cara ini setelah dilakukan ternyata musuh menjadi marah dan jengkel, karena tidak mengethui pembicaraan kita buktinya mereka pernah masuk dalam channel kita dengan memgatakan Kalau berani  tentara  Sukarno sipaya mengunakan bahasa Indonesia,tetapi kita diam saja.

Sayang,hingga sekarang dari sejumlah senjata yang selalu dapat kita rampas dsari PRRI baru beberapa buah P 22 dapat kita trampas.

(majalah PHB 1958)

23 Maret 1958

Minggu dikejutkan sirene hamya krelihatan kapal terbang membuangkan pamphlet.

(catatan tertulis  Soewil St Bandaro pegawai kantor pos Padang,koleksi Dr iwan)

26 Maret 1958

 

Surat tercatat dikirim dari Sekayu(Sumatera selatan)stempel pos diata strip tiga  prangko sukarno Rp 1,- Sekaju 26.3.58 dan cerik tercatat sekaju dikirim ke Jakarta diterima dengan stempel kantor 13 April 1958.

 

Koleksi postal history yang langka dan merupa bukti sejarah bahwa ada situasi pergolakan di sumatera selatan  dan perhubungan dibuka kembali karena sumatera selatan tidak ikut pemberonatkan terhadap PUSAT karena surat baru sampai setelah 18 hari.

(Koleksi Dr Iwan)

27 Maret 1958

 

Foto IPPHOS

Senjata PRRI yang dapat dirampas dipamerkan di Jakarta 27 Maret 1958

(Nugroho Notosutanto)

 

 

 

 

28 Maret 1958

Surat Keliling PTT no 10 Tentang Pemberian Tunjangan istimewa Kepada Para pegawai yang melakukan tugasnya diaerah tidak aman berhubung bahaya pembunuhan/penculikan dari fhak gerombolan pengatjau bersenjata. Lapiarn 1(satu) Penetapan Direktur Djenderasl Pos,Telegraph dan telephon tanggal 28 Maret 1959 no.16137/adm 2.Lampiran Surat keliling PTT no 10 tahun 1959, Daftar pembajaran tunjangan Istimewa berhubung bahaja pembunuhan/pentjulikan kepada pegawai PTT didaerah/tempat tidak aman.

(Dr Iwan)

31 Maret 1958

Foto DEPPEN

Patroli APRI di Rantau Berangin                                                                                                                 dalam rangka menumpas PRRI  pada tanggal 31 maret 1958                                                                                                                                           (Nugroho Notosutanto)

Saya pernah naik mobil truk dari Padang ke Medan tahun 1962 bersama Ang toen ZHin dan putrinya Ang Ham Lie  yang masih kecil(alm), berangkat dari padang jam 8 pagi sampai dirantau Berangin jam 22.00 karena jalan rusak dan truk sering macet.(Dr Iwan)

Rantau Berangin  Pasaman  SUMBAR saat ini

Maret 1958

Waktu Komando 17 Agustus belum menduduki kota Padang,  malah dapat dikatakan jauh sebelum itu, Banteng Raider hanya bergerak bersama dengan RPKAD dan Bn 528 Divisi Brawijaya. Route yang harus dialaui BantenrG raiders tercatat 

Pakanbaru- Taratakbuluh-Lipat Kain-Talukkuantan-Lubukjambi-Kiliranjao-Sungaidareh-Tanjunggadang-Sijunjung-Sawahlunto-Padang-Bukittinggi-Pajakumbuh-Suliki dan seterusnya menurut kebutuhan taktis.

 

(majallah PHB no 8/1958)

2 April 1958

Pertahanan pasukan PRRI sangat ideal. Mereka memasang banyak kubu senapan mesin di tepi sungai yang lebarnya hampir 100 meter dan berarus deras.  Di belakang mereka , hutan rimba kawasan Bukit Barisan membentang luas. Ideal sekali untuk medan gerilya. Tak lupa, PRRI juga menghancurkan semua akses penyeberangan. Tentu ini kesulitan besar bagi pasukan TNI.

 

Kompi B RPKAD tak gentar. Pertempuran di  Batang Kuantan berjalan sengit. Angkatan Udara mengirimkan pesawat B-25 untuk memberikan bantuan tembakan udara. Tetapi pilot pesawat terkena tembakan gencar sehingga harus kembali ke pangkalan Tanjung Pinang.

Tembakan bertubi-tubi membuat pasukan pemberontak bisa dipukul. Mereka mencoba meloloskan diri dari pasukan TNI. Kompi B mencoba menghadang mereka yang mundur.


Namun, nahas saat itulah Kapten Fadillah tertembak. Dia dan seorang prajurit RPKAD lainnya tewas tertembak muntahan peluru senapan mesin tanggal 2 April 1958.

Sejumlah sumber menyebut, Kapten Fadillah masih mencoba mengobarkan semangat tempur anak buahnya sebelum tewas. “Selamat berjuang,” pesannya.

Kematian Fadillah membuat semangat tempur pasukannya menyala. Mereka menggempur pertahanan PRRI habis-habisan. Seluruh pertahanan di Batang Kuantan bersih disapu RPKAD dan pasukan lain. Hal ini sekaligus mematahkan perlawanan RI di seluruh Riau

(Merdeka Com)

3 April 1958

Penulis melihat sendiri di pingir pantai Kota Padang sebuah kapal selam yang mendrop kedarat   beberapa container yang berisi  senjata modern hadiah dari luar Negeri (menurut info dari Amerika Serikat?) seperti Thompson, juga ada Basoka dan juggle riffle serta Mitralyur dsbnya yang penulis tidak kenal namanya

 (Dr iwan)

Berdasarkan pengalaman  dan hasil Operasi TEGAS di TIAU, maka ke Sumatera Barat disusun  satuan dari

a.RTP I (TEGAS)

Komandan Let.Kol.Kaharuddin Nasution

Kekuatan dari  Kompi B /RPKAD, Batalyon 432/Banteng Raiders,Batalyon 528  , Staf dan jawatan ,Dinas dan senjata bantuan.

 

b. RTP II (Brawijaya)

Komandan Let.Kol. Sabirin Muchtar

Kekuatan : Batalyon 509, Batalyon 510, Staf,Jawatan,Dinas dan Senjata bantuan.

c.RTP III.(Diponegoro)

Komandan Let.KOL. Suwito Haryoko

Kekuatan : Batalyon 438,Batalyon 410, Kompi A RPKAD, Staf,Jawatan, Dians dan Senjata Bantuan.

d. ATP 17 (Angkatan Laut )

Kesatua bantuan dengan 3 buah Kapal Perang, Kesatuan Amphibi yang terdiri dari 1 Batalyon KKO, dan Kesatuan Angkatan yang terdiri dari 18 Kapal Pengangkut.

e. Angkatan Udara

25 buah Pesawat Dakota sebagai pesawat pengangkut, 6 buah Mustang (Pesawat Pengempur), 6 Buah B-26 (Pesawat Pengebom) dan 1 Batalyon PGT(Pasukan Gerak Cepat).

(Ahmad Yani)

4 April 1958

Kapal Perang APRI yang terdiri dari beberapa kapal perang dan juga kapal-kapal barang yang kecil  show of force di lautan Hindia didepan Pantai Kota padang, penulis melihat ratusan kapal besar kecil tersebut dan malam hari mereka menembakan kembang api ,mungkin untuk melihat sasaran yang akan di tembak dengan mortir.

Warga kota Padang membuat lubang perlindungan dengan mengali lubang ditanah, tetapi kami dirumah membuat ruang perlindungan dengan tumpukan karung berisi pasir mengeliling tempat tidur

(Dr Iwan)

11 April 1958

Dengan tidka mengusik daerah Tapanuli dengan harapan RI 3 sendiri akan bertindak dan menyelesaikan persoalan pasukan PRRI yang memasuki daerah Tapanuli. Akan tetapi nampaknya karena factor kekuatan yang tidak berimbang, Mayor Sahala Hutabarat tidka mampu untuk berbuat itu.,

 sehingga pasukan PRRI dengan leluasa mempergunakan daerah Tapanuli sewbagai pangkalan penyerangan  dan “terugval” mereka.

Dan karena keadaan yang memaksa itu maka KSAD akhirnya memerintahkan memasuki daerah itu untuk menguasai keadaan.

Hari H adalah tanggal 11 April 1958 jam 00.00 .Gerakan penyerangan terhadap PRRI yang bertahan di tapanuli dilancarkan dari tiga tempat yakni bergerak dari Sidikalang diutara danau toba, Prapat di ztimur danau toba dan Rantau Prapat.

Pasukan yang bergerak dari Sidikalang adalah Mayor Palawi yang didampingi  oleh Panglijma TT I?Bukit Barisa, dengan tugas merebut garis Sidikalang,Dolok sangul – siborong-borong

(Umar Wirahadikusuma)

Info terkait

Hari H adalah tanggal 11 April 1958 jam 0.00,gerakan penyerangan terhadap PRRI yang bertahan di Tapanuli dan dilancarkan pada 3 tempat yakni dari Sidikalang diutara danau toba,Prapat ditimur Danau Toba dan Rantau Prapat.

Pasaukan yang bergerak dari Sidikalang adalah pasukan Mayor Palawi yang didampingi Panglima TT I?

Bukit Barisan (Let.Kol Djamin ginting) dengan tugas merebut Sidikalang,Dolok sanggul dan siborong-borong.

Pasukan Yang bergerak dari Rantau Prapat adalah pasukan Mayor Raja Sjahman yang didampingi oleh Brigadir Jendral TNI Djatikusumo dengan tugas merebut Rantau Prapat,Kotapinang,Gunung Tua,Lingga Payung,Padang sidempuan dan sibolga.

Pasukan yang bergerak dari Prapat adalah Batalion 122/siliwangi dibawah pimpinan Mayor Sjafei,dengan tugas merebut Prapat,Porsea,Balige dan Siborong-Borong.

(Djamin Ginting)

Pada Tanggal 11 April 1958, Batalio9n 322/Siliwangi bersama batalion lain diperintahkan oleh panglima  TT 1/Bukit Barisan Letnan Kolonel Djamin Ginting untuk memasuki daerah tapanuli tempat bersarang gerakan separatis PRRI.

Pada jam 9.00 pasukan tersebut mulai bergerak menuju sasarannya maisng-masing,Kompi  B 322/Siliwangi berhasil menduduki Labuhandjulu bebrapa  ssat kemudian tanpa mendapat perlawanan  sedikitpun,

 Jam 10.00 gerakan  dibatu panser menuju Lumbanjangga,saat ini mendapat perlawanan  dari tentara PRRI sehuingga tidak dapat maju.

Panser juga tidak dapat maju karena ditikungan jalan pasukan PRRI  dengan basoka telah bersiap-siap untuk memusnahkannya.

Peleton masuk dalam jarring tembakan tentara PRRI dari atas bukit-bukit kan dan kiri jalan raya tanpa suatu eprlindungan karena merupakan suatu lapangan terbuka.

Mundur berarti kemusnahan peleton,kemudian koimAndan peleton mengambil keputusan untuk maju 200 meter kedepan dimana terdapt tanggul-tanggul tempat berlindung,merayap maju 200 meter saja diperlukan waktu 2 jam lamnya dan dibawah tembakan yang gencar dari tentara PRRI ,namun alhirnya selureuh peleton dapt diselamatkan.

Tembakan mariam serta tembakan dari udara yang dilakukan oleh Bomber B-25 dan 3 pesawat Harvar pada jam 16.30 ternyata tidak berhasil memaksa Tentara PRRI untuk meninggalkan Pertahannya.

(Djamin ginting)

Pasukan yang bergerak dari Rantau Prapat adalah  pasukan Mayor Raja Sjahman yang didmpingi oleh Brigjen  TNI Djatikusumo dengan tugas merebut garis Rantau Prapat- Kotapinang-Gunung tua-Lingga Payung-Padang Sidempuan- Sibolga.

Pasukan yang bergerak dari Prapat adalah Batalion 322/Siliwangi dibawah pimpinan Mayor Sjafei dengan tugas merebut garis Prapat-Porsea- balige- Siborong-borong.

(Umar Wirahadikusuma)

 

 

12 April 1958

 

Dalam briefing Persiapan Pendaratan APRI di Padang , Ahmad Yani didepan stafnya  mengulangi ucapan  yang pernah dikatakannya ketika ditanya Presiden sebelumnya.

 

 Didalam briefing itu  Ahmad yani berkata :

 

” Kita hanya mempunyai dua kemungkinan mendarat dikota padang atau tengelam didasar laut. Pilihan kita mendarat di Padang dan Menang.”

 

 Ibu Ahmad Yani membayangkan betapa perasaan Pak Yani sampainya pada detik-detik menjelang perdaratan itu dilakukian.

 

Selain itu juga didengar kabar bahwa Pantai Padang dan disekitar  lapangan terbang Tabing ditempatkan sejata penangkis  untuk menghadang pendaratan, demikian pula di gunung Padang yang mempunyai pandanagn bebas kelaut ditempatkan mariam yang sangat membahayakan pihat pendarat.

(Ahmad Yani)

 

12 April 1958

Keesokan harinya tanggal 12 April 1958 jam 05.00 (AM)  Kompi TNI A melambung kekanan,mengadakan serangan pada sayp kiri tentara PRRI dan berhasil merebut bagian lapangan jalan raya

pada jam 09.00 pihak PRRI mulai mundur dan jam 10.30 seluruh pertahanan PRRI di Lumbanjangga berhasil direbut TNI.

Masih pada hari ini jam 13.00 dilakukan pengekaran terhadap pasukan PRRI dan tiga jam kemudian Porsea berhasil diduduki TNI tanpa mengalami suatu perlawanan.

(Djamin Ginting)

 

 

 

 

 

14 April 1958

Kapal Perang APRI Membombardir Kota Padang 14 April  1958

Kapal Perang APRI dalam Operasi Militer 17 Agustus ,membombardir kota Padang dengan Montir dari Kapal Perang APRI

sudah hampir sepuluh hari Kapal Perang APRI show of force di lautan Hindia didepan Pantai Kota padang, penulis melihat ratusan kapal besar kecil tersebut dan malam hari mereka menembakan kembang api ,mungkin untuk melihat sasaran yang akan di tembak dengan mortir.

(Dr Iwan)

Kolonel Ahamd Yani secara resmi ditetapkan sebagai Komandan Operasi 17 Agustus dengan Suarat Perintah No SP 523/4/1958 tanggal 14-4-1958

Kol Ahmad Yani berangkat ,dengan Konvoi ke Sumatera barat, Konvoi ini merupakan gelombang kedua karena gelombang pertama sudah berangkat sehari sebelumnya.

(Ahmad Yani)

KTP masa PRRI

 

 

KTP Era PRRI  bagian dalam

 

Foto KTP era PRRI

Kartu no 422

Nama Goei Tjoan Goan

Warga Kepolisian Negara

Jl Baru Kampung Sebelah no 26

Nama isteri Njo Pek Lian

Diterbitkan

Padang ¼-1958

oleh 

Daerah Pemerintah Kotapraja Padang

 kepala bagian Pendaftaran Penduduk

 M.St,Mansjur

 

 Stempel kepala kampong pondok denga lambing garuda tetapi Republik Indonesia dihapus(belum diganti dengan PRRI)

 

 Cetatan Dr Iwan

Yang bersangkutan saya kenal , karena gendut dianmakan si Buncik, beliau setelah pendaratan APRI ikut mengungsi ke pedalaman dan setelah itu tidak pernah ditemukan laigi informainya, KTP ini ditemukan bersama arsip yang bersangkuta lainnya termasuk SK pengangkatannya jadi anggotaKepolisian Negara RI di tempat sampah kertas bekas dari arsip-arsip brimob Sumbar   yang dibuang dan digunakan untuk membersihkan tangan di bengkel POLDA Sumbar d jalan sawahan dekat stasiun kereta api waktu saya menservis ganti oli kendaraan dinas jsaya jeep willys 1957 disana.sebagian arsipnya sudah saya serahkan kepada putrinya Lien yang menikah dengan putra saudara nenek mantu saya grace iteri putra saya anton.

Menurut putrinya Goei tjoen goan ia melarikan diri ke Bengkulu saat Apri mendarat di Padang dan setelah itu tidak ada kabar dan ia dinyatakan hilang,ia bergabung dengan let Kol Nawawi yang memberontak di Bengkulu,mungkin alamarhum meninggal saat penyerbuan Korps brimob di Bengkulu tahun 1960 silahkan membaca infonya  pada bab selanjutnya

(Dr Iwan)

 

 

Soekarno marah bertambah berang
Tentara dikirim untuk berperang
Sumatera Tengah akan diserang
Target utama ke ranah Minang

Dari laut dan dari udara
Kota Padang sasaran pertama
Dijatuhkan bom membabi buta
Banyak korban mati dan luka

Karena kota kini tak aman
Badan diri wajib diselamatkan
Gaji terhenti tak bisa makan
Lalu berunding sesama teman

Nagari web blo

14 April 1958

Pada tanggal 14 April  1958 , sekitar  jam dua  dini hari anggota militer kantor Dewan Banteng di depan rumah penulis di jalan Bundo Kandung no 16 (saat itu Jalan Gereja) mengedor pintu membangunkan almarhum ayah untuk mengajak mengungsi ke Ladang padi dan Sukaramai Solok yang dijadikan Markas baru,mereka mengatakan tentara Pusat maksudnya APRI akan menyerang dan menembak kota padang dengan Mortir. , tetapi ayah tidak mau ikut dan tetap bertahan dirumah.

Tentara Dewan Banteng membeli alat-alat tulis di took percetakan Suamtera Bode dimana ayah saya sebagai direkturnya dan berjanji akan membaya besok di Sukaramai  Solok  .

(Dr Iwan)

Ketika Kota Padang terancam Jatuh ke tangan Pemerintah RI, kedudukan pemerintah PRRI dipindahkan  ke Padang Panjang.

Pemeindahan ini bersifat sementara  karena sebenarnya  sudah disepakati mencadangkan  Badaralam  di Hulu Sungai Batanghari sebagai tempat kedudukan  bila keadaan  mengharuskan. Badaralam diperhitungkan sangat tepat  dan cukup aman seperti yang pernah dialami Sjafruddin Prawiranegara  sewaktu  PDRI  tahun 1948-1949.

(Mauludin Simbolon)

14 April 1958

Buku Ahmad Yani Sebuah Kenang-kenangan “tulisan Ibu Ahmad Yani  dengan sekelumit kisah”

 

 

 profile Ahmad Yani.

Almarmuh Ahmad Yani menempa dan memantapkan Korps Banteng Raiders yang kemudian tahun 1958 dipimpinnya dalam operasi militer untuk memulihkan keamanan Sumatera Barat yang menjadi terganggu karena adanya PRRI.

Baru kira-kira setengah tahun Ahmad Yani menjabat jabatan  Deputi – I KASAD    Pemerintah mempercayakan kepadanya untuk melaksanakan tugas ke Sumatera Tengah.  Seperti dikatahui bahwa  apa yang terjadi   di wilayah tersebut cukup mencemaskan, suatu pergolakan sedang terjadi.Mereka menuntut dibubarkan Kabinet Djuanda, dan menyerahkan mandatnya  selakas mungkin,yang merupakan Tuntutan dengan nada mengancam.

Sebelum berangkat Operasi Ahmad yani mendapat perintah dan petunjuk dari Kepala Staf TNI Angkatan Darat, Juga dari Presiden Sukarno.

Sekembali dari luar negeri Ahmad Yani dipanggil oleh Presiden Sukarno, sat itu seorang staf Keduataan USA di Jakarta Tuan benson sedang bertamu dirumah Ahmad Yani, dan sebagai sifat orang timur Ahmad Yani bersifat ramah dengan tamunya . Tuan Benson itu memang sudah sejak beberapa waktu datang ke rumah Ahmad yani untuk mendapat informasi yang mereka butuhkan dari Ahmad Yani dan kalau tidak dari isterinya.

Ibu Ahmad yani benci karena yang dipikirkan mereka adalah kepentingannya sendiri saja.

Apa kata orang tentang keluarga Ahmad Yani ? Akrab dengan orang Asing.Bayangkan pada waktu itu seorang Amerika dalam bukunya menulis secara tersirat seolah-olah Tuan Benson itu membantu Ahmad Yani  menyusun rencana Operasi 17 Agustus, padahal Amerika waktu itu menyokong PRRI dan PERMESTA dengan isntruktur, senjata dan Peralatan Militer.

Aneh sekali,sebab dalam buku itu  pada buku itu juga tersirat bahwa Amerika pada waktu ikut mendorong-dorong lahirnya PRRI dan PERMESTA dengan tujuan untuk membendung Komunis yang semakin kuat saja di Di Indonesia.

Padahal akibatnya malah member kesempatan kepada PKI menjadi semakin kuat posisinya dikemudian hari.Berangkat ke Sumatera barat Ahmad Yani tenang saja seperti berangkat ke kantornya saja.

Pak Yani berangkat operasi tanggal 14 April 1958 dengan motto  “Bagi saya hanya ada dua alternatif, pertama : berkubur didasar lautan dan kedua ialah mendarat dikota Padang”.”

Kapal-kapal yang ada dikerahkan untuk mengangkut Pasukan, bahkan Tongkang-Tongkang 

(Ahmad Yani),

 

Foto DEPPEN

Iring-iringan kapal Tampomas .Timor,Lokan.Lacin,Lagong dan Menghua di Samudra Indonesia dalam rangka operasi 17 Agustus pada tanggal 14 April 1958     (Nugroho Notosutanto)

Kapal tampomas I

 

14 April 1958

Serangan dilaksanakan. Pemerintah pusat menyerang Padang. Padang dijatuhi bom-bom yang mengakibatkan kota ini hancur. Banyak rakyat padang yang mengungsi ke daerah Solok dengan membawa barang-barang seadanya yang dapat ibawa. Tokoh-tokoh PRRI ditangkap. PRRI mendapat dukungan Permesta. Akhirnya PRRI dapat ditumpas. Setelah PRRI berhasil ditumpas maka untuk mencegah munculnya pemberontakan serupa Suprapto diangkat menjadi Deputi Republik Indonesia Staf Angkatan Darat Untuk Wilayah Sumatra yang bermarkas di Medan. Peristiwa ini meninggalkan trauma bagi rakyat Sumatra.

(http://kolektorsejarah.wordpress.com/tag/prri/)

 

 Kota Padang relative tidak hancur, kecuali kantor Zeni  Di pinggir laut, Rumah Penduduk di Nipah dengan korban 2 orang saja, dan tidak ada pertempuran sama sekali, tentara PRRI sudah melarikan diri beberapa hari sebelum pendaratan APRI, (Dr Iwan)

Map (Peta Operasi militer PRRI dan Parmesta)

 

Menurut informasi dari teman saya  seorang mayor Angkatan Darat Pak Suko , ia sudah  mendarat dengan parasut DILOKASI SEKITAR Tabing  mendahului kedatangan Pak Yani (Dr Iwan)

15 April 1958

 Pagi harinya tanggal  ayah Dr Iwan berangkat ke Sukaramai dengan Paman untuk menjemput Uang untuk membayar alat-alat tulis milik Toko Percetakan dan Alat Tulis miliknya yang dibeli  oleh Tentara Dewan Banteng.

Saat ayah DR Iwan  berangkat menuju Sukaramai, jam delapan pagi tanggal 15 April 1958, terdengar tembakan Mortir yang bunyinya BOOM BOOM ….Sing..Sing…. ,bila bunyi mendesing berarti peluiru mortir sudah liwat dan selamat.

Kemudian siang hari suasana tenang, mulailah kami ,saya dan kakak naik spepeda melihat rumah yang jadi korban, kantor Tentara Bagian Zeni di pinggir pantai Padang hancur,

Rumah di Simpang Enam hancur dan  satu orang ibu dan anak meninggal  ,ini tembakan salah arah sebenarnya untuk Kantor Komdak (saat ini POLDA) PRRI di jalan Nipah ,satu lagi peluru mortir jatuh di belakang bioskop Karya tapi tidak meledak ,salah arah sebenarnya ditujukan kekantor Dewan Banteng didepan rumah ,syukur rumah kami selamat.

Sore harinya syukur ayah selamat pulang kerumah dan berhasil memperoleh pembayaran atas alat tulis miliknya, saya salut pada tentara Dewan Banteng atas kejujuran mereka karena biasa saat genting seperti itu umumnya main ambil semaunya dengan gratis.

Ayah membawa makanan lezat dari Sukaramai namanya Dendeng Batokok(diketok), masih saya ingat saat makan malam dengan teman kakak ,tembakan mortir kembali mulai lagi, pembantu rumah tangga Kami namanya EKA ,saat bunyi BOOM BOOM segera sembunyikan kepalanya dibawah tungku Masak dari beton tetapi bokongnya  masih kelihatan.

Segera para wanita Ibu ,kakak dan adik sembunyi diruang perlindungan yang sudah dipersiapkan satu minggu yang lalu dibuat dalam tumpukan karung berisi pasir mengeliling tempat tidur, tetapi karena serangan bom mortir tambah gencar,serta lubang perlindingan sangat pengap, Para wanita dari keluarga kami malam tersebut saya dan akak lelaki mengantarkan mereka berlindung dirumah Paman di kompleks  kampung Pondok Namanya (sekarang jalan Niaga), hal ini diprtuskan ayah berdasarkan pengalaman saat serangan pendudukan jepang tahnun 1942 yang lalu,

Warga  di kampung Pondok juga telah mempersiapkan diri dengan perlindungan Polisi Rakyat seperti penjaga kota masa hindia Belanda Stadt Wacht,antara lain seorang teman bernama  Johnson dating kerumah dengan seragamnya  (Dr Iwan).

15 April 1958

Gerakan untuk menduduki Balige ditunda sampai tanggal 15 April 1958,karena pasukan Butkit-16 dapat dipukul mundur oleh Tnetara PRRI di PintuPohan dan baru dapat ditembus ke Porsea pada hari ini.

Dalam gerakan ke Balige hanya dilami satu kali perlawanan di Laguboti pada waktu pasukan PRRI pada tanggal 15 April 1958 jam 02.00 sampai jam 04.00 pagi  berushaa untuk melakukan serangan balasan .

Sewaktu di Balige,telah tiba Kompi Bantuan Resimen 10 Siliwangi dan Battery”Dharma” dari Pusat Pendidikan Artilleri Cimahi ,yang telah berangkat bersama dengan Bataluion 322/Siliwangi dari Tanjung Priok,Battery Dharma ini beklum pernah mengikuti operasi diluar daerah Teritorium III Jawa barat.

Gerakan ke Siborong-Borong tertahan disebabkan jembatan anatara Balige_SiborongBorong dihancurkan tentara PRRI,setelaj jembatan Bailey  di Gurbur selesai dipasang oleh pasikan Zeni,barulah Batalion  322/Sikliwangi dapat melanjutkan gerakannya.Pasukan bukitBarisan ternyata pada tanggal 24 April 1958 sudah dapat menddudki  terlebih dahulu kota SiborongBorng sewaktu kompi A/322 siliwangi masih berada 7 kim dari siborongBorong.

(Djamin Ginting)

16 April 1958

Foto  DEPPEN

Kapal Tampomas memberikan isyarat kepada Kapal Perang ALRI  di perairan Padang sebelum pendaratan dilakukan, 16 April 1958                                                   (Nugroho Notosutanto)

Setelah berlayar  selama lebih kurang enam puluh jam, pada tanggal 16 April Jam  7.00 Konvoi Ahmad Yani tiba

 

 di Pulau Pandan

(Pulau di perairan Kota Padang , terkenal dengan pantunnya Pulau Pandan Jauh Di tengah dibalik Pulau Angsa Dua, Hancur Bandan Dikandung Tanah Budi baik Dikenang Jua-Dr iwan)

, diPulau Padan Kol Ahmad yani menunggu Kapal-Kapal Lain yang berangkat  dalam Konvoi gelombang pertama. Kiranya cocok juga bila pulau  itu ditetapkan sebagai tempat pertemuan (Redenvouz), dari situ tampak jelas

 pantai padang didepannya.

Melalui Peta daerah sitempat Ahmad Yani beserta stafnya  membuat perencanaan  yang penting bagi berhasil atau tidaknya operasi tersebut. Ahmad yani membagi daerah sepanjang tempat pendaratan menjadi tiga daerah yaitu

  1. Area Bantuan (Support): daerah dimana Kapal dapat membantu dengan tembakan
  2. Area Transport : daerah dimana Kapal Pengangkut  berkumpul untuk memudahkan persiapan pendaratan.
  3. Area Demontrasi: daerah dimana kapal-kapal mengadakan demonstrasi seolah-olah akan mendarat ditempat itu.Sesuai dengan namanya kegiatan diarea demonstrasi benar-benar membingungkan PRRI sehingga timbul berbagai dugaan  dan gerak-gerik yang dibuat kapal –kapal demostrasi tersebut. Ada yang mengira pendaratan dilakukan di teluk bayur,ada yang mengira di Padang dan ada yang mengira di Tabing.

Menurut rencana Operasi 17 Agustus yang telah ditetapkan pendartaan akan dilakukan 3 Taraf yaitu:

A.Taraf Pertama

Babak I : Pendaratan atau pembuatan “Beach Head”

Babak II : Gerakan mendekat Lapangan terbang tabing Kota Padang dan Pelabuhan Teluk Bayur , RTP II,RTP III.Batalyon KKO,Batalyon PGT dan Kompi RPKAD ditambah dengan gerakan menuju Sijunjung dan Muara mahat oleh RTP I

Babak III : Konsolidasi Pasukan

B.TARAF KEDUA

Melakukan gerakan ke Korta/daerah yang belum dibebaskan

C.TARAF TIGA

Babak I:Konsolidasi Pasukan

Babak II: Gerakan kekota daerah yang belum dibebaskan

Babak III : Konsolidasi daerah

Hari Pendaratan ditetapkan 17 April 1958 karena menurut info yang diterima tanggal 18 April 1958  dua buah pesawat Asing akan mendarat di Padang membawa perbekalan senjat. Jadi Ahmad Yani mau mendahului . Pendaratan akan dilakukan ditempat yang disebut

“Pantai Merah” lebih kurang 1 km dari kelapangan terbang Tabing atau hanya 9 km dari kota Padang.(saat ini disebut Padang beach Tabing, menurut informasi saat itu pendaratan di tepi pantai dekat Muara Sungai batang Kuranji  -Dr Iwan)

 

 

Eks lapangan terbang tabing

(Ahmad Yani)

17 April 1958

Operasi 17 Agustus dengan sasaran Sumatera Barat dipimpin oleh Kolonel Ahmad Yani berhasil menguasai kota Padang pada tanggal 17 April 1958

Urutan Kegiatan 

Jam 05.00

Dilakukan penembakan oleh Kapal Perang TNI AL ke daerah tempat pendaratan selama satu jam

“Beach head “lokasi  1km dari  lapangan terbang Tabing

Tempat Pendaratan sebagai Pancangan kaki ini disebut  “Beach Head”

 

Foto DEPPEN

Kapal Perang ALRI tiba di perairan Ulak Karang Padang ,17 April 1958

(NUgroho Notosutanto)

Tembakan juga diarahkan pula ke tempat-tempat yang diperkirakan sebagai pusat Senjata bantuan PRRI sampai sejauh 4 km kearah Pedalaman.

Dua Puluh Lima menit kemudian  Pesawat-Pesawat Red Flight  TNI AU melakukan penembakan  dan pemboman ditempat yang sama.

Kemudian  selama 35 menit “Blue Flight”Pesawat TNI AU  mengadakan penembakan yang terutama ditujukan ke

 

Lapangan Terbang Tabing dan sekitarnya.

Penembakan ini bertujuan untuk melindungi pendaratan

 pasukan (terjun Payung) dari Udara

(Ahmad Yani)

Foto DEPPEN

Tembakan perlindungan untuk melindungi pasukan  yang didaratkan di Ulak Karang,17 April 1958(Nugroho Notosutanto)

 

Kisah Pendaratan APRI di Kota padang 17 April 1958

Sejak pagi hari beberapa pesawat terbang melayang-layang diudara, penduduk kota Padang sangat gembira, karena ada pengumuman diradio bahwa ada bantuan pesawat terbang dari Armada ke tujuh Amerika Serikat yang sudah mangkal di Perbatasan dekat kepulauan RIAU, untuk menyelamatkan ladang minyak Caltex di Rumai Pakan Baru milik mereka, tetapi kemudian ternyata itu pesawat APRI dari operasi Militer untuk melindungi pendaratan Tentara Payung di Lapangan Terbang Tabing dan pendaratan Marinir

 dan Banteng raiders  dengan kapal Amfibi di wilayah dekat lapangan terbang di muara sunggai Batang Kuranji di Air Tawar dekat kompleks UNAND (saat ini UNAS) dan Universitas Bung Hatta

Tentara PRRI lari liwat selokan dan berusaha menembak Kapal Terbang dengan senjata modern hadiah dari luar Negeri seperti Thompson, juga ada Basoka dan senapan Juggle Riffle serta Mitralyur dsbnya yang penulis tidak kenal namanya ,yang didaratkan liwat kapal selama dua minggu yang lalu dalam kontainer yang tiba di pantai Padang,banyak rakyat yang menyaksikan termasuk penulis karena tempat itu dekat kediaman.

(Dr Iwan)

Tulisan Tangan.

Suwil Dt Bandaro

tentang Pendaratan APRI Di Padang Tangal 17 April 1958 yang rumahnya di Tepi Bandar Belakang Olo.

Koleksi Prangko alm Suwil saya beli dari keluarganya isteri dan anaknya ahmad suwil ,dan  dalam dokumennya ditemukan catatan pribadinya tentang pendaratan APRI dipadang saat PRRI(Dr Iwan)

Keadaan di Kota padang hari rabu jam 13.15 (tanggal 16 April 1958)dari pantai Padang mulai tembakan dari laut canon dan mortir kekota padang sejak malam hari mulai setengah satu dan dua,sampai jam 7  dirumah terdengar terus dengan dentuman yang dahsyat dari darat dan lautan balasan bertambah-tambah saja bertubi-tubi kedarat.

Kira-kira jam 10 masuk kedalam lubang perlindungan karena bunyinya sangat dahsyat dan dari darat tidak sanggup lagi memberi perlawanan maka dari laut tidak berhenti-hentinya sampai jam 6 pagi tembakan kedarat.

Maka ketika sedang rebut-ribut dentuman itu muncul kapal terbang dengan aksinya yang dahsyat membikit panik , dan hilang akal penduduk dan hamper tidak kelihatan lagi Tentara PRRRI dan akhirnya jam 11 siang siang terdengar kabar tentara Pusat telah mendarat(koleksi dr Iwan)

Sementara penembakan-penembakan dari laut  dan udara  berlangsung Batalyon KKO TNI AL melakukan pendaratan  untuk membuat daerah Pancang kaki pada jam 7.00 semua  pasukan KKO sudah selesai  mendarat. Jadi dilakukan hanya dalam 20 menit saja .

Bersamaan dengan bergeraknya pasukan KKO  itu dilapangan terbang Tabing Pasukan PGT TNI AU dan satu kompi RPKAD TNI AD diterjunkan .

Untuk membantu kelancaran pendaratan 4 buah Mustang , 4 buah Mitchelll, 1 Albatros dan 12 Dakota membantu , itu berlangsung selama waktu 4 jam.

Ketika penerjunan dari udara berlangsung mendapat tembakan-tembakan dari bawah, ini menyebabkan gugurnya seorang anggota PGT.

Pendaratan dari laut jam 08.50 yang diawali oleh Batalyon KKO yang berturut-turt diikuti oleh Batalyo 310,Batalyon 438, Batalyo 440, Komando RTP III dan Komando RTP III.

Hampir 3 ½ jam  pendaratan itu berlangsung  baru selesai jam 12.00 siang.

Foto DEPPEN

Kolonel A.Yani dan Let.KOl.Wiradinaya menyaksikan pendaratan  APRI di Padang 17 April 1958

(Nugroho Notosutanto)

 

Foto pasukan pendaratan APRI turun dari kapal menuju kota Padang

(Umar wirahadikusuma)

Komado Operasi 17 Agustus  mendarat pada jam 13.00 menuju Beach Head dan bertemu ditempat  itu dengan Komandan RTP II dan RTP III.

Demikianlah sementara Pendaratan dilakukan, secara kebetulan Ahmad Yani melihat seorang Prajurit dengan susah payah memikul kopor. “ Hai Apa Itu” gertaknya, Prajurit menjawab”Kopor Pak Darman Pak ” “ Buang” perintah  Pak Yani,maka dibuanglah kopor Pak Darman. Sekarang dapat kita menceritakan kembali segala sesuatunya dengan tertawa. Memang membawa kopor di waktu pendaratan yang disertai temmbakan gencar memang mengelikan seolah-olah seperti akan berpiknik saja.

Foto pendaratan pasukan AD di Ulak karang Padang tanggal 17 April 1958

(umar Wirahadikusuma)

Foto DEPPEN AL

Sebagian pasukan yang didaratkan  di padang(ULak Karang)

(Nugroho Notosutanto)

 

 

Pantai air tawar tempat pendarat APRI

Setelah Batalyon KKO mengamankan Beach head ,Batalyon 510 dengan komando RTP II bergerak menuju jalan besar Padang – Lubuk Alung, terus ke Tabing yang terletak di arah menuju Lubuk Alung.

Di Tabing pasukan tersebut membuat perkemahan sambil ikut memperkuat Lapangan terbang yang telah diduduki oleh Batalyon PGT dan kompi RPKAD.

 

Foto DEPPEN AL

Mayor KKKO Budoyo memberikan perintah operasi-menerangkan peta

(Nugroho Notosutanto)

Batalyon 438,Batalion 440 dan komano RTP III  melalui jalan besar bergerak menuju Padang, disusul oleh Komando Operasi 17 Agustus.

Foto DEPPEN AL

Pasukan KKO bergerak menuju kota padang

Menyebrang jembatan  Air Tawar

(Nugroho Notosutanto)

 

Foto pasukan TNI sedang bergerak membebaskan kota padang  dalam rangka penumpasan pemebrontak PRRI di Sumatera barat

(Umar Wirahadikusama)

Dalam perjalanan inilah tiba-tiba muncul satu peleton  Pasukan PRRI bersenjata lengkap beserta du pucuk 12,7 menyerahkan diri ke Ahmad Yani.

Apabila pasukan tersebut berpura-pura menyerah Pak yani beserta Staf  sulit terhindar dari bahaya.

Tetapi sebagaimana dikatan teman-temannya karena kepribadiannya yang percaya kepada diri sendiri, tanpa curiga Ahmad yani menerima penyerahan itu, bahkan  menempatkan peleton yang baru menyerah itu  sebagai pasukan pengawalnya malahan menjadikan salah seorang dari anggota peleton yang menyerah itu sabagai pengawal pribadinya.,

secara logika tindakan Ahmad Yani tersebut membahayakan dirinya maupun stafnya, karena sewaktu=waktu mereka dapat berbuat jahat dan membunuh Ahmad yani., tetapi keraguan-raguan tersebut dapat dihilangkan karena Ras percaya diri Ahmad Yani.

Ternyata kepercayaan tersebut tidak sia-sia, selain itu juga kebiasaan Ahmad Yani menempatkan dirinya dibelakang Komanda batalyon yang mengikuti kompi kawal terdepan, inipun dilakukannya seaktu menuju Tabing dan Padang.

Secara psikologis anggota pasukan  yang merasa berada didekat atasannya ,hatinya menjadi besar dan cendrung berani berkorban untuk menyempingkan rasa takut bahaya.

Kota Padang segera dapat dikuasai hari ini juga, dan Ahmad yani beserta stafnya memasuki kota jam 17.00.

Malam itu Ahmad Yani berkemah

di Gurbenuran Padang,

 tetapi kira-kira tengah malam  perkemahan dipindahkan  lebih ketengah kota karena adanya tembakan-tembakan mortar dari PRRI.

 (Ahmad Yani)

 

KISAH PENYERANGAN KANTOR DEWAN BANTENG MALAM HARI 17 APRIL 1958

Malam hari penerangan lampu kota Padang dimatikan , saya,ayah Djohan  dan kakak Edhie serta pembantu Lelaki si Panjang  (sudah menjadi pembantu sejak saat Ayah masih kecil).

 Suasana sangat sepi tidak ada bunyi apapun, tidak ada satupun manusia dan kendaraan dijalan depan rumah, gelap mencekam .

 

Kami berempat melihat dari

 ruangan tamu depan rumah dengan  jendela  kaca ke arah Kantor Dewan Banteng,pembantu si Panjang ketakutan dan ia  menepuk nyamuk yang  mengigitnya sampai dilarang ayah untuk jangan membuat suara dengan berkata bahwa bila ribut akan ditangkap dan dibunuh Tentara Pusat (maksudnya APRI)

Sekitar jam 11.00 malam, tiba-tiba terdengan bunyi ledakan beberapa buah granat diiringi suara derap sepatu bot tentara yang berlari , saya melihat tentara dengan wajah yang sudah digelapkan dan memakai penyamaran berlari berliku-liku menuju kantor Dewan Banteng didepan rumah , setelah setengah  jam suara ribut tembakan ,kemudian suasana jadi sunyi lagi dan Kamipun pergi tidur.

(Dr Iwan) 

Penulis Dr Iwan paling kanan difoto dari rumah dan kelihatan Kantor dewan Banteng dengan  patung Bundo kandung.foto tahun 1956.

 

Dan foto kakak dan adik perempuan dengan tetangga di depan rumah kelihatan kantor Dewan Banteng foto tahun 1956

Foto DEPPEN

Pasukan KKO didepan Kantor Dewan Banteng

( jalan Bundo kandung didepan rumah -Dr Iwan)

setelah kota Padang diduduki tahun 1958

(Nugroho Notosutanto)

 

Dr  Iwan  berdiri nomor dua kanan dihalaman rumah jalan Bundo Kandung 16  yang lokasi  didepan

Kantor Dewan Banteng(sebelumnya adalah Panti Asuhan Bundo Kandung),sekarang  Kantor Polisi Militer Korem SUMBAR. Foto ini dibuat  sekitar tahun 1959.

 

 

Dilokasi inilah  saya  mengntip dari jendela operasi 17 Agustus menyerbuan kantor Dewan banteng

Dilokasi ini para tentara Banteng Raiders beristirahat setelah menduduki kantor dewan Banteng tanggal 17- 18 April 1958

(foto Dr Iwan  nomor dua dari kanan dengan Kakak dan ibu tahun 1953)

Foto kantor Dewan Banteng yang telah diubah jadi markas POM KOREM SUMBAR tahun 2011,atap dan bangunan masih sama, tetapi patung bundo kandung sudah tidak ada lagi.(Dr Iwan)

lokasi rumah Dr iwan yang sudah dijual dan dijadikan hotel ambacang yang ambruk karena gempa tahun 2010 difoto tahun 2011,disinilah para tentara Banteng Raiders dulunya beristirahat setelah merebut kantor tersebut ,dan mandi disini karena mereka takut diracun sumur di kantor tersebut oleh PRRI

Kekecewaan Orang Amerika

Kekecewaan orang Amerika  menyebabkan penghentian  pengiriman bantuan  persenjataan, meskipun  sudah dijanjikan . Demikian pula halnya dengan janji disediakannya  pesawat pembom  jenis B-26  yang tidak kunjung jadi kenyataan

 (Maludin simbolon)

 

Inilah manuver militer dan intelijen RI terbesar setelah merdeka.

Tentara pusat (APRI) atau “tentara Soekarno”, mengerahkan seluruh angkatan perang (darat, laut dan udara dan kepolisian).

Kekuatan APRI waktu pertama diterjunkan mencapai lebih 20.000 pasukan.
Mereka umumnya dari Satuan Diponogoro, yang waktu itu kebanyakan sudah disusupi oleh kelompok merah (komunis).

 

Semantara Kekuatan PRRI pada tahap awalnya disokong oleh CIA.

Namun karena sama sekali tidak menduga dan karena itu tidak siap untuk menghadapi perang ’sungguhan’, maka kota-kota di Sumatera Tengah dengan mudah dapat diduduki.

 

Pusat perlawanan terutama terjadi di Sumatera Barat dan Riau serta mitra PRRI, yaitu Permesta di Sulawesi.

Para pejuang PRRI secara lambat laun tapi pasti terpaksa mundur ke pedalaman dengan melancarkan perang gerilya.

(DR Mestiak Zed)

Pada tanggal 17 April Presiden Sukarno telah mengirim pasukan udara ke Sumatera bagian tengah di daerah dekat ladang minyak milik Amerika Caltex Pacific Oil Company.

 Pasukan pemerintah telah bertemu hanya resistensi lemah dari pemberontak.

Pada hari surat ini ditulis, Allen Dulles telah melaporkan kepada Dewan Keamanan Nasional bahwa pemberontakan itu telah “praktis runtuh,” meskipun tindakan masa depan oleh pemerintah Jakarta yang sulit diprediksi

Source sukarnoyears.web blog

Original info

On April 17 President Sukarno had sent airborne troops into central Sumatra in the area near the oil fields of the American-owned Caltex Pacific Oil Company. The government forces had met only feeble resistance from the rebels. On the day this letter was written, Allen Dulles had reported to the National Security Council that the rebellion had “practically collapsed,” although future actions by the Jakarta government were difficult to predict

 

 

18 April 1958

Keesokan harinya tanggal 18 April 1958 jam enam pagi waktu melihat keluar halaman rumah, sungguh kaget ada lebih kurang limaratus tentara Banteng Raiders tidur bergelimpangan dihalaman rumah yang luasnya 3500 meter persegi,

 

 tidur pulas dengan senjata dan ranselnya dan yang lainnya mandi dengan telanjang terjun kedalam sumur air tanah milik kami sampai airnya habis terkuras,

 

tetangga kami yang tinggal dipaviliun rumah (Ani,Eng Siau dan Eng Hoa),Adiknya Hok tiauw dan Hok Sin  bercerita bahwa putrinya tertawa cekikikan karena mengintip tentara Banteng Raiders mandi telanjang masuk sumur sampai dilarang oleh ayahnya.

Saya salut komandan Banteng Raiders dan anak buahnya tidak membangunkan kami, dan dengan ramah meyalami kami semua, mereka berkata kami sudah sepuluh hari tidak mandi,mohon maaf air sumurnya kotor dan habis karena anak buahnya sangat gerah,

Rupanya tentara PRRI tidak memberikan perlawan,mereka sudah lari keMarkasnya yang baru di Sukaramai Solok dan Muarapanas.(Dr Iwan)

tentara PRRI termasuk penjaga kota(stadwach) sipil sudah menghilang saat pendarat tanggal 18 April ,saat itu mereka lari menyusuri selokan menuju keluar kota, menurut informasi mereka lari ke lembah anai dan ladang padi menuju pertahan mereka di Sukaramai

(Dr Iwan)

APRI datang menyerang

Masih terbayang di benak saya, beberapa waktu setelah pengumuman dibentuknya Pemerintah Revolusioner Republik Indonesia, diikuti penyerangan oleh tentara Pusat ke Padang.
Nampaknya tidak mendapat perlawanan yang heroik, bahkan adanya batalyon yang datang menyambut kedatangan tentara Pusat.
Saya tidak mengerti kenapa demikian.

Prof. DR. Ir. Zoer’ni Djamal Irwan, MS

18 April 1958

Pagi harinya Tentara Banteng Raiders dari APRI saya lihat patroli menyisir kota Padang dalam bentuk regu berjalan berbaris satu persatu dengan senjata Karaben dengan sangkur terhunus ,kasihan senjatanya masih kuno sisa perang dunia kedua jauh dibandingkan dengan milik tentara PRRI.

Siang hari rakyat sudah mulai ramai dijalan  dan kemudian diperintahkan agar selama satu bulan sampai 17 Agustus 1958 Bendera Merah Putih  harus dikibarkan  siang hari dan diturunkan malam hari.

Sungguh saya terharu melihat perjuang Tentara APRI dalam rangka melindungi Sang Saka Merah Putih,kendatipun PRRI tetap mengunakan bendera yang sama .

(Dr Iwan)

Foto DEPPEN

Pengiriman makanan ke darat dengan kapal pontoon di panatai Padang,18 April 1958

(Nugroho Notosutanto)

Dari foto diatas  terlihat  ponton berisi kardus bahan makanan

di muara batang arau padang depan gunung Monyet.

(Dr Iwan)

Foto senjata yang berhasil dirampas dari tangan pemeberonatak PRRI di suamtera barat

(Umar Wirahadikusuma)

20 April 1958

Jatuhnya Kota Padang  dan kemajuan Gerak Cepat  pasukan Pemerintah Pusat  menyebabkan pemimpin PRRI terpencar, Kolonel Mauludin Simbolon mundur ke

 Alahan Panjang (kab Solok), yang disusul oleh rombongan Burhanuddin Harap 

dan kemudian bersama-sama

Ke  Muaralabuh

(Mauludin Simbolon)

Dr Iwan selama enam tahun dari tahun 1973 sampai 1979 bertugas diwilayah PRRI ini sebagai doketr polres solok dari Polda SUMBAR, dan melihat sendiri bagaimana situasi wilayah dan penduduk yang eks PRRI disana.                                                    (Dr Iwan)

Dua hari setelah pendaratan APRI dikota Padang(20 April 1958),suasana kota padang sudah hidup lagi rakyat  mulai melaksanakan kegiatan,dan terlihat pasukan patroli  per regu berjalan satu persatu dalam barisan berjalan menyisir jalan membawa senjata api (Karaben).

(Dr Iwan)

Senjata PRRI  dirampas oleh APRI di Padang April 1958

(Nugroho Notosutanto)

 

Di Sikapuah daerah Palangki
Bukit Putuih berhutan sepi
Basis penting pejuang PRRI
                                                                                                        Di situ Jurnalis hampir mati

 

Ketika Jurnalis seorang diri
Menjemput makanan untuk konsumsi
Tentara Pusat telah menanti
Dia ditembak berkali kali

Jurnalis terkejut tak bisa menghindar
Lalu berlari menyusup belukar
Sambil mengucap kalimat istigfar
Astagfirullah, Allohu akbar

Walau kepala sedikit pusing
Jurnalis berlari ke arah tebing
Ke tepi bukit agak miring
Kemudian melompat berguling-guling

Musuh melacak ke dalam hutan
Mengikuti tetes darah berceceran
Tapi takdir pertolongan Tuhan
Darah dibersihkan oleh hujan

Ketika dicari tentara pusat
Jurnalis sembunyi, tidak terlihat
Hutan rimba sangat lebat
Telah terbukti sangat bermanfaat

Tanda bukti orang beriman
Tidak menduakan kehendak Tuhan
Walaupun berat memikul beban
Anggaplah itu datang Cobaan

Sebelum ajal, berpantang mati
Jurnalis selamat sampai kini
Hidup di kampung sebagai petani
Menjadi sumber kisah PRRI

Basa bernama Engku Jurnalis
Mantan Kokam, anti Komunis
Dunsanak senagari Irlan Idris
Orang Kinari kawan penulis

Waktu negara dalam bahaya
Soekarno berbuat semena mena
Jurnalis berusia masih remaja
Dia berniat masuk tentara

Pergi mendaftar anggota DBI
Pasukan khusus bagian Infantri
Mampu menembak sambil berlari
Latihannya berat petang dan pagi

Sebagai wakil komandan Regu
Jurnalis ingat tanpa ragu
Nomor Register tercatat di buku
0181

Komandan regu bernama Edi Kapoyos
Orang Minahasa bersifat polos

Di Ladang Padi

 mendirikan Pos
Guna menghambat musuh menerobos

Penjagaan di Ladang belum siap
Menghadapi musuh bersenjata lengkap
Pertahanan jatuh dalam sekejap
Kapoyos terkepung lalu ditangkap

Waktu ditangkap di Ladang Padi
Kopoyos diikat sambil diinterogasi
Menjadi sumber banyak informasi
Tentang anggota pasukan DBI

Karena komandan telah hilang
Jurnalis mundur ke arah Talang


Untuk terus ikut berperang
Melawan Pusat ikhlas berjuang

(Am St Dt Soda)

 

23 April 1958

Ketika Pulang dari mengadakan Inspeksi dari Solok setelah kota ini dikuasai, Rombongan Ahmad Yani terjebak.

Heri telah jam 15.00 berarti sebentar lagi ,matahari akan terbenam diarah barat.

 

Rumah gadang di Kota solok

Sebagaimana situasi  saat ini masih panas bari sepuluh hari  setelah  pendaratan , sehingga emosi tak terkendali dapat terjadi  melampaui perkiraan sebelum nya.

Walaupun demikan Ahmad yani  seperti biasanya tetap tenang  menghadapinya. Dengan ketenangan yang dimilikinya Ahmad yani turun dari kendaraan , segera member perintah untuk menyelidiki dari mana asal tembakan.

Dalam waktu singkat keadaan dapat dikuasai kembali seperti biasa, Para Penghadang mengundurkan diri sementara Rombongan Ahmad yani  menderita kesusakan satu Jeep, dan Perjalanan akhirnya dapat dilanjutkan dan sampai di padang dengan selamat.

Seminggu setelah pendaratan di Padang, sebagai langkah  pertama dikeluarkan Surat Keputusan  yang menyangkut penyelesaian  Secara Administratif  anggota  Militer maupun Sipil bekas anggota KDMST (Komando daerah Militer Sumatera Tengah) . Inti dari pada Suart Keputusan itu menyebutkan bahwa Anggota Militer dan Sipil yang mengabungkan diri kepada Komando Operasi 17 Agustus  sebelum bertempur terlebih dahulu diaktifkan kembali , sedangkan soal Gaji  disesuaikan dengan Ketentuan Yang ditetapkan.

Ahmad yani tidak memusuhi Rakyat  Sumatera Tengah, tugasnya adalah mengakhiri PRRI didaerah ini untuk menyelamatkan Negara Kesatuan Republik Indonesia yang telah di proklamirkan pada tanggal 17 agustus 1945

(Ahmad Yani)

Menyusul kota diduduki APRI
Tiada perintah, tanpa koordinasi
Ke kampung kampung rakyat mengungsi
Berbondong bondong berjalan kaki

Ke Sitalang pergi mengungsi
Didalam kecamatan Ampek Nagari
Disitu bermukim sanak famili
Mereka bekerja sebagai petani

 

Nagari Sitalang Barajo Sorang
Di kaki gunung beriklim sedang
Penduduk ramah sangat periang
Kepada dunsanak sangat sayang

Semua orang taat beribadah
Untuk kebaikan mau mengalah
Perbuatan mudarat langsung dicegah
Ketika berusaha pantang menyerah

(Nagari web blog)

 

 

 

 

Foto DEPPEN

Pertempuran Di Lubuk Alung 23 April 1958

(Nugroho Notosutanto)

 

24 April 1958

Foto DEPPEN

Lubuk Alung dikuasai APRI 24 April 1958

 

Puncak kiambang setelah sicincin.nostalgia minum es kelapa dengan almarhum ayah tercinta bersama kakak Dr Edhie yang meneteskan air mata bila melihat tempat ini.

(Dr Iwan)

25 April 1958

Sampai akhir April 1958 sudah banyak kota-kota besar didaerah Sumatera barat dikuasai APRI, seperti yang terletak diselatan Kota Padang kecuali

Teluk Bayur.

Maka yang terjauh adalah

Muaralabuh,

Daerah ini terkenal sebagai daerah surplus beras

 

dan juga merupakan daerah penghubung ke Sumatera Selatan

(Jambi Kerinci

terus ke

 sarolangun jambi

 Sarolangun regency tempo dulu  -Dr iwan).

 

Disebelah timur dikuasai pula kota Solok dan  Ombilin singkarak .

Lembah anai

Sedang disebelah Utara Padang gerakan sudah sampai ke Lembah Anai yang kira-kira 9 km dari Padang Panjang.

 

Foto DEPPEN

Batalio 510/Brawijaya menuju Pariaman 25 April 1958

(Nugroho Notosutanto)

Kota Pariaman yang terletak disebelah barat daya Padang dikuasai 25 april 1958

Dalam kurun waktu yang trelatif singkat tugas yang dipikul Ahmad yani telah berhasil dengan baik.dalam melakukan inspeksi ke front terdepan 

Ahmad yani sering kurang memperhatikan hal-hal yang perlu diperhatikan seperti berangkat dengan pengawalan besar, mungkin maksudnya untuk menghindari perhatian sehingga orang tidak mengira kalau rombongan itu adalah rombongan Komandan Operasi. Lagipula dengan rombonga yang kecil  bergeraknyapun lebih cepat.

Kebiasaan ini sering mengejutkan pasukan yang diinspeksinya  serba mendadak, kalu tadi masih ada ditempat lain, tiba-tiba sekarang muncukl disini, tak lama kemudian sudah berada lagi dimarkas.

Suatu waktu Ahmad yani bertemu dengan seorang  mengaku Wartawan Asing, dengan mengaku wartawan didaerah operasi militer sedang berlangsung tentu dia akan selamat. Lepas dari bahaya demikian menurut si wartawan.

Ahamd yani yang telah mengetahui informasi yang diterimanya,bersikap seakan-akan  percaya dan membenarkan pengakuan si orang asing ini.

Bila  ia membekuk orang asing itu yang sebenarnya  dibayar sebagai instruktur ,jadi bukan Wartawan tentu dapt saja.tetapi disinilah letak keaneh Ahamd Yani.

Ia tidak berbuat demikian, orang asing itu dilepaskan dan dibiarkan meneruskan perjalanannya ke Bukittinggi  yang sewaktu ini masih dikuasai PRRI dan kepada wartawan tersebut Ahamd yani menitip pesan  tolong sampaikan salam say kepada rekan-rekan disana , mereka semua adalah  saudara-saudara kami dan teman baik kami.

Kota-kota yang telah dikuasai disebelah utara Padang berturut-turut

 

Lubuk Alung,

 

Sicincin,

Kayu Tanam

Dan

 

 Kandang Empat pada tanggal 25 April 1958.

Dilihat dari peta sebenarnya jarak kandang Empat dengan Padang panjang  lebih kurang 11 km lebih dekat dari Ombilin Singkarak , tetapi berdasarkan pengalaman perang kemerdekaan dulu 

jalan Kandang empat ke padang Panjang  sangat berbahaya  karena

 

 

jalannya diapit oleh hutan pehunungan  dan berdampingan dengan lembah(lembah Anai-Dr Iwan) yang merupakan tempat ideal untuk penghadangan ,karena itu gerakan menuju utara berhenti di kandang empat ,sementara yang dilanjutkan yang dari arah

 

  solok-ombilin singkarak menuju padang Panjang.

Tidak semua rakyat didaerah Sumatera Barat  berada di pihak PRRI , sperti Ketika Kota Pariaman dikuasai pasukan batalyon 140 pimpinan Mayor Nurmatias  dan tokoh lainya seperti Komisaris Beasr Kaharuddin Datuk Rangkajo Besar  langsung memberikan bantuan, kesediaan mereka  member bantuan itu diterima dengan tangan terbuka oleh Ahmad Yani, bahkan sebagai  tindak lanjut merekapun diberikan kepercayaan tugas-tugas  yang bertujuan mempercepat penyelesaian keadaan .

(Ahmad yani)

Foto DEPPEN

Let.Kol. Sobirin Mochtar dan rombongan meninjau  jemabatan yang rusak di Pauh Kambar,25 April 1958

Jembatan Pauh kambar saat ini

 

 

Seminggu setelah APRI mendarat, saya  bertemu dengan patroli tentara APRI dua orang dengan mengendarai Jeep willys sedang melihat peta

di jalan Belakang Tangsi samping Gereja Teresia Padang , saat di tanya mau mencari apa, Tentara APRI marah katanya,anak-anak pergi pulang kerumah, saat itu saya  berusia 13 tahun.

(Dr Iwan)

Foto DEPPEN

APRI  Memasuki kota Solok  25 April 1958

(Nugroho Notosutanto)

 

25 April 1958

Kemudian tentara Pusat mulai menyerbu daerah-daerah pedalaman. Akhirnya sampailah di daerah kami di Sawahlunto. Semua kantor di kota Sawahlunto diduduki oleh tentara Pusat dan para pegawainya mulai mengungsi. Begitu pula orang-orang dari kantor kabupaten yang mengungsi, mereka berdatangan ke kampung saya, tepatnya ke rumah saya.Mereka makan dulu setelah itu, lalu berangkat lagi entah kemana.

Ibu dengan ibu-ibu seksi G sibuk memasak dan mendirikan Dapur Umum, untuk memberi makan.
Para pengungsi yang datang dari kota atau dari daerah lainnya, ada yang membawa berbagai macam peralatan kantor.Bahkan Bupati sekeluarga juga mengungsi kerumah saya, dan mereka menginap di rumah saya.

Hanya sekitar seminggu.Bupati tidak sanggup pindah atau mengungsi ke tempat lain, karena beliau ini sudah tua, dan juga bukan orang asli dari desa saya, keluarga mereka berasal dari Bukittinggi.Istrinya minta maaf dan mohon izin untuk kembali ke Sawahlunto.Setelah berunding, akhirnya mereka kembali ke Sawahlunto dengan membawa bekal yang cukup, terutama beras.

Dalam situsi yang tidak menentu ini, kami sudah tidak bersekolah lagi, sekolah pun semuanya sudah ditutup.Saya juga tidak kembali sekolah ke SMA Batusangkar.Situasi yang tidak jelas.

Orang-orang banyak yang datang-pergi; Bapak saya sudah pergi mobile dengan urusan pemerintahannya.apak waktu itu diangkat menjadi camat militer PRRI.Waktu itu rahasia daerahnya ada di tangan Bapak, jadilah Bapak orang yang paling di cari-cari di desa saya oleh tentara Pusat.

 

Banyak rahasia ada pada beliau, akan tetapi kami tidak mengetahuinya karena beliau tidak pernah menceritakan kepada kami anak-anaknya.Itu semua merupakan hal-hal yang bersifat dinas dan rahasia.

Semenjak Bapak pergi mobile dengan pemerintahannya, kami tidak tahu lagi di mana beliau berada.Konon beliau selalu berpindah-pindah bersama stafnya dari satu desa ke desa lainnya.
Beliau jarang sekali pulang kerumah.Kadang kadang Bapak pulang pada malam hari.
Pada saat Bapak pulang, kami sangat senang berjumpa dengan beliau dan mendengar cerita serta perkembangan perjuangan PRRI.

Pada awalnya kami senang sekali, karena perjuangan PRRI selalu mengalami kemajuan.
Prof. DR. Ir. Zoer’ni Djamal Irwan, MS

 

 

 

 

26 April 1958

Saya  melihat Tukang rokok didepan rumah,dekat bekas  kantor Dewan Banteng yang sudah dijadikan Markas POM TNI, dimarahi dan dihukum push up dan menghormat Bendera Merah Putih karena bendera dan tiangnya jatuh dihembus angin,juga malamnya ayah penulis dibawa Ke KODIM Padang untuk menerima teguran dan menanda tangani pernyataa agar tidak lupa menurunkan bendera Merah Putih mmalam hari yang ditaruh di tingkat dua dekat jendela Toko Percetakan dan Alat Tulis miliknya.(Dr iwan)

Selain itu suatu pagi saya melihat beberapa panser berangkat dari ex  kantor Dewan Banteng didepan rumah saya, saya dengan menuju Ladang Padi Indurung untuk menyerang  ke

 Sukaramai Talang solok, tetapi sore harinya seluruh panser itu dalam keadaan rusak di tarik dengan truk kembali ke Markas, rupanya mereka tak berhasil.

Menurut informasi Komanda Depo pendidikan Sukaramai saat saya bertugas di Solok dan mengajar di pendidikan tersebut Pasukan Brimob berhasil membebaskan Sukaramai, dan mulai saat itu dimanfaatkan sebagai Depo Pendidikan brimob POLDA SUMBAR

Komandan Depo Pendidikan brimob tersebut tahun 1978 tidak mau menyerahkan kompleks Sukaramai kembali kepada Kebun Raya Bogor, karena mereka merasa berjasa merebut area tersebut, dan setelah berunding mereka dianugerahkan kenaikan Pangkat da jabatan baru mereka meninggalkan area tersebut dan pihak PORES SOLOK diberikan tanah pengantian diwilayah Solok lainnya.

27 April 1958

Pada Tanggal 27 April jam 05.00 pagi Kota Tarutung dapat diduki tanpa perlawan yang berarti  dari pasukan PRRI ,setelah itu Kota Tarutung diduuki oleh pasukan penganti dari Bataluion 330 Kujang II Siliwangi.

Sesudah pihak PRRI mengetahui bahwa kekuatan yang dihapai mereka cukup banyak dan berpengalaman  dan sanggup bergerak di Medan yang berat,

maka mereka merubah siasat,tidak lagi bertempur secara langsung,hanya sekali-kali  melakukan serangan balasan dan merusak jembatan untuk menghambat gerakan,setelah seluruh kota besar telah dapat diduki oleh TNI,maka pasukan PRRI melakukan perang Grilya.

(Djamin Ginting)

Akhir April 1958

Dalam waktu singkat sudah banyak kota besar yang dikuasai, setelah tabing dan padang ,dan menyusul

Teluk Bayur. Setelah itu

Indarung,

Lubuk Selasih

 

dan solok sedangkan

 ombilin Singkarak  pada akhir April 1958.

 

Pantun kisah PRRI di Nagari kinari ,dan Parambahan Solok

Batalyon Lembang, tentara PRRI
Anggotanya banyak lima Kompi
Menjaga kampung setiap nagari
Termasuk Parambahan serta Kinari

Buya Okok atau Kapten Nurdin Usman
Memilih markas di sekitar Parambahan
Di sana tersedia bahan makanan
Untuk logistik konsumsi pasukan

Nagari Parambahan di Kabupaten Solok
Jalannya kecil berbelok-belok
Pemandangan alam sangat elok
Di sana markas Buya Okok

Bergotong-royong membuat Hambatan, pohon-pohon ditebang

Di Parambahan terjadi pertempuran hebat
Antara Pejuang dengan tentara Pusat
Orang tua tua pasti ingat
Peristiwa berlangsung hari Jum’at

Pasukan Badai pimpinan Bachtiar
Anggotanya banyak Tentara Pelajar
Punya tanggung jawab sangat besar
Diberi tugas tiada menghindar

Hari Jum’at ada penyergapan
Di tepi jalan menuju Parambahan
Tentara Soekarno jadi ketakutan
Mereka mundur meninggalkan korban

Pertempuran di Parambahan berlangsung sengit
Menimbulkan korban tidak sedikit
Pasukan Badai di lereng bukit
Musuh berlindung di parit – parit

Setelah Solok dikuasai APRI
Pusat bersiap untuk operasi
Pos dibuat di pasar Sumani
PRRI berjaga di jorong Lasi

 

 

Untuk menuju rimba raya
Dari Sulik Aie melewati Saniangbaka
Simpang Tiga harus dijaga
Agar pejuang tidak leluasa

Rimba raya terus ke Padang
Jalan pintas di kala perang
Kini telah dilupakan orang
Karena tidak dilalui pedagang

Pertempuran pertama yang terjadi
Masih diingat sampai kini
Antara Pusat dengan PRRI
Serdadu muncul dari Sumani

Nagari web blog

Kisah  dan Gurindam masa PRRI lengkap baca dalam lampiran

Teman-teman di fakultas kedokteran tahun 1963-1972 ada beberapa eks Tentara Pelajar PRRI ,dan ada yang berasal dari solok, dan ada juag anak kapolres Pariaman masa PRRI, mereka seluruhnay akhirnay jadi dokter dan bertugas di suamtera barat. Duluntya sebelum PRRI  diproklamirkan telah dimualai mendirikan Fakultas kedoteran di Baso dekat Payakumbuh, sisas-sias bangunannya masih ada sedikit, dan baru setelah PRRI  Fakultas kedokteran Universitas Andalas di Pindahkan ke Padang di Air Tawar, dan sekarang sudah dipindahkan Ke jalan Jati Kota Padang/Salam buat mereka Uda Baidar, Cheir, dan Anja NazarAnja pernah bertugas di sulit air, dan pasien saya saat bertugas di solok tahun 1974 sampai 1979  banyak dari Saninbakar yang lokasinya diseberang danau singkarak.

(Dr Iwan)

 

Sebelum itu sudah dikuasai

Alahan Panjang dan

 Muara Labuh.

Menguasai kota ini mempunyai dua arti sekaligus. Pertama memutuskan hubungan ke selatan karena jalan keluar masuknya dikuasai, dan Kedua dengan menguasai daerah beras ini akan berpengaruh besar kepada daya tahan lawan.

(Ahmad yani)

Saya pernah mengunjungi kota Alahan Panjang yang sejuk dan Muara Panas saat bertugas di Solok tahun 1974-1979, saya masih ingat ada mariam kecil didepan kantor distrik polisi Muara Panas.

setelah menyusun dan membaca informasi PRRI yang lengkap ,saya menjadi ingat dan terkeanng kota Solok dimana putra saya kedua Anton Jimmi Suwandy dilahirkan oleh saya sendiri dirumah jalan benteng Solok disamping Polres Solok ,dan saya sempat mendirikan tempat perawatan sementara di sana,

 Saat kunjungan tahun 2011 sempat mampir  dan masih ada rumah dan Tempat perawan Sementara itu itu,dan ketemu perawat saya  dulu Enny yang  berasal dari Muara Panas  dulu masih bertugas disana , Bidan Ros isterinya Uc ok  yang membantu saya  sudah meninggal begitu juga dengan anggota saya rifai,Herminus dari Kinari,Alex ternyata juga sudah mendahului kita.

Semoga karya koleksi sejarah PRRI ini dapat mengugah seluruh masyarakat minangkabau dan generasi mendatang betapa susahnya pada saat itu, dan bagaimana akibatnya bila terjadi perpecahan dan perang, bila sengketa berdamailah dengan perundingan perang tak ada gunanya hanya membuat sengsara.

(Dr iwan)

Sebagai naluri seorang ibu, setiap Bapak pulang, ibu selalu mengingatkan, karena bupati sekeluarga telah kembali ke kota Sawahlunto yang dikuasai APRI.
Sebaiknya Bapak pulang saja kerumah, dan kembali bekerja seperti biasa sebelum ada PRRI.
Usul ibu itu sangat manusiawi, karena mendengar cerita Bapak yang selalu mobil.
Tempat tinggal beliau tidak jelas, dan juga mengingat Bapak sudah tua dan tidak mempunyai anak laki-laki yang bisa membantu dan mengikuti Bapak.
ibu saya risau sekali, kalau terjadi apa-apa pada Bapak, siapa yang akan membantu.

Pertimbangan ibu juga mengingat anak-anak relative masih kecil-kecil, perempuan semua, belum ada yang mandiri.Akan tetapi Bapak menolak dan sangat yakin dengan perjuangan PRRI, malah beliau menjawab bila terjadi apa-apa jangan risau.Allah akan selalu melindungi, kata Bapak.

Selanjutnya kata beliau lagi, bila terjadi apa-apa, kan ada semut yang akan memakan.
Kami, anak-anakpun mendukung sikap Bapak, mengingat kami berada di kampung sendiri.

Bagaimana malunya kita kalau Bapak menyerah, apalagi Bapak seorang kepala suku Caniago, orang yang dipanuti di kampung.Bapak pulang ke rumah dengan sangat hati-hati, agar tidak terlihat oleh orang-orang yang tidak dipercaya atau mata-mata tentara Pusat.Mata mata ini biasa disebut sebagai tukang tunjuk.Tukang tunjuk inilah yang melaporkan kepulangan Bapak ke rumah.

Besoknya pasti kami diteror dan ada saja tentara Pusat yang datang ke rumah menanyakan Bapak dan pada malam hari mereka menembak di sekitar rumah.
Walaupun tembakannya diarahkan ke udara, kami tentu saja sangat takut, karena mereka menembaknya mungkin di depan rumah kami.Bunyinya sangat keras, rasanya rumah kami turut bergetar.
Setiap malam diteror dengan tembakan senapan

Situasi di kampung yang semula terasa meriah dan menggembirakan setelah terbentuknya PRRI tidak berlangsung lama.Tak lama kemudian terjadi penyerbuan oleh tentara pusat, dan ada pula kabar bahwa dua batalyon tentara menyambut kedatangan tentara pusat.Perasaan optimis kemudian terganggu, situasi semakin tidak jelas, penuh kekuatiran dan kecurigaan.Orang-orang sudah merasa tidak aman lagi jalan sendirian, bisa saja ditangkap karena dicurigai.Kita tidak tahu lagi siapa lawan dan siapa kawan ketika itu.

Ada saja orang kampung yang ditangkap, kemudian diinterogasi, dan dibebaskan kembali setelah beberapa hari kemudian.Kadang-kadang dengan tiba-tiba bisa saja beberapa orang tentara Pusat datang ke kampung.Bahkan ada juga yang datang sendirian jalan kaki… berani sekali dia.

 

Hampir setiap malam ada teror di lingkungan rumah saya.Kalau pagi dan siang mereka datang ke rumah menanyakan Bapak sambil menggeledah rumah dan lemari.Aneh juga mencari Bapak, kok lemari yang diperiksa.

 

Malam hari mereka menembakan senjatanya terus-terusan sehingga kami ketakutan sekali.
Ibu saya sangat tidak tahan dengan teror-teror terutama di malam hari.Mereka melakukan penembakan ke udara, tapi sangat mencekam, karena bunyi tembakan itu sangat keras.Kondisi yang demikian itu ternyata diketahui oleh Bapak, karena saya tahu dari kurirnya.

Prof. DR. Ir. Zoer’ni Djamal Irwan, MS

 

30 April 1958

 

Foto DEPPEN

Satuan Bn 510 dan Bn 438 berada  3 km diluar kota solok menuju danau SIngkarak 30 April 1958

(Nugroho Notosutanto)

 

 

 

Foto DEPPEN

Sebuah Mariam APRI  Ditepi danau singkarak  30 April 1958

(Nugroho Notosutanto)

 

 

Foto DEPPEN

APRI bergerak menuju Ombilin  tempat pertahanan PRRI

(Nugroho Notosutanto)

 

Foto DEPPEN

Jeep komando kavaleri meliwati lubang kecil yang  dirusak oleh PRRI  ditepi danau Sngkarak 30 April 1958

(Nugroho Notosutanto)

President Eisenhower:

Dwight D. Eisenhower had emphatically denied charges that the United States was supporting the rebellion against President Sukarno.
“Our policy,” he said at a press conference on April 30, “is one of careful neutrality and proper deportment all the way through so as not to be taking sides where it is none of our business.”

Komando Operasi Gabungan “TEGAS” ini hanya berjalan selama kurang lebih 3 (tiga) bulan, kemudian dengan dibentuknya Komando Operasi Gabungan “17 Agustus” di bawah pimpinan Kolonel Ahmad Yani, Komando Operasi Gabungan “TEGAS” dimasukkan dalam susunan Komando Operasi Gabungan “17 Agustus” dan berganti nama menjadi Resimen Pertempuran I “TEGAS” (RTP- TEGAS), yang taktis, operatif dan administrasinya langsung di bawah Komando Operasi Gabungan “17 Agustus” (KOOPAG).

(korem031)

1 Mei 1958

Di Hutan-hutan Tapanuli kini tersebar beberapa anak buak Naingolan yang pecah-pecah  dri indik pasukannya dan  neraka inilah yang sering-sering mengadakan serangan terhadap pasukan pemerintah  dengan maksud bukan untuk mencari menang tetapi untuk membalas dendam saja

Foto  Mayor A.Manaf Lubis  Komandan Res.II

Banyak pula diantara anak buah Naingolan  yang menyerahkan dirinya kepada pasukan Pemerintah karena  sadar bahwa  tindakan yang mereka lakukan itu telah melanggar  Sumpah Prajurit dan Sapta Marga.Apakah Nainggolan telah mengabungkan diri ke Sumatera Tengah  masih belum diketahui.

Foto senjata-senjata yang dapat disita ketika terjadi pertempuran dekat Pematang Siantar anata lain terdapat bazooka,mitralyiur dan lain.lain

Pasukan Pemereintah kini terus  mengadakan serangan-serangan  dan pengejaran ,tetapi beberapa kota di Tapanuli sampai saat ini masih tetap dikuasaai Pemberontak seperti Padang Sidempuan, Balige dan banyak lagi.

Sewaktu reportase ini dibuat  memang kota-kota itu belum jatuh, tetapi Pasukan Pemerintah menjepit  terus kearah  itu,anatara lain berita tentang  berhasilnya Ibukota PRRI Padang jatuh  ketangan Pemerintah setelah diserah dari Uadara dan Laut.

Foto pasukan  Resimen II  sedang istirahat dengan membaca Koran ketika mengadakan pengejaran terhadap sisa-sisa Pasukan Pemberontak di Aek nauli dekat Prapat.

Aek nauli dekat Prapat.

Foto pasukan Resimen III  yang mengadakan Operasi  terhadap  anak buah Naingollan  didaerah Prapat

Foto beberapa anak Buah Naingollan yang dapat ditawan

Lalu Panglima sendiri dan Deputi KSAD  Brigardir Jendra Djatikusumo  terus menerus sibuk karena terus menerima dan mempertimbangkan  apa yang harus diperbuat  dan senantiasa melapor  pula kepada KSAD  di Jakarta.

Jendral Djatikusumo telah beberapa kali  ke Jakakarta  untuk bertemu dengan KSAD Nasution .

Sampai saat ini kota Medan  kleihatannya tenang  dan peristiwa  apa yang akan  terjadi lagi masih kita nantikan saja.

(Terang Bulan 1958)

2 Mei 1958

Pada tanggal 2 Mei 1958,Pasukan dari arah

Sungai  Ombilin Singkarak  untuk dapat menguasai

kota Padang Panjang

(Ahmad Yani)

Meliwati jembatan sungai ombilin

Foto DEPPEN

Ombilin dikuasai APRI 30 April 1958

Kelihatan statiun kereta api ombilin singakarak

 

 

Foto DEPPEN

Dua Orang naggota BN 510 memberikan tembakan perlindungan  bagi pasukan APRI yang memasuki kota Padangpanjang 2 mei 1958

(Nugroho Notosutanto)

Foto DEPPEN

Dua Orang naggota BN 510 memberikan tembakan perlindungan  bagi pasukan APRI yang memasuki kota Padangpanjang 2 mei 1958

(Nugroho Notosutanto)

 

 

 

Foto DEPPEN

Pasukan APRI   Buktitinggi 2 mei 1958

(Nugroho Notosutanto)

4 Mei 1958

Foto DEPPEN

Penjagaan disekitar sungai buluh sebelum menduduk   Buktitinggi 4 mei 1958

(Nugroho Notosutanto)

 

 

 

Foto DEPPEN

APRI Menduduki  Buktitinggi 4 mei 1958

(Nugroho Notosutanto)

Foto DEPPEN

RRI  Buktitinggi dikuasai APRI 4 mei 1958

(Nugroho Notosutanto)

Foto DEPPEN

APRI patrol di Ngarai Sianok Buktitinggi 4 mei 1958

(Nugroho Notosutanto)

 

Foto DEPPEN

Sebagain pasukan Bn 510 ditempatkan  dijalan menuju payakumbuh dari Bukittinggi,4 mei 1958

(Nugroho Notosutanto)

5 Mei 1958

Surat RHS dari KDP 5 kepada Kepala kantor Pos Padang perihal  Surat kabar Pelopor, dan Pembangunan kirim dengan pos  jika diminta  oleh tentara serahkan  seperlunya.

(Buku agenda surat RHS Kantor pos Padang)

 

Foto DEPPEN AL

 Pasukan  KKO AL sedang menyeberangi sungai Air Gadang di Pasaman       (Nugroho Notosutanto)

 

9 mei 1958

INDONESIA 1957-1958

 

 


NY Times editorial:
On 9 May, an editorial in the New York Times had stated:
It is unfortunate that high officials of the Indonesian Government have given further circulation to the false report that the United States Government was sanctioning aid to Indonesia’s rebels.

 

 

The position of the United States Government has been made plain, again and again. Our Secretary of State was emphatic in his declaration that this country would not deviate from a correct neutrality … the United States is not ready … to step in to help overthrow a constituted government.

Those are the hard facts. Jakarta does not help its case, here, by ignoring them.
(Who ignored the hard facts? -Ed.)


Pope was captured carrying a set of incriminating documents, including those which established him as a pilot for the US Air Force and the CIA airline CAT.

Note: The US and US media had denied any involvement in the PRRI Permesta rebellions.
The above picture (and subsequent developments) reflect the untrustworthiness of their statements and misrepresentation of actual facts. -Ed.

12 Mei 1958

Cover Majalah starweekly no 50 12 mei 1958.sayang isinya tidak ada,bila ada tentu ada berita tentang PRRI

 

15 Mei  1958

Operasi 17 Agustus dengan sasaran Sumatera Barat dipimpin oleh Kolonel Ahmad Yani berhasil menguasai

Kota Padang Panjang 15 Mei 1958.Setelah Dikuasai Padang Panjang,Pasukan dari Kandangempat bergerak  menuju Padang Panjang

.(meliwati lembah anai)

Dengan pertimbangan menunggu kemajuan  pasukan  dari Operasi Sapta Marga ,psukan  Komando Operasi 17 Agustus  yang sudah berada di Padang Panjang  tidak langsung bergerak  Ke Bukittinggi

(Ahmad Yani)

 

Menurut cerita

isteri saya Lily  dan kakaknya Maria yang bermukim di Kota Padang Panjang saat pergolakan PRRI , setelah kota ini dikuasai APRI, kota padang Panjang sering  di tembak PRRI dari gunung Sigalang pada malam hari, kadang-kadang sore hari.

Suatu waktu sore hari

sebuah bom mortir jatuh diatap

rumahnya tembus  atap seng dan plafond

jatuh kedalam lemari untung tidak meledak sehingga ia ,neneknya dan keluarga selamat.

 (Dr Iwan)

Untuk menumpas pemberontakan PRRI/Permesta dilaksanakan operasi milietr dan dibantu  Dokter Wajib Militer yang ditugaskan ke Daerah PRRI di Sumatera Barat,  yang saya kenal anatara lain Dr Liem Tjoen Hway yang menjadi partner saya main tennis. Ia pernah bercerita kepada saya bahwa sebenarnya ia di-tugaskan ke Bukittinggi tetapi dibatalkan karena saat ia berangkat ke Bukittinggi dengan kendaraan konvoi tentara APRI

di lembah anai kendaraannya di tembak oleh PRRI dari gunung ,dia selamat karena duduk ditengah, teman disampingnya dan pengemudi Meningal dunia.

ia selanjutnya bertugas  di  RSUP Padang dan kemudian pindah ke Jawa Timur,Surabaya.

 Saya juga memperoleh informasi dari seorang bekas pengemudi Truk Polisi saat saya bertugas sebagai dokter POLRI di Polda Sumbar tahun 1973  mengangkut korban yang meninggal saat ditembak PRRI dilembah anai,hal ini membuat ia trauma dan tidak mau naik mobil lagi,tetapi tragis ia malah meninggal ditabrak mobil saat naik sepeda.

Selain itu juga salah seorang dokter ex wamil saat penumpasan PRRI adalah Dr Oei Hok Kim ,yang bertugas di

RS Tentara Padang, kemudian tahun 1966 menjadi dosen kepala bagian Patologi Anatami di

Fakultas Kedokteran Universitas Andalas Padang dengan nama Prof Wijaya Hakim.

Isteri saya juga kenal dengan seorang dokter wajib militer saat penumpasan PRRI yaitu Dr Tan Tjong Swan yang bertugas

di Rumah Sakit Umum Padang Panjang, yang kemudian pindah ke Kediri.                           (Dr Iwan)

16 Mei 1958

Baru pada hari berikutnya tanggal 16 Mei 1958  pasukan Operasi 17 agustus  bergerak menuju Bukittinggi

(Ahmad Yani)

Pasukan ini menyusur jalan liwat jalan antara

Gunung marapi dan

Gunung Singalang ,

 

liwat Koto Baru dan akhirnya sampai ke Bukittinggi

(Dr Iwan)

18 Mei 1958

Majallah ini dilarang beredar di Sumatera barat

Surat RHS Kepala daerah Pos Sumatera Tengah kepada Kepala Kantor Padang perihal Kecuali majallah Time dan ,Newsweek,dan New York time ,semua buku yang dikirim toko buku Indera boleh diserahkan.

(buku agenda surat rhs kdpos padang)

US pilot Alan Pope is shot down over Ambon while secretly helping PRRI rebels

Pope was captured carrying a set of incriminating documents, including those which established him as a pilot for the US Air Force and the CIA airline CAT.

22 Mei 1958

Melihat keadaan kota yang sepi dan lengang di Bukittinggi   memberi kesan kota itu dikosongkan  karena dicekam rasa takut yang ditiupkan kepada penduduk. Kepada penduduk disebarkan serita tentang kekejaman  TNI sehingga tidak ada pilihan  bagi penduduk kecuali menghindar agar selamat .

Menyadari keadaan ini 

Ahmad yani segera  memberikan penjelasan  melalui perinth hariannya . Dalam Perintah harian itu  dijelaskan  bahwa  TNI dating hanya  untuk mengakhiri para petualang.

 

Penjelasan ini melegakan rakyat , satu persatu pintu pertokoan  mulai terbuka.

Rakyat sedikit demi sedikit  berani keluar rumah.

Cerita yang mengerikan sebelumnya tidak terbukti dalam kenyataan

(Ahmad yani)

Kampung Matur Dibumi Hangus

Saya ingat ketika itu kami bermukim di Pekanbaru, ayah kami saat itu bertugas sebagai Kepala Polisi Pekanbaru.Karena, situasi yang tidak kondusif untuk urang awak saat itu, ayah kami sempat diperiksa di Bukittinggi,

sedangkan kami mengungsi ke Matur.

 Saat itu saya baru duduk dikelas 1 SR. Saya sempat melihat betapa kejamnya tentara Soekarno yang membakar kampung kami,

karena di Padang Kasaik yaitu daerah hutam beberapa kilo memasuki Matur Komandan Batalyonnya tertembak, yang akibatnya mereka membumi hangusin kampung Matur kami.

Masih tergiang pada saya, ketika itu tentara Soekarno menembak membabi buta dan menghujanikampung dengan mortir dari pesawat terbang. Sebagian besar dari kami tinggal di bawah tanah (tempat perlindungan)untuk menyelamatkan diri. Kesan yang tidak terlupakan dikala masih kecil

Setelah itu, ayah kami dipindahkan ke Tanjungpinang, dan kami kembali tinggal di Pekanbaru sebelum diboyong ke Tanjungpinang.

 (Dr Ir Herman Moechtar)

24 Mei 1958

Gelombang pengabungan pasukan PRRI dari hari ke hari semakin banyak, 5000 orang dari Anggota batalyon 141 menyatakan dirinya  kembali kepangkuan Ibu Pertiwi , jumlah ini adalah yang terbesar langsung ditangani

 Ahmad Yani dilapangan.

Penerimaaan ke 500 orang ini dilakukan di

Padang Panjang yang merupakan kota terdekat dari tempat mereka berada dengan suatu upacara militer  pada tanggal 24 Mei 1958.Mereka diterima dengan upacara Keprajuritan dengan senjata lengkap.

 

 

25 Mei 1958

Pada tanggal 25 Mei 1958  Pasukan Operasi Sapta Marga yang dipimpin oleh Deputi KASAD Brigjen TNI Djatikusumo memasuki kota Bukittinggi , dan dalam pertemuan yang diadakan di kota ini, Deputi KASAD menyerahkan sebuah piala yang merupakan lambing simbolik kepada Ahmad Yani selaku Komadan Operasi 17 Agustus .

Pergi mengungsi ke nagari lain

Dalam situasi sedemikian, ibu berkirim pesan kepada Bapak melalui kurir.
Atas isyarat dari Bapak, ibu mengambil keputusan, bahwa kami tak mampu menghadapi terror semacam itu.Oleh sebab itu,

 maka kami mengungsi ke Padang Gantiang sesuai isyarat dari Bapak.

Suatu hari ibu dan kakak saya mencari pedati dan mengumpulkan barang-barang yang penting-penting saja untuk dibawa.Agar tidak ketahuan oleh orang orang lainnya, kami diam-diam perginya.Kalau masyarakat tahu, pastilah semua pada ikut mengungsi.Ibu saya berpendapat kampung jangan ditinggal.Pagi-pagi sekali, sekitar pukul tiga pagi, pedati yang membawa barang barang bawaan kami berangkat duluan.Kami buat tiga rombongan, seolah-olah ada urusan ke sawah, ke ladang, ke pasar atau ke mana saja.Memang setiap ada yang melihat kami, orang orang selalu bertanya, mau kemana kalian?


Tapi kami sudah diberi tahu Bapak, kalau ada yang bertanya jangan dijawab pergi mengungsi.
Jawab saja pergi ke manalah.
Ketika itu rombongan kami terdiri 6 (enam) orang yaitu, ibu dan saya kakak beradik, semuanya perempuan, relative masih kecil-kecil.Sebenarnya saya bersaudara 7 (tujuh) orang, hanya yang paling tua laki-laki, ketika itu sudah menjadi tentara Angkatan laut.

 

Dia ketika itu sedang bertugas di Belawan, Medan.Tinggal di kampung enam orang lagi, semuanya perempuan dan seorang adik saya yang masih SR (Sekolah Rakyat) dibawa abang saya.
Tinggalah kami lima orang adik-beradik perempuan semua, dan dengan ibu menjadi berenam.

Akhirnya sampailah kami di nagari Padang Gantiang, yang ternyata masyarakatnya senang sekali menerima kami, dan kami ditempatkan di sebuah rumah gadang.Selama di pengungsian kami selalu menjaga agar jangan ketahuan oleh orang lain bahwa kami adalah anak Camat militer Talawi.Di pengungsian kami merasa lebih aman karena nagari Padang Gantiang tidak termasuk Kabupaten Sawahlunto-Sijunjung.

 

Orang-orang kampung juga membantu kami.Bila ada situasi yang mencurigakan, mereka segera memberi tahu kami.Hampir setiap hari kami naik ke bukit, yang sebenarnya untuk menyem-bunyikan diri , seolah-olah sedang mencari kayu api.Dengan demikian terkumpul banyak sekali kayu api di rumah gadang tempat kami mengungsi.

Suasana kehidupan di pengungsian

Di tempat pengungsian sekali-sekali Bapak datang, dan beliau membawa cerita baru.
Adakalanya Bapak datang dan berunding dengan para tokoh PRRI (militer, sipil, adat dan agama).Kadang kadang sempat menginap semalam, dalam situasi seperti itu, orang rundo atau hansip di sekitar rumah jaga-jaga.

 

Bila ada orang yang dicurigai, Bapak segera lari ke seberang sungai di belakang rumah.Kalau tentara Pusat datang, kami tidak boleh menampakkan diri, kecuali saya.Kenapa demikian ?
Katanya, saya adalah orang yang paling hitam kulitnya dalam keluarga dan tidak langsung mencirikan Bapak.Kakak dan adik-adik biasanya naik ke loteng rumah gadang.

Di pengungsian sering sekali terjadi bakutembak, dan saya sering melihat para tentara pelajar, anak-anak kita yang masih muda muda dengan semangat tinggi, memakai baju seragam hijau-hijau.Mereka semua memanggul senjata, ada juga senjatanya besar dan baru.

 

Para tentara pelajar itu sebenarnya calon intelektual Minang, tidak sedikit mereka yang tewas.
Kadang terjadi, hari ini saya melihat wajahnya, dan besoknya sudah ada kabar bahwa mereka sudah tertembak, sungguh menyedihkan kalau di ingat-ingat.

Di pengungsian kami sebenarnya kurang nyaman, dan merasa tidak enak dengan penduduk setempat.Karena selama kami di pengungsian, sepertinya daerah itu menjadi agak terganggu.

Tentara Pusat mulai sering datang ke tempat pengungsian kami karena mereka sepertinya sudah tahu kalau kami mengungsi ke sana.
Suasana ini sudah tidak nyaman lagi, dan kami sudah dua bulan mengungi di sana.
Orang tua saya memutuskan bahwa kami akan mengungsi ke tempat lain.

Ada juga yang surprise, di pengungsian kami ketemu dengan keluarga yang sudah agak jauh.
Konon setelah ditelusuri mereka adalah belahan bako dari Mak Etek sepupu saya yang bernama Jusbar.Salah seorang anaknya ternyata sudah menikah dengan Mak Etek selama bergolak itu.

Isterinya yang pertama tidak mau diajak mengungsi, saya tidak sempat berjumpa dengan Mak etek itu.Dia itu terkenal dengan pasukannya, yang gagah berani dan disegani di tempat lain.
Memang Mak Etek saya komandan Batalyon dari tentara Dewan Banteng yang mobil gerakannya ke daerah lain seperti Kiliran Jao.Sebelum pergolakan Mak Etek itu bertugas di Bukittinggi.

Orang Minang memang malu kalau tidak pandai, maka dalam situasi perangpun masyarakat sempat membuka sekolah-sekolah darurat yang biasanya dsebut sebagai Sekolah Penampungan.

Karena saya telah menjadi murid SMA sebelum PRRI meletus, maka saya pun sempat ikut sekolah di SMA darurat itu, walaupun jurusannya beda.Situasi ini berjalan tidak lama.Hanya sekitar dua bulan.

Bapak tertangkap

Beberapa waktu kemudian, di suatu hari kebetulan malam-malam Bapak pulang, dan malam itu seperti biasanya beliau berunding dengan tiga tokoh, ada komandan tentara.
Saya masih ingat yaitu Kol Zein Yatim, Drs Mawardi Yunus (Kepala Jawatan Agama), paman Burhan Jusuf.Setelah berunding malam itu, mereka langsung berpisah.Rupanya kepulangan Bapak telah tercium oleh tentara pusat.

Pagi-pagi sekali Bapak dikasih tahu bahwa tentara pusat sudah masuk ke Padang Gantiang.
Bapak segera lari ke seberang sungai di belakang rumah.Dalam kondisi seperti itu, seperti biasanya saudara-saudara saya segera bersembunyi di loteng.
Apa daya, malang tidak dapat ditolak mujur tak dapat diraih, rupanya tentara pusat sudah menunggu Bapak diseberang sungai.Bapak segera tertangkap dan digiring lalu dibawa ke jalan besar.Kakak saya yang biasa mengintip gerak–gerik tentara pusat dari loteng melihat Bapak sedang digiring, maka kontan teriak-teriak, histeris… Bapak… Bapak….Bapak tertangkap.

Bukan main kagetnya kami, rencana ditangan kita, keputusan Allah yang menentukan.
Senanglah tentara pusat waktu itu.Saya sangat bersedih, apalagi ibu hanya terduduk lemah melihat kami berteriak-menangis agar Bapak dibebaskan.Itulah suasana yang sangat mengharukan.

 

Prof. DR. Ir. Zoer’ni Djamal Irwan, MS

 

 

 

 

 

.

Sumatera Barat bergolak dengan gerakan yang bernama Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia atau PRRI, dibawah komando Safrudin Prawiranegara. Rakyat yang mengerti politik maupun tidak, bangkit menggugat dan melawan pemerintah pusat.

 

Pemerintah pusat mengirim tentaranya ke ranah Minangkabau untuk memadamkan pergolakan ini. Awalnya mereka hanya menyebar dikota-kota. Tapi karena medan pertempuran semakin luas, akhirnya para tentara itupun mulai masuk sampai ke nagari-nagari diluar kota.

 

Dan akhirnya merekapun hadir

 

di nagari Kamang,

 tempat dimana pada tahun 1908 rakyat ikut berperang melawan tentara penjajahan Belanda, yang kemudian terkenal dengan Perang Kamang.dimana jorong Ladang Darek kampungku,

 termasuk didalamnya. Rakyat Kamang kini  tidak berhadapan dengan Belanda, tapi dengan bangsa sendiri.

.

Kehidupan kampung kami yang tadinya tenang dan damai, kini telah berubah. Kedamaian dan ketenteraman hidup mulai terusik. PKI dengan organ Organisasi Pembebasan Rakyat-nya pun ikut mengail diair keruh.

 

Fitnah merebak, OPR gampang saja menuduh siapa saja sebagai mata-mata musuh, dan menuduh sebagai penghianat. Padahal itu hanya karena ketidak sukaan terhadap orang yang dituduh, atau karena ada masalah pribadi yang tak kunjung selesai dan berujung dendam.

 

 

 Kepada tentaradalam, (istilah yang diberikan untuk Tentara pusat yang menguasai kampung), dia menuduh si anu sebagai pengikut tentara luar.( rakyat maupun tentara PRRI yang berperang melawan tentara pusat yang bergerilya di hutan-hutan)  Korban tak bersalahpun berjatuhan

.

Laki-laki dewasa yang merasa terpanggil untuk ikut berjuang kini jarang kelihatan.  Mereka mulai kucing-kucingan dengan tentara pusat – istilah yang dipakai untuk tentara yang dikirim dari Jawa untuk menumpas pergolakan ini, yang dikirim oleh pemerintah pusat di Jakarta. Yang tidak ikut berjuang, pergi menghindar dan mengungsi, agar tidak diciduk oleh tentara pusat dan dituduh sebagai pemberontak.

.

Sejak meletusnya perang saudara atau pergolakan PRRI itu, ayah kami sudah jarang pulang, begitu juga pak aciak suami etekku. Sementara wanita dan anak-anak maupun laki-laki yang telah tua, tetap tinggal di dalam kampung.

 

Mereka mulai menggali lubang perlindungan dibawah rumah masing-masing. Ini dimungkinkan karena rumah penduduk semuanya merupakan rumah panggung, walaupun sebagian rumah mereka bukan rumah adat atau rumah gadang.

.

Begitupun dengan kami, sebuah lubang yang dalamnya sepaha orang dewasa juga telah digali dikolong rumah dapur yang ada di halaman belakang rumah gadang. Sebagaimana namanya, rumah dapur adalah bangunan dapur yang dipakai untuk memasak untuk seluruh keluarga.

 

Bangunan rumah dapur ini dibuat lebih besar dari dapur biasa, karena disamping sebagai fungsi utamanya sebagai dapur sekaligus dibuat dan berfungsi sebagai ruang makan keluarga. Karena terlalu repot bila setiap makan harus membawa semua makanan ke rumah gadang. Kecuali untuk makan malam, kalau ada tamu atau ada acara baralek, atau bulan puasa barulah acara makan-makan ini diadakan di rumah gadang.

.

Rumah dapur ini diberi lantai papan, sebagian ada juga palupuah– bambu yang dibelah-belah dan dihamparkan jadi lantai tempat duduk baselo-lesehan atau tidur-tiduran. Tinggi lantainya dari tanah selutut orang dewasa. Biasanya kolong ini dipakai untuk meletakkan kayu bakar, atau ada juga yang dipakai sebagai kandang ayam.

.

Dikolong rumah dapur inilah lubang persembunyian dibuat. Siang hari kami keluar, dan melakukan aktifitas rutin, karena siang hari situasi cukup tenang, suasana perang tidak begitu terasa, karena jarang terdengar bunyi tembakan senjata api. Karena tentara luar telah kembali ke hutan bukit barisan untuk bersembunyi dan menghindari patroli tentara pusat siang harinya, serta menyusun kekuatan kembali untuk melakukan serangan balik terhadap tentara pusat malam harinya.

.

Malam hari, bila telah terdengar suara rentetan tembakan senjata api, atau dentuman granat. Kami segera berkumpul dan bersembunyi didalam lubang di kolong rumah dapur tersebut. Dengan hati berdebar dan rasa takut kalau-kalau ada peluru yang nyasar kearah kami. Aku selalu dalam pelukan umi, aku dengar dia selalu berdo’a, untuk keselamatan kami semua. Juga kakak-kakakku yang sudah bisa mengaji, mereka juga berdo’a sambil berbisik, kadang sambil me-lantunkan ayat Al-Qur’an yang mereka hafal dengan lirih. Suasana hening mencekam, matapun tidak dapat dipejamkan untuk tidur, karena semua tegang, dalam suasana perang yang kami tidak tahu kapan akan berakhirnya.

.

Menjelang pagi suara letusan senjata terdengar semakin jarang, hingga beduk subuh ditabuh di masjid-masjid dan mushalla. Umi yang pertama bangun meraih lampu senter dan menyalakannya mencari  korek api dan menyalakan lampu tempel.

 

 Satu persatu mulai bangun dan keluar dari lubang perlindungan, udara subuh diluar lubang perlindungan begitu dingin, embun turun menyelimuti tanah, kelihatan seperti kapas beterbangan ketika ditimpa cahaya lampu tempel yang disangkutkan di paku dekat pintu rumah dapur, semua mendekapkan tangan kedada melawan dinginnya udara subuh, ada yang menggigil kedinginan hingga giginya gemertakan, yang pakai sarung menutupi seluruh tubuhnya hingga yang kelihatan hanya muka, atau yang memakai kain panjang menyelimuti badannya. Belum semuanya tenang, suasana masih mencekam, tapi tidak seperti beberapa jam sebelumnya, disaat suara tembakan dan dentuman senjata api saling bersahutan.

.

Tidak seorangpun yang bersuara, yang terdengar hanya cipratan air.  Umi serta kakak-kakakku mengambil wudhu untuk melaksanakan shalat shubuh, kecuali aku dan udaku yang masih balita.

 

Kami semua naik kerumah gadang yang semalaman dibiarkan kosong, karena semua berlindung dilubang persembunyian. Aku dipangku oleh umi hingga masuk rumah, kakak-kakakku yang sudah berwudhu melanjutkannya dengan shalat shubuh, sedang aku dan udaku masuk ke kamar, naik keatas kasur dan tidur lagi, ditutup oleh umi dengan selimut tebal yang hangat, setelah itu, barulah umi shalat subuh.

Sambil memeluk bantal aku mencoba untuk meneruskan tidurku yang semalaman terganggu oleh suara tembakan senjata api. Sayup-sayup terdengar suara kakakku yang sudah selesai shalat subuh mengaji membaca Al-Qur’an, setelah itu aku tidak ingat apa-apa lagi, tertidur pulas.

 

Kami tidak tahu, berapa lama perang saudara antara PRRI dan tentara pemerintah pusat akan berlangsung. Dilubang perlindungan, setiap malam umi maupun kakak-kakakku, aku dengar berdo’a agar perang ini berakhir. Terutama umi, yang mencemaskan anak-anaknya yang setiap malam tidur meringkuk kedinginan, didalam lubang sempit berdindingkan tanah yang beralaskan tikar seadanya.

 

 Sementara kakak-kakakku mengharapkan segera dapat kembali tidur didalam kamar dirumah gadang, beralaskan kasur dan berselimutkan selimut tebal, yang melindungi tubuh dari dinginnya udara malam.Beberapa malam belakangan ini suara tembakan tidak lagi seramai hari-hari sebelumnya. Kami kembali tidur di rumah gadang,

 

Siangnya umi dan kakak-kakakku mulai beraktifitas lagi memproduksi bubuk kopi. Umi mulai berdagang lagi, menjajakan kopi bubuk yang dikampung kami bernama sabuak. Umi berjualan dari kampung ke kampung di sekitar nagari Kamang. Awalnya kami merasa takut dan cemas melepas umi pergi berdagang, takut umi ditangkap atau ditembak oleh tentara pusat. Perasaan kami baru tenteram setelah umi kembali kerumah dalam keadaan selamat

(Dian Kelana)

Saya masih ingat adanya bangunan    di nagari  Baso Agam yang sudah dipersiapkan untuk mendirikan fakultas Kedokteran di sana.sampai  tahun 1960 an masih terlihat sisa bangunan tersebut yang hancur saat serangan tentara Pusat terhadap RRI didesa tersebut.

(Dr Iwan)

 

 Banyak dosen dan mahasiswa Unand yang menunjukkan kesepahamannya dengan PRRI. Akibatnya, Tentara Nasional Indonesia yang ditugaskan untuk menumpas PRRI juga memporakporandakan kampus Unand yang tersebar di beberapa kota: Padang, Bukittinggi, Batusangkar, dan Payakumbuh serta juga yang baru dibangun di Baso.

Situasi politik pada waktu itu benar-benar tidak kondusif untuk melaksanakan aktivitas perkuliahan. Dosen-dosen yang didatangkan dari luar negeri, terutama dari Eropa, ada yang pulang ke negaranya masing-masing dan ada pula yang pindah ke Universitas Gadjah Mada, Universitas Indonesia, dan Institut Pertanian Bogor. Pada masa PRRI dapat dikatakan sebagai masa kemunduran Universitas Andalas

 

26 Mei 1958

Pada tanggal 26 mei 1958, Ahmad yani dalam perjalan kembali  dari Padang Panjang  mengadakan inspeksi  ke Bukittinggi

(Ahmad Yani)

Terminal bus  Aurtajungkang Bukittinggi tahun 1958

 

 

 

27 Mei 1958

Pada tanggal 27 mei Ahmad yani dari Bukittinggi berkunjung ke Payakumbuh  yang telah diduduki sejak tanggal 20 Mei 1958.

Dari Payakumbuh Rombongan Ahmad Yani ke Batusangkar,  dan kembali ke Padang  panjang

(Ahamd Yani)

Surat pribadi dari adik Mertua saya di payakumbuh kepada ayahnya di padang Pandjang dikirim liwat kurir

Isi surat

Pajakumbuh

Kepada  Pa YTH

Surat Pa kami sudah terima dengan baik,kami disini  semua ada baik-baik saja , Kami mau ke Padang Panjang belum bisa sebab di jalan masih berbahaya ,apalagi bawa anak-anak kecil.

Mwnumpang sama auto orang kami ada kirim radio dengan surat-suratnya.

Harap pa terima dengan baik.

Bagaimana ne(mama) sekarang ? Pekerjaan oran di Padang Panjang ada jalan dengan biasa saja ? sampai disini saja dahul drai kami

Heng

(koleksi dr Iwan)

27 Mei 1958

Nevertheless, with Pope in Indonesian hands things began to move rapidly in Washington. Within five days: (1) the State Department approved the sale to Indonesia for local currency of 37,000 tons of sorely needed rice; (2) the United States lifted an embargo on $1,000,000 in small arms, aircraft parts and radio equipment — destined for Indonesia but frozen since the start of the rebellion; and (3) Dulles called in the Indonesian ambassador, Dr. Mukarto Notowidigdo, for a twenty-minute meeting.
“I am definitely convinced,” said the ambassador with a big smile as he emerged, “that relations are improving.”

But the Indonesian Army was not prepared to remain permanently silent about Pope. On May 27 a news conference was called in Jakarta by Lieutenant Colonel Herman Pieters, Commander of the Moluccas and West Irian Military Command at Ambon. He announced that Pope had been shot down on May 18 while flying a bombing mission for the rebels under a $10,000 contract.
Pieters displayed documents and identification papers showing Pope had served in the U.S. Air Force and as a pilot for CAT. He said Philippine pesos, 28,000 Indonesian rupiahs, and U.S. scrip for use at American military installations were also found on the American pilot. Pieters said 300 to 400 Americans, Filipinos and Nationalist Chinese were aiding the rebels, but he did not mention the CIA.
Many Indonesian officials were outraged by Pope’s activities, and accused him of bombing the marketplace in Ambon on
May 15. A large number of civilians, church bound on Ascension Thursday, were killed in the raid on the predominantly Christian community. But the government did its best to suppress public demonstrations.

Pope was given good medical treatment, and he could be seen sunning himself on the porch of a private, blue bungalow in the mountains of Central Java. Although the Communists were urging a speedy trial, Sukarno also saw advantages in sunning himself — in the growing warmth of United States policy. Pope’s trial was delayed for nineteen months while Sukarno kept him a hostage to continued American friendliness.
Late the next year, however, Sukarno found himself in a quarrel with Peking over his decision to bar Chinese aliens from doing business outside of the main cities of Indonesia. The powerful Indonesian Communist Party was aroused over the issue and Sukarno may have felt the need to placate them.

Namun demikian, dengan Tangan  Allan Pope  di Indonesia hal-hal mulai bergerak cepat di Washington . Dalam lima hari :

( 1 ) Departemen Luar Negeri menyetujui penjualan ke Indonesia untuk mata uang lokal dari 37.000 ton beras sangat dibutuhkan ,

(2 ) Amerika Serikat mengangkat embargo pada $ 1.000.000 dalam pelukan kecil , suku cadang pesawat dan peralatan radio – ditakdirkan untuk Indonesia tapi dibekukan sejak awal pemberontakan ,

dan ( 3 ) Dulles memanggil duta besar Indonesia , Dr Mukarto Notowidigdo , untuk pertemuan dua puluh menit .
” Aku pasti yakin , ” kata duta besar dengan senyum lebar saat ia muncul , ” bahwa hubungan membaik . “

Tapi Tentara Nasional Indonesia tidak siap untuk tetap permanen diam tentang Allan Pope . . Pada tanggal 27 Mei dalam konferensi pers di Jakarta dipanggil oleh Letnan Kolonel Herman Pieters , Komandan Komando Militer Maluku dan Irian Barat di Ambon .

 Dia mengumumkan bahwa Allan  Pope telah ditembak jatuh pada 18 Mei saat terbang misi pemboman untuk pemberontak di bawah kontrak $ 10.000.

 

Pieters  menampilkan dokumen dan surat identifikasi menunjukkan Pope  pernah bertugas di Angkatan Udara AS dan sebagai pilot untuk CAT . Ia mengatakan peso Filipina , 28.000 rupiah Indonesia , dan scrip AS untuk digunakan pada instalasi militer Amerika juga ditemukan pada pilot Amerika .

 Pieters mengatakan 300 hingga 400 orang Amerika , Filipina dan Nasionalis China membantu para pemberontak , namun ia tidak menyebutkan CIA .

 

Banyak pejabat Indonesia marah oleh kegiatan Paus , dan menuduhnya pemboman pasar di Ambon15 Mei. Sejumlah besar warga sipil, gereja terikat pada Ascension Kamis , tewas dalam serangan itu pada masyarakat yang didominasi Kristen . Namun pemerintah melakukan yang terbaik untuk menekan demonstrasi publik .

Pope  diberi perawatan medis yang baik , dan ia bisa dilihat menjemur dirinya di teras pribadi , bungalow biru di pegunungan Jawa Tengah .

Meskipun Komunis mendesak pengadilan yang cepat , Sukarno juga melihat keuntungan dalam menjemur sendiri – dalam kehangatan tumbuh kebijakan Amerika Serikat . Sidang Pope ditunda selama sembilan belas bulan sementara Sukarno terus dia sandera keramahan Amerika lanjutan .

 

Akhir tahun depan , namun, Soekarno menemukan dirinya dalam pertengkaran dengan Peking atas keputusannya untuk melarang  Cina asing dari melakukan bisnis di luar kota-kota utama Indonesia .  Partai Komunis Indonesia yang kuat  terangsang atas masalah ini dan Sukarno mungkin merasa perlu untuk menenangkan merek

 

Juni 1958

untuk melihat kemajuan keamanan keamanan didaerah ini pada bulan Juni 1958 Panglima  Teritorial IV(sekarang KODAM VII) Diponegoro  dan TT V (SEkarang KODAM Brawijaya) telah berkunjung ke Sumtaera Barat.

(Ahmad Yani)

Sudah tiga bulan perang berlangsung.
Perang antara tentara APRI yang datang dari ibu kota melawan tentara PRRI.
Perang yang ganjil.
Perang yang brutal dari pihak yang datang menyerang.
Tentara PRRI banyak menghindar.
Menghindar ke hutan, ke kampung-kampung yang jauh di pegunungan terpencil.

Tentara APRI yang dijuluki rakyat dengan tentara Pusat atau tentara Soekarno adalah tentara yang bengis dan tega.

 

Mereka menembaki orang-orang yang dicurigai sebagai tentara pemberontak.
Kalau terjadi pertempuran di dekat suatu kampung lalu ada tentara APRI yang jadi korban, maka beberapa rumah di kampung itu dibakar.

Itulah sebabnya tentara PRRI menghindar.
Mereka tidak mau mencelakai dan merugikan rakyat di kampungnya sendiri.
Ketika PRRI menghindar, tentara APRI dengan mudah menguasai kampung dan nagari, lalu membuat pos di kota-kota kecamatan.

Syamsu batal ikut bergabung dengan tentara PRRI.

 

Ada sebuah telegram dari kakaknya di Padang memberi tahu bahwa maknya yang sejak perang pecah tinggal di Padang, saat ini sedang sakit dan masuk rumah sakit.
Dia diminta segera datang.

 

Padahal teman-temannya sudah pada pergi semua.

Ikut memanggul senjata.

 

Ada delapan orang anak-anak muda yang masih sekolah di SMA, di STM dan SMEA dari kampung itu yang ikut bergabung dengan kompi Udin Pitok.
Syamsupun sudah ikut mendaftar.

 

Tapi tepat sehari sebelum dia seharusnya melapor di markas tentara itu di Lasi Tuo, telegram dari kakaknya itu datang.

Tidak mudah untuk bepergian ke Padang, walaupun jarak antara Bukit Tinggi – Padang tidak lebih dari 91 kilometer.
Oto bus NPM dapat menempuh jarak itu antara dua sampai tiga jam.

 

Yang lebih sulit bagi Syamsu adalah untuk mendapatkan surat jalan.

Tanpa surat jalan yang ditandatangani komandan tentara APRI, jangan dicoba-coba untuk bepergian antar kota.

 

Apalagi bagi seorang anak bujang mentah seusia Syamsu.

 

Tanpa surat jalan, kalau ada razia di perjalanan, dia akan dituduh tentara PRRI.

 

Akan dituduh tentara pemberontak.

 

Kalau sudah dapat cap seperti itu dia bisa ditembak mati.

Tentara APRI sangat alergi dengan anak-anak muda seusia Syamsu.

 

Di kampungnya sudah tiga orang yang mati ditembak tentara APRI.
Anak-anak muda malang yang lari ketakutan ketika tentara APRI secara diam-diam datang masuk kampung.
Dan anak-anak muda itu ditembak dari belakang di bagian kepala.
Ada yang terkapar di batang air, ada yang tertelungkup di sawah bancah, ada yang tersandar di rumpun betung.
Pada hal mereka tidak bersenjata dan lari benar-benar karena takut.
Itu pulalah sebabnya kebanyakan anak-anak muda jadi benci kepada tentara Pusat.
Mereka beramai-ramai mendaftar untuk ikut berperang.

Syamsu harus pergi ke Padang menengok emaknya.
Dia bergegas mengurus surat jalan.
Yang pertama sekali adalah meminta surat pengantar di kantor wali nagari.
Tidak sulit mendapatkan surat ini.
Wali nagari menyatakan dalam surat keterangannya bahwa Syamsu akan meneruskan sekolah di Padang.
Sekarang surat itu harus dibawa untuk mendapatkan pengesahan dari komandan tentara APRI di kecamatan.

Syamsu diantarkan wali jorong, yang masih terhitung mamaknya, ke kantor Buter.
Buter adalah penguasa militer di tingkat kecamatan.

 

Kantor itu menempati sebuah rumah yang ditinggal pemiliknya.

Di depan rumah ada gardu jaga dimana selalu ada seorang tentara bersiaga mengawal.
Di teras luar rumah itu ada meja dan dua buah kursi.
Dua orang tentara duduk disitu.
Mereka adalah petugas piket.

Siapapun yang ingin berurusan ke kantor itu harus melapor terlebih dahulu kepada tentara petugas piket ini.
Agak terjarak ke samping ada dua buah bangku panjang tempat menunggu bagi orang yang ingin bertemu dengan komandan tentara.

 

Ketika Syamsu sampai di kantor itu ada tiga orang wanita separuh baya duduk di bangku panjang.

 

Mereka sedang menunggu untuk diwawancara.
Mereka juga ingin mendapatkan surat jalan.
Begitu ketentuannya kalau ingin mendapatkan surat jalan yang ditandatangani komandan Buter.

Wali jorong yang menemani Syamsu mendaftar melalui tentara piket itu, yang rupanya seorang OPR.

 

OPR adalah tentara bantuan yang dibuat oleh APRI, berasal dari penduduk lokal.
Sebagian besar mereka adalah simpatisan PKI dari kampung-kampung dan tak mahir berbahasa Indonesia yang benar.


….Siapa yang hendak berurusan?…. tanya tentara OPR itu dalam bahasa Indonesia.
….
Kamanakan wak ko ha, jawab wali jorong….
….
Di sika harus cara Indonesia!…. kata tentara OPR itu garang.

 

Mendengar kata-kata disika satu di antara ibu-ibu yang sedang menunggu itu menahan tawa sambil menutup mulut.

….Jangan gelak-gelak….
….Apa yang digelakkan?
….

bentak tentara OPR ke arah ibu-ibu itu.
Si ibu itu menekur dan terdiam.
Ibu yang satunya masih tersenyum.
….
Jangan cimees-cimees disika! ….Kesika mau mintak surat atau mau mencimees?…..
….Kalau cimees-cimees nanti kamu tidak diagis surat
…..

Perut Syamsu juga memilin mendengar kata-kata tentara yang gagah ini.
Dia berusaha menekur menahan rasa geli.
….
Hang yang hendak berurusan?…. bentaknya pula ke arah Syamsu.
….Iya, pak,…. jawab Syamsu.
….Ada surat wali nagari?…. tanyanya pula.
….Ada pak…. ini…. Syamsu menyerahkan sebuah amplop.

Tentara itu membuka amplop dan mengeluarkan surat pengantar dari wali nagari.
Diperhatikannya surat itu dengan bola matanya menari ke kiri dan ke kanan.
Syamsu tambah sakit perut melihat tingkah tentara itu.
Surat yang ditangan tentara itu terbalik.

….Catat nama hang disika!…. katanya menunjuk ke sebuah buku tulis besar di atas meja di hadapannya.
Syamsu mengisi buku itu.
….
Catat apo keperluan hang!…. perintahnya lagi.
….Sudah pak…..
….Sudah awak tulis,…. jawab Syamsu.
….Apa keperluan hang?….
….Sudah awak tulis di dalam buku ini…..
….Apa yang hang tulis? Mau mintak surat apa hang?….
….Surat jalan, pak…..
….Suratkan
disika…..bahasa hang mintak surat jalan…..
….Ini sudah awak tulis pak…..
….Kalau sudah nantikan di
sinan!…. perintahnya pula sambil menunjuk ke bangku panjang.

Kedua lelaki itu pergi duduk ke bangku yang ditunjukkan.
Lamat-lamat Syamsu mendengar kedua tentara itu berbicara setengah berbisik.
….
Indak ba hang do, ba kau,…. kata kawannya.
….
Maa lo jaleh di Ang, Kau tu untuak padusi,…. jawab tentara itu.
Dua orang tentara lain datang.

Kedua tentara OPR itu berdiri dan memberi hormat.
Rupanya yang datang itu komandan di kantor ini.
Dia itulah yang biasa di sebut orang pak Buter.
Satu persatu ibu-ibu yang menunggu itu disuruh masuk menghadap komandan tentara tadi di dalam ruangannya.

Masing-masing berada di ruangan itu sekitar sepuluh menit.
Akhirnya sampai pula giliran Syamsu disuruh masuk.
….
Inya saja yang masuk, Engku indak berurusan jadi indak boleh masuk,…. tentara OPR tadi mengingatkan ketika dilihatnya wali jorong ikut pula berdiri.

Syamsu masuk sendirian.
Dia mengangguk ke arah komandan itu.
….Ada perlu apa kau?…. bentak komandan tentara itu.
….Awak mau minta surat jalan, pak,…. jawab Syamsu tenang.
….Surat jalan apa? Kau ndak ikut berontak?….
….Tidak, pak, jawab Syamsu.
….Mana surat pengantar?
Syamsu menyerahkan surat dari wali nagari.
Tentara itu membacanya.

….Dimana kau sekolah?
….Di SMA, pak.
….Dulu di SMA mana? Kenapa sekarang mau pergi ke Padang melanjutkan sekolah?
….Dulu di Bukit Tinggi, pak, sekarang orang tua ada di Padang.
….Ada saudara kau yang ikut memberontak?
….Tidak, pak.
….Teman-teman kau?
….Tidak ada pak.
….Bohong kau! Banyak anak-anak muda seumur kau ikut-ikut pergi ke hutan.
….Masak di kampung kau tidak ada yang ikut?
….Awak tidak tahu pak, jawab Syamsu.
….Untung kau masih punya otak, mau bersekolah.
….Kalau kau ikut-ikut memberontak, suatu saat kau akan terbunuh.
….Paham kau?
….Iya, pak.
….Kapan kau mau berangkat ke Padang?
….Segera, pak.
….Kalau bisa hari ini juga.
….Ya, sudah.
….Jangan sampai hilang surat ini.
….Kalau ada razia di jalan, kau tidak punya surat, habis kau.

Tentara itu menyerahkan surat jalan itu kepada Syamsu.
Dia mengangguk kepada komandan tentara itu sebelum keluar.
….Sudah selesai urusan hang?…. tanya tentara OPR lagi, begitu Syamsu keluar.
….Sudah pak, jawab Syamsu.
….Ndak pandai hang berterima kasih agak sedikit?
….Terima kasih banyak, pak, ujar Syamsu seramah mungkin.
….Indak itu do.
Tinggalkan tanda terima kasih agak sedikit, tambah tentara itu pula.
Maksudnya bagaimana, pak? Syamsu pura-pura tidak mengerti.

….Tentara OPR itu menggesek-gesekkan tiga buah jari tangannya memberi isyarat.
Bertepatan dengan itu komandannya keluar.
….Kok belum pergi kau? Apa lagi? tanya komandan itu membentak Syamsu dengan mata melotot.
….Sudah mau pergi pak, jawab Syamsu.
….Kau siapa? Ada urusan apa? bentak komandan itu ke wali jorong.
….Ambo wali jorong, mengawani dia saja, jawab wali jorong dengan wajah pucat.

Kedua orang itu segera berlalu dari kantor Buter.
Tentara OPR menggerutu dalam hati karena tidak jadi dapat tanda terima kasih.

 

Kisah selengkapnya di lampiran kumpulan kisah nyata PRRI

 

Pasukan KKO AL sedang menyebrangi  Sungai Air Gadang di Pasaman

(Nugroho Notosutanto)

Mei 1958

 Pembentukan Markas PDM di Padang Panjang.

Pada akhir bulan Mei 1958 dibentuk Markas PDM (Perwira Distrik Militer) yang berkedudukan di Padang Panjang (bertempat dilokasi sekarang) dan sebagai pejabat PDM adalah Kapten Amir Hatta. Sebagai pembantu pelaksanaan tugas Perwira Distrik Militer (PDM), merupakan biro-biro yaitu :
a.    Biro- A Bidang Intel, dijabat oleh Serka Amir. H.
b.    Biro- B Bidang Logistik, dijaabat oleh Serma Hasmi Mansyur.
c.    Biro- C Bidang Administrasi, dijabat oleh Serma Djanawir.

(kodimtanahdatar)

31 Mei 1958

Surat dari KDpos kepada KKPos Padang perihal kepala kantor pos  menyampaikan surat-surat  PRRI

(buku agenda Surat rhs Kantor Pos Padang)

Juni 1958

Pemindahan Markas PDM.(Perwira Distrik Militer)

a.    Pada bulan Juni 1958 Markas PDM pindah ke Batusangkar dan bertempat di jalan Sukarno Hatta disebelah kanan kantor PUSPENMAS Batusangkar sekarang, dan sebagai Perwira PDM Kapten Amir Hatta. Kemudian di Padang Panjang dibentuk Markas PODM (Perwira Onder Distrik Militer) dan sebagai pejabat Perwira PODMnya Letda Soetikno dari Brawijaya(kodimtanahdatar)

4 Juni 1958

Wakarkat pos PTT dikirim dengan prangko RI 35 sen stempel pos Padang panjang 4.6.58 ke Padang.Surat dari Ahmadsyah soewil pegawa kantor pos Padang panjang ke pada ibunya  siti  Aisjah d/a Soeiwl  Tepi Bandar Olo 35 Padang

Isi surat

Ibunda yang terhormat

Bersama ini surat ananda khabarkan  pada Ibunda . amada telah selamat sampai di Padang Panjang jam 11.45 dan tidak kurang suatu apapun  berkat doa ibu  dan ayah  sekeluarga. Tentang kepindahan ananda telah bicarakan  sama bapak  Saleh ,dia tidak menyetujuinya hanya  maklumlah  kantor baru dibuka  oleh sebab itu  tentu segala nya tentu memakan  waktu agak  sebulan ,persenang saja lah hati Ibunda  jangan suka mendengar  kata-kata orang diluar , selain dari itu  ananda adalah sehat  saja dan  begitu pula  hendaknya  ibu dan ayah  sekeluarga

Wassalam

Tanda tangan Ahmad Soewil.(koleksi Dr Iwan)

14 Juni 1958

Surat dari kDPOs kepada KKpos Padang perihal  pengiriman daftar  pengiriman uang diatas seribu rupiah oleh  tentara

(buku agenda rhs kantor pos padang)

21 Juni 1958

Surat dari pos tentara tentang  kiriman surat-surat PRRI

(buku agenda rhs kantor pos padang)

23 Juni 1958

Suart laporan Pgr Pmn kepada KKPos Padang perihal pegawai pos Marah Kirman dan  Ahmad nain  yang pada tangga 16/6 sampai  18/6 1958 tidak masuk  kerja oleh karena  takut terhadap PRRI

(buku agenda rhs kantor pos padang)

Juli 1958

3 juli 1958

Pad waktu Banteng Raiders menghancurkan konsentrasi PRRI di Suliki dan Kototinggi(dkat Pajakumbuh) ,kita ketemu lagi dengan P 22 milik PRRI tetapi dalam kejadian ini PRRI meniru kita,mereka tidak lagi mengunakan bahasa Indonesia atau bahasa Minang tetapi memakai bahasa inggeris munkin PRRI mengunakan orang asing atau tokoh PRRI sendiri yang memegang mikropon pesawat.

 Akan tetapi bagaimanapun baiknya alat yang mereka pergunakan(kemungkinan alat radio baru dari Luar negeri) koordinasi hubungan untuk melayani gerakan opoerasi pasukan  APRI misalnya antara infanteri –eskadron yang melinduni –artileri yang membantu tembakan senjata bantuan mortar dan sebagainya tetap berjalan dengan lancer .

Nah sekian cerita singkat tentang komunikasi  yang bersifat lelucon didaerah PRRI yang pernah saya alami .

Sebagai akhir  dikhabarkan bahwa pada waktu operasi ke

Suliki 

dan

Kototinggi

tanggal  3 juli 1958 telah tertangkap/menyerah Kapten PHB Julius Alim dan Ltd PHB Samun .Keterangan mereka nanti akan membuka semua simpanan alat PHB KDMST BANTENG terutama PO 22nya Penuois

Ltn Wienoto

Komanda Pn PHB Bn banteng Raidres.

(majalah PHB 1958)

Untuk menambah nostalgi atas wilayah pertempuran APRI dengan PRRI dari Pakan baru Ke Padang, saya cuplik artikel perjalanan dari Pakan baru Ke Padang saat ini  semoga wawsan pembaca jadi lebih mantap (Dr Iwan)

Perjalanan dari Pekanbaru ke Padang

Bang Ardin / November 3, 2012

Pekanbaru (Ibukota Prov Riau) dan padang (Ibukota Prov Sumatra Barat) adalah 2 kota yang berada di dua provinsi yang berbeda namun memiliki hubungan yang erat satu sama lainnya. Bagaimana tidak, hampir 70% penduduk Pekanbaru berasal dari Perantau Sumatra Barat.

Sebaliknya pada saat weekend dan hari libur, mayoritas penduduk melayu Riau dan pendatang berwisata ke Sumatra Barat. Sehingga terjadilah hubungan timbal balik di antara dua provinsi bertetangga ini. Tidak heran rute Padang – Pekanbaru dan sebaliknya selalu ramai dilalui kendaraan hilir mudik.

Riau – Sumbar

Pekanbaru dan Padang berjarak kurang lebih 300 km, dengan waktu tempuh sekitar 7 jam perjalan darat. Kendaraan umum yang biasa di gunakan adalah Bis, seperi Yanti Group, Sinar Riau, ANS, dll. Atau bisa juga menggunakan travel seperti Bumi Minang Wisata. Kalau mau cepat anda bisa menggunakan travel “gelap” yang banyak berkeliaran di simpang Panam, Pekanbaru. Tarif angkutan umum ini berkisar antara 70- 90 ribu. Yang penting pintar menawar saja hehe.. Kalau anda ingin lebih leluasa, efisien waktu dan nyaman, sewa mobil saja dengan tarif sekitar 250 ribu perhari. Yang disayangkan adalah tidak adanya penerbangan komersial dari Pekanbaru ke Padang, kabarnya dulu pernah ada namun tidak bertahan lama karena pihak travel merasa di rugikan.

Jam 09.30 kami berangkat dari Panam, Pekanbaru menuju Padang. Rute Pekanbaru-Padang akan melewati beberapa tempat menarik diantaranya adalah Bangkinang – Rumah Lontiok – Pintu masuk Candi Muara Takus – Danau Buatan PLTA Koto Panjang – Perbatasan Riau Sumbar – Lembah Harau – Payakumbuh – Bukit Tinggi – Padang Panjang – Air terjung lembah Anai – Padang. Fiuh.. perjalanan yang cukup panjang ya..

Rute perjalanan pekanbaru – padang

Bangkinang

Satu jam telah terlewati, tempat pertama yang dilewati adalah Bangkinang, ibukota Kab Kampar, Riau. Sebuah kota yang cukup berkembang pesat karena jaraknya yang dekat dengan Pekanbaru. Salah satu objek menarik yang kami lewati ketika di Bangkinang adalah Islamic Center.

islamic center bangkinang

Desa Pulau Belimbing dan Rumah Lontiok

Tidak begitu jauh dari bangkinang, terdapat sebuah desa wisata yang bernama pulau Belimbing (Bukan pulau beneran, tapi cuma nama aja ). Dari ruas jalan utama, pintu masuk desa pulau belimbing hanya berjarak  2 kilometer saja. Yang unik didesa ini adalah rumah Lontiok yang berumur ratusan tahun. Rumah Lontiok adalah rumah tradisional di Kabupaten Kampar, khususnya di pulau Belimbing ini. Lontiok artinya lentik, alias melengkung ke atas. Atap rumah Lontiok ini melengkung ke atas, namun tidak selentik rumah adat di Sumbar.

Rumah Lontiok ( foto dari Skyscrapercity)

Pintu masuk candi Muara Takus

Kami sampai di pintu masuk candi Muara Takus setelah kurang lebih 2 jam perjalanan. Bila ingin mengunjungi Candi Muara Takus, anda harus masuk kedalam lagi melalui pintu gerbang ini sejauh 20 menit. Mengenai candi Muara Takus, bisa anda lihat di Postingan disini

Gerbang masuk candi muara takus

Danau Buatan PLTA Koto Panjang

Tidak lama setelah melewati pintu masuk ke candi Muara Takus, kami sampai ke danau Buatan. Danau ini yang nampaknya cukup luas ini adalah hasil dari bendungan dari Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Koto Panjang. Disepanjang tepi danau terdapat pondok pondok dan rumah makan yang biasanya digunakan oleh pengemudi dan penumpang untuk beristirahat dan makan sambil menikmati pemandangan Danau.

Bendungan PLTA Koto Panjang

Jalan Riau – Sumbar dengan pemandangan waduk

Waduk Koto Panjang

Jembatan yang melalui waduk

Perbatasan Riau – Sumbar

Akhirnya setelah melewati dua buah jembatan yang melintasi Danau Buatan/Waduk Koto Panjang, akhirnya kami sampai di perbatasan Riau-Sumbar. Diperbatasan ini nampak perbedaan design rumah tradisional Riau dan Sumbar

 

 

 

.Sayangnya pada saat kami melewati tempat ini, gerbang perbatasannya masih dalam tahap di bangun.

perbatasan riau – sumbar

UPDATE!!!

Tanggal 14 januari 2013 kemaren kami kembali melakukan perjalanan dari pekanbaru – padang. Saat itu ternyata gapura perbatasannya sudah selesai dibangun loh.. ini dia gambarnya saat selesai dibangun..

Batas Riau – SUmbar

Setelah melewati perbatasa, nanti akan melewati “pintu angin” (puncak tertinggi dari jalan riau – sumbar), panorama selat malaka, dan tugu katulistiwa di koto alam. Setelah itu barulah kami tiba di kelok 9

Kelok 9

Setelah menempuh perjalanan 3,5 jam , kami sampai di kelok 9 yang tersohor itu. Disebut kelok 9 karena memang jalan disini terdapat kelokan tajam yang menanjak dan menurun sebanyak 9 kali belokan. Sangat diharamkan buat anda yang baru belajar menyetir untuk mencoba melalui kelokan maut ini Karena sulitnya medan kelokan ini, tidak heran kalau disini sering terjadi macet panjang. . Untuk mengatasi itu, maka dibuatlah jembatan layang yang sangat tinggi serta memutar dan menanjak/menurun dengan landai.

Kelok 9 dan jembatan layang

Jembatan Layang

Jembatan Layang

Lembah Harau dan Payakumbuh

Setelah melewati Kelok 9, kami tibai di kecamatan Harau. Disini terdapat objek wisata Lembah Harau yang menakjubkan. Lembah harau adalah ngarai yang di apit 2 buah tebing curam dengan tinggi diatas 100 meter. Lembah harau ini seperti grand canyonnya sumatra barat, yang membedakannya adalah ngarai di lembah harau sebagian ditutupi dengan tumbuhan.

Harau dari kejauhan

Tidak jauh dari Harau adalah kota Payakumbuh. Tempat menarik yang kami lihat sebelum memasuki kota payakumbuh adalah kantor bupati kabupaten Limapuluh Koto yang berada di perbukitan. Kantor ini relatif baru dan terlihat sangat megah. Tidak hanya itu, pemandangan dari atas kantor ini sangat menakjubkan, dari sini kami bisa melihat gunung Sago dari kejauhan.

Kantor Bupati Lima Puluh Koto

Gunung Sago

Ada yang baralek di Payakumbuh

Bukit Tinggi

Kota ini adalah pusat pariwisata di Sumatra Barat. Bukit tinggi adalah kota kecil namun padat, apalagi pada saat weekend dan hari libur, Jalanan dikota ini bisa macet berkilo-kilometer panjangnya. Dibukit tinggi banyak tempat menarik namun nanti akan saya uraikan di postingan khusus.

Bunga di tepi jalan sebelum memasuki kota bukittinggi

Salah satu ruas jalan di Bukit Tinggi

Padang Panjang dan Air terjun Lembah Anai

Melanjutkan perjalanan dari bukit tinggi, kami menuju ke arah Padang Panjang, yang punya julukan serambi mekkahnya sumatra barat. Mungkin julukan itu didapat karena banyaknya pondok pesantren disini.

Memasuki Padang Panjang

Dari Padang Panjang ke Padang, tepatnya di lembah Anai, kami melewati air terjun yang tepat berada di pinggir Jalan. Air terjun setinggi 40 meter ini memang menarik banyak wisatawan untuk berhenti sejenak untuk beristirahat dan menikmati keindahannya. Air terjun ini dilengkapi dengan mushola, rumah makan, dan toko.

air terjun lembah anai

 

 

Padang

Akhirnya kami sampai juga di padang. Waktu sudah gelap sehingga kami putuskan untuk segera mencari penginapan. Penginapan di Padang cukup banyak, tapi dengan harga yang lumayan mahal. Salah satu penginapan yang cukup bersahabat dengan kantong adalah di Wisma bakti yang berada di Jl. Belakang Olo.

wisma bhakti

sungai kecil di padang

Malamnya kami sempatkan diri untuk berkeliling kota padang sejenak dan menikmati makanan yang banyak di jual di sepanjang pantai Padang. Selain itu kami juga berfoto foto dibeberapa lokasi di kota padang, salah satunya adalah di sungai kecil ini.

Setelah puas berfoto, akhirnya kami kembali ke penginapan untuk beristirahat.

Sumber :

Jalan-foto web blog

24 Juli 1958

Pada tanggal  24 Juli 1958 Ahamd yani menyerahkan Komandan OPerasi 17 Agustus kepada Let.Kol.Inf  Pranoto Rekso Samudro

(Ahmad Yani)

27 Juli 1958

Poswesel dari Bukittinggi ke Batang Angkora tidak dapat dikirim tanggal 27 juli 1958  karena perhubungan terputus  antara Bukittinggi dengan Tapanuli selatan.

 

The money order from Bukittingi CDS 22.7.58 to Batang ankola south Tapanuli, return to sender with handwirtten mark in indonesian language :”Kembali Pengirim Perhubungan untuk sementara waktu terputus “(Return to sender the cute of road communications exist),

and One years  later  in CDS Padangsidempuan  12.8.59 the reciever get the money  with red handstamped postmark in Indonedia langauge  “DENGAN PERDJAJIAN AKAN MENGEMBALIKAN DJUMLAH INI KEPADA DJAWATAN PTT APABILA TERNYATA BAHWA POSWESEL ASLI DJUGA TELAH DIBAYAR”.WITH THE NUMBER OF THIS AGREEMENT WILL RETURN TO PROVE THAT IF PTT service money order also HAS PAID THE ORIGINAL

(This very interestin and rare postal history collections after APRI occupayied Padang City, the communication from Padang to Padang Panjang,Bukittinggi and Payakumbuh exist only with army Convoy, but to south Tapanuli still didinot exist-Dr Iwan Notes

 

 

29 Juli 1958

 

Mengenai Lintau buo ,menurut keterangan  yang diperoleh koresponden ,sebelum APRI mengadakan gerakannya,daerah tersebut menjadi tempat pemusatan sisa-sisa pemberontak PRRI. Dari daerah ini pula kaum pemberontak mempersiapkan penyerangan ke kota Batusangkar pada tanggal 29 Juli 1958 yang dapat digagalkan APRI

Menurut keterangan 1300 orang sisa Pemberontak PRRI dipusatkan didaerah ini ,terdiri dari 500 orang apa yang mereka namakan “KKO PRRI” dibawah pimpinan Kapten pemberontak Ali Sjahruddin yang terdiri dari Pemuda-Pemuda Pasar dan Preman Pakanbaru dan sekitarnya. 500 orang lagi dari Pasukan  yang mereka namakan SKDR(Staf Komando Dearah riau) dibawah pimpinan  Mayor pemberontak Sjamsi nurdin,yang sebagian besar  terdiri dari Pelajar dan 5000 orang lainya lagi  dari pasukan yang mereka namakan “ Baringin Sati” dan kemudian ditukarnya dengan nama “Harimau Minang” dibawah pimpinan malin Maradjo.

(SK Pemuda  20 Agustus 1958,koleksi dr iwan)

1 Agustus 1958

INFORMASI DARI SK PEMUDA

APRI HANCURKAN DAERAH KERAMAT PEMBERONTAK PRRI            BURHANUDIN HARAHAP. SERING DI LINTAU BUO

Koresponden INPS yag baru-baru ini mengikuti gerakan pembersihan

 

 kedaerah Lintau Buo dalam kabupaten Tanah datar yang selama ini belum dibebaskan oleh APRI                                                                                                                             menulis kesan-kesannya sebagai yang diuarikan dibawah ini.

Daerah Lintau buo dalam Kabupaten Tanah datar yang letaknya lebih kurang 40 km dari kota batusangkar, yang selama ini oleh kaum pemberontak PRRI dijadikan tempat pemusatan sisa-sisa pengikutnya dan diberikan julukan  nam “ daerah Keramat” yang menurut mereka tak dapat dimasuki APRI,pada tanggal 1 Agustus  telah dapat dibersihkan oleh APRI.

Memang menurut sejarah seperti juga daerah Kamang ,Lintau tidka pernah dapat dimasuki oleh tentara Belanda ketika melakukan Agresinya dan tiap usaha memasukinya dapat  digagalkan dengan meninggalkan korban yang bukan sedikit

Tapi kedua tempat itu telah dapat dimasuki oleh APRI, Pasukan APRI yang memasuki daerah tersebut bergerak

dari Tanjung Ampalu pada tanggal 1 Agustus 1958 dan sampai di Lintau Buo  jam 16.00 sore itu juga tanpa menemui perlawanan dari kaum pemebrontak.dalam gerakan pemebrsihan ini mendapat bantuan sepenuhnya dari pesawat AURI.

Menurut keterangan  yang diperoleh di padang, Burhanuddin harahap yang menamakan dirinya  “Menteri Pertahanan PRRI”  sering berada didaerah sekitar  Lintau Buo,ia sering datang kesini dengan menyamar memakai kain sarung ,berkopiah, dan sering kelihatan kumisnya dicukur.

Tempat persembunyian selalu di Unggan dan kalau ia bepergian  elalu dikawal dengan keras  oleh orang-orang yang tergabung dalam pasukan TII, tetapi setelah  Lintau buo dibersihkan  oleh APRI,Burhanuddin harahap  mengundurkan diri  lebih kpedalaman  yaitu perbatasan  anatar kecamatan lintau buo  dengan kecamatan Sijunjung.

Sumpur kudus

(SK Pemuda  20 Agustus 1958,koleksi dr iwan)

Agustus 1958

Sekitar akhir Agustus sembilanbelas limadelapan
Tujuan perjalananku terganggu


Ketika dari Utara kutersendat di Tantaman

Kini terjarak waktu setengah abad


Kulingkari Gunung Singgalang dan Tandikat

Menuju Malalak belum pernah kulihat
Tahun lalu ikut dihantam gempa dahsyat

Merenung di pinggir kampung Malalak Barat
Geografi Tantaman Simpang Malalak kuingat-ingat


Balingka Lawang jalan yang sendat
Pandanganku lepas ke Pantai Barat
Seperti di Tantaman dahulu di Masa Darurat

Polapikirku saling berkisar di dua topik
Kuah Darah Perang Saudara dianggap heroik
Gempa Piaman seketika membuat panik
Kenangan mssa ku berbolak balik
Bertema Sejarah Kampung Halaman nan unik

Di Pinggir Kampung Malalak Barat
Terbayang di angan di bawah bukit
Walaupun mataku tidak melihat


Tanjung Sani dihempas gempa penuh jerit

Jauh pandangan ku di Sebelah Barat
Terbayang di ufuk episenter yang kuat
Pusat Gempa menghantam Sumatera Barat
Ditahan di Timur oleh Tandikat

Kuarahkan perjalanan ke Selatan
Melalui nagari-nagari di Patamauan
Mengobservasi daerah nan jadi korban
Hoyakan gempa tidak tertahan.

Rusli Marzuki dan Buya Mas’oed
Syair Sejarahmu taut bertahut
Setengah abad telah berlarut
Airmata, Darah, dan Doa sangkut-berpaut
Bahagia dan duka taut-bertaut

Agustus 1958

Pemimpin Redaksi Harian haluan Darwis Abas  “Terompetnya PRRI”Ditembak mati di Cengkeh

Saya sendiri sbg Orang Minang tidak suka kalau peristiwa ini dianggap pemberontakan,dan lebih suka mengkategorikannya sebagai “pergolakan” daerah.
Dari PRRI ini, saya sbg putra kedua dari Darwis Abas, yang dulu sbg Pemred Harian Haluan yang ditembak mati oleh tentara pusat yang dikomandoi Ahmad Yani( ref makalah diatas ayah saya dianggap sebagai”terompetnya PRRI”,dia menjadi korban keganasan tentara saat itu, dibunuh di Cengkeh Padang Agustus 1958

(Syukran Darwin Abas)

Saya masih ingat didalam surat kabar Haluan ada suatu rubrik cerita yang lucu namanya di Jibun .sayang tidak ada surat kabar tersebut ditemukan karena rakyat minangkabau takut menyimpan harian haluan masa PRRI tersebut karena takut dituduh mata-mata PRRI

(Dr Iwan)

Peranan PHB didalam Perang Radio dengan PRRI

Oleh Ltn winoto

Mungkin sdr telah  mendengar sepasukan  Batalion  Bateng Raiders Divisi Diponegoro pad atanggal 12/3-58 telah berhasil mendarat dan menduduki kota pakanbaru. Tidak disangsikan lagi didalam pasukan itu terdapat Peleton PHB-nya yang berkauatan  julah anggota 22 orang.Kebeulan saya yang diserahi bertanggung jawab terselenggaranya cara bekerja komunikasi PHB.

Selam pasukan tersebut bertugas tentu Sdr akan sudah mengerti  bahwa disamping kesanggupan dan semanggat bekerja dari pada anggota PHB untuk memenuhi kewajibannya,kami hanya dspat mengunakan alat-alat PHB, yang sangat sedikit dan merosot keadaan teknisnya.

Segala macam gerakan infantry yang akan dilancarkan, dengan tenaga dan alat itu pula kami harus menyesuaikan diri.Mungkin pasukan keluar masuk hutan lebat,menyusur pantai,naik turun gunung ,mendaki bukit dan perlu disertai bantuan artileri jarak jauh berikut kapal terbangnya.

Kesemuanya harus dikoordinir sebaik-baiknya oleh kemampuan komunikasi PHB. Betapa pentingnya peran PHB, selama pasukan infantry bergerak mngulung pemberontak PRRI,tidaklah perlu diapnjang lebarkan ceritanya.Akan tetapi, satu hal penting dikethui dan dicatat oleh para tokoh PHB , bahwa akibat dipelajarkan nya vak PHB di SSKAD,PPPL dan lain sebagainya, kami sekarang benar-benar melihat,setiap Komandanpasukan (didaerah bekas PRRRI) tidak pernah pisah dengan Komanda PHBnya,kemanapun beliau pergi atau membuat siasat pertempurannya. Ini adalah suatu kemajuan yang snagat mengembirkan ,yang berrati pula timbulnya suatu kenyataan bahw aPHB, tahu 1958 itu benar-benar lin dengan PHB tahanu 1945 sampai dengan tahun 1957.Keuntungan lain ialah apabila Negara kita cq APRI akan merencanakan dan melaksanakan operasi militer bersama diantara Angkatan Darat.Laut dan udara,para Prajurit PHB tidak pelu kuatir lagi,karena segala sesuatunya tentu sudah dipikirkan oleh atasan,tidak seperti pada tahun-tahun yang lalu.

Hanya perlu kita doakan bersama,agar alat-alat PHB,yang skearang sudah merupakan besi tua ini,segera ada gantinya yang lumayan.

Sdr mungkin sudha mengetahui mungkin juga ada yang belum mengethaui, bahwaanya Pleteon PHB yang melayani Banteng raiders(BR) hingga sekarang ini sudah berlong march lebih dari 800 km dengan waktu 4 bulan.

Memang benar, arti BR itu hanya Banteng Raiders saja, tetapi ada sementara anngota yang mengartikan dengan “Bojok remuk”,kecuali  kita harus menarik pelatuk senjata kalau bertempur dengan musuh gaya berat dari P 22 Scr 694 G.N. dan segala perlatanya harus dipikul dengan tenaga yang ada pada kami . bantua rakyat tidak mungkin diharapkan karea lecuali mereka sudah terlalu mendarah daging diracuni propaganda PRRRI denga anati Pusatnya, juga rakyat tidak baik dibawa dalam pertempuran yang tarsus menerus itu.

 

 

(majallah PHB no 8/1958)

3 Agustus 1958

Pada  tanggal 3 Agustus 1958 Pasukan APRI meninggalkan Lintau buo untuk meneruskan gerakannya pembersihannya ke

 Tanjung sungayang. (SK Pemuda  20 Agustus 1958,koleksi dr iwan)

4 Agustus 1958

Pada tanggal 4 Agustus pasukan APRI dari tanjung sungayang kembali lagi ke  Batusangkar (SK Pemuda  20 Agustus 1958,koleksi dr iwan)

5 Agustus 1958

Pada tanggal 5 Agustus 1958 pasukan APRI melanjutkan gerakan pembersihan

ke Talang tengah , tempat persembunyian  kaum pemberontak PRRI, dimana mereka sedang melatih pemuda-pemuda kampong, Pada saat APRI masuk nagari Talangtangah ,Nagari tersebut dalam keadaan terbakar hebat.

Menurut keterangan penduduk  disana ketka itu  pemberontak sedang melatih  tentara sukarela  yang diambil dengan paks  dari penduduk setempat. Dianatra rumah penduduk  itu terdapat  tempat penyimpanan senjata  dan bhaan mesiu  pemberontsk PRRRI  yang tidak sempat dibawa lari. Akibat pembakaran itu  lebih kurang 200 rumah  penduduk  hangus menjadi abu. Dalam gerakan pembersiahn  di talangtengah  pasukan ASPRI berhasil menawan  3 orang anggota Pemberontak lngkap dengan senjatanya.

(SK Pemuda  20 Agustus 1958,koleksi dr iwan)

 

9 Agustus 1958

Informasi dari SK  POS Indonesia

PRESIDEN MENGAJAK ADAKAN REVOLUDI DALAM ILMU PENGETAHUAN

Masih saja dipakai sistim filsafah,teori politik dan outlook yang sudah using. Tanpa suasana Politik yang sesuai dengan pembangunan itu pembangunan tidak dapay berjalan denag  baik.Pembangunan tak mungkin diadakan dalam susasna bertengkar.

Dalam resepsi penutupan Kongres Ilmu Pengetahuan Nasional di Malang hari Juma’at siang ini Prsediden sukarno mengajak para sarjana yang berkumpul dikota ini untuk berani mengadakan revolusi pula dalam ilmu pengetahuan.Dikatakannya bahwa kita sampai sekarang masih saja memakai system falsafah teori politk dan outlook yang using,yang dilahirkan dalam abad yang lalu,abad lahirnya industrial revolution, sedasng kita kini hidup dalam abad nuclear revolution.Presiden  menyatakan,bahwa kaum sarjana harus berani think and rethink ,terus berusaha mencari kebenaran dan mengabadikan Ilmu Pengetahuan pada masyarakat yang bercita-citkan Keadilan dan kemakmuran.

Sekali lagi Presiden menrangkan tentang pentingnya modal(modal nasional dan kalau perlu pinjaman, tetapi jangan investasi modal  asing) Mangerial Knew how (dimana science penting sekali)  dan suasana (terutama  suasana politik)  yang baik bagi pembangunan.Berkali-kali Presiden  mengemukankan perlunya  kaum sarjana melakukan her-orientasi ,karena  tanpa ini Ilmu Pengetahuan  akan beku, mati, menjadi bangkai,.Terutama  dikemukakannya  pentingnya kaum sarjana  untuk menyelenggarakan  blue-print Pembangunan sesudash  ini disetujui oleh DPR kelak.

SURAT PERINTAH KASAD

MASUK PARTAI ATAU TIDAK? SEMUA PEGAWAI NEGERI GOLONGAN F  HARUS MEMBERI KETERANGAN                                                                                                                        KSAD Letnan Jendral A.H.Nasution  selaku Pneguasa Perang Pusat telah mengeluarkan surat perintah kepada semua kepala Urusan pegawai dari semua Kementerian dan Instasi Pemerintah Pusat, yang mewajibkan mereka untuk menyampaikan Laporan mengenai Keanggotaan Partai Politik daripada semua Pegawai negeri Golongan “F” yang administratip berdada dalam pengurusannya., harus disampaikan  kepad penuasa Perang Pusat KSAD,dalam hal ini pejabat yang ditunjuk ialah Assisten I KSAD paling lambat tgl 30 Nopember 1958.                                   Surat Perintah ini dikeluarkan atas dasar pertimbangan dalam hubungan dengan penyelenggaraan ketertiban dan keamanan umum dalam intasi pemerintah.Jurubicara KSAD menegaskan  bahwa hal itu adalah salah satu pasal menyatakanSetiap Pegawai negeri  wajib memberikan segala keteranagn yang diperlukan oleh Pemerintah  Perang bila keterangan tsb sangat diperlukan untuk kepentingan ketertiban Umum maupun bila dperlukan untuk menegakkan kelancaran roda pemrintahan,demikian letnan colonel Pirgandie.

(SK POS Indonesia ,koleksi dr iwan)

10 Agustus 1958

Sampul Surat dikirim dariR Bassan djaja sutan Jalan dipati Ukur bandung dengan stempel pos bandung 10.8.58 diatas prangko definite desain karet 75 sen , dan diteruskan oleh pos milter dengan stempel pso militer  025 , 22.8.6.1958 kepada sdr K.K.P.B. Padang di Pandang(Sum barat)

(koleksi Dr iwan)

11 Agustus 1958

KELANJUTAN NORMALISASI KEADAAN NEGARA RI

Kementerian penerangan dalam ruang siaran Pemerintah sabtu malam menguraikan  dalam acara “Kelanjutan Normalisasi Keadaan negar RI)

Rencana Normalisasi Keadaan yang dibicarakan Kabinet merupakan langkah normalisasi  yang menjadi follow up  atau kelanjutan sesudah berhasilnya tindakan tegas dan Operasional mematahkan potensi pemberontakan di sumatera barat  dan Sulawesi utara. Terutama rakyat didaerah-daerah  tersebut sedang mdnantikan kelanjutan  langkah-langkah  untuk menormalisasikan  daerahnya sesudah  beberapawaktu  lamanya daerah tersebut  dikocar-kacirkan  para pemberontak  dan dirugikan  kerkayaan dan harta –Benda daerah  dan rakyat olh  Petualang-petualang itu dan  mengalami  kerusakan tidak sedikit.

Jika melihat keadaan daerah bekas pemberontakan itu khusus, maka  ada dua masalah pokok yang menjadi objek langkah normalisasi itu.Pertama usaha dalam rangka keputusan Pemerintah melalui Munas dan Munap dalam bidang-bidang Pemerintahan dan Perekonomian serta Pembnagunan Umum, dan kedua normalisasi keadaan sesudah dikacaukan pemberontak dibidang Pemerintahan dan ekonomi.

Usaha Normalisasi yang umum, sudah tentu menjadi landasan utama,keputusan Pemerintah dalam MUNAS dan MUNAP tersebut, yang sebenarnya menunggu pelaksanaannya dan tempo hari tertunda karena pemberontakan itu.

Malah sebagian sudah dilaksanakan seperti pemberian  subsidi kedaerah anatara lain sumatera Barat dan Sulawesi dalam rangka  pelaksanaan otonomi daerah,meliputi  juga  Biaya Pemereintahan, Pendidikan dan  Usaha social lainnya dan rencana  pengirman bahan makanan  dan keperluan lainnya.

Dibidang ekonomi, maslah barter gelap  sudah dikeluarkan Peraturan laranagn  oleh Pemerintah, tapi tidak terlaksana  seluruhnya terumatama  sewaktu pemberontakan  di sumatera barat dan Sulawesi  Utara.,pihak Pemberontak melakukan terus perdagangan barter gelap itu.

Sekarang sebagai  tindak kelanjutan normalisasi  itu, tentunya  menjadi  perhatian khusus  maslah perdagangan barter  itu untuk pelaksanaannya.Selain itu  yang mengenai bidang perekonomian, dan pembangunanumunya, perlu dilanjutkan  rencana Pemerintah  yang telah diletakka rangkanya dalam keputusan neklui MUNAS dan MUNAP itu, serta keputusan pelaksanaannya.

Yang Kedua, meliputi keadaan daerah khusus sesudah pemberontakan , rencana Pemrintah yang akan dilanjutkan ialah pembnagunan dan pengembalian keamanan keseluruhannya.

Betapa hebatnya penderitaan rakyat daerah selama pemberontakan itu, krugian yang dialami rakyat berupa harta milik dan korban jiwa serta perlakuan lainnya yang tidak kenal perikemanusiaan ,dapatlah kita ketahui jelas baik dari keterangan umum dan bekas Komandan “operasi 17 agustus” di sumatera barat  Kolonel Ahmad yani .Selain korban manusia yang diderita Rakyat ,pun kesukaran yang dialami sebagai akibat pemberontakan  seperti kekuranagn beras,obat-obatan, sekolah bagi pemuda pelajar dan mahasiswa ,kerugian materiiil seperti alat-alat kantor dlll yang dilarikan pemberontakan,Semuanya itu tentunya menjadi efek dari rencana Pemerintah kearah normalisasi keadaan daerah sesudah pemberontakan.

Guna melaksanakan tindakan normalisasi itu, baik dalam rangka rencana umum meliputi keseluruhan tanah-air kita maupun yang berkenaan dengan normalisasi daerah itu khusus sesudah mengalami pemberontakan diperlukan pula ketenangan dan keamanan.sebab elama dibagian tanah air ini masih ada pergolakan dan pertentangan  serta ganguan-ganguan  keamanan, maka  keadaan ini  akan  merupakan  gangguan bagi tindakan Pemrintah  untuk normalisasi keadaan.

Oleh sebab itu  perlu juga  diserukan  kepada segenap lapisan  masyarakat diseluruh Tanah Air  supaya memberikan bantuan nya pula  kepad usaha-usaha pemerintah  untuk normalisasi keadaan Negara  dan daerah itu.Salah satu usaha  yangperlu perhatian, ialah mengelakkan Provokasi  yang merugikan, baik datang dari  luar maupun dalam negeri kita sendiri,maupun usaha pengacau lainnya dalam bentuk apapaun disegala  lapangan.

 

Tetaplah kita waspada terhadap nusuh-musuh disegala lapangan ,yang masih mengcau baik dari luar  mapun dari dalam negeri sendiri.tetapi sudah pasti kita tidak bisa  menungggu lebihlama  lagi usaha normalisasi Negara dan daerah ,guna mengatasi  kesulitan sekarang,dan untuk memenuhi harapan rakyat,demikian KEMPEN

(SK Pos Indonesia,11 agustus 1958,koleksi Dr iwan)

Komentar dr Iwan

Pada saat sesudah Kota Padang dibebaskan ARI, sekolah tetap berjalan dengan lancer hanya keuliatn guru, guru-guru dimana saya sekolah SMP FRater,kecuali frater masih ada beberapa orang,ada pelajaran yang gurunya masih baru dan belum begitu pengalaman sehingga sebagai murid kita harus aktif belajar mandiri,saya banyak belajar dari buku-buku yang saya peroleh saat mengikuti pertandinagn tennis meja di Surabaya tahun 199,dan tennis di semarang tahun berikutnya sehingga berhasil lusu ujian Negara sMP dengan nilai yang lumaya, kami hanya lulsu 8 orang dari 32 murid kelas III jurusan B,inilah hasil SMP Frater yang paling jelek dalam sehjarah sejak berdiri, dan hanya 5 orang yang diterima di SMA Don Bosco jurusan B,kami seluruhnya yang lim aorang tiga orang jadi dokter,2 orang lulus fakultas tehnik,sedang yang tidak diterima terpaksa sekolah di SMA Adabiah,dan yang tidak lulsu terpaksa mengulang tahun berikutnya,

Guru say Ahli Paru Prof Ilyah dt batuah mengayakan kepada saya bahwa akibat penderitaan rakyat baik fisik maupu mental,sejak setelah PRRI penderita penyakit TBC Paru sangat meningkat,dengan sangat gigih kami yang bertugas di suamtera barat sebagai doker telah berusah dan berhasil mengobati dan mencegah berkembangnay penyakit TBC paru tersebut,saat saya bertugas di solok tahun 1974-1979,saya menemui sangat banyak rakyat Minang asal solok yang menderita TBC=paru dan saya telah membantu mereka dengan program terapi murthakhir dengan biaya sangat ekonomis untuk membuat penyakit jadi inaktif dan mencegah penularannya lebih lanjut,saya harap saat ini permaslahan TBC paru tersebut dapat teratasi.

(Dr Iwan)

 

16 Agustus 1958

APRI SERANG BUNGUS

Penerangan Komando operasi 17 Agustus mengabarkan ,bahwa dalam suatu gerakan pembersihan yang dilakukan dengan snagat tiba-tiba dan sangat mendadak paukan APRI tanggal 16 Agustus  siang telah memukul dan mencerai-beraikan pusat-pusat kecil dari sidsa pasukan pemberontak  di Bungus,suatu tempat anatara Padang dan Painan.

Serangan yang sangat cepat dan mendadak itu telah menyebabkan pasukan PRRRI lari mocar-kacir  dan bingung  dan dalam tembak menembak  yang terjadi 15  orang kaum pemberontak  tewas, sedang mayat-mayatnya  ditinggalkan  begitu saja oleh kawan-kawannya.Sejumlah senjata  diantaranya  sebuah karaben dengan pelurunya  telah jatuh ketangan APRI sedang dari pihak  APRI  tak seorangpun yang kean atau luka-luka(Ant.)

(SK Indonesia raya,koleksi dr iwan)

17 Agustus 1958

Dalam upacara HUT 17 Agustus 1958 yang diadakan di Balai Satu dihadiri oleh masyarakat ramai dan para pelajar, Jusuf  yang tampil di podium sebagai pembaca Piagam Dewan Perjuangan ……

Pernyataan Kolonel A. Husein mengenai terbentuknya P.R.R.I.

Istri Yusuf namanya Nismar Hamid kakak kandung dari Azwar Hamid dan istri penulis sendiri

Sumber nagari web blog

Kisah lengkap baca  pada lampiran Kisah Nyata Masa PRRI

Sekitar bulan Agustus sampai September 1958 Markas PDM dipindahkan ke Padang Panjang (Kantor koramil sekarang) dan Markas PODM di Padang Panjang dibubarkan, akan tetapi di Batusangkar dibentuk lagi Markas PODM dengan lokasi Markas PODM dengan lokasi Markas tetap disebelah kanan kantor PUSPENMAS Batusangkar, dengan pejabat PODM adalah Pelda Hasan Basri.(kodimtanahdatar)

21 Agustus 1958

Informasi dari SK Indonesia Raya

PENDARATAN 2000 TENTARA AS DI SINGAPURA MENGELISAHKAN

Dubes Jones: Tak Perlu Khawatir  ,Hnay rekreasi  Belaka, Akan Pergi dalam 2-3 hari

Menteri Luar negeri Dr Subandrio menerangkan atas pertanyaan pers, bahwa pndaratan 2000 tentara amerika serikat di Singapura adalah sangat mengelisahkan ,nerhubung dengan masih adanya persoalan  di Timur tengah dan juga karena kita masih menghadapi pemberontkan dalam negeri.

Dalam suasana sekarang ini memang Pemerintah Indonesia mengharapkan supaya *ndonesia diberitahukan  lebih dahulu mengenai gerka-gerik Angkatan Perang Asing disekitar Indonesia, justru untuk tidak menimbulkan  kecurigaan dikalangan rakyat,demikian Subandrio.

Mengenai senjata Amerika Serikat  yang telh didaratkan  oleh pesawat Glober Master  di jkarta  atas pertanyaan , Subandrio  menerangkan, bahwa senjata  itu adalah  sebagain dari senjata AS yang penjualanannya  kepada Indonesia telah disetujui ,Subandrio tidak menerangkan tentang jumlah,harga dan macam senjata itu.

(SK Indonesia raya,koleksi dr iwan)

22 Agustus 1958

Informasi dari SK Warta Bandung

MAKLUMAT KSAD

DILARANG KERAS BERHUBUNGAN DG PRRI,PERMESTA &DI/TII                     Yang melanggar akan dikenakan Hukuman

PKI AKAN USULKAN AGAR KOSTITUANTE MEMBUBARKN DIRI                      Kalau tidak ada Gambaran Akan Hasil

ALM KAPTEN UDARA NAJARANA GUGUR SEBAGAI PAHLAWAN                  Upacara pemakaman  Jenazah Kapten penrbang Najarana susilo  yang gugur dalam  melaksanakan tugasnya menumpas  pemberontakan Permesta di Manado pada kamis pagi telah dilangsungkan,dihadiri oleh KSAU laksmana madya suryadarma ,Panglima TT III kol Kosasih,Kepala daerah  Jawa barat  Oja Somantri,Komandan pangkalan husein sastranegara  Let.kol. Wiriadinata.

Menteri Luar Negeri Subandrio                                                                                                            KITA BELI SENJATA DIMANA SAJA                                                                                       SETELAH AMERIKA NYUSUL INGGRIS

(SK Warta Bandung ,koleksi dr Iwan)

 

 

22 Agustus 1958

Surat dikirim dari Bandung 23.8.58 stempel tak jelas  ke Padang  dengan prangko 25sen, baru sampai di Padang 22.8.60 dikirim liwat pos Militer mungkin surat ini nyasar kemana  ?

25 Agustus 1958

Informasi dari surat kabar Sin Po(koleksi Dr iwan)

Masih Ada  Negara”Sewakan” Lapangan Terbang Kepada Pemberontak    Awas PM Djuanda pernah peringatkan akan membalas serangan terhadap Wilayah RI

Ketua seksi Pertahanan Parlemen <Manai Sophian (PNI),menerangkan dalam percakapan dengan pers bahwa sesudah semua Lapangan Terbang di Seluruh Tanah Air dibebaskan dari tangan kaum pemberontak oleh APRI kita, tidak mungkin ada lagi Lapangan terbang yang dapat digunakan oleh Kaum Pemberontak untuk memberangkatkan sesuatu PesAwat Terbng guna melakukan pengeboman atau pengacauan didaerah RI.

Oleh karena itu,maka ketua Seksi Pertahanan Parlemen  itu berpendapat bahwa masih adanya pesawat terbang  asing yang diseewa oleh kaum pemberontak untuk melakukan pengacauaan didaerah Indonesia bagian Timur tentunya diberangkatkan dari suatu Lapangan terbang diluar wilayah RI (dari Negara lain)

Peringatan Djuanda

Berhubung dengan itu maka Manai Sophiaan berpendapat bahwa kewajiban Pemerintah sekarang ialah menyelidiki Pngkalan terbang Asing  manakah yang dipakai untuk memberangkatkan  Peasawt terbang Asing yang disewa oleh kaum Pemberontak.Dalam hubungan ini ,Manai Sphiaan memperingatkan bahwa PM Djuanda dalam keterangannya kepada Parlemen pernah menyatakan  bahwa apabila Pemrintah Indonesia dihadapkan terus-menerus  pada kenyataan tentang  dipakainya Lapangan terbang  oleh Kaum Pemberontak PRRI/Permesta ,maka

Pemerintah Indonesia akan mengerahkan  kekuatannya untuk membalas  serangan Pemberontak yang berpangkalan dilapangan terbang  asing itu,dengan mengambil resiko Pemberontakan di Indonesia menjalar  jadi Persengketaan Internasional.

Dengan demikian Manai berpendapat bahwa apabila Pemerintah menegtahui Pangkalan Asing yang dipakai oleh Pesawat asing yang disewa kaum pemebrontak maka peringatan PM Djuanda didepan Parlemen itu akan tidak dapat dihindarkan pelaksanaannya.

Terus waspada

Patut ditambahkan bahwa seperti diberitakan  Kantor berita Antara, menjelang perayaan ulang tahun ke-13 RI baru-baru ini di Menado masih terjadi serangan oleh pesawat terbang asing guna mengacaukan perayaan itu.Manai membernarkan ketika salah seorang wartawan mengatakan bahwa  seklaipun berita tentang Pengacauan Pemberontak dengan peswat asing itu sudah  agak terlambat ,tapi soalnya kalau bisa menjelang hari Preoklamasi tempo hari,maka unya juga bisa diulangi lagi dihari-hari yang akan datang, lebih-lebih jika kitta kurang waspada.

 

Peristiwa PRRI-PERMESTA Dibukukan

Peristiw PRRI-Permesta oleh Letkol Pirgandie telah dibukukan  dan diterbitkan dalam bahasa Inggris dan Indonesia, buku yang berbahsa Indonesia sedang dicetak di Jogya.

KUOMINTANG DILARANG

Penguasa Perang Daerah Swatantara I Jakrta Raya Letkol E.Dachjar mulai tanggal 20 Agustus 1958 melarang semua kegiatan dan berdirnya partai,Badan dan Yaysan dri golongan Kuomintang dalam daerah hokum Jakarta. Dalam larangan itu dimaksud juga badan yang menjadi bagian atau sehaluan dengan Kuomintang termasuk cabang-cabang dan ranting-rantingnya.Yang dimaksud dengan partai Kuomintang ialah A.Tjanang,Bagian,Ranting dari partai tersebut.B.Organisasi ,Badan,Yayasan yang sehaluan dengan partaitersebut.C.Badan Hukum dimana terdapat diantara Pengurus,Direksi,Komisaris,Pemegang Saham atau Pegawainya terdapat orang jadi atau pernah jadi anggota partai Kuomintang.

PERMULAAN INVASI?

Kapal perang RRC dan Taiwan senin pagi telah terlibat  dalam salah satu pertempuran Laut yang terlama  yang eprnah berkobar  dalam Permusahan dis elat Taiwan.

Kapal Perat RRC minggu malam  telah menyerang Kapal Taiwan  disebelah selatan Quemoy dan pertempuran ini masih  terus berlangsung  sampai senin pagi demikian menurut pengumuman Kemnterian  Pertahanan Taiwan.

Sumber  Kementerian Pertahanan Taiwan  mengatakan  bhawa serangan  serntak  dari Udara,Laut dan  Drat itu  mungkin merupakan permulaan  suatu Penyerbuan  terhadap Quemoy.Seorang jurubicara  Kementerian itu mengatakan  bahwa kapal perat RRC dan Taiwan  sedang bakuhantam di perairan antara Quemoy Besar dan Pulau  RTungting yang dikuasai Taiwan  diujung selatan Taiwan.

 

 

QUEMOY YANG DISERANG,DULLES YANG MARAH-MARAH

Menururt Kementerian Pertahanan di Pulau Taiwan, meriam RRC malam Minggu yang ini telah memuntahkan lebih dari 55.000 buah peluru didalam jangka waktu 2 jam terhadap 2 pulau yang diduduki pasuka Kuomintang yakni Quemoy besar dan Ketcil. Dikatakan bahwa ini adalah pemboman yang paling hebat atas pulau-pulai tadi selama sejarah permusuhan didaerah selat Taiwan .

Ini mungkin permulaan dari pemboman untuk melelahkan pihak Chiang Kai  Shek ,siang-malam, untuk melelahkan Gernisun Quemoy.

DULLES MEMPERINGATKAN

Amerika Serikat Sabtu 23-8 secara tidak langsung memperingatkan RRC supaya jangan sampai berusaha merebut Quemoy atau Matsu karena langkah itu bisa membahayakan Perdamaian didaerah sekitarnya.Peringatan ini tercantum didalam surat dari Mentyeri Luar negeri AS Dulles kepada Ketua seksi Luar negeri Majeleis Rendah  AS Thomas Morgan dan morgan dengan segera mengumumkannya.Dalam surat tadi Dulles mengatakan bahwa merasa “gelisah”bahwa Angkatan Perang RRC dipesisir Tiongkok  Drat yang letaknya seberang Menyeberang dengan Pulau Quemoy,Matsu dlll yang didduki pasukan Kuomintang diperkuat. Surat dulles tadi adalah Jawaban terhadap surat Morgan Juma’at ini  dalam mana Morgan mengatakan bahw aia “merasa kuatir” memperhatikan Laporan bahwa Angkatan Udara RRC disebrang Pulau Quemoy dan Matsu sedang diperkuat.

ISI SURAT DULLES

Kata dulles dalam suratnya AS sungguh merasa gelisah dengan adanya bukti tentang Pemusatan Kekuaatan Komunis tiongkok.Hal ini menimbulkan dugaan bahwa mereka(RRC) mungkin akan ken goda untuk mencoba merebut dengan kekerasan Pulau Quemoy atau matsu.Saya kira akan sangat besarlah resikonya bagi setiap orang yang berkata bahwa seandainay Komunis Tiongkok mencoba mengubah keadaan ini dnegan kekerasan dan mencoba menyerang dan menaklukan Pulau-pulau itu,maka hal itu dapat mwrupakan operasi yang terbatas sja, saya kuatir bahwa perbuatan semacam itu akan berarti ancaman terhadap Perdamaian daerah itu,.Oleh sebab itu saya mengharapkan dan saya percaya bahwa itu tidka akan terjadi kata dulles.

Info terkait

(Quemoy 1958 – A kind of/sort of shooting war)

With Cold War fears dominating our life and policies towards the rest of the world in the 1950s, there was no end to skirmishes, threats and outbreaks in just about every corner of the planet.

One such skirmish had to do with the Formosa Straits, the islands lying between Mainland China and Taiwan known as Quemoy and Matsu.

Their possession had been contested ever since Mainland China fell to the Communists and the former government of China set up shop on Taiwan in 1949. At the time, Mainland China wasn’t recognized by the the United States or the U.N. and Taiwan, or Free China as it was known, was.

So when the Mainland Chinese launched a series of bombings and a threatened invasion on the islands of Quemoy and Matsu in September of 1958, the Domino theory of Communist conquest came into full play, and The U.S. was quickly drawn into the conflict, prompting President Eisenhower to go before the American people and explain what was going on and what we were potentially about to get ourselves into.

Pres. Eisenhower: “Congress has made clear its recognition that the security of the Western Pacific is vital to the security of the United States, and that we should be firm. The Senate has ratified by overwhelming vote, security treaties with The Republic of China, covering Formosa and The Pescadores, and also the Republic of Korea. We have a mutual security treaty with the Republic of The Philippines which, situated so close as it is to Formosa, could be next in line for conquest if Formosa into hostile hands.”

The crisis eventually simmered down, with Mainland China backing away from a full-on shooting war. But it certainly didn’t end the saber rattling that went on in the region.

Then again, Vietnam was on slow simmer at the time.

(newstalgia)

 

FRAKSI-FRAKSI ILSAM DI KONSTITUATE BERJINGKRAK MERAS TERSINGGUNG OLEH KRITIK SARTONO

Ketua frakis Masjumi,NU,PSII<PERTI,PPTI dan AKUI dalam Konstituantye telah meminta perantaraan Ketua Konstituante untuk meminta kepada ketua Parlemen Mr sartono mencabut ucapannya di Magelang.Pada surat yang meminta perantaraan tersebut, dilampirkan berita surat kabar “Kedalatan Rakjat” di Jogya yang memuat ucapana Mr sartono dalam pertemuan dengan para pemimpin di Magelang.

Demikianlah isi suart tersebut:”Kedaulatan Rakjat “Jogya tgl 14-8- memuat laporan mengenai pidato Mr sartono itu sebagai berikut :”Mengenai Demokrasi terpimpin,Mr sartono katakana, bahwa Demokrasi terpimpin dengan UU Dasar berdasarkan Panca sila itu, merupakan syarat mutlak untuk Kesatuan Negara dan bangsa Kita yang terdiri banyak Pulau dan Suku-Suku Bangsa itu,

 

Hendaknya konstitunte dalam hal ini dapat berbuat  hanya memperbaiki UU Dasar Sementara itu dengan tidak merobah azas dan tujuannya,  merobah Azas dan Tujuan ,berarti tidak mentaati kepada jiwa Proklamasi.

Kalau ada anggota tentara  bertanya kepada saya , apakah yang akan diperbuatnya, jika konstituate merubah  UU Dasra yang tidak lagi berdasarkan Panca sila ,maka bagi saya, Jika saya jadi  Tentara, tidak akan mentaati Putusan Konstituante itu.dan Konstituante yang merobah UU Dasar tidak berdasarkan Panca sila itu, sudah tidak metaati lagi pada  tujuan Prokjlamsi ke,rdekaan  kita.

Demikian  Mr sartono  menurut “KR” Ia berbicara  dikediaman Residen Kedu  dimuka Pejabat-Pejabat Sipil dan Militer  setempat. Minggu Mlam  usaha untuk menghubungimMr sartono, untuk ditanyai  bagaimana pendapatnya  mengenai hal tersebut ditas tidak berhasil.

( SK Sinpo,koleksi dr Iwan)

September 1958

Gejolak api besar membakar satu kampung yang tak mungkin saya lupakan.
Saat itu penghadangan oleh gerilya PRRI di Jalan antara Solok – Padang sekitar

nagari Cupak, kabupaten Solok, mungkin pertengahan September 1958.

Saya melihat peperangan dan gejolak api dari tempat persembunyian di dangau Santo di Batu Kuali di lereng bukit di sebelah Selatan.

 

(Nagari Com)

Kisah lengkap baca di lempiran

Saya jadi ingat saat bertugas di Solok tahun 1974, ketika bersama orang tua naik mobil pribadi toyota Corolla 1000 cc, hamper saja menabrak seorang anak kecil umur 4 tahun yang tiba-tiaba lari  menyebrang dari rumahnya, untung saya dapat mengrem karena jalan mobil cukup pelan saat itu lagi ramai hari pasar, tiba-tiba orang—orang drai pasar lari menyerbu hendak merusak mocbil, saya saat itu berpakaian preman, keluar mencabut revolver dan siap untuk menembak perinagtan keatas , dan melihat anak tersebut diatas kap mobil dan ternyata masih hidup dan sehat, dan beberapa polisis lalulintas  dari polres Solok berteriak itu dokter polisi dan saya selamat dari serbuan rakyat.

Kemudian bnayak orang cupak yang berobat ke tempat praktek pribadi saya di solok.

(Dr iwan)

September 1958

Yon E berangkat ke Jambi dan Bengkulu dipimpin oleh kapten Win Tamawawi sukses menumpas gerombolan dan kehilangan satu orang anggota Serka Ito Tusnawan di front Muara Tebo yang berlangsung pada September 1958 s/d Mei 1959

Sedangkan Yon A yang ikut melaksanakan operasi sadar yang dipimpin oleh Kolonel  Ibnu  Sutowo berhasil membersihkan pengaruh PRRI pada unsur perwira di wilayah TT.II/SRIWIJAYA.

 Hasil gemilang diperoleh oleh Yon C TT.II/SRIWIJAYA pimpinan Mayor Sai Sohar yang berhasil merampas 100 pucuk senjata dan menewaskan 250 orang musuh difront bengkulu, dengan kerugian gugur 10 orang personil.

(KODAM Sriwijaya weblog)

 

3 Oktober 1958

Dalam rangka mengakhiri pergolakan separatis bersenjata PRRI,Siliwangi dengan Surat Keputusan Panglima TT III tertanggal Bandung 3 Oktober 1958, telah menyusun suatu Resimen Team tempur dengan nama pengenal RTP-01/Siliwangi.

Setiap enambulan sekali pimpinan pasukan tersbut telah mengalami pergantian .

Adapun pimpinan itu berturut-turut adalah letbnan Kolonel Umar Wirahadikusuma, Letnan Kolonel E.Dacgjar, Letnan Kolonel Ishak JUarsa,Letnan Kolonel Supardjo dan Letnan Kolonel R.Tarmat widjaja.

Tim termpur RTP-01/siliwangi terdiri dari  battalion 309 dan 330/Kujang I, Batalion 328/Kujang II dan Gabungan “Galuh” .dan terdiri dari kesatuan Kaveleri,Artileri ,dan lain-lain kesatuan bantuan.

RTP-01/Siliwangi mendapat tugas didaerah Tapanuli,suatu daerah dimana pengikut PRRI berbeda dengan di daerah lainnya,ternyata melakukan perlawanan yang cukup gigih.

RTP 01-Siliwangi mulai terjun didaerah operasi pada minggu terakhir Oktober 1958

. Kapten Sinta Pohan dan kawan-kawannya mendudung PRRI,menyabot usaha  pembangunan di tapanuli.

Mereka menentang pembukaan lapangan terbang Pinangsori dan menyusun organisasi penyeludupan lewat pelabuhan laut Sibolga,serta dengan diam-diam  mereka menerima senjata dari Sumatera tengah dan mempersenjatai  pemuda-pemuda yang disebut”Pemuda Pelopor  Pembnagunan”,juga mereka melalukan penyeludupan dan barter.

 Pasukan Kapten Sinta Pohan kemudian bergerak kearah Medan ,dan pasukan PRRI yang mundur dari Kota Medan akibat diserang oleh  tentara APRI dalam operasi SAPTA MARGA  ,bergabung ke Tapanuli,sehingga Tapanuli menjadi pusat  dan pangkalan penyerangan PRRI.

Kecuali Sidikalang,pasukan TNI  TT I/Bukit Barisan dan Batalion 322/Siliwangi tidak ada yang masuk kedaerah  keResidenan Tapanuli,mengapa demikian?

Hal ini karena KSAD(Kepala Staf angkatan darat, A.H.Nasution) tetap memegang teguh janjinya untuk tidak mengusik daerah Tapanuli,dengan harapan daera RI 3 sendiri akan bertindak dan menyelesaikan persoalan pasukan PRRI di daerah Tapanuli,akan tetapi karena faktor kekuatan yang tidak berimbang,Mayor Sahala Hutabarat tidak mampu untuk melaksanan pengamanan mandiri,sehingga pasukan PRRI dengan leluasa mengunakan daerah Tapanuli sebagai pangkalan penyerangannya.

(Djamin ginting)

19 Oktober 1958

Foto Bergelimpangan mayat mayat mereka ,mati muda karena mereka mengikuti kata hati mereka, inilah anak buah Sinta Pohan yang tewas dalam pertempuran  dekat Siantar.

Pada tanggal 19 Oktober sekitar jam 16.00 sore terjadi  Pertempuran sengit

didekat kota Pematang Siantar

 antara Pasukan Pemerintah (RPKAD) dan Pasukan Resimen II yang dipimpin sendiri oleh Mayor Manaf Lubis

di desa Simarimbun (7 km dari Siantar) .

Pertempuran berlangsung selama empat jam ,dimana kekuatan pasukan Pemberontak yang dipimpin oleh  Lts Frietz Hutabarat yang berjumlah kira-kira 500 orang dengan bersenjata lengkap dan modern, diantaranya terdapat Bazoka dan Mitralyur.Sebenarnya sejak dari

 Prapat

Res.II sudah mengulur dan pasukan Pemberontak yang kebanyakan terdiri dari Pelajar-Pelajar dan Pemuda-Pemuda yang dipersenjatai terus juga menyerang .

Mau tak mau untuk mempertahankan Kota Pematang siantar RPKAD yang datang tepat pada waktunya menyerang pula mereka

Dalam pertempuran tersebut Lts Franz Hutabarat tewas ditembaki oleh pasukan RPKAD dan hancurlah Pasukan Itu, banyak diantara mereka yang menyerahkan diri.

Foto dokumen penting didalam saku Lts Franz Hutabarat(terang bulan)

Didalam saku Lts Fritz Hutabarat didapati dokumen penting.dokumen itu menyatakan mereka harus menduduki kota Pematang Siantar pada malam itu juga.

Kiranya Naingolan tidak bermaksud melarikan diri ke Tapanuli .tapi untuk sementara waktu ingin bertahan diluar kota Medan dan selanjutnya menyerang kembali Kota Medan dari empat jurusan, yaitu dari jurusan Kabanjahe dan Rantau Prapat secara serentak dengan sehgala kekuatan mereka.

Tapi dengan gagalnya Sinta Pohan menduduki Pematang Siantar gagallah segala usaha mereka dan naingolan terpaksa melarikan diri ke Tapanuli.

Juga ketika terjadi pertempuran di Simarimbun,

terjadi pula pertempuran di Titi Pelawi dekat Pangkalan Berandan antara Pasukan Pemerintah dan Pasukan Pemberontak yang ingin melarikan diri ke Aceh.

Disini banyak Pasukan Pemberontak yang tewas, tetapi pada pertempuran di Simarimbun hanya seorang anggota RPKAD yang tewas bernama M. Sihombing dan 3 orang luka-luka.

Naingolan yang dulu pernah menangkap Mayor Samosir ketika menjadi koamndan KMKB Medan dan membongkar peristiwan penyeludupan M.Simbolon di teluk Nibung dan pernah ingin menagkap Kol. M.Simbolon , kini dinyatakan sebagai pemberontak.

Nyata-nyata Naingolan telah menjadi alat PRRI dan mengikuti kata hati mereka masing-masing dan kalah dengan bujukan uang Nainggolan.

Kiranya tindakan nainggolan ini banyak mendapat sokongan dari Tokoh-tokoh Politik ,antaranya anggota Parlemen (Udin sjamsudin dan Marwardi Nur ) dan konstituante ( H.Bharum Djamil).Mereka membuat pernyatan menyokong Tindan Nainggolan, karena itu ketika naiggolan lari,Pemerintah terus menjepit terus kerah itu pihak TT I lalu mengadakan penangkapan-penangkapan terhadap mereka.

Dari kalangan Polisi Kota Medan banyak yang ditangkap dan adea yang dibawa ke jakrta untuk diperiksa seperti kepal Polisi Propinsi sumatera Utara Komisaris Besar M Isja dan Kepal DPKN AKBP Baharuddin.

Dikota Medan sendiri Panglima TT I Let.Kol. Djamin Gintings membentung Panitia Screening terhadap mereka yang dituduh ter;libat dengan Nainggolan.

Di Hutan-hutan Tapanuli

(Terang bulan 1958)

24 Oktober 1958

Pada tanggal 24 Oktober 1958,Letnan Kolonel Umar Wirahadikusuma,komadan RTP-01/Siliwangi dengan dikawal oleh Peleton Combat 309 dan Panser Eskadron IV Kavaleri, bertolak dari Padangsidempuan untuk mengadakan kontak dengan Letnan Kolonel Bahari Effendi Siregar Komandan Infantri 3(RI3) ,

 

 

akan tetapi dalam perjalanan mendapat hadangan dari pihak PRRI

disekitar Batangtoru.Rombongan dapat terhindar dari bahaya,selanjutnya pasukan Batalion 309/Siliwangi digerakan untuk mengadaka n pengintaian dari

Padang sidempuan untuk menentukan rencana operasi selanjut.Pada hari yang sama, Kompi II diperintahkan untuk merebut

 Simaningir dan Bohandolok

dengan gerakan melaui jalan besar,sedangkan kompi I dan IV melambung ke Simaninggir,

(Djamin ginting)

 

Pada tanggal 24 Oktober 1958,Let.Kol.Umar Wirahadikusuma ,komanda RTP-o1 /Siliwangi  dengan dikawal oleh peleton  Combat 309 dan Panser Eskadron IV Kavaleri bertolak ke Padang Sidempuan untuk mengadakan kontak dengan letnan colonel Bahari Effendi Siregar,komandan resimen Infanteri 3(RI 3) akan tetapi dalam perjalanan mendapat hadangan dari pihak PRRI

disekitar Batangtoru.Rombongan dapat terhindar dari bahaya, hanya seorang sersan Mayor kavaleri mendapat cedera.

Pasukan Batalion 309/Siliwangi mulai digerakkan untuk mengadakan pengintaian keluar kota.Dengan kembalinya Komandan RTP-01/Siliwangi dari Padangsidempuan,maka ditentukanlah rencana operasi selanjutnya.

Kompi II dibawah pimpinan  Letnan Abidin, diperintahkan untuk merebut Simaninggir(Pemandangan Indah) dan Bohandolok dengan gerakan dilakukan melaui jalan darat, sedangkan Kompi I dan Kompi IV melambung ke Simaninggir dibawah pimpinan Komandan Batalion sendiri,Kapten Sajiman Surjohadiprojo.

(Umar Wirahadikusuma)

25 Oktober 1958

kesesokan harinya hanya simaninggir yang berhasil direbut setelah mendapat perlawanan yang sengit dari Tentara PRRI,akat tetspi pihak PRRI dapat dipukul mundur dan bertemu dengan pasukan battalion 309/Siliwangi.Bohandolok akhirnya dapat direbut dan merampas 1 jeep. Tjung riffle dan 1 Carl Gustaf,degan demikian jalan menuju Tarutung dapat dikuasai.

Kemudian gerakan dilanjutkan melalui Tebing yang curam  dengan ,medan yang berbahaya dsekitar Kilometer 9 telah dapat dilalui setelah ada pos bataluion 309.siliwangi di Simaninggir dan Bohandolok.

(Djamin Ginting)

Hari ini Simanggir dapat direbut dengan mengalami perlawanan yang sengit dari pihak PRRI akan tetapi pihak lawan akhirnya dapat dipukul mundur dan bertemu dengan pasukan yang berada dibawah pimpinan Komandan battalion 309/Siliwangi.Bohandolok akhirnya dapat pula dikuasai APRI dan berhasil mrampas 1 Jeep, I jungle-rifle dan 1 pucuk Carl Gustaaf , dengan demikian maka jalan yang menuju Tarutung baru dikuasai APRI 12 kilometer.

Gerakan kemudian dilanjutkan, tebing-tebing curam,pemandangan yang indah dan medan yang membahayakan disekitar km-9 telah dilalui lalulitas kendaraan tentara mulai sibuk dan tidak perlu lagi kuatir karena Simangir dan Bohandolok ditempati Pos battalion 309/Siliwangi

(Umar wirahadikusuma)

28 Oktober 1958

Harian Merdeka menulis soal pidato Soekarno yang disampaikan tanggal 28 Oktober 1958. Secara tegas Soekarno mengutuk para pimpinan PRRI-Permesta. Cuplikan berita itu ditulis Keith Foulcher, dalam buku Sumpah Pemuda, Makna dan Proses Penciptaan Simbol Kebangsaan yang diterbitkan Komunitas Bambu,

“Presiden Soekarno menjatakan dengan tegas kalau dia seperti Ahmad Husein, Simbolon, Somba dan Warouw, dia akan merebahkan diri di dalam hutan dan minta ampun kepada Allah SWT karena telah mendurhakai kemerdekaan bangsa Indonesia dan mendurhakai Sumpah Pemuda yang keramat itu.”

(harian Merdeka)

 

 

5 Nopember 1958

Surat undangan  rapat dari kantor Walikota /Kepala daerah Kota Pradja Padang Pandjang,

Dengan hromat’Bersama ini  diundang saudara-sudara untuk menghadiri  rapat penyambutan Pemrintah Kabupaten tanah datar pada

Hari  Kamis Tanggal 6 Nopember 1958

Bertempat di Gedung fakultas Muhamadijah Guguk Malintang Padang Pandjang                                                                                                                                  mulai Djam 10 pagi                                                                                                                  ATJARA                                                                                                                                             1.Uraian dri walikota Kepala daerah Kotapradja P.P                                                 

  2. Sambutan komandan sektor I BN 502 Brawidjaja P.Pandjang

3.Sambutan dari  Koordinator  Pemerintah Kabupaten tanah Datar.

 4.Sambutan dari  Kepala Polisi  Kabupaten tanah datar   

                                      5 Sambutan  dari Pa onder Distrik Militer(ODM) P/P.                      

6.Sambutan dari Badan  Penasehat  Kabupaten tanah datar /Kotapradja Padang Pandjang

Demikianlah  agar saudar maklum  dan kedatangan saudara sangat diharapkan

Pd Wali Kota/Kepala daerah  Kotapradja   Padang Pandjang

Tanda tangan  dan stempel walikotapradja R.I.

(M.J.Dt.Malano Basa)

(koleksi Dr iwan)

8 November 1958

SK PENERANGAN 8 NOPEMBER 1958:

1) PERHUBUNGAN DGN SOLOK  DAN SEI PENUH LANTJAR KEMBALI

Perhubungan lalu lintas antara Padang denganSsolok yang terputus bebrapa hari yang lalu karena ada gangguan dari pihak pemberontak, kiini telah pulih kembali.

2)DAHLAN DJAMBEK DISINJALIR DI KOTO TANGAH

Penerangan Komando operasi 17 Agustus mengumumkan bahwa hari senin tanggal 27 oktober yang lalu Dhalan Djambek,kapten PRRI Sjahruddin dan Kapten PRRI Azhari disinyalir berada dikoto Tengah dalam kabupaten 50 kota (Payakumbuh).

 Selanjutnya mengenai penghadangan yang dilaukan terhadap Bus Umum didesa Jawi-Jawi Kabupaten Solok ,dikabarkan 111 Bus Umum dicegat dan dilarikan Gerembolan Pemberontak. Pencegatan itu dilakukan oleh lebih kurang 200 orang gerembolan dipimpin oleh bekas kapten Isris M. Keesokan harinya

 tanggal 2 Desember 1958, kesatuan dari BR 441 Diponegoro mengadakan penegjaran dan telah berhasil menemukan ke sebelas Bus tersebut. Menurut keterangan,selain merampok dan melucuti barang-barang  penumpang Bus tersebut , gerembolan juga membawa lari beberapa orang penumpang.

Tanggal 5 Nopember yang lalu,

dalam suatu gerekana pembersihan yang dilakukan oleh APRI dari

Pos Lubuk Selasih kesekitar Desa Cupak Kecamatan gunung Talang (di Kabupaten Solok),

 telah dapat menembak mati dua orang gerembolan dan merampas

Sepucuk senjata pistol Bouwman.

3)TAHAN KMT DAN PRRI DITEMPATKAN DIPULAU ONRUST

Para tahanan Kuomintang (Tionghoa) dan PRRI -PERMESTA yang pokoknya dituduh terlibat dalam berbagai kegiatan suversif didaerah, sejak bebrapa lama ini ditempatkan di pulau Onrus yang terletak di teluk Jakarta(Kepulauan seribu).

Wakil KASAD

Brigadir Jendral Gatot Suroto ,

 hari rabu telah melakukan inspeksi

dipulau Onrust

dengan diantar oleh ketua Penguasa Perang Jakarta Raya Letkol. Dachjar.

 Pulau Onrust termasuk salah satu tempat yang dinyatakan sebagai objek militer, dimana orang dilarang masuk kedaerah itu tanpa izin pihak Penguasa Perang Daerah Swatantra I Jakarta Raya.

4)IKLAN KEMATIAN DR.MOEHAMMAD JOESOEF

Dengan kodrat ilahi telah berpulang Dr Mohammad Joesoef dalm usia 64 tahun, semas hidupnya beliau adalah dokter partikelir Ahli Penyakit Mata, telah berpulang dirumahnya jalan Sekolah no.2 Bukit Tinggi pada hari selasa tanggal 4 November 1958. Kami yang berduka ,isteri Dr M.E.Joesoef Thomas ,Anak : Sonja dan Erwin Dameri, dsbnya(DR Thomas adalh dokter terkenal di Sumatera Barat, khusus buta keluarganya untuk jadi kienangan-crtatan dr Iwan)

 

Desember 1958

4 Desember 1958

Surat dikirm lewat kurir dari adik mertua saya Payakumbuh kepada ayah mertua saya di Padang Panjang isinya sebagai berikut

PJK 9 Des 1958

Pa dan ne yth

Bagaimana   pa dan ne sekarang? Ada sehat-sehat saja hendaknya.Heng sampai  sekarang belum beranak sebetulnya bulan November  tetapi di tunggu-tunggu  sampai skearang belum juga.  Heng dengar  dari padang  masa Kim mau kawin  tanggal 29 Desember  ini.Sayang  sekali Heng  tidak bisa  datang sebab  kalau sudah beranak  mana bisa  dibawa anak kecil  naik motor,baik kalau tidak ada dapat serangan  di jalan,kalau ada  masuk-masuk dalam Bandar  sama anak kecil  susah sekali.

Si sui(Tjoa Tjoan soei) belum lagi bekerja dan belum dapat etrima uang dari PU.Dia janji barangkali tahun 1959 . Harap-harap sajalah bisa terima uang kita tapi obat Heng sudah terima.Lain kabar ada baik saja

Oei Sioe Heng Pjk

(koleksi Dr Iwan)

 

12 Desember 1958

Bagaimana pendapat wartawan majallah Skets Massa Jakarta, silahkan dibaca cuplikan info yang kontaversial dari majallah tersebut (koleksi Dr iwan)

KISAH TIGA PETUALANG MILITER

Oleh Satrya

Dalam kelicinannya sebagai Organisator gerakan terror dan berusaha merobah struktur Negara Zulkifli Lubis berhasil mempenaruhi tiga orang Komandan Daerah bergolak yang dengan taat merencanakan usaha merobah struktur Negara menurut Program Z.Lubis dan kalau perlu menganti Bung Karno sebagai Presiden.

Barlian,Ventje Samual dan Ahmad Husein

Pemberontakan di Suamtera Barat/Tengah dengan Proklamasi Pemerintah Tandingan denagn Nama PRRI dan didukung oleh Dewan Banteng dan Permesta, dalah kelanjutan dan usaha tindakan terachir  dari aktivis Z.Lubis dalam usahanya untuk merubah struktur  Negara.

Dalam kegiatan ini Z.Lubis mendapat kawan sefaham, setujuan dan sealiran serta secita-cita dari mereka kaum Politisi yang menghadapi jalan buntu dalam usaha mereka untuk menjatuhkan Presidden Sukarno untuk dapat menguasaai Negara agar dapat mereka atur sesuai dengan cita-cita mereka

Mereka itu antara lain Mohammad Natsir , ketua Umum Masjumi, Mr Burhanuddin Harahap , Mr Sjafruddin Prawiranegara,Amelz dan sebagainya.

Disamping itu Z.Lubis mendapat bantuan kuat dari kaum Petualang Militer yang telah banayk menjalankan kejahatan memperkaya diri dengan tidak sah dan menyalahguankan kedudukan dan kekuasaan yang mereka miliki.

Mereka itu sedang “ bentanyangan” mencarai jalan kleuar menghindarkan diri dari cengkrmanan hokum.

Maka bertemunya ketiga anasir jahat mengkhianat tersebut merupakan suatu hal yang melapangkan jalan nebuju ketindakan khianat memberontak terhadap Pemerintah Republik Indonesia.

APAKAH INI BUKAN KEJAHATAN BESAR !

Setalh melalui Pewrgolakan-pergolakan Daswrah-Daerah Sumatera Tengah,Suamtera Utara(baca Medan) dan Sulawesi Utara sebagai siasat  Z.Lubis untuk menjatuhkan Kabinet Ali ke-III dan berhasil membubarkan Kabinet tersebut, makia Z.Lubis sesuai rencana mereka mela njutkan kegiatan mereka. Dan kini lebih nekat.

Rencana Z.Lubis itu diatur secaraplanmatig dan meurut yang disiarkan yang berwajib , dari dokumen-dokumen yang dapat dirampas dari Sekretaris Z.Lubis, SATRIA di Padeglang ,antara lain berbunyi :

“Jalan Menuju Realisasi Cita”

1.Cukuplah argumentasi untuk menilai “Negatif” Pusat Pemerintahan  yang sekarang itu, yang menempatkan Presiden Sukarno sebagai alat Sandaran Kekuatan, pimpinan Angkatan Darat ,sebagai alat sandarac hokum, Kabinet Djuanda dan sebagai alat tampungan pada potensi kemasyarakatan Dewan nasional (machtsconcentartie)(kosentrasi masa)

2.Maka dengan demikian jelas bagi kita, bahwa Presiden Sukarno, Pemimpin Besar kita adalah menjadi sasaran utama bagi Z.Lubis dan komplotannya  untuk dijatuhkan  dan setelah Bung Karno tidak berkuasa lagi  barulah mereka dapat berbuat sekehendak hatinya.

Maka diusahakan untuk membunuh Prseiden Sukarno dan diganti dengan lain orang menurut pengakuan Penjahat-penjahat  terorit Cikini dimuka pengadilan, adalah Bung Hatta atau Sulatan (atau lainnya).

Tetapi oleh karena usaha membunuh Bung Karno gagal, maka dipraktekkan rencana mereka yang berbunyi :

Alternatif  yang bertempat jauh dari tujuan adalah:

1.Proklamasi Negara sebagai suatu “Move” taktis yang maksimum

2.Pembentukan Pemerintah Pusat yang lain..

( majallah Sektsa Massa 12 Desember 1958 koleksi Dr Iwan)

 

 

17 Desember 1958

 

Demikianlah, seluruh proses yang sudah saya uraikanitu akhirnya melahirkan Memorandum PM Djuanda, 17Desember 1958, seperti yang saya kutip selanjutnya ini.

 

1. Untuk mencari jalan dalam mencapai pemulihan keamanan

di daerah Aceh, telah dilaksanakan beberapa

pembicaraan antara Pemerintah dan Penguasa Perang

Aceh. Di antara pembicaraan-pembicaraan itu, suatu

pembicaraan khusus dilakukan di Istana Merdeka pada

tanggal 9 Desember 1958, yang dihadiri Presiden selaku

Panglima Tertinggi, Perdana Menteri, Wakil Perdana

Menteri I dan II, GKS (Gabungan Kepala Staf), Komandan

KDMA/Penguasa Perang Daerah Aceh dan Gubernur

 

2. Pembicaran khusus tersebut menghasilkan suatu persetujuan

paham yang dipakai sebagai pegangan dalam

penyelesaian soal Aceh. Secara garis besar persetujuan

itu terdiri dari:

 

A. Bidang Politik, Sosial dan Ekonomi

 

a. Pemerintah akan memberikan hak dan isi otonomi seluas-luasnya

untuk daerah Aceh, terutama dalam lapangan keagamaan,

pendidikan, dan peradatan. Semua itu tentu saja dalam

batas-batas UUDS RI dan Undang-undang, serta peraturanperaturan

lain yang berlaku.

Untuk merealisasikan ini Pemerintah akan bersedia menerima

Delegasi Aceh yang akan menyampaikan hasil-hasil dari

kerja Komisi Lima dan mempelajari serta mempertimbangkan

dengan sungguh-sungguh saran-saran yang akan diajukan Delegasi

b. Mengenai penampungan dari anggota-anggota eks DI/TII, penyantunanterhadap kekacauan, baik moril ataupun materiel,telah didapat persesuaian yang sama dengan kebijaksanaanselama ini.

c. Apabila masa kerja DPR DP dan DPD Aceh telah selesai, Pemerintahakan menentukan suatu prosedur sehingga antaraDPD-DPR DP, Penguasa Perang Daerah, Angkatan Perangdan Pemerintah dapat tercipta suatu kerjasama yang lebihsempurna, dalam usaha-usaha menertibkan kembali Daerah

e. Mengenai penempatan wakil-wakil yang capable dan acceptabledari Aceh dalam Lembaga Demokrasi Republik Indonesiapada waktu sekarang, Pemerintah sedang mengusahakansuatu modus yang dapat diterima oleh semua pihak.

 

 

B. Bidang Militer

1. Atas dasar hasrat kesatuan DI/TII Aceh untuk kembali kepadapangkuan Negara Republik Indonesia, maka kesatuan DI/TIItersebut akan meletakkan senjata dan akan taat kepada pimpinan

2. Pemerintah Republik Indonesia, kemudian menampung kesatuanDI/TII itu dan menyalurkannya ke lapangan kemiliterandan ke lapangan kemasyarakatan dalam rangka pembangunanAceh khususnya, dan Indonesia umumnya. Untuk itu:

 

(1) Kesatuan tersebut di atas sementara akan diperlakukansebagai milisi darurat di bawah Komando seorang perwiratertinggi dari kesatuan itu.

(2) Komandan itu berada di bawah Komando KDMA.Kesatuan tersebut dipelihara oleh KDMA dan seterusnyadari kalangan mereka direkrutier tenaga-tenaga yang memenuhinorma-norma militer yang berlaku guna perluasanTNI di Aceh.

(3) Pangkat yang akan diberikan oleh Komandan tersebutdi atas ditentukan menurut Instruksi yang diberikanPerdana Menteri, Menteri Pertahanan, dan KSAD kepada

Komandan KDMA.

Jakarta, 17 Desember 1958

Perdana Menteri

(Ir. Djuanda)

(syamaun Gaharu)

19 Desember 1958

Dokumen asli Kutipan Surat keputusan Kepala Polisi Daerah sumatera tengah  tanggal 19 Desember 1958 tentang kenaikan pangkat atas nama  Djamain dari Agen Polisi menjadi Brigardir Polisi ditanda tangani oleh  Kepala Polisi sumatera tengah Ajundan Komirasir Besar  PolisiSoetan SoeisStempel Kepala Polisi suamtera tengah  Polisi Negara PRRI

(koleksi dr Iwan)

Akhir Tahun 1958

Ke Pasaman mendaftar jadi sukarelawan PRRI

Pada akhir tahun 58
Enam bulan waktu berjalan
Aku berada di kampung halaman
Kini datang suatu kesempatan

Kesempatan baik untuk berbakti
Menjadi sukarelawan pejuang PRRI
Pergi berperang menyelamatkan negeri
Dari serangan tentara APRI

 

 

Di Ujung Gading dekat lautan
Di sana bermarkas induk pasukan
Kompi KKO diberi sebutan
Letnan Isrul sebagai komandan

17 pemuda berbadan sehat
Percaya diri penuh semangat
Lalu berkumpul mengadakan rapat
Ingin berperang melawan Pusat

Pemuda Sitalang dan Batu Kambing
Setelah berkumpul sambil berunding

 


Siap berangkat ke nagari Silaping
Dekat pantai di Ujung Gading

Para remaja anak bujang

 

 

Dari Batu Kambing dan

 

Sitalang

Ke rantau Pasaman pergi berperang
Namanya ditulis untuk dikenang

Agus, Anwar, Ahmad, Bustanuddin, Darmawi, Iamawan, Jariman, Mahidin, Muchtar/Kutar, Nasir, Nasirudin, Paramai,
Pudin, Samsi, Usman, Zaini, masih – 1 nama !

Pagi hari sebelum berangkat
Calon pejuang diberi nasehat
Dilanjutkan doa kaum kerabat
Kembali pulang dengan selamat

Selesai bermohon kepada Tuhan
Para remaja mulai berjalan
Masuk hutan ke luar hutan
Hanya berhenti ketika makan

Walau kaki beralas sandal
Baju di badan banyak bertambal
Niat berjuang sejak awal
Bukan ambisi ingin terkenal

Berjalan kaki beriring iring
Ada yang gemuk banyak yang langsing
Melewati jalan di tepi tebing
Bila tergelincir jatuh terguling

Saat melewati banyak nagari

Sumadang, Gudang,

Tapian Kandi


Padang Gantiang, Padang Sawah

dan Kinali
Terasa berada di kampung sendiri

Ninik Mamak datang menyambut
Diikuti orang tua berusia lanjut
Berjabat tangan berebut rebut
Meskipun malam telah larut

Ketika sampai di batang Masang
Sungai besar airnya tenang
Rombongan berhenti karena terhalang
Tiada titian untuk menyeberang

Penduduk bertanya kepada yang tua
Ke mana tujuan para pemuda
Kami menjawab apa adanya
Hendak ke Pasaman membela negara

Karena rombongan pemuda PRRI
Semua orang ikut bersimpati
Rakit dipinjamkan oleh pak Haji
Makanan disumbang Amai dan Umi

 H. Bustanuddin yang bertugas di Pasaman, Riau sampai tertangkap

 di Naga Seribu Pd Bolak, Tapsel

dan dipenjara Tanjung Gusta Medan

Hasan dan Husen saudara kembar gugur menepati janji

Untuk dicontoh para remaja
Menjadi teladan sampai tua
Hasan dan Husen tak berebut harta
Ketika berperang sesama saudara

Saudara kembar Husen dan Hasan
Bermuka mirip susah dibedakan
Hobinya sama, senang berteman
Ketika bergolak saling berlawan

Bukan karena dapat indoktrinasi
Tapi keyakinan hak azasi
Husen menjadi pejuang PRRI
Hasan bertugas di kesatuan APRI

Hasan dan Husen saling berhadapan
Ketika berperang dalam pertempuran
Keduanya tewas rela berkorban
Demi menjaga suatu kehormatan

Husen tewas mati terbunuh


Dalam pertempuran di nagari Situjuh
APRI yang datang dari Payakumbuh
Membawa prajurit berpuluh puluh

Dia sahid membela keyakinan
Bergabung PRRI dalam perjuangan
Menerima takdir ketetapan Tuhan
Jannatun naim sebagai balasan

Lain lagi tewasnya Hasan
Sebagai prajurit jadi teladan
Selalu patuh peintah atasan
Semua tugas dia laksanakan

Saat Hasan sedang bertugas
Untuk patroli di ujung batas
Pejuang mengintai di bukit atas
Hasan tertembak langsung tewas

Semua prajurit punya tradisi
Mengucapkan sumpah serta janji
Hasan contoh prajurit sejati
Melaksanakan sumpah menepati janji

Begini janji saat disumpah
Prajurit patuh pada perintah
Ketika bertempur haram menyerah
Instruksi komandan pantang dibantah

Dalam korps pasukan APRI
Hasan ternyata prajurit sejati
Menepati sumpah ketika berjanji
Hasan terbunuh saat beroperasi

Walau tiada ditampilkan foto
Inilah sedikit sebagai info
Hasan dan Husen bersuku Koto
Anak kemenakan Dt. Tan Bandaro

Bapaknya bernama Kari Sili
Seperti umumnya penduduk Nagari
Kerja di kampuang jadi petani
Sambil memelihara ternak Sapi

Dikarang oleh: H. Bustanuddin, Abraham Ilyas, Noor Indones St. Sati
Diedit html oleh: H. si Am Dt. Soda

 

 

Akhir tahun 1958

Pada akhir tahun 1958,operasi tetap dilakukan dengan intensif,gerakan antara lain terhadap kedudukan tentara PRRI 

disekitar Pagaran Lambung ,

Sihaporas,Sitonom,Ojoran dan lainnya,baik yang dilaksanakan oleh kompi I,II dan III Batalion 309/Siliwangi dibawah pimpinan Komandan batalionnya.

Dari pihak Batalion 309/Siliwangi sendiri ada beberapa anggota yang gugur akibat penghadangan PRRI seperti di Lapo buntal saat menuju ke Pos Komado

di Adiankoting,sehingga gugur satu kopral dan satu prajurit .

Sekalipun berada di medan Operasi,namun mutasi jabatan tetap dijalankan.termasuk komandan RTP-01/Siliwangi

 

 Letkol Umar Wirahadi Kusuma yang tahun 1959,tanggal 31 januari menerima jabatan  Komandan KMKB Jakarta Raya.

(Djamin ginting)

Sesuai dengan sifatnya, suasana perang menimbulkan tindakan anarkis, brutal yang menyebabkan banyak korban jatuh akibat tindak kekerasan, begitu juga penyalahgunaan wewenang militer, teror, pemerkosaan, pendobrakan rumah penduduk, sampai pada penyiksaan dan pembunuhan.

Lebih tragis lagi, sebegitu banyak generasi muda Minang yang hilang (generasi antara angkatan 45 dan 66) karena sebagian besar penduduk Sumatera Barat bergabung dengan PRRI.


Pihak CIA yang semula membantu PRRI lambat laun menarik dukungannya dan berpaling kepada pemerintah pusat yang mengirim pasukannya secara periodik dari kesatuannya di Jawa.

(DR Mestika Zed)

Seniman Pencipta lagu Masroel Mamudja

 Menamatkan pendidikan dasar di Bukittinggi setelah menjalaninya 1 -2 tahun di Maninjau. SMP pun ia bertualang, setelah di Bukittinggi, tamat di Padang tahun 1955.

 Melanjutkan ke SPMA (Sekolah Pertanian Menengah Atas), tapi stop tahun 1958, karena pergolakan PRRI.

 jadi punya pengalaman PRRI “Ketika pergolakan dan beliau masuk hutan keluar hutan akhir tahun 50-an lalu, rasa ingin bersenandung menggiring saya untuk mencipta” awal karirnya itu. bukan berarti ia bisa langsung naik dapur rekaman.

Dalam rimba tepian Maninjau saja, beliau mencipta 11 lagi. Ciptaan pertamanya adalah “Nan Bana”, tahun 1959.

Dan tahun 60-an awal, ketika lagu lagu Minang mulai dapat angin, Masroel pindah ke Jakarta. maka Lahirlah nomor nomor lagu seperti “Palai Rinuak”, “Cuba dak Badakak dakak”, sebagai debut awalnya.

(lagu minang lamo web blog)

Gedung Landraad yang lama yang terletak dijalan Samudera ditempati Brigade Banteng Divisi IV TTI, 1958sesudah pergolakan PRRI/Permesta pada tahun 1958 gedung tersebut diduduki oleh Komando Operasi 17 Agustus dan kemudian bernama

Kodam III/17 Agustus – Kesatuannya Ajen Dam III/17 Agustus

(PN Padang web blog)

28 Desember  1959

Allan Pope was brought to trial before a military court on December 28, 1959. He was accused of flying six bombing raids for the rebels and killing twenty-three Indonesians, seventeen of them members of the armed forces. The maximum penalty was death. During the trial, which dragged on for four months, Pope pleaded not guilty. He admitted to flying only one combat mission, that of May 18, 1958. The other flights, he testified, were of a reconnaissance or non-combat nature. Contrary to the assertion that he had signed a $10,000 contract, Pope insisted he got only $200 a flight.
The court introduced a diary taken from Pope after his capture. It contained detailed entries of various bombing missions. Pope contended it listed the activities of all the rebel pilots, not just his. He replied to the same effect when confronted with a pre-trial confession, noting that he had refused to sign it.
Asked what his “real motive” had been in joining the rebels, Pope replied: “Your honor, I have been fighting the Communists since I was twenty-two years old — first in Korea and later Dienbienphu …

“I am not responsible for the death of one Indonesian-armed or unarmed,” he asserted in his closing plea. “I have served long enough as a target of the Communist press, which has been demanding the death sentence for me

Allan Pope diadili pengadilan militer pada tanggal 28 Desember 1959. Ia dituduh terbang serangan enam pemboman bagi para pemberontak dan membunuh dua puluh tiga orang Indonesia, tujuh belas dari mereka anggota pasukan bersenjata. Hukuman maksimum adalah kematian.

 Selama persidangan, yang berlangsung selama empat bulan, Paus mengaku tidak bersalah. Dia mengakui untuk terbang hanya satu misi tempur, yaitu 18 Mei 1958. Penerbangan lain, dia bersaksi, yang dari pengintaian atau non-tempur alam.

Bertentangan dengan pernyataan bahwa ia telah menandatangani kontrak $ 10.000, Pope menegaskan dia hanya $ 200 penerbangan.Pengadilan memperkenalkan buku harian yang diambil dari Paus setelah ditangkap. Isinya entri rinci berbagai misi pengeboman. Pope berpendapat itu tercantum kegiatan semua pilot pemberontak, bukan hanya itu.

 Dia menjawab dengan efek yang sama ketika dihadapkan dengan pengakuan pra-sidang, mencatat bahwa ia telah menolak untuk menandatanganinya.Ditanya apa “motif sebenarnya”-nya telah di bergabung dengan pemberontak, Pope menjawab: “Yang Mulia, saya telah memerangi Komunis sejak saya berusia dua puluh dua tahun – pertama di Korea dan kemudian Dienbienphu …

“Saya tidak bertanggung jawab atas kematian satu orang Indonesia yang bersenjata atau tidak bersenjata,” tegasnya dalam pembelaan penutupnya. “Saya telah melayani cukup lama sebagai target pers komunis, yang telah menuntut hukuman mati bagi saya(Sukarnoyears)

 

 

 

 

1959

Pada tahun 1959 dibentuk Resimen Team Pertempuran (RTP) di tiga daerah Tingkat II yaitu :

a.    RTP- I berkedudukan di Riau/ Pekanbaru dan sebagai komandan RTP

 Letnan Kolonel Kaharuddin Nasution.
b.    RTP- II berkedudukan di Bukittinggi dan sebagai Komandan RTP Letnan Kolonel Sabirin Muctar.
c.    RTP- III berkedudukan di Solok dan sebagai Komandan RTP Letnan Kolonel Soegito
.

Pada awal tahun 1959 Markas PDM dipindahkan lagi ke Batusangkar dan Markas PODM di bubarkan karena Markasnya di tempati oleh Markas PDM,kemudian di Padang Panjang dibentuk lagi Markas PODM dengan lokasinya masih tetap dikantor Koramil yang sekarang

 Pada saat itu di Batusangkar dibentuk pemerintah Sipil Kabupaten Tanah Datar, sebagai Pejabat Bupati Kepala Daerah dirangkap oleh Perwira PDM Kapten Amir Hatta untuk sementara.

Tidak lama kemudian Gubernur Sumatera Tengah Kaharuddin Dt. Rangkayo Basa menunjuk stafnya yang bernama Sutoro untuk menjabat sebagai Bupati Tanah Datar yang waktu itu Bupati masih dirangkap oleh Kapten Amir Hatta, kemudian Kapten Amir Hatta menyerahkan tugas dan tanggung jawab Bupati yang baru Sutoro

 

    Satuan Tempur yang ada diwilayah PDM Batusangkar.

Satuan Tempur yang ada pada waktu itu adalah Batalyon 509/Brawijaya yang
bermarkas di Padang Panjang (Bekas Ma Yonif 133/YS/Secata B sekarang) dan sebagai Dan Yon adalah Mayor Kadirun.

 Kemudian Yon 509/Brawijaya diganti Yon 447/Diponegoro (Markas tetap) sebagai Dan Yon adalah Mayor Soegiarto.

(Kodim Tanah datar)

Keadaan terpencar dari para pemimpin PRRI  tidak akan menguntungkan , oleh karena itu  pada awal tahun 1959  diadakan rapat Kosolidasi  di Sumpur Kudus.

(bukan di sumpur tepi danau singkarak-Dr iwan)

Tokoh PRRI anatar lain Mr Burhanuddin Harahap (kedua dari kiri), Kol.Dahlan Djambek  dan Mr Sjafruddin Prawitanegara(kelima dan keenam dari kiri)<Kol Maludin Simbolon(kedelapan) dan Mr Assat(ujung kanan)

Sumpur Kudus  adalah sebuah desa  kecil dan terpencil  dekat perbatasan Sumatera Barat dan Riau.

Semua tokoh kunci PRRI dari kalangan politik dan militer hadirkecuali Kol Zulkifli Lubis.Mereka berkumpul setelah menenempuh perjalanan yang berat  dan memakan waktu.

 

 Dari tokoh politik hadir Sjafruddin Prawiranegara, Mohamat Natsir, Assaat, Burhanduddin Harahap, Mohamad Sjafei, dan Sulaiman. Dari tokoh Militer hadir  Kol Mauludin Simbolon,Kol Ahmad Hussein, dan Kol Dahlan Djambek.

Rapat Konsolidasi mendengarkan sejumlah laporan perkembangan ditempat masing-masing setelah terjadi serangan pemerintah pusat.Kol Simbolon melaporkan perkembangan Tapanuli, seperti operasi Sabang Marauke ,Ekspedisi Sisingamangaraja, terbentuknya divisi Pusuk Buhit yang mempersatukan seluruh Pasukan Tempur PRRI di Tapanuli.Selain itu telah terjadi gerakan Grilja di Tapanuli meliputi Simalungun,Asahan, Labuhan Batu dan Aceh Timur.

Lporan  mengenai Sumatera Barat, telah terjadi gerakan perlawan Grilya dengan mengerakan Bataljon Johan  dan pasukan Mobil Brigade  Polisi yang dipimpin oleh  Zadelberg yang  ternyata cukup  menimbulkan kesulitan  bagi pasukan tentara Pusat.

Pada rapat ini pertama kalinya Sjafruddin Prawiranegara  mengemukakan pikirannya  mengenai pembentukan RPI(Republik Persatuan Indonesia)  yang akan mengubah bentuk Negara  menjadi Negara Persatuan (Serikat Federasi) (RPI tidak memasukan Pulau jawDr Iwan )

.Sjafruddin dan teman-temannya  dari kalangan politik, berpendapat bentuk Federasi akan mampu menarik  dukungan yang luas di tanah Air , karena menurut mereka  bentuk itulah yang dikehendaki  oleh Bangsa Indonesia.. Gagasan itu tidak diterima oleh kalangan Militer.

Kolonel Simbolon sangat terkejut  mendengar gagasan itu, baginya merubah bentuk Negara  akan menimbulkan masalh baru. Dengan memakai ketidak hadirran Kolonel Zulkifli Lubis sebagai dalih,  para tokoh militer mengusulkan  penundaan pembicaraan gagasan Sjafruddin Prawiranegara tersebut

.(Mauludin Simbolon)

Keadaan dikota Padang sudah aman,saya sekolah dengan lancar, dan saya diutus oleh Perkumpulan Tennis Meja Seluruh Indonesia cabang Padang selaku juara Tennis meja SUMBAR mengikuti Kejuaraan tennis meja se Indonesia di Surabaya dikawal oleh Mayor Sutrisno, orang tua mengajak famili saya yang lagi sekolah sekolah menengah Farmasi di jakarta Nyo Oen Sam (Iparnya Dr Ronny Handoko spesialis Kukit  Jakarta), inilah perjalan saya pertama ke Jawa naik pesawat terbang ke Jakarta dan dari Jakarta naik Kerata Api ke Surabaya,nginap di Hotel Brantas, sayang saya gagal di babak kedua karena bertemu dengan juara Indonesia,

kemudian saya diajak tamasyah ke selecta Batu Malang, dank e Jawa tengah ke Candi Borobudur. Saya melihat kota Jakarta saat itu masih ada trem yang liwat dari harmoni sampai glodok.

Saat itu saya bertemu dengan tim dari Sulawesi selatan, ia bersalaman dengan saya mengatakan kita sama-sam dari dari daerah yang bergolak kamu PRRI saya DI/TIII Kahar Muzakar.

(Driwan)

 

 

saat terjadi peristiwa PRRI tahun 1959 pemilik pertama (Gho Soen Tong) mengungsi dan meninggalkan tanah miliknya.

Pada tahun 1959 – 1961, tanah dikuasai TNI-AD dengan merobohkan bangunan milik Gho Soen Tong dan membangun rumah untuk para anggota TNI-AD di lokasi tersebut.

Tahun 1993, Gho Soen Kho (ahli waris Gho Soen Tong) mengajukan surat permohonan pengembalian tanah tersebut, namun tidak ada tanggapan dari pihak TNI-AD setempat.

Di tahun 1997, bekerja sama dengan PT Karya Bakti Ada Perdana (PT KBAP), Gho Soen Kho ajukan kembali permohonan pengembalian dan berhasil (dibuktikan dengan MOU antara PT KBAP dengan Korem).

Selanjutnya, terbit SHGB Nomor 11/1997 atas nama PT KBAP berdasarkan SK Menteri Pertanahan/Kepala BPN dan SK Gubernur Sumbar.

Merdeka com

Banyak rumah yang ditinggal PRRI di Padang Baru dimanfaatkan oleh TNi dan POLRI ,juga  banyak mobil milik pribadi dipinjam oleh TNI seperti mobil Lie Tek beng Toko Gho leng Padang , mobil Lily milik mertua saya di Padsang panjang tetapi kemudian dikembalikan lagi dalam keadaan sudah rusak dan terpaksa diperbaiki sendiri.

(Dr Iwan)

6 Januari 1959

Ahmad Yani  menyerahkan tugas nya sebagai deputi I KASAD kepada Kol Inf Mokoginta, dan mejabat Deputi II KASAD untuk kuasa Perang mengantikan Kol Inf Ibnu Sutowo

(Ahmad Yani)

Pengalaman Salviyah Prawiranegara Yudanarso (Pipi) mengikuti Ayah
ditulis oleh: dryuda


Mereka terpaksa patuh, saat diberi tahu, bahwa sebentar lagi akan memasuki hutan yang penuh Pacet dan Lintah.Baru membayangkan saja, Pipi sudah bergidik, ngeri bercampur geli…

 

Mengenal Pipi, ternyata memberikan banyak tambahan pengetahuan.Antara lain tentang bagaimana lika-likunya perjalanan hidupnya saat belajar, termasuk belajar bagaimana agar survive hidup dalam hutan, yang alhamdulillah ternyata berakhir dengan memuaskan.

Setelah beberapa lama bermukim di Bukittinggi, keluarga Pipi memutuskan untuk pindah

ke desa Baruh Gunung,

 

 desa paling utara Sumatera Barat, di tepi hutan.Di sini Pipi dan saudara-saudaranya sempat juga sekolah. Desa ini walau kecil, tetapi masyarakatnya penuh kedamaian.
Tetapi, pada suatu ketika, ayah Pipi dan beberapa pemimpin lain memutuskan untuk keluar dari desa Baruhgunung secepat mungkin, karena situasi keamanan telah terasa makin hangat.

Semua anak-anak diminta membawa sendiri pakaian seperlunya saja, yang umumnya cukup dengan hanya satu tas punggung. Ibunya Pipi, juga mengingatkan agar ada seperangkat pakaian bagus dari masingmasing anak harus dibawa serta; maksudnya adalah kalau terpaksa suatu saat harus menyerah,

maka ibunya Pipi menghendaki agar memakai pakaian tersebut.Beliau tidak menginginkan mereka terlihat berpakaian compang-camping di saat demikian.

 

Mereka diantar oleh masyarakat sampai tepi desa.Mereka tahu ke arah mana rombongan akan menuju, yaitu hutan belantara di utara.Warga yang tahu jalan dan merasa cukup kuat, serta merta mengajukan diri untuk mengantar, sambil membantu membawa barang-barang keperluan rombongan, antara lain persediaan makanan sumbangan masyarakat.
Pak Wali Nagari-pun termasuk di dalamnya.Setelah melewati kebon, sawah, dan menyeberangi beberapa sungai kecil, mulailah memasuki jalan yang makin terpencil dan seadanya.Satu persatu, mereka yang niatnya hanya mengantar sekedarnya, pulang kembali ke kampung.Tetapi, masih cukup banyak yang siap meneruskan perjalanan, karena seiasekata terhadap tujuan perjuangan politiknya, termasuk beberapa mahasiswa dan sarjana yang masih muda usia.

Kalau malam tidur di dangau-dangau milik petani, dan makan apa adanya.Rombongan terpaksa di pecah-pecah menjadi rombongan kecil-kecil, yang mungkin antara lain untuk memudahkan perjalanan dan meningkatkan keamanan.Bahkan, kadang-kadang keluarga terpaksa berpisah dengan ayahnya untuk lebih menjamin keselamatan.Dalam hal demikian , perencanaan perjalanan menjadi penting dan lebih dinamis, walau sedikit ruwet (complicated).

 

Komunikasi hanya dapat dilakukan melalui kurir.

Jangan dibayangkan, komunikasi pada saat itu secanggih sekarang.Untuk menghindari pelacakan, sering pula harus naik rakit buatan seadanya, yang mengikuti arus sungai.
Perjalanan terus ke utara, memasuki hutan belantara yang sangat lebat dan kadangkadang memang diselingi oleh belukar yang rimbun.

Dalam kegelapan malam di gunung, tentu saja udara terasa sangat dingin, dan kalau tidur terpaksa berbalut apa saja yang ada agar terasa hangat.Tetapi, ternyata dengan cepat Pipi dan saudara-saudaranya dapat menyesuaikan diri dengan dinginnya malam.

 

Beruntung, seluruh keluarga memang termasuk mereka yang mudah tidur.

Pengorbanan sang Ibu untuk perjuangan
Memasuki hutan yang masih belum pernah dijamah orang, bukanlah hal yang mudah.
Untuk lewat saja, harus membuat jalan terlebih dahulu dengan cara membabat ranting-ranting dan dedaunan.Rintisan inilah yang ditapaki oleh rombongan beserta keluarganya.
Mereka biasanya berjalan mengikuti alur sungai.

Saat menemukan sungai kecil dan jernih yang pantas untuk bertahan hidup, maka barulah diputuskan untuk beristirahat dan membuat tempat berteduh dari kain terpal dan plastik atau kalau sekiranya akan lama berada di tempat itu, membuat dangau apa adanya.Kadang-kadang, dalam perjalanan yang bagi sebagian besar anggota rombongan ini tidak mengetahui arahnya, juga terdapat tempat-tempat yang sangat sulit mendapatkan air, walau seteguk.Ada jenis pohon-pohon tertentu yang meneteskan air di pagi hari, dan air ini dapat langsung diminum, sehingga merupakan kesempatan mendapat pelepas dahaga.

Pernah juga, ada pohon besar dengan diameter hampir dua meter, yang berlubang di tengahnya dekat dengan permukaan tanah; di lubang pohon ini meneteslah air terus menerus, dan dapat ditampung sebagai persediaaan perjalanan.Tak henti-hentinya anggota rombongan bersyukur atas keajaiban ini.

Mungkin karena kecapaian mengawasi dan membantu delapan anaknya, termasuk yang paling kecil berusia tiga setengah tahunan, suatu ketika ibunya Pipi mengalami per-darahan banyak melalui rahimnya dan terpaksa ditandu. Alhamdullillah, setelah dilakukan pertolongan darurat dan istirahat, tak lama kemudian telah segar kembali.
Beliau adalah seorang wanita tabah dan kuat, sungguh luar biasa sabar dalam pen-dampingan terhadap suami dan merawat anak-anaknya.

Pada suatu pagi yang cerah sebelum melanjutkan perjalanan, anak-anak diminta untuk mengolèskan tembakau yang telah dibasahi, ke seluruh tubuhnya.Mereka juga diharuskan sedapat mungkin memakai pakaian tertutup sama sekali, dan dilengkapi dengan kaos kaki.Mereka terpaksa patuh, saat diberi tahu, bahwa sebentar lagi akan memasuki hutan yang penuh pacet (pacat, yang jalannya meloncat-loncat) dan lintah (yang lebih besar dan jalannya merayap).

Baru membayangkan saja, Pipi sudah bergidik, ngeri bercampur geli, badan terasa panas dingin.Apalagi saat satu persatu dari anggota rombongan mengalami sendiri digigit pacet dan lintah ini, mereka langsung ketakutan.Beruntung, kalau segera ketahuan, karena usapan tembakau sangat membantu merontokkannya.Memang pacet dan lintah ini dengan sendirinya akan jatuh, apabila telah puas menghisap darah.Seluruh anggota rombongan ribut dan ingin segera melewati hutan ini.

Pipi begitu mengetahui ada jalan yang lebar di depannya, karena telah ditebas terlebih dahulu, dia langsung lari secepat-cepatnya, dengan harapan segera menjauh dari hutan ini.Tetapi toh, suatu saat dia juga merasakan sendiri; saat mengetahui ada sebuah lintah yang menempel di badannya, maka dia berteriak-teriak ngeri.

Dia tidak dapat segera lari, karena lari berarti resiko lebih besar untuk tertempel pacet dan lintah lain yang berasal dari daun-daunan yang diterabasnya.Pernah ada seorang anggota rombongan lelaki, yang saat akan mandi baru mengetahui, bahwa di pahanya telah ditèmpèli oleh lintah besar dan panjangnya hampir mencapai kelilingnya.Tentu saja dia juga terkejut bukan main.Setelah kejadian itu, perjalanan dilanjutkan kembali.
Tak berapa lama kemudian, memang pacet dan lintah ini makin jarang terlihat.
Semua orang bergembira, setelah tahu hutan demikian telah dilalui.Rombongan beristirahat kembali di suatu tempat yang dianggap aman.Di tempat lain, dalam perjalanan berkelana dalam hutan lebat, ada suatu tempat yang mirip dengan situasi hutan pacet ini.

Kali ini yang menjadi masalah adalah apa yang disebut Kutu babi.Sebagai kutu, binatang ini memang kecil, sebesar kacang hijau, tetapi kalau sudah tertusuk oleh duri-nya, mungkin semacam paruh, maka rasanya gatal sekali.Kutu ini dengan sigap terus menghisap darah dan baru jatuh setelah perutnya penuh.Rasa gatal ini akan berlangsung sampai beberapa jam.

Kita tidak dapat menduga dari mana asalnya kutu ini, tiba-tiba sudah menèmpèl di badan.
Hutan yang penuh kutu ini tidak besar, dan setelah daerah itu berlalu, maka rombongan dengan tenang meneruskan perjalanan.Setelah merayap naik sebuah bukit dan menuruninya, baik siang maupun malam, maka sampailah di suatu tempat dekat dengan sungai yang jernih airnya, mungkin cabang dari Sungai Sialang.

Rombongan ramai-ramai membuat dangau untuk tempat keluarga berteduh.
Beberapa hari kemudian, orangtua Pipi mulai menanam kacang, suatu tanda bahwa di tempat ini pasti semua orang akan berhenti cukup lama.

Sungai Sialang akan menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari di situ.
Pipi dan teman-teman menyenangi, dan memang harus menikmati perjalanan yang memperjuangkan apa yang diyakini benar ini.

Kalau malam tiba, menarik sekali untuk berjalan keliling, karena banyak dari jamur yang terlihat seperti menyala berkilauan, bahkan ada sebagian yang bersinar bak kunang-kunang di malam hari.Jamur-jamur itu menampilkan pemandangan yang indah, mengingat langkanya sinar bulan di malam hari.Bukan itu saja, bahkan di siang haripun sinar matahari sulit menembus ke tanah, karena rimbunnya hutan.

Tetapi di tempat lain, ada juga kejadian yang hampir serupa, yaitu munculnya binatang yang disebut kelemayi, binatang ini hampir seperti lintah kecil, tetapi kalau malam tampak dengan jelas, karena bersinar juga.Binatang ini menyenangi hidup di dinding dangau rombongan, karena terbuat dari kayu basah yang dikupas kulitnya.
Yang dikhawatirkan adalah apabila binatang ini masuk ke dalam lubang telinga atau hidung saat kita tidur, karena dia menyenanginya.

Pemilihan kepala desa sialang saat ini

 

P.R.R.I  DI

MANGOPOH


Naskah asli oleh : Deka Maita Sa
Diedit ulang tg. 20 – 9 – 2012 oleh :

 DR. Mestika Zed, Abraham Ilyas, Drg.

B. Musyawarah anak nagari di Padang Kiau

Suasana perang di tahun pertama
APRI hanya menduduki kota
PRRI menyiapkan perang yang lama
Anak nagari diajak serta

Ketika situasi bertambah kacau
Ninik mamak menjadi risau
Semua kemenakan lalu dihimbau
Untuk bermusyawarah di Padang Kiau

Guna membantu para pejuang
Anak nagari wajib menyumbang
Rapat memutuskan iuran perang
Penduduk menerima berhati senang

Ikut serta dengan keyakinan
Tua muda tidak ketinggalan
Semua orang ikut berkorban
Nyawa di badan jadi taruhan

Musyawarah di Kiau patut dicatat
Anak nagari bersatu niat
Kepada Pusat tak perlu taat
Karena Soekarno telah berkhianat

Sesudah sembahyang selesai zikir
Para hadirin yang ikut hadir
Di atas surau di tepi air
Semua bicara dengan bergilir

Musyawarah diadakan di atas surau
Semua kelompok datang dihimbau
Ikut pula parewa lapau
Ditambah pengungsi dari rantau

Ninik mamak dan cerdik pandai
Alim ulama beserta labai
Termasuk bunda dan amai amai
Berjanji setia tak akan bercerai

Hasil musyawarah yang disepakati
Apapun masalah yang akan terjadi
Tak akan bercerai membela nagari
Di bawah pimpinan pejuang PRRI

Tidak peduli laki perempuan
Semua penduduk ingin berkorban
Karena terpanggil oleh keyakinan
Rasa senagari dalam persatuan

Patut dicatat dalam sejarah
Ibu muda bernama Sawiyah
Ikut bertempur tanpa diupah
Menyandang bedil terlihat gagah

Mekipun penduduk desa terpencil
Sawiyah berperang menggunakan bedil
Meninggalkan bayi yang masih kecil
Karena nagari telah memanggil

Keputusan lain yang disepakati
Kehidupan masyarakat tak boleh berhenti
Walau pertempuran selalu terjadi
Begitulah kebiasaan adat nagari

Karena perang berlangsung terus
Setiap kegiatan perlu diurus
Penduduk menyumbang nasi bungkus
Pegawai mendirikan bermacam kursus

Walau tak semua ikut bertempur
Para remaja tak boleh menganggur
Bidang pendidikan lalu diatur
Di Sekolah Penampungan mereka dilebur

Kalau nagari diduki tentara
Tujuan mengungsi untuk bersama
Bukit Antokan di Manggopoh Utara
Tempat ijok di hutan rimba

C. Perang terjadi di nagari Manggopoh

Ketika APRI menduduki kota
Guru dan pegawai pindah ke desa
Anak isteri ikut dibawa
Nagari bertambah jumlah penduduknya

Karena tak sama pendirian ideologi
Pegawai dan guru pergi mengungsi
Meninggalkan kota yang telah sepi
Tandanya setia pada PRRI

Dari Pariaman dan nagari Tiku
Pengungsi datang satu persatu
Tidak dianggap sebagai tamu
Kemenakan dibimbing, anak dipangku

Pengungsi dijadikan anak kemenakan
Sedang susah mendapat kesulitan
Perlu dibantu diberi perhatian
Dipinjamkan rumah dibantu makan

Penduduk membantu dengan ikhlas
Walau hanya ubi talas
Bagi pengungsi sangat berbekas
Percaya Allah pasti membalas

Karena perjuangan tegakkan yang adil
Menggunakan perlengkapan senjata bedil
Anak nagari ikut terpanggil
Tua muda, besar dan kecil

Dari dahulu sampai sekarang
Alasan rakyat terlibat perang
Mengikuti pesan nenek moyang
Tuah sekata, celaka bersilang

 

Mulanya perang saat terjadi
Manggopoh belum perlu didatangi
Tujuan musuh mengacaukan PRRI
Atau disebut teror psikologi

Awal Manggopoh mencium mesiu
APRI datang dari Tiku
PRRI menghadang di Balai Satu
Tembak menembak berlangsung seru

Mortir ditembakkan dari jauh
Tiada jelas tempatnya jatuh
Penduduk ketakutan keluar peluh
Penyakit jantung menjadi kambuh

Ibarat memilih acak acakan
Hadiah tak langsung dijatuhkan
Bom mortir yang ditembakkan
Lokasi jatuh tak bisa ditentukan

Walau sasaran sering meleset
Desingan mortir mirip roket
Karena terkejut sangat kaget
Ada yang pingsan, banyak yang mencret

Saat subuh masih berkabut
Kedatangan APRI lalu disambut
Dengan tembakan sahut-bersahut
Suasana kacau timbul kalut

Berkali kali APRI datang
Dalam perjalanan sering dihadang
Terdengar letusan berulang-ulang
Begitu suasana ketika perang

Suatu ketika saat operasi
APRI datang berjalan kaki
Tiada tembakan yang mengiringi
Nagari lengang tampak sepi

Bulan Mei tahun 60
Waktu hujan baru teduh
Nagari didatangi oleh musuh
Amat Ali mati dibunuh

Amaik Ali penduduk biasa
Bukan sukarelawan ikut gerilya
Menjadi korban perang saudara
Dibunuh tentara yang dari Jawa

Walau tidak punya masalah
Amat ditembak bersimbah darah
Tubuh terkapar di pematang sawah
Sebelum diusung menuju rumah

Ketika asyik mencari rumput
Saat dipanggil tidak menyahut
Tantara marah sambil bercarut
Amat dibunuh tanpa diusut

Dia petani disangka gerilya
Tanpa diusut, tanpa ditanya
Di depan isteri sangat dicinta
Amat ditembak tepat di kepala

Janda almarhum, Upiak Jurai
Hidup sendiri, kini dimulai
Air mata jatuh berderai
Dengan suami harus bercerai

Dari isteri kisah didengar
Ada oknum kurang ajar
Menggunakan kaki mayat diputar
Seperti memeriksa bangkai Ular

Saat menumpas pergolakan PRRI
OPR berlaku tidak manusiawi
Oknum ditunggangi ide PKI
Penganut paham, ateis sejati

Bukan dendam perlu disimpan
Tapi ingatan untuk pelajaran
Jangan terulang di masa depan
Karena tak sesuai dengan kemanusiaan

Sesama pejuang juga ada masalah
Saling curiga timbul musibah
Ada kejadiaan menjadi kisah
Manusia mati bersimbah darah

Karena tiada disiplin tentara
Pada pasukan kelompok gerilya
Terjadi tuduhan dasarnya curiga
Seperti dialami Amin Duya

Amin Duya komandan kompi
Pergi ke Padang urusan pribadi
Prajurit ditinggal tanpa koordinasi
Ketika pulang ditembak mati

Amin Duya dianggap bersalah
Dikira berunding hendak menyerah
Amin dibunuh tidak bisa dicegah
Karena prajurit sangat marah

Menjadi serdadu harus disiplin
Patuh dan taat kepada pemimpin
Semua perintah dikerjakan yakin
Tak boleh menjawab: tidak mungkin

D. Letnan Yusuf memimpin pertahanan di Manggopoh

Letnan Yusuf prajurit sejati
Di Manggopoh dia mengabdi
Memberi perintah sambil menasehati
Mengatur pasukan tentara PRRI

Kalau Yusuf memberi perintah
Jangan dijawab, tak boleh dibantah
Apalagi ditolak dengan marah
Demikian prajurit punya sumpah

Ketika musuh telah datang
Di Aia Dadok mereka dihadang
Dengan peluru bermacam senapang
Musuhpun lari tunggang langgang

Karena tak ingin segera dikubur
Musuh berlarian segera mundur
Masuk kolam ada yang tercebur
Badannya kotor berlepotan lumpur

Walau kemenangan hanya sesaat
Yusuf berjasa membangkitkan semangat
Dia berhasil mengusir Pusat
Karena Yusuf ahli siasat

Bermacam perintah perlu diberikan
Termasuk memutus titian jembatan
Agar musuh jadi kelabakan
Saat terjadi operasi pertempuran

Kalau prajurit tidak taat
Ibarat berlari jalan di tempat
Bintang jasa tak akan didapat
Mungkin tubuh bisa sekarat

 

Supaya pertempuran berhasil menang
Disiplin mati kata orang
Prajurit bereaksi ibarat wayang
Gerakan diatur oleh Ki Dalang

Begitulah adat seorang prajurit
Berpantang menangis, apalagi menjerit
Tiada istilah merasa pahit
Hidup diatur oleh isyarat pluit

E. Peranan Kaum Perempuan Mendukung Perjuangan

Masyarakat berjuang mempertahankan nagari
Semua golongan ikut berpartisipasi
Laki perempuan, suami isteri
Guru, Pangulu serta pak Haji

Saat perang sedang berlangsung
Kaum perempuan juga bergabung
Gerakan PRRI mereka dukung
Menjaga nagari, melindungi kampung

Bantuan diberikan dengan teratur
Orang perempuan bekerja di Dapur
Memasak nasi, menggoreng telur
Bekal makanan saat bertempur

Lain lagi perempuan ini
Mengambil tugas kerja laki laki
Menjadi prajurit pejuang PRRI
Ikut Barisan Berani mati

Ini kisah Umi Sawiyah
Ibu muda, biasanya di rumah
Sering disebut kaum yang lemah
Kini terpanggil membuat sejarah

 

Sawiyah mendaftar latihan tentara
Rok diganti dengan Sarawa
Sebagai prajurit ikut gerilya
Ke luar hutan, masuk rimba

Karena terpanggil oleh keyakinan
Tidak peduli laki perempuan
Semua penduduk ingin berkorban
Rasa senagari dalam persatuan

Setelah melakukan diskusi wawancara
Untuk skripsi ujian sarjana
Testimoni dicatat oleh Deka
Bisa dicari di arsip pustaka

Sawiyah bersaksi dengan sungguh
Tanggal 4 April 2010
Hasilnya dikutip secara utuh
Boleh diakses, lalu diunduh

Induak induak di kampuang ko tambah sambuah nan ikuik. Induak induak ko cenan lo mamacik badia.
Katiko ado imbauan masuak tantara, sambuah babondong bondong nyo pai ka Balai Satu.
Ado nan mambao anaknyo gai, ado pulo nan heboh batangka jo lakinyo.

(perempuan-perempuan di kampung tambah banyak yang ikut. Perempuan tersebut ingin pula memegang senjata. Ketika ada himbauan masuk tentara, berbondong bondong mereka ke Balai Satu, ada yang sambil menggendong anaknya, ada pula yang bertengkar dengan suaminya)

Walau berstatus sebagai Ibu
Memiliki bayi yang sangat lucu
Karena tegas tak pernah ragu
Sawiyah ditugasi Komandan Regu

Pada baju tidak terlihat
Para pejuang memiliki pangkat
Ada hirarki bertingkat tingkat
Terus dijaga dengan ketat

Anggota regu sepuluh orang
Enam tua, empat anak bujang
Setiap prajurit diberi senapang
Semuanya patuh, tiada membangkang

Meskipun penduduk desa terpencil
Sawiyah berperang menggunakan bedil
Meninggalkan anak yang masih kecil
Saat kedinginan sering menggigil

Ketika ibunya sedang berjuang
Bayi dititipkan kepada Anduang
Sekali sepekan Sawiyah pulang
Melihat anak hatinya senang

F. Perselisihan antar Sesama Pejuang

Pernah terjadi beda pendapat
Dengan kawan yang sangat dekat
Pertengkaran berlangsung sangat hebat
Orangpun lari, takut mendekat

Di tengah perjuangan membela Kampung
Ada pedagang mencari untung
Memasok Beras serta Jagung
Membantu musuh secara tak langsung

Penduduk menyebut tentara Soekarno
Terkadang masuk keluar toko
Ingin bersosialisasi mencari konco
Ketika ikut bermain Domino

Datuk Sati langsung menuduh
Pedagang divonis tidak patuh
Karena berjuang tidak sungguh
Secara tak langsung membantu musuh

Oleh pejuang di dalam rimba
Pedagang dan APRI bekersama
Mereka dianggap mata mata
Perlu dihukum supaya jera

Komandan pasukan marah besar
Toko dan rumah di tepi pasar
Dia perintahkan untuk dibakar
Karena pemilik dianggap makar

Datuk dan Sawiyah beda pendapat
Tanya jawab sambil berdebat
Sawiyah melangkah makin mendekat
Senjata dikokang lalu diangkat

Sambil mengancam memegang pelatuk
Sawiyah menolak perintah Datuk
Membakar toko milik penduduk
Membawa akibat sangat buruk

 

Meskipun perang menjadi jadi
Naluri Ibu ingin melindungi
Semua penduduk anak nagari
Tidak peduli beda ideologi

Bukannya ngeri atau ketakutan
Datuk menerima pendapat perempuan
Kedai dan toko urung dibumihanguskan
Sawiyah dan Datuk lalu bersalaman

Sawiyah senang bukan main
Walau harus membantah pemimpin
Bisa dianggap tidak disiplin
Sawiyah bertindak karena yakin

Mengikuti sumpah ucapan janji
Perintah komandan harus ditaati
Kalau khianat disebut desersi
Boleh ditembak, dihukum mati

Karena yakin Sawiyah bertindak
Menjaga kampung, melindungi Dunsanak
Walau resiko mati ditembak
Perang saudara memang tak enak

GURINDAM INI SANGAT MEMILUKAN BILA DIBAWAKAN OLEH SASTRAWAN MINANGKABAU , FILM DOKUMENTER INI DAPAT DIBAGI ATAS BEBERAPA EPISODE, UNTUK ILUSTRASI ADA KOLEKSI ASLI MILIK DR IWAN,BILA MEMUNGKINGKAN KOLEKSI MUSEUM AHMAD YANI,DAN KOLEKSI PUTRA SOEMITRO  YANG MEMBELI KOLEKSI FILM DOKUMENTER  DE ALWI,

KISAH  MEMILUKAN INI DITUTUP DENGAN BERIAT TERAKHIR TERKAIT PRRI

“Hatta… Kau benar,”katanya dalam bahasa Belanda. Hatta tidak merespon kata-kata itu. Ia hanya tepekur. Sedih. Dan tentunya itu bukan sebuah kepura-puraan.Waktu kemudian menjadi saksi, pertemuan dua sahabat yang mengantarkan kelahiran bayi bernama Indonesia itu, adalah pertemuan terakhir kalinya. Beberapa hari kemudian, tepatnya 21 Juni 1970 Soekarno pun pergi untuk selamanya.

(gungun Misbah Gunawan)

 

 

 

 

29 Nopember 1998

Kliping Artikel Meninggalnya Tokoh PRRI Ahmad Husein di Surak Kabar Kompas(Dr Iwan)

.

 

TOKOH PRRI AHMAD HUSEIN MENINGGAL DUNIA

Kolonel(purn) Ahmad Husein Tokoh Pemerintah Revolusioner Republik Indonesia (PRRI) sabtu 28 /11-1998 sabtu pukul 1.00 WIB meninggal dunia di Pavilliun Kartika RSPAD Gatot Subroto Jakarta, setelah dirawat selama tiga minggu.

Menurut anaknya Doni Hussein almarhum yang menderita penyakit Jantung meninggal setelah mengalami perdarahan otak.

Jenazah dimakamkan secara militer di Taman makam Pahlawan Kuranji Padang, sabtu pukul 15.00 WIB ,diantara seribu pelayat tampak antara lain Menteri tenaga Kerja Fahmi Idris, Mantan Merteri Agama Tarmizi Taher, sesepuh minang dan mantan menteri tenaga Kerja harun Zein, Gubernur SUMBAR Muchlis Ibrahim, menantu almarhum Mayjen Ismet Yuzairi, Panglima KODAM Bukit Barisan, Budayawan A.A.Navis, Sejumlah anggota DPR dan MPR RI.

 

Menurut mantan anak buahnya, Let Kol sjuib(purn) , Ahmad Hussein dilahirkan di Padang 1 April 1925, adalah pemimpin yang berani mengultimatum Presiden Sukarno ,anti komunis,pemerataan pembangunan, otonomi daerah yang luas dan menyerukan rujukanya dwitunggal Sukarno Hatta pada akhir tahun 1950-an.

Pada awal kariernya almarhum sebagai komandan batalyon Harimau Kuranji, yang mempertahankan Kota Padang saat perjuangan Kemerdekaan dan revolusi fisik berlangsung.Anak seorang Ulama yang berasal dari Batusangkar ini pernah menjabat Koamdan KDMST(komando xdaerah Militer Sumatera Tengah) (mal)

PRRI DALAM DEKADE

PERGOLAKAN DAERAH TAHUN 1950-an.
Oleh: Mestika Zed
Pusat Kajian Sosial-Budaya & Ekonomi (PKSBE) Fakultas Ilmu-Ilmu Sosial, Universitas Negeri Padang.

MENGKAJI ulang sejarah bangsa adalah perbuatan universal.

Bangsa-bangsa, menemukan kembali masa lampau mereka dan menuliskannya lagi sebagai ingatan bersama.
Sejarah, sebagai proses hanya sekali terjadi, einmalig, tetapi sejarah sebagaimana ia dipahami, bukanlah pahatan batu nisan yang beku dan dingin.
Ia terbuka untuk dikaji ulang.

Semua ini bukan secara kebetulan dan bukan pula bersifat acak, melainkan suatu rangkaian percakapan (wacana) tanpa henti tentang pembelajaran sejarah, yaitu mengenai manusia dan kemanusiaan.
Keteladanan nilai tentu tidak harus diikat pada masa lalu yang beku, sebab ia dapat berada pada masa depan, pada ide-ide yang membuka ruang imajinasi peradaban.


Dunia dan peradaban bangsa-bangsa berubah dan historiografi,… maksudnya penulisan sejarah….. juga mengalami perubahan bersamanya.
Dalam sejarah Indonesia modern paska perjuangan kemerdekaan, kita mungkin dapat meletakkan sejarah 1950-an sebagai suatu unit historis yang penting, tetapi sejarahnya masih belum terpahami sepenuhnya, karena tersandera oleh propaganda politik ideologi rejim sesudahnya, yang memasung ingatan kolekif bangsa menurut sejarah sang pemenang.
Akibatnya, potret gelap sejarah dekade 1950-an tetap bertahan bahkan sampai pemimpin era itu sudah tidak ada lagi (Vicker, 2008).

Sejarah periode ini ditandai dengan sejarah penuh “pergolakan”, pergolakan daerah terutama.
Pada masa ini tercatat setidaknya 8 (delapan) gerakan perlawanan menentang pusat (lihat tabel di bawah); masing-masing memiliki karaktersitik berbeda-beda, baik latar belakang, maupun proses dan tujuan akhirnya.

Dalam risalah sederhana ini saya akan coba mengkaji ulang salah satu daripadanya, yaitu pergolakan daerah yang dimotori oleh Dewan Perjuangan yang bermuara pada kasus PRRI 1958-1961.

Sejarahnya dapat dilacak dalam empat fase berikut:
(i) Prakondisi 1956-1957;
(ii) Pecahnya perang Maret-Juni 1958;
(iii) Fase perang gerilya, Mid 1958-1961, PRRI;
(iv) Dampak Eksesif, 1961-1965, yaitu era kemenangan rejim Jakarta.

Fase I: Prakondisi.

Memasuki tahun 1950-an Indonesia sebagai bangsa yang baru merdeka mulai berdaulat dan belajar berpemerintahan sendiri.
Bersamaan dengan itu, keadaan paska perang belum menunjukkan tanda-tanda pemulihan.
Infrastruktur, jalan dan jembatan, fasilitas publik yang hancur berantakan di masa perang nyaris belum tersentuh pembangunan kembali.
Jatuh bangun pemerintahan mengakibatkan perhatian terhadap daerah terabaikan.

Sementara itu, cita-cita kemerdekaan yang masih hangat dalam memori kolektif para pemimpin dan rakyat di daerah justru melahirkan kekecewaaan karena tidak sesuai dengan yang dibayangkan sebelumnya.
Mereka masih tetap berpegang teguh pada pemikiran bahwa setelah merdeka, Indonesia harus menjadi bangsa yang modern, dalam arti Indonesia harus sejajar dengan Barat.
Bahasa mereka menekankan ide-ide progresif menentang feodalisme, keharusan adanya mobilitas sosial yang radikal, koeli word toean – kuli menjadi tuan.

Namun sampai pertengahan tahun 1950-an, kondisi paska perang tidak menunjukkan perubahan yang berarti.
Akan tetapi kekekecewaan daerah terhadap kebijakan nasional lebih dari sekedar merupakan akumulasi anekaragam masalah yang timbul paska Pemilu 1955.

Di antaranya ialah:

(i) tuntutan otonomi daerah luas dalam rangka pelaksanaan sistem pemerintahan desentralisasi serta tuntutan perimbangan keuangan yang wajar, layak dan berkeadilan antara daerah dan pusat.
Erat kaitannya dengan ini penguasaan sumber daya ekonomi luar Jawa, khususnya Sumatera Tengah (perkebunan, tambang dan sektor moneter dan ekonomi manufaktur) berada di bawah kendali pusat dan hanya sedikit yang disisakan untuk daerah.
(ii) masalah integrasi berbagai kesatuan bersenjata lokal menjadi angkatan darat regular, termasuk masalah akseptabilitas tokoh kepala staf angkatan darat; campur tangan parlemen terhadap masalah intern angkatan darat; hubungan antara Presiden Soekarno dengan kabinet parlementer dan kepemimpinan angkatan darat; (iii) masalah keretakan Dwitunggal Soekarno-Hatta yang berakhir dengan pengunduran diri Wakil Presiden Hatta bulan Desember 1956;
(iv) masalah ideologis pasca Pemilihan Umum I tahun 1955 sehubungan dengan penyusunan konstitusi baru pengganti Undang-Undang Dasar Sementara tahun 1950; masalah konsepsi Soekarno sejak tahun 1957 dan last but not least ialah come-back-nya PKI sebagai salah satu partai besar pemenang Pemilu 1955 yang berlindung di balik gezag Presiden Soekarno.

 

Yang lebih menyakitkan lagi bagi daerah ialah bahwa selama perang kemerdekaan mereka telah memperlihatkan loyalitas dan pengorbanan tanpa batas untuk kemerdekaan.
Namun banyak kebijakan pemerintah pusat yang sewenang-wenang, yang membuat para pemimpin dan rakyat di pulau itu merasa diperlakukan tidak adil.

Mereka memandang rejim Jakarta tak tahu berterima kasih dan diskriminatif.
Dalam kaitan ini tidak heran jika jajaran kelompok tentara di daerah paling merasakannya.
Terlebih lagi tatkala upaya pembonsaian satuan tentara Divisi Banteng yang di masa perjuangan kemerdekaan sangat kuat dan andal dalam pertempuran melawan Belanda dipandang sebagai tindakan pecah-belah.

Divisi ini kemudian dipecah-belah, beberapa unit dikirim ke daerah lain di Indonesia dan sisanya ditempatkan di bawah komando teritorial Sumatera Utara di Medan; pemindahan komandan terbaik mereka, keharusan menerima bekas tantara KNIL masuk ke tentara Republik, dikeluarkannya sebagian tentara pejuang dari kedinasan.

Faktor-faktor ini meninggalkan pengalaman pahit dan menimbulkan perasaan dendam terhadap pusat yang diidentikkan dengan Jawa.
Beberapa ikhtiar untuk mendamaikan konflik pusat dan daerah telah dilakukan, baik lewat lobi-lobi pribadi maupun lewat forum terbuka nasional seperti Munas kjemudian Munap bulan September 1957, Piagam Palembang dan lain-lain.

Namun niat baik itu menjadi mentah ketika terjadi Peristiwa Cikini di akhir November 1957, sehingga segala sesuatu yang diupayakan sebelumnya menjadi buyar dan pada saat yang sama teror, intimidasi dan fitnah makin tak terkendali.
Sejumlah pemimpin terpaksa menyelamatkan diri keluar Jakarta dan bergabung dengan dewan-dewan perjuanagan di daerah yang dipelopori oleh kelompok militer Sumatera Tengah (Kol. Ahmad Husein) dengan mendirikan Dewan Banteng, kemudian disusul oleh Dewan Garuda di Sumatera Selatan (Kol. Burlian), Dewan Gajah di Sumatera Utara (Kol. Simbolon), Dewan Lambung Mangkurat dan Permesta di Sulawesi (Kol. Ventje Samual).

Dengan pelembagaan gerakan protes menentang Jakarta ini, polarisasi pertentangan pusat dan daerah dan sebaliknya semakin mendekatkan daerah ke tubir jurang perpecahan yang lebih dalam.


Fase II: Pecahnya Perang Saudara (Civil War).

Ketika semua upaya rekonsialisasi mengalami jalan buntu, sebuah badan disebut dengan Dewan Perjuangan, yaitu unsur inti dari gabungan dewan-dewan yang disebut sebelumnya, mengeluarkan ultimatum kepada pusat pada 10 Februari 1958, setelah mengadakan rapat di Sungai Dareh, Sumatera Tengah.

Isinya antara lain ialah tuntutan agar Kabinet (Pemerintahan) Djuanda dibubarkan dan menyerahkan mandatnya kepada Presiden atau Pejabat Presiden; memberikan kesempatan dan bantuan sepenuhnya kepada Hatta dan Sultan Hamengkubuwno IX untuk membentuk zakenkabinet sampai Pemilu berikutnya; meminta kepada Presiden Soekarno agar bersedia kembali sebagai Presiden konstitusional dengan membatalkan semua tindakannya yang melanggar konstitusi selama ini.

Apabila dalam tempo 5 x 24 jam Presiden Soekarno dan Kabinet Djuanda tidak mememuhi tuntutan tersebut, maka mereka akan membentuk pemerintahan sendiri yang terlepas dari kewajiban untuk mentaati pemerintah Jakarta.
Oleh karena kedua belah pihak tidak mau mundur dengan pendirian masin-masing, maka ketika ultimatum itu mencapai tenggat waktu yang ditetapkan, maka pada tanggal 15 Februari, genderang perang saudara segara ditabuh.

Itu ditandai dengan dibentuknya PRRI (Pemerintah Revolusioner Republik Indoensia) lengkap dengan susunan kabinet tandingan Jakarta.
Beberapa tokoh utamanya, ialah Ahmad Husein sebagai Ketua Dewan Perjuangan dan Mr. Sjafruddin Prawiranegara (bekas Ketua PDRI) sebagai Perdana Menterinya.

Sejumlah tokoh pusat juga bergabung ke dalamnya seperti Dr. Sumitro Djojohadikusumo, Mr. Asa’at, Moh. Natsir, Kol. Zulkifli Lubis dan bekas Perdana Menteri Burhanuddin Harahap dan lain-lain.

Sejak itu meletuslah apa yang disebut oleh Jakarta sebagai pemberontakan oleh PRRI, tetapi sebaliknya para pendukungnya menyebut gerakan mereka sebagai pergolakan daerah menentang rejim Jakarta yang inkonstitusional.
Inilah manuver militer dan intelijen RI terbesar setelah merdeka.

Tentara pusat (APRI) atau tentara Soekarno, mengerahkan seluruh angkatan perang (darat, laut dan udara dan kepolisian).
Kekuatan APRI waktu pertama diterjunkan mencapai lebih 20.000 pasukan.
Mereka umumnya dari Satuan Diponogoro, yang waktu itu kebanyakan sudah disusupi oleh kelompok merah (komunis).
Semantara Kekuatan PRRI pada tahap awalnya disokong oleh CIA.

Namun karena sama sekali tidak menduga dan karena itu tidak siap untuk menghadapi perang sungguhan, maka kota-kota di Sumatera Tengah dengan mudah dapat diduduki.
Pusat perlawanan terutama terjadi di Sumatera Barat dan Riau serta mitra PRRI, yaitu Permesta di Sulawesi.

Para pejuang PRRI secara lambat laun tapi pasti terpaksa mundur ke pedalaman dengan melancarkan perang gerilya.

Fase III : Bergerilya dan Jatuhnya Korban.

Sesuai dengan sifatnya, suasana perang menimbulkan tindakan anarkis, brutal yang menyebabkan banyak korban jatuh akibat tindak kekerasan, begitu juga penyalahgunaan wewenang militer, teror, pemerkosaan, pendobrakan rumah penduduk, sampai pada penyiksaan dan pembunuhan.

Lebih tragis lagi, sebegitu banyak generasi muda Minang yang hilang (generasi antara angkatan 45 dan 66) karena sebagian besar penduduk Sumatera Barat bergabung dengan PRRI.
Pihak CIA yang semula membantu PRRI lambat laun menarik dukungannya dan berpaling kepada pemerintah pusat yang mengirim pasukannya secara periodik dari kesatuannya di Jawa.

Menurut laporan korban di pihak (pemerintah) terbunuh sebanyak 983 orang, 1.695 luka-luka dan 154 orang hilang, sementara pihak PRRI sebanyak 6.373 terbunuh, 1.201 terluka dan yang tertangkap serta 6.057 yang menyerah (W.A.Hanna, 1959:14).

Menurut sumber resmi Kodam 17 Agustus di pihak PRRI sebanyak 6.115 tewas dan 627 yang hilang, sedang pihak Kodam III/APRI sebanyak 1.031 tewas, dengan rincian 329 tentara, 56 brimob, 67 OPR, 7 pegawai dan 572 rakyat (Caturwarsa, 1963: 81).
Jumlah ini belum termasuk kasus-kasus penyiksaaan dan pemerkosaan serta teror.

Fase IV: Dampak Eksesive.

Ekses dari perang saudara itu berlangsung antara 1961-1965, yaitu era kemenangan tentara Sukarno dan berlakunya Demokrasi Terpimpin yang sekaligus menandai dimulainya rejim Orde Lama yang semakin militeristik dan oversentralsitik.

Dengan bekerjanya mesin politik rejim dengan partai komunis, PKI sebagai garda terdepannya, orang Sumatera Barat khususnya mengalami perlakukan yang sewenang-wenang sebagai orang kalah perang.

PKI dengan onderbouw-nya, OPR, melakukan teror dan penekanan terhadap semua unsur yang dituduh terlibat PRRI.
Termasuk KTP dengan cap K.
Rumah-rumah keluarga pemberontak dicap silang, X pertanda eks PRRI dan macam-macam larangan, termasuk pemecatan dan tidak diberi izin naik haji.

Bagi mereka yang tidak tahan dihina dan menderita di kampung halaman, meninggalkan kampung halaman.
Maka sejak itu terjadilah eksodus besar-besaran keluar daerah.
Dampak psikologis berupa stigma pemberontak untuk orang Sumatera Barat masih tetap berlangsung, walaupun telah terjadi pergantian rejim dari Orde Lama ke Orde Baru Soeharto.

Reinterpretasi Sejarah PRRI

Bagaimanakah kita harus mencermati kembali pengalaman sejarah bangsa yang tak menyenangkan pada dekade itu?
Jika hampir semua pihak menyesali terjadinya konflik bersenjata yang amat serius itu, baik pada masa itu, maupun di dibelakang hari, pihak manakah yang harus dipersalahkan?

Siapakah sebenarnya yang diuntungkan dan sebaliknya siapakah yang dirugikan?
Apakah kegusaran daerah terhadap kelambanan pemerintah di pusat dalam menangani isu-isu nasional paska perang tidak perlu diperhitungkan alias dapat diabaikan?
Apakah jurang perbedaan pusat-daerah harus diselesaikan dengan pendekatan keamanan atau menyerang daerah yang lemah karena dianggap melanggar konstitusi?
Apakah dalam negara modern, masih berlaku warisan kekuasaan kerajaan lama (baca: feodalisme), yang mengatakan the king do no wrong?

Jelas, bahwa semua pertanyaan ini tidak mungkin dijawab dengan potret hitam putih.
Sejarah hadir dalam peristiwa-peristiwa.
Peristiwa memerlukan tokoh.
Dan tokoh harus tewas dalam peristiwa atau kalau tidak, dibenamkan dalam sejarah.
Dengan cara itu, sejarah diulang-ulang dan tokoh diingat-ingat atau sebaliknya dikucilkan dari sejarah.

Mengulang dan mengingat sejarah bangsa haruslah bersumber pada diskursus rejim yang berkuasa.
Setidaknya begitulah yang berlaku dalam iklim kekuasaan otoritarianisme, yang menentukan siapa sang pemenang dan siapa pecundang;
siapa untung dan siapa buntung.
Namun dalam iklim demokratis yang sehat dan makin terbuka dewasa ini, narasi-narasi sejarah makin membuka ruang akal sehat untuk menemukan kembali sejarah pergolakan tahun 1950-an?

Apakah yang menjadi sebab-musabab pergolakan di tanah air dalam tahun 1950-an tersebut, khususnya dalam kasus PRRI?
Sekali lagi, pertanyaan ini sangat musykil dijawab hitam putih, karena para tokoh dan peristiwa tidak selalu linear dalam alur sejarah yang sedang berlangsung.
Tentang ini ada dua sudut pandang.
Pertama, pemerintah mencari sebab itu dalam dunia ketidakpuasan yang berputar di sekitar pembangunan dan otonomi daerah,seraya menyalahkan pemimpin yang tidak sehaluan dengan garis resmi sebagai pembangkang yang harus diamankan.
Selain dari adanya perbedaan faham tentang pengertian pembangunan dan otonomi antara Pemerintah Pusat dan dewan-dewan di daerah (luar Jawa), maka yang menjadi sebab pergolakan adalah jauh lebih luas dan jauh lebih dalam dari pada dua sebab yang disebutkan Pemerintah.

Perasaan kecewa daerah karena kemerdekaan yang dinanti-natikan tak kunjung terwujud, karena pemerintah pusat sibuk dengan urusan kekuasaan, sehingga di daerah timbul perasaan makin merdeka makin melarat (dikutip dari Yamin 2009: 25).

Fakta bahwa terjadi ketimpangan pembangunan yang hanya terkonsentrasi di Pulau Jawa adalah satu hal, yang membuat hilangnya kepercayaan dan wibawa pemerintah pusat di mata daerah bergolak.
Hal lain yang lebih dalam ialah perasaan diperlakukan tidak adil karena baik unsur sipil maupun militer di daerah hanya menerima perintah dari pusat, sementara suara daerah terabaikan.

Persoalan ini lebih dirasakan oleh daerah khususnya Sumatera Barat, kampung halaman orang Minang Kabau yang terbiasa hidup berdemokrasi dan bermusyawarah.
Lubuk perasaan Minang sangat sukar diselami dan sangat tertutup bagi orang yang curiga padanya, walaupun bagaimana juga orang Sumatera Tengah suka berbicara dan suka berunding serta bermufakat untuk kepentingan umum.

Memang untuk berkata-kata dipakai lidah, menurut peradaban Minang, untuk melahirkan pikiran, tetapi pintu dialog pun tertutup tatkala Insiden Cikini meletus akhir November 1957, seperti disinyalir banyak pengamat, merupakan provokasi menggagalkan adanya rekonsiliasi nasional.

Kasus Cikini masih diliputi misteri, tetapi jika pandangan ini benar, maka kelompok yang tidak menghendaki terjadinya rekonsialisasi itu adalah kelompok PKI, sebab baik pemerintah maupun kelompok daerah, keduanya menyediakan diri mereka untuk melakukan rujuk nasional dalam rangkaian pertemuan yang disepakti tetapi gagal dilangsungkan.

Apakah PRRI pemberontak atau bukan, tergantung pada pengertian dan titik pandang yang digunakan.

Memang, pemerintah sejak semula dan sampai kini (dalam buku-buku sejarah) menggunakan kata pemberontakan terhadap PRRI dan karena itu dipandang inkonstitusional dan bahkan dituduh sebagai gerakan saparatis dan petualangan pribadi.
Namun pandangan semacam itu, menurut Yamin, kecuali dangkal tetapi juga menyesatkan.

Negara ini adalah negara hukum (Rechtstaat) dan bukan negara undang-undang (Wetstaat).

Antara keduanya terdapat perbedaan tajam.
Yang pertama mengandung penilaian kepantasan (waardeeringsordeel) dan kesadara hukum tak tekrulis (rechtsbewustzijn), semantara yang kedua, legal-formal dan procedural yang semata-mata bersandar pada teks yang tertulis.

Berdasarkan bukti-bukti yang tersedia tidak ada maksud PRRI untuk mendirikan Negara dalam Negara dan juga tidak ada tuntutan untuk menggulingkan pemerintah, kecuali mengajukan pemerintahan tandingan di Jakarta yang dianggap sudah inkonstitusional.

Seperti terlihat dari tuntutan yang diajukannya, juga tidak ada tuntutan daerahisme (Sumateraisme, Sulawesiisme dan sejenisnya, kecuali semata-mata mencerminkan kegusaran dan kepedualian daerah terhadap isu-isu nasional yang tidak menentu.

Daerah bergolak tetap menghormati Soekarno sebagai Presiden RI, dan lagi pula tidak ada satu pun lambang Negara yang diubah.

Bagaimanapun juga daerah bergolak merasa berhak (rechtmatig) memberikan peringatan terhadap pusat, meskipun illegal.
Tetapi demi perubahan ke arah yang lebih baik demi kepentingan nasional, adakalanya tindakan illegal dapat dibenarkan sebagaimana terjadi dalam banyak kasus sejarah bangsa kita.

Barangkali hanya Mohammad Hatta yang tetap konsisten sebagai demokrat sejati dalam kasus PRRI.
Ia prihatin dengan keadaan yang sedang terjadi dan coba mengingatkan kepada Jenderal Mayor A.H. Nasution, supaya jangan mengambil tindakan bersenjata di Sumatera dan Sulawesi karena serangan bersenjata bukan satu-satunya jalan keluar. ….namun Nasution ngotot menolak.

Hatta hanyalah rakyat biasa yang tak punya kuku untuk mencegahnya.
Ia tetap memutuskan untuk mengejar dan menangkap Ahmad Husein saja serta orang-orang di sekelilingnya.
Dalam buku Howard P. Jones, (mantan Duta Besar AS di Jakarta), berjudul Indonesia, The Possible Dream (1977), Hatta mengingatkan Nasution: ………. I did not agree, that the army should launch an attack on the rebels.
That was a mistake …….

Hatta juga mengutuk Ahmad Husein dengan proklamasi PRRI-nya, dan pada saat yang sama juga mengutuk Nasution dengan langkah perangnya yang fatal itu.

Sesudah mengundurkan diri nya sebagai Wakil Presiden Desember 1956, Hatta bagi Nasution tentu bukan siapa-siapa lagi kecuali cuma sebagai warga negara biasa.

Lagi pula Sukarno juga sudah patah arang dengan Hatta dalam memandang PRRI.
Bagi Sang Presiden PRRI adalah Pancasila Crusade dan karena itu membenarkan dijatuhkan hukuman dengan cara menumpas PRRI sampai ke akar-akarnya.

Istilah pemberontakan yang digunakannya Nasution dan juga bagi Presiden, menunjukkan persepsi pribadi keduanya dengan alasan sendiri-sendiri.

Bagi Sukarno PRRI merupakan ancaman serius terhadap persatuan dan kesatuan bangsa dan negara secara menyeluruh.
Itulah obsesinya sejak muda, tetapi ia mengabaikan sila yang lain, keadilan bagi seluruh rakyat Indonesia.

Suatu tantangan yang kita hadapi dalam memahami seluruh perkembangan sejarah yang bersifat wide-gauged ini adalah paradigma apa yang akan kita gunakan untuk menafsirkan perkembangan yang terjadi.
Istilah yang realatif netral dan akademis, agaknya lebih tetap menggunakan istilah perang saudara (civill war) antara pusat dan PRRI sebagai gerakan nasional di daerah.

Adalah suatu hal yang menarik untuk diperhatikan bahwa baik R.Z, Leirissa maupun G.MT. Kahin memusatkan perhatiannya pada kebijakan para tokoh puncak dalam struktur pemerintahan negara.
Kebijakan, strategi serta keputusan yang mereka ambil, yang berlangsung dalam tatanan kenegaraan yang memiliki otoritas legal itu, baik tepat maupun tidak baik, disetujui maupun ditentang oleh rakyatnya sendiri, secara de facto sangat mempengaruhi perkembanqan sejarah.

Pembahasan masalah PRRI-Permesta memang akan terkait pada peranan tokoh-tokoh sentral Presiden Soekarno, Perdana Menteri Djuanda, Nasution dan peranan PKI di belakang layar, di samping tokoh-tokoh anti-Jakarta seperti Kolonel Zulkifli Lubis dan Letnan Kolonel Ahmad Husein, Sjafruddin Prawiranegara, Mohammad Natsir, Burhanuddin Harahap, Mr. Moh. Rasjid dan lain-lain tak terkecuali keterlibatan pihak asing, khususnya kakak-beradik, John Foster Dulles, Menteri Luar Negeri A.S serta Kepala CIA W. Alien Dulles waktu itu.

Penutup

Dekade 1950-an adalah dekade penuh pergolakan.
Jika makin ditarik ke belakang, daerah manakah yang tidak pernah melakukan pemberontakan menentang rejim Jakarta?
Mengapa mereka memberontak?
Dapat dipastikan masing-masing memiliki alasan berbeda-beda, baik dasar ideologisnya atau tujuannya.
Namun boleh dikatakan hampir semuanya bersentuhan dengan pe rasa an diperlakukan tidak adil, sebagian lain mungkin karena kompetisi kekuasaan atau mempertahankan diri dari rasa nyaman dan reputasi.

Sejauh berkenaan dengan kasus PRRI, ia merupakan representasi ketidakpuasan nasional yang dimunculkan di daerah bergolak, yang didukung oleh para pemimpin nasional dan lokal dari berbagai aliran, sipil dan militer, pemuda dan rakyat kebanyakan.

Dalam satu dan lain hal PRRI adalah Reformasi avant le latere, reformasi yang kelewat dini, karena klaim PRRI terhadap pusat ternyata dibenarkan oleh sejarah yang lebih kemudian, ketika tuntutan pembubaran PKI baru terlaksana pada masa Orde Baru dan tuntutan otonomi yang lebih luas pada era reformasi, betapapun hasilnya masih mengecewakan, keduanya adalah gagasan yang sudah dicetuskan secara lantang oleh daerah bergolak tahun 1950-an.

Jika ada hasil yang dapat dicapai dari proses pembelajaran sejarah hubungan pusat-daerah dalam dekade tahun 1950-an, maka hasil itu ialah bahwa pemerintah bisa keliru dalam mengambil kebijakan dan mampu mengakui kekeliruan dan bahkan kebohongan tindakannya tanpa perlu mengambil jalan kekerasan demi menjalankan amanah konstitusionalnya.

Padang 17-3-2011

Adrian Vikers, Mengapa Tahun 1950-an Penting bagi Kajian Indonesia, dalam Henk Schulte Nordholt, Bambang Purwanto dan Ratna Saptari (eds.).
Perspektif Baru Penulisan Sejarah Indonesia (Jakarta: Yayasan Obor, Kitlv dan Pustaka Larasan, 2008).
Alwin Nurdin, Penggranatan Cikini. Provokasi Menggagalkan Rekonsialisi Nasional dan Pemicu Perang Saudara antar-Pejuang 45. Makalah, Jakarta, 2006.
Gusti Asnan, Memikir Ulang Regionalisme. Sumatera Barat Tahun 1950-an. Jakarta: Yayasan Obor 2007.
Kahin, Audrey. Dari Pemberontakan ke Integrasi. Sumatera Barat dan Politik Indonesia 1926-1998. Terjemahan.Jakarta: Yayasan Obor, 2005.
Kementerian Penerangan, Keterangan Pemerintah tentang Persoalan Sumatra Djakarta: Penerbitan Khusus, 1958.
PRRI, Penjelewenangan Jang Membahayakan Negara. Djakarta: Kementerian Penerangan, 1958.
Kodam II 17 Agustus, Sedjarah Kodam II 17 Agustus. Padang: Sedjarah Militer Kodam 17 Agustus, 1970
R. Z. Leirissa, PRRI-Permesta : Strategi Membangun Indonesia Tanpa Komunis, Jakarta : Grafitipers, cetakan pertama 1990.
Mestika Zed, PRRI dalam Perspektif Militer dan Politik Regional : Sebuah Reinterpretasi dalam Jurnal Studi Amerika (UI),NO. (1999).
Mestika Zed, Edi Utama dan Hasril Chaniago, Sumatra Barat di Panggung Sejarah 1945-1950. Jakarta: Sinar Harapan, 1998.
Mestika Zed dan Hasril Chaniago, Perlawanan Seorang Pejuang. Biografi Kolonel Ahmad Hussein. Jakarta: Sinar Harapan, 2001.
Moh Yamin. Dewan Banteng Contra NeoNingrat. Naskah Pidato Yamin di Parlemen akhir 1957. Diterbitkan kembali oleh LPPM Tanmalaka, Jakarta, 2009.
Saafroedin Bahar, PRRI-PERMESTA : Sebuah Kasus Keterkaitan antara Masalah Integrasi Nasional dan Perang Dingin, Makalah UI. April 1998.
Sjoeib, Let. Kol . Purn. Era Eksperimen Politik Dari Presiden Soekarno, 1956-1966, Makalah UI, April 1998
Syamdani, PRRI, Pemberontakan atau Bukan? Jakarta: Medpress, 2009.

 

 

 

 

 

Lampiran

Tabel : Kasus Pergolakan Daerah Tahun 1950-an.

Kasus Pergolakan Tokoh Tahun Daerah Jumlah Korban yang Tewas
1.Kasus DI/ NII Kartosuwiryo. *) 1949-1962 Jawa Barat 428 (1951/52) 2447 (1957)
2.Kasus DI/ NII Ibnu Hadjar 1950– 1954 Kalimantan Selatan 1.055 tewas
3.Kasus DI/ NII Kahar Muzakkar 1952- 1953 Sulawesi Selatan 750
4.Kasus DI/ NII Amir Fatah 1951- 1954 Jawa Tengah 700
5.Kasus DI/ NII Daud Beureueh 1953- 1959 Aceh ratusan **)
6.Kasus Andi Aziz. Kapten Andi Aziz 5-4-1950 Sulawesi Selatan ?
7.Kasus Republik RMS, Dr. Soumokil 25-4-1950 Maluku Selatan ?
8.Kasus PRRI/ Permesta: Ahmad Hussein; Ventje Samual 1958- 1961: Sumatera dan Sulawesi 22.174 dan 7000 – 8000

*). DI)/NII (Darul Islam/ Negara Islam Indonesia (DI)/NII)
**). Tidak ada angka nominal, Van Dijk (1983: 95).

Angka-angka nominal dalam tabel di atas hanyalah sekedar petunjuk (indikatif) daripada definitif dan masih perlu dikonfirmasi lagi akurasinya.
Lagi pula, korban akibat konflik horizontal antar pribadi dan kelompok dalam kasus yang sama juga tidak bisa dielakkan dan jumlahnya diperkirakan juga tak sedikit.
Sumber: Mestika Zed, “Hiden History. Sejarah Kebrutalan dan Kejahatan Negara. Isu-Isu dan Strategi dalam Konteks Sejarah Indonesia, Jurnal Demokrasi dan HAM [The Habibie Center], Vol 2 No. 1 (2001): p. 27.

Tentang pemikiran gerakan otonomi daerah menurut pemikir Sumatera tahun 1950-an lihat rangkaian tulisan mereka dalam Gusti Asnan (ed.) (2006).
Sekedar ilustrasi misalnya, nilai ekspor dari Padang tahun 1956 nominal adalah Rp 187.300.000,-, lebih kecil dibanding dengan nilai ekspor Sumatra Utara yang besarnya Rp 2.090.000.000,- dan Sumatra Selatan sebesar Rp 3.324.000.000,-.
Dilihat dari konteks ini, diperkirakan bahwa dalam waktu sembilan bulan terhitung mulai Januari sampai September 1956, Sumatra Tengah, termasuk Riau, memperoleh devisa sebesar Rp 1.137.000.000,-.

Pajak yang terkumpul di wilayah ini setiap bulan berjumlah Rp. l70.000.000,- tetapi hanya Rp20.000.000,- yang disisakan untuk daerah sedangkan sisanya disetorkan ke pernerintah pusat, yang mengalokasikan kembali sebesar Rp. 40.000.000,- untuk provinsi ini untuk mendanai kebutuhan badan-badan pemerintah setempat.
Dengan kata lain, pusat mendapat penerimaan pajak yang jauh lebih besar daripada yang dapat diterima daerah.
Staf Umum Angkatan Darat, PRRI, hlm. 59, sebagaimana dikutip dari Kahin (2005: 291).

 

 

 

 

Kakekku Berkisah…

posted by icit milanisti | at Rabu, Juli 24, 2013

Siapa yang suka bercerita dengan bangga sekaligus miris tentang dirinya “disebut” sebagai pemberontak?

Ya itulah kakekku, kakaknya nenek yang paling tua. Ketika aku ngobrol dengannya, yang biasanya berawal dari ngobrol tentang apapun, pasti ujung-ujungnya akan sampai juga ke kisahnya waktu muda jaman PRRI.

Syarifudin Prawiranegara. bukan, bukan dia kakekku >_<

Bercerita tentang adik-adiknya yang pergi masuk hutan untuk “berperang” dan dia yang tetap tinggal di rumah sehingga mengakibatkan jadi bulan-bulanan tentara pusat yang waktu itu disebut juga “Tentara Sukarno”.

Entah mengapa aku selalu ikut semangat ketika mendengar ceritanya, dan karena melihat antusiasku dia menjadi semakin ingin melanjutkan ceritanya.


Ditambah lagi keluarga kami yang katanya adalah keluarga Masyumi, menambah imbas penderitaannya sebagai keluarga pemberontak.

 Istilahnya adalah “tawanan kampung”, gerak geriknya diawasi, rumah dikasih tanda silang gede di pintunya dan di penjuru rumah dikasih lampu sorot yang mengarah ke tengah menerangi rumah untuk memantau siapa yang datang dan pergi dari rumah.

Pekerjaan kakek sebenarnya adalah sebagai guru pegawai negeri, di awal penempatan di Gorontalo selama 3 tahun sering membuatnya sakit-sakitan, mungkin karena tidak cocok udara panas katanya, dan juga karena di sana makanan full kolesterol sehingga kesehatannya ngedrop.

Akhirnya dia pulang sebentar ke kampung dan berniat mengurus pindah kerja. Permintaan itu akhirnya diloloskan dan dia mendapat surat kepindahan ke Magetan.

Padahal belum berangkat waktu itu, namun daerah Minang sudah dikepung oleh tentara pusat di lautan.

 Kemudian sesudah itu terjadi penyerangan sehingga mahasiswa-mahasiswa dan pemuda “pejuang” berlarian ke hutan. Pergi berperang, itulah istilahnya jaman dulu.

Karena itu jugalah kakek terpaksa harus ke sawah lagi, beralih profesi yang semula dari guru. Dia tidak bisa mendaftarkan kepegawaiannya karena dicap pemberontak.

Semua surat-suratnya tidak diakui. Kesalahan dia di awal juga sih, ketika pernah ada woro-woro semua pegawai disuruh mendaftar ulang dia tak mau melakukannya, gara-gara idealisme terhadap PRRI, hihihi.

 Walaupun sesudah beberapa lama surat-surat itu bisa diakui kembali dan dia kembali berprofesi menjadi guru, namun itu membutuhkan perjuangan yang cukup panjang. Bahkan  harus sampai ke Medan dan Jakarta.


Dia juga selalu menceritakan satu kejadian genting ketika rumah kami dikepung tentara yang mendapat kabar  burung bahwa adik kakek yg pejuang digosipkan sedang pulang ke rumah, keluar dari hutan.

 Ketika kakek mengintip keluar rumah ternyata benar, tentara pusat sudah berada di sekeliling rumah untuk menyergap.

Adiknya yang waktu itu memang pulang dengan menyelinap masuk rumah malam-malam bersama beberapa temannya bersenjata lengkap (wuiih keren) akhirnya melarikan diri.

Dengan krukupan sarung merayap di sisi tebing yang ditumbuhi rimbunan pohon bambu yang ada di belakang rumah, untuk mencari tempat sembunyi.

 Alhamdulillah selamat. Karena kata kakek kalau kedapatan seperti itu mah biasanya sudah langsung tembak di tempat aja, serem gak sih… *bergidik*.

 

Itulah 3,5 tahun yang selalu ingat dan sering diceritakan kakek. Diceritakan dengan sedih karena dia selalu teringat susahnya hidup jaman itu tapi sekaligus bangganya dengan nilai perjuangan yang dia yakini.

Makanya saya sangat memaklumi ketidaksukaan dia terhadap Sukarno dan..yah partai yang sedang naik daun waktu itu. Belum lagi cerita lain mengiringi kehidupan sebagai “keluarga pemberontak” yang juga dialami oleh anggota keluarga yang lain. Ah…masa itu sesuatu sekali ya…

Sabar ya kek.. *puk puk*

 

 

Kenapa Syafruddin Prawiranegara dianugerahi Pahlawan Nasional ?

 

Sewaktu Presiden SBY memberikan anugerah Pahlawan Nasional kepada Syafruddin Prawinegara (foto dikiri) di Istana Negara, pada Selasa 8 November 2011, saya sempat bergumam, “Kenapa seorang pemimpin pemberontakan PRRI Permesta,justru mendapat anugerah Pahlawan yang sangat mulia ini ?. Lalu bagaimana misalnya dengan Gus Dur atau Soeharto ?”.

Bagi peliput berita dan banyak kalangan, penganugerahan gelar ini kurang dipublikasikan secara luas, apalagi menjadi headline. Tetapi bagi saya, pemberian gelar ini menimbulkan beberapa pertanyaan. Apakah pemberian gelar ini layak ?. Bukankah justru bisa memberikan signal yang salah bagi berbagai gerakan separatisme yang masih mungkin saja terjadi di negeri ini ?.

Mungkin karena saya sering bertanya-tanya tentang keabsahan penganugerahan Pahlawan Nasional tersebut, akhirnya saya kemudian diundang untuk mengikuti pertemuan para ahli sejarah pada awal Januari 2012. Pertemuan tersebut sebenarnya sedang membahas tentang rencana pemberian gelar pahlawan nasional, bagi seorang tokoh untuk peng-anugerahan direncanakan akan diberikan pada tahun 2012 ini (lihat foto dikanan). Hadir dalam pertemuan tersebut pimpinan organisasi Pembela Tanah Air (PETA), pimpinan organisasi Tentara Pelajar (TP), pimpinan organisasi Legiun Veteran, para Doktor ahli-ahli sejarah dari perguruan tinggi dan juga para ahli sejarah dari TNI.

Dari diskusi pada hari itu, saya menyaksikan bahwa para ahli sejarah Indonesia sudah semakin arif dan sangat berimbang dalam melihat perspektif sejarah. Di era reformasi ini nampaknya mereka sudah meninggalkan idiom Winston Curchill, yang mengatakan bahwa “Sejarah selalu ditulis oleh sang pemenang”. Inilah jawaban mereka mengenai gelar Pahlawan Nasional, yang diberikan kepada Syafruddin Prawinegara.

Terbentuknya Pemerintah Darurat Republik Indonesia (PDRI)

 

Pada tanggal 19 Desember 1948, kota Jogjakarta diduduki oleh Belanda. Soekarno dan Hatta kemudian ditangkap untuk diasingkan ke Pulau Bangka (foto dikiri). Rupanya sebelum ditangkap, sang Dwi-tunggal sempat mengadakan rapat dan memberikan mandat kepada Syafruddin Prawiranegara untuk membentuk pemerintahan sementara. Sehingga pada tanggal 22 Desember 1948, dibentuklah Pemerintah Darurat Republik Indonesia (PDRI), dengan Mr. Syafruddin Prawiranegara, sebagai Ketua PDRI. Kantor Pemerintahan Indonesia saat itu, antara lain berpindah dari Jogjakarta ke Bidar Alam, Sumatra Barat  (foto dikanan). Berikut Pidato Syafruddin yang sangat terkenal, saat ia dilantik (tentu bahasa aslinya dalam ejaan lama) :

 

Belanda mengira bahwa dengan ditawannya pemimpin-pemimpin kita yang tertinggi, pemimpin-pemimpin lain akan putus asa. Negara RI tidak tergantung kepada Soekarno-Hatta, sekalipun kedua pemimpin itu sangat berharga bagi kita. Patah tumbuh hilang berganti.

Kepada seluruh Angkatan Perang Negara RI kami serukan: Bertempurlah, gempurlah Belanda di mana saja dan dengan apa saja mereka dapat dibasmi. Jangan letakkan senjata, menghentikan tembak-menembak kalau belum ada perintah dari pemerintah yang kami pimpin. Camkanlah hal ini untuk menghindarkan tipuan-tipuan musuh.”

 

Sejak pidato yang disiarkan secara luas itu membahana ke seluruh pelosok negeri, PDRI menjadi musuh nomor satu Belanda. Tokoh-tokoh PDRI harus bergerak terus sambil menyamar untuk menghindari kejaran dan serangan Belanda. Perlawanan bersenjata dilakukan oleh Tentara Nasional Indonesia (TNI) serta berbagai laskar di Jawa, Sumatera serta beberapa daerah lain. Perlawanan PDRI di Sumatra dilakukan dengan membentuk 5 (lima) wilayah pemerintahan militer.

Sehingga menjelang pertengahan 1949, posisi Belanda makin terjepit. Dunia internasional mengecam agresi militer Belanda. Sedang di Indonesia, pasukannya tidak pernah berhasil berkuasa penuh. Keadaan ini memaksa Belanda untuk menghadapi RI di meja perundingan, yang nantinya menghasilkan kesepakatan yang bernama Perjanjian Roem-Royen. Dengan perjanjian ini, kembalilah ibu kota Jogjakarta ke tangan Soekarno-Hatta (foto dikiri saat Jendral Soedirman kembali ke Jogja, diterima Soekarno).

Tidak mengakui kepahlawanan Syafruddin, berarti menganggap bahwa sejarah Indonesia terputus antara Desember 1948 (sejak Soekarno-Hatta tertangkap) sampai kembalinya pemerintahan Indonesia ke Jogjakarta pada tanggal 6 Juli 1949. Itulah argumentasi para ahli sejarah.

 Lalu siapakah yang memojokan Belanda sehingga mau berunding di perundingan Roem-Royen ?.

Tentu PDRI bersama TNI-lah yang paling berjasa.

Lalu bagaimana peran Syafruddin dalam Pemberontakan Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia (PRRI) ?

 

Pada awal tahun 1958, Pemberontakan PRRI terjadi akibat ketidakpuasan daerah terhadap pemerintah Soekarno-Hatta, karena ketimpangan sosial yang terjadi dan juga semakin menguatnya pengaruh komunis (terutama PKI). Syafruddin diangkat sebagai Presiden PRRI yang berbasis di Sumatera Tengah (foto dikanan). Namun pemberontakan ini hanya berlangsung kurang dari setahun. Pada bulan Agustus 1958, perlawanan PRRI dinyatakan berakhir dan pemerintah pusat di Jakarta berhasil menguasai kembali wilayah-wilayah yang sebelumnya bergabung dengan PRRI. Keputusan Presiden RI No.449/1961 kemudian menetapkan pemberian amnesti dan abolisi bagi orang-orang yang tersangkut dengan pemberontakan, termasuk PRRI.

Menurut para ahli sejarah, kalau amnesti dan abolisi sudah diberikan, maka pemberontakan PRRI yang dipimpin oleh Syafruddin Prawiranegara, secara de Facto dan de Jure dimaafkan oleh Pemerintah Indonesia yang sah. Itulah alasan kenapa para ahli sejarah mendukung pemberian gelar Pahlawan Nasional kepada Syafruddin.

Lalu saya bertanya, “Apakah Soeharto bisa diusulkan menjadi Pahlawan Nasional ?”. Nampaknya salah satu hal yang mempersulit Soeharto untuk menerima penghargaan ini adalah, kebijakan “genocide” (pembunuhan massal tanpa proses hukum) yang pernah ia dilakukan. Peristiwa Genocide ini terjadi setelah perisitiwa G-30-S PKI dan juga peristiwa Pembunuhan Misterius (petrus). Buku-buku sejarah menunjukkan dan juga bahkan tulisan Soeharto sendiri menjelaskan, bahwa kebijakan Genocide, memang perintah yang dikeluarkan Soeharto. “Lalu bagaimana dengan Gus Dur”, tanya saya. Menjawab pertanyaan ini, para ahli sejarah terkesan hati-hati. Namun menurut mereka, salah satu kriteria gelar pahlawan adalah pernah memimpin perlawanan bersenjata terhadap penjajah.

Demikian liputan kami.

Salam
Hengki

Sumber triharyo web blog

Politics of Memory
Sjafruddin Prawiranegara dalam Dua Zaman: PDRI dan PRRI
Oleh: Mestika Zed
Pusat Kajian Sosial-Budaya & Ekonomi (PKSBE), Universitas Negeri Padang

SEJARAH memerlukan PERISTIWA.

Peristiwa memerlukan tokoh.
Dan tokoh harus tewas dalam peristiwa.
Bagi yang tak tewas dalam peristiwa, nasibnya akan dipertimbangkan lewat sejarah.

Masalahya sejarah yang mana?
Sejarah formal?
Atau sejarah publik?

Oleh karena politik yang mendefinisikan syarat-syarat menjadi tokoh pahlawan didasarkan pada ideologi, maka ia menjadi urusan politik ingatan (politics of memory) rejim yang berkuasa.

Dalam konstruksi politik ingatan semacam itu, ada tokoh yang harus diingat dan diulang-ulang mengingatnya, bahkan dengan berbagai cara (buku, film, bangunan dan arsip), dan pada saat yang sama ada pula yang wajib dilupakan.

Ada tokoh yang pada suatu zaman dielu-elukan, kemudian hilang atau dihilangkan dari peredaran memori bangsa.
Mengapa bisa demikian?

Tulisan ini akan membicarakan Mr. Sjafruddin Prawiranegara (1911-1989), salah seorang tokoh yang dilupakan, kalau bukannya sengaja dihilangkan dalam bingkai politik ingatan sejarah bangsa.
Ada dua peristiwa historis dalam sejarah bangsa, yang terkait dengan nama tokoh ini dan yang membuat dirinya diingat dan sekaligus dilupakan.
Keduanya berlangsung dalam era berbeda, yang satu PDRI, yang lain PRRI.

Peristiwa I, PDRI (1948-1949).

Peristiwa itu disebut Era PDRI (Pemerintah Darurat Republik Indonesia) tahun 1948-1949, berkaitan dengan sejarah perjuangan kemerdekaan melawan Belanda, saat rejim kolonial melancarkan agresi militernya yang kedua bulan Desember 1948.
Akibatnya, nyaris fatal.

Mengapa? Bukan saja karena ibukota RI (Yogyakarta), jatuh ke tangan Belanda, tetapi pucuk pimpinan RI (Sukarno-Hatta) beserta sejumlah menteri ditangkap Belanda pula.
Sekedar ilustrasi mutakhir, bisakah Anda, pembaca yang budiman, membayangkan apa jadinya kalau Tripoli jatuh ke tangan musuh Khadafy dan ia sendiri ditangkap!
Begitulah kira-kira analoginya nasib Republik era PDRI.
Maka tidak heran jika Belanda waktu itu menganggap RI yang diproklamasikan 17 Agustus 1945 itu sudah bubar, tamat riwayatanya.

Namun di saat yang sangat genting itu, darurat, Sjafruddin Prawiranegara, Menteri Kemakmuran dalam Kabinet Hatta, yang sedang berada di Bukittinggi, tampil ke depan memimpin Republik menggantikan Sukarno-Hatta.

Bukan kebetulan ia berada di sana, sebab sudah merupakan ’skenario besar’ dalam perang gerilya waktu itu bahwa jika Jawa sewaktu-waktu diduduki Belanda, kepemimpinan Republik harus berada di Sumatera.

Dan Sjafruddin Parwiranegara, waktu itu sudah berada di sana.
Beliau bukan saja mendapat mandat untuk memimpin RI dari Sukarno-Hatta yang ditawan Belanda, tetapi Panglima Jendral Sudirman, yang bergerilya di hutan-hutan di Jawa pun mematuhi perintah dari PDRI yang berpusat di Sumatera.

Sebagai ketua/ presiden RI di masa darurat, Sjafruddin memimpin perjuangan RI dari Bukittinggi, kemudian berpindah-pindah tempat ke pedalaman Sumatera Barat.

Akhirnya, PDRI dengan dukungan internasional, memaksa Belanda membebaskan pemimpin RI yang ditawan dan mengembalikan mereka ke ibukota Yogya pada pertengahan Juli 1949. (Episode ini dalam sejarah bangsa dikenal dengan Yogya Kembali).
Sejak itu rangkaian perundingan menuju pengakuan kedaulatan RI tinggal menunggu waktu.

Peristiwa II: PRRI (1958-1961).

Era PRRI (Pemerintah Revolusioner Republik Indonesia) berlangsung sekitar 10 tahun setelah PDRI (1958-1961).
Peristiwanya terkait dengan pergolakan daerah melawan rejim Jakarta.
Tahun 1950-an Indonesia mulai belajar mengurus negeri sendiri.

Sebagai bangsa yang baru merdeka, banyak bengkalai paska perang yang harus diselesaikan.
Suhu politik nasional pun memanas.
Partai-partai berseteru merebut kursi kekuasaan.
Maka yang terjadi ialah gonta-ganti kabinet tiap sebentar.
Hampir tiap tahun, bahkan ada yang tak sampai usianya satu tahun, kabinet diganti lagi.
Karena pusat terlalu sibuk berpolitik, maka pembangunan daerah menjadi terlantar.

Lalu muncul dewan-dewan daerah di Luar Jawa yang mencoba menolong diri sendiri untuk membangun daerah mereka.
Rejim Jakarta jadi ciut nyalinya, sebab semangat otonomi di daearh muncul secara alami dan itu dapat membuat berkurangnya ketergantungan daerah terhadap pusat.
Maka berbagai kebijakan semena-mena oleh pusat makin menjadi-jadi.


Presiden Sukarno, misalnya, mengangkat dirinya sendiri sebagai ketua formatur untuk menyusun kabinet baru, mengangkat dirinya sebagai presiden seumur hidup.
Dia tidak hanya membiarkan PKI masuk kabinet padahal sudah diingatkan, tetapi semakin memperlakukan partai komunis itu sebagai
anak-emas.

Ia pun semakin membawa pusat menjadi semakin sentralistik di satu pihak dan condong daerahisme berbau Jawa di lain pihak.
Yang lebih pedih bagi daerah ialah, sementara pembangunan daerah luar Jawa terabaikan, sebagian besar produk luar Jawa (tambang, perkebunan dan produk lokal lainnya) dikuras untuk diangkut ke pusat atau ke Jawa.

Begitu pula halnya kebanyak jabatan sipil dan militer tingkat tinggi, baik di pusat maupun di daerah diisi oleh orang Jawa.
Perasaan diperlakukan dikriminatif, tidak adil menyulut sentimen anti-Jawa.
Wapres Hatta pun gerah dengan prilaku politik Sang Presiden yang makin semena-mena dan tak terkontrol lagi, sehingga ia minta mundur dari kursi Wapres tahun 1956.

Kemunculan PRRI dapat dilihat sebagai puncak pernyataan ketidakpuasan dari dewan-dewan perjuangan di luar Jawa ? dengan nama berbeda-beda di masing-masing daerah ? terhadap rejim Sukarno di Jakarta yang semakin otoriter dan yang didukung PKI.
Dewan-dewan perjuangan di luar Jawa itu sudah lama memperingatkan agar Sukarno kembali ke jalan konstitusi, tetapi rupanya tidak diindahkan.

Puncaknya, ya itu tadi: lahir PRRI.

Dewan-dewan luar di Jawa itu menyatukan barisan, lalu megeluarkan peringatan keras (ultimatum) tanggal 10 Februari 1958 dan lima hari kemudian mereka medeklerasikan lahirnya PRRI.
Di situ, sekali lagi, Sjafruddin Prawiranegara tampil ke depan memimpin RI sebagai
pemerintahan tandingan atas RI pimpinan Sukarno di Jakarta.
Peringatan keras dari dewan daerah itu bukannya ditanggapi dengan jalan dialog dan berunding, tetapi dengan memerangi PRRI.


Kelompok militer, yang dikirim pusat, sebagian sudah disusupi PKI, menyerbu kedudukan PRRI tanpa ampun.
Semua angkatan (darat, laut dan udara plus kepolisian dan brimob) dikerahkan.

Kedudukan PRRI di Padang, Bukittinggi, dan Riau dibombardir.
Pada saat yang sama rekan-rekan mereka di dewan daerah di Sulawesi (Permesta), yang sudah bergabung dengan PRRI juga mengalami pukulan yang sama.
Menurut catatan sejarah, inilah eksperimen militer terbesar pertama paska perang kolonial.

Sejak itu terjadilah perang saudara, sesama pejuang yang tadinya sama-sama melawan musuh bersama: Belanda.

Rejim Jakarta menamakan PRRI sebagai pemberontakan, sementara pihak PRRI menyebutnya sebagai ikhtiar terakhir atau koreksi total terhadap rejim inkonstitusional.

Tergantung dari sudut pandang mana istilah itu digunakan.
Istilah yang netral secara akademik adalah perang saudara (civil war) karena masing-masing merasa yakin tengah memperjuangkan (ideologi) RI.
Tidak ada klaim pemisahan dalam perjuangan PRRI.


Apa lagi menegasikan simbol-simbol kenegaraan, konsititusi, bendera dan bahkan juga tidak ada klaim wilayah di dalamnya.
Aktor dan Sistem dalam kedua peristiwa itu, PDRI dan PRRI, aktornya sama: Sjafruddin Prawiranegara sebagai pemimpin pemerintahan, tetapi dalam suasana dan sistem yang sama sekali berbeda.
Dalam peristiwa pertama (PDRI) Indonesia berada dalam suasana perang kolonial, melawan musuh bersama: Belanda.

Penjajah itu ahirnya bisa diusir dari bumi Indonesia setelah dipaksa menyerahkan kedaulatan Indonesia di penghujung 1949.
Dalam peristiwa kedua (PRRI), yang terjadi pada dasarnya ialah perang-saudara antara sesama pejuang yang berseberangan jalan.
Yang satu menjadi pendukung rejim Sukarno, umumnya Jawa (tidak termasuk Sunda), yang lainnya mendukung PRRI.

Dalam kedua pemerintahan itu kata RI tetap dipertahankan, karena yang digugat pengikut PRRI ialah sistem pemerintahan yang otoriter dan mentaliteit feodal pusat dan banyak perangai politiknya yang sudah keluar dari cita-cita kemerdekaan atau konstitusi.

Di mata pembela PRRI, rejim Jakarta seakan-akan memutar bandul sejarah kembali ke sistem kolonial.
Apa pun namanya, demokrasi parlementer, demokrasi terpimpin dan lain-lain, tetapi kalau prilaku politiknya masih berlaku diskriminatif, menggantung daerah, ketidak-adilan dan terlebih lagi eksploitatif terhadap rakyat daerah, itu tetap kolonial namanya.

Pastilah ada sesuatu yang salah dengan pemerintah pusat di Jakarta dan itu telah diingatkan berulangkali. Namun tetap buntu.
Maka tidak heran jika tahun 1950-an adalah tahun-tahun
pergolakan daerah.

Antara tahun 1950 sampai awal 1960-an, tercatat setidaknya 8 (delapan) gerakan perlawanan menentang Pusat.

Masing-masing memiliki karaktersitik berbeda-beda, baik latar belakang, maupun proses dan tujuan akhirnya.
Dan PRRI hanyalah salah satu daripadanya.
Suatu hal yang pasti ialah bahwa PRRI bukan gerakan saparatis dan bukan pula pemberontakan untuk menumbangkan dasar-dasar negara, melainkan gerakan koreksi total terhadap rejim otoritarianisme.

Dalam sistem semacam itu, yang berlaku hanyalah adagium the king do no wrong (penguasa selalu benar).

Maka setiap kritik yang diarahkan ke sumbu kekuasaan akan berbalik jadi boomerang.
Tetapi Sjafruddin dengan dukungan pemimpin sipil dan militer serta rakyat di daerah, adalah tokoh pemberani yang konsisten, tidak peragu dan sigap dalam mengambil keputusan di saat kritis.
Dialah pemimpin sejati, yang merepresentasikan kerbau Minangkabau yang tangkas dalam legenda sejarah kampung halaman orang Sumatera Barat itu.

Sjafruddin, seperti halnya dengan para pemimpin PRRI dan rakyat daerah yang berada di belakangnya, masih tetap berpegang teguh pada pemikiran bahwa setelah merdeka, Indonesia harus menjadi bangsa yang modern, dalam arti sejajar dengan Barat dan bukan feodalisme baru yang kian marak.

Bahasa Pak Syaf, demikian panggilan akrabnya, selalu menekankan ide-ide progresif menentang feodalisme, keharusan adanya mobilitas sosial yang radikal, tetapi mengapa keadaan sedemikian runyam?
Kesalahan itu tentu tak sepatutnya ditimpakan kepada pusat semuanya.
Hanya saja mengapa bangsa yang baru merdeka itu harus menyelesaikan urusan dengan berperang dan bukan berunding cara Minangkabau?
Salah satu jawabannya sistem politik rejim otoritarianisme yang tak mau mendengan aspirasi akar-rumput.

Pembelajaran Sejarah

Bagaimanakah kita harus mencermati kembali pengalaman sejarah bangsa yang paradoks itu?
Yang satu, PDRI, kisah heroik yang menyelamatkan RI dari kehancurannya, sehingga ia pantas diperingati sebagai hari bela negara, seperti yang telah diresmikan oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono sejak 2006 lalu itu.

Yang lain, PRRI, kisah tragis, yang menurut pelakunya juga untuk menyelamatkan RI dari tirani kekuasaan rejim pusat yang menindas, tetapi gagal.
Jika hampir semua pihak menyesali terjadinya konflik bersenjata sesama saudara setanah air, yang amat serius itu, baik pada masa itu, maupun di dibelakang hari, pihak manakah yang harus dipersalahkan?
Siapakah sebenarnya yang diuntungkan dan sebaliknya siapakah yang dirugikan? Salah satu jawabannya terletak pada sejarah yang lebih kemudian, yang membuktikan klaim PRRI benar adanya.


Sukarno dan PKI akhirnya harus menerima takdirnya.
Dan PRRI itu sendiri dalam satu lain hal adalah
Reformasi avant le latere, reformasi yang kelewat dini, mendahului zamannya.

Kini setelah puluhan tahun berlalu, di saat akal sehat kita mulai pulih, sejarah yang benar mestinya tidak ditentukan oleh rejim yang berkuasa, sebab rejim terus berubah, dan kriteria nilai siapa sang pemenang dan pecundang juga mengalami perubahan.
Tetapi dengan politics of memory yang memberi ruang pada ingatan kolektif, atau ingatan publik (vernacular memory).

Dalam konstruksi semacam itu, ukuran ketokohan seseorang bukan didasarkan pada konsesus politik sang pemenang, terlembaga dan diperingati secara reguler, melainkan pada penggalian pengalaman pelaku (tangan pertama), biasanya dalam lingkup komunitas yang lebih luas dan karena itu lebih intim dan lebih otentik.
Dalam konstruksi semacam itu, penghargaan terhadap tokoh tak lagi sekedar menjadi
ruang hening cipta dalam upacara, melainkan untuk meluaskan batin kemanusiaan kita dalam menatap masa depan peradaban bangsa yang telah diperjuangkan para pahlawan di masa lalu.

 

 

23 Juni 1993

Info terakhir dari Kol Zulkifli Lubis

Bersama tokoh PRRI seperti Sjarifuddin Prawiranegara, Burhanuddin Harahap, dan Nasir, Kolonel Zulkifli Lubis menjalani karantina politik di Cipayung, Jawa Barat.

Pada masa tuanya, Zulkifli menekuni wirausaha. Kegiatannya sehari-hari adalah bangun pagi pukul tiga, lalu shalat Tahajud dan berzikir hingga shalat Subuh. Setelah itu ia gerak badan dan berlanjut ke gerak pernapasan dengan berzikir.

Bekas kolonel AD itu sedikit sekali meninggalkan jejak saat aksi PRRI. Mungkinkah karena ia perwira intelijen ya yang akrab dengan kemisteriusan? Entahlah. Pada 23 Juni 1993, putra Sumut ini wafat dengan tenang.

Meskipun pernah mewarnai pergolakan politik di Indonesia, Zulkifli Lubis diakui sebagai tokoh penting dalam sejarah kemerdekaan dan militer di tanah air. Buktinya, ia mendapat kehormatan dengan dimakamkan di TMP Dredet, Kabupaten Bogor.

(musprast web blog)

 TERIMA KASIH ATAS PERHATIAN HERRY TANOE DAN STAF TV YANG ATAS KESEDIANNYA UNTUK MENAYANGKAN FILM DOKUMENTER INI SEBAGAI LAMBANG PRBOWO VS JOKOWI,

 

 

 

 

 

 

DR IWAN CD ROM ” THE INDONESIAN PLANTATION TOKEN HISTORY COLLECTION”

The Indonesian Plantation Token

 History Collections

 

Created By

Dr Iwan suwandy,MHA

Limited E-Book In CD-ROM Edition

Specila For Numismatic Collectors

Copyright @ Dr Iwan 2014

PREFACE

In 1985 in memoriam Mr Nasution from Langkat east Sumatra show me a rare token from Deli Plantation local area, and My friend numismatist Halim Sukmana Jakarta asked me to found this rare collections but I did not bought that token because not in very fine condition,many hole and the priced very high.

When I visit Samosir Island in the center of Toba Lake at north Sumatra in 1976

 

 

I found

the Kisaran paltation Token in very fine condition,

then in the same year I found the Poelaoe Radja plantation Token.

Starting from that time I am hunting the Indonesia platation Token when visit North Sumatra,Bukittinggi Middle Sumatra,and the when moved to Jakarta

I also found Tea Kajoe Aro Soegei Penung Kerinci Jambi platation Token named Tea Goaldpara, and  boemiayoe platation Token.

 

Because until now now special book exist related with that plantation Token and also about the Tea,tobacco and Rubeer plantation in Indonesia in 19th Century, I am starting to make reaseach about the Indonesian Plantation History Collections and this e-book in Cd-Rom was the study report.

I hope many historian and numismatic collectors will now what hapanned in the Indoensia Plantaion during DEI in 19th Century.

I want to thank very much to everybodies who have help me to finish this e-book, espaciall the family of Nasution and his son alaso have the same bussineess until now

Jakarta June 2014

DR Iwan Suwandy,MHA

 

 

INTRODUCTION

Starting from 1872, plantation tokens were used on a large scale for payment on many tobacco plantations in Sumatra, Indonesia.   The tokens were used to pay the coolies who worked on the plantations.   Company  names such

as De Guigne Freres,

Toentoengan

 

 

and Unternehmung mostly Germans who specialized in tobacco farming  started to establish themselves on Sumatra’s East Coast regions.The coolies received their payment once a month and tokens can only be used to buy their provisions at the company stores.

Chinese coolies of Tobacco plantation deli

 

The question is why dollars and cents but not guildens since Sumatra was a Dutch colony. Reason is that many of the coolies were Chinese from the Straits as they were used to receive payment in silver dollars.

The Sultan of Deli was one of the riches persons in Sumatra when German companies started to get concessions to plant tobaccos in DelI

 

The study of issued of Indonesian Plantation’s Token in 19th century still not know, and this study will find why,when,where,how and who related to Indonesia Plantation Token.

 

The use of token currency as a substitute for the normal coin circulation on plantations in North and South America and in Asia is a well-known occurrence. At the end of the 18th century, English planters introduced plantation money in the West Indies. Around 1820, they also introduced this kind of payment for labour payment on the coffee and tea plantations on Ceylon, a state of affairs which lasted till about 1890. From about 1870 till 1914 “house-tokens” were also used on tea, rubber and coffee plantations in South India by the English estate owners. Around 1900, plantation tokens were used on tobacco and coffee plantations in Central America: Mexico, Nicaragua, Costa Rica and Guatemala. 

 

 

From about 1872 plantation and estate tokens were used, on a large scale, for payment on many tobacco plantations in the so called “ Residence of the East coast of Sumatra” in the Netherlands East Indies. This “money” was used to pay the coolies who worked there on the plantations.

The planters established on Sumatra’s East coast started issuing this exchange item in a way which was directly related to the plantation or estate. As their main reason they said that there was a shortage of small change in these areas. But that was not really the main reason: what they really wanted was to get total control of money circulation on the estates. With that, the coolies were obliged to buy their daily supplies in the plantation shops 

 

The coolies received their payment once a month; in the meantime, their purchases were written in their own “debt record book”; as were also, for example, their gambling debts, and fines for insufficient productivity on the plantation. Another thing of minor importance was that, when the coolies left the plantation without permission, they did not have any normal circulating money which was necessary for staying outside the plantation. They, therefore, also had to pay a fine for unauthorised absence from the plantation when visiting family or friends.

 

Plantation Money(token) Dutch East Indies , Sumatra , Java and the Moluccas .

This page is in my view the main page of this site, because many images are shown here , and descriptions are given of plantation tokens from Dutch East Indies , the islands of Sumatra , Java and the Moluccas . Also on this page discusses other Dutch Indies private money and tokens and attributed to Dutch indie wrongly plantation money .
Below are all the plantations and other private companies were mentioned on this page are pictures and descriptions .
These plantations etc. are covered by this page on the same order .

 

 

 

 

 

Sumatra


Bandar Pulu Estate *** Wetter Baumann & Co. . Bindjey Starfruit *** *** *** *** Dolok Estate Gallia *** Unternehmung Goerach Batu Batu Goerach Unternehmung *** *** *** Unternehmung Hessa Hüttenbach & co . Unternehmung Kisaran *** *** *** Kwala Begoemit Company Lingga *** The Netherlands India Sumatra Tobacco Company Limited *** Padang Tjermin *** Unternehmung Pulu Raja *** Company *** Rimboen Asahan Tobacco Company Silau ** * Kedeh China company Simpang – Tiga *** Malay Kedeh company Simpang Tiga Soengai Serbangan *** *** *** Soengy Diskie Tanah Raja Tandjong Alam *** *** *** Tandjong Kuba company Wampoe .

 

 

Java


Company Argasari Boemie Aju *** *** *** Soember – Doeren Soember – Redjo *** Soember – sukkah *** Waspada .

the Moluccas


Rotterdam – Batjan Cultural Society .

Another Dutch Indies private money and tokens


Trading Amsterdam *** Hong Kong and Shanghai Bank Sour Abaya *** Jacobson van den Berg *** *** Pulu Samboe Postal Savings Bank in the Dutch East Indies *** CPK

Winckel .

 


Plantation Money Sumatra

 

Most of the company’s money was spent in the late 19th century . A period of rapid development in the Dutch East Indies . The fame of the plantations on the east coast of Sumatra is based on the cultivation of tobacco , although a large number of companies are also coffee , nutmeg , coconut and various types of rubber produced ( Lances , 2001) .

 

 

 


Rubber , oil palm , and were planted in areas of eastern Sumatra where no high -quality tobacco could be produced. Also tea plantaion at Kerinci goalpara dan from Java also had their local plantation Token

 


DENOMINATIONS ON PLANTATION TOKENS

The currency in which the cash payment of coolie wages was normally made on the “kebons”, the estates, was the “dollar coin”; the so-called “Straits dollar “. The coolies had to pay for their purchases in the “ Kedeh” or “Cadei”, the shops on the estates.

With the development of tobacco cultivation on the east coast of Sumatra, about 1870 in the districts of Asahan, Langkat, Deli and Batoe Bahra, there came into existence new circulating areas for silver coins, i.e. different sorts of silver dollars of foreign countries. During this development, many Chinese coolies were recruited from the southern Chinese provinces and the Straits Settlements ( Malacca). These coolies were used to getting their payment in silver dollars.

The east coast of Sumatra had a very intensive trade relationship with the Malaysian Peninsula with the main important trading points of Singapore and “ Pulau Penang” on the other side of the Straits of Malacca. On the east coast of Sumatra there was the extraordinary situation that, whereas officially the “guilder” was meant to circulate, almost all money transactions took place in foreign currency. Government officials, however, were paid in Dutch currency ! The silver dollars circulating, on a large scale, on the east coast were: the “Pilardollar” ( the Spanish Cob), the Mexican dollar ( Mexican Cob ), the Hong-Kong dollar, the Japanese “Dollar” ( Yen), the French Piaster, the British Trade dollar and the American Trade dollar.

 

In 1906 the circulation of foreign currency in the Straits Settlements came an an end as a result of intensive measures to remove it. The Netherlands East Indies Government did the same, starting in 1906, ending in 1908. This was definitely the end of a period when foreign currency circulated all over the Netherlands East Indies.The majority of the workers on the plantations and estates were used to being paid in “dollar currency”, sub-divided into the several denominations of these coins. That is why on the plantation tokens the value was given in “dollar” denominations and the big “dollar-issues” most of the time had a “silver- or gold-like” appearance.

 

In the description of the plantations various sizes are used :
1 building = 7096.5 m2 = approx 7/10 acres
1 post = 1506.94 m
1 post = 320 square construction


1 Gantang = 8.58 liters ( salt or rice)


Pikol 1 = 61.76 pounds

 

VARIATIONS IN SHAPE AND METAL.

 

In general, the shape of plantation tokens is round.

 

Other types are: square, triangular, pentagonal, octagonal, rectangular, oblong, oblong with clipped corners, oval and eye-shaped ones. The tokens are mainly struck in brass, copper, nickel-plated zinc, bronze, tin, aluminium and silver. Most of these tokens referred to as silver are only silver-plated items. Note that tokens made of nickel-plated zinc, tin and aluminium have the appearance of “silver”.

Some tokens can be identified by such characteristic features as a square or round hole in the centre. These items were specially made for use in areas of Chinese settlement, where the people were familiar with the centrally pierced Chinese cash. Items exist with counterstamps and Chinese chopmarks on them. Some cast tokens are also known.

While most of the plantation tokens were made for use on tobacco plantations and estates on the east coast of Sumatra, some types also circulated on the west coast. Another group circulated on tea plantations on western Java. There was also a coffee plantation on the island of Batjan, in the Molucca’s, where these tokens circulated.

On the tobacco plantations in British North Borneo mainly tokens of British Companies circulated. Some Anglo-Dutch companies also issued their own plantation money. For example the: Amsterdam-Borneo Tobacco Company; the London & Amsterdam Borneo Tobacco Company and the Rotterdam-Borneo Company.

RARITY OF NETHERLANDS EAST INDIES PLANTATION TOKENS

Generally speaking it is true to say that, while some of these plantation tokens are scarce, most are very rare. The scarce serird are from the tobacco estates of Silau, Hessa, Kisaran, Poeloe Radja and Soengei Serbangan, but this only relates to the high denominations of the one and half dollar.

Tokens in excellent condition and proof items are, in general, very rare. It is not yet known by many collectors of these tokens that the small denominations are much rarer than the big ones.

Even now, it is unknown where the majority of these tokens were made. A small group appears to have been struck in Germany by Lauer Nürnberg, a medallion and token factory in Nürnberg. On some tokens of British North Borneo we find “KB” in small letters, possibly an indication that these items were struck at the mint in Kremnitz in the former Austro-Hungarian Empire, nowadays in the republic of Slovakia.

CIRCULATION PERIOD

The earliest issued plantation tokens are these of the Guigne freres, owners of the Soengei Sikambing tobacco plantation on the east coast of Sumatra and the Sumatra Tobacco Company who managed the Tjinta Radja Estate.

The first plantation money circulated around 1875-1876 on these estates. Some tokens bear the year of issue: 1888, 1890, 1891 and 1892. Most of this estate money circulated around 1890 on Sumatra’s east coast. After 1906, the start of the money cleansing operation in the Netherlands East Indies, it can be ascertained that no new issues came into circulation.

GENERAL REVIEW

Almost nothing is known about the issuers, die makers, mintmasters of these different plantation tokens, with a few exceptions for certain big companies such as the Deli Tobacco Company. A lot of these firms were independent estates. Their activities only took place abroad, in the Netherlands East Indies. Their main offices in the Netherlands only had a controlling function and was head financier for further new developments on the plantations.
Those companies received their capital investment from all over Europe: The Netherlands, Germany, the United Kingdom, France, Switzerland and Belgium. The management and supervisory staff on the plantations came from all over the world: Dutch, Swiss, Russians, English as well as Germans or Americans. A large proportion of the total amount of these plantation tokens were issued by Herrings & Co. and the multinational Société Financière des Caoutchoucs.

A lot of plantation tokens were issued at the end of the 19th century. That was the period of fast and quick development of tobacco estates in the Netherlands East Indies. The fame of the plantations on Sumatra’s east coast was based upon the cultivation of first-class tobacco, sold all over the world.

The companies obtained their concessions to explore plantations by paying the owners of the land, the Sultan and his Raja’s on the east coast, an annual lease revenue.
Around 1890, at the high point of tobacco cultivation, the Sultan of Deli, resident in Medan, was one of the richest and most influential persons within the Dutch Government on the east coast of Sumatra. In 1872 there were already 17 tobacco plantations in Deli, increasing in the 80s to over 75 in Deli, Langkat, Serdang, Bedagei and Padang. In 1891, 130 tobacco plantations were in production.

In 1890, the price of tobacco declined very strongly due to the increase of import tax on tobacco by the United States. By around 1920, most of the tobacco estates had changed their production from tobacco to rubber.

Some plantation tokens bear the name of Chinese dealers who had close relations with special estates and their employees. These tokens were used in the Chinese shops on the plantations.

The tokens with German inscriptions such as “Unternehmung” and the value “gut für” were used on a lot of plantations on Sumatra belonging to Mr Herrings, a German. All his plantations produced tobacco which he shipped to Bremen, in Germany, instead of to the biggest auction in Europe, that of Amsterdam. The reason for this was to create a competitive market. This failed and caused him to go bankrupt around 1900.

 

THE CHRONOLOGY COLLECTIONS

1835

1864

Source

Tropen museum

Administrator house

 

C.H.Japing and wife Grechen

 

 

 

 

C.H.Japing and wife Grechen thefounder of polonia tobacco platation deli in 1864

 

 

C.H.Jiping walk acrros the deli river leapin on the bridge near polonia tobacco plantation deli

The brigde over barbera at Polonia Tobacco Plantation deli

 

Polonia tobacco plantation near deli river

 

1879

Close up

 

Plantation Worker

 of

Timbangandeli Plantation Factory 

at Loeboek Pakan Deli sumatra

 

 

 

Chinese  Plantation controlmans

dutch  Plantation controlman

 

Indian  Plantation controlman

 

Javanese  Plantation controlman

 

Administrator and  their wife

Chrystal wine dring sets

Administrator House

 

Administrator  with his wife  on horse carriage in the front of house

 

Right side

leftside

Office helpers ThePersonal of

Timbangandeli Plantation Factory  at Loeboek Pakan in 1879

 

 

The House Of Private Tobacco Platantation

at Sungei Brass  In Deli 1879

 

1888

 

 

1206 0147 INDONESIA, SUMATRA, estate token, 1888 UNTERNEHMUNG HESSA GUT FÜR 1/2 DOLLAR 1888 / blank, copper-nickel, 33mm, 11g, Sch1063, spots, aXF high bid $65.00
Click picture for enlargement

 

1206 0148 INDONESIA, SUMATRA, estate token, ND (1902) ATSM & Chinese / MUNT VAN ASAHAN TABAK MAATSCHAPPY “SILAU” 1/5 DOLLAR, copper-nickel, 22mm, 4.58g, Sch1126, light stains, VF high bid $25.00
Click picture for enlargement

 

1888

 

 

1206 0147 INDONESIA, SUMATRA, estate token, 1888 UNTERNEHMUNG HESSA GUT FÜR 1/2 DOLLAR 1888 / blank, copper-nickel, 33mm, 11g, Sch1063, spots, aXF high bid $65.00
Click picture for enlargement

 

 

 

 Kuli Tionghoa memilih tembakau deli dan asahan

Chinese koelies bij het sorteren van tabak

 

Pekerja tembakau deli dan asahan

 

 

Memilih tembakau deli dan asahan

 

Tobacco Plantation boss and coelie

Tobsasco plantation deli nursery

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

1890

 

 

 

1891

 

 

 

 

 

1892

Argasari Kina estate Plantation Token

 

Onderneming Argasari 1892 / Uang Perkebunan Argasari Tahun 1892

Perusahaan Argasari, nama lama dari perkebunan yang berada di kawasan Gunung Halimoen, terletak di Preanger Bandung, di Kabupaten Tjipendjeuh di Jawa Barat. Di perkebunan tersebut ditanam kina yang digunakan untuk mengobati malaria.

 

 

1899

 

Tobacco deli plantation card 1899

 

1902

 

 

Onderneming Token

 

 

Silau  Asahan Tobacco Factory  Token

 

Netherlands East Indies: Sumatra. Asahan Tabak Maatschappij plantation token set including: 1/10, 1/5, 1/2, and 1 Dollar tokens in nickel, Sch-1124/2… (Total: 4 coins Item

 

Sumatra. Asahan Tabak Maatschappij plantation token set including: 1/10, 1/5, 1/2, and 1 Dollar tokens in nickel, Sch-1124/27, all are XF. Issued by owners of the tobacco plantation to appease the Chinese workers who refused to accept Dutch guilders in payment

 

 

 Silau Asahan Tobacco Factory Token

 

1907

 

George B Perkins the founder of The AmericanSimatera tobacco compay in 1907

In June 1907, George B. Perkins, a founder of the American Sumatra Tobacco Company, acquired control of the central portion of the Houston Plantation by assuming a lease purchase agreement originally given by

Patrick Houston’s widow, Martha E. Bradford Houston (in rattan chair – photo from Florida State Archives), a granddaughter

John Branch, Florida’s last Territorial Governor (served 1844-45 – photo from Florida State Archives).  The actual purchase in November 1907 for $10,000.00, was by the American Sumatra Tobacco Company, with a life estate retained by Martha Bradford Houston.

 

 

 

 

1910

 

Tobacco plantation deli Javanese collie

 

 

 

 

 

 

In December 1910,

 the American Deli Tobacco Company foreclosed on the mortgage, and at a sheriff’s sale (James P.S. Houston [photo on right from Florida State Archives],

  a son of Patrick and Martha Houston then being sheriff),

 

 

 

THE INDONESIA PLANTATION TOEKN CATALOGUE

Amsterdam Borneo Tobacco Estate Plantation Token

 

 

Asahan Tobacco Company Silau
This trading company owned the private tobacco company Soengai Silau, which was located in the east coast of Sumatra Residence, Department Asahan. 50 km west of the Tandjong Balei the Silau river. Period issuing tokens: c.1902 – c.1913

 

Silau, LaWe 249a, 1 dollar cupro-nikkel, blanco keerzijde, 38 mm. (R). Daarnaast een token van dit type met instempeling van een dubbel cijfer

Silau, LaWe 249a en 249b, 1 dollar cupro-nikkel, 38 mm. verschillende bewerkingen. Er zijn maar enkele exemplaren met de instempeling S.A.N.A.N. bekend. de “V” op de middelste token is waarschijnlijk een ontwaardingsteken

Silau, compleet setje van de uitgegeven nominale waarden:
LaWe 249b, 1 dollar cupro-nikkel, 38 mm. (S)
LaWe 251b, 1/2 dollar cupro-nikkel, 28,5 mm. (S)
LaWe 252b, 1/5 dollar cupro-nikkel, 22,5 mm. (S)
LaWe 254, 1/10 dollar cupro-nikkel, 19,5 mm. (S)

 

 

 

Tobacco Onderneming Asahan “SILAU FACTORY”Token

1206 0148 INDONESIA, SUMATRA, estate token, ND (1902) ATSM & Chinese / MUNT VAN ASAHAN TABAK MAATSCHAPPY “SILAU” 1/5 DOLLAR, copper-nickel, 22mm, 4.58g, Sch1126, light stains, VF high bid $25.00
Click picture for enlargement

 

1888

 

Onderneming Token

 

 

Silau  Asahan Tobacco Factory  Token

 

Netherlands East Indies: Sumatra. Asahan Tabak Maatschappij plantation token set including: 1/10, 1/5, 1/2, and 1 Dollar tokens in nickel, Sch-1124/2… (Total: 4 coins Item

 

Sumatra. Asahan Tabak Maatschappij plantation token set including: 1/10, 1/5, 1/2, and 1 Dollar tokens in nickel, Sch-1124/27, all are XF. Issued by owners of the tobacco plantation to appease the Chinese workers who refused to accept Dutch guilders in payment

 

1206 0147 INDONESIA, SUMATRA, estate token, 1888 UNTERNEHMUNG HESSA GUT FÜR 1/2 DOLLAR 1888 / blank, copper-nickel, 33mm, 11g, Sch1063, spots, aXF high bid $65.00
Click picture for enlargement

 

 

 Silau Asahan Tobacco Factory Token

 

 

Bandar Poeloe Estate

 Bandar Pulu Estate
The Bandar Pulu Estate, tobacco plantation was located in the building of the east coast of Sumatra, Department Asahan District Bandar Poelau (Pulu), south-west of Tandjongbalai on the west bank of the Asahan River and approximately 20 miles. Pulu of Raja and Oelakmedan. Period issuing tokens: ca 1891 – ca 1897.

 

Bandar Poeloe Estate, LaWe 24?, 1 dollar zilver(?) proef, 33 mm. (RRR)

 

 

Wetter Baumann & Co..
The tokens Baumann Wetter & co. presumably issued for circulation at the Bandar Maria Estate, a coffee plantation, which was located 2 km away from Bangoen-Perba Deli. Period issuing tokens: ca 1900 – ca 1914

 

Baumann wetter & Co., LaWe 37a, 20 cents, geelkoper, 21 mm. (RRR)

 

 

 

Unternehmung Bindjey
The company Bindjey, formerly Tanah Merah, was a tobacco plantation located in the Residence east coast of Sumatra, in the department Asahan, large building in 2000, at a distance of about “24 pole” of Tandjong Balei at the mouth of the river Asahan. Period issuing tokens: 1890-1895
.

Bindjey, Lawe 41b, 1 dollar 1890, cupro-nikkel, 38 mm. (S)

 

 

 

 

 

Blimbing Cofee Company plantation Token


This coffee company, large 1573 building, was located in the east coast of Sumatra Residence, Department Batu Bahra, landscape sukkah Limah Poeloeh, about 18 km. from Laboeanroekoe. Period issuing tokens: ca 1888/1889 – c.1903.

Facts: The starfruit is a tree that bears edible fruit star, These are very juicy and sour. There are different types blimbingbomen

Blimbing, Lawe 55b, 1 cent roodkoper, op voor- en keerzijde de letters KB, 22 mm. (RR)

 

 

 

 

 

 

 

 

Deli Badagei Estate plantation Token

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Deli “de Guigne Ferees “ Estate PLantaion Token

 

 

 

 

Dolok Estate plantation token

 

 

Dolok Estate
The Dolok Estate was located in the residence east coast of Sumatra, Empire of Asahan, Department Batu Bahra in Landscape Sukkah Poeloeh Lima, 18 km. from Laboeanroekoe (Tebingtinggi-Deli). Period issuing tokens: ca 1886/1887 – until probably 1897.

.

Dolok Estate, LaWe 67, 1 dollar nikkel, 30 mm. (RR)

 THIS IS THE SAMPLE cd ,THE COMPLETE CD EXIST PLEASE SEND EMAIL

SILAHKAN UNTUK KOLEKTOR INDONESIA UNTUK MENGIRIMKAN EMAIL KE

iwansuwandy@gmail.com

UNTUK MEMESAN CD ROM INI KHUSUS UNTUK KEPENTINGAN PRIBADI TAK BOLEH DIGANDAKAN DAN DIPERDAGANGKAN,KHUSUS HANYA UNTUK KOLEKTOR INDONESIA SAJA TIDAK UNTUK PEDAGANG

PEMESAN HARAP UPLOAN KOPI KTPNYA LENGKAP DENGAN ALAMAT DAN NOMOR YILPON AGAR DAPAT SAMPAI DENGAN SELAMAT DIKIRIM VIA TITIPAN KILAT

HARGA RP.300.000(TIGARATUS RIBU RUPIAH) SUDAH TERMASUK ONGKOS KIRIM

TERIMA KASIH.

DR IWAN SUWANDY,MHA

THE FOUNDER OF DR IWAN CYBERMUSEUM

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Dr Iwan tem Cell Therapy Information Center (continiu)

Regrow or Repair: Potential Regenerative Therapies for the Kidney

 

Even if an adult stem cell population does exist in the adult kidney, would it remain in an end-stage kidney?

 

Indeed, the adoption of any organ-based cellular therapy is likely to succeed only if chronic renal disease can be diagnosed early and if such therapies are implemented well before end-stage renal failure is reached.

 

As we move closer to that point in time, the ethical debate about whether trials can proceed before ESRD will become critical.

 

 A lack of surrogate end points with which to assess the success of a cellular therapy in renal disease will make clinical trails long and expensive, eroding the will of the developers to continue to support the trials.

 

Read the studies report below

 

  1. 1.       Melissa H. Little

+Author Affiliations

  1. Institute for Molecular Bioscience, University of Queensland, St. Lucia, Queensland, Australia
  2. Address correspondence to:
    Prof. Melissa H. Little, Institute for Molecular Bioscience, Queensland Bioscience Precinct, University of Queensland, St. Lucia, Brisbane, Qld, 4072, Australia. Phone: +61-7-3346-2054; Fax: +61-7-3346-2101;m.little@imb.uq.edu.au; Web: www.imb.uq.edu.au

Next Section

 

Abstract

Regenerative medicine is being heralded in a similar way as gene therapy was some 15 yr ago. It is an area of intense excitement and potential, as well as myth and disinformation. However, with the increasing rate of end-stage renal failure and limited alternatives for its treatment, we must begin to investigate seriously potential regenerative approaches for the kidney. This review defines which regenerative options there might be for renal disease, summarizes the progress that has been made to date, and investigates some of the unique obstacles to such treatments that the kidney presents. The options discussed include in situ organ repair via bone marrow recruitment or dedifferentiation;ex vivo stem cell therapies, including both autologous and nonautologous options; and bioengineering approaches for the creation of a replacement organ.

 the complete info exist please contact

Regenerative Approaches to Renal Disease

The term regenerative medicine straddles cell biology, matrix biology, and bioengineering with the objective to regrow or repair a damaged organ or tissue type. It can be defined as the use of cells for the treatment of disease and encompasses both organ repair and the de novo regeneration of an entire organ

Organ repair can be delivered in situ or ex vivo.

 

The simplest and most pharmacologically attractive strategy for organ repair in situ is the delivery of a soluble reparative factor that improves the ability of the kidney to repair itself.

 

Although such an approach may involve the understanding of the factors that are produced by stem cells, this is not a cellular therapy and is not dealt with in this review.

Other in situ possibilities include the recruitment of stem cells to the kidney to elicit repair and the induction of dedifferentiation of resident renal cells.

 

Whereas some regard in situ approaches as more likely to be successful for an architecturally and anatomically constrained organ such as the kidney, the other approach is the ex vivo culture of stem cells for redelivery to the damaged kidney.

 

This might involve autologous or nonautologous stem cells from a variety of sources. Finally, a bioengineering approach that relies on cells, factors, and matrix may be achievable. Although seemingly the most difficult, it may be the more feasible approach for genetic conditions such as polycystic kidney disease

This review investigates each option and relates it to the function and the structure of the kidney so as to examine its feasibility and identify the key obstacles to delivery.

Setting the Stage: Normal Kidney Development and Regeneration in Vertebrates

Regenerative biology draws on an understanding of normal developmental processes.

Understanding the molecular basis of kidney development will be the key to the development of regenerative therapies for chronic renal disease.

 

During mammalian development, three separate excretory organs develop: The pronephros, the mesonephros, and the metanephros.

 

 In mammals, it is the paired metanephroi that persist postnatally and constitute the permanent kidney.

 

 

 

The permanent kidney arises via reciprocal interactions between two tissues, the ureteric bud (UB) and the metanephric mesenchyme (MM), the latter arising from the intermediate mesoderm (IM) (1).

 

The UB gives rise to the collecting ducts and the ureter.

 

The MM, which shows much broader potential and gives rise to all other elements of the nephrons, the interstitium, and the vasculature, is regarded as the renal progenitor population (2).

 

 As the UB reaches the MM, signals from the tips of the branching UB induce areas of adjacent MM to aggregate and undergo a mesenchyme-to-epithelial (MET) transition.

 

Each MET event represents the birth of a new nephron with the first nephrons “born” in the center of the MM.

 

The peripheral MM, which has not yet undergone induction, is referred to as the nephrogenic zone.

 

Nephrogenesis in humans is complete by week 36 of gestation (3), whereas it continues for 1 to 2 wk after birth in the mouse and the rat. At that time, it is assumed that the peripheral nephrogenic zone is exhausted.

 

 

 

 

Can the kidney regenerate?

 In simple vertebrates, including fish and amphibians, metanephroi do not form and the permanent excretory unit is the mesonephros. Elasmobranchs (sharks, rays, and skates) constitute a unique example of “kidney” regeneration;

 

their mesonephroi can undergo accelerated nephrogenesis after partial ablation to replace the missing parts (4).

 

In the mammal, partial nephrectomy stimulates hypertrophy of remaining tissue, even in the contralateral kidney, but not the generation of new nephrons (5).

 

However, whereas the resection of an adult kidney does not lead to the regeneration achieved in the liver, the mammalian kidney shares with the majority of organs the ability to repopulate and repair structures that have sustained some degree of injury.

 

This process, termed cellular repair, can be achieved by reentry into mitosis and proliferation of neighboring cells.

 

 

 

 

 

As a result, the kidney can undergo significant remodeling in response to acute damage.

 

For example, obstruction of the ureter can result in the near destruction of the kidney medulla, but once the obstruction is removed, there is a rapid process of reconstruction and repair that will regenerate the tubules of the medulla without forming new nephrons (6).

 

It has been proposed that the cells that elicit such repair come from interstitial cell transdifferentiation (7),

 

 tubular cell dedifferentiation and migration into the areas of damage before redifferentiation (8,9),

 

the recruitment of stem cells from the bone marrow (1014), or the generation of new tubular cells from an endogenous renal stem cell population (reviewed in reference [15]).

 

Which of these is primarily responsible for the cellular repair that is observed after acute damage has not been proved definitively using lineage tracing.

 

However, the mammalian kidney seems to have a very limited potential for structural repairor true regeneration.

 

 

 

While nephrogenesis is occurring in the fetus, there is evidence that a systemic humoral response to nephrectomy allows the enhanced nephrogenesis of the remaining organ (16).

 

 However, nephrogenesis in mammals ceases just before or shortly after birth (3), and the birth of new nephrons has never been reported after this point in time.

 

Chronic injury of the kidney, which is responsible for the majority of cases of end-stage renal failure, results in irreversible glomerular and tubular damage and resultant loss of renal function.

Hence, mammalian kidneys respond to chronic damage by fibrosis, scarring, and irreversible functional loss

Recruitment of Bone Marrow to the Kidney

Can we improve the capacity of the kidney for cellular repair?

 

 The ability of cells that originate from bone marrow to move into distant sites within the body, including the kidney, is now well recognized.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 Reports have suggested that

 

these cells can transdifferentiate into tubular epithelial cells (12), mesangial cells (11,13,14), glomerular endothelial cells (17,18), and even podocytes (12).

 

 As in most organs, bone marrow–derived cells (BMDC) appear in the kidney in response to damage.

 

The lineage of these cells is unclear, and their ability to elicit transdifferentiation is controversial because the possibility of cell fusion has not always been eliminated (19) (Figure 2).

 

 

 

 

 

The use of lineage tracing has been critical to differentiating these two possibilities. In the case of the muscle, there is evidence from studies in which bone marrow was derived from LysM-Cre mice that it is the monocytic lineage that is recruited and fuses with cells in the target organ (20).

 

This lineage gives rise to the macrophages, which express proteins that are involved in fusion processes.

 

 This does not answer the question of the relative value of this fusion process.

 

 In the brain, BMDC can fuse with Purkinje cells (21), a cell type that is presumed to be unable to divide, possibly leading to a “rejuvenation” of such terminally differentiated cell types. Certainly, the functional outcome of BMDC recruitment must always be assessed.

 

In the context of the kidney, several studies have examined the recruitment of BMDC to kidney in response to damage signals and their transdifferentiative and reparative capacity. The injury models used include ischemia-reperfusion injury (22), folic acid–induced acute tubular injury (23,24), unilateral ureteric obstruction (25), and anti-Thy1 antibody–mediated glomerulonephritis (13).

 

 

 Bone marrow transplantation into HIgA mice, which have glomerulonephritis, improved renal function in these mice (26).

 

 In the studies in which careful quantification of recruitment to the tubular epithelium has been performed, donor-derived bone marrow has contributed between 0.06 and 11% of the epithelial cells (2224).

 

This level does decline with time. An initial recruitment level of 11% dropped to 0.67% at 28 d after ischemia with a concomitant increase in recruitment to the interstitium (22).

 

Two seminal papers in this area (22,23) disagreed on whether there was evidence for transdifferentiation, but both concluded that while BMDC recruitment occurs, repair is predominantly elicited via proliferation of endogenous renal cells. Duffield et al. (23) maintain that BDMC contribute a regenerative cytokine environment that may be important in the resulting functional repair

If this process could be recapitulated pharmacologically, then repair may occur without the need for recruitment.

 

 

 

 

 

Pretreatment of animals with stem cell factor and granulocyte colony-stimulating factor (granulocyte CSF) has been shown to improve recovery from ischemic injury in the absence of transdifferentiation of BMDC (27), and the combined pretreatment with granulocyte CSF and macrophage CSF provides renoprotection from cisplatin-induced renal failure (28). It also may prove valuable to improve recruitment. Held et al. (29) used a genetically induced model of chronic tubular damage that involved hereditary tyrosinemia (mutations in fumarylacetoacetate hydrolase) and mutations in homogentisic acid dioxygenase and reported significant integration (50%) of introduced BMDC.

 

 Hence, a drive for the selection of wild-type cells considerably increases the regeneration process (29). More recently, recruitment and apparent podocytic transdifferentiation of male BMDC to the glomeruli of mice that lacked collagen4α3 has been reported (30).

 

This is a model of Alport syndrome in which there is considerable shedding of protein through the damaged glomerular basement membrane.

 

Whereas podocytes have not been a reported site of bone marrow recruitment in other experimental models,

 

 this study claimed a bone marrow origin for 10% of the podocytes in these mice with a reduction in protein shedding and evidence of collagen replacement within the basement membrane.

 

In this case, access may have been increased as a result of the altered permeability of the basement membrane, but BMDC from mutant mice were not recruited to the glomeruli of mutant recipients, suggesting an active selection for collagen-producing cells.

 

 

 In all of these reports of bone marrow recruitment to damaged kidneys, the lineage of the BMDC that were recruited has not been established. However, adoptive transfer of macrophages into a model of unilateral ureteric obstruction significantly reduced fibrosis in the late stages of this damage state (25).

 

This may have involved transdifferentiation or an altered immunologic response. What also has not been investigated is whether the recruitment of BMDC is good or bad in cases of chronic renal damage

Controlled Dedifferentiation as a Treatment of Renal Disease

Can we repair a kidney by recapitulating development?

Among vertebrates, certain amphibians show a unique ability to regenerate completely complex organs or body parts (31).

 

Salamanders, newts, and axolotls can reconstitute various anatomic structures such as limbs, spinal cord, heart, tail, retina, lens, and upper and lower jaws. In the case of the limb, this process involves dedifferentiation (i.e., loss of a specialized phenotype to return to a progenitor phenotype), proliferation of the resulting primitive blastema, and then redifferentiation of cells in the vicinity of the injury (32) as opposed to the mobilization of a stem cell population per se.

 

Muscle fibers, Schwann cells, periosteal cells, and cells from the connective tissue undergo dedifferentiation and then organize a blastema from which the new limb arises (Figure 3A). Can this be applied in higher vertebrates?

 

Regeneration within the skate mesonephros is a process that takes place in an identified nephrogenic zone using a persistent field of progenitors that can be recruited for regeneration (Figure 3B).

 

Whether these progenitors represent stem cells, as defined as a long-term, self-renewing cell population, has not been established. In mammals, there is no persistent blastema in the adult (Figure 3C).

 

In the absence of such a persistent population of renal progenitors, could such a blastemal field be generated via dedifferentiation in the mammalian kidney?

 

In a recent review of the obstacles to limb regeneration in the mammal (33), it was observed that mammalian limb cells lack the response of reentry into S-phase in response to thrombin (even though this response still would be present if a mouse cell were fused with that of a salamander), and their more complex immune systems respond to damage via the production of fibrosis and the recruitment of inflammatory cells.

 

Possibly as a result of these differences, the production of the blastema that is required for regeneration does not occur, yet there are examples of cell types even in humans that show enormous regenerative capacities, together with more salamander-like properties such as an ability to recommence cell division and dedifferentiate to regenerate.

 

 

 

 

 

 

 

Oligodendrocyte precursor cells have been reverted to multipotential neural stem cells that are able to proliferate and to give rise to neurons, astrocytes, and oligodendrocytes (34).

 

More striking, highly specialized multinucleated muscle cells have been induced to dedifferentiate into mononucleated multipotent progenitor cells that are able to adopt the osteogenic, chondrogenic, adipogenic, and myogenic fates (35).

 

In this case, the dedifferentiation was induced by ectopic expression of the transcriptional repressor Msx1 in combination with growth factor stimulation.

 

Finally, the mouse MRL strain has been shown to have both a marked capacity not to scar and to restore normal myocardial tissue without scarring through a process the authors describe as similar to regeneration in amphibians (36).

 

How feasible is dedifferentiation as a therapy?

 

Postnatal cell turnover in the kidney has never been examined thoroughly, but the cellular complexity of this organ suggests that a dedifferentiation into blastema followed by redifferentiation for the purposes of regeneration would need to be as complex as that seen in the salamander limb.

 

 Hence, we need to understand the blastemal progenitors that give rise to the kidney and to understand the process that long has been observed in the kidney in response to short-term local damage:

 

 

 

 The epithelial-to-mesenchymal transition of tubular cells.

 

If able to be induced, then dedifferentiation might be evoked in situ or ex vivo (Figure 4). In situdedifferentiation would require controllable gene therapy to ensure a cessation of dedifferentiation and subsequent induction of regeneration, or it runs the risk of generating blastemal expansions as for a Wilms’ tumor.

 

 

 

Dr Iwan Stem cell Therapy Information Center (continiu)

FOUNDER
 
Dr Iwan Suwandy,MHA
 
more info contact
 
iwansuwandy@ gmail.com
 
all free of charge
 
this info to all human in the world
with
 
THE MIGHTY GOD BLESS
 
 
PHYSIOLOGY  and  PATOPHISIOLOGY OF THE STEM CELL
 
 
 

STEM CELL PHYSIOLOGY

There are many cell of blood and immune body are continuously produced throughout life from hemopoietic stem cells residing in the bone marrow.

The ability of these cells to perform this function is why bone-marrow transplants can be used to treat leukemia and other blood or immune disorders.

Researchers in the Stem Cell Physiology Research Unit, located at The Biomedical Research Centre at UBC, are studying the biology of bone marrow stem cells and the immune system.

They are focusing on understanding the molecular mechanisms that control how bone-marrow stem cells self-renew and how they differentiate into and function as specific types of blood cells.

Their long-term goal is to understand how defence, repair, and regeneration are regulated and how this knowledge can be exploited to benefit health and offer new treatments for disease.

The Biomedical Research Centre’s researchers recently made important discoveries about the ways bone marrow stem cells differentiate into various types of cells that can fuse with cells in other tissues – such as brain or muscle – to contribute genes.

EAD MORE INFO

ABOUT BONE MARROW  STEM CELL

Mesenchymal stem cells: the ‘other’ bone marrow stem cells

Last updated: 

20 Jun 2012

Mesenchymal stem cells: the 'other' bone marrow stem cells

Mesenchymal stem cells (MSCs) can make several types of cells belonging to our skeletal tissues, such as cartilage, bone and fat. Scientists are investigating how MSCs might be used to treat bone and cartilage diseases. Some MSC research is also exploring therapies for other diseases, but the scientific basis for these applications has not yet been established or widely accepted.

Did you know?

Mesenchymal stem cells make up about 0.001-0.01% of all the cells in your bone marrow

Human mesenchymal stem cells grown in a single layer on the bottom of a flask; 4x magnificationHuman mesenchymal stem cells grown in a single layer on the bottom of a flask; 4x magnification 

Human mesenchymal stem cells grown in a single layer on the bottom of a flask; 10x magnificationHuman mesenchymal stem cells grown in a single layer on the bottom of a flask; 10x magnification 

Bone cells made from MSCs; the colour is from a stain used to mark the bone cells (von Kossa stain) Bone cells made from MSCs; the colour is from a stain used to mark the bone cells (von Kossa stain) 

Fat cells made from MSCs; the colour is from a stain called Nile red O that marks fat cells red Fat cells made from MSCs; the colour is from a stain called Nile red O that marks fat cells red 

Cartilage cells made from MSCs; cartilage cells are stained red using the dye Safranin O Cartilage cells made from MSCs; cartilage cells are stained red using the dye Safranin O 

Cartilage cells made from MSCs; the cartilage cells are marked brown by a process called immunostainingCartilage cells made from MSCs; the cartilage cells are marked brown by a process called immunostaining 

What can mesenchymal stem cells do?

Mesenchymal stem cells (MSCs) are an example of tissue or ‘adult’ stem cells. They are ‘multipotent’, meaning they can produce more than one type of specialized cell of the body, but not all types. MSCs make the different specialized cells found in the skeletal tissues. For example, they can differentiate − or specialize  −  into cartilage cells (chondrocytes), bone cells (osteoblasts) and fat cells (adipocytes). These specialized cells each have their own characteristic shapes, structures and functions, and each belongs in a particular tissue.

Some early research suggested that MSCs might also differentiate into many different types of cells that do not belong to the skeletal tissues, such as nerve cells, heart muscle cells, liver cells and endothelial cells, which form the inner layer of blood vessels. These results have not been confirmed to date. In some cases, it appears that the MSCs fused together with existing specialized cells, leading to false conclusions about the ability of MSCs to produce certain cell types. In other cases, the results were an artificial effect caused by chemicals used to grow the cells in the lab.

Mesenchymal stem cell differentiation: MSCs can make fat, cartilage and bone cells. They have not been proven to make other types of cells of the body.

Mesenchymal stem cell differentiation: MSCs can make fat, cartilage and bone cells. They have not been proven to make other types of cells of the body.

Where are mesenchymal stem cells found?

MSCs were originally found in the bone marrow. There have since been many claims that they also exist in a wide variety of other tissues, such as umbilical cord blood, adipose (fat) tissue and muscle. It has not yet been established whether the cells taken from these other tissues are really the same as, or similar to, the mesenchymal stem cells of the bone marrow.

The bone marrow contains many different types of cells. Among them are blood stem cells (also called hematopoietic stem cells; HSCs) and a variety of different types of cells belonging to a group called ‘mesenchymal’ cells. Only about 0.001-0.01% of the cells in the bone marrow are mesenchymal stem cells.

It is fairly easy to obtain a mixture of different mesenchymal cell types from adult bone marrow for research. But isolating the tiny fraction of cells that are mesenchymal stem cells is more complicated. Some of the cells in the mixture may be able to form bone or fat tissues, for example, but still do not have all the properties of mesenchymal stem cells. The challenge is to identify and pick out the cells that can both self-renew (produce more of themselves) and can differentiate into three cell types – bone, cartilage and fat. Scientists have not yet reached a consensus about the best way to do this.

Developing new treatments using mesenchymal stem cells

No treatments using MSCs are yet available. However, several possibilities for their use in the clinic are currently being explored.

AFTER STUDY THE PHYSIOLOGY,HISTOLOGY AND PATOPHYSIOLOGY OF CELL

AND STEM CELL, I HAVE MADE CONCLUSION THE ONLY WAYTO REPAIR THE

DIABETIC NEPHRPTAHY ARE

THE STEM CELL THERAPY

LET’S WE STUDYTHE THE DIABETIC NEPHROPATHY STEM CELL THERAPY AROUND THE WORLD

 

Driwan Stem Cell Therapy Infprmation Center(continiu)

FOUNDER
 
Dr Iwan Suwandy,MHA
 
more info contact
 
iwansuwandy@ gmail.com
 
all free of charge
 
this info to all human in the world
with
 
THE MIGHTY GOD BLESS
 
 
PHYSIOLOGY  and  PATOPHISIOLOGY OF THE STEM CELL
 
 
 

STEM CELL PHYSIOLOGY

There are many cell of blood and immune body are continuously produced throughout life from hemopoietic stem cells residing in the bone marrow.

The ability of these cells to perform this function is why bone-marrow transplants can be used to treat leukemia and other blood or immune disorders.

Researchers in the Stem Cell Physiology Research Unit, located at The Biomedical Research Centre at UBC, are studying the biology of bone marrow stem cells and the immune system.

They are focusing on understanding the molecular mechanisms that control how bone-marrow stem cells self-renew and how they differentiate into and function as specific types of blood cells.

Their long-term goal is to understand how defence, repair, and regeneration are regulated and how this knowledge can be exploited to benefit health and offer new treatments for disease.

The Biomedical Research Centre’s researchers recently made important discoveries about the ways bone marrow stem cells differentiate into various types of cells that can fuse with cells in other tissues – such as brain or muscle – to contribute genes.

EAD MORE INFO

ABOUT BONE MARROW  STEM CELL

Mesenchymal stem cells: the ‘other’ bone marrow stem cells

Last updated: 

20 Jun 2012

Mesenchymal stem cells: the 'other' bone marrow stem cells

Mesenchymal stem cells (MSCs) can make several types of cells belonging to our skeletal tissues, such as cartilage, bone and fat. Scientists are investigating how MSCs might be used to treat bone and cartilage diseases. Some MSC research is also exploring therapies for other diseases, but the scientific basis for these applications has not yet been established or widely accepted.

Did you know?

Mesenchymal stem cells make up about 0.001-0.01% of all the cells in your bone marrow

Human mesenchymal stem cells grown in a single layer on the bottom of a flask; 4x magnificationHuman mesenchymal stem cells grown in a single layer on the bottom of a flask; 4x magnification

Human mesenchymal stem cells grown in a single layer on the bottom of a flask; 10x magnificationHuman mesenchymal stem cells grown in a single layer on the bottom of a flask; 10x magnification

Bone cells made from MSCs; the colour is from a stain used to mark the bone cells (von Kossa stain) Bone cells made from MSCs; the colour is from a stain used to mark the bone cells (von Kossa stain)

Fat cells made from MSCs; the colour is from a stain called Nile red O that marks fat cells red Fat cells made from MSCs; the colour is from a stain called Nile red O that marks fat cells red

Cartilage cells made from MSCs; cartilage cells are stained red using the dye Safranin O Cartilage cells made from MSCs; cartilage cells are stained red using the dye Safranin O

Cartilage cells made from MSCs; the cartilage cells are marked brown by a process called immunostainingCartilage cells made from MSCs; the cartilage cells are marked brown by a process called immunostaining

What can mesenchymal stem cells do?

Mesenchymal stem cells (MSCs) are an example of tissue or ‘adult’ stem cells. They are ‘multipotent’, meaning they can produce more than one type of specialized cell of the body, but not all types. MSCs make the different specialized cells found in the skeletal tissues. For example, they can differentiate − or specialize  −  into cartilage cells (chondrocytes), bone cells (osteoblasts) and fat cells (adipocytes). These specialized cells each have their own characteristic shapes, structures and functions, and each belongs in a particular tissue.

Some early research suggested that MSCs might also differentiate into many different types of cells that do not belong to the skeletal tissues, such as nerve cells, heart muscle cells, liver cells and endothelial cells, which form the inner layer of blood vessels. These results have not been confirmed to date. In some cases, it appears that the MSCs fused together with existing specialized cells, leading to false conclusions about the ability of MSCs to produce certain cell types. In other cases, the results were an artificial effect caused by chemicals used to grow the cells in the lab.

Mesenchymal stem cell differentiation: MSCs can make fat, cartilage and bone cells. They have not been proven to make other types of cells of the body.

Mesenchymal stem cell differentiation: MSCs can make fat, cartilage and bone cells. They have not been proven to make other types of cells of the body.

Where are mesenchymal stem cells found?

MSCs were originally found in the bone marrow. There have since been many claims that they also exist in a wide variety of other tissues, such as umbilical cord blood, adipose (fat) tissue and muscle. It has not yet been established whether the cells taken from these other tissues are really the same as, or similar to, the mesenchymal stem cells of the bone marrow.

The bone marrow contains many different types of cells. Among them are blood stem cells (also called hematopoietic stem cells; HSCs) and a variety of different types of cells belonging to a group called ‘mesenchymal’ cells. Only about 0.001-0.01% of the cells in the bone marrow are mesenchymal stem cells.

It is fairly easy to obtain a mixture of different mesenchymal cell types from adult bone marrow for research. But isolating the tiny fraction of cells that are mesenchymal stem cells is more complicated. Some of the cells in the mixture may be able to form bone or fat tissues, for example, but still do not have all the properties of mesenchymal stem cells. The challenge is to identify and pick out the cells that can both self-renew (produce more of themselves) and can differentiate into three cell types – bone, cartilage and fat. Scientists have not yet reached a consensus about the best way to do this.

Developing new treatments using mesenchymal stem cells

No treatments using MSCs are yet available. However, several possibilities for their use in the clinic are currently being explored.

Bone and cartilage repair
The ability of MSCs to differentiate into bone cells called osteoblasts has led to their use in early clinical trials investigating the safety of potential bone repair methods. These studies are looking at possible treatments for localized skeletal defects (damage at a particular place in the bone).

Other research is focussed on using MSCs to repair cartilage. Cartilage covers the ends of bones and allows one bone to slide over another at the joints. It can be damaged by a sudden injury like a fall, or over a long period by a condition like osteoarthritis, a very painful disease of the joints. Cartilage does not repair itself well after damage. The best treatment available for severe cartilage damage is surgery to replace the damaged joint with an artificial one. Because MSCs can differentiate into cartilage cells called chondrocytes, scientists hope MSCs could be injected into patients to repair and maintain the cartilage in their joints. Researchers are also investigating the possibility that transplanted MSCs may release substances that will tell the patient’s own cells to repair the damage.

Many hurdles remain before this kind of treatment can become a reality. For example, when MSCs are transplanted, most of them are rapidly removed from the body. Researchers are working on new techniques for transplanting the cells, such as developing three-dimensional structures or scaffolds that mimic the conditions in the part of the body where the cells are needed. These scaffolds will hold the cells and encourage them to differentiate into the desired cell type.

Heart and blood vessel repair
Some studies in mice suggest that MSCs can promote formation of new blood vessels in a process called neovascularisation. MSCs do not make new blood vessel cells themselves, but they may help with neovascularisation in a number of ways. For example, they may release proteins that stimulate the growth of other cells called endothelial precursors – cells that will develop to form the inner layer of blood vessels. Such studies on animals have led researchers to hope that MSCs may provide a way to repair the blood vessel damage linked to heart attacks or diseases such as critical limb ischaemia. A number of early stage clinical trials using MSCs in patients are currently underway but it is not yet clear whether the treatments will be effective.

Inflammatory and autoimmune diseases
Several claims have been made that MSCs are able to avoid detection by the immune system and can be transplanted from one patient to another without risk of immune rejection by the body. However, these claims have not been confirmed by other studies. It has also been suggested that MSCs may be able to slow down the multiplication of immune cells in the body to reduce inflammation and help treat transplant rejection or autoimmune diseases. Again, this has yet to be proven and much more evidence is needed to establish whether MSCs could really be used for this kind of application.

Current research and the future

Research into therapies using MSCs is still in its infancy. A great deal more work is needed before such therapies can be used routinely in patients. Questions remain about how the cells can be controlled, how they will behave when transplanted into the body, how they can be delivered to the right place so that they work effectively and so forth. By studying how these cells work and interact within the body, researchers hope to develop safe and effective new treatments in the future..

source

Primary Investigator: 
 
 

Stem Cell Physiology and Pathophysiology

 Diabetes  and Hemopoetic Stem Cell
 
Why Diates impairs the interactions between long-term hematopoietic stem cells ?
to answer this question pleae read carefulyy the abstrct of this reseach

Diabetes impairs the interactions between long-term hematopoietic stem cells and osteopontin-positive cells in the endosteal niche of mouse bone marrow.

Abstract

Hematopoietic stem cells (HSCs) are maintained, and their division/proliferation and quiescence are regulated in the microenvironments, niches, in the bone marrow.

Although diabetes is known to induce abnormalities in HSC mobilization and proliferation through chemokine and chemokine receptors, little is known about the interaction between long-term

HSCs (LT-HSCs)

and

osteopontin-positive (OPN) cells

in

endosteal niche.

To examine this interaction, LT-HSCs and OPN cells were isolated from streptozotocin-induced diabetic and nondiabetic mice.

In diabetic mice, we observed a reduction in the number of LT-HSCs and OPN cells and impaired expression of Tie2, β-catenin, and N-cadherin on LT-HSCs and β1-integrin, β-catenin, angiopoietin-1, and CXCL12 on OPN cells.

In an in vitro coculture system,

LT-HSCs isolated from nondiabetic mice exposed to diabetic OPN cells showed abnormal mRNA expression levels of Tie2 and N-cadherin. Conversely,

in LT-HSCs derived from diabetic mice exposed to nondiabetic OPN cells, the decreased mRNA expressions of Tie2, β-catenin, and N-cadherin were restored to normal levels.

The effects of diabetic or nondiabetic OPN cells on LT-HSCs shown in this coculture system were confirmed by the coinjection of LT-HSCs and OPN cells into bone marrow of irradiated nondiabetic mice.

Our results

provide new insight into

the treatment of

diabetes-induced LT-HSC abnormalities

and suggest that

the replacement of OPN cells may represent a novel treatment strategy.

to understan this situation we must understand

the physiology of normal cell

Overview

  • The typical cell comprises a nucleus and cytoplasm, separated by the nuclear membrane
  • The cytoplasm is separated from interstitial fluid by the cell membrane
  • The different substances making up a cell are termed its “protoplasm” and include:
    • water (usually 70%-85%)
    • electrolytes – chiefly potassium, magnesium, phosphate, sulphate, bicarbonate, and a little sodium, chloride and calcium
    • proteins (usually 10%-20%) – structural and globular, including enzymes
    • lipids (usually 2%) – particularly phospholipids, cholesterol, triglycerides, neutral fats
    • carbohydrates (usually 1%) – usually as glycogen
  • The cell and its organelles are surround by membranes composed of lipids and proteins
    • these include the cell membrane, nuclear membrane, and membranes of the ER, mitochondria, lysosomes and Golgi apparatus
    • each prevents free movement of water and water-soluble substances between cell compartments
  • The cell membrane is a lipid bilayer with inserted proteins
    • the lipid bilayer is mostly phospholipids and cholesterol
    • it is permeable to lipid-soluble substances, but is a major barrier to water-soluble substances such as ions
    • integral proteins protrude through the membrane, while peripheral proteins are attached to the inner surface
    • many integral proteins form structural channels, or carrier proteins
    • peripheral proteins are usually enzymes
    • the membrane is studded with glycoproteins, which are thought to repel other negatively charged molecules, allow attachment to some other cells and act as receptors for binding hormone
  • The ER synthesizes substances in the cell
    • aided by a large surface area
    • materials made include proteins, carbohydrates, lipids, lysosomes, peroxisomes, and secretory granules
    • lipids are made within the ER wall
    • proteins are made by mRNA attaching to ribosomes on the outer surface of the ER
  • The Golgi apparatus is prominent in secretory cells
    • synthesis of lysosomes, secretory vesicles and other cytoplasmic inclusions
    • transport vesicles are pinched-off bits of ER which then fuse with the Golgi apparatus
  • Lysosomes provide the cell with a digestive system
    • small round vesicles containing digestive enzymes
    • usually cordoned-off by a non-reactive membrane
  • Mitochondria release energy in the cell
    • via the citric acid cycle and oxidative enzymes, producing ATP
    • self-replicative and almost certainly originally symbiotic
  • The nucleus acts as a control centre of the cell and contains large amounts of DNA
    • separated from the cytoplasm by a nuclear envelope, pierced by several thousand pores
    • most also contain one or more nucleoli, which do not have membranes; these contain large amounts of RNA, and are enlarged in cells actively synthesizing proteins

Ingestion by the Cell – Endocytosis

  • Small particles enter the cell through diffusion or active transport. Very large particles enter by endocytosis, either pinocytosis or phagocytosis
  • Pinocytosis is the ingestion of small globules of extracellular fluid, forming minute vesicles in the cytoplasm
  • Phagocytosis is the ingestion of large particles such as bacteria, cells, and bits of degenerating tissue
  • Substances so absorbed are digested in the cell by lysosomes. The products of digestion are small amino acids, lipids, glucose, phosphate

Synthesis of Cellular Structures

  • The synthesis of most structures begins in the ER. The rough ER is so named because large numbers of ribosomes attach to the outer surface. Small ER vesicles continually break off from the smooth ER and migrate to the Golgi apparatus.

Extraction of Energy by Mitochondria

  • Almost all oxidative reactions occur inside mitochondria and the energy released is in the form of ATP. ATP has two very labile high-energy phosphate bonds (12,000 calories per mole)
  • Most of the ATP produced in cells is made by mitochondria. About 5% is made by glycolysis, the rest by the citric acid cycle. The process is called the “chemosmotic mechanism”
  • ATP is used for many cellular functions, particularly membrane transport (Na-K-ATPase), synthesis of chemical compounds, and mechanical work

Locomotion and Ciliary Movements by Cells

  • Amoeboid locomotion is the movement of an entire cell in relation to its surroundings (eg. a white blood cell through tissues). It begins with protrusion of a pseudopodium from one end of the cell, with continual exocytosis, and continual endocytosis of the membrane at the mid and rear portions of the cell.
  • Two effects are essential to forward movement: attachment of the pseudopodium, and adequate energy for the movement. In the cytoplasm are molecules of the protein actin, which polymerize to form a filamentous network that contracts on binding to another protein such as myosin.
  • Amoeboid movement is initiated usually by a chemotactic factor. The process is called chemotaxis.
  • Ciliary movement is a whip-like movement of cilia on the surface of cells (only in the respiratory tract, and in the uterine tubules). The mechanism is not known.

Genetic Control of Cell Function

  • Cell genes control protein synthesis. Each gene is a double-stranded helical molecule of DNA that controls the formation of RNA. RNA spreads through the cell to control the formation of a specific protein.
  • Nucleotides are organized to form two strands of DNA bound loosely to each other. There are three building blocks: phosphoric acid, deoxyribose (a sugar), and four nitrogenous bases (two purines: adenine and guanine; two pyrimidines, thymine and cytosine). Adenine always bonds with thymine, and guanine always bonds with cytosine.
  • The genetic code consists of triplets of bases. Each is called a code word. These determine the sequence of amino acids added to the protein.
  • DNA code is transferred to RNA code by the process of transcription. It occurs in the nucleus, where each DNA code word forms a complementary RNA triplet called a codon. The basic building blocks are almost the same except ribose replaces deoxyribose, and uracil replaces thymine.
  • The next step is the activation of the nucleotide, with the addition of two phosphate radicals derived from ATP. It makes available large amounts of energy to promote the reactions that add each new RNA nucleotide to the end of the RNA chain.
  • The DNA strand is used as a template to assemble the RNA molecule from activated nucleotides, under the influence of the enzyme RNA polymerase.
  • There are three different types of RNA:
    • mRNA, carries the genetic code to the cytoplasm to control the formation of proteins
    • rRNA, which along with proteins forms the ribosomes, the molecules in which proteins are actually assembled
    • tRNA, which transports activated amino acids to the ribosomes – 20 types for 20 amino acids
  • The operons of the DNA strand control biochemical synthesis and are activated by the promoter. The operon is controlled by a repressor and an activator operator, and through negative feedback by the cell product. I have no idea what this paragraph means.

The DNA Genetic System

  • With the exception of some very long-lived cells (eg. nerve cells), most cells need to be able to reproduce their own cell type.
  • Reproduction begins with replication of the DNA. As they are replicated, the DNA strands are repaired and proofread. Mistakes (mutations) rarely escape enzymes that cut out defective bits and replace them with appropriate complementary nucleotides.
  • Entire chromosomes (46, 23 pairs) are replicated. In addition to the DNA, there is a fair bit of protein as histones, molecules around which the DNA is coiled to pack it in. The two newly-formed chromosomes remain temporarily attached to each other at a point called the centromere, near the centre. The duplicated but still-attached chromosomes are called chromatids.

Mitosis

  • This is the process by which the cell splits into two new daughter cells.
  • Two pairs of centrioles, small structures close to one pole of the nucleus, begin to move apart. Microtubules grow radially away from each of the centriole pairs, forming a spiny star called the aster at each end of the cell. The complex of microtubules between the pairs is called the spindle, and the entire set of microtubules plus the pairs of centrioles the mitotic apparatus.
  • Prophase is the beginning of mitosis – while the spindle is forming, the chromosomes become condensed into defined chromosomes
  • Prometaphase is the stage at which microtubular spines puncture and fragment the nuclear envelope, and microtubules become attached to the chromatids at the centromere
  • Metaphase is the stage at which the two asters are pushed farther and farther apart
  • Anaphase is the stage at which the two chromatids of each chromosome are pulled apart at the centromere. All 46 pairs are separated, forming two sets of 46 daughter chromosomes.
  • Telophase is the stage at which the two sets of daughter chromosomes are pulled completely apart. Then the mitotic apparatus dissolves and a new nuclear membrane develops around each set of chromosomes.

MYELIN CELL