Studikelayakan tulisan Kompasiana(7)” Anak Muda Tionghoa harus Meneruskan Langkah Ong Hok Ham”

Sejarah
Lihat Profil    Jadikan teman    Kirim Pesan
Aku bersaksi bahwa aku berpikir dengan otak dan aku bersaksi bahwa aku berjalan dengan dengkul. Masalah terbesarku ialah menentukan lebih penting mana: otak atau dengkul. Tapi aku percaya, mula-mula pewarta warga bekerja dengan dengkulnya, baru kemudian berkreasi dengan otaknya.

Anak Muda Tionghoa Perlu Meneruskan Langkah Ong Hok Ham
Herman Hasyim
|  21 September 2010  |  02:19
111
7
     
   
   
2 dari 3 Kompasianer menilai Inspiratif.

Selaku penyokong proses asimilasi, Hok Ham mengkritik sebagian Tionghoa peranakan yang menurutnya lebih mengedepankan “Bhinneka” tapi melalaikan “Tunggal Ika”.

Klenteng Kwan Sing Bo dijejali puluhan orang berkaos putih bergambar naga dengan tulisan “Melantjong Petjinan Toeban” di dada. Suatu siang di awal Agustus itu, mereka datang bukan hanya untuk membakar dupa. Mereka memotret apa saja: arsitektur klenteng dengan simbol kepiting raksasa, patung dewa-dewa, orang-orang bersembahyang. Mereka juga mengumbar tanya. Mencatat setiap hal yang tertangkap panca indra di klenteng yang usianya sudah ratusan tahun itu.

Di antara mereka, Ardian Po Purwosupetro tampak menonjol. Bukan semata karena dia mengenakan kaos merah berlogo Manchester United. Ardian adalah salah satu penggagas event yang sebagian besar pesertanya adalah anak muda Tionghoa ini.

Di Facebook, beberapa hari kemudian, saya menemuinya. Kami berbincang. Saya adalah orang Tuban, kawasan pesisir utara pulau Jawa yang pernah menjadi basis masyarakat Tionghoa selain Lasem, Rembang, di mana klenteng Kwan Sing Bo—salah satu klenteng termegah di Indonesia—berdiri dengan gagah.

Namun fokus pembicaraan kami bukan soal Tuban. Bukan pula tentang Klenteng Kwan Sing Bo. Kami membincang sekenanya mengenai perkembangan masyarakat Tionghoa di Indonesia. Saya menyinggung Ong Hok Ham, dan Ardian meresponnya dengan gesit. “Saya juga ingin meneruskan langkah beliau,” ujar Ardian.

Siapakah Ong Hok Ham?

Pertanyaan itu boleh jadi terasa usang bila diajukan kepada para sejarawan. Sebab, siapapun yang pernah belajar sejarah Indonesia—terutama yang menyertakan masyarakat Tionghoa sebagai bagian tak terpisahkan—hampir pasti mengenalnya. Di panggung sejarah kita, dia tak kalah meninggalkan jejak dibanding Soe Hok Gie, Harry Tjan Silalahi, maupun PK Ojong.

Tetapi toh tidak semua warga Kompasiana, khususnya yang berdarah daging Tionghoa, mengenal sejarawan yang wafat pada 30 Agustus 2007 ini. Dengan demikian, memperkenalkan kembali Hok Ham bukanlah tindakan mubazir. Walau kita tidak bisa mencicipi masakannya yang konon maknyus itu, setidaknya dapat meresapi perjalanan hidup dan pemikirannya.

Saya ditemani buku Riwayat Tionghoa Peranakan di Jawa (2005) ketika menulis artikel ini. Tionghoa peranakan berarti masyarakat Tiongho yang lahir di Indonesia. Ini berbeda dengan istilah Tionghoa totok yang digunakan untuk menyebut Tionghoa yang lahir di Tiongkok dan kemudian menyeberang ke Indonesia. Tentu saja, Hindia Belanda dan Nusantara diidentikkan dengan Indonesia dalam konteks ini.

Lewat buku yang berisi kumpulan tulisan Hok Ham tersebut saya hendak memperkenalkan sejarawan yang seumur hidupnya melajang ini. Hok Ham lahir di Surabaya pada 1 Mei 1933 dari keluarga Tionghoa peranakan yang berkedudukan penting dan secara kultural sangat Belanda-sentris. Keluarga ini menaruh minat yang tinggi terhadap pendidikan modern sekolah kolonial Belanda. Saking terlalunya berkiblat pada Belanda, keluarga ini memakai pula nama-nama Belanda. Ibu Hok Ham dipanggil Lies, bapaknya Klaas. Pamannya Piet dan Jan. Kakak Hok Ham masing-masing bernama Freddy dan Olga. Hok Ham sendiri dipanggil Hans.

Tetapi di kemudian hari Hok Ham tumbuh menjadi sosok yang sangat sadar akan ke-Indonesia-an. Seiring dengan tumbuhnya kesadaran tersebut, cita-citanya menjadi diplomat dia lupakan. Pada pertengahan 1950 dia memutuskan pindah dari Fakultas Hukum UI ke Jurusan Sejarah di kampus yang sama. Dia memang jarang terlihat di kampus, namun produktif menulis di mingguan Star Weekly—cikal bakal majalah Intisari. Dari situlah mulai tampak keahlian Hok Ham dalam bidang sejarah.

Hok Ham juga terlibat aktif dalam polemik seputar Tionghoa di Indonesia. Bersama PK Ojong dan kawan-kawannya, dia memilih pendekatan asimilasi ketimbang integrasi. Hal itu ditunjukkannya dengan menjadi salah satu penandatangan Statemen Asimilasi dan Piagam Asimilasi pada Maret 1960. Yang dia maksud asimilasi atau pembauran itu mencakup asimilasi biologis, ekonomis, sosial, politik dan lain-lain.

Selaku penyokong proses asimilasi, Hok Ham mengkritik sebagian Tionghoa peranakan yang menurutnya lebih mengedepankan “Bhinneka” tapi melalaikan “Tunggal Ika”. Diapun menangkal pendapat sebagian kalangan yang pesimis terhadap keberhasilan asimilasi mengingat Yahudi di Eropa dan Negro di Amerika gagal melakukan asimilasi.

Hok Ham yakin, asimilasi Tionghoa peranakan dengan pribumi dapat berjalan dengan baik tanpa perlu ada ‘paksaan’. Menurutnya, Yahudi di Eropa dan Negro Eropa tidak cocok dijadikan contoh. Mengenai hal ini, dia menulis:

Indonesia tak mengenal prasangka rasial, tak mengenal prasangka agama. Pun soal ciri-ciri fisik dari golongan minoritas tak dapat menjadi soal yang besar. Sebab mata sipit, kulit kuning dan lain-lain ciri bangsa Mongol juga dimiliki oleh orang-orang Indonesia “asli”. Yang sebetulnya menjadikan golongan minoritas adalah bukan prasangka rasial seperti di Amerika, juga bukan prasangka agama seperti di Eropa dengan bangsa Yahudi, melainkan politik dan sejarah yang membentuk golongan peranakan ini sebagai suatu golongan tersendiri dalam masyarakat. Dengan merobohkan sisa-sisa zaman lampau ini, dengan menghilangkan ciri-ciri yang nyata, seperti nama-nama, dan lain-lain maka asimilasi dimajukan.

Menurut David Reeve, professor dari Department of Chinese and Indonesian di University of New South Wales, Hok Ham tidak hanya memfokuskan diri pada sejarah Tionghoa. Hok Ham juga berminat pada kebudayaan Jawa dan merasa dapat mencari ‘akar-akarnya’ dalam kebudayaan priyayi atau abangan. Bahkan di kemudian hari perhatiannya lebih banyak ke orang Jawa daripada orang peranakan.

Nama Hok Ham semakin menanjak setelah pulang dari Yale University, Amerika, dan menggondol titel Ph.D pada 1975. Waktu itu, dia menulis disertasi berjudul The Residency of Madiun: Priyayi and the Peasant in the 19th Century.

Selain mengajar di kampus dan melakukan riset, Hok Ham rajin menulis artikel di media massa sebagai intelektual publik. Kumpulan kolomnya di Kompas dibukukan dalam Dari Soal Priyayi sampai Nyi Blorong (2003). Sementara itu, Wahyu yang Hilang Negeri yang Guncang (2003) adalah bukunya yang berisi kumpulan kolom di majalah Tempo.

Sejumlah eseinya dibukukan dalam Rakyat dan Negara (1991), The Thugs, The Curtain Thief, and The Sugar Lord (2003). Sebelum itu, diterbitkan pula buku Runtuhnya Hindia Belanda (1987) yang diangkat dari skripsinya di Fakultas Sastra UI.

Bagi sejarawan JJ Rizal, Hok Ham adalah sosok sejarawan yang punya nilai unik, selain bahwa dia sendiri bernilai sejarah sebagai seorang Tionghoa peranakan.

Dengan demikian, tepatlah kiranya bila generasi muda Tionghoa mengikuti jejak Hok Ham. Anak muda asal Surabaya tetapi lahir di Blitar, Ardian Po Purwoseputro, sudah memulai. Setidaknya dia sedang merancang buku babon tentang jejak sejarah Tionghoa di Indonesia. Namun Ardian tidak bisa sendirian mewujudkan impiannya itu. Masyarakat Tionghoa perlu memiliki Hok Ham-Hok Ham lebih banyak lagi.

Menteng, 21 September 2010@hak cipta Herman Hasyim 2010(atas izin ybs)

Posted in Studi Kelayakan Tulisan Kompasiana | 1 Comment

Bedah Buku Anak Minangkabau “Cerita Nenek Puti Rabiah”

Bedah Buku Anak Minagkabau “Cerita Nenek Puti Rabiah”

Buku cerita anak traditional sudah jarang diterbitkan,padahal   penting untuk membina sosial budaya etnis Indonesia agar generasi mendatang tidak  lupa tradisi kampung halaman akibat  di serang oleh golbalisasi,  untuk mecegah hal itu terjadi marilah kita lakukan Bedah Buku untuk merangsang pengumpulan tulisan  etnis atau  “folklore” .

Buku Dongeng  Anak Etnis Minangkabau ini , kita bedah , agar generasi muda terangsang untuk mengumpul dongeng yang sama dari etnis lain di Indonesia   selagi para nenek masih hidup, bacalah dengan saksama buku karangan Ny. Limbak Cahaya, Cerita-Cerita Nenek Puti Rabiah,terbitan Pustaka Pradnya Paramita, Jakarta, 1975 :

I. KATA PENGANTAR

Dalam tahun 1926, waktu Dr Sam Ratulangi datang bertamu ke rumah kami di Serio-Menado, beliau bertukan pikiran dengan saya(penulis buku Ny Limbak), tentang minat beliau hendak mengumpulkan dongeng,cerita kuno(mitos dan legenda) dari seluruh pelosok Indonesia, untuk dibaca anak-anak kita agar mereka tahu, bahwa bukan negara lain saja yang mempunyai “Fairy tales”.

Beliau manayakan apakah saya, selama menjadi guru di Sumatera Barat , menginggat mengumpulkan dogeng disana dan seterusnya menyampaikannya kepada murid-murid.

Lebih 20 tahun kami tiada berjumpa atau berkirim-surat. Sekembali Beliau dai perasinagn di Jogya tahun 1948, beliau datang menjumpai saya percakapan utama terutama tentang buku dongeng anak etnis Indonesia.Tak lama antaranya beliau meninggal dunia. Sayang sekali naskah dogeng anak yang beliau persiapkan untuk diterbitkan tidak bertemu.

 (Saat ini  tak kedengaran hal seperti diatas , bila para  nenek kita sudah meninggal, habislah sudah pusaka nenek moyang kita,sehingga kita harus beli buku terbitan asing  berisi   dongeng  Bangsa Asing, seperti Mickey Mouse dan Pinokio Walt Disney, akibatnya generasi mendatang lebih mengenal tradisi asing daripada kampung halamannya sendiri , sungguh memprihatinkan, ayo generasi muda mulai  ikuti petuah Dr Sam Ratulangi tersebut-pen)

II. CUPLIKAN  DOGENG DARI MINANGKABAU (SUMBAR)

1. ORANG RATIH (Si CEBOL)

” Sekarang semua sudah siap dan kita persilahkan Pak Celeng masuk kenegeri kita” kata utusan yang baru tiba dari dlam. Sekalian bebanku dibagi-baginya membawa :” Mesiu ini nati tak terbakar dengan sendirinya?” kataseorang ” kadang-kadang ini nanti tak meloncat dari sakunya?” tanya yang kedua.

“jangan takut! Kalau tidak melihat perburuan kita semuanya tidur pada tempat masing-masing”, sahutku sambil bergurau. Barulah senang hati mereka.

Aku tak sanggup berbuat apa-apa. Dengan patuh aku kerjakan apa perintah mereka. Perjalanan merangkak masuk aku mulai.(maaf illustrasi gambar lukisan tanpa nama ini, sangat kabur tapi tetap menarik,sebab dilukis pelukis rakyat Indonesia.-pen)

 2.PERKATAAN YANG LEMAH-LEMBUT ANAK KUNCI HATI SEGALA MAHLUK

Pada suatu ketika negeri Pandan lebar sangat miskin. Ternak banyak yang mati dan tanaman tak ada hasil.Drai sekian bnayak mahluk yang ada dalam negeri itu hanya tikuslah yang masih makmur. Dengan giginya yang tajam dibuatnya lobang didinding lumbung dan kemudian diangkutnya kaum keluarganya kesana makan sekehendak ahtinya. beberapa menit perjalana dari situ adalah dangau tempat kucing diam dengan anknya si Miau. Hidupnya hanya dari binatang jelata saja, sebab yang empunya tiada makan nasilagi dan biasa tiada dirumah. Si kucing badannya lesu dan berkudis bulunyaruntuh dan suaranya parau sebab kurang makan. Dia berpikir “Sebelum aku mati aku hendak makan nasi lebih dahulu, Lalu dipanggilnya anakanya :

Anakku Miau, pergilah engkau. Mendapatkan Mak Tikus di Lambung padi. Dimana pintu lumbung dikunci mati. Mintalah segengam , dua gengam, katakan banjir merundung Ikan, Beraspun tak ada yang akan dimakan. Baik-baik kamu bertemuMak Tikus, beradat keras. Pun sangat menghemat padi dan beras.

Tiba-tiba Mak Tikus memandang ke pintunya, sebab didalam rumahnya sekonyong-konyong menjadi gelap. Maka terkejutlah ia memandang Kucing musuhnya, dan bersiap hendak lari, tetapi terdengar olehnya anak kucing berkata :” Mak Tikus, denga, say berkabar. Ibuku sekarang kekurangan beras, Mak Tikus tolonglah hendaknya lekas. Tak ada makana. daging dan Ikan. Banjir mengenangi padi disawah . sangat melarat orang dibawah.

Tikus mendengarkan seruan demikian itu amat geli hatinya dan tersembung gelaknya, karena selama ini bangsanyalah yang biasa memohon belas kasihan supaya jangan dia dianiaya dan dimakan kucing, tetapi tahun beredar , zaman bertukar, maka sekarang tikuslah yang berkuasa. Hidup ii seperti roda, ada masa naik ada masa turun. kini masa naik gengsi bangsa Tikus. Kesempatan ini akan dipaki sebaik-baiknya untuk membalasdendam dan kucing boleh menebus dosanya, Lalu sang Tikus berkata :” Anak siapakah, begitu tingkah. Berseru di halaman dengan angkugnya. Tidak memperkenalkan siapa dirinya ?.

Si Miau terkejut mendengarkan penghinaan tikus itu dan darahnya menyembur sampai ke telingganya, dengan suara gugup dia menjawab :”Saya, Mak Tikus. Si Miau Bagus. Anak Mak Kucing di Lurah Bintang. Meminjam padi barang segantang.

Ha-ha, cip-cip tertawa gelak Mak Tkius.dengan sombongnya dan tajam ia menjawab :” Padi tidak ada, Beraspun tak ada. Untuk anakku pulang Liburan. Pad ‘ku masih jadi pikiran.

Si Miau menceritakan penghinaan tikus itu dari mula sampai akhirnya. Ibunya menangis.Ia tahu bahwa anaknya tiada memenuhi sayarat dan berkata :” Miau,anakku. Tahu kamu! Meminta,meminjam sesama kita. Hendaklah tahu kunci rahasia! . lalu ibunya menerangkan kepada anaknya sejelas-jelasnya.

Setelah itu pergilah Si Miau kembali kelumbung tadi , ketika sampai ke pintu lumbung itu ia berseru dengan suara yang merdu ” Salam dan Hormat. Beserta khidmat. dari Jauh beta kemari, mendengar disini tinggal bidadari.

Mendengar itu Mak Tikus lemah hatinya dan membalas:”Siapakah gerangan dalam pekarangan, mohon bertemu yang empunya rumah. Silahkan naik bertramah tamah”

Inilah saat yang ditunggu si Miau, dengan cepat melompatlah ia dan memeras dirinya melalui lubang tikus. kedua-duanya berpandang-pandang sejurus, kemudian si Miau berkata :” Alangkah bagusnya, Istana Tuna hamba. Kamana-mana ia termasyhur. Penduduknya baik ,hidupnya makmur.

(dogeng dihentikan sampai disini, nanti terlalu banyak tempat terpakai, dari kisah ini dapatlah sang anak yang mendengarkan dogeng, menerima  masukan pelajaran bahwa bila ingin meminjam atau meminta bantuan kepada orang, dari musuhpun dapat diperoleh asalkan dengan tutur kata yang ramah dan lemah lembut.-pen)

III. KESAN PENULIS

1.Setelah membaca tulisan singkat ini, bila penasaran intip web blog penulis,karena masih banyak lagi dogeng dalAm buku ini dan bnayak koleski folklor lain koleski penulis , hanya dua dogeng saja yang dicuplik.

2.  Seluruh informasi dari bedah buku ini,diharapkan dapat menjadi pendorong bagi generasi muda untuk melakukan hal yang sama sesuai saran almarhum Dr Sam Ratulagi, kendatipun naskah tulisan Dogeng yang beliau persiapan tak sempat diterbitkan, sesudah meninggal malah naskah tersebut tidak ditemukan lagi oleh pihak keluarga, jika masih ada keluarga beliau penulis mohon informasi tentang naskah tersebut.

3. mohon maaf tulisan ini sangat singkat pasti banyak kekurangannya.

Selesai@hak cipta Dr Iwan suwandy,MHA 2010

Info lengkap hanya untuk anggota premium saja, segera daftarkan dirin anda liwat comment.

Posted in Indonesian Folklore | 2 Comments

E-Book :”Dr Iwan Rare Book Collections”

                                       THE SAMPLE OF E-BOOK
 (limited 100 edition E-book exist special for premium member , please register via comment , The publisher aslwas Welcome -Dr Iwan S.)

                            DR IWAN ‘S RARE BOOK COLECTIONS

Limited E-Book private issued Special for Premium Members

       

                    Jakarta @copyright Dr iwan s 2010
I.PREFACE.
1.All of this rare Books  were found in Indonesia, Dr Iwan S private collections.
2.Very difficult to find this collections, because many brooken due to the Tropicla climates
3.This is the first report of this rare Books  which found in Indonesia

II. TABLE OF CONTENT
I.PREFACE
II. TABLE OF CONTENT
III.THE RARE ANTIQURIAN BOOKS
IV. THE RARE EARLY 20th Century BOKKS
VI. THE RARE PACIFIC WAR&DAI NIPPON OCCUPATION ‘S BOOK
V. THE INDONESIA INDEPENDENCE PROCLAMATION,REVOLUTUION & WAR BOOKS

VI. THE RARE INDONESIAN BOOKS

VII. THE RARE FOREIGN BOOKS ABOUT INDONESIA

VIII. THE RARE MODERN BOOKS FOUND IN INDONESIA. 

LIST Of ILLUSTRATION

III. THE RARE ANTIQUARIAN BOOK (19th a and more older)
1. The foreign Books

2. The Native Indonesian  books

1) Handwritten

2) Native Printing

IV.THE RARE EARLY 20th CENTURY

V. THE PACIFIC WAR -DAI NIPPON OCCUPATION INDONESIA BOOKS

VI. THE INDONESIA INDEPENDENT PROCLAMATION AND REVOLUTION WAR (1945-1949)

VII. THE INDONESIA MODERN BOOKS

1. THE RARE PAINTING ILLUSTRATED BOOKS

2.THE NATIVE INDONESIAN BOOKS

VIII, THE RARE MODERN BOOKS FOUND IN INDONESIA.

1. PAINTINGS

2. PHILLATELIC

3.NUMISMATIC

4.PICTURE POSTCARD

5. TRADE CARD

6. THE ANCIENT CHINA MEDICINE BOOKS

PS please register Premium Member via comment premieum fee only US$25.- per year , and we will send you the complete e-book in only US$ 5.-
the end.@copyright Dr Iwan S 2010

Posted in e-book Rare Books | 2 Comments

The Rare :” Figurine Design Of Yuan-Ming-Qing Imperial Collections”

                                THE SAMPLE OF E-BOOK
 (limited 100 edition E-book exist special for premium member , please register via comment , The publisher aslwas Welcome -Dr Iwan S.)

THE RARE FIGURE DESIGN OF YUAN-MING-QING IMPERIAL COLLECTIONS
                 

I.PREFACE.
1.All of this rare figure design Of Ming-Qing Imperial ceramic were found in Indonesia, Dr Iwan S private collections.
2.Very difficult to find this collections, only in Tionghoa or chinese overseas area , because forbidden to used the figurine , especially the human figure by the Moslem because forbidden in their religious law.
3.This is the first report of this rare figure disign which found in Indonesia

II. TABLE OF CONTENT
I.PREFACE
II. TABLE OF CONTENT
III.THE HUMAN FIGURE
IV. THE ANIMAL FIGURE
VI. THE FLORAL FIGURE
V. THE UNIDENTIFIED FIGURE
List Of Illustration

III. THE HUMAN FIGURE
1. The Buddha


2. The Ancetors
3. The Goddest
4. The Baby Doll

5. The Tionghoa (Chinese Overseas in Indonesia)

IV. THE ANIMAL FIGURE
1. The sprititual animal
2. The Chinese Lunar animal (shio)
3. The Unsual Animal Figure
V. THE FLORAL DESIGN
1. The Buddish floral design
2. The Chrisanthenum


3. other type

PS please register Premium Member via comment premieum fee only US$25.- per year , and we will send you the complete e-book in only US$ 5.-
the end.@copyright Dr Iwan S 2010

Posted in Dr Iwan E-book of ceramic | Leave a comment

Studikelayan Kompasiana(6)”Legenda Hidup dari Kampung Tempat tinggalku”

Filsafat
Lihat Profil    Jadikan teman    Kirim Pesan
seseorang yang tinggal di makassar

Legenda Hidup dari Kampung Tempat Tinggalku
Eeduy Haw
|  6 September 2010  |  00:20
130
34
     
   
   
5 dari 13 Kompasianer menilai Inspiratif.

Sering ia ikut ke gedung olahraga, bilamana menengok rumahnya di kampung kami. Pemukiman kelas ‘menengah cenderung biasa-biasa saja’ di kota ini. Tempat dulu ia juga tumbuh besar.

Tapi tidak untuk mengayunkan raket. Bukan untuk bermain bulutangkis. Ia hanya duduk di salah satu sudut bangku, tersenyum geli bila ada kejadian lucu di tengah lapangan. Sesekali ia mengusap jenggot lebatnya, ataukah membetulkan kuncir rambut gondrongnya yang kuning keemasan oleh pewarna rambut.

Bukan berarti pula ia tak pandai bulutangkis. Ia mahir. Malah dulu, di masa usianya dua-puluhan, tiap perayaan tujuh-belasan kerap ia tampil sebagai juara. Si pemilik jumping smash keras, begitu ia kesohor di kampung kami. Tentulah jika malam ini ia bermain, paling tidak jejak-jejak kelihaiannya masih membekas.

Yang tak kalah hebatnya, saat itu ia sebenarnya adalah atlit voli pantai profesional. Sebagaimana atlit, masa mudanya mengalir dari satu kejuaraan ke kejuaraan lainnya. Kadang ia berada di Lombok, Ambon, Manado, ataukah Bali. Dari satu tepi pantai ke tepi pantai lainnya. Bertanding di ajang PON ataukah Kejurnas. Beberapa trophy masih terpajang di rumah orangtuanya, di kampung kami yang biasa-biasa saja.

Lama-lama usianya kian bertambah. Kondisi kebugarannya tak segesit dulu lagi. Karir atlitnya beralih menjadi karyawan di salah satu kantor cabang perusahaan penjualan mobil yang letaknya ratusan kilo dari kota ini.

Walau waktu itu terpaksa hidup jauh dari rumah, tetapi tali hubungan terikat erat di tiang nadi kehidupan keluarganya. Beberapa tahun sebelumnya, ayahnya berpulang. Sebagai anak lelaki tertua, ia harus menjadi motor penggerak bagi ibu dan ketujuh saudaranya yang lain. Ia tumpuan sekaligus nahkoda bagi perahu keluarga.

Segala kebutuhan sehari-hari maupun keperluan sekolah adik-adiknya ia penuhi. Peran yang ditinggalkan ayahnya berusaha dilakoni dengan baik dan sungguh-sungguh.

Syukur karirnya kian menanjak. Tumpuan itu semakin lama semakin kokoh. Ia lebih mapan. Kami masih ingat, murah-hatinya ia jika membelikan barang yang diidam-idamkan adik-adiknya. Tak tanggung-tanggung, ia hanya akan membungkus yang terbilang kualitas bagus. Made in luar negeri adalah kesukaannya. Sebab ia punya semboyan ‘lebih baik bayar mahal untuk mutu bagus ketimbang murah tapi sehari keok’. Pun tak jarang, kami para tetangganya kecipratan traktiran  beramai-ramai bila ia kebetulan datang.

Perahu itu kini bisa berlayar dengan tenang. Tak lama, ia pun menikah dengan seorang gadis di kota tempatnya bekerja dan dikaruniai 2 anak. Semua berjalan dengan baik. Rumah dan mobil pribadi meski sederhana, dimiliki. Tak lupa, Ibunya ia berangkatkan ke hadapan Ka’bah untuk menunaikan rukun islam yang kelima. Peran yang ditinggalkan ayahnya dilakoninya dengan baik dan sungguh-sungguh. Sungguh-sungguh baik malah.

Hingga sekitar tujuh tahun yang lalu. Tak ada angin apalagi hujan, tiba-tiba saja ia memutuskan berhenti dari pekerjaannya. Kemudian meninggalkan rumah dan seluruh isinya. Hijrah ke sebuah dataran di perbatasan kota ini. Memilih hidup baru secara sederhana, bersama dengan sebuah komunitas islam bernama An-Nadzir*.

Di tempat baru itu, bersama dengan komunitasnya, ia harus memulai bertani, berkebun, dan memelihara tambak ikan untuk menghidupi kehidupan bersama. Setiap orang harus memotong pohon di hutan untuk dijadikan tiang-tiang rumah tempat berteduh.

Tak ada yang bisa mengira akan keputusannya ini. Tidak saudara-saudaranya, ataukah istrinya, bahkan ibunya sendiri. Semua tiba-tiba terjadi begitu saja.

Dan seperti biasa, perdebatan pun bermunculan. Yang di dalam rumah apalagi yang di luar rumah. Orang-orang sekampung kami, meski ributnya tak sampai macam petasan meletus, tapi mulut-mulut usilnya tak tahan ikut bisik-bisik. Bergunjing pagi dan sore hari, persis acara gosip di tivi-tivi.

“Besar kemungkinan komunitas ini aliran sesat, karena tak menyeimbangkan urusan duniawi dan akhirat,” begitu bunyi argumen yang bercokol di balik sebagian besar batok kepala orang-orang di kampung kami waktu itu.

Tetapi hatinya haqul-yaqin. Tak pernah sekalipun ia terlihat menyinggung soal keputusannya itu. Apalagi berusaha meyakinkan siapapun yang ia jumpai, bahwa apa yang ditempuhnya adalah beralasan. Ia seperti telah memperkirakan kondisi ini sebelumnya, tapi tak mau menggubrisnya.

Ia telah pasrah terhadap konsekuensi terberat apapun yang harus diterima. Itulah mengapa isteri dan anaknya ia titipkan kembali ke orangtua (mertuanya). Ia telah bersiap, “Jika dalam suatu keluarga, istri atau anak-anak tak lagi mempercayai pemimpinnya, maka pemimpin harus ikhlas memeberikan kebebasan jalan baginya untuk menentukan pilihan,” itu yang pernah ia ucapkan bertahun-tahun kemudian. Meski saat itu pertanyaan kami bukan dimaksudkan ihwal istrinya, melainkan soal pandangannya tentang sebuah keluarga. Namun bagi kami, kalimat ini sekaligus menjawab soalan istrinya waktu itu.

Kini tujuh tahun telah berlalu. Pelan-pelan, perahu-perahu itu mulai menemukan air tenang. Semakin lama semakin tenang. Peran yang ditingalkan ayahnya berpindah ke tangan lain. Malah peran itu terasa tak berasa, sebab hampir semua saudaranya melakoninya dengan baik. Tumpuan keluarga kini tak lagi diemban satu orang. Setidaknya enam orang saudaranya sekaligus telah menggantikannya sebagai nahkoda.

Sampannya sendiri, meski hanya terbuat dari kayu sederhana hasil tebangannya dan orang-orang sekomunitasnya, terus berlayar tegak menantang lautan. Beberapa tahun terakhir, anak dan isterinya telah berkumpul dengannya di dataran perbatasan kota itu. Namun, sama sekali bukan berarti ia dan istrinya merajut kembali hubungan, sebab mereka memang tak pernah berpisah.

Tentang pernikahannya waktu itu, sekali lagi, ia hanyalah menitipkan isteri dan anaknya ke orangtua (mertuanya). Sifatnya hanyalah sementara, tentulah sewaktu-waktu ia berhak memintanya jika semuanya memang bersedia.

Tadi siang kami lewat depan rumah orangtuanya, di kampung kami yang biasa-biasa saja. Ia berjongkok menyikat tembok pagar rumah itu dengan air. Tinggal hitungan hari lagi Idul Fitri datang. Seperti tahun-tahun kemarin, itu pertanda ia bermaksud mengecat tembok rumah itu, biar penampilannya semakin cerah.

Selepas maghrib kami bertemu adiknya. Kami menanyakan, kapan kiranya Kakak Tom datang, sedari dulu kami memanggil abangnya dengan nama itu.

“Kemarin sore. Eh, dia bawa ikan dari tambaknya banyak, besar-besarnya lagi. Coba malamnya kau ke rumah, pasti kau dapatki acara bakar-bakar ikan di pekarangan,” seru adiknya yang sehari-harinya memang sepergaulan dengan kami.

*     *     *

Sekonyong-konyong, tawa terpingkal-pingkal menyeruak sampai ke langit-langit gedung. Pasalnya, salah satu dari kami terbaring menjatuhkan diri di tengah lapangan karena tergopoh-gopoh berusaha mengambil dropshot lawan yang melesat tipis di bibir net. Semua yang melihatnya pasti tertawa. Adegan itu memang sungguh lucu.

Tak terkecuali dirinya, yang berada di salah satu sudut bangku, sembari berkomentar mengenai kejadian itu, dengan salah satu dari kami yang kebetulan duduk di sebelahnya. Sesekali ia mengusap jenggot lebatnya, ataukah membetulkan kuncir rambut gondrongnya yang kuning keemasan oleh pewarna rambut.

Pakaian yang dikenakannya sangat sederhana. Teramat sederhana. Celana gombrangnya berbahan kain. Panjangnya tak melebihi mata kaki. Di ujung lipatan bawahnya, tampak ada bagian benang yang dijahit tangan. Kali ini ia memadukannya dengan topi rimba di kepala, yang warnanya telah memudar.

Tak ada yang bisa mengira akan keputusannya waktu itu. Tidak itu saudara-saudaranya, istrinya, bahkan ibunya sekalipun. Apalagi kami yang cuma adik-adik tetangganya. Bahkan bertahun-tahun hingga sekarang, bila mendengar kisah ini, masih saja ada yang pikirnya tak bisa habis.

Dulu, lain waktu di gedung olahraga ini,  dia pernah berkata, “Segala sesuatu (kejadian) itu hanyalah keinginan Allah, sebab tak ada sesuatu pun yang memang bukan miliknya.”

Seperti halnya malam ini, bila melihatnya tertawa geli di sudut bangku itu, selalu mengingatkan tentang Ibrahim Ibn Adham* dan Sidharta ‘Buddha’ Gautama.

Demikian tentang legenda hidup dari tempat tinggalku.

*     *     *

Kampung Pettarani, Makasssar 2 September 2010

_____________

*Komunitas An-Nadzir adalah sebuah kelompok muslim yang mungkin jumlahnya sekarang mencapai 300an orang.  Mereka hidup commune di  kawasan Mawang, Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan, dekat dengan perbatasan Kota Makassar.
Komunitas ini memiliki ciri khas dari sisi penampilan, kaum lelaki berambut gondrong berwarna pirang. Sementara, kaum perempuan memakai cadar. Pakaiannya selalu berwarna hitam-hitam.
Pada dasarnya, mereka menghidupi diri dengan mengelola sawah, kebun dan tambak ikan. Namun kabarnya juga membuka bengkel dan dan usaha penyulingan air galon.

*Ibrahim ibn Adham atau lebih lengkapnya Abu Ishaq Ibrahim Ibn Adham adalah seorang legenda darwish dalam wiracarita sufisme. Seperti juga ‘Buddha’ Gautama yang tadinya seorang pangeran kerajaan, ia adalah pewaris tahta keturunan Arab Kerajaan Balkh.
Yang diceritakan orang-orang suci (wali), meski dunia di bawah kekuasaannya, meski 40 pedang emas dan 40 tongkat emas selalu mengiringi depan serta belakangnya, tetapi semuanya urung menghalangi bisikan hatinya.
Suatu waktu, setelah pertemuan misteriusnya dengan seseorang di atap rumahnya pada tengah malam buta, serta dialognya dengan lelaki asing di dalam istananya, hati Ibrahim Ibn Adham menjadi gelisah. Konon, lelaki di atap rumah dan di dalam istananya itu tak lain adalah Nabi Khidhr as.
Hingga akhirnya, ketika bisikan hatinya telah paripurna, ia lalu menghampiri seorang gembala domba. Diberikannya jubah bersulam emas serta mahkota bertahta permata yang biasa ia kenakan, kemudian ia berganti dan mengenakan pakaian dan penutup kepala sang gembala yang terbuat dari bulu hewan.

Syahdan, saat itu semua malaikat seraya berdiri memandang Ibrahim Ibn Adham.
“Betapa agung kerajaan yang kini dimiliki Ibn Adham,” ujar para malaikat.
“Ia telah membuang pakaian dekil duniawi, dan kini mengenakan jubah agung kemiskinan.”

Ibrahim Ibn Adham, seorang legenda sufi, lalu memilih menghilang dari Kerajaan Balkh, dan mengembara ke arah barat untuk menjalani kehidupan sebagai pertapa (asketisme). Dengan dan dalam kealpaan harta.
Dalam riwayat sufisme, ia akhirnya syahid di tahun 165 H/ 782 M dalam sebuah ekspedisi laut melawan pasukan Byzantium.

Selesai @hakcipta Eeduy Haw

 (di add atas izin ybs dalam rangka studi kelayakan , berikanlah komentar apakah tulisan ini layak diterbitkan dlam sebuah E-book atau tidak-Dr iwan)

Posted in Studi Kelayakan Tulisan Kompasiana | 1 Comment

Studikelayakan Kompasiana(5)” Istana Kesultanan Siak di Provinsi Riau “

Wisata
Lihat Profil    Jadikan teman    Kirim Pesan
Menulis mendorong saya untuk belajar dan membantu menata informasi yang saya dapat menjadi suatu pengertian. Saya senang mengamati masalah seni, sosial, sejarah, politik dan pariwisata.

Istana Kesultanan Siak di Provinsi Riau
JGA Wibowo
|  18 September 2010  |  17:17
196
18
     
   
   
2 dari 3 Kompasianer menilai Menarik.

Provinsi Riau sudah lama terkenal sebagai provinsi yang kaya akan minyak bumi. Secara geologi provinsi Riau masuk dalam Cekungan Sumatera Tengah atau Central Sumatera Basin. Cekungan ini termasuk wilayah terkaya minyak di dunia. Tak heran banyak perusahaan minyak dan gas beroperasi di provinsi Riau.  Di masa jayanya industri minyak di wilayah Melayu Riau ini pernah mengalami produksi minyak di atas 1 juta barrel per hari. Sekarang masih menjadi penghasil minyak terbesar di Indonesia berkisar sekitar 500 ribuan  barel perhari.
Tetapi selain kekayaan sumber daya alamnya, Riau juga mempunyai kekayaan wisata sejarah yang sangat menarik untuk dinikmati dan dipelajari. Ketika kawanku mengajakku memenuhi undangan pemerintah daerah Riau dalam rangka program Corporate Social Responsibility di Riau, aku sempat mengunjungi Istana Kesultanan Siak di Provinsi Riau. Kesempatan ini tak aku sia-siakan, aku siapkan kameraku lengakap dengan asesoris untuk berburu gambar di Istana Kesultanan Siak.
Pemandangan Luar Istana Kesultanan Siak, Riau
Pemandangan Luar Istana Kesultanan Siak, Riau
Istana Kesultanan Siak Sri Indrapura terletak di tepi Sungai Siak yang dulu disebut Sungai Jantan. Jaraknya sekitar 125 kilometer dari ibukota provinsi Riau, Pekanbaru yang di sebelah timurnya berhadadapan dengan Selat Malaka.  Istana Siak ini bisa dicapai lewat darat atau sungai.
Istana ini berdiri dengan mewah hingga sekarang. Gerbang masuknya dihiasi dengan sepasang elang dengan matanya yang mengkilat tajam menyambut pengunjung yang masuk menuju bangunan istana melalui gerbang ini.
 
Istana Kesultanan Siak yang masih berdiri megah ini dibangun oleh  Sultan Syarif Hasyim, yang dinobatkan bertahta pada tahun 1889. Bangunan istana ini selesai pada tahun 1893. Nama resmi darai istana ini adalah  “Asserayyah Al Hasyimiah”  yang disebut juga “Istana Matahari Timur “. Istana ini dibangun dengan gabungan gaya arsitektur  Spanish, Arabian and Malay  yang pada masa itu sangat berpengaruh pada gaya-gaya kemegahan bangunan. dinding istana sultan Siak  ini dihiasi dengan ornamen keramik.
Istana ini terdiri ats dua lantai. Di lantai bawah ada beberapa ruang utama. Yaitu ruang depan istana, ruang sayap kanan, ruang sayap kiri dan ruang belakang istana.
 
Melihat-lihat ke dalam istana Kesultanan Siak ini, kita akan melihat kualitas bangunan yang sangat mewah, marmer dan ornamen yang sangat indah dan bersih terawat. Kita bisa melihat singgasana Sultan yang berlapis emas. Kita juga bisa lihat gramaphone kuno buatan Jerman dengan piringan musik berjari-jari 45 centi meter memuat lagu-lagu Mozart dan Beethoven. Menurut keterangan pemandu wisata istana, di dunia ini hanya ada dua buah gramaphone model seperti itu. Satu di Jerman dan satu lagi yang ada di istana Sultan Siak ini.
 
Di ruangan yang lain kita bisa lihat koleksi-koleksi hadiah pada Sultan Syarif kasim II seperti kursi kayu mewah, gelas dan lampu-lampu kristal. Hadia-hadiah yang berasal dari kerajaan-kerajaan tetangga. Interior istana kesultanan Siak ini tidak kalah dengan kemewahan istana-istana kerajaan di Eropa.
Ruang perjamuan kerajaan yang anggun dan mewah. Ruang perjamuan kerajaan yang anggun dan mewah. 
Diorama sidang kerjaan dalam ukuran sebenarnya Diorama sidang kerajaan dalam ukuran sebenarnya 

 


Tangga dari lantai satu ke lantai dua istana dengan ornamen yang mewah. Tangga dari lantai satu ke lantai dua istana dengan ornamen yang mewah. 

Kerajaan Siak Sri Indrapura adalah kerajaan Islam Melayu terbesar di Riau.  Kerajaan ini mencapai zaman keemasannya pada periode abad 16 hingga abad 19. Sejak berdirinya di tahun 1725, telah ada 12 sultan yang memimpin kerjaan ini.  Wilayahnya meliputi selat Malaka dan Semenanjung malaysia sekarang.

Sultan Abdul Jalil Rakhmad Syah mendirikan kerajaan Melayu Siak di Riau pada tahun 1725. Dia adalah keluarga pertama dari 12 sultan yang memerintah berikutnya hingga tahun 1945.

Gambar Sultan Syarif Kasim II, Sultan terakhir Kesultanan Siak Gambar Sultan Syarif Kasim II, Sultan terakhir Kesultanan Siak 

Melihat keindahan dan kemewahan istana Sultan Siak, di masa kejayaan kerajaan Siak yang tanpa industri minyak,  telah pernah menjadi pusat ekonomi dan kebudayaan di Selat Malaka. Pengaruh kebudayaan nya telah mencapai daratan semenanjung Malaysia.  Di masa itu   masyrakat di semenanjung Malaysia memandang Kesultanan Siak sebagai pusat kebudayaan

Pada bulan November 1945, sultan terakhir kerajaan Siak, Sultan Syarif Kasyim II, mengirim kawat berita pada PresidenRepublik Indonesia Soekarno bahwa beliau dan Kesultanan Siak menyatakan setia kepada Republik Indonesia dan menyumbangkan kekayaannya untuk perjuangan kemerdekaan Indonesia.  Luar biasa jiwa kebangsaan Sultan Syarif Kasyim II !

Untuk  itu wajar kita mengenang Sultan Syarif Kasim II  dengan mengabadikan namanya sebagai nama bandar udara Pekanbaru. Indonesia luar biasa, terdiri dari suku-suku,  kerajaan-kerajaan yang kaya-raya budayanya dengan sukarela menjadi bagian dari Indonesia. Tentulah mereka semua punya mimpi yang luar biasa tentang Indonesia. Mereka pastilah punya visi ke-Indonesia-an dan kebangsaan yang sangat agung. Marilah kita temukan kembali visi itu dan kita hidupkan menjadi kesejahteraan bangsa.

Selesai @ hak cipta JGA Wibowo (atas izin Ybs.-dalam rangka studikelayaak-Dr iwan)

Posted in Uncategorized | 3 Comments

Studikelayakan tulisan Kompasiana (4) “Ibuku Idolaku”

Fiksi
seorang ibu … yang kepingin tulisannya dibaca dan yang baca terkesan dan ngasih komentar…

Ibu Guru, Idolaku (Bg I)
Nyimas Herda
|  26 Juni 2010  |  16:32
155
13
     
   
   
2 dari 2 Kompasianer menilai Menarik.

Duh panas sekali ya kota Palembang siang ini… lihat keringatku bercucuran.. entah berapa kali aku menghapusnya di wajahku nan ganteng ini.. ingin rasanya pulang, duduk depan tivi nonton tivi sambil minum air dingin … hemn… tapi.. yang hari ini kutemeni keliling-keliling pusat pertokoan asyik-asyik saja.. tuh lihat bahkan dengan cerianya dia milih-milih sepatu bersama anak-anaknya yang juga anak-anakku… yeeeeh… memang benar kata teman mengajarku, paling nggak enak nemeni “wong rumah” belanja… tapi mau bagaimana lagi, hari ini aku memang telah berjanji untuk menemani istri dan anak-anakku untuk belanja kebutuhan sekolah. anak-anakku naik kelas semua, meski tidak menduduki ranking sepuluh besar.. tapi semangat untuk mau bersekolah sudah cukup bagiku sebagai orang tua yang tidak banyak menuntut kepada anak-anakku yang ada dua, laki-laki dan perempuan sama saja.. eeh kenapa jadi seperti iklan KB zaman Presiden Suharto ya… hehehe.

” maaf pak… permisi..” tiba-tiba ada yang mau nyelip mendahuluiku.. memang nih ruang untuk jalan di toko sepatu yang dimasuki istri dan anak-anakku rada sempit. aku agak menepi agar ibu … eeh.. aku merasa suprise melihat siapa yang mau lewat…

” Ibu Ya… ibu Yayan.. ” aku jadi setengah berteriak, ibu yang mau lewat tersebut, dan kusebut dengan panggilan ibu Yayan kaget.. dia melihat ke wajahku, meneliti. aha, masyak dia tidak ingat dengan aku. aku pikir dulu aku sangat dekat dengan ibu ini sampai-sampai aku berani mengganti namanya yang Yayanti menjadi Yayangku.. untuk mencandainya dulu, sewaktu aku masih berseragam putih abu-abu dan ibu ini mengajar di kelasku sebagai seorang guru Akuntansi. Waktu itu ibu ini masih mahasiswi, dan kupikir sekarang dia tentu, sudah bergelar sarjana.. Sepeda.. hehehe S.Pd maksudku.. bukankah aku sendiri sudah lima tahun yang lalu bergelar S1 tersebut.

tetapi jika ibu ini tidak ingat wajar saja, dia melihatku terakhir dulu, sewaktu aku masih diajarnya, dan itu 15 tahun yang lalu. sekarang saja aku sudah punya anak dua, yang pertama sudah kelas IV SD dan yang nomor dua sudah kelas II SD.

dengan sikap khasnya yang kusuka, ibu Yayan membetulkan kacamatanya.

“maaf, ibu betul-betul lupa, mungkin karena kumismu itu” katanya… aha, masih selembut dulu.. dan subhanallah ketika aku betul-betul memperhatikan bagaimana wajah ibu Yayan ini, dia tampak seperti 15 tahun yang lalu, tidak terlihat perubahan sedikitpun.

“ibu masih cantik” kataku tanpa menghiraukan jika beliau lupa padaku.

dia ketawa lirih,

“ibu sudah tua nak. kamu saja sudah menjadi bapak-bapak begini. ibu tentu sudah nenek-nenek” katanya bijak.

“yook sudah ya, ibu lagi terburu-buru” lanjut beliau dan segera melanjutkan langkahnya. eeeh dia sepertinya tidak ingin tahu siapa aku..

“bu, aku Syahrizal” seruku sebelum langkahnya semakin jauh. dan seperti dugaanku, langkah itu terhenti dan dia langsung kembali mendekatiku.

“kaa..mu Syahrizal..” dia seperti gugup. dan aku mengerti mengapa dia gugup. karena aku dulu memang merupakan siswa yang paling tidak ingin dikenangnya, kukira. Mengapa tidak, aku pada waktu itu setelah kelulusan dan dinyatakan lulus langsung menemui dia dan mengatakan bahwa…. hehehehe.. aku mencintainya sebagai laki-laki kepada perempuan. kurang ajarnya aku kan ? dan sepanjang aku diajar dia aku berusaha membuat dia marah dan marah. ada saja ulahku agar dia tersinggung, dan waktu itu dia terlampau muda untuk jadi seorang guru, selisih denganku hanya 3 tahun. itu ketahuan dari data di kantor guru. dan soal kepintaran memang tidak kupungkiri dia seorang wanita yang pintar. dengan jilbab panjangnya dia selalu berusaha untuk menjaga kewibawaan seorang guru wanita yang santun dan bijak tapi bagiku saat itu dia sama saja dengan teman-teman wanitaku sebayaku.

entahlah, mengapa saat itu aku bersikap begitu padanya. di mataku, dia memang seorang wanita yang begitu mempesonaku, membutakan aku sehingga aku suka nabrak-nabrak jika dia lewat di dekatku. tetapi sikapnya yang selalu menjaga jarak dan berusaha menempatkan aku sesuai dengan posisiku sebagai muridnya membuatku bertambah ingin menjadikan dia, pendampingku, pacarku, kekasihku kalau untuk jadi istri, belum tentu saja. aku kan masih pelajar SMA, waktu itu.

Lalu karena begitu kentalnya perasaan itu, tanpa berpikir panjang lagi ketika kesempatan untuk bicara ada, aku pergunakan sebaik-baiknya. dan reaksinya sangat mengagumkan. dia tidak marah. dia bahkan tersenyum, manis sekali dan senyum itu sampai hari ini meski istriku juga memiliki senyum yang terindah buatku, aku masih teringat dan terkenang..

“Terimakasih Zal. sudah ya, ibu pulang” kata-kata itu singkat dan jelas.

dan besok, besoknya lagi, setiap kali aku kesekolah untuk menemui,  dia selalu berhasil menghindari aku. Dan ketika aku memutuskan untuk kuliah ke Jogya di sebuah Perguruan Tinggi di sana, sehari sebelum keberangkatanku ke Jogya aku memberanikan diri untuk mendatangi rumahnya. Dia tidak ada, dia sedang mengisi materi kerohanian di Masjid. kata wong yang ada di rumahnya. dan sampai sore aku menunggu, dia tidak pulang, hanya lewat telpon dia memberitahu kerabatnya, dia hari itu terlambat pulang karena ada keperluan. aku tidak mungkin menunggunya sampai malam karenanya aku pulang dengan perasaan kecewa.

waktupun melaju dengan alaminya, aku ketemu wanita yang sikapnya agak mirip dengan ibu Yayan ini dan akupun menikahnya meskipun waktu itu aku dan wanita itu masih berstatus mahasiswa-mahasiswi. karenanya ketika aku menyandang gelar sarjana, aku sudah memiliki balita dua orang… hehehe.. sementara istriku, dengan sangat terpaksa tidak menyelesaikan kuliahnya, dia sakit-sakitan sih. Lalu setelah segala urusan selesai aku kembali ke Palembang dengan istri dan anak-anakku. dan aku ikut tes PNS, lulus dan ditempatkanlah aku di salah satu SMP negeri di kota Palembang ini, kota kelahiranku.

“Rizal, kamu bersama istri dan anak-anakmu ya” kata ibu Yayan menyadarkan lamunanku. dan memang saat itu istri dan anak-anakku mendekatiku karena disampingku ada ibu guruku ini..ibu guru yang tetap cantik seperti 15 tahun yang lalu.

“oya.. kenalkan bu”

Asri, istriku menyalami sang ibu. begitu juga dengan anak-anakku. senyum manis itu mengembang dengan tulus.

“Istri kamu cantik…” katamu ketika istri dan anak-anakku sibuk kembali dengan acara mereka.

“terimakasih bu..” aku sedikit tersipu, kenangan masa lalu itu kembali menari-nari dipelupuk mataku, dan sepertinya aku.. astafirullah al azim, masih merasa deg-deg an di dekatnya.

” Kamu sekarang kerja di mana ?” dia bertanya sambil memilah-milah baju yang terpajang di dekatnya.

” Jadi Pak guru bu.. ketuleran ibu, guru akuntansi juga” kataku sambil senyam-senyum..

“Oh bagus itu…” komentarmu tanpa melihat ke arahku, sibuk dengan salah satu baju yang sepertinya diminatinya..

” ibu sendiri sekarang sudah berkeluarga kan bu.. aku dengar ibu dijodohkan.. ya kan bu.. adiknya Pak Daus kan bu.. guru Matematika itu..” eeeh aku tidak dapat menahan perasaan penasaranku ingin tahu banyak dengan idolaku dulu ini. dia mengembalikan baju yang dipegangnya ketempatnya semula.

” kamu wartawan juga rupanya..” katamu sambil tersenyum. lalu dia melirik jam tangannya..

” Rizal, maaf ya ibu harus cepat-cepat. salam untuk istrimu.. sayangi dan cintai dia dengan tulus ya, terima dia apa adanya” .. eeeh kenapa dia jadi banyak berkata-kata.

dan ketika aku perhatikan ada kilau kepedihan di mata nya yang berbungkus kacamata itu, aku ingin bertanya tapi dia cepat berlalu… dan akhirnya aku urungkan untuk bertanya. aku merasakan ada sebait puisi sedih pada ibu guru ku yang dulu sangat kucintai itu…tapi apa ya.. aku tertekun dan bermain dengan lamunanku.

“Papa… kita ke tempat mainan yook” anakku yang nomor dua membuyarkan lamunanku

“ooyaa ya… sepatunya sudah dapat ?” tanyaku sambil menuntunnya ke tempat mainan.. seperti yang sulung bersama ibunya sudah beranjak lebih dahulu, ke tempat mainan..

Sejak bertemu dengan ibu guru Yayan, wanita yang dulu sangat kukagumi, kuhormati, kucintai, aku merasa gelisah. Di hatiku ada sesuatu hasrat untuk bertemu lagi dan mengetahui bagaimana keadaan wanita idamanku dulu itu. Dia sudah menikah, aku tahu itu. Akupun sudah menikah, aku sadar itu. Tetapi aku merasakan dia tidak bahagia dan aku merasa tidak rela. Aku ingin lebih banyak tahu kehidupan dia sekarang. Tetapi bagaimana caranya, aku tidak tahu di mana ibu Yayan tinggal. Aku pernah bertamu ke rumahnya yang dulu, dan ternyata keluarga ibu Yayan sudah lama pindah, rumah tersebut dijual. Memang masih di kota Palembang, tapi dimana. Kecamatan Seberang Ulu I, Seberang Ulu II, Plaju, Pakjo atau di mana. Aku berusaha mencari tahu lewat sahabat-sahabatku kalau-kalau saja mereka tahu, tapi mereka bilang ibu Yayan tidak mengajar lagi dan letak pasti di mana bu Yayan tinggal mereka tidak tahu, yang pasti bu Yayan tinggal bersama Suami dan anak-anaknya. Oh ya, dari mereka aku tahu sedikit, Suami Yayan seorang pengusaha, dan mereka dikaruniai tiga anak, perempuan dua, satu laki-laki. Dan kesibukanku mencari tahu tentang Ibu Yayan ini rupanya tidak luput dari perhatian Asri, istriku. Sudah dapat ditebak bukan, dia cemburu sekali dan akhirnya memutuskan untuk pulang ke rumah orang tuanya Jogyakarta, anak-anak diajaknya. Asri tega membiarkan aku sendiri, melakukan segalanya sendiri, angka satu deh seperti lagu dangdut tempo dulu yang dipopulerkan oleh siapa ya…lupa aku.

Sebenarnya aku sudah menjelaskan kepada Asri, jika ibu Yayan itu masa lalu. Tetapi dengan segenap emosi yang dia punya, dia tetap pergi meninggalkan diriku, menenangkan diri katanya.. yah sudah aku pasrah saja. Lagipula ada enaknya juga, aku jadi banyak waktu untuk mencari dan menemukan jejak ibu Yayan… hehehehe.. kalau dipikir-pikir, wajar sekali Asri marah, tetapi aku tidak bisa mengelak dari rasa penasaranku kepada ibu guruku itu, ibu Yayanti tercinta… hahahahaha. 

Dan akhirnya kegigihanku mencari tahu membuahkan hasil. Sepertinya Allah masih tak tega membiarkan aku terkukung oleh rasa penasaran. Pagi itu aku hendak pergi mengajar, di simpang tiga yang dulu kutahu adalah lokasi rumah ibu Yayan aku menjalankan motorku perlahan. Entah kenapa aku ingin menyelusuri jalan menuju rumah ibu Yayan tempo dulu. Dan betapa kaget campur senangnya aku, ketika tepat di depan rumah ibu Yayan yang dulu aku melihat ada seorang perempuan berjilbab lebar turun dari beca, memang tidak ke pagar rumah ibu Yayan yang dulu melainkan menuju gang samping rumah. 

“ibu Yayan…” teriakku penuh harap. Wanita itu menoleh dan hei memang ibu Yayan. Dia menunggu aku turun dari motor, sepertinya dia sudah mengenaliku. 

“Syahrizal kan. Kebetulan atau sengaja kemari ?” tanyanya setelah aku dekat dirinya. 

“eeh.. kebetulan bu..” aku merasa malu, karena menyadari semangat yang ada pada diriku untuk bertemu lagi dengannya begitu besar. 

“ibu masih tinggal di sini” aku berusaha menetralisir perasaanku yang gegap gempita oleh rasa suka cita ketemu sang idola hati, ibu Yayanti tercinta..wahai, berhak tidak ya aku menyebutnya begitu. Mengapa pula pakai yang tercinta ya, mungkinkah memang aku masih menyimpan rasa, lho bagaimana dengan Asri, istriku, ibu dari Toto dan Titi, anak-anakku ?!! 

“oh tidak, ibu ke sini hanya ada keperluan dengan kakak ibu. Dia masih tinggal di sini, di rumah belakang, tuh kelihatan dari sini” kata ibu Yayan seraya menunjuk ke rumah bercat biru yang kelihatan dari mulut gang. 

“ibu lama atau sebentar bu..” eeh tiba-tiba saja ada ide gila di otakku. 

“oh sebentar saja.. hanya memberikan ini” ibu Yayan memperlihatkan bungkusan yang dibawanya. 

“pesanan istri kakak ibu. Kenapa emangnya ? oya Rizal mau ngajar kan ?” lanjut ibu Yayan. 

“iya bu, aku hanya ingin menawarkan jasa, jika ibu tidak keberatan. Ingin mengantar ibu jika ibu cepat pulangnya..” kataku dengan pembendaharaan kata yang dipilih sebaik mungkin. 

“tidak perlu itu Rizal. Lagipula katamu kamu mau mengajar kan ?” dan sesuai dengan pemikiranku ibu Yayan pasti menolak. 

“yaah kalau begitu tidak apa bu. Aku pergi dulu ya bu..” kataku dengan sikap baik-baik saja. setelah melihat anggukan ibu Yayan, aku segera kembali kemotorku, dan menjalankannya..dari kaca spion motor aku lihat ibu Yayan masuk ke dalam lorong, dan hilang dari pandangan mataku. Aku menghentikan motor dan berbelok kembali ke mulut lorong rumah saudaranya ibu Yayanti tersebut. Aku ingin menunggu bu Yayan meski dia tadi menolakku. Dan kebetulan ada warung makanan di depan lorong tersebut maka aku leluasa menunggu sambil pura-pura makan di situ, yap, aku memutuskan untuk tidak mengajar hari ini demi membuang penasaranku yang menyiksa ini. 

Satu jam, dua jam, duh lama juga nih. Air teh yang kupesan sudah  hampir dua gelas habis kuminum. Tetapi bu Yayan sepertinya tidak keluar juga dari lorong. Akhirnya aku menyerah. Aku merasa ada kepedihan mengalir di ulu hatiku, andai saja aku perempuan tentu aku sudah menangis, namun berhubung aku seorang laki-laki, yang sudah Bapak-bapak, sudah beristri dan mempunyai anak dua. Malu kalau sampai masalah menunggu tanpa hasil ini saja aku sampai menitikkan air mata. Yaaah, aku menarik napas panjang. Ibu yang jaga warung makanan tempat aku menunggu ibu Yayan nampak menaruh curiga tetapi tidak berani asal tuduh sepertinya. Dengan cuek aku bayar apa yang aku makan dan aku minum. Lalu menuju tempat motor yang kuparkir di dekat warung. Aku naik ke motor dan berpikir, pulang saja lah. Namun untuk yang terakhir aku ingin memastikan, aku menoleh kelorong..dan ola la.. yang kuharap akhirnya menjadi nyata.ibu Yayan. 

—-Aku naik ke motor dan berpikir, pulang saja lah. Namun untuk yang terakhir aku ingin memastikan, aku menoleh kelorong..dan ola la.. yang kuharap akhirnya menjadi nyata.ibu Yayan.—

Kulihat ibu Yayan berjalan sambil menunduk menyelusur lorong. Aku menunggunya dengan sabar. Dan ketika dia menginjakkan kakinya ke aspal jalan, aku mendekatinya …

” bu..” sapaku selembut mungkin. Dia kaget, dan mengucap pelan..astafirullah al azim.. kata-kata yang sangat kuhapal akan terlontar dibibirnya jika dia kaget, atau tidak suka dengan sesuatu…

” maaf bu.. bikin kaget. Aku hanya ingin mengantar ibu pulang.. boleh kan ?” aku bertutur dengan nekat. Lama dia memandangiku sambil menarik napas panjang dan menghembuskannya dengan pelan..

“Rizal, kamu tidak perlu serepot ini…” katanya dengan nada seperti menyesali.

“tidak bu, tidak repot.. sama sekali tidak repot, bahkan aku sangat ingin mengantar ibu.. jadi jangan menolak ya bu..” nah, aku pikir aku sudah mulai gila..apalagi mengingat kondisiku yang suami orang dan dia, bu Yayan seseorang yang pernah menjadi guruku, dan dia istri orang. Tetapi semua itu kutindas dalam-dalam, pikiranku saat itu hanya satu, aku ingin mengantarnya pulang kerumahnya agar aku tahu rumahnya dan jika ada kesempatan aku akan bertandang, dan satu lagi, aku ingin dekat-dekat dia, aku tidak ingin kehilangan sosoknya lagi meski hanya memboncengnya sebentar, tapi itu lebih dari cukup bagiku.

“Rizal, sebenarnya ada apa.. mengapa kamu begitu memaksa” tanpa peduli ajakanku dia berjalan menuju arah pasar yang memang tidak jauh dari lokasi kami saat ini. aku terdiam, sambil menjejeri langkah dengan menjalankan motor pelan-pelan, aku berpikir, iya ya.. mengapa..? tetapi perasaan yang bergejolak di dadaku menuntunku demikian. Apalagi jika kuingat pertemuan tempo hari, di mana aku melihat seperti ada kabut di mata ibu Yayan. Kabut duka yang sepertinya diusahakan disimpan dengan rapi dan rapat-rapat.

“Bu..andai aku ingin mengajak ibu makan bakso, ibu tidak marah kan dan bersedia..” kataku sedikit kecut, takut ditolak.. bu Yayan kan gudangnya penolakan.. hehehe.

“Yang di dekat-dekat sini saja ya…”

Hah… kata-kata itu mengagetkan bercampur rasa senang…

“tapi tidak perlu Rizal menyuruh ibu naik motornya.. biarlah ibu jalan kaki begini.. warung baksonya tidak jauh kan..” sebelum sempat aku menyuruhnya naik motor, dia sudah keduluan bicara begitu.. ya deh aku mengalah, jangan sampai ibu Yayan berubah pikiran.. dan begitulah, sambil ngobrol yang tak penting kami menuju warung bakso yang ada.

Tak lama kami sampai, aku mengajak bu Yayan duduk agak di pojokan.. dia seperti mau protes tapi diurungkannya.. diapun duduk manis di depanku, aah, aku jadi kangen dengan istriku..Asri. Gaya mereka sama, dan aku kira aku memilih Asri jadi istriku itu tentu karena pengaruh pesona bu Yayan juga,

“ibu mau minum apa ? jus pokat ya bu..”kataku dengan semangat. Dia tersenyum.

“terserah kamu saja. Tapi kamu tahu darimana ibu suka jus pokat ?” tanyanya meneliti. Aku tidak menjawab melainkan segera memanggil gadis yang menjaga warung bakso untuk memesan bakso 2 mangkok, jus pokat untuk bu Yayan dan es campur untuk diriku sendiri. Sesaat kami sibuk dengan pemikiran kami masing-masing. Tetapi diam-diam aku memperhatikan gerak-gerik bu Yayan yang ada didepanku. Dia tampak tenang, tidak kelihat gelisah atau gugup sepertinya dia menganggap “kencan” kami ini biasa-biasa saja. Sekali-sekali dia membetulkan jilbabnya yang tertiup angin. Penampilan bu Yayan pun tidak berubah, tetap berkacamata dan berjilbab panjang. Hanya saja aku pikir ada sedikit yang berubah.. yaitu bu Yayan terkesan lebih dewasa dan lebih bersahaja.. jika tidak ingin dikatakan sangat sederhana. Dulu aku selalu melihat bros yang menghiasi jilbabnya berganti-ganti. Tetapi saat sekarang dia sepertinya tidak memakai bros. jilbabnya hanya diselipkan dengan peniti kecil agar terkesan rapi. Dan jari-jari itu biasanya dihiasi cincin-cincin kecil yang cantik, sekarang kelihatannya hanya dikenakannya sebuah cincin kawin yang sepertinya sudah mulai pudar kuningnya. Akhirnya pesanan kami datang. Aku segera mempersilakan dia untuk menyantapnya. Dia mengangguk tanpa bersuara dan mulai menyantap.. setengah gelas jus pokat masuk ketenggorokannya, dia berhenti.

“kenapa bu ?” aku bertanya sedikit cemas.. sesungguhnya, aku ingin dia menghabiskan dulu semua hidangan setelah itu baru aku berniat untuk bertanya segala hal yang ingin aku ketahui.

“Tidak apa-apa, hanya ibu merasa heran atas semua ini.. ada apa Zal..”

“ooh .. ehehehe” aku ketawa lirih.

“yaah.. istrimu tahu kalau kau traktir ibu jajan bakso ?” tanyanya tanpa kuduga.

“eeh.. ya bu tahu..” aku jadi asal saja menjawab.

“Syukurlah. Hm Rizal, berceritalah ada apa. Ibu merasa pertemuan semacam ini memang sengaja kau harapkan terjadi. Ya kan. Nah jadi berterus teranglah, ada apa..” kata-kata bu Yayan meluncur dengan lancarnya, hemn.. ibu Yayan-ibu Yayan, tahukah engkau, saat ini jantungku terasa lebih kencang berdenyutnya. Tahukah ibu bahwa Syahrizal yang dulu yang pernah menyatakan cintanya pada ibu saat ini masih merasa mencintai ibu..meski dia sudah beristri dan memiliki anak-anak. Tetapi cinta itu tetap tumbuh dengan subuh dan indah…

“Rizal, ibu tidak sendiri lagi. Ibu sudah bersuami. Dan ibu juga sudah memiliki anak-anak. Begitu juga dengan kamu. Makan bakso bersama seperti inipun sebenarnya tidak layak kita lakukan. Ini awal sebuah perselingkuhan Rizal. Dosa..” matanya yang bening menatapku dengan tegas, meski nada suaranya begitu lembut.

“ibu tahu Rizal penasaran dengan ibu. Sejujurnya ibu akui, ibu sekarang lusuh dan seperti tidak sebahagia dulu. Yaah tetapi ibu ikhlas dengan kehidupan ibu itu. Meski pernikahan yang ibu jalani ini tanpa dilandasi rasa cinta. Tetapi ibu tidak peduli, meski saat ini ibu belum merasakan bagaimana rasanya dicintai olehnya. Rizal, ibu tidak ingin berlalu dari takdir ini. ibu yakin suatu saat nanti cinta itu akan datang. Dan diapun akan mencintai ibu seperti kau mencintai ibu…” waw… bu Yayan. Kata-kata itu begitu blak-blakan, dan tanpa ada kata-kata yang diselubuki oleh kiasan. Aku jadi kehilangan kata-kata dan sepertinya juga tidak perlu berkata-kata.

“Asri, begitu kan nama istrimu. Tentu berharap yang sama denganmu. Ingin kamu cintai apa-adanya.. kamu kan sudah memilih, mengapa harus mencoba sesuatu yang dilarang oleh Allah. Rizal, kawan-kawanmu banyak yang bercerita tentang kamu, ibu sangat tersanjung.. ibu sangat berterimakasih karena dicintai dengan tulus. Tapi Cinta Tidak Mesti Bersatu.. ya kan ?” lanjut bu Yayan. Pleees..des..kata-kata itu seperti tonjokan kecil di ulu hatiku.. ada sesuatu yang menjalar pedih di hati tetapi setetes embun ketulusan seperti mengelumerkan kepedihan itu…

“Rizal, kamu mengerti maksud ibu tentunya…” yaah… aku mengerti bu. Tetapi boleh kan jika aku untuk pertama dan terakhir menyium tangan mungilmu.. batinku, dan tanpa pemisi hal itu aku lakukan.. hah.. hampir tumpah mangkok baksonya.. dia kontak berdiri.. tapi kemudian duduk lagi. Tangan yang kupegang dan kucium tadi segera ditariknya.

“Riii.. zal..” ada getar marah di suaranya…tapi bu Yayan memang jempolan.. dia tidak berteriak gaduh sehingga pengunjung warung bakso menoleh.. dia sesaat saja kaget…

“kamu…aah sudahlah.. lupakanlah.. tetapi ibu harus pulang sekarang. Terimakasih bakso dan jus pokatnya ya.. dan ibu harap ini pertama dan terakhir ada pertemuan semacam ini diantara kita. Salam untuk istrimu.. jangan kau sakiti hatinya. Jika kau sakiti dia.. berarti kau menyakiti hati ibu juga..” katamu dan segera beranjak pergi meninggalkan aku sendiri merenungi apa yang diucapkannya dan apa yang kuperbuat..aku merasa kepalaku berdenyut-denyut..pusing.. aaah Yayan, aaah Asri

Ibu Yayan pergi meninggalkan aku sendirian di warung bakso, aku merasakan ada sesuatu yang ikut pergi mengikuti dirinya, aku merasa ada sesuatu yang hilang dan aku tidak tahu pasti apa itu, namun kata-kata ibu Yayan tadi semakin menambah rasa kasihku, cintaku kepadanya. Aneh bukan, tetapi itu nyata. Aku dapat merasakan kegetiran dari kata-katanya, aku ingin memeluk dirinya dan memberikan kehangatan cintaku yang murni kubingkis buatnya. Tetapi aku juga teringat Asri, istriku. Dia baik dan mencintai aku setulus cintaku kepada ibu Yayan. Selama hampir 10 tahun dia mendampingi diriku dan suka duka kami jalani bersama. Dia istri yang setia dan mengabdi. Dia juga tidak pernah berkata kasar seperti juga ibu Yayan, aku dapat pastikan itu. Aaah.. jika dipikiri terus kepalaku terasa penuh sekali, aku kepingin ngaso saja. Aku ingin istirahat agar pikiranku kembali jernih dan kepala ini sedikit lebih ringan. Setelah membayar makanan yang aku dan ibu Yayan pesan, aku segera ke tempat parker motorku. Duuh mengapa mataku seperti berkunang-kunang ya. Hemn, mungkinkah aku kurang tidur sehingga darah rendahku kumat lagi. Yaah semenjak Asri pulang kampung bersama anak-anak karena merajuk, aku mengerjakan semua keperluanku sendirian. Dan aku tidak bisa beralasan capek untuk semua yang kubutuhkan dalam keseharianku, karena hidup terus berlanjut meski tanpa istri disampingku. 

Dengan semboyongan aku menaiki motorku dan menghidupkannya. Dan ooh kepalaku bertambah pusing, aku merasa semua berputar.. dan astafirullah al azim.. semua gelap.. gelap .. ya gelap… dan aku tidak merasakan apa-apa lagi selain suatu rasa yang nyaman di mana aku melihat di atas sana ada senyum lembut ibu Yayan yang kucintai, senyum manis Asri yang mencintaiku, dan ada senyum ceria kedua anak-anakku. Betapa damainya, dan aku menikmatinya sampai akhirnya.. 

“Kak Rizal.. oh kak Rizal, maafkan aku. Aku memang egois kak, tapi kenapa kamu memilih untuk meninggalku Kak, aku masih membutuhkanmu….” Suara isak Asri membuat aku melek dan melihat pemandangan yang sulit aku mengerti. Di sana, di tengah-tengah ruang tamuku, aku melihat tubuh yang diselubungi kain dan disekelilingnya Asri, anak-anakku, papaku, mamaku, dan juga ibu Yayan tertunduk sedih. Mata mereka merah karena tangis, ada apa ?!! tak lama kemudian, datang ibu-ibu tetanggaku, dia membuka kain, dan lailahaillah Muhammadarullallah, itu aku. Yaah aku.. kenapa bisa aku terbaring di situ. 

Dan ooh ya baru aku sadari, saat ini aku seperti berada di awang-awang. Aku tidak berdiri melainkan melayang. Dan.. dan .. 

“Dik Asri, relakan Rizal ya agar dia tenang di alam sana” terdengar suara ibu Yayan. Aku mengarahkan pandanganku kepada kedua wanita berjilbab lebar itu dan menajamkan pendengaranku. Aku melihat mata Asri menatap tajam pada ibu Yayan. Heei dia marah. 

“ini semua gara-gara ibu. Kalau ibu tidak pergi bersama Rizal tentu semua ini tidak akan pernah terjadi…” tudingnya geram. Aku melihat raut wajah tenang ibu Yayan sedikit tegang, dia berusaha menguasai perasaannya. Dan suara keras Asri terus menghujaninya dengan kata-kata yang tidak menyenangkan. Tetapi ibu Yayan memang jempolan, dia tidak melakukan apapun selain diam dan memandangi Asri dengan pandangan yang teduh. Sampai akhirnya Asri capek sendiri dan menangis terisak-isak. Kasihan kamu Asri, tapi bagaimana lagi sepertinya memang harus begini.. 

“Mbak Asri, Bapak Rizal jatuh setelah lama ibu Yayan pergi dari warung itu. Ibu Yayan tidak melakukan apa-apa, dia dan pak Rizal hanya jajan bersama. Setelah ibu Yayan selesai makan, beliau langsung pulang. Mungkin saja memang saat itu Pak Rizal sedang tidak enak badan, sehingga kejadian itu membuat pak Rizal tiba ajalnya. Mbak Asri, ini adalah takdir.. karena makanan yang Pak Rizal dan Ibu Asri makan sama sekali tidak beracun” seorang pemuda yang sepertinya polisi menenangkan Asri dan menjelaskan semua yang terjadi.. ooh begitu, jadi aku sekali sudah almarhum toh? Aku mengaruk kepalaku yang tak gatal dan ketika tiba-tiba ada yang mengandeng tanganku untuk berlalu dari tempat itu, aku nurut saja.. yaaah, aku digiring pada tempat yang sebenarnya buat aku setelah aku meninggalkan semua orang yang kucintai dan mencintaiku. Aku akan dihitung amal dan dosaku… yaaah… aku ternyata telah ALMARHUM…. 

SELESAI DAAH @hak cipta Nyimas Herda (atas izin ybs ditampilkan diblog ini, lihat studi kelayakan info)

Posted in Studi Kelayakan Tulisan Kompasiana | Leave a comment