The Rare :” Figurine Design Of Yuan-Ming-Qing Imperial Collections”

                                THE SAMPLE OF E-BOOK
 (limited 100 edition E-book exist special for premium member , please register via comment , The publisher aslwas Welcome -Dr Iwan S.)

THE RARE FIGURE DESIGN OF YUAN-MING-QING IMPERIAL COLLECTIONS
                 

I.PREFACE.
1.All of this rare figure design Of Ming-Qing Imperial ceramic were found in Indonesia, Dr Iwan S private collections.
2.Very difficult to find this collections, only in Tionghoa or chinese overseas area , because forbidden to used the figurine , especially the human figure by the Moslem because forbidden in their religious law.
3.This is the first report of this rare figure disign which found in Indonesia

II. TABLE OF CONTENT
I.PREFACE
II. TABLE OF CONTENT
III.THE HUMAN FIGURE
IV. THE ANIMAL FIGURE
VI. THE FLORAL FIGURE
V. THE UNIDENTIFIED FIGURE
List Of Illustration

III. THE HUMAN FIGURE
1. The Buddha


2. The Ancetors
3. The Goddest
4. The Baby Doll

5. The Tionghoa (Chinese Overseas in Indonesia)

IV. THE ANIMAL FIGURE
1. The sprititual animal
2. The Chinese Lunar animal (shio)
3. The Unsual Animal Figure
V. THE FLORAL DESIGN
1. The Buddish floral design
2. The Chrisanthenum


3. other type

PS please register Premium Member via comment premieum fee only US$25.- per year , and we will send you the complete e-book in only US$ 5.-
the end.@copyright Dr Iwan S 2010

Posted in Dr Iwan E-book of ceramic | Leave a comment

Studikelayan Kompasiana(6)”Legenda Hidup dari Kampung Tempat tinggalku”

Filsafat
Lihat Profil    Jadikan teman    Kirim Pesan
seseorang yang tinggal di makassar

Legenda Hidup dari Kampung Tempat Tinggalku
Eeduy Haw
|  6 September 2010  |  00:20
130
34
     
   
   
5 dari 13 Kompasianer menilai Inspiratif.

Sering ia ikut ke gedung olahraga, bilamana menengok rumahnya di kampung kami. Pemukiman kelas ‘menengah cenderung biasa-biasa saja’ di kota ini. Tempat dulu ia juga tumbuh besar.

Tapi tidak untuk mengayunkan raket. Bukan untuk bermain bulutangkis. Ia hanya duduk di salah satu sudut bangku, tersenyum geli bila ada kejadian lucu di tengah lapangan. Sesekali ia mengusap jenggot lebatnya, ataukah membetulkan kuncir rambut gondrongnya yang kuning keemasan oleh pewarna rambut.

Bukan berarti pula ia tak pandai bulutangkis. Ia mahir. Malah dulu, di masa usianya dua-puluhan, tiap perayaan tujuh-belasan kerap ia tampil sebagai juara. Si pemilik jumping smash keras, begitu ia kesohor di kampung kami. Tentulah jika malam ini ia bermain, paling tidak jejak-jejak kelihaiannya masih membekas.

Yang tak kalah hebatnya, saat itu ia sebenarnya adalah atlit voli pantai profesional. Sebagaimana atlit, masa mudanya mengalir dari satu kejuaraan ke kejuaraan lainnya. Kadang ia berada di Lombok, Ambon, Manado, ataukah Bali. Dari satu tepi pantai ke tepi pantai lainnya. Bertanding di ajang PON ataukah Kejurnas. Beberapa trophy masih terpajang di rumah orangtuanya, di kampung kami yang biasa-biasa saja.

Lama-lama usianya kian bertambah. Kondisi kebugarannya tak segesit dulu lagi. Karir atlitnya beralih menjadi karyawan di salah satu kantor cabang perusahaan penjualan mobil yang letaknya ratusan kilo dari kota ini.

Walau waktu itu terpaksa hidup jauh dari rumah, tetapi tali hubungan terikat erat di tiang nadi kehidupan keluarganya. Beberapa tahun sebelumnya, ayahnya berpulang. Sebagai anak lelaki tertua, ia harus menjadi motor penggerak bagi ibu dan ketujuh saudaranya yang lain. Ia tumpuan sekaligus nahkoda bagi perahu keluarga.

Segala kebutuhan sehari-hari maupun keperluan sekolah adik-adiknya ia penuhi. Peran yang ditinggalkan ayahnya berusaha dilakoni dengan baik dan sungguh-sungguh.

Syukur karirnya kian menanjak. Tumpuan itu semakin lama semakin kokoh. Ia lebih mapan. Kami masih ingat, murah-hatinya ia jika membelikan barang yang diidam-idamkan adik-adiknya. Tak tanggung-tanggung, ia hanya akan membungkus yang terbilang kualitas bagus. Made in luar negeri adalah kesukaannya. Sebab ia punya semboyan ‘lebih baik bayar mahal untuk mutu bagus ketimbang murah tapi sehari keok’. Pun tak jarang, kami para tetangganya kecipratan traktiran  beramai-ramai bila ia kebetulan datang.

Perahu itu kini bisa berlayar dengan tenang. Tak lama, ia pun menikah dengan seorang gadis di kota tempatnya bekerja dan dikaruniai 2 anak. Semua berjalan dengan baik. Rumah dan mobil pribadi meski sederhana, dimiliki. Tak lupa, Ibunya ia berangkatkan ke hadapan Ka’bah untuk menunaikan rukun islam yang kelima. Peran yang ditinggalkan ayahnya dilakoninya dengan baik dan sungguh-sungguh. Sungguh-sungguh baik malah.

Hingga sekitar tujuh tahun yang lalu. Tak ada angin apalagi hujan, tiba-tiba saja ia memutuskan berhenti dari pekerjaannya. Kemudian meninggalkan rumah dan seluruh isinya. Hijrah ke sebuah dataran di perbatasan kota ini. Memilih hidup baru secara sederhana, bersama dengan sebuah komunitas islam bernama An-Nadzir*.

Di tempat baru itu, bersama dengan komunitasnya, ia harus memulai bertani, berkebun, dan memelihara tambak ikan untuk menghidupi kehidupan bersama. Setiap orang harus memotong pohon di hutan untuk dijadikan tiang-tiang rumah tempat berteduh.

Tak ada yang bisa mengira akan keputusannya ini. Tidak saudara-saudaranya, ataukah istrinya, bahkan ibunya sendiri. Semua tiba-tiba terjadi begitu saja.

Dan seperti biasa, perdebatan pun bermunculan. Yang di dalam rumah apalagi yang di luar rumah. Orang-orang sekampung kami, meski ributnya tak sampai macam petasan meletus, tapi mulut-mulut usilnya tak tahan ikut bisik-bisik. Bergunjing pagi dan sore hari, persis acara gosip di tivi-tivi.

“Besar kemungkinan komunitas ini aliran sesat, karena tak menyeimbangkan urusan duniawi dan akhirat,” begitu bunyi argumen yang bercokol di balik sebagian besar batok kepala orang-orang di kampung kami waktu itu.

Tetapi hatinya haqul-yaqin. Tak pernah sekalipun ia terlihat menyinggung soal keputusannya itu. Apalagi berusaha meyakinkan siapapun yang ia jumpai, bahwa apa yang ditempuhnya adalah beralasan. Ia seperti telah memperkirakan kondisi ini sebelumnya, tapi tak mau menggubrisnya.

Ia telah pasrah terhadap konsekuensi terberat apapun yang harus diterima. Itulah mengapa isteri dan anaknya ia titipkan kembali ke orangtua (mertuanya). Ia telah bersiap, “Jika dalam suatu keluarga, istri atau anak-anak tak lagi mempercayai pemimpinnya, maka pemimpin harus ikhlas memeberikan kebebasan jalan baginya untuk menentukan pilihan,” itu yang pernah ia ucapkan bertahun-tahun kemudian. Meski saat itu pertanyaan kami bukan dimaksudkan ihwal istrinya, melainkan soal pandangannya tentang sebuah keluarga. Namun bagi kami, kalimat ini sekaligus menjawab soalan istrinya waktu itu.

Kini tujuh tahun telah berlalu. Pelan-pelan, perahu-perahu itu mulai menemukan air tenang. Semakin lama semakin tenang. Peran yang ditingalkan ayahnya berpindah ke tangan lain. Malah peran itu terasa tak berasa, sebab hampir semua saudaranya melakoninya dengan baik. Tumpuan keluarga kini tak lagi diemban satu orang. Setidaknya enam orang saudaranya sekaligus telah menggantikannya sebagai nahkoda.

Sampannya sendiri, meski hanya terbuat dari kayu sederhana hasil tebangannya dan orang-orang sekomunitasnya, terus berlayar tegak menantang lautan. Beberapa tahun terakhir, anak dan isterinya telah berkumpul dengannya di dataran perbatasan kota itu. Namun, sama sekali bukan berarti ia dan istrinya merajut kembali hubungan, sebab mereka memang tak pernah berpisah.

Tentang pernikahannya waktu itu, sekali lagi, ia hanyalah menitipkan isteri dan anaknya ke orangtua (mertuanya). Sifatnya hanyalah sementara, tentulah sewaktu-waktu ia berhak memintanya jika semuanya memang bersedia.

Tadi siang kami lewat depan rumah orangtuanya, di kampung kami yang biasa-biasa saja. Ia berjongkok menyikat tembok pagar rumah itu dengan air. Tinggal hitungan hari lagi Idul Fitri datang. Seperti tahun-tahun kemarin, itu pertanda ia bermaksud mengecat tembok rumah itu, biar penampilannya semakin cerah.

Selepas maghrib kami bertemu adiknya. Kami menanyakan, kapan kiranya Kakak Tom datang, sedari dulu kami memanggil abangnya dengan nama itu.

“Kemarin sore. Eh, dia bawa ikan dari tambaknya banyak, besar-besarnya lagi. Coba malamnya kau ke rumah, pasti kau dapatki acara bakar-bakar ikan di pekarangan,” seru adiknya yang sehari-harinya memang sepergaulan dengan kami.

*     *     *

Sekonyong-konyong, tawa terpingkal-pingkal menyeruak sampai ke langit-langit gedung. Pasalnya, salah satu dari kami terbaring menjatuhkan diri di tengah lapangan karena tergopoh-gopoh berusaha mengambil dropshot lawan yang melesat tipis di bibir net. Semua yang melihatnya pasti tertawa. Adegan itu memang sungguh lucu.

Tak terkecuali dirinya, yang berada di salah satu sudut bangku, sembari berkomentar mengenai kejadian itu, dengan salah satu dari kami yang kebetulan duduk di sebelahnya. Sesekali ia mengusap jenggot lebatnya, ataukah membetulkan kuncir rambut gondrongnya yang kuning keemasan oleh pewarna rambut.

Pakaian yang dikenakannya sangat sederhana. Teramat sederhana. Celana gombrangnya berbahan kain. Panjangnya tak melebihi mata kaki. Di ujung lipatan bawahnya, tampak ada bagian benang yang dijahit tangan. Kali ini ia memadukannya dengan topi rimba di kepala, yang warnanya telah memudar.

Tak ada yang bisa mengira akan keputusannya waktu itu. Tidak itu saudara-saudaranya, istrinya, bahkan ibunya sekalipun. Apalagi kami yang cuma adik-adik tetangganya. Bahkan bertahun-tahun hingga sekarang, bila mendengar kisah ini, masih saja ada yang pikirnya tak bisa habis.

Dulu, lain waktu di gedung olahraga ini,  dia pernah berkata, “Segala sesuatu (kejadian) itu hanyalah keinginan Allah, sebab tak ada sesuatu pun yang memang bukan miliknya.”

Seperti halnya malam ini, bila melihatnya tertawa geli di sudut bangku itu, selalu mengingatkan tentang Ibrahim Ibn Adham* dan Sidharta ‘Buddha’ Gautama.

Demikian tentang legenda hidup dari tempat tinggalku.

*     *     *

Kampung Pettarani, Makasssar 2 September 2010

_____________

*Komunitas An-Nadzir adalah sebuah kelompok muslim yang mungkin jumlahnya sekarang mencapai 300an orang.  Mereka hidup commune di  kawasan Mawang, Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan, dekat dengan perbatasan Kota Makassar.
Komunitas ini memiliki ciri khas dari sisi penampilan, kaum lelaki berambut gondrong berwarna pirang. Sementara, kaum perempuan memakai cadar. Pakaiannya selalu berwarna hitam-hitam.
Pada dasarnya, mereka menghidupi diri dengan mengelola sawah, kebun dan tambak ikan. Namun kabarnya juga membuka bengkel dan dan usaha penyulingan air galon.

*Ibrahim ibn Adham atau lebih lengkapnya Abu Ishaq Ibrahim Ibn Adham adalah seorang legenda darwish dalam wiracarita sufisme. Seperti juga ‘Buddha’ Gautama yang tadinya seorang pangeran kerajaan, ia adalah pewaris tahta keturunan Arab Kerajaan Balkh.
Yang diceritakan orang-orang suci (wali), meski dunia di bawah kekuasaannya, meski 40 pedang emas dan 40 tongkat emas selalu mengiringi depan serta belakangnya, tetapi semuanya urung menghalangi bisikan hatinya.
Suatu waktu, setelah pertemuan misteriusnya dengan seseorang di atap rumahnya pada tengah malam buta, serta dialognya dengan lelaki asing di dalam istananya, hati Ibrahim Ibn Adham menjadi gelisah. Konon, lelaki di atap rumah dan di dalam istananya itu tak lain adalah Nabi Khidhr as.
Hingga akhirnya, ketika bisikan hatinya telah paripurna, ia lalu menghampiri seorang gembala domba. Diberikannya jubah bersulam emas serta mahkota bertahta permata yang biasa ia kenakan, kemudian ia berganti dan mengenakan pakaian dan penutup kepala sang gembala yang terbuat dari bulu hewan.

Syahdan, saat itu semua malaikat seraya berdiri memandang Ibrahim Ibn Adham.
“Betapa agung kerajaan yang kini dimiliki Ibn Adham,” ujar para malaikat.
“Ia telah membuang pakaian dekil duniawi, dan kini mengenakan jubah agung kemiskinan.”

Ibrahim Ibn Adham, seorang legenda sufi, lalu memilih menghilang dari Kerajaan Balkh, dan mengembara ke arah barat untuk menjalani kehidupan sebagai pertapa (asketisme). Dengan dan dalam kealpaan harta.
Dalam riwayat sufisme, ia akhirnya syahid di tahun 165 H/ 782 M dalam sebuah ekspedisi laut melawan pasukan Byzantium.

Selesai @hakcipta Eeduy Haw

 (di add atas izin ybs dalam rangka studi kelayakan , berikanlah komentar apakah tulisan ini layak diterbitkan dlam sebuah E-book atau tidak-Dr iwan)

Posted in Studi Kelayakan Tulisan Kompasiana | 1 Comment

Studikelayakan Kompasiana(5)” Istana Kesultanan Siak di Provinsi Riau “

Wisata
Lihat Profil    Jadikan teman    Kirim Pesan
Menulis mendorong saya untuk belajar dan membantu menata informasi yang saya dapat menjadi suatu pengertian. Saya senang mengamati masalah seni, sosial, sejarah, politik dan pariwisata.

Istana Kesultanan Siak di Provinsi Riau
JGA Wibowo
|  18 September 2010  |  17:17
196
18
     
   
   
2 dari 3 Kompasianer menilai Menarik.

Provinsi Riau sudah lama terkenal sebagai provinsi yang kaya akan minyak bumi. Secara geologi provinsi Riau masuk dalam Cekungan Sumatera Tengah atau Central Sumatera Basin. Cekungan ini termasuk wilayah terkaya minyak di dunia. Tak heran banyak perusahaan minyak dan gas beroperasi di provinsi Riau.  Di masa jayanya industri minyak di wilayah Melayu Riau ini pernah mengalami produksi minyak di atas 1 juta barrel per hari. Sekarang masih menjadi penghasil minyak terbesar di Indonesia berkisar sekitar 500 ribuan  barel perhari.
Tetapi selain kekayaan sumber daya alamnya, Riau juga mempunyai kekayaan wisata sejarah yang sangat menarik untuk dinikmati dan dipelajari. Ketika kawanku mengajakku memenuhi undangan pemerintah daerah Riau dalam rangka program Corporate Social Responsibility di Riau, aku sempat mengunjungi Istana Kesultanan Siak di Provinsi Riau. Kesempatan ini tak aku sia-siakan, aku siapkan kameraku lengakap dengan asesoris untuk berburu gambar di Istana Kesultanan Siak.
Pemandangan Luar Istana Kesultanan Siak, Riau
Pemandangan Luar Istana Kesultanan Siak, Riau
Istana Kesultanan Siak Sri Indrapura terletak di tepi Sungai Siak yang dulu disebut Sungai Jantan. Jaraknya sekitar 125 kilometer dari ibukota provinsi Riau, Pekanbaru yang di sebelah timurnya berhadadapan dengan Selat Malaka.  Istana Siak ini bisa dicapai lewat darat atau sungai.
Istana ini berdiri dengan mewah hingga sekarang. Gerbang masuknya dihiasi dengan sepasang elang dengan matanya yang mengkilat tajam menyambut pengunjung yang masuk menuju bangunan istana melalui gerbang ini.
 
Istana Kesultanan Siak yang masih berdiri megah ini dibangun oleh  Sultan Syarif Hasyim, yang dinobatkan bertahta pada tahun 1889. Bangunan istana ini selesai pada tahun 1893. Nama resmi darai istana ini adalah  “Asserayyah Al Hasyimiah”  yang disebut juga “Istana Matahari Timur “. Istana ini dibangun dengan gabungan gaya arsitektur  Spanish, Arabian and Malay  yang pada masa itu sangat berpengaruh pada gaya-gaya kemegahan bangunan. dinding istana sultan Siak  ini dihiasi dengan ornamen keramik.
Istana ini terdiri ats dua lantai. Di lantai bawah ada beberapa ruang utama. Yaitu ruang depan istana, ruang sayap kanan, ruang sayap kiri dan ruang belakang istana.
 
Melihat-lihat ke dalam istana Kesultanan Siak ini, kita akan melihat kualitas bangunan yang sangat mewah, marmer dan ornamen yang sangat indah dan bersih terawat. Kita bisa melihat singgasana Sultan yang berlapis emas. Kita juga bisa lihat gramaphone kuno buatan Jerman dengan piringan musik berjari-jari 45 centi meter memuat lagu-lagu Mozart dan Beethoven. Menurut keterangan pemandu wisata istana, di dunia ini hanya ada dua buah gramaphone model seperti itu. Satu di Jerman dan satu lagi yang ada di istana Sultan Siak ini.
 
Di ruangan yang lain kita bisa lihat koleksi-koleksi hadiah pada Sultan Syarif kasim II seperti kursi kayu mewah, gelas dan lampu-lampu kristal. Hadia-hadiah yang berasal dari kerajaan-kerajaan tetangga. Interior istana kesultanan Siak ini tidak kalah dengan kemewahan istana-istana kerajaan di Eropa.
Ruang perjamuan kerajaan yang anggun dan mewah. Ruang perjamuan kerajaan yang anggun dan mewah. 
Diorama sidang kerjaan dalam ukuran sebenarnya Diorama sidang kerajaan dalam ukuran sebenarnya 

 


Tangga dari lantai satu ke lantai dua istana dengan ornamen yang mewah. Tangga dari lantai satu ke lantai dua istana dengan ornamen yang mewah. 

Kerajaan Siak Sri Indrapura adalah kerajaan Islam Melayu terbesar di Riau.  Kerajaan ini mencapai zaman keemasannya pada periode abad 16 hingga abad 19. Sejak berdirinya di tahun 1725, telah ada 12 sultan yang memimpin kerjaan ini.  Wilayahnya meliputi selat Malaka dan Semenanjung malaysia sekarang.

Sultan Abdul Jalil Rakhmad Syah mendirikan kerajaan Melayu Siak di Riau pada tahun 1725. Dia adalah keluarga pertama dari 12 sultan yang memerintah berikutnya hingga tahun 1945.

Gambar Sultan Syarif Kasim II, Sultan terakhir Kesultanan Siak Gambar Sultan Syarif Kasim II, Sultan terakhir Kesultanan Siak 

Melihat keindahan dan kemewahan istana Sultan Siak, di masa kejayaan kerajaan Siak yang tanpa industri minyak,  telah pernah menjadi pusat ekonomi dan kebudayaan di Selat Malaka. Pengaruh kebudayaan nya telah mencapai daratan semenanjung Malaysia.  Di masa itu   masyrakat di semenanjung Malaysia memandang Kesultanan Siak sebagai pusat kebudayaan

Pada bulan November 1945, sultan terakhir kerajaan Siak, Sultan Syarif Kasyim II, mengirim kawat berita pada PresidenRepublik Indonesia Soekarno bahwa beliau dan Kesultanan Siak menyatakan setia kepada Republik Indonesia dan menyumbangkan kekayaannya untuk perjuangan kemerdekaan Indonesia.  Luar biasa jiwa kebangsaan Sultan Syarif Kasyim II !

Untuk  itu wajar kita mengenang Sultan Syarif Kasim II  dengan mengabadikan namanya sebagai nama bandar udara Pekanbaru. Indonesia luar biasa, terdiri dari suku-suku,  kerajaan-kerajaan yang kaya-raya budayanya dengan sukarela menjadi bagian dari Indonesia. Tentulah mereka semua punya mimpi yang luar biasa tentang Indonesia. Mereka pastilah punya visi ke-Indonesia-an dan kebangsaan yang sangat agung. Marilah kita temukan kembali visi itu dan kita hidupkan menjadi kesejahteraan bangsa.

Selesai @ hak cipta JGA Wibowo (atas izin Ybs.-dalam rangka studikelayaak-Dr iwan)

Posted in Uncategorized | 3 Comments

Studikelayakan tulisan Kompasiana (4) “Ibuku Idolaku”

Fiksi
seorang ibu … yang kepingin tulisannya dibaca dan yang baca terkesan dan ngasih komentar…

Ibu Guru, Idolaku (Bg I)
Nyimas Herda
|  26 Juni 2010  |  16:32
155
13
     
   
   
2 dari 2 Kompasianer menilai Menarik.

Duh panas sekali ya kota Palembang siang ini… lihat keringatku bercucuran.. entah berapa kali aku menghapusnya di wajahku nan ganteng ini.. ingin rasanya pulang, duduk depan tivi nonton tivi sambil minum air dingin … hemn… tapi.. yang hari ini kutemeni keliling-keliling pusat pertokoan asyik-asyik saja.. tuh lihat bahkan dengan cerianya dia milih-milih sepatu bersama anak-anaknya yang juga anak-anakku… yeeeeh… memang benar kata teman mengajarku, paling nggak enak nemeni “wong rumah” belanja… tapi mau bagaimana lagi, hari ini aku memang telah berjanji untuk menemani istri dan anak-anakku untuk belanja kebutuhan sekolah. anak-anakku naik kelas semua, meski tidak menduduki ranking sepuluh besar.. tapi semangat untuk mau bersekolah sudah cukup bagiku sebagai orang tua yang tidak banyak menuntut kepada anak-anakku yang ada dua, laki-laki dan perempuan sama saja.. eeh kenapa jadi seperti iklan KB zaman Presiden Suharto ya… hehehe.

” maaf pak… permisi..” tiba-tiba ada yang mau nyelip mendahuluiku.. memang nih ruang untuk jalan di toko sepatu yang dimasuki istri dan anak-anakku rada sempit. aku agak menepi agar ibu … eeh.. aku merasa suprise melihat siapa yang mau lewat…

” Ibu Ya… ibu Yayan.. ” aku jadi setengah berteriak, ibu yang mau lewat tersebut, dan kusebut dengan panggilan ibu Yayan kaget.. dia melihat ke wajahku, meneliti. aha, masyak dia tidak ingat dengan aku. aku pikir dulu aku sangat dekat dengan ibu ini sampai-sampai aku berani mengganti namanya yang Yayanti menjadi Yayangku.. untuk mencandainya dulu, sewaktu aku masih berseragam putih abu-abu dan ibu ini mengajar di kelasku sebagai seorang guru Akuntansi. Waktu itu ibu ini masih mahasiswi, dan kupikir sekarang dia tentu, sudah bergelar sarjana.. Sepeda.. hehehe S.Pd maksudku.. bukankah aku sendiri sudah lima tahun yang lalu bergelar S1 tersebut.

tetapi jika ibu ini tidak ingat wajar saja, dia melihatku terakhir dulu, sewaktu aku masih diajarnya, dan itu 15 tahun yang lalu. sekarang saja aku sudah punya anak dua, yang pertama sudah kelas IV SD dan yang nomor dua sudah kelas II SD.

dengan sikap khasnya yang kusuka, ibu Yayan membetulkan kacamatanya.

“maaf, ibu betul-betul lupa, mungkin karena kumismu itu” katanya… aha, masih selembut dulu.. dan subhanallah ketika aku betul-betul memperhatikan bagaimana wajah ibu Yayan ini, dia tampak seperti 15 tahun yang lalu, tidak terlihat perubahan sedikitpun.

“ibu masih cantik” kataku tanpa menghiraukan jika beliau lupa padaku.

dia ketawa lirih,

“ibu sudah tua nak. kamu saja sudah menjadi bapak-bapak begini. ibu tentu sudah nenek-nenek” katanya bijak.

“yook sudah ya, ibu lagi terburu-buru” lanjut beliau dan segera melanjutkan langkahnya. eeeh dia sepertinya tidak ingin tahu siapa aku..

“bu, aku Syahrizal” seruku sebelum langkahnya semakin jauh. dan seperti dugaanku, langkah itu terhenti dan dia langsung kembali mendekatiku.

“kaa..mu Syahrizal..” dia seperti gugup. dan aku mengerti mengapa dia gugup. karena aku dulu memang merupakan siswa yang paling tidak ingin dikenangnya, kukira. Mengapa tidak, aku pada waktu itu setelah kelulusan dan dinyatakan lulus langsung menemui dia dan mengatakan bahwa…. hehehehe.. aku mencintainya sebagai laki-laki kepada perempuan. kurang ajarnya aku kan ? dan sepanjang aku diajar dia aku berusaha membuat dia marah dan marah. ada saja ulahku agar dia tersinggung, dan waktu itu dia terlampau muda untuk jadi seorang guru, selisih denganku hanya 3 tahun. itu ketahuan dari data di kantor guru. dan soal kepintaran memang tidak kupungkiri dia seorang wanita yang pintar. dengan jilbab panjangnya dia selalu berusaha untuk menjaga kewibawaan seorang guru wanita yang santun dan bijak tapi bagiku saat itu dia sama saja dengan teman-teman wanitaku sebayaku.

entahlah, mengapa saat itu aku bersikap begitu padanya. di mataku, dia memang seorang wanita yang begitu mempesonaku, membutakan aku sehingga aku suka nabrak-nabrak jika dia lewat di dekatku. tetapi sikapnya yang selalu menjaga jarak dan berusaha menempatkan aku sesuai dengan posisiku sebagai muridnya membuatku bertambah ingin menjadikan dia, pendampingku, pacarku, kekasihku kalau untuk jadi istri, belum tentu saja. aku kan masih pelajar SMA, waktu itu.

Lalu karena begitu kentalnya perasaan itu, tanpa berpikir panjang lagi ketika kesempatan untuk bicara ada, aku pergunakan sebaik-baiknya. dan reaksinya sangat mengagumkan. dia tidak marah. dia bahkan tersenyum, manis sekali dan senyum itu sampai hari ini meski istriku juga memiliki senyum yang terindah buatku, aku masih teringat dan terkenang..

“Terimakasih Zal. sudah ya, ibu pulang” kata-kata itu singkat dan jelas.

dan besok, besoknya lagi, setiap kali aku kesekolah untuk menemui,  dia selalu berhasil menghindari aku. Dan ketika aku memutuskan untuk kuliah ke Jogya di sebuah Perguruan Tinggi di sana, sehari sebelum keberangkatanku ke Jogya aku memberanikan diri untuk mendatangi rumahnya. Dia tidak ada, dia sedang mengisi materi kerohanian di Masjid. kata wong yang ada di rumahnya. dan sampai sore aku menunggu, dia tidak pulang, hanya lewat telpon dia memberitahu kerabatnya, dia hari itu terlambat pulang karena ada keperluan. aku tidak mungkin menunggunya sampai malam karenanya aku pulang dengan perasaan kecewa.

waktupun melaju dengan alaminya, aku ketemu wanita yang sikapnya agak mirip dengan ibu Yayan ini dan akupun menikahnya meskipun waktu itu aku dan wanita itu masih berstatus mahasiswa-mahasiswi. karenanya ketika aku menyandang gelar sarjana, aku sudah memiliki balita dua orang… hehehe.. sementara istriku, dengan sangat terpaksa tidak menyelesaikan kuliahnya, dia sakit-sakitan sih. Lalu setelah segala urusan selesai aku kembali ke Palembang dengan istri dan anak-anakku. dan aku ikut tes PNS, lulus dan ditempatkanlah aku di salah satu SMP negeri di kota Palembang ini, kota kelahiranku.

“Rizal, kamu bersama istri dan anak-anakmu ya” kata ibu Yayan menyadarkan lamunanku. dan memang saat itu istri dan anak-anakku mendekatiku karena disampingku ada ibu guruku ini..ibu guru yang tetap cantik seperti 15 tahun yang lalu.

“oya.. kenalkan bu”

Asri, istriku menyalami sang ibu. begitu juga dengan anak-anakku. senyum manis itu mengembang dengan tulus.

“Istri kamu cantik…” katamu ketika istri dan anak-anakku sibuk kembali dengan acara mereka.

“terimakasih bu..” aku sedikit tersipu, kenangan masa lalu itu kembali menari-nari dipelupuk mataku, dan sepertinya aku.. astafirullah al azim, masih merasa deg-deg an di dekatnya.

” Kamu sekarang kerja di mana ?” dia bertanya sambil memilah-milah baju yang terpajang di dekatnya.

” Jadi Pak guru bu.. ketuleran ibu, guru akuntansi juga” kataku sambil senyam-senyum..

“Oh bagus itu…” komentarmu tanpa melihat ke arahku, sibuk dengan salah satu baju yang sepertinya diminatinya..

” ibu sendiri sekarang sudah berkeluarga kan bu.. aku dengar ibu dijodohkan.. ya kan bu.. adiknya Pak Daus kan bu.. guru Matematika itu..” eeeh aku tidak dapat menahan perasaan penasaranku ingin tahu banyak dengan idolaku dulu ini. dia mengembalikan baju yang dipegangnya ketempatnya semula.

” kamu wartawan juga rupanya..” katamu sambil tersenyum. lalu dia melirik jam tangannya..

” Rizal, maaf ya ibu harus cepat-cepat. salam untuk istrimu.. sayangi dan cintai dia dengan tulus ya, terima dia apa adanya” .. eeeh kenapa dia jadi banyak berkata-kata.

dan ketika aku perhatikan ada kilau kepedihan di mata nya yang berbungkus kacamata itu, aku ingin bertanya tapi dia cepat berlalu… dan akhirnya aku urungkan untuk bertanya. aku merasakan ada sebait puisi sedih pada ibu guru ku yang dulu sangat kucintai itu…tapi apa ya.. aku tertekun dan bermain dengan lamunanku.

“Papa… kita ke tempat mainan yook” anakku yang nomor dua membuyarkan lamunanku

“ooyaa ya… sepatunya sudah dapat ?” tanyaku sambil menuntunnya ke tempat mainan.. seperti yang sulung bersama ibunya sudah beranjak lebih dahulu, ke tempat mainan..

Sejak bertemu dengan ibu guru Yayan, wanita yang dulu sangat kukagumi, kuhormati, kucintai, aku merasa gelisah. Di hatiku ada sesuatu hasrat untuk bertemu lagi dan mengetahui bagaimana keadaan wanita idamanku dulu itu. Dia sudah menikah, aku tahu itu. Akupun sudah menikah, aku sadar itu. Tetapi aku merasakan dia tidak bahagia dan aku merasa tidak rela. Aku ingin lebih banyak tahu kehidupan dia sekarang. Tetapi bagaimana caranya, aku tidak tahu di mana ibu Yayan tinggal. Aku pernah bertamu ke rumahnya yang dulu, dan ternyata keluarga ibu Yayan sudah lama pindah, rumah tersebut dijual. Memang masih di kota Palembang, tapi dimana. Kecamatan Seberang Ulu I, Seberang Ulu II, Plaju, Pakjo atau di mana. Aku berusaha mencari tahu lewat sahabat-sahabatku kalau-kalau saja mereka tahu, tapi mereka bilang ibu Yayan tidak mengajar lagi dan letak pasti di mana bu Yayan tinggal mereka tidak tahu, yang pasti bu Yayan tinggal bersama Suami dan anak-anaknya. Oh ya, dari mereka aku tahu sedikit, Suami Yayan seorang pengusaha, dan mereka dikaruniai tiga anak, perempuan dua, satu laki-laki. Dan kesibukanku mencari tahu tentang Ibu Yayan ini rupanya tidak luput dari perhatian Asri, istriku. Sudah dapat ditebak bukan, dia cemburu sekali dan akhirnya memutuskan untuk pulang ke rumah orang tuanya Jogyakarta, anak-anak diajaknya. Asri tega membiarkan aku sendiri, melakukan segalanya sendiri, angka satu deh seperti lagu dangdut tempo dulu yang dipopulerkan oleh siapa ya…lupa aku.

Sebenarnya aku sudah menjelaskan kepada Asri, jika ibu Yayan itu masa lalu. Tetapi dengan segenap emosi yang dia punya, dia tetap pergi meninggalkan diriku, menenangkan diri katanya.. yah sudah aku pasrah saja. Lagipula ada enaknya juga, aku jadi banyak waktu untuk mencari dan menemukan jejak ibu Yayan… hehehehe.. kalau dipikir-pikir, wajar sekali Asri marah, tetapi aku tidak bisa mengelak dari rasa penasaranku kepada ibu guruku itu, ibu Yayanti tercinta… hahahahaha. 

Dan akhirnya kegigihanku mencari tahu membuahkan hasil. Sepertinya Allah masih tak tega membiarkan aku terkukung oleh rasa penasaran. Pagi itu aku hendak pergi mengajar, di simpang tiga yang dulu kutahu adalah lokasi rumah ibu Yayan aku menjalankan motorku perlahan. Entah kenapa aku ingin menyelusuri jalan menuju rumah ibu Yayan tempo dulu. Dan betapa kaget campur senangnya aku, ketika tepat di depan rumah ibu Yayan yang dulu aku melihat ada seorang perempuan berjilbab lebar turun dari beca, memang tidak ke pagar rumah ibu Yayan yang dulu melainkan menuju gang samping rumah. 

“ibu Yayan…” teriakku penuh harap. Wanita itu menoleh dan hei memang ibu Yayan. Dia menunggu aku turun dari motor, sepertinya dia sudah mengenaliku. 

“Syahrizal kan. Kebetulan atau sengaja kemari ?” tanyanya setelah aku dekat dirinya. 

“eeh.. kebetulan bu..” aku merasa malu, karena menyadari semangat yang ada pada diriku untuk bertemu lagi dengannya begitu besar. 

“ibu masih tinggal di sini” aku berusaha menetralisir perasaanku yang gegap gempita oleh rasa suka cita ketemu sang idola hati, ibu Yayanti tercinta..wahai, berhak tidak ya aku menyebutnya begitu. Mengapa pula pakai yang tercinta ya, mungkinkah memang aku masih menyimpan rasa, lho bagaimana dengan Asri, istriku, ibu dari Toto dan Titi, anak-anakku ?!! 

“oh tidak, ibu ke sini hanya ada keperluan dengan kakak ibu. Dia masih tinggal di sini, di rumah belakang, tuh kelihatan dari sini” kata ibu Yayan seraya menunjuk ke rumah bercat biru yang kelihatan dari mulut gang. 

“ibu lama atau sebentar bu..” eeh tiba-tiba saja ada ide gila di otakku. 

“oh sebentar saja.. hanya memberikan ini” ibu Yayan memperlihatkan bungkusan yang dibawanya. 

“pesanan istri kakak ibu. Kenapa emangnya ? oya Rizal mau ngajar kan ?” lanjut ibu Yayan. 

“iya bu, aku hanya ingin menawarkan jasa, jika ibu tidak keberatan. Ingin mengantar ibu jika ibu cepat pulangnya..” kataku dengan pembendaharaan kata yang dipilih sebaik mungkin. 

“tidak perlu itu Rizal. Lagipula katamu kamu mau mengajar kan ?” dan sesuai dengan pemikiranku ibu Yayan pasti menolak. 

“yaah kalau begitu tidak apa bu. Aku pergi dulu ya bu..” kataku dengan sikap baik-baik saja. setelah melihat anggukan ibu Yayan, aku segera kembali kemotorku, dan menjalankannya..dari kaca spion motor aku lihat ibu Yayan masuk ke dalam lorong, dan hilang dari pandangan mataku. Aku menghentikan motor dan berbelok kembali ke mulut lorong rumah saudaranya ibu Yayanti tersebut. Aku ingin menunggu bu Yayan meski dia tadi menolakku. Dan kebetulan ada warung makanan di depan lorong tersebut maka aku leluasa menunggu sambil pura-pura makan di situ, yap, aku memutuskan untuk tidak mengajar hari ini demi membuang penasaranku yang menyiksa ini. 

Satu jam, dua jam, duh lama juga nih. Air teh yang kupesan sudah  hampir dua gelas habis kuminum. Tetapi bu Yayan sepertinya tidak keluar juga dari lorong. Akhirnya aku menyerah. Aku merasa ada kepedihan mengalir di ulu hatiku, andai saja aku perempuan tentu aku sudah menangis, namun berhubung aku seorang laki-laki, yang sudah Bapak-bapak, sudah beristri dan mempunyai anak dua. Malu kalau sampai masalah menunggu tanpa hasil ini saja aku sampai menitikkan air mata. Yaaah, aku menarik napas panjang. Ibu yang jaga warung makanan tempat aku menunggu ibu Yayan nampak menaruh curiga tetapi tidak berani asal tuduh sepertinya. Dengan cuek aku bayar apa yang aku makan dan aku minum. Lalu menuju tempat motor yang kuparkir di dekat warung. Aku naik ke motor dan berpikir, pulang saja lah. Namun untuk yang terakhir aku ingin memastikan, aku menoleh kelorong..dan ola la.. yang kuharap akhirnya menjadi nyata.ibu Yayan. 

—-Aku naik ke motor dan berpikir, pulang saja lah. Namun untuk yang terakhir aku ingin memastikan, aku menoleh kelorong..dan ola la.. yang kuharap akhirnya menjadi nyata.ibu Yayan.—

Kulihat ibu Yayan berjalan sambil menunduk menyelusur lorong. Aku menunggunya dengan sabar. Dan ketika dia menginjakkan kakinya ke aspal jalan, aku mendekatinya …

” bu..” sapaku selembut mungkin. Dia kaget, dan mengucap pelan..astafirullah al azim.. kata-kata yang sangat kuhapal akan terlontar dibibirnya jika dia kaget, atau tidak suka dengan sesuatu…

” maaf bu.. bikin kaget. Aku hanya ingin mengantar ibu pulang.. boleh kan ?” aku bertutur dengan nekat. Lama dia memandangiku sambil menarik napas panjang dan menghembuskannya dengan pelan..

“Rizal, kamu tidak perlu serepot ini…” katanya dengan nada seperti menyesali.

“tidak bu, tidak repot.. sama sekali tidak repot, bahkan aku sangat ingin mengantar ibu.. jadi jangan menolak ya bu..” nah, aku pikir aku sudah mulai gila..apalagi mengingat kondisiku yang suami orang dan dia, bu Yayan seseorang yang pernah menjadi guruku, dan dia istri orang. Tetapi semua itu kutindas dalam-dalam, pikiranku saat itu hanya satu, aku ingin mengantarnya pulang kerumahnya agar aku tahu rumahnya dan jika ada kesempatan aku akan bertandang, dan satu lagi, aku ingin dekat-dekat dia, aku tidak ingin kehilangan sosoknya lagi meski hanya memboncengnya sebentar, tapi itu lebih dari cukup bagiku.

“Rizal, sebenarnya ada apa.. mengapa kamu begitu memaksa” tanpa peduli ajakanku dia berjalan menuju arah pasar yang memang tidak jauh dari lokasi kami saat ini. aku terdiam, sambil menjejeri langkah dengan menjalankan motor pelan-pelan, aku berpikir, iya ya.. mengapa..? tetapi perasaan yang bergejolak di dadaku menuntunku demikian. Apalagi jika kuingat pertemuan tempo hari, di mana aku melihat seperti ada kabut di mata ibu Yayan. Kabut duka yang sepertinya diusahakan disimpan dengan rapi dan rapat-rapat.

“Bu..andai aku ingin mengajak ibu makan bakso, ibu tidak marah kan dan bersedia..” kataku sedikit kecut, takut ditolak.. bu Yayan kan gudangnya penolakan.. hehehe.

“Yang di dekat-dekat sini saja ya…”

Hah… kata-kata itu mengagetkan bercampur rasa senang…

“tapi tidak perlu Rizal menyuruh ibu naik motornya.. biarlah ibu jalan kaki begini.. warung baksonya tidak jauh kan..” sebelum sempat aku menyuruhnya naik motor, dia sudah keduluan bicara begitu.. ya deh aku mengalah, jangan sampai ibu Yayan berubah pikiran.. dan begitulah, sambil ngobrol yang tak penting kami menuju warung bakso yang ada.

Tak lama kami sampai, aku mengajak bu Yayan duduk agak di pojokan.. dia seperti mau protes tapi diurungkannya.. diapun duduk manis di depanku, aah, aku jadi kangen dengan istriku..Asri. Gaya mereka sama, dan aku kira aku memilih Asri jadi istriku itu tentu karena pengaruh pesona bu Yayan juga,

“ibu mau minum apa ? jus pokat ya bu..”kataku dengan semangat. Dia tersenyum.

“terserah kamu saja. Tapi kamu tahu darimana ibu suka jus pokat ?” tanyanya meneliti. Aku tidak menjawab melainkan segera memanggil gadis yang menjaga warung bakso untuk memesan bakso 2 mangkok, jus pokat untuk bu Yayan dan es campur untuk diriku sendiri. Sesaat kami sibuk dengan pemikiran kami masing-masing. Tetapi diam-diam aku memperhatikan gerak-gerik bu Yayan yang ada didepanku. Dia tampak tenang, tidak kelihat gelisah atau gugup sepertinya dia menganggap “kencan” kami ini biasa-biasa saja. Sekali-sekali dia membetulkan jilbabnya yang tertiup angin. Penampilan bu Yayan pun tidak berubah, tetap berkacamata dan berjilbab panjang. Hanya saja aku pikir ada sedikit yang berubah.. yaitu bu Yayan terkesan lebih dewasa dan lebih bersahaja.. jika tidak ingin dikatakan sangat sederhana. Dulu aku selalu melihat bros yang menghiasi jilbabnya berganti-ganti. Tetapi saat sekarang dia sepertinya tidak memakai bros. jilbabnya hanya diselipkan dengan peniti kecil agar terkesan rapi. Dan jari-jari itu biasanya dihiasi cincin-cincin kecil yang cantik, sekarang kelihatannya hanya dikenakannya sebuah cincin kawin yang sepertinya sudah mulai pudar kuningnya. Akhirnya pesanan kami datang. Aku segera mempersilakan dia untuk menyantapnya. Dia mengangguk tanpa bersuara dan mulai menyantap.. setengah gelas jus pokat masuk ketenggorokannya, dia berhenti.

“kenapa bu ?” aku bertanya sedikit cemas.. sesungguhnya, aku ingin dia menghabiskan dulu semua hidangan setelah itu baru aku berniat untuk bertanya segala hal yang ingin aku ketahui.

“Tidak apa-apa, hanya ibu merasa heran atas semua ini.. ada apa Zal..”

“ooh .. ehehehe” aku ketawa lirih.

“yaah.. istrimu tahu kalau kau traktir ibu jajan bakso ?” tanyanya tanpa kuduga.

“eeh.. ya bu tahu..” aku jadi asal saja menjawab.

“Syukurlah. Hm Rizal, berceritalah ada apa. Ibu merasa pertemuan semacam ini memang sengaja kau harapkan terjadi. Ya kan. Nah jadi berterus teranglah, ada apa..” kata-kata bu Yayan meluncur dengan lancarnya, hemn.. ibu Yayan-ibu Yayan, tahukah engkau, saat ini jantungku terasa lebih kencang berdenyutnya. Tahukah ibu bahwa Syahrizal yang dulu yang pernah menyatakan cintanya pada ibu saat ini masih merasa mencintai ibu..meski dia sudah beristri dan memiliki anak-anak. Tetapi cinta itu tetap tumbuh dengan subuh dan indah…

“Rizal, ibu tidak sendiri lagi. Ibu sudah bersuami. Dan ibu juga sudah memiliki anak-anak. Begitu juga dengan kamu. Makan bakso bersama seperti inipun sebenarnya tidak layak kita lakukan. Ini awal sebuah perselingkuhan Rizal. Dosa..” matanya yang bening menatapku dengan tegas, meski nada suaranya begitu lembut.

“ibu tahu Rizal penasaran dengan ibu. Sejujurnya ibu akui, ibu sekarang lusuh dan seperti tidak sebahagia dulu. Yaah tetapi ibu ikhlas dengan kehidupan ibu itu. Meski pernikahan yang ibu jalani ini tanpa dilandasi rasa cinta. Tetapi ibu tidak peduli, meski saat ini ibu belum merasakan bagaimana rasanya dicintai olehnya. Rizal, ibu tidak ingin berlalu dari takdir ini. ibu yakin suatu saat nanti cinta itu akan datang. Dan diapun akan mencintai ibu seperti kau mencintai ibu…” waw… bu Yayan. Kata-kata itu begitu blak-blakan, dan tanpa ada kata-kata yang diselubuki oleh kiasan. Aku jadi kehilangan kata-kata dan sepertinya juga tidak perlu berkata-kata.

“Asri, begitu kan nama istrimu. Tentu berharap yang sama denganmu. Ingin kamu cintai apa-adanya.. kamu kan sudah memilih, mengapa harus mencoba sesuatu yang dilarang oleh Allah. Rizal, kawan-kawanmu banyak yang bercerita tentang kamu, ibu sangat tersanjung.. ibu sangat berterimakasih karena dicintai dengan tulus. Tapi Cinta Tidak Mesti Bersatu.. ya kan ?” lanjut bu Yayan. Pleees..des..kata-kata itu seperti tonjokan kecil di ulu hatiku.. ada sesuatu yang menjalar pedih di hati tetapi setetes embun ketulusan seperti mengelumerkan kepedihan itu…

“Rizal, kamu mengerti maksud ibu tentunya…” yaah… aku mengerti bu. Tetapi boleh kan jika aku untuk pertama dan terakhir menyium tangan mungilmu.. batinku, dan tanpa pemisi hal itu aku lakukan.. hah.. hampir tumpah mangkok baksonya.. dia kontak berdiri.. tapi kemudian duduk lagi. Tangan yang kupegang dan kucium tadi segera ditariknya.

“Riii.. zal..” ada getar marah di suaranya…tapi bu Yayan memang jempolan.. dia tidak berteriak gaduh sehingga pengunjung warung bakso menoleh.. dia sesaat saja kaget…

“kamu…aah sudahlah.. lupakanlah.. tetapi ibu harus pulang sekarang. Terimakasih bakso dan jus pokatnya ya.. dan ibu harap ini pertama dan terakhir ada pertemuan semacam ini diantara kita. Salam untuk istrimu.. jangan kau sakiti hatinya. Jika kau sakiti dia.. berarti kau menyakiti hati ibu juga..” katamu dan segera beranjak pergi meninggalkan aku sendiri merenungi apa yang diucapkannya dan apa yang kuperbuat..aku merasa kepalaku berdenyut-denyut..pusing.. aaah Yayan, aaah Asri

Ibu Yayan pergi meninggalkan aku sendirian di warung bakso, aku merasakan ada sesuatu yang ikut pergi mengikuti dirinya, aku merasa ada sesuatu yang hilang dan aku tidak tahu pasti apa itu, namun kata-kata ibu Yayan tadi semakin menambah rasa kasihku, cintaku kepadanya. Aneh bukan, tetapi itu nyata. Aku dapat merasakan kegetiran dari kata-katanya, aku ingin memeluk dirinya dan memberikan kehangatan cintaku yang murni kubingkis buatnya. Tetapi aku juga teringat Asri, istriku. Dia baik dan mencintai aku setulus cintaku kepada ibu Yayan. Selama hampir 10 tahun dia mendampingi diriku dan suka duka kami jalani bersama. Dia istri yang setia dan mengabdi. Dia juga tidak pernah berkata kasar seperti juga ibu Yayan, aku dapat pastikan itu. Aaah.. jika dipikiri terus kepalaku terasa penuh sekali, aku kepingin ngaso saja. Aku ingin istirahat agar pikiranku kembali jernih dan kepala ini sedikit lebih ringan. Setelah membayar makanan yang aku dan ibu Yayan pesan, aku segera ke tempat parker motorku. Duuh mengapa mataku seperti berkunang-kunang ya. Hemn, mungkinkah aku kurang tidur sehingga darah rendahku kumat lagi. Yaah semenjak Asri pulang kampung bersama anak-anak karena merajuk, aku mengerjakan semua keperluanku sendirian. Dan aku tidak bisa beralasan capek untuk semua yang kubutuhkan dalam keseharianku, karena hidup terus berlanjut meski tanpa istri disampingku. 

Dengan semboyongan aku menaiki motorku dan menghidupkannya. Dan ooh kepalaku bertambah pusing, aku merasa semua berputar.. dan astafirullah al azim.. semua gelap.. gelap .. ya gelap… dan aku tidak merasakan apa-apa lagi selain suatu rasa yang nyaman di mana aku melihat di atas sana ada senyum lembut ibu Yayan yang kucintai, senyum manis Asri yang mencintaiku, dan ada senyum ceria kedua anak-anakku. Betapa damainya, dan aku menikmatinya sampai akhirnya.. 

“Kak Rizal.. oh kak Rizal, maafkan aku. Aku memang egois kak, tapi kenapa kamu memilih untuk meninggalku Kak, aku masih membutuhkanmu….” Suara isak Asri membuat aku melek dan melihat pemandangan yang sulit aku mengerti. Di sana, di tengah-tengah ruang tamuku, aku melihat tubuh yang diselubungi kain dan disekelilingnya Asri, anak-anakku, papaku, mamaku, dan juga ibu Yayan tertunduk sedih. Mata mereka merah karena tangis, ada apa ?!! tak lama kemudian, datang ibu-ibu tetanggaku, dia membuka kain, dan lailahaillah Muhammadarullallah, itu aku. Yaah aku.. kenapa bisa aku terbaring di situ. 

Dan ooh ya baru aku sadari, saat ini aku seperti berada di awang-awang. Aku tidak berdiri melainkan melayang. Dan.. dan .. 

“Dik Asri, relakan Rizal ya agar dia tenang di alam sana” terdengar suara ibu Yayan. Aku mengarahkan pandanganku kepada kedua wanita berjilbab lebar itu dan menajamkan pendengaranku. Aku melihat mata Asri menatap tajam pada ibu Yayan. Heei dia marah. 

“ini semua gara-gara ibu. Kalau ibu tidak pergi bersama Rizal tentu semua ini tidak akan pernah terjadi…” tudingnya geram. Aku melihat raut wajah tenang ibu Yayan sedikit tegang, dia berusaha menguasai perasaannya. Dan suara keras Asri terus menghujaninya dengan kata-kata yang tidak menyenangkan. Tetapi ibu Yayan memang jempolan, dia tidak melakukan apapun selain diam dan memandangi Asri dengan pandangan yang teduh. Sampai akhirnya Asri capek sendiri dan menangis terisak-isak. Kasihan kamu Asri, tapi bagaimana lagi sepertinya memang harus begini.. 

“Mbak Asri, Bapak Rizal jatuh setelah lama ibu Yayan pergi dari warung itu. Ibu Yayan tidak melakukan apa-apa, dia dan pak Rizal hanya jajan bersama. Setelah ibu Yayan selesai makan, beliau langsung pulang. Mungkin saja memang saat itu Pak Rizal sedang tidak enak badan, sehingga kejadian itu membuat pak Rizal tiba ajalnya. Mbak Asri, ini adalah takdir.. karena makanan yang Pak Rizal dan Ibu Asri makan sama sekali tidak beracun” seorang pemuda yang sepertinya polisi menenangkan Asri dan menjelaskan semua yang terjadi.. ooh begitu, jadi aku sekali sudah almarhum toh? Aku mengaruk kepalaku yang tak gatal dan ketika tiba-tiba ada yang mengandeng tanganku untuk berlalu dari tempat itu, aku nurut saja.. yaaah, aku digiring pada tempat yang sebenarnya buat aku setelah aku meninggalkan semua orang yang kucintai dan mencintaiku. Aku akan dihitung amal dan dosaku… yaaah… aku ternyata telah ALMARHUM…. 

SELESAI DAAH @hak cipta Nyimas Herda (atas izin ybs ditampilkan diblog ini, lihat studi kelayakan info)

Posted in Studi Kelayakan Tulisan Kompasiana | Leave a comment

Studikelayakan Tulisan kompasiana (3)”Siapakah yang mati di Sini ?”

Fiksi
Lihat Profil    Jadikan teman    Kirim Pesan
seorang pembelajar yan malas

Siapakah yang Mati di Sini? (Cerlat)
Ramdhani Nur
|  1 September 2010  |  11:19
50
17
     
   
   
3 dari 5 Kompasianer menilai Menarik.

Mereka menggambarkannya seolah ini sebuah kenduri kematian. Meja kursi dikosongkan dari ruang tamu. Tikar dan kerpet digelar. Berduyun tetangga dan kerabat berdatangan membawa sebakom beras dan wajah yang berduka. Tangis tersudut diantara syahdu yaasiin yang bersahut. Aku tidak bisa bertanya tentang apa yang terjadi pada orang-orang yang menyalamiku dengan haru. Tak bisa pula kubalas pelukan sedalam ucapan mereka yang terus berulang. “Yang sabar ya, jeng! Ini semua sudah takdir Allah.

Aku tidak cukup mengerti dengan situasi ini. Siapakah yang mati disini? Aku lihat keluargaku semua lengkap. Kami berlima di rumah ini. Ada Ghafar, suamiku yang dikerubungi uwa dan saudara-saudara misanku. Ada mbak Esti yang sibuk menerima tetamu yang terus berdatangan. Ada ibu yang duduk sekarpet dengan Aliyah, putri kecilku satu-satunya yang lelap dibalik selimut. Dan terakhir ada aku yang memandang heran suasana disini.

Pasti ada sesuatu dan belum mereka ceritakan. Tapi biarlah, mereka melakukan itu mungkin karena tidak ingin mencemaskanku. Mereka tahu sejak dulu aku memang mudah sekali syok dan jatuh pinsan jika ada hal luar biasa yang mengagetkanku. Tapi entah mengapa, aku sama sekali tidak terpengaruh pada situasi ini. Aku malah lebih mencemaskan Aliyah. Bagaimana dia bisa tertidur lelap diantara tangisan orang-orang disini. Apalagi dia belum sembuh benar. Semalam demamnya tinggi sekali, untungnya pagi tadi panasnya sudah benar-benar turun. Karena itu, aku segera mendekati ibu untuk membawa Aliyah ke kamar. Ke tempat dimana dia lebih nyaman tertidur.

“Mau dibawa kemana, Tih?” tanya ibu terkejut.

Puluhan mata mengarah padaku saat Aliyah yang baru berumur delapan bulan ini aku rengkuh.

“Biar dia tidur di kamar saja, bu. Disini terlalu ramai”

Tiba-tiba raut ibu berubah. Ibu malah menangis panjang. “Duh, gustiii…! Eling, Tih, eling!”

Sontak semua terdiam. Suamiku segera menghampiri dan memaksaku meletakkan kembali Aliyah diantara selimut putih yang membalut penuh tubuhnya.

Dekapannya yang erat membuatku tidak bisa berbuat apa-apa selain mendengar isaknya. “Ikhlaskan ya, sayang, ikhlaskan! Tak ada yang bisa kita lakukan lagi sekarang”

Aku cuma bisa terdiam. Bingung dan kosong.

Cirebon, 31 Agustus 2010

Posted in Studi Kelayakan Tulisan Kompasiana | Leave a comment

Peserta Studi kelayakan kompasiana (2) Judul: Adat Palembang dalam Perkawinan.












Bismillaahirrahmaanirrahiim Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.Ya ILLAHI… jadikanlah hati ini hati yg tenang, hidup yg berjalan bersama kehidupan, yg melihat & yg mendengar, yg tawadhu’ dalam ridha-MU Ya RABBI… janganlah jadikan hati ini mati, lemas dalam kesibukan hidup, gersang dalam kemarau rohaniah, kaku dalam kelongsong jasadi. hidupkanlah Ya ALLOH…sekeping hatiku yg tersisa ini dgn tangan belas kasih-MU, semoga jadi gerbang menuju cinta hakikiuntuk kehidupan abadi disisi-MU… Amiin Ya RABB… ( Siti Munawaroh Rachmana , Muslim Sufi )




Adat Palembang dalam Perkawinan





SITI Palembang


|  28 Agustus 2010  |  11:19






80




81































     
   
   


10 dari 20 Kompasianer menilai Menarik.





Adat perkawinan Palembang adalah suatu pranata yang dilaksanakan berdasarkan budaya dan aturan di Palembang.



 

 



 




Melihat adat perkawinan Palembang, jelas terlihat bahwa busana dan ritual adatnya mewariskan keagungan
serta kejayaan raja-raja dinasti Sriwijaya yang mengalaimi keemasan berpengaruh di Semananjung Melayu berabad silam. Pada zaman kesultanan Palembang berdiri sekitar  abad 16 lama berselang setelah runtuhnya dinasti Sriwijaya, dan pasca Kesultanan pada dasarnya perkawinan ditentukan oleh keluarga besar dengan pertimbangan bobot, bibit dan bebet.

 Pada masa sekarang ini perkawinan banyak ditentukan oleh kedua pasang calon mempelai pengantin itu sendiri.Untuk memperkaya pemahaman dan persiapan pernikahan, berikut ini uraian tata cara dan pranata yang berkaitan dengan perkawinan Palembang.Milih Calon







 Calon dapat diajukan oleh si anak yang akan dikawinkan, dapat juga diajukan oleh orang tuannya. Bila dicalonkan oleh orang tua, maka mereka akan menginventariskan dulu siapa-siapa yang akan dicalonkan, anak siapa dan keturunan dari keluarga siapa.



 SEBELUM PERNIKAHAN







Madik

 Madik Berasal dari kata bahasa Jawa Kawi yang berarti  mendekat atau pendekatan. Madik adalah suatu proses penyelidikan atas seorang gadis yang dilakukan oleh utusan pihak keluarga pria.Tujuannya untuk perkenalan, mengetahui asal usul serta silsilah keluarga masing-masing serta melihat apakah gadis tersebut belum ada yang meminang.


 Pada zaman dahulu madik di lakukan pihak pria apabila ada kesukaan yang di lihat oleh seorang pria atas wanita di mana telah terjadi pertemuan sebelumnya seperti pria yang melihat dan tertarik pada seorang wanita pada acara cawisan atau fatayat, karena ketertatikan inilah maka pihak pria akan mengirimkan utusannya. Yang kebanyakan utusan tersebut adalah perempuan yang bisa melihat langsung wanita yang sedang di padik baik dari fisik maupun keterampilan (seperti mengaji Al Quran, Masak, Menjahit dan keterampilan lainnya) tetapi terkadang ada pula utusan adalah seorang pria.
Pertama-tama keluarga calon mempelai laki-laki mengadakan observasi atau pengamatan terhadap calon mempelai wanita dan keluarganya. Begitu juga sebaliknya, keluarga calon mempelai wanita mengadakan pengamatan juga terhadap calon mempelai laki-laki dan keluarganya.
Dalam pengamatan ini untuk mengetahui asal-usul, silsilah, dan gelarnya masing-masing. Gelar suku Palembang ada empat (4) tingkatan, antara lain:
Laki-laki Perempuan

Raden – Raden Ayu
Masagus – Masayu
Kemas – Nyimas
Kiagus – Nyayu

Tetapi pada saat sekarang madik sudah jarang di lakukan dan sudah jarang terdengan tetapi mungkin di sebagian masyarakan asli Palembang masih di lakukan dan madik ini juga di lakukan juga oleh dari keturunan Arab mereka lakukan pada saat adanya acara Gambusan ataupun sambrahan/bedana.
Untuk masyarakat Palembang sendiri saat ini madik sepertinya tidak di pakai lagi karena seiring perkembangan zaman tetapi yang masih seirng terjadi adalah “Rasan Tuo” di mana dari dua keluarga pihak pria dan wanita menjodohkan anak mereka masing-masing denagn tujuan untuk mempererat tali keutuhan keluarga.
 


Menyenggung
Menyengguk atau sengguk berasal dari bahasa Jawa kuno yang artinya memasang “pagar” agar gadis yang dituju tidak diganggu oleh sengguk (sebangsa musang, sebagai kiasan tidak diganggu perjaka lain). Menyengguk dilakukan apabila proses Madik berhasil dengan baik, untuk menunjukkan keseriusan, keluarga besar pria mengirimkan utusan resmi kepada keluarga si gadis. Utusan tersebut membawa tenong atau sangkek terbuat dari anyaman bambu berbentuk bulat atau segi empat berbungkus kain batik bersulam emas berisi makanan, dapat juga berupa telor, terigu, mentega, dan sebagainya sesuai keadaan keluarga si gadis.


Ngebet
Bila proses sengguk telah mencapai sasaran, maka kembali keluarga dari pihak pria berkunjung dengan membawa tenong sebanyak 3 buah, masing-masing berisi terigu, gula pasir dan telur itik. Pertemuan ini sebagai tanda bahwa kedua belah pihak keluarga telah “nemuke kato” serta sepakat bahwa gadis telah ‘diikat’ oleh pihak pria. sebagai tanda ikatan, utusan pria memberikan bingkisan pada pihak wanita berupa kain, bahan busana, ataupun benda berharga berupa sebentuk cincin, kalung, atau gelang tangan.
Berasan
 Berasal dari bahasa Melayu artinya bermusyawarah, yaitu bermusyawarah untuk menyatukan duduk keluarga menjadi satu keluarga besar. Pertemuan antara dua pihak keluarga ini dimaksudkan untuk menentukan apa yang diminta oleh pihak si gadis dan apa yang akan diberikan oleh pihak pria. Pada kesempatan itu, si gadis berkesempatan diperkenalkan kepada pihak keluarga pria. Biasanya suasana berasan ini penuh dengan pantun dan basa basi. Setelah jamuan makan, kedua belah pihak keluarga telah bersepakat tentang segala persyaratan perkawinan baik tata cara adat maupun tata cara agama Islam. Pada kesempatan itu pula ditetapkankapan hari berlangsungnya acara “mutuske kato”. Dalam tradisi adat Palembang dikenal beberapa persyaratan dan tata cara pelaksanaan perkawinan yang harus disepakati oleh kedua belah pihak keluarga, baik secara syariat agama Islam, maupun menurut adat istiadat. Menurut syariat agama Islam, kedua belah pihak sepakat tentang jumlah mahar atau mas kawin, Sementara menurut adat istiadat, kedua pihak akan menyepakati adat apa yang akan dilaksanakan, apakah adat Berangkat Tigo Turun, adat Berangkat duo Penyeneng, adat Berangkat Adat Mudo, adat Tebas, ataukah adat Buntel Kadut, dimana masing-masing memiliki perlengkapan dan persyaratan tersendiri.
Setelah mengetahui hal-hal yang paling kecil sekalipun, maka keluarga calon mempelai laki-laki mengutus beberapa orang untuk melamar pada pihak keluarga calon mempelai wanita. Utusan ini dipimpin oleh seorang yang pandai berbicara, baik masalah adat maupun masalah-masalah yang lainnya.
Rombongan utusan ini membawa sangkek-sangkek yang berisi bahan-bahan mentah, seperti: Gula, gandum, telur, dan lain-lain. Jumlah sangkek-sangkek ini selalu ganjil, yaitu: tiga, lima, tujuh, dan seterusnya. Jumlah sangkek-sangkek ini juga menunjukkan tingkat kemampuan sosial ekonomi dari keluarga pihak mempelai laki-laki.
 
























Mutuske Kato


 Acara ini bertujuan kedua pihak keluarga membuat keputusan dalam hal yang berkaitan dengan:”hari ngantarke belanjo” hari pernikahan, saat Munggah, Nyemputi dan Nganter Penganten, Ngalie Turon, Becacap atau Mandi Simburan dan Beratib. Untuk menentukan hari pernikahandan acara Munggah, lazim dipilih bulan-bulan Islam yang dipercaya memberi barokah bagi kedua mempelai kelak yakni bulan Robiul Awal, Robiul Akhir, Jumadilawal, Jumadilakhir. Bulan-bulan tersebut konon dipercayah bahwa bulan purnama sedang cantik-cantiknya menyinari bumi sehingga cahayanya akan menjadi penerang kehidupan bagi kedua mempelai secerah purnama. Saat ‘mutuske kato’ rombongan keluarga pria mendatangi kediaman pihak wanita dimana pada saat itu pihak pria membawa 7 tenong yang antara lain berisi gula pasir, terigu, telur itik, pisang dan buah-buahan. Selain membuat keputusan tersebut, pihak pria juga memberikan (menyerahkan) persyaratan adat yang telah disepakati saat acara berasan. sebagai contohnya, bila sepakat persyaratan adat Duo Penyeneng, maka pihak pria pada saat mutoske kato menyerahkan pada pihak gadis dua lembar kemben tretes mider, dua lembar baju kurung angkinan dan dua lembar sewet songket cukitan. Berakhirnya acara mutuske kato ditutup dengan doa keselamatan dan permohonan pada Allah SWT agar pelaksanaan perkawinan berjalan lancar. Disusul acara sujud calon pengantin wanita pada calon mertua, dimana calon mertua memberikan emas pada calon mempelai wanita sebagai tanda kasihnya. Menjelang pulang 7 tenong pihak pria ditukar oleh pihak wanita dengan isian jajanan khas Palembang untuk dibawa pulang.


 Nganterke Belanjo




 





 



serah-serahan . foto pribadi serah-serahan . foto pribadi

 



 



foto pribadi serah-serahan foto pribadi serah-serahanserah-serahan . foto pribadi

 



 
 Prosesi nganterke belanjo biasanya dilakukan sebulan atau setengah bulan bahkan beberapa hari sebelum acara Munggah. Prosesi ini lebih banyak dilakukan oleh kaum wanita, sedangkan kaum pria hanya mengiringi saja.
Uang belanja (duit belanjo) dimasukan dalam ponjen warna kuning dengan atribut pengiringnya berbentuk manggis. Hantaran dari pihak calon mempelai pria ini juga dilengkapi dengan nampan-nampan paling sedikit 12 buah berisi aneka keperluan pesta, antara lain berupa terigu, gula, buah-buahan kaleng,  hingga kue-kue dan jajanan. Lebih dari itu diantar pula’enjukan’ atau permintaan yang telah ditetapkan saat mutuske kato, yakni berupa salah satu syarat adat pelaksanaan perkawinan sesuai kesepakatan. Bentuk gegawaan yang juga disebut masyarakat Palembang ‘adat ngelamar’ dari pihak pria (sesuai dengan kesepakatan) kepada pihak wanita berupa sebuah ponjen warna kuning berisi duit belanjo yang dilentakan dalam nampan, sebuah ponjen warna kuning berukuran lebih kecil berisi uang pengiring duit belanjo, 14 ponjen warna kuning kecil diisi koin-koin logam sebagai pengiring duit belanjo, selembar selendang songket, baju kurung songket, sebuah ponjen warna kuning berisi uang’timbang pengantin’ 12 nampan berisi aneka macam barang keperluan pesta, serta kembang setandan yang ditutup kain sulam berenda.

 



Total gegawan yang di bawa pada saat naganterke belanjo adalah sebanyak 24 nampan/dulang terdiri dari 12 nampan berisi kebutuhan makan dan 12 nampan untuk kebutuhan dan perlengkapan pengantin, dan dulu biasanya yang melakukan nganterke belanjo bisanya untusan dari keluarga mempelai laki-laki dan orang tua dari calon mempelai laki-laki itu sendiri tidak mengikuti acara tersebut ini bertujan mempercayakan sesuatu yang di bawa atau di antar ke calon mempelai perempuan akan sampai (pemupukan rasa percaya).
Salah satu adat yang ada dan sempat di lihat adalah pada saat penerimaan pihak calon mempelai perempuan mempersiapkan tadok “berunang” (bakul besar seperti bakul cina) untuk tempat penerimaan dimana barang-barang yang di terima di masukan seluruhnya kesana dan setelah selesai langsung di ikat dan di bawa masuk.
Untuk tempat uang sekarang sudah jarang dilihat yang menggunakan ponjen tetapi digantikan dengan manggis (Manggis di buat dari kertas manggis di bentuk kotak persegi tetapi memiliki sudut yang berbeda di keempat sisinya) sekarang biasanya manggis besar disi untuk uang belanja dan di iringi dengan manggis kecil yang berisi uang logam yang jumlahnya terkadang 12 s/d 14 buah.
 

 



 

 



Persiapan Menjelang Akad Nikah



 

 



Ada beberapa ritual yang biasanya dilakukan terhadap calon pengantin wanita yang biasanya dipercaya berkhasiat untuk kesehatan kecantikan, yaitu betangas. Betangas adalah mandi uap, kemudian Bebedak setelah betangas, dan berpacar (berinai) yang diberikan pada seluruh kuku kaki dan tangan dan juga telapak tangan dan kaki yang disebut pelipit.

 



Dulunya kegiatan ini di lakukan seseorang yang bertindak sebagi pelayang pengantin yang bertindak sebagai “Temu Jero” di mana seluruh kegiatan di atas di lakukan oleh beliau selama beberapa hari tersebut sampai dengan acara terakhir yaitu ratiban.

 



Betangas.
Merupakan mandi uap dengan ramuan rempah-rempah dimana kita duduk diatas kursi atau tempat yang telah di sediakan dan di bawah tempat duduk tersebut di berikan uap dari rebusan rempah-rempah, para calon pengantin menggunakan kain untuk menutupi seluruh badan kecuali muka, bahkan sebagian calon pengantin menutup secara keseluruhan.
Betangas ini bertujuan untuk mengeluarkan keringat dan membersihkan pori-pori biar pada saat hari H diharapkan tidak banyak mengeluarkan keringat dan bau.

Bebedak
Bebedak istilah untuk mendandai calon penganten secantik mungkin dari tatanan rambut, muka badan kaki tangan dan keseluruhannya.

Bepacar
Berpacar (berinai) yang diberikan pada seluruh kuku kaki dan tangan dan juga telapak tangan dan kaki yang disebut pelipit. Pacar ini juga menandakan bahwa mereka akan memasuki kehidupan baru sebagai pasangan rumah tangga.
Ada satu lagi kegiatan yang di fungsikan untuk mengetahui dan menelusuri silsiah dan ini biasanya dilakukan beberapa hari sebelum akad nikah yaitu ziarah.
 
 Upacara Akad Nikah
Menyatukan sepasang kekasih menjadi suami istri untuk memasuki kehidupan berumahtangga. Upacara ini dilakukan dirumah calon pengantin pria, seandainya dilakukan dirumah calon pengantin wanita, maka dikatakan ‘kawin numpang’. Akan tetapi sesuai dengan perkembangan masa, kini upacara akad nikah berlangsung dikediaman mempelai wanita. Sesuai tradisi bila akad nikah sebelum acara Muggah, maka utusan pihak wanita terlebih dahulu ngantarke keris ke kediaman pihak pria.

 



Pada zaman dahulu juga pada saat akad nikah ada timbangan dan kitab suci dimana Al Quran yang berarti rumah tangga untuk menjalankan syariat agama dan berlaku adil, dan karena berucap di depan Al Quran dan timbangan pada zaman dahulu jarang sekali terjadi perceraian karena takut kualat karena telah berucap.
Bila akad nikah ini dilakukan jauh hari sebelum acara munggah dan akad nikah tersebut di lakukan di tempat pengantin perempuan maka pengantin pria akan pulang ke rumahnya, dan kembali saat pagi seelum acara munggah.
 

 



 

 



Ngocek Bawang
 Ngocek Bawang diistilahkan untuk melakukan persiapan awal dalam menghadapi hari munggah. Pemasangan tapup, persiapan bumbu-bumbu masak dan lain sebagainya disiapkan pada hari ini. Ngocek bawang kecik ini dilakukan dua hari sebelum acara munggah.
Selanjutnya pada esok harinya sehari sebelum munggah, dilakukan acara ngocek bawang besak. Seluruh persiapan berat dan perapian segala persiapan yang belum selesai dikerjakan pada waktu ini. Daging, ayam dan lain sebagainya disiapkan saat munggah, mengundang (ngulemi) ke rumah besannya, dan si pihak yang di ulemi pada masa ngocek bawang wajib datang, biasannya pada masa ini diutus dua orang yaitu wanita dan pria.

 



 

 



Munggah
 Prosesi ini merupakan puncak rangkaian acara perkawinan adat Palembang. Hari munggah biasanya ditetapkan hari libur diantara sesudah hari raya Idul Fitri & Idul Adha. Pada pagi hari sebelum acara, dari pihak mempelai wanita datang ke pihak laki-laki (ngulemi) dengan mengutus satu pasang lelaki & wanita.
Selain melibatkan banyak pihak keluarga kedua mempelai, juga dihadiri para tamu undangan. Munggah bermakna agar kedua pengantin menjalani hidup berumah tangga selalu seimbang atau timbang rasa, serasi dan damai.
Pelaksanaan Munggah dilakukan dirumah kediaman keluarga pengantin wanita. Sebelum prosesi Munggah dimulai terlebih dahulu dibentuk formasi dari rombongan pria yang akan menuju kerumah kediaman keluarga pengantin wanita. Sebelum prosesi Munggah dimulai terlebih dahulu dibentuk formasi yang akan berangkat menuju rumah pengatin wanita. Formasi itu adalah :

 



 



Ngarak -kumpulan-grup-rudat. foto Google Ngarak -kumpulan-grup-rudat. foto Budaya & Tradisi Kota Palembang

 



 

 



 

 



Kumpulan (grup) Rudat dan Kuntau

 



 

 



Pada saat pengantin lelaki di antar kembali ke tempat pengantin prempuan sebelum acara munggah dan diarak pakai rebana. Mempelai laki-laki diantar oleh keluarganya dengan membawa barang-barang, dari bahan makanan sampai pakaian, yang diletakkan di dalam nampan atau hidangan, namanya “gawaan”.
Mempelai laki-laki didampingi seorang pendamping, yang membawa bunga langsir. Ini melambangkan penyerahkan dari pihak laki-laki untuk diterimakannya menjadi keluarga pada pihak wanita. Arak-arakan ini dinamakan “munggah”.

 



Kuntau (Pencak Silat)/Betanggem & Pembawa Bunga Langsih
Pada saat kedatangan ini biasanya di awali dengan berbalas pantun dan atraksi buka palang pintu dari pencak silat, dan Pengatin Pria yang diapit oleh kedua orang tua, dua orang pembawa tombak, seorang pembawa payung pengantin, didampingi juru bicara, pembawa bunga langsih dan pembawa ponjen adat serta pembawa hiasan adat dan gegawan ,yang terpenting dari kedatangan ini adalah bunga langsih (bunga yang di maksud terserah jenis bungnya apa yang penting enak di pandang dan sekarang banyak juga yang mengganti bunga langsih ini dengan bunga plastic) yang harus di bawa karena kalau tidak ada pengantin tidak akan dapat masuk kerumah pengantin perempuan.
Pada saat sampai ini maka pengantin perempuan akan memberikan kain tajung dan kemeja kepada pengantin pria “Pemapak” dan dibuatkan “jerambah” (kain panjang biasa atau dari selendang songket yang di bentangkan dari pintu masuk sampai ke pintu kamar pengantin).

 



 



Cacap-cacapan & Suap-suapan. foto Budaya & Tradisi Kota Palembang Cacap-cacapan & Suap-suapan. foto Budaya & Tradisi Kota Palembang

 



 Pada saat sepasang pengantin ini keluar mereka menggunakan pakaian khas Palembang yaitu aesan Pak Sangkong atau aesan gede :

Aesan Pak Sangkong
Salah satu gaya busana pengantin adat Palembang adalah Aesan Pak Sangkong. Busana macam ini juga digunakan sebagai Busana Pengantin adat diwilayah Ogan Komering Ilir (OKI) dan Ogan Ilir, Sumatera Selatan (ini kampung emak dan ayah saya). Pengantin wanita mengunakan baju kurung warna merah tabur bunga bintang keemasan, kain songket lepus, teratai penutup dada serta hiasan kepala berupa mahkota Pak Sangkong, Kembang goyang , kelapo standan, kembang kenago dan perhiasan mewah keemasan. Pengantin pria berjubah motif tabor bunga emas, seluar (celana) pengantin, songket lepus, selempang songket serta songkok emas menhiasi kepala.
Keindahan detil busana serta kilau perhiasan keemasan merupakan keistimewaan busana pengantin palembang Aesan Pak Sangkong. Warna merah ningrat pada baju kurung dan songket bersulam emas sungguh memikat, sebagai tanda keagungan warisan karya budaya semasa kejayaan bumi Sriwijaya.
Aesan Gede
Salah satu busana pengantin adat Palembang adalah gaya Aesan Gede. Sebagaimana namanya busana ini merupakan busana kebesaran raja Sriwijaya yang kemudian diterjemahkan sebagai busana pengantin Palembang. Warna merah jambu (pink) dipadu dengan keemasan mencerminkan keagungan bangsawan. Gemerlap perhiasan dan mahkota dipadukan baju dodot dan kain songket mempertegas keagungannya.
Keindahan gaya busana aesan gede memang tak terbantahkan. Mencitrakan keanggunan sosok bangsawan. Gemerlap perhiasan warnah merah keemasan tentunya menjadi pusat perhatian. Mahkota Aesan Gede, bungo cempako, kembang goyang, kelapo standan, merefeksikan kejayaan dan keragaman budaya semasa kejayaan Sriwijaya. Baju dodot dipadu kain songket lepus bermotif napan perak menjadi salah satu keunikannya.
Dengan salah satu pakaian pengantin tersebut maka kedua pengantin tersebut tempat acara untuk di lakukannya cacap-cacapan dan suap-suapan.

Suap-suapan
Kedua acara ini pada di bawakan oleh perempuan baik dari pembawa acara, pelantun pantun, pembaca doa, begitu juga dengan yang melakukan suapan dengan pengantin, pada saat di tempat acara pengantin perempuan duduk di belakang pengantin pria dan di lakukan suapan dari nasi kunyit panggang ayam (mirip seperti tumpeng).
Cacapan-cacapan
Untuk cacap-capan ritual yang di lakukan sama seperti suap-suapan tetapi untuk cacap-cacapan ini berupa air bunga yang di usapkan di dahi dan ubun-ubun (seputaran kepala), untuk sekarang biasanya kedua acara di atas sudah di campur antara perempuan dan laki-laki jadi ada juga yang melakukan cacap-cacapan adalah laki-laki ayah dari pengantin perempuan dan pengantin laki-laki.
Setelah acara ini biasanya di lakukan acara perjamuan dengan susunan makanan panjang di mana di tengahnya ada kelmplang “Tunjung”, srikaya, bolu kojo, bluder dan berbagai makanan lainnya (untuk di ingat biasanya kelmplang tunjung hanya di jadikan sebagai symbol tidak boleh di makan).
Tetapi sekarang ini karena perubahan zaman biasanya setelah kedua acara di atas langsung ke tempat acara resmi seperti ke tenda atau gedung tempat di langsungkannya resepsi pernikahan.


 



SETELAH PERNIKAHAN

 



Nganter Bangkeng

Setelah acara munggah selesai, malamnya rombongan muda-mudi dari pihak laki-laki datang ke rumah mempelai wanita untuk mengantarkan pakaian-pakaian mempelai laki-laki.
Muda-mudi dari pihak laki-laki ini disambut oleh muda-mudi dari pihak wanita dengan mengadakan acara gayung bersambut (Ningkuk) sampai larut malam. Inilah yang dinamakan acara “nganter bangkeng”.

Hari Perayaan I:

Hari perayaan biasanya di adakan keesokan harinya di rumah mempelai laki-laki (Jika pada saat munggah sudah di tempat perempuan). Pada hari perayaan ini, kedua mempelai dijemput oleh pihak keluarga mempelai laki-laki untuk dibawa ke rumah keluarga mempelai laki-laki, untuk mengadakan suatu acara yang dinamakan “perayaan”.
Acara perayaan ini khusus untuk remaja putri atau gadis-gadis saja, dengan memakai dan mengenakan baju kebaya dan berkain panjang serta berselendang. Hiburannya adalah orkes melayu atau orkes gambus.
Zaman dulu perayaan ini bukan hanya ada juga yang di sebut “Fatayat” yaitu kumpulan ibu-ibu terutama dari pengajian berkumul dengan membaca puji-pujian kepada allah ataupun tadarusan.
Musik yang di pakai pada saat itu adalah Orkes tanjidor yang ber irama melayu tetapi untuk acara saweran biasyanya penyanyinya adalah “banci’yang sudah di dandani bukan seperti sekarang acara Orgen Tunggal dengan penyanyi wanita yang seksi..
 

 



 

 



Nyanjoi
Rombongan muda-mudi dari pihak mempelai wanita datang ke rumah mempelai laki-laki. Kedatangannya disambut oleh muda-mudi dari pihak mempelai laki-laki dan diisi dengan acara gayung bersambut. Inilah yang dinamakan “nyanjoi penganten”.

Hari Perayaan II:

Kedua mempelai dijemput oleh pihak keluarga mempelai wanita untuk dibawa ke rumah mempelai wanita. Maksud penjemputan ini adalah untuk mengadakan acara perayaan yang kedua kalinya, karena perayaan yang pertama sudah diadakan di rumah mempelai laki-laki. Acara perayaan ini tidak jauh berbeda dengan yang diadakan di rumah mempelai laki-laki yang lalu.

 



Mandi Simburan:

Setelah acara perayaan di rumah mempelai wanita ini selesai, pada sore harinya ada lagi acara pengantin mandi dan diikuti oleh semua keluarga. Acara ini dinamakan “mandi simburan”.
Pada acara ini di siapkan tempat (baskom) yang berisi air dan bunga dan juga rangkaian dari janur untuk prosesi mandi simburan ini, selain kedua mempelai kemeriahaan acara ini di ikuti oleh seluruh keluarga dan masyarakat di lingkungan tempat acara berlangsung umumnya kalau acara mandi simburan ini sudah berlangsung seluruhnya bisa basah.
Setelah mandi simburan ini maka secara resmi pengantin dapat berkumpul untuk melakukan hubungan badan, dan keesokan harinya sebelum di lakukannya “ratiban” maka pengantin laki-laki pulang ke rumah nya untuk memberi tahukan kepada orang tuanya bahwa mereka sudah berkumpul sebagai tanda pengantin laki-laki memberikan emas atau pakaian sebagai tanda atau “UPA” bahwa mereka sudah berkumpul.
Salah satu fungsi utama temu/tunggu jero yang berfungsi di sini adalah bahwa kalau di antara pengantin ada yang merasa kecewa misalnya ketahuan bahwa perempuan tersebut tidak “perwan lagi” atau pengantil laki-laki ternyata sudah memiliki istri sebelumnya maka orang yang pertama di kasih tau adalah “temu/tunggu jero”, oleh karena itulah pada zaman dahulu masyarakat Palembang sangat sedikit sekali yang melakukan perceraian dan juga dapat berfunsi sebagai penanggal atau penjaga keselamatan berlangsungnya seluruh acara perkawinan yang kemungkinan akan ada gangguan dari orang yang tak senang.


 



Beratip & Tepung Tawar
Akhir acara pihak keluarga mempelai wanita mengadakan acara, “beratip”. Acara ini sebagai penutup dari semua acara yang telah diadakan oleh pihak keluarga kedua mempelai. Acara ini juga untuk menyatakan rasa syukur kepada Allah SWT yang telah memberikan taufik, hidayah, dan rahmat-Nya kepada keluarga yang telah mengadakan semua acara dengan sukses dan selamat. Umumnya acara ini sekarang di lakukan pada Kamis malam atau malam Jumat walaupun pada dulunya sering di lakukan pada sabtu malam atau malam Minggu.
Ratib ini bukan hanya untuk penutup acara pengantin tetapi juga untuk acara-acara selamatan rumah baru, kenaikan pangkat, baru sembuh dari sakit dan beberapa acara lainnya oleh sebab itu ada juga yang di kenal dengan ratib saman.
Dalam upacara perkawinan adat Palembang, peran kaum wanita sangat dominan, karena hampirseluruh kegiatan acara demi acara diatur dan dilaksanakan oleh mereka. Pihak lelaki hanya menyiapkan “ponjen uang”. Acara yang dilaksanakan oleh pihak lelaki hanya cara perkawinan dan acara beratib yaitu acara syukuran disaat seluruh upacara perkawinan sudah diselesaikan.
 

 



 

 



Nyemputi
 Dua hari sesudah munggah biasannya dilakukan acara nyemputi. Pihak pengantin lelaki datang dengan rombongan menjemputi pengantin untuk berkunjung ketempat mereka, sedangkan dari pihak wanita sudah siap rombongan untuk nganter ke pengantin. Pada masa nyemputi penganten ini di rumah pengantin lelaki sudah disiapkan acara keramaian (perayaan). Perayaan yang dilakukan untuk wanita-wanita pengantin ini baru dilakukan pada tahun 1960-an, sedangkan sebelumnya tidak ada.

 



 

 



Ngater Penganten
 Pada masa nganter penganten oleh pihak besan lelaki ini, di rumah besan wanita sudah disiapkan acara mandi simburan. Mandi simburan ini dilakukan untuk menyambut malam perkenalan antara pengantin lelaki dengan pengantin wanita. Malam perkenalan ini merupakan selesainya tugas dari tunggu jeru yaitu wanita yang ditugaskan untuk mengatur dan memberikan petunjuk cara melaksanakan acara demi acara disaat pelaksanaan perkawinan. Wanita tunggu jeru ini dapat berfunsi sebagai penanggal atau penjaga keselamatan berlangsungnya seluruh acara perkawinan yang kemungkinan akan ada gangguan dari orang yang tak senang.

 



 

 



Dalam upacara perkawinan adat Palembang, peran kaum wanita sangat domonan, karena hampirseluruh kegiatan acara demi acara diatur dan dilaksanakan oleh mereka. Pihak lelaki hanya menyiapkan “ponjen uang”. Acara yang dilaksanakan oleh pihak lelaki hanya cara perkawinan dan acara beratib yaitu acara syukuran disaat seluruh upacara perkawinan sudah diselesaikan.

 













Bismillaahirrahmaanirrahiim Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.Ya ILLAHI… jadikanlah hati ini hati yg tenang, hidup yg berjalan bersama kehidupan, yg melihat & yg mendengar, yg tawadhu’ dalam ridha-MU Ya RABBI… janganlah jadikan hati ini mati, lemas dalam kesibukan hidup, gersang dalam kemarau rohaniah, kaku dalam kelongsong jasadi. hidupkanlah Ya ALLOH…sekeping hatiku yg tersisa ini dgn tangan belas kasih-MU, semoga jadi gerbang menuju cinta hakikiuntuk kehidupan abadi disisi-MU… Amiin Ya RABB… ( Siti Munawaroh Rachmana , Muslim Sufi )




Adat Palembang dalam Perkawinan








SITI Palembang


|  28 Agustus 2010  |  11:19






80




81
































     
   
   


10 dari 20 Kompasianer menilai Menarik.








Adat perkawinan Palembang adalah suatu pranata yang dilaksanakan berdasarkan budaya dan aturan di Palembang.



 

 



 



 

 



Melihat adat perkawinan Palembang, jelas terlihat bahwa busana dan ritual adatnya mewariskan keagungan
serta kejayaan raja-raja dinasti Sriwijaya yang mengalaimi keemasan berpengaruh di Semananjung Melayu berabad silam. Pada zaman kesultanan Palembang berdiri sekitar  abad 16 lama berselang setelah runtuhnya dinasti Sriwijaya, dan pasca Kesultanan pada dasarnya perkawinan ditentukan oleh keluarga besar dengan pertimbangan bobot, bibit dan bebet.

 



 

 



Pada masa sekarang ini perkawinan banyak ditentukan oleh kedua pasang calon mempelai pengantin itu sendiri.

 



 

 



Untuk memperkaya pemahaman dan persiapan pernikahan, berikut ini uraian tata cara dan pranata yang berkaitan dengan perkawinan Palembang.Milih Calon



 

 



Calon dapat diajukan oleh si anak yang akan dikawinkan, dapat juga diajukan oleh orang tuannya. Bila dicalonkan oleh orang tua, maka mereka akan menginventariskan dulu siapa-siapa yang akan dicalonkan, anak siapa dan keturunan dari keluarga siapa.

 






 



SEBELUM PERNIKAHAN

 



 

 



Madik

 




Madik Berasal dari kata bahasa Jawa Kawi yang berarti  mendekat atau pendekatan. Madik adalah suatu proses penyelidikan atas seorang gadis yang dilakukan oleh utusan pihak keluarga pria.Tujuannya untuk perkenalan, mengetahui asal usul serta silsilah keluarga masing-masing serta melihat apakah gadis tersebut belum ada yang meminang.

 



Pada zaman dahulu madik di lakukan pihak pria apabila ada kesukaan yang di lihat oleh seorang pria atas wanita di mana telah terjadi pertemuan sebelumnya seperti pria yang melihat dan tertarik pada seorang wanita pada acara cawisan atau fatayat, karena ketertatikan inilah maka pihak pria akan mengirimkan utusannya. Yang kebanyakan utusan tersebut adalah perempuan yang bisa melihat langsung wanita yang sedang di padik baik dari fisik maupun keterampilan (seperti mengaji Al Quran, Masak, Menjahit dan keterampilan lainnya) tetapi terkadang ada pula utusan adalah seorang pria.
Pertama-tama keluarga calon mempelai laki-laki mengadakan observasi atau pengamatan terhadap calon mempelai wanita dan keluarganya. Begitu juga sebaliknya, keluarga calon mempelai wanita mengadakan pengamatan juga terhadap calon mempelai laki-laki dan keluarganya.
Dalam pengamatan ini untuk mengetahui asal-usul, silsilah, dan gelarnya masing-masing. Gelar suku Palembang ada empat (4) tingkatan, antara lain:
Laki-laki Perempuan

Raden – Raden Ayu
Masagus – Masayu
Kemas – Nyimas
Kiagus – Nyayu

Tetapi pada saat sekarang madik sudah jarang di lakukan dan sudah jarang terdengan tetapi mungkin di sebagian masyarakan asli Palembang masih di lakukan dan madik ini juga di lakukan juga oleh dari keturunan Arab mereka lakukan pada saat adanya acara Gambusan ataupun sambrahan/bedana.
Untuk masyarakat Palembang sendiri saat ini madik sepertinya tidak di pakai lagi karena seiring perkembangan zaman tetapi yang masih seirng terjadi adalah “Rasan Tuo” di mana dari dua keluarga pihak pria dan wanita menjodohkan anak mereka masing-masing denagn tujuan untuk mempererat tali keutuhan keluarga.
 

 



 

 



Menyenggung
Menyengguk atau sengguk berasal dari bahasa Jawa kuno yang artinya memasang “pagar” agar gadis yang dituju tidak diganggu oleh sengguk (sebangsa musang, sebagai kiasan tidak diganggu perjaka lain). Menyengguk dilakukan apabila proses Madik berhasil dengan baik, untuk menunjukkan keseriusan, keluarga besar pria mengirimkan utusan resmi kepada keluarga si gadis. Utusan tersebut membawa tenong atau sangkek terbuat dari anyaman bambu berbentuk bulat atau segi empat berbungkus kain batik bersulam emas berisi makanan, dapat juga berupa telor, terigu, mentega, dan sebagainya sesuai keadaan keluarga si gadis.

 



 

 



Ngebet

 



 

 



 Bila proses sengguk telah mencapai sasaran, maka kembali keluarga dari pihak pria berkunjung dengan membawa tenong sebanyak 3 buah, masing-masing berisi terigu, gula pasir dan telur itik. Pertemuan ini sebagai tanda bahwa kedua belah pihak keluarga telah “nemuke kato” serta sepakat bahwa gadis telah ‘diikat’ oleh pihak pria. sebagai tanda ikatan, utusan pria memberikan bingkisan pada pihak wanita berupa kain, bahan busana, ataupun benda berharga berupa sebentuk cincin, kalung, atau gelang tangan.

 



 

 



Berasan
 Berasal dari bahasa Melayu artinya bermusyawarah, yaitu bermusyawarah untuk menyatukan dua keluarga menjadi satu keluarga besar. Pertemuan antara dua pihak keluarga ini dimaksudkan untuk menentukan apa yang diminta oleh pihak si gadis dan apa yang akan diberikan oleh pihak pria. Pada kesempatan itu, si gadis berkesempatan diperkenalkan kepada pihak keluarga pria. Biasanya suasana berasan ini penuh dengan pantun dan basa basi. Setelah jamuan makan, kedua belah pihak keluarga telah bersepakat tentang segala persyaratan perkawinan baik tata cara adat maupun tata cara agama Islam. Pada kesempatan itu pula ditetapkankapan hari berlangsungnya acara “mutuske kato”. Dalam tradisi adat Palembang dikenal beberapa persyaratan dan tata cara pelaksanaan perkawinan yang harus disepakati oleh kedua belah pihak keluarga, baik secara syariat agama Islam, maupun menurut adat istiadat. Menurut syariat agama Islam, kedua belah pihak sepakat tentang jumlah mahar atau mas kawin, Sementara menurut adat istiadat, kedua pihak akan menyepakati adat apa yang akan dilaksanakan, apakah adat Berangkat Tigo Turun, adat Berangkat duo Penyeneng, adat Berangkat Adat Mudo, adat Tebas, ataukah adat Buntel Kadut, dimana masing-masing memiliki perlengkapan dan persyaratan tersendiri.

 



Setelah mengetahui hal-hal yang paling kecil sekalipun, maka keluarga calon mempelai laki-laki mengutus beberapa orang untuk melamar pada pihak keluarga calon mempelai wanita. Utusan ini dipimpin oleh seorang yang pandai berbicara, baik masalah adat maupun masalah-masalah yang lainnya.
Rombongan utusan ini membawa sangkek-sangkek yang berisi bahan-bahan mentah, seperti: Gula, gandum, telur, dan lain-lain. Jumlah sangkek-sangkek ini selalu ganjil, yaitu: tiga, lima, tujuh, dan seterusnya. Jumlah sangkek-sangkek ini juga menunjukkan tingkat kemampuan sosial ekonomi dari keluarga pihak mempelai laki-laki.
 

 



 

 



Mutuske Kato
 Acara ini bertujuan kedua pihak keluarga membuat keputusan dalam hal yang berkaitan dengan:”hari ngantarke belanjo” hari pernikahan, saat Munggah, Nyemputi dan Nganter Penganten, Ngalie Turon, Becacap atau Mandi Simburan dan Beratib. Untuk menentukan hari pernikahandan acara Munggah, lazim dipilih bulan-bulan Islam yang dipercaya memberi barokah bagi kedua mempelai kelak yakni bulan Robiul Awal, Robiul Akhir, Jumadilawal, Jumadilakhir. Bulan-bulan tersebut konon dipercayah bahwa bulan purnama sedang cantik-cantiknya menyinari bumi sehingga cahayanya akan menjadi penerang kehidupan bagi kedua mempelai secerah purnama. Saat ‘mutuske kato’ rombongan keluarga pria mendatangi kediaman pihak wanita dimana pada saat itu pihak pria membawa 7 tenong yang antara lain berisi gula pasir, terigu, telur itik, pisang dan buah-buahan. Selain membuat keputusan tersebut, pihak pria juga memberikan (menyerahkan) persyaratan adat yang telah disepakati saat acara berasan. sebagai contohnya, bila sepakat persyaratan adat Duo Penyeneng, maka pihak pria pada saat mutoske kato menyerahkan pada pihak gadis dua lembar kemben tretes mider, dua lembar baju kurung angkinan dan dua lembar sewet songket cukitan. Berakhirnya acara mutuske kato ditutup dengan doa keselamatan dan permohonan pada Allah SWT agar pelaksanaan perkawinan berjalan lancar. Disusul acara sujud calon pengantin wanita pada calon mertua, dimana calon mertua memberikan emas pada calon mempelai wanita sebagai tanda kasihnya. Menjelang pulang 7 tenong pihak pria ditukar oleh pihak wanita dengan isian jajanan khas Palembang untuk dibawa pulang.

 



 

 



Nganterke Belanjo

 





 



serah-serahan . foto pribadi serah-serahan . foto pribadi

 



 



foto pribadi serah-serahan foto pribadi serah-serahanserah-serahan . foto pribadi

 



 
 Prosesi nganterke belanjo biasanya dilakukan sebulan atau setengah bulan bahkan beberapa hari sebelum acara Munggah. Prosesi ini lebih banyak dilakukan oleh kaum wanita, sedangkan kaum pria hanya mengiringi saja.
Uang belanja (duit belanjo) dimasukan dalam ponjen warna kuning dengan atribut pengiringnya berbentuk manggis. Hantaran dari pihak calon mempelai pria ini juga dilengkapi dengan nampan-nampan paling sedikit 12 buah berisi aneka keperluan pesta, antara lain berupa terigu, gula, buah-buahan kaleng,  hingga kue-kue dan jajanan. Lebih dari itu diantar pula’enjukan’ atau permintaan yang telah ditetapkan saat mutuske kato, yakni berupa salah satu syarat adat pelaksanaan perkawinan sesuai kesepakatan. Bentuk gegawaan yang juga disebut masyarakat Palembang ‘adat ngelamar’ dari pihak pria (sesuai dengan kesepakatan) kepada pihak wanita berupa sebuah ponjen warna kuning berisi duit belanjo yang dilentakan dalam nampan, sebuah ponjen warna kuning berukuran lebih kecil berisi uang pengiring duit belanjo, 14 ponjen warna kuning kecil diisi koin-koin logam sebagai pengiring duit belanjo, selembar selendang songket, baju kurung songket, sebuah ponjen warna kuning berisi uang’timbang pengantin’ 12 nampan berisi aneka macam barang keperluan pesta, serta kembang setandan yang ditutup kain sulam berenda.

 



Total gegawan yang di bawa pada saat naganterke belanjo adalah sebanyak 24 nampan/dulang terdiri dari 12 nampan berisi kebutuhan makan dan 12 nampan untuk kebutuhan dan perlengkapan pengantin, dan dulu biasanya yang melakukan nganterke belanjo bisanya untusan dari keluarga mempelai laki-laki dan orang tua dari calon mempelai laki-laki itu sendiri tidak mengikuti acara tersebut ini bertujan mempercayakan sesuatu yang di bawa atau di antar ke calon mempelai perempuan akan sampai (pemupukan rasa percaya).
Salah satu adat yang ada dan sempat di lihat adalah pada saat penerimaan pihak calon mempelai perempuan mempersiapkan tadok “berunang” (bakul besar seperti bakul cina) untuk tempat penerimaan dimana barang-barang yang di terima di masukan seluruhnya kesana dan setelah selesai langsung di ikat dan di bawa masuk.
Untuk tempat uang sekarang sudah jarang dilihat yang menggunakan ponjen tetapi digantikan dengan manggis (Manggis di buat dari kertas manggis di bentuk kotak persegi tetapi memiliki sudut yang berbeda di keempat sisinya) sekarang biasanya manggis besar disi untuk uang belanja dan di iringi dengan manggis kecil yang berisi uang logam yang jumlahnya terkadang 12 s/d 14 buah.
 

 



 

 



Persiapan Menjelang Akad Nikah



 

 



Ada beberapa ritual yang biasanya dilakukan terhadap calon pengantin wanita yang biasanya dipercaya berkhasiat untuk kesehatan kecantikan, yaitu betangas. Betangas adalah mandi uap, kemudian Bebedak setelah betangas, dan berpacar (berinai) yang diberikan pada seluruh kuku kaki dan tangan dan juga telapak tangan dan kaki yang disebut pelipit.

 



Dulunya kegiatan ini di lakukan seseorang yang bertindak sebagi pelayang pengantin yang bertindak sebagai “Temu Jero” di mana seluruh kegiatan di atas di lakukan oleh beliau selama beberapa hari tersebut sampai dengan acara terakhir yaitu ratiban.

 



Betangas.
Merupakan mandi uap dengan ramuan rempah-rempah dimana kita duduk diatas kursi atau tempat yang telah di sediakan dan di bawah tempat duduk tersebut di berikan uap dari rebusan rempah-rempah, para calon pengantin menggunakan kain untuk menutupi seluruh badan kecuali muka, bahkan sebagian calon pengantin menutup secara keseluruhan.
Betangas ini bertujuan untuk mengeluarkan keringat dan membersihkan pori-pori biar pada saat hari H diharapkan tidak banyak mengeluarkan keringat dan bau.

Bebedak
Bebedak istilah untuk mendandai calon penganten secantik mungkin dari tatanan rambut, muka badan kaki tangan dan keseluruhannya.

Bepacar
Berpacar (berinai) yang diberikan pada seluruh kuku kaki dan tangan dan juga telapak tangan dan kaki yang disebut pelipit. Pacar ini juga menandakan bahwa mereka akan memasuki kehidupan baru sebagai pasangan rumah tangga.
Ada satu lagi kegiatan yang di fungsikan untuk mengetahui dan menelusuri silsiah dan ini biasanya dilakukan beberapa hari sebelum akad nikah yaitu ziarah.
 
 Upacara Akad Nikah
Menyatukan sepasang kekasih menjadi suami istri untuk memasuki kehidupan berumahtangga. Upacara ini dilakukan dirumah calon pengantin pria, seandainya dilakukan dirumah calon pengantin wanita, maka dikatakan ‘kawin numpang’. Akan tetapi sesuai dengan perkembangan masa, kini upacara akad nikah berlangsung dikediaman mempelai wanita. Sesuai tradisi bila akad nikah sebelum acara Muggah, maka utusan pihak wanita terlebih dahulu ngantarke keris ke kediaman pihak pria.

 



Pada zaman dahulu juga pada saat akad nikah ada timbangan dan kitab suci dimana Al Quran yang berarti rumah tangga untuk menjalankan syariat agama dan berlaku adil, dan karena berucap di depan Al Quran dan timbangan pada zaman dahulu jarang sekali terjadi perceraian karena takut kualat karena telah berucap.
Bila akad nikah ini dilakukan jauh hari sebelum acara munggah dan akad nikah tersebut di lakukan di tempat pengantin perempuan maka pengantin pria akan pulang ke rumahnya, dan kembali saat pagi seelum acara munggah.
 

 



 

 



Ngocek Bawang
 Ngocek Bawang diistilahkan untuk melakukan persiapan awal dalam menghadapi hari munggah. Pemasangan tapup, persiapan bumbu-bumbu masak dan lain sebagainya disiapkan pada hari ini. Ngocek bawang kecik ini dilakukan dua hari sebelum acara munggah.
Selanjutnya pada esok harinya sehari sebelum munggah, dilakukan acara ngocek bawang besak. Seluruh persiapan berat dan perapian segala persiapan yang belum selesai dikerjakan pada waktu ini. Daging, ayam dan lain sebagainya disiapkan saat munggah, mengundang (ngulemi) ke rumah besannya, dan si pihak yang di ulemi pada masa ngocek bawang wajib datang, biasannya pada masa ini diutus dua orang yaitu wanita dan pria.

 



 

 



Munggah
 Prosesi ini merupakan puncak rangkaian acara perkawinan adat Palembang. Hari munggah biasanya ditetapkan hari libur diantara sesudah hari raya Idul Fitri & Idul Adha. Pada pagi hari sebelum acara, dari pihak mempelai wanita datang ke pihak laki-laki (ngulemi) dengan mengutus satu pasang lelaki & wanita.
Selain melibatkan banyak pihak keluarga kedua mempelai, juga dihadiri para tamu undangan. Munggah bermakna agar kedua pengantin menjalani hidup berumah tangga selalu seimbang atau timbang rasa, serasi dan damai.
Pelaksanaan Munggah dilakukan dirumah kediaman keluarga pengantin wanita. Sebelum prosesi Munggah dimulai terlebih dahulu dibentuk formasi dari rombongan pria yang akan menuju kerumah kediaman keluarga pengantin wanita. Sebelum prosesi Munggah dimulai terlebih dahulu dibentuk formasi yang akan berangkat menuju rumah pengatin wanita. Formasi itu adalah :

 



 



Ngarak -kumpulan-grup-rudat. foto Google Ngarak -kumpulan-grup-rudat. foto Budaya & Tradisi Kota Palembang

 



 

 



 

 



Kumpulan (grup) Rudat dan Kuntau

 



 

 



Pada saat pengantin lelaki di antar kembali ke tempat pengantin prempuan sebelum acara munggah dan diarak pakai rebana. Mempelai laki-laki diantar oleh keluarganya dengan membawa barang-barang, dari bahan makanan sampai pakaian, yang diletakkan di dalam nampan atau hidangan, namanya “gawaan”.
Mempelai laki-laki didampingi seorang pendamping, yang membawa bunga langsir. Ini melambangkan penyerahkan dari pihak laki-laki untuk diterimakannya menjadi keluarga pada pihak wanita. Arak-arakan ini dinamakan “munggah”.

 



Kuntau (Pencak Silat)/Betanggem & Pembawa Bunga Langsih
Pada saat kedatangan ini biasanya di awali dengan berbalas pantun dan atraksi buka palang pintu dari pencak silat, dan Pengatin Pria yang diapit oleh kedua orang tua, dua orang pembawa tombak, seorang pembawa payung pengantin, didampingi juru bicara, pembawa bunga langsih dan pembawa ponjen adat serta pembawa hiasan adat dan gegawan ,yang terpenting dari kedatangan ini adalah bunga langsih (bunga yang di maksud terserah jenis bungnya apa yang penting enak di pandang dan sekarang banyak juga yang mengganti bunga langsih ini dengan bunga plastic) yang harus di bawa karena kalau tidak ada pengantin tidak akan dapat masuk kerumah pengantin perempuan.
Pada saat sampai ini maka pengantin perempuan akan memberikan kain tajung dan kemeja kepada pengantin pria “Pemapak” dan dibuatkan “jerambah” (kain panjang biasa atau dari selendang songket yang di bentangkan dari pintu masuk sampai ke pintu kamar pengantin).

 



 



Cacap-cacapan & Suap-suapan. foto Budaya & Tradisi Kota Palembang Cacap-cacapan & Suap-suapan. foto Budaya & Tradisi Kota Palembang

 



 Pada saat sepasang pengantin ini keluar mereka menggunakan pakaian khas Palembang yaitu aesan Pak Sangkong atau aesan gede :

Aesan Pak Sangkong
Salah satu gaya busana pengantin adat Palembang adalah Aesan Pak Sangkong. Busana macam ini juga digunakan sebagai Busana Pengantin adat diwilayah Ogan Komering Ilir (OKI) dan Ogan Ilir, Sumatera Selatan (ini kampung emak dan ayah saya). Pengantin wanita mengunakan baju kurung warna merah tabur bunga bintang keemasan, kain songket lepus, teratai penutup dada serta hiasan kepala berupa mahkota Pak Sangkong, Kembang goyang , kelapo standan, kembang kenago dan perhiasan mewah keemasan. Pengantin pria berjubah motif tabor bunga emas, seluar (celana) pengantin, songket lepus, selempang songket serta songkok emas menhiasi kepala.
Keindahan detil busana serta kilau perhiasan keemasan merupakan keistimewaan busana pengantin palembang Aesan Pak Sangkong. Warna merah ningrat pada baju kurung dan songket bersulam emas sungguh memikat, sebagai tanda keagungan warisan karya budaya semasa kejayaan bumi Sriwijaya.
Aesan Gede
Salah satu busana pengantin adat Palembang adalah gaya Aesan Gede. Sebagaimana namanya busana ini merupakan busana kebesaran raja Sriwijaya yang kemudian diterjemahkan sebagai busana pengantin Palembang. Warna merah jambu (pink) dipadu dengan keemasan mencerminkan keagungan bangsawan. Gemerlap perhiasan dan mahkota dipadukan baju dodot dan kain songket mempertegas keagungannya.
Keindahan gaya busana aesan gede memang tak terbantahkan. Mencitrakan keanggunan sosok bangsawan. Gemerlap perhiasan warnah merah keemasan tentunya menjadi pusat perhatian. Mahkota Aesan Gede, bungo cempako, kembang goyang, kelapo standan, merefeksikan kejayaan dan keragaman budaya semasa kejayaan Sriwijaya. Baju dodot dipadu kain songket lepus bermotif napan perak menjadi salah satu keunikannya.
Dengan salah satu pakaian pengantin tersebut maka kedua pengantin tersebut tempat acara untuk di lakukannya cacap-cacapan dan suap-suapan.

Suap-suapan
Kedua acara ini pada di bawakan oleh perempuan baik dari pembawa acara, pelantun pantun, pembaca doa, begitu juga dengan yang melakukan suapan dengan pengantin, pada saat di tempat acara pengantin perempuan duduk di belakang pengantin pria dan di lakukan suapan dari nasi kunyit panggang ayam (mirip seperti tumpeng).
Cacapan-cacapan
Untuk cacap-capan ritual yang di lakukan sama seperti suap-suapan tetapi untuk cacap-cacapan ini berupa air bunga yang di usapkan di dahi dan ubun-ubun (seputaran kepala), untuk sekarang biasanya kedua acara di atas sudah di campur antara perempuan dan laki-laki jadi ada juga yang melakukan cacap-cacapan adalah laki-laki ayah dari pengantin perempuan dan pengantin laki-laki.
Setelah acara ini biasanya di lakukan acara perjamuan dengan susunan makanan panjang di mana di tengahnya ada kelmplang “Tunjung”, srikaya, bolu kojo, bluder dan berbagai makanan lainnya (untuk di ingat biasanya kelmplang tunjung hanya di jadikan sebagai symbol tidak boleh di makan).
Tetapi sekarang ini karena perubahan zaman biasanya setelah kedua acara di atas langsung ke tempat acara resmi seperti ke tenda atau gedung tempat di langsungkannya resepsi pernikahan.


 



SETELAH PERNIKAHAN

 



Nganter Bangkeng

Setelah acara munggah selesai, malamnya rombongan muda-mudi dari pihak laki-laki datang ke rumah mempelai wanita untuk mengantarkan pakaian-pakaian mempelai laki-laki.
Muda-mudi dari pihak laki-laki ini disambut oleh muda-mudi dari pihak wanita dengan mengadakan acara gayung bersambut (Ningkuk) sampai larut malam. Inilah yang dinamakan acara “nganter bangkeng”.

Hari Perayaan I:

Hari perayaan biasanya di adakan keesokan harinya di rumah mempelai laki-laki (Jika pada saat munggah sudah di tempat perempuan). Pada hari perayaan ini, kedua mempelai dijemput oleh pihak keluarga mempelai laki-laki untuk dibawa ke rumah keluarga mempelai laki-laki, untuk mengadakan suatu acara yang dinamakan “perayaan”.
Acara perayaan ini khusus untuk remaja putri atau gadis-gadis saja, dengan memakai dan mengenakan baju kebaya dan berkain panjang serta berselendang. Hiburannya adalah orkes melayu atau orkes gambus.
Zaman dulu perayaan ini bukan hanya ada juga yang di sebut “Fatayat” yaitu kumpulan ibu-ibu terutama dari pengajian berkumul dengan membaca puji-pujian kepada allah ataupun tadarusan.
Musik yang di pakai pada saat itu adalah Orkes tanjidor yang ber irama melayu tetapi untuk acara saweran biasyanya penyanyinya adalah “banci’yang sudah di dandani bukan seperti sekarang acara Orgen Tunggal dengan penyanyi wanita yang seksi..
 

 



 

 



Nyanjoi
Rombongan muda-mudi dari pihak mempelai wanita datang ke rumah mempelai laki-laki. Kedatangannya disambut oleh muda-mudi dari pihak mempelai laki-laki dan diisi dengan acara gayung bersambut. Inilah yang dinamakan “nyanjoi penganten”.

Hari Perayaan II:

Kedua mempelai dijemput oleh pihak keluarga mempelai wanita untuk dibawa ke rumah mempelai wanita. Maksud penjemputan ini adalah untuk mengadakan acara perayaan yang kedua kalinya, karena perayaan yang pertama sudah diadakan di rumah mempelai laki-laki. Acara perayaan ini tidak jauh berbeda dengan yang diadakan di rumah mempelai laki-laki yang lalu.

 



Mandi Simburan:

Setelah acara perayaan di rumah mempelai wanita ini selesai, pada sore harinya ada lagi acara pengantin mandi dan diikuti oleh semua keluarga. Acara ini dinamakan “mandi simburan”.
Pada acara ini di siapkan tempat (baskom) yang berisi air dan bunga dan juga rangkaian dari janur untuk prosesi mandi simburan ini, selain kedua mempelai kemeriahaan acara ini di ikuti oleh seluruh keluarga dan masyarakat di lingkungan tempat acara berlangsung umumnya kalau acara mandi simburan ini sudah berlangsung seluruhnya bisa basah.
Setelah mandi simburan ini maka secara resmi pengantin dapat berkumpul untuk melakukan hubungan badan, dan keesokan harinya sebelum di lakukannya “ratiban” maka pengantin laki-laki pulang ke rumah nya untuk memberi tahukan kepada orang tuanya bahwa mereka sudah berkumpul sebagai tanda pengantin laki-laki memberikan emas atau pakaian sebagai tanda atau “UPA” bahwa mereka sudah berkumpul.
Salah satu fungsi utama temu/tunggu jero yang berfungsi di sini adalah bahwa kalau di antara pengantin ada yang merasa kecewa misalnya ketahuan bahwa perempuan tersebut tidak “perwan lagi” atau pengantil laki-laki ternyata sudah memiliki istri sebelumnya maka orang yang pertama di kasih tau adalah “temu/tunggu jero”, oleh karena itulah pada zaman dahulu masyarakat Palembang sangat sedikit sekali yang melakukan perceraian dan juga dapat berfunsi sebagai penanggal atau penjaga keselamatan berlangsungnya seluruh acara perkawinan yang kemungkinan akan ada gangguan dari orang yang tak senang.


 



Beratip & Tepung Tawar
Akhir acara pihak keluarga mempelai wanita mengadakan acara, “beratip”. Acara ini sebagai penutup dari semua acara yang telah diadakan oleh pihak keluarga kedua mempelai. Acara ini juga untuk menyatakan rasa syukur kepada Allah SWT yang telah memberikan taufik, hidayah, dan rahmat-Nya kepada keluarga yang telah mengadakan semua acara dengan sukses dan selamat. Umumnya acara ini sekarang di lakukan pada Kamis malam atau malam Jumat walaupun pada dulunya sering di lakukan pada sabtu malam atau malam Minggu.
Ratib ini bukan hanya untuk penutup acara pengantin tetapi juga untuk acara-acara selamatan rumah baru, kenaikan pangkat, baru sembuh dari sakit dan beberapa acara lainnya oleh sebab itu ada juga yang di kenal dengan ratib saman.
Dalam upacara perkawinan adat Palembang, peran kaum wanita sangat dominan, karena hampirseluruh kegiatan acara demi acara diatur dan dilaksanakan oleh mereka. Pihak lelaki hanya menyiapkan “ponjen uang”. Acara yang dilaksanakan oleh pihak lelaki hanya cara perkawinan dan acara beratib yaitu acara syukuran disaat seluruh upacara perkawinan sudah diselesaikan.
 

 



 

 



Nyemputi
 Dua hari sesudah munggah biasannya dilakukan acara nyemputi. Pihak pengantin lelaki datang dengan rombongan menjemputi pengantin untuk berkunjung ketempat mereka, sedangkan dari pihak wanita sudah siap rombongan untuk nganter ke pengantin. Pada masa nyemputi penganten ini di rumah pengantin lelaki sudah disiapkan acara keramaian (perayaan). Perayaan yang dilakukan untuk wanita-wanita pengantin ini baru dilakukan pada tahun 1960-an, sedangkan sebelumnya tidak ada.

 



 

 



Ngater Penganten
 Pada masa nganter penganten oleh pihak besan lelaki ini, di rumah besan wanita sudah disiapkan acara mandi simburan. Mandi simburan ini dilakukan untuk menyambut malam perkenalan antara pengantin lelaki dengan pengantin wanita. Malam perkenalan ini merupakan selesainya tugas dari tunggu jeru yaitu wanita yang ditugaskan untuk mengatur dan memberikan petunjuk cara melaksanakan acara demi acara disaat pelaksanaan perkawinan. Wanita tunggu jeru ini dapat berfunsi sebagai penanggal atau penjaga keselamatan berlangsungnya seluruh acara perkawinan yang kemungkinan akan ada gangguan dari orang yang tak senang.

 



 

 



Dalam upacara perkawinan adat Palembang, peran kaum wanita sangat domonan, karena hampirseluruh kegiatan acara demi acara diatur dan dilaksanakan oleh mereka. Pihak lelaki hanya menyiapkan “ponjen uang”. Acara yang dilaksanakan oleh pihak lelaki hanya cara perkawinan dan acara beratib yaitu acara syukuran disaat seluruh upacara perkawinan sudah diselesaikan.

 






 



 

 



 

 



 

 



 

 




 



 

 



NB ; Sumber dan di sarikan dari :
Mahligai “Inspirasi Pernikahan Adat Palembang”, Edisi ke-5 2007
“Kms Sofyan, SPd. Pendidik dan Pemerhati Kebudayaan Sumsel”
“Nyimas Rosidah – Masyarakat Palembang”
 




































































 



 

 



 

 



 

 



 

 




 



 

 



NB ; Sumber dan di sarikan dari :
Mahligai “Inspirasi Pernikahan Adat Palembang”, Edisi ke-5 2007
“Kms Sofyan, SPd. Pendidik dan Pemerhati Kebudayaan Sumsel”
“Nyimas Rosidah – Masyarakat Palembang”
 



 



 



 



 



 



 



 



 



 



 



 



 



 



 



 



 



 



 



 



 



 



 



 



 



 



 



 



 



 



 



 



 



 



 



 



 



 



 



 



 



 



 



 



 



 



 



 



 



 



 



 



 



 



 



 



 



 



 



 



 



 



 



 



 



 

Posted in Studi Kelayakan Tulisan Kompasiana | Leave a comment

Laporan Studi Kelayakan tulisan Kompasiana

HASIL STUDIKELAYAKAN TULISAN KOMPASIANA BULAN SEPTEMBER 2010

 Sesuai saran teman-teman kompasiana, mulai detik ini telah dibuka kesempatan mengikuti studi kelayakan tulisan para kompasiana, yang akan dilaksanakan pendaftaran tulisan Kompasina yang beraniikut studi untuk mendengar komentar 17.000 rakyat sedunia ,selama sepuluh hari dari tanggal 17 sampai 27 September 2010. Tulisan tersebut ditayangkan hanya sepuluh tulisan yang masuk paling awal, dan hasilnya akan diumumkan satu bulan lagi tanggal 27 oktober 2010.

Stdudi Kelayakan seperti ini berdasarkan Ide dari “American Idol” ,dimana suara Juri dibandingkan dengan suara Rakyat, ternyata tidak selalu sama hasilnya,dan ini akan diinformasikan kepada admin kompasianaa , dan para kompasiana untuk dapat dijadikan masukan, diupayakan dlam satu tahun terhimpun sepuluh karangan kompasiana terbaik menurut suara rakyat sedunia yang mampu membaca bahasa Indonesia,disarankan peserta memebrikan illustrasi terkait tulisan agar lebih menarik.

Buku Kroyokan kan dibuat dlam bentuk E-Book yang akn dijual liwat WEb Blog, Hasilanya akan dibagikan dengan sistem penerbit biasa, atau sesuai perundingan liwat dunia maya via e-mail.

Pertama kali penulis mohon izin dari admin Kompasiana, untuk melakukan studi kelayakan tulisan para kompasiana yang dipilih sebagai tulisan terbaik dlam bulan ini untuk dibandingkan dengan tulisan yang dikirim oleh kompasiana  ,dengan meminta komentar dari pembaca web Blog penulis hhtp://www.iwansuwandy.wordpress.com dan hhtp://www.uniquecollection.wordpress.com untuk menilai tulisan mana yang layak diterbitkan dalam “BUKU KUMPULAN ARTIKEL TERBAIK PARA KOMPASIANA PILIHAN RAKYAT INDONESIA DI DUNIA MAYA” dalam bentuk E-book dlam CR-rom. ini meniru ide “American Idol” Rakyat Amerika yang memilih liwat internet,juri hanya memberikan komewntar pribadi saja, Harap admin setuju, karena ini ide baru, saay harap nanti dpat diteruskan untuk priode kedua ,dimasukan dalam kompas.com. Biar kita dinamakAn negara Demokrasi, bukan Democrezy.

I.PENDAHULUAN

Ide ini muncul atas permintaan para kompasiana silahkan dibaca pada komentar dari tulisan:

berusaha memahami masa lalu dan memaafkan kekinian. sekarang terjebak di “kompasiana” sebagai tempat buang hajat. setelah lelah berkeliling mendagangkan bubur kacang ijo (burjo) untuk memenuhi ragawi.

Membuat Buku Keroyokan
Dewa Cengkar
|  8 September 2010  |  14:02
171
80
     
   
   
5 dari 8 Kompasianer menilai Bermanfaat.

 

II. METODE

1.Metode , para kompasiana yang ingin ikut studi kelayakane mendaftar terlebih dahulu untuk mendapat nomor prioritas,karena bila tidak diatur nanti kejepit seperti pembagian zakat dan baksos atau ketemu Pak Beye.

2.Peserta studi Kelayakan,segera mengirimkan nomor urut dan nama tulisannya yang terjempol untuk segera di add ke web blog.

3. sepuluh peserta paling awal mendaftar dan mengirimkan nama tulisannya yang mau ikut studi kelayakan selama waktu sepuluh hari dari tanggal 17-27 Sepetember.

4. Waktu untuk kesempatan rakyat memilih selama sepululh hari dari tanggal 27/9-7/10-2010

5. pengumunan hasil studi kelayakan pada tanggal 8/10-2010, dan dinyatan the best article this month (Sepetember 2010), dansegera dibuka lagi pengiriman tulisan  mulai tanggal 17-27 Oktober, dan selanjut nya selama sepuluh bulan agar ditemukan sepuluh tulisan terbaik tahun 2010-2011 . (The Bst Article of the year version Dr iwan.

III. HASIL STUDI KELAYAKAN BULAN SEPTEMBER 2010

1.KRONOLOGIS KEGIATAN STUDI KELAYAKAN

1).Hari Jum’at tanggal 17 September 2010 :

Hanya minta info belum kirim nama tulisan. :

17 September 2010 16:23
0

Kirimnya kemana yaa???……………………….

catatan Penulis :  sampai jam 24.00 belum ada komunikasi baru

2).tanggal  18 Sepetember 2010

(1) jam 13.00 : masih Nihil(mungkin takut ni ye???),

(2)Jam 18.00 : belum ada kiriman tulisan liwat  sapaan dalam tulisa tulisanKroyokan Kompasiana mungkin lagi melihat pameran dan pengumunan pemenang lomaba Superhero di Senayan atau tak punya komputer, kantor lagi tutup.

(3) jam 20.00 ada satu tulisan yang diajukan untuk studi kelayakan.

Jadi penasaran, tolong tag- kan cerpen saya berjudul “Debu – Debu Beterbangan.” Makasih.

18 September 2010 20:50
0

Jadi penasaran, tolong tag- kan cerpen saya berjudul “Debu – Debu Beterbangan.” Makasih

3. Minggu Tanggal 19 September 2010 

(1) Jam 10.00 WIB  sudah di kirim ke web blog hhtp://www.iwansuwandy.wordpress.com

Studi Kelayakan Tulisan Kompasiana (1)Judul :”Debu Debu Berterbangan”Posted on September 19, 2010 by iwansuwandy

Fiksi
Lihat Profil    Jadikan teman    Kirim Pesan
saya adalah diri saya, yang suka belajar, suka menulis. Sahabat yang baik membuat saya bahagia. Saya suka berteman. Teman bagi saya adalah aset, ia juga inspirasi sekaligus teman berbagi, terutama berbagi ilmu. Indahnya hidup jika mempunyai banyak teman – teman yang baik.

Debu-debu Beterbangan
Dewi Iriani
|  17 September 2010  |  14:10
(2) Jam 12.30 WIB : belum ada kiriman tulisan baru, komentar tulisan pertama belum ada.
(3) Jama 18.00 : belum ada tulisan baru, ada yang kurang mengerti maksud studi kelayakan, sudah saya berikan penjelasan, dan sudah empat penulis yang tulisannya dinali bermanfaat di minta untuk ikut , belum ada balasan, sibuk atau bagaimana???/
(3) jam 16.45, satu tilisan karangan Siti Palembang Ikut studi kelayakan:

SAPAAN Tulis Sapaan<!– | Komentar Selengkapnya–>

19 September 2010 18:30

silakan , dengan senang hati

judul tulisan :adat perkawinan palembang

4. Senin tanggal 20 September 2010
(1) Jam 6.00 wib , ada dua tulisan yang ikut studi kelayakan , nomor urut tiga dan empat
(a)

19 September 2010 | 22:43 via Mobile Web
0

judulnya: Siapakah yang Mati di Sini

19 September 2010 | 22:49 via Mobile Web
0

ikutan uji nyali yaah…

 (b)

19 September 2010 | 22:32
0

mas iwan, uji nyali nih.. ikutan ya.. tag, cerpen daku yang berjudul, ibu guru, idolaku…
makasih ya..
wasalam

4. 20 Sepetember 2010

(1). Jam 7.30 WIB : tambahan satu tulisan JGA Wibowo, berjudul “Isatana Sultan Siak di provinsi Riau”

19 September 2010 11:12
0

Pak JGA Wibowo, mau iktu studi kelayakan tulisan anda , didalm Web Blog saaya, dalam rangka mencari tulisan terbaik yang dipilih 17.000 permisa web blog saya, tentang info baca” dalam tulisan Buku Kroyokan”, Hal ini untuk membandingkan perbandingan kreteria adm Kompasiana dan suar rakyat sedunia, ide dari “American Idol” dimana seklalu ada perbedaan antara suara juri dan rakyat, silahkan ikut .waktu tinggal satu minggu lagi, baru satu tulisan yang iktu sudah di add dalm web blog tersebut. Ini kreasi dan studi pribadi saya, untuk menjadi masukan bagi adm kompasiana.

19 September 2010 | 22:04
0

Pak Iwan, jadi bagaimana caranya? saya belum paham nih..

20 September 2010 | 04:58
0

tulisan bapak JGA Widodo saya minta izin untuk ditag ke web blog saya, agar para pemirsa blog tersebut sebayaj 17.000 orang akan menilai tulisan baak, ini studi kelayakan yang saya buat secara pribadi dalam rangka meminta pendapat rakyat Indonesia, bukan dari sesama kompasiana, bagaimana, diberikan izin atau tidak ? sudash ada dua tulisan ikut kegiatan tersebut. saya pilih sepuluh terbaik menurut versi saya pribadi.

20 September 2010 | 06:55
0

Oh begitu, silahkan Pak Iwan, dengan senang hati. Saya sangat ingin belajar dari kritik dan saran dari forum nya Pak Iwan.

Salam,

Studikelayakan Kompasiana(5)” Istana Kesultanan Siak di Provinsi Riau “Posted on September 20, 2010 by iwansuwandy

Wisata
Lihat Profil    Jadikan teman    Kirim Pesan
Menulis mendorong saya untuk belajar dan membantu menata informasi yang saya dapat menjadi suatu pengertian. Saya senang mengamati masalah seni, sosial, sejarah, politik dan pariwisata.

Istana Kesultanan Siak di Provinsi Riau
(2) Jam 8.00 WIB: tambahan tulisan no (6) atas nama Eeduy Haw

19 September 2010 | 19:17
0

halo juga bang iwan…
wah…silahkan bang di tag…sy tak keberatan…justru senang sekali malahan bila orang yg membaca tulisan ini, semakin banyk dan dari brbagai tempat … tujuan tulisan sy ini di upload mmg bgt kok….
soal studi kelayakan dan buku kroyokan dalam bntuk e-book…itu sy juga senang mendengarx… malah kalau ada yg mungkin bisa dibantu, sy juga tak keberatan membantu kok…hihiihihii…
alamt webx bang iwan yg dimaksud mungkin bisa dibagi… biar skalian sy bs jalan2 melihatx…^_^
thanks bang dah mampir…salaam

Studikelayan Kompasiana(6)”Legenda Hidup dari Kampung Tempat tinggalku”Posted on September 20, 2010 by iwansuwandy
Filsafat
Lihat Profil    Jadikan teman    Kirim Pesan
seseorang yang tinggal di makassar

Legenda Hidup dari Kampung Tempat Tinggalku

Studikelayan Kompasiana(6)”Legenda Hidup dari Kampung Tempat tinggalku”Posted on September 20, 2010 by iwansuwandy

Legenda Hidup dari Kampung Tempat Tinggalku
Studikelayan Kompasiana(6)”Legenda Hidup dari Kampung Tempat tinggalku”Posted on September 20, 2010 by iwansuwandy
Filsafat
Lihat Profil    Jadikan teman    Kirim Pesan
seseorang yang tinggal di makassar

Legenda Hidup dari Kampung Tempat Tinggalku
5. Selasa 21 Sepetmber 2010
(1) Jam 7.30 WIB , ada masuk satu tulisan lagi dari penulis kompasiana Herman dan sudah di tag ke blog ini dengan nomor urut (7)
(a) persetujuan
21 September 2010 04:41

apabila anda berkeanan, tulisan ini akan saya sandingkan dengan tulisan saya di Webblog, sekalian guna studi kelayana tentang minat pembaca web blog saya yang ada 17.000 orang, jika berkenan harap segera di beritahu, karena saya sudah add enam tulisan kompasiana, tinggal empat lagi. dalam rangka mencari tulisan terbaik untuk dibuat Buku kroyokan Kompasiana dalam bentuk e-book.

21 September 2010 | 06:56
0

Wah, dengan senang hati, Pak Iwan. Silahkan. Kamsia

(b) add di web blog
Studikelayakan tulisan Kompasiana(7)” Anak Muda Tionghoa harus Meneruskan Langkah Ong Hok Ham”Posted on September 21, 2010 by iwansuwandy
Sejarah
Lihat Profil    Jadikan teman    Kirim Pesan
Aku bersaksi bahwa aku berpikir dengan otak dan aku bersaksi bahwa aku berjalan dengan dengkul. Masalah terbesarku ialah menentukan lebih penting mana: otak atau dengkul. Tapi aku percaya, mula-mula pewarta warga bekerja dengan dengkulnya, baru kemudian berkreasi dengan otaknya.

Anak Muda Tionghoa Perlu Meneruskan Langkah Ong Hok Ham
6) Rabu tanggal 22 Sepetember 2010
(1) Jam 8.00 Wib ; belum ada tambahan tulisan studikelayakan.

1. SITUASI SEMENTARA PADA TANGGAL

1) 19 SEPTEMBER 2010

(1)Jumlah pengunjung web hhtp://www.iwansuwandy.wordpress.com berjumlah :

Blog Stats Summary Tables

Total views: 2,258

Busiest day: 91 — Friday, August 27, 2010

Views today: 12

Sedang di web blog hhtp://www.uniquecollection.wordpress.com sebagai berikut :

Blog Stats Summary Tables

Total views: 15,204

Busiest day: 164 — Friday, March 26, 2010

Views today: 31

Totals

Posts: 370

Comments: 132

Jumlah Tulisan di blog hhtp://www.iwansuwandy.wordpress.com

Content

213 Posts
1 Page
110 Categories
0 Tags

Jumlah visit dan komentar hhtp://www.uniquecollection.wordpress.com Blog

Blog Stats Summary Tables

Total views: 15,509

Busiest day: 174 — Tuesday, September 21, 2010

Views today: 56

Totals

Posts: 370

Comments: 132

Categories: 30

Tags: 1

(2) Most Active (the past day)

Studikelayan Kompasiana(6)”Legenda Hidup dari Kampung Tempat tinggalku” 1 views

2)20 SEPTEMBER 2010

Most Active (the past day)

Studi Kelayakan Tulisan Kompasiana (1)Judul :”Debu Debu Berterbangan” 6 views

Studikelayan Kompasiana(6)”Legenda Hidup dari Kampung Tempat tinggalku” 4 views

PREMIUM I

3) 21 september 2010

1.Studi Kelayakan Tulisan Kompasiana (1)Judul :”Debu Debu Berterbangan” 8 views

2.Studikelayan Kompasiana(6)”Legenda Hidup dari Kampung Tempat tinggalku” 6 views

Most Active (the past day)

3.Studikelayakan tulisan Kompasiana(7)” Anak Muda Tionghoa harus Meneruskan Langkah Ong Hok Ham” 2 views

4) rabu tanggal 22 Sepetember 2010 : tulsian yang paling banyak dilihat

Studi Kelayakan Tulisan Kompasiana (1)Judul :”Debu Debu Berterbangan” 8 views

V. KESIMPULAN
1. Peserta dan judul Tanggal 27 Sepetember 2010

delan tulisan, tidak mencapai target sepuluh karena banyak yang belum tahu. atau menunggu diundang, siapa saaj dapat mengirim tulisan, siap-siap untuk priode okotober sudag dibuka hari ini.

2. Tulisan terbaik

1) situasi sementara sampai tanggal 22 Sepetember 2010

I. Debu Debu Berterbangan  ; 8 dilihat, komentar nol

II.Legenda Hidup dari Kampung Temapt Tinggalku : 6 view, komentar nol

III.Anak Muda tiongoa Hartus meneruskan langkah Ong Hok Ham, 2 viev, komentar nol

V..PESAN Dr IWAN S, SELAKU CREATOR STUDI

1.MOHON MAAF APABILA  KRESI INI KURANG BERKENAN DIHATI PENULIS ATAU ADMIN KOMPASIANA,  kegiatan ini kreasi penulis agar kiata tidak hanya diskusi,komentar, dan balas tangagapan melulu tapi mana aksinya, Lebih Cepat, lebih teliti lebih baik ,eperti semboyan Pak YK. Besar harapan penulis bila ada pihak yang membaca  artikel kegiatan ini, berkean menyumbangkan hadia untuk the ten of the year   YNAG AKAN DIUMUMKAN TAHUN YANG AKAN DATANG   17 Sepetemr 2011 yang akan datang.

2. Harap peserta dan pembaca , ikut disiplin , dengan mengikuti jadwal waktu yang teapt, tidak ada pergeseran sedetikpun, untuk jadi contoh bagi generasi muda. Disiplin adalah langkah awal dari keberhasilan.

Selesai @hak cipta Dr Iwan suwandy,MHA 2010

Posted in Studi Kelayakan Tulisan Kompasiana | 2 Comments